Monday, November 20, 2017

FIRMAN TUHAN SEPERTI API (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 20 November 2017

Baca:  1 Petrus 1:3-12

"Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu--yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api--sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya."  1 Petrus 1:7

Selain berfungsi menerangi dan menghangatkan, api juga berfungsi untuk memurnikan.  Emas yang murni adalah hasil dari proses pemurnian dengan api.  Cara pemurnian emas ditempuh lewat proses pembakaran.  Logam emas dibakar dengan suhu yang sangat tinggi sampai mencair.  Setelah mencair, kotoran-kotoran yang melekat pada emas seperti karat, debu, atau logam-logam lain akan mudah dipisahkan dan disingkirkan.  Proses ini terus dilakukan secara berulang-ulang sampai pada akhirnya diperoleh emas yang benar-benar murni, terbebas dari segala kotoran dan unsur logam lainnya.

     Seperti halnya emas diproses hingga menjadi emas murni, setiap orang percaya pun harus melewati proses pemurnian.  Saat diproses memang sakit secara daging, tetapi semua mendatangkan kebaikan bagi kita supaya sifat-sifat lama kita hilang.  Ayub berkata,  "Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas."  (Ayub 23:10).  Ketika sedang berada dalam masalah, penderitaan, kesengsaraan atau pergumulan hidup yang berat kualitas iman seseorang akan terlihat.  Tuhan berfirman:  "Sesungguhnya, Aku telah memurnikan engkau, namun bukan seperti perak, tetapi Aku telah menguji engkau dalam dapur kesengsaraan."  (Yesaya 48:10).  Setiap orang yang sudah mengalami  'api'  pemurnian dari Tuhan hidupnya pasti akan berubah dan berbeda.  Tokoh-tokoh di Alkitab dan tak terkecuali hamba-hamba Tuhan juga pasti mengalami dan merasakan proses dari Tuhan ini.

     Maleakhi menubuatkan tentang kedatangan Sang Mesias  (Kristus), sebagai api tukang pemurni logam dan sabun tukang penatu.  "Siapakah yang dapat tahan akan hari kedatangan-Nya? Dan siapakah yang dapat tetap berdiri, apabila Ia menampakkan diri? Sebab Ia seperti api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu."  (Maleakhi 3:2).  Kristus datang untuk memurnikan dan membersihkan umat-Nya dari kecemaran.

Jangan sekali-kali memberontak saat masuk dalam  'api'  pemurnian Tuhan!

Sunday, November 19, 2017

FIRMAN TUHAN SEPERTI API (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 19 November 2017

Baca:  Yeremia 23:25-29

"Bukankah firman-Ku seperti api, demikianlah firman TUHAN dan seperti palu yang menghancurkan bukit batu?"  Yeremia 23:29

Kepada Yeremia, Tuhan menegaskan bahwa firman Tuhan itu seperti api dan palu.  Api merupakan suatu reaksi kimia yang berlangsung cepat terhadap suatu material yang terjadi selama proses pembakaran kimiawi dan mampu menghasilkan panas dan cahaya.  Api memiliki sifat yang sangat dinamis, penuh dengan gerakan percepatan dan membawa terang, tetapi sekaligus juga bisa menghanguskan dan menghancurkan.  Api dapat terbentuk apabila terdapat 3 unsur penting yaitu panas, oksigen, dan bahan yang mudah terbakar.  Kita mengakui bahwa api adalah salah satu faktor yang dapat mendukung kelangsungan hidup manusia sehari-hati:  sumber energi dan penerangan.

     Apa yang dimaksudkan firman Tuhan sebagai api?  Salah satu fungsi api adalah memberi terang.  Pada zaman dahulu, ketika belum ada penerangan listrik seperti sekarang ini, orang menggunakan api  (obor, pelita, lentera)  sebagai alat penerangan.  Dunia saat ini diliputi oleh kegelapan pekat, karena itu kita sangat membutuhkan terang untuk dapat melihat.  Daud berkata,  "Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku."  (Mazmur 119:105), dan  "Bila tersingkap, firman-firman-Mu memberi terang, memberi pengertian kepada orang-orang bodoh."  (Mazmur 119:30).  Adakalanya kita dihadapkan pada pergumulan hidup yang teramat berat, kita serasa tak berdaya menghadapi, tak tahu harus berbuat apa, dan mau menyerah saja...namun ketika kita  'tinggal'  di dalam firman Tuhan, firman-Nya akan menerangi hati dan pikiran kita, sebab firman Tuhan adalah terang manusia.  "Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya."  (Yohanes 1:5).

