Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 22 April 2018
Baca: 2 Tawarikh 16:1-14
"Karena engkau bersandar kepada raja Aram dan tidak bersandar kepada
TUHAN Allahmu, oleh karena itu terluputlah tentara raja Aram dari
tanganmu." 2 Tawarikh 16:7
Alkitab mencatat bahwa ketika Asa hidup percaya kepada Tuhan dengan sepenuh hati, dan hidup mengandalkan dia, maka Tuhan mengaruniakan keamanan dan ketenteraman atas negerinya, "Tidak ada perang sampai pada tahun ketiga puluh lima pemerintahan Asa." (2 Tawarikh 15:19). Apa yang terjadi kemudian? Setelah hidupnya berhasil raja Asa mulai berubah sikap, hatinya tidak lagi berpaut kepada Tuhan. Ia mulai bersandar kepada pengertiannya sendiri dan tidak lagi melibatkan Tuhan dalam setiap keputusan.
Ketika sedang mengalami masalah berat yaitu menghadapi Baesa (raja Israel), Asa tidak lagi mencari pertolongan kepada Tuhan seperti yang dahulu dilakukan. Ia mulai menggunakan akal pikirannya sendiri, lalu mencari pertolongan kepada dunia dan berharap kepada manusia yaitu meminta pertolongan kepada raja Aram. Demi beroleh bantuan ia rela mempersembahkan harta benda yang ada di dalam Bait Tuhan. "...Asa mengeluarkan emas dan perak dari perbendaharaan rumah TUHAN dan dari
perbendaharaan rumah raja dan mengirimnya kepada Benhadad, raja Aram
yang diam di Damsyik dengan pesan: 'Ada perjanjian antara aku dan engkau, antara ayahku dan ayahmu. Ini
kukirim emas dan perak kepadamu. Marilah, batalkanlah perjanjianmu
dengan Baesa, raja Israel, supaya ia undur dari padaku.'" (2 Tawarikh 16:2-3).
Akibat perbuatan bodoh ini raja Asa harus menanggung akibatnya: "...terluputlah tentara raja Aram dari tanganmu. Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya
kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia. Dalam hal ini engkau
telah berlaku bodoh, oleh sebab itu mulai sekarang ini engkau akan
mengalami peperangan." (2 Tawarikh 16:7, 9). Sejak saat itu ketenteraman dan keamanan semakin menjauh dari negeri Yehuda! Dan "Pada tahun ketiga puluh sembilan pemerintahannya Asa menderita sakit pada kakinya yang kemudian menjadi semakin parah." (2 Tawarikh 16:12). Sesungguhnya hal itu adalah kesempatan bagi Asa untuk bertobat, namun dalam kondisi yang demikian ia tetap saja tidak mau bertobat, malahan ia tetap mencari pertolongan kepada tabib-tabib, bukan mencari Tuhan.
Jangan sekali-kali mengandalkan kekuatan sendiri jika tidak ingin hancur!
Sunday, April 22, 2018
Saturday, April 21, 2018
PERCAYA KEPADA TUHAN: Ada Kemenangan
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 21 April 2018
Baca: 2 Tawarikh 14:2-15
"Ia memerintahkan orang Yehuda supaya mereka mencari TUHAN, Allah nenek moyang mereka, dan mematuhi hukum dan perintah." 2 Tawarikh 14:4
Orang Kristen disebut sebagai orang percaya, tapi sesungguhnya tidak semua orang Kristen percaya kepada Tuhan dengan segenap hati. Ketika dihadapkan pada masalah atau pergumulan hidup kita cenderung mengandalkan kekuatan sendiri atau mengandalkan akal pikiran daripada mengandalkan Tuhan; kita memutuskan segala sesuatu menurut pertimbangan dan kehendak sendiri; kita memiliki banyak rencana hidup tanpa mau melibatkan Tuhan karena beranggapan bahwa rencana sendiri adalah yang terbaik. Alkitab memperingatkan: "Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan;" (Amsal 3:5-7).
Marilah kita belajar dari pengalaman hidup Asa, seorang raja yang pernah memerintah kerajaan Yehuda menggantikan ayahnya (Abia). Alkitab mencatat bahwa di awal pemerintahan "Asa melakukan apa yang baik dan yang benar di mata TUHAN, Allahnya. Ia menjauhkan mezbah-mezbah asing dan bukit-bukit pengorbanan, memecahkan tugu-tugu berhala, dan menghancurkan tiang-tiang berhala." (2 Tawarikh 14:2-3). Asa hidup mengandalkan Tuhan dan percaya kepada-Nya dengan sepenuh hati dan memerintahkan seluruh rakyatnya untuk mencari Tuhan dan hidup taat melakukan firman-Nya. Ketika raja Asa dan seluruh rakyatnya hidup mengandalkan Tuhan dan taat kepada-Nya Tuhan mengaruniakan keamanan atas seluruh negeri.
