Wednesday, July 17, 2019

TUHAN HAKIM YANG ADIL

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 Juli 2019

Baca:  Mazmur 7:1-17

"Ia membuat lobang dan menggalinya, tetapi ia sendiri jatuh ke dalam pelubang yang dibuatnya."  Mazmur 7:16

Di zaman sekarang ini banyak orang tak lagi segan untuk melakukan perbuatan jahat.  Segala cara ditempuh demi mewujudkan apa yang diinginkan.  Mereka nekat memasang jerat atau ranjau untuk mencelakai dan menghancurkan hidup orang lain tanpa peduli apakah itu teman, kawan, atau lawan.  Entah dengan cara bergosip, memfitnah, menyebarkan berita hoax, atau perbuatan apa saja yang mengandung unsur negatif.  Perbuatan semacam ini bisa terjadi di segala tempat:  di tempat kerja, di sekolah, bahkan di lingkungan gereja sekalipun.  Tujuannya satu, yaitu menjatuhkan atau menghancurkan orang lain yang dianggapnya sebagai rival atau lawan.

     Mungkin tak pernah mereka sadari bahwa perbuatan jahat yang dilakukan itu justru akan menjadi bumerang yang dapat menghancurkan diri sendiri, atau senjata makan tuan  (ayat nas).  "Terhadap dirinya ia mempersiapkan senjata-senjata yang mematikan, dan membuat anak panahnya menjadi menyala. Sesungguhnya, orang itu hamil dengan kejahatan, ia mengandung kelaliman dan melahirkan dusta. Kelaliman yang dilakukannya kembali menimpa kepalanya, dan kekerasannya turun menimpa batu kepalanya."  (Mazmur 7:14, 15, 17).  Berhati-hatilah!  Orang yang merancangkan kejahatan terhadap sesamanya akan berperkara sendiri dengan Tuhan.  Ada tertulis:  "Rancangan orang jahat adalah kekejian bagi TUHAN,"  (Amsal 15:3).  Ingatlah selalu bahwa Tuhan tidak pernah melepaskan pengawasan-Nya terhadap semua orang.  Kejahatan sekecil apa pun, bahkan niat jahat yang timbul di dalam hati sekalipun Tuhan tahu secara persis.  Pada saatnya Tuhan akan bertindak.

     Selama kita hidup seturut dengan firman Tuhan, berlaku benar di hadapan Tuhan, kita tak perlu takut dengan segala kejahatan yang orang lain rancangkan terhadap kita.  Tuhan yang adalah Hakim yang adil pasti akan menyatakan pembelaan-Nya kepada kita.

"Semua musuhku mendapat malu dan sangat terkejut; mereka mundur dan mendapat malu dalam sekejap mata."  Mazmur 6:11

Tuesday, July 16, 2019

TEGUHKAN HATI DAN TAK PERLU TAKUT

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 Juli 2019

Baca:  Yesaya 7:1-9

"Teguhkanlah hatimu dan tinggallah tenang, janganlah takut dan janganlah hatimu kecut karena kedua puntung kayu api yang berasap ini, yaitu kepanasan amarah Rezin dengan Aram dan anak Remalya."  Yesaya 7:4

Rasa takut dalam dialami oleh semua orang, tanpa terkecuali.  Orang yang kaya, orang yang miskin, orang yang berpendidikan atau tak berpendidikan, orang yang berpangkat atau pekerja rendahan, orang yang tinggal di kota, di desa atau di lereng-lereng gunung, semua pasti pernah mengalami rasa takut dalam hidupnya.  Banyak faktor yang menyebabkan seseorang dilanda rasa takut:  permasalahan dalam rumah tangga, krisis keuangan, bencana atau musibah, sakit-penyakit yang tak kunjung sembuh, kegagalan dalam studi, ancaman atau intimidasi dari pihak lain, dan sebagainya.  Hamba-hamba Tuhan, pelayan Tuhan, dan termasuk jemaat yang masih awam, tak luput dari rasa takut.

