Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 26 April 2019
Baca: Zakharia 8:1-19
"Inilah hal-hal yang harus kamu lakukan: Berkatalah benar seorang kepada
yang lain dan laksanakanlah hukum yang benar, yang mendatangkan damai di
pintu-pintu gerbangmu." Zakharia 8:16
Hidup dalam kebenaran adalah mutlak bagi orang percaya sebab kita telah dimerdekakan dalam Kristus, sehingga tubuh kita ini bukan milik kita lagi, melainkan menjadi milik Kristus. "Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!" (1 Korintus 6:20). Kebenaran tersebut meliputi segala aspek kehiduan. Jika orang percaya masih saja hidup dalam kecemaran, berarti ia tak melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan. Salah satu perlengkapan rohani yang harus dikenakan orang percaya, sebagaimana yang rasul Paulus nyatakan adalah: "...berikatpinggangkan kebenaran..." (Efesus 6:14).
Ikat pinggang atau sabuk adalah pita fleksibel, biasanya terbuat dari kulit atau pakaian keras, dan dikenakan di sekitar pinggang, yang berfungsi mengikat celana atau bahan pakaian lain. Orang percaya harus selalu berikatpinggangkan kebenaran, artinya di mana pun berada hidupnya diikat dan dililit kebenaran dari Tuhan. Hidup dalam kebenaran adalah kunci untuk mengalami kehidupan yang baik. "Orang benar tidak akan ditimpa oleh bencana apapun, tetapi orang fasik akan senantiasa celaka." (Amsal 12:21). Perhatikanlah peringatan Tuhan ini: "Jika kamu tidak mendengarkan, dan jika kamu tidak memberi perhatian
untuk menghormati nama-Ku, firman TUHAN semesta alam, maka Aku akan
mengirimkan kutuk ke antaramu dan akan membuat berkat-berkatmu menjadi
kutuk, dan Aku telah membuatnya menjadi kutuk, sebab kamu ini tidak
memperhatikan." (Maleakhi 2:2). Jangan anggap remeh peringatan Tuhan ini! Selama kita masih berlaku fasik atau hidup jauh menyimpang dari kebenaran, maka berkat-berkat yang telah kita terima akan menjadi kutuk. Ini Tuhan yang berbicara, bukan manusia!
Bagi pelayan Tuhan atau hamba Tuhan, hidup benar adalah harga mati. Bagaimana bisa mengajar dan mengajak orang lain dalam kebenaran bila kita sendiri tidak hidup benar? "Sebab bibir seorang imam memelihara pengetahuan dan orang mencari
pengajaran dari mulutnya, sebab dialah utusan TUHAN semesta alam." (Maleakhi 2:7).
Berkat dan kebaikan Tuhan tersedia bagi orang benar!
Friday, April 26, 2019
Thursday, April 25, 2019
RESPONS HATI MENENTUKAN BERKAT
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 25 April 2019
Baca: Yosua 14:1-5
"Seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa, demikianlah diperbuat oleh orang Israel dan dibagi-bagi merekalah negeri itu." Yosua 14:5
Ketika doa-doanya belum beroleh jawaban dari Tuhan seringkali sikap hati seseorang langsung berubah. Yang sebelumnya begitu percaya kini mulai timbul kebimbangan dan keragu-raguan terhadap janji Tuhan: "Benarkah Tuhan sanggup menolong? Apakah janji Tuhan itu hanya berlaku bagi orang-orang di zaman Alkitab dan tidak lagi relevan dengan kehidupan orang percaya yang hidup di zaman seperti sekarang ini?"
Tuhan sekali-kali tidak pernah ingkar dengan apa yang dijanjikan-Nya! Karena Dia "...bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?" (Bilangan 23:19). Salah satu buktinya adalah hal pembagian tanah Kanaan. Pada masa sebelumnya Tuhan berjanji kepada bangsa Israel untuk memberikan tanah Kanaan, "...suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya," (Keluaran 3:8). Karena itu Tuhan memerintahkan Musa untuk memilih dua belas orang sebagai perwakilan dari tiap-tiap suku yang ada di Israel untuk mengintai dan mengamat-amati secara dekat negeri yang dijanjikan Tuhan tersebut. Yang disesalkan adalah dari dua belas orang yang diutus Musa ternyata hanya dua orang saja yang memberikan respon positif, yaitu Yosua dan Kaleb. Akhirnya mereka berdualah (Yosua dan Kaleb) yang dapat masuk ke tanah Kanaan, alias mengalami penggenapan janji Tuhan. "Janji TUHAN adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah." (Mazmur 12:7).
Sesungguhnya Tuhan rindu memberkati anak-anak-Nya dengan melimpah, namun seringkali kita sendiri yang tidak memiliki respons hati yang benar saat menantikan janji Tuhan tersebut. Kita bersungut-sungut, mengeluh, mengomel, pesimis dan tidak lagi sabar menati-nantikan Tuhan. Tuhan berkata, "...hamba-Ku Kaleb, karena lain jiwa yang ada padanya dan ia mengikut Aku dengan sepenuhnya, akan Kubawa masuk ke negeri yang telah dimasukinya itu, dan keturunannya akan memilikinya." (Bilangan 14:24).
Respons hati yang benar sangat diperlukan supaya janji Tuhan dapat digenapi di dalam hidup kita.
Baca: Yosua 14:1-5
"Seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa, demikianlah diperbuat oleh orang Israel dan dibagi-bagi merekalah negeri itu." Yosua 14:5
Ketika doa-doanya belum beroleh jawaban dari Tuhan seringkali sikap hati seseorang langsung berubah. Yang sebelumnya begitu percaya kini mulai timbul kebimbangan dan keragu-raguan terhadap janji Tuhan: "Benarkah Tuhan sanggup menolong? Apakah janji Tuhan itu hanya berlaku bagi orang-orang di zaman Alkitab dan tidak lagi relevan dengan kehidupan orang percaya yang hidup di zaman seperti sekarang ini?"
