Sunday, May 27, 2018

JANGAN LAKUKAN PERZINAHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 27 Mei 2018

Baca:  Yeremia 3:1-5

"Engkau telah berzinah dengan banyak kekasih, dan mau kembali kepada-Ku? demikianlah firman TUHAN."  Yeremia 3:1b

Jika diperhatikan, salah satu jenis dosa yang kian merajalela di zaman sekarang ini adalah perzinahan.  Di surat kabar, layar televisi atau medsos, berita-berita tentang perzinahan menjadi menu utama sehari-hari.  Secara garis besar perzinahan terbagi menjadi dua jenis, yaitu perzinahan rohani dan perzinahan jasmani  (tubuh).

     Latar belakang pembacaan firman Tuhan hari ini adalah tentang pengkhianatan bangsa Israel terhadap Tuhan karena mereka telah melakukan perzinahan rohani.  Hati bangsa ini telah mendua dan bahkan telah berpaling dari Tuhan, lalu mengikatkan diri pada penyembahan-penyembahan berhala atau berpaut pada allah-allah asing.  Sesungguhnya mereka telah diperingatkan:  "Sebab janganlah engkau sujud menyembah kepada allah lain, karena TUHAN, yang nama-Nya Cemburuan, adalah Allah yang cemburu."  (Keluaran 34:14), tapi peringatan Tuhan ini dianggap angin lalu dan dilanggarnya.  Hal itu menimbulkan kecemburuan Tuhan.  "...mereka menyakiti hati-Nya dengan bukit-bukit pengorbanan mereka, membuat Dia cemburu dengan patung-patung mereka."  (Mazmur 78:58).  Fenomena ini juga terjadi di kalangan orang percaya!  Sering dijumpai seseorang yang sudah percaya Kristus  (Kristen), tapi juga masih percaya kepada ramalan-ramalan bintang, shio, fengsui, tarot.  Ketika mengalami masalah yang berat mereka tidak sabar menanti pertolongan dari Tuhan, lalu mencari pertolongan kepada orang pintar, dukun atau kuasa-kuasa gelap.  Apa yang mereka perbuat adalah sebuah bentuk perzinahan rohani.  Itu sebuah pengkhianatan terhadap Tuhan!

     Pula, tipu daya nafsu seks menjadi senjata Iblis untuk menyeret manusia di masa sekarang ini.  Perzinahan jasmani  (tubuh) sedang marak terjadi:  selingkuh, penyimpangan seks, LGBT, pemerkosaan, pelecehan seks, pesta seks, telepon seks atau video call seks.  Rasul Paulus memperingatkan, "...tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu,"  (1 Korintus 6:19).  Jadi,  "...tubuh bukanlah untuk percabulan, melainkan untuk Tuhan, dan Tuhan untuk tubuh."  (1 Korintus 6:13b).

"Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!"  1 Korintus 6:20

Saturday, May 26, 2018

DOSA MEMIKAT HATI

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 26 Mei 2018

Baca:  Yakobus 1:12-18

"Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut."  Yakobus 1:14-15

Tidak ada orang yang mendadak jatuh ke dalam dosa tanpa melalui proses atau tahapan.  Dosa masuk ke dalam hidup seseorang melalui proses yang seringkali tidak disadari.  Alih-alih mengakui dengan jujur bahwa ia telah melakukan dosa, orang berkilah, mencari alasan, menyalahkan situasi atau keadaan, menyalahkan orang lain, dan bahkan berani menyalahkan Tuhan.  Ketika memakan buah terlarang, Adam dan Hawa berdalih dan saling melempar tanggung jawab ketika ditanya Tuhan.  "Manusia itu menjawab: 'Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.' Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: 'Apakah yang telah kauperbuat ini?' Jawab perempuan itu: 'Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan.'"  (Kejadian 3:12-13).

