Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 Agustus 2019
Baca: Markus 5:21-43
"Anakmu sudah mati, apa perlunya lagi engkau menyusah-nyusahkan Guru?" Markus 5:35
Yairus adalah kepada rumah ibadat atau pemimpin sinagoga. Itu artinya ia mempunyai kedudukan sosial yang tinggi di mata masyarakat. Nama 'Ýairus' memiliki arti: yang diterangi Tuhan. Ia mempunyai seorang anak perempuan yang hampir mati, maka ketika itu segeralah ia memohon agar Tuhan datang ke rumahnya untuk menolong. Tuhan pun merespons permintaan Yairus tersebut, lalu pergilah Dia dengan orang itu.
Di dalam bacaan kisah ini ada terselip satu peristiwa lain, yaitu wanita yang sakit pendarahan selama 12 tahun. Saat dalam perjalanan ke rumah Yairus wanita ini berusaha menjamah jubah Tuhan dengan berkata, "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh. Seketika itu juga berhentilah pendarahannya" (Markus 5:28-29). Merasa ada seseorang yang menjamah jubah-Nya, Tuhan pun menghentikan langkahnya, mendekati wanita itu dan berkata, "Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!" (Markus 5:34). Ketika bertemu dengan wanita yang sakit pendarahan itu seolah-olah Yairus terlupakan oleh Tuhan, karena Dia lebih fokus kepada wanita itu, padahal Yairus juga memiliki kebutuhan yang sangat mendesak dan tidak bisa ditunda-tunda karena ini berhubungan dengan nyawa anaknya. Sekalipun demikian Yairus tidak tersinggung atau marah kepada Tuhan yang seolah-olah menunda waktu untuk menolong.
Yairus tidak mengeluh, apalagi marah kepada Tuhan. Ia tetap sabar dalam menantikan pertolongan dari Tuhan. Sementara Yairus menunggu Tuhan datanglah orang dari keluarganya yang membawa kabar buruk yaitu anaknya sudah mati. Namun perlu diketahui bahwa iman itu tidak tergantung kepada apa yang manusia katakan, tapi apa yang Tuhan katakan: "Jangan takut, percaya saja!" (Markus 5:36). Sesampainya Tuhan di rumah Yairus dilihatnya banyak orang ribut, menangis dan meratapi kematian anak Yairus. Sekalipun tidak ada lagi harapan, Yairus tetap percaya kepada Tuhan. Tuhan bertindak menurut waktu-Nya. "...dipegang-Nya tangan anak itu, kata-Nya: 'Talita kum,' yang berarti: 'Hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah! Seketika itu juga anak itu bangkit berdiri dan berjalan, sebab umurnya sudah dua belas tahun.'" (Markus 5:41-42).
Tidak ada kata terlambat, pertolongan Tuhan selalu tepat pada waktu-Nya!
Thursday, August 15, 2019
Wednesday, August 14, 2019
TUHAN SANGGUP MEMAKAI SIAPA SAJA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 Agustus 2019
Baca: Keluaran 4:1-17
"Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah." Keluaran 4:10
Kita semua tahu bahwa di dalam Tuhan tidak ada perkara yang mustahil, karena Dia adalah Tuhan yang Mahakuasa dan Mahasanggup. Tapi dalam praktik hidup sehari-hari kita masih saja hidup dalam ketakutan, kekuatiran, keragu-raguan dan merasa pesimis.
Hal ini tidak hanya kita alami. Musa pun pernah merasakan hal yang sama ketika Tuhan memilih dia untuk menjadi pemimpin atas umat Israel. Tuhan berbicara kepada Musa, "...pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir." (Keluaran 3:10). Tuhan tidak pernah sembarangan dalam memilih dan mengutus seseorang. Kalau Tuhan memilih dan mengutus seseorang, Ia pasti akan memperlengkapi dengan kuasa dan juga memberikan kemampuan Ilahi. Untuk meyakinkan Musa tentang panggilan ini Tuhan mendemonstrasikan kuasa-Nya di depan mata kepala Musa sendiri: mengubah tongkat menjadi ular, membuat tangan Musa kena kusta putih seperti salju lalu memulihkannya. Bagaimana respons Musa? Berbagai alasan ia sampaikan kepada Tuhan untuk menolak dan menghindar dari panggilan-Nya: "Ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kauutus." (Keluaran 4:13), karena "...aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah." (Keluaran 4:10).
Bukankah kita sering berlaku seperti Musa, merasa diri tak bisa apa-apa, tak punya kemampuan, dan pesimis. Perhatikan! Tuhan tidak menuntut kita punya banyak keahlian atau segudang talenta, yang Ia inginkan dari kita adalah hati kita, maukah kita dibentuk Tuhan. Ingat kasus Bileam, seorang nabi bebal yang suka menerima upah untuk perbuatan-perbuatan jahatnya, yang ditegur Tuhan melalui seekor keledai. "Tetapi Bileam beroleh peringatan keras untuk kejahatannya, sebab keledai beban yang bisu berbicara dengan suara manusia dan mencegah kebebalan nabi itu." (2 Petrus 2:16). Kalau seekor keledai beban yang bisu dipakai Tuhan untuk menegur dan memperingatkan Bileam, bukankah kita ini lebih berharga dari seekor keledai?
Jangan mengeraskan hati dengan banyak dalih atau alasan selagi panggilan Tuhan itu masih menggema. Jangan pernah sia-siakan kesempatan yang Tuhan beri!
Baca: Keluaran 4:1-17
"Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah." Keluaran 4:10
Kita semua tahu bahwa di dalam Tuhan tidak ada perkara yang mustahil, karena Dia adalah Tuhan yang Mahakuasa dan Mahasanggup. Tapi dalam praktik hidup sehari-hari kita masih saja hidup dalam ketakutan, kekuatiran, keragu-raguan dan merasa pesimis.
