Friday, January 18, 2019

MERAGUKAN KRISTUS SEBAGAI TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 18 Januari 2019

Baca:  Yohanes 14:1-14

"Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku."  Yohanes 14:6

Hingga detik ini banyak orang masih meragukan tentang keilahian Kristus.  Mereka menganggap bahwa Kristus adalah manusia biasa.  Tetapi, sebagai pengikut Kristus, kita sangat percaya bahwa Kristus adalah Tuhan yang hidup dan berkuasa, Dia Tuhan yang menjelma menjadi manusia demi satu misi mulia, yaitu menyelamatkan manusia.

     Bukti bahwa Kristus adalah Tuhan adalah adanya jaminan bahwa Ia menyediakan tempat bagi kita di sorga:  "Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada."  (Yohanes 14:2-3).  Kristus berjanji bahwa Ia akan datang kembali ke dunia ini untuk menjemput umat-Nya dan memberikan sorga sebagai tempat tinggal yang pasti bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya.

     Ada pepatah yang mengatakan banyak jalan menuju Roma!  Ini tidak berlaku untuk kehidupan kekal  (sorga), sebab tidak ada jalan lain menuju kepada kehidupan kekal  (sorga)  selain melalui Kristus.  "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku."  (ayat nas).  Jelas dinyatakan bahwa Kristus bukanlah penunjuk jalan menuju kepada Bapa, tapi Dia adalah Jalan itu sendiri.  Dan sebagai Jalan, Kristus tidak hanya sekedar memberi nasihat dan arahan, tapi Ia sendiri akan menuntun dan memimpin umat-Nya secara pribadi hari lepas hari melalui Roh Kudus.  Kristus juga adalah kebenaran!  Banyak orang, bahkan para nabi, mungkin bisa mengajar tentang kebenaran sekalipun mereka belum tentu hidup dalam kebenaran sepenuhnya, seperti yang dilakukan oleh ahli Taurat dan orang-orang Farisi.  Hanya Kristus yang berni berkata:  "Akulah kebenaran.", sebab  "Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya."  (1 Petrus 2:22).  Selain itu Kristus adalah hidup, karena itu setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak akan binasa, melainkan akan beroleh kehidupan yang kekal  (Yohanes 3:16).

Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat manusia.  Tak perlu diragukan lagi!

Thursday, January 17, 2019

PENDERITAAN: Momok Orang Percaya

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 Januari 2019

Baca:  1 Petrus 4:12-19

"Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya."  1 Petrus 4:13

Tak satu pun manusia di dunia ini yang mau hidup menderita tak terkecuali orang percaya.  Itulah sebabnya kebanyakan orang Kristen merasa  'alergi'  dan kurang senang jika mendengar khotbah hamba Tuhan yang bertemakan penderitaan.  Ayat-ayat di Alkitab yang berbicara tentang penderitaan seringkali dilewati dan tak dibacanya, padahal firman Tuhan jelas menyatakan:  "Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia,"  (Filipi 1:29).  Jadi setiap orang percaya dipanggil untuk menderita bagi Kristus.

     Panggilan untuk menderita bagi Kristus inilah yang menjadi momok bagi orang percaya!  Tentunya tidak mudah mencari orang yang bersedia menjawab panggilan ini, terlebih hidup di zaman yang semakin menuntut orang untuk menjadi berhasil dan sukses.  Seringkali keberhasilan dan kesuksesan dijadikan ukuran atau tanda bagi seseorang apakah ia diberkati Tuhan.  Akhirnya fokus kita hanya pada berkat, kenyamanan, fasilitas dan sebagainya.  Perhatikan apa yang rasul Petrus tulis:  "...karena Kristus telah menderita penderitaan badani, kamupun harus juga mempersenjatai dirimu dengan pikiran yang demikian, --karena barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa--, supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah."  (1 Petrus 4:1-2).

