Sunday, April 23, 2017

KERAJAAN SORGA: Harta Yang Tak Ternilai (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 23 April 2017

Baca:  Amsal 2:1-22

"jikalau engkau mencarinya seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti mengejar harta terpendam, maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan TUHAN dan mendapat pengenalan akan Allah."  Amsal 2:4-5

Untuk memperoleh harta kekayaan yang sifatnya fana kita rela bekerja membanting tulang siang dan malam.  Demikian juga seharusnya kita lakukan untuk memperoleh  'harta rohani'  yang jauh lebih bernilai dan berharga daripada harta yang ada di dunia ini.  Karena itu  "Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu!"  (1 Tawarikh 16:11).  Selagi kita masih sehat dan keadaan baik-baik jangan pernah sia-siakan waktu dan kesempatan yang ada.  Sebagaimana kedisiplinan dibutuhkan dalam menunjang keberhasilan untuk mendapatkan hal-hal duniawi, maka kedisiplinan juga berlaku untuk perkara-perkara rohani.

     Perlambang  'Kerajaan Sorga dan kebenarannya seperti harta yang terpendam'  bermakna bahwa tidak semua orang menyadari akan keberadaan Kerajaan Sorga tersebut.  Hanya orang yang mau berusaha, mau menggali atau mau mencari tahulah yang menyadari keberadannya.  Orang ini digambarkan akan menjual segala miliknya, yaitu harta benda duniawinya yang dianggapnya tidak lagi berharga atau tidak sepadan nilainya bila dibanding dengan  'harta rohani'  yang baru ditemukannya.  Orang-orang yang berjerih lelah mencari perkara-perkara rohani atau mengutamakan Kerajaan Allah dan kebenarannya akan mendapatkan berkat yang jauh lebih besar dibandingkan dengan mereka yang tidak sungguh-sungguh atau lalai melakukannya, sebab  "Dalam tiap jerih payah ada keuntungan,"  (Amsal 14:23).  Karena itu bangunlah kedisiplinan untuk mencari Tuhan dan membangun persekutuan dengan-Nya,  "Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia."  (1 Korintus 15:58b).

     Harta rohani yang terpendam juga harus dicari dengan penuh ketekunan karena tidak ada istilah  'instan'  di dalam Tuhan!  Banyak orang awalnya begitu bersemangat mengejar  'harta rohani'  tapi lama-kelamaan semangatnya menjadi pudar dan akhirnya tidak lagi bersungguh-sungguh.  Itu artinya mereka tidak bertekun!

"Peliharalah harta yang indah, yang telah dipercayakan-Nya kepada kita, oleh Roh Kudus yang diam di dalam kita."  2 Timotius 1:14

Saturday, April 22, 2017

KERAJAAN SORGA: Harta Yang Tak Ternilai (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 22 April 2017

Baca:  Matius 13:44-46

"Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu."  Matius 13:46

Semua orang pasti memiliki tujuan yang hendak dicapai dalam hidupnya:  ada yang ingin menjadi kaya atau hidup berkecukupan, berhasil dalam studi, bisnis lancar, atau menempati jabatan atau posisi penting di sebuah instansi, dan masih banyak lagi.  Untuk mencapai tujuan itu orang berjuang dan berusaha sedemikian rupa karena tahu bahwa hasil yang akan diperoleh ditentukan oleh usaha dan kerja keras yang dilakukan.  Semakin giat orang berusaha semakin dekat kepada tujuan!

     Sibuk mengejar perkara-perkara jasmani atau duniawi adalah sah-sah saja asalkan kita tidak melupakan perkara-perkara rohani yang tentunya jauh lebih berharga dan mulia.  Karena itu harus ada keseimbangan di antara keduanya!  Jangan sampai kita hanya bersemangat untuk mencari harta kekayaan duniawi yang hanya berlaku untuk kelangsungan hidup di dunia yang sifatnya sementara saja, sedangkan upaya untuk mencari harta terpendam  (perkara rohani)  kita tak punya gairah untuk melakukannya.  Firman Tuhan sudah memperingatkan,  "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu."  (Matius 6:33).  Kerajaan Allah dan kebenarannya merupakan harta yang tak ternilai harganya yang patut diingini melebihi segala sesuatu yang ada di dunia ini.  Kerajaan Allah dan kebenarannya hanya dapat kita peroleh jika kita mau membayar harga yaitu mengorbankan segala sesuatu yang dapat menghalangi kita untuk memilikinya, sepertinya dalam perumpamaan ini:  "Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu."  (Matius 13:44b).  Kata menjual seluruh miliknya berarti mengalihkan perhatian dengan segenap hati dari segala perkara yang lain, fokus dan memusatkan seluruh hidup kepada  "...perkara yang di atas, di mana Kristus ada,"  (Kolose 3:1).

     Apa yang menjadi fokus hidup Saudara saat ini?  Harta yang terpendam atau mutiara yang berharga atau hal Kerajaan Allah dan kebenarannya adalah berbicara tentang takut akan Tuhan dan hikmat dari Tuhan untuk mengenal Dia lebih lagi.

"Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga."  Efesus 1:3

Friday, April 21, 2017

KELEDAI: Lambang Kerendahan Hati

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 21 April 2017

Baca:  Matius 21:1-11

"Dan orang banyak yang berjalan di depan Yesus dan yang mengikuti-Nya dari belakang berseru, katanya: 'Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi!'"  Matius 21:9

Keledai memiliki nama latin Equus africanus asinus dan termasuk keluarga Equidae atau kuda, tubuhnya lebih kecil, serta bertelinga agak panjang.  Meski kecil keledai memiliki tenaga yang cukup kuat dengan pergerakan kaki yang cukup lincah, tapi berperangai agak bengal.  Hal ini mungkin disebabkan oleh instingnya untuk melindungi diri yang sangat kuat;  namun begitu manusia sudah berhasil menaklukkannya maka si keledai akan gampang menurut.  Ukuran tubuh keledai sangat bervariasi tergantung jenisnya, dengan tinggi berkisar antara 79 cm hingga 160 cm.  Usia harapan hidup keledai pekerja di negara berkembang sekitar 12 hingga 15 tahun, namun keledai yang hidup di negara maju dapat hidup hingga usia 30 bahkan 50 tahun.

