Friday, September 21, 2018

MENANG ATAS TUBUH MAUT

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 21 September 2018

Baca:  Roma 7:13-26

"Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?"  Roma 7:24

Pada zaman dahulu kala, di masa pemerintahan Romawi, orang yang melakukan pelanggaran berat akan mendapatkan hukuman yang tidak manusiawi dan sangat mengerikan.  Pada punggung orang yang dijatuhi hukuman akan diikatkan sesosok mayat orang.  Barangsiapa berusaha untuk melepaskan mayat itu dari punggung orang yang terhukum akan mendapatkan sanksi hukuman mati.  Karena itu tak seorang pun berani melepaskan mayat yang terikat di punggung orang hukuman.  Jadi kemana pun seorang terhukum melangkah, mayat yang di punggungnya pun turut serta.  Sungguh menjijikkan.

     Hukuman yang keji ini mengingatkan kita apa yang disampaikan oleh rasul Paulus  (ayat nas).  Ia merasa ada sesuatu yang mati terikat pada dirinya dan mengikutinya ke mana pun ia pergi.  Dalam hal ini, sesungguhnya Paulus sedang memberikan gambaran tentang pergumulan hidup orang percaya melawan dosa.  Kita rindu untuk menjaga kemurnian dan kekudusan hidup, tapi  'tubuh maut;  itu masih terasa terikat pada kita.  Walaupun kita telah menjadi ciptaan baru di dalam Kristus, kecenderungan untuk berbuat dosa selalu ada.  "Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat."  (Roma 7:19).  Hal inilah yang membuat rasul Paulus menjerit:  "Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?"  (ayat nas).

     Rasul Paulus beroleh jawaban dari pergumulannya melawan dosa kedagingan, yaitu bahwa melalui pengorbanan Kristus di kayu salib kita beroleh pengampunan dosa dan kita dibebaskan dari penghukuman kekal.  "Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus..."  (Roma 8:1).  Oleh kuasa Roh Kudus kita beroleh kekuatan dan kuasa untuk dapat melakukan kehendak Bapa.  "Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu."  (Roma 8:9a).  Kita mempunyai pengharapan teguh untuk dibebaskan dari  'tubuh maut'  (kedagingan)  ini, karena Kristus telah mematahkan kuasa dosa dan maut.

Kuasa kebangkitan Kristus memampukan kita untuk menang atas belenggu dosa kedagingan!

Thursday, September 20, 2018

BANGUNAN DENGAN KUALITAS BEDA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 20 September 2018

Baca:  Lukas 6:46-49

"Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?"  Lukas 6:46

Apalah artinya orang telah bertahun-tahun menjadi pengikut Kristus apabila kehidupan kekristenannya hanya sekedar teori?  Itu tak lebih dari  "...gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing."  (1 Korintus 13:1).  Tanpa buah yang dihasilkan, kehidupan kita takkan pernah mempermuliakan nama Tuhan,  "Sebab dari buahnya pohon itu dikenal."  (Matius 12:33b).  Betapa kecewanya hati Tuhan apabila anak-anak-Nya tak mau melakukan apa yang telah diperintahkan-Nya, sebab kekristenan itu bukan sekedar berseru Tuhan, Tuhan... namun lebih daripada itu, yaitu melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan atau menjadi pelaku firman, itulah yang terutama.

     Orang yang taat melakukan firman Tuhan  "...sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu."  (Lukas 6:48a).  Namun ada pula bangunan yang lain, seperti yang Tuhan katakan:  "Akan tetapi barangsiapa mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar."  (Lukas 6:49a).  Ditinjau secara fisik atau dari luarnya, dua bangunan tersebut tampak sama, tak jauh berbeda.  Perbedaan akan kelihatan jelas apabila terjadi goncangan dari luar.  Bangunan yang dasarnya di atas batu tidak akan goyah ketika air bah dan banjir melandanya.  Bangunan itu akan tetap tegak berdiri!  Akan tetapi, bangunan yang dibangun tanpa dasar yang kuat, secepat angin, badai taufan dan air bah datang melanda, secepat itu pula bangunan tersebut akan runtuh dan luluh lantak rata dengan tanah.

     Inilah saatnya kita berlomba-lomba mengangun  'rumah'  rohani:  membangun iman, ketaatan, kesetiaan, ketekunan dan perkara-perkara rohani lainnya.  Bangunan rohani kita harus berlandaskan firman Tuhan dan didirikan di atas dasar Batu Karang yang teguh, yaitu Kristus  (1 Korintus 10:4).  Bangunan  'rohani'  dari masing-masing orang akan tampak sama indahnya, tanpa perbedaan yang menyolok.  Tapi kualitas dari tiap-tiap bangunan rohani tersebut akan terlihat ketika ada masalah atau pencobaan.