     Banyak orang menjadi sangat terkejut karena setelah percaya kepada Kristus seolah-olah badai hidup tidak pernah reda, padahal mereka berharap perjalanan hidupnya akan menjadi mulus dan berkecukupan secara materi.  Mereka pun menjadi apatis dan tidak lagi bersemangat melayani Tuhan.  Kita mulai membanding-bandingkan dengan kehidupan orang-orang di luar Tuhan, seperti yang diperbuat bangsa Israel ketika dibawa Tuhan ke luar dari Mesir dan harus melewati padang gurun sebelum mencapai Tanah Perjanjian  (Keluaran 14:11-12).  Tak ada kekristenan tanpa salib!

Penderitaan adalah bagian hidup orang percaya, tapi percayalah penderitaan yang kita alami tak sebanding dengan kemuliaan yang Tuhan sediakan!  Roma 8:18

Wednesday, January 16, 2019

TUHAN HADIR DALAM KEMULIAAN-NYA (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 Januari 2019

Baca:  2 Tawarikh 5:2-14

"'Sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.' Pada ketika itu rumah itu, yakni rumah TUHAN, dipenuhi awan,"  2 Tawarikh 5:13b

Pembicaraan tentang Tabut Tuhan tak dapat dipisahkan dari kekudusan hidup.  "Sebab Akulah TUHAN, Allahmu, maka haruslah kamu menguduskan dirimu dan haruslah kamu kudus, sebab Aku ini kudus, dan janganlah kamu menajiskan dirimu dengan setiap binatang yang mengeriap dan merayap di atas bumi. Sebab Akulah TUHAN yang telah menuntun kamu keluar dari tanah Mesir, supaya menjadi Allahmu; jadilah kudus, sebab Aku ini kudus."  (Imamat 11:44-45).  Karena Tuhan adalah kudus maka Ia pun memerintahkan agar umat-Nya hidup dalam kekudusan.  Inilah kunci untuk mengalami lawatan dan kehadiran Tuhan di setiap peribadatan.

     Ada banyak hamba Tuhan dan pelayan Tuhan yang menganggap remeh kekudusan ini sehingga mereka melayani ibadah tanpa memiliki persiapan yang baik, asal-asalan, dan sembarangan.  Melayani di rumah Tuhan itu bukanlah hal kebiasaan, punya talenta, kemampuan, atau mahir tentang pengetahuan Alkitab, namun haruslah ada kekudusan sebagai harga mati!  Jika para pelayan Tuhan tidak hidup dalam kekudusan, bagaimana mungkin mereka bisa membawa jemaat bertemu Tuhan?  Tertulis:  "Lalu para imam keluar dari tempat kudus. Para imam yang ada pada waktu itu semuanya telah menguduskan diri, lepas dari giliran rombongan masing-masing."  (2 Tawarikh 5:11).  Para imam adalah orang-orang yang dipercaya untuk melayani di Bait Tuhan.

     Rasul Paulus pun menasihati,  "...supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati."  (Roma 12:2).  Di dalam kekudusan itulah Tuhan akan menyatakan kemuliaan dan kuasa-Nya.  Tuhan memang Mahahadir  (Omni Present), namun belum tentu semua orang mengalami dan merasakan kehadiran-Nya secara pribadi  (Manifest Present).  Adalah tragis sekali bila kita sudah berjerih lelah melayani Tuhan dan beribadah kepada-Nya tapi tidak mengalami kehadiran Tuhan secara pribadi.  Ibadah yang kita lakukan akhirnya takkan lebih dari sekedar formalitas tanpa kita merasakan jamahan dan hadirat Tuhan.

Ibadah tanpa kekudusan hidup tak menghasilkan kuasa, karena Tuhan tidak hadir!

Tuesday, January 15, 2019

TUHAN HADIR DALAM KEMULIAAN-NYA (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 Januari 2019

Baca:  1 Raja-Raja 8:1-13

"Ketika imam-imam keluar dari tempat kudus, datanglah awan memenuhi rumah TUHAN, sehingga imam-imam tidak tahan berdiri untuk menyelenggarakan kebaktian oleh karena awan itu, sebab kemuliaan TUHAN memenuhi rumah TUHAN."  1 Raja-Raja 8:10-11

Ada hal yang sangat tragis bila dalam sebuah ibadah atau pelayanan rohani Tuhan tidak hadir di tengah-tengah umat-Nya dan tidak menyatakan kemuliaan-Nya.  Ketidakhadiran Tuhan ini dalam istilah bahasa Ibrani disebut ichabod, yang berarti:  kemuliaan Tuhan diambil atau dirampas dari umat Tuhan.

