Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 26 Agustus 2019
Baca: Mazmur 51:1-21
"Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku!" Mazmur 51:13
Ada perbedaan yang mencolok antara pribadi Saul dan Daud. Salah satunya adalah, Saul tidak pernah berjiwa besar untuk mengakui kesalahan, tidak pernah merasa menyesal ketika melakukan sebuah pelanggaran, melainkan selalu berkilah dengan menyalahkan situasi atau menyalahkan orang lain. Ini berbeda sekali dengan Daud! Hati Daud selalu terbuka untuk teguran dan koreksi. Ketika sadar telah melakukan kesalahan, ia segera datang kepada Tuhan, mengakui dengan jujur kesalahan yang telah diperbuatnya, memohon pengampunan kepada Tuhan dan bertobat, tanpa pernah menutup-nutupi kesalahannya, membenarkan diri sendiri ataupun menyalahkan orang lain.
Mazmur 51 ini diakui sebagai pengakuan dosa Daud ketika nabi Natan membeberkan dosa perzinahannya dengan Batsyeba dan juga pembunuhan terselubung yang diperbuatnya terhadap Uria. Ketika ditegur keras oleh nabi Natan, Daud pun tidak mengelak, tapi mengakuinya dengan jujur: "Aku sudah berdosa kepada TUHAN." (2 Samuel 12:13). Setelah itu ia tidak lagi melakukan dosa yang sama, itulah pertobatan yang sesungguhnya. Dengan penuh penyesalan Daud berdoa, "Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar!" (Mazmur 51:3). Pula, ketika diperingatkan karena memegahkan diri dengan menghitung jumlah prajuritnya, segeralah Daud menyadari kesalahannya di hadapan Tuhan. "Aku telah sangat berdosa karena melakukan hal ini; maka sekarang,
TUHAN, jauhkanlah kiranya kesalahan hamba-Mu, sebab perbuatanku itu
sangat bodoh." (2 Samuel 24:10).
Betapa banyak orang Kristen yang berlaku seperti Saul, yaitu sulit sekali mengakui kesalahannya, tapi mudah sekali melihat selumbar di mata orang lain (Matius 7:3); mereka tak mau dikoreksi dan malah membenarkan diri sendiri; mereka menyembunyikan dosa dan kesalahannya dengan rapat dan tetap hidup dalam kepura-puraan. Perhatikan! "Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi." (Amsal 28:13).
"Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah." Mazmur 51:19
Monday, August 26, 2019
Sunday, August 25, 2019
PERLINDUNGAN TUHAN ATAS ORANG BENAR
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 25 Agustus 2019
Baca: Mazmur 91:1-16
"Walau seribu orang rebah di sisimu, dan sepuluh ribu di sebelah kananmu, tetapi itu tidak akan menimpamu." Mazmur 91:7
Mazmur 91 ini berbicara tentang jaminan perlindungan Tuhan bagi orang percaya. Orang percaya yang bagaimana? Jaminan perlindungan Tuhan hanya tersedia bagi orang percaya yang hidup melekat dengan Tuhan. Melekat dengan Tuhan berarti bergaul karib dengan Tuhan, seperti ranting yang melekat pada pokok anggur. Inilah syarat mutlak untuk kita dapat mengalami janji perlindungan Tuhan ini. Dikatakan: "Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa akan berkata kepada TUHAN: 'Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai.'" (Mazmur 91:1-2). 'Orang yang duduk dan bermalam' memiliki makna: orang yang mau menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak Tuhan dan berusaha untuk hidup benar di hadapan Tuhan setiap hari.
Hidup melekat dengan Tuhan dan bergaul karib dengan-Nya menyiratkan adanya kehendak diri yang sudah ditaklukkan bagi Tuhan. Sama seperti ranting yang harus 'dibersihkan' supaya dapat berbuah lebat. Ini adalah proses yang tidak mudah, butuh pendisiplinan diri dari hari ke sehari, karena "...roh memang penurut, tetapi daging lemah." (Matius 26:41). Bila kita tidak hidup melekat dengan Tuhan dan bergaul karib dengan Dia secara konsisten, maka kita juga tidak akan penuh menikmati janji-janji Tuhan itu. Ada bagian yang harus kita kerjakan, maka Tuhan akan mengerjakan bagian-Nya. Pernyataan pemazmur bahwa Tuhan adalah Yang Mahatinggi adalah penegasan bahwa Tuhan lebih besar daripada ancaman apa saja yang kita hadapi; Yang Mahakuasa adalah untuk menekankan bahwa kuasa-Nya sanggup mengalahkan dan membinasakan semua musuh. Bahkan, "...malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu." (Mazmur 91:11). Tuhan mengutus malaikat-Nya untuk mengawasi, menjaga, dan melindungi orang benar-Nya.
Selama kita tinggal dekat Tuhan dan hidup seturut dengan kehendak Tuhan, maka tak ada yang perlu ditakutkan, karena ada jaminan perlindungan dari Tuhan.
"Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkannya..." Mazmur 91:15
Baca: Mazmur 91:1-16
"Walau seribu orang rebah di sisimu, dan sepuluh ribu di sebelah kananmu, tetapi itu tidak akan menimpamu." Mazmur 91:7
Mazmur 91 ini berbicara tentang jaminan perlindungan Tuhan bagi orang percaya. Orang percaya yang bagaimana? Jaminan perlindungan Tuhan hanya tersedia bagi orang percaya yang hidup melekat dengan Tuhan. Melekat dengan Tuhan berarti bergaul karib dengan Tuhan, seperti ranting yang melekat pada pokok anggur. Inilah syarat mutlak untuk kita dapat mengalami janji perlindungan Tuhan ini. Dikatakan: "Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa akan berkata kepada TUHAN: 'Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai.'" (Mazmur 91:1-2). 'Orang yang duduk dan bermalam' memiliki makna: orang yang mau menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak Tuhan dan berusaha untuk hidup benar di hadapan Tuhan setiap hari.
Hidup melekat dengan Tuhan dan bergaul karib dengan-Nya menyiratkan adanya kehendak diri yang sudah ditaklukkan bagi Tuhan. Sama seperti ranting yang harus 'dibersihkan' supaya dapat berbuah lebat. Ini adalah proses yang tidak mudah, butuh pendisiplinan diri dari hari ke sehari, karena "...roh memang penurut, tetapi daging lemah." (Matius 26:41). Bila kita tidak hidup melekat dengan Tuhan dan bergaul karib dengan Dia secara konsisten, maka kita juga tidak akan penuh menikmati janji-janji Tuhan itu. Ada bagian yang harus kita kerjakan, maka Tuhan akan mengerjakan bagian-Nya. Pernyataan pemazmur bahwa Tuhan adalah Yang Mahatinggi adalah penegasan bahwa Tuhan lebih besar daripada ancaman apa saja yang kita hadapi; Yang Mahakuasa adalah untuk menekankan bahwa kuasa-Nya sanggup mengalahkan dan membinasakan semua musuh. Bahkan, "...malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu." (Mazmur 91:11). Tuhan mengutus malaikat-Nya untuk mengawasi, menjaga, dan melindungi orang benar-Nya.
