Monday, July 16, 2018

DAMPAK MENCINTAI TAURAT TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 Juli 2018

Baca:  Mazmur 119:97-104

"Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari."  Mazmur 119:97

Semua orang pasti pernah merasakan apa yang namanya jatuh cinta.  Cinta membuat hati orang berbunga-bunga, dunia terasa menjadi milik berdua.  Ketika terpisah oleh jarak, rasa rindu pun menyerang, hasrat ingin bersua pun bergelora.  Rasa rindu dan cinta akan terobati ketika mereka berjumpa dan menghabiskan waktu bersama.  Sungguh, tidak ada yang dapat menghalangi kekuatan sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta.  Salomo menyatakan bahwa  "...cinta kuat seperti maut,"  (Kidung Agung 8:6).

     Dalam mazmur ini Daud menyatakan diri sebagai seorang yang sedang jatuh cinta.  Rasa cinta yang mendalam ini bukan ia tujukan kepada seseorang, melainkan kepada Taurat Tuhan.  Banyak orang Kristen menganggap bahwa membaca dan merenungkan firman Tuhan adalah pekerjaan yang sangat membosankan dan menjadi beban tersendiri.  Karena itu mereka melakukannya dengan tidak sepenuh hati, setengah-setengah atau dalam keadaan terpaksa.  Berbeda dengan Daud yang menjadikan Taurat Tuhan sebagai kesukaan.  "Betapa kucintai Taurat-Mu!"  (ayat nas).  Karena mencintai Taurat Tuhan maka Daud merenungkannya sepanjang hari.  Mengapa Daud begitu mencintai Taurat Tuhan?  Karena ia tahu bahwa di dalam Taurat-Nya terkandung janji-janji Tuhan yang luar biasa dan kuasa yang teramat dahsyat.  "Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi; Dia memberi perintah, maka semuanya ada."  (Mazmur 33:9).

     Itulah sebabnya ia dengan sukacita dan rela hati menyediakan waktu untuk merenungkan Taurat Tuhan itu siang dan malam.  Dampaknya pun sungguh luar biasa:  "Perintah-Mu membuat aku lebih bijaksana dari pada musuh-musuhku, sebab selama-lamanya itu ada padaku. Aku lebih berakal budi dari pada semua pengajarku, sebab peringatan-peringatan-Mu kurenungkan. Aku lebih mengerti dari pada orang-orang tua, sebab aku memegang titah-titah-Mu."  (Mazmur 119:98-100).  Daud juga semakin peka rohani  (pancaindera terlatih), sehingga ia dapat menahan diri terhadap hal-hal yang jahat dan sanggup membedakan yang baik dari pada yang jahat.  Sejauh mana Saudara mencintai Taurat Tuhan?  Kalau tidak dimulai dari sekarang, kapan lagi?

"...tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam...apa saja yang diperbuatnya berhasil."  Mazmur 1:2-3

Sunday, July 15, 2018

TAAT KEPADA TUHAN, BUKAN BERSPEKULASI (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 Juli 2018

Baca:  Kejadian 26:1-35

"Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati TUHAN."  Kejadian 26:12

Tuhan menyediakan upah untuk setiap ketaatan mereka, dan apa yang Tuhan sediakan itu jauh lebih banyak dari yang didoakan dan dipikirkan  (Efesus 3:20), seperti tertulis:  "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia."  (1 Korintus 2:9).  Adakalanya Tuhan mengijinkan kita melewati masa-masa sulit atau paceklik untuk menguji motivasi hati dan ketaatan kita.

     Sekalipun Tuhan memerintahkan hal-hal yang seolah-olah tidak masuk akal, janganlah ragu untuk melakukannya.  Jagan pernah membatasi cara kerja Tuhan dengan akal pikiran kita yang terbatas ini.  Ingatlah bahwa cara Tuhan itu berbeda dengan cara manusia bekerja, waktu Tuhan juga bukan waktu kita.  "Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu."  (Yesaya 55:8-9).  Apa pun yang Tuhan perintahkan, lakukan saja tanpa ada perbantahan dan persungutan.  "Perintah-perintah-Nya itu tidak berat,"  (1 Yohanes 5:3b), sebab semua yang dari Tuhan, mengalahkan dunia  (1 Yohanes 5:4).  Hanya ada pilihan di sini:  taat atau tidak taat, mau atau tidak mau.  Jikalau kita berpikir bahwa semua tidak akan mungkin, hal itu juga takkan mungkin terjadi.  "Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia."  (Amsal 23:7a).

