Friday, April 27, 2018

DEWASA ROHANI: Berpikir Dewasa

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 27 April 2018

Baca:  1 Petrus 4:1-6

"Jadi, karena Kristus telah menderita penderitaan badani, kamupun harus juga mempersenjatai dirimu dengan pikiran yang demikian, --karena barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa--,"  1 Petrus 4:1

Ketika di hadapkan pada masalah atau penderitaan hidup, hal pertama yang biasanya kita lakukan adalah berpikir dan berkata-kata negatif:  berkeluh-kesah, gerutu, sungut-sungut dan mengasihani diri sendiri.  "Dosa apakah aku ini?  Mengapa hidupku penuh masalah?  Mengapa Tuhan membiarkan aku seperti ini?"

     Alkitab mengajarkan kita untuk tidak berpikir negatif terlebih dahulu, melainkan ubahlah cara berpikir  (mindset).  Penting diingat:  selama kaki kita berpijak di atas bumi ini kita takkan pernah bisa lari dari masalah atau kesulitan.  Siaplah menghadapinya!  Maka milikilah sikap hati yang benar dalam menyikapi permasalahan, sebab Tuhan selalu turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan!  (Roma 8:28).  Ada kalanya Tuhan ijinkan masalah atau penderitaan sebagai cara untuk membawa kita makin dekat kepada-Nya, tidak lagi berpaut pada kekuatan sendiri, dan semakin menjauhkan kita dari pelanggaran terhadap firman-Nya.  Daud berkata,  "Sebelum aku tertindas, aku menyimpang, tetapi sekarang aku berpegang pada janji-Mu. Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu."  (Mazmur 119:67, 71).

     Perhatikan nasihat Rasul Paulus ini:  "Saudara-saudara, janganlah sama seperti anak-anak dalam pemikiranmu. Jadilah anak-anak dalam kejahatan, tetapi orang dewasa dalam pemikiranmu!"  (1 Korintus 14:20a).  Orang percaya dituntut untuk menjadi dewasa dalam berpikir maupun bertindak.  Orang yang dewasa rohani pasti sanggup menghadapi masalah atau kesulitan hdiup dengan pemikiran yang dewasa pula, di mana ia mampu membedakan mana yang baik dan berkenan kepada Tuhan:  tidak lagi suka mengeluh, tidak lagi suka ngambek, tidak lagi suka marah-marah, tidak lagi suka menyalahkan orang lain atau keadaan, tidak mudah berputus asa atau mengasihani diri sendiri.  Rasul Paulus berkata:  "Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu."  (1 Korintus 13:11).

Masalah atau penderitaan adalah proses yang menuntun kepada kedewasaan rohani!

Thursday, April 26, 2018

MELAYANI TUHAN: Hidup Selaras Firman

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 26 April 2018

Baca:  1 Timotius 3:1-7

"Benarlah perkataan ini: 'Orang yang menghendaki jabatan penilik jemaat menginginkan pekerjaan yang indah.'"  1 Timotius 3:1

Tidak semua orang percaya dipanggil untuk melayani Tuhan sebagai full timer di gereja, namun setiap kita dipanggil untuk melayani Tuhan di mana pun kita berada dan apa pun profesi kita.  Inilah panggilan Tuhan bagi orang percaya!  Melayani Tuhan itu bukan berbicara tentang apa karunia kita dan juga apa jabatan kita di gereja.  Melayani Tuhan juga bukan bertujuan sekedar mengembangkan potensi yang dimiliki, melainkan haruslah timbul dari hati orang yang menyadari bahwa hidupnya telah ditebus dan diselamatkan oleh Kristus, sehingga ia memiliki kerinduan yang besar untuk membalas kasih Tuhan dengan mempersembahkan hidup bagi-Nya  (Roma 12:1).