     Fungsi lain api adalah memberi kehangatan.  Ketika udara dingin mulai menyerang, biasanya orang akan menyalakan api membuat api unggun atau perapian dengan maksud untuk menghangatkan badan.  Di negara-negara yang memiliki 4 musim, umumnya tiap-tiap rumah memiliki tempat pembakaran api  (perapian/pendinginan, fireplace), supaya ketika musim dingin tiba mereka bisa menghangatkan tubuhnya di situ.  Masalah, kesulitan, kesesakan, dan penderitaan seringkali membuat kita kehilangan semangat hidup, segala sesuatu menjadi  'dingin'.  Saat itulah kita butuh firman Tuhan!

Saturday, November 18, 2017

RESPONS HATI TERHADAP FIRMAN TUHAN (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 18 November 2017

Baca:  Yakobus 1:19-25

"Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu."  Yakobus 1:21

Firman Tuhan telah memperingatkan:  "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan."  (Amsal 4:23).  Hati harus dijaga dengan segala kewaspadaan karena hati memegang peranan penting dalam kehidupan seseorang.  Bagaimana respons hati kita terhadap benih firman Tuhan yang ditabur akan menentukan seberapa efektif dan seberapa besar dampak kuasa firman terhadap kehidupan kita.  Ingat, seberapa lama orang menjadi Kristen tak menjamin ia memiliki kedewasaan rohani, semua bergantung pada respons hatinya terhadap firman Tuhan!

     Untuk mengalami kuasa firman Tuhan Yakobus memberikan kuncinya:  "...buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman..."  (ayat nas).  Hati kita harus dalam keadaan bersih dan beres:  segala yang kotor dan jahat harus dibuang.  Kemudian kita harus menerima firman Tuhan dengan lemah lembut, artinya dengan kerendahan hati bersedia untuk dikoreksi, disiplin, ditegur, dibentuk dan diajar.  Tidak sedikit orang Kristen ketika mendengar firman Tuhan yang keras langsung tersinggung dan marah.  Alkitab menyatakan bahwa bagi mereka yang hatinya keras, berita Injil adalah suatu kebodohan, tetapi bagi mereka yang merespons dengan sikap hati yang benar  (percaya), berita Injil adalah kekuatan Tuhan yang menyelamatkan dan memerdekakan.  "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu."  (Yohanes 8:31-32).

     Seberapa kuat fondasi kerohanian kita sangat dipengaruhi oleh kebiasaan kita dalam merenungkan dan melakukan firman Tuhan  (baca  Matius 7:24), bukan hanya sekedar membaca, mendengar firman Tuhan, dan lalu melupakan begitu saja  (ayat 22-24).  Tanda seorang yang memiliki respons hati yang benar terhadap firman adalah suka membaca, meneliti, merenungkan firman Tuhan, serta melakukannya  (Yakobus 1:25).

"Aku hendak bergemar dalam perintah-perintah-Mu yang kucintai...aku hendak merenungkan ketetapan-ketetapan-Mu."  Mazmur 119:47-48

Friday, November 17, 2017

RESPONS HATI TERHADAP FIRMAN TUHAN (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 November 2017

Baca:  Markus 4:1-20

"Dan sebagian (benih) jatuh di tanah yang baik, ia tumbuh dengan suburnya dan berbuah, hasilnya ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang seratus kali lipat."  Markus 4:8

Alkitab menggambarkan firman Tuhan itu sebagai benih, sedangkan hati manusia adalah tanahnya.  Tuhan memberikan benih dengan tujuan agar benih itu bertumbuh di atas tanah yang baik sehingga dapat berbuah atau menghasilkan panenan.  Dengan kata lain benih tidak akan bertumbuh jika benih tersebut tidak ditanam di dalam tanah.  Begitu juga dengan benih firman Tuhan, tidak akan dapat hidup apabila tidak ditanamkan di dalam hati kita.  Hati kita digambarkan sebagai tanah yang siap untuk ditaburi benih, yaitu benih firman Tuhan.  Daud berkata,  "Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau."  (Mazmur 119:11).  "Aku akan bergemar dalam ketetapan-ketetapan-Mu; firman-Mu tidak akan kulupakan."  (Mazmur 119:16).  Itu artinya Daud menanam benih firman Tuhan di dalam hatinya.