     Pemazmur menulis:  "Aku melihat batas-batas kesempurnaan, tetapi perintah-Mu luas sekali."  (Mazmur 119:96).  Firman Tuhan dan janji firman-Nya sungguh tak terbatas!  Ketika Ishak taat melakukan apa yang diperintahkan Tuhan maka perkara yang dahsyat terjadi.  Saat orang lain mengalami krisis dan masa paceklik Ishak justru mengalami hidup yang berkelimpahan, seperti tertulis:  "Dan orang itu menjadi kaya, bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya."  (Kejadian 26:13).  Jika Tuhan sudah membuka pintu-pintu berkat bagi seseorang tak satu pun kuasa yang sanggup menutupnya.  Hidup Ishak pun menjadi berkat dan kesaksian di negeri orang Filistin.

Ingin mengalami berkat dan mujizat?  Jadilah pengikut Kristus yang taat.

Saturday, July 14, 2018

TAAT KEPADA TUHAN, BUKAN BERSPEKULASI (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 Juli 2018

Baca:  Kejadian 26:1-35

"Janganlah pergi ke Mesir, diamlah di negeri yang akan Kukatakan kepadamu."  Kejadian 26:2

Zaman sekarang banyak orang suka melakukan hal-hal yang sangat ekstrem, terutama mereka yang hidup di dunia Barat dan menganut paham nihilisme.  Nihilisme adalah pandangan filosofi yang menganggap bahwa dunia ini, terutama keberadaan manusia di dunia, tidak memiliki suatu tujuan.  Itulah sebabnya penganut paham ini sering melakukan tindakan yang nekat, tidak takut mati.  Semisal memanjat gedung tinggi tanpa menggunakan alat pengaman dan sebagainya.  Tanpa disadari sesungguhnya mereka sedang melakukan tindakan bodoh dan sedang berspekulasi dengan hidupnya sendiri.  Ada dua kemungkinan:  bisa selamat dan menjadi terkenal, atau sebaliknya, gagal dan hidupnya berakhir konyol.

     Ketika terjadi kelaparan hebat dan paceklik orang akan berpikir 1000X jika hendak menabur.  Secara matematis menabur di masa itu pasti akan gagal, bukan beruntung tapi malah buntung.  Tetapi lain halnya dengan Ishak, yang justru melakukan apa yang orang lain tidak lakukan, yaitu menabur di masa paceklik.  Semua orang akan menganggap tindakan ini konyol, nekat atau spekulatif.  Apa yang Ishak lakukan dilandasi iman kepada Tuhan dan janji firman-Nya.  "Tinggallah di negeri ini sebagai orang asing, maka Aku akan menyertai engkau dan memberkati engkau, sebab kepadamulah dan kepada keturunanmu akan Kuberikan seluruh negeri ini, dan Aku akan menepati sumpah yang telah Kuikrarkan kepada Abraham, ayahmu. Aku akan membuat banyak keturunanmu seperti bintang di langit; Aku akan memberikan kepada keturunanmu seluruh negeri ini, dan oleh keturunanmu semua bangsa di bumi akan mendapat berkat,"  (Kejadian 26:3-4).  Ishak pun taat:  "Jadi tinggallah Ishak di Gerar."  (Kejadian 26:6).

     Banyak orang tidak mau taat melakukan perintah Tuhan karena menganggap perintah Tuhan itu tidak logis, tidak masuk akal, aneh.  Namun jika kita mau taat Tuhan sanggup mengubah yang tak mungkin menjadi mungkin.  Terbukti sekalipun sedang paceklik, apa yang ditabur Ishak menghasilkan tuaian,  "...ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati TUHAN."  (Kejadian 26:12).

Berkat Tuhan bagi orang percaya tidak bergantung kepada musim!

Friday, July 13, 2018

TUHAN MENOPANG HIDUPKU

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 Juli 2018

Baca:  Mazmur 3:1-9

"Aku tidak takut kepada puluhan ribu orang yang siap mengepung aku."  Mazmur 3:7

Lagu rohani yang berjudul  'Engkaulah perisaiku'  adalah lagu yang sangat populer di kalangan orang percaya.  Lagu tersebut sangat menguatkan dan memberkati semua orang yang mendengarnya:  "Engkaulah perisaiku, saat badai hidup menerpaku... Firman-Mu di dalamku... tenangkan jiwaku.  Reff:  Ku kan berdiri di tengah badai dengan kekuatan yang Kauberikan.  Sampai kapan pun ku kan bertahan, karena Yesus selalu menopang hidupku."

