Wednesday, November 21, 2018

PIALA MILIK SANG PEMENANG

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 21 November 2018

Baca:  Mazmur 116:1-19

"Aku akan mengangkat piala keselamatan, dan akan menyerukan nama TUHAN,"  Mazmur 116:13

Berbicara tentang  'piala'  pikiran kita pasti tertuju pada seseorang yang sedang berada di atas podium juara, seseorang yang telah memenangkan sebuah pertandingan.  'Piala'  adalah cawan berkaki dibuat dari emas, perak dan sebagainya, dipakai sebagai tempat minum raja-raja dan orang-orang besar;  atau cawan berkaki dan kadang bertelinga, biasanya diberi tulisan sebagai tanda peringatan, terbuat dari emas, perak dan sebagainya, dipakai sebagai hadiah bagi para pemenang perlombaan.  Dua jenis piala:  1.  Piala bergilir, diperebutkan dalam pertandingan yang diadakan setahun sekali atau lebih, dan diberikan secara bergilir kepada pemenang selama masa pertandingan yang satu ke pertandingan berikutnya  (jika pada pertandingan berikutnya pemenang terdahulu kalah, ia harus melepaskan piala itu).  2.  Piala tetap, menjadi milik pemenang selamanya.

     Memperoleh piala adalah impian semua olahragawan yang berlaga di sebuah pertandingan.  Itulah yang menjadi motivasi, penggerak, pendorong dan penyemangat baginya untuk berjuang all out di lapangan.  Kehidupan kekristenan pun adalah sebuah arena pertandingan iman.  Oleh karena itu  "...marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita."  (Ibrani 12:1).  Yang tak boleh dilupakan adalah, setiap pertandingan membutuhkan perjuangan dan pengorbanan.  Jadi ada harga yang harus dibayar jika kita ingin mendapatkan piala, karena piala tidak pernah diberikan secara gratis atau cuma-cuma, tapi harus diupayakan, butuh kerja keras, semangat dan pantang menyerah.  Tidak ada istilah santai atau leha-leha!  Dalam pertandingan ada aturan-aturan yang harus ditaati oleh para peserta lomba.  Jika kita melanggar aturan tersebut kita akan terkena diskualifikasi.

     Dalam pertandingan iman kita pun harus taat kepada aturan Tuhan yaitu firman Tuhan.  "...aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak."  (1 Korintus 9:27).

Piala tersedia bagi orang yang mampu menyelesaikan pertandingan sampai garis akhir dan hidup sesuai aturan Tuhan!

Tuesday, November 20, 2018

SEPERTI BURUNG MERPATI (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 20 November 2018

Baca:  Mazmur 68:1-36

"Maukah kamu berbaring di antara kandang-kandang? Sayap-sayap merpati bersalut dengan perak, bulu kepaknya dengan emas berkilau-kilauan."  Mazmur 68:14

Burung merpati adalah burung yang sangat jinak, mengenali dengan baik siapa yang memeliharanya, dan tak mau tinggal jauh dari rumahnya.  Jinak berarti tidak liar dan tidak gampang memberontak.  Ini berbicara tentang penundukan diri!  Menundukkan diri kepada Tuhan berarti tidak mudah memberontak, mau dibentuk oleh firman-Nya dan mau dipimpin oleh Roh Kudus.  Sebagaimana merpati dapat mengenali dengan baik siapa yang memeliharanya, kita pun harus semakin mengenal pribadi Tuhan yang benar.  Kata  'mengenal'  disini memiliki makna:  memiliki hubungan yang intim atau persekutuan yang karib dengan Tuhan.  Sejauh apa pun burung itu dibawa pergi, matanya akan tetap tertuju pada tempat atau rumah di mana ia dipelihara oleh pemiliknya.