     Banyak orang Kristen mendengar firman Tuhan hanya sambil lalu atau sekedar hafal dengan ayat-ayat di Alkitab, tapi mereka tak pernah menanamkan firman itu di dalam hatinya.  Dampaknya pun jelas, benih itu tak dapat bertumbuh dengan baik, apalagi menghasilkan buah, padahal  "...setiap pohon dikenal pada buahnya."  (Lukas 6:44a).  Kehidupan rohaninya tetap saja kering alias gersang, tak ada dampak.  Akhirnya orang lain hanya melihat buah-buah masam yang menjadi hasil tuaiannya.  Kuasa firman Tuhan itu dahsyat, seperti yang Daud katakan,  "Oleh firman TUHAN langit telah dijadikan, oleh nafas dari mulut-Nya segala tentaranya."  (Mazmur 33:6),  "Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi; Dia memberi perintah, maka semuanya ada."  (Mazmur 33:9).  Namun firman Tuhan tidak akan bekerja apabila firman itu tidak ditanam di tanah hati yang baik.

     Bagaimana keadaan tanah hati Saudara?  Keras, berbatu-batu, penuh dengan semak duri, atau subur?  Ini berbicara tentang respons atau sikap hati kita terhadap firman Tuhan.  Jika selama ini kita merasa sudah banyak membaca, mendengar, dan mengerti ayat-ayat di Alkitab, atau bahkan sudah hafal di luar kepala, tetapi kita tetap saja belum mengalami kuasa firman Tuhan di dalam hidup ini, bukan berarti Alkitab adalah firman yang tidak berkuasa.  Yang harus dikoreksi adalah sikap hati kita terhadap firman itu sendiri!

Thursday, November 16, 2017

PADANG GURUN: Proses Pendewasaan Iman

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 November 2017

Baca:  Ulangan 8:1-20

"Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni, apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak."  Ulangan 8:2

Mengikat Tuhan adalah sebuah perjalanan yang panjang, tidak cukup diwakili hanya dengan menjadi anggota di salah satu gereja, tampak rajin datang ke ibadah atau terlibat dalam pelayanan pekerjaan Tuhan.  Mengikut Tuhan berarti kita hidup dalam kehendak dan rencana-Nya.  Kehendak Tuhan dalam hidup orang percaya adalah agar kita hidup seperti cara hidup Tuhan.  "Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup."  (1 Yohanes 2:6), menjadi serupa dengan Kristus.  Hidup yang sama seperti Kristus akan terwujud apabila kita benar-benar  "...menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,"  (Filipi 2:5).  Pertanyaan:  apa yang terdapat dalam pikiran dan perasaan Kristus?  Tidak ada jawaban lain selain hidup menuruti kehendak Bapa dan menyenangkan hati Bapa.

     Tuhan menyediakan berkat yang luar biasa bagi setiap orang yang hidup seturut kehendak-Nya.  Untuk bisa menikmati berkat Tuhan orang percaya harus terlebih dahulu masuk dalam  'proses'nya Tuhan, seperti bangsa Israel harus mengalami pembentukan di padang gurun sebelum mencapai Tanah Perjanjian.  Proses ini bertujuan untuk menguji ketaatan dan ketekunan kita dalam mengikut Tuhan.  Manusia memiliki kecenderungan mengandalkan kekuatan sendiri, mengandalkan harta atau kekayaan daripada hidup mengandalkan Tuhan.  Karena itu sebelum umat Tuhan memasuki Tanah Perjanjian Ia mendidik mereka di padang gurun.  Padang gurun adalah  'sekolah'  untuk mereka belajar hidup mengandalkan Tuhan sepenuhnya.  Padang gurun adalah gambaran tentang situasi yang sulit, penuh tantangan, mungkin menakutkan dan bahkan sangat kritis.

