Saturday, December 16, 2017

BERTOBAT ATAU TIDAK: Sebuah keputusan

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 Desember 2017

Baca:  Lukas 10:13-16

"Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku."  Lukas 10:16

Pertobatan adalah sebuah keharusan bagi semua orang, bukan hanya bagi mereka yang berlaku jahat, tapi termasuk juga bagi orang percaya  (pengikut Kristus).  Mengapa?  Karena manusia dilahirkan dalam dosa dengan memiliki kecenderungan hati yang ingin selalu berbuat jahat.  Inilah yang disebut  'dosa warisan', keberadaan berdosa semua orang yang dibawa sejak lahir;  atau yang lain lebih senang memakai istilah  'dosa asal', seperti tertulis:  "Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa."  (Roma 5:12).

     Ketika kita menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat berarti kita telah bertobat.  Arti bertobat bukan hanya berhenti dari segala perbuatan jahat, tetapi mengalihkan arah jalan hidup:  dari jalan yang tadinya mengarah kepada dosa berbalik kepada jalan yang benar di dalam Kristus.  Karena itu pertobatan dimulai dengan hati yang terbuka menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, lalu menjadikan Dia sebagai Raja yang berhak memerintah atas hidup ini.  Mau bertobat atau tidak mau bertobat adalah sebuah keputusan atau pilihan hidup yang harus diambil oleh setiap orang.  Masih banyak orang menyebut diri sebagai pengikut Kristus lebih suka mengambil keputusan tidak mau bertobat, pikirnya pertobatan hanya akan mengekang ruang geraknya, tidak bisa hidup sesuka hati, tidak bisa memuaskan keinginan dagingnya.  "Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya."  (Galatia 5:24).

     Awal pertobatan pasti terasa berat dan sakit karena pada proses ini semua kedagingan mulai dikikis.  Percayalah dengan pertolongan dan tuntunan Roh Kudus kita akan mampu melewati proses tersebut dengan kemenangan.  Selagi ada kesempatan jangan tunda-tunda waktu untuk bertobat!  Tuhan Yesus sangat mengecam keras orang-orang yang tidak mau bertobat, dengan berkata:  "celakalah!"

Hidup tanpa pertobatan hanya akan menuntun seseorang kepada kehancuran!

Friday, December 15, 2017

TUGAS BERAT PEMBERITA FIRMAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 Desember 2017

Baca:  Yehezkiel 2:1-10

"Kepada keturunan inilah, yang keras kepala dan tegar hati, Aku mengutus engkau dan harus kaukatakan kepada mereka: Beginilah firman Tuhan ALLAH."  Yehezkiel 2:4

Dipanggil dan dipercaya Tuhan untuk melaksanakan tugas sebagai penyambung lidah Tuhan adalah pekerjaan yang sangat mulia.  Ini merupakan suatu anugerah, sebab tidak semua orang dipercaya untuk melaksanakan tugas ini.  Salah satunya adalah Yehezkiel.  "...Aku mengutus engkau kepada orang Israel, kepada bangsa pemberontak yang telah memberontak melawan Aku. Mereka dan nenek moyang mereka telah mendurhaka terhadap Aku sampai hari ini juga."  (Yehezkiel 2:3).

     Adalah hal yang mudah menyampaikan firman Tuhan kepada orang-orang yang memiliki respons hati yang benar, yang hatinya mau dibentuk, mau menerima teguran dan didikan, ibarat seorang menabur benih di tanah yang subur atau gembur.  Tapi bagaimana jika kita harus menyampaikan firman Tuhan kepada orang-orang yang tegar tengkuk, keras hati dan suka memberontak, seperti menabur benih di tanah yang keras, berbatu-batu dan dipenuhi dengan semak belukar?  Tentu hal ini bukanlah pekerjaan yang mudah untuk dilakukan!  Inilah tugas yang harus diemban oleh Yehezkiel, yaitu menyampaikan firman Tuhan kepada bangsa Israel, suatu bangsa yang keras kepala dan tegar hati  (ayat nas).  Apalagi pada saat itu Yehezkiel juga termasuk bagian dari orang-orang yang dibuang ke Babel.  Artinya sebagian besar umat Israel sedang berada di bawah pengawasan tentara Babel.  Tak bisa dibayangkan apa yang berkecamuk di dalam hati Yehezkiel ketika menerima panggilan Tuhan ini;  dan tak bisa dibayangkan pula bagaimana reaksi umat Israel, apalagi berita yang hendak disampaikannya adalah tentang penghukuman Tuhan oleh karena pemberontakan mereka.  Meski dihadapkan pada tantangan yang teramat berat, Yehezkiel tetap melakukan dengan setia apa yang disuruhkan Tuhan kepadanya.

