Tuesday, January 16, 2018

BUANG SEMUA BERHALA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 Januari 2018

Baca:  Yehezkiel 20:30-44

"Apakah kamu menajiskan dirimu juga dengan cara hidup nenek moyangmu dan berzinah dengan mengikuti dewa-dewanya yang menjijikkan?"  Yehezkiel 20:30

Hari ini banyak orang yang mengikuti Kristus tetapi masih menyimpan berhala atau memiliki berhala-berhala dalam hidupnya.  Memang setiap Minggu mereka masih rajin pergi ke gereja, namun sesungguhnya ia mencintai hartanya lebih dari cintanya kepada Tuhan.  Hati mereka telah terpaut kepada harta.  "...di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada."  (Matius 6:21).  Padahal Alkitab jelas menyatakan:  "Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon."  (Matius 6:24).  Ada pula mereka yang tampak aktif melayani pekerjaan Tuhan, namun sesungguhnya mereka melakukannya bukan untuk hormat dan kemuliaan nama Tuhan, tetapi untuk dilihat orang, dipuji, dihormati dan memiliki reputasi baik di mata orang-orang di sekitarnya.  Sesungguhnya mereka telah memberhalakan dirinya sendiri.

     Bangsa Israel adalah bangsa pilihan Tuhan, yang dikuduskan untuk menjadi umat yang beribadah kepada-Nya.  Namun ketika melihat kehidupan bangsa-bangsa lain yang menyembah kepada berhala mereka pun terpengaruh dan akhirnya hati mereka menjadi bercabang dua:  kepada Tuhan dan juga berhala.  Artinya mereka tidak meninggalkan Tuhan sepenuhnya, tapi mereka juga menyembah kepada berhala-berhala.  Tak terhitung banyaknya Tuhan menegur dan memperingatkan, sebentar saja bertobat tapi kemudian berbalik lagi kepada berhala.  Bagaimana rasanya jika orang yang kita kasihi telah mendua atau berpaling kepada yang lain?  Kita pasti merasa cemburu dan hati ini terasa sakit.  Tuhan sangat membenci umat-Nya yang bercabang hati.  "...mereka menimbulkan sakit hati-Ku dengan berhala mereka. " (Ulangan 32:21).  Berhala adalah kejijikan dan kekejian di mata Tuhan, dan Ia memandang umat yang melakukannya sebagai kenajisan.

     Berhala-berhala zaman ini memiliki berbagai macam bentuk.  Berhala adalah segala hal yang menggeser posisi Tuhan sebagai penguasa hati dan hidup kita.  Uang, kekayaan, jabatan, bisnis, bahkan koran, gadget dan sebagainya dapat menjadi berhala ketika semuanya itu menjadi lebih utama daripada Tuhan dan menyita sebagian besar waktu dalam hidup kita, sampai-sampai kita tak punya waktu lagi untuk Tuhan.

Buang dan singkirkan berhala-berhala yang selama ini menjadi kebencian Tuhan!

Monday, January 15, 2018

YANG TAK MASUK AKAL: Serahkan pada Tuhan

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 Januari 2018

Baca:  Kisah Para Rasul 5:17-25

"Kami mendapati penjara terkunci dengan sangat rapihnya dan semua pengawal ada di tempatnya di muka pintu, tetapi setelah kami membukanya, tidak seorangpun yang kami temukan di dalamnya."  Kisah 5:23

Tuhan menciptakan manusia dengan sesuatu yang sangat spesial dan berbeda dari ciptaan-ciptaan-Nya yang lain, karena manusia dilengkapi dengan akal dan pikiran.  Sayangnya dalam menjalani hidup ini manusia lebih sering mengandalkan akalnya sendiri daripada hidup mengandalkan Tuhan.  Celah ini dimanfaatkan Iblis untuk menanamkan benih keraguan, benih kebimbangan dan benih ketidakpercayaan, sehingga manusia tidak lagi sepenuhnya percaya akan kuasa Tuhan.

