Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 Februari 2019
Baca: Yoel 3:9-21
"Maklumkanlah hal ini di antara bangsa-bangsa: bersiaplah untuk
peperangan, gerakkanlah para pahlawan; suruhlah semua prajurit tampil
dan maju!" Yoel 3:9
Waktu kini bergulir sangat cepat! Sadar atau tidak, sesungguhnya kita sedang berada dalam hitungan mundur menuju kepada hari kedatangan Tuhan yang mendekat. Posisi kita ini layaknya seorang pelari yang sedang berlari di lintasan dan berada di putaran terakhir, tinggal selangkah lagi kita akan mencapai garis finis. Tidak ada waktu untuk kita berleha-leha, melainkan kita harus berlari sedemikian rupa supaya tidak tertinggal.
Oleh karena itu "...marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi
kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi
kita." (Ibrani 12:1). 'Beban yang merintangi' ini berbicara tentang zona nyaman, masalah, penderitaan, kemalasan, segala keinginan daging, dan semua perkara yang menghalangi kita untuk berbuat maksimal bagi Tuhan. Seringkali karena hal-hal tersebut banyak orang percaya menunda-nunda waktu dan menangguhkan panggilan Tuhan dalam hidupnya. Kita menyerah kalah pada situasi atau keadaan, tak mau membayar harga. kita lebih memilih untuk berhenti dari perlombaan iman. Hai prajurit-prajurit Kristus, inilah saatnya, dan "...bersiaplah untuk
peperangan, gerakkanlah para pahlawan; suruhlah semua prajurit tampil
dan maju!" (ayat nas). Di akhir zaman ini Tuhan sedang mencari prajurit-prajurit sorgawi yang bermental pahlawan, bukan prajurit manja yang menyerah kalah sebelum berperang. "Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan
soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada
komandannya." (2 Timotius 2:4).
Mau kerjakan panggilan Tuhan dengan kasih dan kerelaan hati, tangkaplah kairos (waktu perkenanan) Tuhan ini! "Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan." (Roma 12:11), karena pada saatnya kita harus mempertanggungjawabkan segala sesuatunya kepada Tuhan. "Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya
akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari
padanya akan lebih banyak lagi dituntut." (Lukas 12:48b).
"Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir." Matius 20:16
Monday, February 11, 2019
Sunday, February 10, 2019
TIDAK TAAT: Menjadi Orang Buangan
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 Februari 2019
Baca: 1 Tawarikh 9:1-34
"...orang Yehuda telah diangkut ke dalam pembuangan ke Babel oleh karena perbuatan mereka yang tidak setia." 1 Tawarikh 9:1
Bangsa Israel adalah bangsa yang paling beruntung di antara bangsa-bangsa lain, karena statusnya adalah bangsa pilihan Tuhan dan menjadi umat yang dikasihi-Nya sedemikian rupa. Begitu luar biasanya Tuhan menuntun dan membela umat-Nya ini sehingga setiap kali mereka berperang melawan musuh, kemenangan selalu menjadi milik bangsa Israel, karena Tuhan selalu menyertai dan ada di pihak mereka.
Namun di ayat nas tampak masa-masa kejayaan bangsa Israel hilang lenyap. Kemegahan, kebesaran dan kejayaan di masa-masa Salomo hilang tak berbekas, tinggal puing-puing kehancuran, padahal pada waktu itu semua bangsa begitu mengagumi dan menghormatinya. Mereka tak berdaya dan takluk di tangan orang-orang Babel. Kerajaan Israel hancur dan semua penduduknya diangkut keluar dari Israel ke dalam pembuangan di Babel alias menjadi tawanan. Saat itu orang-orang Israel menyandang status baru yaitu sebagai orang-orang buangan. Tragis sekali! Apakah kasih Tuhan sudah berubah? Apakah mata Tuhan tidak melihat penderitaan yang mereka alami? Bukankah Tuhan pernah berkata kepada Musa, "Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka." (Keluaran 3:7).
Firman Tuhan secara jelas menyatakan bahwa "orang Yehuda telah diangkut ke dalam pembuangan ke Babel oleh karena perbuatan mereka yang tidak setia." (ayat nas). Bangsa Israel mengalami kegagalan dan dipermalukan oleh bangsa lain oleh karena mereka berlaku tidak setia kepada Tuhan. Mereka tidak lagi mengasihi Tuhan dengan sepenuh hati, bahkan hati mereka telah berpaut kepada ilah-ilah lain. Sesungguhnya Tuhan telah berlaku sabar terhadap mereka, tapi kesabaran Tuhan justru disalahgunakan. Teguran dan peringatan Tuhan tak pernah dihiraukannya! Karena ketidaksetiaannya inilah akhirnya Tuhan mengijinkan hal-hal buruk menimpa mereka sebagai bentuk hajaran. Mereka pun dengan mudah dikalahkan dan ditawan oleh Babel.
Tak ingin mengalami hal-hal yang buruk? Perhatikan setiap teguran Tuhan dan taatlah!
Baca: 1 Tawarikh 9:1-34
"...orang Yehuda telah diangkut ke dalam pembuangan ke Babel oleh karena perbuatan mereka yang tidak setia." 1 Tawarikh 9:1
Bangsa Israel adalah bangsa yang paling beruntung di antara bangsa-bangsa lain, karena statusnya adalah bangsa pilihan Tuhan dan menjadi umat yang dikasihi-Nya sedemikian rupa. Begitu luar biasanya Tuhan menuntun dan membela umat-Nya ini sehingga setiap kali mereka berperang melawan musuh, kemenangan selalu menjadi milik bangsa Israel, karena Tuhan selalu menyertai dan ada di pihak mereka.
Namun di ayat nas tampak masa-masa kejayaan bangsa Israel hilang lenyap. Kemegahan, kebesaran dan kejayaan di masa-masa Salomo hilang tak berbekas, tinggal puing-puing kehancuran, padahal pada waktu itu semua bangsa begitu mengagumi dan menghormatinya. Mereka tak berdaya dan takluk di tangan orang-orang Babel. Kerajaan Israel hancur dan semua penduduknya diangkut keluar dari Israel ke dalam pembuangan di Babel alias menjadi tawanan. Saat itu orang-orang Israel menyandang status baru yaitu sebagai orang-orang buangan. Tragis sekali! Apakah kasih Tuhan sudah berubah? Apakah mata Tuhan tidak melihat penderitaan yang mereka alami? Bukankah Tuhan pernah berkata kepada Musa, "Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka." (Keluaran 3:7).
Firman Tuhan secara jelas menyatakan bahwa "orang Yehuda telah diangkut ke dalam pembuangan ke Babel oleh karena perbuatan mereka yang tidak setia." (ayat nas). Bangsa Israel mengalami kegagalan dan dipermalukan oleh bangsa lain oleh karena mereka berlaku tidak setia kepada Tuhan. Mereka tidak lagi mengasihi Tuhan dengan sepenuh hati, bahkan hati mereka telah berpaut kepada ilah-ilah lain. Sesungguhnya Tuhan telah berlaku sabar terhadap mereka, tapi kesabaran Tuhan justru disalahgunakan. Teguran dan peringatan Tuhan tak pernah dihiraukannya! Karena ketidaksetiaannya inilah akhirnya Tuhan mengijinkan hal-hal buruk menimpa mereka sebagai bentuk hajaran. Mereka pun dengan mudah dikalahkan dan ditawan oleh Babel.
Tak ingin mengalami hal-hal yang buruk? Perhatikan setiap teguran Tuhan dan taatlah!
Saturday, February 9, 2019
ADA PENYERTAAN TUHAN SAAT KITA TAAT
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 9 Februari 2019
Baca: 2 Raja-Raja 18:1-8
"Maka TUHAN menyertai dia; ke manapun juga ia pergi berperang, ia beruntung. Ia memberontak kepada raja Asyur dan tidak lagi takluk kepadanya." 2 Raja-Raja 18:1-8
Dalam situasi yang berat seperti sekarang ini tak ada jalan selain kita harus nggandol Gusti (bahasa Jawa) yang artinya bergantung penuh kepada Tuhan dan taat kepada kehendak-Nya. Itulah kunci untuk mengalami perlindungan dan penyertaan Tuhan.
