Tuesday, October 27, 2020

MENGALAH TIDAK SAMA DENGAN KALAH

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 27 Oktober 2020

Baca:  Kejadian 13:1-18

"Bukankah seluruh negeri ini terbuka untuk engkau? Baiklah pisahkan dirimu dari padaku; jika engkau ke kiri, maka aku ke kanan, jika engkau ke kanan, maka aku ke kiri."  Kejadian 13:9

Dunia saat ini dipenuhi dengan orang-orang yang maunya menang sendiri dan tak mau mengalah, karena mereka berprinsip bahwa mengalah adalah hal yang memalukan, tanda tak mampu.  Mereka berkata,  "Kalau kita mengalah kita akan diremehkan, disepelekan dan direndahkan oleh orang lain."  Mengalah bukan berarti kalah, tapi mengacu kepada satu sikap yang mau merendahkan diri.  Sebaliknya tindakan yang tidak mau mengalah atau tak mau dikalahkan menunjukkan sikap mementingkan diri sendiri  (egois).  Banyak kegagalan terjadi, baik dalam kehidupan keluarga  (rumah tangga) atau dalam pekerjaan Tuhan, ketika masing-masing individu tak mau mengalah, mengedepankan ego sendiri.  Akhirnya terjadilah silang pendapat, cekcok, perselisihan dan pertengkaran!

     Abraham adalah orang pilihan Tuhan dan beroleh janji Tuhan untuk menjadi berkat bagi bangsa-bangsa  (Kejadian 12:1-3).  Predikat yang disandang oleh Abraham ini bukanlah hal yang mudah untuk diraih, tetapi ada harga yang harus dibayar, yaitu taat dan sikap mau mengalah.  Seiring berjalannya waktu hidup Abraham semakin diberkati.  "...banyak ternak, perak dan emasnya."  (Kejadian 13:2), dan pada waktu itu Lot  (keponakannya)  turut serta.  Suatu ketika terjadi pertentangan antara hamba-hamba Abraham dan Lot yang berebut tempat penggembalaan  (Kejadian 13:8).  Yang dilakukan Abraham adalah justru mengalah dan memberi kesempatan kepada Lot untuk memilih area terlebih dahulu, padahal Lot yang seharusnya mengalah kepada pamannya.  Abraham berusaha untuk menguasai diri, mengesampingkan ego dan menaklukkan kedagingannya, ia tahu bahwa Tuhan punya rencana besar atas hidupnya.  Di sisi lain Lot menggunakan jurus aji mumpung dan tidak menyia-nyiakan kesempatan:  dipilihnyalah lembah Yordan yang menurut penilaian kasat mata lebih menjanjikan, tapi pada akhirnya apa yang dipandang baik menurut penilaian manusia justru menjadi penyebab kehancuran.

     Tuhan memperhitungkan kerendahan hati yang ditunjukkan oleh Abraham ini!

Sikap mau mengalah ini adalah kesempatan bagi Abraham untuk melihat campur tangan Tuhan dalam hidupnya!

Monday, October 26, 2020

DITEGUR TUHAN = DIKASIHI TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 26 Oktober 2020

Baca:  Amsal 1:20-33

"Berpalinglah kamu kepada teguranku! Sesungguhnya, aku hendak mencurahkan isi hatiku kepadamu dan memberitahukan perkataanku kepadamu."  Amsal 1:23

Kebanyakan orang tidak suka bila ditegur oleh orang lain!  Sekalipun sudah jelas-jelas melakukan kesalahan, orang-orang yang tak berjiwa besar tak mau mengakui kesalahan yang diperbuatnya, malah merasa tersinggung, marah dan menyalahkan orang lain saat ditegur.  Banyak orang Kristen yang ngambek dan kemudian mogok tak mau lagi beribadah, malah pindah ke gereja lain, karena merasa tersinggung dengan teguran firman Tuhan yang disampaikan hamba Tuhan di atas mimbar, apalagi teguran tersebut berkenaan dengan dosa.

     Jika Tuhan menegur kesalahan atau dosa yang telah kita perbuat seharusnya kita bersyukur dan berbahagia.  Mengapa?  Teguran Tuhan adalah bukti bahwa Dia sangat memperhatikan dan mengasihi kita.  Terkadang teguran-Nya memang keras dan menyakitkan tapi bertujuan mendidik kita:  "Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak."  (Ibrani 12:5-6).  Adakah seorang anak yang tidak pernah ditegur oleh bapanya?  Tuhan menegur kita supaya kita tidak tersesat dan menyimpang jauh dari jalan-jalan-Nya, sebab menyimpang dari jalan Tuhan berarti sedang berjalan menuju kepada kehancuran dan kebinasaan.  Pemazmur menyadarinya:  "Sebelum aku tertindas, aku menyimpang, tetapi sekarang aku berpegang pada janji-Mu. Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu."  (Mazmur 119:67, 71).  Pemazmur bersyukur ketika ia ditegur oleh Tuhan karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuatnya.

     Milikilah respons hati yang benar saat ditegur Tuhan!  Teguran Tuhan menjadi kesempatan untuk kita meminta pengampunan Tuhan dan berkesempatan memperbaiki diri.  Teguran Tuhan selalu mendatangkan pemulihan:  saat kita mengakui kesalahan, memohon pengampunan, Dia pasti menyatakan kasih-Nya dan memulihkan keadaan kita.  Teguran Tuhan bertujuan mengoreksi hidup kita dan membuat kita semakin peka rohani.

Bersyukurlah dan jangan sekali-kali memberontak bila ditegur Tuhan!