     Penggunaan keledai sebagai hewan tunggangan atau pengangkut beban sudah lazim di kalangan bangsa Israel, di mana para penggembara miskinlah yang lebih lazim menunggang keledai.  Karena itu keledai terkesan sebagai sarana angkutan bagi rakyat kalangan bawah.  Namun nabi Zakharia telah menubuatkan bahwa kedatangan Sang Mesias justru dengan mengendarai seekor keledai:  "Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda."  (Zakharia 9:9).  Ini sangat kontras sekali dengan pemimpin-pemimpin atau raja-raja dunia yang kebanyakan menunggang kuda perang sehingga menimbulkan kesan mewah, megah, gagah dan berkuasa.  Tatkala memasuki kota Yerusalem Tuhan Yesus justru datang dengan mengendarai seekor keledai betina yang muda, jauh dari kesan megah dan mewah.  Ini semakin menegaskan tentang prinsip kerendahan hati dan wujud kepedulian Kristus terhadap umat kalangan bawah.

     Yesus Kristus rela meninggalkan kemuliaan sorgawi untuk datang ke dunia dengan satu misi yaitu membawa damai dan menyelamatkan orang-orang berdosa.

"...belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan."  Matius 11:29

Thursday, April 20, 2017

KEFASIKAN MENDATANGKAN HUKUMAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 20 April 2017

Baca:  Roma 2:1-16

"Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya,...murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri, yang tidak taat kepada kebenaran, melainkan taat kepada kelaliman."  Roma 2:6, 8

Tuhan tidak pernah menutup mata untuk setiap perbuatan manusia, tidak ada yang tersembunyi di hadapan-Nya,  "...sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab."  (Ibrani 4:13).  Orang-orang fasik mungkin bisa tertawa lebar, tapi tidak akan berlangsung lama.  "Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya,"  (Galatia 6:7-8a).  Sesungguhnya sudah disediakan hukuman bagi orang fasik atau mereka yang berlaku jahat.

     Menurut penglihatan mata jasmani, orang-orang fasik mungkin berkelimpahan materi, dan semua yang dikerjakannya tampak berjalan lancar tanpa aral.  Bukan hanya Asaf menghadapi pergumulan ini, nabi Yeremia pun sempat mengalaminya:  "Engkau memang benar, ya TUHAN, bilamana aku berbantah dengan Engkau! Tetapi aku mau berbicara dengan Engkau tentang keadilan: Mengapakah mujur hidup orang-orang fasik, sentosa semua orang yang berlaku tidak setia? Engkau membuat mereka tumbuh, dan merekapun juga berakar, mereka tumbuh subur dan menghasilkan buah juga. Memang selalu Engkau di mulut mereka, tetapi jauh dari hati mereka."  (Yeremia 12:1-2).

     Mengapa seolah-olah Tuhan bermurah hati kepada orang fasik?  "Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan?"  (Roma 2:4b).  Kemurahan hati Tuhan itu bertujuan memberi kesempatan kepada mereka agar berbalik dari jalan-jalannya yang jahat.  Namun banyak orang fasik yang tidak menyadari akan perbuatannya, bahkan kejahatan mereka semakin menjadi-jadi, padahal  "...oleh kekerasan hatimu yang tidak mau bertobat, engkau menimbun murka atas dirimu sendiri pada hari waktu mana murka dan hukuman Allah yang adil akan dinyatakan."  (Roma 2:5).

"Sebab Engkau bukanlah Allah yang berkenan kepada kefasikan; orang jahat takkan menumpang pada-Mu."  Mazmur 5:5

Wednesday, April 19, 2017

KEMUJURAN ORANG FASIK HANYA SESAAT

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 19 April 2017

Baca:  Mazmur 73:1-28

"Sebab sesungguhnya, siapa yang jauh dari pada-Mu akan binasa; Kaubinasakan semua orang, yang berzinah dengan meninggalkan Engkau."  Mazmur 73:27

Asaf adalah keturunan dari suku Lewi yang bertugas sebagai pelayan pujian di hadapan tabut Tuhan dan kepala paduan suara pada zaman raja Daud  (baca  1 Tawarikh 16:4-5).  Mazmur 73 ini berisikan tentang pergumulan hidup yang dialami oleh Asaf ketika melihat keberadaan orang-orang fasik yang secara kasat mata tampak lebih mujur hidupnya dibandingkan dengan mereka yang hidup takut akan Tuhan.  "Sebab kesakitan tidak ada pada mereka, sehat dan gemuk tubuh mereka; mereka tidak mengalami kesusahan manusia, dan mereka tidak kena tulah seperti orang lain...mereka menambah harta benda dan senang selamanya!"  (ayat 4, 5, 12).  Ini menimbulkan kegundahan dalam diri Asaf sehingga ia sempat complain kepada Tuhan mempertanyakan keadilan-Nya.  "Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah. Namun sepanjang hari aku kena tulah, dan kena hukum setiap pagi."  (ayat 13-14).  Kesalehan hidup itu sepertinya sia-sia dan tak berguna.  Benarkah?

     Ketahuilah bahwa kemujuran orang fasik itu tidak untuk selama-lamanya, hanya sesaat selama hidup di dunia, alias semu.  "Karena sedikit waktu lagi, maka lenyaplah orang fasik; jika engkau memperhatikan tempatnya, maka ia sudah tidak ada lagi."  (Mazmur 37:10).  Karena itu Daud mengingatkan,  "Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang; sebab mereka segera lisut seperti rumput dan layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau."  (Mazmur 37:1-2).  Sesulit apa pun situasinya biarlah kita tetap mengerjakan bagian kita yaitu hidup benar di hadapan Tuhan dan senantiasa tinggal dekat Dia, di situlah letak kekuatan orang percaya, sebab siapa yang jauh dari Tuhan akan mengalami kebinasaan  (ayat nas).

     Akhirnya Asaf pun menyadari bahwa tidak selayaknya ia merasa cemburu dan iri hati dengan kehidupan orang-orang fasik.  Jadi tidak ada kata rugi atau sia-sia mempertahankan hidup benar, sebab pada saatnya Tuhan pasti akan membuat perbedaan!  Ketidaktaatan pasti akan mendapatkan balasan, dan  "...ada pahala bagi orang benar, sesungguhnya ada Allah yang memberi keadilan di bumi."  (Mazmur 58:12).

Tuhan selalu ada di pihak orang benar, karena itu kita tak perlu kuatir!