     Apalah artinya seseorang tampak sibuk melakukan kegiatan-kegiatan rohani di gereja namun hidupnya tidak mencerminkan orang yang sedang melayani Tuhan?  Inti kehidupan Kristen adalah bagaimana kita bisa menyenangkan hati Tuhan dan bagaimana hidup kita bisa menjadi garam dan terang dunia  (Matius 5:13-16).  Karena itu orang yang melayani Tuhan haruslah memiliki standar hidup yang berbeda yaitu hidup berkenan kepada Tuhan:  "...haruslah seorang yang tak bercacat, suami dari satu isteri, dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, cakap mengajar orang, bukan peminum, bukan pemarah melainkan peramah, pendamai, bukan hamba uang,"  (1 Timotius 3:2-3).

     Tak kalah penting, hidup orang yang melayani Tuhan harus terpancar terlebih dahulu dalam kehidupan keluarga sebagai komunitas terkecil untuk memraktekkan kasih dan nilai-nilai kebenaran.  "...seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya. Jikalau seorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus Jemaat Allah?"  (1 Timotius 3:4-5).

Ternyata bukan perkara mudah melayani Tuhan!  Selain harus punya kehidupan yang berkenan kepada Tuhan, kita juga harus siap menghadapi tantangan!  Siapakah kita?

Wednesday, April 25, 2018

MILIKILAH HIDUP YANG SOPAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 25 April 2018

Baca:  1 Tesalonika 4:1-12

"...sehingga kamu hidup sebagai orang-orang yang sopan di mata orang luar dan tidak bergantung pada mereka."  1 Tesalonika 4:12

Kita pasti senang ketika melihat ada orang yang sopan.  Sebaliknya kita akan mengelus dada jika melihat ada orang yang berlaku norak, tidak punya sopan santun.  Secara umum arti kata  'sopan'  adalah hormat, tertib menurut adat yang baik, baik budi bahasa dan sebagainya.  Sikap inilah yang harus dimiliki oleh setiap orang percaya!  Orang percaya yang berlaku tidak sopan hanya akan menjadi cemoohan, batu sandungan bagi orang lain dan mempermalukan nama Tuhan.  "Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia..."  (1 Petrus 1:18), supaya kita memiliki kehidupan yang berbeda dengan dunia.  Sepatutnya kita merasa malu jika melakukan perbuatan-perbuatan yang tak sopan, malu hidup dengan cara-cara dunia. 

     Berlaku hidup sopan berarti hidup dalam kekudusan"...Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu,"  (1 Tesalonika 4:3).  Hidup kudus adalah kehendak Tuhan yang tidak bisa ditawar lagi.  "...hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus."  (1 Petrus 1:15-16).  Orang berlaku tidak sopan karena hidupnya dikendalikan oleh nafsu kedagingannya, sedangkan hidup Kristiani adalah hidup yang dikendalikan dan dikontrol oleh Roh Kudus.  Rasul Paulus menasihati,  "...hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging--karena keduanya bertentangan--sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki."  (Galatia 5:16-17).

     Berlaku hidup sopan adalah hidup tenang, tidak suka ribut, tidak menyampuri urusan orang lain, dan bukan pemalas.  "Dan anggaplah sebagai suatu kehormatan untuk hidup tenang, untuk mengurus persoalan-persoalan sendiri dan bekerja dengan tangan, seperti yang telah kami pesankan kepadamu,"  (1 Tesalonika 4:11).  Bagaimana bisa menjadi berkat dan terang bagi dunia, jika dalam hidup keseharian kita berlaku sangat tidak sopan?

Di mana pun berada dan kapan pun waktunya kita harus bisa menjaga perkataan dan perbuatan kita sesuai firman Tuhan!

Tuesday, April 24, 2018

BERKAT ABRAHAM: Berkat Orang Percaya (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 24 April 2018

Baca:  Roma 4:1-25

"...dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan."  Roma 4:21

Kebimbangan adalah musuh iman!  Orang yang bimbang tak akan menerima sesuatu dari Tuhan  (Yakobus 1:6-7).  Jika sampai detik ini kita belum mengalami penggenapan janji Tuhan, hal pertama yang harus kita lakukan adalah mengoreksi diri, mungkin selama ini kita tidak sepenuhnya percaya kepada Tuhan, alias bimbang.  Abraham, selain tidak bimbang, memiliki keyakinan penuh bahwa Tuhan sanggup melaksanakan janji-Nya  (ayat nas):  "Sesungguhnya seperti yang Kumaksud, demikianlah akan terjadi, dan seperti yang Kurancang, demikianlah akan terlaksana:"  (Yesaya 14:24).  Karena itu ia membuang segala ketakutan dan kekuatiran, terus berpegang teguh kepada janji Tuhan.  Bagi Tuhan memberikan keturunan kepada Abraham adalah hal yang sungguh teramat mudah.