     Sebagai umat ciptaan-Nya kita harus menyadari bahwa akal kita ini sangatlah terbatas.  Dengan akal itu kita takkan mampu menjangkau dan menyelami kebesaran kuasa Tuhan, kasih-Nya, karya-Nya, kekuatan-Nya dan pekerjaan-pekerjaan-Nya.  "Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu."  (Yesaya 55:9).  Karena itu jangan sekali-kali menempatkan firman Tuhan di bawah akal kita, tetapi tempatkanlah firman Tuhan itu di atas akal kita.  Akal kita harus tunduk sepenuhnya di bawah otoritas firman Tuhan.  Jangan sekali-kali mengukur dan menilai perkara-perkara rohani atau segala perkara yang Tuhan kerjakan dengan kemampuan akal kita, karena sampai kapan pun kita takkan sanggup.  "Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan,"  (Efesus 3:20).  Perkara-perkara yang tak masuk akal atau yang mustahil itulah yang Tuhan kerjakan dan sediakan bagi orang yang mengasihi-Nya.

     Dalam menghadapi masalah seberat apa pun tak perlu kita mereka-reka jalan, tak perlu kita takut dan stres, serahkan semuanya kepada Tuhan, karena Dia selalu punya cara untuk menolong kita dan cara-Nya penuh keajaiban.  "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia."  (1 Korintus 2:9).  Ketika dihadapkan pada hal-hal yang tak masuk akal seharusnya kita terdorong untuk semakin melekat kepada Tuhan dan mengandalkan-Nya.

Tuhan kita adalah ahli dalam hal mengerjakan hal-hal yang tidak masuk akal!

Sunday, January 14, 2018

HIDUP ORANG PERCAYA: Penuh Mujizat

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 Januari 2018

Baca:  Kisah Para Rasul 5:12-16

"Dan oleh rasul-rasul diadakan banyak tanda dan mujizat di antara orang banyak. Semua orang percaya selalu berkumpul di Serambi Salomo dalam persekutuan yang erat."  Kisah 5:12

Mujizat adalah sebuah kata yang sangat menarik untuk dibahas.  Mengapa?  Karena semua orang menginginkan mujizat dalam hidupnya.  Banyak orang datang berbondong-bondong menghadiri acara-acara KKR atau kebaktian-kebaktian dengan harapan beroleh mujizat:  disembuhkan dari sakit-penyakitnya, diberkati dan dipulihkan rumah tangganya, dan sebagainya.  Tetapi tidak sedikit orang yang justru bersikap apatis  (acuh tak acuh, masa bodoh, tidak peduli)  ketika mendengar kata mujizat karena mereka menganggap bahwa mujizat itu tidak penting dan hanya cerita usang dari masa lalu.

     Dalam mengikut Kristus kita harus memiliki motivasi yang benar.  Jangan sampai kita mencari Tuhan semata-mata demi mendapatkan mujizat.  Ketika banyak orang berbondong-bondong mengikuti Dia berkatalah Tuhan,  "...sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang."  (Yohanes 6:26).  Mereka bukan rindu mengenal pribadi Tuhan lebih dekat, tapi mereka mengingini sesuatu dari Tuhan.  Fokus utama kita haruslah pribadi Tuhan, sumber segala mujizat.  Kalau kita percaya kepada Tuhan dan sungguh-sungguh mencari Dia mujizat pasti kita dapatkan, karena ketika kita menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, kita menerima paket keselamatan komplet yang mencakup juga tanda-tanda dan mujizat  (Markus 16:17-18).  Artinya mujizat bukanlah sesuatu yang tak mungkin kita dapatkan, melainkan menjadi bagian hidup kita.

     Tetapi perlu dipahami dan dimengerti bahwa Tuhan tidak pernah membuat mujizat-Nya menurut agenda kita a tau seperti yang kita mau, melainkan sesuai kehendak dan rencana-Nya.  Bukankah kita sering memaksakan kehendak kita kepada Tuhan, atau meminta Dia untuk menyatakan mujizat-Nya sesuai dengan konsep kita.  Kalau kita hidup benar sesuai dengan kehendak Tuhan, maka tanda-tanda penyertaan Tuhan dan mujizat-Nya akan kita rasakan setiap hari, tak perlu kita mengejar mujizat....

