Tuesday, March 28, 2017

JANGAN BANYAK BICARA: Banyaklah Mendengar

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 28 Maret 2017

Baca:  Mazmur 34:12-15

"Jagalah lidahmu terhadap yang jahat dan bibirmu terhadap ucapan-ucapan yang menipu;"  Mazmur 34:14

Salah satu permasalahan yang sedang terjadi di dunia akhir-akhir ini adalah banyak orang cenderung lebih suka berbicara daripada mendengar:  sedikit-sedikit melakukan protes, sedikit-sedikit berkomentar, sedikit-sedikit berdebat, sedikit-sedikit mengkritik, sedikit-sedikit mencela, memaki atau berkata kasar tanpa memperdulikan perasaan orang lain.  Intinya, orang lebih senang berbicara tanpa mau belajar untuk mendengar orang lain.  Ada tertulis:  "Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya."  (Amsal 18:21).  Berhati-hatilah!  Lidah menentukan banyak dalam hidup manusia, dan sebagian besar persoalan dalam kehidupan rumah tangga/keluarga, masyarakat, gereja dan bahkan suatu bangsa seringkali dimulai dari lidah.

     Dari awal Tuhan menciptakan manusia dengan satu mulut dan dua telinga dengan tujuan supaya manusia lebih banyak mendengar dari pada berbicara, bukan sebaliknya.  Maka penting sekali menjaga lidah atau perkataan kita.  Orang yang takut akan Tuhan bukan hanya akan mampu menjaga hati dan pikiran, tetapi juga lidahnya.  Kalau berbicara, perkataannya pasti mendatangkan berkat, damai sejahtera, menguatkan, memberi semangat dan memberkati orang yang mendengarnya.  Sebaliknya orang yang tidak bisa menjaga lidahnya dan suka menggemakannya, di mana pun pasti tidak disukai orang dan memiliki banyak musuh, karena lidahnya  "...seperti pisau cukur yang diasah,"  (Mazmur 52:4), sehingga banyak orang terluka karenanya, bahkan bisa menjadi senjata makan tuan.

     Tuhan menghendaki kita untuk banyak mendengar!  "Hai anakku, perhatikanlah hikmatku, arahkanlah telingamu kepada kepandaian yang kuajarkan, supaya engkau berpegang pada kebijaksanaan dan bibirmu memelihara pengetahuan."  (Amsal 5:1-2).  Dengan mengarahkan telinga kepada nasihat, ajaran, saran atau hal-hal positif dan terutama sekali mendengar firman Tuhan, maka bukan hanya pengetahuan, kebijaksanaan dan kepandaian yang semakin ditambahkan, tapi juga berkat-berkat Tuhan semakin dinyatakan dalam hidup kita.

Mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik?  Jagalah lidahmu!  (baca  1 Petrus 3:10-11).

Monday, March 27, 2017

MENGIKUT TUHAN JANGAN SAMPAI KENDUR

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 27 Maret 2017

Baca:  Ibrani 10:19-39

"Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat."  Ibrani 10:25

Hidup orang percaya adalah hidup yang berbahagia, karena melalui iman percaya kepada Kristus kita beroleh kepastian keselamatan;  dan karena telah beroleh anugerah keselamatan secara cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus, banyak dari kita yang akhirnya menganggap remeh keselamatan yang telah kita terima.  Kita bersikap pasif, tidak berbuat sesuatu apa pun untuk meningkatkan kualitas hidup rohani kita.

     Rasul Paulus menasihati,  "...tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan,"  (Filipi 2:12-14).  Melalui darah Kristus orang percaya beroleh keberanian untuk masuk ke tempat kudus, bertemu dengan Bapa di sorga.  Hal itu bisa terjadi karena Kristus selaku Imam Besar telah membukakan jalan bagi kita.  Namun akhir-akhir ini ada orang-orang Kristen yang justru ketekunan dan kesetiaannya dalam mengikut Tuhan menjadi kendur tatkala dihadapan pada masalah, tekanan atau penderitaan.  Tapi jangan sampai hanya karena masalah atau kesesakan kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah, apalagi sampai mundur dari iman.  "Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya."  (Ibrani 10:35).  Seorang yang setia mengikuti Tuhan pasti akan ditandai dengan kesetiaannya dalam beribadah dan giat melayani pekerjaan Tuhan, apa pun kondisinya.

     Nasihat rasul Paulus kepada Timotius:  "Latihlah dirimu beribadah. Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang. Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu,"  (1 Timotius 4:7b, 8, 14).  Kita harus ingat bahwa  "...penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita."  (Roma 8:18).

Jangan sampai kita melepaskan iman, karena upah besar telah menanti!

Sunday, March 26, 2017

PERBUATAN BAIK SEBAGAI BUAH KESELAMATAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 26 Maret 2017

Baca:  Titus 3:1-14

"...Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus,"  Titus 3:5

Dunia mengajarkan sebuah prinsip bahwa kunci untuk mendapatkan keselamatan kekal adalah banyak melakukan amal kebaikan.  Karena itu kita harus sering-sering menolong orang lain, memberi sedekah kepada fakir miskin dan sebagainya, di mana semua itu adalah investasi yang sifatnya kekal.  Namun Alkitab menyatakan bahwa kebajikan atau perbuatan baik yang dilakukan oleh orang berdosa adalah seperti kain kotor.  "Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor; kami sekalian menjadi layu seperti daun dan kami lenyap oleh kejahatan kami seperti daun dilenyapkan oleh angin."  (Yesaya 64:6).

     Sebanyak apa pun amal dan kebaikan yang dilakukan takkan pernah mengubah status berdosa di pemandangan Allah, kecuali jika orang berdosa mau datang kepada Kristus, mengakui segala dosa-dosanya,  "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan."  (1 Yohanes 1:9), menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, serta percaya bahwa kematian Kristus di kayu salib adalah untuk menebus dosa-dosanya, sehingga ia memiliki status baru yaitu bukan lagi sebagai seteru Allah, melainkan diangkat sebagai anak-anak Allah.  Inilah yang menjadi titik tolak seseorang untuk menerima keselamatan, sebab  "...siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang."  (2 Korintus 5:17).  Setelah diselamatkan dan hidup sebagai manusia baru, arah dan tujuan hidup manusia pun menjadi baru yaitu tertuju kepada Kristus dan tidak lagi berpusat pada diri sendiri.  "Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup."  (1 Yohanes 2:6).

     Bagaimana Kristus hidup?  Kehidupan Kristus senantiasa berlimpah dengan kasih dan kebajikan.  Orang yang telah diselamatkan wajib untuk berbuat baik.

