Friday, July 20, 2018

PERHATIKANLAH KEHIDUPAN IBADAHMU!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 20 Juli 2018

Baca:  Yeremia 7:1-15

"Berdirilah di pintu gerbang rumah TUHAN, serukanlah di sana firman ini dan katakanlah: Dengarlah firman TUHAN, hai sekalian orang Yehuda yang masuk melalui semua pintu gerbang ini untuk sujud menyembah kepada TUHAN!"  Yeremia 7:2

Ibadah adalah salah satu hal penting dalam kehidupan orang percaya yang tak boleh dianggap remeh.  Sering terjadi, banyak orang Kristen justru menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah karena mereka menganggap bahwa berdoa dan membaca Alkitab di rumah, serta berperilaku benar di mata masyarakat sudah cukup, dan tak perlu capai-capai pergi ke gereja:  kena macet, harus naik ojek, becek...  Perhatikan nasihat Rasul Paulus:  "Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat."  (Ibrani 10:25).

     Hari-hari ini Iblis sedang berusaha untuk mencari cara bagaimana agar orang Kristen merasa tidak nyaman saat beribadah, mudah kecewa terhadap saudara seiman, kecewa terhadap pelayan Tuhan atau hamba Tuhan, dan kemudian mereka pun mengritik, mencari-cari kelemahan dan kekurangan.  Ada tertulis:  "...ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar."  (1 Timotius 6:6).  Bila orang mau bersungguh-sungguh dalam beribadah niscaya hidupnya pasti akan berubah, sebab firman Tuhan yang didengar berkuasa untuk menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan mendidik orang dalam kebenaran  (2 Timotius 3:16).  Saat beribadah kita berkesempatan untuk bersekutu dengan saudara-saudara seiman:  saling menasihati, menguatkan, dan memperhatikan.  Kita mengalami proses penajaman karakter.  "Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya."  (Amsal 27:17).  Dalam ibadah kita memuji dan menyembah Tuhan!  Saat itulah Tuhan hadir dengan segala manifestasinya, sebab  "...Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel."  (Mazmur 22:4).  Di mana Tuhan hadir, di situ kuasa-Nya bekerja untuk melepaskan kita dari segala belenggu dosa, sehingga kita mengalami hidup yang berkemenangan.

     Jadi, ibadah itu berguna dalam segala hal dan mengandung janji, baik untuk hidup saat ini maupun untuk hidup yang akan datang  (1 Timotius 4:8).

Beribadahlah kepada Tuhan dengan sukacita.  (Mazmur 100:2)

Thursday, July 19, 2018

WAKTU BERHARGA: Bersekutu dengan Tuhan

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 19 Juli 2018

Baca:  Mazmur 84:1-13

"Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku dari pada diam di kemah-kemah orang fasik."  Mazmur 84:11

Waktu adalah sesuatu yang terus melaju, tak bisa dihentikan dan tidak akan kembali lagi.  "You may delay, but time will not."  (Benjamin Franklin).  Karena itu banyak orang berusaha untuk mengabadikan momen-momen tertentu yang dianggapnya paling berkesan dalam hidupnya dalam bentuk video atau foto:  pernikahan, bulan madu, ulang tahun anak, berwisata dengan keluarga, reuni sekolah atau kumpul dengan para sahabat atau teman lama.  Waktu-waktu seperti itu sungguh sangat terkesan dan berharga sekali!