Tuhan sekali-kali tidak pernah ingkar dengan apa yang dijanjikan-Nya! Karena Dia "...bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?" (Bilangan 23:19). Salah satu buktinya adalah hal pembagian tanah Kanaan. Pada masa sebelumnya Tuhan berjanji kepada bangsa Israel untuk memberikan tanah Kanaan, "...suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya," (Keluaran 3:8). Karena itu Tuhan memerintahkan Musa untuk memilih dua belas orang sebagai perwakilan dari tiap-tiap suku yang ada di Israel untuk mengintai dan mengamat-amati secara dekat negeri yang dijanjikan Tuhan tersebut. Yang disesalkan adalah dari dua belas orang yang diutus Musa ternyata hanya dua orang saja yang memberikan respon positif, yaitu Yosua dan Kaleb. Akhirnya mereka berdualah (Yosua dan Kaleb) yang dapat masuk ke tanah Kanaan, alias mengalami penggenapan janji Tuhan. "Janji TUHAN adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah." (Mazmur 12:7).
Sesungguhnya Tuhan rindu memberkati anak-anak-Nya dengan melimpah, namun seringkali kita sendiri yang tidak memiliki respons hati yang benar saat menantikan janji Tuhan tersebut. Kita bersungut-sungut, mengeluh, mengomel, pesimis dan tidak lagi sabar menati-nantikan Tuhan. Tuhan berkata, "...hamba-Ku Kaleb, karena lain jiwa yang ada padanya dan ia mengikut Aku dengan sepenuhnya, akan Kubawa masuk ke negeri yang telah dimasukinya itu, dan keturunannya akan memilikinya." (Bilangan 14:24).
Respons hati yang benar sangat diperlukan supaya janji Tuhan dapat digenapi di dalam hidup kita.
Wednesday, April 24, 2019
MERASA TERSANJUNG KARENA PUJIAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 24 April 2019
Baca: Yesaya 39:1-8
"Semua yang ada di istanaku telah mereka lihat. Tidak ada barang yang tidak kuperlihatkan kepada mereka di perbendaharaanku." Yesaya 39:4b
Nama 'Hizkia' memiliki arti: dikuatkan Jehovah. Ia adalah raja Yehuda yang kaya dan beroleh kasih karunia dari Tuhan. Ia jatuh sakit dan hampir mati, tapi Tuhan bermurah hati kepadanya sehingga disembuhkan dari sakitnya, dan bahkan Tuhan memperpanjang umurnya 15 tahun lagi (Yesaya 38:5). Berita tentang kesembuhan Hizkia ini pun sampai ke telinga raja Babel yaitu Merodakh-Baladan bin Baladan, yang mengirim utusan untuk menyampaikan ucapan selamat kepada Hizkia melalui surat dan juga pemberian.
Hizkia sangat gembira dan merasa tersanjung atas ucapan selamat yang diberikan raja Babel itu. "Hizkia bersukacita atas kedatangan mereka, lalu diperlihatkannyalah kepada mereka gedung harta bendanya, emas dan perak, rempah-rempah dan minyak yang berharga, segenap gedung persenjataannya dan segala yang terdapat dalam perbendaharaannya. Tidak ada barang yang tidak diperlihatkan Hizkia kepada mereka di istananya dan di seluruh daerah kekuasaannya." (Yesaya 39:2). Sanjungan seringkali membuat seseorang lupa diri. Karena terbuai oleh sanjungan, Hizkia mulai membanggakan diri dengan memamerkan segala kekayaan yang dimiliki (ayat nas). Tanpa disadari, betapa sering kita berlaku seperti Hizkia, yaitu suka menerima pujian dan sanjungan dari manusia. Ketika masih menjadi jemaat 'awam' seseorang tampak begitu rendah hati, tetapi setelah terlibat dalam pelayanan pekerjaan Tuhan dan mulai dikenal oleh banyak orang, sikapnya pun mulai berubah: membusungkan dada, suka sekali menerima pujian dan sanjungan. Akhirnya diri mereka sendiri yang mulai ditonjolkan.
Melihat hal itu segeralah Tuhan mengutus nabi Yesaya untuk menegur dan memperingatkan Hizkia: "Sesungguhnya, suatu masa akan datang, bahwa segala yang ada dalam istanamu dan yang disimpan oleh nenek moyangmu sampai hari ini akan diangkut ke Babel. Tidak ada barang yang akan ditinggalkan, demikianlah firman TUHAN." (Yesaya 39:6). Bersyukur... teguran Tuhan ini membuat Hizkia segera sadar, "'Sungguh baik firman TUHAN yang engkau ucapkan itu!' Tetapi pikirnya: 'Asal ada damai dan keamanan seumur hidupku!'" (Yesaya 39:8).
Sanjungan manusia seringkali membuat seseorang jatuh dalam dosa kesombongan!
Baca: Yesaya 39:1-8
"Semua yang ada di istanaku telah mereka lihat. Tidak ada barang yang tidak kuperlihatkan kepada mereka di perbendaharaanku." Yesaya 39:4b
Nama 'Hizkia' memiliki arti: dikuatkan Jehovah. Ia adalah raja Yehuda yang kaya dan beroleh kasih karunia dari Tuhan. Ia jatuh sakit dan hampir mati, tapi Tuhan bermurah hati kepadanya sehingga disembuhkan dari sakitnya, dan bahkan Tuhan memperpanjang umurnya 15 tahun lagi (Yesaya 38:5). Berita tentang kesembuhan Hizkia ini pun sampai ke telinga raja Babel yaitu Merodakh-Baladan bin Baladan, yang mengirim utusan untuk menyampaikan ucapan selamat kepada Hizkia melalui surat dan juga pemberian.
Hizkia sangat gembira dan merasa tersanjung atas ucapan selamat yang diberikan raja Babel itu. "Hizkia bersukacita atas kedatangan mereka, lalu diperlihatkannyalah kepada mereka gedung harta bendanya, emas dan perak, rempah-rempah dan minyak yang berharga, segenap gedung persenjataannya dan segala yang terdapat dalam perbendaharaannya. Tidak ada barang yang tidak diperlihatkan Hizkia kepada mereka di istananya dan di seluruh daerah kekuasaannya." (Yesaya 39:2). Sanjungan seringkali membuat seseorang lupa diri. Karena terbuai oleh sanjungan, Hizkia mulai membanggakan diri dengan memamerkan segala kekayaan yang dimiliki (ayat nas). Tanpa disadari, betapa sering kita berlaku seperti Hizkia, yaitu suka menerima pujian dan sanjungan dari manusia. Ketika masih menjadi jemaat 'awam' seseorang tampak begitu rendah hati, tetapi setelah terlibat dalam pelayanan pekerjaan Tuhan dan mulai dikenal oleh banyak orang, sikapnya pun mulai berubah: membusungkan dada, suka sekali menerima pujian dan sanjungan. Akhirnya diri mereka sendiri yang mulai ditonjolkan.
