Tuesday, April 21, 2020

PERCAYA DAN KERENDAHAN HATI

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 21 April 2020

Baca:  Matius 9:27-31Markus 7:24-30

"'Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?' Mereka menjawab: 'Ya Tuhan, kami percaya.'"  Matius 9:28

Di tengah perjalanan tour pelayanan-Nya ada dua orang buta yang mengikuti Dia sambil berseru-seru,  "Kasihanilah kami, hai Anak Daud."  (Matius 27b).  Sekalipun sudah mendengar seruan dari kedua orang buta tersebut Kristus tak langsung bertindak, karena Ia hendak menguji kesungguhan iman mereka.  Oleh karena itu Kristus bertanya kepada mereka,  "Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?"  (ayat nas).

     Sebelum Tuhan bertindak untuk menolong, Ia ingin memperoleh jawaban yang tulus dari hati, dan kedua orang buta itu pun menjawab,  "Ya Tuhan, kami percaya."  (ayat nas).  Kunci untuk menggerakkan hati Tuhan untuk bertindak menolong dan menyelesaikan persoalan yang kita alami adalah hati yang percaya!  Setelah mendengar jawaban dari dua orang buta itu barulah Tuhan menjamah mata mereka sambil berkata,  "'Jadilah kepadamu menurut imanmu.' Maka meleklah mata mereka."  (Matius 9:29-30).  Banyak orang menginginkan berkat, pertolongan dan mujizat dari Tuhan, tapi selama mereka masih mengandalkan logika, mengandalkan kepintaran dan kehebatan manusia, dan menggunakan cara-cara manusia, sulit bagi mereka untuk dapat melihat dan mengalami campur tangan Tuhan.  Selain itu punya kerendahan hati adalah kunci untuk mengalami pertolongan dan kebaikan Tuhan!  Selama kita masih merasa diri hebat, pintar, dan mampu, selama kita masih meninggikan diri, tak mungkin pertolongan kita terima!

     Seorang perempuan Sirp-Fenesia yang anaknya kerasukan setan merendahkan diri sedemikian rupa di hadapan Tuhan.  Sekalipun ia disebut  'anjing'  tak membuatnya marah atau tersinggung.  Saat ia meminta tolong Kristus berkata,  "'Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.' Tetapi perempuan itu menjawab: 'Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.'"  (Markus 7:27-28).  Perempuan itu lulus dalam ujian kerendahan hati!  "Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu."  (Markus 7:29).

Tanpa iman percaya dan kerendahan hati, seruan dan doa kita takkan mampu menyentuh hati Tuhan dan menggerakkan tangan-Nya untuk bertindak!

Monday, April 20, 2020

PERGUMULAN MEMANG SAKIT

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 20 April 2020

Baca:  Matius 26:36-46

"Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku."  Matius 26:38

Hidup dalam ketaatan adalah kehendak Tuhan bagi orang percaya, yang sudah seharusnya mengikuti teladan Kristus yang taat dalam menggenapi rencana Bapa dalam seluruh hidup-Nya di bumi, bahkan taat sampai mati  (Filipi 2:8).  Kristus selalu berusaha untuk menyenangkan hati Bapa dalam segala perkara.  "...Aku tidak berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri, tetapi Aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepada-Ku. Dan Ia, yang telah mengutus Aku, Ia menyertai Aku. Ia tidak membiarkan Aku sendiri, sebab Aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepada-Nya."  (Yohanes 8:28-29).

     Ketaatan Kristus tiada henti-hentinya tanpa disertai kegagalan, kekecewaan dan penyesalan.  Beban berat yang teramat dahsyat yang hanya Kristus tanggung tersirat dari permohonan doa-Nya kepada Bapa,  "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki."  (Matius 26:39).  Pergumulan ini sangat menyakitkan dan hampir tak teratasi rasanya, namun Kristus menyerah sepenuh nya kepada kehendak Bapa, dengan mengakhiri doa-Nya dengan perkataan,  "...tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki."  (ayat nas).  Tak ada teladan lain yang lebih baik dan lebih sempurna daripada Kristus yang telah membayar harga yang teramat mahal dalam ketaatan-Nya kepada Bapa, yaitu rela mati mengorbankan nyawa-Nya demi mengerjakan misi dari Bapa, yaitu  "...datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."  (Matius 20:28).  Andai Kristus menyerah kalah pada pergumulan yang dihadapi, tak akan pernah ada penebusan dosa, juga tak ada keselamatan kekal.