Selama kita tinggal dekat Tuhan dan hidup seturut dengan kehendak Tuhan, maka tak ada yang perlu ditakutkan, karena ada jaminan perlindungan dari Tuhan.
"Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkannya..." Mazmur 91:15
Saturday, August 24, 2019
PENTINGNYA HIKMAT BAGI ORANG PERCAYA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 24 Agustus 2019
Baca: Amsal 2:1-22
"Karena hikmat akan masuk ke dalam hatimu dan pengetahuan akan menyenangkan jiwamu; kebijaksanaan akan memelihara engkau, kepandaian akan menjaga engkau" Amsal 2:10-11
Secara umum kata 'hikmat' (Inggris: wisdom) memiliki arti: suatu pengertian dan pemahaman yang dalam mengenai orang, barang, kejadian atau situasi, yang menghasilkan kemampuan untuk menerapkan persepsi, penilaian dan perbuatan sesuai pengertian tersebut. Hikmat adalah hal yang sangat penting yang harus dimiliki oleh setiap anak-anak Tuhan, sebab "...hikmat lebih berharga dari pada permata, apapun yang diinginkan orang, tidak dapat menyamainya." (Amsal 8:11). Dengan hikmat, orang dimampukan untuk membuat keputusan dengan benar, dapat membedakan mana yang baik dan mana yang jahat, mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak.
Daud adalah contoh orang yang penuh hikmat. Karena hikmatnya ini Daud mampu menjadi pemimpin yang benar-benar dikagumi oleh rakyatnya seperti tertulis: "...perkataan tuanku raja tentulah akan menenangkan hati, sebab seperti malaikat Allah, demikianlah tuanku raja, yang dapat membeda-bedakan apa yang baik dan jahat. Dan TUHAN, Allahmu, kiranya menyertai tuanku." (2 Samuel 14:17). Hikmat mulai berkembang di dalam diri Daud sejak ia masih muda, kala ia berada di padang menggembalakan kawanan domba. Di situlah Daud banyak belajar tentang bagaimana harus memimpin, membimbing, dan menuntun domba-dombanya. "Ia menggembalakan mereka dengan ketulusan hatinya, dan menuntun mereka dengan kecakapan tangannya." (Mazmur 78:72). Begitu pula saat melayani di istana Saul, dengan hikmat yang dimiliki, Daud mampu mengerjakan semua tugas yang dipercayakan kepadanya dengan sangat baik.
Dari manakah Daud beroleh hikmat? Hikmat yang dimiliki Daud adalah buah dari persekutuannya yang karib dengan Tuhan dan ketekunannya dalam merenungkan firman Tuhan di sepanjang hidupnya. "Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari. Perintah-Mu membuat aku lebih bijaksana dari pada musuh-musuhku, sebab selama-lamanya itu ada padaku. Aku lebih berakal budi dari pada semua pengajarku, sebab peringatan-peringatan-Mu kurenungkan." (Mazmur 119:97-99).
Pemazmur hikmat adalah takut akan Tuhan! Dari Tuhanlah hikmat diperoleh.
Baca: Amsal 2:1-22
"Karena hikmat akan masuk ke dalam hatimu dan pengetahuan akan menyenangkan jiwamu; kebijaksanaan akan memelihara engkau, kepandaian akan menjaga engkau" Amsal 2:10-11
Secara umum kata 'hikmat' (Inggris: wisdom) memiliki arti: suatu pengertian dan pemahaman yang dalam mengenai orang, barang, kejadian atau situasi, yang menghasilkan kemampuan untuk menerapkan persepsi, penilaian dan perbuatan sesuai pengertian tersebut. Hikmat adalah hal yang sangat penting yang harus dimiliki oleh setiap anak-anak Tuhan, sebab "...hikmat lebih berharga dari pada permata, apapun yang diinginkan orang, tidak dapat menyamainya." (Amsal 8:11). Dengan hikmat, orang dimampukan untuk membuat keputusan dengan benar, dapat membedakan mana yang baik dan mana yang jahat, mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak.
Daud adalah contoh orang yang penuh hikmat. Karena hikmatnya ini Daud mampu menjadi pemimpin yang benar-benar dikagumi oleh rakyatnya seperti tertulis: "...perkataan tuanku raja tentulah akan menenangkan hati, sebab seperti malaikat Allah, demikianlah tuanku raja, yang dapat membeda-bedakan apa yang baik dan jahat. Dan TUHAN, Allahmu, kiranya menyertai tuanku." (2 Samuel 14:17). Hikmat mulai berkembang di dalam diri Daud sejak ia masih muda, kala ia berada di padang menggembalakan kawanan domba. Di situlah Daud banyak belajar tentang bagaimana harus memimpin, membimbing, dan menuntun domba-dombanya. "Ia menggembalakan mereka dengan ketulusan hatinya, dan menuntun mereka dengan kecakapan tangannya." (Mazmur 78:72). Begitu pula saat melayani di istana Saul, dengan hikmat yang dimiliki, Daud mampu mengerjakan semua tugas yang dipercayakan kepadanya dengan sangat baik.
Dari manakah Daud beroleh hikmat? Hikmat yang dimiliki Daud adalah buah dari persekutuannya yang karib dengan Tuhan dan ketekunannya dalam merenungkan firman Tuhan di sepanjang hidupnya. "Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari. Perintah-Mu membuat aku lebih bijaksana dari pada musuh-musuhku, sebab selama-lamanya itu ada padaku. Aku lebih berakal budi dari pada semua pengajarku, sebab peringatan-peringatan-Mu kurenungkan." (Mazmur 119:97-99).
Pemazmur hikmat adalah takut akan Tuhan! Dari Tuhanlah hikmat diperoleh.
Friday, August 23, 2019
JANGAN LARI DARI TANGGUNG JAWAB
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 23 Agustus 2019
Baca: 1 Samuel 10:17-27
"'Kamu lihatkah orang yang dipilih TUHAN itu? Sebab tidak ada seorangpun yang sama seperti dia di antara seluruh bangsa itu.'" Lalu bersoraklah seluruh bangsa itu, demikian: 'Hidup raja!'" 1 Samuel 10:24
Dipercaya Tuhan untuk mengerjakan suatu tugas pelayanan adalah anugerah, suatu berkat yang tak ternilai, karena tak semua orang beroleh kepercayaan. Dipercaya berarti diberi mandat atau tanggung jawab, dan itu untuk dikerjakan atau dilaksanakan. Apabila ada orang yang dipercaya untuk suatu tugas, tapi ia lari dari tanggung jawab tersebut, berarti ada kemungkinan orang itu tidak siap secara mental untuk mengemban tugas yang dipercayakan kepadanya, atau orang itu memandang remeh tugas tersebut.
