Tuesday, January 22, 2019

RASA AMAN DAN TENTERAM YANG SEMU

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 22 Januari 2019

Baca:  Amos 6:1-14

"Celaka atas orang-orang yang merasa aman di Sion, atas orang-orang yang merasa tenteram di gunung Samaria, atas orang-orang terkemuka dari bangsa yang utama, orang-orang yang kepada mereka kaum Israel biasa datang!"  Amos 6:1

Melalui nabi Amos Tuhan memberikan peringatan keras kepada bangsa Israel  (Samaria dan Yehuda)  yang saat itu sedang terlena dengan zona nyaman.  Mereka sudah berpuas diri dengan keberadaan mereka saat itu.  Mereka berpikir bahwa keberhasilan secara materi adalah bukti bahwa mereka hidup di bawah berkat Tuhan.  Itulah sebabnya mereka merasa aman di Sion dan merasa tenteram di gunung Samaria.

     Sion adalah kota yang menjadi pusat peribadatan bagi bangsa Yehuda, tempat di mana mereka biasa melakukan ritual keagamaan dan mempersembahkan korban kepada Tuhan.  Mereka berpikir semua yang diperbuatnya itu berkenan di hati Tuhan.  Sayang sekali Tuhan sama sekali tidak tertarik dengan ibadah dan persembahan mereka, sebab ibadah mereka tidak lebih dari sekedar ritual agama atau kebiasaan saja, sedangkan hati mereka jauh dari Tuhan.  Ibadah dan persembahan tanpa disertai pertobatan hidup tidak ada gunanya, apalagi mereka masih suka menyembah kepada berhala.  Jangan pernah mengira bahwa dengan rajin ke gereja, terlibat pelayanan dan memberi persembahan dalam jumlah besar untuk gereja, hati Tuhan langsung disenangkan.  Ibadah yang sesungguhnya adalah berkenaan dengan ketaatan kita melakukan kehendak Tuhan:  "Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran."  (1 Yohanes 2:4).

     Samaria adalah pusat kekayaan dan kuasa.  Bangsa Israel merasa tenteram karena memiliki kekayaan materi yang melimpah.  Firman Tuhan memperingatkan agar kita tidak menyandarkan hidup kita kepada kekayaan, sebab kekayaan adalah sesuatu yang tidak pasti dan mudah lenyap seketika.  "Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?"  (Matius 16:26).  Nabi Amos mengingatkan, daripada hidup berbahagia dengan segala kemewahan materi, adalah lebih baik bangsa Israel meratapi dosa-dosanya dan segera bertobat sebelum malapetaka datang menimpa mereka.

Hidup benar di hadapan Tuhan itulah yang memberikan rasa aman dan tenteram!

Monday, January 21, 2019

KASIH SEBAGAI DASAR KETAATAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 21 Januari 2019

Baca:  Ulangan 11:1-7

"Haruslah engkau mengasihi TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia kewajibanmu terhadap Dia dengan senantiasa berpegang pada segala ketetapan-Nya, peraturan-Nya dan perintah-Nya."  Ulangan 11:1

Ketaatan berbicara tentang harga yang harus dibayar, sesuatu yang harus dikorbankan, penyangkalan diri.  Inilah yang berusaha dihindari orang, karena kebanyakan orang maunya hidup sesuka hati, tidak mau diatur, dan hidup menuruti segala keinginan daging.  Kalaupun orang mau taat, dilakukan dengan keterpaksaan, takut terkena sanksi.

     Dari pembacaan firman Tuhan di atas ada dua kata yang menjadi dasar dari ketaatan yaitu mengasihi dan melakukan.  Ketaatan yang sejati haruslah berdasarkan kasih.  Karena itulah Kristus berkata,  "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku."  (Yohanes 14:15).  Jika seseorang benar-benar mengasihi Tuhan, ia akan melakukan perintah Tuhan tersebut dan terasa ringan atau tidak berat.  "Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat,"  (1 Yohanes 5:3).  Ketaatan juga berkaitan erat dengan penundukan diri, yaitu tindakan sukarela dari seseorang untuk menempatkan dirinya di bawah kuasa orang lain.  Ketaatan adalah hal yang mutlak!  Karena itulah umat Israel diperintahkan Tuhan untuk menulis perintah-perintah tersebut di ambang pintu rumah mereka, sehingga mereka bisa melihatnya ketika mereka ke luar dan masuk rumah.

