Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 Mei 2018
Baca: 2 Yohanes 1:1-11
"Bukan aku saja yang mengasihi kamu, tetapi juga semua orang yang telah mengenal kebenaran," 2 Yohanes 1:1b
Setiap orang yang percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat sesungguhnya dapat dikategorikan sebagai orang yang sudah tahu kebenaran, karena Kristus adalah kebenaran itu sendiri sebagaimana yang Ia katakan, "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup." (Yohanes 14:6). Dalam hidup sehari-hari tidak semua orang Kristen yang tahu kebenaran mau hidup di dalam kebenaran. Sama seperti berbohong kepada diri sendiri! "Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti
perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada
kebenaran." (1 Yohanes 2:4).
Yang dimaksudkan dengan 'mengenal' (bahasa Yunani: ginosko) adalah mengerti, mengetahui, yang menekankan pada sebuah pengalaman hidup. Tanda bahwa orang mengenal kebenaran berarti memraktekkan atau melakukan kebenaran tersebut dalam setiap tindakan (taat). Mengenal dan melakukan adalah bagaikan dua sisi mata uang yang tidak mungkin dipisahkan. Bagaimana seseorang bisa dikatakan bahwa ia telah mengenal kebenaran-Nya bila tidak ada buah-buah kebenaran yang dihasilkan dalam kehidupan nyata? "Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan." (Matius 3:8).
Hidup dalam kebenaran itu tidak terjadi dalam semalam, tapi melalui sebuah proses dan ada harga yang harus dibayar! Hal pertama yang harus kita lakukan adalah membuka hati dan mengarahkan teliga untuk teguran dan koreksi. "Orang yang mengarahkan telinga kepada teguran yang membawa kepada kehidupan akan tinggal di tengah-tengah orang bijak." (Amsal 15:31). Kita harus akui bahwa hidup kita ini tidak sempurna, tapi kita sedang berjuang menuju kepada kehidupan yang semakin disempurnakan. Karena itu ijinkan Roh Kudus (Roh Kebenaran) itu membentuk dan memroses hidup kita (Yohanes 16:13). Tanda seseorang telah mengenal kebenaran adalah ia akan berpikir 1000x jika hendak melakukan dosa atau pelanggaran, karena ia tahu bahwa setiap ketidaktaatan akan mendapatkan balasan yang setimpal.
"Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." Yohanes :31-32
Monday, May 14, 2018
Sunday, May 13, 2018
MATIAS: Anugerah dari Tuhan
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 Mei 2018
Baca: Kisah Para Rasul 1:15-26
"Lalu mereka membuang undi bagi kedua orang itu dan yang kena undi adalah Matias dan dengan demikian ia ditambahkan kepada bilangan kesebelas rasul itu." Kisah 1:26
Nama 'Matias' memiliki arti hadiah atau anugerah dari Tuhan (gift of God). Meski namanya hanya dicatat dua kali di Alkitab namun ia adalah pribadi yang patut diteladani. Karena sadar bahwa hidup ini adalah suatu anugerah dari Tuhan Matias pun menunjukkan kualitas hidup yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Karena kesungguhannya dalam mengiring Kristus ia pun dipercaya untuk sebuah pelayanan kerasulan, yaitu menjadi salah seorang dari rasul-rasul Tuhan, sekalipun hanya sebagai rasul tambahan menggantikan Yudas Iskariot.
Sesudah Kristus naik ke sorga para murid dan kesebelas rasul berkumpul di tingkat atas sebuah rumah di Yerusalem, semuanya berjumlah 120 orang. Mereka bertekun dalam doa menantikan kedatangan Roh Kudus yang telah Kristus janjikan. Saat itulah Petrus mengusulkan pemilihan seorang murid untuk melengkapi jumlah kedua belas rasul, sebab Yudas Iskariot, si pengkhianat, sudah mati gantung diri. Untuk menjadi bagian dari murid-murid Kristus ini ada kriteria yang harus dipenuhi yaitu: "...seorang dari mereka yang senantiasa datang berkumpul dengan kami selama Tuhan Yesus bersama-sama dengan kami, yaitu mulai dari baptisan Yohanes sampai hari Yesus terangkat ke sorga meninggalkan kami, untuk menjadi saksi dengan kami tentang kebangkitan-Nya." (ayat 21-22). Jadi ia haruslah orang yang dekat dan telah melihat dan mendengar semua yang Kristus perbuat, khususnya menyaksikan kebangkitan-Nya. Ada dua nama yang diusulkan: Yusuf yang disebut Barsabas dan yang juga dipanggil Yustus, dan Matias. Setelah berdoa bersama-sama dan membuang undi akhirnya terpilihlah Matias. Sejak itulah Matias menjadi penggenap bilangan kedua belas rasul, sebab sejak kematian Yudas rasul-rasul selalu disebut dengan istilah sebelas rasul (Matius 28:16).
Matias dipilih karena ia tekun dan setia dalam mengikut Kristus, dan pengalaman hidupnya bersama Tuhan tak perlu diragukan lagi. Memiliki kesaksian hidup adalah modal yang paling efektif bagi seseorang untuk membawa orang lain kepada Kristus.
Dengan terpilihnya Matias akhirnya jabatan kerasulan menjadi lengkap saat Roh Kudus dicurahkan di hari Pentakosta!