     Tentang janji Tuhan, pemazmur menulis:  "Janji TUHAN adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah."  (Mazmur 12:7).  Nabi Yesaya menuturkan,  "Oleh perjalananmu yang jauh engkau sudah letih lesu, tetapi engkau tidak berkata: 'Tidak ada harapan!' Engkau mendapat kekuatan yang baru, dan sebab itu engkau tidak menjadi lemah."  (Yesaya 57:10).  Tuhan tidak pernah main-main dengan janji-Nya, Ia membuat segala sesuatu indah pada waktu-Nya.

     Mungkin saat ini Saudara sedang mengalami pergumulan hidup yang berat dan merasa jenuh, bosan, putus asa.  Hari ini firman Tuhan mengingatkan untuk terus menerus bertekun menanti-nantikan Tuhan.  "...orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah."  (Yesaya 40:31).  Milikilah keyakinan penuh bahwa Tuhan sanggup melakukan segala perkara.  "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia."  (1 Korintus 2:9).

"Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah."  Galatia 3:29

Monday, April 23, 2018

BERKAT ABRAHAM: Berkat Orang Percaya (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 23 April 2018

Baca:  Roma 4:1-25

"Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu."  Roma 4:18

Tuhan berjanji kepada Abraham bahwa Ia akan memberinya keturunan.  Alkitab menyebutkan bahwa keturunan Abraham akan seperti debu tanah banyaknya dan juga seperti bintang-bintang yang bertebaran di langit, seperti tertulis:  "Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya." Maka firman-Nya kepadanya: 'Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.'"  (Kejadian 15:5).  Tuhan menegaskan hal ini beberapa kali kepada Abraham dan ketika menerima janji tersebut usia Abraham sudah sangat lanjut, isterinya pun telah tertutup rahimnya.  Secara manusia dan ditinjau dari sudut medis mustahil baginya untuk bisa memiliki keturunan.  Tidaklah mengherankan jika mereka sempat tertawa ketika mendengar janji Tuhan ini!

     Tuhan berfirman,  "Adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk TUHAN? Pada waktu yang telah ditetapkan itu, tahun depan, Aku akan kembali mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara mempunyai seorang anak laki-laki."  (Kejadian 18:14).  Tuhan menggenapi janji-Nya:  "Maka mengandunglah Sara, lalu ia melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abraham dalam masa tuanya, pada waktu yang telah ditetapkan, sesuai dengan firman Allah kepadanya. Abraham menamai anaknya yang baru lahir itu Ishak, yang dilahirkan Sara baginya."  (Kejadian 21:2-3).  Tak mudah mengalami penggenapan janji Tuhan ini karena Abraham harus menunggu bertahun-tahun.  Dua puluh lima tahun menanti bukanlah waktu yang singkat!

     Banyak orang gagal menikmati janji Tuhan karena tak sabar menantikan waktu-Nya.  Penting sekali kita belajar dari Abraham yang mampu memegang teguh janji Tuhan sekalipun harus melewati proses panjang.  Alkitab menyatakan,  "...terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah,"  (Roma 4:20).  Abraham tidakbimbang terhadap janji Tuhan, meski secara kasat mata situasi atau keadaan tidak mendukung sama sekali.  "...maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran."  (Kejadian 15:6).

Tidak bimbang berarti percaya penuh kepada Tuhan!