     Di zaman seperti sekarang ini tantangan yang harus dihadapi oleh hamba-hamba Tuhan tidak semakin mudah.  Meski begitu kita tidak boleh menyerah pada keadaan yang ada, kita harus terus maju menyampaikan kebenaran, apa pun resikonya.

"Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran."  2 Timotius 4:2

Thursday, December 14, 2017

KELEMBUTAN HATI SEPERTI KRISTUS

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 Desember 2017

Baca:  1 Petrus 2:18-25

"Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil."  1 Petrus 2:23

Banyak orang percaya kurang menyadari bahwa hidup kekristenan adalah sebuah proses pembelajaran untuk menjadi serupa dengan Kristus.  Apalah artinya menyebut diri sebagai pengikut Kristus, apabila dalam kehidupan sehari-hari karakter dan perilaku kita sama sekali tidak mencerminkan Kristus atau tidak meneladani bagaimana Kristus hidup.

     Salah satu sifat Kristus yang patut diteladani adalah kelembutan hati-Nya.  Kristus tidak pernah membalas kejahatan dengan kejahatan, sebaliknya Ia mengasihi orang yang berbuat jahat kepada-Nya, bahkan terhadap orang-orang yang meludahi-Nya, menghujat-Nya, mencambuk-Nya dan bahkan menyalibkan-Nya, Ia justru berdoa bagi mereka dan memohonkan pengampunan kepada Bapa:  "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat."  (Lukas 23:34).  Bagaimana dengan kita?  Ketika disakiti dan dilukai umumnya kita cenderung membela diri dan berusaha membalas dendam.  Dalam hal mengasihi dan mengampuni musuh, Kristus adalah teladan utama.  Kita pun bisa belajar dari orang-orang di Alkitab:  Yusuf, walaupun memiliki kemampuan dan kesempatan membalas kejahatan saudara-saudaranya, tidak dilakukannya.  Ia justru melepaskan pengampunan kepada mereka dan memberikan pertolongan ketika mereka berada dalam kesesakan.  Musa, meski ditentang hebat dan dikatai-katai oleh Miryam, ia tak membalas dan akhirnya Tuhan sendiri yang bertindak sebagai pembela;  "...tampaklah Miryam kena kusta, putih seperti salju;"  (Bilangan 12:10).  Rasul Paulus juga menghadapi hal yang sama:  "Aleksander, tukang tembaga itu, telah banyak berbuat kejahatan terhadap aku. Tuhan akan membalasnya menurut perbuatannya."  (2 Timotius 4:14).

     Sebagai pengikut Kristus, terimalah perintah untuk hidup sama seperti Kristus hidup  (1 Yohanes 2:6), walaupun untuk memiliki kelembutan hati seperti Kristus tidak mudah, diperlukan proses dan hati yang mau tunduk kepada pimpinan Roh Kudus.

Ketika kita punya kelembutan hati, mengasihi dan mengampuni orang yang bersalah kepada kita, sesungguhnya kita sedang membiasakan diri untuk mengenakan pribadi Kristus!

Wednesday, December 13, 2017

PROFESI KITA ADALAH PANGGILAN KITA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 Desember 2017

Baca:  Matius 4:1-18-22

"Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia."  Matius 4:20

Perikop dari pembacaan firman adalah tentang Kristus memanggil murid-murid yang pertama.  Ketika sedang menyusuri danau Galilea Yesus melihat dua orang bersaudara,  "...Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya."  (Matius 4:18).  Ada pun profesi dari kedua orang itu adalah nelayan, dan waktu itu mereka sedang menjala ikan.  Berkatalah Yesus kepada mereka,  "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia."  (Matius 4:19).  Mendengar panggilan Kristus itu mereka pun bergegas meninggalkan jalanya dan kemudian mengikut Dia dengan sepenuh hati.