     Perjalanan padang gurun yang harus dilewati oleh bangsa Israel adalah kehendak Tuhan  (ayat nas).  Tujuan Tuhan adalah bukan penderitaannya, melainkan agar mereka belajar rendah hati.  Padang gurun juga menjadi ujian iman dan ketaatan.  Saat dalam masalah akan terlihat jelas kualitas iman dan seberapa jauh kita mau taat kepada Tuhan.

Sesulit apa pun proses yang kita jalani tetaplah berpegang pada firman Tuhan.

Wednesday, November 15, 2017

JANGAN LALAI MENDIDIK ANAK

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 November 2017

Baca:  2 Timotius 1:3-18

"Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu."  2 Timotius 1:5

Telinga kita pasti sangat familiar dengan istilah  'Like father like son', yang secara harafiah dapat diartikan bahwa sifat atau karakter anak tidak akan jauh dari ayahnya.  Istilah lain yang memiliki kesamaan arti adalah  'buah jatuh tak jauh dari pohonnya'.  Secara umum istilah ini mengacu kepada kesamaan sifat, kebiasaan, bakat atau bisa juga hobi, antara generasi sebelumnya dengan generasi berikutnya dalam sebuah keluarga.

     Timotius, lahir dari seorang wanita Yahudi bernama Eunike dan ayahnya berkebangsaan Yunani  (Kisah 16:1).  Dalam bahasa Yunani arti nama Timotius adalah kehormatan bagi Tuhan.  Timotius tumbuh menjadi orang muda yang  "...dikenal baik oleh saudara-saudara di Listra dan di Ikonium,"  (Kisah 16:2)  dan memiliki hati yang takut akan Tuhan.  Hal ini terjadi oleh karena Timotius berada di tengah-tengah keluarga yang mengasihi Tuhan dan takut akan Tuhan.  Neneknya  (Lois)  dan Ibunya  (Eunike)  tidak lalai dalam mendidik Timotius dengan mengajarkan nilai-nilai firman Tuhan setiap hari.  "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran."  (2 Timotius 3:16).  Karena senantiasa mendengarkan nasihat firman Tuhan yang disampaikan oleh orangtua, Timotius pun tumbuh menjadi seorang anak yang beriman kepada Tuhan.  "Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus."  (Roma 10:17).

     Setelah beranjak dewasa Timotius menjadi anak didik rasul Paulus dalam pelayanan.  "...Paulus mau, supaya dia menyertainya dalam perjalanan."  (Kisah 16:3).  Dalam suratnya kepada Timotius, rasul Paulus tak pernah berhenti untuk men-support, menasihati dan menyemangati dia untuk semakin giat dalam melayani Tuhan dan mengobarkan karunia Tuhan yang ada padanya  (baca  2 Timotius 1:6),  "Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya,"  (2 Timotius 4:2).  Timotius membuktikan diri sebagai anak rohani yang mengikuti jejak Paulus, bapak rohaninya.

"Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu."  Amsal 22:6

Tuesday, November 14, 2017

BELAS KASIHAN MEMBUTUHKAN TINDAKAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 November 2017

Baca:  Lukas 10:25-37

"Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan."  Lukas 10:33

Kata belas kasihan yang disebut pula welas asih, atau kepedulian, bisa diartikan:  emosi seseorang yang muncul akibat penderitaan orang lain, lebih kuat dari sekedar berempati.  Perasaan ini biasanya memunculkan suatu usaha untuk mengurangi penderitaan orang tersebut.  Inilah yang dirasakan oleh seorang Samaria ketika melihat orang yang terluka akibat dirampok dan dipukuli oleh para penyamun.  Dilandasi oleh belas kasihan, orang Samaria itu pun tergerak hati untuk menyatakan kebaikannya dalam tindakan nyata.  Belas kasihan tanpa disertai dengan sebuah tindakan tidak akan berdampak apa-apa.

