Monday, February 19, 2018

SUKACITA TERBESAR: Menderita bagi Kristus (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 19 Februari 2018

Baca:  Kolose 1:24-29

"Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat."  Kolose 1:24

Maukah Saudara menderita?  Maukah Saudara mengalami banyak aniaya?  Semua orang pasti akan menjawab:  tidak mau.  Tetapi mengapa rasul Paulus bisa berkata,  "...aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu,..."  (ayat nas).  Kedengerannya ini sangat aneh, bukan?  Rasul Paulus berkata demikian pasti ada sebabnya.

     Ada beberapa alasan mengapa rasul Paulus dapat bersukacita meski harus menderita.  Kita tahu bahwa rasul Paulus adalah hamba atau pelayan Kristus yang membaktikan seluruh hidupnya bagi Injil.  Karena kasihnya kepada Kristus ia rela memberikan segala sesuatu yang ada padanya yaitu seluruh seluruh hidupnya.  "namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku."  (Galatia 2:20), karena itu  "...Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan."  (Filipi 1:21).  Penderitaan yang ditanggung oleh Paulus bukanlah akibat dari kesalahannya, tetapi datang dari orang-orang yang menentang dia, yang tidak percaya kepada Injil dan yang menolak Kristus.  Namun meski harus mengalami penderitaan yang berat rasul Paulus tak pernah menyerah, apalagi berputus asa dalam melayani Tuhan.

     Semangatnya untuk memberitakan Injil terus berkobar.  "Apakah mereka pelayan Kristus? --aku berkata seperti orang gila--aku lebih lagi! Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut. Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut."  (2 Korintus 11:23-25).  Tidak sia-sia rasul Paulus berjerih lelah melayani, karena melalui pelayanannya ini buah-buah jiwa telah dihasilkan:  banyak orang bertobat, percaya kepada Kristus dan diselamatkan!

"...jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu."  Filipi 1:22

Sunday, February 18, 2018

KERINDUAN PAULUS: Mengerti Kehendak Tuhan

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 18 Februari 2018

Baca:  Kolose 1:3-14

"Kami meminta, supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna,"  Kolose 1:9b

Kolose adalah kota di masa lalu yang terletak di daerah Frigia, Asia Kecil  (Kisah 18:23).  Istilah Asia Kecil yang disebutkan dalam Alkitab mengacu kepada wilayah yang kini berada di wilayah bagian barat dan tengah dari negara Turki.

     Rasul Paulus, ketika sedang mendekam di penjara, menulis surat kepada jemaat di Kolose yang sebagian besar terdiri atas orang-orang non-Yahudi, setelah mendengar kabar dari Epafras  (yang ketika itu sedang mengunjunginya)  bahwa ada ajaran-ajaran sesat yang sedang mengacaukan jemaat di Kolose.  Hati Paulus pun terbeban untuk mendoakan mereka dan terdorong untuk menulis surat kepada mereka.  Alkitab menyatakan bahwa rasul Paulus dan rekan-rekan sepelayanannya bukan hanya sekali atau dua kali berdoa bagi mereka, tetapi tiada berhenti-henti berdoa untuk mereka.  (Kolose 1:9a).  Ini menunjukkan bahwa jemaat di Kolose mempunyai tempat yang istimewa di hati Paulus.

     Apa inti doa rasul Paulus bagi jemaat di Kolose?  Yaitu supaya mereka  "...menerima segala hikmat dan pengertian yang benar,"  (ayat nas).  Hikmat yang dimaksudkan adalah hikmat Tuhan, bukan hikmat manusia.  Hikmat Tuhan itu melampaui kemampuan akal manusia, sedangkan hikmat manusia itu terbatas pada kemampuan akal.  Tujuannya agar mereka  "...mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna,"  (ayat nas).  Kehendak Tuhan yang dimaksudkan adalah:  1.  Mengerti rahasia Injil, yaitu Bapa menyediakan jalan keselamatan bagi manusia di dalam Pribadi Kristus  (Kisah 4:12).  "Di dalam Dia kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepada-Nya."  (Efesus 3:12).  2.  Bagaimana orang percaya harus hidup.  "...jadilah penurut-penurut Allah...dan...hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran,"  (Efesus 5:1, 8, 9).  3.  Merespons panggilan Tuhan untuk melayani Dia.  Rasul Paulus berkomitmen:  "Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah."  (Filipi 1:21-22).