Sunday, October 25, 2020

TAK MEMPERHATIKAN RUMAH TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 25 Oktober 2020

Baca:  Hagai 1:1-14

"...datanglah mereka, lalu melakukan pekerjaan pembangunan rumah TUHAN semesta alam..."  Hagai 1:14

Kitab Hagai ini bisa disebut kitab yang singkat karena hanya terdiri dari 2 pasal saja, dan tergolong sebagai kitab nabi kecil karena tulisannya yang singkat:  menceritakan tentang kehidupan umat Tuhan menjelang pembuangan dan setelah pembuangan.  Melalui nabi Hagai ini Tuhan menegur umat Israel dengan keras oleh karena mereka mengabaikan pembangunan rumah Tuhan dan lebih mengutamakan kepentingan diri sendiri.  Akibatnya?  Mereka harus mengalami kesukaran dan permasalahan hidup yang berat:  menabur banyak tapi membawa pulang hasil yang sedikit:  "...ia bekerja untuk upah yang ditaruh dalam pundi-pundi yang berlobang!"  (Hagai 1:6).  Firman Tuhan juga memperingatkan agar kita mendahulukan kerajaan-Nya dan kebenaran-Nya  (Matius 6:33).

     Berbicara tentang  'rumah Tuhan atau gereja'  ada beberapa makna:  1.  Rumah Tuhan secara fisik.  Alkitab menyatakan bahwa mereka begitu memperhatikan rumahnya masing-masing sedemikian rupa:  rumah sendiri dipapani dengan kayu aras, sedangkan rumah Tuhan dibiarkan tetap menjadi reruntuhan.  2.  Persekutuan orang percaya.  Tempat berbakti dan melayani.  Kata  'gereja'  (bahasa Yunani Ekklesia):  secara harafian  (ek:  keluar dan kaleo:  memanggil), yang berarti persekutuan orang-orang yang dipanggil Tuhan keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib  (1 Petrus 2:9-10);  orang-orang yang dipisahkan dari dunia bagi Kristus dan dikhususkan untuk melayani Dia.  Dengan kata lain gereja adalah kumpulan orang percaya yang Tuhan persiapkan untuk mengerjakan Amanat Agung-Nya di tengah dunia ini.  Banyak orang Kristen tak menghiraukan panggilan Tuhan ini dengan berbagai alasan dan dalih:  sibuk urusan sendiri, mengejar hal-hal duniawi, lalu mengabaikan ibadah.

     3.  Tubuh kita.  Alkitab menegaskan bahwa tubuh kita ini bait Tuhan, tempat Roh Kudus tinggal.  Jaga dan peliharalah dengan baik, jangan sampai kita mengotori bait Tuhan ini dengan segala bentuk kenajisan atau kecemaran, sebab bait Tuhan itu kudus, dan bait Tuhan itu kita sendiri  (1 Korintus 3:16-17).  Oleh karena itu kita diperintahkan untuk memuliakan Tuhan dengan tubuh kita  (1 Korintus 6:20).

Perhatikan  'rumah Tuhan'  dan jaga diri sendiri!

Saturday, October 24, 2020

TUHAN AKAN DATANG: Makin Giatlah Bekerja

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 24 Oktober 2020

Baca:  2 Tesalonika 3:1-15

"Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan."  2 Tesalonika 3:10

Dalam suratnya ini rasul Paulus mengingatkan, jika orang tidak mau bekerja janganlah ia makan  (ayat nas)!  Makanan adalah sumber kehidupan bagi manusia, dan untuk mendapatkan sumber kehidupan tersebut kita harus bekerja dan berusaha.  Dengan kata lain orang yang bekerja dengan sungguhlah yang layak untuk mendapatkan dan menikmati sumber tersebut, bukan orang yang bermalas-malasan.  Tuhan senang melihat orang yang suka bekerja, sebab Ia pun bekerja, seperti tertulis:  "Bapa-Ku terus bekerja sampai sekarang, dan Aku pun bekerja."  (Yohanes 5:17).

     Karena Tuhan terus berkarya maka kita tak perlu kuatir akan masa depan hidup kita, karena Dia pasti menggenapi rencana-Nya!  "...Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus."  (Filipi 1:6), dan  "Sesungguhnya seperti yang Kumaksud, demikianlah akan terjadi, dan seperti yang Kurancang, demikianlah akan terlaksana:" (Yesaya 14:24).  Rancangan Tuhan atas hidup kita, yaitu  "...rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan."  (Yeremia 29:11), cepat atau lambat pasti digenapi.  Karena Tuhan terus bekerja, berarti Ia akan tetap menyertai hidup kita sebagaimana yang dijanjikan-Nya, yaitu penyertaan-Nya sampai kepada akhir zaman  (Matius 28:20b).  Sekalipun dunia bergelora dengan hebatnya dan dipenuhi dengan goncangan kita tak perlu takut, karena anak-anak-Nya menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan  (Ibrani 12:28).  Jika Tuhan kita bekerja sedemikian rupa, sebagai anak-anak-Nya haruslah kita mewarisi karakter-Nya dan meneladani-Nya.  Rasul Paulus menasihati,  "Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan."  (Roma 12:11).

     Selagi ada waktu dan kesempatan mari kita semakin bersemangat dalam bekerja bagi Tuhan!  Tapi di masa-masa akhir ini banyak dijumpai orang Kristen yang  "...tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna."  (2 Tesalonika 3:11):  mengkritik, menghakimi, atau menjadi penonton saja di gereja.

Tuhan menyediakan upah-Nya bagi orang yang bekerja bagi kerajaan-Nya!

Friday, October 23, 2020

GARAM YANG TIDAK LAGI ASIN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 23 Oktober 2020

Baca:  Lukas 14:25-35

"Garam memang baik, tetapi jika garam juga menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan?"  Lukas 14:34

Orang percaya dipanggil Tuhan untuk memiliki kehidupan yang berbeda dari dunia, dan dapat memberi  'rasa'  bagi dunia ini:  "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang."  (Matius 5:13).  Karena kita digambarkan sebagai garam dunia, maka garam tidak boleh kehilangan rasa asin atau menjadi tawar.  Kata  'garam'  berbicara tentang pengaruh yang baik.  Seperti garam yang memberikan rasa asin pada makanan, sehingga makanan terasa nikmat saat dimakan, demikianlah halnya dengan anak-anak Tuhan, seharusnya memberikan dampak atau pengaruh yang positif bagi dunia.