     Sekarang keputusan dan pilihan ada di tangan kita masing-masing!  Kalau kita mau taat, janji Tuhan pasti akan tergenapi dalam hidup kita.  Dengan kata lain ketaatan mendatangkan berkat!  Sebaliknya, ketidaktaatan akan mendatangkan kutuk bagi kita.  "Lihatlah, aku memperhadapkan kepadamu pada hari ini berkat dan kutuk: berkat, apabila kamu mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini; dan kutuk, jika kamu tidak mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, dan menyimpang dari jalan yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain yang tidak kamu kenal."  (Ulangan 11:26-28).

Seorang yang mengasihi Tuhan pasti akan taat melakukan kehendak Tuhan di segala situasi!

Sunday, January 20, 2019

PELAYANAN YANG TUHAN PERHITUNGKAN (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 20 Januari 2019

Baca:  1 Korintus 1:18-31

"dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti,"  1 Korintus 1:28

Pelayanan kita akan dikenan Tuhan dan mendatangkan penghargaan dari-Nya apabila kita melayani Dia dengan penuh kerendahan hati.  Ada banyak orang Kristen menjadi sombong ketika sudah terlibat dalam pelayanan.  Tidak sedikit dari mereka yang mau melayani pekerjaan Tuhan asalkan pelayanan tersebut terlihat oleh banyak orang.  Secara kasat mata mereka tampak melayani Tuhan, tapi sesungguhnya motif pelayanan mereka adalah untuk kepentingan diri sendiri, mencari pujian dan pengakuan dari manusia.  Pelayanan yang berkenan adalah:  "Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil."  (Yohanes 3:30).  Jadi pelayanan yang benar haruslah berorientasi dan berpusat hanya kepada Tuhan Sang empunya ladang pelayanan.

     Dalam melayani Tuhan kita tidak bisa mengandalkan akal atau kekuatan sendiri, kita harus senantiasa mengandalkan Roh Kudus, sebab melayani Tuhan itu tidak berbicara tentang kemampuan atau kehebatan seseorang.  "Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah; jika ada orang yang melayani, baiklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus. Ialah yang empunya kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya! Amin."  (1 Petrus 4:11).  Kesediaan kita untuk melayani itu jauh lebih penting daripada kemampuan kita.  Tuhan memanggil dan memilih seseorang untuk melayani pekerjaan-Nya bukan berdasarkan kualifikasi manusiawi atau menurut ukuran dunia;  sekalipun kita adalah orang-orang yang sederhana, tidak terpandang, atau bahkan dianggap bodoh oleh dunia, Tuhan tetap mau memakai kita.

     Pelayanan yang beroleh penghargaan dari Tuhan adalah pelayanan yang disertai dengan pertobatan.  Apalah artinya sibuk melayani jika kita sendiri tidak taat melakukan kehendak Tuhan.  "Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya."  (Yohanes 14:21).

Upah besar Tuhan sediakan bagi setiap orang yang melayani Dia dengan penuh integritas!

Saturday, January 19, 2019

PELAYANAN YANG TUHAN PERHITUNGKAN (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 19 Januari 2019

Baca:  Yohanes 12:20-36

"Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa."  Yohanes 12:26

Alkitab menyatakan bahwa Tuhan menyediakan upah-Nya bagi setiap orang yang sungguh-sungguh melayani Dia.  Jerih lelah dan sekecil apa pun pengorbanan kita untuk melayani pekerjaan Tuhan tidak ada pernah sia-sia, sebab semua Tuhan perhitungkan.  Rasul Paulus menasihati,  "...saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia."  (1 Korintus 15:58).  Bahkan ayat nas menyatakan:  "Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa."  Dari ayat ini banyak orang Kristen berpikir bahwa semua pelayanan yang kita lakukan pasti akan mendapatkan upah atau penghormatan dari Tuhan.  Jawabnya adalah tidak semua pelayanan yang kita lakukan mendapatkan upah atau penghargaan dari Tuhan.