Kita bisa belajar melalui Hizkia, raja Yehuda. "Ia berumur dua puluh lima tahun pada waktu ia menjadi raja dan dua puluh sembilan tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem." (2 Raja-Raja 18:2). Meski berusia muda Hizkia bukanlah seorang pemimpin sembarangan, ia takut akan Tuhan dan hidup benar seperti bapa leluhurnya (Daud), terbukti ia "... menjauhkan bukit-bukit pengorbanan dan yang meremukkan tugu-tugu berhala dan yang menebang tiang-tiang berhala dan yang menghancurkan ular tembaga yang dibuat Musa, sebab sampai pada masa itu orang Israel memang masih membakar korban bagi ular itu yang namanya disebut Nehustan." (2 Raja-Raja 18:4). Setiap ketaatan dan kesungguhan kita dalam mengikut Tuhan pasti mendatangkan berkat atau upah dari Tuhan, sebaliknya "...setiap pelanggaran dan ketidaktaatan mendapat balasan yang setimpal," (Ibrani 2:2b). Karena ketaatannya, Hizkia mengalami penyertaan Tuhan.
Meski demikian bukan berarti perjalanan hidup Hizkia akan luput dari masalah atau pencobaan. Suatu ketika Hizkia harus menghadapi ujian yang berat, "Setelah peristiwa yang menunjukkan kesetiaan Hizkia itu datanglah Sanherib, raja Asyur, menyerbu Yehuda. Ia mengepung kota-kota berkubu, dan berniat merebutnya." (2 Tawarikah 32:1). Tuhan mengijinkan hal itu terjadi supaya Hizkia dan seluruh rakyat Yehuda memiliki pengalaman iman bersama Tuhan; dan ketika mereka "...berpaut kepada TUHAN, tidak menyimpang dari pada mengikuti Dia dan ia berpegang pada perintah-perintah TUHAN yang telah diperintahkan-Nya kepada Musa." (2 Raja-Raja 18:6), maka apa saja yang mereka perbuat Tuhan jadikan berhasil. Hari-hari ke depan, tantangan yang kita hadapi tidaklah semakin mudah, namun tidak ada alasan bagi kita untuk menjadi lemah.
Kita akan dijaga dan dipelihara Tuhan seperti biji mata-Nya sendiri asalkan kita tetap hidup dalam ketaatan penuh!
Baca: 2 Raja-Raja 18:1-8
"Maka TUHAN menyertai dia; ke manapun juga ia pergi berperang, ia beruntung. Ia memberontak kepada raja Asyur dan tidak lagi takluk kepadanya." 2 Raja-Raja 18:1-8
Dalam situasi yang berat seperti sekarang ini tak ada jalan selain kita harus nggandol Gusti (bahasa Jawa) yang artinya bergantung penuh kepada Tuhan dan taat kepada kehendak-Nya. Itulah kunci untuk mengalami perlindungan dan penyertaan Tuhan.
Kita bisa belajar melalui Hizkia, raja Yehuda. "Ia berumur dua puluh lima tahun pada waktu ia menjadi raja dan dua puluh sembilan tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem." (2 Raja-Raja 18:2). Meski berusia muda Hizkia bukanlah seorang pemimpin sembarangan, ia takut akan Tuhan dan hidup benar seperti bapa leluhurnya (Daud), terbukti ia "... menjauhkan bukit-bukit pengorbanan dan yang meremukkan tugu-tugu berhala dan yang menebang tiang-tiang berhala dan yang menghancurkan ular tembaga yang dibuat Musa, sebab sampai pada masa itu orang Israel memang masih membakar korban bagi ular itu yang namanya disebut Nehustan." (2 Raja-Raja 18:4). Setiap ketaatan dan kesungguhan kita dalam mengikut Tuhan pasti mendatangkan berkat atau upah dari Tuhan, sebaliknya "...setiap pelanggaran dan ketidaktaatan mendapat balasan yang setimpal," (Ibrani 2:2b). Karena ketaatannya, Hizkia mengalami penyertaan Tuhan.
Meski demikian bukan berarti perjalanan hidup Hizkia akan luput dari masalah atau pencobaan. Suatu ketika Hizkia harus menghadapi ujian yang berat, "Setelah peristiwa yang menunjukkan kesetiaan Hizkia itu datanglah Sanherib, raja Asyur, menyerbu Yehuda. Ia mengepung kota-kota berkubu, dan berniat merebutnya." (2 Tawarikah 32:1). Tuhan mengijinkan hal itu terjadi supaya Hizkia dan seluruh rakyat Yehuda memiliki pengalaman iman bersama Tuhan; dan ketika mereka "...berpaut kepada TUHAN, tidak menyimpang dari pada mengikuti Dia dan ia berpegang pada perintah-perintah TUHAN yang telah diperintahkan-Nya kepada Musa." (2 Raja-Raja 18:6), maka apa saja yang mereka perbuat Tuhan jadikan berhasil. Hari-hari ke depan, tantangan yang kita hadapi tidaklah semakin mudah, namun tidak ada alasan bagi kita untuk menjadi lemah.
Kita akan dijaga dan dipelihara Tuhan seperti biji mata-Nya sendiri asalkan kita tetap hidup dalam ketaatan penuh!
Friday, February 8, 2019
DUKACITA YANG MENGHASILKAN KEBAHAGIAAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 Februari 2019
Baca: Matius 5:1-12
"Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur." Matius 5:4
Kapan Saudara merasakan dukacita yang mendalam? Kita berdukacita ketika ditinggalkan oleh orang yang kita kasihi untuk selamanya (meninggal), kita berdukacita karena mendengar kabar ada teman, saudara atau keluarga yang tertimpa musibah atau bencana, dan sebagainya. Arti kata dukacita adalah kesedihan atau kesusahan (hati).
Kita semua tahu bahwa yang namanya dukacita tentunya sangat bertolak belakang dengan berbahagia; dukacita itu lawan kata dari kebahagiaan. Tapi jika membaca ayat nas di atas pasti akan timbul pertanyaan besar: dukacita yang bagaimana yang mendatangkan kebahagiaan? Ketahuilah bahwa ada dukacita yang mendatangkan dosa dan ada juga dukacita yang mendatangkan pemulihan. Dukacita yang mendatangkan dosa adalah kesedihan atau kemurungan hati yang berlarut-larut, yang pada akhirnya menghasilkan sikap mengasihani diri sendiri dan berujung pada keputusasaan. Dukacita semacam ini hanya berbuahkan kesia-siaan. Rasul Paulus berkata, "...dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian." (2 Korintus 7:10) Tetapi, ada dukacita yang justru mendatangkan kebahagiaan yaitu dukacita karena dosa. Inilah dukacita yang firman Tuhan maksudkan! Menyadari ketidakberdayaannya di hadapan Tuhan akibat dosa-dosa yang diperbuat akan menimbulkan rasa dukacita yang mendalam dalam diri seseorang. Seorang berdosa yang telah dijamah oleh Roh Kudus tidak akan bersukacita karena dosa-dosa yang telah diperbuatnya, sebaliknya ia akan meratap dan berdukacita yang sedalam-dalamnya karena sadar perbuatannya telah melukai hati Tuhan.
Inilah dukacita yang menuntun seseorang kepada pertobatan! Dukacita karena dosa inilah yang mendatangkan pemulihan dan kebahagiaan yang sejati karena dosa-dosanya telah diampuni Tuhan. Tuhan akan mengubah ratapan itu menjadi tari-tarian karena Dia sudah menanggung segala dosa-dosa kita di atas kayu salib. 'Dukacita' ini seharusnya ada di dalam hati kita setiap kali kita berbuat dosa dan menyadarinya. Dukacita ini timbul bukan karena kekuatan diri sendiri melainkan karena pekerjaan Roh Kudus. Bila masih ada orang Kristen yang tetap bersukacita atau berbahagia ketika melakukan dosa, berarti mereka masih belum hidup dalam pertobatan yang sungguh.
