Friday, October 20, 2017

DALAM KEBERSAMAAN DAN KERUKUNAN: ada Kekuatan dan berkat (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 20 Oktober 2017

Baca:  1 Korintus 1:10-17

"...aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir."  1 Korintus 1:10

Bertikai, bermusuhan dan terpecah belah adalah keadaan yang sangat ditunggu-tunggu oleh Iblis.  Ketika umat Tuhan saling bertikai, bermusuhan dan terpecah belah, itulah saat yang tepat bagi Iblis untuk memasukkan pengaruh jahatnya.  Ketika keluarga-keluarga Kristen dan gereja-Nya dalam kondisi seperti ini, bukannya kekuatan yang kita peroleh, tapi kehancuran yang didapat.  Ada kalimat bijak bahasa Jawa:  "Crah agawe bubrah, rukun agawe santoso."  Pertikaian menciptakan kehancuran, kerukunan membangun kekuatan.  "Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa dan setiap kota atau rumah tangga yang terpecah-pecah tidak dapat bertahan."  (Matius 12:25).

     Berbeda pendapat, berbeda pandangan, ketidakcocokan, adalah hal yang mudah kita temukan di mana pun berada, tak terkecuali di dalam gereja atau di antara jemaat Tuhan.  Ketika kita dihadapkan pada perbedaan-perbedaan, hal yang harus dilakukan adalah mencari solusi atau titik temu, sampai diperoleh kesepakatan, bukannya malah membesar-besarkan perbedaan, lalu saling menyalahkan, saling bermusuhan, saling menebar gosip, saling menghasut atau membentuk kubu-kubu.  Jika hal ini terjadi, sama artinya kita sedang dipermainkan oleh Iblis dan termakan oleh siasat liciknya.  Jangan biarkan perpecahan terjadi, jangan biarkan Iblis mengambil keuntungan dari ketidakharmonisan ini.  Rasul Paulus memperingatkan bahwa sebagai orang percaya  "...kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah,"  (Efesus 2:19).

     Tuhan Yesus berkata,  "Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi."  (Yohanes 13:34-35).  Buang semua keegoisan, kepentingan diri sendiri dan juga gengsi!  Bagaimana kita mengasihi orang-orang di luar sana, jika terhadap saudara seiman saja kita saling bermusuhan?

Ingin berkat Tuhan mengalir seperti sungai?  Bangun kebersamaan dan kerukunan.

Thursday, October 19, 2017

DALAM KEBERSAMAAN DAN KERUKUNAN: ada Kekuatan dan Berkat (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 19 Oktober 2017

Baca:  Mazmur 133:1-3

"Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!"  Mazmur 133:1

Salah satu hal yang sangat dibenci dan ditakuti Iblis adalah ketika orang percaya hidup dalam kebersamaan dan kerukunan.  Iblis benci melihat keluarga-keluarga Kristen hidup rukun dan hamba-hamba Tuhan saling bergandengan tangan.  Itulah sebabnya Iblis selalu mencari cara dan celah untuk menciptakan perpecahan dan pertikaian dalam hidup orang percaya.  Alkitab secara gamblang menyatakan Iblis adalah pencuri, yang  "...datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan."  (Yohanes 10:10).

     Mengapa Iblis benci dan takut dengan kebersamaan dan kerukunan orang percaya?  Karena ia tahu bahwa di dalam kebersamaan dan kerukunan akan tercipta sebuah kekuatan yang luar biasa.  "Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya."  (Mazmur 133:3b).  Raja Daud mengibaratkan kebersamaan dan kerukunan itu seperti minyak yang mengalir dari janggut ke leher jubah Harun  (Mazmur 133:2).  Harun adalah imam besar  (baca  Keluaran 30:30), sehingga minyak yang dimaksudkan di sini adalah minyak urapan yang mengalir saat prosesi pengurapan Imam Besar Harun.  Tentunya minyak urapan dan prosesi pengurapan Imam Besar ini sangat luar biasa indah dan baiknya.  Itulah yang terkandung dalam kebersamaan dan kerukunan.  Di mana ada kebersamaan dan kerukunan di antara umat Tuhan, di situlah ada sukacita, pemulihan, pengampunan dan perkenanan Tuhan.