Hal ini tidak hanya kita alami. Musa pun pernah merasakan hal yang sama ketika Tuhan memilih dia untuk menjadi pemimpin atas umat Israel. Tuhan berbicara kepada Musa, "...pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir." (Keluaran 3:10). Tuhan tidak pernah sembarangan dalam memilih dan mengutus seseorang. Kalau Tuhan memilih dan mengutus seseorang, Ia pasti akan memperlengkapi dengan kuasa dan juga memberikan kemampuan Ilahi. Untuk meyakinkan Musa tentang panggilan ini Tuhan mendemonstrasikan kuasa-Nya di depan mata kepala Musa sendiri: mengubah tongkat menjadi ular, membuat tangan Musa kena kusta putih seperti salju lalu memulihkannya. Bagaimana respons Musa? Berbagai alasan ia sampaikan kepada Tuhan untuk menolak dan menghindar dari panggilan-Nya: "Ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kauutus." (Keluaran 4:13), karena "...aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah." (Keluaran 4:10).
Bukankah kita sering berlaku seperti Musa, merasa diri tak bisa apa-apa, tak punya kemampuan, dan pesimis. Perhatikan! Tuhan tidak menuntut kita punya banyak keahlian atau segudang talenta, yang Ia inginkan dari kita adalah hati kita, maukah kita dibentuk Tuhan. Ingat kasus Bileam, seorang nabi bebal yang suka menerima upah untuk perbuatan-perbuatan jahatnya, yang ditegur Tuhan melalui seekor keledai. "Tetapi Bileam beroleh peringatan keras untuk kejahatannya, sebab keledai beban yang bisu berbicara dengan suara manusia dan mencegah kebebalan nabi itu." (2 Petrus 2:16). Kalau seekor keledai beban yang bisu dipakai Tuhan untuk menegur dan memperingatkan Bileam, bukankah kita ini lebih berharga dari seekor keledai?
Jangan mengeraskan hati dengan banyak dalih atau alasan selagi panggilan Tuhan itu masih menggema. Jangan pernah sia-siakan kesempatan yang Tuhan beri!
Tuesday, August 13, 2019
ADA TUHAN, TAK PERLU KITA TAKUT
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 Agustus 2019
Baca: Yesaya 41:8-20
"Sebab Aku ini, TUHAN, Allahmu, memegang tangan kananmu dan berkata kepadamu: 'Janganlah takut, Akulah yang menolong engkau.'" Yesaya 41:13
Banyak hal yang membuat seseorang mengalami ketakutan, kegentaran dan cemas: musibah, bencana alam, krisis, terorisme, perampokan, pembunuhan, ancaman, kegagalan, ataupun persaingan antar individu di segala aspek kehidupan. Bagi orang percaya yang benar-benar hidup melekat kepada Tuhan tak sepatutnya mengalami ketakutan yang berlarut-larut, sebab ada jaminan perlindungan dan keselamatan dari Tuhan.
Suatu ketika, murid-murid sedang berada di dalam perahu dan Kristus juga turut serta, tapi Ia sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Tiba-tiba taufan dahsyat mengamuk dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu sehingga perahu hampir penuh dengan air dan nyaris tenggelam. Murid-murid menjadi sangat takut dan segeralah mereka membangunkan Tuhan: "Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?" (Markus 4:38b). Tuhan segera bangun dan menghardik angin itu dan danau pun menjadi tenang. Berkatalah Tuhan kepada mereka, "Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?" (Markus 4:40). Para murid mengira bahwa Tuhan tidak mempedulikan dan membiarkan mereka binasa. Mereka lupa dengan mujizat-mujizat yang Guru sudah perbuat. Menghadapi amukan taufan yang sangat dahsyat iman mereka langsung melemah, karena takut perahunya akan tenggelam. Ketakutan seringkali membuat kita meragukan kuasa Tuhan; Ketakutan membuat kita mengalami kepanikan. Padahal dibutuhkan ketenangan untuk menghadapi suatu masalah, sebab "...dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu." (Yesaya 30:15).
Ketakutan apa yang saat ini sedang menyerang Saudara? Ingatlah selalu firman Tuhan dan pegang teguh janji Tuhan ini: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau." (Ibrani 13:5b). Tuhan juga menegaskan, "Sebab Aku ini, TUHAN, Allahmu, memegang tangan kananmu dan berkata kepadamu: 'Janganlah takut, Akulah yang menolong engkau.'" (ayat nas). Kalau Tuhan sendiri yang berkata: Jangan takut! Akulah yang menolong engkau!, masihkah kita ragu dan takut menghadapi hari-hari yang kita jalani?
Bersama dengan Tuhan kita cakap menghadapi dan menanggung segala sesuatu!
Baca: Yesaya 41:8-20
"Sebab Aku ini, TUHAN, Allahmu, memegang tangan kananmu dan berkata kepadamu: 'Janganlah takut, Akulah yang menolong engkau.'" Yesaya 41:13
Banyak hal yang membuat seseorang mengalami ketakutan, kegentaran dan cemas: musibah, bencana alam, krisis, terorisme, perampokan, pembunuhan, ancaman, kegagalan, ataupun persaingan antar individu di segala aspek kehidupan. Bagi orang percaya yang benar-benar hidup melekat kepada Tuhan tak sepatutnya mengalami ketakutan yang berlarut-larut, sebab ada jaminan perlindungan dan keselamatan dari Tuhan.
Suatu ketika, murid-murid sedang berada di dalam perahu dan Kristus juga turut serta, tapi Ia sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Tiba-tiba taufan dahsyat mengamuk dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu sehingga perahu hampir penuh dengan air dan nyaris tenggelam. Murid-murid menjadi sangat takut dan segeralah mereka membangunkan Tuhan: "Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?" (Markus 4:38b). Tuhan segera bangun dan menghardik angin itu dan danau pun menjadi tenang. Berkatalah Tuhan kepada mereka, "Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?" (Markus 4:40). Para murid mengira bahwa Tuhan tidak mempedulikan dan membiarkan mereka binasa. Mereka lupa dengan mujizat-mujizat yang Guru sudah perbuat. Menghadapi amukan taufan yang sangat dahsyat iman mereka langsung melemah, karena takut perahunya akan tenggelam. Ketakutan seringkali membuat kita meragukan kuasa Tuhan; Ketakutan membuat kita mengalami kepanikan. Padahal dibutuhkan ketenangan untuk menghadapi suatu masalah, sebab "...dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu." (Yesaya 30:15).