Berdukacita karena dosa adalah tanda bahwa seorang memiliki kepekaan rohani!
Baca: Matius 5:1-12
"Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur." Matius 5:4
Kapan Saudara merasakan dukacita yang mendalam? Kita berdukacita ketika ditinggalkan oleh orang yang kita kasihi untuk selamanya (meninggal), kita berdukacita karena mendengar kabar ada teman, saudara atau keluarga yang tertimpa musibah atau bencana, dan sebagainya. Arti kata dukacita adalah kesedihan atau kesusahan (hati).
Kita semua tahu bahwa yang namanya dukacita tentunya sangat bertolak belakang dengan berbahagia; dukacita itu lawan kata dari kebahagiaan. Tapi jika membaca ayat nas di atas pasti akan timbul pertanyaan besar: dukacita yang bagaimana yang mendatangkan kebahagiaan? Ketahuilah bahwa ada dukacita yang mendatangkan dosa dan ada juga dukacita yang mendatangkan pemulihan. Dukacita yang mendatangkan dosa adalah kesedihan atau kemurungan hati yang berlarut-larut, yang pada akhirnya menghasilkan sikap mengasihani diri sendiri dan berujung pada keputusasaan. Dukacita semacam ini hanya berbuahkan kesia-siaan. Rasul Paulus berkata, "...dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian." (2 Korintus 7:10) Tetapi, ada dukacita yang justru mendatangkan kebahagiaan yaitu dukacita karena dosa. Inilah dukacita yang firman Tuhan maksudkan! Menyadari ketidakberdayaannya di hadapan Tuhan akibat dosa-dosa yang diperbuat akan menimbulkan rasa dukacita yang mendalam dalam diri seseorang. Seorang berdosa yang telah dijamah oleh Roh Kudus tidak akan bersukacita karena dosa-dosa yang telah diperbuatnya, sebaliknya ia akan meratap dan berdukacita yang sedalam-dalamnya karena sadar perbuatannya telah melukai hati Tuhan.
Inilah dukacita yang menuntun seseorang kepada pertobatan! Dukacita karena dosa inilah yang mendatangkan pemulihan dan kebahagiaan yang sejati karena dosa-dosanya telah diampuni Tuhan. Tuhan akan mengubah ratapan itu menjadi tari-tarian karena Dia sudah menanggung segala dosa-dosa kita di atas kayu salib. 'Dukacita' ini seharusnya ada di dalam hati kita setiap kali kita berbuat dosa dan menyadarinya. Dukacita ini timbul bukan karena kekuatan diri sendiri melainkan karena pekerjaan Roh Kudus. Bila masih ada orang Kristen yang tetap bersukacita atau berbahagia ketika melakukan dosa, berarti mereka masih belum hidup dalam pertobatan yang sungguh.
Berdukacita karena dosa adalah tanda bahwa seorang memiliki kepekaan rohani!
Thursday, February 7, 2019
BERKAT BAGI ORANG YANG JUJUR (2)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 7 Februari 2019
Baca: Mazmur 64:1-11
"Orang benar akan bersukacita karena TUHAN dan berlindung pada-Nya; semua orang yang jujur akan bermegah." Mazmur 64:11
Orang yang tulus hati adalah orang yang mengasihi Tuhan tanpa syarat, yang melakukan segala sesuatu untuk Tuhan tanpa keluh kesah dan persungutan. Daud, yang disebut orang yang berkenan di hati Tuhan (Kisah 13:22b), memiliki kerinduan besar untuk menjadi orang yang jujur dan tulus hati. "Ketulusan dan kejujuran kiranya mengawal aku, sebab aku menanti-nantikan Engkau." (Mazmur 25:21).
Bagi kebanyakan orang, berlaku jujur di zaman sekarang ini adalah kerugian besar. Tetapi bagi orang yang takut akan Tuhan kejujuran justru mendatangkan keuntungan besar. Orang yang hidup dalam kejujuran pasti akan mengalami berkat-berkat Tuhan secara luar biasa. Sampai kapan pun ia tidak mengenal kata 'rugi atau sia-sia' dengan berlaku hidup jujur. Orang yang jujur tidak akan pernah ditinggalkan dan dipermalukan Tuhan, sebaliknya ia akan mendapatkan pembelaan dan berkat dari Tuhan. Sekalipun seolah-olah perjalanan hidup orang jujur terasa berat, penuh tekanan, dan mungkin dijadikan bahwan tertawaan, ejekan, atau direndahkan, sedangkan orang yang tidak jujur mungkin sementara waktu hidupnya tampak kelihatan mujur dan beruntung, tapi pada saatnya orang yang tak jujur akan mengalami kehancuarkan, sebab ia akan berhadapan dengan Tuhan sendiri, Tuhan akan berperkara atas dirinya. "Ia membuat mereka tergelincir karena lidah mereka; setiap orang yang melihat mereka menggeleng kepala." (Mazmur 64:9).
Sebaliknya ada masa depan yang baik yang Tuhan sediakan bagi orang yang berlaku jujur. Salah satu berkat luar biasa bagi orang yang jujur adalah doanya pasti dijawab Tuhan. "...doa orang jujur dikenan-Nya." (Amsal 15:8). Jadi Tuhan menyediakan berkat-berkat-Nya bagi orang yang jujur. Karena itu tak perlu takut berlaku jujur sebab kita punya Tuhan yang tidak pernah tertidur dan terlelap (Mazmur 121:4-5). Ingat, orang percaya dipanggil untuk memiliki kehidupan yang tidak serupa dengan dunia! Ketika orang -orang dunia hidup dalam ketidakjujuran, sanggupkah kita melawan arus?
Saat kita hidup dengan penuh kejujuran, saat itulah kehidupan kita menjadi kesaksian dan berkat bagi orang-orang di sekitar!
Baca: Mazmur 64:1-11
"Orang benar akan bersukacita karena TUHAN dan berlindung pada-Nya; semua orang yang jujur akan bermegah." Mazmur 64:11
Orang yang tulus hati adalah orang yang mengasihi Tuhan tanpa syarat, yang melakukan segala sesuatu untuk Tuhan tanpa keluh kesah dan persungutan. Daud, yang disebut orang yang berkenan di hati Tuhan (Kisah 13:22b), memiliki kerinduan besar untuk menjadi orang yang jujur dan tulus hati. "Ketulusan dan kejujuran kiranya mengawal aku, sebab aku menanti-nantikan Engkau." (Mazmur 25:21).
Bagi kebanyakan orang, berlaku jujur di zaman sekarang ini adalah kerugian besar. Tetapi bagi orang yang takut akan Tuhan kejujuran justru mendatangkan keuntungan besar. Orang yang hidup dalam kejujuran pasti akan mengalami berkat-berkat Tuhan secara luar biasa. Sampai kapan pun ia tidak mengenal kata 'rugi atau sia-sia' dengan berlaku hidup jujur. Orang yang jujur tidak akan pernah ditinggalkan dan dipermalukan Tuhan, sebaliknya ia akan mendapatkan pembelaan dan berkat dari Tuhan. Sekalipun seolah-olah perjalanan hidup orang jujur terasa berat, penuh tekanan, dan mungkin dijadikan bahwan tertawaan, ejekan, atau direndahkan, sedangkan orang yang tidak jujur mungkin sementara waktu hidupnya tampak kelihatan mujur dan beruntung, tapi pada saatnya orang yang tak jujur akan mengalami kehancuarkan, sebab ia akan berhadapan dengan Tuhan sendiri, Tuhan akan berperkara atas dirinya. "Ia membuat mereka tergelincir karena lidah mereka; setiap orang yang melihat mereka menggeleng kepala." (Mazmur 64:9).