     Di Perjanjian Lama salah satu korban yang dipersembahkan umat Israel kepada Tuhan adalah korban sajian, dan ketika mempersembahkan korban ini mereka harus membubuhkan garam di dalamnya:  "Dan tiap-tiap persembahanmu yang berupa korban sajian haruslah kaububuhi garam,...segala persembahanmu haruslah kaupersembahkan garam."  (Imamat 2:13).  Korban sajian ini mengandung arti ungkapan penghormatan kepada Tuhan yang telah menyelamatkan umat-Nya.  Ketika mempersembahkan korban kepada Tuhan, umat Israel mendapatkan pengampunan dosa.  Umat Israel mengungkapkan rasa syukurnya kepada Tuhan dengan cara mempersembahkan korban sajian sebagai respons terhadap pengampunan yang telah diterima ini.

     Hidup orang percaya haruslah seperti garam yang dapat membawa rasa, bukan garam hambar yang sudah kehilangan rasa asinnya.  Firman Tuhan menegaskan jika garam sudah kehilangan rasa asin  (hambar), tidak ada lagi gunanya selain hanya akan dibuang dan diinjak-injak oleh orang banyak.  Kehidupan seorang Kristen yang tidak bisa menjadi berkat atau kesaksian yang baik ibarat garam yang hambar, alias menjadi batu sandungan bagi orang lain;  bukannya mempermuliakan nama Tuhan tapi malah mempermalukan nama Tuhan.  Hal ini bisa terjadi karena orang tak mau membayar harga:  pikul salib dan menyangkal diri.  "Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya." (Galatia 5:24).

Garam yang tidak lagi asin adalah gambaran kehidupan Kristen yang gagal!

Thursday, October 22, 2020

DORKAS: Pemurah Beroleh Kemurahan

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 22 Oktober 2020

Baca:  Kisah Para Rasul 9:32-43

"Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah."  Kisah 9:36b

Dorkas adalah seorang janda dari kaum Yahudi yang tinggal di Yope  (Yunani).  Ia memiliki dua nama panggilan:  teman-teman dari kaum Yahudi memanggil Tabita, dan teman-teman kaum Yunani memanggilnya Dorkas.  Alkitab menyatakan bahwa Dorkas dikenal sebagai orang yang banyak sekali berbuat baik dan suka bersedekah  (ayat nas), sehingga hidupnya menjadi berkat dan kesaksian bagi banyak orang.

     Karena Dorkas dikenal sangat baik dan suka menolong orang lain, maka ketika dia sakit dan meninggal banyak orang sedih dan merasa kehilangan.  Mereka pun mencari cara bagaimana supaya Dorkas bisa hidup kembali.  Begitu mendengar kabar bahwa Petrus sedang berada di Lida  (dekat Yope), diutuslah segera dua orang untuk menemui Petrus:  "'Segeralah datang ke tempat kami.' Maka berkemaslah Petrus dan berangkat bersama-sama dengan mereka."  (Kisah 9:38b-39a).  Kemudian, Petrus pun  "...berlutut dan berdoa. Kemudian ia berpaling ke mayat itu dan berkata: 'Tabita, bangkitlah!' Lalu Tabita membuka matanya dan ketika melihat Petrus, ia bangun lalu duduk. Petrus memegang tangannya dan membantu dia berdiri. Kemudian ia memanggil orang-orang kudus beserta janda-janda, lalu menunjukkan kepada mereka, bahwa perempuan itu hidup."  (Kisah 9:40-41).  Mujizat terjadi!  Wanita itu dibangkitkan kembali.  "Peristiwa itu tersiar di seluruh Yope dan banyak orang menjadi percaya kepada Tuhan."  (Kisah 9:42).

     Sudahkah kita memiliki kehidupan seperti Dorkas, yang mampu menjadi buah bibir yang baik, karena keteladanan hidup yang ditunjukkan?  Karena Dorkas memiliki kemurahan hati kepada semua orang, ia pun beroleh kemurahan dari Tuhan!  Melayani Tuhan tidak harus selalu menjadi seorang fulltimer atau melayani di gereja.  Kita bisa melayani Tuhan dengan apa yang bisa kita kerjakan sesuai dengan bidang kita masing-masing.  Sekalipun apa yang yang diperbuat oleh Dorkas nampak tak sehebat penginjil-penginjil besar, tapi apa yang diperbuatnya diperhitungkan Tuhan dan berharga di mata-Nya.

"Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan."  Matius 5:7

Wednesday, October 21, 2020

Debora: Wanita Tangguh

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 21 Oktober 2020

Baca:  Hakim-Hakim 4:1-24

"'Baik, aku turut! Hanya, engkau tidak akan mendapat kehormatan dalam perjalanan yang engkau lakukan ini, sebab TUHAN akan menyerahkan Sisera ke dalam tangan seorang perempuan.' Lalu Debora bangun berdiri dan pergi bersama-sama dengan Barak ke Kedesh."  Hakim-Hakim 4:9

Deborah adalah salah satu wanita tangguh yang tercatat di Alkitab.  Sekalipun ia berstatus ibu rumah tangga, ia dipercaya Tuhan memimpin bangsa Israel sebagai hakim!  Jadi Debora adalah  "...seorang nabiah, isteri Lapidot, memerintah sebagai hakim atas orang Israel."  (Hakim-Hakim 4:4).  Di bawah pohon kurma di pegunungan Efraim ia biasa menjalankan tugasnya.  Banyak orang datang kepadanya membawa masalah, Debora memberi nasihat dan solusi untuk setiap permasalahan yang mereka alami  (Hakim-Hakim 4:4-5).  Sebagai nabiah ia menjadi penyambung lidah Tuhan:  menerima petunjuk atau nubuatan dari Tuhan untuk disampaikan kepada bangsa Israel.  Dalam kepemimpina Debora ini bangsa Israel hidup damai dan aman selama 40 tahun  (Hakim-Hakim 5:31b).