Baca: Kisah Para Rasul 1:15-26
"Lalu mereka membuang undi bagi kedua orang itu dan yang kena undi adalah Matias dan dengan demikian ia ditambahkan kepada bilangan kesebelas rasul itu." Kisah 1:26
Nama 'Matias' memiliki arti hadiah atau anugerah dari Tuhan (gift of God). Meski namanya hanya dicatat dua kali di Alkitab namun ia adalah pribadi yang patut diteladani. Karena sadar bahwa hidup ini adalah suatu anugerah dari Tuhan Matias pun menunjukkan kualitas hidup yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Karena kesungguhannya dalam mengiring Kristus ia pun dipercaya untuk sebuah pelayanan kerasulan, yaitu menjadi salah seorang dari rasul-rasul Tuhan, sekalipun hanya sebagai rasul tambahan menggantikan Yudas Iskariot.
Sesudah Kristus naik ke sorga para murid dan kesebelas rasul berkumpul di tingkat atas sebuah rumah di Yerusalem, semuanya berjumlah 120 orang. Mereka bertekun dalam doa menantikan kedatangan Roh Kudus yang telah Kristus janjikan. Saat itulah Petrus mengusulkan pemilihan seorang murid untuk melengkapi jumlah kedua belas rasul, sebab Yudas Iskariot, si pengkhianat, sudah mati gantung diri. Untuk menjadi bagian dari murid-murid Kristus ini ada kriteria yang harus dipenuhi yaitu: "...seorang dari mereka yang senantiasa datang berkumpul dengan kami selama Tuhan Yesus bersama-sama dengan kami, yaitu mulai dari baptisan Yohanes sampai hari Yesus terangkat ke sorga meninggalkan kami, untuk menjadi saksi dengan kami tentang kebangkitan-Nya." (ayat 21-22). Jadi ia haruslah orang yang dekat dan telah melihat dan mendengar semua yang Kristus perbuat, khususnya menyaksikan kebangkitan-Nya. Ada dua nama yang diusulkan: Yusuf yang disebut Barsabas dan yang juga dipanggil Yustus, dan Matias. Setelah berdoa bersama-sama dan membuang undi akhirnya terpilihlah Matias. Sejak itulah Matias menjadi penggenap bilangan kedua belas rasul, sebab sejak kematian Yudas rasul-rasul selalu disebut dengan istilah sebelas rasul (Matius 28:16).
Matias dipilih karena ia tekun dan setia dalam mengikut Kristus, dan pengalaman hidupnya bersama Tuhan tak perlu diragukan lagi. Memiliki kesaksian hidup adalah modal yang paling efektif bagi seseorang untuk membawa orang lain kepada Kristus.
Dengan terpilihnya Matias akhirnya jabatan kerasulan menjadi lengkap saat Roh Kudus dicurahkan di hari Pentakosta!
Saturday, May 12, 2018
TUHAN MEMBERIKAN SEBUAH MANDAT
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 Mei 2018
Baca: Kisah Para Rasul 1:6-11
"Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." Kisah 1:8
Dengan kenaikan Kristus ke sorga bukan berarti pekerjaan-Nya di bumi sudah selesai, tapi Ia mengutus Roh Kudus datang meneruskan pekerjaan-Nya di dalam dan melalui kehidupan orang percaya. Dengan kata lain Kristus memberikan sebuah mandat kepada semua orang percaya untuk menjadi utusan-utusan-Nya. Arti kata 'utusan' adalah orang yang disuruh (ditugasi) untuk menyampaikan sesuatu, atau menjadi penghubung: orang yang diutus untuk mewakili atau menjadi duta. "Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu." (Yohanes 20:21).
Adalah suatu kehormatan yang besar jika kita dipercaya Tuhan untuk menjadi kawan sekerja-Nya. Kristus memberikan sebuah mandat kepada murid-murid-Nya dan mandat ini dikenal dengan sebutan Amanat Agung: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:18-20). Orang percaya dipanggil bukan sekedar untuk menjadi orang yang beragama Kristen, menjadi anggota di salah satu gereja lokal, atau sekedar terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan kerohanian, melainkan kita diutus untuk menjadi saksi-saksi Kristus.
Menjadi saksi Kristus di Yerusalem, di seluruh Yudea, Samaria dan sampai ke ujung bumi (ayat nas), artinya pekerjaan Tuhan tidak boleh berhenti pada satu titik. Dimulai dari Yerusalem (kota), pekerjaan itu harus berkembang ke Yudea (propinsi), terus ke Samaria (propinsi yang lain), lalu pekerjaan itu harus berkembang terus sampai ke ujung bumi. Kalau bumi itu bulat, di manakah ujungnya? Ia tidak mempunyai ujung, sehingga hal itu berarti pekerjaan tersebut harus terus-menerus berlangsung.
"...barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa;" Yohanes 14:12
Baca: Kisah Para Rasul 1:6-11
"Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." Kisah 1:8
Dengan kenaikan Kristus ke sorga bukan berarti pekerjaan-Nya di bumi sudah selesai, tapi Ia mengutus Roh Kudus datang meneruskan pekerjaan-Nya di dalam dan melalui kehidupan orang percaya. Dengan kata lain Kristus memberikan sebuah mandat kepada semua orang percaya untuk menjadi utusan-utusan-Nya. Arti kata 'utusan' adalah orang yang disuruh (ditugasi) untuk menyampaikan sesuatu, atau menjadi penghubung: orang yang diutus untuk mewakili atau menjadi duta. "Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu." (Yohanes 20:21).
Adalah suatu kehormatan yang besar jika kita dipercaya Tuhan untuk menjadi kawan sekerja-Nya. Kristus memberikan sebuah mandat kepada murid-murid-Nya dan mandat ini dikenal dengan sebutan Amanat Agung: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:18-20). Orang percaya dipanggil bukan sekedar untuk menjadi orang yang beragama Kristen, menjadi anggota di salah satu gereja lokal, atau sekedar terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan kerohanian, melainkan kita diutus untuk menjadi saksi-saksi Kristus.