Setiap orang percaya sudah seharusnya mengerti apa yang menjadi kehendak Tuhan!

Saturday, February 17, 2018

KRISTUS: Penyembuh Luka Hati (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 Februari 2018

Baca:  Yohanes 4:1-42

"Dan banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepada-Nya karena perkataan perempuan itu, yang bersaksi: "Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat."  Yohanes 4:39

Tuhan Yesus tahu apa yang menjadi pergumulan perempuan Samaria itu:  "Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup."  (Yohanes 4:10).  Tetapi, perempuan itu salah menangkap maksud Tuhan yang sesungguhnya,  "Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air."  (Yohanes 4:15).  Ia mengira bahwa air yang Tuhan tawarkan adalah air yang dapat memenuhi kebutuhan jasmaninya  (terlepas dari haus), sehingga ia tidak perlu lagi bersusah payah untuk mengambil air ke sumur, yang biasa dilakukannya secara sembunyi-sembunyi agar orang lain tidak melihatnya.

     Air hidup yang dimaksud adalah sumber yang memenuhi kebutuhan rohani yang sangat dibutuhkan oleh manusia yaitu hidup yang berkelimpahan, hidup yang kekal.  "...air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal."  (Yohanes 4:14).  Tuhan Yesus menawarkan pemecahan akar masalah yang dihadapi oleh perempuan Samaria ini dengan memberikan hidup yang kekal dan kasih yang tak bersyarat.  Dan Air Hidup ini hanya dapat diperoleh di dalam Pribadi Tuhan Yesus.  "Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup."  (Yohanes 7:38).  Perempuan Samaria berpikir bahwa menyendiri adalah cara terbaik untuk lari dari masalah, yaitu agar terhindar adari ancaman sosial.

     Setelah mendengar perkataan Tuhan, segeralah  "...perempuan itu meninggalkan tempayannya di situ lalu pergi ke kota dan berkata kepada orang-orang yang di situ: 'Mari, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat.'"  (Yohanes 4:29).  Setelah mengalami perjumpaan pribadi dengan Kristus kehidupan perempuan Samaria itu diubahkan dan luka-luka batinnya disembuhkan.

"TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya."  Mazmur 34:19

Friday, February 16, 2018

KRISTUS: Penyembuh Luka Hati (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 Februari 2018

Baca:  Yohanes 4:1-42

"Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya."  Yohanes 4:13-14a

Dikisahkan bahwa ketika melintasi daerah Samaria sampailah Tuhan Yesus di sebuah kota yang bernama Sikhar.  Setelah menempuh perjalanan jauh, letihlah Ia dan kemudian beristirahat sambil duduk di tepi sumur.  Di situ Tuhan bertemu dengan seorang perempuan Samaria yang hendak menimba air.  Orang Samaria merupakan warga campuran yang dibenci dan dianggap rendah oleh orang-orang Yahudi.  Karena itu ketika Tuhan berkata,  "Berilah Aku minum.", perempuan itu pun menjawab,  "Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?"  (Yohanes 4:7, 9);  apalagi perempuan Samaria ini dikenal memiliki latar belakang hidup yang buruk  (pendosa):  pernah hidup dengan banyak lelaki dan kemudian menceraikan mereka semuanya.  Pada zaman itu perempuan tidak bisa menceraikan pria  (suaminya).  Selain itu ia juga sedang tinggal dengan laki-laki yang bukan suaminya.