Perbuatan baik bukanlah sarana utama untuk mendapatkan keselamatan kekal, tapi merupakan buah dari keselamatan.

Saturday, March 25, 2017

JANGAN BERLAKU SEPERTI ORANG BEBAL

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 25 Maret 2017

Baca:  Mazmur 53:1-7

"Orang bebal berkata dalam hatinya: 'Tidak ada Allah!' Busuk dan jijik kecurangan mereka, tidak ada yang berbuat baik."  Mazmur 53:2

Semua orang pasti akan merasa tersinggung dan marah besar jika mereka dikata-katai oleh orang lain dengan sebutan orang bodoh, apalagi disebut orang bebal.  Dalam teks aslinya kata bebal diartikan sebagai orang yang bodoh, jahat dan tidak menghormati Tuhan.  Orang bebal dapat diartikan pula orang yang sukar sekali untuk mengerti, tidak cepat tanggap, tidak mau berubah, karena ia menolak pengertian dan pengajaran.

     Kita secara terang-terangan tidak mau disebut bebal, namun dalam praktik kehidupan sehari-hari, sadar atau tidak, kita seringkali berlaku seperti orang yang bebal.  Penulis Amsal secara gamblang menggambarkan keberadaan orang bebal sebagai orang yang emosinya sangat labil, emosinya tak bisa dikendalikan sehingga amarahnya mudah sekali meledak-ledak;  orang yang hanya ingin didengar oleh orang lain karena merasa diri paling benar;  orang yang suka sekali mencela, menghina, menghakimi, mencemooh orang lain;  orang yang selalu berbantah-bantahan, artinya suka sekali mencari keributan hanya karena ingin menunjukkan kehebatan atau kemampuannya;  orang yang suka sekali memfitnah atau mencari-cari kesalahan orang lain  (baca  Amsal 18:1-8).

     Jelas sekali menunjukkan bahwa orang bebal adalah orang yang tidak takut akan Tuhan, tak menganggap Tuhan itu ada.  Beruntungkah orang yang berlaku demikian?  Firman Tuhan memastikan bahwa hidup mereka tak luput dari hukuman dan yang lebih mengerikan lagi adalah mereka mengalami penolakan dari Tuhan.  "Orang bebal dibinasakan oleh mulutnya, bibirnya adalah jerat bagi nyawanya."  (Amsal 18:7).  Menjalani hidup di masa seperti ini tidaklah mudah, karena itu rasul Paulus menasihati:  "...perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat."  (Efesus 5:15-16).  Mungkin kita sedang mengalami pergumulan hidup yang berat karena perlakuan yang tidak adil atau kejahatan yang diperbuat orang-orang di sekitar yang tidak mengenal Tuhan.  Jangan takut dan putus asa, karena ada waktunya di mana Tuhan akan menegakkan keadilan-Nya!

Jangan sekali-kali berlaku bebal, karena orang bebal tidak luput dari hukuman!

Friday, March 24, 2017

TAHU PERBUATAN BAIK, TAPI TAK MELAKUKAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 24 Maret 2017

Baca:  Matius 23:1-36

"Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya."  Matius 23:3

Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi adalah contoh orang yang tahu banyak tentang firman Tuhan, bahkan bisa dibilang sangat expert dalam hal Taurat Musa.  Bahkan mereka juga mengajarkan apa yang diketahuinya kepada orang-orang Yahudi.  Hebat?  Ya, di hadapan manusia mungkin tampak hebat, tapi sesungguhnya mereka tidak melakukan apa yang dipelajari dan ajarkan.  Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengecam keras orang-orang yang demikian dan menyebut mereka sebagai orang-orang munafik.

     Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia  (KBBI), kata munafik memiliki arti:  berpura-pura percaya atau setia dan sebagainya kepada agama dan sebagainya, tetapi sebenarnya dalam hatinya tidak;  suka  (selalu)  mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan perbuatannya;  atau bermuka dua.  Mereka mengenal kebenaran dengan baik tapi mereka sendiri tidak hidup dalam kebenaran.  Berkenaan dalam hal ini yakobus menulis:  "Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa."  (Yakobus 4:17).  Yang dimaksud tahu di sini  (Yunani:  eidon)  adalah melihat, merasa, mengunjungi.  Ini berkaitan dengan apa yang bisa ditangkap oleh pancaindera;  artinya orang telah melihat dan tahu bagaimana cara untuk berbuat baik  (melakukan kebenaran).  Jadi ia seharusnya dapat melakukan hal itu dengan mudah, namun dengan sengaja tidak mau melakukannya.  Jangan pernah membanggakan diri karena kita tahu banyak tentang Alkitab atau menjadi aktivis gereja jika hal itu hanya sekedar tahu secara teori atau mungkin sangat ahli, tetapi tidak melakukan firman Tuhan.

      Alkitab menyatakan:  "Sebab dari buahnya pohon itu dikenal."  (Matius 12:33b).  Contoh sederhana melakukan perbuatan baik:  mengunjungi janda-janda dan yatim piatu dalam kesusahan mereka atau menolong orang yang lemah;  tapi yang dilakukan oleh ahli Taurat dan Farisi:  "...kamu menelan rumah janda-janda sedang kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang."  (Matius 23:14).

Jika kita tahu bahwa hal itu adalah kehendak Tuhan, tapi kita tidak mau melakukannya, betapa berdosanya kita.

Thursday, March 23, 2017

SEBERAT APA PUN, JANGAN PERNAH KECEWA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 23 Maret 2017

Baca:  Yohanes 16:1-4a

"Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan kecewa dan menolak Aku."  Yohanes 16:1

Kecewa terhadap sesama manusia adalah hal yang biasa terjadi karena manusia mudah sekali berubah.  Ketika kenyataan tidak sesuai harapan, kita kecewa;  ketika orang lain ingkar janji, kita kecewa.  Banyak hal seringkali membuat kita kecewa.  Itulah manusia, mudah sekali kecewa dan mengecewakan!  Yang tidak sepatutnya adalah kecewa kepada Tuhan!  Namun kecewa kepada Tuhan seringkali dilakukan oleh banyak orang percaya.

     Pernahkah Tuhan mengecewakan kita?  Tak sekalipun Tuhan mengecewakan kita:  kasih-Nya, kuasa-Nya, cinta-Nya dan perkataan-Nya tak pernah berubah.  Sebaliknya, coba hitung berapa kali kita mengecewakan Tuhan?  Sungguh, tiada terhitung banyaknya kita mengecewakan Tuhan.  Ketika doa-doa kita belum dijawab, ketika dihadapkan pada masalah atau situasi yang berat kita pun langsung kecewa kepada Tuhan.  Ketika diperintahkan Tuhan Yesus untuk menjual seluruh hartanya dan membagi-bagikannya kepada orang miskin, seorang muda yang kaya  "...menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya."  (Markus 10:22).  Begitu pula ketika Tuhan Yesus pulang ke kampung halaman-Nya di Nazaret bukannya disambut dengan antusias, tetapi  "...mereka kecewa dan menolak Dia."  (Markus 6:3).

