Sunday, June 24, 2018

IMAN: Tak Ada Perkara Mustahil

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 24 Juni 2018

Baca:  Ibrani 11:30-31

"Karena iman maka runtuhlah tembok-tembok Yerikho, setelah kota itu dikelilingi tujuh hari lamanya."  Ibrani 11:30

Kota Yerikho bukanlah kota yang lemah, sebab kota tersebut dikelilingi oleh tembok yang tebal, sehingga bukan pekerjaan yang mudah bagi bangsa-bangsa lain untuk dapat menaklukkan dan mendudukinya.  Mustahil bagi manusia, tapi tidak ada perkara yang mustahil bagi setiap orang yang hidup mengandalkan Tuhan dan beriman kepada-Nya.  Inilah buktinya:  ketika bangsa Israel mau taat melakukan kehendak Tuhan, sekalipun perintah Tuhan itu tidak masuk di akal, tidak logis, mereka berhasil menduduki kota itu.  Bukan karena kekuatan militernya, bukan pula karena kemahiran Yosua dalam mengatur strategi perang, tapi karena mereka mau memraktekkan apa yang diperintahkan Tuhan.  Inilah iman yang disertai dengan perbuatan, sebab  "Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati."  (Yakobus 2:17).

     Pergumulan berat apa yang Saudara alami saat ini?  Mungkin kita mendengar omongan orang lain yang sangat melemahkan:  "Percuma...penyakit semacam itu tidak mungkin sembuh.  Mustahil suamimu akan kembali ke rumah, dia sudah digondol wewe gombel  (diculik hantu - Red.).  Hutang sebanyak itu tak mungkin dapat terlunasi!"  Ada pelajaran berharga dari runtuhnya tembok Yerikho ini:  selama kita hidup mengandalkan Tuhan dan taat melakukan kehendak-Nya tidak ada hal yang terlalu besar yang tidak bisa diatasi.  Kalau kita fokus pada apa yang terlintas secara kasat mata mustahil tembok Yerikho  (gambaran dari masalah - Red.)  bisa runtuh.  Tetapi kalau kita mengarahkan pandangan kepada Tuhan yang ajaib segala perbuatan-Nya, maka masalah sebesar apa pun tidak ada arti apa-apa di hadapan Tuhan.  Namun seringkali kita tidak mau taat melakukan apa yang Tuhan perintahkan, dan memilih mengandalkan kekuatan sendiri, menggunakan cara sendiri mengatasi masalah.  "Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri."  (Amsal 3:5).

     Yosua dan bangsa Israel hanya disuruh untuk berjalan mengelilingi kota Yerikho sekali sehari selama 6 hari lamanya dan pada hari yang ketujuh mereka harus mengelilingi kota itu tujuh kali, lalu diakhiri dengan sorak-sorai  (Yosua 6:3-5).

Cara Tuhan sering tidak masuk akal, tapi ketika kita taat, perkara besar terjadi!

Saturday, June 23, 2018

MEMBERITAKAN INJIL: Keberanian Ilahi

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 23 Juni 2018

Baca:  Kisah Para Rasul 4:23-31

"Dan sekarang, ya Tuhan, lihatlah bagaimana mereka mengancam kami dan berikanlah kepada hamba-hamba-Mu keberanian untuk memberitakan firman-Mu."  Kisah 4:29

Di masa-masa sulit seperti sekarang ini benih yang sering ditabur Iblis dalam diri orang percaya adalah ketakutan.  Inilah cara mudah bagi Iblis untuk melemahkan dan melumpuhkan orang percaya.  Selama orang percaya hidup dalam ketakutan, sampai kapan pun ia tak kan mampu menjadi laskar Kristus yang militan.