     Dalam perumpamaan ini sesungguhnya ada 3 orang yang melihat orang yang sedang terluka parah di jalan itu dan sangat membutuhkan pertolongan:  seorang imam, orang Lewi dan orang Samaria.  Imam, yang tugas kesehariannya melayani di Bait Suci, ketika melihat orang yang terluka justru mempercepat langkahnya dan melewatinya begitu saja.  Mengapa?  Ia takut kalau-kalau orang itu sudah mati, sebab berdasarkan peraturan per-iman-an, barangsiapa menyentuh orang mati akan dianggap najis selama tujuh hari lamanya  (Bilangan 19:11).  Pikirnya, dengan menolong ia akan kehilangan kesempatan untuk bertugas di Bait Suci.  Baginya, melakukan  'pekerjaan'  pelayanan adalah lebih utama daripada menolong orang lain.  Orang Lewi, juga tak mau mengambil resiko.  Para penyamun seringkali punya kebiasaan memasang umpan di tempat yang sepi, contohnya dengan berpura-pura menjadi orang yang terluka.  Begitu ada orang yang berhenti untuk menolong, segeralah para penyamun lain datang untuk mendekat, menyakiti dan merampoknya.  Tetapi, orang Samaria, ketika melihat orang yang terluka, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan dan segera memberikan pertolongan.  Ia berani mengambil resiko apa pun demi menolong orang lain.

     Ketika melihat orang lain sedang  'terluka'  dan sangat membutuhkan pertolongan, apakah hati kita tergerak untuk memberikan pertolongan?  Apakah hati kita peka terhadap kebutuhan orang lain?  Ingat... mengasihi itu bukan hanya dengan kata-kata belaka, tetapi harus diwujudkan dalam sebuah tindakan.

Milikilah hati seperti hati Tuhan Yesus, yang penuh dengan belas kasihan!

Monday, November 13, 2017

MOTIVASI DI BALIK PERBUATAN BAIK

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 November 2017

Baca:  Kisah Para Rasul 9:36-43

"...Tabita - dalam bahasa Yunani Dorkas. Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah."  Kisah 9:36

Di setiap menjelang pemilihan pemimpin suatu daerah, para kandidat calon pemimpin pasti melakukan orasi menyampaikan program kerjanya secara panjang lebar di hadapan publik.  Tak lupa mereka mengobral janji-janji manisnya.  Tidak sedikit dari mereka yang sebelumnya tidak ada sepak terjangnya, tidak dikenal oleh masyarakat bisa secara tiba-tiba muncul di depan umum dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang selama ini tidak pernah dilakukan.  Ada yang  'blusukan'  ke kawasan-kawasan kumuh atau ke pasar-pasar tradisional, mendatangi  daerah-daerah yang terkena bencana dan membantu para korban yang berada di pengungsian.  Mereka melakukan semua itu dengan tujuan semakin dikenal oleh masyarakat luas dan beroleh simpati.

     Tragisnya begitu seseorang terpilih menjadi pemimpin, tidak sedikit dari mereka yang lupa dengan janji-janjinya.  'Blusukan'  atau berbuat baik kepada masyarakat  'kecil'  tidak ada lagi masuk dalam agenda kerjanya.  Di sini jelas sekali motivasi di balik perbuatan baik yang dilakukan, ada udang dibalik batu alias motivasi terselubung.  Mereka melakukan perbuatan baik itu adalah demi pencitraan diri semata.  Alkitab mengajarkan:  "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia."  (Kolose 3:23).  Artinya setiap perbuatan yang kita lakukan hendaknya dilakukan dengan segenap hati dan bertujuan semata-mata untuk kemuliaan nama Tuhan, bukan untuk mencari pujian dan hormat dari manusia.

     Belajarlah dari Tabita  (bahasa Yunani:  Dorkas), seorang yang dikenal sangat baik hati.  Dengan tulus ikhlas Tabita banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah kepada mereka yang kekurangan  (ayat nas).  Kehidupan Tabita benar-benar menjadi berkat bagi banyak orang.  Ketika Tabita jatuh sakit dan akhirnya meninggal, orang-orang merasa sangat kehilangan dan menangisi kepergiannya.  Mereka pun memohon dan mendesak Petrus agar berdoa untuk Tabita.  Mujizat terjadi, Tuhan mendengarkan seruan doa itu dan memberikan kasih karunia-Nya:  Tabita hidup kembali!  "Peristiwa itu tersiar di seluruh Yope dan banyak orang menjadi percaya kepada Tuhan."  (Kisah 9:42).

