Friday, August 18, 2017

KEGAGALAN: Ketidaktaatan dan Kekerasan Hati

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 18 Agustus 2017

Baca:  Ibrani 3:7-19

"Sebab itu, seperti yang dikatakan Roh Kudus: "Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman pada waktu pencobaan di padang gurun,"  Ibrani 3:7-8

Tuhan telah berjanji kepada umat Israel:  "Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya,"  (Keluaran 3:8).  Namun tidak semua umat Israel dapat menikmati Kanaan, sebagian dari mereka gagal mencapainya dan harus meninggal di padang gurun.  Kegagalan itu bukan berarti Tuhan ingkar terhadap janji-Nya atau berlaku kejam terhadap mereka.  Ingat, Tuhan tidak pernah merancang kecelakaan atau hal-hal yang jahat bagi umat-Nya, tapi rancangan-Nya adalah  "...rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan."  (Yeremia 29:11).

     Kalau pada akhirnya ada sebagian bangsa Israel yang gagal mencapai Tanah Perjanjian penyebabnya adalah keputusan dan pilihan mereka sendiri, sekalipun mereka adalah bangsa pilihan Tuhan,  "Tetapi sungguhpun demikian Allah tidak berkenan kepada bagian yang terbesar dari mereka, karena mereka ditewaskan di padang gurun. Semuanya ini telah terjadi sebagai contoh bagi kita untuk memperingatkan kita, supaya jangan kita menginginkan hal-hal yang jahat seperti yang telah mereka perbuat,"  (1 Korintus 10:5-6).  Secara individu ada banyak dari bangsa Israel yang mengeraskan hati dan tidak mau tunduk kepada tuntunan Tuhan, padahal selama menempuh perjalanan di padang gurun hari-hari mereka dipenuhi dengan mujizat dan perbuatan ajaib dari Tuhan.  Bahkan Alkitab mencatat:  "Pakaianmu tidaklah menjadi buruk di tubuhmu dan kakimu tidaklah menjadi bengkak selama empat puluh tahun ini."  (Ulangan 8:4).

     Kegagalan bangsa Israel ini adalah sebuah pelajaran berharga bagi orang percaya!  Tuhan tidak menghendaki kita bernasib sama seperti mereka yang binasa, Ia mau kita bersungguh-sungguh dalam mengikut Tuhan, setia sampai akhir!  Tak ingin menuai kegagalan dan kebinasaan?  Perhatikanlah hidupmu mulai dari sekarang!

Sebagian umat Israel harus menelan pil pahit yaitu binasa di padang gurun sebelum mencapai Tanah Perjanjian karena mereka mengeraskan hati dan tidak taat!

Thursday, August 17, 2017

MERDEKA: Tidak Lagi Diperbudak

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 Agustus 2017

Baca:  Galatia 5:1-15

"Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan."  Galatia 5:1

Haleluyah!  Kita sebagai orang percaya yang juga merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari NKRI patut bersukacita dan bersyukur kepada Tuhan Yesus, karea pada hari ini bangsa kita memperingati Hari Kemerdekaan.  Dirgahayu Republik Indonesia yang ke-72!  Di samping bersyukur, perlu sekali kita mengkaji ulang melalui firman Tuhan tentang arti kemerdekaan yang sesungguhnya.  Merdeka berarti secara fisik tidak ada bangsa lain yang menjajah lagi.  Berbicara mengenai kemerdekaan juga tidak terlepas dari hal kelepasan, ketenangan, kedamaian, sukacita dan kesejahteraan.  Semua 72 tahun bangsa Indonesia mengenyam kemerdekaan sudahkah kita benar-benar mengalami kemerdekaan yang sejati?  Ini yang patut untuk kita renungkan.

     Peringatan Hari Kemerdekaan RI di tahun 2017 ini terasa sangat berbeda, karena kita merayakan hari ulang tahun kemerdekaan di tengah situasi bangsa yang sedang karut marut.  Ada banyak sekali ujian dan cobaan menimpa bangsa ini:  mulai dari banyaknya bencana alam yang terjadi, semakin meningkatnya tingkat kriminalitas, pemerintah juga diguncang oleh berbagai penyimpangan, bahkan isu SARA yang mengarah kepada perpecahan dan ketidakharmonisan begitu marak terjadi.  Sungguh sangat memprihatinkan!  Firman Tuhan sudah memperingatkan:  "Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih."  (Galatia 5:13).  Kemerdekaan tidak akan berarti apa-apa jika kemerdekaan yang telah diraih dengan penuh perjuangan oleh para pahlawan bangsa tersebut tidak diisi dengan hal-hal yang baik dan positif.

     Pula dalam kekristenan, karena kita telah dimerdekakan oleh Kristus melalui pengorban-Nya di kayu salib, maka kita harus memiliki kesadaran tinggi untuk tidak mau diperbudak lagi oleh dosa.  Karena itu kita harus mengerjakan keselamatan yang telah dianugerahkan Tuhan itu dengan hati yang takut dan gentar  (baca  Filipi 2:12).

Jangan sia-siakan kemerdekaan, tapi pergunakan kemerdekaan itu untuk hidup lebih berkenan kepada Tuhan!

Wednesday, August 16, 2017

MENOLAK BAHTERA KESELAMATAN (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 Agustus 2017

Baca:  Matius 24:37-44

"Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga."  Matius 24:44

Sesungguhnya, Tuhan dengan sangat sabar menunggu mereka untuk bertobat, meski berkali-kali diperingatkan akan datangnya air bah, tapi mereka tetap mengeraskan hati.  Ada tertulis,  "Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat."  (2 Petrus 3:9).  Karena menolak terlibat dalam proyek keselamatan bersama Nuh dan menolak berita keselamatan yang disampaikan Nuh, akhirnya mereka harus mengalami kebinasaan tenggelam dalam air bah.

     Kebinasaan itu adalah pilihan hidup mereka sendiri.  Berbeda dengan Nuh sekeluarga, yang diselamatkan karena kesetiaan dan ketaatannya mengerjakan panggilan Tuhan untuk mempersiapkan bahtera itu.  Bahtera adalah jalan keselamatan agar keluarga Nuh dan semua orang yang masuk ke dalam bahtera tersebut terluput dari malapetaka.  Bahtera itu adalah kasih karunia Tuhan bagi manusia di zaman itu, namun semua orang menolak apa yang baik yang Tuhan sediakan, kecuali Nuh.  Fakta mengenai kisah Nuh dan orang-orang sezamannya ini menjadi sebuah pelajaran berharga bagi kita orang percaya.  Itulah sebabnya Tuhan Yesus menyebut-nyebut Nuh dalam pengajaran-Nya, sebab pola hidup manusia di akhir zaman ini tidak jauh berbeda dengan manusia pada zaman Nuh, yang tidak lagi memperdulikan keselamatan jiwanya.  "Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, dan mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua, demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia."  (Matius 24:38-39).