     Dalam pergumulan menjalankan ketaatan-Nya Kristus juga mengalami rasa sakit yang mendalam, tapi Ia tampil sebagai pemenang, pergumulan hebat berhasil dilalui-Nya;  dan satu hal lagi:  Kristus tak perah berbuat dosa.  "Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa."  (Ibrani 4:15b).  Karena itu Kristus juga turut merasakan kelemahan-kelemahan kita.

"Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai."  Ibrani 2:18

Sunday, April 19, 2020

HARTA DUNIAWI TAK BISA MENOLONG

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 19 April 2020

Baca:  Amsal 11:1-31

"Pada hari kemurkaan harta tidak berguna, tetapi kebenaran melepaskan orang dari maut."  Amsal 11:4

Secara alamiah manusia memiliki dorongan yang kuat untuk mencari, mengejar dan menikmati benda atau materi di dunia ini.  Banyak orang menganggap bahwa harta atau materi adalah yang terpenting dalam hidup ini, karena itu mereka berlomba-lomba untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya.  Hal mengejar materi atau harta ini juga terjadi di zaman di mana Kristus berada di bumi:  para pemimpin agama  (ahli-ahli Taurat dan orang Farisi)  justru menjadi sangat materialistis dan tamak.  Karena itu Tuhan mengecam mereka yang menggunakan kedok  'pelayanan'  demi memperkaya diri.

     Rasul Paulus menasihati,  "Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar."  (1 Timotius 6:6-7).  Kita harus ingat bahwa kita ini tidak membawa apa pun saat lahir ke dunia ini dan tidak membawa apa pun juga ketika kita dipanggil pulang  (meninggal).  Ketika hartanya ludes, Ayub tetap bisa mengucap syukur karena ia sadar bahwa harta yang dimilikinya itu hanyalah titipan Tuhan,  "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!"  (Ayub 1:21).  Pada zaman dahulu ukuran kekayaan orang dapat dilihat dari pakaian yang dikenakan, yang biasanya dilengkapi dengan berbagai aksesoris berlapiskan emas dengan bahan pakaian yang terbuat dari kain lenan halus atau wol  (padahal wol adalah bahan yang paling disukai oleh ngengat).  Harta kekayaan juga selalu menjadi incaran pencuri, karena itu orang zaman dahulu berusaha menyimpan hartanya di bawah tanah, di luar rumah atau ladang, namun pencuri tetap saja bisa mencuri, membongkar dan mencurinya.  "Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya."  (Matius 6:19).

     Firman Tuhan memperingatkan kita untuk mengumpulkan harta di sorga, bukan harta di bumi, itulah yang akan membawa kita sampai kepada kekekalan.

Jangan pernah menyandarkan hidup kepada harta duniawi.  Itu sia-sia belaka!  Sebab harta duniawi tak bisa menolong, apalagi menyelamatkan hidup kita.

Saturday, April 18, 2020

MEMBIASAKAN DIRI BERDOA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 18 April 2020

Baca:  Lukas 22:39-46

"...pergilah Yesus ke luar kota dan sebagaimana biasa Ia menuju Bukit Zaitun. Murid-murid-Nya juga mengikuti Dia."  Lukas 22:39

Sudah sering ditulis bagaimana Kristus telah memberikan satu teladan kepada orang percaya berkenaan dengan kehidupan doa-Nya.  Sesibuk apa pun pelayanan-Nya Ia tak pernah mengabaikan jam-jam doa, Ia sangat disiplin dalam hal membangun persekutuan yang karib dengan Bapa.  Bagi Kristus, Bapa adalah segalanya.  Keintiman dengan Bapa inilah yang menjadi kekuatan dalam pelayanan Kristus.