Sikap inilah yang ditunjukkan oleh Saul! Ketika segenap umat Israel berkumpul untuk memilih seorang raja dengan membuang undi, maka Samuel "...menyuruh segala suku Israel tampil ke muka, maka didapati suku Benyamin. Sesudah itu disuruhnyalah suku Benyamin tampil ke muka menurut kaum keluarganya, maka didapati kaum keluarga Matri. Akhirnya disuruhnyalah kaum keluarga Matri tampil ke muka seorang demi seorang, maka didapati Saul bin Kish." (1 Samuel 10:20-21). Hasilnya? Terpilihlah Saul. Namun pada saat nama Saul dipanggil agar berada di tengah-tengah mereka, ia tidak berada di tempat, melainkan bersembunyi di antara barang-barang, seperti tertulis: "Tetapi ketika ia dicari, ia tidak diketemukan. Sebab itu ditanyakan pulalah kepada TUHAN: 'Apa orang itu juga datang ke mari?' TUHAN menjawab: 'Sesungguhnya ia bersembunyi di antara barang-barang.'" (1 Samuel 10:21b-22).
Sikap dan tindakan yang Saul tunjukkan dengan bersembunyi ini merupakan suatu tindakan bodoh dan kekanak-kanakan. Sikap lari dari tanggung jawab inilah yang pada akhirnya selalu diperbuat oleh Saul di sepanjang hidupnya. Ketika melakukan suatu kesalahan ia enggan mengakuinya, tapi cenderung menyalahkan orang lain atau mengambinghitamkan orang lain. Bukankah banyak orang percaya punya sikap seperti Saul ini? Mudah sekali lari dari panggilan Tuhan dengan berbagai dalih: sibuk, merasa tidak siap. Ketika melakukan kesalahan, kita enggan mengakuinya dengan jujur.
Lari dari tanggung jawab yang Tuhan percayakan adalah tanda orang tidak dewasa rohani.
Baca: 1 Samuel 10:17-27
"'Kamu lihatkah orang yang dipilih TUHAN itu? Sebab tidak ada seorangpun yang sama seperti dia di antara seluruh bangsa itu.'" Lalu bersoraklah seluruh bangsa itu, demikian: 'Hidup raja!'" 1 Samuel 10:24
Dipercaya Tuhan untuk mengerjakan suatu tugas pelayanan adalah anugerah, suatu berkat yang tak ternilai, karena tak semua orang beroleh kepercayaan. Dipercaya berarti diberi mandat atau tanggung jawab, dan itu untuk dikerjakan atau dilaksanakan. Apabila ada orang yang dipercaya untuk suatu tugas, tapi ia lari dari tanggung jawab tersebut, berarti ada kemungkinan orang itu tidak siap secara mental untuk mengemban tugas yang dipercayakan kepadanya, atau orang itu memandang remeh tugas tersebut.
Sikap inilah yang ditunjukkan oleh Saul! Ketika segenap umat Israel berkumpul untuk memilih seorang raja dengan membuang undi, maka Samuel "...menyuruh segala suku Israel tampil ke muka, maka didapati suku Benyamin. Sesudah itu disuruhnyalah suku Benyamin tampil ke muka menurut kaum keluarganya, maka didapati kaum keluarga Matri. Akhirnya disuruhnyalah kaum keluarga Matri tampil ke muka seorang demi seorang, maka didapati Saul bin Kish." (1 Samuel 10:20-21). Hasilnya? Terpilihlah Saul. Namun pada saat nama Saul dipanggil agar berada di tengah-tengah mereka, ia tidak berada di tempat, melainkan bersembunyi di antara barang-barang, seperti tertulis: "Tetapi ketika ia dicari, ia tidak diketemukan. Sebab itu ditanyakan pulalah kepada TUHAN: 'Apa orang itu juga datang ke mari?' TUHAN menjawab: 'Sesungguhnya ia bersembunyi di antara barang-barang.'" (1 Samuel 10:21b-22).
Sikap dan tindakan yang Saul tunjukkan dengan bersembunyi ini merupakan suatu tindakan bodoh dan kekanak-kanakan. Sikap lari dari tanggung jawab inilah yang pada akhirnya selalu diperbuat oleh Saul di sepanjang hidupnya. Ketika melakukan suatu kesalahan ia enggan mengakuinya, tapi cenderung menyalahkan orang lain atau mengambinghitamkan orang lain. Bukankah banyak orang percaya punya sikap seperti Saul ini? Mudah sekali lari dari panggilan Tuhan dengan berbagai dalih: sibuk, merasa tidak siap. Ketika melakukan kesalahan, kita enggan mengakuinya dengan jujur.
Lari dari tanggung jawab yang Tuhan percayakan adalah tanda orang tidak dewasa rohani.
Thursday, August 22, 2019
TETAP KUAT DI TENGAH ANCAMAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 22 Agustus 2019
Baca: Kisah Para Rasul 4:23-31
"Dan sekarang, ya Tuhan, lihatlah bagaimana mereka mengancam kami dan berikanlah kepada hamba-hamba-Mu keberanian untuk memberitakan firman-Mu." Kisah 4:29
Bagaimana perasaan Saudara ketika sedang dalam keadaan terancam? Kita pasti merasakan ketidaktenangan, tidak nyaman, tersiksa, dan terus dihantui oleh rasa takut. Arti kata 'ancaman' adalah menyatakan maksud (niat, rencana) untuk melakukan sesuatu yang merugikan, menyulitkan, menyusahkan, atau mencelakakan pihak lain; memberi pertanda atau peringatan mengenai kemungkinan malapetaka yang bakal terjadi. Ancaman bisa berupa tekanan, intimidasi, aniaya, krisis ekonomi, kesehatan yang terganggu, keluarga yang sedang di ambang kehancuran, dan sebagainya.
Karena mengerjakan panggilan Tuhan sebagai pemberita Injil, Petrus dan Yohanes, juga murid-murid yang lain, harus mengalami ancaman dari para pemimpin Yahudi, tua-tua dan ahli-ahli Taurat. Inilah harga yang harus dibayar seorang pemberita Injil yaitu menghadapi berbagai ancaman dan nyawa menjadi taruhannya. Bagaimana sikap kita ketika sedang diperhadapkan dengan ancaman di berbagai bidang kehidupan? 1. Kuatkan percaya Saudara kepada Tuhan. Saat dalam keadaan terjepit dan nyawanya terancam di Ziklag, apa yang Daud lakukan? "...menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN," (1 Samuel 30:6b). Adalah sia-sia menaruh kepercayaan kepada semua yang ada di dunia ini. Percayalah hanya kepada satu Pribadi yaitu Kristus Sang Juruselamat, sebab "...keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan." (Kisah 4:12). Tuhanlah tempat perlindungan yang teguh bagi kita.