Melihat hal itu segeralah Tuhan mengutus nabi Yesaya untuk menegur dan memperingatkan Hizkia: "Sesungguhnya, suatu masa akan datang, bahwa segala yang ada dalam istanamu dan yang disimpan oleh nenek moyangmu sampai hari ini akan diangkut ke Babel. Tidak ada barang yang akan ditinggalkan, demikianlah firman TUHAN." (Yesaya 39:6). Bersyukur... teguran Tuhan ini membuat Hizkia segera sadar, "'Sungguh baik firman TUHAN yang engkau ucapkan itu!' Tetapi pikirnya: 'Asal ada damai dan keamanan seumur hidupku!'" (Yesaya 39:8).
Sanjungan manusia seringkali membuat seseorang jatuh dalam dosa kesombongan!
Tuesday, April 23, 2019
UMAT PILIHAN: Identitas Orang Percaya
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 23 April 2019
Baca: 1 Petrus 1:13-25
"...hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu," 1 Petrus 1:15
Banyak orang Kristen tak menyadari bahwa di dalam Kristus kita ini memiliki identitas baru sebagai orang-orang pilihan Tuhan. "...kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib:" (1 Petrus 2:9). Ini adalah sebuah anugerah, karena kita dipilih di antara miliaran umat manusia di muka bumi ini.
Pemilihan ini hanya terjadi ketika seseorang percaya kepada Kristus dan menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat. Jadi pemilihan tersebut berpusat ada Kristus! Karena Dia dipilih oleh Bapa sebagai landasan: "Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa. Aku ini, TUHAN, telah memanggil engkau untuk maksud penyelamatan, telah memegang tanganmu; Aku telah membentuk engkau dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia, menjadi terang untuk bangsa-bangsa," (Yesaya 42:1, 6), dan menjadi yang sulung dari semua umat pilihan (Roma 8:29). "Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya." (Efesus 1:4).
Apa tujuan Tuhan memilih kita? Tujuannya adalah supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. "...hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab Aku kudus." (1 Petrus 1:15-16). Kata 'kudus' (bahasa Ibrani qadesh/qadosh), arti harfiahnya adalah dipotong atau dipisahkan, dan memiliki makna: naik lebih tinggi, artinya orang percaya dipanggil untuk memiliki kehidupan yang naik ke standar Tuhan, yaitu hidup sebagaimana Kristus hidup. "Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup." (1 Yohanes 2:6). Seringkali terjadi tidak sedikit orang Kristen kehilangan identitas diri sebagai umat pilihan Tuhan, karena hidupnya tak jauh berbeda dengan orang dunia. Miris sekali!
Tanpa memiliki kekudusan hidup, kita tak bisa melihat Tuhan! Ibrani 12:14
Baca: 1 Petrus 1:13-25
"...hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu," 1 Petrus 1:15
Banyak orang Kristen tak menyadari bahwa di dalam Kristus kita ini memiliki identitas baru sebagai orang-orang pilihan Tuhan. "...kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib:" (1 Petrus 2:9). Ini adalah sebuah anugerah, karena kita dipilih di antara miliaran umat manusia di muka bumi ini.
Pemilihan ini hanya terjadi ketika seseorang percaya kepada Kristus dan menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat. Jadi pemilihan tersebut berpusat ada Kristus! Karena Dia dipilih oleh Bapa sebagai landasan: "Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa. Aku ini, TUHAN, telah memanggil engkau untuk maksud penyelamatan, telah memegang tanganmu; Aku telah membentuk engkau dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia, menjadi terang untuk bangsa-bangsa," (Yesaya 42:1, 6), dan menjadi yang sulung dari semua umat pilihan (Roma 8:29). "Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya." (Efesus 1:4).
Apa tujuan Tuhan memilih kita? Tujuannya adalah supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. "...hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab Aku kudus." (1 Petrus 1:15-16). Kata 'kudus' (bahasa Ibrani qadesh/qadosh), arti harfiahnya adalah dipotong atau dipisahkan, dan memiliki makna: naik lebih tinggi, artinya orang percaya dipanggil untuk memiliki kehidupan yang naik ke standar Tuhan, yaitu hidup sebagaimana Kristus hidup. "Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup." (1 Yohanes 2:6). Seringkali terjadi tidak sedikit orang Kristen kehilangan identitas diri sebagai umat pilihan Tuhan, karena hidupnya tak jauh berbeda dengan orang dunia. Miris sekali!
Tanpa memiliki kekudusan hidup, kita tak bisa melihat Tuhan! Ibrani 12:14
Monday, April 22, 2019
ORANG PERCAYA: Mati Bersama Kristus
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 22 April 2019
Baca: Kolose 3:1-4
"Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus..." Kolose 3:3
Orang percaya yang telah ditebus oleh darah Kristus adalah mutlak harus mengalami apa yang disebut kematian di dalam Kristus, sebagaimana yang rasul Paulus nyatakan (ayat nas). Inilah kehidupan kekristenan yang sejati! Orang percaya tidak akan mendapat kemuliaan bersama dengan Kristus aapabila ia tidak mengalami kematian di dalam Dia, sebab tidak ada kehidupan tanpa kematian, tidak ada kemuliaan tanpa salib.
Kematian di dalam Kristus ini berbicara tentang 'harga' yang harus dibayar sebagai orang percaya, sebab Kristus sendiri harus mengalami kematian: 1. Kristus harus menanggalkan atribut ke-Ilahian-Nya. Sekalipun status-Nya adalah Putera tunggal Bapa, Kristus tidak menggunakan hak dan kuasa-Nya, tetapi Ia tetap konsisten untuk mengerjakan apa yang menjadi panggilan-Nya. Kristus taat sepenuhnya kepada kehendak Bapa sekalipun harus mengalami penderitaan. "...telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia." (Filipi 2:7). Dalam hal ini Kristus benar-benar menjadi sama dengan manusia, dan menanggalkan segala atribut ke-Ilahian-Nya. 2. Kristus mati di kayu salib. Kristus menggambarkan diri-Nya sebagai biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati. Agar bisa hidup dan menghasilkan buah, tidak ada jalan lain selain biji gandum harus jatuh ke tanah dan mati. "Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah." (Yohanes 12:24). 'Buah' berbicara tentang buah ketaatan kepada kehendak Bapa, juga jiwa-jiwa yang diselamatkan. Kematian Kristus menghasilkan keselamatan bagi umat manusia.