Ketakutan apa yang saat ini sedang menyerang Saudara? Ingatlah selalu firman Tuhan dan pegang teguh janji Tuhan ini: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau." (Ibrani 13:5b). Tuhan juga menegaskan, "Sebab Aku ini, TUHAN, Allahmu, memegang tangan kananmu dan berkata kepadamu: 'Janganlah takut, Akulah yang menolong engkau.'" (ayat nas). Kalau Tuhan sendiri yang berkata: Jangan takut! Akulah yang menolong engkau!, masihkah kita ragu dan takut menghadapi hari-hari yang kita jalani?
Bersama dengan Tuhan kita cakap menghadapi dan menanggung segala sesuatu!
Monday, August 12, 2019
SULITNYA MENEMUKAN ORANG JUJUR
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 Agustus 2019
Baca: Mikha 7:1-6
"Orang saleh sudah hilang dari negeri, dan tiada lagi orang jujur di antara manusia." Mikha 7:2a
Kalau kita mau berterus terang, di zaman seperti sekarang ini sulit rasanya mendapati orang yang benar-benar jujur. Kata 'jujur' bisa didefinisikan: 1. Hati yang lurus, tidak berbohong, berkata apa adanya. 2. Tidak curang. 3. Tulus ikhlas, tidak munafik atau bermuka dua. Kejujuran itu lahir dari hati yang bersih, dan kemudian terefleksi melalui perkataan dan perbuatannya. Mengapa kejujuran sulit ditemukan? Karena kebanyakan orang lebih mementingkan diri sendiri demi memperkaya diri sendiri, dan akhirnya orang akan menghalalkan segala cara, berkata bohong, menipu, mencuri atau sebagainya.
Mikha, utusan Tuhan, menyatakan dalam tulisannya tentang kemerosotan akhlak umat Israel. "Mereka semuanya mengincar darah, yang seorang mencoba menangkap yang lain dengan jaring. Tangan mereka sudah cekatan berbuat jahat; pemuka menuntut, hakim dapat disuap; pembesar memberi putusan sekehendaknya, dan hukum, mereka putar balikkan!" (Mikha 7:2b-3). Apa yang ditulis oleh Mikha ini tak jauh berbeda dengan keadaan manusia di masa sekarang ini. Apa pun situasi dan keadaannya, orang percaya dituntut untuk menunjukkan kualitas hidup yang tidak terbawa oleh arus dunia ini. Orang percaya dituntut untuk menjadi orang yang jujur di segala bidang kehidupan, sebab tanpa kejujuran tak mungkin kita akan mengalami kebahagiaan hidup. Contoh: bila dalam suatu keluarga, suami sudah tidak lagi berlaku jujur terhadap isteri atau sebaliknya, bisa dipastikan bahwa hubungan antar anggota keluarga akan dipenuhi dengan kecurigaan karena ada kepura-puraan atau ada sesuatu yang disembunyikan, dan tidak ada lagi kesatuan hati. Dampaknya? Tidak ada sukacita dan damai sejahtera.
Orang boleh saja mengatakan bahwa dirinya adalah orang yang jujur, tapi jika terhadap manusia yang kelihatan saja ia tidak bisa jujur, mustahil kalau dia bisa jujur terhadap Tuhan yang tidak dapat dilihatnya. Salomo menasihati, "Sebab itu tempuhlah jalan orang baik, dan peliharalah jalan-jalan orang benar. Karena orang jujurlah akan mendiami tanah, dan orang yang tak bercelalah yang akan tetap tinggal di situ," (Amsal 2:20-21).
Jalan orang jujur adalah menjauhi segala jenis kejahatan (Amsal 16:17).
Baca: Mikha 7:1-6
"Orang saleh sudah hilang dari negeri, dan tiada lagi orang jujur di antara manusia." Mikha 7:2a
Kalau kita mau berterus terang, di zaman seperti sekarang ini sulit rasanya mendapati orang yang benar-benar jujur. Kata 'jujur' bisa didefinisikan: 1. Hati yang lurus, tidak berbohong, berkata apa adanya. 2. Tidak curang. 3. Tulus ikhlas, tidak munafik atau bermuka dua. Kejujuran itu lahir dari hati yang bersih, dan kemudian terefleksi melalui perkataan dan perbuatannya. Mengapa kejujuran sulit ditemukan? Karena kebanyakan orang lebih mementingkan diri sendiri demi memperkaya diri sendiri, dan akhirnya orang akan menghalalkan segala cara, berkata bohong, menipu, mencuri atau sebagainya.
Mikha, utusan Tuhan, menyatakan dalam tulisannya tentang kemerosotan akhlak umat Israel. "Mereka semuanya mengincar darah, yang seorang mencoba menangkap yang lain dengan jaring. Tangan mereka sudah cekatan berbuat jahat; pemuka menuntut, hakim dapat disuap; pembesar memberi putusan sekehendaknya, dan hukum, mereka putar balikkan!" (Mikha 7:2b-3). Apa yang ditulis oleh Mikha ini tak jauh berbeda dengan keadaan manusia di masa sekarang ini. Apa pun situasi dan keadaannya, orang percaya dituntut untuk menunjukkan kualitas hidup yang tidak terbawa oleh arus dunia ini. Orang percaya dituntut untuk menjadi orang yang jujur di segala bidang kehidupan, sebab tanpa kejujuran tak mungkin kita akan mengalami kebahagiaan hidup. Contoh: bila dalam suatu keluarga, suami sudah tidak lagi berlaku jujur terhadap isteri atau sebaliknya, bisa dipastikan bahwa hubungan antar anggota keluarga akan dipenuhi dengan kecurigaan karena ada kepura-puraan atau ada sesuatu yang disembunyikan, dan tidak ada lagi kesatuan hati. Dampaknya? Tidak ada sukacita dan damai sejahtera.