Sebaliknya ada masa depan yang baik yang Tuhan sediakan bagi orang yang berlaku jujur. Salah satu berkat luar biasa bagi orang yang jujur adalah doanya pasti dijawab Tuhan. "...doa orang jujur dikenan-Nya." (Amsal 15:8). Jadi Tuhan menyediakan berkat-berkat-Nya bagi orang yang jujur. Karena itu tak perlu takut berlaku jujur sebab kita punya Tuhan yang tidak pernah tertidur dan terlelap (Mazmur 121:4-5). Ingat, orang percaya dipanggil untuk memiliki kehidupan yang tidak serupa dengan dunia! Ketika orang -orang dunia hidup dalam ketidakjujuran, sanggupkah kita melawan arus?
Saat kita hidup dengan penuh kejujuran, saat itulah kehidupan kita menjadi kesaksian dan berkat bagi orang-orang di sekitar!
Wednesday, February 6, 2019
BERKAT BAGI ORANG YANG JUJUR (1)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 6 Februari 2019
Baca: Amsal 3:27-35
"...orang yang sesat adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi dengan orang jujur Ia bergaul erat." Amsal 3:32
Penulis Amsal secara tegas menyatakan bahwa Tuhan bergaul erat dengan orang yang jujur. Jadi salah satu syarat utama untuk dapat memiliki hubungan yang karib atau bergaul karib dengan Tuhan adalah kita harus hidup jujur. Artinya kita harus menjadi pribadi yang selalu terbuka di hadapan Tuhan, tidak ada yang ditutup-tutupi atau disembunyikan. Kala kita melakukan pelanggaran atau dosa, kita harus jujur mengakuinya di hadapan Tuhan dan memohon pengampunan; ketika ada masalah dan pergumulan apa pun, datanglah kepada Tuhan dan sampaikan semua kepada-Nya sehingga hubungan kita dengan Dia tidak menjadi kaku atau sekedar hubungan formalitas, melainkan suatu hubungan yang karib dan intim.
Berbicara tentang kejujuran berarti berbicara tentang motivasi, niat dan juga kehendak, yang muncul dari dalam hati dan pikiran seseorang, yang kemudian menghasilkan suatu tindakan. Hidup dalam kejujuran adalah kehidupan yang luar biasa! Mengapa? Karena kejujuran adalah sesuatu yang teramat langka dan semakin sulit ditemukan di antara insan manusia yang hidup di zaman seperti sekarang ini. Sebaliknya, penipuan, kepalsuan, dusta dan kemunafikan sudah menjadi pemandangan yang biasa dan sudah menjadi menu hidup sehari-hari. Hal ketidakjujuran ini tidak hanya terjadi di dunia bisnis, pekerjaan, perdagangan atau politik saja, tapi juga terjadi dalam kehidupan rumah tangga (suami tidak jujur terhadap isteri dan sebaliknya), dan bahkan ketidakjujuran sudah merambah dunia pelayanan pekerjaan Tuhan. Jadi apalah artinya tampak sibuk melayani pekerjaan Tuhan jika kita masih hidup di dalam ketidakjujuran, kebohongan, kepalsuan dan kemunafikan hidup...
Sebagai orang percaya, apa pun situasi dan keadaannya, kita dituntut untuk tetap hidup dalam kejujuran. Bagaimana bisa menjadi seorang yang jujur? Diawali dengan ketulusan hati, seperti tertulis: "Orang yang jujur dipimpin oleh ketulusannya, tetapi pengkhianat dirusak oleh kecurangannya." (Amsal 11:3). Artinya orang yang hidup jujur pasti takkan terlepas dari yang namanya ketulusan hati pula.
Baca: Amsal 3:27-35
"...orang yang sesat adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi dengan orang jujur Ia bergaul erat." Amsal 3:32
Penulis Amsal secara tegas menyatakan bahwa Tuhan bergaul erat dengan orang yang jujur. Jadi salah satu syarat utama untuk dapat memiliki hubungan yang karib atau bergaul karib dengan Tuhan adalah kita harus hidup jujur. Artinya kita harus menjadi pribadi yang selalu terbuka di hadapan Tuhan, tidak ada yang ditutup-tutupi atau disembunyikan. Kala kita melakukan pelanggaran atau dosa, kita harus jujur mengakuinya di hadapan Tuhan dan memohon pengampunan; ketika ada masalah dan pergumulan apa pun, datanglah kepada Tuhan dan sampaikan semua kepada-Nya sehingga hubungan kita dengan Dia tidak menjadi kaku atau sekedar hubungan formalitas, melainkan suatu hubungan yang karib dan intim.
Berbicara tentang kejujuran berarti berbicara tentang motivasi, niat dan juga kehendak, yang muncul dari dalam hati dan pikiran seseorang, yang kemudian menghasilkan suatu tindakan. Hidup dalam kejujuran adalah kehidupan yang luar biasa! Mengapa? Karena kejujuran adalah sesuatu yang teramat langka dan semakin sulit ditemukan di antara insan manusia yang hidup di zaman seperti sekarang ini. Sebaliknya, penipuan, kepalsuan, dusta dan kemunafikan sudah menjadi pemandangan yang biasa dan sudah menjadi menu hidup sehari-hari. Hal ketidakjujuran ini tidak hanya terjadi di dunia bisnis, pekerjaan, perdagangan atau politik saja, tapi juga terjadi dalam kehidupan rumah tangga (suami tidak jujur terhadap isteri dan sebaliknya), dan bahkan ketidakjujuran sudah merambah dunia pelayanan pekerjaan Tuhan. Jadi apalah artinya tampak sibuk melayani pekerjaan Tuhan jika kita masih hidup di dalam ketidakjujuran, kebohongan, kepalsuan dan kemunafikan hidup...
Sebagai orang percaya, apa pun situasi dan keadaannya, kita dituntut untuk tetap hidup dalam kejujuran. Bagaimana bisa menjadi seorang yang jujur? Diawali dengan ketulusan hati, seperti tertulis: "Orang yang jujur dipimpin oleh ketulusannya, tetapi pengkhianat dirusak oleh kecurangannya." (Amsal 11:3). Artinya orang yang hidup jujur pasti takkan terlepas dari yang namanya ketulusan hati pula.
Tuesday, February 5, 2019
JANGAN MEMANDANG REMEH
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 5 Februari 2019
Baca: Hakim-Hakim 8:4-21
"Inilah Zebah dan Salmuna yang karenanya kamu telah mencela aku dengan berkata: Sudahkah Zebah dan Salmuna itu ada dalam tanganmu, sehingga kami harus memberikan roti kepada orang-orangmu yang lelah itu?" Hakim-Hakim 8:15
Menurut sudut pandang atau tolak ukur dunia, orang dapat dikatakan berhasil apabila ia memiliki sesuatu yang dapat dibanggakan, seperti: rumah yang megah, mobil, uang atau deposito di bank, berpangkat dan terkenal. Orang-orang seperti itulah yang kemudian dikagumi, dielu-elukan, dibangga-banggakan dan dikelilingi oleh banyak teman atau sahabat. Sebaliknya orang yang sederhana dan tidak memiliki apa-apa menurut pandangan sesamanya seringkali dipandang sebelah mata, diabaikan dan diremehkan. Meski demikian tak perlu kita berkecil hati, sebab Alkitab menyatakan: "dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah." (1 Korintus 1:28-29).
Gideon adalah contoh orang yang dipandang remeh oleh sesamanya. Ketika mengejar raja Midian dengan menyeberangi sungai Yordan bersama dengan pasukannya yang berjumlah 300 orang, sampailah ia dan pasukannya di Sukot. Lalu berkatalah Gideon kepada orang Sukot, "Tolong berikan beberapa roti untuk rakyat yang mengikuti aku ini, sebab mereka telah lelah, dan aku sedang mengejar Zebah dan Salmuna, raja-raja Midian." (Hakim-Hakim 8:5). Namun permintaan Gideon itu ditanggapi dengan sinis. Mereka memandang rendah Gideon, pikirnya: "Mana mungkin dengan pasukan yang berjumlah 300 orang dapat mengalahkan orang-orang Midian yang berjumlah jauh lebih besar yaitu 15.000 orang?" Secara matematis atau logika adalah mustahil Gideon dapat mengalahkan dan menangkap raja Midian tersebut.