     Raja Daud juga mengibaratkan kebersamaan dan kerukunan itu seperti embun gunung Hermon  (Mazmur 133:3).  Gunung Hermon memiliki ketinggian lebih dari 2.700 meter, menonjol di ufuk timur laut.  Salju menyelimuti puncak-puncaknya yang tertinggi sampai pertengahan musim panas.  Gunung ini terlihat dari tempat yang sangat jauh.  Ketinggian yang mengesankan, air yang berlimpah-limpah.  Dari gunung inilah sumber air bagi danau Galilea, yang kemudian mengalir melalui bukit-bukit Sion, seperti dinyanyikan pemazmur.  Embunnya juga menyegarkan tanaman dan membasahi semua pepohonan yang ada di sekitarnya.  Ini berbicara tentang suatu kehidupan yang dampaknya dapat dirasakan oleh orang-orang yang ada di sekitarnya alias menjadi berkat.

Wednesday, October 18, 2017

KETAATAN YANG TELAH TERUJI (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 18 Oktober 2017

Baca:  Matius 4:1-11

"Lalu Iblis meninggalkan Dia, dan lihatlah, malaikat-malaikat datang melayani Yesus."  Matius 4:11

Tak disangkal bahwa makanan jasmani adalah kebutuhan yang paling fundamental bagi manusia, karena diperlukan untuk kelangsungan hidup.  Tetapi tujuan hidup manusia bukan semata-mata untuk makan.  Ada kebutuhan lain yang jauh lebih penting dari makanan jasmani, yang dapat menentukan makna dan tujuan hidup manusia sesungguhnya, yaitu makanan rohani  (firman Tuhan).

     Gagal pada usaha pertama, Iblis tidak menyerah begitu saja dan terus mencobai Yesus dengan membawa Dia ke kota suci dan menempatkan-Nya di atas bubungan bait Suci.  "Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu."  (Matius 4:6).  Sebagai Mesias tentunya Yesus sangat membutuhkan pengakuan orang banyak, dan apabila Ia dapat melompat dari atas bubungan bait suci dengan selamat di hadapan khalayak, pastilah mereka akan mengakui Dia sebagai Mesias.  Namun Yesus menolak tawaran dan saran dari Iblis itu:  "Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!"  (Matius 4:7).  Yesus tidak mau mencobai Bapa dan tidak mau memperoleh popularitas sebagai Mesias dari orang banyak dengan cara mendemonstrasikan kekuatan kuasa-Nya.  Berbeda dengan sikap manusia umumnya yang cenderung tergoda untuk memperoleh popularitas dan pengakuan, dengan cara apa pun.

     Karena kembali gagal, Iblis membawa Yesus ke atas gunung yang tinggi dan memperlihatkan seluruh dunia dengan segala kemegahannya.  Semua itu akan diberikan kepada-Nya jika Ia mau menyembah Iblis  (Matius 4:8).  Yesus sama sekali tidak tergiur dengan tawaran itu.  Karena itu, Yesus berkata:  "Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!"  (Matius 4:10).  Akhirnya, Yesus keluar sebagai pemenang, kualitas pribadi-Nya benar-benar telah teruji.  Dia telah membuktikan kesetiaan dan ketaatan-Nya kepada Bapa.

Di tengah situasi sulit, mampukah kita tetap menjaga kualitas hidup kita yaitu taat dan setia kepada Tuhan?