     Lagu ini selaras dengan apa yang Daud tulis:  "...TUHAN, adalah perisai yang melindungi aku, Engkaulah kemuliaanku dan yang mengangkat kepalaku."  (Mazmur 3:4).  Kita takkan mampu bertahan di tengah dahsyatnya gelombang kehidupan jika tanpa Tuhan di samping kita.  Ketika itu Daud sedang dalam situasi yang teramat sulit, karena sedang melarikan diri dari kejaran puteranya sendiri  (Absalom)  yang berusaha untuk membunuhnya dan berambisi untuk merebut tahtanya.  Dalam situasi ini perasaan Daud campur aduk jadi satu:  merasa dikhianati, dikecewakan, ditinggalkan, sedih, putus asa dan sebagainya.  Meski demikian Daud tidak berkeluh-kesah atau mengasihani diri sendiri, tapi ia terus memperkatakan iman, karena ia tahu kepada siapa ia menaruh pengharapan hidupnya!  "Aku tidak takut kepada puluhan ribu orang yang siap mengepung aku."  (ayat nas).  Daud dapat berkata demikian karena ia memilih untuk terus mengarahkan pandangannya kepada perbuatan-perbuatan ajaib Tuhan.

     Apa pergumulan berat Saudara saat ini?  Mungkin kita sedang menghadapi kebutuhan yang tak terselesaikan yang membuat Saudara berada di ambang keputusasaan;  dokter mungkin telah memvonis penyakit Saudara tak mungkin disembuhkan;  banyak orang berkata rumah tanggamu tak mungkin terselamatkan.  Apa yang terlihat secara kasat mata, mungkin terlihat mustahil saat ini, namun percayalah di dalam Tuhan tidak ada perkara mustahil.  Arahkan pandangan kepada Tuhan dan kuasa firman-Nya, maka kita akan melihat tangan Tuhan bekerja.  "...tangan kanan TUHAN berkuasa meninggikan, tangan kanan TUHAN melakukan keperkasaan!"  (Mazmur 118:16).

"TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya."  Mazmur 37:23-24

Thursday, July 12, 2018

BERTAHANLAH UNTUK SETIA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 Juli 2018

Baca:  Yeremia 25:1-14

"Sejak dari tahun yang ketiga belas pemerintahan Yosia bin Amon, raja Yehuda, sampai hari ini, jadi sudah dua puluh tiga tahun lamanya, firman TUHAN datang kepadaku dan terus-menerus aku mengucapkannya kepadamu, tetapi kamu tidak mau mendengarkannya."  Yeremia 25:3

Melayani pekerjaan Tuhan tak bisa dianggap enteng, karena itu kita tak bisa mengandalkan kekuatan sendiri.  Ada banyak pekerja di ladang Tuhan yang semangatnya dalam melayani mulai kendor karena tidak tahan dengan tekanan, ujian, dan berbagai rintangan yang ada.  Ada pula yang mogok dan memilih untuk mundur dari pelayanan karena merasa gagal:  sudah melayani Tuhan bertahun-tahun tapi respons dari jemaat yang dilayani sangatlah kurang, sehingga tak banyak jiwa yang dimenangkan.

     Jangan pernah mundur dari pelayanan!  "Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran."  (2 Timotius 4:2).  Yeremia menghadapi tantangan yang tak mudah dalam pelayanannya.  Dua puluh tiga tahun lamanya melayani jiwa-jiwa dan menjadi penyambung lidah Tuhan:  memberitakan kebenaran dan menyerukan pertobatan, namun respons orang-orang yang dilayani sungguh sangat mengecewakan.  "...TUHAN terus-menerus mengutus kepadamu semua hamba-Nya, yakni nabi-nabi, tetapi kamu tidak mau mendengarkan dan memperhatikannya."  (Yeremia 25:4).  Nasihat dan teguran Yeremia dianggap sebagai angin lalu.  Meski demikian Yeremia tak kecewa apalagi menyerah pada keadaan, ia tetap tekun dan setia pada panggilan-Nya.