2. Pegang teguh janji firman Tuhan. Tinggal di dalam firman Tuhan (taat) adalah kunci menggerakkan hati Tuhan untuk bertindak menolong kita. "Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya." (Yohanes 15:7). Perkataan firman Tuhan dengan iman: "...firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya." (Yesaya 55:11).
Tuhan ada di pihak orang benar! Tak perlu takut menghadapi ancaman apa pun!
Baca: Kisah Para Rasul 4:23-31
"Dan sekarang, ya Tuhan, lihatlah bagaimana mereka mengancam kami dan berikanlah kepada hamba-hamba-Mu keberanian untuk memberitakan firman-Mu." Kisah 4:29
Bagaimana perasaan Saudara ketika sedang dalam keadaan terancam? Kita pasti merasakan ketidaktenangan, tidak nyaman, tersiksa, dan terus dihantui oleh rasa takut. Arti kata 'ancaman' adalah menyatakan maksud (niat, rencana) untuk melakukan sesuatu yang merugikan, menyulitkan, menyusahkan, atau mencelakakan pihak lain; memberi pertanda atau peringatan mengenai kemungkinan malapetaka yang bakal terjadi. Ancaman bisa berupa tekanan, intimidasi, aniaya, krisis ekonomi, kesehatan yang terganggu, keluarga yang sedang di ambang kehancuran, dan sebagainya.
Karena mengerjakan panggilan Tuhan sebagai pemberita Injil, Petrus dan Yohanes, juga murid-murid yang lain, harus mengalami ancaman dari para pemimpin Yahudi, tua-tua dan ahli-ahli Taurat. Inilah harga yang harus dibayar seorang pemberita Injil yaitu menghadapi berbagai ancaman dan nyawa menjadi taruhannya. Bagaimana sikap kita ketika sedang diperhadapkan dengan ancaman di berbagai bidang kehidupan? 1. Kuatkan percaya Saudara kepada Tuhan. Saat dalam keadaan terjepit dan nyawanya terancam di Ziklag, apa yang Daud lakukan? "...menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN," (1 Samuel 30:6b). Adalah sia-sia menaruh kepercayaan kepada semua yang ada di dunia ini. Percayalah hanya kepada satu Pribadi yaitu Kristus Sang Juruselamat, sebab "...keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan." (Kisah 4:12). Tuhanlah tempat perlindungan yang teguh bagi kita.
2. Pegang teguh janji firman Tuhan. Tinggal di dalam firman Tuhan (taat) adalah kunci menggerakkan hati Tuhan untuk bertindak menolong kita. "Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya." (Yohanes 15:7). Perkataan firman Tuhan dengan iman: "...firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya." (Yesaya 55:11).
Tuhan ada di pihak orang benar! Tak perlu takut menghadapi ancaman apa pun!
Wednesday, August 21, 2019
AKIBAT MEREMEHKAN TANGGUNGJAWAB
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 21 Agustus 2019
Baca: 1 Samuel 2:27-36
"Dan Aku akan mengangkat bagi-Ku seorang imam kepercayaan, yang berlaku sesuai dengan hati-Ku dan jiwa-Ku, dan Aku akan membangunkan baginya keturunan yang teguh setia, sehingga ia selalu hidup di hadapan orang yang Kuurapi." 1 Samuel 2:35
Di zaman Perjanjian Lama seorang imam memiliki tanggung jawab dan tugas yang besar dan mulia, yaitu melayani dan mewakili umat di hadapan Tuhan. Adapun tugas seorang imam: mempersembahkan korban di atas mezbah, membakar ukupan, berdoa syafaat kepada Tuhan bagi umat yang diwakilinya. Oleh karena itu seorang imam tidak boleh main-main dengan hidupnya, ia haruslah orang yang memiliki kehidupan yang benar di hadapan Tuhan dan memberi teladan yang baik bagi umat yang dilayani.
Saat menjabat sebagai imam, imam Eli justru tidak menunjukkan teladan hidup yang baik. Ia melakukan perbuatan yang tidak benar di hadapan Tuhan. Itu artinya imam Eli memandang remeh tanggung jawab yang Tuhan percayakan kepadanya. Tuhan menegur imam Eli dengan sangat keras! "Mengapa engkau memandang dengan loba kepada korban sembelihan-Ku dan korban sajian-Ku, yang telah Kuperintahkan, dan mengapa engkau menghormati anak-anakmu lebih dari pada-Ku, sambil kamu menggemukkan dirimu dengan bagian yang terbaik dari setiap korban sajian umat-Ku Israel?" (1 Samuel 2:29). Bahkan imam Eli juga membiarkan anak-anaknya berlaku dursila, "Dengan demikian sangat besarlah dosa kedua orang muda itu di hadapan TUHAN, sebab mereka memandang rendah korban untuk TUHAN." (1 Samuel 2:17). Tuhan menilai bahwa imam Eli telah gagal dalam mengemban tugas sebagai seorang imam. Akhirnya Tuhan mendatangkan hukuman atas keluarga imam Eli ini: garis keturunannya langsung terputus, karena kedua anaknya (Hofni dan Pinehas) mati, dan jabatannya sebagai imam pun dicopot.
Selanjutnya Tuhan telah menyiapkan dan memilih orang yang dipandangnya layak untuk dipercaya memegang jabatan imam, menggantikan imam Eli, yaitu Samuel. Jika saat ini Tuhan mempercayakan kita sebuah tanggung jawab pelayanan, lakukan itu dengan hati yang takut akan Tuhan. Jangan pernah main-main dengan pelayanan Saudara! Kegagalan keluarga imam Eli ini menjadi pelajaran berharga bagi kita.
Hidup benar adalah syarat mutlak bagi orang-orang yang melayani Tuhan!
Baca: 1 Samuel 2:27-36
"Dan Aku akan mengangkat bagi-Ku seorang imam kepercayaan, yang berlaku sesuai dengan hati-Ku dan jiwa-Ku, dan Aku akan membangunkan baginya keturunan yang teguh setia, sehingga ia selalu hidup di hadapan orang yang Kuurapi." 1 Samuel 2:35
Di zaman Perjanjian Lama seorang imam memiliki tanggung jawab dan tugas yang besar dan mulia, yaitu melayani dan mewakili umat di hadapan Tuhan. Adapun tugas seorang imam: mempersembahkan korban di atas mezbah, membakar ukupan, berdoa syafaat kepada Tuhan bagi umat yang diwakilinya. Oleh karena itu seorang imam tidak boleh main-main dengan hidupnya, ia haruslah orang yang memiliki kehidupan yang benar di hadapan Tuhan dan memberi teladan yang baik bagi umat yang dilayani.