Sunday, April 22, 2018

MENGANDALKAN DIRI SENDIRI: Menuai Kehancuran

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 22 April 2018

Baca:  2 Tawarikh 16:1-14

"Karena engkau bersandar kepada raja Aram dan tidak bersandar kepada TUHAN Allahmu, oleh karena itu terluputlah tentara raja Aram dari tanganmu."  2 Tawarikh 16:7

Alkitab mencatat bahwa ketika Asa hidup percaya kepada Tuhan dengan sepenuh hati, dan hidup mengandalkan dia, maka Tuhan mengaruniakan keamanan dan ketenteraman atas negerinya,  "Tidak ada perang sampai pada tahun ketiga puluh lima pemerintahan Asa."  (2 Tawarikh 15:19).  Apa yang terjadi kemudian?  Setelah hidupnya berhasil raja Asa mulai berubah sikap, hatinya tidak lagi berpaut kepada Tuhan.  Ia mulai bersandar kepada pengertiannya sendiri dan tidak lagi melibatkan Tuhan dalam setiap keputusan.

     Ketika sedang mengalami masalah berat yaitu menghadapi Baesa  (raja Israel), Asa tidak lagi mencari pertolongan kepada Tuhan seperti yang dahulu dilakukan.  Ia mulai menggunakan akal pikirannya sendiri, lalu mencari pertolongan kepada dunia dan berharap kepada manusia yaitu yaitu meminta pertolongan kepada raja Aram.  Demi beroleh bantuan ia rela mempersembahkan harta benda yang ada di dalam Bait Tuhan.  "...Asa mengeluarkan emas dan perak dari perbendaharaan rumah TUHAN dan dari perbendaharaan rumah raja dan mengirimnya kepada Benhadad, raja Aram yang diam di Damsyik dengan pesan: 'Ada perjanjian antara aku dan engkau, antara ayahku dan ayahmu. Ini kukirim emas dan perak kepadamu. Marilah, batalkanlah perjanjianmu dengan Baesa, raja Israel, supaya ia undur dari padaku.'"  (2 Tawarikh 16:2-3).

     Akibat perbuatan bodoh ini raja Asa harus menanggung akibatnya:  "...terluputlah tentara raja Aram dari tanganmu. Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia. Dalam hal ini engkau telah berlaku bodoh, oleh sebab itu mulai sekarang ini engkau akan mengalami peperangan."  (2 Tawarikh 16:7, 9).  Sejak saat itu ketenteraman dan keamanan semakin menjauh dari negeri Yehuda!  Dan  "Pada tahun ketiga puluh sembilan pemerintahannya Asa menderita sakit pada kakinya yang kemudian menjadi semakin parah."  (2 Tawarikh 16:12).  Sesungguhnya hal itu adalah kesempatan bagi Asa untuk bertobat, namun dalam kondisi yang demikian ia tetap saja tidak mau bertobat, malahan ia tetap mencari pertolongan kepada tabib-tabib, bukan mencari Tuhan.

Jangan sekali-kali mengandalkan kekuatan sendiri jika tidak ingin hancur!

Saturday, April 21, 2018

PERCAYA KEPADA TUHAN: Ada Kemenangan

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 21 April 2018

Baca:  2 Tawarikh 14:2-15

"Ia memerintahkan orang Yehuda supaya mereka mencari TUHAN, Allah nenek moyang mereka, dan mematuhi hukum dan perintah."  2 Tawarikh 14:4

Orang Kristen disebut sebagai orang percaya, tapi sesungguhnya tidak semua orang Kristen percaya kepada Tuhan dengan segenap hati.  Ketika dihadapkan pada masalah atau pergumulan hidup kita cenderung mengandalkan kekuatan sendiri atau mengandalkan akal pikiran daripada mengandalkan Tuhan;  kita memutuskan segala sesuatu menurut pertimbangan dan kehendak sendiri;  kita memiliki banyak rencana hidup tanpa mau melibatkan Tuhan karena beranggapan bahwa rencana sendiri adalah yang terbaik.  Alkitab memperingatkan:  "Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan;"  (Amsal 3:5-7).