Ketika berperang melawan Zerah, orang Etiopia dengan kekuatan 1 juta orang tentara, tiga ratus kereta dan lengkap dengan peralatan tempur yang canggih, secara teori pasukan Yehuda mustahil bisa menang karena kekuatan mereka hanya 300.000 orang bersenjatakan perisai besar dan tombak, dan 280.000 orang sebagai pemanah. Tetapi karena raja Asa mengandalkan Tuhan, mujizat terjadi: musuh dipukul kalah. Mereka tampil sebagai pemenang dan beroleh jarahan yang sangat besar! (2 Tawarikh 14:12-13).
Ketika raja asa percaya kepada Tuhan dengan sepenuh hati dan mengandalkan Dia, kerajaannya aman dan berkemenangan!
Baca: 2 Tawarikh 14:2-15
"Ia memerintahkan orang Yehuda supaya mereka mencari TUHAN, Allah nenek moyang mereka, dan mematuhi hukum dan perintah." 2 Tawarikh 14:4
Orang Kristen disebut sebagai orang percaya, tapi sesungguhnya tidak semua orang Kristen percaya kepada Tuhan dengan segenap hati. Ketika dihadapkan pada masalah atau pergumulan hidup kita cenderung mengandalkan kekuatan sendiri atau mengandalkan akal pikiran daripada mengandalkan Tuhan; kita memutuskan segala sesuatu menurut pertimbangan dan kehendak sendiri; kita memiliki banyak rencana hidup tanpa mau melibatkan Tuhan karena beranggapan bahwa rencana sendiri adalah yang terbaik. Alkitab memperingatkan: "Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan;" (Amsal 3:5-7).
Marilah kita belajar dari pengalaman hidup Asa, seorang raja yang pernah memerintah kerajaan Yehuda menggantikan ayahnya (Abia). Alkitab mencatat bahwa di awal pemerintahan "Asa melakukan apa yang baik dan yang benar di mata TUHAN, Allahnya. Ia menjauhkan mezbah-mezbah asing dan bukit-bukit pengorbanan, memecahkan tugu-tugu berhala, dan menghancurkan tiang-tiang berhala." (2 Tawarikh 14:2-3). Asa hidup mengandalkan Tuhan dan percaya kepada-Nya dengan sepenuh hati dan memerintahkan seluruh rakyatnya untuk mencari Tuhan dan hidup taat melakukan firman-Nya. Ketika raja Asa dan seluruh rakyatnya hidup mengandalkan Tuhan dan taat kepada-Nya Tuhan mengaruniakan keamanan atas seluruh negeri.
Ketika berperang melawan Zerah, orang Etiopia dengan kekuatan 1 juta orang tentara, tiga ratus kereta dan lengkap dengan peralatan tempur yang canggih, secara teori pasukan Yehuda mustahil bisa menang karena kekuatan mereka hanya 300.000 orang bersenjatakan perisai besar dan tombak, dan 280.000 orang sebagai pemanah. Tetapi karena raja Asa mengandalkan Tuhan, mujizat terjadi: musuh dipukul kalah. Mereka tampil sebagai pemenang dan beroleh jarahan yang sangat besar! (2 Tawarikh 14:12-13).
Ketika raja asa percaya kepada Tuhan dengan sepenuh hati dan mengandalkan Dia, kerajaannya aman dan berkemenangan!
Friday, April 20, 2018
MENERIMA KEMURAHAN: Harus Bermurah Hati (2)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 20 April 2018
Baca: Lukas 6:27-36
"Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati." Lukas 6:36
Seorang anak biasanya mewarisi sifat-sifat orang tuanya, seperti kata pepatah yang mengatakan bahwa buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Keteladanan hidup yang baik yang ditunjukkan oleh seorang ayah akan menghasilkan generasi yang berkualitas pula. Sebagai orang percaya kita memiliki Bapa Sorgawi yang begitu mengasihi kita dan kasih setia-Nya sungguh tak terbatas. Kalau bapa di dunia saja tahu memberi yang baik kepada anak-anaknya, apalagi Bapa kita yang di Sorga, pasti akan memberikan yang terbaik bagi kita anak-anak-Nya. "Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang;" (Yakobus 1:17).
Kalau kita menyadari bahwa Tuhan telah menyatakan kemurahan hati-Nya yang tak terhingga dan memberikan yang terbaik bagi kita, sudah sepatutnya kita mengikuti jejak-Nya dengan mencerminkan sikap yang sama dengan-Nya. Salah satunya adalah hal kemurahan hati ini. Berbicara tentang kemurahan hati bukan semata-mata berbicara tentang memberi dalam bentuk materi saja. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia arti kata 'murah hati' adalah sebuah perilaku mudah memberi, tidak pelit, penyayang dan pengasih, suka menolong, baik hati. Dengan kata lain kemurahan hati menyangkut banyak aspek di dalam kehidupan ini. Dalam 1 Korintus 13:4 tertulis: "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong." Kemurahan hati adalah salah satu perwujudan dari kasih. Kekristenan itu selalu identik dengan kasih. Orang Kristen yang tidak mempunyai kasih patut dipertanyakan kekristenannya, sebab ada tertulis: "Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih...dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia." (1 Yohanes 4:8, 16b).