     Kuantitas orang yang dilayani atau kemegahan gedung gereja bukanlah ukuran keberhasilan seorang pelayan Tuhan.  Yang Tuhan perhatikan ketekunan, kesetiaan, kesungguhan dan motivasi dalam mengerjakan panggilan-Nya.  Menurut pandangan manusia Yeremia mungkin dianggap gagal.  Apa pun keadaannya, seorang hamba Tuhan haruslah tetap setia menyampaikan kebenaran firman Tuhan, sebab cepat atau lambat, firman-Nya pasti akan digenapi.  Karena terus mengeraskan hati dan mengabaikan teguran, bangsa Israel harus menuai akibatnya:  Tuhan bertindak atas mereka  (Yeremia 25:8-11).

"Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan."  Roma 12:11

Wednesday, July 11, 2018

JANGAN LAGI MENOLEH KE BELAKANG

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 Juli 2018

Baca:  Yesaya 54:1-17

"Janganlah takut, sebab engkau tidak akan mendapat malu, dan janganlah merasa malu, sebab engkau tidak akan tersipu-sipu. Sebab engkau akan melupakan malu keremajaanmu, dan tidak akan mengingat lagi aib kejandaanmu."  Yesaya 54:4

Setiap orang pasti punya masa lalu, entah itu masa lalu yang menyenangkan atau masa lalu yang kelabu.  Jika teringat masa lalu yang menyenangkan rasa-rasanya ingin kembali ke masa itu, andai saja waktu dapat diputar kembali.  Tak beda jauh, masa lalu yang kelabu pun sulit sekali untuk dilupakan.  Rasa sakit dan luka yang menyayat hati begitu membekas dalam, bahkan tidak sedikit orang yang hari-harinya terus dibelenggu dan dibayang-bayangi oleh masa lalu kelabu itu.  Mereka sulit sekali move on!

     Ada banyak usaha yang dilakukan orang untuk mengubur dalam-dalam masa lalunya.  Salah satu cara adalah membuang atau menyingkirkan semua benda yang berkaitan dengan peristiwa atau seseorang di masa lalu tersebut.  Karena setiap kali melihat benda-benda tersebut atau melewati suatu tempat, memori itu kembali muncul.  Meski demikian tak semua orang bisa melupakan masa lalunya dengan cara yang demikian.  Rasul Paulus juga memiliki masa lalu, tapi ia terus berjuang untuk tidak dibelenggu oleh masa lalunya.  Inilah tekadnya:  "...aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku,"  (Filipi 3:13).  Rasul Paulus dapat melupakan masa lalu karena ia mengarahkan pandangannya atau berfokus kepada janji firman Tuhan,  "...berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi..."  (Filipi 3:14).  Selama kita masih berkutat dengan masa lalu, kita tidak akan pernah bisa maju, tidak akan pernah bisa mengembang ke kanan dan ke kiri.  Dengan kata lain masa lalu hanya akan menjadi penghalang untuk kita meraih semua impian.

     Adalah lebih baik mengarahkan pandangan ke depan daripada terus menoleh ke belakang.  Pegang janji Tuhan:  "Sebab engkau akan mengembang ke kanan dan ke kiri, keturunanmu akan memperoleh tempat bangsa-bangsa, dan akan mendiami kota-kota yang sunyi."  (Yesaya 54:3).  Karena  'menoleh ke belakang'  atau berat meninggalkan kota Sodom dan Gomora, isteri Lot menjadi tiang garam  (Kejadian 19:26).

Apa pun masa lalu kita, jangan sampai hal itu melemahkan dan membuat kita putus asa, tapi jadikan itu sebagai pembelajaran untuk lebih baik lagi.

Tuesday, July 10, 2018

PENOLAKAN MENIMBULKAN LUKA BATIN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 Juli 2018

Baca:  Markus 6:1-6

"Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya."  Markus 6:4

Istilah  'luka batin'  mengacu pada keadaan jiwa seseorang yang tidak sehat sebagai akibat dari goresan atau penderitaan yang terjadi dalam hidupnya;  suatu keadaan dalam batin seseorang yang menimbulkan perasaan marah, benci, kecewa dan pahit hati yang begitu mendalam.  Secara garis besar penyebab luka batin dalam diri seseorang adalah misalnya peristiwa traumatis, rasa bersalah dan mengalami penolakan.