     Pernyataan bahwa Simon  (Petrus)  dan Andreas rela meninggalkan jalanya  (profesi)  dan mengikut Kristus  (ayat nas), seringkali diasumsikan salah oleh banyak orang Kristen.  Mereka berpikir untuk mengikut Kristus dan melayani Dia mereka harus meninggalkan pekerjaan atau profesi lamanya.  Apakah harus demikian?  Tuhan tidak pernah memerintahkan umat-Nya untuk meninggalkan pekerjaan  (profesi)  dan kemudian menjadi seorang full timer di gereja, karena melayani Tuhan tidak harus berada di belakang mimbar sebagai pengkhotbah, gembala sidang, worship leader dan sebagainya.  Ketika Petrus dan Andreas pada suatu kesempatan memutuskan untuk kembali menekuni profesi lamanya sebagai nelayan, Yesus tidak marah kepada mereka, bahkan Ia bersedia menolong:  "'Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh.' Lalu mereka menebarkannya dan mereka tidak dapat menariknya lagi karena banyaknya ikan."  (Yohanes 21:6).

     Kita seringkali lupa dan tidak menyadari bahwa sesungguhnya pekerjaan atau profesi yang sedang kita tekuni adalah sebuah ladang untuk melayani Tuhan, sebab pekerjaan atau profesi kita adalah juga panggilan Tuhan bagi kita.  Oleh karena itu apa pun pekerjaan atau profesi kita, dan di mana pun Tuhan menempatkan kita untuk bekerja dan berkarya, biarlah keberadaan kita selalu menjadi berkat dan kesaksian bagi orang sekitar kita.  Bagaimana caranya?  "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia."  (Kolose 3:23).

Ketika kita melakukan segala sesuatu dengan sepenuh hati seperti untuk Tuhan, bukan untuk manusia, itu adalah sebuah pelayanan yang berkenan!

Tuesday, December 12, 2017

MELAYANI TUHAN: Harus Ada Pengorbanan

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 Desember 2017

Baca:  2 Timotius 4:1-8

"Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran."  2 Timotius 4:2

Ciri utama pelayanan adalah pengorbanan.  Jika belum ada pengorbanan, sesungguhnya kita masih belum melayani Tuhan dengan sungguh.  Mengapa?  Karena tidak ada yang dikorbankan bagi Tuhan.  Umumnya kita hanya mau melayani saat keadaan sedang baik atau normal.  Padahal sebenarnya pengorbanan itulah yang sangat diperhitungkan oleh Tuhan.  Jadi kita dapat dikatakan sedang melayani Tuhan jika kita telah berkorban bagi Tuhan, apa pun keadaannya  (di segala situasi).  Karena itu belajarlah setia melayani Tuhan, baik atau tidak baik keadaannya, krisis atau diberkati, suka atau duka..  Apa pun yang telah kita korbankan bagi Tuhan tidak pernah sia-sia, pasti diperhitungkan-Nya.

     Dalam melayani Tuhan jangan pernah memiliki ambisi ingin dihormati dan dihargai, namun kejarlah karakter seorang hamba yaitu rendah hati, tekun, setia dan taat.  Pada saatnya, promosi dari Tuhan pasti akan datang dengan sendirinya,  "Sebab bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang gurun datangnya peninggian itu, tetapi Allah adalah Hakim: direndahkan-Nya yang satu dan ditinggikan-Nya yang lain."  (Mazmur 75:7).  Jangan sekali-kali kita mengharapkan upah manusia, tapi berharaplah hanya kepada Tuhan.  "Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya."  (Kolose 3:24).  Manusia seringkali melihat hasil, tetapi Tuhan lebih menghargai suatu proses;  manusia lebih memperhatikan penampilan jasmaniah, tetapi Tuhan melihat hati atau motivasi saat kita melakukan segala sesuatu.

     Selagi ada waktu dan kesempatan layanilah Tuhan sepenuh hati dan berilah yang terbaik bagi Dia.  Percayalah Ia tidak pernah kekurangan cara untuk memberkati orang-orang yang setia melayani-Nya.  Setiap jerih lelah, pengorbanan dan harga yang telah kita bayar untuk melayani Tuhan tak satu pun yang terlewatkan dan tak dicatat oleh Tuhan.  Pelayanan itu bukanlah beban, melainkan suatu kehormatan yang tak ternilai harganya.