     Alkitab tidak pernah mencatat bahwa Kristus merasa bosan atau jemu untuk berdoa.  Justru Dia begitu teguh menjalankan waktu-waktu secara tetap untuk bersekutu dengan Bapa melalui doa.  Berbicara kepada Bapa melalui doa bukanlah sekedar rutinitas atau kebiasaan bagi Kristus, melainkan suatu kerinduan yang dalam untuk mencari hadirat-Nya, mengejar perkenanan-Nya, dan memahami kehendak-Nya,  "...Aku hidup oleh Bapa,"  (Yohanes 6:57).  Saat berada di Yerusalem Kristus biasa berdoa di taman Getsemani di bukit Sion.  Kata  'biasa' menunjukkan keteraturan, kedisiplinan dan konsistensi untuk berdoa di situ.  Di tempat itu pula Kristus biasa berkumpul dengan murid-murid-Nya dan mengajar mereka.  Kristus sangat disiplin dalam hal menggunakan waktu, Ia berdoa secara teratur di pagi hari kala hari masih tampak gelap guna mempersiapkan hati dan mempertajam kepekaan-Nya untuk mendengar suara Bapa.

     Daniel pun memiliki tempat dan waktu yang khusus di mana ia secara teratur berdoa, seperti tertulis:  "Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya."  (Daniel 6:11).  Kedisiplinan dalam berdoa inilah yang menjadi kekuatan hidup Daniel yang membuatnya memiliki kualitas hidup di atas rata-rata dan punya roh yang luar biasa, sehingga ia tetap berkemenangan meski berada dalam situasi yang gawat.  Di saat raja Darius melarang seluruh rakyatnya menyembah apa pun selain kepadanya, Daniel punya keberanian untuk berkata tidak.  Kehidupan Daniel pun menjadi kesaksian bagi banyak orang karena ia sangat dekat dengan Tuhan melalui doa-doanya.

Berdoa secara teratur dan penuh kedisiplinan adalah kunci mengalami hidup berkemenangan!

Friday, April 17, 2020

JANGAN SAMPAI TERPECAH-PECAH

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 April 2020

Baca:  1 Korintus 12:12-31

"Karena tubuh juga tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota."  1 Korintus 12:14

Tubuh manusia terdiri atas berbagai macam anggota, tapi merupakan satu kesatuan yang utuh, tak terpisahkan dan saling melengkapi:  ada kepala, telinga, mata, hidung, mulut, tangan, kaki dan sebagainya.  Semua bersatu oleh karena semua terikat dalam satu kesatuan.  Pula, gereja adalah tubuh Kristus, terdiri atas anggota-anggota yang menjadi satu kesatuan.  Tidak akan ada tubuh jika hanya ada satu anggota saja:  "Andaikata semuanya adalah satu anggota, di manakah tubuh? Memang ada banyak anggota, tetapi hanya satu tubuh."  (1 Korintus 12:19-20).  Antara anggota tubuh yang satu dengan yang lain ada ketergantungan,  "Jadi mata tidak dapat berkata kepada tangan: 'Aku tidak membutuhkan engkau.' Dan kepala tidak dapat berkata kepada kaki: 'Aku tidak membutuhkan engkau.'"  (1 Korintus 12:21).  Semua anggota tubuh penting adanya!

     Seringkali kita menilai sesama anggota jemaat Tuhan dari kulit luarnya saja  (apa yang terlihat kasat mata).  Kita selalu terfokus kepada mereka yang kelihatannya lebih menonjol dan berpotensi.  Sementara jemaat yang penampilan luarnya kurang meyakinkan dan sederhana, tak kita anggap.  Sesungguhnya  "Malahan justru anggota-anggota tubuh yang nampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan. Dan kepada anggota-anggota tubuh yang menurut pemandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus. Dan terhadap anggota-anggota kita yang tidak elok, kita berikan perhatian khusus."  (1 Korintus 12:22-23).  Oleh karena itu, sebagai bagian dari anggota tubuh Kristus kita harus saling mengasihi dan memperhatikan supaya tidak terjadi gap atau perpecahan.  "Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita."  (1 Korintus 12:26).

     Inilah rencana Tuhan bagi gereja-Nya!  Bagaiman supaya gereja Tuhan  (tubuh-Nya)  tetap utuh, bersatu dan tidak terpecah-pecah?  Dasarnya adalah kasih.  Sesama anggota tubuh Kristus harus saling mengasihi, sebab kita semua bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan merupakan anggota-anggota dalam satu keluarga Kerajaan Sorga  (Efesus 2:19).

Bila gereja Tuhan terpecah-pecah dan tidak bisa bersatu, apa kata dunia?

