Saturday, February 24, 2018

KUNCI KEBERHASILAN: Dalam Penyertaan Tuhan (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 24 Februari 2018

Baca:  Kejadian 39:1-23

"Segala miliknya diserahkannya pada kekuasaan Yusuf, dan dengan bantuan Yusuf ia tidak usah lagi mengatur apa-apapun selain dari makanannya sendiri."  Kejadian 39:6

Kisah perjalanan hidup Yusuf itu sangat menarik untuk dicermati dan diteladani.  Meski diperhadapkan dengan masalah dan penderitaan yang hebat, dari mulut Yusuf tak pernah keluar perkataan-perkataan yang negatif.  Ia menjalani proses dalam hidupnya dengan penuh penyerahan diri kepada Tuhan dan secara konsisten menjaga kualitas hidupnya tetap seturut dengan kehendak Tuhan, menjadikan Yusuf menjadi sangat istimewa di pemandangan mata Tuhan.  Itulah mengapa Tuhan senantiasa menyertai langkah Yusuf di dalam segala hal, dan menjadi kunci keberhasilan hidup Yusuf.

     Dalam pasal 39 ini saja setidaknya ada 3x muncul kalimat  "Tuhan menyertai Yusuf', dan bisa dipastikan jika Tuhan beserta, sesuatu pasti terjadi.  Tertulis:  "...TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu."  (ayat 2).  "...TUHAN menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya, dan membuat Yusuf kesayangan bagi kepala penjara itu."  (ayat 21).  "Dan kepala penjara tidak mencampuri segala yang dipercayakannya kepada Yusuf, karena TUHAN menyertai dia dan apa yang dikerjakannya dibuat TUHAN berhasil."  (ayat 23).

     Saudara rindu mengalami keberhasilan dalam apapun yang dikerjakan?  Hal utama yang harus kita kejar adalah perkenanan Tuhan, karena hidup yang berkenan kepada Tuhan adalah pintu gerbang menuju berkat:  keberhasilan, pemulihan, kesembuhan dan lain-lainnya.  Jangan sampai kita hanya berpuas diri sebatas menjadi pengikut Kristus atau menjadi Kristen saja, tapi kita harus melangkah ke level yang lebih lagi, yaitu menjadi pengikut Kristus yang berkenan kepada Tuhan.  Jika kita hidup berkenan kepada Tuhan, Tuhan pasti akan mengarahkan pendangan-Nya atas kita, dan jika perhatian Tuhan tertuju pada kita, apa yang tak mungkin menjadi mungkin karena tidak ada perkara yang mustahil bagi-Nya.  Ada tertulis:  "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia."  (1 Korintus 2:9).

Hidup berkenan kepada Tuhan adalah pintu gerbang menuju kepada berkat!

Friday, February 23, 2018

TAK HAUS SANJUNGAN MANUSIA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 23 Februari 2018

Baca:  Markus 1:1-7

"Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa dari padaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak."  Markus 1:7

Injil Markus dibuka dengan kehadiran seorang tokoh yang bernama Yohanes Pembaptis:  "...memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makanannya belalang dan madu hutan."  (Markus 1:6).  Bisa dikatakan ia adalah nabi pertama yang dilihat oleh umat Israel setelah sekian lama tidak ada nabi yang melayani di Israel.  Jeda waktu antara kitab Maleakhi dengan kehadiran Yohanes Pembaptis ini adalah 400 tahun;  selama kurun waktu tersebut tidak ada nabi, tidak ada firman Tuhan yang diberitakan, tidak ada pewahyuan.