     Karena sudah dicap buruk, perempuan Samaria ini dipandang rendah, dijauhi dan dikucilkan oleh lingkungan.  Itulah sebabnya ia dengan sengaja mengambil air ke sumur sendirian pada pukul 12 siang hari, untuk menghindarkan diri bertemu dengan orang banyak.  Menurut tradisi di tanah Palestina, umumnya para perempuan pergi keluar untuk mengambil air pada waktu petang hari dan itu pun dilakukan secara berkelompok  (kejadian 24:11).  Bisa dikatakan perempuan Samaria itu sedang mengalami luka-luka batin yang teramat dalam.  Secara batiniah ia mengalami kesepian dan kehausan karena kebutuhan emosional dan kebutuhan sosialnya tidak terpenuhi.  Itulah sebabnya ia terus mencari kepuasan dengan menjalin hubungan dengan banyak laki-laki, tapi ia tetap tidak menemukan solusi untuk masalah yang dialaminya.

     Pada hakikatnya manusia memiliki dua kebutuhan yang sangat mendasar yaitu ingin dikasihi dan dihargai.  Jika salah satu kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, orang akan merasa kesepian.  Kesepian adalah suatu perasaan di mana seseorang merasa sendiri, ditinggalkan, dikucilkan, dikesampingkan, tak dianggap.  Kamus Webster mendefinisikan kesepian sebagai perasaan terpisah dari yang lain, terisolasi, tidak bahagia dalam kesendirian, membutuhkan teman atau kelompok sosial.

Thursday, February 15, 2018

KESATUAN SEBAGAI ANGGOTA TUBUH KRISTUS (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 Februari 2018

Baca:  1 Korintus 12:20-27

"Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya."  1 Korintus 12:27

Banyak jemaat memilih mundur dan meninggalkan gereja karena merasa kurang diterima, kurang dianggap dan tidak dibutuhkan.  Ini tidak seharusnya terjadi.  Alkitab tegas menyatakan bahwa kita  "...bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah,"  (Efesus 2:19).

     Ada sikap lain yang harus dikembangkan untuk menjaga kesatuan jemaat:  2.  Saling menghormati.  Gereja harus belajar menghargai peran seluruh anggota jemaatnya dan tidak boleh membeda-bedakan!  Tidak sedikit pemimpin rohani yang cenderung pilih kasih, lebih menghargai dan menghormati jemaat yang statusnya terhormat, terkenal atau kaya, namun bagaimana terhadap mereka yang berasal dari kalangan biasa dan tak mampu?  "Dan kepada anggota-anggota tubuh yang menurut pemandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus. Dan terhadap anggota-anggota kita yang tidak elok, kita berikan perhatian khusus. Hal itu tidak dibutuhkan oleh anggota-anggota kita yang elok. Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus,"  (1 Korintus 12:23-24).  3.  Saling memperhatikan.  "...supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan. Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita."  (1 Korintus 12:25-26).  Suatu komunitas atau persekutuan tidak akan pernah disukai dan diminati apabila masing-masing anggota acuh tak acuh.  Bila Tuhan saja memberikan perhatian dan penghargaan kepada setiap umat-Nya, maka sangatlah tidak pantas kita bersikap merendahkan dan tidak saling memperhatikan satu sama lain.

     4.  Tepa selira.  Yaitu dapat menjaga perasaan orang lain dan turut merasakan.  "Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita."  (1 Korintus 12:26).  Gambaran tubuh yang dipakai Paulus juga mengindikasikan bahwa di antara anggota tubuh sama-sama saling merasakan.  Satu anggota sakit, anggota lainnya turut merasakan sakitnya.

Di mana ada kesatuan ke sanalah Tuhan akan mencurahkan berkat-Nya  (Mazmur 133).

Wednesday, February 14, 2018

KESATUAN SEBAGAI ANGGOTA TUBUH KRISTUS (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 Februari 2018

Baca:  1 Korintus 12:12-27

"Memang ada banyak anggota, tetapi hanya satu tubuh."  1 Korintus 12:20

Kota Korintus adalah sebuah kota terkenal di Peloponnesus, ibu kota Corinthia.  Sebagai koloni Romawi Korintus sangat kaya karena kemajuan pedagangan, perbankan, pendidikan dan industrinya.  Bisa dikatakan bahwa Korintus adalah kota Metropolitan di masa Perjanjian Baru.  Tidaklah mengherankan jika sebagaian besar anggota jemaat di gereja Korintus adalah orang-orang sukses di dalam karir dan berekonomi sangat mapan.