     Orang percaya yang menyadari bahwa waktu itu sangat berharga pasti akan mempergunakan waktu yang ada dengan sebaik mungkin, tidak menyia-nyiakan begitu saja.  "...perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif,"  (Efesus 5:15).  Jika menyadari bahwa hidup di dunia terbatas waktunya hendaklah ini mendorong kita semakin giat mengerjakan perkara-perkara rohani.  Bagi Daud, waktu yang sangat berharga adalah ketika ia bersekutu dengan Tuhan.  Bersekutu dengan Tuhan itu bukan hanya saat beribadah di gereja saja, tetapi di mana pun kita berada.  Karena ada banyak orang yang datang ke gereja, tetapi hati dan pikirannya tidak tertuju kepada Tuhan;  ketika firman Tuhan disampaikan mereka asyik sendiri dengan ponsel masing-masing:  SMS-an, update status, whatsapps-an, sibuk bisnis online, upload foto di instagram dan sebagainya.  Itu bukti bahwa orang datang ke gereja tidak sepenuhnya untuk beribadah kepada Tuhan dan merindukan hadirat-Nya, tapi hanya sebatas aktivitas agamawi yang dilakukan secara rutin.

     Semua orang diperhadapkan pada waktu yang sama, yaitu 24 jam sehari.  Bagaimana cara kita bisa menjadikan waktu tersebut berharga?  Daud, seorang raja yang memiliki agenda kerja yang padat, masih mampu membangun kekariban dengan Tuhan, bahkan bagi dia yang lebih berharga bukan saat ia berada di istananya yang megah dengan fasilitas mewahnya, tetapi ketika ia berada di Bait Tuhan.

"... itulah yang kuingini: diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya."  Mazmur 27:4

Wednesday, July 18, 2018

PERHATIKANLAH KEMURAHAN TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 18 Juli 2018

Baca:  Mazmur 107:1-43

"Siapa yang mempunyai hikmat? Biarlah ia berpegang pada semuanya ini, dan memperhatikan segala kemurahan TUHAN."  Mazmur 107:43

Ketika ada mall atau toko yang menjual barang dengan menawarkan diskon yang besar-besaran  (50% sampai 70%), atau beli 1 gratis 1 dan sebagainya, maka berduyun-duyunlah orang mendatanginya.  Mereka begitu tergiur untuk mendapatkan barang-barang yang dibandrol dengan harga murah tersebut.  Mereka tidak menyadari bahwa itu bagian dari strategi pasar!  Tentunya pihak penjual tidak ingin merugi, kalau pun itu harga diskon, bisa saja pihak penjual sudah melipatgandakan harga dari harga sebelumnya, atau bisa saja barang yang didiskon adalah barang yang berkualitas rendah.  Berbeda dengan barang yang dijual tanpa diskon pasti akan terjamin kualitasnya, karena bukan barang  'murahan'.

     Pemazmur menyinggung kata  'murah'  bukan berbicara tentang sesuatu yang murahan, tetapi berbicara tentang anugerah Tuhan yang justru kita tak mampu membelinya dengan harga apa pun.  Coba renungkan kemurahan Tuhan ini!  - Kita sesungguhnya berasal dari debu tanah, tapi dari debu inilah Tuhan menghadirkan sosok manusia yang segambar dan serupa dengan diri-Nya, bahkan Ia menjadikan kita ini berharga seperti biji mata-Nya sendiri.  - Karena kemurahan Tuhan kita diselamatkan dan beroleh pengampunan dosa.  Kita tahu bahwa keselamatan dan pengampunan yang Tuhan berikan tidak bisa ditebus dengan kesalehan hidup manusia atau amal kebaikan manusia.  "Dia yang mengampuni segala kesalahanmu,..."  (Mazmur 103:3).  Karena itu:  "Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. Biarlah itu dikatakan orang-orang yang ditebus TUHAN,"  (Mazmur 107:1-2).

     Kemurahan Tuhan adalah bukti bahwa kasih-Nya sungguh tak bersyarat dan tiada batas.  Karena itu wajib bagi kita untuk selalu mengingat-ingat kemurahan Tuhan ini.  Rasul Paulus pun menyadari bahwa jika ia dipercaya untuk sebuah pelayanan bukanlah karena ia hebat atau pintar, tapi semata-mata karena kemurahan Tuhan.  "Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati."  (2 Korintus 4:1).  Tidak ada alasan apa pun bagi kita untuk memegahkan diri!