     Sebagai merpatinya Tuhan, adakah kita memiliki kerinduan yang besar untuk selalu tinggal dekat Tuhan dan berada di rumah Bapa?  "Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah."  (Mazmur 42:2),  "Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku dari pada diam di kemah-kemah orang fasik."  (Mazmur 84:11).  Satu hal istimewa dari seekor merpati ia tidak memiliki kantong empedu, yang berarti tak pernah menyimpan kepahitan, sakit hati atau pun dendam.  Itulah sebabnya burung merpati dikenal sebagai burung yang memiliki ketulusan dan kemurnian.  Betapa banyak orang Kristen yang sekalipun sudah aktif melayani Tuhan, hatinya masih dipenuh dengan kotoran:  sakit hati, kepahitan, dendam, benci, tak bisa mengampuni dan masih banyak lagi.  Rasul Paulus memperingatkan:  "Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan."  (Efesus 4:31).

     Burung merpati selalu mencari tempat yang tenang.  Dunia ini penuh dengan hiruk-pikuk dan gelora, tak ada ketenangan disana.  Hanya dekat Tuhan saja kita akan merasa tenang  (Mazmur 62:2).  Ingat!  "Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa."  (1 Petrus 4:7).

Miliki kerinduan untuk selalu dekat dengan rumah Bapa, seperti burung merpati!

Monday, November 19, 2018

SEPERTI BURUNG MERPATI (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 19 November 2018

Baca:  Mazmur 55:1-24

"Sekiranya aku diberi sayap seperti merpati, aku akan terbang dan mencari tempat yang tenang,"  Mazmur 55:7

Burung merpati adalah salah satu jenis burung yang sangat disukai oleh banyak orang.  Tak mengherankan bila jenis burung ini sering ditemukan di lingkungan kita tinggal.  Ada lagu yang cukup populer di era tahun 80'an yang berjudul  'Merpati tak pernah ingkar janji', dilantunkan dengan sangat apik oleh biduanita cantik Paramitha Rusady.  Lagu ini juga sekaligus menjadi soundtrack film dengan judul yang sama, yang juga diperankan oleh Paramitha Rusady dan Adi Bing Slamet.

     Ada beberapa sifat dari burung merpati yang dinyatakan di Alkitab:  melambangkan pendamaian keamanan  (Kejadian 8:11), melambangkan kasih yang murni  (Kidung 1:15), melambangkan ketulusan  (Matius 10:16)  dan melambangkan keelokan  (Mazmur 68:14).  Selain itu Alkitab juga menyatakan bahwa burung merpati adalah salah satu lambang dari Roh Kudus.  Kita teringat tatkala Kristus menerima baptisan air di sungai Yordan dari Yohanes Pembaptis  (Matius 3:13-17).  Sesudah Ia keluar dari dalam air dan berdoa, Roh Kudus datang mengurapi-Nya dengan tampak seekor burung merpati yang turun ke atas-Nya.  "lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan."  (Mazmur 74:19), yang diharapkan menunjukkan kualitas hidup seperti burung merpati yang mampu membawa damai di mana pun berada, punya kasih yang murni, ketulusan, kesetiaan dan menjadi pribadi-pribadi yang senantiasa menyatakan cinta kasih.

     Burung merpati pun sangat dikenal dengan kesetiaannya, di mana ia tidak pernah mendua hati.  Bagaimana dengan kita?  Adakah kita memiliki kesetiaan kepada Tuhan?  Di zaman sekarang ini tak mudah menemukan orang yang benar-benar setia!  Sampai-sampai pemazmur menulis:  "...telah lenyap orang-orang yang setia dari antara anak-anak manusia."  (Mazmur 12:2), sebab  "Sifat yang diinginkan pada seseorang ialah kesetiaannya;"  (Amsal 19:22).  Ada banyak orang yang berubah tidak lagi setia kepada Tuhan hanya karena terbentur masalah atau kesulitan hidup.  Tuhan tidak lagi menjadi yang utama dalam hidup karena hatinya mendua dengan dunia.

