Monday, December 31, 2018

BERKEJARAN DENGAN WAKTU

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 31 Desember 2018

Baca:  Mazmur 90:1-17

"Sebab di mata-Mu seribu tahun sama seperti hari kemarin, apabila berlalu, atau seperti suatu giliran jaga di waktu malam."  Mazmur 90:4

Hari ini kita sudah berada di penghujung tahun 2018!  Hampir semua orang berkata:  "Ga terasa ya...waktu begitu cepat."  Dari hari ke minggu, dari minggu ke bulan, dan dari bulan ke tahun, semua berjalan seolah-olah hanya sekejap mata!  Rasa-rasanya baru kemarin kita merayakan perayaan tahun baru, tapi kini hanya tinggal hitungan jam, menit dan detik, tahun 2018 segera berakhir dan kita akan memasuki tahun yang baru.  Musa pun menyadari betapa cepatnya hari-hari yang dijalani manusia:  "Engkau menghanyutkan manusia; mereka seperti mimpi, seperti rumput yang bertumbuh, di waktu pagi berkembang dan bertumbuh, di waktu petang lisut dan layu."  (Mazmur 90:5-6).

     Satu hal yang tak boleh kita lupakan adalah mengucap syukur kepada Tuhan!  Bersyukur atas penyertaan Tuhan, dan bersyukur atas campur tangan Tuhan di sepanjang tahun 2018;  tanpa Tuhan, kita tidak akan mampu menjalani hari-hari kita,  "Sesungguhnya, Allah adalah penolongku; Tuhanlah yang menopang aku."  (Mazmur 54:6).  Karena waktu itu teramat singkat dan berlalunya buru-buru, marilah kita:  1.  Pergunakan waktu sebaik mungkin,  "...perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat."  (Efesus 5:15-16).  Jangan lagi suka menunda-nunda apa yang bisa dikerjakan sekarang, dengan alasan masih ada hari esok, padahal tak seorang pun tahu secara pasti apa yang akan terjadi di kemudian hari, apakah kita masih memiliki kesempatan ataukah tidak,  "Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu."  (Amsal 27:1).

     2.  Kumpulkan harta di sorga  (Matius 6:19-20).  Sebelum semuanya terlambat dan timbul penyesalan, mari perbaharui komitmen kita untuk hidup menyenangkan hati Tuhan dengan meninggalkan cara hidup duniawi.  Jadikan kegagalan dan kesalahan di hari-hari kemarin sebagai pelajaran berharga untuk kita menatap hari esok.

"Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana."  Mazmur 90:12

Sunday, December 30, 2018

JANGAN MEMBERONTAK SAAT DIBENTUK

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 30 Desember 2018

Baca:  Yesaya 64:1-12

"Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu."  Yesaya 64:8

Hidup orang percaya digambarkan seperti tanah liat di tangan sang penjunan.  Tuhan adalah Sang Penjunan.  Untuk menjadi bejana yang berdaya guna dan bernilai, tanah liat harus mengalami proses pembentukan sedemikian rupa sampai menjadi lumat, lentur dan lunak.  Lalu mulailah tangan Tuhan bekerja, mengambil gumpalan tanah liat itu dan membentuknya sesuai kehendak-Nya.  Kita takkan bisa lari dari yang namanya  'proses'  pembentukan, sebab tidak ada istilah instan di dalam Tuhan.  "Beginilah firman TUHAN, Penebusmu, yang membentuk engkau sejak dari kandungan; 'Akulah TUHAN, yang menjadikan segala sesuatu, yang seorang diri membentangkan langit, yang menghamparkan bumi--siapakah yang mendampingi Aku?'"  (Yesaya 44:24). 