"Siapakah aku ini, ya Tuhan...sehingga Engkau membawa aku sampai sedemikian ini?"  2 Samuel 7:18

Tuesday, July 17, 2018

TAHU KEBENARAN: Tak Hidup Benar

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 Juli 2018

Baca:  Ibrani 10:19-39

"Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu."  Ibrani 10:26

Kasus korupsi adalah kasus yang paling hangat dibicarakan oleh semua orang di negeri ini.  Mengapa?  Karena tindak kejahatan korupsi ini banyak dilakukan oleh pejabat publik atau orang-orang yang duduk di kursi pemerintahan, yang notabene adalah wakil rakyat.  Sebagai wakil rakyat sudah seharusnya mereka menjadi inspirasi dan teladan bagi rakyat yang diwakilinya.  Ini sungguh sangat menyedihkan!  Umumnya mereka yang melakukan korupsi adalah mereka yang berpendidikan tinggi dan bahkan telah menyuarakan kebenaran sebagai anggota dewan atau partai politik, yang memiliki slogan antikorupsi.  Mereka tahu bahwa korupsi itu melanggar hukum, tapi faktanya?  Karena tergiur dengan materi atau uang, mereka ingkar terhadap janjinya sendiri.  Materi atau gaya hidup telah menuntun mereka kepada jalan yang berlawanan dengan kehendak Tuhan.

     Kristus sangat mengecam ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, yang tahu firman Tuhan, tahu kebenaran, bahkan mengajarkan Taurat kepada umat, tetapi dalam kesehariannya mereka sendiri tidak melakukan ajarannya itu.  Ironis sekali!  Seorang pemuka agama atau pelayan Tuhan, yang setiap hari mengajarkan hukum dan Taurat di Bait Suci kepada orang lain, melanggarnya sendiri.  Tuhan menyebut orang-orang demikian orang-orang munafik.  Tuhan menggambarkan orang munafik itu  "...sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran."  (Matius 23:27).  Tuhan tidak hanya menginginkan umat pilihan-Nya hanya sekedar mengetahui kebenaran, artinya sebatas pengetahuan manusia saja, tetapi Ia mau kita menjadi pelaku-pelaku firman atau hidup dalam kebenaran.

     Rasul Paulus menasihati,  "...hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus,..."  (Filipi 1:27).  Hidup berpadanan dengan Injil berarti hidup yang selaras dengan Injil atau hidup sesuai dengan kehendak Tuhan.  Kalau perbuatan kita bertentangan dengan Injil berarti kita telah memosisikan diri sebagai seteru Injil.

Setiap orang yang tidak berbuat kebenaran, tidak berasal dari Tuhan  (1 Yohanes 3:10).

Monday, July 16, 2018

DAMPAK MENCINTAI TAURAT TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 Juli 2018

Baca:  Mazmur 119:97-104

"Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari."  Mazmur 119:97

Semua orang pasti pernah merasakan apa yang namanya jatuh cinta.  Cinta membuat hati orang berbunga-bunga, dunia terasa menjadi milik berdua.  Ketika terpisah oleh jarak, rasa rindu pun menyerang, hasrat ingin bersua pun bergelora.  Rasa rindu dan cinta akan terobati ketika mereka berjumpa dan menghabiskan waktu bersama.  Sungguh, tidak ada yang dapat menghalangi kekuatan sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta.  Salomo menyatakan bahwa  "...cinta kuat seperti maut,"  (Kidung Agung 8:6).