     Penyebab dari dosa adalah keinginan-keinginan manusia sendiri, sedangkan Iblis adalah si pemicu yaitu menggoda manusia.  Iblis selalu mencari celah kelemahan seseorang dengan menggunakan situasi, orang lain, uang atau materi untuk menggoda.  Pada saat godaan datang, keputusan dan pilihan ada pada kita sendiri, apakah kita akan menerima hal-hal yang ditawarkan oleh Iblis tersebut, atau kita bersikap tegas untuk menolaknya.  Kalau kita menerima dan terus mengimajinasi apa yang ditawarkan Iblis, maka keinginan-keinginan kita akan menjadi semakin kuat.  Akhirnya kita terpikat dan terseret untuk mewujudkan keinginan-keinginan tersebut dan menghasilkan buah dosa.

      Yakobus mengatakan bahwa dosa yang dilakukan secara berulang-ulang  (matang)  akan mengakibatkan maut atau kematian.  Sukacita menjadi mati, harapan menjadi mati, pintu berkat menjadi tertutup, dan sebagainya.  Jalan keluarnya?  Kita harus mengatasi godaan sejak awal, ketika imajinasi yang salah itu muncul.  "Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah (atas orang-orang durhaka)."  (Kolose 3:5-6).

Berjaga-jaga dalam doa adalah langkah awal agar terhindar dari pencobaan!

Friday, May 25, 2018

FIRMAN TUHAN ADALAH BENIH KEHIDUPAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 25 Mei 2018

Baca:  1 Petrus 1:13-25

"Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal."  1 Petrus 1:23

Tahukah Saudara bahwa di dalam benih yang kecil dan tampak kotor itu terkandung sumber kehidupan.  Berawal dari benih yang kelihatannya tampak sepele akan tumbuh akar, batang, cabang, daun, bunga dan buah.  Dari buah yang dihasilkan terjadi tuaian alias pelipatgandaan!  Namun untuk dapat tumbuh dan menghasilkan buah atau tuaian, benih harus terlebih dahulu tertanam di dalam tanah.

     Firman Tuhan adalah benih!  Kekuatan yang terkandung di dalam benih firman Tuhan itu jauh lebih dahsyat dari benih alamiah.  Segala sesuatu yang Tuhan perbuat bagi kita diawali dari benih firman Tuhan yang ditanam di dalam hati kita.  Pemazmur menulis:  "disampaikan-Nya firman-Nya dan disembuhkan-Nya mereka, diluputkan-Nya mereka dari liang kubur."  (Mazmur 107:20), dan  "Ia berfirman, maka dibangkitkan-Nya angin badai yang meninggikan gelombang-gelombangnya."  (Mazmur 107:25).  Ada kuasa di balik benih firman Tuhan yang ditaburkan!  Pertanyaan:  apakah tanah hati siap untuk menerima benih firman Tuhan tersebut?  Banyak orang punya kerinduan yang besar untuk dipulihkan hidupnya tapi mereka tidak memiliki respons hati yang benar terhadap firman Tuhan.  Seringkali mereka hanya mendengar firman Tuhan sambil lalu, atau dengan sikap hati yang tidak benar, ibarat tanah yang keras dan penuh dengan semak duri, sehingga benih firman yang ditanam pun tak berdampak apa-apa!  Penulis Amsal menasihatkan,  "Hai anakku, perhatikanlah perkataanku, arahkanlah telingamu kepada ucapanku; janganlah semuanya itu menjauh dari matamu, simpanlah itu di lubuk hatimu. Karena itulah yang menjadi kehidupan bagi mereka yang mendapatkannya dan kesembuhan bagi seluruh tubuh mereka."  (Amsal 4:20-22).

     Untuk mendapatkan firman Tuhan yang menjadi rhema  (hidup)  yang harus kita lakukan adalah:  memerhatikan, mengarahkan telinga dan mata yang tertuju kepada firman Tuhan.  "Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid."  (Yesaya 50:4b), karena iman timbul dari pendengaran akan firman-Nya.

Benih firman Tuhan yang tertanam di tanah hati yang subur akan menghasilkan mujizat:  membawa pemulihan, kemenangan dan kesembuhan!