Sunday, November 18, 2018

MENDAPATKAN KASIH KARUNIA TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 18 November 2018

Baca:  Bilangan 6:22-27

"TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;"  Bilangan 6:25

Kasih karunia atau anugerah berasal dari bahasa asli  'khen'  (Ibrani)  atau  'kharis'  (Yunani), yang diartikan sebagai perbuatan atasan kepada bawahannya, dimana sebenarnya bawahannya itu tidak layak menerimanya.  Pemberian kasih karunia itu semata-mata ada di bawah otoritas Tuhan sendiri atau hak prerogatif Tuhan.  Prinsip kasih karunia itu datang dari atas, dari Tuhan kepada manusia, padahal sesungguhnya manusia tidak layak untuk menerimanya.  "Aku akan memberi kasih karunia kepada siapa yang Kuberi kasih karunia dan mengasihani siapa yang Kukasihani."  (Keluaran 33:19b).  

     Hidup di bawah kasih karunia Tuhan adalah hidup di dalam perlakuan istimewa dari Tuhan.  Salah satu tokoh di Alkitab yang mendapatkan kasih karunia dari Tuhan adalah Nuh, seperti tertulis:  "...Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN."  (Kejadian 6:8).  Mengapa Nuh beroleh kasih karunia Tuhan?  Karena  "...Nuh adalah seorang yang benar."  (Kejadian 6:9).  Siapakah orang benar itu?  "...kita akan menjadi benar, apabila kita melakukan segenap perintah itu dengan setia di hadapan TUHAN, Allah kita, seperti yang diperintahkan-Nya kepada kita."  (Ulangan 6:25).  Jadi, orang benar adalah orang yang taat melakukan kehendak Tuhan atau pelaku firman.  Ketaatan inilah yang menggerakkan hati Tuhan untuk menyelamatkan orang benar.  "Orang benar diselamatkan dari kesukaran, lalu orang fasik menggantikannya."  (Amsal 11:8).

     Selain itu, Nuh adalah seorang yang  "...tidak bercela di antara orang-orang sezamannya;"  (Kejadian 6:9)  dan hidup bergaul karib dengan Tuhan.  Ketika orang-orang sezamannya hidup dalam kejahatan, menyimpang dari kehendak Tuhan, Nuh berani tampil beda dengan hidup tak bercela dan tetap menjaga persekutuannya dengan Tuhan.  Ia tidak mau berkompromi dengan cara hidup dunia.  Rasul Paulus menasihati:  "Saudara-saudaraku yang kekasih, karena kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah."  (2 Korintus 7:1).

Ingin mendapatkan kasih karunia  (perlakuan khusus)  dari Tuhan?  Mari kita meneladani hidup Nuh yang tak mengenal kompromi!

Saturday, November 17, 2018

SATU JAM SAJA TAK SANGGUP

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 November 2018

Baca:  Matius 26:36-46

"Setelah itu Ia kembali kepada murid-murid-Nya itu dan mendapati mereka sedang tidur. Dan Ia berkata kepada Petrus: 'Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?'"  Matius 26:40

Hal berdoa seringkali dianggap remeh dan sepele oleh kebanyakan orang Kristen.  Mereka berkata,  "Ah...berdoa itu mudah dan bisa dilakukan di mana pun!"  Namun dalam prakteknya ternyata berdoa tak mudah untuk dilakukan.  Kalau berdoa dilakukan secara bersama-sama dengan jemaat Tuhan dalam suatu ibadah raya atau persekutuan, sepertinya hal itu tampak mudah dilakukan, namun kalau berdoa secara pribadi  (bersaat teduh), belum tentu semua orang mau dan dapat melakukannya dengan setia.

     Contohnya adalah murid-murid Kristus sendiri.  Di mana pun dan ke mana pun Kristus pergi untuk mengajar dan melayani jiwa-jiwa, murid-murid selalu ada bersama Dia dan turut terlibat.  Intinya di mana ada Sang Guru di situ pula murid-murid-Nya berada.  Perhatikan!  Pada waktu Kristus sedang menghadapi situasi sulit karena waktu-Nya yang sudah dekat, pergilah Ia dengan mengajak murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani untuk berdoa.  Saat itu pula Kristus meminta kepada murid-murid-Nya untuk berjaga-jaga satu jam saja lamanya.  Tetapi apa yang terjadi?  Tuhan mendapati mereka tertidur.  Ternyata murid-murid tidak sanggup untuk berjaga-jaga, sekalipun itu hanya satu jam lamanya.  Padahal Tuhan sudah memperingatkan:  "Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah."  (Matius 26:41);  dan karena tidak berjaga-jaga, akhirnya ketika pencobaan datang, mereka tak punya kekuatan untuk menghadapinya dan kemudian lari meninggalkan Kristus!