     Marilah kita belajar dari pengalaman hidup Asa, seorang raja yang pernah memerintah kerajaan Yehuda menggantikan ayahnya  (Abia).  Alkitab mencatat bahwa di awal pemerintahan  "Asa melakukan apa yang baik dan yang benar di mata TUHAN, Allahnya. Ia menjauhkan mezbah-mezbah asing dan bukit-bukit pengorbanan, memecahkan tugu-tugu berhala, dan menghancurkan tiang-tiang berhala."  (2 Tawarikh 14:2-3).  Asa hidup mengandalkan Tuhan dan percaya kepada-Nya dengan sepenuh hati dan memerintahkan seluruh rakyatnya untuk mencari Tuhan dan hidup taat melakukan firman-Nya.  Ketika raja Asa dan seluruh rakyatnya hidup mengandalkan Tuhan dan taat kepada-Nya Tuhan mengaruniakan keamanan atas seluruh negeri.

     Ketika berperang melawan Zerah, orang Etiopia dengan kekuatan 1 juta orang tentara, tiga ratus kereta dan lengkap dengan peralatan tempur yang canggih, secara teori pasukan Yehuda mustahil bisa menang karena kekuatan mereka hanya 300.000 orang bersenjatakan perisai besar dan tombak, dan 280.000 orang sebagai pemanah.  Tetapi karena raja Asa mengandalkan Tuhan, mujizat terjadi:  musuh dipukul kalah.  Mereka tampil sebagai pemenang dan beroleh jarahan yang sangat besar!  (2 Tawarikh 14:12-13).

Ketika raja asa percaya kepada Tuhan dengan sepenuh hati dan mengandalkan Dia, kerajaannya aman dan berkemenangan!

Friday, April 20, 2018

MENERIMA KEMURAHAN: Harus Bermurah Hati (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 20 April 2018

Baca:  Lukas 6:27-36

"Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati."  Lukas 6:36

Seorang anak biasanya mewarisi sifat-sifat orang tuanya, seperti kata pepatah yang mengatakan bahwa buah jatuh tak jauh dari pohonnya.  Keteladanan hidup yang baik yang ditunjukkan oleh seorang ayah akan menghasilkan generasi yang berkualitas pula.  Sebagai orang percaya kita memiliki Bapa Sorgawi yang begitu mengasihi kita dan kasih setia-Nya sungguh tak terbatas.  Kalau bapa di dunia saja tahu memberi yang baik kepada anak-anaknya, apalagi Bapa kita yang di Sorga, pasti akan memberikan yang terbaik bagi kita anak-anak-Nya.  "Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang;"  (Yakobus 1:17).

     Kalau kita menyadari bahwa Tuhan telah menyatakan kemurahan hati-Nya yang tak terhingga dan memberikan yang terbaik bagi kita, sudah sepatutnya kita mengikuti jejak-Nya dengan mencerminkan sikap yang sama dengan-Nya.  Salah satunya adalah hal kemurahan hati ini.  Berbicara tentang kemurahan hati bukan semata-mata berbicara tentang memberi dalam bentuk materi saja.  Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia arti kata  'murah hati'  adalah sebuah perilaku mudah memberi, tidak pelit, penyayang dan pengasih, suka menolong, baik hati.  Dengan kata lain kemurahan hati menyangkut banyak aspek di dalam kehidupan ini.  Dalam 1 Korintus 13:4 tertulis:  "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong."  Kemurahan hati adalah salah satu perwujudan dari kasih.  Kekristenan itu selalu identik dengan kasih.  Orang Kristen yang tidak mempunyai kasih patut dipertanyakan kekristenannya, sebab ada tertulis:  "Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih...dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia."  (1 Yohanes 4:8, 16b).

     Kemurahan hati adalah sifat Tuhan sendiri, maka orang percaya pun tak boleh lepas dari sifat itu.  Banyak orang Kristen enggan bermurah hati kepada orang lain padahal Alkitab menyatakan bahwa orang yang murah hati sesungguhnya berbuat baik kepada diri sendiri  (Amsal 11:17), karena Tuhan pasti akan membalasnya.  Pemazmur menyebut orang yang murah hati sebagai orang benar  (Mazmur 37:21).

Sudahkah kita menjadi orang yang penuh kemurahan hati seperti Kristus?