Kemurahan hati adalah sifat Tuhan sendiri, maka orang percaya pun tak boleh lepas dari sifat itu. Banyak orang Kristen enggan bermurah hati kepada orang lain padahal Alkitab menyatakan bahwa orang yang murah hati sesungguhnya berbuat baik kepada diri sendiri (Amsal 11:17), karena Tuhan pasti akan membalasnya. Pemazmur menyebut orang yang murah hati sebagai orang benar (Mazmur 37:21).
Sudahkah kita menjadi orang yang penuh kemurahan hati seperti Kristus?
Baca: Lukas 6:27-36
"Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati." Lukas 6:36
Seorang anak biasanya mewarisi sifat-sifat orang tuanya, seperti kata pepatah yang mengatakan bahwa buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Keteladanan hidup yang baik yang ditunjukkan oleh seorang ayah akan menghasilkan generasi yang berkualitas pula. Sebagai orang percaya kita memiliki Bapa Sorgawi yang begitu mengasihi kita dan kasih setia-Nya sungguh tak terbatas. Kalau bapa di dunia saja tahu memberi yang baik kepada anak-anaknya, apalagi Bapa kita yang di Sorga, pasti akan memberikan yang terbaik bagi kita anak-anak-Nya. "Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang;" (Yakobus 1:17).
Kalau kita menyadari bahwa Tuhan telah menyatakan kemurahan hati-Nya yang tak terhingga dan memberikan yang terbaik bagi kita, sudah sepatutnya kita mengikuti jejak-Nya dengan mencerminkan sikap yang sama dengan-Nya. Salah satunya adalah hal kemurahan hati ini. Berbicara tentang kemurahan hati bukan semata-mata berbicara tentang memberi dalam bentuk materi saja. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia arti kata 'murah hati' adalah sebuah perilaku mudah memberi, tidak pelit, penyayang dan pengasih, suka menolong, baik hati. Dengan kata lain kemurahan hati menyangkut banyak aspek di dalam kehidupan ini. Dalam 1 Korintus 13:4 tertulis: "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong." Kemurahan hati adalah salah satu perwujudan dari kasih. Kekristenan itu selalu identik dengan kasih. Orang Kristen yang tidak mempunyai kasih patut dipertanyakan kekristenannya, sebab ada tertulis: "Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih...dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia." (1 Yohanes 4:8, 16b).
Kemurahan hati adalah sifat Tuhan sendiri, maka orang percaya pun tak boleh lepas dari sifat itu. Banyak orang Kristen enggan bermurah hati kepada orang lain padahal Alkitab menyatakan bahwa orang yang murah hati sesungguhnya berbuat baik kepada diri sendiri (Amsal 11:17), karena Tuhan pasti akan membalasnya. Pemazmur menyebut orang yang murah hati sebagai orang benar (Mazmur 37:21).
Sudahkah kita menjadi orang yang penuh kemurahan hati seperti Kristus?
Thursday, April 19, 2018
MENERIMA KEMURAHAN: Harus Bermurah Hati (1)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 19 April 2018
Baca: Keluaran 3:1-22
"Dan Aku akan membuat orang Mesir bermurah hati terhadap bangsa ini, sehingga, apabila kamu pergi, kamu tidak pergi dengan tangan hampa," Keluaran 3:21
Alkitab menyatakan bahwa dalam peristiwa keluarnya bangsa Israel dari Mesir, Tuhan membuat orang-orang Mesir bermurah hati terhadap umat Israel, sehingga mereka tidak pergi dengan tangan hampa. "...tiap-tiap perempuan harus meminta dari tetangganya dan dari perempuan yang tinggal di rumahnya, barang-barang perak dan emas dan kain-kain, yang akan kamu kenakan kepada anak-anakmu lelaki dan perempuan; demikianlah kamu akan merampasi orang Mesir itu." (Keluaran 3:22). Apa alasan orang-orang Mesir memberikan harta mereka kepada umat Israel? Tidak ada alasan lain selain karena Tuhan turut campur tangan, Tuhan yang membuat orang-orang Mesir bermurah hati. Ada tertulis: "Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati." (Roma 9:15). Jika Tuhan turut bekerja maka sesuatu yang tak mungkin menjadi mungkin.
Kita diselamatkan karena Tuhan bermurah hati kepada kita, sebab tidak ada sesuatu yang baik yang kita miliki yang mendasari Tuhan untuk menyelamatkan kita. Kristus telah mati untuk kita ketika kita masih berdosa (Roma 5:8). Karena kita telah menerima kemurahan hati, maka kita pun harus menjadi pemberi kemurahan pada orang lain. Adalah mudah untuk menerima daripada memberi! Tetapi Alkitab menasihatkan: "Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima." (Kisah 20:35b).