     Pada waktu itu bangsa Israel berada dalam penindasan raja Kanaan selama 20 tahun  (Sisera selaku kepala pasukan).  Debora pun memerintahkan Barak  (pemimpin prajurit Israel)  untuk menyerang Sisera, tapi Barak merasa ragu untuk berperang sendirian, karena itu ia bersikeras meminta Debora untuk turut pula maju berperang!  "Jika engkau turut maju akupun maju, tetapi jika engkau tidak turut maju akupun tidak maju."  (Hakim-Hakim 4:8).  Permintaan Barak ini direspons baik oleh Debora!  Ia rela turun gunung tanpa rasa takut:  turut maju berperang bersama prajurit ke medan peperangan demi membela umat Tuhan!  Kehadiran Debora ini benar-benar menjadi pendorong dan penyemangat, bahkan berpengaruh besar bagi para prajurit Israel untuk berperang melawan musuh  (Hakim-Hakim 4:14-16).  Karena Tuhan turut bekerja, mereka berhasil mengalahkan musuh!  Ini menunjukkan bahwa Debora benar-benar menjadi sosok panutan dan sangat dihormati rakyatnya!

     Kualitas rohani dan kualitas kepemimpinan yang berjalan seiring benar-benar menjadi kunci sukses Debora dalam memimpin bangsa Israel:  sebagai nabiah ia sangat peka akan suara Tuhan;  dan sebagai pemimpin ia tidak hanya sekedar berteori, tapi ia berani turun lapangan dan melakukan kerja nyata.

Karena melibatkan Tuhan dalam segala hal, Debora berhasil memimpin bangsa!

Tuesday, October 20, 2020

Priskila: Keluarga Yang Cinta Tuhan

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 20 Oktober 2020

Baca:  Kisah Para Rasul 18:1-17

"Dan karena mereka melakukan pekerjaan yang sama, ia tinggal bersama-sama dengan mereka. Mereka bekerja bersama-sama, karena mereka sama-sama tukang kemah."  Kisah 18:3

Salah satu wanita dalam Perjanjian Baru yang memiliki pernanan penting dalam pertumbuhan gereja adalah Priskila.  Ia dan suaminya  (Akwila)  adalah suami isteri yang cinta Tuhan dan punya hati yang terbeban untuk mendukung pekerjaan Tuhan.  Keluarga ini berasal dari Pontus  (Italia), kemudian pindah ke Korintus, di mana mereka berjumpa dengan Paulus.  Priskila dan Akwila bekerja sebagai pembuat tenda, sama seperti yang dilakukan oleh Paulus.  Karena itulah Paulus menjalin kerjasama dan menginap di rumah mereka.  Saat tinggal bersama itulah Paulus memiliki banyak kesempatan mengajar firman Tuhan, membimbing Akwila dan Priskila, membangun mezbah doa bersama.  Seiring berjalannya waktu Priskila dan Akwila terlibat dalam pelayanan sebagai pemberita Injil.

     Paulus menyebut Priskila dan Akwila sebagai  "...teman-teman sekerjaku dalam Kristus Yesus." (Roma 16:3).  Istilah  'teman-teman sekerja' berasal dari kata sunergos  (dari kata ini muncul kata sinergi).  Paulus memandang mereka sebagai rekan kerja yang mendukung dan saling bersinergi dalam memberitakan Injil.  Paulus menyadari bahwa ia tidak dapat mengerjakan tugas pelayanan pemberitaan Injil seorang diri, ia butuh partner atau rekan kerja yang saling mendukung, menopang, menguatkan, dapat bekerja sama satu sama lain.  Kita adalah anggota tubuh Kristus:  "Memang ada banyak anggota, tetapi hanya satu tubuh."  (1 Korintus 12:20).  Pula, setiap orang percaya diperlengkapi dengan talenta dan karunia yang berbeda-beda untuk saling melengkapi, dengan satu tujuan untuk kemuliaan nama Tuhan dan untuk membangun jemaat.  Priskila dan Akwila diberi mandat untuk melayani dan membimbing Apolos, pemuda yang rohnya menyala-nyala dalam melayani Tuhan, dan mengajarkan Jalan Tuhan kepadanya  (Kisah 18:24-26).

     Berkat ketekunan Priskila dan Akwila dalam membimbing, Apolos pun menjadi salah satu pemberita Injil yang luar biasa.  Priskila dan Akwila adalah contoh orangtua yang patut diteladani oleh keluarga-keluarga Kristen!

Keluarga seharusnya menjadi gereja terkecil, di mana nilai-nilai kebenaran diajarkan dan Injil diberitakan!

Monday, October 19, 2020

Lidia: Wanita Yang Melayani

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 19 Oktober 2020

Baca:  Kisah 16:13-18

"Seorang dari perempuan-perempuan itu yang bernama Lidia turut mendengarkan. Ia seorang penjual kain ungu dari kota Tiatira, yang beribadah kepada Allah."  Kisah 16:14

Lidia adalah seorang penjual kain ungu  (ayat nas).  Pada masa itu kain ungu merupakan kain yang berkualitas dengan harga sangat mahal.  Itulah sebabnya kain ungu hanya digunakan oleh orang-orang kelas atas sebagai penanda status bangsawan atau keluarga kerajaan.  Dari situ bisa disimpulkan bahwa Lidia bukanlah sembarang pedagang, tapi bisa disebut pengusaha kaya, karena barang yang dijualnya berharga mahal!

