Saturday, August 18, 2018

ORANG PERCAYA BERMENTAL PRAJURIT

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 18 Agustus 2018

Baca:  2 Timotius 2:1-13

"Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus."  2 Timotius 2:3

Orang percaya dipanggil Tuhan bukan untuk menjadi pengikut-Nya yang biasa-biasa saja, atau menjadi jemaat yang pasif yang hanya memenuhi bangku-bangku gereja, tapi seorang yang memiliki daya juang tinggi, tidak mudah menyerah dan tangguh, sebab kehidupan kekristenan itu penuh tantangan, karena ada banyak musuh yang tak berhenti mengincar.  Ya.... kehidupan kekristenan ibarat medan peperangan:  "...perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara."  (Efesus 6:12).  Karena itu Tuhan memanggil kita menjadi prajurit-prajurit-Nya.

     Kehidupan orang percaya terbagi menjadi dua bagian yaitu kehidupan jasmani  (darah/daging)  dan kehidupan rohani.  Dalam kehidupan rohani ini ada roh-roh jahat di udara dan penghulu-penghulu dunia yang jahat, yang kesemuanya di bawah komando si Iblis.  Dengan akal licik dan tipu muslihatnya, Iblis si bapa pendusta  (Yohanes 8:44), berusaha menyerang dan menjatuhkan iman orang percaya melalui pencobaan-pencobaan dan juga menawarkan kenikmatan-kenikmatan duniawi.  Tanpa memiliki perlawanan, kita akan mudah diperdaya dan diseret ke dalam dosa.  Karena itu kita harus menjadi orang percaya yang memiliki mental seorang prajurit;  dan itu ada harga yang harus dibayar!

     Untuk menjadi prajurit Kristus yang militan, yang siap bertempur di medan peperangan, tidak ada jalan lain selain harus taat sepenuhnya kepada perintah Komandan, di mana Kristus adalah Komandan kita!  "Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya."  (2 Timotius 2:4).  Seorang prajurit yang sedang di medan peperangan tidak boleh lengah sedikit pun, melainkan harus benar-benar fokus pada peperangan yang sedang dihadapinya.  Lengah sedikit, nyawa menjadi taruhannya!  Seorang prajurit juga harus rela menderita dan keluar dari zona nyaman, jika tidak, ia takkan mampu menyelesaikan misi yang diberikan oleh komandannya.

Ketika kita taat melakukan perintah Sang Komandan  (Kristus), kita pasti akan mampu mematahkan segala serangan musuh dan tampil sebagai pemenang!

Friday, August 17, 2018

MERDEKA DARI SEGALA BELENGGU

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 Agustus 2018

Baca:  Yohanes 8:30-36

"Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka."  Yohanes 8:36

Bulan Agustus adalah bulan yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia.  Hari ini, tujuh puluh tiga tahun silam, bangsa Indonesia mendeklarasikan kemerdekaannya.  Pekik merdeka berkumandang di seluruh penjuru negeri!  Kemerdekaan yang diraih bangsa Indonesia tak lepas dari jerih lelah para pejuang yang rela mempertaruhkan jiwa dan raga.  Dengan semboyan  'Berjuang sampai titik darah penghabisan'  mereka menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi, hal-hal yang berhubungan dengan diri sendiri ditanggalkan.  Ada tertulis:  "Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya."  (2 Timotius 2:4).

     Tekad kuat membuat para pejuang mampu menepis rasa takut, lelah dan letih dalam bergerilya, bahkan nyawa dipertaruhkan demi satu tujuan:  meraih kemerdekaan;  cintanya terhadap bumi pertiwi mengalahkan segala-galanya.  Tak rela bangsanya terus-menerus berada di bawah penindasan dan belenggu penjajah.  Sudah sepatutnya pemerintah memberikan penghargaan tertinggi dan tanda jasa atas segala pengorbanan pahlawan.  "Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya."