     Elia, yang adalah seorang nabi yang diurapi Tuhan, juga dilanda rasa takut yang luar biasa ketika ia mendengar ancaman dan gertakan dari Izebel,  "...jika besok kira-kira pada waktu ini aku tidak membuat nyawamu sama seperti nyawa salah seorang dari mereka itu."  (1 Raja-Raja 19:3), maka  "...takutlah ia, lalu bangkit dan pergi menyelamatkan nyawanya;"  (1 Raja-Raja 19:3).  Rasa takut yang demikian hebatnya sampai membuat Elia ingin mati saja.  Padahal ia baru saja mendemonstrasikan kuasa Tuhan di hadapan umat Israel dengan berhasil membunuh 450 orang nabi baal di atas gunung Karmel.  Syukurlah pada akhirnya Elia mampu bangkit kembali imannya setelah Tuhan mengutus malaikat-Nya untuk menghibur dan menguatkan dia, serta memberinya makanan  (roti bakar)  dan sebuah kendi berisi air untuk diminum.

     Ahas, sekalipun raja, ketika mendengar berita bahwa raja Aram hendak menyerang dan sudah berkemah di wilayah Efraim, hatinya dan  "...hati rakyatnya gemetar ketakutan seperti pohon-pohon hutan bergoyang ditiup angin." (Yesaya 7:2).  Melalui hamba-Nya, Yesaya, Ia berfirman,  "Teguhkanlah hatimu dan tinggallah tenang, janganlah takut dan janganlah hatimu kecut..."  (ayat nas).  Apa yang Saudara takutkan saat ini?  Serahkan beban permasalahan Saudara kepada Tuhan dan imani setiap kebenaran firman-Nya.

Tak perlu takut menghadapi apa pun, karena ada Roh Kudus yang selalu menyertai dan tak pernah meninggalkan kita.

Monday, July 15, 2019

TINGGAL DALAM DAMAI SEJAHTERA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 Juli 2019

Baca:  Yesaya 26:1-12

"Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya."  Yesaya 26:3

Banyak orang kehilangan damai sejahtera karena beratnya permasalahan hidup.  Ketegangan melanda semua orang karena berbagai bencana atau musibah, juga keadaan ekonomi yang diberitakan buruk.

     Kita dapat terlepas dari ketegangan yang ada apabila kita selalu mengingat dan menyadari bahwa kita ini ada dalam pengawasan mata Tuhan dan mempercayai Dia yang selalu melindungi dan menjaga kita.  Sekalipun dunia diwarnai dengan berbagai goncangan, kita akan tetap merasa tenang dan berlimpah damai sejahtera bila kita senantiasa tinggal di dalam Tuhan dan firman-Nya.  Iblis dapat mengambil, mencuri dan merampas damai sejahtera bila kita hidup menjauh dari Tuhan, berjalan keluar dari kehendak-Nya, dan tidak taat melakukan apa yang Tuhan kehendaki.  Ketidaktaatan adalah faktor yang membuat seseorang tidak merasakan damai sejahtera karena ia akan selalu dihantui oleh rasa takut dan cemas.  Ayat nas jelas menyatakan bahwa Tuhan akan menjagai kita dengan damai sejahtera jika mata kita senantiasa tertuju kepada Tuhan, hati kita senantiasa berpaut kepada-Nya.  Maka dari itu  "Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat."  (Ibrani 10:25).  Jika tiba-tiba kita dihadapkan pada keadaan yang sulit, kita akan mampu merespons dengan sikap hati yang benar:  tetap tenang, tidak bingung, tidak cemas dan tidak panik.

     Cara lain untuk menolong kita tetap merasakan damai sejahtera di segala situasi adalah berserah penuh kepada Tuhan.  Pemazmur menasihati,  "Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak;"  (Mazmur 37:5).  Percayalah dalam segala sesuatu Tuhan turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi kita  (Roma 8:28).  Apabila kita mengasihi Tuhan dengan sungguh, tak perlu kuatir terhadap segala yang terjadi, sebab di baliknya Tuhan punya rencana terbaik bagi kita.