Orang-orang Sukot lupa bahwa yang menyertai Gideon adalah Tuhan Israel yang hidup, dimana segala kuasa ada di tangan-Nya. Meski dipandang sebelah mata dan direndahkan oleh manusia tak membuat Gideon mundur, ia tetap melangkah maju dengan hidup mengandalkan Tuhan. Di akhir kisah ini dinyatakan bahwa orang-orang Midian bertekuk lutut di tangan pasukan gideon dan mereka pun mendapat malu.
Yang hidup mengandalkan Tuhan takkan pernah dipermalukan!
Baca: Hakim-Hakim 8:4-21
"Inilah Zebah dan Salmuna yang karenanya kamu telah mencela aku dengan berkata: Sudahkah Zebah dan Salmuna itu ada dalam tanganmu, sehingga kami harus memberikan roti kepada orang-orangmu yang lelah itu?" Hakim-Hakim 8:15
Menurut sudut pandang atau tolak ukur dunia, orang dapat dikatakan berhasil apabila ia memiliki sesuatu yang dapat dibanggakan, seperti: rumah yang megah, mobil, uang atau deposito di bank, berpangkat dan terkenal. Orang-orang seperti itulah yang kemudian dikagumi, dielu-elukan, dibangga-banggakan dan dikelilingi oleh banyak teman atau sahabat. Sebaliknya orang yang sederhana dan tidak memiliki apa-apa menurut pandangan sesamanya seringkali dipandang sebelah mata, diabaikan dan diremehkan. Meski demikian tak perlu kita berkecil hati, sebab Alkitab menyatakan: "dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah." (1 Korintus 1:28-29).
Gideon adalah contoh orang yang dipandang remeh oleh sesamanya. Ketika mengejar raja Midian dengan menyeberangi sungai Yordan bersama dengan pasukannya yang berjumlah 300 orang, sampailah ia dan pasukannya di Sukot. Lalu berkatalah Gideon kepada orang Sukot, "Tolong berikan beberapa roti untuk rakyat yang mengikuti aku ini, sebab mereka telah lelah, dan aku sedang mengejar Zebah dan Salmuna, raja-raja Midian." (Hakim-Hakim 8:5). Namun permintaan Gideon itu ditanggapi dengan sinis. Mereka memandang rendah Gideon, pikirnya: "Mana mungkin dengan pasukan yang berjumlah 300 orang dapat mengalahkan orang-orang Midian yang berjumlah jauh lebih besar yaitu 15.000 orang?" Secara matematis atau logika adalah mustahil Gideon dapat mengalahkan dan menangkap raja Midian tersebut.
Orang-orang Sukot lupa bahwa yang menyertai Gideon adalah Tuhan Israel yang hidup, dimana segala kuasa ada di tangan-Nya. Meski dipandang sebelah mata dan direndahkan oleh manusia tak membuat Gideon mundur, ia tetap melangkah maju dengan hidup mengandalkan Tuhan. Di akhir kisah ini dinyatakan bahwa orang-orang Midian bertekuk lutut di tangan pasukan gideon dan mereka pun mendapat malu.
Yang hidup mengandalkan Tuhan takkan pernah dipermalukan!
Monday, February 4, 2019
TANTANGAN BESAR, BERKAT BESAR
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 4 Februari 2019
Baca: Amsal 21:20-31
"Orang bijak dapat memanjat kota pahlawan-pahlawan, dan merobohkan benteng yang mereka percayai." Amsal 21:22
Orang-orang yang berhasil mewujudkan impian dalam hidup tidaklah meraihnya tanpa hambatan atau rintangan. Bahkan terkadang perjalanan yang harus ditempuh berliku-liku, penuh cadas dan mendaki. Tapi yang pasti mereka tidak pernah berhenti untuk berusaha dan berjuang. Namun kebanyakan orang menunjukkan reaksi yang negatif setiap kali diperhadapkan dengan tekanan dan tantangan yang berat: mengeluh, kecewa, frustasi dan putus asa. Mereka tak dapat melihat sedikit pun sisi positif di balik tantangan, dimana justru melalui tekanan atau tantangan sesungguhnya kita sedang dibentuk supaya menjadi pribadi yang kuat dan tangguh di segala keadaaan. Di balik besarnya tekanan atau tantangan tersimpan kesempatan yang memungkinkan kita menjadi besar!
Daud, tanpa melewati Goliat (raksasa dari Filistin), takkan terlihat dan takkan teruji kualitas hidupnya; dan ketika Daud berhasil mengalahkan raksasa itu sesungguhnya ia sedang menapaki anak tangga baru yang lebih tinggi dalam kehidupannya, sampai akhirnya Tuhan mengangkat dia menjadi raja atas Israel. Jadi, memiliki impian bukanlah menunggu sampai badai berlalu, melainkan harus berani menghadapi badai seperti burung rajawali. "Ketika orang Filistin itu bergerak maju untuk menemui Daud, maka segeralah Daud berlari ke barisan musuh untuk menemui orang Filistin itu;" (1 Samuel 17:48). Untuk dapat melihat perkara-perkara besar dari Tuhan ada harga yang harus dibayar! Perlu upaya dan usaha yang keras untuk meraihnya, sebab berkat-berkat Tuhan yang besar tersedia di tempat yang 'dalam'.
Jika menghadapi tantangan kecil saja kita sudah berkeluh kesah, bagaimana mungkin Tuhan mempercayakan berkat-berkat besar-Nya? Hanya di laut yang dalam para nelayan akan menangkap ikan-ikan besar. Tuhan memberi perintah kepada Simon Petrus: "Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan." (Lukas 5:4), dan ketika mereka taat melakukan apa yang Tuhan perintahkan, "...mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak." (Lukas 5:6)."
Mereka melihat pekerjaan-pekerjaan TUHAN, dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di tempat yang dalam." Mazmur 107:24
Baca: Amsal 21:20-31
"Orang bijak dapat memanjat kota pahlawan-pahlawan, dan merobohkan benteng yang mereka percayai." Amsal 21:22
Orang-orang yang berhasil mewujudkan impian dalam hidup tidaklah meraihnya tanpa hambatan atau rintangan. Bahkan terkadang perjalanan yang harus ditempuh berliku-liku, penuh cadas dan mendaki. Tapi yang pasti mereka tidak pernah berhenti untuk berusaha dan berjuang. Namun kebanyakan orang menunjukkan reaksi yang negatif setiap kali diperhadapkan dengan tekanan dan tantangan yang berat: mengeluh, kecewa, frustasi dan putus asa. Mereka tak dapat melihat sedikit pun sisi positif di balik tantangan, dimana justru melalui tekanan atau tantangan sesungguhnya kita sedang dibentuk supaya menjadi pribadi yang kuat dan tangguh di segala keadaaan. Di balik besarnya tekanan atau tantangan tersimpan kesempatan yang memungkinkan kita menjadi besar!
Daud, tanpa melewati Goliat (raksasa dari Filistin), takkan terlihat dan takkan teruji kualitas hidupnya; dan ketika Daud berhasil mengalahkan raksasa itu sesungguhnya ia sedang menapaki anak tangga baru yang lebih tinggi dalam kehidupannya, sampai akhirnya Tuhan mengangkat dia menjadi raja atas Israel. Jadi, memiliki impian bukanlah menunggu sampai badai berlalu, melainkan harus berani menghadapi badai seperti burung rajawali. "Ketika orang Filistin itu bergerak maju untuk menemui Daud, maka segeralah Daud berlari ke barisan musuh untuk menemui orang Filistin itu;" (1 Samuel 17:48). Untuk dapat melihat perkara-perkara besar dari Tuhan ada harga yang harus dibayar! Perlu upaya dan usaha yang keras untuk meraihnya, sebab berkat-berkat Tuhan yang besar tersedia di tempat yang 'dalam'.