Saat menjabat sebagai imam, imam Eli justru tidak menunjukkan teladan hidup yang baik. Ia melakukan perbuatan yang tidak benar di hadapan Tuhan. Itu artinya imam Eli memandang remeh tanggung jawab yang Tuhan percayakan kepadanya. Tuhan menegur imam Eli dengan sangat keras! "Mengapa engkau memandang dengan loba kepada korban sembelihan-Ku dan korban sajian-Ku, yang telah Kuperintahkan, dan mengapa engkau menghormati anak-anakmu lebih dari pada-Ku, sambil kamu menggemukkan dirimu dengan bagian yang terbaik dari setiap korban sajian umat-Ku Israel?" (1 Samuel 2:29). Bahkan imam Eli juga membiarkan anak-anaknya berlaku dursila, "Dengan demikian sangat besarlah dosa kedua orang muda itu di hadapan TUHAN, sebab mereka memandang rendah korban untuk TUHAN." (1 Samuel 2:17). Tuhan menilai bahwa imam Eli telah gagal dalam mengemban tugas sebagai seorang imam. Akhirnya Tuhan mendatangkan hukuman atas keluarga imam Eli ini: garis keturunannya langsung terputus, karena kedua anaknya (Hofni dan Pinehas) mati, dan jabatannya sebagai imam pun dicopot.
Selanjutnya Tuhan telah menyiapkan dan memilih orang yang dipandangnya layak untuk dipercaya memegang jabatan imam, menggantikan imam Eli, yaitu Samuel. Jika saat ini Tuhan mempercayakan kita sebuah tanggung jawab pelayanan, lakukan itu dengan hati yang takut akan Tuhan. Jangan pernah main-main dengan pelayanan Saudara! Kegagalan keluarga imam Eli ini menjadi pelajaran berharga bagi kita.
Hidup benar adalah syarat mutlak bagi orang-orang yang melayani Tuhan!
Tuesday, August 20, 2019
MENGALAHKAN KEINGINAN DUNIA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 20 Agustus 2019
Baca: 1 Yohanes 2:7-17
"Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia." 1 Yohanes 2:16
Hidup Kristen adalah hidup yang tidak mudah, sebab hidup Kristen adalah sebuah peperangan rohani. Berperang melawan siapa? Berperang melawan musuh yaitu Iblis, yang adalah musuh utama, "...perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara." (Efesus 6:12). Peperangan selanjutnya adalah peperangan melawan cara hidup duniawi. Alkitab menyatakan bahwa persahabatan dengan dunia ini menjadikan kita ini musuh Tuhan (Yakobus 4:4). Karena itu orang percaya harus punya ketegasan untuk meninggalkan segala hal yang bersifat duniawi agar kita layak dan berkenan kepada Tuhan.
Dunia dengan segala keinginan dan kenikmatannya seringkali dimanfaatkan Iblis untuk mempengaruhi, melemahkan, dan menghancurkan kehidupan manusia. Ada tiga keinginan yang ada di dalam dunia ini: 1. Keinginan daging. Rasul Paulus menegaskan bahwa keinginan daging itu berlawanan dengan keinginan Roh (Galatia 5:17); keinginan daging adalah maut (Roma 8:7). Mereka yang hidup dalam daging tidak mungkin berkenan kepada Tuhan (Roma 8:8). Kedagingan adalah titik yang paling lemah yang dimiliki oleh manusia: "...roh memang penurut, tetapi daging lemah." (Matius 26:41). 2. Keinginan mata. Mata manusia selalu merasa tidak puas untuk melihat sesuatu (Pengkhotbah 1:8). Karena mata melihat, timbullah keinginan untuk melakukan. "Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu." (Matius 6:22-23). Mata adalah medan peperangan yang paling berbahaya.
3. Keangkuhan hidup. Ini berkaitan dengan ego manusia yang cenderung mementingkan diri sendiri, ingin dipuji, ingin dihormati, dihargai dan ingin dilayani. Ego inilah yang seringkali menjatuhkan manusia ke dalam dosa kesombongan. Berhati-hatilah! Sebab dosa kesombongan adalah dosa yang sangat besar di mata Tuhan.
Orang percaya harus benar-benar 'mati' dari segala keinginan dunia!
Baca: 1 Yohanes 2:7-17
"Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia." 1 Yohanes 2:16
Hidup Kristen adalah hidup yang tidak mudah, sebab hidup Kristen adalah sebuah peperangan rohani. Berperang melawan siapa? Berperang melawan musuh yaitu Iblis, yang adalah musuh utama, "...perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara." (Efesus 6:12). Peperangan selanjutnya adalah peperangan melawan cara hidup duniawi. Alkitab menyatakan bahwa persahabatan dengan dunia ini menjadikan kita ini musuh Tuhan (Yakobus 4:4). Karena itu orang percaya harus punya ketegasan untuk meninggalkan segala hal yang bersifat duniawi agar kita layak dan berkenan kepada Tuhan.
Dunia dengan segala keinginan dan kenikmatannya seringkali dimanfaatkan Iblis untuk mempengaruhi, melemahkan, dan menghancurkan kehidupan manusia. Ada tiga keinginan yang ada di dalam dunia ini: 1. Keinginan daging. Rasul Paulus menegaskan bahwa keinginan daging itu berlawanan dengan keinginan Roh (Galatia 5:17); keinginan daging adalah maut (Roma 8:7). Mereka yang hidup dalam daging tidak mungkin berkenan kepada Tuhan (Roma 8:8). Kedagingan adalah titik yang paling lemah yang dimiliki oleh manusia: "...roh memang penurut, tetapi daging lemah." (Matius 26:41). 2. Keinginan mata. Mata manusia selalu merasa tidak puas untuk melihat sesuatu (Pengkhotbah 1:8). Karena mata melihat, timbullah keinginan untuk melakukan. "Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu." (Matius 6:22-23). Mata adalah medan peperangan yang paling berbahaya.
3. Keangkuhan hidup. Ini berkaitan dengan ego manusia yang cenderung mementingkan diri sendiri, ingin dipuji, ingin dihormati, dihargai dan ingin dilayani. Ego inilah yang seringkali menjatuhkan manusia ke dalam dosa kesombongan. Berhati-hatilah! Sebab dosa kesombongan adalah dosa yang sangat besar di mata Tuhan.
Orang percaya harus benar-benar 'mati' dari segala keinginan dunia!
Monday, August 19, 2019
TUHAN SUDAH MEMPERINGATKAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 19 Agustus 2019
Baca: Kisah Para Rasul 27:1-13
"Pada waktu itu angin sepoi-sepoi bertiup dari selatan. Mereka menyangka, bahwa maksud mereka sudah tentu akan tercapai. Mereka membongkar sauh, lalu berlayar dekat sekali menyusur pantai Kreta." Kisah 27:13
Cuaca ekstrem yang berpotensi menimbulkan bencana alam akhir-akhir ini terjadi di berbagai tempat di belahan bumi ini, termasuk di wilayah Indonesia. Mulai dari hujan lebat disertai dengan angin puting beliung, badai, taufan, panas yang begitu menyengat (kenaikan suhu yang drastis), gelombang tinggi dan sebagainya. Cuaca ekstrem adalah fenomena cuaca yang berpotensi menimbulkan bencana, menghancurkan tatanan kehidupan sosial, atau menimbulkan korban jiwa manusia.