     Ketika berada di penjara dan dalam tekanan berat rasa kecewa sempat timbul dalam hati Yohanes Pembaptis.  Apa sebabnya?  Mungkin karena Tuhan Yesus tidak secara terus terang menyatakan diri bahwa Ia adalah Mesias yang sedang dinanti-nantikan oleh umat, sehingga Yohanes pun menyuruh murid-muridnya untuk bertanya langsung:  "Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?"  (Matius 11:3).  Kata kecewa dalam bahasa Yunani skandalisthe  (bentuk pasif dari skandalizo)  yang artinya tersinggung, terlukai perasaannya, tersandung oleh seseorang atau sesuatu.  Namun dalam perkembangannya Yohanes Pembaptis menyadari dan memahami siapa sesungguhnya Tuhan Yesus.

Dalam keadaan apa pun jangan pernah kecewa kepada Tuhan Yesus,  "Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya."  Ibrani 13:8

Wednesday, March 22, 2017

ADA BERKAT DI BALIK UCAPAN SYUKUR

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 22 Maret 2017

Baca:  Mazmur 111:1-10

"Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hati, dalam lingkungan orang-orang benar dan dalam jemaah."  Mazmur 111:1

Jika kita merenungkan kebenaran firman Tuhan dan semua yang telah Tuhan kerjakan dalam hidup ini seharusnya bibir kita takkan pernah berhenti berkata:  "Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun."  (Mazmur 100:5), dan  "Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku?"  (Mazmur 116:12).  Tiada kata lain selain bibir yang senantiasa memuliakan nama Tuhan  (ucapan syukur).  Tapi banyak orang Kristen yang lupa mengucap syukur, kecuali dalam keadaan baik  (terberkati);  padahal di balik ucapan syukur terkandung berkat yang luar biasa pula.

     Tuhan Yesus memberi makan 5000 orang laki-laki, tidak termasuk wanita dan anak-anaknya, hanya dengan 5 ketul roti dan 2 ikan, semuanya kenyang, dan bahkan masih tersisa 12 bakul.  Berawal dari ucapan syukur, mujizat pun terjadi!  "Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki."  (Yohanes 6:11).  Secara naluriah kita terdorong untuk mengucap syukur bila memiliki sesuatu yang berlebih, menerima dalam jumlah besar atau sedang surplus.  Ditinjau dari sudut mana pun 5 roti dan 2 ikan tidak akan pernah cukup untuk memberi makan 5000 orang!  Sangat tidak masuk akal!  Kita pasti akan berkata seperti Filipus,  "Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja."  (Yohanes 6:7).  Bukankah kita cenderung merasa kuatir, lalu bersungut-sungut, mengomel ketika memiliki atau menerima sedikit?

     Dari sepuluh orang yang menderita kusta hanya satu orang Samaria saja yang tidak lupa mengucap syukur kepada Tuhan atas kesembuhan yang dialaminya, sedangkan sembilan orang lainnya pergi begitu saja setelah sembuh.  Karena ucapan syukur inilah ia tidak saja disembuhkan dari penyakitnya, tetapi juga beroleh berkat rohani yaitu anugerah keselamatan oleh karena imannya  (baca  Lukas 17:19).

Di segala keadaan jangan pernah lupa mengucap syukur kepada Tuhan, karena ucapan syukur adalah pintu gerbang menuju berkat!

Tuesday, March 21, 2017

PEMIMPIN BERHATI GEMBALA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 21 Maret 2017

Baca:  1 Petrus 5:1-11

"Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu."  1 Petrus 5:3

Jika mendengar kata pemimpin yang acapkali muncul di bayangan adalah orang yang punya kuasa untuk mengatur, memerintah dan memegang kendali.  Karena punya otoritas atau kuasa, seorang pemimpin seringkali bertindak semena-mena, mau menang sendiri, tidak mau disalahkan, tidak mau menerima kritikan, apa yang diperintahkan harus dituruti seperti tertulis:  "Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka."  (Matius 20:25).

     Berbicara tentang kepemimpinan, entah itu kepemimpinan suatu bangsa, sebuah perusahaan atau instansi, gereja, sekolah dan juga keluarga, kita berbicara tentang sebuah keteladanan hidup.  "Pemimpin itu memimpin dengan contoh, bukan dengan paksaan."  (Sun Tzu).  Bagaimana kita bisa menjadi teladan bagi banyak orang, atau menjadi panutan dalam hal melakukan kehendak Tuhan, itulah inti sebuah kepemimpinan.  Rasul Petrus memperingatkan bahwa seorang pemimpin sejati haruslah memiliki hati gembala seperti yang Tuhan Yesus teladankan.  Ketika memimpin umat, Tuhan Yesus memposisikan diri-Nya bukan seperti orang yang memerintah atau memimpin dengan tangan besi, melainkan sebagai Gembala yang sedang menggembalakan kawanan domba-Nya.  "Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku"  (Yohanes 10:14).  Seorang pemimpin sejati mengenal kawanan dombanya dengan baik, alias memiliki kepekaan.  "Telinga seorang pemimpin harus peka dengan suara orang lain."  (Woodrow Wilson).

     Seorang pemimpin harus menyadari bahwa orang-orang yang dipimpinnya itu bukanlah orang yang bisa diperlakukan seenaknya, melainkan kawanan domba yang dipercayakan Tuhan untuk dibimbing, dituntun dan diarahkan ke jalan yang benar.  Karena itu kita harus mampu menjadi teladan atau berkat bagi yang dipimpinnya, bukan hanya sekedar memerintah.  Inilah yang akan menimbulkan respek dari pengikutnya!

Jadilah pemimpin yang mampu memberikan teladan hidup bagi orang lain!

Monday, March 20, 2017

FIRMAN TUHAN: Perkataan Tuhan Berkuasa

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 20 Maret 2017

Baca:  Yesaya 45:20-25

"Demi Aku sendiri Aku telah bersumpah, dari mulut-Ku telah keluar kebenaran, suatu firman yang tidak dapat ditarik kembali:"  Yesaya 45:23

Alkitab bukanlah buku biasa yang bisa disamakan dengan buku-buku ilmu pengetahuan karya ahli-ahli ternama di dunia, atau sekedar buku bacaan rohani yang bisa dibaca sewaktu-waktu kala seseorang sedang suntuk dan butuh hiburan.  Alkitab adalah sabda atau firman Tuhan yang hidup dan berkuasa, Tuhan sendiri yang berfirman kepada manusia.  Bahkan alam semesta dan seluruh isinya ini sudah diciptakan oleh firman Tuhan  (baca  Kejadian 1:1-15).  Jadi,  "...alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat."  (Ibrani 11:3).