Menjadi saksi Kristus di Yerusalem, di seluruh Yudea, Samaria dan sampai ke ujung bumi (ayat nas), artinya pekerjaan Tuhan tidak boleh berhenti pada satu titik. Dimulai dari Yerusalem (kota), pekerjaan itu harus berkembang ke Yudea (propinsi), terus ke Samaria (propinsi yang lain), lalu pekerjaan itu harus berkembang terus sampai ke ujung bumi. Kalau bumi itu bulat, di manakah ujungnya? Ia tidak mempunyai ujung, sehingga hal itu berarti pekerjaan tersebut harus terus-menerus berlangsung.
"...barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa;" Yohanes 14:12
Friday, May 11, 2018
ADALAH LEBIH BERGUNA AKU PERGI
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 Mei 2018
Baca: Kisah Para Rasul 1:6-11
"Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?" Kisah 1:6
Para rasul memiliki pengharapan yang begitu besar untuk pemulihan bagi bangsanya, dan pengharapan itu semakin tampak nyata di depan mata ketika mereka menyaksikan bahwa Kristus telah bangkit dari kematian-Nya di hari ke-3, lalu "...selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah." (Kisah 1:3b). Oleh sebab itulah dengan penuh keberanian mereka mempertanyakan hal itu secara langsung kepada Tuhan,
"Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?" (ayat nas). Mereka berharap Kristus akan tetap tinggal bersama-sama mereka di bumi sampai kerajaan Israel benar-benar dipulihkan. Tetapi Kristus menjawab, "Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya." (Kisah 1:7). Ini menunjukkan bahwa pemikiran dan kehendak manusia itu berbeda dengan kehendak Bapa!
Apa yang terjadi kemudian? Dengan mata kepala sendiri mereka menyaksikan Kristus naik ke sorga: "...terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka.
Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka, dan berkata kepada mereka: 'Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga.'" (Kisah 1:9-11). Sesungguhnya Kristus telah menegaskan kepada mereka, "Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu." (Yohanes 16:7).
Kehadiran Kristus di bumi dalam wujud manusia sudah cukup, kini Ia harus kembali kepada Bapa, tetapi Ia "...tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu." (Yohanes 14:18a), sebab Ia "...akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya," (Yohanes 14:16). Manfaat terbesar yang akan diterima oleh para murid Tuhan setelah Kristus naik ke sorga adalah kedatangan Roh Penghibur yaitu Roh Kudus.
Melalui Roh Kudus Kristus menyatakan kehadiran-Nya di tengah-tengah umat-Nya.
Baca: Kisah Para Rasul 1:6-11
"Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?" Kisah 1:6
Para rasul memiliki pengharapan yang begitu besar untuk pemulihan bagi bangsanya, dan pengharapan itu semakin tampak nyata di depan mata ketika mereka menyaksikan bahwa Kristus telah bangkit dari kematian-Nya di hari ke-3, lalu "...selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah." (Kisah 1:3b). Oleh sebab itulah dengan penuh keberanian mereka mempertanyakan hal itu secara langsung kepada Tuhan,
"Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?" (ayat nas). Mereka berharap Kristus akan tetap tinggal bersama-sama mereka di bumi sampai kerajaan Israel benar-benar dipulihkan. Tetapi Kristus menjawab, "Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya." (Kisah 1:7). Ini menunjukkan bahwa pemikiran dan kehendak manusia itu berbeda dengan kehendak Bapa!
Apa yang terjadi kemudian? Dengan mata kepala sendiri mereka menyaksikan Kristus naik ke sorga: "...terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka.
Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka, dan berkata kepada mereka: 'Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga.'" (Kisah 1:9-11). Sesungguhnya Kristus telah menegaskan kepada mereka, "Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu." (Yohanes 16:7).
Kehadiran Kristus di bumi dalam wujud manusia sudah cukup, kini Ia harus kembali kepada Bapa, tetapi Ia "...tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu." (Yohanes 14:18a), sebab Ia "...akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya," (Yohanes 14:16). Manfaat terbesar yang akan diterima oleh para murid Tuhan setelah Kristus naik ke sorga adalah kedatangan Roh Penghibur yaitu Roh Kudus.
Melalui Roh Kudus Kristus menyatakan kehadiran-Nya di tengah-tengah umat-Nya.
Thursday, May 10, 2018
SANG MESIAS: Naik ke Sorga
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 Mei 2018
Baca: Markus 8:27-30
"Ia bertanya kepada mereka: 'Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?' Maka jawab Petrus: 'Engkau adalah Mesias!'" Markus 8:29
Dari zaman dahulu sampai detik ini banyak orang tidak memiliki pengenalan yang benar tentang Kristus. Itulah sebabnya mereka menolak dan tidak pernah mau mengakui bahwa Kristus adalah Tuhan, Raja di atas segala raja, Sang Juruselamat. Ada pula yang menganggap bahwa Kristus itu tak lebih dari manusia biasa atau salah satu dari sekian banyak nabi yang pernah hidup. Bukan hanya itu mereka juga tidak memercayai bahwa Kristus telah mati di salib untuk menebus dosa umat manusia dan bangkit pada hari yang ke-3. Bahkan kita juga sering mendapati ada orang-orang yang dengan sengaja memandang rendah, mengolok-olok dan melecehkan nama-Nya.