     Pada umumnya orang-orang kaya sering mengesampingkan perkara-perkara rohani karena mereka lebih mengandalkan harta kekayaannya!  Lidia, sekalipun kaya, adalah orang yang hidup takut akan Tuhan.  Buktinya:  ia tekun berdoa dan beribadah di tempat sembahyang Yahudi  (Kisah 16:13), membuka hati untuk mendengar dan belajar firman Tuhan  (Kisah 16:14), dan juga memberi dirinya untuk dibaptis  (Kisah 16:15).  Kita percaya bahwa kehidupan Lidia benar-benar menjadi dampak atau kesaksian:  bagi keluarga, kerabat, teman dan orang-orang di sekitarnya.  Melalui keteladanan hidup yang ditunjukkan, Lidia mampu membawa keluarga dan kerabatnya untuk percaya kepada Kristus dan memberi diri untuk dibaptis!  Lidia juga memiliki kerinduan yang besar untuk melayani Tuhan, di mana ia membuka pintu rumahnya untuk tempat berkumpul bagi orang-orang percaya lainnya.  Tuhan berfirman,  "Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka."  (Matius 18:20), di mana Tuhan menyatakan kehadiran-Nya, sesuatu yang besar pasti terjadi:  ada berkat, ada kesembuhan, ada pemulihan.  Lidia juga mengijinkan rasul Paulus bersama tim pelayanan menumpang di rumahnya, artinya ia melayani Tuhan dengan apa yang bisa dikerjakannya, yaitu menyambut dan menjamu hamba-hamba Tuhan.  Ini menunjukkan bahwa Lidia mempraktekkan kasih dalam tindakan nyata dan keramahtamahannya!  "...hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra..."  (Efesus 4:32).

     Tuhan menghendaki kehidupan kita juga seperti Lidia ini:  selain mampu menjadi kesaksian yang baik, ia juga punya roh yang menyala-nyala untuk melayani Tuhan.

Menjadi berkat dan punya roh yang menyala-nyala untuk melayani Tuhan adalah hidup seorang Kristen yang sejati!

Sunday, October 18, 2020

MENJADI SAHABAT TUHAN.... MUNGKINKAH?

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 18 Oktober 2020

Baca:  Yohanes 15:9-17

"...Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku."  Yohanes 15:15

Bila saat ini kita memiliki sahabat, kita patut berbahagia!  Sebab di dunia yang semakin jahat ini tak mudah menemukan sahabat sejati.  Jaga dan peliharalah persahabatan itu karena sahabat sejati ibarat barang langka, apalagi di masa-masa seperti sekarang ini, di mana manusia cenderung  "...mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah,...tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat,..."  (2 Timotius 3:2-4).  Berapakah dari teman kita yang dapat dinilai sebagai sahabat, yang kepadanya kita dapat berbagi rasa, pikiran dan perasaan mendalam?

     Jalinan persahabatan cenderung didasari kepentingan tertentu atau faktor untung rugi, jarang sekali yang benar-benar tulus.  Sungguh benar apa yang Salomo tulis:  "Kekayaan menambah banyak sahabat, tetapi orang miskin ditinggalkan sahabatnya."  (Amsal 19:4).  Sahabat sejati ialah orang yang bisa memahami dan menerima kita apa adanya di segala keadaan:  suka dan duka, senang atau susah, karena ia  "...menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran."  (Amsal 17:17).  Memiliki sahabat sangatlah berarti dalam hidup, terlebih jika kita menjalin persahabatan dengan Tuhan.  Selama ini mungkin kita hanya mengenal Yesus sebagai Bapa, Raja atau Juruselamat, namun apakah kita sudah mengenal Dia sebagai sahabat?  Mungkinkah kita bersahabat dengan Tuhan?  Sangat mungkin!  Ayat nas menegaskan bahwa Tuhan menyebut anak-anak-Nya sebagai sahabat, sebab Ia ingin selalu dekat dengan kita;  Dia ingin berbicara dari hati ke hati dengan kita, ingin bergaul karib dengan kita.  Bahkan Ia memberikan nayawa-Nya untuk kita.  Tapi kita sering menjauh dari-Nya dan tak pernah punya waktu untuk Dia.

     Namun inilah janji Tuhan,  "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau."  (Ibrani 13:5b).

Menjadi sahabat Tuhan adalah bila kita melakukan apa yang Tuhan perintahkan!  Yohanes 15:14

Saturday, October 17, 2020

BILA TUHAN BESERTA: Semua Menjadi Mungkin

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 Oktober 2020

Baca:  Hakim-Hakim 6:1-40

"Tetapi Akulah yang menyertai engkau, sebab itu engkau akan memukul kalah orang Midian itu sampai habis."  Hakim-Hakim 6:16

Latar belakang kisah ini adalah bangsa Israel yang sedang dalam masa yang teramat sulit, bahkan terpuruk, karena dijajah bangsa Midian selama tujuh tahun.  Mengapa ini bisa terjadi?  Apakah Tuhan tidak sanggup membebaskan mereka dari bangsa Midian?  Bangsa Israel harus mengalami penderitaan, bahkan  "...menjadi sangat melarat oleh perbuatan orang Midian itu."  (Hakim-Hakim 6:6).  Tuhan mengijinkan hal itu terjadi oleh karena orang Israel melakukan apa yang jahat di mata Tuhan  (Hakim-Hakim 6:1), karena itu Tuhan menyerahkan mereka ke tangan orang Midian dan mengijinkan penderitaan menimpa hidup mereka.  Selalu ada konsekuensi untuk setiap ketidaktaatan!  Begitu perkasanya bangsa Midian sehingga bangsa Israel mengalami ketakutan yang luar biasa, sampai-sampai mereka harus bersembunyi di gua-gua dan kubu-kubu.