Tuesday, October 17, 2017

KETAATAN YANG TELAH TERUJI (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 Oktober 2017

Baca:  Matius 4:1-11

"Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis."  Matius 4:1

Ada kalimat bijak mengatakan:  "Pelaut yang tangguh tidak terbentuk dari laut yang tenang."  Artinya kualitas hidup seseorang akan terlihat ketika ia dihadapkan pada proses ujian, ketika berhadapan langsung dengan masalah, kesulitan, krisis atau situasi-situasi sulit.  Dalam keadaan yang normal, mulus, baik, sehat dan sejahtera, umumnya semua orang akan mampu menyembunyikan sifat dan karakternya yang kurang baik dan sebaliknya menunjukkan hal-hal yang baik-baik saja.  Namun saat berhadapan dengan situasi sulit, buruk, krisis atau sesuatu yang mengancam dan membahayakan, seperti sakit-penyakit, kemiskinan atau penderitaan, sulit bagi kita untuk menyembunyikan jati diri atau karakter yang sesungguhnya.

     Untuk mengetahui kualitas yang sesungguhnya pada diri-Nya,  "...Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis."  (Matius 4:1).  Padang gurun adalah tempat yang sangat tandus dan kering.  Pada siang hari udaranya sangat panas dan sangat dingin di waktu malam.  Tidak ada makanan dan minuman, juga tidak ada pohon rindang untuk berteduh.  Padang gurun seringkali menjadi bayang-bayang maut bagi siapa saja yang berada di sana, seperti yang dikeluhkan oleh bangsa Israel ketika berada di padang gurun:  "Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini? Apakah yang kauperbuat ini terhadap kami dengan membawa kami keluar dari Mesir?"  (Keluaran 14:11).  Namun Yesus justru menjadikan padang gurun sebagai tempat Dia berpuasa selama 40 hari 40 malam.

     Setelah berpuasa selama 40 hari 40 malam, sebagai manusia, Yesus merasa lapar.  Kesempatan ini pun tidak disia-siakan oleh Iblis untuk mencobai-Nya dengan berkata,  "Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti."  (Matius 4:3).  Iblis menyapa Yesus sebagai Putera Bapa, hendak mengingatkan-Nya bahwa Ia memiliki kuasa untuk melakukan mujizat.  Dengan kuasa-Nya Yesus memang pasti mampu mengubah batu menjadi roti.  Iblis tahu persis bahwa makanan adalah kebutuhan pokok yang paling mendasar untuk kelangsungan hidup manusia.  Tetapi Yesus dapat melawan godaan Iblis ini dengan berkata,  "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah."  (Matius 4:4).

Monday, October 16, 2017

APAKAH HATI KITA TANAH YANG BAIK?

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 Oktober 2017

Baca:  Lukas 8:4-15

"Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan."  Lukas 8:15

Amsal 27:19:  "Seperti air mencerminkan wajah, demikianlah hati manusia mencerminkan manusia itu."  Itulah sebabnya kita harus menjaga kondisi hati kita dengan segala kewaspadaan, sebab dari situlah terpancar kehidupan  (baca  Amsal 4:23), dan dari hati timbul segala pikiran jahat  (baca  Matius 15:19).  Ini menunjukkan bahwa kondisi hati memiliki peranan penting dalam perjalanan hidup kita.  Apa yang terjadi dengan hidup ini sangat bergantung pada apa yang ada di hati, dan gambaran hidup yang sekarang sedang kita kita jalani adalah juga cerminan hati kita.  Kalau hati kita bersih, jalan hidup kita juga akan bersih;  jika hati kita penuh sukacita maka kita akan mengerjakan segala sesuatu juga dengan sukacita.  Tetapi apabila hati kita pahit, jalan yang kita tempuh pun akan diwarnai dengan kepahitan.

     Alkitab sering menggambarkan hati manusia sebagai tanah:  ada yang berbatu-batu, tanah di pinggiran jalan yang keras, tanah yang penuh semak duri, tetapi ada juga tanah yang subur, tanah di mana benih firman Tuhan dapat bertumbuh dan akan berbuah lebat.  Meskipun sama-sama mendengar firman Tuhan, dampaknya terhadap masing-masing orang berbeda, sangat bergantung pada kondisi  'tanah'  hati mereka.  Jika mereka mendengar firman, tetapi hati keras dan berbatu, firman Tuhan tidak akan berarti apa-apa dalam hidup mereka.