     Pembentukan Tuhan memang sakit dan tak menyenangkan, seperti berada di padang gurun, karena itulah banyak orang mengeluh, mengomel dan memberontak.  Karena terus memberontak kepada Tuhan, bangsa Israel harus berputar-putar selama 40 tahun di padang gurun sebelum mencapai Tanah Perjanjian.  "...Allah tidak menuntun mereka melalui jalan ke negeri orang Filistin, walaupun jalan ini yang paling dekat; sebab firman Allah: 'Jangan-jangan bangsa itu menyesal, apabila mereka menghadapi peperangan, sehingga mereka kembali ke Mesir.' Tetapi Allah menuntun bangsa itu berputar melalui jalan di padang gurun menuju ke Laut Teberau."  (Keluaran 13:17-18).

     Tuhan belum selesai berurusan dengan kita selama kita masih saja memberontak dan hidup menyimpang dari jalan kebenaran-Nya.  "Celakalah orang yang berbantah dengan Pembentuknya; dia tidak lain dari beling periuk saja! Adakah tanah liat berkata kepada pembentuknya: 'Apakah yang kaubuat?' atau yang telah dibuatnya: 'Engkau tidak punya tangan!'  (Yesaya 45:9).  Milikilah penyerahan diri kepada Tuhan saat diproses, sebab Tuhan tahu yang terbaik untuk kita.  "Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya."  (Yeremia 18:4).

Kita ini buatan Tuhan, diciptakan dalam Kristus untuk melakukan perbuatan baik  (Efesus 2:10).

Saturday, December 29, 2018

JANGAN SALAH MEMILIH PASANGAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 29 Desember 2018

Baca:  1 Korintus 7:1-16

"tetapi mengingat bahaya percabulan, baiklah setiap laki-laki mempunyai isterinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri."  1 Korintus 7:2

Alkitab secara jelas menyatakan bahwa untuk menghindarkan diri dari bahaya percabulan hendaklah setiap laki-laki atau perempuan menikah atau berumah tangga.  Jadi, pernikahan itu Alkitabiah, dan melibatkan dua pihak yaitu pihak laki-laki dan pihak perempuan, bukan laki-laki dan dengan laki-laki atau perempuan dengan perempuan  (sejenis).

     Kita tidak boleh sembarangan dalam memilih pasangan, jadi pikirkan dan rencanakan dengan baik, sebab pernikahan Kristiani adalah sekali seumur hidup.  Salah memilih pasangan akan berdampak pada ketidakharmonisan rumah tangga kelak.  "Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?"  (2 Korintus 6:14).  Pasangan seiman adalah harga mutlak dan tidak bisa dikompromikan.  Jika berbicara dari sudut pandang laki-laki, atau kita sebut calon-calon suami, di dalam memilih calon isteri hendaknya jangan didasarkan atas dorongan lahiriah semata, sebab apa yang tampak secara kasat mata itu bisa menipu dan bukanlah ukuran, sebab  "Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan TUHAN dipuji-puji."  (Amsal 31:30).  Ini penting sekali untuk diperhatikan, sebab laki-laki adalah kepala keluarga dan bertanggung jawab penuh atas rumah tangganya.  Kriteria utama dalam memilih pasangan adalah haruslah seorang yang takut akan Tuhan.

     Inilah gambaran tentang seorang isteri yang cakap:  "Ia bangun kalau masih malam, lalu menyediakan makanan untuk seisi rumahnya, dan membagi-bagikan tugas kepada pelayan-pelayannya perempuan. Tangannya ditaruhnya pada jentera, jari-jarinya memegang pemintal. Ia mengawasi segala perbuatan rumah tangganya, makanan kemalasan tidak dimakannya."  (Amsal 31:15, 19, 27).  Kecakapan seorang isteri menurut pandangan firman Tuhan itu bertitik tolak pada kerajinannya dalam mengurus rumah tangga atau tidak suka bermalas-malasan.  'Cakap'  adalah bukan hanya mengandalkan paras wajahnya yang ayu atau lekuk tubuhnya yang tampak sexy bak peragawati.

Jangan pernah terkecoh dalam memilih pasangan, ikuti tuntunan firman Tuhan!