Orang boleh saja mengatakan bahwa dirinya adalah orang yang jujur, tapi jika terhadap manusia yang kelihatan saja ia tidak bisa jujur, mustahil kalau dia bisa jujur terhadap Tuhan yang tidak dapat dilihatnya. Salomo menasihati, "Sebab itu tempuhlah jalan orang baik, dan peliharalah jalan-jalan orang benar. Karena orang jujurlah akan mendiami tanah, dan orang yang tak bercelalah yang akan tetap tinggal di situ," (Amsal 2:20-21).
Jalan orang jujur adalah menjauhi segala jenis kejahatan (Amsal 16:17).
Sunday, August 11, 2019
FIRMAN TUHAN LEBIH MANIS DARI MADU
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 Agustus 2019
Baca: Mazmur 119:97-114
"Betapa manisnya janji-Mu itu bagi langit-langitku, lebih dari pada madu bagi mulutku." Mazmur 119:103
Madu adalah cairan yang menyerupai sirup, tapi lebih kental dan berasa manis, dihasilkan oleh lebah dan serangga lainnya dari nektar bunga. Semua orang mengakui bahwa sejak dari zaman dahulu madu memiliki banyak khasiat bagi kesehatan tubuh manusia: memiliki kalori gula dan dapat menyerap lemak dengan baik, memiliki sifat antibiotik sehingga dapat digunakan sebagai antiseptik alami yang dapat digunakan dan tanpa ada efek samping, dan juga dapat meningkatkan kekebalan tubuh sehingga membuat tubuh kita tidak mudah terserang oleh penyakit.
Pemazmur menyatakan bahwa firman Tuhan itu manisnya lebih daripada madu. Hal ini menunjukkan betapa bermanfaatnya firman Tuhan bagi kehidupan orang percaya. Firman Tuhan adalah perkataan Tuhan sendiri, dimana ada kekuatan dan kuasa yang teramat dahsyat. Langit dan bumi dan segala isinya ini diciptakan Tuhan melalui perkataan-Nya. Jika Tuhan yang berkata-kata atau berfirman, semuanya pasti jadi, "...demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya." (Yesaya 55:11). Oleh karena itu kita harus mengimani setiap firman Tuhan, sebab firman Tuhan adalah sumber iman. "...iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus." (Roma 10:17). Seorang yang punya iman sejati takkan pernah takut dan gentar menghadapi persoalan hidup ini.
Firman Tuhan adalah pelita hidup kita, "Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku." (Mazmur 119:105). Di tengah dunia yang diliputi oleh kegelapan yang pekat ini kita sangat membutuhkan pelita untuk menjadi penerang bagi langkah-langkah kita, agar kita tak tersandung atau terpelecok. Karena itu kita membutuhkan firman Tuhan setiap hari. Semua yang ada di depan kita adalah sebuah misteri, tetapi bila kita senantiasa merenungkan firman Tuhan, kita akan dituntun kepada jalan-jalan Tuhan yang pasti. "Bila tersingkap, firman-firman-Mu memberi terang," (Mazmur 119:130).
Di dalam firman Tuhan terkandung kuasa yang dahsyat! Ia sanggup menyembuhkan, memulihkan dan menuntun kepada hidup yang berkemenangan!
Baca: Mazmur 119:97-114
"Betapa manisnya janji-Mu itu bagi langit-langitku, lebih dari pada madu bagi mulutku." Mazmur 119:103
Madu adalah cairan yang menyerupai sirup, tapi lebih kental dan berasa manis, dihasilkan oleh lebah dan serangga lainnya dari nektar bunga. Semua orang mengakui bahwa sejak dari zaman dahulu madu memiliki banyak khasiat bagi kesehatan tubuh manusia: memiliki kalori gula dan dapat menyerap lemak dengan baik, memiliki sifat antibiotik sehingga dapat digunakan sebagai antiseptik alami yang dapat digunakan dan tanpa ada efek samping, dan juga dapat meningkatkan kekebalan tubuh sehingga membuat tubuh kita tidak mudah terserang oleh penyakit.
Pemazmur menyatakan bahwa firman Tuhan itu manisnya lebih daripada madu. Hal ini menunjukkan betapa bermanfaatnya firman Tuhan bagi kehidupan orang percaya. Firman Tuhan adalah perkataan Tuhan sendiri, dimana ada kekuatan dan kuasa yang teramat dahsyat. Langit dan bumi dan segala isinya ini diciptakan Tuhan melalui perkataan-Nya. Jika Tuhan yang berkata-kata atau berfirman, semuanya pasti jadi, "...demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya." (Yesaya 55:11). Oleh karena itu kita harus mengimani setiap firman Tuhan, sebab firman Tuhan adalah sumber iman. "...iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus." (Roma 10:17). Seorang yang punya iman sejati takkan pernah takut dan gentar menghadapi persoalan hidup ini.
Firman Tuhan adalah pelita hidup kita, "Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku." (Mazmur 119:105). Di tengah dunia yang diliputi oleh kegelapan yang pekat ini kita sangat membutuhkan pelita untuk menjadi penerang bagi langkah-langkah kita, agar kita tak tersandung atau terpelecok. Karena itu kita membutuhkan firman Tuhan setiap hari. Semua yang ada di depan kita adalah sebuah misteri, tetapi bila kita senantiasa merenungkan firman Tuhan, kita akan dituntun kepada jalan-jalan Tuhan yang pasti. "Bila tersingkap, firman-firman-Mu memberi terang," (Mazmur 119:130).
Di dalam firman Tuhan terkandung kuasa yang dahsyat! Ia sanggup menyembuhkan, memulihkan dan menuntun kepada hidup yang berkemenangan!