Thursday, April 19, 2018

MENERIMA KEMURAHAN: Harus Bermurah Hati (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 19 April 2018

Baca:  Keluaran 3:1-22

"Dan Aku akan membuat orang Mesir bermurah hati terhadap bangsa ini, sehingga, apabila kamu pergi, kamu tidak pergi dengan tangan hampa,"  Keluaran 3:21

Alkitab menyatakan bahwa dalam peristiwa keluarnya bangsa Israel dari Mesir, Tuhan membuat orang-orang Mesir bermurah hati terhadap umat Israel, sehingga mereka tidak pergi dengan tangan hampa.  "...tiap-tiap perempuan harus meminta dari tetangganya dan dari perempuan yang tinggal di rumahnya, barang-barang perak dan emas dan kain-kain, yang akan kamu kenakan kepada anak-anakmu lelaki dan perempuan; demikianlah kamu akan merampasi orang Mesir itu."  (Keluaran 3:22).  Apa alasan orang-orang Mesir memberikan harta mereka kepada umat Israel?  Tidak ada alasan lain selain karena Tuhan turut campur tangan, Tuhan yang membuat orang-orang Mesir bermurah hati.  Ada tertulis:  "Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati."  (Roma 9:15).  Jika Tuhan turut bekerja maka sesuatu yang tak mungkin menjadi mungkin.

     Kita diselamatkan karena Tuhan bermurah hati kepada kita, sebab tidak ada sesuatu yang baik yang kita miliki yang mendasari Tuhan untuk menyelamatkan kita.  Kristus telah mati untuk kita ketika kita masih berdosa  (Roma 5:8).  Karena kita telah menerima kemurahan hati, maka kita pun harus menjadi pemberi kemurahan pada orang lain.  Adalah mudah untuk menerima daripada memberi!  Tetapi Alkitab menasihatkan:  "Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima."  (Kisah 20:35b).

     Ada banyak orang Kristen yang sudah menerima kemurahan dari Tuhan begitu rupa tetapi mereka tidak mau berlaku murah hati kepada orang lain, seperti perumpamaan seorang hamba yang mempunyai hutang 10.000 talenta yang sudah dibebaskan dan dihapuskan hutangnya oleh raja  (Matius 18:27).  Meski sudah beroleh kemurahan dari raja hamba itu sukar sekali untuk bermurah hati kepada orang lain.  Terhadap kawannya yang berhutang seratus dinar kepadanya ia berlaku sangat jahat:  "Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu!"  (Matius 18:28).  Bahkan ia tega menjebloskan kawannya itu ke dalam penjara.

Orang yang beroleh kemurahan dari Tuhan sudah sepatutnya berlaku murah hati kepada saudaranya yang lain!

Wednesday, April 18, 2018

RANCANGAN TUHAN ADALAH YANG TERBAIK (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 18 April 2018

Baca:  Kejadian 45:1-28

"Yusuf masih hidup, bahkan dialah yang menjadi kuasa atas seluruh tanah Mesir."  Kejadian 45:26

Secara manusia apa yang menimpa Yusuf serasa tidak adil.  Meski demikian Alkitab tak pernah mencatat bahwa ia kecewa, sakit hati atau berkeluh kesah dan sungut-sungut.  Ia juga tidak menyalahkan keadaan, menyalahkan saudara-saudaranya, apalagi sampai menyalahkan Tuhan.  Yusuf terus mengalir mengikuti rancangan Tuhan karena ia tahu bahwa rancangan-Nya pasti yang terbaik dan  "Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya,"  (Pengkhotbah 3:11).