Ada banyak orang Kristen yang sudah menerima kemurahan dari Tuhan begitu rupa tetapi mereka tidak mau berlaku murah hati kepada orang lain, seperti perumpamaan seorang hamba yang mempunyai hutang 10.000 talenta yang sudah dibebaskan dan dihapuskan hutangnya oleh raja (Matius 18:27). Meski sudah beroleh kemurahan dari raja hamba itu sukar sekali untuk bermurah hati kepada orang lain. Terhadap kawannya yang berhutang seratus dinar kepadanya ia berlaku sangat jahat: "Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu!" (Matius 18:28). Bahkan ia tega menjebloskan kawannya itu ke dalam penjara.
Orang yang beroleh kemurahan dari Tuhan sudah sepatutnya berlaku murah hati kepada saudaranya yang lain!
Baca: Keluaran 3:1-22
"Dan Aku akan membuat orang Mesir bermurah hati terhadap bangsa ini, sehingga, apabila kamu pergi, kamu tidak pergi dengan tangan hampa," Keluaran 3:21
Alkitab menyatakan bahwa dalam peristiwa keluarnya bangsa Israel dari Mesir, Tuhan membuat orang-orang Mesir bermurah hati terhadap umat Israel, sehingga mereka tidak pergi dengan tangan hampa. "...tiap-tiap perempuan harus meminta dari tetangganya dan dari perempuan yang tinggal di rumahnya, barang-barang perak dan emas dan kain-kain, yang akan kamu kenakan kepada anak-anakmu lelaki dan perempuan; demikianlah kamu akan merampasi orang Mesir itu." (Keluaran 3:22). Apa alasan orang-orang Mesir memberikan harta mereka kepada umat Israel? Tidak ada alasan lain selain karena Tuhan turut campur tangan, Tuhan yang membuat orang-orang Mesir bermurah hati. Ada tertulis: "Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati." (Roma 9:15). Jika Tuhan turut bekerja maka sesuatu yang tak mungkin menjadi mungkin.
Kita diselamatkan karena Tuhan bermurah hati kepada kita, sebab tidak ada sesuatu yang baik yang kita miliki yang mendasari Tuhan untuk menyelamatkan kita. Kristus telah mati untuk kita ketika kita masih berdosa (Roma 5:8). Karena kita telah menerima kemurahan hati, maka kita pun harus menjadi pemberi kemurahan pada orang lain. Adalah mudah untuk menerima daripada memberi! Tetapi Alkitab menasihatkan: "Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima." (Kisah 20:35b).
Ada banyak orang Kristen yang sudah menerima kemurahan dari Tuhan begitu rupa tetapi mereka tidak mau berlaku murah hati kepada orang lain, seperti perumpamaan seorang hamba yang mempunyai hutang 10.000 talenta yang sudah dibebaskan dan dihapuskan hutangnya oleh raja (Matius 18:27). Meski sudah beroleh kemurahan dari raja hamba itu sukar sekali untuk bermurah hati kepada orang lain. Terhadap kawannya yang berhutang seratus dinar kepadanya ia berlaku sangat jahat: "Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu!" (Matius 18:28). Bahkan ia tega menjebloskan kawannya itu ke dalam penjara.
Orang yang beroleh kemurahan dari Tuhan sudah sepatutnya berlaku murah hati kepada saudaranya yang lain!
Wednesday, April 18, 2018
RANCANGAN TUHAN ADALAH YANG TERBAIK (2)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 18 April 2018
Baca: Kejadian 45:1-28
"Yusuf masih hidup, bahkan dialah yang menjadi kuasa atas seluruh tanah Mesir." Kejadian 45:26
Secara manusia apa yang menimpa Yusuf serasa tidak adil. Meski demikian Alkitab tak pernah mencatat bahwa ia kecewa, sakit hati atau berkeluh kesah dan sungut-sungut. Ia juga tidak menyalahkan keadaan, menyalahkan saudara-saudaranya, apalagi sampai menyalahkan Tuhan. Yusuf terus mengalir mengikuti rancangan Tuhan karena ia tahu bahwa rancangan-Nya pasti yang terbaik dan "Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya," (Pengkhotbah 3:11).
Proses yang Yusuf jalani adalah persiapan penggenapan rencana besar Tuhan. Tidak ada satu pun manusia dapat menghalangi rancangan hidup Tuhan! "Sesungguhnya seperti yang Kumaksud, demikianlah akan terjadi, dan seperti yang Kurancang, demikianlah akan terlaksana:" (Yesaya 14:24). Tepat pada waktunya Tuhan, mimpi Yusuf pun menjadi kenyataan. Ia diangkat menjadi penguasa atas seluruh Mesir (Kejadian 41:37-57), dan tampil sebagai penyelamat bagi kaum keturunan ayahnya dari bencana kelaparan. "Ketika Ia mendatangkan kelaparan ke atas negeri itu, dan menghancurkan seluruh persediaan makanan, diutus-Nyalah seorang mendahului mereka: Yusuf, yang dijual menjadi budak. Mereka mengimpit kakinya dengan belenggu, lehernya masuk ke dalam besi, sampai saat firman-Nya sudah genap, dan janji TUHAN membenarkannya. Raja menyuruh melepaskannya, penguasa bangsa-bangsa membebaskannya. Dijadikannya dia tuan atas istananya, dan kuasa atas segala harta kepunyaannya," (Mazmur 105:16-21).