Melakukan firman Tuhan berarti sedang membangun rumah rohani di atas dasar yang kuat!

Wednesday, September 19, 2018

SEGERALAH BERTINDAK, JANGAN DIAM SAJA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 19 September 2018

Baca:  Keluaran 14:15-31

"Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: 'Mengapakah engkau berseru-seru demikian kepada-Ku? Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka berangkat.'"  Keluaran 14:15

Sekalipun Musa telah memperingatkan orang-orang Israel untuk tidak takut meski dikejar pasukan Firaun, dan ia tahu benar bahwa keselamatan dari Tuhan sudah disediakan, dan kemenangan ada di pihak mereka  (Keluaran 14:13), tapi jika ia sendiri tak mau bertindak dan bergerak maju, maka kemenangan itu hanya akan menjadi sebuah wacana saja.  Karena itu Tuhan berfirman kepadanya:  "Mengapakah engkau berseru-seru demikian kepada-Ku?"  (ayat nas).  Tuhan menghendaki musa dan orang-orang Israel segera berangkat.  Inilah yang disebut tindakan iman!  "Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati."  (Yakobus 2:17).

     Semula Musa lupa punya tongkat yang dapat membuat tanda-tanda mujizat, seperti kata Tuhan  "Dan bawalah tongkat ini di tanganmu, yang harus kaupakai untuk membuat tanda-tanda mujizat."  (Keluaran 4:17).  Barulah Musa menyadari kuasa Tuhan menyertainya.  "Dan engkau, angkatlah tongkatmu dan ulurkanlah tanganmu ke atas laut dan belahlah airnya, sehingga orang Israel akan berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering."  (Keluaran 14:16).

     Menghadapi masalah dan tantangan hidup berat kita seringkali takut.  Kita kalah sebelum bertindak.  Kita lupa Tuhan telah memperlengkapi kita dengan tongkat  (kuasa)  untuk mengalahkan musuh.  Tuhan berkata,  " Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu."  (Lukas 10:19).  Kita lupa menggunakan kuasa kebangkitan Kristus yang telah mengalahkan dan mematahkan segala kutuk dosa, dan di dalam kita ada kuasa Roh Kudus yaitu Roh  "...lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia."  (1 Yohanes 4:4b).  Ketika Musa bertindak dengan iman dan menggunakan  'tongkat'  itu, perkara besar pun terjadi.

"Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu."  Yohanes 14:12

Tuesday, September 18, 2018

TIDAK LAGI MENGUTAMAKAN TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 18 September 2018

Baca:  1 Raja-Raja 11:1-13

"Oleh karena begitu kelakuanmu, yakni engkau tidak berpegang pada perjanjian dan segala ketetapan-Ku yang telah Kuperintahkan kepadamu, maka sesungguhnya Aku akan mengoyakkan kerajaan itu dari padamu dan akan memberikannya kepada hambamu."  1 Raja-Raja 11:11

Nama  'Salomo'  memiliki arti:  damai sentosa.  Ia adalah anak Daud, dari Batsyeba  (2 Samuel 12:24).  Di awal menjabat sebagai raja, Salomo hidup takut akan Tuhan dan ia pun memerintahkan rakyatnya untuk berlaku demikian ini:  "...dan hendaklah kamu berpaut kepada TUHAN, Allah kita, dengan sepenuh hatimu dan dengan hidup menurut segala ketetapan-Nya dan dengan tetap mengikuti segala perintah-Nya seperti pada hari ini."  (1 Raja-Raja 8:61).  Karena itu Tuhan memberkati Salomo secara melimpah, bukan hanya materi, tapi juga dalam hal hikmat, sehingga  "Raja Salomo melebihi semua raja di bumi dalam hal kekayaan dan hikmat. Seluruh bumi berikhtiar menghadap Salomo untuk menyaksikan hikmat yang telah ditaruh Allah di dalam hatinya."  (1 Raja-Raja 10:23-24).  Kerajaan Israel pun benar-benar mencapai puncak kejayaan dan kemuliaan, sehingga rakyat hidup dalam damai dan sentosa sesuai dengan arti nama rajanya.