Damai sejahtera dari Tuhan adalah damai sejahtera yang sempurna di segala situasi dan keadaan!

Sunday, July 14, 2019

KASIH SAHABAT YANG SEJATI

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 Juli 2019

Baca:  1 Samuel 23:14-18

"Janganlah takut, sebab tangan ayahku Saul tidak akan menangkap engkau; engkau akan menjadi raja atas Israel, dan aku akan menjadi orang kedua di bawahmu."  1 Samuel 23:17a

Alkitab mencatat tentang persahabatan di antara dua insan manusia yang dilandasi oleh hati yang tulus, yaitu persahabatan antara Daud dan Yonatan.  Inilah contoh sebuah persahabatan yang sejati, karena persahabatan yang terjalin di antara keduanya tidak saja di dalam suka dan senang, namun di segala keadaan.  Ketika Daud mengalami masalah, Yonatan tetap menunjukkan kasihnya yang tulus.  "Persahabatan bukanlah tentang siapa yang kau kenal paling lama.  Tapi tentang ia yang datang ke kehidupanmu dan berkata,  'Aku di sini untukmu',  lalu membuktikannya."  (Anonim).  Inilah yang akhirnya menginspirasi Salomo  (anak Daud)  untuk menulis:  "Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran."  (Amsal 17:17).

     Ketika Daud mampu mengalahkan raksasa Filistin  (Goliat), orang-orang pun mengelu-elukan dia:  "Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa. Lalu bangkitlah amarah Saul dengan sangat; dan perkataan itu menyebalkan hatinya, sebab pikirnya: 'Kepada Daud diperhitungkan mereka berlaksa-laksa, tetapi kepadaku diperhitungkannya beribu-ribu; akhir-akhirnya jabatan raja itupun jatuh kepadanya.' Sejak hari itu maka Saul selalu mendengki Daud."  (1 Samuel 18:7-9).  Akhirnya raja Saul berusaha mencari segala cara untuk dapat membunuh Daud, meski selalu gagal.  Namun Daud pun harus menjadi pelarian karena terus dikejar-kejar oleh Saul.  Pada saat Daud berada di padang gurun Zif, datanglah Yonatan menemui Daud dengan tujuan untuk menghibur dan menguatkan kepercayaan sahabatnya itu;  "Janganlah takut, sebab tangan ayahku Saul tidak akan menangkap engkau; engkau akan menjadi raja atas Israel, dan aku akan menjadi orang kedua di bawahmu."  (ayat nas).  Kemudian keduanya mengikat sebuah perjanjian di hadapan Tuhan  (1 Samuel 23:18).

     Inilah arti penting kehadiran sahabat dalam hidup ini!  Sahabat sehati akan selalu ada untuk kita saat kita sedang membutuhkan, lemah, tak berdaya, atau terpuruk.

Kasih seorang sahabat tak pernah mengenal waktu dan keadaan, bahkan ia bisa lebih karib dari pada seorang saudara  (Amsal 18:24).

Saturday, July 13, 2019

MEMUASKAN KEINGINAN TELINGA SAJA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 Juli 2019

Baca:  2 Timotius 4:1-8

"Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng."  2 Timotius 4:3-4

Tak bisa dipungkiri bahwa banyak orang suka sekali mendengarkan hal-hal yang menyenangkan dan menghibur, suka sekali dengan hal-hal yang bersifat pujian dan sanjungan;  suka sekali mendengar kata-kata manis dan enak untuk didengar tanpa memperhatikan apakah yang didengarnya itu benar atau tidak.