Kristus rela mengorbankan nyawa-Nya bagi kita, masakan kita tidak mau berkorban bagi Dia?

Monday, December 11, 2017

MELAYANI TUHAN: Punya Komitmen

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 Desember 2017

Baca:  1 Petrus 4:7-11

"Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah."  1 Petrus 4:10

Hampir di setiap kesempatan dalam pertemuan-pertemuan ibadah kita sering mendengar khotbah dari hamba Tuhan yang tidak pernah lelah mendorong dan memotivasi jemaat untuk semakin giat dalam melayani pekerjaan Tuhan.  Namun sedikit dari jemaat yang merespons, di mana kebanyakan dari mereka bersikap cuek dan tidak peduli.  Mereka tidak menyadari bahwa sebagai bagian dari anggota tubuh Kristus masing-masing kita memiliki tugas, fungsi dan tanggung jawab, seperti ada tertulis:  "Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, --yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota--menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih."  (Efesus 4:16).

     Untuk tujuan itulah setiap orang percaya beroleh karunia yang berbeda-beda supaya dapat saling melengkapi dalam mengerjakan panggilan Tuhan.  Sekecil apa pun atau berapa pun karunia yang dimiliki kita harus menggunakannya semaksimal mungkin.  Nasihat rasul Paulus kepada Timotius:  "Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu..."  (2 Timotius 1:6).  Mengapa karunia itu harus terus dikobarkan?  Karena Tuhan akan menuntut pertanggungjawaban dari kita atas karunia yang telah dipercayakan-Nya.  Jangan pernah berpikir bila kita memiliki karunia sedikit maka kita tidak perlu melayani, karena kita beranggapan hal itu tidak akan berdampak apa-apa.  Ini sikap yang tidak menghargai kasih karunia Tuhan, sama seperti hamba yang beroleh satu talenta.

     Ingat!  Melayani pekerjaan Tuhan itu tidak bisa dibuat main-main.  Komitmen adalah hal yang dibutuhkan dalam pelayanan.  Tanpa punya komitmen seseorang tidak akan mampu bertahan dalam melayani Tuhan.  Terbentur sedikit saja masalah atau kesulitan, mengalami gesekan dengan saudara seiman, dan sebagainya, mereka mulai merasa malas dan ogah-ogahan dalam melayani Tuhan.  Sebaliknya orang yang memiliki komitmen kuat, diterpa badai apa pun takkan menggoyahkan semangatnya untuk melayani Tuhan, melainkan akan terus berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah sorgawi.

"...biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan."  Roma 12:11

Sunday, December 10, 2017

MENGIKUT KRISTUS: Berproses Seumur Hidup

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 Desember 2017

Baca:  Filipi 1:3-11

"Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus."  Filipi 1:6

Menjadi seorang pengikut Kristus itu lebih dari sekedar tampak rajin menghadiri ibadah di hari Minggu atau aktif terlibat dalam pelayanan, tetapi mengikut Kristus berarti kita mau berproses seumur hidup kita untuk menjadi serupa dengan Kristus.  Seorang yang baru percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat diibaratkan seperti bayi rohani.  Alkitab menyatakan:  "Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan,"  (1 Petrus 2:2).  Seperti bayi yang terkadang mengalami jatuh bangun saat belajar berjalan, dalam kehidupan rohani pun terkadang kita harus mengalami jatuh bangun, melewati proses demi proses untuk bertumbuh, tapi kita tidak boleh menyerah begitu saja, kita harus terus berjuang.  Sering dijumpai ada banyak orang Kristen yang tidak mau berproses.  Akibatnya, meski sudah bertahun-tahun mengikut Kristus mereka tetap saja menjadi bayi rohani, tidak mengalami pertumbuhan, kehidupan kerohaniannya tetap begitu-begitu saja.  Inilah kekristenan yang gagal!

     Bapa di sorga mengharapkan anak-anak-Nya mau berproses, mengalami pertumbuhan, sampai mencapai kedewasaan rohani penuh, karena Dia memerlukan orang-orang yang dewasa rohani untuk dapat melayani pekerjaan-Nya.  Bapa sudah memulai apa yang baik dengan memberikan Putera-Nya Yesus Kristus mati di kayu salib, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh keselamatan.  Artinya keselamatan itu diberikan dengan cuma-cuma, kita tidak perlu berbuat apa pun untuk menerimanya.  "Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri."  (Efesus 2:8-9).  Tetapi keselamatan merupakan suatu proses yang akan terus berlangsung seumur hidup kita sampai pada kedatangan Kristus, karena itu  "...tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar..."  (Filipi 2:12).