     Selagi ada waktu dan kesempatan marilah kita terus memperbaiki diri dan bertobat.  Keselamatan kekal atau kebinasaan kekal adalah akibat pilihan dan juga keputusan-keputusan yang kita ambil saat menjalani hidup saat ini.

Pemazmur berkata,  "Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana."  Mazmur 90:12

Tuesday, August 15, 2017

MENOLAK BAHTERA KESELAMATAN (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 Agustus 2017

Baca:  Lukas 17:20-37

"Dan sama seperti terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia:"  Lukas 17:26

Jauh sebelum air bah melanda bumi sesungguhnya Bapa telah mempersiapkan  'bahtera'  keselamatan bagi umat manusia, di mana Ia mengutus Nuh untuk membuat bahtera dengan ukuran dan bentuk yang telah direncanakan-Nya.  Nuh pun merespons panggilan Bapa dan taat melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan Bapa kepadanya  (baca  Kejadian 6:13-22).  Demikian juga jelang kedatangan Kristus untuk yang kedua kalinya di mana akan terjadi penghukuman dan keadilan, Bapa jauh sebelumnya telah mempersiapkan suatu  'bangunan'  yang merupakan suatu  'bahtera keselamatan'  bagi umat manusia yang mau bertobat dan percaya kepada-Nya.  Bangunan yang merupakan  'bahtera keselamatan'  itu dibangun di atas  'batu penjuru'  yaitu Yesus Kristus.  "Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan. Karena itu bagi kamu, yang percaya, ia mahal, tetapi bagi mereka yang tidak percaya: 'Batu yang telah dibuang oleh tukang-tukang bangunan, telah menjadi batu penjuru, juga telah menjadi batu sentuhan dan suatu batu sandungan.' Mereka tersandung padanya, karena mereka tidak taat kepada Firman Allah; dan untuk itu mereka juga telah disediakan."  (1 Petrus 2:6-8).

     Ironisnya umat manusia banyak yang menolak  'bahtera keselamatan'  yang Bapa telah sediakan.  Keadaan ini sama seperti di zaman Nuh, Tuhan bukan hanya berniat untuk menyelamatkan Nuh dan keluarganya saja, tetapi juga orang-orang yang mau masuk ke dalam bahtera, tetapi mereka menolak dan tidak mau taat.  Orang-orang di zaman Nuh sibuk dengan urusan makan dan minum, kawin dan mengawinkan sehingga mereka tidak lagi memperdulikan keselamatan,  "...sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua."  (Lukas 17:27).

     Alkitab menyatakan bahwa Nuh disebut pemberita kebenaran  (baca  2 Petrus 2:5).  Artinya pada waktu membuat bahtera Nuh juga berusaha mengajak orang-orang untuk turut ambil bagian dalam proyek  'bahtera keselamatan'  itu, memberitakan kebenaran dan menyerukan pertobatan, tapi semua orang menolaknya mentah-mentah.  (Bersambung)

Monday, August 14, 2017

PENOLAKAN TERHADAP KRISTUS: Mendatangkan Hukuman (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 Agustus 2017

Baca:  2 Tesalonika 1:3-12

"Mereka ini akan menjalani hukuman kebinasaan selama-lamanya, dijauhkan dari hadirat Tuhan dan dari kemuliaan kekuatan-Nya,"  2 Tesalonika 1:9

Pada hari kedatangan Kristus yang kedua kali kelak setiap manusia akan dihadapkan pada pengadilan!  Seperti tertulis:  "Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat."  (2 Korintus 5:10).

     Setiap kejahatan akan mendapatkan balasan, begitu pula setiap kebajikan serta ketaatan kepada Injil Kristus akan memperoleh upahnya.  "Sebab memang adil bagi Allah untuk membalaskan penindasan kepada mereka yang menindas kamu dan untuk memberikan kelegaan kepada kamu yang ditindas, dan juga kepada kami, pada waktu Tuhan Yesus dari dalam sorga menyatakan diri-Nya bersama-sama dengan malaikat-malaikat-Nya, dalam kuasa-Nya, di dalam api yang bernyala-nyala, dan mengadakan pembalasan terhadap mereka yang tidak mau mengenal Allah dan tidak mentaati Injil Yesus, Tuhan kita. Mereka ini akan menjalani hukuman kebinasaan selama-lamanya, dijauhkan dari hadirat Tuhan dan dari kemuliaan kekuatan-Nya,"  (2 Tesalonika 1:6-9).

     Saat Kristus masih berada di bumi Ia selalu mengajarkan kebenaran dan bagaimana harus memiliki hati yang takut akan Tuhan.  Sampai hari ini pun Injil Kristus terus diberitakan, tapi yang sangat disesalkan masih banyak orang yang mengeraskan hati dan dengan sengaja menolak Kristus dan Injil-Nya.  Mereka tak menyadari bahwa pada akhirnya mereka akan dihakimi dengan seadil-adilnya.  Setiap orang akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Tuhan!  "...orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu. Maka laut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan maut dan kerajaan maut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan mereka dihakimi masing-masing menurut perbuatannya."  (Wahyu 20:12b-13).  Pada akhirya  "...setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu."  (Wahyu 20:15).

"Ia yang memberi kesaksian tentang semuanya ini, berfirman: 'Ya, Aku datang segera!' Amin, datanglah, Tuhan Yesus!"  Wahyu 22:20

Sunday, August 13, 2017

PENOLAKAN TERHADAP KRISTUS: Mendatangkan Hukuman (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 Agustus 2017

Baca:  2 Tesalonika 1:3-12

"dan mengadakan pembalasan terhadap mereka yang tidak mau mengenal Allah dan tidak mentaati Injil Yesus, Tuhan kita."  2 Tesalonika 1:8

Pada dasarnya setiap orang bertanggung jawab sebagai penggubah bagi dirinya sendiri.  Ibarat sebuah buku sejarah, tiap-tiap orang menorehkan tinta di buku kehidupannya.  Tinta kehidupan tersebut adalah pilihan demi pilihan, keputusan demi keputusan, serta segala tindakan yang dilakukan berdasarkan pilihan dan keputusan yang diambilnya tersebut.  Ada tertulis:  "Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu."  (Wahyu 20:12).  Kata perbuatan mereka menunjuk kepada perbuatan masing-masing individu, bukan perbuatan orang lain.  Artinya bahwa penghakiman dilaksanakan atas setiap individu.

     Sejak dari semula Bapa tidak menghendaki dan tidak merencanakan manusia untuk dimasukkan ke dalam penghukuman kekal atau masuk ke dalam neraka.  Namun manusia sendirilah yang menghukum dirinya sendiri sehingga mereka masuk ke dalam neraka, oleh karena mereka menolak jalan keselamatan dari Bapa.  Dengan penuh kasih Bapa telah menawarkan keselamatan, kehidupan kekal dan hidup berkelimpahan juga di bumi.  Bapa telah memberikan Putera-Nya, Yesus Kristus sebagai satu-satunya jalan untuk memperoleh keselamatan kekal.  "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah."  (Yohanes 16, 18).  Kristus datang dengan tujuan supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan  (baca  Yohanes 10:10b).