     Jika kita perhatikan, sekarang ini banyak sekali gedung gereja dibangun dengan megahnya di kota-kota besar, bahkan gedung tersebut dapat menampung jemaat yang bukan hanya ratusan, tapi ribuan.  Ini berita baik!  Namun jangan sampai kita hanya fokus pada kemegahan gedung gereja secara fisik semata, karena hal terpenting dan terutama adalah apakah Tuhan hadir melawat umat-Nya saat ibadah berlangsung.  Apalah artinya gedung megah dengan jemaat yang jumlahnya ribuan tanpa kehadiran Tuhan di tengah-tengah jemaat?  Pastilah ibadah akan terasa hambar dan tak lebih dari sekedar seremonial agamawi.  Dalam perjalanan bangsa Israel, keberadaan Tabut Tuhan adalah hal terpenting.  Tabut adalah kotak kayu, di dalamnya ditaruh loh-loh batu yang bertuliskan sepuluh perintah Tuhan.  "Pada waktu itu berfirmanlah TUHAN kepadaku: Pahatlah dua loh batu yang serupa dengan yang mula-mula, naiklah kepada-Ku ke atas gunung, dan buatlah sebuah tabut dari kayu; maka Aku akan menuliskan pada loh itu firman-firman yang ada pada loh yang mula-mula yang telah kaupecahkan itu, kemudian letakkanlah kedua loh ke dalam tabut itu."  (Ulangan 10:1-2).

     Tabut Tuhan menjadi barang sakral yang kerap dibawa ke mana-mana oleh bangsa Israel ketika mereka menempuh perjalanan di padang gurun.  Mengapa umat Israel selalu membawa Tabut Tuhan?  Karena Tabut Tuhan adalah tipologi dari kehadiran dan penyertaan Tuhan.  Dimana Tuhan hadir, perkara dahsyat pasti terjadi:  kemenangan, pemulihan, kesembuhan dan sukacita.  Ketika Tabut Tuhan ada di tengah-tengah umat Israel, bisa dipastikan kemenangan menjadi milik mereka karena Tuhan turut bekerja.  Sebaliknya ketika Tabut Tuhan tidak ada di tengah-tengah umat Israel, mereka harus terseok-seok menghadapi musuh dan berujung pada kekalahan.

Monday, January 14, 2019

MENGALAMI SORGA: Jadi Seperti Anak Kecil (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 Januari 2019

Baca:  Lukas 18:15-17

"Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya."  Lukas 18:17

Pelajaran berharga lain yang dapat kita teladani dari anak kecil adalah:  2.  Mudah diajar.  Anak kecil mudah sekali diajar.  Apa pun yang diajarkan akan mudah sekali terserap dan tersimpan di dalam memori otaknya.  Milikilah hati yang mau diajar!  Ada banyak orang Kristen tak mengalami pertumbuhan rohani karena mereka sulit sekali diajar, apalagi ditegur atau dinasihati, mudah sekali marah dan tersinggung.  "berilah orang bijak nasihat, maka ia akan menjadi lebih bijak, ajarilah orang benar, maka pengetahuannya akan bertambah."  (Amsal 9:9).  Kita harus mempertajam pendengaran kita terhadap ajaran firman Tuhan dan memiliki roh yang mudah diajar agar kita bisa menikmati Kerajaan Sorga di bumi ini.

     3.  Percaya penuh kepada orangtua.  Seorang anak kecil sangat bergantung penuh kepada orangtuanya.  Ia tidak pernah merasa takut dan kuatir tentang apa pun karena ia sangat percaya bahwa bapanya pasti melindungi dan menyediakan apa yang ia perlukan.  Karena itu  "Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan;"  (Amsal 3:5-7).  Seorang yang memiliki kepercayaan penuh kepada Tuhan pasti akan mengalami Kerajaan Sorga di bumi, karena ia tahu bahwa ia punya Bapa yang baik, yang adalah Sang empunya segala-galanya.

