Thursday, October 18, 2018

DAMAI SEJAHTERA: Buah Ketaatan

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 18 Oktober 2018

Baca:  Mazmur 29:1-11

"TUHAN kiranya memberikan kekuatan kepada umat-Nya, TUHAN kiranya memberkati umat-Nya dengan sejahtera!"  Mazmur 29:11

Apa mungkin orang hidup dalam damai sejahtera di tengah dunia yang penuh dengan gejolak ini?  Secara akal manusia hal itu tak mungkin.  Akan tetapi bagi setiap orang percaya, hidup dalam damai sejahtera itu bukanlah perkara yang mustahil, sebab ada tertulis:  "Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!"  (Markus 9:23).  Mengapa?  Ketika seseorang percaya dan menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, maka secara otomatis ia juga menerima Sang Raja Damai  (Yesaya 9:5).  Damai sejahtera yang sejati hanya dirasakan dan dialami oleh mereka yang telah diperdamaikan dengan Bapa melalui kelahiran baru di dalam Kristus, dan damai sejahtera yang diterimanya adalah damai sejahtera yang jauh melampaui segala akal  (Filipi 4:7).

     Damai sejahtera adalah salah satu berkat rohani yang Tuhan sediakan bagi orang percaya, sebagaimana yang dikatakan-Nya:  "Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu."  (Yohanes 14:27).  Damai sejahtera yang Tuhan berikan itu tak dipengaruhi oleh situasi dan kondisi.  "Sebab biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, tetapi kasih setia-Ku tidak akan beranjak dari padamu dan perjanjian damai-Ku tidak akan bergoyang, firman TUHAN, yang mengasihani engkau."  (Yesaya 54:10).  Kristus kembali menguatkan:  "Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia."  (Yohanes 16:33).  Sesulit apa pun situasinya, Iblis tidak dapat mengambil berkat Tuhan ini jika kita tetap tinggal di dalam Kristus dan firman-Nya.

     Jadi, kunci untuk mengalami damai sejahtera di segala keadaan adalah tetap berpegang teguh pada janji firman Tuhan.  "Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya."  (Yesaya 26:3).  Karena itu milikilah persekutuan yang karib dengan Tuhan setiap hari dan taatlah melakukan firman Tuhan.

Tuhan menjanjikan damai sejahtera kita akan mengalir seperti sungai yang tak pernah kering, jika kita taat melakukan perintah-Nya  (Yesaya 48:18).

Wednesday, October 17, 2018

CITRA DIRI SEBAGAI MANUSIA BARU (3)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 Oktober 2018

Baca:  Galatia 5:16-26

"Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging."  Galatia 5:16

Tuhan menghendaki agar orang percaya yang sudah dipulihkan citra dirinya bukan saja beroleh keselamatan dan hidup kekal yang menjadi bagiannya, tapi juga selama hidupnya di dunia mampu menjadi saksi dan berkat bagi kemuliaan nama-Nya.  Oleh karena itu kita harus benar-benar memiliki kehidupan yang berbeda dengan dunia  (Roma 12:2).

     Bagaimana cara memperoleh karakter manusia baru seutuhnya?  Tanggalkan cara hidup manusia lama!  Artinya menanggalkan perbuatan-perbuatan daging atau perbuatan-perbuatan kegelapan.  "Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu. Sebab menyebutkan sajapun apa yang dibuat oleh mereka di tempat-tempat yang tersembunyi telah memalukan. Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang."  (Efesus 5:11-13);  Menanggalkan cara hidup lama juga memiliki arti menanggalkan semua beban  (dosa)  yang selama ini menjadi perintang dan penghalang dalam perlombaan iman  (Ibrani 12:1).