     Karena merasa diri  'lebih'  dari yang lain mereka pun menjadi sangat individualistis, mengeksklusifkan diri, dan menganggap remeh yang lain.  Terjadilah perpecahan dan perselisihan di antara jemaat di Korintus seperti yang disampaikan rasul Paulus:  "...kamu masing-masing berkata: Aku dari golongan Paulus. Atau aku dari golongan Apolos. Atau aku dari golongan Kefas. Atau aku dari golongan Kristus."  (1 Korintus 1:12).  Hal itu menunjukkan bahwa mereka belum memahami sepenuhnya bahwa keberadaan orang percaya adalah satu kesatuan di dalam tubuh Kristus, di mana walaupun tubuh terdiri dari banyak anggota tetapi merupakan satu tubuh.

     Agar terhindar dari perpecahan dan tercipta sebuah kesatuan di antara jemaat Tuhan ada beberapa sikap yang harus dikembangkan dalam diri orang percaya:  1.  Saling membutuhkan.  Pada umumnya semua orang akan merasa betah dan nyaman berada di dalam sebuah komunitas, perkumpulan atau lingkungan bila ia mendapatkan dua hal, yaitu diterima dan dibutuhkan.  Begitu pula kesatuan tubuh Kristus akan tercipta apabila masing-masing anggota jemaat dapat menerima keberadaan anggota yang lain dengan baik dan masing-masing orang punya rasa saling membutuhkan.  "Jadi mata tidak dapat berkata kepada tangan: 'Aku tidak membutuhkan engkau.' Dan kepala tidak dapat berkata kepada kaki: 'Aku tidak membutuhkan engkau.' Malahan justru anggota-anggota tubuh yang nampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan."  (1 Korintus 12:21-22).

     Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk sosial, artinya kita tidak bisa hidup sendiri tanpa orang lain.  Dalam hal apa pun kita selalu memerlukan orang lain.  Karena itu kita harus belajar menerima keberadaan orang lain dan dengan jujur mengakui bahwa sehebat apa pun kita, kita tetap membutuhkan orang lain dan bekerja sama dengan orang lain!  Tak selayaknya kita memandang rendah atau meremehkan orang lain.

Tuesday, February 13, 2018

JATUH KARENA TERLALU LENGAH (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 Februari 2018

Baca:  2 Samuel 11:1-27

"Tetapi hal yang telah dilakukan Daud itu adalah jahat di mata TUHAN."  2 Samuel 11:27c

Kalau diperhatikan secara kerohanian, kurang apakah Daud?  Selain sebagai raja besar di Israel, ia juga seorang yang diurapi Tuhan dan juga memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Tuhan sehingga hidupnya dikenan oleh Tuhan.  Tetapi karena kelengahannya Daud pun bisa jatuh ke dalam pencobaan, jatuh dalam dosa perzinahan.  Iblis benar-benar tahu kapan waktu yang tepat untuk melancarkan serangannya.

     Bagaimana hal itu bisa terjadi?  Di setiap pergantian tahun biasanya para pendahulu Daud selalu menetapkan sebagai waktu yang tepat untuk maju berperang, menaklukkan musuh atau setidaknya berjaga-jaga mempertahankan apa yang telah diraih.  Namun hal itu tidak dilakukan oleh Daud, ia justru memilih untuk beristirahat dan bersantai-santai dan malah memerintahkan Yoab maju beserta orang-orangnya dan seluruh orang Israel.  "Sekali peristiwa pada waktu petang, ketika Daud bangun dari tempat pembaringannya, lalu berjalan-jalan di atas sotoh istana, tampak kepadanya dari atas sotoh itu seorang perempuan sedang mandi; perempuan itu sangat elok rupanya."  (2 Samuel 11:2).  Berawal dari melihat inilah Daud jatuh dalam dosa perzinahan.  "Sesudah itu Daud menyuruh orang mengambil dia. Perempuan itu datang kepadanya, lalu Daud tidur dengan dia."  (2 Samuel 11:4a).  Sungguh apa yang ditulis Yakobus bahwa  "...tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut."  (Yakobus 1:14-15).  Akibat perbuatannya ini Daud harus menanggung akibat:  anak yang dilahirkan Betsyeba mati.