     Upah penghargaan itu hanya sebagai akibat dari yang kita lakukan.  Untuk mendapatkan upah dan penghargaan dari Tuhan kita harus melayani Dia dengan sungguh-sungguh dan disertai motivasi yang benar.  Banyak orang tampak sibuk melayani pekerjaan Tuhan tapi bukan melayani sesuai kehendak dan kemauan Tuhan, melainkan menurut kemauan dan kehendaknya sendiri.  Berhati-hatilah!  Tuhan yang kita layani adalah Tuhan yang tidak bisa ditipu dengan penampilan secara lahiriah, sebab Ia melihat hati.  "Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab."  (Ibrani 4:13).

     Bahkan, Tuhan mengetahui segala isi hati, niat dan cita-cita  (1 Tawarikh 28:9).  Tuhan berfirman,  "Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya."  (Yeremia 17:10).  Kita bisa saja menutupi banyak hal atau mengelabui manusia dengan tutur kata yang santun atau sikap yang manis dalam pelayanan, tapi  di hadapan Tuhan... tidak!  Di hadapan manusia kita bisa menggunakan  'topeng-topeng'  tapi Tuhan sama sekali tidak bisa dikelabui!

Friday, January 18, 2019

MERAGUKAN KRISTUS SEBAGAI TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 18 Januari 2019

Baca:  Yohanes 14:1-14

"Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku."  Yohanes 14:6

Hingga detik ini banyak orang masih meragukan tentang keilahian Kristus.  Mereka menganggap bahwa Kristus adalah manusia biasa.  Tetapi, sebagai pengikut Kristus, kita sangat percaya bahwa Kristus adalah Tuhan yang hidup dan berkuasa, Dia Tuhan yang menjelma menjadi manusia demi satu misi mulia, yaitu menyelamatkan manusia.

     Bukti bahwa Kristus adalah Tuhan adalah adanya jaminan bahwa Ia menyediakan tempat bagi kita di sorga:  "Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada."  (Yohanes 14:2-3).  Kristus berjanji bahwa Ia akan datang kembali ke dunia ini untuk menjemput umat-Nya dan memberikan sorga sebagai tempat tinggal yang pasti bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya.

     Ada pepatah yang mengatakan banyak jalan menuju Roma!  Ini tidak berlaku untuk kehidupan kekal  (sorga), sebab tidak ada jalan lain menuju kepada kehidupan kekal  (sorga)  selain melalui Kristus.  "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku."  (ayat nas).  Jelas dinyatakan bahwa Kristus bukanlah penunjuk jalan menuju kepada Bapa, tapi Dia adalah Jalan itu sendiri.  Dan sebagai Jalan, Kristus tidak hanya sekedar memberi nasihat dan arahan, tapi Ia sendiri akan menuntun dan memimpin umat-Nya secara pribadi hari lepas hari melalui Roh Kudus.  Kristus juga adalah kebenaran!  Banyak orang, bahkan para nabi, mungkin bisa mengajar tentang kebenaran sekalipun mereka belum tentu hidup dalam kebenaran sepenuhnya, seperti yang dilakukan oleh ahli Taurat dan orang-orang Farisi.  Hanya Kristus yang berni berkata:  "Akulah kebenaran.", sebab  "Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya."  (1 Petrus 2:22).  Selain itu Kristus adalah hidup, karena itu setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak akan binasa, melainkan akan beroleh kehidupan yang kekal  (Yohanes 3:16).

Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat manusia.  Tak perlu diragukan lagi!

Thursday, January 17, 2019

PENDERITAAN: Momok Orang Percaya

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 Januari 2019

Baca:  1 Petrus 4:12-19

"Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya."  1 Petrus 4:13

Tak satu pun manusia di dunia ini yang mau hidup menderita tak terkecuali orang percaya.  Itulah sebabnya kebanyakan orang Kristen merasa  'alergi'  dan kurang senang jika mendengar khotbah hamba Tuhan yang bertemakan penderitaan.  Ayat-ayat di Alkitab yang berbicara tentang penderitaan seringkali dilewati dan tak dibacanya, padahal firman Tuhan jelas menyatakan:  "Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia,"  (Filipi 1:29).  Jadi setiap orang percaya dipanggil untuk menderita bagi Kristus.