     Milikilah tekad kuat untuk bertumbuh di dalam Tuhan dan jangan lari dari proses.  Percayalah bahwa bersama Roh Kudus kita mampu melewati sesuatu.

Dewasa rohani adalah langkah menuju kepada kehidupan kekal bersama Kristus!

Saturday, December 9, 2017

LAYAKKAH DISEBUT MURID KRISTUS? (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 9 Desember 2017

Baca:  Yohanes 13:31-35

"Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi."  Yohanes 13:35

Kristus berkata:  "Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan."  (Yohanes 13:13).  Kristus adalah Guru Agung kita yang mengajarkan segala sesuatu kepada kita.  Sebagai murid-murid-Nya kita harus meneladani Dia di dalam segala hal, sehingga pada akhirnya kita juga dapat menjadi teladan bagi orang lain yang kita bimbing.  Jadi bukan sekedar ajaran yang kita sampaikan, tetapi kita harus menjadi sama seperti Guru kita dalam hal menjadi teladan bagi orang lain.  Adalah wajib bagi kita untuk taat kepada perintah dan ajaran-Nya yang tertulis dalam Alkitab.  Karena itu kita harus senantiasa menyediakan waktu untuk membaca, merenungkan dan meneliti Alkitab.  "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu."  (Yohanes 8:31-32).

     Dalam situasi apa pun Alkitab harus tetap menjadi patokan, pedoman dan standar hidup kita, tidak boleh dikurangi atau ditambah dengan alasan apa pun, seperti tertulis:  "Jangan menambahi firman-Nya, supaya engkau tidak ditegur-Nya dan dianggap pendusta."  (Amsal 30:6).  Seorang murid perlu belajar firman Tuhan karena firman Tuhan inilah yang akan mengajar kita supaya dapat menjadi murid Kristus, sebab  "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik."  (2 Timotius 3:16-17).

     3.  Hidup dalam kasih.  Tuhan Yesus berkata,  "Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi."  (Yohanes 13:34).  Murid Kristus wajib hidup di dalam kasih sebagaimana Kristus hidup.  Kekristenan itu identik dengan kasih!  Jika kita mengaku diri sebagai pengikut Kristus, tapi kita sendiri tidak hidup di dalam kasih, maka kita tidak dilayak disebut murid Kristus.

Memiliki kasih dalam tindakan adalah tanda bahwa kita ini adalah murid Kristus!

Friday, December 8, 2017

LAYAKKAH DISEBUT MURID KRISTUS? (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 Desember 2017

Baca:  Lukas 14:25-27

"Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku."  Lukas 14:27

Banyak orang Kristen beranggapan bahwa setelah percaya dan menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, maka hal itu sudah cukup baginya disebut sebagai murid Kristus.  Ditambah lagi dengan kerajinan kita dalam beribadah dan melayani pekerjaan Tuhan, bukankah semakin mempertegas status kita sebagai murid-Nya?  Sebatas itukah kriteria menjadi seorang murid Kristus?  Tidak semua orang yang menyebut diri sebagai pengikut Kristus itu layak disebut murid Kristus.  Mengapa?  Karena untuk menjadi murid Kristus yang sejati, ada syarat-syarat yang harus dipenuhi:

     1.  Menyangkal diri dan pikul salib.  Jelas dikatakan:  "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku."  (Lukas 9:23).  Bila seorang hanya mau memuaskan keinginan dagingnya, enggan menanggalkan  'manusia lama'  itu artinya tidak ada penyangkalan diri dalam hidupnya.  Dan setiap pengikut Kristus harus memiliki salibnya sendiri-sendiri.  Artinya bahwa salib itu tidak mungkin dipikul oleh orang lain.  kita sering mendengar ada saudara-saudara seiman yang harus mengalami penganiayaan, intimidasi, diejek, dikucilkan, dan bahkan dijebloskan ke dalam penjara, bukan karena melakukan pelanggaran, tapi karena mempertahankan iman percayanya kepada Kristus.  Rasul Petrus berkata:  "Jadi, karena Kristus telah menderita penderitaan badani, kamupun harus juga mempersenjatai dirimu dengan pikiran yang demikian, -karena barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa-,"  (1 Petrus 4:1).  Tidak sedikit orang percaya yang tidak siap mental dalam memikul salibnya sendiri.  Ketika diperhadapkan dengan masalah, kesulitan, tantangan dan penderitaan, mereka mudah sekali menjadi kecewa, bersungut-sungut dan marah kepada Tuhan, lalu meninggalkan Tuhan.