Tuesday, April 18, 2017

UMAT TEBUSAN TUHAN: Mengabdi Kepada Tuhan (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 18 April 2017

Baca:  Markus 10:17-27

"Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah."  Markus 10:25

Semakin kita memusatkan perhatian kepada kesenangan dan kenikmatan hidup di dunia, semakin kecil kesempatan kita untuk menikmati hidup yang sesungguhnya di kekekalan bersama Kristus,  "Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?"  (Matius 16:26).  Karena itu jangan pernah sia-siakan kesempatan yang ada untuk mengejar perkara-perkara rohani lebih dari apa pun.  Tidak menghargai kesempatan berarti kita tidak menghargai Tuhan yang memberi kesempatan.  Orang yang tidak mau kehilangan kesenangan dan kenikmatan daging atau hal-hal yang duniawi akan kehilangan hari esok di dalam kekekalan.  Mana yang Saudara pilih?

     Musa menyatakan ini,  "Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun,"  (Mazmur 90:10).  Tujuh puluh atau delapan puluh tahun haruslah dianggap sebagai persinggahan sementara.  Karena itu kita tidak boleh bersikap seolah-olah kita akan menetap selama-lamanya di bumi ini.  Biarlah waktu yang terbatas ini kita jadikan kesempatan untuk mengumpulkan harta sorgawi sebanyak-banyaknya!  Banyak orang menganggap bahwa yang paling berharga dalam hidup ini adalah uang, deposito di bank, rumah megah, mobil, aset perusahaan, jabatan dan sebagainya, karena pikirnya memiliki semua itu menjadi jaminan bahwa hidupnya akan nyaman, aman dan berbahagia.  Wajarlah jika mereka akan berpikir 1000X jika harus melepaskannya.  "Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada."  (Matius 6:21).  Harta kekayaan jika tidak dikelola dengan benar dan dengan sikap hati yang benar bisa menjadi jerat dan membinasakan, sama seperti api, bisa menjadi teman atau lawan.

     Namun harus diakui bahwa semakin banyak kita memiliki segala sesuatu semakin berat bagi kita untuk merelakan atau melepaskannya.  Rasul Paulus memperingatkan agar kita tidak berharap kepada sesuatu yang tidak pasti, seperti kekayaan  (baca  1 Timotius 6:17).  Inilah tipu muslihat Iblis untuk membuat manusia terikat begitu rupa dengan segala sesuatu yang ada di dunia ini sehingga tidak lagi mengutamakan Tuhan!

"Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga."  Matius 16:19

Monday, April 17, 2017

UMAT TEBUSAN TUHAN: Mengabdi Kepada Tuhan (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 April 2017

Baca:  Yesaya 62:10-12

"Orang akan menyebutkan mereka 'bangsa kudus', 'orang-orang tebusan TUHAN', dan engkau akan disebutkan 'yang dicari', 'kota yang tidak ditinggalkan.'"  Yesaya 62:12

Ditebus oleh darah Kristus artinya hidup kita sepenuhnya menjadi milik Tuhan, kita tidak boleh merasa berhak memiliki hidup ini.  Inilah pernyataan Paulus,  "Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku."  (Galatia 2:19b-20).  Dengan demikian apa pun yang kita jalani sekarang bukan lagi menurut kehendak diri sendiri melainkan menurut apa yang menjadi kehendak Tuhan.

     Apa kehendak Tuhan?  Menempatkan-Nya sebagai yang terutama dalam hidup ini, sehingga segala sesuatu yang kita kerjakan semata-mata berorientasi untuk kemuliaan nama-Nya.  Ingatlah bahwa di dunia ini status kita hanyalah sebagai pendatang, artinya dunia bukanlah tempat yang permanen untuk kita tinggali melainkan hanya sebagai tempat persinggahan sementara.  Jika menyadari hal ini, maka kita tidak akan mengikat diri dengan segala perkara yang ada di dunia ini.  "Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah."  (Yakobus 4:4).  Jika kita bersahabat dengan dunia berarti kita sedang memposisikan diri sebagai musuhnya Tuhan, karena dunia adalah umpan yang digunakan Iblis untuk menjerat manusia agar tidak bisa mengabdi sepenuhnya kepada Tuhan melainkan mengutamakan kepentingan diri sendiri dan mengejar kesenangan duniawi.

     Ada tertulis:  "Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya."  (Matius 6:19-20).  Jangan sampai perkara-perkara yang ada di dunia ini semakin menarik kita menjauh dari kehendak Tuhan!

Status kita adalah umat tebusan Tuhan, di mana kita dipanggil untuk menundukkan diri penuh tanpa syarat hanya kepada-Nya, yang telah menebus kita!

Sunday, April 16, 2017

KEBANGKITAN KRISTUS: Esensi Iman Kristen

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 April 2017

Baca:  1 Korintus 15:1-11

"bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci;"  1 Korintus 15:4

Kekristenan sejati mengajarkan bahwa Kristus benar-benar mati secara fisik di kayu salib untuk membayar penghukuman atas dosa.  Artinya Kristus benar-benar mencurahkan darah-Nya secara nyata untuk menyucikan dosa-dosa.  Jadi kematian Kristus adalah kenyataan, bukan dogeng atau legenda!  Akan tetapi kematian Kristus di kayu salib tidak akan menghasilkan apa pun, tidak akan berdampak apa-apa, jika Ia sendiri tidak bangkit.

     Kebangkitan-Nya di hari ke-3 adalah bukti bahwa Ia telah mengalahkan kuasa dosa, Iblis dan juga maut.  "...maka akan genaplah firman Tuhan yang tertulis: 'Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?' Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita."  (1 Korintus 15:54-57).  Iman Kristen adalah iman yang berdiri atas kebangkitan Kristus!  Inilah yang membedakan kekristenan dengan kepercayaan atau agama apa pun yang ada di dunia ini.  Rasul Paulus berkata,  "Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu."  (1 Korintus 15:14).  Andaikata Kristus tidak bangkit dari kematian maka kita tetap hidup dalam dosa,  "Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus."  (1 Korintus 15:18).  Tetapi yang benar adalah bahwa  "...Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia."  (1 Korintus 15:20-21).

     Kuasa kebangkitan Kristus inilah yang memberikan kekuatan dan keberanian dalam diri Yohanes dan juga Petrus untuk bersaksi di hadapan Mahkamah Agama bahwa keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia  (baca  Kisah 4:11-12).  Dan karena Kristus telah bangkit kita orang percaya memiliki jaminan keselamatan dan pengharapan masa depan yang baik dari Tuhan.

Kebangkitan-Nya adalah bukti bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat!