     Ketakutan membuat seseorang menjadi tawar hati.  Dan semakin tawar hati semakin kecil pula kekuatan yang dimilikinya  (Amsal 24:10).  Ketakutan membuat orang percaya melakukan tindakan kompromi, tidak lagi punya keberanian untuk hidup  'berbeda'  dengan dunia dan akhirnya terbawa arus yang ada;  ketakutan membuat orang percaya tidak berani untuk mengakui Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat di hadapan orang banyak;  ketakutan membuat orang percaya ragu untuk bersaksi memberitakan Injil kepada orang lain.  Petrus juga pernah mengalami ketakutan sehingga ia berani menyangkal Kristus di hadapan manusia sebanyak tiga kali.  Tantangan berat harus dihadapi oleh murid-murid Tuhan di zaman Kisah Para Rasul ini.  Ancaman datang dari pihak-pihak yang menentang Kristus, aniaya, penjara, dan bahkan hukuman mati, terus menghantui mereka yang berani memberitakan Injil.  Secara manusia hal itu mendatangkan ketakutan, tapi di sisi lain semangat mereka untuk memberitakan Kristus begitu menyala-nyala.  Yang mereka butuhkan saat itu hanyalah keberanian.  "...berikanlah kepada hamba-hamba-Mu keberanian untuk memberitakan firman-Mu."  (ayat nas).

     Saat ini banyak orang berusaha untuk menyembunyikan jati diri mereka sebagai pengikut Kristus karena takut dikucilkan oleh lingkungan, takut pamornya turun atau takut tidak lagi populer, takut dijauhi oleh teman atau sahabat dan sebagainya.  "Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Anak Manusia juga akan mengakui dia di depan malaikat-malaikat Allah. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, ia akan disangkal di depan malaikat-malaikat Allah."  (Lukas 12:8-9).  Buang rasa takut dan berdoalah kepada Tuhan memohon keberanian Ilahi!

"Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban."  2 Timotius 1:7

Friday, June 22, 2018

SIKAP MENGHADAPI PENDERITAAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 22 Juni 2018

Baca:  Ayub 10:1-22

"Aku telah bosan hidup, aku hendak melampiaskan keluhanku, aku hendak berbicara dalam kepahitan jiwaku."  Ayub 10:1

Ada beberapa sikap yang kemungkina ditunjukkan ketika seseorang dihadapkan pada masalah, penderitaan, kesulitan, kesukaran atau kesesakan:  1.  Kecewa, mengeluh, mengomel dan bersungut-sungut kepada Tuhan.  Lalu mereka akan membanding-bandingkan dengan keadaan orang-orang di luar Tuhan yang membuatnya merasa iri hati.  Pemazmur mengingatkan,  "Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang; sebab mereka segera lisut seperti rumput dan layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau. Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia,"  (Mazmur 37:1-3).

     Sikap membanding-bandingkan keadaan ini juga dilakukan oleh bangsa Israel ketika berada di padang gurun.  "Mengapakah TUHAN membawa kami ke negeri ini, supaya kami tewas oleh pedang, dan isteri serta anak-anak kami menjadi tawanan? Bukankah lebih baik kami pulang ke Mesir?"  (Bilangan 14:3)  dan  "Kita teringat kepada ikan yang kita makan di Mesir dengan tidak bayar apa-apa, kepada mentimun dan semangka, bawang prei, bawang merah dan bawang putih. Tetapi sekarang kita kurus kering, tidak ada sesuatu apapun, kecuali manna ini saja yang kita lihat."  (Bilangan 11:5-6).  2.  Meninggalkan Tuhan.  Karena terbentur masalah ada banyak orang Kristen yang tidak lagi bersungguh-sungguh mengikut Tuhan, berani menyangkal iman dan akhirnya meninggalkan Tuhan.  Mereka tergiur dengan tawaran-tawaran dunia yang memberi solusi untuk masalahnya.  Demas memilih untuk meninggalkan pelayanan hanya karena ia tidak tahan dengan kesulitan dan penderitaan, dan memilih untuk kembali kepada dunia.  "...Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku. Ia telah berangkat ke Tesalonika."  (2 Timotius 4:10).  Contohlah Paulus yang terus berjuang untuk melayani Tuhan, sekalipun harus melewati berbagai penderitaan dan nyawa menjadi taruhannya.

     Bila kita mudah kecewa kepada Tuhan hanya karena terbentur dengan keadaan yang tidak mengenakkan, berarti motivasi kita salah dalam mengikut Tuhan.  Mengikut Tuhan jangan hanya mau yang enak saja!  Ada harga yang harus dibayar.