Saturday, August 10, 2019
TIDAK ADA JANJI YANG TIDAK TUHAN TEPATI
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 Agustus 2019
Baca: 1 Raja-Raja 8:14-21
"Jadi TUHAN telah menepati janji yang telah diucapkan-Nya; aku telah bangkit menggantikan Daud, ayahku, dan telah duduk di atas takhta kerajaan Israel, seperti yang difirmankan TUHAN: aku telah mendirikan rumah ini untuk nama TUHAN, Allah Israel," 1 Raja-Raja 8:20
Dalam kehidupan di dunia ini ada begitu banyak orang yang suka berjanji, tapi sangat jarang orang bisa menepati apa yang dijanjikan. Janji yang tidak ditepati atau diingkari pasti akan menimbulkan rasa kecewa. Seorang gadis kecewa terhadap kekasihnya karena janji untuk dinikahi ternyata hanyalah janji palsu. Ini adalah salah satu contoh kekecewaan karena tidak menepati janji. Bukan hal yang mengejutkan lagi bila manusia mudah sekali mengingkari apa yang telah dijanjikan.
Oleh karena itu firman Tuhan mengajarkan kita untuk tidak berharap kepada manusia karena manusia memiliki banyak keterbatasan dan mudah sekali berubah. "Jangan berharap pada manusia, sebab ia tidak lebih dari pada embusan nafas, dan sebagai apakah ia dapat dianggap?" (Yesaya 2:22). Sampai hari ini sadar atau tidak, kita seringkali berharap dan terlena dengan janji-janji orang lain yang kita percayai dapat menolong: mungkin saja orang tersebut adalah orang kaya, teman dekat, saudara, orangtua, pemimpin rohani, atau orang yang berpangkat sekalipun. Berhentilah berharap kepada manusia dan mengandalkannya, sebelum Saudara mengalami kekecewaan. "Celakalah orang-orang yang pergi ke Mesir minta pertolongan, yang mengandalkan kuda-kuda, yang percaya kepada keretanya yang begitu banyak, dan kepada pasukan berkuda yang begitu besar jumlahnya, tetapi tidak memandang kepada Yang Mahakudus, Allah Israel, dan tidak mencari TUHAN." (Yesaya 31:1).
Bersyukurlah bila saat ini kita mengalami kekecewaan karena janji-janji manusia. Terkadang hal ini Tuhan ijinkan memberi pelajaran berharga kepada kita dan supaya mata rohani kita terbuka, bahwa menaruh pengharapan kepada manusia hanya akan berujung kepada kekecewaan. Berharaplah hanya kepada Tuhan dan andalkan Dia saja dlam segala hal, sebab Tuhan adalah Pribadi yang tidak pernah mengecewakan. Apa yang Tuhan janjikan pasti akan ditepati-Nya.
"Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya." Mazmur 25:10
Baca: 1 Raja-Raja 8:14-21
"Jadi TUHAN telah menepati janji yang telah diucapkan-Nya; aku telah bangkit menggantikan Daud, ayahku, dan telah duduk di atas takhta kerajaan Israel, seperti yang difirmankan TUHAN: aku telah mendirikan rumah ini untuk nama TUHAN, Allah Israel," 1 Raja-Raja 8:20
Dalam kehidupan di dunia ini ada begitu banyak orang yang suka berjanji, tapi sangat jarang orang bisa menepati apa yang dijanjikan. Janji yang tidak ditepati atau diingkari pasti akan menimbulkan rasa kecewa. Seorang gadis kecewa terhadap kekasihnya karena janji untuk dinikahi ternyata hanyalah janji palsu. Ini adalah salah satu contoh kekecewaan karena tidak menepati janji. Bukan hal yang mengejutkan lagi bila manusia mudah sekali mengingkari apa yang telah dijanjikan.
Oleh karena itu firman Tuhan mengajarkan kita untuk tidak berharap kepada manusia karena manusia memiliki banyak keterbatasan dan mudah sekali berubah. "Jangan berharap pada manusia, sebab ia tidak lebih dari pada embusan nafas, dan sebagai apakah ia dapat dianggap?" (Yesaya 2:22). Sampai hari ini sadar atau tidak, kita seringkali berharap dan terlena dengan janji-janji orang lain yang kita percayai dapat menolong: mungkin saja orang tersebut adalah orang kaya, teman dekat, saudara, orangtua, pemimpin rohani, atau orang yang berpangkat sekalipun. Berhentilah berharap kepada manusia dan mengandalkannya, sebelum Saudara mengalami kekecewaan. "Celakalah orang-orang yang pergi ke Mesir minta pertolongan, yang mengandalkan kuda-kuda, yang percaya kepada keretanya yang begitu banyak, dan kepada pasukan berkuda yang begitu besar jumlahnya, tetapi tidak memandang kepada Yang Mahakudus, Allah Israel, dan tidak mencari TUHAN." (Yesaya 31:1).
Bersyukurlah bila saat ini kita mengalami kekecewaan karena janji-janji manusia. Terkadang hal ini Tuhan ijinkan memberi pelajaran berharga kepada kita dan supaya mata rohani kita terbuka, bahwa menaruh pengharapan kepada manusia hanya akan berujung kepada kekecewaan. Berharaplah hanya kepada Tuhan dan andalkan Dia saja dlam segala hal, sebab Tuhan adalah Pribadi yang tidak pernah mengecewakan. Apa yang Tuhan janjikan pasti akan ditepati-Nya.
"Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya." Mazmur 25:10
Friday, August 9, 2019
MILIKI INDERA ROHANI YANG SEHAT (3)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 9 Agustus 2019
Baca: Amsal 4:1-27
"Berpeganglah pada didikan, janganlah melepaskannya, peliharalah dia, karena dialah hidupmu." Amsal 4:13
Daud, karena arah pandangan matanya salah, ia pun jatuh dalam dosa perzinahan. "Sekali peristiwa pada waktu petang, ketika Daud bangun dari tempat pembaringannya, lalu berjalan-jalan di atas sotoh istana, tampak kepadanya dari atas sotoh itu seorang perempuan sedang mandi; perempuan itu sangat elok rupanya." (2 Samuel 11:2). Dan "Sesudah itu Daud menyuruh orang mengambil dia. Perempuan itu datang kepadanya, lalu Daud tidur dengan dia." (2 Samuel 11:4a). Ada konsekuensi yang harus Daud tanggung atas perbuatannya ini: "...karena engkau dengan perbuatan ini telah sangat menista TUHAN, pastilah anak yang lahir bagimu itu akan mati." (2 Samuel 12:14).