     Mereka lebih suka mendengarkan tema-tema khotbah yang hanya memuaskan telinganya.  Khotbah tentang berkat, kekayaan, kelimpahan, atau kenyamanan, itulah yang dicari-cari.  Sedikit orang yang mau mengarahkan telinganya untuk mendengarkan khotbah-khotbah  'keras' yang berisikan tentang teguran, seruan pertobatan, atau khotbah yang membongkar dosa.  Sedikit orang yang mau ditegur, dinasihati dan dikoreksi kesalahannya.  Itulah keadaan manusia di zaman seperti sekarang ini!  Yang dicari bukan lagi kebenaran, namun hal-hal yang memuaskan telinga.  Ketika sedang mengalami masalah yang berat orang lebih suka datang kepada dukun, orang pintar atau peramal untuk meminta nasihat dan solusi untuk masalah yang dialaminya, daripada datang kepada hamba Tuhan.  Kalau datang kepada hamba Tuhan pasti yang didengarnya adalah teguran dan diminta untuk bertobat.  Ahab  (raja Israel)  tidak mau mendengarkan apa yang disampaikan oleh nabi Mikha karena menganggap bahwa nabi ini selalu mengatakan hal-hal yang buruk dan negatif tentang dirinya:  "...aku membenci dia, sebab tidak pernah ia menubuatkan yang baik tentang aku, melainkan malapetaka."  (1 Raja-Raja 22:8b).  Ahab tidak suka jika dirinya ditegur, dikoreksi, dibongkar dosanya, atau mendengar hal-hal buruk tentang akibat dosa.  Karena itu ia rela bersusah-susah untuk mengumpulkan 400 nabi yang mau memberikan nasihat dan nubuatan yang manis dan sedap untuk didengarnya, padahal itu semua hanya sekedar untuk membuatnya senang.

     Berbeda dengan Yosafat  (raja Yehuda)  yang lebih mengutamakan petunjuk dari Tuhan, sekalipun mungkin apa yang didengarnya adalah sebuah teguran keras.

Ucapan yang meninabobokan membuat orang menjadi terlena dan hancur!

Friday, July 12, 2019

TAK TAHU BERTERIMA KASIH

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 Juli 2019

Baca:  Lukas 17:11-19

"Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?"  Lukas 17:18

Dalam pembacaan Alkitab hari ini dinyatakan bahwa ada sepuluh orang yang menderita sakit kusta datang kepada Kristus dan memohon belas kasihan dari-Nya,  "...Guru, kasihanilah kami!"  (Lukas 17:13).  Tergeraklah hati Tuhan untuk menolong mereka, dan akhirnya kesepuluh orang kusta itu pun menjadi tahir.  Dari 10 orang yang mengalami kesembuhan dari Tuhan itu ternyata hanya 1 orang saja, yaitu orang Samaria, yang tahu berterima kasih dan tersungkur di bawah kaki Tuhan dengan penuh ucapan syukur.  Tuhan berkata,  "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu?" (Lukas 17:17).  Sembilan orang yang lain pergi begitu saja meninggalkan Tuhan tanpa ucapan terima kasih!

     Sudah menjadi rahasia umum bila orang dalam keadaan tidak berdaya, menderita sakit keras, sedang terlilit utang, atau mengalami masalah yang teramat berat, di mana segala upaya telah dilakukan tapi tak membuahkan hasil apa-apa, barulah ia menyadari bahwa ia sangat memerlukan Tuhan.  Orang itu pun segera mencari Tuhan dengan segenap hati dan berdoa dengan tiada berkeputusan.  Ia pun berteriak dan berseru-seru kepada Tuhan meminta pertolongan-Nya;  dan ketika pertolongan dari Tuhan itu datang, barulah dari mulutnya keluar ucapan syukur dan bibir yang memuliakan Tuhan.  Perhatikan!  Ketika segala sesuatunya berjalan dengan baik dan tampak menyenangkan, kebanyakan orang lupa untuk mengucap syukur dan berterima kasih kepada Tuhan.  Mereka menganggap bahwa semuanya adalah hal yang biasa.  Bila mereka berhasil dan sukses dianggapnya sebagai hasil usaha dan kerja kerasnya sendiri.