Sikap atau respons terhadap masalah menunjukkan kualitas iman seseorang!

Thursday, June 21, 2018

KRISTEN SEJATI

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 21 Juni 2018

Baca:  Kisah Para Rasul 11:19-30

"Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen."  Kisah 11:26b

Sebutan  'Kristen'  yang pertama kali diberikan kepada para pengikut Kristus adalah di Antiokhia Siria.  Mereka disebut Kristen karena telah menunjukkan kualitas hidup yang mencerminkan Kristus dan tentunya  'berbeda'  dari orang-orang pada umumnya.  Sebutan atau predikat dan karakter semestinya identik, menjadi satu kesatuan.  Mendengar kata  'Kristen'  seringkali pandangan semua orang langsung tertuju kepada mereka yang tampak sibuk keluar-masuk gedung gereja, terlibat dalam kegiatan-kegiatan kerohanian di gereja, atau mereka yang tampak mengenakan aksesoris seperti kalung salib, mengenakan t-shirt atau mengendarai mobil yang bergambar atau berstiker ayat-ayat Alkitab.

     Benarkah demikian?  Ternyata tanda yang menunjukkan bahwa seseorang adalah pengikut Kristus  (Kristen)  bukan dilihat dari atribut-atribut yang dikenakan, melainkan dari perilaku atau gaya hidup sehari-hari.  Kita bisa meneladani cara hidup jemaat mula-mula.  Mereka mendapat sebutan sebagai orang percaya oleh karena mereka benar-benar percaya kepada Kristus dan memercayakan hidup kepada-Nya.  Selain itu mereka juga disebut murid Kristus karena kualitas hidup yang telah ditunjukkan:  tekun berdoa, tekun membaca dan merenungkan firman Tuhan, memraktekkan kasih dan meneladani cara hidup Kristus, Sang Guru Agung.  Mereka mau diajar dan dibentuk untuk menjadi serupa dengan Kristus sebab ada tertulis:  "Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup."  (1 Yohanes 2:6).

     Alkitab juga mencatat bahwa sebutan lain bagi orang Kristen pada waktu itu adalah pengikut jalan Tuhan.  Mereka menjadi sasaran Saulus  (Paulus sebelum bertobat)  untuk ditangkap dan dianiaya.  "Sementara itu berkobar-kobar hati Saulus untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan. Ia menghadap Imam Besar, dan meminta surat kuasa dari padanya untuk dibawa kepada majelis-majelis Yahudi di Damsyik, supaya, jika ia menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikuti Jalan Tuhan, ia menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem."  (Kisah 9:1-2).  Mengikuti jalan Tuhan berarti tidak berkompromi dengan cara hidup dunia!  "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini,"  (Roma 12:2).

Sudahkah kita layak disebut sebagai pengikut Kristus  (Kristen)  yang sejati?

Wednesday, June 20, 2018

TUHAN ADA DI PIHAK ORANG PERCAYA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 20 Juni 2018

Baca:  Roma 8:31-39

"Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?"  Roma 8:31

Salah satu hal yang membanggakan dalam diri kita sebagai orang percaya adalah kita punya Tuhan yang tidak pernah meninggalkan dan membiarkan kita sendirian  (Ibrani 13:5), Dia Imanuel, Tuhan beserta kita.  Jika Tuhan ada di pihak kita,  "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku."  (Filipi 4:13).

     Di depan kita tantangan semakin hari semakin berat, begitu pula dengan arus kehidupan duniawi yang begitu deras.  Jika kita tidak melekat kepada Tuhan dan berakar kuat di dalam Dia kita akan terseret dan tenggelam di dalamnya.  Belum lagi lawan kita yaitu Iblis,  "...berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya."  (1 Petrus 5:8).  Ingat!  Iblis selalu mencari celah dan waktu yang tepat untuk menghancurkan kehidupan manusia, dan waktu yang tepat itu adalah ketika kita sedang lengah dan tak berjaga-jaga.  karena itu Tuhan menasihati,  "Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah."  (Matius 26:41).  Kita tak perlu takut dan gentar menghadapi serangan Iblis,  "...sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia."  (1 Yohanes 4:4).  Jika Tuhan ada di pihak orang percaya Iblis tidak akan punya kuasa lagi atas hidup kita, sebab Tuhan telah memberi kita otoritas untuk mengusirnya.  "Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu."  (Lukas 10:19).