     2.  Tinggal dalam firman Tuhan.  Seorang murid haruslah selalu mengikut kemanapun Sang Guru pergi.  Ini berarti kita tidak bisa berjalan menuruti kemauan dan kehendak sendiri, tetapi harus mengikuti kehendak Tuhan sepenuhnya.  Karena itu, kita harus menunjukkan konsistensinya dalam menjalankan apa yang diajarkan oleh Kristus.  Menjadi pelaku firman Tuhan adalah harga mutlak bagi seorang murid Kristus.

Thursday, December 7, 2017

LATIHLAH DIRIMU DALAM HAL IBADAH!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 7 Desember 2017

Baca:  Mazmur 84:1-13

"Betapa disenangi tempat kediaman-Mu, ya TUHAN semesta alam!"  Mazmur 84:2

Kesukaan Daud adalah berada di bait Tuhan karena di situlah ia menemukan, mengalami dan merasakan hadirat Tuhan.  Inilah yang menjadi kerinduan dalam hidup Daud!  "Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN;"  (Mazmur 84:3).  Ada banyak orang Kristen yang merasa tidak betah berada di bait Tuhan.  Apa buktinya?  Mereka tidak serius saat melakukan ibadah, bahkan tidak sedikit di antara mereka yang tampak main-main dan bersenda gurau.  Atau mereka melakukan ibadah hanya sebatas aktivitas jasmaniah dan rutinitas, bukan didasari oleh kasih dan kerinduannya untuk berjumpa dengan Tuhan secara pribadi.  "Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia."  (Matius 15:8-9).  Selama ibadah kita hanya sebatas rutinitas, tanpa disertai kasih dan kerinduan kepada Tuhan, kita takkan pernah merasakan dan mengalami manifestasi dari hadirat Tuhan.

     Rasul Paulus menasihati,  "Latihlah dirimu beribadah."  (1 Timotius 4:7b).  Mengapa?  Karena  "Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang."  (1 Timotius 4:8).  Ini berbicara tentang kedisiplinan rohani!  Sering dijumpai orang-orang Kristen yang tidak disiplin rohani:  berdoa, membaca Alkitab atau beribadah hanya dilakukan pada situasi dan kondisi tertentu.  Ketika sedang menghadapi masalah dan pergumulan hidup yang berat mereka tampak bersemangat mengerjakan perkara-perkara rohani, tapi begitu keadaan sudah beres dan tampak normal, perkara-perkara rohani tidak lagi menjadi hal yang prioritas.

     Penting sekali untuk mendisiplinkan diri dalam hal-hal rohani, karena disiplin rohani itu sangat bermanfaat bagi kebugaran rohani kita.  Jika kita sehat secara rohani, fondasi hidup kita pun akan semakin kuat;  seberat apa pun badai kehidupan menerpa, kita akan tetap tegak berdiri dan tak tergoyahkan.  Jadi untuk mengalami hadirat Tuhan secara permanen kita harus melatih diri dalam hal ibadah, dan itu butuh kedisiplinan tinggi.

Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah, tapi marilah semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat  (Ibrani 10:25).

Wednesday, December 6, 2017

DALAM HADIRAT TUHAN: Hidup Dalam Kekudusan

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 6 Desember 2017

Baca:  Mazmur 27:4-6

"Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini: diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya."  Mazmur 27:4

Bagi Daud tak ada tempat yang paling ia ingini selain berada di dalam bait Tuhan.  "Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku dari pada diam di kemah-kemah orang fasik."  (Mazmur 84:11).  Saat berada di dalam bait Tuhan inilah Daud merasakan dan mengalami hadirat Tuhan.  Hadirat Tuhan dapat diartikan sebagai kehadiran Tuhan, hadir di tengah-tengah umat-Nya dengan segala manifestasinya.  Di dalam hadirat Tuhan ada sukacita, damai sejahtera, ketenangan, kemenangan, keamanan, pemulihan, perlindungan dan jawaban untuk semua pergumulan yang kita alami.