     Banyak orang Kristen tampak aktif dalam pelayanan atau disibukkan dengan aktivitas-aktivitas rohani di gereja sehingga mereka tak punya waktu untuk berdoa.  Berdoa secara pribadi selama satu jam saja tak sanggup dilakukan.  Pikirnya:  "Aku sudah terlibat aktif dalam pelayanan dan waktuku sudah habis untuk kegiatan di gereja...Tuhan pasti tahu kalau aku capai.  Tidak berdoa tidak apa-apa!"  Kita lupa bahwa kunci kekuatan orang percaya itu terletak dalam doa!  Pelayanan tanpa doa takkan berdampak apa-apa.

Tak sanggupkah Saudara berdoa menimal satu jam saja dalam sehari?

Friday, November 16, 2018

PUJI-PUJIAN MENDATANGKAN KEKUATAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 November 2018

Baca:  Mazmur 34:1-6

"Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku."  Mazmur 34:2

Tak banyak orang Kristen mampu menjaga mulutnya untuk tidak memperkatakan hal-hal yang negatif ketika menghadapi masalah atau kesulitan.  Begitu masalah datang, seketika itu pula terlontar omelan, keluhan dan persungutan.

     Daud bukanlah orang yang hidup tanpa masalah.  Sekalipun menghadapi masalah tak membuatnya larut dalam kepedihan dan mengasihani diri sendiri, melainkan ia bertekad untuk memuji Tuhan pada segala waktu, artinya di segala keadaan, baik atau tidak baik waktunya, susah atau senang, puji-pujian bagi Tuhan adalah hal yang teramat penting bagi orang percaya!  Ketahuilah bahwa ketika kita memuji dan memuliakan Tuhan kita sedang  mengaplikasikan iman kita dalam perbuatan.  Sama seperti tubuh jasmani perlu bergerak atau berolahraga agar menjadi kuat, sehat, dan bugar, begitu pula kita perlu mengaplikasikan iman melalui doa, penyembahan, pujian dan ucapan syukur.

     Inilah yang juga dilakukan Abraham ketika sedang menanti-nantikan janji Tuhan:  "Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan."  (Roma 4:20-21).  Janji Tuhan adalah ya dan amin!  Tuhan tidak pernah ingkar dengan janji-Nya  (Bilangan 23:19).  Jangan sekali-kali merasa bimbang, sebab jika kita bimbang sama artinya kita tidak percaya kepada Tuhan.  Kebimbangan adalah lawan dari iman!  "Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan."  (Yakobus 1:7).  Kebimbangan ibarat tembok tebal yang menghalangi kita untuk dapat melihat pekerjaan Tuhan dinyatakan.  Secara akal Abraham punya alasan untuk tidak memercayai janji Tuhan dan menjadi lemah, tapi ia terus melatih  'otot-otot'  imannya melalui pujian dan penyembahan kepada Tuhan.  Akhirnya Abraham pun mengalami penggenapan janji Tuhan sesuai dengan waktunya Tuhan.

Jangan berhenti memuji-muji Tuhan, karena di dalam puji-pujian ada kekuatan iman!

Thursday, November 15, 2018

BERSUKACITALAH DI SEGALA KEADAAN!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 November 2018

Baca:  Filipi 4:4-9

"Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!"  Filipi 4:4

Orang biasanya bersukacita ketika sedang berada dalam situasi yang baik dan menyenangkan.  Tapi begitu keadaan berubah, berada dalam masalah, kesulitan, atau situasi yang gawat dan tak mengenakkan, rasa sukacita itu pun raib seketika.  Yang ada tinggal rasa sedih, muram, kecewa, marah dan frustasi.