Thursday, April 16, 2020

TIDAK LAGI BERLOMBA DENGAN BAIK

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 April 2020

Baca:  Galatia 5:1-15

"Dahulu kamu berlomba dengan baik. Siapakah yang menghalang-halangi kamu, sehingga kamu tidak menuruti kebenaran lagi?"  Galatia 5:7

Ada gejala kesuaman dan kemerosotan rohani melanda jemaat di Galatia!  Mereka tidak lagi bersemangat dalam mengerjakan perkara-perkara rohani, bahkan banyak dari mereka yang mulai goyah imannya karena terpengaruh oleh ajaran-ajaran lain.  Apa yang menjadi penyebabnya?  Ternyata ada guru-guru palsu yang dengan sengaja mengacaukan dan menghasut jemaat dengan menanamkan ajaran yang menyimpang dari Injil Kristus.

     Untuk memperoleh keselamatan, menurut mereka  (guru-guru palsu), kita harus mengikuti adat-istiadat Yahudi dengan berbagai peraturan yang dirasa sangat memberatkan.  Akhirnya hal itu menimbulkan kebimbangan di dalam hati jemaat dan memengaruhi perkembangan iman mereka.  Rasul Paulus menjadi sangat geram:  "...barangsiapa yang mengacaukan kamu, ia akan menanggung hukumannya, siapapun juga dia...Baiklah mereka yang menghasut kamu itu mengebirikan saja dirinya!"  (Galatia 5:10b, 12).  Ditegaskan:  "...keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan."  (Kisah 4:12).  Hanya oleh iman kepada Kristus kita beroleh keselamatan,  "Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu,"  (Efesus 2:8).

     Di zaman sekarang ini banyak bermunculan ajaran-ajaran yang melenceng dari Injil yang seringkali membuat banyak orang Kristen  'terombang-ambing'  dan akhirnya mereka melakukan kompromi dan tidak lagi hidup dalam kebenaran sejati.  Ingat!  Hidup kekristenan adalah sebuah perlombaan iman.  Berbicara tentang perlombaan berarti butuh perjuangan, disiplin, semangat dan fokus.  Kristus telah memerdekakan kita dari dosa, karena itu kita harus berdiri teguh dan jangan sampai goyah!   "Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita."  (Ibrani 12:1).

Tetaplah hidup dalam kebenaran  (hidup seturut dengan Injil Kristus)  dan jangan pernah digoyahkan oleh ajaran-ajaran yang menyesatkan!

Wednesday, April 15, 2020

TAK MENGEMBALIKAN MILIK TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 April 2020

Baca:  Maleakhi 3:6-12

"Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku..."  Maleakhi 3:10

Persepuluhan adalah pemberian kepada Tuhan sebanyak 10% dari seluruh pendapatan dan keuntungan kita.  Jadi sebenarnya persepuluhan bukanlah kita memberikan 10% milik dari milik atau uang kita kepada Tuhan, melainkan kita mengembalikan kepada Tuhan 10% dari apa yang memang merupakan milik-Nya.

     Tidak mengembalikan persepuluhan?  "Bolehkah manusia menipu Allah? Namun kamu menipu Aku. Tetapi kamu berkata: 'Dengan cara bagaimanakah kami menipu Engkau?' Mengenai persembahan persepuluhan dan persembahan khusus! ...Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan."  (Maleakhi 3:8, 10).

     Kebenaran firman Tuhan tentang persepuluhan:  1.  Persepuluhan adalah perintah Tuhan.  "Demikian juga segala persembahan persepuluhan dari tanah, baik dari hasil benih di tanah maupun dari buah pohon-pohonan, adalah milik TUHAN; itulah persembahan kudus bagi TUHAN."  (Imamat 27:30).  2.  Persepuluhan mengingatkan kita bahwa Tuhan adalah prioritas pertama dalam hidup ini, karena semua yang kita miliki adalah milik-Nya,  "...sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan..."  (Ulangan 8:18).  3.  Persepuluhan memberi kesempatan kepada Tuhan untuk membuktikan Dia hidup dan sanggup memberkati:  "...ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan."  (Maleakhi 3:10).