Thursday, May 24, 2018

BERJUANG SAMPAI GARIS AKHIR

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 24 Mei 2018

Baca:  2 Timotius 4:1-8

"Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya."  2 Timotius 4:8

Rasul Paulus menggambarkan perjalanan hidup orang percaya dalam mengiring Kristus sebagai sebuah pertandingan, ibarat seorang pelari yang sedang berjuang dalam suatu kejuaraan olahraga demi memperebutkan sebuah medali.  Perjalanan hidup Paulus sendiri, sebagai hamba Tuhan, merupakan sebuah pertandingan yang sangat keras.  Di sepanjang perjalanannya sebagai pemberita Injil Paulus harus menghadapi berbagai ujian dan tantangan yang tak mudah:  kesukaran, penderitaan, aniaya, bahaya dan ancaman sudah menjadi warna dalam hidupnya.  Sekalipun harus membayar harga yang sedemikian rupa, tak sedikit pun terbersit dalam benak Paulus untuk mundur atau menyerah dalam melayani Tuhan.  Ia terus berjuang:  "Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat."  (ayat 6)...  namun Paulus mampu menyelesaikan pertandingan sampai garis akhir  (ayat 7).

     Rasul Paulus mengingatkan bahwa berjerih payah untuk melayani Tuhan itu tidak pernah sia-sia, Tuhan selalu perhitungkan.  "Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan!"  (1 Korintus 15:58), dan  "Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran."  (2 Timotius 4:2).  Bagi setiap orang yang mampu menyelesaikan pertandingan sampai garis akhir, Tuhan akan anugerahkan mahkota kebenaran kepadanya.  Dalam ilmu psikologi terapan, ketangguhan seperti ini dalam menghadapi ujian dan tantangan hidup disebut Adversity Quotient  (AQ)  atau kecerdasan adversiti.

     Ada banyak orang Kristen tidak lagi berjuang dalam pertandingan imannya karena merasa tidak kuat lagi menghadapi ujian dan tantangan.  Mereka menyerah dan berhenti di tengah jalan!  Mereka tidak lagi peduli dengan perkara-perkara rohani, yang menjadi fokus hidupnya adalah perkara-perkara duniawi yang sifatnya hanya sementara  (fana).  mereka lupa bahwa ada upah besar disediakan Tuhan bagi orang yang setia sampai akhir!

Garis akhir pertandingan iman adalah akhir hidup kita, jadi teruslah berjuang!

Wednesday, May 23, 2018

MEMBANGUN KEKARIBAN DENGAN TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 23 Mei 2018

Baca:  Kolose 1:24-29

"Dialah yang kami beritakan, apabila tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus."  Kolose 1:28

Banyak orang membangga-banggakan diri karena merasa sudah lama menjadi pengikut Kristus  (Kristen), padahal menjadi Kristen selama bertahun-tahun tak menjadi jaminan bahwa seseorang punya kedewasaan rohani atau kehidupan yang sama seperti Kristus.  Berhati-hatilah sebab ada tertulis:  "...banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu."  (Matius 19:30).

     Sasaran hidup orang percaya adalah hidup serupa dengan Kristus!  Tapi masih sering dijumpai orang Kristen yang dalam kehidupannya sehari-hari sama sekali tidak mencerminkan Kristus sehingga menjadi batu sandungan bagi orang-orang di sekitarnya.  Ini sangat memrihatinkan!  "Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup."  (1 Yohanes 2:6).  Hidup sama seperti Kristus hidup inilah yang Paulus terus usahakan dan perjuangkan:  "Itulah yang kuusahakan dan kupergumulkan dengan segala tenaga sesuai dengan kuasa-Nya, yang bekerja dengan kuat di dalam aku."  (Kolose 1:29).  Seperti apakah gaya hidup kristus?  1.  Kristus memiliki persekutuan yang karib dengan Bapa.  2.  Kristus taat melakukan kehendak Bapa.  "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak."  (Yohanes 5:19).  Kristus tidak pernah bekerja atas kehendak-Nya sendiri, melainkan apa yang Bapa kehendaki itulah yang Ia kerjakan.  "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya."  (Yohanes 4:34).