     Tetapi manusia dalam kepicikannya, kebodohannya, kesombongannya, keegoisannya menolak anugerah atau kasih karunia yang disediakan oleh Bapa.  Menolak berita Injil secara otomatis menolak Kristus, padahal Dia adalah satu-satunya jalan menuju kepada kehidupan kekal!  (Bersambung)

Saturday, August 12, 2017

DEMAS: Tergoda Kemilau Dunia (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 Agustus 2017

Baca:  Yakobus 4:1-10

"Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah."  Yakobus 4:4

Demas yang dulunya adalah teman sekerja Paulus dalam pelayanan, yang dulunya memiliki orientasi hidup untuk menyenangkan hati Tuhan, kini berubah haluan 180 derajat yaitu hidup untuk kesenangan diri sendiri.  Bagaimana mungkin seorang pekerja Tuhan dapat meninggalkan pelayanan dan memilih dunia?  Sepertinya sulit untuk dipercaya, namun ini sebuah kenyataan.  Oleh karena itu kita harus memperhatikan nasihat Tuhan Yesus:  "Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat."  (Lukas 21:34).

     Tuhan mendidik kita dengan keras untuk tidak  'bersentuhan'  dengan dunia, dengan suatu tujuan:  "Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus,"  (Titus 2:12-13).  Rasul Yohanes menyatakan bahwa jika orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada pada diri orang tersebut  (baca  1 Yohanes 2:15).

     Demas tentunya juga mengetahui bahwa kasih Tuhan jauh melebihi dari apa pun yang ada di dunia ini, namun setelah melihat kemewahan kota metropolitan Tesalonika ia memutuskan untuk meninggalkan pelayanan.  Mungkin ketika kita pertama kali percaya pada Tuhan kita memiliki roh yang menyala-nyala untuk mengasihi Tuhan dan melayani-Nya.  Namun ketika kita mulai menyepelekan kasih Tuhan, kita mulai membuka diri akan cinta dunia, kasih mula-mula itu pun menjadi pudar.  Berhati-hatilah!  Kemewahan dan kenikmatan dunia hanya sementara, tetapi orang yang melakukan kehendak Tuhan tetap hidup selama-lamanya  (baca  1 Yohanes 2:17).

"Adakah kamu sebodoh itu? Kamu telah mulai dengan Roh, maukah kamu sekarang mengakhirinya di dalam daging? Sia-siakah semua yang telah kamu alami sebanyak itu? Masakan sia-sia!"  Galatia 3:3-4

Friday, August 11, 2017

DEMAS: Tergoda Kemilau Dunia (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 Agustus 2017

Baca:  2 Timotius 4:9-18

"karena Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku."  2 Timotius 4:10a

Dunia saat ini adalah dunia yang begitu gencar menawarkan segala hal yang menyenangkan daging:  kemewahan, kenikmatan, pesta pora dan sebagainya.  Jika orang percaya tidak sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, melekat kepada-Nya dan berakar kuat dalam firman-Nya, ia akan mudah terbuai oleh dunia dan meninggalkan Tuhan.  Tidak sedikit orang Kristen memulai hidup kekristenannya dengan sangat baik, menempatkan Kristus di atas segala-galanya dan melayani Tuhan dengan sepenuh hati, tapi seiring berjalannya waktu kasihnya kepada Tuhan mulai memudar, Tuhan tidak lagi menjadi prioritas hidup.  Apa penyebabnya?  Karena hati mulai bercabang, mata silau dengan dunia.  Ibadah dan pelayanan tak lagi dilakukan dengan sepenuh hati, tak lebih dari sekedar rutinitas agamawi.  Rasul Paulus memperingatkan,  "Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!"  (1 Korintus 10:12).

     Demas adalah salah satu contoh:  seorang yang bukan sebatas jemaat awam, tapi ia adalah orang yang sudah menyandang status sebagai pelayan Tuhan, yang memulai segala sesuatu dengan roh, tapi mengakhiri hidup dalam kedagingan karena terpesona dengan kenikmatan dunia ini.  Oleh karena hatinya terpaut pada dunia Demas pun rela meninggalkan pelayanan, meninggalkan rasul Paulus.  Agenda pelayanan sudah tidak ada lagi dalam kamus hidup Demas, yang ada adalah agenda dunia, bagaimana hidup menyenangkan dan memuaskan keinginan dagingnya.  Ada tertulis: "Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia."  (1 Yohanes 2:16).

     Mengasihi dunia ada beberapa:  1.  Keinginan mata.  Ada tertulis:  "...demikianlah mata manusia tak akan puas."  (Amsal 27:20).  2.  Keinginan daging.  Keinginan daging selalu berkaitan erat dengan nafsu, kemabukan dan segala sesuatu yang bertentangan dengan keinginan Roh  (baca  Galatia 5:17).  Rasul Paulus memperingatkan,  "Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya."  (Galatia 5:24),  "Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya,"  (Galatia 6:8).  3.  Keangkuhan hidup.  Karena pengaruh dunia, orang tidak lagi bermegah di dalam Tuhan.  (Bersambung)

Thursday, August 10, 2017

BERLAKULAH ADIL, SETIA DAN RENDAH HATI

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 Agustus 2017

Baca:  Mikha 6:1-16

"Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?"  Mikha 6:8

Mikha adalah orang Moresyet, suatu kota yang berada di dekat daerah Gat  (baca  Mikha 1:14).  Arti nama Mikha adalah  'siapa Tuhan seperti Engkau.'  Mikha hidup dan melayani pada zaman Yotam, Ahas dan Hizkia.  Melalui Mikha, hamba-Nya ini, Tuhan mempunyai tuntutan terhadap umat-Nya:  berlaku adil, setia dan rendah hati.

     Adil berarti berada di tengah-tengah, jujur, lurus dan tulus;  suatu sikap yang tidak memihak kecuali kepada kebenaran.  Adil berarti juga sama berat, tidak berat sebelah, tidak memihak:  keputusan hakim yang berpihak kepada yang benar;  berpegang pada kebenaran;  sepatutnya;  tidak sewenang-wenang.  Secara terminologi, adil bermakna suatu sikap yang bebas dari diskriminasi, ketidakjujuran;  ini berkenaan dengan hal yang patut diterima oleh seseorang  (baca  Keluaran 23:6)  dan mengarah kepada hubungan sesama manusia, antara tuan dengan hamba, atasan dengan bawahan, orangtua dengan anak, suami dengan isteri, pimpinan dengan karyawan, pemerintah dengan rakyatnya.  Dunia dipenuhi ketidakadilan, keadilan diputarbalikkan, keadilan dapat dibeli dengan uang.  Meski demikian orang percaya dituntut untuk menjadi teladan dalam hal berlaku adil.