     Panggilan untuk menderita bagi Kristus inilah yang menjadi momok bagi orang percaya!  Tentunya tidak mudah mencari orang yang bersedia menjawab panggilan ini, terlebih hidup di zaman yang semakin menuntut orang untuk menjadi berhasil dan sukses.  Seringkali keberhasilan dan kesuksesan dijadikan ukuran atau tanda bagi seseorang apakah ia diberkati Tuhan.  Akhirnya fokus kita hanya pada berkat, kenyamanan, fasilitas dan sebagainya.  Perhatikan apa yang rasul Petrus tulis:  "...karena Kristus telah menderita penderitaan badani, kamupun harus juga mempersenjatai dirimu dengan pikiran yang demikian, --karena barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa--, supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah."  (1 Petrus 4:1-2).

     Banyak orang menjadi sangat terkejut karena setelah percaya kepada Kristus seolah-olah badai hidup tidak pernah reda, padahal mereka berharap perjalanan hidupnya akan menjadi mulus dan berkecukupan secara materi.  Mereka pun menjadi apatis dan tidak lagi bersemangat melayani Tuhan.  Kita mulai membanding-bandingkan dengan kehidupan orang-orang di luar Tuhan, seperti yang diperbuat bangsa Israel ketika dibawa Tuhan ke luar dari Mesir dan harus melewati padang gurun sebelum mencapai Tanah Perjanjian  (Keluaran 14:11-12).  Tak ada kekristenan tanpa salib!

Penderitaan adalah bagian hidup orang percaya, tapi percayalah penderitaan yang kita alami tak sebanding dengan kemuliaan yang Tuhan sediakan!  Roma 8:18

Wednesday, January 16, 2019

TUHAN HADIR DALAM KEMULIAAN-NYA (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 Januari 2019

Baca:  2 Tawarikh 5:2-14

"'Sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.' Pada ketika itu rumah itu, yakni rumah TUHAN, dipenuhi awan,"  2 Tawarikh 5:13b

Pembicaraan tentang Tabut Tuhan tak dapat dipisahkan dari kekudusan hidup.  "Sebab Akulah TUHAN, Allahmu, maka haruslah kamu menguduskan dirimu dan haruslah kamu kudus, sebab Aku ini kudus, dan janganlah kamu menajiskan dirimu dengan setiap binatang yang mengeriap dan merayap di atas bumi. Sebab Akulah TUHAN yang telah menuntun kamu keluar dari tanah Mesir, supaya menjadi Allahmu; jadilah kudus, sebab Aku ini kudus."  (Imamat 11:44-45).  Karena Tuhan adalah kudus maka Ia pun memerintahkan agar umat-Nya hidup dalam kekudusan.  Inilah kunci untuk mengalami lawatan dan kehadiran Tuhan di setiap peribadatan.

     Ada banyak hamba Tuhan dan pelayan Tuhan yang menganggap remeh kekudusan ini sehingga mereka melayani ibadah tanpa memiliki persiapan yang baik, asal-asalan, dan sembarangan.  Melayani di rumah Tuhan itu bukanlah hal kebiasaan, punya talenta, kemampuan, atau mahir tentang pengetahuan Alkitab, namun haruslah ada kekudusan sebagai harga mati!  Jika para pelayan Tuhan tidak hidup dalam kekudusan, bagaimana mungkin mereka bisa membawa jemaat bertemu Tuhan?  Tertulis:  "Lalu para imam keluar dari tempat kudus. Para imam yang ada pada waktu itu semuanya telah menguduskan diri, lepas dari giliran rombongan masing-masing."  (2 Tawarikh 5:11).  Para imam adalah orang-orang yang dipercaya untuk melayani di Bait Tuhan.

     Rasul Paulus pun menasihati,  "...supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati."  (Roma 12:2).  Di dalam kekudusan itulah Tuhan akan menyatakan kemuliaan dan kuasa-Nya.  Tuhan memang Mahahadir  (Omni Present), namun belum tentu semua orang mengalami dan merasakan kehadiran-Nya secara pribadi  (Manifest Present).  Adalah tragis sekali bila kita sudah berjerih lelah melayani Tuhan dan beribadah kepada-Nya tapi tidak mengalami kehadiran Tuhan secara pribadi.  Ibadah yang kita lakukan akhirnya takkan lebih dari sekedar formalitas tanpa kita merasakan jamahan dan hadirat Tuhan.

Ibadah tanpa kekudusan hidup tak menghasilkan kuasa, karena Tuhan tidak hadir!