     Kalau kita membaca Alkitab artinya kita sedang mendengarkan Tuhan berbicara kepada kita.  Perkataan Tuhan itu mempunyai kuasa untuk mencipta, melepaskan, menyembuhkan, menghiburkan dan menyelamatkan.  Firman itu adalah Tuhan Yesus sendiri, Dialah yang telah menciptakan langit dan bumi dan segala isinya seperti tertulis:  "Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran."  (Yohanes 1:1-3, 14).

     Banyak orang Kristen mengakui kebenaran Alkitab sebagai firman Tuhan yang hidup dan berkuasa, tetapi mereka seringkali memperlakukan Alkitab secara tidak wajar:  membuka dan membaca Alkitab jika sedang luang saja, atau memperlakukan Alkitab secara istimewa hanya saat beribadah di gereja saja.  Ketika sedang dihadapkan pada masalah atau kesulitan hidup mereka merasa sangsi terhadap kuasa firman Tuhan, dan lebih mempercayai omongan orang atau pendapat manusia, lebih menuruti nasihat orang fasik daripada mengikuti petunjuk firman Tuhan.  "Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu."  (Matius 24:35).

Milikilah komitmen seperti pemazmur:  "Bagianku ialah TUHAN, aku telah berjanji untuk berpegang pada firman-firman-Mu."  Mazmur 119:57

Sunday, March 19, 2017

PERCAYA DAN PENGAKUAN: Berjalan Beriringan

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 19 Maret 2017

Baca:  Roma 10:8-15

"Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan."  Roma 10:9

Tidak banyak orang Kristen mengetahui rahasia bahwa percaya dan pengakuan adalah dua hal yang tak terpisahkan dan berperan penting dalam kehidupan kekristenan.  Ketika kita percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, percaya kepada firman-Nya, maka dibutuhkan pula sebuah pengakuan yang benar melalui mulut kita.  Pengakuan yang benar itulah buah dari iman yang hidup.  Hal itu menunjukkan bahwa hati dan mulut memiliki fungsi masing-masing dalam keselamatan kita.  Dengan hati kita percaya, tetapi dengan mulut kita pun harus mengaku, dan keduanya harus berjalan secara beriringan, sebab percaya dalam hati saja tidaklah cukup, harus dibuktikan dengan pengakuan melalui mulut kita.  Jadi, apa yang kita percayai harus sejalan dengan yang kita akui dengan mulut kita.  Percaya kita dan pengakuan kita, itulah yang akan memerintah hidup kita dan menuntun kita kepada keselamatan, kesembuhan, kelepasan dan segala berkat Tuhan kepada kita.

     Ketika kita berkata bahwa kita sedang kuatir, maka pada saat kita berkata demikian, seketika itu timbul kekuatiran di dalam hati kita.  Ketika kita berkata bahwa kita takut terhadap suatu hal, maka pada saat kita mengatakan itu, kekuatiran sedang merayap di dalam hati kita.  "...engkau terjerat dalam perkataan mulutmu, tertangkap dalam perkataan mulutmu,"  (Amsal 6:2).  Ayub berkata,  "Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku. Aku tidak mendapat ketenangan dan ketenteraman; aku tidak mendapat istirahat, tetapi kegelisahanlah yang timbul."  (Ayub 3:25-26).  Penting sekali untuk menetapkan:  apa yang kita percaya dan apa yang kita katakan.  "'Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu.' Itulah firman iman, yang kami beritakan."  (Roma 10:8).

     Karena itu percayalah kepada Tuhan Yesus yang telah menyampaikan janji firman-Nya dan senantiasalah memperkatakan firman Tuhan sebagai wujud pengakuan kita, supaya kuasa firman-Nya bekerja dan berlaku dalam hidup kita!

"'Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata', maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata."  2 Korintus 4:13

Saturday, March 18, 2017

KETAATAN ADALAH HARGA MUTLAK (3)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 18 Maret 2017

Baca:  Yosua 7:1-26

"Tetapi orang Israel berubah setia dengan mengambil barang-barang yang dikhususkan itu, karena Akhan bin Karmi bin Zabdi bin Zerah, dari suku Yehuda, mengambil sesuatu dari barang-barang yang dikhususkan itu."  Yosua 7:1

Di bawah kepemimpinan Yosua bangsa Israel berhasil menaklukkan kota Yerikho yang sangat kuat karena mereka taat melakukan apa yang diperintahkan oleh Tuhan.  Namun saat melawan kota Ai yang jumlah penduduknya lebih sedikit  (pasal 7)  bukan kemenangan yang diraih, sebaliknya orang Israel malah menjadi pecundang.  "...mereka melarikan diri di depan orang-orang Ai. Sebab orang-orang Ai menewaskan kira-kira tiga puluh enam orang dari mereka; orang-orang Israel itu dikejar dari depan pintu gerbang kota itu sampai ke Syebarim dan dipukul kalah di lereng."  (ayat 4-5).

     Apa yang sebenarnya terjadi?  Kekalahan yang sangat memalukan ini terjadi sebagai akibat dari ketidaktaatan orang-orang Israel terhadap perintah Tuhan.  Jadi mereka kalah bukan karena tidak lihai dalam mengatur strategi perang, atau jumlah pasukan musuh yang lebih besar.  Ketidaktaatanlah yang membuat Tuhan tidak lagi berpihak kepada mereka.  Pelanggaran besar apa yang telah diperbuat orang-orang Israel?  Ketika mereka menyerang Yerikho, seluruh kota dan isinya harus dikhususkan bagi Tuhan.  "...jagalah dirimu terhadap barang-barang yang dikhususkan untuk dimusnahkan, supaya jangan kamu mengambil sesuatu dari barang-barang yang dikhususkan itu setelah mengkhususkannya dan dengan demikian membawa kemusnahan atas perkemahan orang Israel dan mencelakakannya. Segala emas dan perak serta barang-barang tembaga dan besi adalah kudus bagi TUHAN; semuanya itu akan dimasukkan ke dalam perbendaharaan TUHAN."  (Yosua 6:18-19).  Namun Akhan telah melanggarnya yaitu mengambil barang-barang berharga yang telah dikhususkan bagi Tuhan.