Saturday, April 15, 2017

PENDERITAAN KRISTUS DI KAYU SALIB

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 April 2017

Baca:  Yohanes 19:28-37

"Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: 'Sudah selesai.' Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya."  Yohanes 19:30

Penderitaan yang tiada terbayangkan dirasakan oleh orang yang mengalami penghukuman di kayu salib.  Karena ketika orang dalam posisi tergantung sedikit saja bergerak akan menimbulkan sakit yang luar biasa.  Dikenal ada dua cara untuk menyalibkan orang yaitu diikat memakai tali dan dipaku.  Tuhan Yesus kemungkinan mengalami kedua cara itu!  Ketika Tomas berkata,  "'Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.'"  (Yohanes 20:27), berkatalah Tuhan Yesus kepadanya:  "'Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.'"  (Yohanes 20:27).

     Secara medis jika orang digantung dengan kedua tangan terangkat ke atas, maka darahnya akan dengan cepat mengalir turun ke bagian bawah tubuhnya.  Diperkirakan antara 6 sampai 12 menit tekanan darahnya akan turun menjadi separuhnya, sementara denyut jantung akan meningkat dua kali lipat.  Jantung akan kekurangan darah dan segera diikuti dengan pingsan.  Hal ini akan memicu kematian karena gagal jantung.  Namun apabila orang yang disalibkan belum mati dalam 2 atau tiga hari kemudian mereka akan dipercepat dengan cara crucifragium atau pematahan kaki.  "...tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya,"  (Yohanes 19:33).  Artinya Tuhan Yesus tidak sempat dipatahkan kaki-Nya karena Ia telah mati terlebih dahulu beberapa jam setelah disalibkan.

     Fakta ini semakin menegaskan bahwa Tuhan Yesus benar-benar mati di kayu salib,  "Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci,"  (1 Korintus 15:3).  Dan bukan kebetulan jika Tuhan Yesus disalibkan di antara dua orang penjahat yang adalah gambaran keberadaan manusia yang berdosa.

"Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat."  Lukas 5:32

Friday, April 14, 2017

KEMATIAN KRISTUS: Menggantikan Kita

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 April 2017

Baca:  Roma 6:1-14

"Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa."  Roma 6:6

Jumat Agung merupakan momen agung di dalam sejarah, di mana Tuhan yang menjadi manusia rela disalibkan dan mati demi menebus dosa semua manusia.  Di dalam salib ada penebusan Kristus yang memperdamaikan dan meredakan murka Allah.  "Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita."  (Roma 6:23).

     Maut berbicara tentang kematian kekal yaitu penderitaan tiada akhir.  Maut tidak bisa ditukar atau digantikan dengan ibadah, perbuatan baik, amal dan sebagainya.  Maut hanya bisa dibayar dengan nyawa!  Sesungguhnya kematian adalah bagian kita sebagai orang berdosa,  "Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah,"  (Roma 3:23).  Namun Yesus berkata,  "Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang."  (Lukas 19:10).  Untuk menyelamatkan manusia yang terhilang  (berdosa)  Yesus harus mati untuk itu.  Penderitaan dan kematian yang seharusnya kita tanggung ditanggung-Nya di atas kayu salib.  "Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah."  (2 Korintus 5:21).  Tanpa melalui pengorbanan Kristus kita tak beroleh jalan masuk menuju kehidupan kekal, semua karena kasih karunia Allah semata yang rela memberikan Anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus, mati bagi kita, Dialah jalan keselamatan dan pengantara kita.  "Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus,"  (1 Timotius 2:5).

     Bagi kebanyakan orang berita penebusan Kristus di kayu salib adalah suatu kebodohan  (baca  1 Korintus 1:18), bagaimana mungkin Tuhan disalibkan oleh manusia ciptaan-Nya.  Kalau Kristus itu Tuhan seharusnya Ia bisa membuktikan kuasa-Nya dengan meloloskan diri dari penyaliban.  Yesus bisa saja menyelamatkan diri dari penyaliban, tapi bukan itu yang menjadi misi kedatangan-Nya ke dunia ini!

"...Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."  Matius 20:28

Thursday, April 13, 2017

MANUSIA JATUH KE DALAM DOSA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 April 2017

Baca:  Kejadian 3:1-24

"Lalu TUHAN Allah mengusir dia dari taman Eden supaya ia mengusahakan tanah dari mana ia diambil."  Kejadian 3:23

Berfirmanlah Allah kepada manusia,  "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati."  (Kejadian 2:16-17).  Allah melarang manusia memakan buah pohon pengetahuan yang baik dan jahat, sebab jika mereka memakannya seketika itu juga mereka akan mati.

     Yang dimaksudkan  'mati'  di sini bukan mati secara jasmaniah tapi mati secara roh.  Iblis mengetahui kebenaran ini, sehingga dengan segala tipu muslihatnya, ia masuk ke taman Eden dalam bentuk ular,  "Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat..."  (Kejadian 3:1).  Dengan sedikit memelintir firman Iblis berkata kepada Hawa,  "'Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.'"  (Kejadian 3:4-5).  Hawa termakan oleh tipuan Iblis sehingga hatinya menjadi ragu dan bimbang terhadap firman.  "Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya."  (Kejadian 3:6).  Firman Allah itu bukan untuk diragukan, dipertanyakan, atau diperdebatkan, melainkan hanya untuk ditaati sepenuhnya.  Adam dan Hawa telah melanggar apa yang difirmankan Allah dan membiarkan dirinya dalam jerat Iblis.  Jatuhlah manusia pertama itu dalam dosa!

     Karena pemberontakkannya ini  (berdosa)  manusia harus menanggung akibatnya:  "TUHAN Allah mengusir dia dari taman Eden..."  (Kejadian 3:23)  dan harus mengalami berbagai penderitaan dan pada akhirnya mati.  "Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa."  (Roma 5:12).

Karena satu orang telah berbuat dosa maka semua orang hidup di bawah hukum dosa dan terpisah dari Allah!

Wednesday, April 12, 2017

ANDREAS SEBAGAI PELAYAN 'PERANTARA'

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 April 2017

Baca:  Yohanes 1:35-42

"Andreas mula-mula bertemu dengan Simon, saudaranya, dan ia berkata kepadanya: "Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus)." Ia membawanya kepada Yesus.  Yohanes 1:41-42a

Kebanyakan orang Kristen masa sekarang mengukur keberhasilan seorang pelayan Tuhan atau hamba Tuhan dari sisi popularitas, jam terbang pelayanan, kelimpahan materi dan juga besarnya manifestasi kuasa Tuhan yang tampak secara nyata dalam pelayanannya.