     Di tengah penderitaan berat  "...berserulah orang Israel kepada TUHAN." (Hakim-Hakim 6:6b), dan tergeraklah hati Tuhan untuk menolong.  Lalu Tuhan mengutus malaikat-Nya memanggil seorang muda  (Gideon)  yang saat itu sedang mengirik gandum di tempat pemerasan anggur,  "TUHAN menyertai engkau, ya pahlawan yang gagah berani."  (Hakim-Hakim 6:12).  Dan dari sudut pandang manusia, Gideon bukanlah orang muda yang gagah berani.  Dari latar belakang keluarganya pun Gideon hanyalah berasal dari kelompok terkecil suku Manasye, dan ia pun yang termuda dari antara kaum keluarganya  (Hakim-Hakim 6:15).  Tetapi, pilihan Tuhan tidak pernah salah!  "Adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk TUHAN?"  (Kejadian 18:14a).  Sebagaimana Tuhan memilih Daud, begitu pula Ia memilih Gideon!  Sebab bukan yang dilihat manusia yang dilihat Tuhan.  Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati  (1 Samuel 16:7b).  Bila kita baca kisah Gideon lebih lanjut terlihat betapa Tuhan memakainya menjadi pahlawan Israel yang gagah perkasa dan sanggup mengalahkan bangsa Midian.

     Apa pun keadaan kita saat ini, jangan pernah menyerah!  Tuhan selalu punya jalan keajaiban;  Dia sanggup mengubahkan segala sesuatu dari keterpurukan menjadi kemenangan;  yang tak mungkin, menjadi mungkin!

Tuhan yang menyertai orang percaya adalah Tuhan yang kuasa-Nya tidak terbatas!

Friday, October 16, 2020

KARENA KASIH KARUNIA TUHAN SAJA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 Oktober 2020

Baca:  1 Tawarikh 17:16-27

"Ya TUHAN, oleh karena hamba-Mu ini dan menurut hati-Mu Engkau telah melakukan segala perkara yang besar ini dengan memberitahukan segala perkara yang besar itu."  1 Tawarikh 17:19

Daud  (bahasa Ibrani:  dikasihi)  adalah salah satu tokoh besar di Alkitab.  Ia bungsu dari delapan bersaudara keluarga Isai, yang masa mudanya banyak dihabiskan di padang rumput menggembalakan domba.  Meski hanya menggembalakan 2-3 ekor saja  (1 Samuel 17:28), ia mengerjakan tugasnya dengan penuh kesetiaan.

     Kesetiaan mengerjakan perkara-perkara kecil inilah yang akhirnya membuka pintu kesempatan bagi Daud untuk dipercaya mengerjakan perkara-perkara besar oleh Tuhan.  Karena kesetiaan Daud, Tuhan mengangkat hidupnya secara luar biasa yang membuatnya terheran-heran,  "Siapakah aku ini, ya TUHAN ...dan siapakah keluargaku, sehingga Engkau membawa aku sampai sedemikian ini?"  (1 Tawarikh 17:16).  Oleh karena itu kita tak boleh meremehkan atau merendahkan hidup seseorang.  Dari pengalaman hidupnya ini Daud menulis bahwa peninggian hidup seseorang itu datang bukan dari timur atau dari barat, bukan pula dari padang gurun, tapi datangnya dari Tuhan  (Mazmur 75:7-8).  Kalau Tuhan yang membuka pintu, tidak ada yang sanggup menutupnya!  Betapa besar kasih karunia Tuhan yang dianugerahkan kepada Daud.  Oleh sebab itu Daud tidak pernah berhenti untuk mengucap syukur!  "Aku hendak menyebut-nyebut segala pekerjaan-Mu, dan merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu."  (Mazmur 77:13).

     Setiap kita pasti pernah ditolong Tuhan dan mengecap kebaikan-Nya, bukan?  Siapakah kita ini?  Kita adalah debu yang tiada berarti  (Mazmur 103:14), orang-orang berdosa yang seharusnya dimurkai dan dihukum, tetapi Tuhan rela mengorbankan nyawa-Nya supaya kita diselamatkan!  "...dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus."  (Roma 3:24).  Sayang, masih banyak orang Kristen yang menyia-nyiakan kasih karunia Tuhan ini dengan hidup dalam dosa, padahal di dalam Kristus kita adalah ciptaan baru.  Orang yang sudah ditebus, tapi kembali kepada dosa, digambarkan seperti  "Anjing kembali lagi ke muntahnya, dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya."  (2 Petrus 2:22).

Kita ada sampai hari ini karena kasih karunia Tuhan semata!  Jangan lupakan itu.

Thursday, October 15, 2020

'MESIR' TAK DAPAT MENOLONG KITA!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 Oktober 2020

Baca:  Yesaya 31:1-9

"Sebab orang Mesir adalah manusia, bukan allah, dan kuda-kuda mereka adalah makhluk yang lemah, bukan roh yang berkuasa. Apabila TUHAN mengacungkan tangan-Nya, tergelincirlah yang membantu dan jatuhlah yang dibantu, dan mereka sekaliannya habis binasa bersama-sama."  Yesaya 31:3

Kata  'Mesir'  adalah gambaran tentang dunia;  kuda, kereta dan pasukan berkuda adalah gambaran tentang kekayaan dan kekuatan.  Mesir, kuda, kereta dan pasukan berkuda bukanlah sumber pertolongan kita, karena itu jangan sekali-kali kita menyandarkan hidup dan menggantungkan harapan kepada dunia dengan segala yang ada.  "Celakalah orang-orang yang pergi ke Mesir minta pertolongan, yang mengandalkan kuda-kuda, yang percaya kepada keretanya yang begitu banyak, dan kepada pasukan berkuda yang begitu besar jumlahnya, tetapi tidak memandang kepada Yang Mahakudus,..."  (Yesaya 31:1).  Orang yang hidup mengandalkan manusia adalah orang yang terkutuk!  "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!"  (Yeremia 17:5).