     Rasul Paulus menulis kitab ini ketika sedang dalam keadaan tidak baik, berada di dalam penjara.  Ia mengalami perlakuan yang tidak adil karena dijebloskan ke penjara tanpa berbuat kejahatan.  Sesungguhnya ia punya alasan kecewa, sedih, jengkel, protes atau marah, tetapi hal itu tidak dilakukannya, karena ia tahu ini adalah konsekuensi yang harus diterima sebagai pemberita Injil.  Penderitaan tak menghalanginya untuk terus melayani Tuhan,  "Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan."  (Filipi 1:21).  Rasul Paulus mengajarkan umat Tuhan untuk tetap bersukacita sekalipun dalam penderitaan dan berjerih lelah dalam melayani.  Mengapa demikian?  Mengapa demikian?  Menurut penelitian, jika orang gampang marah, cemas, takut, tertekan, maka otaknya segera mengeluarkan noradrenalin, yaitu hormon yang sangat beracun, yang dapat membuatnya mudah sakit dan cepat tua.  Sebaliknya, jika seseorang menghadapi segala sesuatu dengan sikap positif, otaknya akan mengeluarkan hormon betaendorfin, yang memperkuat daya tahan tubuh, menjaga sel otak tetap muda, melawan penuaan, menurunkan agresivitas dalam hubungannya dengan sesama, meningkatkan semangat, daya tahan dan kreativitas diri.  Jadi Tuhan tahu persis bagian mana dari diri manusia yang harus dikembangkan, itulah sebabnya Dia memerintahkan kita untuk selalu bersukacita di segala keadaan.

     Kita bersukacita karena kita punya dasar yang kuat yaitu janji firman Tuhan, sebab  "TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia."  (Ratapan 3:25).  Jangan fokus pada besarnya masalah atau situasi yang ada di sekeliling kita, melainkan arahkan mata kita kepada Tuhan, yang berjanji takkan membiarkan dan meninggalkan kita.  (Ibrani 13:5b).

Jaminan Tuhan inilah yang memampukan kita untuk tetap bersukacita di segala keadaan!

Wednesday, November 14, 2018

CAKAP BEKERJA: Beroleh Peninggian Tuhan (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 November 2018

Baca:  Amsal 12:1-28

"Tangan orang rajin memegang kekuasaan, tetapi kemalasan mengakibatkan kerja paksa."  Amsal 12:24

Kecakapan dan kerajinan Yerobeam dalam bekerja bukan hanya menyita perhatian raja Salomo, tapi Tuhan pun sangat menyenanginya.  Akhirnya Tuhan mengangkat kehidupan Yerobeam dengan memberinya peluang untuk menjadi raja.  Alkitab mencatat bahwa Yerobeam menjadi raja pertama Kerajaan Israel Utara, sewaktu Kerajaan Israel pecah menjadi dua sesudah wafatnya raja Salomo.  Yerebeam pun memerintah selama 22 tahun.  Ini memberi pelajaran berharga bagi kita bahwa kecakapan dan kerajinan seseorang dalam bekerja memberi peluang besar baginya untuk menapaki karir yang lebih tinggi.

     Di bidang pekerjaan apa pun, seorang pekerja yang cakap, tangkas dan rajin pasti disukai oleh semua orang.  Itulah sebabnya Alkitab menyatakan bahwa orang yang cakap dalam pekerjaan, di hdapan raja-raja ia akan berdiri  (Amsal 22:29)  dan tangan orang rajin memegang kekuasaan  (Amsal 12:24).  Hal ini berlaku sampai di zaman sekarang!  Orang yang tangkas dan rajin dalam bekerjalah yang pasti memiliki kesempatan besar untuk beroleh peninggian dan memperbaiki tingkat kehidupannya.  Orang yang cakap dan rajin dalam pekerjaan adalah pertanda bahwa ia setia terhadap tugas apa pun yang dipercayakan kepadanya.  Jika kita setia dalam perkara yang kecil Tuhan pasti akan memercayakan pada kita perkara yang jauh lebih besar.  Berbeda dengan orang yang malas dan lamban dalam bekerja, selain tidak akan dilirik oleh dunia, akan tertinggal semakin jauh di belakang.  Inilah yang membedakan orang yang berhasil dari orang yang gagal, yaitu kecakapan dan kerajinannya.  Jelas dikatakan bahwa  "Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya."  (Amsal 10:4).