     Setia adalah berpegang teguh  (pada janji, pendirian, dan sebagainya);  patuh;  taat.  Kesetiaan yang dimaksud bukan hanya berkaitan dengan hubungan kita dengan Tuhan, tapi juga hubungan kita dengan sesama manusia.  Kesetiaan ibarat barang berharga, sangat mahal dan langka untuk ditemukan, sebab  "...telah lenyap orang-orang yang setia dari antara anak-anak manusia."  (Mazmur 12:2).  Kesetiaan adalah salah satu karakter yang Tuhan cari dalam diri orang percaya.  "Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?"  (Amsal 20:6).

     Rendah hati adalah karakter yang Tuhan senangi, dan Ia benci dengan keangkuhan.  "Ia tidak suka kepada kegagahan kuda, Ia tidak senang kepada kaki laki-laki;"  (Mazmur 147:10).  Kegagahan kuda dan kaki laki-laki berbicara tentang manusia yang mengandalkan kekuatan sendiri  (sombong).

Sudahkah kita mempraktekkan apa yang menjadi tuntutan Tuhan ini?

Wednesday, August 9, 2017

HIDUP ORANG PERCAYA PENUH MUJIZAT

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 9 Agustus 2017

Baca:  Kisah Para Rasul 5:12-16

"Dan oleh rasul-rasul diadakan banyak tanda dan mujizat di antara orang banyak. Semua orang percaya selalu berkumpul di Serambi Salomo dalam persekutuan yang erat."  Kisah 5:12

Semua orang pasti excited mendengar kata mujizat.  Mujizat adalah salah satu faktor pendorong dan penyemangat orang datang ke gereja.  Mereka mencari Tuhan dengan harapan ingin mendapatkan mujizat:  sakit disembuhkan, masalah terselesaikan, ekonomi keluarga dipulihkan.  Namun di sisi lain ada juga orang-orang skeptis mendengar kata mujizat.  Skeptis adalah kurang percaya, ragu-ragu  (terhadap keberhasilan ajaran dan lain-lain).  Mereka menganggap mujizat adalah cerita masa lalu di zaman Alkitab.  Benarkah demikian?  Ketahuilah, mujizat sampai hari ini dan untuk selamanya tetap ada!  Karena Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang tidak berubah.  "Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya."  (Ibrani 13:8).

     Namun yang harus menjadi fokus utama kita dalam mengikut Tuhan adalah Pribadi-Nya, bukan semata-mata karena kita mengingini mujizat-Nya.  Kita tidak perlu memikirkan mujizat, karena selama kita mengikut Tuhan dengan sungguh-sungguh dan hidup taat melakukan kehendak-Nya, hari-hari yang kita jalani pasti akan dipenuhi dengan mujizat.  Mujizat dan tanda-tanda ajaib adalah bagian dari paket keselamatan yang Tuhan sediakan bagi orang yang percaya kepada-Nya.  Namun ingatlah bahwa Tuhan tidak pernah melakukan mujizat seperti yang kita mau dan harapkan, tapi Tuhan membuat mujizat sesuai dengan kehendak-Nya.  Mungkin kita bertanya,  "Mengapa aku tidak pernah mengalami mujizat?"  Bukannya Tuhan tidak sanggup atau tidak mau membuat mujizat, tapi kita sendiri yang seringkali mengharapkan melakukan mujizat menurut kehendak kita.  Kita mendikte Tuhan untuk mengikuti kemauan dan keinginan kita!

     Alkitab menyatakan bahwa tanda-tanda ajaib dan mujizat senantiasa menyertai perjalanan hidup orang percaya yang berlaku benar di hadapan Tuhan.  "Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, --maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu."  (Matius 17:20).

Taat melakukan firman Tuhan dan memiliki iman adalah kunci mengalami mujizat!

Tuesday, August 8, 2017

ORANG PERCAYA SEBAGAI AHLI WARIS (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 Agustus 2017

Baca:  Roma 8:12-17

"Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia."  Roma 8:17

Kalau bapa yang ada di dunia saja berpikir tentang warisan yang hendak diberikan bagi anak-anaknya, apalagi Bapa kita yang di sorga.  Inilah warisan yang Bapa sediakan bagi kita orang percaya:  1.  Kerajaan Sorga.  Ada orang yang suka mengatakan janji-janji, tapi sulit sekali untuk menepatinya.  Harus diakui bahwa dunia ini penuh dengan janji palsu, janji yang tidak pernah digenapi.  Namun Tuhan kita adalah Tuhan yang berjanji dan memberikan kepastian dalam janji-Nya.  Janji Tuhan adalah ya dan amin.  Tuhan Yesus berkata,  "Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada."  (Yohanes 14:2-3).  Sorga adalah sebuah kepastian bagi orang yang percaya kepada Tuhan Yesus.  2.  Kemenangan.  Di dunia ini ada banyak sekali tantangan, bahkan Iblis tidak pernah berhenti mencari cara untuk menghancurkan hidup orang percaya.  Kita tidak perlu takut karena di dalam kita ada Roh Kudus, Dialah yang akan membawa kita kepada kemenangan:  menang atas persoalan dan menang atas Iblis.  "...syukur bagi Allah, yang dalam Kristus selalu membawa kami di jalan kemenangan-Nya."  (2 Korintus 2:14).  3.  Berkat.  "Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan."  (Yohanes 10:10b).  Tak perlu kita hidup dalam kekuatiran.  Selama kita mencari dahulu kerajaan-Nya dan kebenaran-Nya maka semua akan ditambahkan di dalam hidup kita.  Pegang teguh kebenaran firman ini!  "Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus."  (Filipi 4:19).

Karena kita adalah ahli waris,  "...Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga."  Efesus 1:3

Monday, August 7, 2017

ORANG PERCAYA SEBAGAI AHLI WARIS (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 7 Agustus 2017

Baca:  Galatia 4:1-11

"Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah."  Galatia 4:7

Satu perkara yang acapkali menjadi biang permasalahan atau sumber konflik, perpecahan, sengketa di dalam sebuah keluarga adalah persoalan warisan.  Bahkan ada orang yang sampai tega membunuh saudara kandungnya hanya karena mengincar warisan.  Warisan adalah harta peninggalan yang ditinggalkan pewaris kepada ahli waris.  Sesungguhnya warisan adalah sesuatu yang baik, karena apa yang orangtua miliki diturunkan kepada anak-anaknya, sehingga anak-anaknya mendapatkan berkat dari orangtuanya.  Namun ada banyak orang yang hidupnya hanya menanti dan mengandalkan warisan orangtua, sehingga warisan yang sebenarnya adalah sesuatu yang baik akhirnya menjadi sumber petaka di dalam keluarga.  Letak persoalannya bukan pada warisan itu, tetapi pada pola pikir yang hanya memikirkan warisan, bahkan sampai menimbulkan sifat serakah.