     Kesuksesan dan kekayaan seringkali menjadi jerat bagi seseorang.  Hal ini juga terjadi pada Salomo!  Berada di comfort zone membuatnya mulai lupa diri.  Firman Tuhan telah memperingatkan:  "Janganlah kamu bergaul dengan mereka dan merekapun janganlah bergaul dengan kamu, sebab sesungguhnya mereka akan mencondongkan hatimu kepada allah-allah mereka."  (1 Raja-Raja 11:2), namun perintah itu dilanggarnya.  Hati Salomo telah terpaut pada isteri-isterinya, yang telah  "...mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain, sehingga ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada TUHAN, Allahnya, seperti Daud, ayahnya."  (1 Raja-Raja 11:4).  Demi menyenangkan hati mereka, Salomo rela mendirikan bukit-bukit pengorbanan bagi penyembahan berhala.

     Perbuatan Salomo ini benar-benar telah menimbulkan kecemburuan hati Tuhan,  "Sebab itu TUHAN menunjukkan murka-Nya kepada Salomo, sebab hatinya telah menyimpang dari pada TUHAN, Allah Israel, yang telah dua kali menampakkan diri kepadanya,"  (1 Raja-Raja 11:9)  dan Salomo pun harus menuai akibatnya  (ayat nas).

Karena tak lagi taat kepada Tuhan, kerajaan yang dipimpin Salomo pun terkoyak!

Monday, September 17, 2018

PEMBAWA JIWA BAGI TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 September 2018

Baca:  Yakobus 5:12-20

"...bahwa barangsiapa membuat orang berdosa berbalik dari jalannya yang sesat, ia akan menyelamatkan jiwa orang itu dari maut dan menutupi banyak dosa."  Yakobus 5:20 

Setiap orang percaya memiliki sebuah amanat dari Tuhan:  "Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu."  (Yohanes 20:21), yaitu menjadi saksi-saksi Kristus di tengah dunia ini.  "'Kamu inilah saksi-saksi-Ku,' demikianlah firman TUHAN, 'dan hamba-Ku yang telah Kupilih,'"  (Yesaya 43:10).  Memenangkan jiwa bagi Tuhan berarti kita telah menyelamatkan mereka dari penghukuman kekal.  Bekerja bagi keselamatan jiwa-jiwa yang belum diselamatkan ini merupakan panggilan yang mulia.  Panggilan ini bukan hanya berlaku bagi para pendeta, pastor, penginjil atau misionaris, tapi juga merupakan panggilan bagi kita yang sudah diselamatkan oleh Kristus.

     Jemaat gereja mula-mula di zaman Kisah Para Rasul begitu semangat dalam mengerjakan perkara-perkara rohani dan melayani Tuhan, sehingga kehidupan mereka menjadi kesaksian.  "...mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan."  (Kisah 2:47).  Tapi di zaman sekarang ini tak mudah mendapati orang yang punya roh yang menyala-nyala bagi Tuhan dan punya hati yang terbeban untuk menjangkau jiwa-jiwa.  Masihkah kita akan tinggal diam melihat saudara, keluarga atau sahabat kita belum ditebus oleh Kristus?  Perhatikan!  Pada akhir zaman akan terjadi ini:  "Dan banyak dari antara orang-orang yang telah tidur di dalam debu tanah, akan bangun, sebagian untuk mendapat hidup yang kekal, sebagian untuk mengalami kehinaan dan kengerian yang kekal."  (Daniel 12:2).

     Alkitab menyatakan:  "Dan orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cahaya cakrawala, dan yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran seperti bintang-bintang, tetap untuk selama-lamanya."  (Daniel 12:3).  Bagaimana sikap kita agar kita dapat memenangkan jiwa bagi Kristus?  Kita harus memiliki kerelaan untuk memberitakan Injil dan memiliki  'hati hamba'.  Inilah yang Rasul Paulus perbuat:  "Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang."  (1 Korintus 9:19).

Sebagaimana Kristus  "...datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang."  (Lukas 19:10), orang percaya pun dipanggil untuk melakukan hal yang sama.

Sunday, September 16, 2018

CARILAH TUHAN DENGAN SEGENAP HATI!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 September 2018

Baca:  Mazmur 119:1-8

"Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatan-Nya, yang mencari Dia dengan segenap hati,"  Mazmur 119:2

Sebagian besar orang beranggapan bahwa sumber kebahagiaan hidup terletak pada hal-hal duniawi:  uang, mobil, rumah megah, kedudukan, popularitas dan sebagainya.  Benarkah?  Pemazmur menyatakan bahwa kunci untuk meraih kebahagiaan hidup adalah memegang peringatan-peringatan Tuhan  (tinggal di dalam firman-Nya), dan mencari Dia dengan segenap hati.  Mengapa banyak orang tidak menemukan Tuhan atau tidak mendapatkan jawaban dari Tuhan, sekalipun ia merasa sudah berdoa?  Ada tertulis:  "Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati."  (Amsal 16:2).  Hal mendasar yang harus diperhatikan saat kita mencari Tuhan adalah sikap hati kita.  Apakah kita sudah mencari Tuhan dengan segenap hati?