Suatu ketika Tuhan bertanya kepada murid-murid-Nya, "'Kata orang, siapakah Aku ini?' Jawab mereka: 'Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia, ada pula yang mengatakan: seorang dari para nabi.'" (ayat 27, 28). Tetapi Petrus menjawab dengan tegas, "Engkau adalah Mesias!" (ayat nas). Yang dimaksud dengan Mesias (Yunani: Christos) adalah orang yang diurapi. Pengakuan Petrus bahwa Kristus adalah Mesias tentu sangat mengejutkan banyak orang, sebab orang-orang Yahudi memiliki pemahaman yang berbeda tentang Mesias. Menurut mereka Mesias adalah pribadi yang bisa menyelamatkan mereka, khususnya secara badaniah (fisik), bukan seperti Kristus yang mereka lihat tampak begitu lemah dan tidak punya kekuatan apa-apa. Karena itu setelah mendengar pengakuan Petrus ini Kristus melarang dia untuk memberitahukan hal ini kepada siapa pun (ayat 30). Petrus telah memiliki pengenalan yang benar siapa Kristus itu sesungguhnya!
Kristus telah membuktikan bahwa Dialah Sang Mesias: mati menebus dosa manusia, bangkit di hari ke-3, dan telah naik ke sorga. " Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; Aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa." (Yohanes 16:28). Ia menegaskan, "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku." (Yohanes 14:6). Alkitab menyatakan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Kristus (Kisah 4:12).
Masihkah kita meragukan ke-Ilahian-Nya?
Baca: Markus 8:27-30
"Ia bertanya kepada mereka: 'Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?' Maka jawab Petrus: 'Engkau adalah Mesias!'" Markus 8:29
Dari zaman dahulu sampai detik ini banyak orang tidak memiliki pengenalan yang benar tentang Kristus. Itulah sebabnya mereka menolak dan tidak pernah mau mengakui bahwa Kristus adalah Tuhan, Raja di atas segala raja, Sang Juruselamat. Ada pula yang menganggap bahwa Kristus itu tak lebih dari manusia biasa atau salah satu dari sekian banyak nabi yang pernah hidup. Bukan hanya itu mereka juga tidak memercayai bahwa Kristus telah mati di salib untuk menebus dosa umat manusia dan bangkit pada hari yang ke-3. Bahkan kita juga sering mendapati ada orang-orang yang dengan sengaja memandang rendah, mengolok-olok dan melecehkan nama-Nya.
Suatu ketika Tuhan bertanya kepada murid-murid-Nya, "'Kata orang, siapakah Aku ini?' Jawab mereka: 'Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia, ada pula yang mengatakan: seorang dari para nabi.'" (ayat 27, 28). Tetapi Petrus menjawab dengan tegas, "Engkau adalah Mesias!" (ayat nas). Yang dimaksud dengan Mesias (Yunani: Christos) adalah orang yang diurapi. Pengakuan Petrus bahwa Kristus adalah Mesias tentu sangat mengejutkan banyak orang, sebab orang-orang Yahudi memiliki pemahaman yang berbeda tentang Mesias. Menurut mereka Mesias adalah pribadi yang bisa menyelamatkan mereka, khususnya secara badaniah (fisik), bukan seperti Kristus yang mereka lihat tampak begitu lemah dan tidak punya kekuatan apa-apa. Karena itu setelah mendengar pengakuan Petrus ini Kristus melarang dia untuk memberitahukan hal ini kepada siapa pun (ayat 30). Petrus telah memiliki pengenalan yang benar siapa Kristus itu sesungguhnya!
Kristus telah membuktikan bahwa Dialah Sang Mesias: mati menebus dosa manusia, bangkit di hari ke-3, dan telah naik ke sorga. " Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; Aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa." (Yohanes 16:28). Ia menegaskan, "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku." (Yohanes 14:6). Alkitab menyatakan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Kristus (Kisah 4:12).
Masihkah kita meragukan ke-Ilahian-Nya?
Wednesday, May 9, 2018
PERBUATAN BAIK: Membungkam Kepicikan
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 9 Mei 2018
Baca: 1 Petrus 2:11-17
"Sebab inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang yang bodoh." 1 Petrus 2:15
Banyak orang beranggapan melakukan perbuatan baik di tengah-tengah dunia yang jahat dan serba sulit seperti sekarang ini adalah sebuah kerugian besar. Itulah sebabnya orang akan berpikir ulang 1000x ketika hendak berbuat baik. Mereka mau melakukan perbuatan baik hanya kepada orang yang berlaku baik terhadapnya, didasari oleh hubungan timbal balik. Jadi orang mau melakukan perbuatan baik jika hal itu mendatangkan keuntungan baginya. "Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian." (Lukas 6:32-33).
Melakukan perbuatan baik itu tak mudah, terlebih-lebih berbuat baik kepada musuh. Tapi rasul Petrus menegaskan bahwa berbuat baik adalah kehendak Tuhan yang harus ditaati. Yang dimaksud berbuat baik (Yunani: agathopoieo) adalah tindakan atau melakukan sesuatu yang menguntungkan orang lain. Tindakan yang demikian berguna untuk membungkam kepicikan orang-orang yang bodoh (ayat nas). Membungkam (Yunani: phimao) artinya memberangus, yaitu suatu istilah yang digunakan untuk binatang. Lembu yang diberangus mulutnya tidak bisa mengeluarkan suara keras dan tidak bisa makan. Yang diberangus di sini adalah kepicikan yang artinya ketidaktahuan, kebodohan atau kedunguan, sekalipun kepicikan itu ada di dalam diri orang-orang yang bodoh (menunjuk kepada orang-orang yang tidak mengenal Tuhan).