Mati bersama Kristus berarti orang percaya harus menanggalkan kehidupan lama dan mengenakan kehidupan baru di dalam Kristus. "...Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku." (Galatia 2:19b-20). Jika tujuan hidup Kristus adalah menggenapi rencana Bapa dan memuliakan nama-Nya, orang percaya pun harus demikian juga.
Mati bersama Kristus berarti kehidupan lama 'mati' dan hidup bagi Kristus!
Baca: Kolose 3:1-4
"Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus..." Kolose 3:3
Orang percaya yang telah ditebus oleh darah Kristus adalah mutlak harus mengalami apa yang disebut kematian di dalam Kristus, sebagaimana yang rasul Paulus nyatakan (ayat nas). Inilah kehidupan kekristenan yang sejati! Orang percaya tidak akan mendapat kemuliaan bersama dengan Kristus aapabila ia tidak mengalami kematian di dalam Dia, sebab tidak ada kehidupan tanpa kematian, tidak ada kemuliaan tanpa salib.
Kematian di dalam Kristus ini berbicara tentang 'harga' yang harus dibayar sebagai orang percaya, sebab Kristus sendiri harus mengalami kematian: 1. Kristus harus menanggalkan atribut ke-Ilahian-Nya. Sekalipun status-Nya adalah Putera tunggal Bapa, Kristus tidak menggunakan hak dan kuasa-Nya, tetapi Ia tetap konsisten untuk mengerjakan apa yang menjadi panggilan-Nya. Kristus taat sepenuhnya kepada kehendak Bapa sekalipun harus mengalami penderitaan. "...telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia." (Filipi 2:7). Dalam hal ini Kristus benar-benar menjadi sama dengan manusia, dan menanggalkan segala atribut ke-Ilahian-Nya. 2. Kristus mati di kayu salib. Kristus menggambarkan diri-Nya sebagai biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati. Agar bisa hidup dan menghasilkan buah, tidak ada jalan lain selain biji gandum harus jatuh ke tanah dan mati. "Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah." (Yohanes 12:24). 'Buah' berbicara tentang buah ketaatan kepada kehendak Bapa, juga jiwa-jiwa yang diselamatkan. Kematian Kristus menghasilkan keselamatan bagi umat manusia.
Mati bersama Kristus berarti orang percaya harus menanggalkan kehidupan lama dan mengenakan kehidupan baru di dalam Kristus. "...Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku." (Galatia 2:19b-20). Jika tujuan hidup Kristus adalah menggenapi rencana Bapa dan memuliakan nama-Nya, orang percaya pun harus demikian juga.
Mati bersama Kristus berarti kehidupan lama 'mati' dan hidup bagi Kristus!
Sunday, April 21, 2019
KEBANGKITAN KRISTUS: Membawa Kehidupan
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 21 April 2019
Baca: Yohanes 20:1-10
"Sebab selama itu mereka belum mengerti isi Kitab Suci yang mengatakan, bahwa Ia harus bangkit dari antara orang mati." Yohanes 20:9
Berita tentang kebangkitan Kristus pada hari yang ke-3 bukanlah isapan jempol, gosip atau sensasi murahan, melainkan sebuah fakta. Kebangkitan-Nya ini merupakan penggenapan dari apa yang Kristus sendiri sampaikan di hadapan murid-murid saat di Galilea: "Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia dan mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan." (Matius 17:22-23).
Peristiwa kematian Kristus di kayu salib menjadi puncak kesukaan besar bagi seluruh pemimpin Yahudi: Imam Besar, ahli Taurat, orang-orang Farisi, orang-orang Saduki, dan bahkan rakyat kebanyakan. Itulah sebabnya begitu mereka mendengar kabar tentang kebangkitan Kristus mereka pun kelabakan dan mencari cara bagaimana supaya berita tersebut tidak sampai menyebar kemana-mana. Mereka pun memberi sejumlah uang kepada para prajurit agar mau tutup mulut: "Dan sesudah berunding dengan tua-tua, mereka mengambil keputusan lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu dan berkata: 'Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur.'" (Matius 28:12-13). Namun meski demikian, kabar kebangkitan Kristus tetap tersiar ke mana-mana. Uang tutup mulut tidak mampu membeli 'kebenaran' bahwa Kristus benar-benar telah bangkit.
Kebangkitan Kristus ini sebagai penegasan bahwa Ia adalah kehidupan, di dalam Dia ada kehidupan. Kehidupan yang bukan hanya sekedar hidup, melainkan kehidupan kekal. Karena Kristus telah bangkit maka setiap orang percaya kepada-Nya juga akan mengalami kebangkitan. "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati," (Yohanes 11:25). Sangat disayangkan! Tidak semua orang mau percaya kepada Kristus, bahkan mereka tetap menganggap bahwa Kristus itu tak lebih dari manusia bisa, bukan Tuhan! Kini, semua pilihan dan keputusan ada di tangan kita masing-masing: mau beroleh kehidupan yang kekal atau mengalami kebinasaan kekal. Kristus sudah menegaskan: "Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku." (Yohanes 14:6b).
Kristus bangkit adalah bukti bahwa Dia adalah Tuhan. Percayalah kepada-Nya!
Baca: Yohanes 20:1-10
"Sebab selama itu mereka belum mengerti isi Kitab Suci yang mengatakan, bahwa Ia harus bangkit dari antara orang mati." Yohanes 20:9
Berita tentang kebangkitan Kristus pada hari yang ke-3 bukanlah isapan jempol, gosip atau sensasi murahan, melainkan sebuah fakta. Kebangkitan-Nya ini merupakan penggenapan dari apa yang Kristus sendiri sampaikan di hadapan murid-murid saat di Galilea: "Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia dan mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan." (Matius 17:22-23).