Berhati-hatilah dengan mata Saudara! Sebab, "Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu." (Matius 6:22-23). Tuhan memperingatkan dengan keras: "...jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka." (Matius 5:29). 4. Perhatikanlah langkah kaki. "Tempuhlah jalan yang rata dan hendaklah tetap segala jalanmu. Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, jauhkanlah kakimu dari kejahatan." (Amsal 26-27). Menempuh jalan yang rata dan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri berarti kita harus menjauhi segala bentuk kejahatan.
Di tengah dunia yang penuh kejahatan ini, mampukah kita bertindak seperti Yusuf yang punya keberanian untuk lari meninggalkan isteri Potifar, bukti bahwa ia tidak ingin berkompromi dan mencemarkan diri dengan dosa (Kejadian 39:12)? Sebagai orang percaya, kita dipanggil bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus (1 Tesalonika 4:7). Oleh sebab itu, "Janganlah menempuh jalan orang fasik, dan janganlah mengikuti jalan orang jahat. Jauhilah jalan itu, janganlah melaluinya, menyimpanglah dari padanya dan jalanlah terus." (Amsal 4:14-15).
Mampu menjaga hati, menjaga lidah, menjaga mata, dan menjaga langkah kaki agar tetap berkenan kepada Tuhan adalah kunci untuk memiliki hidup yang baik.
Baca: Amsal 4:1-27
"Berpeganglah pada didikan, janganlah melepaskannya, peliharalah dia, karena dialah hidupmu." Amsal 4:13
Daud, karena arah pandangan matanya salah, ia pun jatuh dalam dosa perzinahan. "Sekali peristiwa pada waktu petang, ketika Daud bangun dari tempat pembaringannya, lalu berjalan-jalan di atas sotoh istana, tampak kepadanya dari atas sotoh itu seorang perempuan sedang mandi; perempuan itu sangat elok rupanya." (2 Samuel 11:2). Dan "Sesudah itu Daud menyuruh orang mengambil dia. Perempuan itu datang kepadanya, lalu Daud tidur dengan dia." (2 Samuel 11:4a). Ada konsekuensi yang harus Daud tanggung atas perbuatannya ini: "...karena engkau dengan perbuatan ini telah sangat menista TUHAN, pastilah anak yang lahir bagimu itu akan mati." (2 Samuel 12:14).
Berhati-hatilah dengan mata Saudara! Sebab, "Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu." (Matius 6:22-23). Tuhan memperingatkan dengan keras: "...jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka." (Matius 5:29). 4. Perhatikanlah langkah kaki. "Tempuhlah jalan yang rata dan hendaklah tetap segala jalanmu. Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, jauhkanlah kakimu dari kejahatan." (Amsal 26-27). Menempuh jalan yang rata dan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri berarti kita harus menjauhi segala bentuk kejahatan.
Di tengah dunia yang penuh kejahatan ini, mampukah kita bertindak seperti Yusuf yang punya keberanian untuk lari meninggalkan isteri Potifar, bukti bahwa ia tidak ingin berkompromi dan mencemarkan diri dengan dosa (Kejadian 39:12)? Sebagai orang percaya, kita dipanggil bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus (1 Tesalonika 4:7). Oleh sebab itu, "Janganlah menempuh jalan orang fasik, dan janganlah mengikuti jalan orang jahat. Jauhilah jalan itu, janganlah melaluinya, menyimpanglah dari padanya dan jalanlah terus." (Amsal 4:14-15).
Mampu menjaga hati, menjaga lidah, menjaga mata, dan menjaga langkah kaki agar tetap berkenan kepada Tuhan adalah kunci untuk memiliki hidup yang baik.
Thursday, August 8, 2019
MILIKI INDERA ROHANI YANG SEHAT (2)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 Agustus 2019
Baca: Amsal 4:1-27
"Hai anakku, dengarkanlah dan terimalah perkataanku, supaya tahun hidupmu menjadi banyak." Amsal 4:10
Hal penting lain yang harus dijaga dan dipelihara adalah: 2. Lidah atau bibir kita. Karena itu "Buanglah mulut serong dari padamu dan jauhkanlah bibir yang dolak-dalik dari padamu." (Amsal 4:24). Lidah itu bagian dari anggota tubuh yang kecil, namun memiliki dampak yang sangat luar biasa bagi kehidupan manusia. "Dan lihat saja kapal-kapal, walaupun amat besar dan digerakkan oleh angin keras, namun dapat dikendalikan oleh kemudi yang amat kecil menurut kehendak jurumudi. Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar." (Yakobus 3:4-5a). Dengan lidah kita bisa memberkati, menguatkan, membangun dan menghibur orang lain. Akan tetapi, dengan lidah yang sama kita juga bisa menjadi batu sandungan bagi orang lain. Dengan perkataan lidah kita, kita membangkitkan semangat orang lain, tapi juga dapat melemahkan dan membuat orang lain frustasi.
3. Pandangan mata. "Biarlah matamu memandang terus ke depan dan tatapan matamu tetap ke muka." (Amsal 4:25). Banyak orang Kristen mengalami kegagalan dalam hidupnya, tak mengalami penggenapan janji-janji Tuhan, karena mereka tak bisa menjaga 'mata'nya dengan baik dan benar. Mata mereka selalu tertuju kepada besarnya masalah dan situasi yang ada. Semakin mata kita tertuju kepada masalah atau situasi, semakin kita menjadi lemah, karena hati kita akan diliputi oleh ketakutan, kekuatiran, kecemasan, dan ketidakpercayaan. Bujang Elisa yaitu Gehazi, mengalami ketakutan yang luar biasa ketika melihat tentara dengan kuda dan kereta musuh mengepung kota Dotan. "Celaka tuanku! Apakah yang akan kita perbuat?" (2 Raja-Raja 6:15). Keadaan akan berbeda bila kita senantiasa mengarahkan pandangan mata kita kepada Tuhan dan perbuatan-Nya yang dahsyat, maka segala ketakutan, kekuatiran dan kecemasan, sirna.