     Ketidaktaatan Akhan ini bukan hanya datangkan kekalahan Israel, tapi juga murka Tuhan atas dirinya dan keluarganya.  "'Seperti engkau mencelakakan kami, maka TUHAN pun mencelakakan engkau pada hari ini.' Lalu seluruh Israel melontari dia dengan batu, semuanya itu dibakar dengan api dan dilempari dengan batu."  (Yosua 7:25).

"Siapa meremehkan firman, ia akan menanggung akibatnya, tetapi siapa taat kepada perintah, akan menerima balasan."  Amsal 13:13

Friday, March 17, 2017

KETAATAN ADALAH HARGA MUTLAK (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 Maret 2017

Baca:  1 Samuel 15:1-35

"Karena engkau telah menolak firman TUHAN, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja."  1 Samuel 15:23b

Percaya dan taat adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan dalam kehidupan kekristenan.  Artinya ketika kita percaya kepada Tuhan Yesus kita juga harus taat kepada perintah-Nya, karena tanpa ketaatan tak seorang pun dapat menyenangkan hati Tuhan.

     Saul adalah salah satu contoh tokoh di Alkitab yang harus menuai akibat dari ketidaktaatannya melakukan perintah Tuhan.  Kita tahu bahwa Saul bukanlah sembarang orang, melainkan seorang raja atas Israel, namun pada akhirnya ia mengalami penolakan dari Tuhan, bahkan Tuhan merasa menyesal telah memilihnya sebagai raja karena ia telah menyepelekan perintah.  Melalui nabi Samuel Tuhan berfirman,  "...pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai."  (ayat 3).  Saul diperintahkan untuk menumpas semua orang Amalek tanpa terkecuali, termasuk hewan ternaknya, namun yang dilakukan:  "...Saul dan rakyat itu menyelamatkan Agag dan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dan tambun, pula anak domba dan segala yang berharga: tidak mau mereka menumpas semuanya itu."  (ayat 9a).  Itu artinya Saul tidak taat sepenuhnya kepada Tuhan, karena menyelamatkan raja Amalek dan membawa ternak-ternak mereka yang tambun, dan segala yang berharga, namun di hadapan Samuel ia berkata,  "...aku telah melaksanakan firman TUHAN."  (ayat 13).

     Saul berpikir ternak-ternak tambun tersebut hendak ia persembahkan kepada Tuhan sebagai korban syukur  (karena sudah menjadi tradisi bagi bangsa Israel, setiap kali menang dalam peperangan melawan musuh, mereka mempersembahkan korban syukur kepada Tuhan).  Mempersembahkan korban kepada Tuhan memang baik, tetapi jika itu merupakan upaya untuk menutupi dosa atau pelanggaran, maka akan merupakan kejijikan bagi Tuhan karena Tuhan tidak bisa disuap atau disogok!  "Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan."  (ayat 22a).

Apa pun alasannya, setiap ketidaktaatan terhadap firman Tuhan itu fatal akibatnya!

Thursday, March 16, 2017

KETAATAN ADALAH HARGA MUTLAK (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 Maret 2017

Baca:  Mazmur 89:21-38

"jika ketetapan-Ku mereka langgar dan tidak berpegang pada perintah-perintah-Ku, maka Aku akan membalas pelanggaran mereka dengan gada, dan kesalahan mereka dengan pukulan-pukulan."  Mazmur 89:32-33

Jujur diakui bahwa banyak orang Kristen yang tidak suka dan  'merasa alergi'  jika mendengar khotbah tentang ketaatan, karena yang ada di pikiran adalah ketaatan selalu identik dengan larangan-larangan:  tidak boleh ini tidak boleh itu, sesuatu yang tidak boleh dilanggar, yang jika dilanggar ada sanksi atau konsekuensinya seperti tertulis:  "...setiap pelanggaran dan ketidaktaatan mendapat balasan yang setimpal,"  (Ibrani 2:2).  Karena itu tidaklah mengherankan jika orang lebih suka mendengar khotbah tentang berkat, keberhasilan, kemenangan, pemulihan, kesembuhan, mujizat dan sebagainya.  Yang harus disadari adalah bahwa berkat, keberhasilan, kemenangan, pemulihan, kesembuhan, mujizat adalah dampak atau upah dari ketaatan seseorang dalam melakukan firman Tuhan.

     Ketaatan adalah harga yang mutlak jika seseorang ingin mengalami penggenapan janji Tuhan!  Ketaatan bukanlah sebatas larangan untuk melakukan sesuatu atau keharusan melakukan sesuatu, tetapi merupakan keseluruhan gaya hidup yang harus dimiliki setiap orang percaya.  Ketika ketaatan sudah menjadi gaya hidup dalam diri seseorang, maka melakukan firman Tuhan bukan lagi menjadi suatu beban atau hal yang memberatkan, melainkan menjadi sebuah kesukaan.  Tuhan Yesus telah mendemonstrasikan ketaatan-Nya kepada Bapa sebagai gaya hidup di sepanjang hidup-Nya.  Hal itu tersirat dari pernyataan-Nya,  "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya."  (Yohanes 4:34).

     Tuhan memberikan perintah bukan bertujuan untuk membebani, namun sesungguhnya demi kebaikan kita sendiri, karena Ia hendak menuntun ke jalan yang benar supaya rencana-Nya tergenapi yaitu kehidupan yang berlimpahan dan masa depan yang penuh harapan.  Yang disesalkan, orang memilih tidak mau taat mengikuti jalan Tuhan, padahal  "Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya."  (Mazmur 25:10).

Akibat dari ketidaktaatan:  kita gagal menikmati berkat-berkat yang sesungguhnya telah Tuhan sediakan!

Wednesday, March 15, 2017

KEBERHASILAN KARENA TINGGAL DALAM FIRMAN (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 Maret 2017

Baca:  Yesaya 55:6-13

"demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya."  Yesaya 55:11

Ayat nas menegaskan bahwa setiap firman yang keluar dari mulut Tuhan tidak akan kembali dengan sia-sia, melainkan akan melaksanakan apa yang dikehendaki-Nya.  Luar biasa!  Karena itu jangan pernah menganggap remeh atau sepele ayat-ayat firman Tuhan!