     Dalam mazmur ini Daud menyatakan diri sebagai seorang yang sedang jatuh cinta.  Rasa cinta yang mendalam ini bukan ia tujukan kepada seseorang, melainkan kepada Taurat Tuhan.  Banyak orang Kristen menganggap bahwa membaca dan merenungkan firman Tuhan adalah pekerjaan yang sangat membosankan dan menjadi beban tersendiri.  Karena itu mereka melakukannya dengan tidak sepenuh hati, setengah-setengah atau dalam keadaan terpaksa.  Berbeda dengan Daud yang menjadikan Taurat Tuhan sebagai kesukaan.  "Betapa kucintai Taurat-Mu!"  (ayat nas).  Karena mencintai Taurat Tuhan maka Daud merenungkannya sepanjang hari.  Mengapa Daud begitu mencintai Taurat Tuhan?  Karena ia tahu bahwa di dalam Taurat-Nya terkandung janji-janji Tuhan yang luar biasa dan kuasa yang teramat dahsyat.  "Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi; Dia memberi perintah, maka semuanya ada."  (Mazmur 33:9).

     Itulah sebabnya ia dengan sukacita dan rela hati menyediakan waktu untuk merenungkan Taurat Tuhan itu siang dan malam.  Dampaknya pun sungguh luar biasa:  "Perintah-Mu membuat aku lebih bijaksana dari pada musuh-musuhku, sebab selama-lamanya itu ada padaku. Aku lebih berakal budi dari pada semua pengajarku, sebab peringatan-peringatan-Mu kurenungkan. Aku lebih mengerti dari pada orang-orang tua, sebab aku memegang titah-titah-Mu."  (Mazmur 119:98-100).  Daud juga semakin peka rohani  (pancaindera terlatih), sehingga ia dapat menahan diri terhadap hal-hal yang jahat dan sanggup membedakan yang baik dari pada yang jahat.  Sejauh mana Saudara mencintai Taurat Tuhan?  Kalau tidak dimulai dari sekarang, kapan lagi?

"...tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam...apa saja yang diperbuatnya berhasil."  Mazmur 1:2-3

Sunday, July 15, 2018

TAAT KEPADA TUHAN, BUKAN BERSPEKULASI (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 Juli 2018

Baca:  Kejadian 26:1-35

"Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati TUHAN."  Kejadian 26:12

Tuhan menyediakan upah untuk setiap ketaatan mereka, dan apa yang Tuhan sediakan itu jauh lebih banyak dari yang didoakan dan dipikirkan  (Efesus 3:20), seperti tertulis:  "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia."  (1 Korintus 2:9).  Adakalanya Tuhan mengijinkan kita melewati masa-masa sulit atau paceklik untuk menguji motivasi hati dan ketaatan kita.

     Sekalipun Tuhan memerintahkan hal-hal yang seolah-olah tidak masuk akal, janganlah ragu untuk melakukannya.  Jagan pernah membatasi cara kerja Tuhan dengan akal pikiran kita yang terbatas ini.  Ingatlah bahwa cara Tuhan itu berbeda dengan cara manusia bekerja, waktu Tuhan juga bukan waktu kita.  "Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu."  (Yesaya 55:8-9).  Apa pun yang Tuhan perintahkan, lakukan saja tanpa ada perbantahan dan persungutan.  "Perintah-perintah-Nya itu tidak berat,"  (1 Yohanes 5:3b), sebab semua yang dari Tuhan, mengalahkan dunia  (1 Yohanes 5:4).  Hanya ada pilihan di sini:  taat atau tidak taat, mau atau tidak mau.  Jikalau kita berpikir bahwa semua tidak akan mungkin, hal itu juga takkan mungkin terjadi.  "Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia."  (Amsal 23:7a).

     Pemazmur menulis:  "Aku melihat batas-batas kesempurnaan, tetapi perintah-Mu luas sekali."  (Mazmur 119:96).  Firman Tuhan dan janji firman-Nya sungguh tak terbatas!  Ketika Ishak taat melakukan apa yang diperintahkan Tuhan maka perkara yang dahsyat terjadi.  Saat orang lain mengalami krisis dan masa paceklik Ishak justru mengalami hidup yang berkelimpahan, seperti tertulis:  "Dan orang itu menjadi kaya, bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya."  (Kejadian 26:13).  Jika Tuhan sudah membuka pintu-pintu berkat bagi seseorang tak satu pun kuasa yang sanggup menutupnya.  Hidup Ishak pun menjadi berkat dan kesaksian di negeri orang Filistin.