     Kita lupa bahwa di balik segala perkara yang terjadi ada tangan Tuhan yang turut bekerja, ada Tuhan yang menolong, ada Tuhan yang menopang, ada Tuhan yang menyertai, ada Tuhan yang memberi kekuatan dan kemampuan kepada kita.  Tanpa Tuhan dan di luar Dia kita ini bukanlah siapa-siapa dan tidak ada apa-apanya.  Tuhan menegaskan,  "...sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa."  (Yohanes 15:5b).

Oleh karena itu  "Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!" Mazmur 103:2

Thursday, July 11, 2019

TUHAN MENGINGAT DAN MENJAWAB DOA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 Juli 2019

Baca:  Mazmur 66:1-20

"Sesungguhnya, Allah telah mendengar, Ia telah memperhatikan doa yang kuucapkan. Terpujilah Allah, yang tidak menolak doaku dan tidak menjauhkan kasih setia-Nya dari padaku."  Mazmur 66:19-20

Banyak orang Kristen begitu antusias ketika diminta untuk terlibat dalam pelayanan di gereja, entah itu sebagai usher, singer, worship leader, dan lain-lain pelayanan.  Mengapa?  Karena pelayanan tersebut berhadapan langsung dengan jemaat, alias bisa dilihat oleh banyak orang.  Tapi bila diminta untuk ambil bagian dalam pelayanan sebagai pendoa?  Respons jemaat tampak berbeda, yaitu kurang antusias.  Mengapa?  Karena pelayanan sebagai tim doa itu selain tidak dikenal oleh banyak orang, tempatnya pun di ruang yang tertutup.  Itulah sebabnya sedikit orang mau terlibat dalam pelayanan doa.  Sekilas aktivitas doa seperti tidak menghasilkan apa-apa... sudah berkorban waktu untuk berdoa, tiada hasil yang didapat.  Benarkah demikian?  Itulah mengapa sedikit orang mau bertekun di dalam doa.  Mereka enggan menyediakan waktunya untuk bertemu dengan Tuhan di dalam doa.

     Kornelius, seorang perwira Romawi yang membawahi seratus orang prajurit, sekalipun punya segudang kesibukan, tidak ada alasan bagainya untuk tidak berdoa.  Alkitab mencatat bahwa ia senantiasa berdoa kepada Tuhan  (Kisah 10:2).  Kata senantiasa berbicara tentang sesuatu yang dilakukan secara rutin dan penuh ketekunan.  Sekalipun Kornelius adalah orang non Yahudi, tapi ia memiliki kerinduan yang besar untuk mencari dan menyembah Tuhannya bangsa Israel.  Dalam tradisi, orang-orang Yahudi memiliki kebiasaan berdoa tiga kali dalam sehari yaitu jam 9 pagi, jam 12 siang, dan jam 15  (3 petang).  Jika Alkitab menyatakan bahwa Kornelius senantiasa berdoa, itu artinya Kornelius tekun berdoa pada jam-jam tersebut.

     Tidak ada doa yang sia-sia asal dilakukan dengan kesungguhan hati.  "Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya."  (Yakobus 5:16b).  Doa orang benar pasti menjangkau hadirat Tuhan.  Selain tekun berdoa, Kornelius juga orang yang saleh dan takut akan Tuhan, karena itu doa-doanya naik ke hadirat Tuhan, menyentuh hati-Nya, dan menggerakkan tangan-Nya untuk bekerja  (Kisah 10:30-31).

Kita memang tidak mengetahui cara Tuhan menjawab doa-doa kita, namun yang pasti, Ia mengingat segala apa yang pernah kita mohonkan kepada-Nya.