     Pemazmur memiliki pengalaman hidup yang luar biasa ketika ia senantiasa  'tinggal'  di dalam firman Tuhan,  Dikatakan,  "Perintah-Mu membuat aku lebih bijaksana...lebih berakal budi...lebih mengerti..."  (Mazmur 119:98-100);  bijaksana  (Ibrani:  chakam)  berarti kemampuan dalam teknik bekerja, kecerdasan, kelihaian atau kecerdikan.  Ini sangat dibutuhkan dalam menjalani hidup karena ada banyak tantangan yang menghadang langkah kita, dan firman Tuhan memberikan pedoman bagaimana kita tetap kuat berdiri dan tidak mudah terjatuh;  berakal budi  (Ibrani:  sakal)  artinya sangat berhati-hati, cerdas, punya kapasitas untuk sebuah pengertian.  Sekarang ini ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang begitu pesat, jika kita tidak berakal budi kita akan mudah sekali terbawa arus dunia ini, dan gampang dipengaruhi oleh ajaran-ajaran yang menyesatkan;  mengerti  (Ibrani:  biyn)  artinya melihat, kemampuan untuk membedakan mana yang benar dan yang salah.  Firman Tuhan membuat kita memiliki kepekaan rohani sehingga mampu membaca situasi dan peristiwa apa pun.

     Alkitab menyatakan bahwa  "Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu."  (Matius 24:35).  Karena tahu persis dan memiliki pengalaman hidup betapa firman Tuhan itu berkuasa dan memberi keuntungan besar dalam hidupnya, maka di hari-hari akhir hidupnya Daud pun berpesan kepada Salomo,  "Lakukanlah kewajibanmu dengan setia terhadap TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya, dan dengan tetap mengikuti segala ketetapan, perintah, peraturan dan ketentuan-Nya, seperti yang tertulis dalam hukum Musa, supaya engkau beruntung dalam segala yang kaulakukan dan dalam segala yang kautuju,"  (1 Raja-Raja 2:3).

"Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi; Dia memberi perintah, maka semuanya ada."  Mazmur 33:9

Tuesday, March 14, 2017

KEBERHASILAN KARENA TINGGAL DALAM FIRMAN (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 Maret 2017

Baca:  Mazmur 1:1-6

"tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam."  Mazmur 1:2

Banyak orang berpikir bahwa keberhasilan hidup seseorang sangat ditentukan oleh kecerdasan intelektual atau kecerdasan dalam bidang akademik  (IQ)  sepenuhnya.  Benarkah?  Riset justru menunjukkan bahwa kecerdasan intelektual  (IQ)  ternyata hanya menyumbang 20% dari keberhasilan seseorang, sedangkan 80% sisanya ditentukan oleh faktor lain yaitu kecerdasan emosional  (EQ).  Kecerdasan emosional  (EQ)  adalah kemampuan untuk mengenali, memahami dan mengelola emosi kita sendiri dan emosi orang lain secara positif.  Karena itu orang yang memiliki kecerdasan emosional  (EQ)  tinggi akan mampu berkomunikasi lebih baik, membentuk hubungan yang lebih kuat dan mencapai sukses yang lebih besar di tempat kerja ataupun dalam kehidupan sehari-hari.

     Kecerdasan emosional  (EQ)  berbicara tentang karakter atau perilaku hidup seseorang.  Bagi orang percaya pedoman utama untuk meningkatkan kecerdasan emosional  (EQ)  adalah Alkitab, sebab  "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran."  (2 Timotius 3:16).  Penting sekali memiliki pengenalan yang benar tentang firman Tuhan.  Ada tertulis:  "Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah; karena engkaulah yang menolak pengenalan itu maka Aku menolak engkau menjadi imam-Ku; dan karena engkau melupakan pengajaran Allahmu, maka Aku juga akan melupakan anak-anakmu."  (Hosea 4:6).  Untuk memiliki pengenalan yang benar tentang firman Tuhan kita harus menyediakan waktu untuk membaca, mempelajari dan merenungkan firman Tuhan itu siang malam, dan menjadikan hal itu sebagai gaya hidup, bukan untuk keterpaksaan, seperti Daud yang berkata,  "...Taurat-Mu adalah kegemaranku."  (Mazmur 119:77).

     Pemazmur menyatakan keberadaan orang yang tinggal dalam firman  "...seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil."  (Mazmur 1:3).

Semakin kita merenungkan firman Tuhan siang malam semakin kita tahu tentang kunci untuk mengalami penggenapan janji Tuhan dan meraih keberhasilan hidup!

Monday, March 13, 2017

SUDAHKAH BENAR-BENAR PERCAYA?

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 Maret 2017

Baca:  Yohanes 3:31-36

"Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya."  Yohanes 3:36

Percaya kepada Yesus sebagai  Tuhan adalah sesuatu yang luar biasa, sangat berharga, mulia, tak ternilai dan tak bisa digantikan dengan uang, emas, perak, harta, atau apa pun yang ada di dunia.  Mengapa?  Sebab percaya kepada-Nya adalah syarat untuk memperoleh hidup yang kekal.  Namun tidak sedikit orang datang kepada Yesus bukan karena percaya kepada-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat,  "...melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang."  (Yohanes 6:26).  Mereka mencari Tuhan Yesus didorong oleh motif yang tidak murni:  ingin berkat, mujizat, kesembuhan dan sebagainya.

     Ketika percaya kepada Tuhan Yesus tidak secara otomatis kita menjadi kaya materi, bebas dari masalah atau krisis, semua berjalan mulus atau apa yang kita inginkan terpenuhi!  Itu yang kurang dipahami oleh semua orang;  begitu fakta berkata lain, kita pun terus membanding-bandingkan keadaan semasa berada di Mesir, dan timbul niat untuk kembali ke sana.  Percaya kepada Tuhan Yesus berarti mengenal Dia secara pribadi, percaya perkataan-Nya, mengimani setiap janji-janji-Nya, dan percaya segala sesuatu yang telah Kristus perbuat.  Inilah pengakuan Petrus,  "Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah."  (Yohanes 6:68-69).

     Orang yang benar-benar percaya kepada Tuhan Yesus akan menempatkan Dia sebagai Raja dan Pemimpin bagi kehidupannya sehingga ia akan taat melakukan apa yang diperintahkan-Nya.  Selain itu orang yang benar-benar percaya kepada Tuhan pasti tidak akan pernah mendua atau bercabang hati, melainkan berkomitmen untuk mengabdikan diri kepada Tuhan di segala keadaan, bahkan sampai akhir hidupnya, sebab ada tertulis:  "Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon."  (Matius 6:24).

Sebagai orang percaya jangan sekali-kali kita melepaskan kepercayaan kepada Tuhan Yesus, apa pun alasannya, karena upah besar menanti kita!