Keberadaan orang percaya di dunia ini seperti domba di tengah serigala (Matius10:16). Tak mengejutkan jika kita harus mengalami perlakuan yang tidak adil, tekanan atau penindasan. Meski begitu orang percaya justru dituntut untuk menunjukkan kualitas hidup yang berbeda: "...janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat." (1 Petrus 3:9).
Dengan membalas kejahatan dengan kebaikan maka perbuatan jahat mereka dibungkam!
Baca: 1 Petrus 2:11-17
"Sebab inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang yang bodoh." 1 Petrus 2:15
Banyak orang beranggapan melakukan perbuatan baik di tengah-tengah dunia yang jahat dan serba sulit seperti sekarang ini adalah sebuah kerugian besar. Itulah sebabnya orang akan berpikir ulang 1000x ketika hendak berbuat baik. Mereka mau melakukan perbuatan baik hanya kepada orang yang berlaku baik terhadapnya, didasari oleh hubungan timbal balik. Jadi orang mau melakukan perbuatan baik jika hal itu mendatangkan keuntungan baginya. "Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian." (Lukas 6:32-33).
Melakukan perbuatan baik itu tak mudah, terlebih-lebih berbuat baik kepada musuh. Tapi rasul Petrus menegaskan bahwa berbuat baik adalah kehendak Tuhan yang harus ditaati. Yang dimaksud berbuat baik (Yunani: agathopoieo) adalah tindakan atau melakukan sesuatu yang menguntungkan orang lain. Tindakan yang demikian berguna untuk membungkam kepicikan orang-orang yang bodoh (ayat nas). Membungkam (Yunani: phimao) artinya memberangus, yaitu suatu istilah yang digunakan untuk binatang. Lembu yang diberangus mulutnya tidak bisa mengeluarkan suara keras dan tidak bisa makan. Yang diberangus di sini adalah kepicikan yang artinya ketidaktahuan, kebodohan atau kedunguan, sekalipun kepicikan itu ada di dalam diri orang-orang yang bodoh (menunjuk kepada orang-orang yang tidak mengenal Tuhan).
Keberadaan orang percaya di dunia ini seperti domba di tengah serigala (Matius10:16). Tak mengejutkan jika kita harus mengalami perlakuan yang tidak adil, tekanan atau penindasan. Meski begitu orang percaya justru dituntut untuk menunjukkan kualitas hidup yang berbeda: "...janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat." (1 Petrus 3:9).
Dengan membalas kejahatan dengan kebaikan maka perbuatan jahat mereka dibungkam!
Tuesday, May 8, 2018
TERBEBAN UNTUK ORANG MISKIN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 Mei 2018
Baca: Matius 26:6-13
"Karena orang-orang miskin selalu ada padamu, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu." Matius 26:11
Siapa yang tak kenal Bunda Teresa, atau lebih dikenal dengan sebutan Mother Teresa? Dia adalah seorang biarawati Katholik Roma keturunan Albania dan berkewarganegaraan India yang mendirikan Misionaris Cinta Kasih (Missionaries of Charity) di Kalkuta (India). Selama lebih dari 47 tahun ia mengabdikan hidupnya untuk melayani orang-orang miskin, orang sakit dan juga yatim piatu; dan karena hidupnya yang menjadi berkat bagi orang ia pun memperoleh penghargaan Nobel Perdamaian pada tahun 1979.
Sebagai orang-orang yang telah diselamatkan dan mengecap kebaikan Tuhan sudah sepatutnya setiap orang percaya menjadi alat-Nya Tuhan untuk menyalurkan dan membagikan kasih kepada orang lain. Kita seharusnya tidak menutup mata ketika melihat ada orang-orang di sekitar yang hidup dalam penderitaan karena miskin. Beban inilah yang akan terus mengusik nurani kita untuk berbuat sesuatu bagi mereka. Berbuat sesuatu bagi orang-orang menderita yang sedang membutuhkan pertolongan bukanlah beban yang menyakitkan, justru beban yang membahagiakan, sebab segala sesuatu yang kita perbuat untuk mereka yang dipandang dunia sebagai orang-orang yang rendah dan miskin papa akan diperhitungkan sebagai perbuatan kepada Tuhan sendiri. "...sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku." (Matius 25:40).
Alkitab menyatakan bahwa orang miskin akan selalu ada di dunia ini sebagai sarana bagi orang percaya untuk memraktekkan kasih! Oleh karena itu jangan sekali-kali kita meremehkan dan memandang rendah keberadaan orang miskin. "Siapa mengolok-olok orang miskin menghina Penciptanya;" (Amsal 17:5). Selain kemiskinan secara materi, kemiskinan lain yang harus menjadi perhatian utama kita adalah kemiskinan rohani yaitu keadaan orang yang belum diselamatkan. Melihat kondisi yang demikian orang percaya seharusnya terdorong untuk melayani jiwa-jiwa dengan roh yang menyala-nyala dan tidak lagi hidup hanya berfokus kepada diri sendiri.
"Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu." Amsal 19:17
Baca: Matius 26:6-13
"Karena orang-orang miskin selalu ada padamu, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu." Matius 26:11
Siapa yang tak kenal Bunda Teresa, atau lebih dikenal dengan sebutan Mother Teresa? Dia adalah seorang biarawati Katholik Roma keturunan Albania dan berkewarganegaraan India yang mendirikan Misionaris Cinta Kasih (Missionaries of Charity) di Kalkuta (India). Selama lebih dari 47 tahun ia mengabdikan hidupnya untuk melayani orang-orang miskin, orang sakit dan juga yatim piatu; dan karena hidupnya yang menjadi berkat bagi orang ia pun memperoleh penghargaan Nobel Perdamaian pada tahun 1979.