     Selama kita mencari Tuhan tidak dengan segenap hati, setengah-setengah atau tidak bersungguh-sungguh, maka Tuhan tidak berkenan untuk menemui kita.  "...apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu; apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati, Aku akan memberi kamu menemukan Aku, demikianlah firman TUHAN, dan Aku akan memulihkan keadaanmu..."  (Yeremia 29:12-13).  Karena itu pemazmur berdoa:  "Lalukanlah mataku dari pada melihat hal yang hampa, hidupkanlah aku dengan jalan-jalan yang Kautunjukkan!"  (Mazmur 119:37).  Cara agar mata kita tidak melihat hal-hal yang hamba dan hidup menurut jalan-jalan Tuhan adalah mencari Dia dengan segenap hati.  "Aku berseru dengan segenap hati; jawablah aku, ya TUHAN! Ketetapan-ketetapan-Mu hendak kupegang."  (Mazmur 119:145).

     Bukan hanya dalam mengerjakan perkara-perkara rohani saja dibutuhkan sikap yang segenap hati, dalam melakukan pekerjaan konvensional pun jika kita ingin mendapatkan hasil yang terbaik dan maksimal, kita harus melakukan segala sesuatunya dengan segenap hati.  Terlebih-lebih dalam hal beribadah kepada Tuhan, jangan sekali-kali kita datang kepada-Nya dengan main-main,  "...sebab TUHAN menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita."  (1 Tawarikh 28:9).

Mata Tuhan selalu tertuju kepada orang yang mencari Dia dengan segenap hati!

Saturday, September 15, 2018

DI AMBANG USIA SENJA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 September 2018

Baca:  Pengkhotbah 12:1-14

"Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu, sebelum tiba hari-hari yang malang dan mendekat tahun-tahun yang kaukatakan: 'Tak ada kesenangan bagiku di dalamnya!'"  Pengkhotbah 12:1

Pengkhotbah menegaskan bahwa:  "Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya. Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal,..."  (Pengkhotbah 3:1-2).  Semua manusia yang sudah dilahirkan di dunia ini pada waktunya pasti akan mati.  Sebagaimana ketika dilahirkan, kita tak dapat menolak untuk dilahirkan, begitu juga ketika sudah waktunya roh kita kembali kepada Sang Pencipta, kita juga tak punya kesanggupan untuk menolaknya.  "dan debu kembali menjadi tanah seperti semula dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya."  (Pengkhotbah 12:7).

     Tapi kematian bagi orang percaya akan berbeda dengan kematian orang-orang yang menolak Dia.  Rasul Paulus berkata,  "Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan."  (Filipi 1:21).  Banyak orang tak menyadari bahwa umur manusia itu ada batasnya!  Mereka yang merasa diri muda hidup sekehendak hatinya dan mengabaikan perkara-perkara rohani.  "Aku masih muda... Urusan rohani nanti-nanti saja, masih banyak kesempatan."  Namun tidak sedikit pula orang yang sudah usia senja masih saja tak menyadari bahwa waktunya sudah teramat dekat.  Mereka masih saja mengeraskan hati, tau mau bersungguh-sungguh dalam mengikut Tuhan, yang dipikirkan hanyalah perkara-perkara duniawi, padahal semua yang ada di dunia ini sifatnya hanya sementara saja.

      Perhatikanlah sungguh-sungguh!  "Tiada seorangpun berkuasa menahan angin dan tiada seorangpun berkuasa atas hari kematian."  (Pengkhotbah 8:8a),  "Karena manusia tidak mengetahui waktunya. Seperti ikan yang tertangkap dalam jala yang mencelakakan, dan seperti burung yang tertangkap dalam jerat, begitulah anak-anak manusia terjerat pada waktu yang malang, kalau hal itu menimpa mereka secara tiba-tiba."  (Pengkhotbah 9:12).  Ingatlah firman ini:  "...manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi,"  (Ibrani 9:27).  Kristus memperingatkan:  "Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja."  (Yohanes 9:4).