     Tak dapat dipungkiri bahwa Tuhan memakai sebagian dari para utusan-Nya untuk mendemonstrasikan kuasa-Nya yang dahsyat ke tengah-tengah jemaat, sebagaimana tertulis:  "Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan."  (Matius 10:1).  Hal itu tidak berarti bahwa pelayan-pelayan Tuhan yang tidak memiliki karunia yang spektakuler dikatakan sebagai pelayan Tuhan yang tidak berhasil di mata Tuhan, atau berkualitas lebih rendah dibanding mereka.  Keberhasilan seorang pelayan Tuhan lebih mengacu kepada karakter dan ketaatannya.  Tidak semua dari kedua belas rasul yang dipilih oleh Tuhan Yesus menjadi orang-orang yang menonjol dan terkenal karena memiliki karunia-karunia rohani yang spektakuler seperti yang dimiliki Petrus, namun masing-masing saling melengkapi untuk memberitakan Injil dan memajukan Kerajaan Allah.  Andreas, yang secara harafiah dalam bahasa Yunani berarti jantan, meski tidak sepopuler Petrus, tetapi perannya tidak boleh dipandang remeh.  Andreas lah yang pertama kali memperkenalkan Petrus kepada Tuhan Yesus, tapi justru Petrus yang tampak lebih menonjol dan spektakuler dalam pelayanan.

     Meskipun  'kalah pamor'  Andreas tidak pernah berkecil hati apalagi merasa iri hati terhadap saudaranya itu, karena ia menyadari bahwa perannya adalah sebagai perantara, pembawa jiwa, seorang yang bersemangat memperkenalkan orang lain kepada Tuhan Yesus, bukan sebagai pengkhotbah ulung atau hamba Tuhan yang memiliki karunia untuk menyembuhkan orang seperti di acara-acara KKR.

Kita tidak perlu iri hati terhadap karunia rohani atau kepopuleran orang lain, yang terutama adalah bagaimana kita menjadi hamba yang setia, rendah hati, taat dan berkenan kepada Tuhan!  Itulah yang bernilai di mata Tuhan!

Tuesday, April 11, 2017

TAK LAYAK BERLAKU CONGKAK!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 April 2017

Baca:  Obaja 1:1-16

"Sekalipun engkau terbang tinggi seperti burung rajawali, bahkan, sekalipun sarangmu ditempatkan di antara bintang-bintang, dari sanapun Aku akan menurunkan engkau, --demikianlah firman TUHAN."  Obaja 1:4

Punya materi, sukses dan berkedudukan tinggi  (berpangkat)  seringkali menjadi faktor pendorong bagi seseorang untuk berubah sikap, yang dulunya rendah hati kini mulai membangga-banggakan diri dan menjadi angkuh.

     Di zaman sekarang ini roh keangkuhan sedang melanda banyak orang.  Angkuh adalah sifat suka meninggikan diri dan memandang rendah orang lain, tinggi hati, sombong atau congkak.  Tragisnya banyak anak Tuhan dan bahkan para pelayan Tuhan yang juga terbawa oleh arus dunia ini, yaitu bersikap angkuh.  Terlebih-lebih mereka yang secara kasat mata pelayanannya tampak berhasil, pelayanannya semakin padat, mulai diundang sana-sini dan semakin dikenal banyak orang, cepat sekali berubah sikap, dada mulai dibusungkan, dan berlaku angkuh.  Mereka berkata,  "Kalau bukan aku yang mendoakan, sakitnya tak dapat sembuh.  Kalau bukan aku yang mendanai, gereja itu pasti tidak akan berkembang.  Orang itu bertobat karena aku yang melayani dia."  Saudaraku, tidak semestinya kita berkata demikian!  Berhati-hatilah!  "Keangkuhan hatimu telah memperdayakan engkau,"  (ayat 3), dan  "Jika malam-malam pencuri atau perampok datang kepadamu--betapa engkau dibinasakannya--bukankah mereka akan mencuri seberapa yang diperlukannya?"  (ayat 5).

     Belajarlah kepada Daud yang sadar betul bahwa semua pencapaian dalam hidupnya itu datangnya dari Tuhan, sebab:  "...punya-Mulah kebesaran dan kejayaan, kehormatan, kemasyhuran dan keagungan, ya, segala-galanya yang ada di langit dan di bumi! Ya TUHAN, punya-Mulah kerajaan dan Engkau yang tertinggi itu melebihi segala-galanya sebagai kepala. Sebab kekayaan dan kemuliaan berasal dari pada-Mu dan Engkaulah yang berkuasa atas segala-galanya; dalam tangan-Mulah kekuatan dan kejayaan; dalam tangan-Mulah kuasa membesarkan dan mengokohkan segala-galanya."  (1 Tawarikh 29:11-12).

"TUHAN menjaga orang-orang yang setiawan, tetapi orang-orang yang berbuat congkak diganjar-Nya dengan tidak tanggung-tanggung."  Mazmur 31:24

Monday, April 10, 2017

MUSUH TAK TERDUGA DATANGNYA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 April 2017

Baca:  1 Samuel 23:1-13

"Bersiaplah, pergilah ke Kehila, sebab Aku akan menyerahkan orang Filistin itu ke dalam tanganmu."  1 Samuel 23:4

Perjalanan hidup setiap orang tak pernah luput dari masalah, entah itu berupa sakit-penyakit, krisis keuangan, musibah atau bahkan musuh-musuh yang sewaktu-waktu bisa datang tanpa bisa diprediksi.  Untuk menghadapi semuanya itu kita tidak mungkin mengandalkan kekuatan diri sendiri, mutlak kita memerlukan Tuhan.  Karena itu penting sekali kita membangun persekutuan yang karib dengan Tuhan agar beroleh petunjuk dan tuntunan-Nya, sebab ada tertulis:  "TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka."  (Mazmur 25:14).

     Bergaul karib dengan Tuhan berarti menjadikan doa dan perenungan firman Tuhan sebagai gaya hidup.  Doa merupakan persekutuan secara roh dengan Roh Kudus dan Bapa, sedangkan firman Tuhan adalah makanan rohani yang mutlak dibutuhkan untuk menguatkan iman kita.  Daud mampu mengalahkan musuh-musuhnya karena ia karib dengan Tuhan.  Terbukti ia selalu meminta petunjuk dan penyertaan Tuhan sebelum melangkah atau melakukan segala sesuatu.  Ketika diberitahukan bahwa  "...orang Filistin berperang melawan kota Kehila dan menjarah tempat-tempat pengirikan."  (1 Samuel 23:1), bertanyalah Daud kepada Tuhan:  "'Apakah aku akan pergi mengalahkan orang Filistin itu?' Jawab TUHAN kepada Daud: 'Pergilah, kalahkanlah orang Filistin itu dan selamatkanlah Kehila.'"  (1 Samuel 23:2).  Daud pun maju berperang, dan karena campur tangan Tuhan ia berhasil mengalahkan orang Filistin dan menyelamatkan penduduk Kehila.