Karena memberitakan Injil, rasul Paulus ditahan dan dibawa dengan sebuah kapal bersama dengan tawanan lain, dan saat itu cuaca sedang tidak baik. Setelah berlayar beberapa hari lamanya sampailah mereka di suatu tempat bernama 'Pelabuhan Indah'. Paulus memperoleh hikmat dari Tuhan: "Saudara-saudara, aku lihat, bahwa pelayaran kita akan mendatangkan kesukaran-kesukaran dan kerugian besar, bukan saja bagi muatan dan kapal, tetapi juga bagi nyawa kita." (Kisah 27:10). Karena itu Paulus memperingatkan mereka untuk tidak melanjutkan perjalanan, melainkan berhenti sejenak di Pelabuhan Indah, namun mereka menolak untuk berhenti, karena menurut akal manusia pelabuhan tersebut tak memiliki pelindung alamiah, "Karena pelabuhan itu tidak baik untuk tinggal di situ selama musim dingin, maka kebanyakan dari mereka lebih setuju untuk berlayar terus dan mencoba mencapai kota Feniks untuk tinggal di situ selama musim dingin. Kota Feniks adalah sebuah pelabuhan pulau Kreta, yang terbuka ke arah barat daya dan ke arah barat laut." (Kisah 27:12). Dan "...perwira itu lebih percaya kepada jurumudi dan nakhoda dari pada kepada perkataan Paulus." (Kisah 27:11). Apa yang terjadi kemudian? "...tidak berapa lama kemudian turunlah dari arah pulau itu angin badai, yang disebut angin 'Timur Laut'. Kapal itu dilandanya dan tidak tahan menghadapi angin haluan." (Kisah 27:14-15a).
Paulus berkata, "...jika sekiranya nasihatku dituruti, supaya kita jangan berlayar dari Kreta, kita pasti terpelihara dari kesukaran dan kerugian ini!" (Kisah 27:21).
Tak menghiraukan peringatan Tuhan, kesukaran demi kesukaran akan kita alami!
Baca: Kisah Para Rasul 27:1-13
"Pada waktu itu angin sepoi-sepoi bertiup dari selatan. Mereka menyangka, bahwa maksud mereka sudah tentu akan tercapai. Mereka membongkar sauh, lalu berlayar dekat sekali menyusur pantai Kreta." Kisah 27:13
Cuaca ekstrem yang berpotensi menimbulkan bencana alam akhir-akhir ini terjadi di berbagai tempat di belahan bumi ini, termasuk di wilayah Indonesia. Mulai dari hujan lebat disertai dengan angin puting beliung, badai, taufan, panas yang begitu menyengat (kenaikan suhu yang drastis), gelombang tinggi dan sebagainya. Cuaca ekstrem adalah fenomena cuaca yang berpotensi menimbulkan bencana, menghancurkan tatanan kehidupan sosial, atau menimbulkan korban jiwa manusia.
Karena memberitakan Injil, rasul Paulus ditahan dan dibawa dengan sebuah kapal bersama dengan tawanan lain, dan saat itu cuaca sedang tidak baik. Setelah berlayar beberapa hari lamanya sampailah mereka di suatu tempat bernama 'Pelabuhan Indah'. Paulus memperoleh hikmat dari Tuhan: "Saudara-saudara, aku lihat, bahwa pelayaran kita akan mendatangkan kesukaran-kesukaran dan kerugian besar, bukan saja bagi muatan dan kapal, tetapi juga bagi nyawa kita." (Kisah 27:10). Karena itu Paulus memperingatkan mereka untuk tidak melanjutkan perjalanan, melainkan berhenti sejenak di Pelabuhan Indah, namun mereka menolak untuk berhenti, karena menurut akal manusia pelabuhan tersebut tak memiliki pelindung alamiah, "Karena pelabuhan itu tidak baik untuk tinggal di situ selama musim dingin, maka kebanyakan dari mereka lebih setuju untuk berlayar terus dan mencoba mencapai kota Feniks untuk tinggal di situ selama musim dingin. Kota Feniks adalah sebuah pelabuhan pulau Kreta, yang terbuka ke arah barat daya dan ke arah barat laut." (Kisah 27:12). Dan "...perwira itu lebih percaya kepada jurumudi dan nakhoda dari pada kepada perkataan Paulus." (Kisah 27:11). Apa yang terjadi kemudian? "...tidak berapa lama kemudian turunlah dari arah pulau itu angin badai, yang disebut angin 'Timur Laut'. Kapal itu dilandanya dan tidak tahan menghadapi angin haluan." (Kisah 27:14-15a).
Paulus berkata, "...jika sekiranya nasihatku dituruti, supaya kita jangan berlayar dari Kreta, kita pasti terpelihara dari kesukaran dan kerugian ini!" (Kisah 27:21).
Tak menghiraukan peringatan Tuhan, kesukaran demi kesukaran akan kita alami!
Sunday, August 18, 2019
BERHARAPLAH HANYA KEPADA TUHAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 18 Agustus 2019
Baca: Mazmur 146:1-10
"Janganlah percaya kepada para bangsawan, kepada anak manusia yang tidak dapat memberikan keselamatan." Mazmur 146:3
Tuhan mengerti benar bahwa kehidupan anak-anak-Nya tak luput dari persoalan dan pergumulan. Oleh sebab itu Tuhan selalu membuka tangan-Nya untuk memberikan pertolongan, dengan maksud hendak mengajar kita untuk tidak berharap pada manusia. Tuhan berfirman dengan keras, "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!" (Yeremia 17:5). Disebut terkutuk orang yang mengandalkan manusia atau kekuatannya sendiri daripada Tuhan adalah pertanda bahwa orang tersebut meremehkan Tuhan dan menganggap Tuhan tak sanggup menolong. "Jadi dengan siapa hendak kamu samakan Allah, dan apa yang dapat kamu anggap serupa dengan Dia?" (Yesaya 40:18).
Ketahuilah bahwa manusia memiliki keterbatasan kekuatan, kemampuan, kesanggupan, kepandaian, kasih dan ketulusannya. Karena itu "Jangan berharap pada manusia, sebab ia tidak lebih dari pada embusan nafas, dan sebagai apakah ia dapat dianggap?" (Yesaya 2:22), adalah "Lebih baik berlindung pada TUHAN dari pada percaya kepada manusia. Lebih baik berlindung pada TUHAN dari pada percaya kepada para bangsawan." (Mazmur 118:8-9), "Berbahagialah orang yang mempunyai Allah Yakub sebagai penolong, yang harapannya pada TUHAN, Allahnya: Dia yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya; yang tetap setia untuk selama-lamanya, yang menegakkan keadilan untuk orang-orang yang diperas, yang memberi roti kepada orang-orang yang lapar. TUHAN membebaskan orang-orang yang terkurung, TUHAN membuka mata orang-orang buta, TUHAN menegakkan orang yang tertunduk, TUHAN mengasihi orang-orang benar." (Mazmur 146:5-8).