     Dunia ini penuh dengan masalah, penderitaan, tekanan dan air mata;  namun syukur kepada Tuhan, sebagai umat tebusan-Nya kita mempunyai hak untuk masuk dalam hadirat-Nya, sehingga sekalipun kita berada di dunia yang penuh masalah dan air mata, saat kita berada di hadirat Tuhan ada pertolongan, pemulihan, kelepasan, kepuasan, sukacita dan bahkan damai sejahtera yang melampaui segala akal  (baca  Filipi 4:7).  Akan tetapi tidak semua orang bisa masuk ke hadirat Tuhan dan merasakan lawatan Tuhan, ada syarat yang harus dipenuhi, utamanya hidup dalam kekudusan.  "TUHAN ada di dalam bait-Nya yang kudus;"  (Mazmur 11:4), artinya hadirat Tuhan itu kudus, maka tanpa kekudusan tidak seorang pun dapat mengalami hadirat-Nya.  "...hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus."  (1 Petrus 1:15-16).

     Hidup kudus adalah syarat utama untuk masuk ke dalam hadirat Tuhan.  Adalah mutlak bagi orang percaya berjalan dalam kekudusan setiap hari.  Kalau hidup kita tidak kudus atau ada dosa yang masih belum dibereskan, kita tidak akan mampu bertahan di dalam hadirat Tuhan.  Jadi untuk merasakan dan menikmati hadirat Tuhan hidup kita harus benar-benar dalam keadaan benar.

Hadirat Tuhan itu sungguh teramat kudus, karena itu kita pun harus hidup dalam kekudusan!

Tuesday, December 5, 2017

TETAPLAH FOKUS, JANGAN GOYAH (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 5 Desember 2017

Baca:  2 Timotius 2:1-13

"Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya."  2 Timotius 2:4

Rasul Paulus memberikan sebuah teladan hidup melalui kehidupan prajurit, olahragawan dan petani.  Mereka adalah orang-orang yang selalu berfokus pada tugas.  Setiap orang percaya dipanggil untuk memiliki ketaatan seorang prajurit, kedisiplinan seorang atlet, dan kesabaran seorang petani dalam menanti tuaian.  Ayat nas menyatakan bahwa prajurit yang hendak berjuang tidak lagi memusingkan kepentingan diri sendiri, dan termasuk urusan keluarganya sekalipun, agar ia mampu memusatkan pikiran  (berfokus)  pada tugas dan tanggung jawabnya sebagai pembela negara atau bangsa dalam menghadapi musuh.

     Bagaimana agar kita tetap fokus?  1.  Bersaat teduh.  Menyediakan waktu secara teratur untuk berdoa dan membaca firman Tuhan membantu kita untuk tetap fokus kepada perkara-perkara rohani.  Jadikan saat teduh sebagai gaya hidup setiap hari.  Dengan bersaat teduh berarti kita mengijinkan Roh Kudus untuk memimpin dan menuntun langkah hidup kita, sehingga ketika fokus hidup kita mulai menyimpang Ia akan menegur dan mengingatkan atas segala sesuatu yang pernah Tuhan sampaikan melalui firman yang telah kita baca.  2.  Latihan ibadah.  Rasul Paulus menasihati Timotius,  "Latihlah dirimu beribadah. Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang."  (1 Timotius 4:7b-8).  Jangan sekali-kali kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah.  Ibadah yang dimaksud bukanlah ibadah yang sekedar menjadi rutinitas, tapi ibadah yang benar-benar mendatangkan kuasa, di mana kita mengalami perjumpaan dengan Tuhan dan merasakan hadirat-Nya.

     Ketika kita mengalami atmosfer hadirat Tuhan, saat itulah kita semakin memiliki kepekaan rohani.  Tuhan sudah memfokuskan segala keberadaan hidup-Nya untuk mengasihi kita, sampai Ia rela mati di kayu salib untuk menebus dosa-dosa kita, masakan fokus hidup kita tertuju kepada dunia dan bukan mengasihi Tuhan?

Fokus kepada Tuhan berarti kita mengejar perkara rohani, lebih dari perkara yang ada di dunia!