Sebelum datang  'malam', marilah kita semakin giat di dalam Tuhan!

Friday, September 14, 2018

ORANG BENAR: Dalam Gelap Terbit Terang

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 September 2018

Baca:  Mazmur 112:1-10

"Di dalam gelap terbit terang bagi orang benar; pengasih dan penyayang orang yang adil."  Mazmur 112:4

Ketika berada di dalam kegelapan yang pekat tak seorang pun dapat melihat sesuatu secara jelas, sebab tidak ada sinar yang meneranginya, semuanya tampak samar-samar.  Begitulah bila hidup kita mengalami  'kegelapan', maka semuanya menjadi tak pasti.  Kita akan meraba-raba ke kanan dan ke kiri mencari jalan ke luar.  Puji syukur kepada Tuhan, sebab di dalam kegelapan sekalipun akan terbit terang bagi orang benar.  Dengan kata lain, terang itu tidak terbit bagi orang yang tidak benar.

     Apakah saat ini Saudara sedang mengalami  'kegelapan'  hidup?  Janganlah takut dan berputus asa, sebab kita punya Tuhan yang adalah Sumber Terang.  "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup."  (Yohanes 8:12).  Dia takkan membiarkan kita tenggelam dalam kegelapan.  Terang itu akan terbit bagi orang benar.  Jadi untuk memperoleh terang itu syarat utama adalah kita harus hidup benar.  "...orang benar itu akan diingat selama-lamanya. Ia tidak takut kepada kabar celaka, hatinya tetap, penuh kepercayaan kepada TUHAN. Hatinya teguh, ia tidak takut, sehingga ia memandang rendah para lawannya."  (Mazmur 112:6b-8).  Siapa yang menjadi lawan orang benar?  Lawan orang benar itu bukanlah manusia, tapi si Iblis dengan segala pekerjaannya.  Pemazmur juga menegaskan:  "Sebab TUHAN Allah adalah matahari dan perisai; kasih dan kemuliaan Ia berikan; Ia tidak menahan kebaikan dari orang yang hidup tidak bercela."  (Mazmur 84:12).

     Tuhan akan menjadi  'matahari dan perisai'  bagi orang yang memenuhi syarat yang telah ditetapkan-Nya yaitu berlaku hidup benar.  Orang yang berlaku benar di hadapan Tuhan akan mengaku:  "...pada-Mu ada sumber hayat, di dalam terang-Mu kami melihat terang."  (Mazmur 36:10).  Sumber Hayat itu adalah Kristus:  "...barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal."  (Yohanes 4:14).

"...jalan orang benar itu seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari."  Amsal 4:18

Thursday, September 13, 2018

MENJADI WARGA NEGARA YANG BAIK

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 September 2018

Baca:  Roma 13:1-7

"Sebab jika seorang berbuat baik, ia tidak usah takut kepada pemerintah, hanya jika ia berbuat jahat. Maukah kamu hidup tanpa takut terhadap pemerintah? Perbuatlah apa yang baik dan kamu akan beroleh pujian dari padanya."  Roma 13:3

Sebagai warga negara Indonesia, adalah mutlak bagi kita untuk taat dan patuh pada hukum atau undang-undang yang berlaku di negeri ini.  Bahkan firman Tuhan mengajar kita untuk menjadi penurut dan menjadi pelaku hukum yang setia pada pemerintah.  Bukan hanya itu, rasul Paulus menasihati kita untuk selalu berdoa syafaat bagi para pemimpin supaya mereka dapat memimpin negeri ini dengan baik dan memiliki hati yang takut akan Tuhan.  "...Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan. Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran."  (1 Timotius 2:1-4).

     Ketika seorang Farisi dan Herodian bertanya kepada Tuhan:  "Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? Haruskah kami bayar atau tidak?"  (Markus 12:14b).  Dengan tegas Tuhan menjawab,  "'Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!' Mereka sangat heran mendengar Dia."  (Markus 12:17).

     Membayar pajak itu hukumnya wajib, dan jika ada orang yang berani ngemplang pajak atau melakukan korupsi, ia telah melanggar hukum negara dan juga melawan firman Tuhan.  Sebagai orang percaya kita seharusnya lebih baik dari sekedar taat membayar pajak, tapi juga harus punya kontribusi untuk negeri ini.  "Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah. Sebab itu barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya."  (Roma 13:1-2).

Orang yang takut akan Tuhan pasti akan taat pada pemerintah!  Sebab  "Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat."  Roma 13:4b.