     Itulah sebabnya kehadiran Yohanes Pembaptis di padang gurun yang menyerukan:  "Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu."  (Markus 1:4), menjadi berita yang sangat mengejutkan dan menggemparkan.  Tidaklah mengherankan jika kemudian  "...datanglah kepadanya orang-orang dari seluruh daerah Yudea dan semua penduduk Yerusalem,"  (Markus 1:5).  Semua orang dari seluruh penjuru negeri datang kepadanya dan memberi diri untuk dibaptis di sungai Yordan.  Sosok Yohanes Pembaptis menjadi perbincangan semua orang dan mendadak menjadi public figure alias terkenal.  Apakah hal itu membuatnya bangga, membusungkan dada, dan kemudian menggunakan jurus aji mumpung?  Tidak!  Ketika para imam dan orang-orang Lewi bertanya,  "'Siapakah engkau? Engkaukah nabi yang akan datang?'" Dengan jujur dan penuh kerendahan hati, Yohanes Pembaptis menjawab:  "'Aku bukan Mesias. Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya.'"  (Yohanes 1:19-23).

     Popularitas tak membuat Yohanes Pembaptis lupa diri.  Ia tetap menyadari siapa dirinya dan tahu apa tugas utamanya.  Ia bukan Mesias dan hanya mempersiapkan jalan bagi Sang Mesias.  "Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal, yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak."  (Yohanes 1:26).  Tidak sedikit pelayan Tuhan dan hamba Tuhan yang justru sangat berambisi untuk menjadi terkenal dan ingin disanjung manusia.

Hanya Kristus yang berhak dan layak menerima pujian dan kemuliaan, kita ini hanya alat-Nya!

Thursday, February 22, 2018

TIDAK MELAYANI SETENGAH-SETENGAH

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 22 Februari 2018

Baca:  Markus 6:30-44

"Suruhlah mereka pergi, supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa dan di kampung-kampung di sekitar ini. Tetapi jawab-Nya: 'Kamu harus memberi mereka makan!'"  Markus 6:36-37

Kisah Tuhan Yesus memberi makan lima ribu orang ini merupakan kisah yang tidak asing bagi kita semua.  Setelah kembali dari tour pelayanan-Nya yang padat, para rasul berniat rehat sejenak untuk melepas lelah.  Tetapi orang banyak terus mengikuti mereka.  Melihat hal itu tergeraklah hati Tuhan Yesus oleh belas kasihan dan Ia pun mengajar banyak hal kepada mereka.  Respon mereka sangat positif, tampak antusias mendengarkan pengajaran Kristus hingga hari sudah mulai malam.

     Murid-murid Tuhan mengusulkan kepada Sang Guru agar orang banyak itu segera pergi membeli makanan karena tidak ada persediaan makanan yang dapat diberikan kepada mereka.  Tetapi Tuhan menjawab,  "'Kamu harus memberi mereka makan!'"  (ayat nas).  Dari pernyataan Tuhan ini kita dapat belajar bahwa Tuhan menghendaki murid-murid-Nya untuk memperhatikan kepentingan orang lain, bukan semata-mata berfokus kepada kepentingan diri sendiri, namun peka terhadap kebutuhan orang lain.  "...janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga."  (Filipi 2:4).  Inilah kasih yang sesungguhnya yaitu kasih yang diwujudkan melalui sebuah tindakan.

     Memraktekkan kasih di tengah situasi yang sulit seperti sekarang ini adalah tidak mudah.  Tuntutan kebutuhan hidup yang tinggi seringkali membuat orang menjadi sangat individualistis:  "Boro-boro memikirkan penderitaan orang lain, untuk kepentingan diri sendiri saja tidak cukup!"  Tidak sedikit orang tega mengorbankan orang lain demi kepentingan diri sendiri.  Perintah Tuhan untuk memberi makan orang banyak ini juga mengajarkan kita bahwa untuk melayani jiwa-jiwa tidak bisa dilakukan dengan setengah-setengah.  Melayani itu ada harga yang harus dibayar!  Adakalanya kita harus berani berkorban:  waktu, tenaga, pikiran dan materi  (uang).  Ketika rasul-rasul taat melakukan perintah Tuhan, mujizat terjadi!

Dalam segala perkara Tuhan pasti turut bekerja, karena itu lakukan dengan sungguh-sungguh bagian kita!