     4.  Mudah memaafkan.  Tak mudah orang dewasa memaafkan kesalahan orang lain, biasanya kita cenderung mendendam, sakit hati dan sulit mengampuni.  Berbeda dengan seorang anak kecil!  Meskipun baru bertengkar dengan teman, secepat itu pula mereka akur kembali dan saling memaafkan.  Alkitab menyatakan bahwa orang yang tidak memiliki kasih adalah orang yang belum pindah dari maut:  "Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut."  (1 Yohanes 3:14).

Punya kerendahan hati, mau diajar, percaya penuh kepada Tuhan dan punya kasih adalah kunci untuk mengalami Kerajaan Sorga di bumi!

Sunday, January 13, 2019

MENGALAMI SORGA: Jadi Seperti Anak Kecil (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 Januari 2019

Baca:  Markus 10:13-16

"Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah."  Markus 10:14

Salah satu kalimat dalam Doa Bapa kami yang Kristus ajarkan adalah:  "datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga."  (Matius 6:10).  Apa maksudnya?  Kristus menghendaki agar setiap orang percaya mengalami Kerajaan Sorga bukan hanya pada saat bertemu Kristus di sorga kelak, tetapi kita juga dapat mengalami Kerajaan Sorga saat kita masih hidup di bumi ini.  Ada pun yang menjadi ukuran seseorang dapat dikatakan mengalami Kerajaan Sorga di bumi ini tidak dilihat dari apa yang kasat mata, seperti berlimpahnya materi/kekayaan, rumahnya yang tampak megah, mobilnya yang lebih dari satu, berpangkat atau tingginya status sosial di masyarakat, tetapi kehidupan yang penuh sukacita dan damai sejahtera di segala keadaan, sebab ada tertulis:  "...Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus."  (Roma 14:17).

     Bagaimana caranya agar kita bisa mengalami Kerajaan Sorga di bumi?  Tuhan mengajarkan kita untuk menjadi seperti seorang anak kecil.  Apa maksudnya?  Apakah kita harus berperilaku seperti anak kecil?  Bukan itu maksudnya.  Menjadi seperti anak kecil bukan berarti menjadi kekanak-kanakan:  "Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak."  (1 Korintus 13:11a), tetapi kita belajar akan sikap positif yang mereka miliki.

     Ada banyak hal yang dapat kita pelajari dari kehidupan seorang anak kecil, di antaranya adalah:  1.  Kesederhanaan.  Anak kecil itu sederhana, polos, belum tercemar oleh pikiran-pikiran negatif, apa adanya, tidak ada yang dibuat-buat alias tidak munafik.  Lawan dari kesederhanaan adalah banyak akal, atau berlaku licik.  Tuhan menginginkan kepolosan kita, tidak ada hal yang perlu ditutup-tutupi.  Karena itu rasul Paulus menasihati:  "Saudara-saudara, janganlah sama seperti anak-anak dalam pemikiranmu. Jadilah anak-anak dalam kejahatan, tetapi orang dewasa dalam pemikiranmu!"  (1 Korintus 14:20).  Menjadi anak-anak dalam kejahatan berarti tidak turut ambil bagian, mampu menjaga diri atau menjauhkan diri dari segala bentuk kejahatan.

Saturday, January 12, 2019

TANPA PERTOBATAN TAK BERJUMPA TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 Januari 2019

Baca:  Matius 3:7-12

"Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan."  Matius 3:8

Pertobatan adalah bagian terpenting dalam kehidupan kekristenan.  Kekristenan tanpa disertai dengan pertobatan hidup adalah sia-sia, tak ada arti apa-apa di pemandangan mata Tuhan.  Karena itu Yohanes Pembaptis menegur keras orang-orang Farisi dan Saduki yang datang kepadanya untuk dibaptis.  Mengapa?  Karena ibadah dan pelayanan yang mereka jalankan itu tak lebih dari sekedar kegiatan agamawi semata.  Sekalipun mereka tampak mahir dan fasih tentang Hukum Taurat, tapi mereka sendiri tidak melakukan Taurat tersebut;  dan kalau pun mereka tampak giat beribadah dan melayani, itu dilakukan dengan suatu tendensi atau motivasi yang terselubung, yaitu supaya dilihat orang dan beroleh pujian dan penghormatan dari manusia  (Matius 23:5-7).