     Komitmen terhadap misi yang diemban memampukan orang berjuang sampai titik darah penghabisan.  Kristus mengemban misi besar dari Bapa untuk memerdekakan umat manusia dari belenggu dosa.  "...Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."  (Matius 20:28).  Komitmen terhadap misi ini membuat Kristus rela mengorbankan nyawa-Nya,  "...yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib."  (Filipi 2:6-8).

Karya pengorbanan Kristus di Kalvari mematahkan segala belenggu dosa, sehingga kita pun menjadi orang-orang yang merdeka!

Thursday, August 16, 2018

APAKAH ARTI HIDUPMU

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 Agustus 2018

Baca:  Yakobus 4:13-17

"...kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap."  Yakobus 4:14

Setiap orang memaknai arti hidup ini dengan pandangan dan pemikiran yang berbeda-beda.  Ada orang yang menganggap bahwa hidup yang sedang dijalani ini adalah sebuah takdir Ilahi, karena itu kita harus menerimanya dengan lapang dada.  Ada pula orang yang mendefinisikan hidup ini sebagai panggung sandiwara, karena itu tak perlu terkejut jika kita melihat banyak orang hidup dalam kepura-puraan, oleh sebab itu kita harus pintar-pintar dalam memainkan setiap peran.  Tidak sedikit pula orang yang mengartikan bahwa hidup adalah kesempatan untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya.  Akhirnya mereka berjuang mati-matian bagaimana mendapatkan harta kekayaan yang sebanyak-banyaknya, tak peduli cara yang ditempuhnya itu baik atau tidak, melanggar hukum atau tidak.  "Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?"  (Matius 16:26).

     Bagaimana kita mendefinisikan hidup ini akan mempengaruhi langkah kita, mempengaruhi cara berpikir kita, menentukan prioritas kita dan pilihan yang kita ambil.  Sadar atau tidak, sesungguhnya hidup ini adalah sebuah ujian.  Ujian karakter kita, ujian iman kita dan ujian kadar kasih kita kepada Tuhan.  Ujian-ujian tersebut bisa berupa masalah, kelimpahan atau juga kekurangan.  Jadi sekecil apa pun perkara yang sedang kita hadapi tak ada yang namanya kebetulan, semua adalah bagian dari sebuah proses ujian:  ketika masalah datang melanda, apakah kita tetap memiliki respons hati yang benar, ataukah kita meresponsnya dengan sikap hati yang negatif dengan menyalahkan situasi, menyalahkan orang lain dan menyalahkan Tuhan.

     Ketika ujian itu berupa kelimpahan, masihkan kita sadar bahwa semua itu datangnya dari Tuhan ataukah malah membuat kita lupa diri.  Sebaliknya ketika ujian itu berupa kekurangan?  Agur bin Yake menulis:  "Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku."  (Amsal 30:8-9).

Hidup adalah sebuah proses yang menuntun kita kepada kehendak Tuhan!

Wednesday, August 15, 2018

MUDAH TERBUJUK RAYUAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 Agustus 2018

Baca:  Kisah Para Rasul 14:8-20

"Ketika orang banyak melihat apa yang telah diperbuat Paulus, mereka itu berseru dalam bahasa Likaonia: 'Dewa-dewa telah turun ke tengah-tengah kita dalam rupa manusia.'"  Kisah 14:11

Ketika terjadi mujizat ada orang yang lumpuh sejak lahir dapat berjalan melalui pelayanan yang dilakukan oleh Paulus dan Barnabas, orang-orang di Listra pun mengelu-elukan dan menyanjung kedua hamba Tuhan tersebut.  Bahkan mereka menganggap bahwa Paulus dan Barnabas adalah dewa yang telah turun dari langit dalam rupa manusia.  "Barnabas mereka sebut Zeus dan Paulus mereka sebut Hermes, karena ia yang berbicara."  (ayat 12).  Zeus dan Hermes adalah dewa kepercayaan Yunani kuno.  Zeus adalah dewa pemimpin yang bertahta di Olympus yang juga merupakan dewa hujan dan dewa langit, yang sering digambarkan dengan sebuah tongkat kerajaan, elang pada bahunya dan tongkat petir di tangannya.  Sementara Hermes merupakan dewa utusan Zeus, yang digambarkan sebagai dewa pembawa keberuntungan dan kemakmuran sehingga ia menjadi dewa favorit di antara dewa-dewa di Olympus.