Peristiwa kematian Kristus di kayu salib menjadi puncak kesukaan besar bagi seluruh pemimpin Yahudi: Imam Besar, ahli Taurat, orang-orang Farisi, orang-orang Saduki, dan bahkan rakyat kebanyakan. Itulah sebabnya begitu mereka mendengar kabar tentang kebangkitan Kristus mereka pun kelabakan dan mencari cara bagaimana supaya berita tersebut tidak sampai menyebar kemana-mana. Mereka pun memberi sejumlah uang kepada para prajurit agar mau tutup mulut: "Dan sesudah berunding dengan tua-tua, mereka mengambil keputusan lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu dan berkata: 'Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur.'" (Matius 28:12-13). Namun meski demikian, kabar kebangkitan Kristus tetap tersiar ke mana-mana. Uang tutup mulut tidak mampu membeli 'kebenaran' bahwa Kristus benar-benar telah bangkit.
Kebangkitan Kristus ini sebagai penegasan bahwa Ia adalah kehidupan, di dalam Dia ada kehidupan. Kehidupan yang bukan hanya sekedar hidup, melainkan kehidupan kekal. Karena Kristus telah bangkit maka setiap orang percaya kepada-Nya juga akan mengalami kebangkitan. "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati," (Yohanes 11:25). Sangat disayangkan! Tidak semua orang mau percaya kepada Kristus, bahkan mereka tetap menganggap bahwa Kristus itu tak lebih dari manusia bisa, bukan Tuhan! Kini, semua pilihan dan keputusan ada di tangan kita masing-masing: mau beroleh kehidupan yang kekal atau mengalami kebinasaan kekal. Kristus sudah menegaskan: "Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku." (Yohanes 14:6b).
Kristus bangkit adalah bukti bahwa Dia adalah Tuhan. Percayalah kepada-Nya!
Saturday, April 20, 2019
KARENA DOSA MANUSIA: Kristus Menanggung Kutuk
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 20 April 2019
Baca: Galatia 3:1-14
"Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: 'Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!'" Galatia 3:13
Penyaliban merupakan salah satu bentuk hukuman yang terkejam dan terhina. Esensi dari penyaliban bukanlah kematian itu, melainkan penderitaan panjang menjelang kematian. Biasanya hukuman salib diperuntukkan bagi orang-orang yang melakukan kejahatan tingkat tinggi sehingga patut disebut sebagai orang yang terkutuk (Ulangan 21:22-23).
Tapi penyaliban Kristus di kayu salib bukan diakibatkan oleh kesalahan dan pelanggaran-Nya. Kristus tidak punya dosa atau kesalahan sedikit pun, karena pada hakekatnya Dia adalah Tuhan. Hal ini diakui oleh Pilatus: "Kejahatan apa yang sebenarnya telah dilakukan orang ini? Tidak ada suatu kesalahanpun yang kudapati pada-Nya, yang setimpal dengan hukuman mati." (Lukas 23:22). Kristus menjadi berdosa karena kita, "Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan..." (2 Korintus 5:21). Ketika Kristus disalibkan, semesta alam pun berduka: mulai dari pukul dua belas kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai pukul tiga sore. "Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: 'Eli, Eli, lama sabakhtani?' Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" (Matius 27:46). Ini adalah ungkapan penderitaan dan kepedihan yang Kristus alami karena telah ditinggalkan oleh Bapa-Nya.
Pada saat Kristus menyerahkan nyawa-Nya terjadilah peristiwa yang teramat dahsyat: "...tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah," (Matius 27:51). Tabir Bait Suci terbelah menjadi dua adalah gambaran tentang kasih karunia dan anugerah dari Bapa yang mengalir kepada bangsa-bangsa melalui Kristus. Hukuman sebagai akibat dosa telah ditanggungkan pada Kristus, Ia rela menjadi kutuk karena kita sehingga pengampunan dosa dapat dianugerahkan kepada setiap orang yang percaya kepada-Nya. Bagaimana respons Saudara terhadap pengorbanan Kristus ini?
"...Kristus telah membuat ini, supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain," Galatia 3:14
Baca: Galatia 3:1-14
"Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: 'Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!'" Galatia 3:13
Penyaliban merupakan salah satu bentuk hukuman yang terkejam dan terhina. Esensi dari penyaliban bukanlah kematian itu, melainkan penderitaan panjang menjelang kematian. Biasanya hukuman salib diperuntukkan bagi orang-orang yang melakukan kejahatan tingkat tinggi sehingga patut disebut sebagai orang yang terkutuk (Ulangan 21:22-23).
Tapi penyaliban Kristus di kayu salib bukan diakibatkan oleh kesalahan dan pelanggaran-Nya. Kristus tidak punya dosa atau kesalahan sedikit pun, karena pada hakekatnya Dia adalah Tuhan. Hal ini diakui oleh Pilatus: "Kejahatan apa yang sebenarnya telah dilakukan orang ini? Tidak ada suatu kesalahanpun yang kudapati pada-Nya, yang setimpal dengan hukuman mati." (Lukas 23:22). Kristus menjadi berdosa karena kita, "Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan..." (2 Korintus 5:21). Ketika Kristus disalibkan, semesta alam pun berduka: mulai dari pukul dua belas kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai pukul tiga sore. "Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: 'Eli, Eli, lama sabakhtani?' Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" (Matius 27:46). Ini adalah ungkapan penderitaan dan kepedihan yang Kristus alami karena telah ditinggalkan oleh Bapa-Nya.
Pada saat Kristus menyerahkan nyawa-Nya terjadilah peristiwa yang teramat dahsyat: "...tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah," (Matius 27:51). Tabir Bait Suci terbelah menjadi dua adalah gambaran tentang kasih karunia dan anugerah dari Bapa yang mengalir kepada bangsa-bangsa melalui Kristus. Hukuman sebagai akibat dosa telah ditanggungkan pada Kristus, Ia rela menjadi kutuk karena kita sehingga pengampunan dosa dapat dianugerahkan kepada setiap orang yang percaya kepada-Nya. Bagaimana respons Saudara terhadap pengorbanan Kristus ini?
"...Kristus telah membuat ini, supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain," Galatia 3:14
Friday, April 19, 2019
KARENA DOSA MANUSIA: Kristus Harus Menderita
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 19 April 2019
Baca: Yesaya 53:1-12
"Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh." Yesaya 53:5
Dalam pengajaran-Nya Kristus menegaskan bahwa Ia harus menanggung penderitaan akibat dosa manusia. Hal penderitaan Kristus ini telah dinubuatkan ribuan tahun sebelumnya melalui nabi Yesaya sebagaimana tertulis di pasal 53 ini.