     Marilah menjadi orang yang cakap, cekatan dan rajin di dalam mengerjakan segala sesuatu yang menjadi tanggung jawab kita.  Ingat!  Berlambat-lambat hanya akan membuat kita menjadi semakin malas.  Orang yang suka berlambat-lambat menunjukkan bahwa ia tidak bisa menggunakan waktu dengan baik alias menyia-nyiakan waktu dan kesempatan yang diberikan Tuhan kepadanya, seperti hamba yang menerima satu talenta.  Hamba yang demikian disebut Tuhan sebagai hamba yang malas dan jahat!  (Matius 25:26).

Biasakan diri bekerja di atas rata-rata, itu adalah kunci mencapai keberhasilan!

Tuesday, November 13, 2018

CAKAP BEKERJA: Beroleh Peninggian Tuhan (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 November 2018

Baca:  Amsal 22:17-29

"Pernahkah engkau melihat orang yang cakap dalam pekerjaannya? Di hadapan raja-raja ia akan berdiri, bukan di hadapan orang-orang yang hina."  Amsal 22:29

Kinerja yang bagus atau prestasi kerja adalah acuan bagi sebuah perusahaan untuk memberikan reward atau penghargaan kepada karyawannya.  Jika seorang karyawan tak menunjukkan kualitas kerja yang baik, atau bekerja secara asal-asalan, maka jangan harap ia akan mendapatkan promosi.  Yang seringkali terjadi adalah seorang karyawan baru mau bekerja dengan sungguh-sungguh jika ia diiming-imingi bonus atau penghargaan oleh perusahaannya.  Jika tidak, tak banyak karyawan yang mau bekerja dengan rajin dan sepenuh hati.  Sementara di sisi lain, perusahaan sesungguhnya menunggu terlebih dahulu seberapa bagus kinerja si karyawan, barulah akan diberikan reward atau penghargaan.  Rasul Paulus menasihati:  "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia."  (Kolose 3:23).

     Tidak ada alasan bagi orang percaya untuk tidak bekerja dengan sungguh-sungguh!  Bekerja dengan kualitas yang terbaik adalah kehendak Tuhan!  Bagaimana mungkin kita bisa menjadi berkat di lingkungan kerja bila kerja kita asal-asalan?  Bagaimana mungkin Tuhan membawa kita kepada peninggian bila dari pihak kita sendiri tak mau meng-upgrade diri?  Karena itu jadilah seorang pekerja yang cakap.  Arti kata  'cakap'  (ayat nas):  sanggup, mampu, mahir, atau mempunyai kemampuan dan kepandaian untuk mengerjakan segala sesuatu.  "Sebab bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang gurun datangnya peninggian itu, tetapi Allah adalah Hakim: direndahkan-Nya yang satu dan ditinggikan-Nya yang lain."  (Mazmur 75:7-8).

     Kita bisa belajar dari kehidupan Yerobeam bin Nebat!  Ia seorang yang dulunya bukan siapa-siapa, hanya anak seorang janda, tapi  "Yerobeam adalah seorang tangkas; ketika Salomo melihat, bahwa orang muda itu seorang yang rajin bekerja, maka ditempatkannyalah dia mengawasi semua pekerja wajib dari keturunan Yusuf."  (1 Raja-Raja 11:28).  Tangkas bisa diartikan pula:  cakap atau cekatan dalam bekerja.  Karena cakap dan rajin dalam bekerja, Yerobeam pun menjadi perhatian raja Salomo.  Ia dipercaya oleh raja untuk mengerjakan perkara-perkara yang lebih besar.  Ini adalah awal karir dari Yerobeam!  Kalau kita bekerja dengan kualitas yang terbaik, promosi pasti datang.