     Sebagai pengikut Kristus adalah wajib bagi kita untuk meneladani Kristus.  Mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, kita harus menyediakan waktu untuk bersekutu dengan Tuhan.  Berdoa harus menjadi gaya hidup kita sehari-hari!  Jangan hanya mencari Tuhan ketika sedang dilanda masalah saja;  dan jadilah pelaku firman-Nya!

Hanya orang yang senantiasa karib dengan Tuhan yang hidupnya akan semakin diubahkan menjadi serupa dengan Kristus!

Tuesday, May 22, 2018

ROH KUDUS: Anggur Sorgawi

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 22 Mei 2018

Baca:  Yohanes 2:1-11

"Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang."  Yohanes 2:10

Kana adalah nama sebuah kota di provinsi Galilea pada abad pertama Masehi.  Di kota ini Kristus melakukan mujizat-Nya yang pertama yaitu mengubah air menjadi anggur dalam suatu pesta pernikahan.  Peristiwa pada pesta perkawinan di Kana ini mengajarkan kepada kita bahwa kesukaan dari anggur biasa telah habis, tetapi Kristus telah memberikan kesukaan baru dengan  'anggur sorgawi'.  Air anggur juga bisa dilambangkan sebagai Roh Kudus.  Segala macam kesukaan yang berasal dari dunia ini bersifat sementara dan bisa habis, sampai kapan pun takkan mampu memuaskan dahaga jiwa manusia, namun kesukaan yang Tuhan berikan kepada setiap orang yang percaya kepada-Nya yaitu anggur sorgawi  (Roh Kudus), itulah yang dapat memuaskan dahaga jiwa kita dan memenuhi hati kita.  "Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh."  (Yohanes 15:11).

     Rasul Paulus menasihatkan,  "Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh, dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati."  (Efesus 5:18-19).  Kita tahu bahwa anggur  'duniawi'  mengandung alkohol sehingga dapat memabukkan orang, seperti ada tertulis:  "Berikanlah minuman keras itu kepada orang yang akan binasa, dan anggur itu kepada yang susah hati. Biarlah ia minum dan melupakan kemiskinannya, dan tidak lagi mengingat kesusahannya."  (Amsal 31:6-7).  Orang yang sedang mabuk oleh anggur  'duniawi'  lupa akan kesusahannya  (sementara), tindakannya tak terkontrol, sehingga yang dilakukannya adalah semata-mata untuk memuaskan hawa nafsu dan keinginan dagingnya.

     Kristus adalah Pokok Anggur yang benar, kita adalah carang-Nya  (Yohanes 15:5).  Jika kita tetap tinggal di dalam Dia maka  'anggur sorgawi'  (Roh Kudus)  itu akan mengalir memenuhi hati kita, menyucikan kita dan memampukan kita untuk berbuah lebat.

Anggur Sorgawi  (Roh Kudus)  adalah sumber sukacita bagi orang percaya!

Monday, May 21, 2018

DAMPAK PEKERJAAN ROH KUDUS

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 21 Mei 2018

Baca:  Kisah Para Rasul 2:14-40

"Maka bangkitlah Petrus berdiri dengan kesebelas rasul itu, dan dengan suara nyaring ia berkata kepada mereka: 'Hai kamu orang Yahudi dan kamu semua yang tinggal di Yerusalem, ketahuilah dan camkanlah perkataanku ini.'"  Kisah 2:14

Hari Pentakosta merupakan peristiwa yang sangat menggemparkan di kota Yerusalem, dan menjadi titik balik bagi kehidupan orang percaya pada jemaat gereja mula-mula.  Pada waktu itu jumlah orang yang berkumpul dan berdoa menantikan janji Bapa 120 orang.  Kesemuanya mengalami lawatan Tuhan melalui pencurahan Roh Kudus!