Firman Tuhan secara tegas menyatakan bahwa upah dosa adalah maut (Roma 6:23). Kata 'maut' ini berbicara tentang kematian kekal, dan tak satu pun manusia di muka bumi ini yang bisa menebus dan menyelamatkan dirinya sendiri dari hukum maut, sekalipun ia telah berbuat amal atau melakukan perbuatan baik. Karena dosa, manusia harus menanggung akibatnya yaitu menerima penghukuman kekal. Namun, puji Tuhan, Bapa bukanlah Pribadi yang kejam, melainkan Pribadi yang penuh belas kasihan. Meski demikian penderitaan dan kematian pada manusia harus terjadi karena manusia telah berbuat dosa. Ini menunjukkan bahwa Bapa tetap konsisten dengan keputusan-Nya bahwa setiap ketidaktaatan pasti mendatangkan hukuman. Namun karena kasih-Nya kepada manusia, Bapa rela membayar dosa dan pelanggaran manusia dengan menanggungkan hukuman maut tersebut kepada Anak-Nya, yaitu Kristus.
Karena itulah Kristus harus datang ke dunia, menderita dan mati bagi umat manusia seperti tertulis: "...Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (Matius 20:28), dan "...dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib." (Filipi 2:8). Nabi Yesaya pun menubuatkan tentang penderitaan yang harus Kristus alami demi menanggung dosa manusia (Yesaya 53): rupa-Nya bukan seperti manusia lagi, Ia tidak kelihatan tampan dan semarak pun tidak ada (ayat 2), Ia dihina dan dihindari orang (ayat 3), penuh kesengsaraan dan menderita kesakitan (ayat 3), Ia tertikam karena pemberontakan kita dan diremukkan karena kejahatan kita (ayat 5), Ia dianiaya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian (ayat 7), Ia terputus dari negeri orang hidup (ayat 8).
Karena dosa manusia, Kristus harus menanggung penderitaan di kayu salib!
Baca: Yesaya 53:1-12
"Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh." Yesaya 53:5
Dalam pengajaran-Nya Kristus menegaskan bahwa Ia harus menanggung penderitaan akibat dosa manusia. Hal penderitaan Kristus ini telah dinubuatkan ribuan tahun sebelumnya melalui nabi Yesaya sebagaimana tertulis di pasal 53 ini.
Firman Tuhan secara tegas menyatakan bahwa upah dosa adalah maut (Roma 6:23). Kata 'maut' ini berbicara tentang kematian kekal, dan tak satu pun manusia di muka bumi ini yang bisa menebus dan menyelamatkan dirinya sendiri dari hukum maut, sekalipun ia telah berbuat amal atau melakukan perbuatan baik. Karena dosa, manusia harus menanggung akibatnya yaitu menerima penghukuman kekal. Namun, puji Tuhan, Bapa bukanlah Pribadi yang kejam, melainkan Pribadi yang penuh belas kasihan. Meski demikian penderitaan dan kematian pada manusia harus terjadi karena manusia telah berbuat dosa. Ini menunjukkan bahwa Bapa tetap konsisten dengan keputusan-Nya bahwa setiap ketidaktaatan pasti mendatangkan hukuman. Namun karena kasih-Nya kepada manusia, Bapa rela membayar dosa dan pelanggaran manusia dengan menanggungkan hukuman maut tersebut kepada Anak-Nya, yaitu Kristus.
Karena itulah Kristus harus datang ke dunia, menderita dan mati bagi umat manusia seperti tertulis: "...Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (Matius 20:28), dan "...dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib." (Filipi 2:8). Nabi Yesaya pun menubuatkan tentang penderitaan yang harus Kristus alami demi menanggung dosa manusia (Yesaya 53): rupa-Nya bukan seperti manusia lagi, Ia tidak kelihatan tampan dan semarak pun tidak ada (ayat 2), Ia dihina dan dihindari orang (ayat 3), penuh kesengsaraan dan menderita kesakitan (ayat 3), Ia tertikam karena pemberontakan kita dan diremukkan karena kejahatan kita (ayat 5), Ia dianiaya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian (ayat 7), Ia terputus dari negeri orang hidup (ayat 8).
Karena dosa manusia, Kristus harus menanggung penderitaan di kayu salib!
Thursday, April 18, 2019
MENJADI RUSAK KARENA PELANGGARAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 18 April 2019
Baca: Kejadian 3:1-24
"Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya." Kejadian 3:6
Alkitab menyatakan bahwa akibat manusia jatuh ke dalam dosa, setiap bagian dari diri manusia yaitu pikiran, kehendak, emosi dan tindakannya telah dirusak oleh dosa. Dosa benar-benar telah memengaruhi seluruh keberadaan manusia, sehingga segala tindakan dan "...kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata," (Kejadian 6:5). Kejahatan manusia ini benar-benar memilukan hati Tuhan!
Manusia tak menyadari bahwa ada yang luar biasa dari dosa yang telah diperbuatnya. Di antaranya adalah: 1. Manusia harus kehilangan persekutuan dengan Bapa di sorga. Dosa benar-benar telah menjadi jurang pemisah yang dalam antara Bapa dan manusia, seperti ada tertulis: "Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu." (Yesaya 59:1-2). Karena pelanggarannya tersebut manusia harus terusir dari taman Eden. "Ia menghalau manusia itu dan di sebelah timur taman Eden ditempatkan-Nyalah beberapa kerub dengan pedang yang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar, untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan." (Kejadian 3:24).
2. Manusia dihantui oleh ketakutan. Setelah menyadari bahwa telah melakukan pelanggaran, maka bersembunyilah manusia dari hadapan Tuhan karena dihantui oleh rasa takut. "Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman. Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: 'Di manakah engkau?' Ia menjawab: 'Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.'" (Kejadian 3:8-10).
Akibat dosa, manusia harus terpisah dari Tuhan dan hidup dalam ketakutan!
Baca: Kejadian 3:1-24
"Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya." Kejadian 3:6
Alkitab menyatakan bahwa akibat manusia jatuh ke dalam dosa, setiap bagian dari diri manusia yaitu pikiran, kehendak, emosi dan tindakannya telah dirusak oleh dosa. Dosa benar-benar telah memengaruhi seluruh keberadaan manusia, sehingga segala tindakan dan "...kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata," (Kejadian 6:5). Kejahatan manusia ini benar-benar memilukan hati Tuhan!