Sunday, March 12, 2017

HAJARAN TUHAN UNTUK MENYELAMATKAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 Maret 2017

Baca:  Mazmur 94:1-23

"Berbahagialah orang yang Kauhajar, ya TUHAN, dan yang Kauajari dari Taurat-Mu,"  Mazmur 94:12

Mendengar kata hajaran pasti timbul kengerian di benak kita, karena terbayang keadaan seseorang yang sedang merintih kesakitan dalam kondisi babak belur, terluka dan berdarah-darah akibat menerima pukulan.  Dalam kehidupan Kristiani, menerima hajaran dari Tuhan adalah perkara yang tak bisa dihindari, terlebih-lebih jika kita berlaku menyimpang dari firman Tuhan, siap-siaplah menerima  'hajaran'  Tuhan.

     Tuhan menghajar umat-Nya bukan berarti membenci atau tidak mengasihi kita, justru hajaran-Nya adalah wujud kasih-Nya kepada kita.  Hajaran Tuhan adalah bentuk proses pendisiplinan supaya hidup kita semakin sempurna dan lebih baik dari sebelumnya.  Tidak sedikit orang Kristen yang mulai meninggalkan Tuhan, tidak lagi bersungguh-sungguh dalam hal-hal rohani setelah hidupnya diberkati atau mengalami kelimpahan.  Karena itu perlu sekali Tuhan mengijinkan masalah atau memberikan jalan yang tidak rata, hidup yang ada tantangannya.  Itu pertanda bahwa Tuhan sedang menegur;  tetapi jika tetap saja mengeraskan hati, mulailah Tuhan harus menghajar.  Setiap hajaran Tuhan selalu mendatangkan kebaikan bagi kita, karena Dia menghajar dengan target dan tujuan secara khusus.  Karena itu milikilah respons yang benar ketika sedang dihajar dan diproses Tuhan seperti Ayub yang bisa berkata,  "Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas."  (Ayub 23:10).

     Sampai berapa lama Tuhan menghajar kita?  Itu sangat tergantung pada respons kita, apakah kita segera sadar dan mau menyerah penuh kepada Tuhan.  Kalau kita terus memberontak dan mengeraskan hati maka hajaran Tuhan akan berlangsung lama seperti yang dialami oleh bangsa Israel yang harus  'diproses dan dihajar'  Tuhan selama 40 tahun di padang gurun.  Karena itu pemazmur berkata,  "Berbahagialah orang yang Kauhajar, ya TUHAN, dan yang Kauajari dari Taurat-Mu, untuk menenangkan dia terhadap hari-hari malapetaka,"  (Mazmur 94:12-13).  Orang yang memiliki kepekaan rohani tidak akan pernah memberontak atau pun lari ketika sedang  'dihajar'  Tuhan.

"Tetapi kalau kita menerima hukuman dari Tuhan, kita dididik, supaya kita tidak akan dihukum bersama-sama dengan dunia."  1 Korintus 11:32

Saturday, March 11, 2017

BUKAN SIAPA-SIAPA DI MATA MANUSIA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 Maret 2017

Baca:  Hakim-Hakim 3:31

"Samgar bin Anat; ia menewaskan orang Filistin dengan tongkat penghalau lembu, enam ratus orang banyaknya."  Hakim-Hakim 3:31

Kebanyakan orang berpikir bahwa Tuhan hanya akan memakai orang-orang yang di pandangan manusia memiliki banyak kelebihan:  cerdas, pintar, kaya, cantik, tampan atau punya sesuatu yang dibanggakan di hadapan sesamanya.  Tuhan tidak pernah memperhatikan apa pun yang tampak hebat secara kasat mata!  Yang Tuhan perhatikan dan perhitungkan adalah respons hati seseorang ketika menerima panggilan Tuhan.  "Sifat yang diinginkan pada seseorang ialah kesetiaannya;"  (Amsal 19:22).  Apalah artinya seseorang tampak hebat di mata manusia, atau punya multi talenta, jika ia sendiri tidak mau mengembangkan potensi yang ada dengan penuh kesetiaan.

     Samgar adalah orang sederhana yang hanya berprofesi sebagai peternak atau petani, suatu profesi yang dipandang remeh, sepele dan sangat tidak diperhitungkan oleh manusia, namun justru dipilih Tuhan untuk melakukan perkara yang luar biasa.  Karena namanya hanya disebut sebanyak 2X di Alkitab, tidaklah mengherankan jika nama Samgar masih terdengar asing di telinga, padahal ia adalah salah satu tokoh hebat di Israel.  Ia hidup pada masa setelah Ehud sukses menundukkan bangsa Moab  (sehingga bangsa Israel menjadi aman selama 80 tahun).  Kalahnya bangsa Moab tidak membuat bangsa Israel terbebas dari musuh sepenuhnya, karena ada banyak musuh yang sewaktu-waktu bisa datang, salah satunya adalah bangsa Filistin.  Di tengah ancaman bangsa Filistin ini tampillah Samgar sebagai pahlawan bagi bangsanya.

     Meski hanya berbekal tongkat penghalau lembu  (tongkat yang terbuat dari kayu panjangnya kira-kira 8 feet  (2,4m), dilengkapi paku-paku besi runcing di ujungnya, biasanya berfungsi menggiring lembu pada waktu membajak tanah)  Samgar mampu menewaskan 600 tentara Filistin.  Tongkat penghalau lembu adalah tongkat biasa, tapi jika Tuhan turut campur tangan,  "Adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk TUHAN?"  (Kejadian 18:14a).  Mungkin di mata manusia kita ini bukanlah siapa-siapa, tapi jika Tuhan ada di pihak kita, siapakah lawan kita?

"Tetapi...apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat,"  1 Korintus 1:27

Friday, March 10, 2017

BERPUASA: Melepaskan Belenggu Dosa

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 Maret 2017

Baca:  Yesaya 58:1-12

"Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi."  Yesaya 58:4

Tuhan tidak pernah melihat cara berpuasa secara lahiriah, yang Ia perhatikan adalah hati.  Puasa seseorang akan menjadi sia-sia jika tidak disertai dengan sikap hati yang benar, atau tetap melakukan perbuatan dosa  (terbelenggu dosa).  Adalah penting sekali kita menyediakan waktu secara khusus untuk berdoa dan berpuasa supaya dengan pertolongan Roh Kudus kita dilepaskan dari roh-roh jahat yang selama ini membelenggu hidup kita:  roh percabulan, roh kesombongan, roh iri dengki, roh amarah, roh sulit mengampuni dan sebagainya.  Puasa jenis ini adalah bentuk pertobatan secara pribadi!