Ingin mengalami berkat dan mujizat?  Jadilah pengikut Kristus yang taat.

Saturday, July 14, 2018

TAAT KEPADA TUHAN, BUKAN BERSPEKULASI (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 Juli 2018

Baca:  Kejadian 26:1-35

"Janganlah pergi ke Mesir, diamlah di negeri yang akan Kukatakan kepadamu."  Kejadian 26:2

Zaman sekarang banyak orang suka melakukan hal-hal yang sangat ekstrem, terutama mereka yang hidup di dunia Barat dan menganut paham nihilisme.  Nihilisme adalah pandangan filosofi yang menganggap bahwa dunia ini, terutama keberadaan manusia di dunia, tidak memiliki suatu tujuan.  Itulah sebabnya penganut paham ini sering melakukan tindakan yang nekat, tidak takut mati.  Semisal memanjat gedung tinggi tanpa menggunakan alat pengaman dan sebagainya.  Tanpa disadari sesungguhnya mereka sedang melakukan tindakan bodoh dan sedang berspekulasi dengan hidupnya sendiri.  Ada dua kemungkinan:  bisa selamat dan menjadi terkenal, atau sebaliknya, gagal dan hidupnya berakhir konyol.

     Ketika terjadi kelaparan hebat dan paceklik orang akan berpikir 1000X jika hendak menabur.  Secara matematis menabur di masa itu pasti akan gagal, bukan beruntung tapi malah buntung.  Tetapi lain halnya dengan Ishak, yang justru melakukan apa yang orang lain tidak lakukan, yaitu menabur di masa paceklik.  Semua orang akan menganggap tindakan ini konyol, nekat atau spekulatif.  Apa yang Ishak lakukan dilandasi iman kepada Tuhan dan janji firman-Nya.  "Tinggallah di negeri ini sebagai orang asing, maka Aku akan menyertai engkau dan memberkati engkau, sebab kepadamulah dan kepada keturunanmu akan Kuberikan seluruh negeri ini, dan Aku akan menepati sumpah yang telah Kuikrarkan kepada Abraham, ayahmu. Aku akan membuat banyak keturunanmu seperti bintang di langit; Aku akan memberikan kepada keturunanmu seluruh negeri ini, dan oleh keturunanmu semua bangsa di bumi akan mendapat berkat,"  (Kejadian 26:3-4).  Ishak pun taat:  "Jadi tinggallah Ishak di Gerar."  (Kejadian 26:6).

     Banyak orang tidak mau taat melakukan perintah Tuhan karena menganggap perintah Tuhan itu tidak logis, tidak masuk akal, aneh.  Namun jika kita mau taat Tuhan sanggup mengubah yang tak mungkin menjadi mungkin.  Terbukti sekalipun sedang paceklik, apa yang ditabur Ishak menghasilkan tuaian,  "...ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati TUHAN."  (Kejadian 26:12).

Berkat Tuhan bagi orang percaya tidak bergantung kepada musim!

Friday, July 13, 2018

TUHAN MENOPANG HIDUPKU

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 Juli 2018

Baca:  Mazmur 3:1-9

"Aku tidak takut kepada puluhan ribu orang yang siap mengepung aku."  Mazmur 3:7

Lagu rohani yang berjudul  'Engkaulah perisaiku'  adalah lagu yang sangat populer di kalangan orang percaya.  Lagu tersebut sangat menguatkan dan memberkati semua orang yang mendengarnya:  "Engkaulah perisaiku, saat badai hidup menerpaku... Firman-Mu di dalamku... tenangkan jiwaku.  Reff:  Ku kan berdiri di tengah badai dengan kekuatan yang Kauberikan.  Sampai kapan pun ku kan bertahan, karena Yesus selalu menopang hidupku."