     Kita juga harus mau dipimpin oleh Roh Kudus setiap hari.  "Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh,"  (Galatia 5:25).  Sebagai anak-anak Tuhan kita memiliki kuasa untuk hidup oleh Roh, karena Ia tinggal di dalam kita, seperti tertulis:  "Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus."  (Roma 8:9).  Jadi setiap orang yang mengaku diri sebagai anak Tuhan wajib tunduk pada pimpinan Roh Kudus  (Roma 8:14).  Maka dari itu berkonsentrasilah pada hidup di dalam Roh.  Ini adalah proses yang harus kita jalani dari waktu ke waktu di sepanjang hidup kita.  Hidup dalam pimpinan Roh Kudus berarti kita tidak hidup sembarangan, melainkan hidup tertib, teratur, bukan dalam kekacauan, sebab Tuhan memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban  (2 Timotius 1:7).

Meninggalkan manusia lama dan hidup sebagai manusia baru adalah kehendak Tuhan bagi orang percaya!

Tuesday, October 16, 2018

CITRA DIRI SEBAGAI MANUSIA BARU (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 Oktober 2018

Baca:  1 Korintus 3:10-23

"Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya."  1 Korintus 3:10b

Melalui karya pengorbanan Kristus, manusia yang sudah jatuh dalam dosa  (rusak citra dirinya)  dikembalikan kepada rencana Bapa semula yaitu keselamatan  (Roma 3:23-24).  Ketika Kristus berkata  "Sudah selesai"  (Yohanes 19:30), selesailah sudah tugas pemulihan citra diri manusia yang dikerjakan-Nya.  Dampaknya:  kita diperdamaikan kembali dengan Bapa, yang dulunya jauh telah menjadi dekat, sehingga tidak ada lagi jurang pemisah  (Kolose 1:20-22).  "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang."  (2 Korintus 5:17).  Manusia baru adalah kembalinya citra diri Bapa pada diri manusia.

     Elemen penting kehidupan manusia  'baru'  yang sudah dipulihkan citra dirinya:  1.  Dasar bangunan.  Dasar bangunan  'rohani'  kita harus diletakkan pada dasar yang benar yaitu Kristus.  "Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus."  (1 Korintus 3:11).  Kehidupan manusia baru adalah kehidupan yang telah menguburkan manusia lama, yang dasar hidupnya duniawi dengan segala sifat dan karakternya.  Orientasi hidup yang dulunya tertuju kepada perkara-perkara dunia dan kepentingan diri sendiri kini berubah dengan menempatkan Kristus dan kebenaran-Nya sebagai yang utama  (Matius 6:33), memikirkan perkara-perkara yang di atas, bukan yang di bumi  (Kolose 3:2), mengumpulkan harta di sorga, bukan yang di bumi  (Matius 6:19-20).  2.  Bentuk bangunan.  Ini berbicara tentang sikap, perkataan dan perbuatan kita, di mana kita tidak lagi hidup sembrono, melainkan hidup sesuai dengan kebenaran firman Tuhan  (1 Korintus 3:12-15), karena pada saatnya pekerjaan kita akan terlihat kualitasnya.  3.  Fungsi bangunan.  Kita harus menyerahkan anggota-anggota tubuh kita untuk dipakai Tuhan sebagai senjata kebenaran dan menjadi saksi-saksi-Nya:  "Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran."  (Roma 6:13).

Monday, October 15, 2018

CITRA DIRI SEBAGAI MANUSIA BARU (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 Oktober 2018

Baca:  Kejadian 1:26-31

"Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi."  Kejadian 1:26

Tuhan menciptakan manusia dengan maksud dan tujuan yang teramat mulia, karena itu dijadikannya ia menurut gambar dan rupa-Nya  (ayat nas).  Dari ayat tersebut di atas jelas dinyatakan bahwa manusia itu diciptakan oleh Tuhan, bukan terjadi dengan cara evolusi.  Selain memiliki citra diri Bapa, manusia juga diberi kuasa.  Inilah citra diri manusia asali yaitu manusia sebelum jatuh ke dalam dosa.  Manusia asali disebut pula manusia yang asli, murni dan tak bercela.  Pada waktu itu jiwa manusia digambarkan seperti selembar kertas yang putih dan kosong, serta mencerminkan kemuliaan Tuhan.