Milikilah motivasi yang benar ketika berbuat baik, itulah yang menjadi berkat!

Sunday, November 12, 2017

BELAJAR MENGHARGAI KASIH SETIA TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 November 2017

Baca:  Mazmur 36:1-13

"Betapa berharganya kasih setia-Mu, ya Allah! Anak-anak manusia berlindung dalam naungan sayap-Mu."  Mazmur 36:8

Banyak orang menganggap remeh dan sepele segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupannya sehari-hari.  Dapat tidur nyenyak semalaman dan bangun pagi dengan kekuatan baru, badan dalam keadaan sehat dan tidak sakit-sakitan, pergi pulang dari kantor atau sekolah dalam keadaan yang selamat, semuanya dianggap sebagai hal yang biasa dan lumrah saja.  Kita seringkali tidak menyadari ketika tubuh ini sehat, pekerjaan atau usaha berjalan lancar, rumah tangga adem ayem, anak-anak bertumbuh secara sehat dan pintar adalah karena kasih setia Tuhan, tidak datang atau terjadi dengan sendirinya.

     Mereka yang memiliki latar belakang pendidikan tinggi, hidup dalam kemapanan, berada di puncak karir, wajah tampan/cantik dan berperawakan bagus seringkali berjalan dengan membusungkan dada, merasa semua yang dimiliki adalah karena kesanggupan dan kemampuan diri.  Ucapan syukur pun jarang keluar dari mulut mereka!  "Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh-Ku, firman TUHAN semesta alam."  (Zakharia 4:6).  Hari ini kita diingatkan bahwa semua adalah karena anugerah Tuhan semata.  Karena itu belajarlah untuk mengucap syukur atas kasih setia Tuhan dan jangan pernah lupakan kebaikan Tuhan.  Apabila tubuh kita tampak sehat dan bugar bukanlah semata-mata karena kita pandai menjaga diri dan mengatur pola makanan;  kalau rumah tangga tampak bahagia, dan usaha berjalan dengan lancar, itu juga bukan karena hebat kita.  Tanpa Tuhan beserta, kita takkan mampu sendiri dan semuanya takkan pernah terjadi.

     Keselamatan, ketenangan, kedamaian, perlindungan, kenyamanan dan keberhasilan hidup yang sejati tak dapat kita temukan di luar Tuhan, sekalipun kita pergi ke negara mana pun di belahan bumi ini.  Pemazmur mengerti benar bahwa Tuhanlah sumber segala-galanya.  "Sebab pada-Mu ada sumber hayat, di dalam terang-Mu kami melihat terang."  (Mazmur 36:10), karena itu  "Lanjutkanlah kasih setia-Mu bagi orang yang mengenal Engkau, dan keadilan-Mu bagi orang yang tulus hati!"  (Mazmur 36:11).

Betapa berharganya kasih setia Tuhan, tanpa-Nya kita tak bisa berbuat apa-apa!

Saturday, November 11, 2017

IMAN YANG DIBATASI OLEH SITUASI (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 November 2017

Baca:  Yohanes 11:1-44

"'Lazarus, marilah ke luar!' Orang yang telah mati itu datang ke luar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kapan dan mukanya tertutup dengan kain peluh."  Yohanes 11:43-44

Di tengah keputusasaan Marta, Tuhan Yesus berkata kepadanya,  "Saudaramu akan bangkit."  (Yohanes 11:23), dengan maksud untuk membangkitkan iman dan pengharapannya yang hilang.  Tetapi Marta menjawab,  "Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman."  (Yohanes 11:24).  Marta menunjukkan iman dasarnya pada kebenaran hakiki yang menyatakan bahwa orang-orang yang mati di dalam Tuhan pada akhir zaman akan dibangkitkan.  Namun Tuhan Yesus kembali berkata kepadanya,  "Akulah kebangkitan dan hidup;"  (Yohanes 11:25).  Dalam hal ini Tuhan Yesus hendak menegaskan bahwa Ia berkuasa atas kehidupan dan kematian.  "Percayakah engkau akan hal ini?"  (Yohanes 11:26b).