     Banggakah Paulus dan Barnabas?  "Mendengar itu Barnabas dan Paulus mengoyakkan pakaian mereka, lalu terjun ke tengah-tengah orang banyak itu sambil berseru: 'Hai kamu sekalian, mengapa kamu berbuat demikian? Kami ini adalah manusia biasa sama seperti kamu. Kami ada di sini untuk memberitakan Injil kepada kamu, supaya kamu meninggalkan perbuatan sia-sia ini dan berbalik kepada Allah yang hidup, yang telah menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya."  (ayat 14-15).  Tetapi apa yang terjadi selanjutnya?  Orang-orang yang semula menyanjung dan mengelu-elukan Paulus dan Barnabas tiba-tiba berubah drastis:  "...mereka melempari Paulus dengan batu dan menyeretnya ke luar kota,"  (Kisah 14:9b).  Bagaimana bisa?  Ternyata orang-orang di Listra telah termakan bujukan  (terprovokasi)  orang-orang Yahudi yang membenci kekristenan.

     Berhati-hatilah dengan segala bujukan dan rayuan!  Ada banyak orang Kristen yang tergiur oleh bujuk rayu dunia ini, sehingga akhirnya mereka rela menjual imannya.  Mereka yang sebelumnya begitu mengasihi Tuhan berbalik memusuhi umat Tuhan.  Bujukan bisa membuat orang berubah total ke arah negatif.

Orang yang tak memiliki dasar iman yang kuat mudah terkena bujuk rayu Iblis!

Tuesday, August 14, 2018

SETIAP ROH HARUS DIUJI DULU

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 Agustus 2018

Baca:  1 Yohanes 4:1-6

"Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia."  1 Yohanes 4:1

Salah satu tanda nyata bahwa saat-saat ini adalah akhir zaman adalah banyak bermunculan nabi-nabi palsu dengan ajarannya yang menyesatkan.  Orang percaya tidak boleh santai-santai saja menyikapi situasi ini, melainkan harus ekstra waspada akan setiap roh yang bersaksi di mana-mana, termasuk juga di tempat-tempat ibadah.  Kita tak harus percaya kepada setiap roh, sebab kita harus menguji apakah roh-roh itu berasal dari Tuhan atau bukan,  "...ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan."  (Efesus 5:10).

     Sedang marak terjadi, ada orang-orang yang menyampaikan nubuatan-nubuatan palsu dengan tujuan untuk menakut-nakuti jemaat atau dengan motivasi negatif.  Atau mereka mengarang nubuatan sendiri demi mendapatkan keuntungan materi.  Ada juga yang menyampaikan nubuatan palsu untuk menyerang pihak lain atau mendiskreditkan gereja lain.  Nubuatan model demikian jelas-jelas bertentangan dengan Injil Kristus, karena Roh Kudus adalah Roh yang penuh kasih, tertib dan mendatangkan damai sejahtera.  Tidak pernah Roh Kudus menyampaikan sesuatu untuk mengadu-domba dan saling membenci.  Banyak pula praktek perdukunan yang mengaku dirinya dihinggapi oleh Roh Tuhan dan dapat menyembuhkan bermacam penyakit.  "Demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah, dan setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia."  (1 Yohanes 4:2-3).

     Banyak yang datang dengan nama Kristus tapi menyampaikan firman yang lain dari firman yang tertulis dalam Injil.  Paulus berkata,  "Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia."  (Galatia 1:8).