     Sadar atau tidak, hidup ini adalah sebuah peperangan, setiap saat kita harus berperang melawan kedagingan kita dan berperang melawan tipu muslihat Iblis.  "karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara."  (Efesus 6:12).  Karena itu jangan pernah berhenti untuk berjuang, sebab lawan kita yaitu Iblis, terus mengincar kelengahan kita.

Berjaga-jagalah senantiasa dalam doa, itu yang membuat kita tetap kuat!

Monday, February 12, 2018

JATUH KARENA TERLALU LENGAH (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 Februari 2018

Baca:  2 Samuel 11:1-27

"Pada pergantian tahun, pada waktu raja-raja biasanya maju berperang, maka Daud menyuruh Yoab maju beserta orang-orangnya dan seluruh orang Israel."  2 Samuel 11:1

Saat berdoa di taman Getsemani Kristus menegur murid-murid-Nya yang ketika itu sedang tertidur:  "Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku? Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah."  (Matius 26:40-41).  Tuhan memperingatkan kita agar senantiasa berjaga-jaga dan berdoa supaya tidak jatuh ke dalam pencobaan.  Mengapa kita harus selalu berjaga-jaga dan berdoa?  Karena  "...Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya."  (1 Petrus 5:8).  Iblis selalu menunggu waktu yang baik  (Lukas 4:13)  untuk menyerang orang percaya, dan waktu yang baik itu adalah ketika kita sedang lengah.

     Pencobaan bisa datang sewaktu-waktu dan tak terduga, sedikit saja lengah kita pasti akan jatuh ke dalamnya.  Karena itu, rasul Paulus memperingatkan dengan tegas:  "Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!"  (1 Korintus 10:12).  Jangan pernah membangga-banggakan diri dengan berkata:  "Aku kan hamba Tuhan atau pelayan Tuhan, tak mungkinlah aku jatuh.  Aku sudah lama melayani Tuhan dan hafal isi Alkitab, mana mungkin bisa jatuh dalam pencobaan."  Berhati-hatilah!  Tak seorang pun di dunia ini yang kebal terhadap pencobaan, justru semakin berada di  'ketinggian'  semakin besar pula angin yang menerpa seseorang.

     Dari pembacaan firman hari ini kita bisa belajar dari kisah pengalaman Daud.  Nama Daud memiliki arti:  dicintai.  Ia adalah anak Isai, bungsu dari delapan bersaudara dan berasal dari suku Yehuda.  Alkitab mencatat bahwa Daud adalah raja yang diurapi Tuhan, yang memerintah selama 40 tahun di Israel.  "...di Hebron ia memerintah tujuh tahun, dan di Yerusalem ia memerintah tiga puluh tiga tahun."  (1 Raja-Raja 2:11).  Selain itu Daud juga dikenal sebagai orang yang sangat karib dengan Tuhan dan memiliki kemampuan dalam hal bermusik, khususnya memainkan alat musik kecapi.  Setiap kali Daud memainkan musik, Roh Tuhan menyertainya.  Karena itu Daud dikenal sebagai pemazmur yang sangat disukai orang-orang Israel  (Mazmur 23:1).  Dan lebih lagi, Daud adalah seorang yang berkenan di hati Tuhan  (1 Samuel 13:14).