Ketika bertemu saudara-saudaranya berkatalah Yusuf, "Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar." (Kejadian 50:20). Tuhan tahu jalan hidup kita dan tahu apa yang terbaik untuk kita! Belajarlah tunduk kepada rancangan Tuhan sekalipun harus melewati proses yang panjang, sebab rancangan Tuhan adalah damai sejahtera dan hari depan penuh harapan (Yeremia 29:11).
Dalam segala perkara Tuhan turut bekerja dan tidak ada rancangan-Nya yang gagal!
Baca: Kejadian 45:1-28
"Yusuf masih hidup, bahkan dialah yang menjadi kuasa atas seluruh tanah Mesir." Kejadian 45:26
Secara manusia apa yang menimpa Yusuf serasa tidak adil. Meski demikian Alkitab tak pernah mencatat bahwa ia kecewa, sakit hati atau berkeluh kesah dan sungut-sungut. Ia juga tidak menyalahkan keadaan, menyalahkan saudara-saudaranya, apalagi sampai menyalahkan Tuhan. Yusuf terus mengalir mengikuti rancangan Tuhan karena ia tahu bahwa rancangan-Nya pasti yang terbaik dan "Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya," (Pengkhotbah 3:11).
Proses yang Yusuf jalani adalah persiapan penggenapan rencana besar Tuhan. Tidak ada satu pun manusia dapat menghalangi rancangan hidup Tuhan! "Sesungguhnya seperti yang Kumaksud, demikianlah akan terjadi, dan seperti yang Kurancang, demikianlah akan terlaksana:" (Yesaya 14:24). Tepat pada waktunya Tuhan, mimpi Yusuf pun menjadi kenyataan. Ia diangkat menjadi penguasa atas seluruh Mesir (Kejadian 41:37-57), dan tampil sebagai penyelamat bagi kaum keturunan ayahnya dari bencana kelaparan. "Ketika Ia mendatangkan kelaparan ke atas negeri itu, dan menghancurkan seluruh persediaan makanan, diutus-Nyalah seorang mendahului mereka: Yusuf, yang dijual menjadi budak. Mereka mengimpit kakinya dengan belenggu, lehernya masuk ke dalam besi, sampai saat firman-Nya sudah genap, dan janji TUHAN membenarkannya. Raja menyuruh melepaskannya, penguasa bangsa-bangsa membebaskannya. Dijadikannya dia tuan atas istananya, dan kuasa atas segala harta kepunyaannya," (Mazmur 105:16-21).
Ketika bertemu saudara-saudaranya berkatalah Yusuf, "Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar." (Kejadian 50:20). Tuhan tahu jalan hidup kita dan tahu apa yang terbaik untuk kita! Belajarlah tunduk kepada rancangan Tuhan sekalipun harus melewati proses yang panjang, sebab rancangan Tuhan adalah damai sejahtera dan hari depan penuh harapan (Yeremia 29:11).
Dalam segala perkara Tuhan turut bekerja dan tidak ada rancangan-Nya yang gagal!
Tuesday, April 17, 2018
RANCANGAN TUHAN ADALAH YANG TERBAIK (1)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 April 2018
Baca: Yesaya 25:1-5
"Ya TUHAN, Engkaulah Allahku; aku mau meninggikan Engkau, mau menyanyikan syukur bagi nama-Mu; sebab dengan kesetiaan yang teguh Engkau telah melaksanakan rancangan-Mu yang ajaib yang telah ada sejak dahulu." Yesaya 25:1
Pada umumnya setiap orang lebih suka memiliki rancangan-rancangan sendiri bagi kehidupannya yang didasarkan pada apa yang tampak secara kasat mata dan sifatnya duniawi. Berbeda dengan rancangan Tuhan yang lebih terfokus pada hal-hal yang rohaniah. Semisal dalam hal memilih pasangan hidup atau memilih pemimpin biasanya orang lebih berfokus kepada penampilan lahiriah (fisik), sementara Tuhan lebih memperhatikan hal-hal yang rohaniah (1 Samuel 16:7b).
Sedikit orang mau tunduk dan mengikuti rancangan Tuhan, karena mereka menganggap bahwa rancangan Tuhan itu jauh dari yang diinginkan dan sangat tidak mengenakkan secara daging. Tuhan berkata, "Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu." (Yesaya 55:8-9). Yusuf adalah contoh orang yang memilih untuk mengikuti rancangan Tuhan sekalipun ia harus mengalami suatu proses perjalanan hidup yang panjang, melelahkan dan sangat tidak mengenakkan secara daging. Ditinjau dari latar belakang keluarga, ia adalah anak kesayangan ayahnya. "Israel lebih mengasihi Yusuf dari semua anaknya yang lain, sebab Yusuf itulah anaknya yang lahir pada masa tuanya; dan ia menyuruh membuat jubah yang maha indah bagi dia." (Kejadian 37:3). Dengan kata lain Yusuf telah terbiasa berada di zona nyaman. Karena ayahnya lebih menyayangi Yusuf timbullah kebencian dalam diri saudara-saudaranya, dan kebencian mereka semakin menjadi-jadi ketika mereka tahu bahwa Tuhan mempunyai rancangan besar bagi kehidupan Yusuf yang dinyatakan melalui mimpi (Kejadian 37:5-11).