Bagi orang percaya Tuhan lebih dari cukup! Dialah satu-satunya penolong hidup kita, bukan yang lain. Jangan sekali-kali kita meragukan kuasa Tuhan, sebab cara Tuhan dalam menolong sungguh ajaib: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia." (1 Korintus 2:9).
Berhentilah berharap kepada manusia! Haraplah dan andalkan Tuhan saja.
Baca: Mazmur 146:1-10
"Janganlah percaya kepada para bangsawan, kepada anak manusia yang tidak dapat memberikan keselamatan." Mazmur 146:3
Tuhan mengerti benar bahwa kehidupan anak-anak-Nya tak luput dari persoalan dan pergumulan. Oleh sebab itu Tuhan selalu membuka tangan-Nya untuk memberikan pertolongan, dengan maksud hendak mengajar kita untuk tidak berharap pada manusia. Tuhan berfirman dengan keras, "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!" (Yeremia 17:5). Disebut terkutuk orang yang mengandalkan manusia atau kekuatannya sendiri daripada Tuhan adalah pertanda bahwa orang tersebut meremehkan Tuhan dan menganggap Tuhan tak sanggup menolong. "Jadi dengan siapa hendak kamu samakan Allah, dan apa yang dapat kamu anggap serupa dengan Dia?" (Yesaya 40:18).
Ketahuilah bahwa manusia memiliki keterbatasan kekuatan, kemampuan, kesanggupan, kepandaian, kasih dan ketulusannya. Karena itu "Jangan berharap pada manusia, sebab ia tidak lebih dari pada embusan nafas, dan sebagai apakah ia dapat dianggap?" (Yesaya 2:22), adalah "Lebih baik berlindung pada TUHAN dari pada percaya kepada manusia. Lebih baik berlindung pada TUHAN dari pada percaya kepada para bangsawan." (Mazmur 118:8-9), "Berbahagialah orang yang mempunyai Allah Yakub sebagai penolong, yang harapannya pada TUHAN, Allahnya: Dia yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya; yang tetap setia untuk selama-lamanya, yang menegakkan keadilan untuk orang-orang yang diperas, yang memberi roti kepada orang-orang yang lapar. TUHAN membebaskan orang-orang yang terkurung, TUHAN membuka mata orang-orang buta, TUHAN menegakkan orang yang tertunduk, TUHAN mengasihi orang-orang benar." (Mazmur 146:5-8).
Bagi orang percaya Tuhan lebih dari cukup! Dialah satu-satunya penolong hidup kita, bukan yang lain. Jangan sekali-kali kita meragukan kuasa Tuhan, sebab cara Tuhan dalam menolong sungguh ajaib: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia." (1 Korintus 2:9).
Berhentilah berharap kepada manusia! Haraplah dan andalkan Tuhan saja.
Saturday, August 17, 2019
INDONESIA BAGI KEMULIAAN TUHAN!
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 Agustus 2019
Baca: Yesaya 42:10-17
"Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN dan pujilah Dia dari ujung bumi! Baiklah laut bergemuruh serta segala isinya dan pulau-pulau dengan segala penduduknya." Yesaya 42:10
Sebagai orang percaya kita patut berbangga karena Tuhan menempatkan kita menjadi bagian dari suatu bangsa yang besar yaitu bangsa Indonesia. Di mata internasional Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan, karena memiliki pulau yang terbanyak di dunia: lebih dari 17.000 pulau. Selain itu penduduk Indonesia terdiri dari berbagai suku (1.340 suku), dengan 671 bahasa daerah yang tersebar di 34 propinsi. Luar biasa!
Patutlah kita menaikkan pujian dan nyanyian bagi Tuhan sebagai ungkapan syukur karena telah diberi anugerah yang teramat besar atas bangsa Indonesia, yaitu kemerdekaan. Hari ini seluruh masyarakat Indonesia, mulai dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai pulau Rote, maupun yang tinggal di negara lain, sedang bersuka cita merayakan hari kemerdekaan RI yang ke-74. Pekik Merdeka berkumandang di seluruh negeri! "Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN dan pujilah Dia...Baiklah laut bergemuruh serta segala isinya dan pulau-pulau dengan segala penduduknya. Baiklah padang gurun menyaringkan suara dengan kota-kotanya dan dengan desa-desa yang didiami Kedar! Baiklah bersorak-sorai penduduk Bukit Batu, baiklah mereka berseru-seru dari puncak gunung-gunung! Baiklah mereka memberi penghormatan kepada TUHAN, dan memberitakan pujian yang kepada-Nya di pulau-pulau." (Yesaya 42:10-12). Siapa bani Kedar? Bani Kedar merupakan keturunan dari Ismael (Kejadian 25:12-15) yang adalah penduduk terbesar yang mendiami wilayah Indonesia.
Sebagai umat pilihan Tuhan kita harus selalu berdoa bagi Indonesia supaya dimenangkan bagi kemuliaan-Nya. Biarlah nama Tuhan saja yang ditegakkan, ditinggikan dan dimashyurkan di bumi Indonesia ini! Jika Tuhan ada di tengah-tengah bangsa ini, pemulihan pasti terjadi atas Indonesia. Ingat! Kemerdekaan takkan bisa diraih tanpa campur tangan Tuhan dan juga rakyat yang bersatu berkorban bagi bangsa ini. Maka dari itu, NKRI adalah harga mati.
Dengan semangat kemerdekaan marilah kita bersatu membangun bangsa Indonesia!
Baca: Yesaya 42:10-17
"Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN dan pujilah Dia dari ujung bumi! Baiklah laut bergemuruh serta segala isinya dan pulau-pulau dengan segala penduduknya." Yesaya 42:10
Sebagai orang percaya kita patut berbangga karena Tuhan menempatkan kita menjadi bagian dari suatu bangsa yang besar yaitu bangsa Indonesia. Di mata internasional Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan, karena memiliki pulau yang terbanyak di dunia: lebih dari 17.000 pulau. Selain itu penduduk Indonesia terdiri dari berbagai suku (1.340 suku), dengan 671 bahasa daerah yang tersebar di 34 propinsi. Luar biasa!