Wednesday, February 21, 2018

ALASAN BERHARAP KEPADA TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 21 Februari 2018

Baca:  Ratapan 3:21-26

"Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN."  Ratapan 3:26

Kitab Ratapan ditulis Yeremia sebagai ungkapan kepedihan hatinya yang mendalam atas kehancuran Yerusalem:  tembok-tembok kota yang runtuh dan pembuangan orang-orang ke Babel.  Sambil duduk ia menangis dan meratapi Yerusalem:  "Ah, betapa terpencilnya kota itu, yang dahulu ramai! Laksana seorang jandalah ia, yang dahulu agung di antara bangsa-bangsa. Yang dahulu ratu di antara kota-kota, sekarang menjadi jajahan. Yehuda telah ditinggalkan penduduknya karena sengsara dan karena perbudakan yang berat; Jalan-jalan ke Sion diliputi dukacita, karena pengunjung-pengunjung perayaan tiada; sunyi senyaplah segala pintu gerbangnya,"  (Ratapan 1:1, 3, 4).

     Namun meskipun dimulai dengan ratapan, di balik itu ada pengharapan untuk dipulihkan.  Ada janji pemulihan bagi setiap orang yang berharap kepada Tuhan!  "Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN."  (ayat nas).  Janji pemulihan disediakan bagi orang-orang yang senantiasa bertekun menati-nantikan Tuhan.  Menantikan Tuhan berarti menaruh harap dan memercayakan hidup sepenuhnya kepada Tuhan, serta memandang Dia sebagai satu-satunya sumber pertolongan, bukan yang lain.  "Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya...orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah."  (Yesaya 40:29, 31).  Orang yang menati-nantikan Tuhan akan beroleh kekuatan baru, kemampuan untuk mengatasi masalah dan kesanggupan untuk terus berjalan maju melewati badai.

     Apa alasan kita berharap kepada Tuhan dan menantikan-Nya?  Karena  "Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!"  (Ratapan 3:22-23).  Tuhan juga telah berjanji bahwa Ia sekali-kali tidak akan membiarkan dan meninggalkan kita  (Ibrani 13:5b),  "Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata: 'Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?'"  (Ibrani 13:6), karena  "TUHAN adalah bagianku,"  (Ratapan 3:24).  Setiap orang percaya telah dimeteraikan dengan Roh Kudus sebagai tanda milik Kristus, yang berarti Tuhan adalah jaminan kita.

Pengharapan kita hanyalah Tuhan, bukan apa pun yang lain yang ada di dunia ini!

Tuesday, February 20, 2018

SUKACITA TERBESAR: Menderita bagi Kristus (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 20 Februari 2018

Baca:  Kolose 1:24-29

"Aku telah menjadi pelayan jemaat itu sesuai dengan tugas yang dipercayakan Allah kepadaku untuk meneruskan firman-Nya dengan sepenuhnya kepada kamu,"  Kolose 1:25

Asalkan orang-orang diselamatkan, semakin mengenal Kristus, dan bertumbuh dewasa di dalam iman, Paulus bersukacita, sekalipun ia sendiri harus menderita.  "Jika kami menderita, hal itu menjadi penghiburan dan keselamatan kamu; jika kami dihibur, maka hal itu adalah untuk penghiburan kamu, sehingga kamu beroleh kekuatan untuk dengan sabar menderita kesengsaraan yang sama seperti yang kami derita juga."  (2 Korintus 1:6).

     Paulus menyatakan bahwa penderitaan yang dialaminya  "...menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat."  (Kolose 1:24).  Apa maksudnya?  Masih kurangkah penderitaan yang ditanggung oleh Kristus untuk menebus kita?  Tidak.  Apa yang Kristus perbuat bagi keselamatan kita itu sudah sempurna.  Tercermin dari perkataan Kristus sendiri di kayu salib,  "Sudah selesai."  (Yohanes 19:30), dan Dia adalah korban yang sempurna.  "...betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat,"  (Ibrani 9:14)  dan  "...kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat."  (1 Petrus 1:18-19).  Kata dalam dagingku menunjuk pada tubuh jasmani rasul Paulus.  Penderitaan yang dialami tubuh Paulus  (dicambuk, dipukuli, dianiaya)  tidak berkaitan langsung dengan dirinya sendiri, melainkan karena pelayanannya terhadap jemaat Kristus.  Dalam hal ini rasul Paulus menempatkan dirinya sebagai wakil Kristus terhadap jemaat.  Sesungguhnya penderitaan itu adalah juga penderitaan Kristus.