     Hati dikategorikan sebagai tanah yang baik apabila ia dalam keadaan bersih:  tidak ada kebencian, sakit hati, kepahitan, kecewa, dendam, atau ambisi-ambisi duniawi.  Sekalipun kita rajin datang ke ibadah dan mendengarkan khotbah berkali-kali, tetapi jika hati kita belum beres dari hal-hal tersebut  (benci, sakit hati, pahit, kecewa, dendam, ambisi dan lain-lain), maka firman Tuhan itu tidak akan berdampak dalam hidup kita.  "Apakah Dia yang menguji hati tidak tahu yang sebenarnya?"  (Amsal 24:12).  Tanah hati seperti ini harus dibajak, dicangkul, dibersihkan dan diratakan.  Daud berdoa:  "Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku;"  (Mazmur 139:23).

Benih firman yang tertanam di tanah hati yang baik pasti tumbuh dan berbuah lebat!

Sunday, October 15, 2017

BAGAIMANA MENJADI YANG TERBESAR?

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 Oktober 2017

Baca:  Lukas 9:46-48

"Maka timbullah pertengkaran di antara murid-murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka."  Lukas 9:46

Siapa yang tak mau menjadi yang terbesar, terhebat, terbaik dan terkenal di bidangnya masing-masing?  Semua insan yang ada di dunia ini sangat menginginkan semuanya itu.  Maka demi mewujudkan keinginan itu tidak sedikit orang berani menempuh jalan yang sesat alias menghalalkan segala cara:  meminta petunjuk kepada paranormal, memakai susuk penglaris, menyuap, berlaku curang, sikut sana sini, atau jegal sana sini.  Dunia ini penuh dengan orang yang hatinya penuh siasat dan kecurangan.

     Perhatikan prinsip yang diajarkan oleh Tuhan Yesus:  "Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."  (Matius 20:26-28).  Untuk menjadi yang terbesar justru harus dimulai dari menjadi seorang hamba atau pelayan bagi sesamanya.  Dengan kata lain, siapa yang ingin menjadi tuan harus rela menjadi hamba terlebih dahulu.  Ini berbicara tentang kerendahan hati!  Tuhan sangat menentang orang yang berlaku congkak dan mengasihani orang yang rendah hati  (baca  Yakobus 4:6).  Tuhan tidak pernah melarang kita memiliki impian, harapan atau ambisi yang besar;  Tuhan tidak pernah melarang kita memiliki tekad yang kuat untuk menjadi terbesar.  Asalkan impian, harapan, ambisi itu dapat menjadi motor penggerak yang dapat mendorong kita untuk maju dan menjadi lebih baik.  Tetapi kalau ambisi dan keinginan tersebut mulai mengarah ke negatif dan bertentangan dengan kehendak Tuhan, itu yang patut diwaspadai.

     Yang terbesar di pemandangan Tuhan bukanlah mereka yang mempunyai kemampuan luar biasa, tapi mereka yang mau melayani, merendahkan hati, dan mau berkorban bagi Tuhan dan sesama.  Berarti menjadi orang yang terbesar sangat ditentukan oleh kualitas hidupnya sendiri.  Orang-orang yang hatinya tulus, rendah hati, bersih dan apa adanya dengan Tuhan, seperti seorang anak kecil, itulah yang Tuhan cari.

"Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."  Matius 23:12

Saturday, October 14, 2017

WASPADA TERHADAP AJARAN SESAT

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 Oktober 2017

Baca:  2 Korintus 11:1-6

"Tetapi aku  (Paulus)  takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya."  2 Korintus 11:3

Alkitab menyatakan bahwa di masa-masa akhir  "...Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga."  (Matius 24:24).  Inilah pekerjaan Iblis yang berusaha dengan segala cara mengelabui dan menghasut banyak orang percaya dengan memunculkan ajaran-ajaran yang menyimpang dari Injil Kristus, supaya dalam diri mereka timbul keragu-raguan dan ketidakpercayaan.  Bagi orang percaya yang tidak berakar kuat di dalam Tuhan dan firman-Nya pasti akan mudah terseret.  Inilah yang rasul Paulus takutkan dan kuatirkan!