Tidak sedikit orang Kristen yang tak dapat menjaga matanya dengan baik dan benar. Mereka memfungsikan matanya untuk melihat hal-hal yang tidak baik atau bertentangan dengan firman Tuhan, melihat hal-hal yang membangkitkan keinginan daging atau hawa nafsu. "Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut." (Yakobus 1:15).
Baca: Amsal 4:1-27
"Hai anakku, dengarkanlah dan terimalah perkataanku, supaya tahun hidupmu menjadi banyak." Amsal 4:10
Hal penting lain yang harus dijaga dan dipelihara adalah: 2. Lidah atau bibir kita. Karena itu "Buanglah mulut serong dari padamu dan jauhkanlah bibir yang dolak-dalik dari padamu." (Amsal 4:24). Lidah itu bagian dari anggota tubuh yang kecil, namun memiliki dampak yang sangat luar biasa bagi kehidupan manusia. "Dan lihat saja kapal-kapal, walaupun amat besar dan digerakkan oleh angin keras, namun dapat dikendalikan oleh kemudi yang amat kecil menurut kehendak jurumudi. Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar." (Yakobus 3:4-5a). Dengan lidah kita bisa memberkati, menguatkan, membangun dan menghibur orang lain. Akan tetapi, dengan lidah yang sama kita juga bisa menjadi batu sandungan bagi orang lain. Dengan perkataan lidah kita, kita membangkitkan semangat orang lain, tapi juga dapat melemahkan dan membuat orang lain frustasi.
3. Pandangan mata. "Biarlah matamu memandang terus ke depan dan tatapan matamu tetap ke muka." (Amsal 4:25). Banyak orang Kristen mengalami kegagalan dalam hidupnya, tak mengalami penggenapan janji-janji Tuhan, karena mereka tak bisa menjaga 'mata'nya dengan baik dan benar. Mata mereka selalu tertuju kepada besarnya masalah dan situasi yang ada. Semakin mata kita tertuju kepada masalah atau situasi, semakin kita menjadi lemah, karena hati kita akan diliputi oleh ketakutan, kekuatiran, kecemasan, dan ketidakpercayaan. Bujang Elisa yaitu Gehazi, mengalami ketakutan yang luar biasa ketika melihat tentara dengan kuda dan kereta musuh mengepung kota Dotan. "Celaka tuanku! Apakah yang akan kita perbuat?" (2 Raja-Raja 6:15). Keadaan akan berbeda bila kita senantiasa mengarahkan pandangan mata kita kepada Tuhan dan perbuatan-Nya yang dahsyat, maka segala ketakutan, kekuatiran dan kecemasan, sirna.
Tidak sedikit orang Kristen yang tak dapat menjaga matanya dengan baik dan benar. Mereka memfungsikan matanya untuk melihat hal-hal yang tidak baik atau bertentangan dengan firman Tuhan, melihat hal-hal yang membangkitkan keinginan daging atau hawa nafsu. "Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut." (Yakobus 1:15).
Wednesday, August 7, 2019
MILIKI INDERA ROHANI YANG SEHAT (1)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 7 Agustus 2019
Baca: Amsal 4:1-27
"Janganlah meninggalkan hikmat itu, maka engkau akan dipeliharanya, kasihilah dia, maka engkau akan dijaganya." Amsal 4:6
Pancaindera merupakan bagian atau organ tubuh manusia yang sangat penting. Kelima alat indera itu meliputi: mata (indera penglihatan), telinga (indera pendengaran), hidung (indera pembau/penciuman), lidah (indera pengecap) dan kulit (indera peraba). Bila salah satu dari pancaindera tersebut mengalami gangguan atau tidak dapat berfungsi dengan baik akan mempengaruhi kelangsungan hidup seseorang. Maka dari itu kita harus menjaga pancaindera tubuh kita dengan sebaik mungkin agar tetap terjaga kesehatannya.
Begitu pula dalam kehidupan rohani, kita pun harus bisa menjaga indera tubuh rohani kita dengan baik dan melatihnya secara konsisten. Indera rohani yang terlatih akan menunjukkan kedewasaan rohani seseorang, seperti tertulis: "...orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat." (Ibrani 5:14). Ketahuilah bahwa kehidupan kekristenan itu digambarkan seperti gelanggang perlombaan iman. Mungkinkah seseorang, yang jika salah satu dari anggota tubuhnya tidak sehat atau sakit, bisa menang dalam perlombaan?
Agar tubuh rohani tetap sehat dan bugar: 1. Jagalah hatimu. Mengapa kita harus menjaga hati kita? Karena hati adalah pusat kehidupan manusia. "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." (Amsal 4:23). Hati yang tidak dijaga dengan penuh kewaspadaan membuka celah yang selebar-lebarnya bagi Iblis untuk menyerang area kehidupan kita. Ingat! Setiap perkataan yang keluar dari mulut kita itu meluap dari hati (Matius 12:34b). Bila hati kita ini bersih, maka yang terpancar keluar pastilah hal-hal yang baik dan benar. Sebaliknya bila hati kita dipenuhi dengan segala macam kotoran, maka keburukan dan hal-hal negatiflah yang akan mengalir keluar, "Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat." (Matius 15:19). Alkitab menyatakan bahwa kesehatan tubuh jasmani kita ini juga sangat dipengaruhi oleh keadaan hati kita. "Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang." (Amsal 17:22). Agar hati kita bersih, "...aku menyimpan janji-Mu," (Mazmur 119:11), selalu merenungkan firman Tuhan dan menyimpannya dalam hati.
Baca: Amsal 4:1-27
"Janganlah meninggalkan hikmat itu, maka engkau akan dipeliharanya, kasihilah dia, maka engkau akan dijaganya." Amsal 4:6
Pancaindera merupakan bagian atau organ tubuh manusia yang sangat penting. Kelima alat indera itu meliputi: mata (indera penglihatan), telinga (indera pendengaran), hidung (indera pembau/penciuman), lidah (indera pengecap) dan kulit (indera peraba). Bila salah satu dari pancaindera tersebut mengalami gangguan atau tidak dapat berfungsi dengan baik akan mempengaruhi kelangsungan hidup seseorang. Maka dari itu kita harus menjaga pancaindera tubuh kita dengan sebaik mungkin agar tetap terjaga kesehatannya.
