Monday, April 24, 2017

ORANG BENAR BERMASA DEPAN CERAH (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 24 April 2017

Baca:  Yeremia 29:1-14

"Sungguh, beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Janganlah kamu diperdayakan oleh nabi-nabimu yang ada di tengah-tengahmu dan oleh juru-juru tenungmu, dan janganlah kamu dengarkan mimpi-mimpi yang mereka mimpikan!"  Yeremia 29:8

Punya masa depan yang cerah adalah harapan semua orang.  Banyak orang merasa penasaran dan berusaha untuk mencari tahu bagaimana dan akan seperti apa masa depannya.  Berbagai cara pun mereka lakukan:  ada yang pergi ke toko buku mencari buku-buku yang mengupas tentang kiat-kiat meraih masa depan, ada yang nekat pergi ke dukun-dukun atau peramal, ada yang percaya pada tanda-tanda di tubuh seperti garis tangan atau tahi lalat, dan ada juga yang percaya pada ramalan bintang dan shio.  Situasi yang demikian menjadi kesempatan emas bagi para nabi palsu, tukang-tukang tenung, dukun dan juru ramal untuk melancarkan aksinya.  Berdasarkan pengalaman yang ada, ramalan tetaplah ramalan, tidak ada kebenarannya,  "Sebab mereka bernubuat palsu kepadamu demi nama-Ku. Aku tidak mengutus mereka, demikianlah firman TUHAN."  (ayat 9).

     Secara garis besar perjalanan hidup setiap orang melewati 3 fase waktu, yaitu masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang  (masa depan).  Setiap orang tentunya memiliki masa lalu yang berbeda-beda:  manis, indah, suka, duka, pahit, getir, kelam, dihiasi keberhasilan atau mungkin penuh dengan kegagalan.  Tak bisa dipungkiri bahwa masa lalu seseorang dapat mempengaruhi kehidupannya di masa sekarang, namun kehidupannya di masa depan sesungguhnya tidak ditentukan oleh masa lalu, tapi sangat ditentukan oleh kehidupannya di masa sekarang.  Ada orang yang punya masa lalu sangat buruk  (kelam), namun ketika ia membuat keputusan untuk hidup berubah, mengikuti jalan Tuhan dan senantiasa mengandalkan-Nya, hidupnya pun dipulihkan dan beroleh masa depan yang baik.  Namun sebaliknya, ada orang-orang yang punya masa lalu yang begitu baik, tapi begitu ia mulai hidup sembrono, tidak takut akan Tuhan, hidup menyimpang dari kebenaran firman-Nya, perlahan tapi pasti grafik kehidupannya bukan semakin naik tapi malah semakin merosot dan akhirnya menuju kepada kehancuran.

     Jangan pernah membangga-banggakan masa lalu, yang terpenting adalah bagaimana kita menjalani hidup di masa sekarang!  (Bersambung)

Sunday, April 23, 2017

KERAJAAN SORGA: Harta Yang Tak Ternilai (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 23 April 2017

Baca:  Amsal 2:1-22

"jikalau engkau mencarinya seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti mengejar harta terpendam, maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan TUHAN dan mendapat pengenalan akan Allah."  Amsal 2:4-5

Untuk memperoleh harta kekayaan yang sifatnya fana kita rela bekerja membanting tulang siang dan malam.  Demikian juga seharusnya kita lakukan untuk memperoleh  'harta rohani'  yang jauh lebih bernilai dan berharga daripada harta yang ada di dunia ini.  Karena itu  "Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu!"  (1 Tawarikh 16:11).  Selagi kita masih sehat dan keadaan baik-baik jangan pernah sia-siakan waktu dan kesempatan yang ada.  Sebagaimana kedisiplinan dibutuhkan dalam menunjang keberhasilan untuk mendapatkan hal-hal duniawi, maka kedisiplinan juga berlaku untuk perkara-perkara rohani.

     Perlambang  'Kerajaan Sorga dan kebenarannya seperti harta yang terpendam'  bermakna bahwa tidak semua orang menyadari akan keberadaan Kerajaan Sorga tersebut.  Hanya orang yang mau berusaha, mau menggali atau mau mencari tahulah yang menyadari keberadannya.  Orang ini digambarkan akan menjual segala miliknya, yaitu harta benda duniawinya yang dianggapnya tidak lagi berharga atau tidak sepadan nilainya bila dibanding dengan  'harta rohani'  yang baru ditemukannya.  Orang-orang yang berjerih lelah mencari perkara-perkara rohani atau mengutamakan Kerajaan Allah dan kebenarannya akan mendapatkan berkat yang jauh lebih besar dibandingkan dengan mereka yang tidak sungguh-sungguh atau lalai melakukannya, sebab  "Dalam tiap jerih payah ada keuntungan,"  (Amsal 14:23).  Karena itu bangunlah kedisiplinan untuk mencari Tuhan dan membangun persekutuan dengan-Nya,  "Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia."  (1 Korintus 15:58b).

     Harta rohani yang terpendam juga harus dicari dengan penuh ketekunan karena tidak ada istilah  'instan'  di dalam Tuhan!  Banyak orang awalnya begitu bersemangat mengejar  'harta rohani'  tapi lama-kelamaan semangatnya menjadi pudar dan akhirnya tidak lagi bersungguh-sungguh.  Itu artinya mereka tidak bertekun!

"Peliharalah harta yang indah, yang telah dipercayakan-Nya kepada kita, oleh Roh Kudus yang diam di dalam kita."  2 Timotius 1:14