Sebagai orang-orang yang telah diselamatkan dan mengecap kebaikan Tuhan sudah sepatutnya setiap orang percaya menjadi alat-Nya Tuhan untuk menyalurkan dan membagikan kasih kepada orang lain. Kita seharusnya tidak menutup mata ketika melihat ada orang-orang di sekitar yang hidup dalam penderitaan karena miskin. Beban inilah yang akan terus mengusik nurani kita untuk berbuat sesuatu bagi mereka. Berbuat sesuatu bagi orang-orang menderita yang sedang membutuhkan pertolongan bukanlah beban yang menyakitkan, justru beban yang membahagiakan, sebab segala sesuatu yang kita perbuat untuk mereka yang dipandang dunia sebagai orang-orang yang rendah dan miskin papa akan diperhitungkan sebagai perbuatan kepada Tuhan sendiri. "...sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku." (Matius 25:40).
Alkitab menyatakan bahwa orang miskin akan selalu ada di dunia ini sebagai sarana bagi orang percaya untuk memraktekkan kasih! Oleh karena itu jangan sekali-kali kita meremehkan dan memandang rendah keberadaan orang miskin. "Siapa mengolok-olok orang miskin menghina Penciptanya;" (Amsal 17:5). Selain kemiskinan secara materi, kemiskinan lain yang harus menjadi perhatian utama kita adalah kemiskinan rohani yaitu keadaan orang yang belum diselamatkan. Melihat kondisi yang demikian orang percaya seharusnya terdorong untuk melayani jiwa-jiwa dengan roh yang menyala-nyala dan tidak lagi hidup hanya berfokus kepada diri sendiri.
"Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu." Amsal 19:17
Monday, May 7, 2018
JANGAN GAGALKAN RENCANA TUHAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 7 Mei 2018
Baca: Mazmur 139:1-24
"...mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya." Mazmur 139:16
Pemazmur menyatakan bahwa mata Tuhan melihat manusia selagi masih bakal anak dan di dalam kitab-Nya telah tertulis hari-hari di mana ia akan dibentuk. Artinya sebelum manusia berbentuk janin ia sudah ditentukan oleh Tuhan. Janin (bakal bayi) yang dikandung oleh seorang ibu sesungguhnya bukanlah miliknya sendiri, tetapi titipan dari Tuhan untuk dibesarkan. Begitu pula nyawa si janin adalah pemberian Tuhan: "...apabila Engkau mengambil roh mereka, mereka mati binasa dan kembali menjadi debu. Apabila Engkau mengirim roh-Mu, mereka tercipta, dan Engkau membaharui muka bumi." (Mazmur 104:29-30).
Asal manusia adalah debu: "...TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup." (Kejadian 2:7). Tidak ada seorang pun berhak melenyapkan nyawa janin dengan cara membunuh atau menggugurkan (aborsi). Biasanya orang melakukan aborsi dengan tujuan menyelamatkan jiwa ibu hamil (kehamilannya membahayakan), atau untuk menutup malu (aib). Bagaimana pun aborsi bukanlah jalan keluar yang benar! Aborsi membunuh pribadi kecil yang tak berdosa, padahal sekecil apa pun ia dalam rahim ibu sudah disebut manusia. Hanya Tuhanlah yang berhak memberi dan mengambil kehidupan: "Akulah yang mematikan dan yang menghidupkan," (Ulangan 32:39). Kalau Tuhan menghendaki roh manusia itu kembali, maka kembalilah roh itu kepada-Nya, "...dan debu kembali menjadi tanah seperti semula dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya." (Pengkhotbah 12:7b).
Tuhan berkata kepada Yeremia, "Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa." (Yeremia 1:5). Seandainya sang ibu mengugurkan kandungannya berarti ia membunuh Yeremia kecil, padahal Tuhan sudah mempersiapkan dia menjadi nabi besar.
Orang yang membunuh janin saat masih dalam kandungan telah menggagalkan rencana Tuhan bagi si calon anak.
Baca: Mazmur 139:1-24
"...mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya." Mazmur 139:16
Pemazmur menyatakan bahwa mata Tuhan melihat manusia selagi masih bakal anak dan di dalam kitab-Nya telah tertulis hari-hari di mana ia akan dibentuk. Artinya sebelum manusia berbentuk janin ia sudah ditentukan oleh Tuhan. Janin (bakal bayi) yang dikandung oleh seorang ibu sesungguhnya bukanlah miliknya sendiri, tetapi titipan dari Tuhan untuk dibesarkan. Begitu pula nyawa si janin adalah pemberian Tuhan: "...apabila Engkau mengambil roh mereka, mereka mati binasa dan kembali menjadi debu. Apabila Engkau mengirim roh-Mu, mereka tercipta, dan Engkau membaharui muka bumi." (Mazmur 104:29-30).