Friday, December 28, 2018

RENCANA TUHAN TIDAK PERNAH SALAH

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 28 Desember 2018

Baca:  Keluaran 14:15-31

"Lalu Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, dan semalam-malaman itu TUHAN menguakkan air laut dengan perantaraan angin timur yang keras, membuat laut itu menjadi tanah kering; maka terbelahlah air itu."  Keluaran 14:21

Sudah terlampau sering kita alami bahwa apa yang Tuhan kerjakan dalam hidup ini seringkali tidak masuk akal atau di luar nalar kita.  Cara Tuhan bekerja dan jalan-jalan-Nya terlalu ajaib untuk dimengerti.  "Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu, terlalu tinggi, tidak sanggup aku mencapainya."  kata pemazmur  (Mazmur 139:6).  Tentang hal itu Tuhan sudah menegaskan:  "Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu."  (Yesaya 55:8-9).

     Keajaiban cara Tuhan bekerja pernah dialami oleh bangsa Israel saat dipimpin Musa, yaitu ketika mereka keluar dari Mesir.  Dengan pimpinan tangan Tuhan, mereka berkemah di Etam, di tepi padang gurun  (Keluaran 13:20).  Tetapi kemudian Tuhan berfirman kepada Musa untuk memerintahkan orang-orang Israel balik kembali dan berkemah di depan Pi-Hahirot, antara Migdol dan Laut, tepat di depan Baal Zefon  (Keluaran 14:2).  Perintah Tuhan ini terasa aneh, sebab di situ mereka melihat  "...orang Mesir, segala kuda dan kereta Firaun, orang-orang berkuda dan pasukannya, mengejar mereka dan mencapai mereka..."  (Keluaran 14:9), sehingga hal itu menimbulkan ketakutan yang luar biasa.  Apakah Tuhan salah dalam rencana-Nya untuk melepaskan umat Israel dari tangan bangsa Mesir?  Tidak sama sekali, sebab semuanya itu sudah dalam rencana Tuhan.  Buktinya, dengan kuasa Tuhan akhirnya bangsa Israel dapat menyeberang di air yang kering, karena Tuhan telah membuat laut Teberau itu menjadi tanah kering.

     Dinyatakan bahwa Tuhan menguakkan air laut dengan perantaraan angin timur yang keras, padahal menurut pakar meteorologi angin timur yang berhembus di padang gurun itu berhembus sangat dahsyat dan bisa menimbulkan tsunami.  Namun apa pun yang menurut teori dan pemikiran manusia dapat menimbulkan hal-hal yang buruk di tangan Tuhan justru dapat menghasilkan mujizat bagi kita.

Sekalipun perintah Tuhan serasa aneh dan tidak masuk akal, tetaplah taat kepada-Nya, sebab tangan-Nya tidak kurang panjang untuk menyelamatkan kita.

Thursday, December 27, 2018

SEMAKIN BERISI HENDAKNYA SEMAKIN MERUNDUK

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 27 Desember 2018

Baca:  Ulangan 8:1-20

"Maka janganlah kaukatakan dalam hatimu: Kekuasaanku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini."  Ulangan 8:17

Salah satu sifat buruk yang tanpa disadari sering muncul dalam diri seseorang adalah sombong.  Kesombongan adalah kebencian Tuhan.  Sifat ini seringkali muncul pada saat seseorang berada  'di atas', berhasil atau diberkati.  Ingat!  Ujian Tuhan tidak selalu berupa masalah atau penderitaan, terkadang bisa berupa berkat, kelimpahan atau keberhasilan.