     Lagu ini selaras dengan apa yang Daud tulis:  "...TUHAN, adalah perisai yang melindungi aku, Engkaulah kemuliaanku dan yang mengangkat kepalaku."  (Mazmur 3:4).  Kita takkan mampu bertahan di tengah dahsyatnya gelombang kehidupan jika tanpa Tuhan di samping kita.  Ketika itu Daud sedang dalam situasi yang teramat sulit, karena sedang melarikan diri dari kejaran puteranya sendiri  (Absalom)  yang berusaha untuk membunuhnya dan berambisi untuk merebut tahtanya.  Dalam situasi ini perasaan Daud campur aduk jadi satu:  merasa dikhianati, dikecewakan, ditinggalkan, sedih, putus asa dan sebagainya.  Meski demikian Daud tidak berkeluh-kesah atau mengasihani diri sendiri, tapi ia terus memperkatakan iman, karena ia tahu kepada siapa ia menaruh pengharapan hidupnya!  "Aku tidak takut kepada puluhan ribu orang yang siap mengepung aku."  (ayat nas).  Daud dapat berkata demikian karena ia memilih untuk terus mengarahkan pandangannya kepada perbuatan-perbuatan ajaib Tuhan.

     Apa pergumulan berat Saudara saat ini?  Mungkin kita sedang menghadapi kebutuhan yang tak terselesaikan yang membuat Saudara berada di ambang keputusasaan;  dokter mungkin telah memvonis penyakit Saudara tak mungkin disembuhkan;  banyak orang berkata rumah tanggamu tak mungkin terselamatkan.  Apa yang terlihat secara kasat mata, mungkin terlihat mustahil saat ini, namun percayalah di dalam Tuhan tidak ada perkara mustahil.  Arahkan pandangan kepada Tuhan dan kuasa firman-Nya, maka kita akan melihat tangan Tuhan bekerja.  "...tangan kanan TUHAN berkuasa meninggikan, tangan kanan TUHAN melakukan keperkasaan!"  (Mazmur 118:16).

"TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya."  Mazmur 37:23-24

Thursday, July 12, 2018

BERTAHANLAH UNTUK SETIA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 Juli 2018

Baca:  Yeremia 25:1-14

"Sejak dari tahun yang ketiga belas pemerintahan Yosia bin Amon, raja Yehuda, sampai hari ini, jadi sudah dua puluh tiga tahun lamanya, firman TUHAN datang kepadaku dan terus-menerus aku mengucapkannya kepadamu, tetapi kamu tidak mau mendengarkannya."  Yeremia 25:3

Melayani pekerjaan Tuhan tak bisa dianggap enteng, karena itu kita tak bisa mengandalkan kekuatan sendiri.  Ada banyak pekerja di ladang Tuhan yang semangatnya dalam melayani mulai kendor karena tidak tahan dengan tekanan, ujian, dan berbagai rintangan yang ada.  Ada pula yang mogok dan memilih untuk mundur dari pelayanan karena merasa gagal:  sudah melayani Tuhan bertahun-tahun tapi respons dari jemaat yang dilayani sangatlah kurang, sehingga tak banyak jiwa yang dimenangkan.

     Jangan pernah mundur dari pelayanan!  "Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran."  (2 Timotius 4:2).  Yeremia menghadapi tantangan yang tak mudah dalam pelayanannya.  Dua puluh tiga tahun lamanya melayani jiwa-jiwa dan menjadi penyambung lidah Tuhan:  memberitakan kebenaran dan menyerukan pertobatan, namun respons orang-orang yang dilayani sungguh sangat mengecewakan.  "...TUHAN terus-menerus mengutus kepadamu semua hamba-Nya, yakni nabi-nabi, tetapi kamu tidak mau mendengarkan dan memperhatikannya."  (Yeremia 25:4).  Nasihat dan teguran Yeremia dianggap sebagai angin lalu.  Meski demikian Yeremia tak kecewa apalagi menyerah pada keadaan, ia tetap tekun dan setia pada panggilan-Nya.