     Banyak orang Kristen tahu dan mengerti bahwa Yesus berkuasa mengadakan segala mujizat karena Dia adalah Tuhan yang heran dan ajaib.  Tetapi ketika dihadapkan pada  'kematian'  di segala bidang kehidupan, iman mereka goyah dan dibatasi oleh situasi sehingga mata jasmani hanya tertumpu pada masalah dan kesukaran.  Iman yang terbatas ini akhirnya membatasi kuasa Tuhan.  Iman Marta yang terbatas tak mampu melihat kuasa Tuhan yang tak terbatas.  Perhatikan!  "Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah."  (Markus 10:27).

     Tuhan Yesus menangis ketika Ia datang hendak membangkitkan Lazarus, sebab yang dijumpai-Nya iman yang terbatas.  Ketika Tuhan Yesus menyuruh mengangkat batu dari kubur Lazarus, pada awalnya Marta keberatan karena tak percaya:  "Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati."  (Yohanes 11:39).  Tuhan Yesus pun menantangnya,  "Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?"  (Yohanes 11:40).  Marta pun menjadi percaya!  Imannya tak lagi dibatasi oleh situasi, sehingga kuasa Tuhan dinyatakan dengan tak terbatas.  Mujizat pun terjadi:  Lazarus bangkit dari kematian.  Haleluyah!

"Sesungguhnya, Akulah TUHAN, Allah segala makhluk; adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk-Ku?"  Yeremia 32:27

Friday, November 10, 2017

IMAN YANG DIBATASI OLEH SITUASI (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 November 2017

Baca:  Yohanes 11:1-44

"Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati."  Yohanes 11:21

Ketika saudaranya  (Lazarus)  sedang sakit, Marta dan Maria mengirim kabar kepada Tuhan Yesus dan mengundang-Nya untuk segera ke Betania, tempat di mana mereka tinggal, supaya Ia menyembuhkannya.  Berkatalah Tuhan Yesus kepada mereka,  "Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan."  (Yohanes 11:4).  Karena itu  "...setelah didengar-Nya, bahwa Lazarus sakit, Ia (Tuhan Yesus) sengaja tinggal dua hari lagi di tempat, di mana Ia berada;"  (Yohanes 11:4).

     Selanjutnya, apa yang terjadi?  Lazarus meninggal.  Ketika mendengar kabar itu Tuhan Yesus justru berkata,  "...tetapi syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat belajar percaya."  (Yohanes 11:15).  Pernyataan Tuhan Yesus ini tak mudah dimengerti!  Kesengajaan-Nya menunda kedatangan-Nya ke Betania seolah-olah menjadi penyebab kematian Lazarus.  Andaikan saja Tuhan Yesus segera datang pastilah ini tidak akan terjadi.  Itulah yang timbul dalam pemikiran Marta, tersirat dari pernyataannya:  "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati."  (ayat nas).  Namun adakalanya Tuhan ijinkan masalah atau situasi sulit terjadi dengan tujuan kita belajar percaya.  Jika iman percaya kita terbatas pada apa yang terlihat, dan dipengaruhi oleh situasi dan kondisi, kita takkan mampu menyelami rencana dan jalan Tuhan, dan kematian Lazarus akan berarti berakhir pula iman Marta.

     Iman yang dipengaruhi situasi adalah iman yang mati, itu sama artinya dengan ketidakpercayaan.  Seperti orang-orang di Nazaret, meski tahu dan melihat bahwa Tuhan Yesus sanggup mengadakan mujizat, tapi mereka tak mau percaya, hanya karena memandang Dia, tak lebih dari anak tukang kayu.  "'Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?' Dan karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakan-Nya di situ."  (Matius 13:55, 56, 58).

Hidup anak-anak Tuhan seharusnya adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat  (baca  2 Korintus 5:7).