     Penduduk Kehila bukanlah sanak saudara Daud, tetapi karena solidaritasnya terhadap bangsa itu ia rela berperang melawan orang Filistin.  Apa itu solidaritas?  Adalah rasa kebersamaan, rasa kesatuan kepentingan, rasa simpati, rasa setia kawan.  Bagaimana respons orang-orang Kehila setelah dibantu Daud?  Alih-alih mengungkapkan rasa terima kasih, mereka justru berpihak kepada Saul untuk menyingkirkan Daud.  Dalam situasi ini Saul yang seharusnya membela Daud malah menyimpan niat jahat terhadap Daud, karena terbakar rasa iri hati dan dengki.  Benar-benar di luar dugaan!

Tak perlu takut menghadapi musuh!  Jika Tuhan di pihak kita, siapakah lawan kita?

Sunday, April 9, 2017

BERHARAP KEPADA TUHAN: Tak Beroleh Malu

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 9 April 2017

Baca:  2 Samuel 24:18-25

"...sebab aku tidak mau mempersembahkan kepada TUHAN, Allahku, korban bakaran dengan tidak membayar apa-apa."  2 Samuel 24:24

Atas nasihat Gad yang diutus oleh malaikat Tuhan Daud berniat untuk mendirikan mezbah bagi Tuhan di atas tanah pengirikan Arauna, orang Yebus.  Segeralah Daud menemui Arauna bermaksud ingin membeli tempat itu, namun Arauna justru ingin mempersembahkan tanah itu kepada Daud secara cuma-cuma.  Daud menolaknya dengan tegas, sebab ia tidak mau mempersembahkan sesuatu kepada Tuhan tanpa membayar apa-apa.  Ia ingin memberi yang terbaik bagi Tuhan dengan cara berkorban, memberi dari apa yang dimiliki, karena sadar bahwa semua yang dimilikinya itu berasal dari Tuhan.

     Ada banyak orang Kristen memiliki keinginan dan kerinduan untuk mendukung pekerjaan Tuhan, tetapi hati mereka masih belum sepenuhnya rela untuk berkorban, karena pikiran mereka masih dipenuhi oleh perhitungan matematika dan bisnis:  bahwa memberikan persembahan atau berkorban bagi Tuhan berarti uangnya akan berkurang dan ini sebuah kerugian besar.  Hal itu menunjukkan bahwa roh cinta akan uang masih belum dapat dipatahkan.  "...akar segala kejahatan ialah cinta uang."  (1 Timotius 6:10).  Jadi daripada tidak rela lebih baik tidak usah berkorban!  Karena dasar dari semua korban bagi Tuhan adalah kerelaan hati atau sukarela, tergerak dan terdorong dalam hati untuk membawa sesuatu persembahan kepada Tuhan.  "Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita."  (2 Korintus 9:7).

     Bagi hamba-hamba Tuhan  (gembala atau penginjil)  yang sedang mengalami pergumulan dalam hal keuangan, jangan pernah menggantungkan harapan kepada manusia, berharaplah hanya kepada Tuhan.  "Mungkinkah tangan-Ku terlalu pendek untuk membebaskan atau tidak adakah kekuatan pada-Ku untuk melepaskan? Sesungguhnya, dengan hardik-Ku Aku mengeringkan laut, Aku membuat sungai-sungai menjadi padang gurun;..."  (Yesaya 50:2b).  Kalau Tuhan sanggup mengeringkan air laut dan membuat sungai menjadi padang gurun, tidak sanggupkah Ia melepaskan kita dari krisis?  Tidak sanggupkah Ia menyediakan dana untuk pekerjaan-Nya di bumi?

"...siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan."  1 Petrus 2:6

Saturday, April 8, 2017

KARENA KEBAIKAN TUHAN SEMATA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 April 2017

Baca:  2 Samuel 22:31-51 

"Juga Kauberikan kepadaku perisai keselamatan-Mu, dan kebaikan-Mu telah membuat aku besar."  2 Samuel 22:36b

Ketika memilih seorang pemimpin hal pertama yang biasa orang perhatikan adalah faktor penampilan luar atau serentetan prestasi yang telah diraih.  Tak terkecuali nabi Samuel yang juga terkecoh dengan penampilan dan kelebihan-kelebihan yang terlihat mata jasmani, sehingga ketika dipanggil Tuhan untuk mengurapi orang yang dipersiapkan sebagai pengganti raja Saul ia hampir yakin bahwa anak tertua Isai lah yang sangat pantas untuk menggantikan:  "Ketika mereka itu masuk dan Samuel melihat Eliab, lalu pikirnya: 'Sungguh, di hadapan TUHAN sekarang berdiri yang diurapi-Nya.' Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: 'Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.'"  (1 Samuel 16-6-7).

     Berbeda sekali dengan manusia yang selalu memperhatikan bagian luarnya, Tuhan selalu melihat hati manusia!  Itulah sebabnya Eliab, Abinadab, Syama dan saudara-saudaranya yang lain tak terpilih oleh Tuhan.  Bertanyalah Samuel kepada Isai,  "'Inikah anakmu semuanya?' Jawabnya: 'Masih tinggal yang bungsu, tetapi sedang menggembalakan kambing domba.'"  (1 Samuel 16:11).  Tersirat dalam benak Isai bahwa mustahil anak bungsunya  (Daud)  yang kerjanya hanya menggembalakan kambing domba akan dipilih menjadi raja, sementara kakak-kakaknya yang secara manusia memenuhi kriteria saja ditolak oleh Tuhan.  Itulah jalan pikiran manusia, tapi Tuhan berfirman pada Samuel,  "Bangkitlah, urapilah dia, sebab inilah dia."  (1 Samuel 16:12b).  Justru Daud,  -orang yang kurang diperhitungkan, bahkan dipandang remeh oleh ayahnya sendiri,-  yang Tuhan pilih dan diurapi-Nya... bukan karena keelokan parasnya seperti yang dikisahkan:  "Ia kemerah-merahan, matanya indah dan parasnya elok."  (1 Samuel 16:12a).

     Daud punya sesuatu yang tak dimiliki oleh saudara-saudaranya yaitu hati yang bergantung sepenuhnya kepada Tuhan dan selalu terbuka untuk diselidiki dan dikoreksi, sebagai tanda kerendahan hati.  Karena itu Daud mengakui bahwa hanya karena kebaikan Tuhan saja jika dia menjadi besar dan bisa melangkah sampai sejauh itu!