     Proses yang Yusuf jalani adalah persiapan penggenapan rencana besar Tuhan.  Tidak ada satu pun manusia dapat menghalangi rancangan hidup Tuhan!  "Sesungguhnya seperti yang Kumaksud, demikianlah akan terjadi, dan seperti yang Kurancang, demikianlah akan terlaksana:"  (Yesaya 14:24).  Tepat pada waktunya Tuhan, mimpi Yusuf pun menjadi kenyataan.  Ia diangkat menjadi penguasa atas seluruh Mesir  (Kejadian 41:37-57), dan tampil sebagai penyelamat bagi kaum keturunan ayahnya dari bencana kelaparan.  "Ketika Ia mendatangkan kelaparan ke atas negeri itu, dan menghancurkan seluruh persediaan makanan, diutus-Nyalah seorang mendahului mereka: Yusuf, yang dijual menjadi budak. Mereka mengimpit kakinya dengan belenggu, lehernya masuk ke dalam besi, sampai saat firman-Nya sudah genap, dan janji TUHAN membenarkannya. Raja menyuruh melepaskannya, penguasa bangsa-bangsa membebaskannya. Dijadikannya dia tuan atas istananya, dan kuasa atas segala harta kepunyaannya,"  (Mazmur 105:16-21).

     Ketika bertemu saudara-saudaranya berkatalah Yusuf,  "Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar."  (Kejadian 50:20).  Tuhan tahu jalan hidup kita dan tahu apa yang terbaik untuk kita!  Belajarlah tunduk kepada rancangan Tuhan sekalipun harus melewati proses yang panjang, sebab rancangan Tuhan adalah damai sejahtera dan hari depan penuh harapan  (Yeremia 29:11).

Dalam segala perkara Tuhan turut bekerja dan tidak ada rancangan-Nya yang gagal!

Tuesday, April 17, 2018

RANCANGAN TUHAN ADALAH YANG TERBAIK (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 April 2018

Baca:  Yesaya 25:1-5

"Ya TUHAN, Engkaulah Allahku; aku mau meninggikan Engkau, mau menyanyikan syukur bagi nama-Mu; sebab dengan kesetiaan yang teguh Engkau telah melaksanakan rancangan-Mu yang ajaib yang telah ada sejak dahulu."  Yesaya 25:1

Pada umumnya setiap orang lebih suka memiliki rancangan-rancangan sendiri bagi kehidupannya yang didasarkan pada apa yang tampak secara kasat mata dan sifatnya duniawi.  Berbeda dengan rancangan Tuhan yang lebih terfokus pada hal-hal yang rohaniah.  Semisal dalam hal memilih pasangan hidup atau memilih pemimpin biasanya orang lebih berfokus kepada penampilan lahiriah  (fisik), sementara Tuhan lebih memperhatikan hal-hal yang rohaniah  (1 Samuel 16:7b).

     Sedikit orang mau tunduk dan mengikuti rancangan Tuhan, karena mereka menganggap bahwa rancangan Tuhan itu jauh dari yang diinginkan dan sangat tidak mengenakkan secara daging.  Tuhan berkata,  "Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu."  (Yesaya 55:8-9).  Yusuf adalah contoh orang yang memilih untuk mengikuti rancangan Tuhan sekalipun ia harus mengalami suatu proses perjalanan hidup yang panjang, melelahkan dan sangat tidak mengenakkan secara daging.  Ditinjau dari latar belakang keluarga, ia adalah anak kesayangan ayahnya.  "Israel lebih mengasihi Yusuf dari semua anaknya yang lain, sebab Yusuf itulah anaknya yang lahir pada masa tuanya; dan ia menyuruh membuat jubah yang maha indah bagi dia."  (Kejadian 37:3).  Dengan kata lain Yusuf telah terbiasa berada di zona nyaman.  Karena ayahnya lebih menyayangi Yusuf timbullah kebencian dalam diri saudara-saudaranya, dan kebencian mereka semakin menjadi-jadi ketika mereka tahu bahwa Tuhan mempunyai rancangan besar bagi kehidupan Yusuf yang dinyatakan melalui mimpi (Kejadian 37:5-11).

     Ada harga yang harus Yusuf bayar untuk masuk dalam rancangan Tuhan ini:  dimasukkan ke dalam sumur  (Kejadian 37:24), dijual kepada saudagar Midian dengan harga 20 syikal perak, menjadi budak di rumah Potifar, difitnah oleh isteri Potifar dan dijebloskan ke dalam penjara.  Yusuf yang sebelumnya hidup dalam kenyamanan kini harus mengalami proses hidup yang pahit demi menggenapi rancangan Tuhan!