     Tuhan menyebut orang-orang seperti itu sebagai orang-orang yang munafik.  Menurut kamus bahasa Indonesia kata munafik memiliki makna:  bermuka dua;  perkataan berbeda dengan isi hati;  berpura-pura percaya atau setia kepada agama, tetapi sebenarnya di hatinya tidak;  suka  (selalu)  mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan perbuatannya.  Tuhan pun mengibaratkan keberadaan mereka  "...seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran."  (Matius 23:27).  Ini menjadi peringatan keras bagi semua orang percaya!  Apakah selama ini ibadah dan pelayanan yang kita lakukan tak lebih dari sekedar rutinitas mingguan saja?  Jika ibadah dan pelayanan kita seperti itu, mustahil kita mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan.

     Tanda bahwa seseorang mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan adalah perubahan hidup  (pertobatan)  yaitu dihasilkannya buah Roh:  "...kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu."  (Galatia 5:22-23), sebab dari buahnya saja setiap kita dapat dikenali  (Matius 12:33).  Sehebat apa pun pelayanan seseorang di atas mimbar, atau serajin apa pun ia beribadah di gereja, jika tidak ada buah pertobatan dalam kehidupan sehari-hari, semua akan terlihat palsu di hadapan Tuhan.

Yang Tuhan kehendaki adalah kita menjadi pelaku firman!  Jika tidak, pada saatnya nanti Tuhan akan menolak kita:  "Aku tidak pernah mengenal kamu!"  Matius 7:23

Friday, January 11, 2019

JANGAN LAGI SUAM-SUAM KUKU

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 Januari 2019

Baca:  Ibrani 12:1-17

"Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan."  Ibrani 12:16

Zaman di mana kita hidup sekarang ini adalah zaman yang sedang mengalami percepatan dari Tuhan, di mana Tuhan menyatakan kehendak dan rencana-Nya semakin nyata dari hari ke sehari.  Langkah kaki kita sedang mendekati garis akhir, karena itu kita harus semakin memacu diri dan berlari sedemikian rupa.  Kita tak dapat menjadi orang Kristen yang mempunyai sifat seperti Esau, yang demi memuaskan kedagingannya, rela menjual hak kesulungannya.  Jangan sampai kita mengalami nasib seperti Esau, di mana penyesalan menjadi tiada guna,  "Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata."  (Ibrani 12:17).

     Rasul Paulus memperingatkan dengan keras:  "Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya."  (Galatia 6:7).  Tuhan tak akan berpura-pura tak melihat perbuatan dosa-dosa kecil kita.  Api Tuhan akan membakar kita jika kita tetap bermain-main dengan dosa, sebab kita hidup di zaman akhir, di mana Roh Kudus akan semakin menyempurnakan hidup kita demi menyongsong kedatangan Kristus.  Inilah saat-saat yang terbaik bagi kita untuk hidup taat kepada Tuhan selagi kita masih diberi kesempatan, selagi pintu kemurahan Tuhan masih terbuka bagi siapa yang mau datang kepada-Nya.

     Suatu ketika nabi Elia menantang umat Israel yang terpengaruh oleh nabi-nabi Baal.  "'Berapa lama lagi kamu berlaku timpang dan bercabang hati? Kalau TUHAN itu Allah, ikutilah Dia, dan kalau Baal, ikutilah dia.'" Tetapi rakyat itu tidak menjawabnya sepatah katapun."  (1 Raja-Raja 18:21).  Artinya jika rakyat percaya kepada Tuhan yang hidup, biarlah mereka mengikut Tuhan dengan sungguh-sungguh, tapi jika mereka menganggap bahwa Baal itu tuhan, biarlah mereka mengikuti Baal.  Sampai saat ini masih banyak orang Kristen yang kehidupan rohaninya suam-suam kuku, tidak panas atau tidak dingin, beribadah kepada Tuhan, tapi juga masih berkompromi dengan dunia.  