     Salah seorang dari mereka adalah Petrus, murid Kristus yang semula menyangkal Dia sebanyak 3 kali;  setelah mengalami jamahan Roh Kudus hidupnya berubah 180 derajat.  Petrus yang semula dihantui oleh rasa ragu dan takut yang membuatnya menyangkal Kristus telah diubahkan menjadi sosok pribadi yang benar-benar berbeda.  Ia mengasihi Tuhan dengan penuh totalitas dan berani menghadapi resiko apa pun karena imannya!  Di hadapan ribuan orang Petrus bersaksi tentang Kristus, kebenaran-Nya dan kedahsyatan kuasa-Nya.  "Hai orang-orang Israel, dengarlah perkataan ini: Yang aku maksudkan, ialah Yesus dari Nazaret, seorang yang telah ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatan-kekuatan dan mujizat-mujizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia di tengah-tengah kamu, seperti yang kamu tahu."  (Kisah 2:22).  Hal itu menunjukkan bahwa tidak ada kemampuan dan kekuatan dari diri kita sedikit pun untuk kita dapat bertumbuh dan mengalami pembaharuan, terlebih untuk kita dapat melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan, untuk dapat menjadi penurut-penurut Tuhan, apalagi dipercaya untuk menjadi kawan sekerja Tuhan di ladang-Nya, kecuali oleh pertolongan Roh Kudus dan pengurapan-Nya.

     Alkitab mencatat bahwa setelah mendengar khotbah dari Petrus banyak orang mengalami pertobatan karena kuasa Roh Kudus.  "Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa."  (Kisah 2:41).  Kegerakan rohani terjadi!  Jemaat mula-mula benar-benar mengalami kasih mula-mula kepada Tuhan, setiap hari mereka bertekun dalam pengajaran, bersekutu dan bersehati sepikir untuk berdoa di rumah Tuhan, serta bertambah-tambah orang yang diselamatkan.

Kehadiran Roh Kudus menghasilkan kuasa dan mujizat bagi umat Tuhan!

Sunday, May 20, 2018

HARI PENTAKOSTA: Baptisan Api Roh Kudus

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 20 Mei 2018

Baca:  Kisah Para Rasul 2:1-13

"Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya."  Kisah Para Rasul 2:4

Dalam Perjanjian Lama  (Ibrani)  Pentakosta disebut  'khag syavu'ot  (shavouth)', yang artinya masa raya tujuh minggu, ditandai dengan dibawanya persembahan penuaian hulu hasil yang dikenal sebagai  'bikkurim', artinya persembahan hulu hasil kedua.  Dalam perhitungan tradisi bangsa Israel, puncak perayaan ini adalah saat di mana Tuhan menurunkan 10 hukum Taurat kepada Musa di gunung Sinai, tepat pada hari ke-50 sesudah Paskah, atau tepat sesudah perayaan buah sulung.

     Hari raya ini populer dengan nama Pentakosta dalam Perjanjian Baru.  Hari Pentakosta adalah hari dicurahkannya Roh Kudus untuk menyertai kehidupan umat Tuhan.  Ini merupakan penggenapan nubuat dari nabi Yoel  (Yoel 2:28-32).  Sesuai dengan artinya sebagai hari ke-50, perhitungannya dimulai sesudah Kristus bangkit dari kematian, saat Dia menampakkan diri selama 40 hari, dan selama 10 hari para murid Kristus menunggu akan janji Bapa itu dan akhirnya janji itu digenapi-Nya:  "Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing."  (Kisah 2:1-3).

     Peristiwa ini juga merupakan penggenapan pernyataan Yohanes Pembaptis:  "Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan kasut-Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api."  (Matius 3:11).  Salah satu lambang Roh Kudus adalah api.  Alkitab menyatakan bahwa Tuhan adalah api yang menghanguskan  (Ibrani 12:29).  Ketika api-Nya turun menjamah hati setiap orang percaya api itu akan  'membakar, menghanguskan dan membersihkan'  semua kotoran yang ada, sehingga kehidupannya akan menjadi baru  (2 Korintus 5:17).