     Banyak orang gagal dalam ujian berkat ini.  Ketika hidupnya biasa saja dan pas-pasan, orang begitu tekun mencari Tuhan dan beribadah kepada-Nya dengan sungguh-sungguh.  Begitu hidupnya berubah:  diberkati, kekayaan bertambah, pelayanan berhasil, bisnis makin maju, mulailah mereka berubah sikap menjadi sombong, merasa semua adalah hasil jerih payah dan kerja kerasnya sendiri. 
"Kekuasaanku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini."  (ayat nas).  Di setiap kesempatan, dari nada bicaranya mulai terlihat bahwa mereka selalu membangga-banggakan diri dan mulai menganggap remeh orang lain.  Penyakit sombong ini juga menjangkiti pelayan-pelayan Tuhan!  Dahulu ketika pelayanannya masih biasa-biasa saja, bila ada orang yang membutuhkan bantuan doa dan ia sewaktu-waktu dipanggil, ia pasti datang.  Begitu pelayanannya berhasil dan namanya mulai terkenal, bila ada orang yang membutuhkan bantuan doa, ia sulit sekali untuk ditemui.  Memang benar, tanpa kerja keras orang tidak akan berhasil dalam setiap usaha dan pelayanan, tapi bila Tuhan tidak turut campur tangan di setiap usaha dan pelayanan kita, apakah bisa berhasil?  "...Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya..."  (Ulangan 8:18).

     Agur bin Yake katakan,  "Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku."  (Amsal 30:8-9).

Jangan jadi orang yang tidak kuat menerima berkat, seharusnya semakin diberkati Tuhan hidup kita semakin menjadi berkat pula.

Wednesday, December 26, 2018

JANGAN ADA IRI HATI DI ANTARA KITA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 26 Desember 2018

Baca:  Bilangan 12:1-16

"'Sungguhkah TUHAN berfirman dengan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman?' Dan kedengaranlah hal itu kepada TUHAN."  Bilangan 12:2

Kisah ini berawal ketika Miryam dan Harun merasa kecewa kepada saudara kandungnya, Musa, yang telah menikahi perempuan Kusy.  Rasa kecewa itu semakin menjadi-jadi ketika mereka melihat bahwa Tuhan telah memilih dan mengurapi Musa untuk menjadi pemimpin atas Israel.  Akhirnya terungkap bahwa kekecewaan mereka didasari oleh rasa iri hati, bahkan mereka berani mengatai-ngatai Musa:  "'Sungguhkah TUHAN berfirman dengan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman?' Dan kedengaranlah hal itu kepada TUHAN."  (ayat nas).  Iri hati timbul dalam diri seseorang ketika merasa kurang senang melihat kelebihan atau keberhasilan orang lain.

     Tuhan tahu apa yang terjadi, sehingga Ia memanggil Musa, Harun dan Miryam untuk masuk ke Kemah Pertemuan:  "Jika di antara kamu ada seorang nabi, maka Aku, TUHAN menyatakan diri-Ku kepadanya dalam penglihatan, Aku berbicara dengan dia dalam mimpi. Bukan demikian hamba-Ku Musa, seorang yang setia dalam segenap rumah-Ku."  (Bilangan 12:6-7).  Karena telah mengatai-ngatai orang yang telah diurapi Tuhan, Miryam harus menuai akibat yaitu terkena kusta,  "Sebab itu bangkitlah murka TUHAN terhadap mereka, lalu pergilah Ia. Dan ketika awan telah naik dari atas kemah, maka tampaklah Miryam kena kusta, putih seperti salju; ketika Harun berpaling kepada Miryam, maka dilihatnya, bahwa dia kena kusta!"  (Bilangan 12:9-10).  Sebenarnya Harun juga turut menyinggung Musa, namun ia segera sadar, lalu merendahkan diri dan memohon pengampunan kepada Tuhan, sehingga ia luput dari penyakit kusta.

     Apa yang menimpa Miryam menjadi peringatan keras bagi kita!  Jangan sekali-kali iri hati kepada orang lain, terlebih kepada orang-orang yang telah dipilih dan diurapi Tuhan.  Iri hati hanya akan berdampak buruk dan mendatangkan hukuman.  "...iri hati membusukkan tulang."  (Amsal 14:30).  Lalu Musa berdoa kepada Tuhan dan memohon kasih karunia-Nya:  "Ya Allah, sembuhkanlah kiranya dia."  (Bilangan 12:13).

"Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat."  Yakobus 3:16

Tuesday, December 25, 2018

KIDUNG PUJIAN DI HARI NATAL

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 25 Desember 2018

Baca:  Lukas 1:46-55

"Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku,"  Lukas 1:46-47

Ribuan tahun silam, di kota Yerusalem, terdengarlah suara merdu seorang wanita melantunkan kidung pujian bagi Tuhan.  Ialah Maria, yang beroleh kasih karunia Tuhan  (Lukas 1:30).  Suatu anugerah besar bagi Maria karena Tuhan berkenan menjadikannya saluran berkat bagi dunia, karena melalui dirinya lahirlah Sang Juruselamat dunia.  Untuk menggenapi rencana Tuhan ini Maria berani membayar harga yaitu menanggung resiko besar, bisa dihukum mati karena dituduh berzinah.  Karena itulah di tengah-tengah situasi sulit Maria bisa bersyukur dan menyenandungkan pujian-pujian dan memuliakan Tuhan.

     Maria melantunkan kidung pujian bagi Tuhan karena Tuhan telah menyelamatkan umat-Nya. 
"Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku,"  (ayat nas).  Ia menyadari dirinya adalah orang berdosa yang sesungguhnya patut dihukum dan keadilan Tuhan harus ditegakkan.  Tak seorang manusia pun mampu menyelamatkan diri dari hukuman tersebut, namun karena begitu besar kasih Tuhan kepada manusia,  "Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita,...sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita."  (Mazmur 103:10, 12).  Atas dasar inilah Maria memuji-muji Tuhan dengan sepenuh hati.  Ia bernyanyi bukan asal-asalan, tapi melibatkan seluruh keberadaan hidupnya disertai sikap hormat dan ekspresi penuh kebahagiaan karena telah beroleh anugerah keselamatan.

     Maria memuji-muji Tuhan karena Tuhan rela turun dari takhta-Nya yang Mahatinggi datang ke dunia dan bersedia dilahirkan di kandang yang hina.  Ini berbicara tentang kerendahan hati.  Karena itu setiap orang percaya harus mengikuti teladan-Nya, sebab Tuhan sangat mengasihi orang yang rendah hati dan menentang orang yang sombong,  "Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah;"  (Lukas 1:52).  Kehadiran Sang Juruselamat di dunia ini adalah bukti bahwa Tuhan setia pada janji-Nya  (Lukas 1:54-55).

"Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud."  Lukas 2:11

Monday, December 24, 2018

JANGAN SAMPAI FRUSTASI

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 24 Desember 2018

Baca:  Ayub 10:1-22

"Aku telah bosan hidup, aku hendak melampiaskan keluhanku, aku hendak berbicara dalam kepahitan jiwaku."  Ayub 10:1

Rasa frustasi dan berujung kepada keputusasaan seringkali timbul ketika orang berada dalam situasi sangat sulit serasa tidak ada jalan keluar, ketika masalah datang bertubi-tubi, ketika beban hidup terasa berat.  Puncak frustasi dan putus asa adalah merasa bosan hidup, sehingga timbul niat mengakhiri hidup saja karena merasa diri tidak berarti lagi.

     Kondisi seperti ini pernah dirasakan oleh Ayub!  Penderitaan yang datang secara bertubi-tubi membuatnya nyaris frustasi:  harta bendanya ludes, anak-anaknya mati  (Ayub 1:1-22), bahkan isteri yang dikasihinya pun pergi meninggalkan dia.  Kemalangan Ayub semakin lengkap, sebab sahabat-sahabat terdekatnya juga beranjak menjauh.  Itulah dunia!  Ketika seseorang sedang berada  'di atas'  dan berlimpah harta sangatlah wajar bila banyak orang mengerumuninya, tetapi begitu ia berada  'di bawah'  dan jatuh miskin, tak banyak orang mau berteman dengannya alias ditinggalkan oleh teman-temannya,  "Juga oleh temannya orang miskin itu dibenci, tetapi sahabat orang kaya itu banyak."  (Amsal 14:20).  Karena telah kehilangan segala-galanya Ayub menjadi sangat frustasi dan rasa frustasinya itu sudah sampai di ambang batas, sampai-sampai ia merasa telah bosan hidup.  Bahkan Ayub merasa menyesal telah dilahirkan ke dalam dunia ini:  "Mengapa Engkau menyebabkan aku keluar dari kandungan? Lebih baik aku binasa, sebelum orang melihat aku!"  (Ayub 10:18).