     Melayani Kristus tidak dapat dipisahkan dari melayani jemaat-Nya  (jiwa-jiwa).  Dengan demikian bila orang mau menjadi pelayan Kristus, maka ia pun harus melayani jiwa-jiwa dengan sepenuhnya demi Dia, sekalipun harus menanggung penderitaan.

"Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita."  Roma 8:18

Monday, February 19, 2018

SUKACITA TERBESAR: Menderita bagi Kristus (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 19 Februari 2018

Baca:  Kolose 1:24-29

"Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat."  Kolose 1:24

Maukah Saudara menderita?  Maukah Saudara mengalami banyak aniaya?  Semua orang pasti akan menjawab:  tidak mau.  Tetapi mengapa rasul Paulus bisa berkata,  "...aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu,..."  (ayat nas).  Kedengerannya ini sangat aneh, bukan?  Rasul Paulus berkata demikian pasti ada sebabnya.

     Ada beberapa alasan mengapa rasul Paulus dapat bersukacita meski harus menderita.  Kita tahu bahwa rasul Paulus adalah hamba atau pelayan Kristus yang membaktikan seluruh hidupnya bagi Injil.  Karena kasihnya kepada Kristus ia rela memberikan segala sesuatu yang ada padanya yaitu seluruh seluruh hidupnya.  "namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku."  (Galatia 2:20), karena itu  "...Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan."  (Filipi 1:21).  Penderitaan yang ditanggung oleh Paulus bukanlah akibat dari kesalahannya, tetapi datang dari orang-orang yang menentang dia, yang tidak percaya kepada Injil dan yang menolak Kristus.  Namun meski harus mengalami penderitaan yang berat rasul Paulus tak pernah menyerah, apalagi berputus asa dalam melayani Tuhan.

     Semangatnya untuk memberitakan Injil terus berkobar.  "Apakah mereka pelayan Kristus? --aku berkata seperti orang gila--aku lebih lagi! Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut. Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut."  (2 Korintus 11:23-25).  Tidak sia-sia rasul Paulus berjerih lelah melayani, karena melalui pelayanannya ini buah-buah jiwa telah dihasilkan:  banyak orang bertobat, percaya kepada Kristus dan diselamatkan!

"...jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu."  Filipi 1:22

Sunday, February 18, 2018

KERINDUAN PAULUS: Mengerti Kehendak Tuhan

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 18 Februari 2018

Baca:  Kolose 1:3-14

"Kami meminta, supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna,"  Kolose 1:9b

Kolose adalah kota di masa lalu yang terletak di daerah Frigia, Asia Kecil  (Kisah 18:23).  Istilah Asia Kecil yang disebutkan dalam Alkitab mengacu kepada wilayah yang kini berada di wilayah bagian barat dan tengah dari negara Turki.

     Rasul Paulus, ketika sedang mendekam di penjara, menulis surat kepada jemaat di Kolose yang sebagian besar terdiri atas orang-orang non-Yahudi, setelah mendengar kabar dari Epafras  (yang ketika itu sedang mengunjunginya)  bahwa ada ajaran-ajaran sesat yang sedang mengacaukan jemaat di Kolose.  Hati Paulus pun terbeban untuk mendoakan mereka dan terdorong untuk menulis surat kepada mereka.  Alkitab menyatakan bahwa rasul Paulus dan rekan-rekan sepelayanannya bukan hanya sekali atau dua kali berdoa bagi mereka, tetapi tiada berhenti-henti berdoa untuk mereka.  (Kolose 1:9a).  Ini menunjukkan bahwa jemaat di Kolose mempunyai tempat yang istimewa di hati Paulus.