Ada harga yang harus Yusuf bayar untuk masuk dalam rancangan Tuhan ini: dimasukkan ke dalam sumur (Kejadian 37:24), dijual kepada saudagar Midian dengan harga 20 syikal perak, menjadi budak di rumah Potifar, difitnah oleh isteri Potifar dan dijebloskan ke dalam penjara. Yusuf yang sebelumnya hidup dalam kenyamanan kini harus mengalami proses hidup yang pahit demi menggenapi rancangan Tuhan!
Baca: Yesaya 25:1-5
"Ya TUHAN, Engkaulah Allahku; aku mau meninggikan Engkau, mau menyanyikan syukur bagi nama-Mu; sebab dengan kesetiaan yang teguh Engkau telah melaksanakan rancangan-Mu yang ajaib yang telah ada sejak dahulu." Yesaya 25:1
Pada umumnya setiap orang lebih suka memiliki rancangan-rancangan sendiri bagi kehidupannya yang didasarkan pada apa yang tampak secara kasat mata dan sifatnya duniawi. Berbeda dengan rancangan Tuhan yang lebih terfokus pada hal-hal yang rohaniah. Semisal dalam hal memilih pasangan hidup atau memilih pemimpin biasanya orang lebih berfokus kepada penampilan lahiriah (fisik), sementara Tuhan lebih memperhatikan hal-hal yang rohaniah (1 Samuel 16:7b).
Sedikit orang mau tunduk dan mengikuti rancangan Tuhan, karena mereka menganggap bahwa rancangan Tuhan itu jauh dari yang diinginkan dan sangat tidak mengenakkan secara daging. Tuhan berkata, "Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu." (Yesaya 55:8-9). Yusuf adalah contoh orang yang memilih untuk mengikuti rancangan Tuhan sekalipun ia harus mengalami suatu proses perjalanan hidup yang panjang, melelahkan dan sangat tidak mengenakkan secara daging. Ditinjau dari latar belakang keluarga, ia adalah anak kesayangan ayahnya. "Israel lebih mengasihi Yusuf dari semua anaknya yang lain, sebab Yusuf itulah anaknya yang lahir pada masa tuanya; dan ia menyuruh membuat jubah yang maha indah bagi dia." (Kejadian 37:3). Dengan kata lain Yusuf telah terbiasa berada di zona nyaman. Karena ayahnya lebih menyayangi Yusuf timbullah kebencian dalam diri saudara-saudaranya, dan kebencian mereka semakin menjadi-jadi ketika mereka tahu bahwa Tuhan mempunyai rancangan besar bagi kehidupan Yusuf yang dinyatakan melalui mimpi (Kejadian 37:5-11).
Ada harga yang harus Yusuf bayar untuk masuk dalam rancangan Tuhan ini: dimasukkan ke dalam sumur (Kejadian 37:24), dijual kepada saudagar Midian dengan harga 20 syikal perak, menjadi budak di rumah Potifar, difitnah oleh isteri Potifar dan dijebloskan ke dalam penjara. Yusuf yang sebelumnya hidup dalam kenyamanan kini harus mengalami proses hidup yang pahit demi menggenapi rancangan Tuhan!
Monday, April 16, 2018
Jika Tuhan Bekerja: TIADA YANG MUSTAHIL
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 April 2018
Baca: Mazmur 94:1-11
"TUHAN mengetahui rancangan-rancangan manusia; sesungguhnya semuanya sia-sia belaka." Mazmur 94:11
Di semua media, baik itu radio, televisi, tabloid, surat kabar, majalah, internet dan sebagainya, hampir setiap hari menyuguhkan berita-berita seputar kriminalitas. Mulai dari kasus narkoba, pemerkosaan atau pencabulan anak di bawah umur, pornografi, prostitusi, pembunuhan, perampokan dan sebagainya. Tindak kejahatan terjadi di mana-mana, bukan hanya terjadi di kota-kota besar, tapi juga sampai ke pelosok-pelosok daerah terpencil. Korbannya pun tak mengenal usia dan status. Kini bukan hanya para orangtua yang merasa was-was dengan keselamatan anak-anaknya, tapi hampir semua orang mengalami hal yang sama. Tak ada tempat di belahan bumi ini yang benar-benar aman, bebas dari ancaman dan segala jenis kejahatan!