     Warisan yang sejati bukanlah hanya harta yang berhubungan dengan kebendaan, warisan yang sejati adalah bagaimana orangtua mewariskan iman kepada anak-anaknya.  "Orang baik meninggalkan warisan bagi anak cucunya,"  (Amsal 13:22).  Warisan yang sejati adalah bagaimana orangtua menanamkan prinsip-prinsip kebenaran firman Tuhan sehingga anak-anak dapat tumbuh dan berkembang menjadi pribadi-pribadi yang takut akan Tuhan, sebagaimana yang disampaikan Musa:  "Kamu harus mengajarkannya kepada anak-anakmu dengan membicarakannya, apabila engkau duduk di rumahmu dan apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun...supaya panjang umurmu dan umur anak-anakmu di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu untuk memberikannya kepada mereka, selama ada langit di atas bumi."  (Ulangan 11:19, 21).

     Di dalam bacaan hari ini dijelaskan bahwa hidup orang Kristen adalah hidup yang terbebas dari perhambaan.  Ini terjadi karena Kristus telah mengorbankan nyawa-Nya di atas kayu salib bagi kita.  "Ia  (Kristus - Red)  diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak."  (Galatia 4:5).  Jadi karena status kita bukan lagi hamba, melainkan diangkat sebagai anak, maka kita adalah orang-orang yang berhak menerima warisan dari Bapa karena kita adalah ahli-ahli waris  (ayat nas).  (Bersambung)

Sunday, August 6, 2017

ADA SUKACITA BESAR DI SORGA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 6 Agustus 2017

Baca:  Lukas 15:11-32

"Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali."  Lukas 15:32

Ketika anak bungsunya pulang  (setelah lama terhilang)  kembali ke rumah, orangtuanya mengadakan pesta untuk menyambut kepulangannya.  Ini menggambarkan ada sukacita di sorga kalau ada satu orang bertobat.  "...akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan."  (Lukas 15:7).

     Pertobatan yang bagaimanakah yang membuat Tuhan bersukacita?  Kalau hanya mengaku bertobat karena ada altar call di gereja belumlah membuat sorga bersukacita.  Pertobatan yang dapat membuat sorga bersukacita adalah pertobatan yang benar menurut ukuran Tuhan.  Pertobatan yang benar adalah pertobatan seperti si anak bungsu, yaitu dari kehidupan yang dikuasai oleh keinginan diri sendiri berbalik kepada kehidupan yang mau tunduk sepenuhnya kepada otoritas bapanya.  Penundukan diri adalah ciri dari orang yang bersedia hidup dalam otoritas Tuhan, yaitu orang-orang yang pasti diperkenankan masuk menjadi anggota keluarga Kerajaan Sorga.  Pertobatan yang benar yang membuat orang mengalami kelahiran baru bukanlah satu kali pertobatan, tetapi sebuah proses pertobatan terus menerus dan seumur hidup.  Untuk pertobatan seperti ini dibutuhkan pencerahan oleh kebenaran firman Tuhan setiap hari, sebab  "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran."  (2 Timotius 3:16).

     Kebeneran firman Tuhan yang mencerahi pikiran ditindaklanjuti oleh perubahan berpikir  ("metanoia").  Metanoia mengekspresikan perubahan intelektual dan spiritual yang terjadi ketika seorang pendosa berbalik kepada Tuhan.  Arti kata metanoia adalah memiliki pikiran lain atau mengubah pikiran orang dalam sikap dan tujuan perihal dosa.  Atau, berpikir tentang sesuatu secara berbeda dari sebelumnya.  "namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku."  (Galatia 2:20).

"Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan."  Matius 3:8

Saturday, August 5, 2017

MENJADI ANAK YANG TERHILANG

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 5 Agustus 2017

Baca:  Lukas 15:11-32

"Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa."  Lukas 15:18-19

Perumpamaan tentang anak yang hilang menggambarkan seorang anak yang tidak menyukai hidup dalam dominasi orang tua.  Ia berkeinginan hidup bebas dari pengawasan dan bebas menggunakan harta milik yang diklamin sebagai miliknya.  "Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya."  (ayat 13).  Model anak seperti ini banyak dijumpai, tak terkecuali pada mereka yang berstatus  'Kristen'.

     Ada banyak orang Kristen tidak merasa dirinya masuk kategori  'anak yang hilang', sebab menurut mereka anak yang hilang adalah mereka yang meninggalkan gereja dan hidup dalam hingar bingar duniawi.  Selama masih pergi ke gereja, terlibat dalam pelayanan dan tidak melakukan perbuatan yang bertentangan dengan hukum, kita berpikir kita hidup dalam pertobatan dan tidak masuk kategori anak yang hilang.  Benarkah?  Sesungguhnya pertobatan yang Tuhan kehendaki lebih dari itu, yaitu kita sungguh-sungguh memberi diri hidup dalam penguasaan Tuhan dan kendali Roh Kudus sepenuhnya.  Selama masih hidup menurut kehendak diri sendiri kita tergolong sebagai anak yang terhilang, meski secara lahiriah tampak beribadah.  "Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh,"  (Galatia 5:25).

     Ciri nyata anak yang terhilang adalah hidup dalam kendali diri sendiri.  Mereka menggunakan waktu, tenaga, uang, dan apa yang dimiliki sesuka hati untuk kepentingan diri sendiri dan menurut selera sendiri, bukan menurut kehendak Tuhan.  Pertobatan adalah kesediaan datang kepada Bapa dan bersedia hidup dalam kekuasaan atau dominasi Bapa.  Si bungsu yang bertobat berkata,  "Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa."  (Lukas 15:18-19).  Kesediaannya untuk tidak menggunakan haknya sebagai anak dan rela diperlakukan sebagai hamba oleh bapa adalah bukti kesungguhannya bertobat.

Sudahkah kita bertobat setiap hari dan tunduk kepada kehendak Bapa?

Friday, August 4, 2017

ROH YANG LEBIH BESAR DARI APA PUN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 4 Agustus 2017

Baca:  1 Yohanes 4:1-6

"...sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia."  1 Yohanes 4:4

Alkitab menyatakan bahwa dunia sekarang ini sedang lenyap dengan segala keinginannya:  keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup  (baca  1 Yohanes 2:16).  Artinya semua keinginan duniawi dapat melenyapkan hidup seseorang:  semakin menjauh dari Tuhan dan membawanya kepada jurang kebinasaan, tetapi  "...orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya."  (1 Yohanes 2:17).