     Citra diri manusia asali itu menjadi rusak setelah manusia melanggar perintah Tuhan yaitu memakan buah yang dilarang Tuhan untuk dimakan.  "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati."  (Kejadian 2:16-17).  Ketidaktaatan manusia kepada Tuhan ini membawa manusia jatuh ke dalam dosa dan terusir dari taman Eden  (Kejadian 3:23-24).  Dosa telah merusak citra diri manusia.  Manusia yang citra dirinya telah rusak ini disebut manusia berdosa, yang hidup tanpa persekutuan dengan Tuhan  (jauh dari Tuhan).  Dosa telah menjadi penghalang persekutuan manusia dengan Bapa,  "Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu."  (Yesaya 59:1-2).

     Kemudian Bapa berinisiatif sendiri untuk memulihkan keadaan manusia, hal itu dimulai dengan memanggil para leluhur kita yaitu orang-orang pilihan-Nya.  Empat nama besar yang dipilih oleh Bapa untuk menjadi mata rantai pemulihan:  Nuh, Abraham, Yusuf dan Daud.  Puncak pemulihan citra diri manusia itu terjadi melalui inkarnasi Kristus, Dia diutus oleh Bapa untuk turun ke dunia dengan satu misi yaitu menyelamatkan manusia dari dosa-dosanya  (Roma 5:12-21), melalui pengorban-Nya di kayu salib.

Sunday, October 14, 2018

HAL-HAL YANG MENGHERANKAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 Oktober 2018

Baca:  Lukas 5:17-26

"Semua orang itu takjub, lalu memuliakan Allah, dan mereka sangat takut, katanya: 'Hari ini kami telah menyaksikan hal-hal yang sangat mengherankan.'"  Lukas 5:26

Sekalipun hari-hari yang kita jalani terasa semakin berat, masalah dan tantangan datang silih berganti, sebagai orang percaya kita tidak perlu takut dan kuatir sebab kita punya Tuhan yang ahli dalam mengerjakan hal-hal yang mustahil dan ajaib.  Mulai dari kitab Kejadian sampai kitab Wahyu, keseluruhannya berbicara tentang pekerjaan-pekerjaan Tuhan yang besar dan mengherankan:  Ia membentuk manusia dari debu tanah, lalu menghembuskan nafas hidup, demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup;  "Dia yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya;"  (Mazmur 146:6).

     Semasa pelayanan-Nya yang singkat di bumi Kristus melakukan perbuatan-perbuatan yang heran.  Alkitab menyatakan bahwa Ia berkeliling ke semua kota dan desa;  Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat, memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melakukan banyak mujizat, di antaranya:  mengubah air menjadi anggur  (Yohanes 2:1-11);  memberi makan lima ribu orang laki-laki  (tidak termasuk perempuan dan anak-anak), hanya dengan lima roti dan dua ikan, itu pun masih ada sisa sebanyak 12 bakul penuh  (Matius 14:13-21);  berjalan di atas air  (Matius 14:22-33), dan masih banyak lagi.

     Kuasa Tuhan tidak pernah berubah dari dahulu sekarang dan sampai selama-lamanya.  Jadi perbuatan-perbuatan Tuhan yang heran itu bukan hanya terjadi di masa lampau, sampai hari ini pun Tuhan tetap mampu dan sanggup melakukannya untuk kita.  Hari-hari kita akan dipenuhi dengan perkara-perkara heran dan ajaib asalkan kita mau berjalan bersama Tuhan dan hidup dipimpin oleh Roh Kudus setiap hari.  Ada banyak orang Kristen memiliki respons hati yang salah ketika dihadapkan pada masalah atau kesulitan, dengan berkata:  tak mungkin, mustahil, mana bisa... akhirnya apa yang mereka katakan menjadi kenyataan.  Tuhan berfirman:  "...bahwasanya seperti yang kamu katakan di hadapan-Ku, demikianlah akan Kulakukan kepadamu."  (Bilangan 14:28).