Seorang yang dewasa rohani tidak akan mudah  "...diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan,"  Efesus 4:14

Monday, August 13, 2018

SEPERTI KOTA YANG ROBOH TEMBOKNYA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 Agustus 2018

Baca:  Amsal 25:1-28

"Orang yang tak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh temboknya."  Amsal 25:28

Pada zaman dahulu setiap kota selalu dikelilingi oleh tembok yang tinggi dan kuat.  Adapun fungsinya adalah sebagai benteng perlindungan terhadap serangan yang datang dari pihak luar  (musuh).  Apabila tembok itu roboh akan memudahkan musuh untuk menyerang, memasuki kota dan mendudukinya.  Seperti itu pula gambaran orang yang tidak punya pertahanan diri yang kuat, tidak memiliki pengendalian diri, tidak memiliki penguasaan diri.  Jika kita tidak bisa mengendalikan diri atau tak punya penguasaan diri, kita pasti akan menjadi sasaran empuk musuh yaitu Iblis.  Rasul Petrus memperingatkan:  "Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya."  (1 Petrus 5:8).

     Adalah penting sekali bagi orang percaya untuk memiliki penguasaan diri dalam segala hal.  penguasaan diri adalah bagian dari buah Roh  (Galatia 5:22-23).  Orang yang memiliki penguasaan diri akan mampu menjaga dirinya terhadap segala pengaruh dan menjauhkan diri dari segala jenis kejahatan.  Karena itu penulis Amsal sangat mengapresiasi tinggi orang yang memiliki penguasaan diri yang baik.  "Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota."  (Amsal 16:32).  Daud adalah salah satu contoh orang yang memiliki penguasaan diri dalam hidupnya.  Sekalipun punya kesempatan besar untuk balas dendam terhadap Saul saat berada di dalam gua, tapi ia dapat menguasai diri, sehingga ia mengurungkan niat untuk menghabisi Saul.  Alkitab mencatat:  "...berdebar-debarlah hati Daud, karena ia telah memotong punca Saul; lalu berkatalah ia kepada orang-orangnya: 'Dijauhkan Tuhanlah kiranya dari padaku untuk melakukan hal yang demikian kepada tuanku, kepada orang yang diurapi TUHAN, yakni menjamah dia, sebab dialah orang yang diurapi TUHAN.'"  (1 Samuel 24:6-7).

     Untuk memiliki penguasaan diri ada harga yang harus dibayar yaitu rela hati untuk dipimpin oleh Roh Kudus.

Bergaul karib dengan Tuhan dan Roh Kudus adalah satu-satunya cara untuk kita bisa memiliki penguasaan diri!

Sunday, August 12, 2018

KRISTUS: Pribadi Penuh Empati

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 Agustus 2018

Baca:  Markus 6:53-56

"Ke manapun Ia pergi, ke desa-desa, ke kota-kota, atau ke kampung-kampung, orang meletakkan orang-orang sakit di pasar dan memohon kepada-Nya, supaya mereka diperkenankan hanya menjamah jumbai jubah-Nya saja. Dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh."  Markus 6:56

Setelah begitu lama mengajar dan memberi makan lima ribu orang yang setia mendengar ajaran-Nya, Kristus merasa sangat lelah.  Karena itu Ia memerintahkan murid-murid-Nya naik perahu dan berangkat lebih dulu ke Betsaida  (Markus 6:45).  Setelah menyuruh orang banyak untuk pulang, Kristus pun mengasingkan diri untuk berdoa.