     Banyak di antara kita yang hanya diam seribu basa, tidak bisa bersikap tegas, dan tak kuasa menolak ketika kedatangan orang-orang yang memberitakan ajaran-ajaran yang bertentangan dengan Injil Kristus.  Bahkan ada orangtua yang justru menyarankan anak-anaknya belajar kepada mereka dengan alasan untuk perbandingan.  "Sebab kamu sabar saja, jika ada seorang datang memberitakan Yesus yang lain dari pada yang telah kami beritakan, atau memberikan kepada kamu roh yang lain dari pada yang telah kamu terima atau Injil yang lain dari pada yang telah kamu terima."  (2 Korintus 11:4).  Berhati-hatilah!  Jangan sekali-kali kita kompromi!  "Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus. Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu yang terakhir."  (1 Yohanes 2:18).

     Orang percaya harus ekstra waspada menanggapi ajaran sesat dari orang-orang yang mengaku utusan Kristus, padahal mereka seperti musuh dalam selimut.  Lengah sedikit, mereka siap menerkam!  Rasul Paulus berkata:  "Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia."  (Galatia 1:8).

Melekat kepada Tuhan dan berakar dalam firman adalah kunci melawan tipuan Iblis!

Friday, October 13, 2017

MEMUNGKIRI KEBESARAN KUASA TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 Oktober 2017

Baca:  Ayub 11:1-20

"Dapatkah engkau memahami hakekat Allah, menyelami batas-batas kekuasaan Yang Mahakuasa? Tingginya seperti langit - apa yang dapat kaulakukan? Dalamnya melebihi dunia orang mati - apa yang dapat kauketahui?"  Ayub 11:7-8

Sungguh mengherankan jika sampai hari ini masih ada orang yang tidak percaya bahwa Tuhan itu ada.  Mereka bertanya:  "Bagaimana kita dapat meyakini Tuhan itu benar-benar ada?"  Padahal setiap hari kita melihat keajaiban-keajaiban alam terjadi di depan mata:  keindahan bunga yang bermekaran di padang, pertumbuhan tanaman dan buah-buah yang dihasilkan, siapakah yang berkarya di balik itu?  Belum lagi keagungan benda-benda di langit, di angkasa yang begitu menakjubkan.  Siapa yang memerintahkan matahari untuk terbit dari ufuk timur dan memancarkan sinarnya secara penuh pada siang hari, serta bintang-bintang dan rembulan menerangi bumi pada malam hari?  Mengapa selalu tepat waktu dan tidak pernah tertukar waktunya?  Siapakah yang mengatur planet-planet sehingga semuanya berjalan dengan teratur tanpa dikendalikan oleh suatu alat yang terlihat oleh mata jasmani?  Tuhan-lah tentu yang mengatur  (baca  Yeremia 33:25).

     Kalau mau jujur, pasti kita akan mengakui bahwa semuanya itu ada yang mengatur dan mengendalikan, yaitu Tuhan,  "Punya-Mulah langit, punya-Mulah juga bumi, dunia serta isinya Engkaulah yang mendasarkannya. Utara dan selatan, Engkaulah yang menciptakannya, Tabor dan Hermon bersorak-sorai karena nama-Mu. Punya-Mulah lengan yang perkasa, kuat tangan-Mu dan tinggi tangan kanan-Mu."  (Mazmur 89:12-14).  Jelas bahwa alam semesta dan semua yang ada di bawah langit dan di atas bumi telah memperlihatkan keberadaan Tuhan sebagai Sang Pencipta.