     Di zaman yang serbasulit seperti sekarang ini ada banyak orang merasa frustasi dan berputus asa karena tekanan hidup yang berat.  Bahkan tidak sedikit dari mereka yang terbersit di hati untuk mengakhiri hidup saja sama seperti Ayub.  Jangan sekali-kali timbul keinginan untuk mengakhiri hidup!  Seberat apa pun penderitaan yang kita alami pasti ada jalan ke luarnya.  Mari datanglah kepada Kristus!  Karena Dia adalah  "...jalan dan kebenaran dan hidup."  (Yohanes 14:6a).  Di dalam Kristus pasti ada jalan ke luar, ada pertolongan, ada kelepasan.  Jadi,  "Masih ada harapan untuk hari depanmu, demikianlah firman TUHAN:"  (Yeremia 31:17).

"Sebab bukan untuk seterusnya orang miskin dilupakan, bukan untuk selamanya hilang harapan orang sengsara."  Mazmur 9:19

Sunday, December 23, 2018

PERTOBATAN MENGHASILKAN PEMULIHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 23 Desember 2018

Baca:  Mazmur 51:1-21

"Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah."  Mazmur 51:19

Saul dan Daud memiliki kesamaan dalam beberapa hal, di antaranya:  sama-sama pernah menjadi raja atas Israel dan sama-sama diurapi Tuhan dari tabung tanduk nabi yang sama yaitu Samuel.  Pengurapan Saul  (1 Samuel 10:1)  dan pengurapan Daud  (1 Samuel 16:13)  sama, sehingga Roh Tuhan berkuasa atas hidup mereka.  Roh Tuhan menyertai kehidupan keduanya.  Kesamaan yang lain:  Saul dan Daud pernah jatuh dalam dosa.  Karena tidak sabar menantikan kedatangan Samuel, Saul melakukan tindakan bodoh yaitu berani mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan di Gilgal, padahal tugas mempersembahkan korban adalah tugas seorang imam  (1 Samuel 13:8-12).  Sedangkan Daud melakukan dosa perzinahan dengan Batsyeba  (2 Samuel 11:1-5).  Ini bukti bahwa keduanya adalah manusia biasa yang punya kelemahan.

     Meski memiliki banyak kesamaan, akhir hidup mereka sangatlah berbeda.  Bagaimana bisa?  Pilihan dan keputusan mereka dalam menjalani hidup menentukan masa depan mereka sendiri.  Saul tetap saja mengeraskan hati, berkilah tak mau mengakui kesalahan, dan tidak mau bertobat sekalipun telah ditegur Samuel perihal ketidaktaatannya:  "Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan. Sebab pendurhakaan adalah sama seperti dosa bertenung dan kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim. Karena engkau telah menolak firman TUHAN, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja."  (1 Samuel 15:22-23).  Akibatnya Roh Tuhan undur dan meninggalkan Saul dan ia pun harus kehilangan takhtanya.

     Berbeda dengan Daud, ketika ditegur Natan perihal dosa perzinahannya, Daud menunjukkan penyesalannya yang mendalam dan hatinya menjadi remuk.  Berserulah Daud kepada Tuhan memohon pengampunan:  "Sembunyikanlah wajah-Mu terhadap dosaku, hapuskanlah segala kesalahanku! Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku!"  (Mazmur 51:11, 13).  Tuhan berkenan kepada pertobatan Daud sehingga Roh-Nya pun tetap menyertai.

Tuhan mengokohkan takhta kerajaan Daud, sedangkan hidup Saul berakhir tragis.