     Pernahkah Saudara ditolak?  Bagaimana perasaan Saudara saat mengalami penolakan?  Hati kita pasti terasa sakit, merasa terhina, tidak dianggap, tidak dihargai, direndahkan, dan dipandang sebelah mata.  Bukan hanya Saudara yang mengalaminya, Kristus pun pernah mengalami penolakan.  Suatu ketika Kristus pergi ke Nazaret bersama dengan murid-murid-Nya.  Di sana Ia mengajar orang-orang di rumah ibadat.  Hal itu menimbulkan ketakjuban yang luar biasa.  Tetapi ada orang-orang yang memberikan respons yang negatif ketika mendengar ajaran Kristus dan melihat mujizat yang dikerjakan-Nya, mereka justru bersikap skeptis dan apatis.  "'Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya? Dan mujizat-mujizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya? Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?' Lalu mereka kecewa dan menolak Dia."  (Markus 6:2-3).  Peristiwa penolakan Kristus ini justru di kampung halaman-Nya sendiri.  Orang-orang sekampung-Nya begitu merendahkan dan memandang Dia dengan sebelah mata.  Mereka menganggap bahwa Kristus itu tak lebih dari orang biasa sama seperti mereka.  Di mata mereka Kristus tak lebih dari anak seorang tukang kayu.  Itulah harga yang harus Kristus bayar dalam pelayanan-Nya!

     Apakah Saudara sedang mengalami luka-luka batin karena tertolak?  Bawalah pergumulan Saudara kepada Tuhan!  Sebab jiwa yang hancur;  hati yang patah dan remuk tidak akan pernah dipandang hina oleh Tuhan.  "Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung, air mataku Kautaruh ke dalam kirbat-Mu."  (Mazmur 56:9).

Sedalam apa pun luka batin yang kita alami, Tuhan sanggup menyembuhkan!

Monday, July 9, 2018

KESERAKAHAN MEMBAWA KEHANCURAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 9 Juli 2018

Baca:  Matius 26:14-16

"'Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?' Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya."  Matius 26:15

Firman Tuhan memperingatkan kita untuk selalu menjaga hati:  "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan."  (Amsal 4:23), sebab dari hati bisa timbul segala hal yang jahat:  "...percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan."  (Markus 7:21-22).  Keserakahan adalah salah satu sifat yang bisa timbul dalam diri seseorang.  Serakah bisa diartikan:  suatu hasrat yang berlebihan atau keinginan untuk memperoleh sebanyak-banyaknya.  Serakah dapat nyata dalam cinta akan uang  (materi).  Karena serakah terhadap warisan seseorang bisa mengorbankan hubungan dengan saudara kandung sendiri;  dikuasai oleh sifat serakah tak terhitung banyaknya pejabat pemerintahan di negeri ini yang berani melakukan tindakan korupsi.

     Keserakahan selalu menuntun seseorang kepada perilaku yang salah dan menyimpang dari kebenaran, yang semata-mata bertujuan untuk kepentingan diri sendiri.  Karena serakah Yudas Iskariot terdorong untuk melakukan pengkhianatan terhadap Guru-nya sendiri.  Ia tega menjual Kristus dengan harga tiga puluh keping perak.  Jelas terlihat bahwa ia lebih menginginkan uang dari pada Tuhan-nya dan ia pun rela kehilangan sahabat-sahabatnya.  Di dalam Injil Markus 14:10-11 dinyatakan bahwa Yudas mendatangi para imam kepala dengan tujuan ingin menyerahkan Kristus kepada mereka, dengan harapan ia mendapatkan sejumlah uang.  Bahkan Yudas Iskariot dengan sengaja mengadakan perundingan dengan para imam kepala untuk menangkap Kristus yaitu dengan sebuah ciuman pengkhianatan  (Lukas 22:47-48).

     Keserakahan ini akhirnya menuntun Yudas Iskariot kepada kehancuran.  Penyesalan selalu datang belakangan dan hidupnya pun harus berakhir dengan sangat tragis dan mengerikan:  mati dengan cara gantung diri.  "...perutnya terbelah sehingga semua isi perutnya tertumpah ke luar."  (Kisah 1:18).  Pengalaman hidup Yudas Iskariot ini menjadi pelajaran berharga bagi kita!  Karena itu jangan sekali-kali berlaku serakah!

Keserakahan itu sama dengan penyembahan berhala dan mendatangkan murka Tuhan  (Efesus 3:5-6).