Jika menghadapi tantangan kecil saja kita sudah berkeluh kesah, bagaimana mungkin Tuhan mempercayakan berkat-berkat besar-Nya? Hanya di laut yang dalam para nelayan akan menangkap ikan-ikan besar. Tuhan memberi perintah kepada Simon Petrus: "Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan." (Lukas 5:4), dan ketika mereka taat melakukan apa yang Tuhan perintahkan, "...mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak." (Lukas 5:6)."
Mereka melihat pekerjaan-pekerjaan TUHAN, dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di tempat yang dalam." Mazmur 107:24
Sunday, February 3, 2019
MASA LALU... BIARKANLAH BERLALU (2)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 3 Februari 2019
Baca: Keluaran 16:1-36
"Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan TUHAN ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan." Keluaran 16:3
Sekalipun sudah dibawa keluar dari Mesir, umat Israel tetap saja menoleh ke belakang dan tak berhenti membanding-bandingkan keadaan sewaktu berada di Mesir. Padahal Tuhan sudah menyediakan suatu kehidupan yang berpengharapan di Kanaan, "...suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya," (Keluaran 3:8). Meski demikian bayang-bayang kehidupan masa lalu di Mesir terus menghantui pikiran mereka dan mental sebagai budak tetap saja melekat, padahal mereka sudah dipilih Tuhan sebagai umat pilihan dan kesayangan-Nya. Hal itu terlihat di sepanjang perjalanan di padang gurun, mereka tak pernah berhenti mengeluh, bersungut-sungut dan terus-menerus membanding-bandingkan saat hidup di Mesir (ayat nas).
Karena terus memberontak dan terbelenggu oleh masa lalunya di Mesir, sebagian besar umat Israel akhirnya gagal mencapai Tanah Perjanjian (Kanaan), kecuali Yosua dan Kaleb. Kegagalan mereka mencapai Tanah yang dijanjikan Tuhan itu berkenaan dengan masalah mental atau pola pikir yang belum diperbaharui. Jangan pernah menganggap remeh apa yang kita pikirkan karena hal itu akan berdampak pada setiap tindakan kita. Alam pikiran kita acapkali membawa kita pada kenyataan seperti yang kita pikirkan: baik atau tidak baik keadaannya, berkat atau kutuk. "Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia." (Amsal 23:7a).
Tuhan tidak pernah merancangkan kegagalan atau hal-hal yang buruk bagi kehidupan anak-anak-nya, rancangan-Nya selalu baik adanya (Yeremia 29:11). Tidak ada rencana dan rancangan Tuhan yang gagal (Ayub 42:2), namun sikap hati, pola pikir kita sendiri, dan pilihan hidup yang kita pilih yang seringkali menggagalkan rencana Tuhan digenapi di dalam hidup ini. Mulai dari sekarang lepaskan semua belenggu-belenggu masa lalu!
Di dalam Kristus kita adalah ciptaan baru, "...yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." 2 Korintus 5:17
Baca: Keluaran 16:1-36
"Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan TUHAN ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan." Keluaran 16:3
Sekalipun sudah dibawa keluar dari Mesir, umat Israel tetap saja menoleh ke belakang dan tak berhenti membanding-bandingkan keadaan sewaktu berada di Mesir. Padahal Tuhan sudah menyediakan suatu kehidupan yang berpengharapan di Kanaan, "...suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya," (Keluaran 3:8). Meski demikian bayang-bayang kehidupan masa lalu di Mesir terus menghantui pikiran mereka dan mental sebagai budak tetap saja melekat, padahal mereka sudah dipilih Tuhan sebagai umat pilihan dan kesayangan-Nya. Hal itu terlihat di sepanjang perjalanan di padang gurun, mereka tak pernah berhenti mengeluh, bersungut-sungut dan terus-menerus membanding-bandingkan saat hidup di Mesir (ayat nas).
Karena terus memberontak dan terbelenggu oleh masa lalunya di Mesir, sebagian besar umat Israel akhirnya gagal mencapai Tanah Perjanjian (Kanaan), kecuali Yosua dan Kaleb. Kegagalan mereka mencapai Tanah yang dijanjikan Tuhan itu berkenaan dengan masalah mental atau pola pikir yang belum diperbaharui. Jangan pernah menganggap remeh apa yang kita pikirkan karena hal itu akan berdampak pada setiap tindakan kita. Alam pikiran kita acapkali membawa kita pada kenyataan seperti yang kita pikirkan: baik atau tidak baik keadaannya, berkat atau kutuk. "Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia." (Amsal 23:7a).
Tuhan tidak pernah merancangkan kegagalan atau hal-hal yang buruk bagi kehidupan anak-anak-nya, rancangan-Nya selalu baik adanya (Yeremia 29:11). Tidak ada rencana dan rancangan Tuhan yang gagal (Ayub 42:2), namun sikap hati, pola pikir kita sendiri, dan pilihan hidup yang kita pilih yang seringkali menggagalkan rencana Tuhan digenapi di dalam hidup ini. Mulai dari sekarang lepaskan semua belenggu-belenggu masa lalu!
Di dalam Kristus kita adalah ciptaan baru, "...yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." 2 Korintus 5:17
Saturday, February 2, 2019
MASA LALU... BIARKANLAH BERLALU (1)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 2 Februari 2019
Baca: Lukas 9:57-62
"Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah." Lukas 9:62
Di bawah kepemimpinan Musa bangsa Israel dituntun keluar dari perbudakannya di Mesir. Salah satu mujizat terbesar yang bangsa Israel alami selama menempuh perjalanan di padang gurun adalah ketika Tuhan membawa mereka melewati laut Teberau. Alkitab menyatakan bahwa Tuhan membelah laut itu menjadi tanah kering sehingga umat Israel dapat "...berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering; sedang di kiri dan di kanan mereka air itu sebagai tembok bagi mereka." (Keluaran 14:22). Setelah mereka berhasil sampai ke seberang, laut itu pun menutup kembali. "Demikianlah pada hari itu TUHAN menyelamatkan orang Israel dari tangan orang Mesir. Dan orang Israel melihat orang Mesir mati terhantar di pantai laut." (Keluaran 14:30). Dengan demikian bangsa Israel tidak pernah memiliki jalan untuk kembali lagi ke Mesir.
Makna rohani di balik peristiwa ini adalah Tuhan ingin umat Israel melupakan Mesir dan fokus menatap ke depan. Tapi sayang, mereka tak sepenuhnya menutup lembaran masa lalunya, sehingga bayang-bayang kehidupan Mesir tetap saja melekat di hati dan pikiran mereka. Sekalipun secara fisik mereka sudah tidak lagi berada di Mesir, namun hati dan pikiran mereka masih berada di sana. Sekalipun Tuhan telah membebaskan mereka dari perbudakannya di Mesir dan menutup jalan untuk kembali ke Mesir, mereka tetap saja bermental budak. Akibatnya hampir semua orang yang keluar dari Mesir mati di padang gurun sebelum mencapai Tanah Perjanjian.
Untuk dapat menikmati apa yang Tuhan janjikan kita harus bersedia untuk melepaskan 'jubah budak' dan mau mengenakan jubah sebagai 'anak', juga mengubah pola pikir dari status sebagai 'budak' menjadi seorang 'anak', seperti tertulis: "Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: 'ya Abba, ya Bapa!' Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah." (Galatia 4:6-7). Karena itu Tuhan memperingatkan kita untuk tidak lagi menoleh ke belakang (ayat nas), kembali kepada kehidupan lama. Selama kita masih dibelenggu oleh masa lalu hidup kita, sulit rasanya untuk kita mencapai Tanah Perjanjian!