     Tak perlu kuatir dan cemas menghadapi dunia yang penuh goncangan ini, sebab kita menerima kerajaan yang tak tergoncangkan  (Ibrani 12:28).  Sekalipun badai hidup menerpa, percayalah bahwa Tuhan yang ada di pihak kita adalah Tuhan yang sanggup meneduhkan badai.  "dibuat-Nyalah badai itu diam, sehingga gelombang-gelombangnya tenang."  (Mazmur 107:29), dan  "Walau seribu orang rebah di sisimu, dan sepuluh ribu di sebelah kananmu, tetapi itu tidak akan menimpamu."  (Mazmur 91:7).

Tiada perkara yang mustahil dalam hidup ini jika Tuhan ada di pihak kita!

Tuesday, June 19, 2018

RATAPAN YANG MENDATANGKAN KEBAIKAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 19 Juni 2018

Baca:  Yesaya 15:1-9

"Puteri Dibon naik ke bukit-bukit pengorbanan untuk menangis; Moab meratap karena Nebo dan karena Medeba. Di situ semua orang menggundul kepalanya dan memotong janggutnya sebagai tanda berkabung."  Yesaya 15:2

Kapan biasanya kita mendengar orang meratap dan berkabung?  Ketika kita menghadiri sebuah acara pemakaman, atau ketika kita ditinggalkan oleh orang yang terkasih untuk selama-lamanya  (meninggal).  Tetapi Alkitab menyatakan,  "Pergi ke rumah duka lebih baik dari pada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya."  (Pengkhotbah 7:2).  Dalam hidup ini  "ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari;"  (Pengkhotbah 3:4).  Saat kita sedang berada di rumah duka dalam keadaan meratap dan berkabung saat itulah kita menyadari betapa fananya kehidupan manusia di dunia ini;  dan kita pun diingatkan untuk lebih memperhatikan hidup, tidak lagi sembrono dan menghargai betapa pentingnya waktu dan kesempatan.

     Dalam pembacaan firman Tuhan dinyatakan bahwa ratapan dan perkabungan harus dialami oleh orang-orang di Moab.  Tuhan menjatuhkan hukuman dan malapetka atas mereka oleh karena mereka memberontak kepada Tuhan dan melakukan banyak kejahatan.  Kita tahu bahwa orang-orang Moab adalah keturunan Lot dari hasil inses  (persetubuhan sedarah)  dengan anak kandungnya.  Setelah Lot dan kedua putrinya diselamatkan Tuhan keluar dari kota Sodom yang di bumihanguskan oleh murka Tuhan, pergilah Lot dan Zoar dan ia menetap bersama-sama dengan kedua anak perempuannya dalam suatu gua di pegunungan dan terjadilah hubungan terlarang ini.  Hukuman ini adalah sebagai bentuk teguran dan peringatan dari Tuhan, juga sebagai penegasan bahwa hanya Tuhanlah yang patut diagungkan dan disembah, bukan dewa-dewa atau berhala.

     Bersyukurlah jika Tuhan menegur keras kita dengan masalah atau situasi-situasi sulit yang membuat kita harus meratap dan berduka, itu pertanda bahwa Tuhan peduli dan sangat mengasihi kita.  Ini adalah cara Tuhan untuk menarik kita mendekat kepada-Nya;  dan ketika kita mau bertobat segala yang baik pasti Tuhan sediakan.