     Apa inti doa rasul Paulus bagi jemaat di Kolose?  Yaitu supaya mereka  "...menerima segala hikmat dan pengertian yang benar,"  (ayat nas).  Hikmat yang dimaksudkan adalah hikmat Tuhan, bukan hikmat manusia.  Hikmat Tuhan itu melampaui kemampuan akal manusia, sedangkan hikmat manusia itu terbatas pada kemampuan akal.  Tujuannya agar mereka  "...mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna,"  (ayat nas).  Kehendak Tuhan yang dimaksudkan adalah:  1.  Mengerti rahasia Injil, yaitu Bapa menyediakan jalan keselamatan bagi manusia di dalam Pribadi Kristus  (Kisah 4:12).  "Di dalam Dia kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepada-Nya."  (Efesus 3:12).  2.  Bagaimana orang percaya harus hidup.  "...jadilah penurut-penurut Allah...dan...hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran,"  (Efesus 5:1, 8, 9).  3.  Merespons panggilan Tuhan untuk melayani Dia.  Rasul Paulus berkomitmen:  "Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah."  (Filipi 1:21-22).

Setiap orang percaya sudah seharusnya mengerti apa yang menjadi kehendak Tuhan!

Saturday, February 17, 2018

KRISTUS: Penyembuh Luka Hati (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 Februari 2018

Baca:  Yohanes 4:1-42

"Dan banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepada-Nya karena perkataan perempuan itu, yang bersaksi: "Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat."  Yohanes 4:39

Tuhan Yesus tahu apa yang menjadi pergumulan perempuan Samaria itu:  "Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup."  (Yohanes 4:10).  Tetapi, perempuan itu salah menangkap maksud Tuhan yang sesungguhnya,  "Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air."  (Yohanes 4:15).  Ia mengira bahwa air yang Tuhan tawarkan adalah air yang dapat memenuhi kebutuhan jasmaninya  (terlepas dari haus), sehingga ia tidak perlu lagi bersusah payah untuk mengambil air ke sumur, yang biasa dilakukannya secara sembunyi-sembunyi agar orang lain tidak melihatnya.

     Air hidup yang dimaksud adalah sumber yang memenuhi kebutuhan rohani yang sangat dibutuhkan oleh manusia yaitu hidup yang berkelimpahan, hidup yang kekal.  "...air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal."  (Yohanes 4:14).  Tuhan Yesus menawarkan pemecahan akar masalah yang dihadapi oleh perempuan Samaria ini dengan memberikan hidup yang kekal dan kasih yang tak bersyarat.  Dan Air Hidup ini hanya dapat diperoleh di dalam Pribadi Tuhan Yesus.  "Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup."  (Yohanes 7:38).  Perempuan Samaria berpikir bahwa menyendiri adalah cara terbaik untuk lari dari masalah, yaitu agar terhindar adari ancaman sosial.

     Setelah mendengar perkataan Tuhan, segeralah  "...perempuan itu meninggalkan tempayannya di situ lalu pergi ke kota dan berkata kepada orang-orang yang di situ: 'Mari, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat.'"  (Yohanes 4:29).  Setelah mengalami perjumpaan pribadi dengan Kristus kehidupan perempuan Samaria itu diubahkan dan luka-luka batinnya disembuhkan.

"TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya."  Mazmur 34:19

Friday, February 16, 2018

KRISTUS: Penyembuh Luka Hati (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 Februari 2018

Baca:  Yohanes 4:1-42

"Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya."  Yohanes 4:13-14a

Dikisahkan bahwa ketika melintasi daerah Samaria sampailah Tuhan Yesus di sebuah kota yang bernama Sikhar.  Setelah menempuh perjalanan jauh, letihlah Ia dan kemudian beristirahat sambil duduk di tepi sumur.  Di situ Tuhan bertemu dengan seorang perempuan Samaria yang hendak menimba air.  Orang Samaria merupakan warga campuran yang dibenci dan dianggap rendah oleh orang-orang Yahudi.  Karena itu ketika Tuhan berkata,  "Berilah Aku minum.", perempuan itu pun menjawab,  "Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?"  (Yohanes 4:7, 9);  apalagi perempuan Samaria ini dikenal memiliki latar belakang hidup yang buruk  (pendosa):  pernah hidup dengan banyak lelaki dan kemudian menceraikan mereka semuanya.  Pada zaman itu perempuan tidak bisa menceraikan pria  (suaminya).  Selain itu ia juga sedang tinggal dengan laki-laki yang bukan suaminya.