Tuesday, January 15, 2019

TUHAN HADIR DALAM KEMULIAAN-NYA (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 Januari 2019

Baca:  1 Raja-Raja 8:1-13

"Ketika imam-imam keluar dari tempat kudus, datanglah awan memenuhi rumah TUHAN, sehingga imam-imam tidak tahan berdiri untuk menyelenggarakan kebaktian oleh karena awan itu, sebab kemuliaan TUHAN memenuhi rumah TUHAN."  1 Raja-Raja 8:10-11

Ada hal yang sangat tragis bila dalam sebuah ibadah atau pelayanan rohani Tuhan tidak hadir di tengah-tengah umat-Nya dan tidak menyatakan kemuliaan-Nya.  Ketidakhadiran Tuhan ini dalam istilah bahasa Ibrani disebut ichabod, yang berarti:  kemuliaan Tuhan diambil atau dirampas dari umat Tuhan.

     Jika kita perhatikan, sekarang ini banyak sekali gedung gereja dibangun dengan megahnya di kota-kota besar, bahkan gedung tersebut dapat menampung jemaat yang bukan hanya ratusan, tapi ribuan.  Ini berita baik!  Namun jangan sampai kita hanya fokus pada kemegahan gedung gereja secara fisik semata, karena hal terpenting dan terutama adalah apakah Tuhan hadir melawat umat-Nya saat ibadah berlangsung.  Apalah artinya gedung megah dengan jemaat yang jumlahnya ribuan tanpa kehadiran Tuhan di tengah-tengah jemaat?  Pastilah ibadah akan terasa hambar dan tak lebih dari sekedar seremonial agamawi.  Dalam perjalanan bangsa Israel, keberadaan Tabut Tuhan adalah hal terpenting.  Tabut adalah kotak kayu, di dalamnya ditaruh loh-loh batu yang bertuliskan sepuluh perintah Tuhan.  "Pada waktu itu berfirmanlah TUHAN kepadaku: Pahatlah dua loh batu yang serupa dengan yang mula-mula, naiklah kepada-Ku ke atas gunung, dan buatlah sebuah tabut dari kayu; maka Aku akan menuliskan pada loh itu firman-firman yang ada pada loh yang mula-mula yang telah kaupecahkan itu, kemudian letakkanlah kedua loh ke dalam tabut itu."  (Ulangan 10:1-2).

     Tabut Tuhan menjadi barang sakral yang kerap dibawa ke mana-mana oleh bangsa Israel ketika mereka menempuh perjalanan di padang gurun.  Mengapa umat Israel selalu membawa Tabut Tuhan?  Karena Tabut Tuhan adalah tipologi dari kehadiran dan penyertaan Tuhan.  Dimana Tuhan hadir, perkara dahsyat pasti terjadi:  kemenangan, pemulihan, kesembuhan dan sukacita.  Ketika Tabut Tuhan ada di tengah-tengah umat Israel, bisa dipastikan kemenangan menjadi milik mereka karena Tuhan turut bekerja.  Sebaliknya ketika Tabut Tuhan tidak ada di tengah-tengah umat Israel, mereka harus terseok-seok menghadapi musuh dan berujung pada kekalahan.

Monday, January 14, 2019

MENGALAMI SORGA: Jadi Seperti Anak Kecil (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 Januari 2019

Baca:  Lukas 18:15-17

"Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya."  Lukas 18:17

Pelajaran berharga lain yang dapat kita teladani dari anak kecil adalah:  2.  Mudah diajar.  Anak kecil mudah sekali diajar.  Apa pun yang diajarkan akan mudah sekali terserap dan tersimpan di dalam memori otaknya.  Milikilah hati yang mau diajar!  Ada banyak orang Kristen tak mengalami pertumbuhan rohani karena mereka sulit sekali diajar, apalagi ditegur atau dinasihati, mudah sekali marah dan tersinggung.  "berilah orang bijak nasihat, maka ia akan menjadi lebih bijak, ajarilah orang benar, maka pengetahuannya akan bertambah."  (Amsal 9:9).  Kita harus mempertajam pendengaran kita terhadap ajaran firman Tuhan dan memiliki roh yang mudah diajar agar kita bisa menikmati Kerajaan Sorga di bumi ini.