     Mengapa kita tidak boleh berharap kepada manusia?  Sebab manusia itu tak lebih dari hembusan nafas  (Yesaya 2:22).  Tuhan juga tidak menghendaki kita mengandalkan kepandaian, kekayaan, jabatan, kekuatan diri sendiri.  Bila kita mengandalkan kekayaan kita akan menjadi orang-orang yang paling malang, sebab kekayaan itu sesuatu yang tidak pasti dan mudah lenyap:  "Kalau engkau mengamat-amatinya, lenyaplah ia, karena tiba-tiba ia bersayap, lalu terbang ke angkasa seperti rajawali."  (Amsal 23:5).  Kekayaan juga tak bisa menyelamatkan jiwa kita!  Namun dalam hidup sehari-hari banyak orang berlaku sombong, membangga-banggakan harta kekayaan yang dimiliki:  rumah mewah, mobil mewah, tabungan atau deposito di bank, dan sebagainya.  Mereka berpikir bahwa memiliki kekayaan berarti bisa melakukan segala-galanya dan berbuat sekehendak hati kita.

     Hari ini kita diingatkan:  adalah sia-sia berharap pada manusia dan semua yang ada di dunia ini!  Dalam segala hal mari kita hidup mengandalkan Tuhan saja!  Dia lebih daripada cukup, sebab pengharapan di dalam Tuhan itu tidak pernah mengecewakan!

"Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!"  Yeremia 17:7

Wednesday, October 14, 2020

TUHAN: Bukit Batu dan Pertahanan

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 Oktober 2020

Baca:  Mazmur 31:1-25

"Sebab Engkau bukit batuku dan pertahananku, dan oleh karena nama-Mu Engkau akan menuntun dan membimbing aku."  Mazmur 31:4

Tuhan kita adalah Tuhan yang berlimpah kasih!  Tuhan tidak hanya mencurahkan kasih-Nya kepada manusia, diperhatikan pula ciptaan-Nya yang lain.  Tuhan sangat memperhatikan hewan-hewan juga, dipelihara dan disediakan pula kebutuhannya.  Terhadap hewan-hewan, Tuhan menaruh hikmat untuk melindungi diri terhadap bahaya yang mengancam dan juga musuh yang selalu memangsa.  Contoh:  "...pelanduk, bangsa yang lemah, tetapi yang membuat rumahnya di bukit batu,"  (Amsal 30:26).  Pemazmur juga menyatakan,  "...di mana burung-burung bersarang, burung ranggung yang rumahnya di pohon-pohon sanobar; gunung-gunung tinggi adalah bagi kambing-kambing hutan, bukit-bukit batu adalah tempat perlindungan bagi pelanduk." (Mazmur 104:17-18).  Pelanduk adalah binatang yang sangat lemah tapi cerdas, ia membuat rumahnya di atas bukit-bukit batu untuk terlindungi dari terkaman binatang-binatang buas.

     Manusia juga seharusnya sadar dan mengerti bahwa dirinya sangat lemah dan terbatas kekuatannya sehingga memudahkan Iblis untuk menerkam dan memangsa kita.  Mari belajar dari pelanduk, yang membuat rumah di bukit-bukit batu.  Siapakah bukit batu kita?  Bukit batu kita adalah Kristus.  Jika pelanduk dikejar oleh binatang buas ia segera berlari dan berlindung masuk ke dalam celah-celah bukit batu itu, sehingga binatang besar yang mengejarnya itu tak mungkin dapat memasuki lubang celah-celah bukit batu tersebut:  "...Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya."  (1 Petrus 5:8).  Tidak ada jalan lain selain kita harus berlindung di Bukit Batu, yaitu Batu Karang Keselamatan, Yesus Kristus.

     Walaupun badai keras menerpa  'rumah'  kehidupan kita, bila kita berlindung kepada-Nya, aman dan tenanglah kita.  Sebesar apa pun taufan dan gelombang melanda, kalau kita berlindung pada Bukit Batu yaitu Yesus Kristus, Dia sanggup meneduhkan dan meredakannya.  Karena itu serahkanlah semua beban dan persoalan hidup ini ke dalam tangan Tuhan yang Mahakuasa dan jangan pernah ragukan kedahsyatan kuasa-Nya.

Tuhan adalah gunung batu perlindungan yang aman bagi orang percaya!

Tuesday, October 13, 2020

PENDERITAAN: Sarana Untuk Memurnikan

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 Oktober 2020

Baca:  1 Petrus 2:18-25

"Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung."  1 Petrus 2:19

Selama menjalani hari-hari di dunia ini tak seorang pun dapat melepaskan diri dari masalah, krisis, sakit-penyakit, kesukaran, tekanan dan sebagainya.  Bagaimanapun juga hal-hal itu adalah bagian dari kehidupan manusia.  Musa menyebutkan bahwa kesukaran dan penderitaan adalah kebanggaan hidup manusia  (Mazmur 90:10).  Sesungguhnya semua orang takkan pernah rela hati mengalami masalah, walau kenyataannya hampir semua orang pasti pernah mengalami semuanya itu.  Masalah dan penderitaan itu datang bukan karena dicari, bahkan bisa saja datang tiba-tiba tanpa diundang sekalipun kita sudah berusah untuk lari menghindarinya, namun pada akhirnya datang dan melanda hidup kita.

     Rasul Petrus menyatakan,  "Sebab dapatkah disebut pujian, jika kamu menderita pukulan karena kamu berbuat dosa?"  (1 Petrus 2:20), namun jika kita sudah berbuat baik dan melakukan kebenaran tapi harus menderita, itu adalah kasih karunia.  Jadi bila kita diijinkan mengalami masalah dan penderitaan, sekalipun kita sudah hidup dalam kebenaran, itu artinya Tuhan punya maksud, yaitu menaikkan level iman, memroses dan memurnikan hidup kita, hingga kehendak dan rencana-Nya digenapi dalam hidup kita:  "Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia."  (2 Timotius 2:21).  Karena itu tetaplah mengucap syukur dalam segala hal!  Tetapi kita harus ingat juga bahwa masalah dan penderitaan bisa terjadi karena serangan dari Iblis, karena dia datang hanya untuk mencuri, membunuh dan membinasakan  (Yohanes 10:10a).  Dalam situasi ini, tidak ada jalan lain selain kita harus melawannya dengan iman yang teguh  (1 Petrus 5:9).