Mujizat Tuhan selalu tersedia bagi orang-orang benar, karena itu kita tak perlu takut menjalani hdiup ini!

Saturday, January 13, 2018

MANFAAT FIRMAN TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 Januari 2018

Baca:  Mazmur 119:9-16

"Aku akan bergemar dalam ketetapan-ketetapan-Mu; firman-Mu tidak akan kulupakan."  Mazmur 119:16

Salah satu syarat menjadi murid Kristus adalah tetap tinggal di dalam firman Tuhan seperti tertulis:  "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku."  (Yohanes 8:31-32).  Tinggal di dalam firman Tuhan diwujudkan melalui kesungguhan kita dalam menyediakan waktu untuk membaca dan merenungkan firman Tuhan itu siang dan malam, menjadikan firman Tuhan sebagai  'makanan'  sehari-hari.

     Dikatakan:  "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran."  (2 Timotius 3:16).  Ada manfaat yang luar biasa di dalam firman Tuhan:  1.  Mengajar.  Yaitu memberi tuntunan dan arahan, memberi pengertian, menyingkapkan hal-hal yang tak terpahami, agar yang tidak mengerti jadi mengerti.  Daud berkata,  "Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari. Perintah-Mu membuat aku lebih bijaksana...  lebih berakal budi dari pada semua pengajarku...  lebih mengerti dari pada orang-orang tua,"  (Mazmur 119:97-100).  2.  Menyatakan kesalahan.  Setelah membaca atau mendengarkan firman Tuhan kita akan disadarkan akan kesalahan-kesalahan kita.  Betapa banyak orang Kristen ketika ditegur oleh firman Tuhan bukannya sadar tapi malah marah...  Semakin kita tekun membaca dan merenungkan firman Tuhan semakin kita seharusnya  "...mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat."  (Ibrani 5:14).  3.  Memperbaiki kelakuan.  Memperbaiki berarti melakukan reparasi atau restorasi.  Tujuannya agar kita menjadi pribadi yang jauh lebih baik.  4.  Mendidik dalam kebenaran.  Kita semua tahu bahwa pendidikan adalah sebuah proses yang panjang dan bertahap.  Di dalam pendidikan ada teguran, hajaran, tongkat, dan bahkan cambuk.

     Seberapa besarkah manfaat firman Tuhan bagi kehidupan Saudara?  Jika tidak ada perubahan dalam hidup berarti ada yang salah dalam diri kita.  Semakin lama kita mengikut Tuhan seharusnya kita semakin dewasa rohani dan berbuah lebat.

Renungkan firman Tuhan setiap hari dan lakukan...  itulah kehendak Tuhan!

Friday, January 12, 2018

WASPADA TERHADAP SEGALA PENYESATAN!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 Januari 2018

Baca:  2 Korintus 11:1-6

"Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya."  2 Korintus 11:3

Waktu bergulir begitu cepatnya, sadar atau tidak kita sedang berada di penghujung zaman.  Artinya  "...keselamatan sudah lebih dekat bagi kita dari pada waktu kita menjadi percaya."  (Roma 13:11b), yang seharusnya membuat kita semakin memiliki kepekaan rohani.

     Semua yang tertulis di Alkitab berkenaan dengan akhir zaman benar-benar sedang digenapi sebagai pertanda bahwa kedatangan Kristus kali ke-2 sudah teramat dekat.  Tuhan Yesus sendiri sudah mengingatkan kepada murid-murid-Nya adanya tanda-tanda kedatangan-Nya sebagai tanda kesudahan zaman, yaitu munculnya penyesat-penyesat.  "Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu! Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang."  (Matius 24:4-5).  Peringatan Tuhan ini janganlah dianggap enteng!  Bukankah sekarang banyak bermunculan injil-injil lain atau ajaran-ajaran yang menyimpang dari Injil Kristus?  Ciri utama dari semuanya itu adalah menyangkal Kristus sebagai Sang Penebus.  Ajaran-ajaran tersebut tidak mengakui bahwa Kristus telah mati dan bangkit, menggenapi rencana Bapa dalam penyelamatan manusia berdosa.  Mereka menyebutkan bahwa Kristus hanyalah sosok nabi biasa yang mengajarkan kebaikan moral kepada para pengikut-Nya.  Inilah pekerjaan dari Si Penyesat  (Iblis)  yang begitu pandai dan penuh tipu daya.  Jika orang percaya tak memiliki dasar iman yang kuat, tak berakar kuat di dalam firman Tuhan, akan mudah sekali diombang-ambingkan dan disesatkan!