Begitu pula dalam kehidupan rohani, kita pun harus bisa menjaga indera tubuh rohani kita dengan baik dan melatihnya secara konsisten. Indera rohani yang terlatih akan menunjukkan kedewasaan rohani seseorang, seperti tertulis: "...orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat." (Ibrani 5:14). Ketahuilah bahwa kehidupan kekristenan itu digambarkan seperti gelanggang perlombaan iman. Mungkinkah seseorang, yang jika salah satu dari anggota tubuhnya tidak sehat atau sakit, bisa menang dalam perlombaan?
Agar tubuh rohani tetap sehat dan bugar: 1. Jagalah hatimu. Mengapa kita harus menjaga hati kita? Karena hati adalah pusat kehidupan manusia. "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." (Amsal 4:23). Hati yang tidak dijaga dengan penuh kewaspadaan membuka celah yang selebar-lebarnya bagi Iblis untuk menyerang area kehidupan kita. Ingat! Setiap perkataan yang keluar dari mulut kita itu meluap dari hati (Matius 12:34b). Bila hati kita ini bersih, maka yang terpancar keluar pastilah hal-hal yang baik dan benar. Sebaliknya bila hati kita dipenuhi dengan segala macam kotoran, maka keburukan dan hal-hal negatiflah yang akan mengalir keluar, "Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat." (Matius 15:19). Alkitab menyatakan bahwa kesehatan tubuh jasmani kita ini juga sangat dipengaruhi oleh keadaan hati kita. "Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang." (Amsal 17:22). Agar hati kita bersih, "...aku menyimpan janji-Mu," (Mazmur 119:11), selalu merenungkan firman Tuhan dan menyimpannya dalam hati.
Tuesday, August 6, 2019
SULIT MASUK KERAJAAN SORGA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 6 Agustus 2019
Baca: Markus 10:17-27
"Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah." Markus 10:25
Dalam pembacaan Alkitab hari ini dikisahkan tentang seorang yang kaya yang merasa dirinya sudah melakukan perintah Tuhan secara lengkap. "...semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku." (Markus 10:20). Orang kaya itu pun merasa yakin bahwa ia akan mendapatkan acungan jempol (pujian) dari Tuhan dan hidup yang kekal menjadi miliknya. Namun, apa yang Tuhan katakan? "Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." (Markus 10:21).
Bagaimana respons orang kaya itu setelah mendengar apa yang Tuhan perintahkan? "Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya." (Markus 10:22). Ia kecewa dan sedih karena diperintahkan Tuhan untuk menjual hartanya dan juga membagikannya kepada orang miskin. Keengganannya untuk melakukan apa yang diperintahkan Tuhan ini menunjukkan bahwa orang kaya tersebut lebih mencintai hartanya daripada Tuhan. Ia rela kehilangan Guru yang baik karena lebih memilih harta duniawi. Sungguh benar apa yang Alkitab katakan: "...di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada." (Matius 6:21).
Tuhan menegaskan bahwa ketika seseorang menempatkan uang, harta atau kekayaannya sebagai yang terutama dan segala-galanya, sulit bagi orang tersebut untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. "Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah." (Markus 10:23). Adalah "Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah." (ayat nas). Orang kaya yang hanya memikirkan harta duniawi yang sifatnya sementara dan mengabaikan perkara-perkara rohani yang sifatnya kekal, sulit untuk bisa masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Namun Tuhan mengatakan bahwa tidak ada yang tak mungkin bagi orang kaya untuk masuk Kerajaan Sorga asalkan hatinya tidak terpaut kepada harta itu; asalkan ia mau memrioritaskan Tuhan, menempatkan perkara-perkara rohani sebagai yang terutama dalam hidupnya, hidup dalam ketaatan, dan menjadi berkat.
Selama hati masih berpaut kepada harta duniawi, sulit rasanya mencapai sorga!
Baca: Markus 10:17-27
"Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah." Markus 10:25
Dalam pembacaan Alkitab hari ini dikisahkan tentang seorang yang kaya yang merasa dirinya sudah melakukan perintah Tuhan secara lengkap. "...semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku." (Markus 10:20). Orang kaya itu pun merasa yakin bahwa ia akan mendapatkan acungan jempol (pujian) dari Tuhan dan hidup yang kekal menjadi miliknya. Namun, apa yang Tuhan katakan? "Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." (Markus 10:21).
Bagaimana respons orang kaya itu setelah mendengar apa yang Tuhan perintahkan? "Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya." (Markus 10:22). Ia kecewa dan sedih karena diperintahkan Tuhan untuk menjual hartanya dan juga membagikannya kepada orang miskin. Keengganannya untuk melakukan apa yang diperintahkan Tuhan ini menunjukkan bahwa orang kaya tersebut lebih mencintai hartanya daripada Tuhan. Ia rela kehilangan Guru yang baik karena lebih memilih harta duniawi. Sungguh benar apa yang Alkitab katakan: "...di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada." (Matius 6:21).
Tuhan menegaskan bahwa ketika seseorang menempatkan uang, harta atau kekayaannya sebagai yang terutama dan segala-galanya, sulit bagi orang tersebut untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. "Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah." (Markus 10:23). Adalah "Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah." (ayat nas). Orang kaya yang hanya memikirkan harta duniawi yang sifatnya sementara dan mengabaikan perkara-perkara rohani yang sifatnya kekal, sulit untuk bisa masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Namun Tuhan mengatakan bahwa tidak ada yang tak mungkin bagi orang kaya untuk masuk Kerajaan Sorga asalkan hatinya tidak terpaut kepada harta itu; asalkan ia mau memrioritaskan Tuhan, menempatkan perkara-perkara rohani sebagai yang terutama dalam hidupnya, hidup dalam ketaatan, dan menjadi berkat.
Selama hati masih berpaut kepada harta duniawi, sulit rasanya mencapai sorga!
Subscribe to:
Comments (Atom)