"Ia tidak menahan kebaikan dari orang yang hidup tidak bercela."  Mazmur 84:12

Friday, April 7, 2017

BERTAHAN DI TENGAH TANTANGAN HIDUP

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 7 April 2017

Baca:  Ibrani 10:19-39

"Tetapi orang-Ku yang benar akan hidup oleh iman, dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya."  Ibrani 10:38

Setiap orang pasti merindukan hari esok yang lebih cerah, suatu keadaan yang semakin hari semakin bertambah baik, bukan sebaliknya:  mengalami kemerosotan atau kemunduran.  Namun seiring berjalannya waktu, semakin kaki melangkah semakin berat tantangan yang harus dihadapi.  Bagi mereka yang tak mempunyai iman yang kuat, keadaan atau situasi berat yang ada semakin mempengaruhi hati dan pikiran mereka, sehingga tidak sedikit dari mereka yang tergoncang dan menjadi tawar hati.  Ada tertulis:  "Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu."  (Amsal 24:10).

     Dalam situasi yang demikian perlu sekali kita semakin mengaktifkan iman dan hidup di dalam iman kepada Tuhan Yesus.  Inilah kunci untuk dapat bertahan di tengah tantangan yaitu datang kepada Bapa dalam nama Tuhan Yesus untuk berdoa dan memohon segala janji yang telah diberikan-Nya bagi kita.  "Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni."  (Ibrani 10:22).  Tanpa iman tak seorang pun dapat bertahan hidup dengan benar, sebab selama di dunia ini kita takkan bisa menghindarkan diri dari berbagai pencobaan, tekanan, himpitan, masalah, sakit-penyakit dan sebagainya.  Seorang yang tak benar tak dapat hidup oleh iman, karena ia telah mengundurkan diri dari kasih karunia Tuhan, dan hidup menurut kehendaknya sendiri, sehingga dengan akal dan kekuatan sendiri berusaha untuk menyelesaikan segala persoalan yang dihadapinya.

     Iman bukanlah tindakan nekat atau gambling"Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat."  (Ibrani 11:1).  Meski berada di tengah tantangan yang berat sekali pun, orang yang memiliki iman takkan pernah menyerah kepada tantangan atau keadaan yang ada, apalagi sampai putus pengharapan, sebab ia berkeyakinan bahwa  "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku."  (Filipi 4:13).

"Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia."  Ibrani 10:23

Thursday, April 6, 2017

JANGAN SAMPAI SALAH JALAN!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 6 April 2017

Baca:  Amsal 16:25-33

"Ada jalan yang disangka lurus, tetapi ujungnya menuju maut."  Amsal 16:25

Tak bisa disangkal bahwa di dunia ini ada banyak jalan yang orang pikir adalah jalan yang benar dan baik menurut pandangan mereka, tetapi belum tentu jalan yang baik itu dapat membawa kepada kehidupan kekal, ujung-ujungnya malah menyesatkan.  Karena itu kita perlu berhati-hati supaya tidak mudah untuk disesatkan.

     Sebagai orang percaya sepatutnya kita bersyukur karena Tuhan Yesus telah memberitahukan kepada kita jalan yang harus ditempuh yaitu jalan yang benar dan menuju kepada kehidupan, dan jalan itu adalah diri-Nya sendiri,  "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup."  (Yohanes 14:6a).  Kata kebenaran  (Yunani:  aletheia)  adalah kata yang sangat spesifik, bukan kebenaran biasa, tetapi kebenaran yang hakiki.  Pernyataan Tuhan Yesus  "Akulah hidup"  sebagai penegasan bahwa Dia adalah sumber kehidupan.  "Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa."  (Mamur 16:11).  Di tengah dunia yang jahat ini kita takkan luput dari romantika kehidupan yang diwarnai dengan persoalan dan pergumulan berat, namun bila kita mau datang kepada Tuhan Yesus, kita pasti akan mendapatkan jalan keluar yang terbaik.

     Di tengah dunia yang semakin diliputi oleh kegelapan, dikarenakan  "...seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat."  (1 Yohanes 5:19), banyak orang mencari jalan kebenaran dan hidup dengan cara mereka sendiri.  Mereka seperti meraba-raba di tempat yang gelap pekat, dan karena tiada cahaya yang meneranginya mereka tidak dapat menemukan jalan itu.  Ada kabar baik hari ini, karena Tuhan Yesus berkata,  "Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku."  (Yohanes 14:6b).  Jelas sekali bahwa Tuhan Yesus adalah satu-satunya jalan untuk kita sampai kepada Bapa, sebab  "Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia."  (Yohanes 1:4), dan  "Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri."  (Yohanes 5:26).  Tuhan Yesus, bukan hanya memberi nasihat dan arahan, tapi Dia juga akan menuntun dan memimpin kepada kebenaran dan kehidupan, sebab Dia adalah Jalan itu sendiri.

Hanya Tuhan Yesus satu-satunya jalan menuju kepada kehidupan kekal!

Wednesday, April 5, 2017

DUNIA: Bukanlah Tempat Berlindung

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 5 April 2017

Baca:  Mazmur 16:1-11

"Jagalah aku, ya Allah, sebab pada-Mu aku berlindung."  Mazmur 16:1

Adakah tempat yang paling aman di dunia ini sehingga kita dapat berlindung dari segala bahaya?  Di belahan bumi mana pun tak ada tempat yang benar-benar aman, di mana-mana selalu ada bahaya yang mengincar.  Karena dunia ini bukanlah tempat yang aman, maka semua orang memerlukan perlindungan atau penjagaan selama 24 jam penuh.  Para pemimpin negara, raja-raja, selebritis terkenal atau para jutawan, di mana pun berada dan ke mana pun pergi selalu ditemani oleh pengawal atau bodyguard yang bertugas untuk menjaga dan melindungi, meski penjagaan dan perlindungan mereka sangat terbatas.

     Sebagai raja atas Israel tentunya Daud memiliki banyak pengawal yang berjaga-jaga, namun ia tak menggantungkan keselamatan jiwanya pada penjagaan manusia.  Daud hanya ingin dijaga oleh Tuhan dan berlindung kepada-Nya, sebab kekayaan, pangkat atau kekuasaan, kehebatan dan kegagahan manusia tak dapat menyelamatkannya.  Daud berkata,  "Orang ini memegahkan kereta dan orang itu memegahkan kuda, tetapi kita bermegah dalam nama TUHAN, Allah kita. Mereka rebah dan jatuh, tetapi kita bangun berdiri dan tetap tegak."  (Mazmur 20:8-9).  Tuhan adalah satu-satunya tempat perlindungan yang aman,  "Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel."  (Mazmur 121:4).  Daud sangat percaya bahwa tak sedetik pun Tuhan lengah menjaga dirinya, bahkan Tuhan menjaga dia bagaikan biji mata-Nya sendiri.  Inilah doa Daud,  "Tunjukkanlah kasih setia-Mu yang ajaib, ya Engkau, yang menyelamatkan orang-orang yang berlindung pada tangan kanan-Mu terhadap pemberontak. Peliharalah aku seperti biji mata, sembunyikanlah aku dalam naungan sayap-Mu"  (Mazmur 17:7-8).