Firman Tuhan berkata,  "...karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku."  Wahyu 3:16

Thursday, January 10, 2019

DIPUJI TUHAN...BUKAN MEMUJI DIRI SENDIRI

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 Januari 2019

Baca:  2 Korintus 10:12-18

"Sebab bukan orang yang memuji diri yang tahan uji, melainkan orang yang dipuji Tuhan."  2 Korintus 10:18

Salah satu ciri kesombongan adalah suka memuji diri sendiri, segala sesuatu berfokus pada  'aku'.  Sesungguhnya orang yang demikian merupakan orang yang penuh kelemahan, dan untuk menutupi sisi-sisi kelemahan dirinya, orang tersebut selalu bermegah atas dirinya.  Belajarlah dari rasul Paulus, seorang hamba Tuhan besar dan dipakai Tuhan secara luar biasa, yang tak pernah memegahkan diri:  "...kami tidak mau bermegah melampaui batas, melainkan tetap di dalam batas-batas daerah kerja yang dipatok Allah bagi kami, yang meluas sampai kepada kamu juga."  (2 Korintus 10:13).

     Tidak sepatutnya kita memuji diri sendiri, biarlah pujian itu datang dari Tuhan.  Walaupun kita memuji diri tahan uji, tapi yang mengukur kualitas hidup kita ialah Tuhan.  Bila Tuhan yang memuji kita pastilah itu sesuai kebenaran dan kenyataan yang kita alami.  Orang yang sering memuji diri sendiri akan mudah sekali tergelincir.  Pujian dan sanjungan dari manusia seringkali menjadi senjata ampuh bagi Iblis untuk menjerat hidup seseorang.  Karena itu rasul Paulus menasihati demikian:  "Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain."  (Galatia 6:4).  Sekali lagi perlu ditegaskan bahwa memuji diri sendiri sama dengan sombong, dan kesombongan adalah kebencian Tuhan.

     Melalui Obaja Tuhan menyampaikan firman-Nya tentang Edom yang congkak:  "Sekalipun engkau terbang tinggi seperti burung rajawali, bahkan, sekalipun sarangmu ditempatkan di antara bintang-bintang, dari sanapun Aku akan menurunkan engkau, --demikianlah firman TUHAN."  (Obaja 1:4).  Sesungguhnya tak satu bagian pun dari kita ini yang dapat kita bangga-banggakan, karena kita ini memang bukanlah siapa-siapa.  "Tetapi barangsiapa bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan."  (2 Korintus 10:17).  Kristus mengajarkan:  "Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."  (Matius 23:11-12).

Tuhan membimbing orang yang rendah hati menurut hukum dan Ia mengajarkan jalan-jalan-Nya  (Mazmur 25:9).

Wednesday, January 9, 2019

UNDUR DAN MENINGGALKAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 9 Januari 2019

Baca:  Titus 3:1-11

"pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus,"  Titus 3:5

Ketika kita menyerahkan diri dan percaya kepada Kristus, saat itu kita diselamatkan dan dilahirkan kembali oleh pekerjaan Roh Kudus menjadi ciptaan baru  (2 Korintus 5:17).  Sebagai orang yang telah dilahirkan kembali dan menerima baptisan Roh Kudus, cara hidup kita haruslah berbeda dengan cara hidup yang lama.  Untuk mengetahui apakah seseorang benar-benar  'lahir baru'  adalah melalui buah yang dihasilkannya dalam kehidupan sehari-hari, yaitu buah pertobatan  (Matius 3:8).

     Walaupun dahulu sudah lahir baru dan sudah dibaptis Roh Kudus, tapi bila kemudian orang kembali kepada kehidupan lamanya dan mempunyai karakter yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, perlu dipertanyakan apakah Roh Kudus masih tinggal di dalam dirinya.  Bila kita mengabaikan si Pemberi Roh Kudus dalam diri kita, kuasa-Nya atau urapan-Nya dapat ditarik kembali.  Maka dari itu kita patut memelihara-Nya sebaik mungkin melalui ketaatan kita terhadap firman Tuhan.  Jangan pernah mendukakan Roh Kudus  (Efesus 4:30)  dengan perbuatan kita yang menyimpang dari firman Tuhan, sebab Roh Kudus bisa undur dan meninggalkan kita.