Daud pun mengalami hal yang sama, di mana ia dihadapkan pada ancaman dan bahaya yang sewaktu-waktu dapat merengut nyawanya. Hal itu disebabkan oleh rencana jahat yang dirancang oleh Absalom dan Ahitofel. "Berkatalah Ahitofel kepada Absalom: 'Izinkanlah aku memilih dua belas ribu orang, maka aku akan bersiap dan mengejar Daud pada malam ini juga. Aku akan mendatangi dia, selagi ia lesu dan lemah semangatnya, dan mengejutkan dia; seluruh rakyat yang ada bersama-sama dengan dia akan melarikan diri, maka aku dapat menewaskan raja sendiri.'" (2 Samuel 17:1-2). Ada tertulis: "Rancangan orang jahat adalah kekejian bagi TUHAN," (Amsal 15:26). Karena itu Tuhan memakai Husai untuk menggagalkan rencana jahat mereka, dengan memberikan nasihat yang berbeda dari Ahitofel. Jika bukan karena Tuhan yang bekerja, kemungkinan Husai tidak akan menyampaikan nasihatnya kepada Absalom, tetapi ia akan mendukung Absalom untuk menghabisi nyawa Daud. Jika bukan karena Tuhan turut bekerja, maka tamatlah riwayat hidup Daud.
Di tengah dunia yang penuh dengan kejahatan ini, tiada yang bisa kita harapkan dan andalkan selain Tuhan saja. Daud berkata, "TUHAN adalah kota bentengku dan Allahku adalah gunung batu perlindunganku." (Mazmur 94:22).
Tak perlu takut dengan rancangan-rancangan jahat manusia, asalkan kita hidup benar di hadapan Tuhan Dia pasti akan menjadi pembela dan penolong bagi kita!
Baca: Mazmur 94:1-11
"TUHAN mengetahui rancangan-rancangan manusia; sesungguhnya semuanya sia-sia belaka." Mazmur 94:11
Di semua media, baik itu radio, televisi, tabloid, surat kabar, majalah, internet dan sebagainya, hampir setiap hari menyuguhkan berita-berita seputar kriminalitas. Mulai dari kasus narkoba, pemerkosaan atau pencabulan anak di bawah umur, pornografi, prostitusi, pembunuhan, perampokan dan sebagainya. Tindak kejahatan terjadi di mana-mana, bukan hanya terjadi di kota-kota besar, tapi juga sampai ke pelosok-pelosok daerah terpencil. Korbannya pun tak mengenal usia dan status. Kini bukan hanya para orangtua yang merasa was-was dengan keselamatan anak-anaknya, tapi hampir semua orang mengalami hal yang sama. Tak ada tempat di belahan bumi ini yang benar-benar aman, bebas dari ancaman dan segala jenis kejahatan!
Daud pun mengalami hal yang sama, di mana ia dihadapkan pada ancaman dan bahaya yang sewaktu-waktu dapat merengut nyawanya. Hal itu disebabkan oleh rencana jahat yang dirancang oleh Absalom dan Ahitofel. "Berkatalah Ahitofel kepada Absalom: 'Izinkanlah aku memilih dua belas ribu orang, maka aku akan bersiap dan mengejar Daud pada malam ini juga. Aku akan mendatangi dia, selagi ia lesu dan lemah semangatnya, dan mengejutkan dia; seluruh rakyat yang ada bersama-sama dengan dia akan melarikan diri, maka aku dapat menewaskan raja sendiri.'" (2 Samuel 17:1-2). Ada tertulis: "Rancangan orang jahat adalah kekejian bagi TUHAN," (Amsal 15:26). Karena itu Tuhan memakai Husai untuk menggagalkan rencana jahat mereka, dengan memberikan nasihat yang berbeda dari Ahitofel. Jika bukan karena Tuhan yang bekerja, kemungkinan Husai tidak akan menyampaikan nasihatnya kepada Absalom, tetapi ia akan mendukung Absalom untuk menghabisi nyawa Daud. Jika bukan karena Tuhan turut bekerja, maka tamatlah riwayat hidup Daud.
Di tengah dunia yang penuh dengan kejahatan ini, tiada yang bisa kita harapkan dan andalkan selain Tuhan saja. Daud berkata, "TUHAN adalah kota bentengku dan Allahku adalah gunung batu perlindunganku." (Mazmur 94:22).
Tak perlu takut dengan rancangan-rancangan jahat manusia, asalkan kita hidup benar di hadapan Tuhan Dia pasti akan menjadi pembela dan penolong bagi kita!
Sunday, April 15, 2018
MENGEKANG LIDAH: Proses Menuju Kesempurnaan (2)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 April 2018
Baca: Yakobus 3:1-12
"dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi." Yakobus 3:10
Kalau kita ingin benar di dalam perkataan, kita harus dapat menguasai lidah. Berhati-hatilah dan berpikirlah seribu kali sebelum berbicara, sebab "Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya." (Amsal 18:21). Ada kalimat bijak yang menyatakan bahwa diam itu emas! Adalah lebih baik diam atau sedikit bicara, karena semakin banyak bicara kemungkinan untuk melakukan kesalahan akan semakin besar. Ada tertulis: "Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi." (Amsal 10:19). Bahkan Alkitab menyatakan bahwa orang bodoh sekalipun akan disangka bijak apabila ia tidak banyak bicara alias berdiam diri. "Juga orang bodoh akan disangka bijak kalau ia berdiam diri dan disangka berpengertian kalau ia mengatupkan bibirnya." (Amsal 17:28).