     Uang atau harta merupakan representasi visual dari hidup kita,  "Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada."  (Matius 6:21).  Dengan mengembalikan persepuluhan kepada Tuhan kita melatih iman untuk belajar memercayai Tuhan dalam hal memberi.  Saat kita memprioritaskan Tuhan, kita akan mengalami betapa Tuhan sanggup memberkati dan mencukupkan apa yang kita butuhkan.

Sudahkah kita taat mengembalikan persepuluhan yang adalah milik Tuhan?

Catatan:
"Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan,"  2 Korintus 9:7

Tuesday, April 14, 2020

RUMAH DOA MENDATANGKAN KUASA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 April 2020

Baca:  Matius 21:12-17

"Ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa."  Matius 21:13

Orang percaya seharusnya menjadikan doa sebagai gaya hidup, karena doa itu ibarat nafas hidup orang percaya.  Apa yang terjadi bila kita tak lagi bernafas?  Tak bernafas berarti mati.  Orang yang tidak lagi berdoa berarti mengalami kematian rohani.  Namun banyak orang Kristen yang malas sekali untuk berdoa, atau berdoa hanya saat merasa memerlukan Tuhan saja, padahal Kristus telah meninggalkan teladan bagaimana Ia selalu bertekun di dalam doa, membangun persekutuan yang karib dengan Bapa di sorga.

     Kristus bertindak tegas menguduskan Bait Suci karena Ia melihat Bait Suci telah disalahgunakan.  Bait Suci yang seharusnya menjadi tempat untuk beribadah dan berdoa malah dijadikan tempat untuk berjual beli.  Karena itu Ia mengusir orang-orang yang berjual beli di halaman Bait Suci, membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati  (Matius 21:12).  Kristus menegaskan,  "Rumah-Ku akan disebut rumah doa."  (ayat nas), tempat Roh Kudus hadir, tempat umat mempersembahkan seluruh keberadaan hidupnya sebagai persembahan kepada Tuhan  (Roma 12:1);  dan ketika Bait Suci kembali berfungsi sebagai rumah doa, sesuatu yang dahsyat terjadi:  orang-orang buta dan orang-orang timpang yang datang kepada Kristus di Bait Suci itu mengalami mujizat kesembuhan.  Rumah doa kini menjadi rumah pemulihan, di mana banyak yang dipulihkan hidupnya karena ada lawatan Tuhan.  Ketika melihat mujizat terjadi anak-anak pun memuji-muji Tuhan:  "Hosana bagi Anak Daud!"  (Matius 21:15),   "Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu Engkau telah menyediakan puji-pujian..."  (Matius 21:16).  Ini penggenapan dari tulisan pemazmur:  "Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah Kauletakkan dasar kekuatan karena lawan-Mu, untuk membungkamkan musuh dan pendendam."  (Mazmur 8:3).  Bait Suci menjadi rumah pujian!

     Setiap orang percaya adalah bait Tuhan dan bait Roh Kudus  (1 Korintus 3:16).  Ketika orang percaya mendisiplinkan diri dalam hal berdoa ia akan semakin dibersihkan dan dikuduskan oleh Tuhan, dan semakin dipakai Tuhan untuk menjadi saluran berkat dan saluran kuasa Tuhan bagi orang-orang yang dibawa dan datang kepadanya.  

Bait Tuhan yang tercemari oleh hal-hal duniawi menjadi penghalang bagi Tuhan untuk berkarya dan menyatakan kuasa-Nya!

Monday, April 13, 2020

NANTIKAN DENGAN TIDAK JEMU-JEMU

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 April 2020

Baca:  Mazmur 27:1-14

"Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN!"  Mazmur 27:14

Di sepanjang perjalanan hidup ini kita tak pernah lepas dari kata  'menanti'  ini:  sepasang suami isteri sedang berdebar-debar menanti kelahiran bayinya;  seorang gadis selalu menanti kapan ia akan dilamar oleh sang pujaan hatinya;  di stasiun kereta api banyak orang menanti waktu keberangkatan kereta.  Kita mengakui bahwa menanti adalah sesuatu yang tidak menyenangkan, membosankan, dan terkadang menjengkelkan.  Terlebih-lebih bila kita harus menanti dalam waktu yang cukup lama, pasti timbul rasa jemu.