     Dalam penyeberangan ke Betsaida perahu murid-murid dihadang oleh amukan angin sakal ketika tepat berada di tengah-tengah danau.  Melihat situasi ini Kristus pun segera turun tangan menolong mereka.  Namun setelah sampai di seberang Ia sudah ditunggu banyak orang yang sangat mengharapkan pertolongan-Nya.  Melihat mereka tergeraklah hati Tuhan oleh belas kasihan, dan ia pun mengulurkan tangan-Nya memberi pertolongan.  Ini menunjukkan bahwa Ia adalah Pribadi yang penuh empati.  Empati adalah sikap yang menempatkan diri sendiri di posisi orang lain agar bisa turut merasakan apa yang orang lain rasakan.  Tuhan dapat merasakan betapa susahnya si pincang berjalan, betapa terlukanya hati si kusta karena tertolak;  Ia merasakan penderitaan mendalam dari seorang wanita yang mengalami sakit pendarahan selama dua belas tahun, merasakan betapa sakit dan menderitanya orang yang hanya bisa berbaring di atas kasur;  merasakan betapa hancurnya hati orang buta yang hanya bisa melihat gelap di sepanjang hidupnya.  Alasan-alasan inilah yang membuat Tuhan tidak bisa tinggal diam dan meninggalkan mereka begitu saja.  Empati yang besar menggerakkan hati Tuhan untuk bertindak.

     Apakah Saudara sedang menderita sakit-penyakit, terluka hati karena tertolak, atau tertindih beban yang teramat berat?  Jangan pernah putus asa, sebab selalu ada masa depan dan harapan bagi orang-orang yang berharap kepada Tuhan.  Pemazmur menegaskan bahwa orang yang menanti-nantikan Tuhan takkan pernah mendapat malu  (Mazmur 25:3a).

"Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu."  Matius 11:28

Saturday, August 11, 2018

DAPUR PERAPIAN: Proses Pemurnian Iman

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 Agustus 2018

Baca:  Amsal 17:1-28

"Kui (the refining pot - English, Red) adalah untuk melebur perak dan perapian untuk melebur emas, tetapi Tuhanlah yang menguji hati."  Amsal 17:3

Emas adalah salah satu logam mulia yang memiliki nilai jual tinggi.  Tapi tak banyak orang yang memahami bahwa emas yang murni dan berharga lahir dari proses pemurnian di dalam dapur perapian.  Saat sedang melebur emasnya di dapur perapian sang pengrajin emas tidak dengan serta merta meninggalkan emas tersebut begitu saja di dapur perapian, tapi ia dengan setia berjaga-jaga di samping dapur perapian itu.  Dengan sabar dan penuh ketelitian si pengrajin emas akan terus memperhatikan dan mengamat-amati emas yang sedang terbakar di dalam api yang panas membara itu supaya jangan sampai rusak dan tak berbentuk.  Ia pun turut merasakan hawa panasnya yang menyengat kulit.

     Demikian juga dengan Tuhan, saat Ia sedang memroses hidup kita, Ia pun tidak pernah sekalipun membiarkan dan meninggalkan kita, meskipun untuk itu Tuhan harus turut merasakan setiap sakit yang kita rasakan.  Tuhan berkata,  "janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan."  (Yesaya 41:10).  Emas murni harus merasakan panasnya api di dapur perapian dalam waktu yang tak singkat, sampai semua kotoran dan ketidakmurnian yang melekat di logam tersebut terkikis habis.  Bagaimana si pengrajin emas tahu bahwa semua kotoran telah habis?  ketika ia dapat melihat bayangan dirinya pada emas yang sedang dileburnya itu....

     Jangan pernah memberontak ketika mengalami proses pembentukan dari Tuhan!  Segala hal yang Tuhan ijinkan terjadi dalam hidup kita selalu mendatangkan kebaikan demi kebaikan.  Tuhan mau kita semakin dimurnikan, sehingga pada akhirnya karakter Kristus akan terpancar keluar melalui kehidupan kita.  Memang proses itu terasa amat sakit, tapi percayalah bahwa Tuhan pasti akan menolong dan memberi kekuatan kepada kita.  Tuhan mengijinkan semua itu terjadi karena Ia memiliki rencana yang indah untuk kehidupan kita.  Untuk itulah kita perlu dibentuk dan diproses oleh-Nya!

"Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas."  Ayub 23:10

Friday, August 10, 2018

PENDERITAAN MENGHASILKAN KETEKUNAN (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 Agustus 2018

Baca:  Yakobus 1:2-8

"sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan."  Yakobus 1:3

Mampu merespons dengan sikap hati yang benar ketika sedang diperhadapkan dengan penderitaan adalah letak keistimewaan iman Kristiani.  Sebagai orang percaya tak sepatutnya kita dikalahkan oleh situasi yang ada.  Tuhan menghendaki agar kita menghadapi setiap penderitaan dengan hati yang tabah dan tetap bersyukur, sebab penderitaan adalah jalan yang Tuhan pakai untuk menguji kemurnian iman kita.  Penulis Amsal memberikan kunci untuk menghadapi setiap penderitaan yang ada yaitu:  "Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang."  (Amsal 17:22), dan  "Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?"  (Amsal 18:14).

     Mengapa iman perlu diuji?  Ayat nas jelas menyatakan bahwa proses pengujian iman akan menghasilkan ketekunan.  Kata  'ketekunan'  memiliki pengertian:  kemampuan bertahan dalam menghadapi kemalangan, penderitaan, atau kesusahan.  Yang dimaksud  'ketekunan'  bukanlah sikap sekedar bertahan secara pasif atau pasrah pada keadaan tetapi sikap aktif, kuat dan berani menghadapi segala bentuk penderitaan dan kesukaran, sehingga mampu menjadikan situasi yang tidak menyenangkan itu menjadi sesuatu yang dapat mempermuliakan nama Tuhan, mampu melihat sisi positif di balik penderitaan yang kita alami.  Karena itu kita diminta untuk merespons setiap penderitaan dengan sikap hati yang benar, sebab melalui penderitaan tersebut akan dihasilkan iman yang kuat.

     Ketekunan tidak mungkin dihasilkan tanpa penderitaan atau kesukaran.  Oleh sebab itu janganlah kita langsung mengungkapkan kemarahan dan kekecewaan kepada Tuhan ketika Ia menempatkan kita dalam berbagai macam penderitaan atau kesukaran, karena Tuhan sedang menggarap hidup kita, Ia memiliki rencana besar atas hidup kita.  Jadi,  "Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan,"  (Ibrani 12:2).  Ingatlah bahwa ketekunan membutuhkan proses yang tidak singkat.

"Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu."  Ibrani 10:36

Thursday, August 9, 2018

PENDERITAAN MENGHASILKAN KETEKUNAN (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 9 Agustus 2018

Baca:  Roma 5:1-11

"Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan."  Roma 5:3b-4

Tidak banyak orang mampu bertahan saat diperhadapkan dengan pencobaan.  Dalam Perjanjian Baru kata  'pencobaan'  memiliki dua arti dasar yaitu:  1.  Sesuatu untuk menjatuhkan kita yang datang dari Iblis, 2.  Sesuatu untuk memroses, membentuk, menyucikan, mengangkat dan menguatkan kita;  ini datang dari Tuhan, dan biasanya disebut ujian.  Bentuk ujian dari Tuhan bisa berupa masalah atau penderitaan  (kesengsaraan).  Ketika diperhadapkan dengan penderitaan  (kesengsaraan)  kebanyakan dari kita langsung menjadi lemah, sedih, kecewa, marah, frustasi, dan berputus asa.  Kita lupa bahwa penderitaan  (kesengsaraan)  adalah cara yang acapkali Tuhan pakai untuk memroses dan mendewasakan hidup orang percaya.