     3.  Percaya penuh kepada orangtua.  Seorang anak kecil sangat bergantung penuh kepada orangtuanya.  Ia tidak pernah merasa takut dan kuatir tentang apa pun karena ia sangat percaya bahwa bapanya pasti melindungi dan menyediakan apa yang ia perlukan.  Karena itu  "Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan;"  (Amsal 3:5-7).  Seorang yang memiliki kepercayaan penuh kepada Tuhan pasti akan mengalami Kerajaan Sorga di bumi, karena ia tahu bahwa ia punya Bapa yang baik, yang adalah Sang empunya segala-galanya.

     4.  Mudah memaafkan.  Tak mudah orang dewasa memaafkan kesalahan orang lain, biasanya kita cenderung mendendam, sakit hati dan sulit mengampuni.  Berbeda dengan seorang anak kecil!  Meskipun baru bertengkar dengan teman, secepat itu pula mereka akur kembali dan saling memaafkan.  Alkitab menyatakan bahwa orang yang tidak memiliki kasih adalah orang yang belum pindah dari maut:  "Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut."  (1 Yohanes 3:14).

Punya kerendahan hati, mau diajar, percaya penuh kepada Tuhan dan punya kasih adalah kunci untuk mengalami Kerajaan Sorga di bumi!

Sunday, January 13, 2019

MENGALAMI SORGA: Jadi Seperti Anak Kecil (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 Januari 2019

Baca:  Markus 10:13-16

"Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah."  Markus 10:14

Salah satu kalimat dalam Doa Bapa kami yang Kristus ajarkan adalah:  "datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga."  (Matius 6:10).  Apa maksudnya?  Kristus menghendaki agar setiap orang percaya mengalami Kerajaan Sorga bukan hanya pada saat bertemu Kristus di sorga kelak, tetapi kita juga dapat mengalami Kerajaan Sorga saat kita masih hidup di bumi ini.  Ada pun yang menjadi ukuran seseorang dapat dikatakan mengalami Kerajaan Sorga di bumi ini tidak dilihat dari apa yang kasat mata, seperti berlimpahnya materi/kekayaan, rumahnya yang tampak megah, mobilnya yang lebih dari satu, berpangkat atau tingginya status sosial di masyarakat, tetapi kehidupan yang penuh sukacita dan damai sejahtera di segala keadaan, sebab ada tertulis:  "...Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus."  (Roma 14:17).

     Bagaimana caranya agar kita bisa mengalami Kerajaan Sorga di bumi?  Tuhan mengajarkan kita untuk menjadi seperti seorang anak kecil.  Apa maksudnya?  Apakah kita harus berperilaku seperti anak kecil?  Bukan itu maksudnya.  Menjadi seperti anak kecil bukan berarti menjadi kekanak-kanakan:  "Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak."  (1 Korintus 13:11a), tetapi kita belajar akan sikap positif yang mereka miliki.

     Ada banyak hal yang dapat kita pelajari dari kehidupan seorang anak kecil, di antaranya adalah:  1.  Kesederhanaan.  Anak kecil itu sederhana, polos, belum tercemar oleh pikiran-pikiran negatif, apa adanya, tidak ada yang dibuat-buat alias tidak munafik.  Lawan dari kesederhanaan adalah banyak akal, atau berlaku licik.  Tuhan menginginkan kepolosan kita, tidak ada hal yang perlu ditutup-tutupi.  Karena itu rasul Paulus menasihati:  "Saudara-saudara, janganlah sama seperti anak-anak dalam pemikiranmu. Jadilah anak-anak dalam kejahatan, tetapi orang dewasa dalam pemikiranmu!"  (1 Korintus 14:20).  Menjadi anak-anak dalam kejahatan berarti tidak turut ambil bagian, mampu menjaga diri atau menjauhkan diri dari segala bentuk kejahatan.

Saturday, January 12, 2019

TANPA PERTOBATAN TAK BERJUMPA TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 Januari 2019

Baca:  Matius 3:7-12

"Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan."  Matius 3:8

Pertobatan adalah bagian terpenting dalam kehidupan kekristenan.  Kekristenan tanpa disertai dengan pertobatan hidup adalah sia-sia, tak ada arti apa-apa di pemandangan mata Tuhan.  Karena itu Yohanes Pembaptis menegur keras orang-orang Farisi dan Saduki yang datang kepadanya untuk dibaptis.  Mengapa?  Karena ibadah dan pelayanan yang mereka jalankan itu tak lebih dari sekedar kegiatan agamawi semata.  Sekalipun mereka tampak mahir dan fasih tentang Hukum Taurat, tapi mereka sendiri tidak melakukan Taurat tersebut;  dan kalau pun mereka tampak giat beribadah dan melayani, itu dilakukan dengan suatu tendensi atau motivasi yang terselubung, yaitu supaya dilihat orang dan beroleh pujian dan penghormatan dari manusia  (Matius 23:5-7).