Baca: Lukas 9:57-62
"Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah." Lukas 9:62
Di bawah kepemimpinan Musa bangsa Israel dituntun keluar dari perbudakannya di Mesir. Salah satu mujizat terbesar yang bangsa Israel alami selama menempuh perjalanan di padang gurun adalah ketika Tuhan membawa mereka melewati laut Teberau. Alkitab menyatakan bahwa Tuhan membelah laut itu menjadi tanah kering sehingga umat Israel dapat "...berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering; sedang di kiri dan di kanan mereka air itu sebagai tembok bagi mereka." (Keluaran 14:22). Setelah mereka berhasil sampai ke seberang, laut itu pun menutup kembali. "Demikianlah pada hari itu TUHAN menyelamatkan orang Israel dari tangan orang Mesir. Dan orang Israel melihat orang Mesir mati terhantar di pantai laut." (Keluaran 14:30). Dengan demikian bangsa Israel tidak pernah memiliki jalan untuk kembali lagi ke Mesir.
Makna rohani di balik peristiwa ini adalah Tuhan ingin umat Israel melupakan Mesir dan fokus menatap ke depan. Tapi sayang, mereka tak sepenuhnya menutup lembaran masa lalunya, sehingga bayang-bayang kehidupan Mesir tetap saja melekat di hati dan pikiran mereka. Sekalipun secara fisik mereka sudah tidak lagi berada di Mesir, namun hati dan pikiran mereka masih berada di sana. Sekalipun Tuhan telah membebaskan mereka dari perbudakannya di Mesir dan menutup jalan untuk kembali ke Mesir, mereka tetap saja bermental budak. Akibatnya hampir semua orang yang keluar dari Mesir mati di padang gurun sebelum mencapai Tanah Perjanjian.
Untuk dapat menikmati apa yang Tuhan janjikan kita harus bersedia untuk melepaskan 'jubah budak' dan mau mengenakan jubah sebagai 'anak', juga mengubah pola pikir dari status sebagai 'budak' menjadi seorang 'anak', seperti tertulis: "Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: 'ya Abba, ya Bapa!' Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah." (Galatia 4:6-7). Karena itu Tuhan memperingatkan kita untuk tidak lagi menoleh ke belakang (ayat nas), kembali kepada kehidupan lama. Selama kita masih dibelenggu oleh masa lalu hidup kita, sulit rasanya untuk kita mencapai Tanah Perjanjian!
Friday, February 1, 2019
DAMAI SEJAHTERA DI TENGAH GELORA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 1 Februari 2019
Baca: Roma 14:13-23
"Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus." Roma 14:17
Dunia belum menunjukkan perubahan ke arah yang baik, malahan semakin hari semakin buruk. Goncangan di segala aspek kehidupan, pun fenomena alam yang terjadi semakin menunjukkan kesudahan alam semakin dekat. Banyak orang dihantui rasa takut, kuatir, cemas, was-was. Gelora dunia ini benar-benar merampas damai sejahtera semua orang!
Rasul Petrus mengingatkan, "Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa." (1 Petrus 4:7). Sebagai orang percaya, haruskah kita kehilangan damai sejahtera di tengah dunia yang sedang bergelora ini? Apa pun situasinya, tak seharusnya orang percaya kehilangan damai sejahtera. Tuhan telah berjanji: "Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu." (Yohanes 14:27). Masalah, tantangan, tekanan, penderitaan dan ujian yang ada di dunia ini semestinya tak memengaruhi kita untuk tetap mengalami Kerajaan Sorga di bumi, sebab Kerajaan Sorga itu bukan soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus (ayat nas). Ingat! Dunia dan segala yang ada tak dapat memberikan jaminan kepada kita untuk memiliki damai sejahtera.
Di mana dan bagaimana kita dapat memiliki damai sejahtera? "Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya." (Yesaya 32:17). Dan Kristus adalah kebenaran itu sendiri: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup." (Yohanes 14:6). Jadi kunci mengalami damai sejahtera adalah tinggal di dalam Kristus dan kebenaran-Nya. Ini berbicara tentang ketaatan! Asalkan kita hidup taat tak ada yang perlu ditakutkan dan dikuatirkan karena Tuhan yang menjadi jaminan hidup kita.
"Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti," Yesaya 48:18
Baca: Roma 14:13-23
"Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus." Roma 14:17
Dunia belum menunjukkan perubahan ke arah yang baik, malahan semakin hari semakin buruk. Goncangan di segala aspek kehidupan, pun fenomena alam yang terjadi semakin menunjukkan kesudahan alam semakin dekat. Banyak orang dihantui rasa takut, kuatir, cemas, was-was. Gelora dunia ini benar-benar merampas damai sejahtera semua orang!
Rasul Petrus mengingatkan, "Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa." (1 Petrus 4:7). Sebagai orang percaya, haruskah kita kehilangan damai sejahtera di tengah dunia yang sedang bergelora ini? Apa pun situasinya, tak seharusnya orang percaya kehilangan damai sejahtera. Tuhan telah berjanji: "Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu." (Yohanes 14:27). Masalah, tantangan, tekanan, penderitaan dan ujian yang ada di dunia ini semestinya tak memengaruhi kita untuk tetap mengalami Kerajaan Sorga di bumi, sebab Kerajaan Sorga itu bukan soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus (ayat nas). Ingat! Dunia dan segala yang ada tak dapat memberikan jaminan kepada kita untuk memiliki damai sejahtera.
Di mana dan bagaimana kita dapat memiliki damai sejahtera? "Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya." (Yesaya 32:17). Dan Kristus adalah kebenaran itu sendiri: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup." (Yohanes 14:6). Jadi kunci mengalami damai sejahtera adalah tinggal di dalam Kristus dan kebenaran-Nya. Ini berbicara tentang ketaatan! Asalkan kita hidup taat tak ada yang perlu ditakutkan dan dikuatirkan karena Tuhan yang menjadi jaminan hidup kita.
"Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti," Yesaya 48:18
Thursday, January 31, 2019
IMAN KITA SANGGUP MENGALAHKAN DUNIA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 31 Januari 2019
Baca: 1 Yohanes 5:1-5
"Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita." 1 Yohanes 5:4b
Hari-hari yang kita jalani di dunia ini tak luput dari berbagai macam masalah dan kesulitan hidup. Sakit penyakit, krisis keuangan, kesulitan, penderitaan, kegagalan dan bencana, bisa saja terjadi tanpa diduga. Contohnya seperti yang terjadi beberapa waktu yang lalu, di mana gempa bumi berkekuatan 6,4 SR melanda pulau Lombok (29/7/2018). Belum lagi sirna trauma itu, bencana terjadi lagi di Palu (Sulteng), yaitu gempa bermagnitudo 7,4 disertai dengan tsunami yang mengakibatkan ribuan bangunan rusak dan lebih dari seribu orang meninggal dunia (28/9/2018). Karena masalah-masalah inilah banyak orang menjadi takut dan kuatir. Kita semua tidak tahu apa yang terjadi esok hari.
Sesuram apa pun hari-hari yang sedang kita jalani, sekalipun dunia bergoncang dengan hebatnya, biarlah kita tetap mengarahkan pandangan dan menguatkan percaya kepada Tuhan. Hanyalah Tuhan satu-satunya pengharapan dalam hidup ini. Di dalam Kristus kita memiliki rahasia hidup yang berkemenangan. Apakah itu? "sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita. Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah?" (1 Yohanes 5:4-5). Alkitab menyatakan bahwa sewaktu kita percaya dan mengaku bahwa Kristus Tuhan dan Juruselamat, kita diberi kuasa mengalahkan dunia, karena di dalam kita ada Roh Kudus. Mengalahkan dunia berarti mengalahkan berbagai macam masalah dan pergumulan selama hidup di dunia ini.