Patutlah kita menaikkan pujian dan nyanyian bagi Tuhan sebagai ungkapan syukur karena telah diberi anugerah yang teramat besar atas bangsa Indonesia, yaitu kemerdekaan. Hari ini seluruh masyarakat Indonesia, mulai dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai pulau Rote, maupun yang tinggal di negara lain, sedang bersuka cita merayakan hari kemerdekaan RI yang ke-74. Pekik Merdeka berkumandang di seluruh negeri! "Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN dan pujilah Dia...Baiklah laut bergemuruh serta segala isinya dan pulau-pulau dengan segala penduduknya. Baiklah padang gurun menyaringkan suara dengan kota-kotanya dan dengan desa-desa yang didiami Kedar! Baiklah bersorak-sorai penduduk Bukit Batu, baiklah mereka berseru-seru dari puncak gunung-gunung! Baiklah mereka memberi penghormatan kepada TUHAN, dan memberitakan pujian yang kepada-Nya di pulau-pulau." (Yesaya 42:10-12). Siapa bani Kedar? Bani Kedar merupakan keturunan dari Ismael (Kejadian 25:12-15) yang adalah penduduk terbesar yang mendiami wilayah Indonesia.
Sebagai umat pilihan Tuhan kita harus selalu berdoa bagi Indonesia supaya dimenangkan bagi kemuliaan-Nya. Biarlah nama Tuhan saja yang ditegakkan, ditinggikan dan dimashyurkan di bumi Indonesia ini! Jika Tuhan ada di tengah-tengah bangsa ini, pemulihan pasti terjadi atas Indonesia. Ingat! Kemerdekaan takkan bisa diraih tanpa campur tangan Tuhan dan juga rakyat yang bersatu berkorban bagi bangsa ini. Maka dari itu, NKRI adalah harga mati.
Dengan semangat kemerdekaan marilah kita bersatu membangun bangsa Indonesia!
Friday, August 16, 2019
HATI YANG TERBEBAN UNTUK BANGSA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 Agustus 2019
Baca: Nehemia 1:1-11
"Ketika kudengar berita ini, duduklah aku menangis dan berkabung selama beberapa hari. Aku berpuasa dan berdoa ke hadirat Allah semesta langit," Nehemia 1:4
Ada banyak faktor yang membuat seseorang menangis dan biasanya orang menangis untuk hal-hal yang berhubungan langsung dengan diri sendiri, semisal: menangis karena menderita sakit, menangis karena ada saudara atau kerabatnya yang meninggal, menangis karena tertimpa musibah atau bencana, menangis karena diputus oleh kekasih, menangis karena gagal dalam ujian, menangis karena terkena PHK dan sebagainya.
Berbeda dengan tangisan karena kepedihan hati yang dirasakan oleh Nehemia ini, sebab ia menangis karena mendengar berita tentang Yerusalem dan penduduknya yang sedang tertimpa kesusahan besar. Nama 'Nehemia' berarti menyenangkan Tuhan. Di mana Nehemia saat itu? Ia tinggal jauh dari Yerusalem karena menjadi salah seorang yang diangkut ke pembuangan di Babel, tapi pada waktu itu ia hidup nyaman dengan jabatan sebagai juru minuman raja pada masa pemerintahan Artahsasta, raja Persia. Begitu mendengar apa yang menimpa bangsanya, hati Nehemia terasa teriris-iris, ia pun menangisi bangsanya. Pernahkah hati Saudara menangis pilu ketika melihat dan mendengar begitu banyak masalah menimpa bangsa Indonesia yang kita cintai ini? Bencana alam terjadi di mana-mana, pertikaian dan konflik antar golongan (perpecahan) masih saja terjadi, dan jika dibiarkan dapat mengancam kesatuan dan persatuan bangsa.
Melalui Nehemia kita diajar punya hati yang terbeban bagi bangsa. Jangan pernah berkata: "Kamu suku apa? Apa warna kulitmu?" Sebaliknya mari saling bergandengan tangan, sehati sepikir, berdoa kepada Tuhan untuk kesejahteraan negeri tercinta Indonesia. Ketika Nehemia berdoa untuk Yerusalem, doanya pun dijawab oleh Tuhan! Oleh karena campur tangan Tuhan tembok Yerusalem dapat dibangun dan kota Yerusalem dipulihkan kembali. Bila orang percaya berdoa sungguh-sungguh kepada Tuhan untuk bangsa Indonesia, seburuk apa pun keadaannya, Tuhan sanggup memulihkan.
"dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka." 2 Tawarikh 7:14
Baca: Nehemia 1:1-11
"Ketika kudengar berita ini, duduklah aku menangis dan berkabung selama beberapa hari. Aku berpuasa dan berdoa ke hadirat Allah semesta langit," Nehemia 1:4
Ada banyak faktor yang membuat seseorang menangis dan biasanya orang menangis untuk hal-hal yang berhubungan langsung dengan diri sendiri, semisal: menangis karena menderita sakit, menangis karena ada saudara atau kerabatnya yang meninggal, menangis karena tertimpa musibah atau bencana, menangis karena diputus oleh kekasih, menangis karena gagal dalam ujian, menangis karena terkena PHK dan sebagainya.
Berbeda dengan tangisan karena kepedihan hati yang dirasakan oleh Nehemia ini, sebab ia menangis karena mendengar berita tentang Yerusalem dan penduduknya yang sedang tertimpa kesusahan besar. Nama 'Nehemia' berarti menyenangkan Tuhan. Di mana Nehemia saat itu? Ia tinggal jauh dari Yerusalem karena menjadi salah seorang yang diangkut ke pembuangan di Babel, tapi pada waktu itu ia hidup nyaman dengan jabatan sebagai juru minuman raja pada masa pemerintahan Artahsasta, raja Persia. Begitu mendengar apa yang menimpa bangsanya, hati Nehemia terasa teriris-iris, ia pun menangisi bangsanya. Pernahkah hati Saudara menangis pilu ketika melihat dan mendengar begitu banyak masalah menimpa bangsa Indonesia yang kita cintai ini? Bencana alam terjadi di mana-mana, pertikaian dan konflik antar golongan (perpecahan) masih saja terjadi, dan jika dibiarkan dapat mengancam kesatuan dan persatuan bangsa.
Melalui Nehemia kita diajar punya hati yang terbeban bagi bangsa. Jangan pernah berkata: "Kamu suku apa? Apa warna kulitmu?" Sebaliknya mari saling bergandengan tangan, sehati sepikir, berdoa kepada Tuhan untuk kesejahteraan negeri tercinta Indonesia. Ketika Nehemia berdoa untuk Yerusalem, doanya pun dijawab oleh Tuhan! Oleh karena campur tangan Tuhan tembok Yerusalem dapat dibangun dan kota Yerusalem dipulihkan kembali. Bila orang percaya berdoa sungguh-sungguh kepada Tuhan untuk bangsa Indonesia, seburuk apa pun keadaannya, Tuhan sanggup memulihkan.
"dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka." 2 Tawarikh 7:14
Subscribe to:
Comments (Atom)