     Adalah sebuah kebodohan jika manusia berusaha untuk memungkiri, meragukan dan bahkan menolak Tuhan secara mentah-mentah, serta menganggap bahwa Tuhan itu tidak ada.  Karena itu mereka dengan sengaja tak mau taat kepada firman yang telah ditetapkan di dalam Alkitab.  Siapakah kita ini sehingga merasa gengsi untuk mengakui bahwa sesungguhnya kita ini penuh dengan keterbatasan dan membutuhkan Juruselamat dalam hidup ini?  Bapa telah menyediakan jalan keselamatan melalui Yesus Kristus, tetapi banyak orang dengan sombong tak mau mengakui, apalagi menerima-Nya.

"Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi; Dia memberi perintah, maka semuanya ada."  (Mazmur 33:9).  Masihkah kita tak percaya kepada-Nya?

Thursday, October 12, 2017

KRISTUS : Fondasi Hidup Orang Percaya

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 Oktober 2017

Baca:  Matius 16:13-20

"Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya."  Matius 16:18

Fondasi adalah hal terpenting dari suatu bangunan.  Mengapa?  Sebab kualitas fondasi sebuah bangunan akan menentukan batasan seberapa kokoh dan seberapa tinggi bangunan bisa dibangun di atasnya.  Begitu pula dalam kehidupan rohani, hukum yang sama juga berlaku.  Kehidupan orang percaya itu diumpamakan seperti sebuah bangunan.  Karena itu penting sekali memperhatikan fondasi hidup kita, sebab fondasi akan menentukan kualitas kerohanian kita.

     Tuhan Yesus berkata,  "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu."  (Matius 7:24-25).  Alkitab jelas menyatakan bahwa fondasi hidup orang percaya adalah Tuhan Yesus sendiri, bukan yang lain seperti tertulis:  "...tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus."  (1 Korintus 3:11).  Jadi, yang menjadi fondasi hidup orang percaya bukanlah sebuah pelayanan, keanggotaan atau jabatan dalam struktur keorganisasian di sebuah gereja dan sebagainya.  "Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan."  (1 Petrus 2:6).

     Nama Petrus dalam bahasa Yunani adalah petros yang memiliki arti batu kecil atau kerikil.  Adapun batu karang dalam bahaasa Yunani adalah petra yang artinya batu besar.  Artinya bahwa gereja tidak dibangun di atas pribadi Petrus, yang adalah seorang manusia lemah, penuh keterbatasan dan mudah sekali rapuh, seperti batu kecil atau kerikil.  Gereja yang dibangun diatas pribadi manusia takkan mampu berdiri kokoh dan mudah sekali diombang-ambingkan.  Bukti nyata adalah perjalanan rohani Petrus sendiri yang pernah menyangkal Tuhan Yesus sebanyak tiga kali.  Satu-satunya fondasi hidup yang kokoh bagi orang percaya, tak lain dan tak bukan, hanyalah Tuhan Yesus sendiri.

"Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah."  Mazmur 62:3

Wednesday, October 11, 2017

MENABUR GANDUM: Menuai Semak Duri (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 Oktober 2017

Baca:  Matius 13:1-8

"Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat."  Matius 13:8

Seluruh cara dan motivasi orang menabur pasti akan menentukan tuaian.  Perhatikan sikap hati saat menabur, jangan sampai ada motif terselubung atau tendensi yang tidak benar.  Ini yang dimaksudkan dengan menabur gandum, tetapi hati penuh semak duri.  "Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu."  (Galatia 6:7-8).