Tak perlu takut dan kuatir menghadapi hidup ini karena janji Tuhan adalah jaminan bagi kita. Alkitab secara tegas menyatakan bahwa Kristus sudah mengalahkan kuasa maut dan mematahkan kutuk dosa melalui pengorbanan-Nya di kayu salib. Karena itu milikilah iman yang teguh di dalam Kristus! Namun supaya iman kita benar-benar mampu mengubah situasi, maka iman itu harus disertai dengan perbuatan (ketaatan). "Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya." (Yohanes 15:7). Iman yang disertai dengan ketaatan pasti menghasilkan kuasa yang dahsyat!
Di dalam Kristus kita tinggal di dalam kerajaan yang tak tergoncangkan! Ibrani 12:28
Baca: 1 Yohanes 5:1-5
"Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita." 1 Yohanes 5:4b
Hari-hari yang kita jalani di dunia ini tak luput dari berbagai macam masalah dan kesulitan hidup. Sakit penyakit, krisis keuangan, kesulitan, penderitaan, kegagalan dan bencana, bisa saja terjadi tanpa diduga. Contohnya seperti yang terjadi beberapa waktu yang lalu, di mana gempa bumi berkekuatan 6,4 SR melanda pulau Lombok (29/7/2018). Belum lagi sirna trauma itu, bencana terjadi lagi di Palu (Sulteng), yaitu gempa bermagnitudo 7,4 disertai dengan tsunami yang mengakibatkan ribuan bangunan rusak dan lebih dari seribu orang meninggal dunia (28/9/2018). Karena masalah-masalah inilah banyak orang menjadi takut dan kuatir. Kita semua tidak tahu apa yang terjadi esok hari.
Sesuram apa pun hari-hari yang sedang kita jalani, sekalipun dunia bergoncang dengan hebatnya, biarlah kita tetap mengarahkan pandangan dan menguatkan percaya kepada Tuhan. Hanyalah Tuhan satu-satunya pengharapan dalam hidup ini. Di dalam Kristus kita memiliki rahasia hidup yang berkemenangan. Apakah itu? "sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita. Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah?" (1 Yohanes 5:4-5). Alkitab menyatakan bahwa sewaktu kita percaya dan mengaku bahwa Kristus Tuhan dan Juruselamat, kita diberi kuasa mengalahkan dunia, karena di dalam kita ada Roh Kudus. Mengalahkan dunia berarti mengalahkan berbagai macam masalah dan pergumulan selama hidup di dunia ini.
Tak perlu takut dan kuatir menghadapi hidup ini karena janji Tuhan adalah jaminan bagi kita. Alkitab secara tegas menyatakan bahwa Kristus sudah mengalahkan kuasa maut dan mematahkan kutuk dosa melalui pengorbanan-Nya di kayu salib. Karena itu milikilah iman yang teguh di dalam Kristus! Namun supaya iman kita benar-benar mampu mengubah situasi, maka iman itu harus disertai dengan perbuatan (ketaatan). "Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya." (Yohanes 15:7). Iman yang disertai dengan ketaatan pasti menghasilkan kuasa yang dahsyat!
Di dalam Kristus kita tinggal di dalam kerajaan yang tak tergoncangkan! Ibrani 12:28
Wednesday, January 30, 2019
PEMIMPIN ROHANI: Bekerja Keras Untuk Kita (2)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 30 Januari 2019
Baca: Ibrani 13:17-25
"Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu." Ibrani 13:17
Kita patut menghormati dan menghargai jerih lelah pemimpin rohani kita karena mereka "...yang memimpin kamu dalam Tuhan..." (1 Tesalonika 5:12) dan dia juga berjaga-jaga atas jiwa-jiwa dari jemaat yang dipimpinnya. Ini merupakan tugas yang sungguh mulia dan tak bisa dipandang sebelah mata. Memimpin jiwa-jiwa dengan berbagai karakter dan problematikanya adalah hal yang membutuhkan kesabaran, ketekunan dan komitmen tinggi, seperti seorang gembala yang harus dengan sabar menuntun kawanan domba.
Pemimpin rohani adalah orang yang memimpin jemaat untuk hidup dalam Tuhan. Selain harus mengajarkan firman Tuhan kepada jemaat yang dipimpinnya, ia juga dituntut untuk memberikan sebuah keteladanan hidup. Bagaimanapun juga pemimpin rohani adalah manusia biasa, bukan malaikat, ia punya banyak kelemahan dan kekurangan. Meski demikian kita harus tetap menghargai dan menghormatinya, jangan sekali-kali kita melecehkan, menghujat dan merendahkan mereka. "Berdoalah terus untuk kami; sebab kami yakin, bahwa hati nurani kami adalah baik, karena di dalam segala hal kami menginginkan suatu hidup yang baik." (Ibrani 13:18).
Kita patut bersyukur memiliki pemimpin rohani, karena mereka juga menegur mengingatkan dan menasihati saat kita melakukan kesalahan. Namun betapa banyak dari kita justru menjadi marah dan tersinggung ketika ditegur atau dinasihati oleh pemimpin rohaninya. "Orang yang mengarahkan telinga kepada teguran yang membawa kepada kehidupan akan tinggal di tengah-tengah orang bijak. Siapa mengabaikan didikan membuang dirinya sendiri, tetapi siapa mendengarkan teguran, memperoleh akal budi." (Amsal 15:31-32). Kita pun bisa belajar dari jemaat Makedonia, yang bukan hanya menghormati pemimpin rohaninya, tapi juga memperhatikan apa yang menjadi kebutuhannya (2 Korintus 11:9).
Pemimpin rohani adalah orang pilihan Tuhan! Karena itu, hormati dan hargai dia.
Baca: Ibrani 13:17-25
"Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu." Ibrani 13:17
Kita patut menghormati dan menghargai jerih lelah pemimpin rohani kita karena mereka "...yang memimpin kamu dalam Tuhan..." (1 Tesalonika 5:12) dan dia juga berjaga-jaga atas jiwa-jiwa dari jemaat yang dipimpinnya. Ini merupakan tugas yang sungguh mulia dan tak bisa dipandang sebelah mata. Memimpin jiwa-jiwa dengan berbagai karakter dan problematikanya adalah hal yang membutuhkan kesabaran, ketekunan dan komitmen tinggi, seperti seorang gembala yang harus dengan sabar menuntun kawanan domba.
Pemimpin rohani adalah orang yang memimpin jemaat untuk hidup dalam Tuhan. Selain harus mengajarkan firman Tuhan kepada jemaat yang dipimpinnya, ia juga dituntut untuk memberikan sebuah keteladanan hidup. Bagaimanapun juga pemimpin rohani adalah manusia biasa, bukan malaikat, ia punya banyak kelemahan dan kekurangan. Meski demikian kita harus tetap menghargai dan menghormatinya, jangan sekali-kali kita melecehkan, menghujat dan merendahkan mereka. "Berdoalah terus untuk kami; sebab kami yakin, bahwa hati nurani kami adalah baik, karena di dalam segala hal kami menginginkan suatu hidup yang baik." (Ibrani 13:18).
Kita patut bersyukur memiliki pemimpin rohani, karena mereka juga menegur mengingatkan dan menasihati saat kita melakukan kesalahan. Namun betapa banyak dari kita justru menjadi marah dan tersinggung ketika ditegur atau dinasihati oleh pemimpin rohaninya. "Orang yang mengarahkan telinga kepada teguran yang membawa kepada kehidupan akan tinggal di tengah-tengah orang bijak. Siapa mengabaikan didikan membuang dirinya sendiri, tetapi siapa mendengarkan teguran, memperoleh akal budi." (Amsal 15:31-32). Kita pun bisa belajar dari jemaat Makedonia, yang bukan hanya menghormati pemimpin rohaninya, tapi juga memperhatikan apa yang menjadi kebutuhannya (2 Korintus 11:9).
Pemimpin rohani adalah orang pilihan Tuhan! Karena itu, hormati dan hargai dia.
Subscribe to:
Comments (Atom)