"Engkaulah Allah yang melakukan keajaiban; Engkau telah menyatakan kuasa-Mu di antara bangsa-bangsa."  Mazmur 77:15

Saturday, October 13, 2018

TAK GONCANG DI TENGAH GONCANGAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 Oktober 2018

Baca:  Ibrani 12:18-29

"Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut."  Ibrani 12:28

Seberapa waktu lalu teror bom kembali menggoncang Indonesia.  Surabaya, kota yang dikenal aman dan tenang, tiba-tiba dikejutkan dengan bom bunuh diri yang meledak di 3 gereja, pada Minggu pagi tanggal 13 Mei 2018 lalu.  Akibat ledakan bom ini aada puluhan orang menjadi korban.  Seketika itu suasana di kota Pahlawan menjadi sangat mencekam, membuat orang menjadi  takut dan was-was, aktivitas hidup pun menjadi terganggu.

     Ada pelajaran berharga yang kita dapatkan dari peristiwa ini.  Masalah, penderitaan, ancaman, marabahaya dan sebagainya bisa saja datang dan terjadi sewaktu-waktu tanpa bisa dihindari oleh siapa pun, dan unpredictable.  Dalam situasi seperti itu wajar bila semua orang menjadi tergoncang karena dihinggapi oleh rasa takut dan kuatir.  Namun sebagai orang percaya kita tak perlu larut dalam ketakutan dan kekuatiran yang berkepanjangan, sebab Alkitab menegaskan bahwa orang percaya menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan  (ayat nas), bukti bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan dan membiarkan umat-Nya  (Ibrani 13:5b);  melalui kuasa Roh kudus-Nya Tuhan ada untuk kita.  Oleh karena itu agar tidak tergoncang di tengah goncangan, kita harus menjadikan firman Tuhan sebagai fondasi hidup!  "Jagalah supaya kamu jangan menolak Dia, yang berfirman. Sebab jikalau mereka, yang menolak Dia yang menyampaikan firman Allah di bumi, tidak luput, apa lagi kita, jika kita berpaling dari Dia yang berbicara dari sorga?"  (Ibrani 12:25).  Ini sama seperti seorang bijaksana yang mendirikan rumah di atas batu, ketika goncangan terjadi rumah itu tidak goyah dan tetap tegak berdiri  (Lukas 6:47-48).

     Kita akan mudah tergoncang bila dalam segal hal kita mengandalkan kekuatan sendiri.  Alkitab mengajarkan kita untuk hidup mengandalkan Tuhan dan percaya kepada-Nya.  Karena itu jangan terpaku pada masalah atau situasi!  "...dari manakah akan datang pertolonganku? Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi."  (Mazmur 121:1-2).

Biar pun gunung beranjak dan bukit bergoyang, tapi kasih setia Tuhan takkan beranjak dari hidup orang percaya  (Yesaya 54:10).

Friday, October 12, 2018

DIKHIANATI ORANG TERDEKAT

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 Oktober 2018

Baca:  Matius 26:47-56

"'Hai teman, untuk itukah engkau datang?' Maka majulah mereka memegang Yesus dan menangkap-Nya."  Matius 26:50

Bagaimana perasaan Saudara seandainya orang yang teramat dekat dengan kita, sahabat dan bahkan kita sudah menganggapnya seperti saudara sendiri dan sangat kita kasihi, tiba-tiba berlaku khianat terhadap kita?  Tentunya kita sangat kecewa dan hati ini terasa sakit.  "Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara berlimpah-limpah."  (Amsal 27:6).  Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata  'khianat'  memiliki arti:  perbuatan tidak setia, tipu daya, perbuatan yang bertentangan dengan janji.  Sebagian besar orang yang telah dikhianati oleh orang terdekatnya akan melakukan sebuah tindakan, yaitu tidak lagi mau berhubungan dengan orang yang berkhianat tadi, sekalipun mungkin sudah memaafkan.  "Saudara yang dikhianati lebih sulit dihampiri dari pada kota yang kuat,"  (Amsal 18:19).