     Apakah lagi yang harus diperhatikan saat menabur?  Tekun dan sabar.  Petani yang sedang menabur tidak seketika menuai, ia harus menunggu sampai benih itu tumbuh.  Butuh proses dan waktu!  Terkadang petani harus menghadapi panas terik matahari, hujan, angin atau badai.  Kalau ia tidak tekun dan sabar ia pasti akan menyerah dan berputus asa.  Yakobus menasihati,  "Karena itu, saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan Tuhan! Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi."  (Yakobus 5:7).  Pada saatnya pasti akan menghasilkan sesuatu yang indah.  "Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya."  (2 Timotius 2:6).  Saat berada dalam  'proses'  tak perlu kita menjadi panik, kecewa, mengeluh atau bersungut-sungut, sebab proses itu sifatnya hanya sementara waktu.  Belajarlah untuk sabar dan berserah penuh kepada Tuhan.  Lakukan yang terbaik.  Ada tertulis:  "Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga,"  (Pengkhotbah 9:10).  Artinya apa pun yang kita kerjakan dalam hidup ini lakukanlah itu dengan segenap hati, jangan setengah-setengah.  Tuhan telah memperlengkapi kita dengan segala potensi, namun jika kita mengerjakan segala sesuatu yang dipercayakan-Nya dengan setengah-setengah, berarti kita telah menyia-nyiakan potensi yang Dia beri, dan itu berdosa.

"Taburkanlah benihmu pagi-pagi hari, dan janganlah memberi istirahat kepada tanganmu pada petang hari, karena engkau tidak mengetahui apakah ini atau itu yang akan berhasil, atau kedua-duanya sama baik."  Pengkhotbah 11:6

Tuesday, October 10, 2017

MENABUR GANDUM: Menuai Semak Duri (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 Oktober 2017

Baca:  Yeremia 12:7-13

"Mereka telah menabur gandum, tetapi yang dituai adalah semak duri; mereka telah bersusah payah, tetapi usaha mereka tidak berguna; mereka malu karena hasil yang diperoleh mereka, akibat dari murka TUHAN yang menyala-nyala."  Yeremia 12:13

Di dalam kehidupan ini, ada hukum rohani sekaligus hukum alami yaitu hukum tabur-tuai.  Ada tertulis:  "Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam."  (Kejadian 8:22).  Apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.  Tuhan adalah Tuhan dari tuaian, dan tuaian itu dipanen pada waktu-Nya, bukan waktu kita.  Kalau kita menabur kebaikan, maka yang akan kita tuai adalah kebaikan.  Sebaliknya kalau kita menabur hal-hal yang jahat, dampaknya pun akan kembali ke diri sendiri, kita akan menuai hal-hal yang jahat pula.  "Yang telah kulihat ialah bahwa orang yang membajak kejahatan dan menabur kesusahan, ia menuainya juga."  (Ayub 4:8).  Karena itu perhatikan dengan sungguh-sungguh apa yang kita tabur selama kita hidup di dunia ini.

     Secara teori, orang yang menabur gandum tentunya akan menuai gandum juga.  Tetapi ayat nas menyatakan bahwa ada orang yang menabur gandum namun yang dituai adalah semak duri.  Ini suatu keadaan yang sangat menyakitkan.  Mengapa bisa terjadi?  Karena Tuhan memperhatikan motivasi seseorang dalam melakukan segala sesuatu,  "Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati."  (Amsal 16:2)  dan  "...Ia mengetahui rahasia hati!"  (Mazmur 44:22).  Ketika kita memiliki motivasi yang tidak benar, jahat atau terselubung, Tuhan tahu secara persis, karena itu Ia tidak akan berkenan dengan apa pun yang kita perbuat.  Ia berkata,  "Banyak gembala telah merusakkan kebun anggur-Ku, memijak-mijak tanah-Ku, dan membuat tanah kedambaan-Ku menjadi padang gurun yang sunyi sepi."  (Yeremia 12:10).

     Motivasi atau sikap hati menentukan tuaian!  Banyak orang bersikap egois dan mau hidup seenak sendiri dengan menabur semak duri, tapi berharap menuai gandum.  Ada pula orang yang menabur gandum tapi disertai motivasi yang salah, maka semak durilah yang mereka tuai.  Yang harus diperhatikan saat menabur antara lain:  milikilah hati yang bersih.  Menabur dalam hal apa pun, untuk sesama atau untuk Tuhan dan pekerjaan-Nya, harus didasari dengan sikap hati yang bersih.