     Tuhan menyebut orang-orang seperti itu sebagai orang-orang yang munafik.  Menurut kamus bahasa Indonesia kata munafik memiliki makna:  bermuka dua;  perkataan berbeda dengan isi hati;  berpura-pura percaya atau setia kepada agama, tetapi sebenarnya di hatinya tidak;  suka  (selalu)  mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan perbuatannya.  Tuhan pun mengibaratkan keberadaan mereka  "...seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran."  (Matius 23:27).  Ini menjadi peringatan keras bagi semua orang percaya!  Apakah selama ini ibadah dan pelayanan yang kita lakukan tak lebih dari sekedar rutinitas mingguan saja?  Jika ibadah dan pelayanan kita seperti itu, mustahil kita mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan.

     Tanda bahwa seseorang mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan adalah perubahan hidup  (pertobatan)  yaitu dihasilkannya buah Roh:  "...kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu."  (Galatia 5:22-23), sebab dari buahnya saja setiap kita dapat dikenali  (Matius 12:33).  Sehebat apa pun pelayanan seseorang di atas mimbar, atau serajin apa pun ia beribadah di gereja, jika tidak ada buah pertobatan dalam kehidupan sehari-hari, semua akan terlihat palsu di hadapan Tuhan.

Yang Tuhan kehendaki adalah kita menjadi pelaku firman!  Jika tidak, pada saatnya nanti Tuhan akan menolak kita:  "Aku tidak pernah mengenal kamu!"  Matius 7:23

Friday, January 11, 2019

JANGAN LAGI SUAM-SUAM KUKU

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 Januari 2019

Baca:  Ibrani 12:1-17

"Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan."  Ibrani 12:16

Zaman di mana kita hidup sekarang ini adalah zaman yang sedang mengalami percepatan dari Tuhan, di mana Tuhan menyatakan kehendak dan rencana-Nya semakin nyata dari hari ke sehari.  Langkah kaki kita sedang mendekati garis akhir, karena itu kita harus semakin memacu diri dan berlari sedemikian rupa.  Kita tak dapat menjadi orang Kristen yang mempunyai sifat seperti Esau, yang demi memuaskan kedagingannya, rela menjual hak kesulungannya.  Jangan sampai kita mengalami nasib seperti Esau, di mana penyesalan menjadi tiada guna,  "Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata."  (Ibrani 12:17).

     Rasul Paulus memperingatkan dengan keras:  "Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya."  (Galatia 6:7).  Tuhan tak akan berpura-pura tak melihat perbuatan dosa-dosa kecil kita.  Api Tuhan akan membakar kita jika kita tetap bermain-main dengan dosa, sebab kita hidup di zaman akhir, di mana Roh Kudus akan semakin menyempurnakan hidup kita demi menyongsong kedatangan Kristus.  Inilah saat-saat yang terbaik bagi kita untuk hidup taat kepada Tuhan selagi kita masih diberi kesempatan, selagi pintu kemurahan Tuhan masih terbuka bagi siapa yang mau datang kepada-Nya.

     Suatu ketika nabi Elia menantang umat Israel yang terpengaruh oleh nabi-nabi Baal.  "'Berapa lama lagi kamu berlaku timpang dan bercabang hati? Kalau TUHAN itu Allah, ikutilah Dia, dan kalau Baal, ikutilah dia.'" Tetapi rakyat itu tidak menjawabnya sepatah katapun."  (1 Raja-Raja 18:21).  Artinya jika rakyat percaya kepada Tuhan yang hidup, biarlah mereka mengikut Tuhan dengan sungguh-sungguh, tapi jika mereka menganggap bahwa Baal itu tuhan, biarlah mereka mengikuti Baal.  Sampai saat ini masih banyak orang Kristen yang kehidupan rohaninya suam-suam kuku, tidak panas atau tidak dingin, beribadah kepada Tuhan, tapi juga masih berkompromi dengan dunia.  

Firman Tuhan berkata,  "...karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku."  Wahyu 3:16