     Tidak sedikit orang Kristen yang merasa dirinya kuat rohani berkata,  "Apa salahnya kita mempelajari kitab yang lain?  Karena bisa dibuat perbandingan dan pengetahuan saja."  Tanpa mereka sadari strategi Si Penyesat telah memperdayakannya.  Kita harus ingat bahwa salah satu ciri roh antikristus adalah tidak mengakui Kristus berasal dari Bapa  (1 Yohanes 4:1-6).  Karena itu, orang percaya harus ekstra waspada!                     

"Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!"  1 Korintus 10:12

Thursday, January 11, 2018

TUHAN MENGHITUNG SENGSARA KITA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 Januari 2018

Baca:  Mazmur 56:1-14

"Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung, air mataku Kautaruh ke dalam kirbat-Mu. Bukankah semuanya telah Kaudaftarkan?"  Mazmur 56:9

Mazmur 56 ini merupakan seruan dan doa Daud saat berada dalam pelarian.  Di negerinya sendiri ia terus diburu oleh Saul, sedangkan di negeri lain musuh juga mengincar dan memburunya.  Serasa tidak ada tempat bagi Daud untuk berpijak.  Penderitaan Daud ini bukan disebabkan karena kesalahannya, justru karena pengorbanannya bagi bangsa Israel.  Sejak Daud mempertaruhkan diri melawan Goliat dan tampil sebagai pemenang, ia dimusuhi oleh Saul.  Semua berawal ketika orang-orang mengelu-elukan Daud:  "'Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa.' Lalu bangkitlah amarah Saul dengan sangat; dan perkataan itu menyebalkan hatinya, sebab pikirnya: 'Kepada Daud diperhitungkan mereka berlaksa-laksa, tetapi kepadaku diperhitungkannya beribu-ribu; akhir-akhirnya jabatan raja itupun jatuh kepadanya.' Sejak hari itu maka Saul selalu mendengki Daud."  (Samuel 18:7-9).  Sejak itu Saul mengibarkan bendera perang terhadap Daud, berusaha untuk menghabisi Daud meski selalu berujung pada kegagalan.

     Dalam kesesakannya ini berserulah Daud,  "Kasihanilah aku, ya Allah, sebab orang-orang menginjak-injak aku, sepanjang hari orang memerangi dan mengimpit aku! Seteru-seteruku menginjak-injak aku sepanjang hari,"  (Mazmur 56:2).  Tuhan memperhatikan seruan umat-Nya saat dalam kesesakan.  Adalah salah besar jika kita beranggapan bahwa Tuhan tidak memedulikan penderitaan yang kita alami.  Murid-murid Kristus sendiri pernah menganggap bahwa Tuhan tidak peduli ketika perahu mereka diterpa angin taufan ganas:  "Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?"  (Markus 4:38).  Menghitung sengsara  (ayat nas)  bisa diartikan bahwa Tuhan mencatat secara detail semua penderitaan yang kita alami.

     Air mata yang mengalir dari kesengsaraan semacam inilah yang Tuhan simpan di kirbat-Nya, Tuhan akan memberikan kelegaan dan kelepasan.

Orang yang menabur dengan mencucurkan air mata akan menuai dengan sorak-sorai  (Mazmur 126:5).