Wednesday, July 10, 2019

JANGAN MENGHINDARI TANTANGAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 Juli 2019

Baca:  Yeremia 9:1-11

"Sekiranya di padang gurun aku mempunyai tempat penginapan bagi orang-orang yang sedang dalam perjalanan, maka aku akan meninggalkan bangsaku dan menyingkir dari pada mereka!"  Yeremia 9:2a

Sebagai orang-orang yang telah diselamatkan karena pengorbanan Kristus di kayu salib, tidak berarti perjalanan hidup kita akan bebas dari masalah, luput dari ujian dan tantangan, atau jalan hidup kita akan semulus jalan tol yang bebas hambatan.  Justru kita akan semakin dihadapkan pada tantangan yang jauh lebih besar, sebab Iblis takkan pernah rela kita ini menjadi milik Kristus seutuhnya.  Jika menyadari akan hal ini, tak perlu kita menghindar atau lari dari tantangan, melainkan bersiaplah menghadapinya.  Bukankah firman Tuhan menegaskan,  "...dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita."  (Roma 8:37).

     Tak seorang pun yang mau dihadapkan pada tantangan dan ujian... seandainya mungkin, tanpa ujian kita boleh lulus... Karena itu milikilah respons hati yang benar dalam menghadapi setiap tantangan yang ada.  Andai saja Daud lari dari hadangan Goliat, raksasa dari Gat itu, ia takkan pernah menjadi salah satu tokoh besar yang tercatat di dalam Alkitab.  Saat berhadapan dengan raksasa Filistin itu Daud tidak lari ketakutan, melainkan dengan penuh keberanian berkata,  "Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam,... Ketika orang Filistin itu bergerak maju untuk menemui Daud, maka segeralah Daud berlari ke barisan musuh untuk menemui orang Filistin itu;"  (1 Samuel 17:45, 48).

     Dalam kasus berbeda, Yeremia, orang yang diutus Tuhan untuk menyatakan kebenaran kepada umat Israel, hampir-hampir tidak tahan menghadapi tantangan yang ada, karena ia harus tinggal di antara orang-orang yang hidup dalam pemberontakan.  Ia ingin sekali pergi menjauh dari mereka, alias berhenti mengerjakan panggilan Tuhan ini.  Karena tidak tahan dengan beratnya tantangan, tidak sedikit orang Kristen yang kehilangan semangat dalam melayani Tuhan, dan bahkan mereka berniat untuk mundur.

"Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran." 2 Timotius 4:2

Tuesday, July 9, 2019

TUHAN YANG MENUNJUKKAN JALAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 9 Juli 2019

Baca:  Mazmur 25:1-22

"Siapakah orang yang takut akan TUHAN? Kepadanya TUHAN menunjukkan jalan yang harus dipilihnya."  (Mazmur 25:12)

Adalah hal yang biasa ketika sedang dihadapkan pada masalah, kebanyakan orang mencari cara dan jalan sendiri untuk mengatasinya.  Mereka tak pernah membicarakan atau mengutarakan segala sesuatunya kepada Tuhan;  mereka tak pernah melibatkan Tuhan.  Mengapa?  Mereka kuatir apa yang direncanakan dan jalan yang ditempuhnya itu tidak sesuai dengan kehendak Tuhan.  Karena itu mereka keburu nafsu untuk melakukan apa yang menjadi kehendak hatinya, sebelum Tuhan  'mengetahuinya'.

     Alangkah baiknya sebelum merencanakan dan melakukan sesuatu kita menyerahkan semuanya ke dalam pimpinan Tuhan.  Kita harus belajar mendisiplinkan diri untuk berdoa menyampaikan segala rencana dan keinginan kita kepada Tuhan.  Yakobus menasihati,  "Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: 'Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung', sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Sebenarnya kamu harus berkata: 'Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.' (Yakobus 4:13-15).  Jika perlu kita juga dapat men-sharing-kan rencana dan keingingan kita itu kepada pemimpin rohani atau hamba-hamba Tuhan yang hidupnya karib dengan Tuhan untuk meminta saran dan menyinkronkan pendapat tersebut dengan kebenaran firman Tuhan.  Sesungguhnya Tuhan hanya menginginkan ketaatan dan penyerahan diri kita, sedangkan langkah-langkah selanjutnya Tuhan sendiri yang akan memimpin kita.