Asal manusia adalah debu: "...TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup." (Kejadian 2:7). Tidak ada seorang pun berhak melenyapkan nyawa janin dengan cara membunuh atau menggugurkan (aborsi). Biasanya orang melakukan aborsi dengan tujuan menyelamatkan jiwa ibu hamil (kehamilannya membahayakan), atau untuk menutup malu (aib). Bagaimana pun aborsi bukanlah jalan keluar yang benar! Aborsi membunuh pribadi kecil yang tak berdosa, padahal sekecil apa pun ia dalam rahim ibu sudah disebut manusia. Hanya Tuhanlah yang berhak memberi dan mengambil kehidupan: "Akulah yang mematikan dan yang menghidupkan," (Ulangan 32:39). Kalau Tuhan menghendaki roh manusia itu kembali, maka kembalilah roh itu kepada-Nya, "...dan debu kembali menjadi tanah seperti semula dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya." (Pengkhotbah 12:7b).
Tuhan berkata kepada Yeremia, "Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa." (Yeremia 1:5). Seandainya sang ibu mengugurkan kandungannya berarti ia membunuh Yeremia kecil, padahal Tuhan sudah mempersiapkan dia menjadi nabi besar.
Orang yang membunuh janin saat masih dalam kandungan telah menggagalkan rencana Tuhan bagi si calon anak.
Sunday, May 6, 2018
TUHAN ADALAH PENOPANG HIDUP
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 6 Mei 2018
Baca: Mazmur 145:1-21
"TUHAN itu penopang bagi semua orang yang jatuh dan penegak bagi semua orang yang tertunduk." Mazmur 145:14
Adakah manusia yang kebal terhadap masalah? Seorang pun tidak. Daud pun mengalami pergumulan hidup yang tak beda jauh dengan kita, bahkan mungkin lebih berat karena masalah yang dialaminya dapat mengancam keselamatan jiwanya. Namun meski berada di bawah bayang-bayang maut setiap hari Daud tetap mampu menjaga sikap hatinya, sehingga dari bibirnya selalu keluar ucapan yang memuliakan Tuhan. "Aku hendak mengagungkan Engkau, ya Allahku, ya Raja, dan aku hendak memuji nama-Mu untuk seterusnya dan selamanya. Setiap hari aku hendak memuji Engkau, dan hendak memuliakan nama-Mu untuk seterusnya dan selamanya." (Mazmur 145:1-2). Ini jelas berbeda dengan respons hati kebanyakan orang Kristen yang ketika masalah datang lupa akan kasih dan kebaikan Tuhan, dan tak menunggu waktu lama mereka akan langsung mengeluh dan bersungut-sungut kepada-Nya.
Untukdapat memuji Tuhan di segala keadaan harus ada pengertian dan pengakuan terhadap kebaikan-Nya. "TUHAN itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya. TUHAN itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya." (Mazmur 145:8-9). Jika orang tidak pernah merasa bahwa Tuhan itu baik dan pengasih, mana mungkin ia dapat memuji Dia? Sebaliknya yang keluar dari mulutnya adalah ungkapan-ungkapan kekecewaan dan ketidakpuasan kepada Tuhan atas masalah yang sedang menimpanya.
Sebagai umat ciptaan-Nya sepatutnya kita bersyukur kepada Tuhan. "Segala yang Kaujadikan itu akan bersyukur kepada-Mu, ya TUHAN, dan orang-orang yang Kaukasihi akan memuji Engkau." (Mazmur 145:10). Orang yang telah mengalami pertolongan Tuhan dan kebaikan-Nya pasti tahu arti pentingnya berterima kasih dan mengucap syukur: "Engkau yang membuka tangan-Mu dan yang berkenan mengenyangkan segala yang hidup. TUHAN dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan." (Mazmur 145:16, 18).
"Ya, Engkau telah meluputkan aku dari pada maut, dan mataku dari pada air mata, dan kakiku dari pada tersandung." Mazmur 116:8
Baca: Mazmur 145:1-21
"TUHAN itu penopang bagi semua orang yang jatuh dan penegak bagi semua orang yang tertunduk." Mazmur 145:14
Adakah manusia yang kebal terhadap masalah? Seorang pun tidak. Daud pun mengalami pergumulan hidup yang tak beda jauh dengan kita, bahkan mungkin lebih berat karena masalah yang dialaminya dapat mengancam keselamatan jiwanya. Namun meski berada di bawah bayang-bayang maut setiap hari Daud tetap mampu menjaga sikap hatinya, sehingga dari bibirnya selalu keluar ucapan yang memuliakan Tuhan. "Aku hendak mengagungkan Engkau, ya Allahku, ya Raja, dan aku hendak memuji nama-Mu untuk seterusnya dan selamanya. Setiap hari aku hendak memuji Engkau, dan hendak memuliakan nama-Mu untuk seterusnya dan selamanya." (Mazmur 145:1-2). Ini jelas berbeda dengan respons hati kebanyakan orang Kristen yang ketika masalah datang lupa akan kasih dan kebaikan Tuhan, dan tak menunggu waktu lama mereka akan langsung mengeluh dan bersungut-sungut kepada-Nya.
Untukdapat memuji Tuhan di segala keadaan harus ada pengertian dan pengakuan terhadap kebaikan-Nya. "TUHAN itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya. TUHAN itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya." (Mazmur 145:8-9). Jika orang tidak pernah merasa bahwa Tuhan itu baik dan pengasih, mana mungkin ia dapat memuji Dia? Sebaliknya yang keluar dari mulutnya adalah ungkapan-ungkapan kekecewaan dan ketidakpuasan kepada Tuhan atas masalah yang sedang menimpanya.