     Karena sudah dicap buruk, perempuan Samaria ini dipandang rendah, dijauhi dan dikucilkan oleh lingkungan.  Itulah sebabnya ia dengan sengaja mengambil air ke sumur sendirian pada pukul 12 siang hari, untuk menghindarkan diri bertemu dengan orang banyak.  Menurut tradisi di tanah Palestina, umumnya para perempuan pergi keluar untuk mengambil air pada waktu petang hari dan itu pun dilakukan secara berkelompok  (kejadian 24:11).  Bisa dikatakan perempuan Samaria itu sedang mengalami luka-luka batin yang teramat dalam.  Secara batiniah ia mengalami kesepian dan kehausan karena kebutuhan emosional dan kebutuhan sosialnya tidak terpenuhi.  Itulah sebabnya ia terus mencari kepuasan dengan menjalin hubungan dengan banyak laki-laki, tapi ia tetap tidak menemukan solusi untuk masalah yang dialaminya.

     Pada hakikatnya manusia memiliki dua kebutuhan yang sangat mendasar yaitu ingin dikasihi dan dihargai.  Jika salah satu kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, orang akan merasa kesepian.  Kesepian adalah suatu perasaan di mana seseorang merasa sendiri, ditinggalkan, dikucilkan, dikesampingkan, tak dianggap.  Kamus Webster mendefinisikan kesepian sebagai perasaan terpisah dari yang lain, terisolasi, tidak bahagia dalam kesendirian, membutuhkan teman atau kelompok sosial.

Thursday, February 15, 2018

KESATUAN SEBAGAI ANGGOTA TUBUH KRISTUS (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 Februari 2018

Baca:  1 Korintus 12:20-27

"Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya."  1 Korintus 12:27

Banyak jemaat memilih mundur dan meninggalkan gereja karena merasa kurang diterima, kurang dianggap dan tidak dibutuhkan.  Ini tidak seharusnya terjadi.  Alkitab tegas menyatakan bahwa kita  "...bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah,"  (Efesus 2:19).

     Ada sikap lain yang harus dikembangkan untuk menjaga kesatuan jemaat:  2.  Saling menghormati.  Gereja harus belajar menghargai peran seluruh anggota jemaatnya dan tidak boleh membeda-bedakan!  Tidak sedikit pemimpin rohani yang cenderung pilih kasih, lebih menghargai dan menghormati jemaat yang statusnya terhormat, terkenal atau kaya, namun bagaimana terhadap mereka yang berasal dari kalangan biasa dan tak mampu?  "Dan kepada anggota-anggota tubuh yang menurut pemandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus. Dan terhadap anggota-anggota kita yang tidak elok, kita berikan perhatian khusus. Hal itu tidak dibutuhkan oleh anggota-anggota kita yang elok. Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus,"  (1 Korintus 12:23-24).  3.  Saling memperhatikan.  "...supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan. Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita."  (1 Korintus 12:25-26).  Suatu komunitas atau persekutuan tidak akan pernah disukai dan diminati apabila masing-masing anggota acuh tak acuh.  Bila Tuhan saja memberikan perhatian dan penghargaan kepada setiap umat-Nya, maka sangatlah tidak pantas kita bersikap merendahkan dan tidak saling memperhatikan satu sama lain.

     4.  Tepa selira.  Yaitu dapat menjaga perasaan orang lain dan turut merasakan.  "Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita."  (1 Korintus 12:26).  Gambaran tubuh yang dipakai Paulus juga mengindikasikan bahwa di antara anggota tubuh sama-sama saling merasakan.  Satu anggota sakit, anggota lainnya turut merasakan sakitnya.

Di mana ada kesatuan ke sanalah Tuhan akan mencurahkan berkat-Nya  (Mazmur 133).