     Jika melihat hidup saudara seiman sedang dalam penderitaan, jangan sekali-kali kita menghakimi bahwa ada dosa dalam hidupnya.  Memang bisa saja penderitaan sebagai bentuk teguran Tuhan akibat dosa atau pelanggaran, tetapi bisa juga Tuhan mengijinkan penderitaan terjadi dalam hidupnya karena Tuhan sedang menguji kualitas imannya, Ia hendak mengangkat hidupnya, hendak memberkati dan menyatakan perkara-perkara besar.  Kalau hidup kita datar-datar saja dan relatif aman, maka kualitas iman kita tidak akan nampak teruji.  "Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia."  (Yakobus 1:12).

     Yakobus memberikan cara bagaiman kita harus bersikap saat menghadapi pencobaan yaitu  "...anggaplah sebagai suatu kebahagiaan,"  (Yakobus 1:2).  Kata  'anggaplah'  merupakan suatu istilah yang berarti menilai dan merespons dengan benar, karena pada hakekatnya pencobaan dapat menghasilkan sesuatu yang positif bagi yang mengalaminya.  Menganggap sebagai suatu kebahagiaan bukan berarti kita secara sengaja mengingini penderitaan tersebut.  Bukan penderitaan atau pencobaan itu sendiri yang harus kita anggap sebagai kebahagiaan atau berkat, tetapi hal-hal baik yang dihasilkan melalui penderitaan tersebut, seperti ketekunan dan kesucian.

Wednesday, August 8, 2018

MILIKILAH HATI YANG BERSYUKUR (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 Agustus 2018

Baca:  Yesaya 38:1-22

"TUHAN telah datang menyelamatkan aku! Kami hendak main kecapi, seumur hidup kami di rumah TUHAN."  Yesaya 38:20

Adalah mudah mengucap syukur kepada Tuhan ketika segala sesuatu berjalan normal dan nampak baik.  Namun, ketika segala sesuatu terjadi tidak seperti yang diharapkan, justru hal-hal yang buruk yang terjadi, apakah kita masih bisa mengucap syukur?  Rasul Paulus menasihati kita agar tetap mengucap syukur dalam segala hal, sebab itulah yang menjadi kehendak Tuhan  (1 Tesalonika 5:18).  Dalam segala hal berarti di segala situasi atau keadaan, suka atau duka, senang atau susah, sehat atau sakit.

     Kita akan mampu bersyukur dalam segala keadaan apabila pandangan kita terarah kepada Tuhan dan janji firman-Nya.  Kalau mata kita terfokus pada situasi atau kenyataan, dapat dipastikan kita akan menjadi lemah.  Jadi, dalam bersyukur, yang kita perlukan adalah iman.  "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat."  (Ibrani 11:1).  Iman membuat kita berkeyakinan penuh bahwa Tuhan adalah Pribadi yang tidak pernah berdusta dan tidak pernah mengecewakan.  Hati yang dipenuhi dengan ucapan syukur memampukan kita bersabar dalam menanti-nantikan pertolongan Tuhan, karena percaya bahwa waktu Tuhan adalah yang terbaik, di mana  "Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya,"  (Pengkhotbah 3:11).  Seseorang akan mampu bersyukur di segala keadaan, ketika sadar bahwa ia tidak bergumul sendirian dalam menghadapi persoalan, karena ada Tuhan yang menyertai.  Seseorang yang memiliki kepekeaan rohani akan merasakan kehadiran Tuhan dalam hidupnya, sekalipun mata jasmaninya tak melihat.                              

     Kita dapat bersyukur dalam segala hal bila hati dan pikiran kita selalu diisi dengan hal-hal yang positif.  Sekalipun Tuhan telah melakukan hal-hal yang baik, tetapi jika hati dan pikiran kita dipenuhi dengan hal-hal yang negatif, maka hati dan pikiran kita tidak bisa mengingat kebaikan Tuhan;  seperti bangsa Israel, yang sekalipun melihat dan mengalami mujizat demi mujizat, tetap saja sulit untuk bersyukur.

"Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu."  Filipi 4:8