     Awalnya Saul diurapi Roh Tuhan:  "Lalu Samuel mengambil buli-buli berisi minyak, dituangnyalah ke atas kepala Saul, diciumnyalah dia sambil berkata: 'Bukankah TUHAN telah mengurapi engkau menjadi raja atas umat-Nya Israel?'"  (1 Samuel 10:1).  Seiring berjalannya waktu sikap Saul berubah, tidak lagi taat perintah Tuhan, hidup menurut kehendaknya sendiri.

     Ketidaktaatannya inilah yang membuat Roh Tuhan undur dan meninggalkan Saul, sampai-sampai Tuhan berkata kepada Samuel,  "Aku menyesal, karena Aku telah menjadikan Saul raja, sebab ia telah berbalik dari pada Aku dan tidak melaksanakan firman-Ku."  (1 Samuel 15:11).  Saul ditolak Tuhan menjadi raja Israel, kemudian Tuhan memilih dan mengurapi Daud dengan Roh-Nya menggantikan Saul.

Ketidaktaatan membuat Roh Kudus berduka, lalu Ia akan undur dan meninggalkan hidup seseorang!   

Tuesday, January 8, 2019

KARENA DOSA PENUMPAHAN DARAH

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 Januari 2019

Baca:  1 Tawarikh 28:1-10

"Engkau tidak akan mendirikan rumah bagi nama-Ku, sebab engkau ini seorang prajurit dan telah menumpahkan darah."  1 Tawarikh 28:3

Pada suatu waktu Daud mengumpulkan seluruh pembesar Israel:  "...para kepala suku, para pemimpin rombongan orang-orang yang melayani raja, para kepala pasukan seribu dan kepala pasukan seratus, serta para kepala harta benda dan ternak kepunyaan raja dan anak-anaknya; bersama-sama mereka juga para pegawai istana dan para perwira dan semua pahlawan yang gagah perkasa."  (1 Tawarikh 28:1).  Apa tujuannya?  Daud ingin memberitahukan kepada mereka semua bahwa sesungguhnya ia berkehendak untuk mendirikan rumah perhentian untuk tabut perjanjian Tuhan dan telah mempersiapkan segala sesuatunya  (1 Tawarikh 28:2), namun di ayat selanjutnya Daud menyatakan bahwa Tuhan tidak memperkenankan dia untuk mendirikan rumah bagi-Nya, sebab tangan Daud telah tercemar dengan dosa, yaitu menumpahkan darah seseorang.

     Adapun peristiwa penumpahan darah tersebut berkenaan dengan Uria, suami Batsyeba  (2 Samuel 11:1-27).  Apa yang diperbuat Daud ini merupakan kejahatan besar di mata Tuhan, dan selalu ada akibat dari setiap perbuatan dosa dan penumpahan darah.  Artinya Daud harus menerima konsekuensi atas pelanggaran yang telah diperbuatnya.  Namun Tuhan adalah pribadi yang berlimpah kasih setia, sehingga Ia pun mengampuni dosa Daud dan tetap melanjutkan penggenapan janji-Nya dalam kehidupan Daud.  Sekalipun Daud tidak diperkenankan untuk membangun Bait Suci-Nya tapi Tuhan tetap memilih dan menetapkan keturunan Daud sendiri, yaitu Salomo, untuk mendirikan rumah bagi-Nya.  Apa alasannya?  Karena Daud mau bertobat dengan sungguh.  Ketika ditegur oleh nabi Natan Daud tidak mengeraskan hati, apalagi berkilah dan menyalahkan orang lain.  Ia mengakui dengan jujur kesalahan yang diperbuat dan menyesalinya.

     Daud datang kepada Tuhan dan memohon pengampunan dengan hati yang hancur:  "Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar! Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku!"  (Mazmur 51:3-4).  Asal mau bertobat dengan sungguh-sungguh Tuhan pasti akan mengampuni setiap pelanggaran kita.

Pertobatan adalah kunci mengalami pemulihan dari Tuhan!