Sebagai umat ciptaan-Nya sepatutnya kita bersyukur kepada Tuhan. "Segala yang Kaujadikan itu akan bersyukur kepada-Mu, ya TUHAN, dan orang-orang yang Kaukasihi akan memuji Engkau." (Mazmur 145:10). Orang yang telah mengalami pertolongan Tuhan dan kebaikan-Nya pasti tahu arti pentingnya berterima kasih dan mengucap syukur: "Engkau yang membuka tangan-Mu dan yang berkenan mengenyangkan segala yang hidup. TUHAN dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan." (Mazmur 145:16, 18).
"Ya, Engkau telah meluputkan aku dari pada maut, dan mataku dari pada air mata, dan kakiku dari pada tersandung." Mazmur 116:8
Saturday, May 5, 2018
TUHAN: Perlindungan Orang Benar
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 5 Mei 2018
Baca: Mazmur 18:1-20
"Ya TUHAN, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku, Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku!" Mazmur 18:3
Pada waktu bangsa Israel menyeberangi sungai Yordan menuju tanah Kanaan, Tuhan memerintahkan mereka untuk membangun kota tempat perlindungan, sebanyak enam kota perlindungan yaitu Kedesy, Sikhem, Hebron, Bezer, Ramot-Gilead, dan Golan (Yosua 21:7-9). Kota perlindungan (bahasa Inggris: Cities of Refuge) adalah kota-kota di tanah Israel yang dikhususkan, supaya seseorang yang telah membunuh sesamanya dengan tidak sengaja dapat melarikan diri ke sana. "Kota-kota itu akan menjadi tempat perlindungan bagimu terhadap penuntut balas, supaya pembunuh jangan mati, sebelum ia dihadapkan kepada rapat umat untuk diadili." (Bilangan 35:12).
Banyak orang menjadikan harta kekayaan sebagai tempat perlindungan. "Kota yang kuat bagi orang kaya ialah hartanya dan seperti tembok yang tinggi menurut anggapannya." (Amsal 18:11). Padahal kekayaan adalah sesuatu yang tidak pasti, mudah sekali lenyap dan tak bisa memberi jaminan keselamatan. Bagi orang percaya tempat perlindungan kita adalah Tuhan, bukan apa yang ada di dunia ini, sebab Dia adalah menara yang kuat. "Nama TUHAN adalah menara yang kuat, ke sanalah orang benar berlari dan ia menjadi selamat." (Amsal 18:10). Dia adalah satu-satunya tempat perlindungan yang aman di kala badai topan melanda. Sekalipun perjalanan hidup kita penuh dengan tantangan, sekalipun kita harus melewati lembah-lembah kekelaman kita tak perlu takut karena kita tak menghadapinya sendiri, ada Tuhan di pihak kita. Dia telah berjanji untuk menolong dan menyelamatkan kita. "Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu;" (Mazmur 34:20).
Tatkala lari bersembunyi di dalam gua untuk menyelamatkan diri dari kejaran Saul, Daud tahu kepada siapa harus berlindung. Ia pun berseru, "Kasihanilah aku, ya Allah, kasihanilah aku, sebab kepada-Mulah jiwaku berlindung; dalam naungan sayap-Mu aku akan berlindung, sampai berlalu penghancuran itu." (Mazmur 57:2).
Tuhan itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti (Mazmur 46:2).
Baca: Mazmur 18:1-20
"Ya TUHAN, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku, Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku!" Mazmur 18:3
Pada waktu bangsa Israel menyeberangi sungai Yordan menuju tanah Kanaan, Tuhan memerintahkan mereka untuk membangun kota tempat perlindungan, sebanyak enam kota perlindungan yaitu Kedesy, Sikhem, Hebron, Bezer, Ramot-Gilead, dan Golan (Yosua 21:7-9). Kota perlindungan (bahasa Inggris: Cities of Refuge) adalah kota-kota di tanah Israel yang dikhususkan, supaya seseorang yang telah membunuh sesamanya dengan tidak sengaja dapat melarikan diri ke sana. "Kota-kota itu akan menjadi tempat perlindungan bagimu terhadap penuntut balas, supaya pembunuh jangan mati, sebelum ia dihadapkan kepada rapat umat untuk diadili." (Bilangan 35:12).
Banyak orang menjadikan harta kekayaan sebagai tempat perlindungan. "Kota yang kuat bagi orang kaya ialah hartanya dan seperti tembok yang tinggi menurut anggapannya." (Amsal 18:11). Padahal kekayaan adalah sesuatu yang tidak pasti, mudah sekali lenyap dan tak bisa memberi jaminan keselamatan. Bagi orang percaya tempat perlindungan kita adalah Tuhan, bukan apa yang ada di dunia ini, sebab Dia adalah menara yang kuat. "Nama TUHAN adalah menara yang kuat, ke sanalah orang benar berlari dan ia menjadi selamat." (Amsal 18:10). Dia adalah satu-satunya tempat perlindungan yang aman di kala badai topan melanda. Sekalipun perjalanan hidup kita penuh dengan tantangan, sekalipun kita harus melewati lembah-lembah kekelaman kita tak perlu takut karena kita tak menghadapinya sendiri, ada Tuhan di pihak kita. Dia telah berjanji untuk menolong dan menyelamatkan kita. "Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu;" (Mazmur 34:20).
Tatkala lari bersembunyi di dalam gua untuk menyelamatkan diri dari kejaran Saul, Daud tahu kepada siapa harus berlindung. Ia pun berseru, "Kasihanilah aku, ya Allah, kasihanilah aku, sebab kepada-Mulah jiwaku berlindung; dalam naungan sayap-Mu aku akan berlindung, sampai berlalu penghancuran itu." (Mazmur 57:2).
Tuhan itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti (Mazmur 46:2).
Subscribe to:
Comments (Atom)