     Dalam hal menantikan janji Tuhan banyak orang Kristen juga merasakan hal yang sama.  Tidak sedikit dari mereka yang putus asa dan berhenti berharap kepada Tuhan, tidak lagi menguatkan iman dan bersabar.  Alkitab menegaskan bahwa janji Tuhan adalah ya dan amin"...apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh."  (Habakuk 2:3b).  Kita tidak boleh putus asa atau menyerah di tengah jalan!   Melalui kesabaran dan ketekunan, orang akan menerima apa yang telah dijanjikan-Nya, sebab Tuhan tidak pernah terlambat atau terlalu cepat untuk menolong, pertolongan-Nya selalu tepat pada waktu-Nya.  Suatu ketika Tuhan berjanji kepada Abraham,  "'Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya.' Maka firman-Nya kepadanya: 'Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.'"  (Kejadian 15:5).  Namun apa kenyataannya?  Sara belum memiliki anak selama bertahun-tahun, bahkan saat usia keduanya sudah sangat tua belum juga ada tanda.  Secara logika Abraham dan Sara punya alasan untuk menjadi kecewa!

     Waktu Tuhan adalah yang terbaik, walau sukar untuk dipahami!  Tuhan menggenapi janji-Nya saat Abraham berumur 100 tahun dan Sara 90 tahun.  Berapa lama Saudara menantikan pertolongan dari Tuhan?  Seringkali kita merasa jemu untuk berdoa, semangat kita dalam beribadah dan melayani Tuhan pun turut mengendor saat belum ada pertolongan, bahkan kita mulai mengandalkan kekuatan sendiri untuk mendapatkan apa yang kita inginkan.  "Sesungguhnya, orang yang membusungkan dada, tidak lurus hatinya, tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya."  (Habakuk 2:4).

Pertolongan Tuhan selalu tepat pada waktu-Nya, jangan pernah jemu menunggu!

Sunday, April 12, 2020

KEBANGKITAN KRISTUS: Kemenangan Orang Percaya

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 April 2020

Baca:  1 Korintus 15:1-34

"Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu."  1 Korintus 15:17

Orang percaya patut berbangga hati dan bersukacita karena kita punya Tuhan yang hidup dan berkuasa!  Hari ini kita memperingati kebangkitan Kristus dan kematian!  "...Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci;"  (1 Korintus 15:3-4).  Kebangkitan Kristus adalah kemenangan iman orang percaya.  Ini merupakan penegasan kebenaran ajaran Kristus.  Pernyataan-Nya tentang kematian dan kebangkitan-Nya benar-benar telah digenapi  (Matius 16:21).

     Tak bisa dibayangkan andai saja Kristus tidak bangkit pada hari yang ke-3.  Rasul Paulus menyatakan,  "...sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu."  (1 Korintus 15:14).  Jadi jika Kristus tidak bangkit pada hari ke-3, sia-sialah jerih lelah dan pengorbanan para hamba Tuhan, penginjil atau misioner memberitakan Injil sampai ke pelosok, pedalaman, pegunungan, pedesaan, mengarungi laut dan samudera, bahkan sampai ke seluruh penjuru ujung bumi ini.  Inilah yang membedakan kekristenan dan kepercayaan yang lain.  Iman Kristen adalah iman yang berdiri atas kebangkitan Kristus.  Tanpa kebangkitan-Nya sia-sialah pemberitaan Injil dan kekristenan tidak akan pernah ada sampai detik hari ini.  Andai saja Kristus tidak bangkit, maka  "binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus."  (1 Korintus 15:18), sehingga setiap orang yang percaya kepada Kristus menjadi orang-orang yang paling malang di dunia;  sebaliknya karena Kristus telah bangkit, maka kita menjadi orang-orang yang berbahagia dan paling beruntung.  Mengapa?  Karena kebangkitan Kristus memberikan jaminan kehidupan kekal yang pasti bagi orang percaya.  Haleluyah!

     Oleh karena itu pengharapan hidup kita sebagai pengikut Kristus adalah bergantung mutlak kepada kebangkitan Kristus ini.  Hal inilah yang membuat rasul Paulus tetap memiliki roh yang menyala-nyala dalam memberitakan Injil, sekalipun harus diperhadapkan dengan ujian dan tantangan yang tidak ringan.

Karena Kristus sudah bangkit, maka Ia akan membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga  (Efesus 2:6).