     Secara terperinci, jujur dan terbuka kita mengakui segala dosa dan kesalahan di hadapan Tuhan.  Jangan pernah menyembunyikan dosa sekecil apa pun, sebab  "...tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab."  (Ibrani 4:13).  Dosa harus benar-benar dibereskan di hadapan Tuhan secara tuntas, jika tidak, pertumbuhan rohani kita tidak akan pernah maksimal dan berkat-berkat Tuhan pun akan menjadi terhalang.  Karena itu kita harus menjadi orang Kristen yang benar-benar merdeka, terbebas dari segala belenggu dosa dan kuk.  Tuhan berkata,  "Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk,"  (Yesaya 58:6).

     Kesalahan yang sering dilakukan ketika sedang berpuasa yaitu berpuasa tanpa disertai pertobatan.  Puasa model demikian tak lebih dari sekedar rutinitas dan hanya akan menyiksa badan tanpa membawa hasil, karena  "...suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi."  (ayat nas), doa kita tidak akan didengar Tuhan.  Berpuasa yang benar adalah belajar menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.  Menyalibkan kedagingan itu memang sakit, tetapi buahnya kelak pasti manis.

Puasa yang benar adalah puasa yang disertai dengan pertobatan, olehnya kita dibebaskan dari belenggu dosa dan menjadi seorang yang lebih dari pemenang!

Thursday, March 9, 2017

BERPUASA: MERENDAHKAN DIRI DAN BERTOBAT

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 9 Maret 2017

Baca:  Ezra 8:21-30

"Jadi berpuasalah kami dan memohonkan hal itu kepada Allah dan Allah mengabulkan permohonan kami."  Ezra 8:23

Ketika hendak memimpin rombongan orang-orang Israel kembali ke Yerusalem setelah menjadi tawanan di Babel, Ezra dihadapkan pada dua pilihan:  langsung meminta pertolongan kepada raja  (apalagi ia memiliki hubungan yang dekat dan dipercaya raja), atau datang kepada Tuhan meminta campur tangan-Nya.

     Tercatat bahwa Ezra membuat keputusan yang benar yaitu mencari Tuhan dengan sungguh.  Hal itu menunjukkan bahwa ia tidak bertindak menurut akalnya sendiri atau menggunakan jurus  'aji mumpungnya'  dengan berharap kepada raja.  Kesungguhannya mencari Tuhan ditunjukkan dengan memaklumkan puasa kepada seluruh rakyat:  "Kemudian di sana, di tepi sungai Ahawa itu, aku memaklumkan puasa supaya kami merendahkan diri di hadapan Allah kami dan memohon kepada-Nya jalan yang aman bagi kami, bagi anak-anak kami dan segala harta benda kami. Karena aku malu meminta tentara dan orang-orang berkuda kepada raja untuk mengawal kami terhadap musuh di jalan; sebab kami telah berkata kepada raja, demikian: 'Tangan Allah kami melindungi semua orang yang mencari Dia demi keselamatan mereka, tetapi kuasa murka-Nya menimpa semua orang yang meninggalkan Dia.' Jadi berpuasalah kami dan memohonkan hal itu kepada Allah dan Allah mengabulkan permohonan kami."  (ayat 21-23).

     Berpuasa dengan disertai berbagai permintaan kepada Tuhan, tanpa terlebih dahulu merendahkan diri dan bertobat, tidak akan mendatangkan faedah apa-apa.  Puasa yang sesuai dengan kehendak Tuhanlah yang dapat mendatangkan kuasa, menggerakkan tangan Tuhan untuk berbuat sesuatu.  Sekalipun keadaan sepertinya tidak ada harapan, asal kita mau datang kepada Tuhan dengan merendahkan diri dan berpuasa, jalan pemulihan pasti terbuka.  Puasa kudus adalah obat mujarab untuk segala macam kesulitan dan kesesakan.  Namun tidak sedikit orang melakukan puasa dengan tujuan bukan rohaniah, misalnya ingin menguruskan badan  (diet), atau melakukan puasa hanya karena kebiasaan  (rutinitas)  dengan bergantung pada hari-hari tertentu.

Berpuasa harus punya tujuan yang khusus ke hadirat Tuhan, dan tujuan utama berpuasa adalah merendahkan diri di hadapan Tuhan dan bertobat!

Wednesday, March 8, 2017

JANGAN TUNDA WAKTU UNTUK BERTOBAT (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 Maret 2017

Baca:  Yoel 2:12-17

"Siapa tahu, mungkin Ia mau berbalik dan menyesal, dan ditinggalkan-Nya berkat, menjadi korban sajian dan korban curahan bagi TUHAN, Allahmu."  Yoel 2:14

Tuhan memakai hama belalang sebagai teguran dan bentuk pendisiplinan terhadap umat Israel yang telah menyimpang dari jalan-jalan-Nya.  Ini adalah momentum tepat bagi mereka untuk menginstropeksi diri dan bertobat.  Selagi waktu masih bergulir, selagi pintu kesempatan masih terbuka, jangan tunda-tunda waktu lagi untuk bertobat, karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi,  "'Tetapi sekarang juga,' demikianlah firman TUHAN, 'berbaliklahh kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh.'"  (ayat 12).  Jika tidak, maka  'hari Tuhan'  akan datang sebagai bencana yang jauh lebih dahsyat dan mengerikan daripada hama belalang.

     Tuhan mengutus Yoel untuk menyerukan pertobatan secara massal disertai dengan puasa.  "Tiuplah sangkakala di Sion, adakanlah puasa yang kudus, maklumkanlah perkumpulan raya; kumpulkanlah bangsa ini, kuduskanlah jemaah, himpunkanlah orang-orang yang tua, kumpulkanlah anak-anak, bahkan anak-anak yang menyusu; baiklah penganten laki-laki keluar dari kamarnya, dan penganten perempuan dari kamar tidurnya; baiklah para imam, pelayan-pelayan TUHAN, menangis di antara balai depan dan mezbah,"  (ayat 15-17).  Tujuan diadakannya puasa raya ini adalah untuk merendahkan diri dihadapan Tuhan dan bertobat.  Mereka juga diperintahkan untuk  'mengoyakkan hati', artinya datang kepada Tuhan dengan hati yang hancur dan patah, sebab tertulis:  "Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah."  (Mazmur 51:19);  dan inilah janji Tuhan,  "...umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka."  (2 Tawarikh 7:14).

     Sekarang ini bencana terjadi di mana-mana:  banjir bandang, gempa bumi, tindak kejahatan, konflik, perpecahan dan sebagainya  -yang tidak kalah hebat dari bencana belalang-  sedang terjadi.

Tuhan akan menyatakan kuasa-Nya untuk memulihkan keadaan yang ada apabila kita hidup dalam pertobatan, baik itu secara pribadi maupun bangsa.