Wednesday, January 10, 2018

BELAJAR MEMAHAMI WAKTU TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 Januari 2018

Baca:  Yesaya 30:18-26

"Sebab itu TUHAN menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasih-Nya kepada kamu; sebab itu Ia bangkit hendak menyayangi kamu. Sebab TUHAN adalah Allah yang adil; berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia!"  Yesaya 30:18

Masalah yang dialami oleh manusia bisa berasal dari dalam atau disebabkan oleh pihak luar.  Dari dalam yaitu karena kesalahan yang diperbuatnya  (Yakobus 1:14), sedangkan dari luar adalah karena perlakuan atau perbuatan jahat orang lain.  Dalam kondisi seperti itu semua orang pasti mengharapkan adanya jalan keluar sesegera mungkin.  Di tengah keterbatasan dan ketidakberdayaan ini kita sangat menantikan uluran tangan Tuhan.  Pada saat menantikan pertolongan dari Tuhan ini timbul masalah lain yaitu berkenaan dengan sikap hati kita yang cenderung tidak sabar menunggu waktu Tuhan.

     Dalam masa menunggu ini kita seringkali lemah dan putus asa, karena kita merasa bosan dan tidak lagi sabar ketika melihat kenyataan masih belum seperti yang diharapkan.  Kemudian kita mendesak Tuhan dan cenderung memaksa Dia untuk segera menolong menurut cara dan waktu kita.  Seorang yang dewasa rohani seharusnya tidak bersikap demikian, melainkan belajar tetap sabar dan terus bertekun menanti-nantikan Tuhan, karena ia sangat percaya bahwa Tuhan memiliki waktu tersendiri, dan terbaik.  Belajarlah dari Saul yang karena ketidaksabarannya menunggu waktu Tuhan harus menanggung akibat sangat fatal yaitu ditolak menjadi raja.  Berkatalah Samuel,  "...sedianya TUHAN mengokohkan kerajaanmu atas orang Israel untuk selama-lamanya. Tetapi sekarang kerajaanmu tidak akan tetap. TUHAN telah memilih seorang yang berkenan di hati-Nya dan TUHAN telah menunjuk dia menjadi raja atas umat-Nya, karena engkau tidak mengikuti apa yang diperintahkan TUHAN kepadamu."  (1 Samuel 13:13-14).

     Rasul Paulus menasihati,  "Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!"  (Filipi 4:4).  Nasihat untuk bersukacita senantiasa dalam Tuhan mengindikasikan bahwa dalam segala keadaan kita harus mampu menjaga hati untuk tidak menjadi takut dan kuatir.  Kita perlu belajar untuk menantikan waktu Tuhan, walaupun keadaan serasa tidak ada harapan dan terlambat, seperti yang dialami Lazarus  (Yohanes 11:17, 21).

Orang yang menanti-nantikan Tuhan pasti tidak akan dipermalukan  (Mazmur 25:3).

Tuesday, January 9, 2018

DAMAI SEJAHTERA SEJATI MILIK ORANG BENAR (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 9 Januari 2018

Baca:  Yohanes 14:15-31

"Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu."  Yohanes 14:27

Ketika diperhadapkan dengan masalah, yang seringkali timbul di pikiran adalah hal-hal negatif  (marah, kecewa, stres, mengasihani diri sendiri dan sebagainya).  Hal itu membuat kita merasa lelah dan kehilangan damai sejahtera.  Rasul Paulus menasihati,  "...saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu."  (Filipi 4:8).  Kita akan mengalami damai sejahtera yang sejati ketika pikiran kita dipenuhi dengan hal-hal yang positif  (sesuai firman Tuhan).

     Milikilah penyerahan diri penuh kepada Tuhan.  Berserah kepada Tuhan berarti menempatkan kehendak Tuhan sebagai yang terutama, meminta petunjuk Tuhan jalan apa yang harus kita ambil di tengah pergumulan yang kita hadapi.  Orang yang berserah kepada Tuhan melangkah dan bertindak sesuai kehendak Tuhan.  Pada saat itulah Tuhan akan bertindak, menuntun kita kepada kemenangan dan memberikan damai sejahtera-Nya.  "Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak; Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang."  (Mazmur 37:5-6).  Kita akan mengalami damai sejahtera yang sejati jika kita selalu mengarahkan pandangan kepada Tuhan dan janji firman-Nya.  Seringkali kita kehilangan damai sejahtera karena kita terfokus kepada hal-hal yang tampak secara kasat mata, pikiran kita hanya tertuju kepada masalah.  Celah itu dimanfaatkan Iblis untuk menanamkan benih-benih kekecewaan, ketidakpercayaan, keraguan, keputusasaan dan sebagainya.  Iblis selalu berusaha mengalihkan arah pandang kita supaya pandangan kita tidak fokus ke depan, melainkan menoleh ke belakang dan mengingat-ingat masa lalu.