     Setiap orang percaya pasti punya kerinduan untuk hidup seturut dengan firman Tuhan, namun yang seringkali menjadi persoalan adalah:  "...roh memang penurut, tetapi daging lemah."  (Matius 26:41), ditambah lagi dengan kuatnya arus dunia ini sehingga kita pun gagal dan gagal lagi untuk hidup dalam kebenaran.  Bagi orang percaya yang hidup bergantung penuh kepada Tuhan, bukan saja akan diberi kerinduan untuk melakukan kehendak-Nya, tapi juga diberi kekuatan untuk melakukan kehendak Tuhan.  Kekuatan itu datangnya dari Roh Kudus, Ia yang akan memampukan dan menguatkan kita untuk melawan arus duniawi sehingga kita dapat melawan arus dunia ini dan hidup menurut kehendak Tuhan, sebab  "...Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia."  (ayat nas).  Karena itu tidak ada alasan bagi kita untuk berkata:  aku tidak sanggup, aku lemah, aku tak mampu melakukan ini dan itu, karena Roh Kudus yang adalah Roh Kebenaran akan memimpin kita ke dalam seluruh kebenaran  (baca  Yohanes 16:13).  Di tengah badai, masalah, dan pergumulan yang berat Tuhan tidak pernah membiarkan kita bergumul sendirian, Ia memberikan Roh-Nya untuk menguatkan kita.  "Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban."  (2 Timotius 1:7).  Bahkan Roh Kudus akan menyertai kita dalam menjalani hidup sampai kepada akhir zaman  (baca  Matius 28:20b).

     Ada banyak perkara yang terjadi di dunia ini yang tidak kita mengerti, namun Roh Kudus hadir untuk mengajar kita dan memberi pengertian kepada kita  (baca  Yohanes 14:26), sehingga kita dapat mengambil sisi positif di setiap peristiwa.

Bersama Roh Kudus kita mampu menjalani hidup dengan kepala tegak berdiri!

Thursday, August 3, 2017

ORANG PERCAYA: Memiliki Benih Ilahi

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 3 Agustus 2017

Baca:  1 Yohanes 3:7-10

"Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah."  1 Yohanes 3:9

Seseorang disebut Kristen bukan semata karena ia lahir dari rahim seorang ibu yang beragama Kristen, tetapi orang disebut Kristen ketika ia membuat keputusan untuk percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat dan bertobat, yaitu meninggalkan kehidupan lamanya dan mengikut Kristus.  Demikianlah ia mengalami kelahiran baru, manusia lamanya mati digantikan oleh manusia baru.  Ia dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana yaitu firman Tuhan.

     Di dalam diri kita ada benih Ilahi, maka seharusnya orang Kristen tidak mudah untuk disesatkan dan diombang-ambingkan oleh rupa-rupa pengajaran sesat dari semua perkara yang ada di dunia ini.  Mengapa?  Sebab orang yang lahir dari Tuhan atau memiliki benih Ilahi hatinya senantiasa melekat kepada Kristus dan berakar kuat di dalam firman.  Karena memiliki benih Ilahi jugalah orang Kristen mutlak hidup dalam kebenaran.  "Barangsiapa yang berbuat kebenaran adalah benar, sama seperti Kristus adalah benar; barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya."  (ayat 7b-8a).  Patut dipertanyakan status kekristenannya jika ada orang Kristen yang masih terus hidup dalam dosa, hidup tak beda jauh dengan orang-orang di luar Tuhan, sebab jelas dikatakan barangsiapa berbuat dosa berasal dari Iblis.  Bahkan hidup Kristiani yang sejati itu bukan sekedar tidak lagi berbuat dosa, tapi harus benci dosa.

     Orang Kristen yang menyadari bahwa di dalam dirinya ada benih Ilahi akan senantiasa hidup dalam kasih karena Bapa adalah kasih.  Oleh sebab itu orang yang lahir dari Bapa pasti mewarisi sifat-sifat Bapa-Nya.  Ada tertulis:  "Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih."  (1 Yohanes 4:8).  Kemudian ia akan menjadikan kasih sebagai gaya hidup sehari-hari, kasih yang bukan sekedar kata-kata, melainkan dimulai dari hati yang menyadari bahwa kita mengasihi karena Bapa lebih dahulu mengasihi kita, lalu diteruskan dengan mengekespresikan kasih itu dalam tindakan nyata, sehingga keberadaannya menjadi berkat bagi dunia ini!

Seorang Kristen sejati tercermin dari kehidupan nyata, yaitu hidup benar dan penuh kasih!

Wednesday, August 2, 2017

SISI POSITIF DI BALIK SEBUAH TEKANAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 2 Agustus 2017

Baca:  Mazmur 119:65-72

"Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu."  Mazmur 119:71

John Willard Marriott, yang lahir 17 September 1900 dan meninggal 13 Agustus 1985, adalah seorang wirausahawan dan pengusaha kenamaan dari Amerika Serikat.  Ia merupakan pendiri dari Marriott International, perusahaan induk dari perusahaan ramah tamah terbesar, rantai hotel, dan pelayanan makanan.  Ada kalimat bijak yang terkenal dari JW Marriott ini:  "Kayu yang baik tidak tumbuh dengan mudah;  semakin kencang angin, semakin kuatlah pohon."  Artinya sebuah pohon kayu akan terlihat kualitasnya ketika mampu berdiri kuat di tengah terpaan angin yang datang.  Teruji karena melewati proses!

     Tekanan, penindasan, masalah, kesulitan, penderitaan dan sebagainya adalah bentuk proses yang terkadang Tuhan ijinkan untuk kita jalani.  Ketika diperhadapkan dengan proses itu kebanyakan dari kita akan mengeluh, bersungut-sungut, marah, kecewa, putus asa, protes, menyalahkan orang lain, menyalahkan keadaan dan bahkan menyalahkan Tuhan.  Sadar atau tidak, semuanya itu adalah salah satu cara yang dipakai Tuhan untuk menegur kita, melatih iman kita dan membentuk kita supaya menjadi pribadi yang berkualitas.  Tetapi semua sangat bergantung pada cara pandang tiap-tiap orang dalam menyikapinya.  Kalau kita melihat dari sisi positif, tekanan yang ada justru semakin menyadarkan kita akan keterbatasan dan kekurangan yang dimiliki, sehingga hal itu akan mendorong kita untuk mencari Tuhan dengan sungguh, bergantung pada-Nya dan berharap hanya kepada Tuhan;  kita yang sebelumnya hidup menyimpang dari jalan-jalan Tuhan kini mulai belajar memiliki penyerahan diri penuh dengan kehendak Tuhan.

     Pemazmur memiliki pengalaman hidup yang demikian:  "Sebelum aku tertindas, aku menyimpang, tetapi sekarang aku berpegang pada janji-Mu."  (ayat 67).  Jadi, selalu ada maksud yang Tuhan ingin sampaikan melalui keadaan yang mungkin tidak menyenangkan dan sangat menyakitkan secara daging, yaitu supaya kita tidak lagi hidup dalam pelanggaran demi pelanggaran, dan semakin menyadari bahwa selama ini kita telah jauh meninggalkan Tuhan dan hidup sekehendak hati.

Tekanan-tekanan dalam kehidupan akan membentuk kita menjadi pribadi yang tidak mudah rapuh, semakin kuat dan berkenan di pemandangan Tuhan!