     Kristus pun pernah merasakan sebuah pengkhianatan!  Ia dikhianati oleh orang-orang terdekat-Nya dan yang dikasihi-Nya.  Pada malam sebelum ditangkap Ia dan kedua belas murid-Nya berkumpul bersama menikmati jamuan makan malam.  Pada kesempatan itu Kristus menyampaikan tentang apa yang akan terjadi pada diri-Nya dan murid-murid-Nya, di mana mereka akan tercerai berai dan lari ketakutan saat Kristus akan ditangkap.  Mendengar hal itu Petrus langsung reaktif dan berjanji bahwa apa pun yang terjadi ia sekali-kali tidak akan meninggalkan Sang Guru.  Namun bagaimana faktanya?  Sebelum ayam berkokok Petrus sudah menyangkal Kristus di hadapan manusia sebanyak tiga kali.  Juga, Yudas Iskariot, tega menyerahkan Sang Guru kepada imam-imam kepala untuk ditangkap demi mendapatkan uang sebesar tiga pula keping perak.

     Sekalipun Kristus telah dikhianati, dikecewakan, di sakiti dan ditinggalkan oleh murid-murid-Nya, kasih-Nya tak pernah berubah, kasih-Nya tak lekang oleh situasi dan kondisi.  Bahkan Ia tetap berdoa untuk murid-murid-Nya  (Yohanes 17:1-26).  Suatu teladan hidup yang luar biasa!  Tuhan menghendaki kita untuk mengikuti jejak-Nya,  "...sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi."  (Yohanes 13:34), termasuk mengasihi dan mengampuni orang yang menyakiti sekalipun.

Tetap mengasihi walau tersakiti dan dikhianati, itulah kasih yang sejati!

Thursday, October 11, 2018

MELINDUNGI DIRI SAAT TERANCAM

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 Oktober 2018

Baca:  Matius 26:69-75

"Tetapi ia menyangkalnya di depan semua orang, katanya: 'Aku tidak tahu, apa yang engkau maksud.'"  Matius 26:70

Secara alamiah setiap makhluk hidup memiliki mekanisme pertahanan diri dan perlindungan diri ketika dihadapkan pada ancaman atau bahaya.  Bahkan ada beberapa contoh hewan yang memiliki mekanisme pertahanan diri yang tidak biasa alias ekstrem, semisal:  katak yang mematahkan kaki-kakinya sendiri dan mengeluarkan cakar;  ikan yang melingkupi musuhnya dengan casing tebal dari kotoran;  semut yang bisa meletuskan tubuhnya.  Ini semua dilakukan untuk mempertahankan diri atau melindungi diri dari ancaman para predator.  Ini adalah contoh dari sedikit cara yang tidak biasa dari binatang untuk mempertahankan dirinya ketika dalam bahaya dan ancaman.

     Tak terkecuali manusia, ketika sedang berada dalam ancaman atau bahaya ada mekanisme pertahanan diri yang biasa dilakukan yaitu melawan atau melarikan diri.  Ketika Kristus ditangkap dan dibawa ke Mahkamah Agama, murid-murid-Nya diliputi oleh rasa takut yang luar biasa, sehingga mereka pun lari untuk menyelamatkan diri.  Perikop dari pembacaan firman kita hari ini adalah Petrus menyangkal Kristus.  Ini adalah bentuk mekanisme pertahanan dan perlindungan diri yang dilakukan Petrus ketika dirinya sedang terancam, karena orang-orang telah mengenalinya sebagai salah satu murid Kristus.  Bahkan Petrus berusaha melindungi diri dengan menyangkal bahwa ia bukanlah murid Kristus dan berani membohongi diri sendiri dengan mengatakan bahwa ia tidak mengenal Kristus.  "Maka teringatlah Petrus akan apa yang dikatakan Yesus kepadanya: 'Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.' Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya."  (Matius 26:75).