Melalui karya Roh Kudus ini kita memiliki pengharapan yang baru, karena Roh-Nya akan terus memperbaharui dan menjadikan kita ciptaan-Nya yang baru!

Saturday, May 19, 2018

FIRMAN TUHAN ADALAH KEGIRANGAN KITA (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 19 Mei 2018

Baca:  Yesaya 55:1-13

"Sendengkanlah telingamu dan datanglah kepada-Ku; dengarkanlah, maka kamu akan hidup!"  Yesaya 55:3a

Pemazmur menulis:  "...yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil."  (Mazmur 1:2-3).  Tuhan menyampaikan nasihat senada kepada Yosua agar tidak lupa memperkatakan firman Tuhan dan merenungkannya siang dan malam,  "...sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung."  (Yosua 1:8).  Semakin kita tinggal di dalam firman Tuhan semakin kita mengerti rencana dan kehendak Tuhan dalam hidup ini, lalu kita berjalan di rencana-Nya dan mengimani rencana-Nya, dan di situlah kita melihat keberhasilan.

     Rajin ke gereja dan terlibat pelayanan tak menjamin hidup seseorang berubah.  Tetapi ketika ia mau tinggal di dalam firman Tuhan dan mengijinkan Tuhan mengoreksi hidupnya, Roh Kudus akan menuntun dan membawanya kepada kebenaran demi kebenaran.  "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran."  (2 Timotius 3:16).  Firman Tuhan ibarat cermin!  Ketika kita berdiri di depan cermin kita melihat apa yang masih kurang dalam diri kita.  Dengan firman Tuhan kita akan tahu kelemahan, kekurangan dan kesalahan kita.  Dengan firman Tuhan kita dibuat mengerti bahwa di balik masalah selalu ada rencana-Nya yang indah.

     Orang yang senentiasa merenungkan firman Tuhan hidupnya pasti penuh mujizat,  "Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan, demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya."  (Yesaya 55:10-11).

Ingin mengalami hidup berkemenangan?  Jadikan firman Tuhan sebagai kegemaran hidup setiap hari!

Friday, May 18, 2018

FIRMAN TUHAN ADALAH KEGIRANGAN KITA (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 18 Mei 2018

Baca:  Mazmur 119:105-112

"Peringatan-peringatan-Mu adalah milik pusakaku untuk selama-lamanya, sebab semuanya itu kegirangan hatiku."  Mazmur 119:111

Tidak sedikit orang menganggap bahwa firman Tuhan itu hanyalah sebuah tulisan manusia biasa yang terangkum dalam sebuah buku yang disebut Alkitab, sehingga mereka pun malas menyediakan waktu secara intens untuk membaca, apalagi merenungkannya.  Mereka tampak meragukan kuasa yang terkandung di dalam firman Tuhan.  Rasul Paulus secara tegas menyatakan,  "...Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya,"  (Roma 1:16).

     Orang percaya yang menyadari bahwa firman Tuhan adalah perkataan Tuhan sendiri, yang mengandung kekuatan kuasa yang besar, takkan segan-segan lagi untuk menjadikan firman Tuhan sebagai makanan rohani setiap hari.  Kita banyak mendengar kesaksian dari saudara-saudara seiman yang diubahkan hidupnya  (disembuhkan, dipulihkan dan diberkati)  ketika mereka memercayai firman Tuhan dan tinggal di dalam-Nya.  Alangkah bodohnya jika ada orang Kristen yang beranggapan bahwa membaca dan merenungkan firman Tuhan adalah sebuah aktivitas yang sangat membosankan dan hanya membuang-buang waktu saja.  Orang yang menyadari bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Tuhan  (Matius 4:4)  akan dengan rela hati menyediakan waktu untuk merenungkan firman Tuhan setiap hari.