     Kepada Abram Tuhan memberikan perintah,  "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu;" (Kejadian 12:1).  Sekalipun Abram belum tahu tempatnya secara pasti, ia taat melakukan apa yang Tuhan perintahkan.  Tuhan memang tidak pernah memaksakan kehendak-Nya bila kita tidak mau.  Ketika kita mau taat, Tuhan akan menuntun dan membimbing kita.  "Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya." (Mazmur 25:10).

Tak perlu takut... apabila Tuhan menyuruh, Dia pasti akan bertanggung jawab!

Monday, July 8, 2019

BERSERU-SERU HANYA SAAT PERLU

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 Juli 2019

Baca:  Lukas 6:46-49

"Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?"  Lukas 6:46

Dalam kehidupan ini kita seringkali mengecewakan hati Tuhan.  Dalam hal apa kita mengecewakan Tuhan?  Dalam hal ketidaktaatan kita.  Kita sering tidak taat melakukan kehendak Tuhan, padahal kita sudah tahu tentang kebenaran dan mendengar firman Tuhan setiap hari.  Kita taat kepada Tuhan hanya saat sedang kepepet  (terdesak)  yaitu ketika sedang dalam masalah atau kesulitan saja.  Kita berseru-seru memanggil nama Tuhan hanya saat kita sedang memerlukan sesuatu dari Dia.  Ketaatan semacam ini adalah ketaatan yang bersyarat!  Taat hanya saat butuh, mau taat asalkan Tuhan mau menolong.

     Sebagai orang percaya kita ini adalah prajurit-prajurit Kristus.  Prajurit pasti akan melakukan apa pun yang diperintahkan oleh komandannya sekalipun perintah itu menjadikan nyawanya sebagai taruhan.  "Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya."  (2 Timotius 2:4).  Hanya dengan taat melakukan perintah, seorang prajurit berkenan kepada sang komandan.  Demikianlah seharusnya, kita menaati apa yang diperintahkan Tuhan di segala keadaan, sebab semua perintah-Nya adalah untuk kebaikan kita juga.  Bila kita tidak taat justru dapat membahayakan keselamatan kita sendiri.  Tujuan Tuhan memberikan perintah kepada kita adalah untuk menunjukkan dan mengarahkan kita kepada jalan yang benar, supaya kita tidak tersesat.

     Tuhan memberikan dua pilihan hidup kepada kita:  "Lihatlah, aku memperhadapkan kepadamu pada hari ini berkat dan kutuk: berkat, apabila kamu mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini; dan kutuk, jika kamu tidak mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, dan menyimpang dari jalan yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain yang tidak kamu kenal."  (Ulangan 11:26-28), tetapi  "...jika kamu tidak mendengarkan firman TUHAN dan kamu menentang titah TUHAN, maka tangan TUHAN akan melawan kamu..."  (1 Samuel 12:15).  Ketaatan mendatangkan berkat bagi kita, tapi ketidaktaatan akan mendatangkan kerugian besar bagi diri kita sendiri.

Berseru-seru tanpa mau taat takkan menggerakkan tangan Tuhan bertindak!

Sunday, July 7, 2019

FONDASI MENENTUKAN KEBERHASILAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 7 Juli 2019

Baca:  1 Petrus 1:13-25

"Sebab: 'Semua yang hidup adalah seperti rumput dan segala kemuliaannya seperti bunga rumput, rumput menjadi kering, dan bunga gugur, tetapi firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya.' Inilah firman yang disampaikan Injil kepada kamu."  1 Petrus 1:24-25

Tak seorang pun manusia di dunia ini ingin gagal dalam hidupnya.  Semua orang pasti ingin meraih kesuksesan atau keberhasilan hidup, itulah sebabnya berbagai cara mereka tempuh untuk mewujudkan keinginannya tersebut.  Ada yang menempuhnya dengan cara yang benar, tapi tidak sedikit orang yang menempuhnya dengan cara yang sangat kotor.