     Alkitab tak pernah mencatat bahwa pengikut Kristus akan terbebas dari masalah dan beroleh kenyamanan hidup.  Sebaliknya dengan tegas dinyatakan bahwa  "...kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat."  (Matius 10:22).  Siapkah Saudara menghadapinya?

"...barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya."  Matius 16:25

Wednesday, October 10, 2018

BANYAKLAH MENDENGAR: Jangan Banyak Bicara

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 Oktober 2018

Baca:  Mazmur 85:1-14

"Aku mau mendengar apa yang hendak difirmankan Allah, TUHAN. Bukankah Ia hendak berbicara tentang damai kepada umat-Nya dan kepada orang-orang yang dikasihi-Nya,"  Mazmur 85:9

Salah satu faktor yang seringkali menjadi sumber masalah dalam kehidupan ini adalah kebanyakan orang lebih suka berbicara daripada mendengar.  Orang suka berkomentar, suka sekali protes, mengkritik, menghakimi, suka membicarakan keburukan sesamanya  (bergosip), suka saling beradu argumen atau berdebat, dan sebagainya.  Betapa banyak rumah tangga hancur, hubungan suami/isteri tidak lagi harmonis oleh karena mereka sering cekcok, tak bisa menahan bicaranya dan tak ada yang mau mengalah.  Begitu pula dalam kehidupan bermasyarakat atau bernegara, masalah seringkali terjadi karena pemimpinnya banyak bicara  tapi sedikit kerja, sering bertikai dan berselisih paham, dan suka sekali memaksakan kehendak.

     Tuhan menciptakan manusia dengan satu mulut dan dua telinga, dengan tujuan supaya manusia lebih banyak mendengar daripada berbicara.  Namun dalam praktek hidup sehari-hari manusia lebih banyak berbicara, tapi sedikit mau mendengar.  Ada tertulis:  "Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi."  (Amsal 10:19).  'Mendengar'  begitu penting dalam kehidupan ini, karena ketika orang mau mendengar maka ia akan mendapatkan banyak hal yang positif.  Contoh:  seorang siswa yang mau mendengarkan dengan baik materi yang diajarkan gurunya, pengetahuannya semakin bertambah dan ia pasti akan menjadi pandai.  Begitu pula orang yang mau mendengarkan nasihat atau masukan positif dari orang lain pastilah akan mengalami kemajuan demi kemajuan dalam hidupnya.

     Adalah orang yang senantiasa mengarahkan telinganya untuk mendengar firman Tuhan, yang terlebih akan semakin dituntun kepada jalan kebenaran-Nya, sebab firman-Nya  "...bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran."  (2 Timotius 3:16).

"Hai anakku, perhatikanlah hikmatku, arahkanlah telingamu kepada kepandaian yang kuajarkan, supaya engkau berpegang pada kebijaksanaan dan bibirmu memelihara pengetahuan."  Amsal 5:1-2

Tuesday, October 9, 2018

MENJADI UMAT TUHAN YANG PRODUKTIF (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 9 Oktober 2018

Baca:  Yehezkiel 17:1-24

"...Aku, TUHAN, merendahkan pohon yang tinggi dan meninggikan pohon yang rendah, membuat pohon yang tumbuh menjadi layu kering dan membuat pohon yang layu kering bertaruk kembali. Aku, TUHAN, yang mengatakannya dan akan membuatnya."  Yehezkiel 17:24

Orang percaya dikatakan  'produktif'  apabila pertumbuhan iman dan buah-buah yang dihasilkannya tampak nyata,  "Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya."  (Lukas 6:44a).  Rasul Paulus menulis:  "'Tuhan mengenal siapa kepunyaan-Nya' dan 'Setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan kejahatan.' Dalam rumah yang besar bukan hanya terdapat perabot dari emas dan perak, melainkan juga dari kayu dan tanah; yang pertama dipakai untuk maksud yang mulia dan yang terakhir untuk maksud yang kurang mulia. Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia."  (2 Timotius 2:19-21).