"Sesungguhnya, berbahagialah manusia yang ditegur Allah; sebab itu janganlah engkau menolak didikan Yang Mahakuasa."  Ayub 5:17

Monday, June 18, 2018

MEMEGAHKAN DIRI: Jahat di Mata Tuhan

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 18 Juni 2018

Baca:  Yesaya 10:5-19

"Adakah kapak memegahkan diri terhadap orang yang memakainya, atau gergaji membesarkan diri terhadap orang yang mempergunakannya? seolah-olah gada menggerakkan orang yang mengangkatnya, dan seolah-olah tongkat mengangkat orangnya yang bukan kayu!"  Yesaya 10:15

Dosa yang seringkali diperbuat oleh kebanyakan orang, tapi kurang mereka sadari, adalah memegahkan diri  (sombong).  Padahal memegahkan diri atau berlaku congkak itu sangat jahat di mata Tuhan.  Tuhan sangat menentang keras orang yang berlaku demikian.  Orang yang memegahkan diri adalah orang yang tidak tahu berterima kasih kepada Tuhan, orang yang tidak menyadari bahwa semua yang dimiliki adalah anugerah dari Tuhan.

     Kalau bukan karena Tuhan, keberhasilan, kesuksesan, dan juga kekayaan, takkan bisa diraih.  "Maka janganlah kaukatakan dalam hatimu: Kekuasaanku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini. Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan,"  (Ulangan 8:17-18).  Itulah sebabnya Tuhan menentang keras orang yang memegahkan diri sendiri.  Kalau kita tidak lagi menyadari akan anugerah Tuhan, saat itu pula kita akan merasa tidak membutuhkan Tuhan, merasa tidak perlu melibatkan Tuhan dan mengandalkan Dia di segala aspek kehidupan ini.  "Sebab ia telah berkata: 'Dengan kekuatan tanganku aku telah melakukannya dan dengan kebijaksanaanku, sebab aku berakal budi;'"  (Yesaya 10:13), merasa bahwa keberhasilan dan kesuksesan yang diperoleh selama ini adalah semata-mata karena hasil kerja keras sendiri, kemampuan sendiri, dan kebisaan sendiri.  Ia lupa bahwa di balik semuanya itu ada campur tangan Tuhan yang menopang dan menolong hidupnya.

     Memegahkan diri sendiri adalah salah satu trik Iblis untuk menjauhkan seseorang dari Tuhan;  dan biasanya orang yang memegahkan diri sendiri pada akhirnya akan semakin menjauh dari Tuhan, karena menganggap bahwa perkara-perkara rohani itu tidak lagi penting dalam hidupnya.  Itulah sebabnya pemazmur menyatakan bahwa Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati dan remuk jiwanya  (Mazmur 34:19).

"Orang ini memegahkan kereta dan orang itu memegahkan kuda, tetapi kita bermegah dalam nama TUHAN,"  Mazmur 20:8

Sunday, June 17, 2018

DALAM PERTOBATAN ADA PENGAMPUNAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 Juni 2018

Baca:  Yesaya 1:10-20

"Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat,"  Yesaya 1:16

Semua manusia pasti mengalami masalah meski berbeda-beda:  masalah pekerjaan, masalah keuangan, masalah keluarga, dan banyak lagi.  Masalah-masalah yang dialami oleh manusia pasti ada jalan keluarnya, dan ujung-ujungnya akan berakhir saat kematian menjemput.  Namun ada satu masalah terbesar yang dihadapi oleh seluruh umat manusia dan masalah tersebut akan terus terbawa sampai kematian  (karena tak semua orang menyadari bahwa setelah kematian masih ada kekekalan, hidup kekal di sorga atau kematian kekal di neraka).  Masalah itu adalah dosa, sebab dosalah yang akan membawa manusia dari kematian kepada kebinasaan kekal:  "...upah dosa ialah maut;"  (Roma 6:23).

     Masalah terbesar manusia ini  (dosa)  hanya dapat diselesaikan oleh anugerah Tuhan melalui pengorban-Nya di kayu salib.  Setiap orang yang percaya kepada-Nya  (Kristus)  tidak akan binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal  (Yohanes 3:16).  Sebagai orang percaya kita patut berbangga dan bersukacita, bukan karena hal-hal yang sifatnya materi, tapi karena anugerah keselamatan yang telah Tuhan berikan dan dosa-dosa kita diampuni.  Kalau bukan karena salib Kristus kita ini adalah orang-orang yang pantas dimurkai dan menerima hukuman dari Tuhan, namun karena salib-Nya kita dilayakkan untuk dapat hidup dalam kemuliaan dan kuasa-Nya, serta beroleh jaminan keselamatan kekal.  Sorga menjadi sesuatu yang pasti bagi kita!  Sebab  "...Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku (Kristus)."  (Yohanes 16:6b).