Manusia tak menyadari bahwa ada yang luar biasa dari dosa yang telah diperbuatnya. Di antaranya adalah: 1. Manusia harus kehilangan persekutuan dengan Bapa di sorga. Dosa benar-benar telah menjadi jurang pemisah yang dalam antara Bapa dan manusia, seperti ada tertulis: "Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu." (Yesaya 59:1-2). Karena pelanggarannya tersebut manusia harus terusir dari taman Eden. "Ia menghalau manusia itu dan di sebelah timur taman Eden ditempatkan-Nyalah beberapa kerub dengan pedang yang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar, untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan." (Kejadian 3:24).
2. Manusia dihantui oleh ketakutan. Setelah menyadari bahwa telah melakukan pelanggaran, maka bersembunyilah manusia dari hadapan Tuhan karena dihantui oleh rasa takut. "Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman. Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: 'Di manakah engkau?' Ia menjawab: 'Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.'" (Kejadian 3:8-10).
Akibat dosa, manusia harus terpisah dari Tuhan dan hidup dalam ketakutan!
Wednesday, April 17, 2019
JANGAN PERNAH MELUPAKAN TUHAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 April 2019
Baca: Mazmur 50:1-23
"Perhatikanlah ini, hai kamu yang melupakan Allah; supaya jangan Aku menerkam, dan tidak ada yang melepaskan." Mazmur 50:22
Bila kita baca ayat nas di atas secara sepintas, seolah-olah Tuhan itu sangat kejam, Ia akan menerkam setiap orang yang melupakan-Nya. Tidaklah demikian! Sebab Tuhan itu adil dalam segala tindakan-Nya. Tuhan memang bersikap tegas terhadap siapa pun yang tidak mau taat, untuk menunjukkan keadilan-Nya, namun Ia akan memberikan pahala atau upah kepada setiap orang yang taat melakukan kehendak-Nya.
Tuhan tak ingin manusia yang diciptakan-Nya itu menyalahgunakan segala kemurahan, kesabaran, kebaikan dan kasih setia-Nya. Sebagai makhluk ciptaan-Nya manusia harus taat kepada Tuhan, Sang Pencipta. Karena itu Tuhan pasti akan membuat perbedaan antara orang yang sungguh-sungguh mengasihi Dia dan orang yang melupakan Dia, "Aku mengasihi orang yang mengasihi aku, dan orang yang tekun mencari aku akan mendapatkan daku. Kekayaan dan kehormatan ada padaku, juga harta yang tetap dan keadilan. Buahku lebih berharga dari pada emas, bahkan dari pada emas tua, hasilku lebih dari pada perak pilihan. Aku berjalan pada jalan kebenaran, di tengah-tengah jalan keadilan, supaya kuwariskan harta kepada yang mengasihi aku, dan kuisi penuh perbendaharaan mereka." (Amsal 8:17-21). Harta yang tetap yang Tuhan sediakan bagi orang yang mengasihi Dia adalah kehidupan kekal yang tiada pernah layu.
Jangan sekali-kali kita meninggalkan Kristus dan melupakan Dia. Melupakan Kristus dan meninggalkan Dia membuat kita akan kehilangan semua berkat-Nya, sebab Dia adalah "...jalan dan kebenaran dan hidup." (Yohanes 14:6a). Ingatlah selalu bahwa Tuhan berlaku sangat adil dalam segala tindakan-Nya dan Ia tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan (Galatia 6:7). Berhati-hatilah! Adalah celaka apabila seseorang melupakan Tuhan, apalagi sampai menolak Dia. Perhatikan firman Tuhan ini: "Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah; karena engkaulah yang menolak pengenalan itu maka Aku menolak engkau menjadi imam-Ku; dan karena engkau melupakan pengajaran Allahmu, maka Aku juga akan melupakan anak-anakmu." (Hosea 4:6).
Yang mengasihi Tuhan pasti beroleh berkat-berkat-Nya, tapi yang melupakan Tuhan pasti akan menuai akibatnya!
Baca: Mazmur 50:1-23
"Perhatikanlah ini, hai kamu yang melupakan Allah; supaya jangan Aku menerkam, dan tidak ada yang melepaskan." Mazmur 50:22
Bila kita baca ayat nas di atas secara sepintas, seolah-olah Tuhan itu sangat kejam, Ia akan menerkam setiap orang yang melupakan-Nya. Tidaklah demikian! Sebab Tuhan itu adil dalam segala tindakan-Nya. Tuhan memang bersikap tegas terhadap siapa pun yang tidak mau taat, untuk menunjukkan keadilan-Nya, namun Ia akan memberikan pahala atau upah kepada setiap orang yang taat melakukan kehendak-Nya.
Tuhan tak ingin manusia yang diciptakan-Nya itu menyalahgunakan segala kemurahan, kesabaran, kebaikan dan kasih setia-Nya. Sebagai makhluk ciptaan-Nya manusia harus taat kepada Tuhan, Sang Pencipta. Karena itu Tuhan pasti akan membuat perbedaan antara orang yang sungguh-sungguh mengasihi Dia dan orang yang melupakan Dia, "Aku mengasihi orang yang mengasihi aku, dan orang yang tekun mencari aku akan mendapatkan daku. Kekayaan dan kehormatan ada padaku, juga harta yang tetap dan keadilan. Buahku lebih berharga dari pada emas, bahkan dari pada emas tua, hasilku lebih dari pada perak pilihan. Aku berjalan pada jalan kebenaran, di tengah-tengah jalan keadilan, supaya kuwariskan harta kepada yang mengasihi aku, dan kuisi penuh perbendaharaan mereka." (Amsal 8:17-21). Harta yang tetap yang Tuhan sediakan bagi orang yang mengasihi Dia adalah kehidupan kekal yang tiada pernah layu.
Jangan sekali-kali kita meninggalkan Kristus dan melupakan Dia. Melupakan Kristus dan meninggalkan Dia membuat kita akan kehilangan semua berkat-Nya, sebab Dia adalah "...jalan dan kebenaran dan hidup." (Yohanes 14:6a). Ingatlah selalu bahwa Tuhan berlaku sangat adil dalam segala tindakan-Nya dan Ia tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan (Galatia 6:7). Berhati-hatilah! Adalah celaka apabila seseorang melupakan Tuhan, apalagi sampai menolak Dia. Perhatikan firman Tuhan ini: "Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah; karena engkaulah yang menolak pengenalan itu maka Aku menolak engkau menjadi imam-Ku; dan karena engkau melupakan pengajaran Allahmu, maka Aku juga akan melupakan anak-anakmu." (Hosea 4:6).