     Selama kita membaca firman Tuhan secara asal-asalan firman tersebut tidak dapat diserap menjadi iman.  Jadi merenungkan firman artinya membaca dan meneliti dengan serius sampai kita menemukan kedalamannya, ibarat akar pohon yang terus merambat ke bawah tanah sampai menemukan sumber air.  Bagi Daud merenungkan firman Tuhan adalah suatu kegirangan  (ayat nas), dan kegemaran:  "Aku akan bergemar dalam ketetapan-ketetapan-Mu; firman-Mu tidak akan kulupakan."  (Mazmur 119:16), juga merupakan kesukaan baginya:  "...Taurat-Mu menjadi kesukaanku."  (Mazmur 119:174).  Daud tahu benar bahwa di dalam firman-Nya terkandung janji-janji Tuhan dan kuasa yang dahsyat!

"Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi; Dia memberi perintah, maka semuanya ada."  Mazmur 33:9

Thursday, May 17, 2018

BEROLEH PERKENANAN DARI TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 Mei 2018

Baca:  Kejadian 6:1-22

"Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN."  Kejadian 6:1-22

Alkitab menyatakan dengan jelas bahwa pada zaman Nuh semua manusia telah rusak berat perbuatannya, bahkan  "...segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata,"  (ayat 5).  Saking jahatnya sampai-sampai Tuhan merasa menyesal telah menjadikan manusia.  Namun di tengah-tengah dunia yang begitu jahat itu Tuhan masih mendapati satu pribadi yang berkenan di hati-Nya, yaitu Nuh,  "...seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya;"  (ayat 9).  Menurut bahasa Ibrani Nuh berasal dari kata  'Noah atau Noa'  yang berarti istirahat, tenteram, atau memiliki makna sabat atau penghiburan.

     Faktor apa saja yang membuat hidup Nuh dikenan oleh Tuhan?  1.  Nuh memiliki persekutuan yang karib dengan Tuhan.  Tertulis:  "...Nuh itu hidup bergaul dengan Allah."  (ayat 9b).  Terjemahan lain menjelaskan bahwa Nuh senantiasa mengikuti kehendak Tuhan dan hidup dalam hubungan yang erat dengan Dia.  Artinya antara Nuh dan Tuhan senantiasa terjalin komunikasi yang intim;  dan terhadap orang yang bergaul karib dengan-Nya Ia memberitahukan rencana dan perjanjian-Nya  (Mazmur 25:14).  Berfirmanlah Tuhan kepada Nuh,  "Aku telah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala makhluk, sebab bumi telah penuh dengan kekerasan oleh mereka, jadi Aku akan memusnahkan mereka bersama-sama dengan bumi. Buatlah bagimu sebuah bahtera dari kayu gofir;"  (Kejadian 6:13-14).  2.  Nuh taat melakukan kehendak Tuhan  (Kejadian 6:22).  Sekalipun perintah Tuhan itu sulit untuk dilakukan dan sangat tidak masuk akal, Nuh tidak melakukan perbantahan dengan Tuhan, mengeluh atau berdalih, tapi ia tetap taat.  Padahal Nuh belum pernah melihat hujan dan ia hidup jauh dari samudera, belum lagi proses pembuatan bahtera yang memakan waktu bertahun-tahun dengan peralatan yang juga serba terbatas.  Nuh rela berkorban dan melakukan yang terbaik bagi Tuhan!

     Akhirnya ketaatan Nuh pun terbayarkan!  Ketika semua manusia dan makhluk yang hidup di zaman itu mengalami kebinasaan,  "...hanya Nuh yang tinggal hidup dan semua yang bersama-sama dengan dia dalam bahtera itu."  (Kejadian 7:23).  Mereka selamat!

Tuhan sedang mencari  'Nuh-Nuh'  akhir zaman, orang yang mau taat melakukan kehendak Tuhan dan hidup tanpa kompromi dengan dunia!