     Belajarlah seperti rasul Paulus:  "Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal."  (2 Korintus 4:18), dan tetap mengarahkan pandangan ke depan  (Filipi 3:13-14).

"Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus."  Filipi 4:7

Monday, January 8, 2018

DAMAI SEJAHTERA SEJATI MILIK ORANG BENAR (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 Januari 2018

Baca:  Yesaya 26:11-21

"Ya TUHAN, Engkau akan menyediakan damai sejahtera bagi kami, sebab segala sesuatu yang kami kerjakan, Engkaulah yang melakukannya bagi kami."  Yesaya 26:12

Semua orang merindukan sebuah kehidupan yang penuh damai sejahtera.  Begitu pentingnya damai sejahtera sampai-sampai orang rela membayar dengan harga yang sangat mahal.  Dengan harapan mendapatkan damai sejahtera orang berkelana ke berbagai negara di dunia atau mengunjungi tempat-tempat wisata terkenal.  Ada pula orang yang mengeluarkan uang miliaran rupiah demi membangun rumah mewah, lengkap dengan fasilitasnya, dengan tujuan supaya hatinya merasakan damai sejahtera.  Berbagai cara dan usaha dilakukan manusia, namun mereka tetap saja tidak menemukan damai sejahtera yang sejati,  "Kami mengharapkan damai sejahtera, tetapi tidak datang sesuatu yang baik; mengharapkan waktu kesembuhan, tetapi hanya ada kengerian!"  (Yeremia 14:19b).

     Sesungguhnya untuk memiliki damai sejahtera sejati itu tak memerlukan biaya yang mahal, karena damai sejahtera tidak ada hubungannya dengan berapa besar uang atau kekayaan yang dimiliki, di mana kita tinggal, atau dalam situasi yang bagaimana.  Damai sejahtera yang sejati adalah hasil sebab akibat.  Damai sejahtera yang sejati akan kita dapatkan ketika kita hidup benar, ketika hati kita bersih dan terbebas dari segala kejahatan.  Sekalipun kita sedang dalam pergumulan hidup yang berat, sekalipun kita tinggal di tengah situasi yang gawat, tetapi kalau kita tetap menjaga hidup kita seturut dengan kehendak Tuhan, maka damai sejahtera yang sejati akan kita rasakan.  "Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya."  (Yesaya 32:17).

     Langkah awal untuk mengalami damai sejahtera yang sejati adalah merenungkan firman Tuhan siang dan malam.  Tuhan berkata,  "Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti,"  (Yesaya 48:18).  Di tengah masalah dan pergumulan, tetaplah sediakan waktu untuk bersaat teduh, membangun persekutuan yang karib dengan Tuhan.  Itulah yang membuat hati kita tetap mengalami damai sejahtera!

Damai sejahtera yang sejati takkan pernah kita dapatkan di luar Tuhan!

Sunday, January 7, 2018

MASA DEPAN DAN KEMATIAN: Hal yang Ditakuti Manusia

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 7 Januari 2018

Baca:  Yesaya 8:11-22

"Tetapi TUHAN semesta alam, Dialah yang harus kamu akui sebagai Yang Kudus; kepada-Nyalah harus kamu takut dan terhadap Dialah harus kamu gentar."  Yesaya 8:13

Di hari-hari ini banyak orang dihantui oleh ketakutan.  Celakanya, mereka bukannya takut kepada Tuhan, tetapi takut kepada perkara-perkara yang ada di dunia ini.  Orang yang berkelimpahan secara materi, takut kehilangan hartanya;  ketika suami sering pulang terlambat, isteri seringkali takut kalau-kalau suaminya selingkuh;  seorang gadis yang sedang menginjak usia dewasa, dihantui rasa takut karena belum juga menemukan jodoh.  Bisa dikatakan bahwa ketakutan acapkali timbul dalam diri semua orang.