     Melihat dan mendengar berita-berita yang mengejutkan setiap hari sangatlah wajar jika semua orang menjadi was-was dan takut!  Tapi sebagai orang percaya kita tak perlu gentar, sebab kita berada dalam perlindungan yang aman di dalam Tuhan Yesus.  Oleh sebab itu jangan ragu-ragu untuk menyerahkan seluruh keberadaan hidup kita kepada-Nya.  Jangan sekali-kali berharap kepada siapa pun dan kepada apa pun, karena hanya Tuhanlah tempat perlindungan yang aman dan terbaik, dan itu sudah cukup bagi kita.  "Engkaulah Tuhanku, tidak ada yang baik bagiku selain Engkau!"  (ayat 2).

Tuhan Yesus adalah perlindungan bagi orang percaya, tidak ada yang lain!

Tuesday, April 4, 2017

MANUSIA DICIPTA BUKAN UNTUK BERMALASAN!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 4 April 2017

Baca:  Pengkhotbah 10:1-20

"Oleh karena kemalasan runtuhlah atap, dan oleh karena kelambanan tangan bocorlah rumah."  Pengkhotbah 10:18

Ada banyak ayat di Alkitab yang menggambarkan tentang perilaku dan karakteristik pemalas, di antaranya:  "Hati si pemalas penuh keinginan, tetapi sia-sia,"  (Amsal 13:4),  "Seperti pintu berputar pada engselnya, demikianlah si pemalas di tempat tidurnya."  (Amsal 26:14).  Karena mereka tidak melakukan apa pun maka hasilnya pun menjadi nihil atau nol.  Inilah suatu kehidupan yang tanpa produktivitas.  Sangat menyedihkan!

     Tuhan menentang segala bentuk kemalasan, sebab Ia menciptakan manusia secara khusus dengan membekali kecerdasan, talenta dan pelbagai kemampuan yang melebihi ciptaan-Nya yang lain, dengan tujuan supaya manusia dapat mengembangkan kehidupannya secara optimal untuk kemuliaan nama-Nya.  Manusia dapat memuliakan nama Tuhan hanya jika mereka mau bertekun, setia dan bekerja keras.  Oleh karena itu  "Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi."  (Pengkhotbah 9:10).  Jadi tidak ada alasan untuk kita bermalas-malasan!  Kemalasan harus dilawan dan diperangi, sebab ada tertulis:  "Orang yang bermalas-malas dalam pekerjaannya sudah menjadi saudara dari si perusak."  (Amsal 18:9), perusak rencana Tuhan dan perusak masa depannya sendiri!  Masa depan suatu bangsa dipertaruhkan dan terancam akan hancur jika masyarakatnya malas.  Intinya, tidak ada sisi positif sedikit pun dari kemalasan, selalu mendatangkan kerugian dan bencana, serta  "...mengakibatkan kerja paksa."  (Amsal 12:24).

     Sekali lagi, marilah kita belajar dan mengambil sisi positif dari kehidupan semut yang memiliki mobilitas dan produktivitas tinggi sehingga kelangsungan hidup koloninya menjadi sangat terjamin.  Dengan memperhatikan kebiasaan hidup semut ini seharusnya kita semakin dirangsang untuk membuang rasa malas, mau bekerja dengan keras, bertanggung jawab dan memelihara integritas hidup kita.

"Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga."  Yohanes 5:17

Monday, April 3, 2017

JANGAN MALU BELAJAR KEPADA SEMUT (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 3 April 2017

Baca:  Amsal 6:6-11

"Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak:"  Amsal 6:6

Serangga sekecil semut yang lemah itu ternyata memiliki keuletan dan kemampuan untuk bertahan hidup.  Bangsa semut layak untuk dijadikan panutan, karena mereka secara naluriah bertindak mengabdi untuk kepentingan koloninya.  Seekor semut rela melepaskan hak pribadinya, dan seluruh karya hidupnya didedikasikan untuk kepentingan koloninya, sehingga di mana pun kita akan menyaksikan iring-iringan semut bekerja keras nyaris sepanjang waktu, siang hingga malam tanpa mengenal lelah.  Mereka tidak pernah menabur benih, namun lumbung-lumbung mereka senantiasa penuh makanan.  Dengan bekerja sama mereka memastikan cadangan makanan telah tersedia pada musim paceklik.

     Semut tidak pernah terlihat bermalas-malasan atau tidak melakukan apa pun, kecuali jika ia benar-benar sakit, cedera berat atau sudah sekarat, sehingga di mana pun berada sering terlihat kawanan kecil itu begitu sibuk mencari makanan.  Yang lebih mengagumkan lagi, seekor semut mampu mengangkut beban yang berukuran hingga 10X berat tubuhnya sendiri.  Mereka akti hilir mudik, bergerak ke sana ke mari, fokus, perhatian utamanya adalah bekerja dan bekerja.  Mereka bekerja dengan sangat mementingkan prinsip bertolong-tolongan.  Solidaritas dan kerjasama tim adalah paket kunci keberhasilan hidup semut.  Selagi ada kesempatan mereka terus bekerja mengumpulkan makanan, sebab jika musim hujan tiba aktivitas dan ruang gerak mereka menjadi terbatas, tapi mereka tak perlu kuatir, sebab ada stok makanan.

     Jika dalam prinsip kerja semut tidak ada istilah malas, bekerja ala kadarnya dan mementingkan diri sendiri, coba bandingkan dengan kehidupan manusia...  Gaya hidup bermalas-malasan, bekerja dengan kualitas rendah, hidup berpusat pada diri sendiri justru sudah membudaya di mana-mana.  Sebagai orang percaya tidak selayaknya kita berlaku demikian!  Rasul Paulus menasihati,  "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia."  (Kolose 3:23), dan  "Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu!"  (Galatia 6:2a).

Masakan kita tidak malu kepada semut yang mampu berlaku bijak dan memiliki etos kerja yang luar biasa!