Sunday, July 8, 2018

HIDUP KRISTIANI: Bertobat dan Lahir Baru

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 Juli 2018

Baca:  Matius 3:1-12

"Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan."  Matius 3:9

Dalam kehidupan Kristiani ada dua proses penting yang harus dijalani yaitu pertobatan dan kelahiran baru.  Oleh karena itu seruan pertobatan takkan pernah berhenti untuk disampaikan karena pertobatan adalah hal mendasar.  Kata bertobat  (Yunani metanoia)  terbentuk dari dua kata yaitu meta yang artinya berubah  (change)  dan nous yang artinya pikiran  (mind).  Jadi metanoia berarti perubahan pikiran.  Kata inilah yang sering digunakan untuk menunjuk pada pertobatan seseorang yang ditandai dengan perubahan pikiran.  Bertobat bisa diartikan berubah arah tujuan yaitu dari jalan orang berdosa yang selama ini dijalaninya, ke arah jalan atau kehendak Tuhan.

     Seorang yang bertobat berarti sedang menyerahkan tujuan hidup dan hatinya secara sukarela kepada Tuhan, di mana kemudian Tuhan sendiri akan memperbarui dan memrosesnya.  Seorang berdosa yang sadar akan dosanya dan dengan tulus hati menyesali semua perbuatannya yang bertentangan dengan kehendak Tuhan akan mudah sekali untuk bertobat.  Yang dimaksud bertobat bukanlah sebatas menyesali dosa-dosa yang telah diperbuat, tetapi juga ada kemauan dan komitmen untuk berjalan ke arah jalan Tuhan  (Yohanes 14:6).  Inilah yang Kristus sedang cari!  "...Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa."  (Matius 9:13).

     Tahap selanjutnya adalah Tuhan akan mengerjakan apa yang menjadi bagian-Nya yaitu melahirkan orang itu kembali menjadi ciptaan yang baru.  Proses  'melahirkan kembali'  ini adalah pekerjaan Roh Kudus.  "...semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah."  (Yohanes 1:12-13).  Kristus menambahkan:  "...sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh. Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali."  (Yohanes 3:5-7).  Tanpa pertobatan dan kelahiran baru kita tak layak disebut pengikut Kristus yang sejati!

Siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru  (2 Korintus 5:17).

Saturday, July 7, 2018

JANGAN MENGOTORI BAIT ROH KUDUS!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 7 Juli 2018

Baca:  1 Korintus 6:12-20

"Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, --dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?"  1 Korintus 6:19

Tak seorang pun suka jika rumahnya kotor dan berantakan.  Itulah sebabnya kita berusaha menjaga kebersihan rumah setiap hari, mulai dari menyapu, mengepel, merapikan dan sebagainya, supaya rumah selalu dalam keadaan bersih, rapi dan terawat baik.  Jika ada orang yang dengan sengaja mengotori rumah kita, tanpa segan kita pasti akan menegurnya.  Keluarga-keluarga berekonomi mapan  (hidup berkecukupan)  biasanya mempekerjakan asisten rumah tangga untuk mengurus rumahnya, sehingga si pemilik rumah tak perlu repot-repot membersihkan rumahnya sendirian.

     Tuhan marah besar ketika melihat Bait Suci telah dikotori dan disalahgunakan oleh orang-orang untuk berdagang.  Ia pun mengusir orang-orang yang berjual beli, meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati dibalikkan-Nya, serta tidak memperbolehkan orang membawa barang-barang melintasi halaman Bait Suci tersebut  (Markus 11:15-16), sebab  "Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa? Tetapi kamu ini telah menjadikannya sarang penyamun!"  (Markus 11:17).  Bait Suci adalah tempat yang sangat sakral, tempat di mana hadirat Tuhan melawat umat-Nya, dan tempat umat bersekutu dan berdoa, bukan sarang penyamun.

     Begitu pula rasul Paulus memperingatkan bahwa ketika kita percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, saat itu pula kita dimeteraikan dengan Roh Kudus dan Roh Kudus tinggal di dalam diri kita, sehingga tubuh kita menjadi bait Roh Kudus.  Karena tubuh ini adalah bait Roh Kudus maka kita harus benar-benar menjaga kebersihannya dan bagaimana supaya Roh Kudus merasa  'betah'  tinggal di dalam kita.  Tapi seringkali kita mengotori bait Roh Kudus dan bahkan merusaknya dengan hal-hal yang bersifat duniawi  (Galatia 5:19-21).  Karena itu janganlah kita menyerahkan anggota-anggota tubuh kita ini kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, melainkan kita menyerahkan anggota-anggota tubuh untuk menjadi senjata kebenaran  (Roma 6:13).

"Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!"  1 Korintus 6:20