     Oleh karena itu rasul Paulus memperingatkan agar orang percaya tetap mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar  (Filipi 2:12).  Mengerjakan keselamatan berarti kita hidup dalam pertobatan setiap hari.  Mungkin ada di antara Saudara yang berkata,  "Kehidupanku sangat buruk dan dosaku tiada terbilang.  Mungkinkah Tuhan mau mengampuni aku dan menerima aku?"  Ada tertulis:  "Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba."  (Yesaya 1:18).

Dosa kita akan diampuni jika kita mau mengakuinya dengan jujur di hadapan Tuhan  (1 Yohanes 1:9), dan benar-benar hidup dalam pertobatan!

Saturday, June 16, 2018

PERBUATAN TUHAN: Harus Kita Beritakan!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 Juni 2018

Baca:  Mazmur 71:1-24

"Ya Allah, Engkau telah mengajar aku sejak kecilku, dan sampai sekarang aku memberitakan perbuatan-Mu yang ajaib;"  Mazmur 71:17

Melayani Tuhan dan menjadi saksi-Nya di tengah dunia adalah tugas dan tanggung jawab setiap orang percaya.  Sampai kapan?  Tidak ada istilah pensiun.  Selama kita masih bernafas kita harus mengerjakan tugas tersebut.  Ayat nas di atas adalah komitmen pemazmur untuk memberitakan perbuatan Tuhan yang ajaib kepada semua orang di sepanjang hidupnya.  Komitmen itu sudah dilakukannya sedari ia masih muda dan ingin terus dilakukan sampai masa tuanya.  Dengan kata lain pemazmur rindu Tuhan berkenan memakai hidupnya:  "...sampai masa tuaku dan putih rambutku...janganlah meninggalkan aku, supaya aku memberitakan kuasa-Mu kepada angkatan ini, keperkasaan-Mu kepada semua orang yang akan datang."  (Mazmur 71:18).

     Adakah Saudara memiliki kerinduan yang sama seperti pemazmur ini?  Ataukah justru telah terbersit di benak Saudara untuk mundur dan berhenti melayani pekerjaan Tuhan, karena sudah merasa jenuh, atau terbentur dengan suatu hal atau masalah?  Jangan hanya karena ada gesekan atau masalah semangat Saudara untuk melayani Tuhan dan menjadi saksi-Nya menjadi kendor.  Rasul Paulus menasihati, "Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan."  (Roma 12:11).  Yang harus diingat, untuk melayani Tuhan dan menjadi saksi-Nya tak bisa dilakukan dengan mengandalkan kekuatan, kepintaran atau akal sendiri, melainkan harus melibatkan Roh Tuhan, sebab  "Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh-Ku, firman TUHAN semesta alam."  (Zakharia 4:6).

     Karena itu pemazmur memohon supaya Tuhan tidak meninggalkan dirinya, sebab Roh Tuhan bisa saja undur dan meninggalkan seseorang ketika ia hidup dalam ketidaktaatan seperti yang dialami oleh raja Saul, yang awal hidupnya disertai oleh Roh Tuhan, tapi karena ketidaktaatannya Roh Tuhan pun meninggalkan Saul.  Roh Kudus akan berduka dan meninggalkan kita, apalagi kita tidak hidup dalam ketaatan.  "...janganlah kamu mendukakan Roh Kudus..."  (Efesus 4:30).

Dengan pertolongan Roh Kudus kita beroleh kesanggupan untuk melayani pekerjaan Tuhan dan memberitakan pekerjaan-Nya yang ajaib di tengah dunia ini!

Friday, June 15, 2018

TAK PERLU TAKUT DENGAN KEMATIAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 Juni 2018

Baca:  Mazmur 39:1-14

"Ya TUHAN, beritahukanlah kepadaku ajalku, dan apa batas umurku, supaya aku mengetahui betapa fananya aku!"  (Mazmur 39:5).  