     Kita harus percaya bahwa Tuhan pasti menjaga dan memelihara hidup kita, kecuali jika ada celah yang terbuka bagi Iblis, yaitu dosa dan pelanggaran kita sendiri.  Ketidaktaatan selalu mendatangkan akibat!  Jika kita tidak segera bertobat, Iblis akan masuk, menyerang dan menguasai kita, penderitaan pun harus kita alami.

Menanggung penderitaan karena hidup dalam kebenarana dalah jalan menuju kepada hidup yang dimuliakan, sebab tanpa salib tak ada kemuliaan!

Monday, October 12, 2020

KESABARAN TUHAN: Kesempatan Bagi Kita

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 Oktober 2020

Baca:  2 Petrus 3:1-16

"Sebab itu, saudara-saudaraku yang kekasih, sambil menantikan semuanya ini, kamu harus berusaha, supaya kamu kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya, dalam perdamaian dengan Dia."  2 Petrus 3:14

Rasul Petrus memperingatkan orang percaya untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin menjelang hari kedatangan Tuhan yang kedua kalinya.  Tujuan Tuhan datang ke dunia nanti adalah untuk menghakimi dan menghukum orang-orang yang berdosa:  bukan saja mereka yang melakukan kejahatan, namun juga mereka yang menolak karya keselamatan-Nya.  Selain itu kedatangan Tuhan nanti juga untuk memberikan upah kepada orang percaya yang setia sampai akhir dan tekun melayani pekerjaan-Nya!  Dengan kata lain, jerih lelah kita dalam melayani pekerjaan Tuhan, diperhitungkan-Nya!  Kedatangan Kristus kali yang kedua itu bukan dongeng, bukan tafsiran, bukan khayalan, namun suatu yang pasti!  Tuhan sendiri menegaskan,  "Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada."  (Yohanes 14:3).

     Bila kita peka rohani kita pasti memahami bahwa tanda-tanda kedatangan Tuhan satu persatu sudah digenapi  (Matius 24:3-14).  Mari pergunakan kesempatan yang ada untuk kita lebih bersungguh-sungguh di dalam mengerjakan perkara-perkara rohani, mengejar perkenanan Tuhan dan berjuang bagaimana supaya kehidupan kita kedapatan tak bercacat dan tak bernoda  (1 Petrus 3:14-15).  Bagaimana caranya?  Jauhkan diri dari segala bentuk kecemaran, sebab Tuhan  "...memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus."  (1 Tesalonika 4:7).  Rasul Paulus mengingatkan bahwa keselamatan adalah pemberian Tuhan, bukan usaha kita  (Efesus 2:8, 9), tetapi untuk mengerjakan keselamatan dan punya kehidupan tak bercacat cela, menuntut usaha dan kerja keras kita.  Rasul Petrus mengatakan,  "Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat..."  (2 Petrus 3:15).

     Kalau sampai detik hari ini Tuhan belum juga datang ke dunia untuk menjemput kita, bukan berarti Dia lalai, bukan berarti Dia ingkar, bukan berarti apa yang tertulis di Alkitab itu salah, justru ini kesempatan bagi kita mempersiapkan diri sebaik mungkin.

Tak ingin tertinggal?  Siapkan diri menyambut Hari Tuhan dengan hidup benar!

Sunday, October 11, 2020

HIDUP ORANG PERCAYA: Minyak Yang Harum

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 Oktober 2020

Baca:  2 Korintus 2:12-17

"...kami adalah bau yang harum dari Kristus di tengah-tengah mereka yang diselamatkan dan di antara mereka yang binasa."  2 Korintus 2:15

Sebagai orang percaya kehidupan kita selayaknya menjadi persembahan yang harum di hadapan Tuhan, dan juga membawa keharuman kapan pun dan di mana pun berada.  Mengapa?  Karena kita bukan lagi hamba dosa:  hidup kita sudah ditebus dan disucikan melalui darah Kristus di kayu salib:  "Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat."  (1 Petrus 1:18-19).

     Menjadi persembahan yang harum ini seperti minyak narwastu yang dibawa seorang perempuan, yang wadahnya dipecah dan minyaknya dicurahkan ke atas kepala Yesus  (Markus 14:3).  Minyak narwastu tersebut dipakai perempuan itu untuk meminyaki Tuhan.  Ini berbicara tentang kehidupan yang mempermuliakan Tuhan, meninggikan, mengagungkan, dan menghormati Tuhan!  Pada zaman itu minyak narwastu adalah minyak istimewa dan berharga sangat mahal, yaitu 300 dinar  (Yohanes 12:5).  Coba bandingkan dengan upah seorang pekerja waktu itu:  satu hari satu dinar.  Jadi bisa dibayangkan betapa mahal dan berharganya minyak narwastu itu.  Inilah tujuan Kristus rela mati mengorbankan nyawa-Nya di kayu salib, bukan hanya menyelamatkan kita, tapi supaya kita yang sudah diselamatkan-Nya juga mempermuliakan nama-Nya.  Mempermuliakan Tuhan berarti hidup menyenangkan hati Tuhan, menjadi persembahan harum di hadapan-Nya.

     Kita harus bisa membawa keharuman bagi dunia ini, menjadi kesaksian di mana pun dan kapan pun.  Banyak orang Kristen yang hidupnya belum bisa mempermuliakan nama Tuhan dan belum bisa membawa keharuman, oleh karena minyak itu, ibaratnya, masih tersimpan di dalam buli-buli, belum dipecahkan dan dicurahkan.  Belum dipecahkan berbicara tentang kehidupan yang tak mau membayar harga, tak mau dibentuk, tak mau diremukkan kedagingannya atau tak mau menanggalkan manusia lamanya.

Sudahkah kehidupan kita membawa keharuman ataukah malah sebaliknya?