     Hal terbesar yang seringkali orang takutkan adalah hari esok atau masa depan!  Orang percaya tak perlu takut akan masa depan, sebab semua ada dalam jaminan Tuhan.  "...Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan."  (Yeremia 29:11).  Masa depan dan harapan bagi orang percaya itu sungguh ada dan tidak akan pernah hilang  (Amsal 23:18).  Tuhan berjanji menyertai kita sampai kepada kesudahan zaman  (Matius 28:20b), bahkan  "Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu."  (Yesaya 46:4).

     Hal lain yang sangat menakutkan manusia adalah kematian.  Namun kematian bagi orang yang ada di dalam Kristus hanyalah sebuah perpindahan tempat saja.  "Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia."  (2 Korintus 5:1).  Karena itu rasul Paulus dapat berkata,  "...bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan."  (Filipi 1:21).  Artinya kematian bukanlah hal yang menakutkan bagi orang percaya.  Alkitab memperingatkan agar kita hanya takut akan Tuhan dan gemetar di hadapan-Nya.  Wujud kita takut akan Tuhan adalah ketika kita hidup taat melakukan firman-Nya dalam kehidupan kita sehari-hari.

Tak perlu kita takut dengan perkara-perkara fana, tapi takutlah akan Tuhan!

Saturday, January 6, 2018

TEGUH JAYA DI SEGALA KEADAAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 6 Januari 2018

Baca:  Yesaya 7:1-9

"Jika kamu tidak percaya, sungguh, kamu tidak teguh jaya."  Yesaya 7:9b

Masih banyak orang Kristen berpikir bahwa hidup seorang pengikut Kristus adalah hidup yang terbebas dari masalah, namun Alkitab tidak pernah menjanjikan hal yang demikian.  Semua manusia yang hidup di bawah langit dan di atas bumi ini tak satu pun yang terluput dari masalah.  Dengan kata lain semua orang pasti menghadapi dan mengalami masalah!  Namun perhatikan apa yang dikatakan oleh Pemazmur:  "Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu;"  (Mazmur 34:20), dan  "Kemalangan akan mematikan orang fasik, dan siapa yang membenci orang benar akan menanggung hukuman."  (Mazmur 34:22).  Karena itu orang percaya tak perlu kecut dan tawar hati karena ada Tuhan di pihak kita.  Seberat apa pun masalah yang kita hadapi, orang percaya akan tetap teguh jaya, asalkan kita tetap hidup dalam kebenaran, percaya kepada Tuhan dan mengandalkan Dia dalam segala hal.

     Teguh jaya bisa diartikan berkemenangan dan tak tergoyahkan di segala keadaan.  Seringkali kita berpikir bahwa kita bisa kuat kalau situasi yang ada sangat mendukung.  Bagaimana jika situasi yang terjadi sangat bertolak belakang?  Hidup orang percaya tidaklah ditentukan oleh situasi dan kondisi.  Meskipun situasi tidak memungkinkan dan sungguh teramat berat, orang percaya akan tetap teguh jaya asalkan ia tetap melekat kepada Tuhan, karena ada Roh Kudus yang senantiasa memberi kekuatan, ada tangan Tuhan yang selalu siap untuk menopang, sehingga  "...apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya."  (Mazmur 37:24).

     Karena itu tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mengucap syukur di segala keadaan, sebab dalam segala perkara Tuhan turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan.  Kita juga patut bersyukur karena kita punya Bapa yang baik.  "Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya."  (Matius 7:9-11).  Kita seringkali merasa tidak kuat menghadapi masalah karena kita terlampau banyak memikirkan hal-hal yang negatif.

Selalu ada kemenangan di pihak orang benar karena Tuhan selalu campur tangan!