Yang mengasihi Tuhan pasti beroleh berkat-berkat-Nya, tapi yang melupakan Tuhan pasti akan menuai akibatnya!
Tuesday, April 16, 2019
JANGAN BERNAZAR BILA MUDAH INGKAR
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 April 2019
Baca: Ulangan 23:21-23
"Apa yang keluar dari bibirmu haruslah kaulakukan dengan setia, sebab dengan sukarela kaunazarkan kepada TUHAN, Allahmu, sesuatu yang kaukatakan dengan mulutmu sendiri." Ulangan 23:23
Karena terdorong oleh luapan emosi sesaat atau karena terdesak suatu hal, ada banyak orang Kristen gampang sekali bernazar kepada Tuhan. Bernazar bisa diartikan: janji yang sungguh-sungguh kepada Tuhan untuk melakukan suatu hal. Semisal: "Jika aku sudah sembuh dari sakitku aku akan semakin melayani Tuhan. Kalau bisnisku diberkati Tuhan aku akan sisihkan uangku untuk membantu pembangunan gereja, dan sebagainya." Mereka berpikir dengan bernazar Tuhan pasti akan mengabulkan semua keinginannya.
Firman Tuhan memperingatkan dengan keras agar kita tidak gampang untuk bernazar bila kita sendiri tidak bisa menepatinya alias ingkar, "...sebab tentulah TUHAN, Allahmu, akan menuntutnya dari padamu, sehingga hal itu menjadi dosa bagimu." (Ulangan 23:21). Adalah "Lebih baik engkau tidak bernazar dari pada bernazar tetapi tidak menepatinya. Janganlah mulutmu membawa engkau ke dalam dosa, dan janganlah berkata di hadapan utusan Allah bahwa engkau khilaf. Apakah perlu Allah menjadi murka atas ucapan-ucapanmu dan merusakkan pekerjaan tanganmu?" (Pengkhotbah 5:4-5). Pikirkan masak-masak sebelum berbicara!
Ada pelajaran berharga dari Yefta tentang nazar. Ketika hendak berperang melawan bani Amon bernazarlah Yefta di hadapan Tuhan: "Jika Engkau sungguh-sungguh menyerahkan bani Amon itu ke dalam tanganku, maka apa yang keluar dari pintu rumahku untuk menemui aku, pada waktu aku kembali dengan selamat dari bani Amon, itu akanmenjadi kepunyaan TUHAN, dan aku akan mempersembahkannya sebagai korban bakaran." (Hakim-Hakim 11:30-31). Pikir Yefta yang akan keluar dari pintu rumahnya adalah hewan ternaknya, namun: "Ketika Yefta pulang ke Mizpa ke rumahnya, tampaklah anaknya perempuan keluar menyongsong dia dengan memukul rebana serta menari-nari. Dialah anaknya yang tunggal; selain dari dia tidak ada anaknya laki-laki atau perempuan." (Hakim-Hakim 11:34). Dengan hati hancur berkeping-keping Yefta pun menepati nazarnya dengan mempersembahkan anak gadisnya itu kepada Tuhan.
Lebih baik tidak bernazar daripada tidak bisa menepati!
Baca: Ulangan 23:21-23
"Apa yang keluar dari bibirmu haruslah kaulakukan dengan setia, sebab dengan sukarela kaunazarkan kepada TUHAN, Allahmu, sesuatu yang kaukatakan dengan mulutmu sendiri." Ulangan 23:23
Karena terdorong oleh luapan emosi sesaat atau karena terdesak suatu hal, ada banyak orang Kristen gampang sekali bernazar kepada Tuhan. Bernazar bisa diartikan: janji yang sungguh-sungguh kepada Tuhan untuk melakukan suatu hal. Semisal: "Jika aku sudah sembuh dari sakitku aku akan semakin melayani Tuhan. Kalau bisnisku diberkati Tuhan aku akan sisihkan uangku untuk membantu pembangunan gereja, dan sebagainya." Mereka berpikir dengan bernazar Tuhan pasti akan mengabulkan semua keinginannya.
Firman Tuhan memperingatkan dengan keras agar kita tidak gampang untuk bernazar bila kita sendiri tidak bisa menepatinya alias ingkar, "...sebab tentulah TUHAN, Allahmu, akan menuntutnya dari padamu, sehingga hal itu menjadi dosa bagimu." (Ulangan 23:21). Adalah "Lebih baik engkau tidak bernazar dari pada bernazar tetapi tidak menepatinya. Janganlah mulutmu membawa engkau ke dalam dosa, dan janganlah berkata di hadapan utusan Allah bahwa engkau khilaf. Apakah perlu Allah menjadi murka atas ucapan-ucapanmu dan merusakkan pekerjaan tanganmu?" (Pengkhotbah 5:4-5). Pikirkan masak-masak sebelum berbicara!
Ada pelajaran berharga dari Yefta tentang nazar. Ketika hendak berperang melawan bani Amon bernazarlah Yefta di hadapan Tuhan: "Jika Engkau sungguh-sungguh menyerahkan bani Amon itu ke dalam tanganku, maka apa yang keluar dari pintu rumahku untuk menemui aku, pada waktu aku kembali dengan selamat dari bani Amon, itu akanmenjadi kepunyaan TUHAN, dan aku akan mempersembahkannya sebagai korban bakaran." (Hakim-Hakim 11:30-31). Pikir Yefta yang akan keluar dari pintu rumahnya adalah hewan ternaknya, namun: "Ketika Yefta pulang ke Mizpa ke rumahnya, tampaklah anaknya perempuan keluar menyongsong dia dengan memukul rebana serta menari-nari. Dialah anaknya yang tunggal; selain dari dia tidak ada anaknya laki-laki atau perempuan." (Hakim-Hakim 11:34). Dengan hati hancur berkeping-keping Yefta pun menepati nazarnya dengan mempersembahkan anak gadisnya itu kepada Tuhan.
Lebih baik tidak bernazar daripada tidak bisa menepati!
Subscribe to:
Comments (Atom)