Tuesday, August 1, 2017

PEMIMPIN SEJATI: Berjiwa Besar dan Menjadi Berkat

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 1 Agustus 2017

Baca:  Filipi 3:17-21

"Saudara-saudara, ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu."  Filipi 3:17

Pada 28 Februari 2013 silam dunia dikejutkan dengan berita mundurnya Paus Benediktus XVI dari jabatannya sebagai pemimpin Takhta Suci Vatikan.  Alasan utama yang membuatnya mundur adalah karena faktor usia  (85 tahun)  dan kesehatannya yang terus menurun.  Beliau merasa inilah saatnya menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan kepada generasi yang lebih muda.  Kita teringat Musa yang menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan atas Israel kepada Yosua.  "Aku sekarang berumur seratus dua puluh tahun; aku tidak dapat giat lagi,"  (Ulangan 31:2).

     Adalah tidak mudah bagi banyak orang untuk meninggalkan segala sesuatu yang selama ini telah menjadi zona nyaman, atau melepaskan kekuasaan yang selama ini berada di tangan.  Butuh keberanian dan kerendahan hati untuk melakukannya!  Ini berbeda dengan pemimpin-pemimpin di masa sekarang ini, di mana kebanyakan mereka enggan melepaskan jabatan dan kekuasaannya.  Kalau bisa jangan sampai jatuh ke tangan orang lain.  Sudah menjadi rahasia umum bahwa pemimpin seringkali menggunakan jurus  'aji mumpung'  memanfaatkan jabatan dan kekuasaannya untuk berlaku semena-mena, memeras bawahan dan juga memperkaya diri sendiri.  "Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka."  (Matius 20:25).  Sedikit sekali pemimpin yang berani berkata seperti rasul Paulus:  "Saudara-saudara, ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu."  (Filipi 3:17).

     Sadarkah, bahwa sebagai orang percaya, kita ini sesungguhnya adalah seorang pemimpin, entah itu pemimpin rohani bagi jemaat, pemimpin dalam keluarga, pemimpin kantor dan sebagainya?  Sudahkah kita menjadi pemimpin yang mampu memberikan teladan yang baik, ataukah kita pemimpinn yang justru menjadi batu sandungan?

"Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."  Matius 5:16

Monday, July 31, 2017

DI DALAM KRISTUS HANYA ADA 'YA'

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 31 Juli 2017

Baca:  2 Korintus 1:12-24

"Sebab Kristus adalah 'ya' bagi semua janji Allah. Itulah sebabnya oleh Dia kita mengatakan 'Amin' untuk memuliakan Allah."  2 Korintus 1:20

Kebimbangan adalah salah satu faktor penghalang untuk memperoleh apa yang Tuhan janjikan, selain dosa.  Yakobus menulis:  "...orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan."  (Yakobus 1:6-7).  Selama kita membiarkan kebimbangan menari-nari di hati dan pikiran jangan pernah berharap bahwa kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan dari Tuhan.

     Tuhan Yesus menegaskan,  "Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya."  (Markus 11:23).  Bila kita ingin melihat dan mengalami perkara-perkara yang dahsyat dinyatakan di dalam kita, jauhkan segala kebimbangan, dan taruhlah selalu kata 'ya' dalam hati.  Masih ada orang Kristen yang menganggap bahwa janji-janji Tuhan itu bohong alias palsu, karena mereka sudah sekian tahun lamanya mengikut Tuhan tapi hidupnya tidak mengalami perubahan yang berarti.  Bagaimana dan mengapa janji-janji firman Tuhan tidak tergenapi dalam hidupnya?  Karena dalam hati dan pikiran  ada  'ya'  dan  'tidak'.  'Ya dan tidak'  sama sekali tak dapat digabungkan, sama seperti terang dan gelap,  "...bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?"  (2 Korintus 6:14).

     Bila kita berdoa meminta sesuatu kepada Tuhan, kita harus yakin dan membayangkan bahwa kita sudah menerimanya.  "...apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu."  (Markus 11:24).  Mengapa demikian?  Sebab  "...di dalam Dia hanya ada 'ya'."  (2 Korintus 1:19), dan  "Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?"  (Bilangan 23:19).  Karena itu pegang kebenaran firman Tuhan ini, dan percayalah bahwa cepat atau lambat janji-Nya pasti digenapi.

"Janji TUHAN adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah."  Mazmur 12:7

Sunday, July 30, 2017

TUHAN MENYEDIAKAN SEGALA SESUATU BAGI KITA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 30 Juli 2017

Baca:  Yesaya 64:1-12

"Tidak ada telinga yang mendengar, dan tidak ada mata yang melihat seorang allah yang bertindak bagi orang yang menanti-nantikan dia; hanya Engkau yang berbuat demikian."  Yesaya 64:4

Ada kalanya orang-orang Kristen mengalami kemunduran iman, semangat mengiring Tuhan meredup.  Apa sebab?  Doa-doa mereka belum dijawab Tuhan!  Sementara mereka melihat orang yang tidak sungguh-sungguh dalam Tuhan kebutuhannya sepertinya selalu tersedia.  Benarkah Tuhan tidak melakukan sesuatu bagi umat-Nya?

     Tidak semua perkara dapat dilihat manusia akan apa yang Tuhan sediakan bagi orang yang tekun menanti-nantikan Dia, sebab ada tertulis:  "Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini."  (Ulangan 29:29).  "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia."  (1 Korintus 2:9).  Ada yang mempelajari Alkitab sedemikian rupa dengan tujuan ingin memperoleh hidup kekal dan mendapatkan apa yang diinginkan.  Sekalipun mereka memiliki pengetahuan yang mumpuni tentang Alkitab, namun jika tidak datang kepada Yesus, pengetahuannya tidak dapat menolong.  "Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu."  (Yohanes 5:39-40).

     Jika Saudara ingin diselamatkan dan memiliki hidup kekal hanya ada satu pilihan, yakni datang kepada Tuhan Yesus dan percaya kepada-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat, sebab  "...keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan."  (Kisah 4:12).  Meski tidak ada mata yang melihat atau telinga yang mendengar, percayalah Tuhan telah sediakan segala sesuatu bagi orang yang tekun menanti-nantikan dan mengasihi-Nya.

Semua orang yang menantikan Tuhan takkan mendapat malu!  Mazmur 25:3

Saturday, July 29, 2017

STATUS BOLEH BERUBAH, HATI TETAP TERJAGA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 29 Juli 2017

Baca:  Amsal 30:1-14

"Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku."  Amsal 30:9

Tak bisa dipungkiri perubahan status sosial atau tingkat ekonomi seseorang seringkali mempengaruhi sikap hati dan gaya hidupnya.  Ketika orang masih hidup dengan segala kesederhanaan tidak banyak hal yang ia tuntut dalam kehidupannya.  Seberapa pun berkat yang diterima, dari hati tetap keluar ucapan syukur seperti yang rasul Paulus katakan,  "...aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan."  (Filipi 4:11), dan bahkan dapat berkata,  "Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah."  (1 Timotius 6:8).  Dalam situasi itu kehidupan rohaninya dapat terjaga dengan baik.  Berdoa dan membaca Alkitab dilakukan secara tekun, jam-jam ibadah tak pernah ditinggalkan, dan bahkan tampak giat melayani pekerjaan Tuhan.