Dari pernyataan Daud ini dapat disimpulkan bahwa umur manusia ada batasnya.  "Sungguh, hanya beberapa telempap  (selebar telapak tangan - Red.)  saja Kautentukan umurku; bagi-Mu hidupku seperti sesuatu yang hampa. Ya, setiap manusia hanyalah kesia-siaan!"  (Mazmur 39:6).  Musa pun menyadari:  "Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun,"  (Mazmur 90:10).  Cepat atau lambat, siap atau tidak siap, suatu saat manusia pasti akan dihadapkan pada kematian.  Itu hanya soal waktu!

     Kematian adalah sesuatu yang menakutkan dan mengerikan bagi orang-orang di luar Tuhan.  Tetapi bagi orang percaya kematian adalah sesuatu yang membahagiakan.  Bagaimana bisa?  Ada tertulis:  "'Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini.' 'Sungguh,' kata Roh, 'supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka.'"  (Wahyu 14:13).  Kematian justru memberi kesempatan kepada orang percaya untuk beristirahat dengan tenang, terbebas dari segala problematika hidup, tidak ada lagi air mata.  Dalam kematiannya orang percaya sesungguhnya sedang menunggu untuk dibangkitkan dan diangkat pada waktu kedatangan Kristus yang kedua kalinya:  "Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan. Karena itu hiburkanlah seorang akan yang lain dengan perkataan-perkataan ini."  (1 Tesalonika 4:16-18).

     Sebelum waktu itu tiba, adalah bijak bagi kita untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin supaya hal itu tidak menjadi jerat.  "Karena manusia tidak mengetahui waktunya. Seperti ikan yang tertangkap dalam jala yang mencelakakan, dan seperti burung yang tertangkap dalam jerat, begitulah anak-anak manusia terjerat pada waktu yang malang, kalau hal itu menimpa mereka secara tiba-tiba."  (Pengkhotbah 9:12).

Selagi ada waktu dan kesempatan, kumpulkan harta di sorga sebanyak-banyaknya!

Thursday, June 14, 2018

KASIH HARUS DIEKSPRESIKAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 Juni 2018

Baca:  1 Yohanes 3:11-18

"Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran."  1 Yohanes 3:18

Alkitab menyatakan bahwa di masa-masa akhir ini  "...kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin."  (Matius 24:12).  Orang tidak lagi punya kepedulian terhadap sesamanya karena fokus hidupnya adalah untuk diri sendiri.  Kata kasih acapkali hanya sekedar slogan yang tak berhenti digembar-gemborkan tapi tak ada wujud nyata.  Ada kalimat bijak yang mengatakan bahwa kasih yang dipendam itu tak lebih dari sebuah kebohongan.  Jadi kasih itu harus diekspresikan dalam sebuah tindakan nyata.

     Dalam kehidupan Kristiani mengasihi itu bukanlah perbuatan pilihan atau perbuatan manasuka yang ditawarkan oleh Tuhan, tetapi perbuatan wajib yang harus menjadi bagian hidup kita.  Pada dasarnya perbuatan kasih meliputi tiga kepedulian yaitu peduli pada penderitaan orang lain, peduli pada kebutuhan orang lain dan peduli pada keselamatan orang lain.  Bagaimana seharusnya kita mengekspresikan kasih itu?  1.  Jangan membalas kejahatan dengan yang jahat.  "Janganlah kamu heran, saudara-saudara, apabila dunia membenci kamu. Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut."  (ayat 13-14).  Kalau orang dunia berprinsip bahwa pembalasan lebih kejam dari perbuatan, firman Tuhan mengajarkan:  "...supaya jangan ada orang yang membalas jahat dengan jahat, tetapi usahakanlah senantiasa yang baik, terhadap kamu masing-masing dan terhadap semua orang."  (1 Tesalonika 5:15).  Kehendak Tuhan adalah kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan  (Roma 12:21).

     2.  Suka menolong orang lain.  "Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?"  (ayat 17).  Banyak orang suka menunda-nunda menolong orang lain, dengan alasan untuk kebutuhan sendiri saja belum cukup.  "Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya."  (Amsal 3:27).

Orang percaya yang tidak memraktekkan kasih sama seperti gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing  (1 Korintus 13:1).