Monday, November 12, 2018

HIDUP ADALAH SEBUAH PEMELAJARAN (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 November 2018

Baca:  Amsal 30:18-33

"Ada tiga hal yang mengherankan aku, bahkan, ada empat hal yang tidak kumengerti:"  Amsal 30:18

Pelajaran lain yang kita dapatkan dari burung rajawali adalah bergerak dengan kecepatan tinggi.  Ini berbicara tentang semangat hidup.  "Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?"  (Amsal 18:14).  Seberat apa pun penderitaan, tekanan atau kesesakan yang kita alami, biarlah kita tetap memiliki semangat untuk menjalani hidup, karena kita tahu bahwa Tuhan selalu ada untuk kita, lengan-Nya yang kuat siap menopang.  "Punya-Mulah lengan yang perkasa, kuat tangan-Mu dan tinggi tangan kanan-Mu."  (Mazmur 89:14).

     Bagaikan seorang olahragawan yang sedang bertanding, semangat merupakan modal penting untuk bisa meraih kemenangan.  Rasul Paulus menasihati:  "Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan."  (Roma 12:11).  Orang yang memiliki semangat takkan mudah lelah dan putus asa sekalipun ia harus dihadapkan pada tantangan yang berat.  (2)  Ular di atas batu cadas.  Orang akan sulit menangkap ular yang berada di atas batu, karena ular itu akan melilitkan tubuhnya dan menempel kuat-kuat pada batu tersebut, dan bersembunyi di balik batu-batu cadas itu.  Batu itu menjadi tempat persembunyian dan perlindungan yang aman bagi ular agar terluput dari musuh.  Sebagai orang percaya kita harus selalu melekat dan berlindung kuat-kuat pada Batu Karang Keselamatan, yaitu Kristus.

     (3)  Kapal di tengah lautan.  Jika kita perhatikan, semakin kapal berlayar jauh ke tengah lautan, maka kapal itu akan tampak semakin kecil.  Kehidupan orang percaya seharusnya juga seperti itu, semakin kita mendekat kepada Tuhan dan berakar di dalam Dia,  "Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil."  (Yohanes 3:30).  Saat di lautan kapal harus siap melawan ombak dan gelombang.  Kehidupan kita pun tak luput dari ombak dan gelombang masalah.  (4)  Jalan seorang laki-laki dengan seorang gadis.  Kalau berjalan selalu berpegangan tangan, serasa tak ingin terpisahkan, cinta mereka bergelora.  Adakah kasih kita bergelora bagi Tuhan?  Orang yang benar-benar mengasihi Tuhan pasti punya kerinduan untuk selalu dekat dengan-Nya.

Belajar dari kehidupan akan membentuk kita menjadi pribadi yang dewasa rohani!

Sunday, November 11, 2018

HIDUP ADALAH SEBUAH PEMELAJARAN (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 November 2018

Baca:  Amsal 30:18-33

"Ada tiga hal yang mengherankan aku, bahkan, ada empat hal yang tidak kumengerti:"  Amsal 30:18

Hidup ini adalah sebuah pemelajaran  (learning)  dalam proses yang panjang, artinya selama kita hidup kita takkan pernah berhenti untuk belajar dan terus belajar.  Belajar itu tidak selamanya harus ada guru, ada buku diktat, atau berada di ruang kelas, adakalanya kita harus belajar dari situasi-situasi yang ada di sekitar, belajar dari setiap kejadian atau peristiwa, belajar dari pengalaman hidup orang lain, belajar dari kesalahan atau kegagalan masa lalu dan sebagainya.  Semakin kita belajar semakin kita mengerti banyak hal dan kita pun menjadi semakin bijaksana!  Jadi untuk menjadi orang yang bijaksana tidaklah harus lulus dari sekolah-sekolah formal atau menyandang gelar sarjana.