     Kunci lain untuk dapat berbuah dan dipandang layak di mata Tuhan adalah jika kita menyucikan diri dari segala kejahatan.  Sama seperti ladang yang harus terlebih dahulu diolah:  dibajak, dicangkul dan digemburkan tanahnya, kita ini adalah ladang Tuhan  (1 Korintus 3:9).  Sebagai ladang kita perlu diawasi, dijaga dan dipagari agar terlindung dari serangan musuh.  Para petani atau pekerja kebun tahu musuh-musuh yang dapat merusak dan menghancurkan tanaman di ladang:  serangga, hama, tikus, belalang atau binatang buas.  Dalam kehidupan kekristenan pun ada banyak musuh yang berusaha menghambat dan menghalangi pertumbuhan rohani kita.  Musuh utama adalah Iblis, selain itu bisa juga kedagingan dengan segala keinginannya, ajaran-ajaran palsu dan sebagainya.

     Kebutuhan penting dari ladang dan tanaman untuk bertumbuh dan berbuah adalah pupuk untuk menyuburkan tanah dan juga merangsang pertumbuhan agar cepat berbuah.  'Pupuk'  ini berbicara tentang:  doa  (persekutuan pribadi dengan Tuhan dan Roh Kudus  (Efesus 6:18b), ibadah  (1 Timotius 4:7b-8)  dan firman Tuhan  (Mazmur 1:2, Yosua 1:8).  Dibutuhkan ketekunan dan kedisiplinan yang tinggi!

Tanpa mau membayar harga kita tidak akan menjadi umat Tuhan yang produktif  (bertumbuh dan berbuah).

Monday, October 8, 2018

MENJADI UMAT TUHAN YANG PRODUKTIF (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 Oktober 2018

Baca:  Yehezkiel 17:1-24

"Namun ia ditanam di ladang yang baik, dekat air yang berlimpah-limpah, supaya ia bercabang-cabang dan berbuah dan supaya menjadi pohon anggur yang bagus."  Yehezkiel 17:8

Melalui nabi Yehezkiel ini Tuhan menyatakan kerinduan dan kehendak-Nya atas kehidupan bangsa Israel yang adalah umat pilihan-Nya.  Tuhan mau mereka menjadi umat yang produktif, yang mengalami pertumbuhan dan berbuah, seperti pohon anggur.  Apa yang diharapkan dari pohon anggur?  Tak lain dan tak bukan adalah buahnya.  Pohon anggur hanya akan bermanfaat apabila dapat berbuah.  "Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu."  (Yohanes 15:16).

     Bertumbuh dan berbuah adalah cara menyenangkan hati Tuhan dan mempermuliakan nama-Nya.  "Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku."  (Yohanes 15:8).  Kunci untuk dapat bertumbuh dan berbuah adalah melekat kepada Tuhan,  "Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku."  (Yohanes 15:4), dan menjadikan hati kita sebagai tanah yang baik.  "Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan."  (Lukas 8:15)  Tanah hati yang baiklah yang dapat menghasilkan buah yang lebat:  "...ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat."  (Matius 13:8).

     Pemazmur menggambarkan kehidupan Kristen yang produktif itu  "...seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil."  (Mazmur 1:3).  Sayang, sampai saat ini masih banyak orang percaya yang kehidupan rohaninya tidak bertumbuh dan berbuah, padahal sudah menjadi pengikut Kristus bertahun-tahun lamanya dan bahkan sudah terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan rohani di gereja.  Kehidupan Kristen yang demikian bisa disebut kekristenan yang kerdil dan mandul.  Ini mengecewakan Tuhan!