     Kuantitas orang yang dilayani atau kemegahan gedung gereja bukanlah ukuran keberhasilan seorang pelayan Tuhan.  Yang Tuhan perhatikan ketekunan, kesetiaan, kesungguhan dan motivasi dalam mengerjakan panggilan-Nya.  Menurut pandangan manusia Yeremia mungkin dianggap gagal.  Apa pun keadaannya, seorang hamba Tuhan haruslah tetap setia menyampaikan kebenaran firman Tuhan, sebab cepat atau lambat, firman-Nya pasti akan digenapi.  Karena terus mengeraskan hati dan mengabaikan teguran, bangsa Israel harus menuai akibatnya:  Tuhan bertindak atas mereka  (Yeremia 25:8-11).

"Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan."  Roma 12:11

Wednesday, July 11, 2018

JANGAN LAGI MENOLEH KE BELAKANG

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 Juli 2018

Baca:  Yesaya 54:1-17

"Janganlah takut, sebab engkau tidak akan mendapat malu, dan janganlah merasa malu, sebab engkau tidak akan tersipu-sipu. Sebab engkau akan melupakan malu keremajaanmu, dan tidak akan mengingat lagi aib kejandaanmu."  Yesaya 54:4

Setiap orang pasti punya masa lalu, entah itu masa lalu yang menyenangkan atau masa lalu yang kelabu.  Jika teringat masa lalu yang menyenangkan rasa-rasanya ingin kembali ke masa itu, andai saja waktu dapat diputar kembali.  Tak beda jauh, masa lalu yang kelabu pun sulit sekali untuk dilupakan.  Rasa sakit dan luka yang menyayat hati begitu membekas dalam, bahkan tidak sedikit orang yang hari-harinya terus dibelenggu dan dibayang-bayangi oleh masa lalu kelabu itu.  Mereka sulit sekali move on!

     Ada banyak usaha yang dilakukan orang untuk mengubur dalam-dalam masa lalunya.  Salah satu cara adalah membuang atau menyingkirkan semua benda yang berkaitan dengan peristiwa atau seseorang di masa lalu tersebut.  Karena setiap kali melihat benda-benda tersebut atau melewati suatu tempat, memori itu kembali muncul.  Meski demikian tak semua orang bisa melupakan masa lalunya dengan cara yang demikian.  Rasul Paulus juga memiliki masa lalu, tapi ia terus berjuang untuk tidak dibelenggu oleh masa lalunya.  Inilah tekadnya:  "...aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku,"  (Filipi 3:13).  Rasul Paulus dapat melupakan masa lalu karena ia mengarahkan pandangannya atau berfokus kepada janji firman Tuhan,  "...berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi..."  (Filipi 3:14).  Selama kita masih berkutat dengan masa lalu, kita tidak akan pernah bisa maju, tidak akan pernah bisa mengembang ke kanan dan ke kiri.  Dengan kata lain masa lalu hanya akan menjadi penghalang untuk kita meraih semua impian.

     Adalah lebih baik mengarahkan pandangan ke depan daripada terus menoleh ke belakang.  Pegang janji Tuhan:  "Sebab engkau akan mengembang ke kanan dan ke kiri, keturunanmu akan memperoleh tempat bangsa-bangsa, dan akan mendiami kota-kota yang sunyi."  (Yesaya 54:3).  Karena  'menoleh ke belakang'  atau berat meninggalkan kota Sodom dan Gomora, isteri Lot menjadi tiang garam  (Kejadian 19:26).

Apa pun masa lalu kita, jangan sampai hal itu melemahkan dan membuat kita putus asa, tapi jadikan itu sebagai pembelajaran untuk lebih baik lagi.