Sunday, February 11, 2018

TAKUT AKAN TUHAN PASTI MENUAI BERKAT (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 Februari 2018

Baca:  Mazmur 34:1-23

"Takutlah akan TUHAN, hai orang-orang-Nya yang kudus, sebab tidak berkekurangan orang yang takut akan Dia!"  Mazmur 34:10

Dalam kitab Amsal 1:7 dikatakan bahwa  "Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan."  Itulah sebabnya orang yang takut akan Tuhan pasti akan menjadi orang yang bijaksana, karena ia  "...mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat."  (Ibrani 5:14).  Kata hikmat berasal dari bahasa Yunani sophia yang artinya kemampuan untuk berlaku bijaksana.  Adapun bahasa Ibraninya adalah hokmah yang artinya kemampuan untuk melepaskan diri dari lika-liku kehidupan atau permasalahan hidup.

     Untuk beroleh hikmat dari Tuhan tidak ada jalan lain selain harus memiliki persekutuan yang karib dengan Tuhan, melekat kepada Tuhan.  Adalah sebuah kebodohan dan kerugian besar jika orang memilih untuk tidak takut akan Tuhan dan hidup menjauh dari hadirat-Nya.  Mengapa?  Sebab di dalam takut akan Tuhan, selain beroleh hikmat, kita akan mengalami dampak yang luar biasa yaitu kita akan mengalami ketenteraman.  Seperti tertulis:  "Dalam takut akan TUHAN ada ketenteraman yang besar, bahkan ada perlindungan bagi anak-anak-Nya. Takut akan TUHAN adalah sumber kehidupan sehingga orang terhindar dari jerat maut."  (Amsal 14:26-27).  Inilah janji firman Tuhan bagi orang yang takut akan Dia:  dilindungi dan dijaga Tuhan.

     Sekalipun dunia bergoncang hebat,  "Bangsa-bangsa ribut, kerajaan-kerajaan goncang, Ia memperdengarkan suara-Nya, dan bumipun hancur. TUHAN semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub."  (Mazmur 46:7-8).  Di hari-hari ini banyak orang merasa pesimis menghadapi hari esok karena melihat situasi yang semakin sulit dan tidak menentu.  Tetapi orang yang senantiasa takut akan Tuhan tak perlu merasa takut dan kuatir, karena keberadaan kita tidak ditentukan oleh situasi yang ada, melainkan karena kehadiran Tuhan dalam hidup ini.  Jika Tuhan ada di pihak kita pasti akan ada kekuatan, ketenteraman, perlindungan dan hal-hal yang dahsyat pasti dinyatakan!

"Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut."  Ibrani 12:28

Saturday, February 10, 2018

TAKUT AKAN TUHAN PASTI MENUAI BERKAT (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 Februari 2018

Baca:  Yeremia 5:20-31

"Baiklah kita takut akan TUHAN, Allah kita, yang memberi hujan pada waktunya, hujan pada awal musim maupun hujan pada akhir musim, dan yang menjamin bagi kita minggu-minggu yang tetap untuk panen."  Yeremia 5:24

Takut akan Tuhan adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh setiap orang yang mengaku diri sebagai pengikut Kristus.  Wujud sikap takut akan Tuhan adalah taat melakukan kehendak-Nya, sebagaimana Kristus telah memberikan teladan bagaimana Ia taat melakukan kehendak Bapa, bahkan taat sampai mati di kayu salib.  Karena itu kita wajib mengikuti jejak-Nya yaitu hidup dalam ketaatan.  Kekristenan tanpa memiliki rasa takut akan Tuhan adalah sia-sia!  Hidup takut akan Tuhan adalah hidup yang penuh hormat kepada Tuhan, yang ditandai dengan rasa takut untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan firman Tuhan, sehingga dengan penuh komitmen kita mengasihi Tuhan dan menempatkan Dia sebagai yang terutama dalam hidup ini.