     Dalam amsalnya, Agur bin Yake mengajak kita untuk belajar dari banyak hal:  "...jalan rajawali di udara (1), jalan ular di atas cadas (2), jalan kapal di tengah-tengah laut (3), dan jalan seorang laki-laki dengan seorang gadis (4)."  (Amsal 30:19).  Pelajaran apa yang kita dapatkan dari burung rajawali (1)?  Burung rajawali adalah salah satu jenis burung yang besar dan memiliki sayap yang sangat kuat.  Ia tidak pernah takut dan kuatir dengan badai sehebat apa pun.  Justru ketika badai datang burung rajawali akan semakin mengembangkan sayapnya dan terbang semakin tinggi di atas badai itu.  Sebagaimana burung rajawali mampu terbang mengatasi badai, orang percaya hendaknya memiliki mentalitas burung rajawali yang tidak takut  'badai'  permasalahan.  Ketika dihadapkan pada masalah dan pergumulan hidup seringkali kita merasa takut dan kuatir.

     Selain itu burung rajawali menyukai tempat-tempat yang tinggi, bersarang di tempat-tempat yang tinggi atau di bukit-bukit batu yang sulit dijangkau.  Tempat yang tinggi berbicara tentang perkara-perkara rohani, perkara yang dari Tuhan.  Nasihat rasul Paulus:  "...carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada,...Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi."  (Kolose 3:1-2).  Orang yang senantiasa memikirkan perkara-perkara rohani atau perkara yang di atas tentunya adalah orang yang memiliki persekutuan yang karib dengan Tuhan.  Semakin kita dekat dengan Tuhan semakin kita beroleh kekuatan dan kemampuan untuk mengatasi badai hidup ini;  dan melalui badai persoalan kita diajar untuk memiliki penyerahan diri penuh kepada Tuhan.

Saturday, November 10, 2018

PELAKU FIRMAN: Pahlawan-Pahlawan Perkasa

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 November 2018

Baca:  Mazmur 103:1-2

"Pujilah TUHAN, hai malaikat-malaikat-Nya, hai pahlawan-pahlawan perkasa yang melaksanakan firman-Nya dengan mendengarkan suara firman-Nya."  Mazmur 103:20

Hari ini, 10 November, adalah hari yang bersejarah bagi bangsa Indonesia, karena kita memperingati peristiwa sejarah perang antara tentara Indonesia dan pasukan Britania Raya yang terjadi pada tanggal 10 November 1945 di Surabaya.  Ini merupakan perang pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, dan menjadi pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia yang menjadi simbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme.

     Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata  'pahlawan'  memiliki arti:  seseorang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran atau pejuang yang gagah berani.  Rasul Paulus menyatakan bahwa kehidupan kekristenan adalah kehidupan yang dihadapkan dengan peperangan.  Dunia adalah medan peperangan bagi orang percaya!  Ada pun peperangan orang percaya itu bukanlah melawan musuh yang terlihat secara kasat mata, tapi melawan si Iblis beserta pasukannya  (Efesus 6:12).  Dengan kekuatan sendiri kita takkan mampu melawannya, karena itu  "Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis;"  (Efesus 6:11).  Sebagai prajurit-prajurit Kristus kita harus selalu bersiap diri dan jangan pernah lengah, sebab Iblis tak pernah berhenti untuk mencari celah.  Jika kita lengah dan tak berjaga-jaga maka kita akan menjadi sasaran empuknya.

     Mengenakan seluruh perlengkapn senjata Tuhan adalah berikatpinggakan kebenaran, berbajuzirahkan keadilan, berkasutkan kerelaan memberitakan Injil, berperisai iman, berketopong keselamatan dan berpedang Roh  (firman Tuhan).  Kesemuanya berbicara tentang ketaatan melakukan kehendak Tuhan!  Pemazmur menyebutkan bahwa orang yang taat melakukan kehendak Tuhan bagai pahlawan-pahlawan perkasa  (ayat nas)!  Tanpa ketaatan rasanya sulit bagi kita untuk bisa menang dalam peperangan rohani!

"Sekarang aku tahu, bahwa TUHAN memberi kemenangan kepada orang yang diurapi-Nya dan menjawabnya dari sorga-Nya yang kudus dengan kemenangan yang gilang-gemilang oleh tangan kanan-Nya."  Mazmur 20:7