     Seiring dengan berjalannya waktu, ketika doa-doanya beroleh jawaban dari Tuhan sehingga hidupnya dipulihkan dan terberkati secara materi, tanpa sadar perubahan pun terjadi.  Gaya hidup dan sikap hati berubah secara drastis!  Suami semakin disibukkan dengan kegiatan-kegiatan di kantor yang memaksanya untuk pulang selalu terlambat, isteri mulai mencari kesibukan lain untuk mengusir rasa sepi di rumah.  Dampaknya:  anak menjadi kurang perhatian dan memberontak.  Kehidupan rohani pun terkena imbasnya:  saat teduh  (berdoa dan baca Alkitab)  tidak lagi dianggap penting, pertemuan-pertemuan ibadah sering ditinggalkan, dan akhirnya persekutuan dengan Tuhan pun menjadi renggang.  Mengapa?  Mereka merasa tidak lagi membutuhkan Tuhan, karena apa yang dibutuhkan telah tersedia sehingga tak perlu lagi bergumul dalam doa dengan deraian air mata.  Ternyata bukan hanya saat dalam kekurangan orang bisa meninggalkan Tuhan, tapi dalam keadaan keadaan terberkati ada banyak orang meninggalkan Tuhan karena terlena, takabur atau lupa diri.

     Kelimpahan materi dan berkat bisa menjadi celah bagi Iblis untuk menjerat hidup seseorang, kemudian ia mencondongkan hatinya kepada harta dan tidak lagi tertuju kepada Tuhan.

"Adakah kamu sebodoh itu? Kamu telah mulai dengan Roh, maukah kamu sekarang mengakhirinya di dalam daging?"  Galatia 3:3

Friday, July 28, 2017

MENGAPA HATIMU GELISAH?

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 28 Juli 2017

Baca:  Mazmur 43:1-5

"Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!"  Mazmur 43:5

Rasa gelisah adalah perasaan yang dialami semua orang.  Itu adalah hal yang wajar.  Gelisah bisa diartikan rasa tidak tenteram, suasana hati yang selalu merasa khawatir, tidur tidak tenang, tidak sabar dalam hal menanti.  Jika memperhatikan situasi akhir-akhir ini tidaklah mengherankan banyak orang hidup dalam kegelisahan.  Jika terjadi hujan lebat orang-orang di bantaran sungai diliputi kegelisahan karena takut banjir melanda, pun mereka yang tinggal di lereng-lereng gunung yang rawan longsor.  Bukan hanya itu, para isteri hatinya selalu diliputi rasa gelisah ketika melihat suaminya sering terlambat pulang dari kantor tanpa ada alasan yang jelas.  Sungguh benar yang Ayub katakan,  "Manusia yang lahir dari perempuan, singkat umurnya dan penuh kegelisahan."  (Ayub 14:1).

     Kegelisahan hebat juga pernah dialami oleh murid-murid ketika mendengar bahwa Gurunya akan pergi meninggalkan mereka, padahal Tuhan Yesus tidak mengatakan bahwa Ia pergi dan takkan kembali, melainkan Ia akan pergi dan segera kembali.  Melihat hal itu berkatalah Tuhan kepada mereka,  "Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku...  Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada."  (Yohanes 14:1-3).  Tuhan Yesus telah memberi solusi untuk kita terbebas dari rasa gelisah yaitu percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.

     Apakah Saudara saat ini sedang dalam kegelisahan karena masalah berat yang menekan?  Segeralah datang kepada Tuhan Yesus dan percayalah kepada-Nya karena Dia adalah jalan dan kebenaran dan hidup  (baca  Yohanes 14:6).  Ketika bertemu dengan Tuhan Yesus seorang perempuan Samaria mengalami pemulihan hidup karena ia telah menemukan jawaban dan jalan keluar dari pergumulan yang selama ini ia cari.  Dan kepada Lazarus, Tuhan Yesus telah membuktikan bahwa Ia adalah Sumber hidup.

Kegelisahan takkan melanda jika kita benar-benar menyerahkan semua permasalahan hidup kepada Tuhan dan percaya kepada-Nya!

Thursday, July 27, 2017

MEMBERI PERSEMBAHAN: Perwujudan Kasih

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 27 Juli 2017

Baca:  2 Korintus 8:1-15

"Sebab kamu dibebani bukanlah supaya orang-orang lain mendapat keringanan, tetapi supaya ada keseimbangan."  2 Korintus 8:13

Kehidupan Kristen selalu identik dengan kasih, dan perwujudan kasih adalah sebuah pemberian atau persembahan.  Semakin kita bertumbuh dewasa secara rohani semakin kita mengerti bagaimana seharusnya kita mengasihi Tuhan dan memuliakan nama-Nya.  Mengasihi Tuhan perlu ada bukti, bukan sekedar kata-kata hampa, yaitu melalui persembahan:  "...supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati."  (Roma 12:1).  Orang yang mengasihi Tuhan pasti tidak akan pernah hitung-hitungan dengan hartanya, waktunya, tenaganya, talentanya, dan bahkan seluruh hidupnya.

     Tingkat pemberian persembahan pertama dan wajib adalah persepuluhan.  "Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan."  (Maleakhi 3:10).  Semua orang percaya, tanpa terkecuali, wajib memberi persepuluhan.  Persepuluhan itu milik Tuhan dan wajib dikembalikan kepada-Nya, karena Dia adalah Pemilik segala sesuatu dan Pemberi segala kasih karunia.  Orang yang menolak untuk mengembalikan persepuluhan berarti telah menipu dan mencuri milik Tuhan.  "Bolehkah manusia menipu Allah? Namun kamu menipu Aku. Tetapi kamu berkata: 'Dengan cara bagaimanakah kami menipu Engkau?' Mengenai persembahan persepuluhan dan persembahan khusus!"  (Maleakhi 3:8).

     Selanjutnya adalah persembahan khusus.  Ini adalah pemberian persembahan di luar persepuluhan, yang harus diberikan secara sukarela, sukacita dan tanpa paksaan.  "...jika kamu rela untuk memberi, maka pemberianmu akan diterima, kalau pemberianmu itu berdasarkan apa yang ada padamu, bukan berdasarkan apa yang tidak ada padamu."  (2 Korintus 8:12).  Kita memberi persembahan khusus sebagai rasa syukur atas kebaikan Tuhan, untuk menolong orang lain yang kekurangan, atau mendukung pekerjaan Tuhan.

"Berilah dan kamu akan diberi...  Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu."  Lukas 6:38