     Secara sepihak kita seringkali menuntut Tuhan untuk memberkati atau menggenapi janji-janji firman-Nya, tetapi kita sendiri tidak mau membayar harga.  Adakalanya Tuhan mengijinkan masalah terjadi dalam hidup kita sebagai bagian dari proses pendewasaan iman, namun tidak sedikit masalah harus kita alami sebagai akibat dari ketidaksungguhan kita dalam mengikut Tuhan atau kita tidak takut akan Tuhan.  Padahal takut akan Tuhan adalah kunci utama untuk kita mengalami berkat-berkat Tuhan.  Tuhan pasti akan mengerjakan bagian-Nya yaitu memberkati kita, asalkan kita juga mengerjakan bagian kita yaitu takut akan Dia.  Pemazmur menulis:  "Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya. Anak cucunya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar akan diberkati. Harta dan kekayaan ada dalam rumahnya, kebajikannya tetap untuk selamanya."  (Mazmur 112:1-3).

     Dikatakan pula bahwa  "Sesungguhnya, mata TUHAN tertuju kepada mereka yang takut akan Dia,"  (Mazmur 33:18)  dan  "Ia melakukan kehendak orang-orang yang takut akan Dia,"  (Mazmur 145:19).  Berkat tidak datang secara otomatis dalam hidup saat kita memutuskan untuk menjadi pengikut Kristus.  Tetapi berkat akan menjadi bagian hidup kita seiring dengan ketaatan kita dalam melakukan firman Tuhan!

Friday, February 9, 2018

MENGUNDURKAN DIRI DAN MENEPI

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 9 Februari 2018

Baca:  Yohanes 6:1-15

"Karena Yesus tahu, bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir pula ke gunung, seorang diri."  Yohanes 6:15

Sebagian besar orang sangat menyukai ketenaran, popularitas, pujian, penghargaan dan penghormatan dari sesamanya.  Saking hausnya akan hal-hal tersebut mereka rela menempuh segala cara demi mewujudkan apa yang diinginkan.  Demi beroleh ketenaran atau popularitas ada yang pergi ke dukun atau paranormal, minta diberi  'susuk'  atau penglaris, ada yang tega menikung atau menghancurkan teman/sahabat sendiri, ada pula yang rela mengorbankan harga dirinya.  Kita tidak menyadari bahwa ketenaran atau popularitas meski sangat menggiurkan namun sekaligus juga dapat menghancurkan.

     Alkitab mencatat betapa populernya Kristus pada masa itu karena Ia melakukan perkara-perkara heran dan ajaib.  Salah satunya seperti yang dikisahkan ini, yaitu hanya dengan lima roti jelai dan dua ikan Ia sanggup memberi makan lima ribu orang laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak, dan bahkan masih tersisa dua belas bakul penuh.  Luar biasa!  Tidaklah mengherankan bila banyak orang berbondong-bondong mengikuti Dia dan mengelu-elukan-Nya.  "Ketika orang-orang itu melihat mujizat yang telah diadakan-Nya, mereka berkata: 'Dia ini adalah benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia.'"  (Yohanes 6:14).  Begitu melihat orang-orang sangat berambisi untuk menjadikan Dia sebagai Raja dan menyanjung-Nya, Kristus justru lebih memilih untuk menyingkir ke gunung, mengundurkan diri dari kerumunan orang dan pergi ke tempat-tempat yang sunyi untuk membangun persekutuan dengan Bapa.

     Bagi Kristus, melakukan kehendak Bapa dan menggenapi rencana-Nya adalah prioritas utama.  Segala ketenaran atau popularitas tak dengan serta merta membuat Kristus melupakan tujuan utama-Nya datang ke dunia.  Jelas sekali apa yang Kristus perbuat sangat bertolak belakang dengan manusia pada umumnya yang ingin dipuji, dihormati, dielu-elukan, disanjung dan dikedepankan.  Kristus yang lebih memilih mengundurkan diri dari pusat perhatian orang dan tetap fokus mengerjakan panggilan-Nya.

Prioritas hidup Kristus adalah bersekutu dengan Bapa, melakukan kehendak-Nya, dan melayani jiwa-jiwa, bukan demi mencari pujian dari manusia!