     Perhatikan!  Kesuksesan atau kegagalan hidup seseorang sangat tergantung pada fondasi hidupnya.  Apa yang menjadi fondasi hidup Saudara?  Kehidupan yang akan memperoleh kemuliaan Tuhan bukanlah kehidupan yang berfondasikan kekuatan, kegagahan, kemashyuran, kekayaan, atau kemegahan dunia.  Mengapa?  Karena semua yang berasal dari dunia ini adalah semu, kosong, dangkal, segera berlalu atau gugur.  Karena itu hidup orang percaya seharusnya mempunyai fondasi yang kokoh dan teguh, yaitu fondasi yang didirikan di atas  'Batu Karang'  yaitu Kristus dan firman-Nya.  Apabila kita membiarkan cahaya firman Tuhan menyinari hidup kita, langkah kaki kita akan semakin terarah, kita akan kuat dan tak mudah tergoncangkan.  "Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita."  (Ibrani 4:12).

     Jika kita menjadikan firman Tuhan sebagai fondasi hidup, firman Tuhan yang dahsyat itu akan mengerjakan perkara-perkara yang mustahil bagi manusia.  "Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat."  (Ibrani 11:3).  Sebaliknya, bila kita menjadikan segala hal yang ada di dunia sebagai fondasi hidup, semuanya takkan bertahan lama, mudah sekali lenyap, sebab  "...sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu."  (1 Korintus 3:13).

Kesuksesan dan kebahagiaan sejati akan kita alami bila Kristus dan firman-Nya sebagai fondasi hidup kita!

Saturday, July 6, 2019

ASAL PUNYA TUHAN, ITU LEBIH DARI CUKUP

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 6 Juli 2019

Baca:  Habakuk 3:1-19

"Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku."  Habakuk 3:17-18

Nama  'Habakuk'  berasal dari kata Ibrani yang memiliki arti memeluk.  Jadi, nabi ini disebut Pemeluk, entah disebabkan karena kasihnya yang teramat mendalam kepada Tuhan, ataukah karena ia sedang bergumul hebat dengan Tuhan.

     Terdapat keunikan dalam kitab Habakuk ini:  di dalam dua pasal pertama terdapat dialog antara Habakuk dengan Tuhan.  Habakuk tidak hanya protes mengenai kejahatan dan ketidakadilan yang terjadi, tapi dia juga sampai menantang Tuhan, bagaimana Ia yang Mahakudus dapat bertoleransi mengenai kejahatan itu.  Tapi dalam pasal 3 Habakuk mulai berdoa agar Tuhan menggenapi rencana-Nya di tengah-tengah bangsa yang tertindas.  Kemudian Tuhan memberinya suatu penglihatan:  "Allah datang dari negeri Teman dan Yang Mahakudus dari pegunungan Paran. Sela. Keagungan-Nya menutupi segenap langit, dan bumipun penuh dengan pujian kepada-Nya. Ada kilauan seperti cahaya, sinar cahaya dari sisi-Nya dan di situlah terselubung kekuatan-Nya."  (Habakuk 3:3-4).  Penglihatan-penglihatan yang dilihatnya ini menimbulkan perasaan gentar yang luar biasa dan bercampur keyakinan dalam hatinya.  "Ketika aku mendengarnya, gemetarlah hatiku, mendengar bunyinya, menggigillah bibirku; tulang-tulangku seakan-akan kemasukan sengal, dan aku gemetar di tempat aku berdiri; namun dengan tenang akan kunantikan hari kesusahan, yang akan mendatangi bangsa yang bergerombolan menyerang kami."  (Habakuk 3:16).

     Akhirnya timbullah iman di dalam diri Habakuk.  Iman yang bukan sekedar percaya, tapi merupakan suatu kesetiaan dan ketaatan teguh sekalipun berada di situasi yang sepertinya tidak ada harapan, sebab iman itu butuh bukti atau tindakan nyata.  Iman adalah wujud ketergantungan penuh kepada Tuhan .  Karena itu sekalipun segala sesuatu tampak buruk.  Habakuk tetap mampu bersukacita di dalam Tuhan yang menyelamatkan.

Iman memampukan Habakuk untuk tetap kuat di tengah situasi buruk sekali pun!