Jangan sekali-kali menganggap remeh dan sepele setiap perkataan yang keluar dari mulut kita, sebab pada saatnya harus kita pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. "Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum." (Matius 12:36-37). Yang termasuk perkataan sia-sia adalah kata-kata kotor atau jorok, kata-kata yang menyakiti, kata-kata yang tidak membangun dan sebagainya. "Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia." (Efesus 4:29).
Jangan pula ada bisik-bisik atau gosip! Gosip adalah selenting berita yang tersebar luas dan sekaligus menjadi rahasia umum tetapi kebenarannya diragukan, atau berita negatif. Banyak orang suka bergosip, tak terkecuali orang Kristen. Ini sungguh sangat berbahaya, dapat merusak dan menghancurkan diri sendiri dan juga orang lain. Rasul Paulus berkata, "Aku kuatir akan adanya perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, fitnah, bisik-bisikan, keangkuhan, dan kerusuhan." (2 Korintus 12:20).
Ibadah kita kepada Tuhan akan sia-sia jika kita tak mampu mengekang lidah! (Yakobus 1:26).
Baca: Yakobus 3:1-12
"dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi." Yakobus 3:10
Kalau kita ingin benar di dalam perkataan, kita harus dapat menguasai lidah. Berhati-hatilah dan berpikirlah seribu kali sebelum berbicara, sebab "Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya." (Amsal 18:21). Ada kalimat bijak yang menyatakan bahwa diam itu emas! Adalah lebih baik diam atau sedikit bicara, karena semakin banyak bicara kemungkinan untuk melakukan kesalahan akan semakin besar. Ada tertulis: "Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi." (Amsal 10:19). Bahkan Alkitab menyatakan bahwa orang bodoh sekalipun akan disangka bijak apabila ia tidak banyak bicara alias berdiam diri. "Juga orang bodoh akan disangka bijak kalau ia berdiam diri dan disangka berpengertian kalau ia mengatupkan bibirnya." (Amsal 17:28).
Jangan sekali-kali menganggap remeh dan sepele setiap perkataan yang keluar dari mulut kita, sebab pada saatnya harus kita pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. "Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum." (Matius 12:36-37). Yang termasuk perkataan sia-sia adalah kata-kata kotor atau jorok, kata-kata yang menyakiti, kata-kata yang tidak membangun dan sebagainya. "Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia." (Efesus 4:29).
Jangan pula ada bisik-bisik atau gosip! Gosip adalah selenting berita yang tersebar luas dan sekaligus menjadi rahasia umum tetapi kebenarannya diragukan, atau berita negatif. Banyak orang suka bergosip, tak terkecuali orang Kristen. Ini sungguh sangat berbahaya, dapat merusak dan menghancurkan diri sendiri dan juga orang lain. Rasul Paulus berkata, "Aku kuatir akan adanya perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, fitnah, bisik-bisikan, keangkuhan, dan kerusuhan." (2 Korintus 12:20).
Ibadah kita kepada Tuhan akan sia-sia jika kita tak mampu mengekang lidah! (Yakobus 1:26).
Saturday, April 14, 2018
MENGEKANG LIDAH: Proses Menuju Kesempurnaan (1)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 April 2018
Baca: Yakobus 3:1-12
"Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal; barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya." Yakobus 3:2
Kehendak Tuhan bagi setiap orang percaya adalah semakin hari semakin disempurnakan, hingga saat Kristus datang untuk menjemput kita sebagai mempelai-Nya didapati kita tak bercacat cela. Untuk menjadi sempurna bukan perkara mudah, tapi juga bukan perkara yang mustahil bagi orang percaya. Ini membutuhkan proses yang tidak langsung bisa dicapai dalam waktu semalam, melainkan suatu proses yang berlangsung seumur hidup.
Untuk mencapai apa yang menjadi kehendak Tuhan ini kita harus punya tekad yang kuat dan penuh komitmen untuk menyucikan diri dari segala pencemaran jasmani dan rohani setiap hari seperti yang dinasihatkan oleh rasul Paulus: "Saudara-saudaraku yang kekasih, karena kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah." (2 Korintus 7:1). Bagaimana caranya? Hal mendasar yang harus kita lakukan adalah bertekun dalam membaca dan merenungkan firman Tuhan. Suka atau tidak suka kita harus memiliki kedisiplinan dalam hal itu. Ada banyak orang Kristen yang ogah-ogahan menyediakan waktu untuk membaca dan merenungkan firman Tuhan. Alkitab dibuka dan hanya dibaca hanya saat beribadah di gereja atau di persekutuan, padahal jelas dikatakan bahwa "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran." (2 Timotius 3:16). Karena itu "Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya," (Yosua 1:8). Jika perbendaharaan hati kita penuh dengan firman Tuhan, perkataan dan tindakan kita pun akan penuh kehati-hatian.
Ayat nas menyatakan bahwa diawali dari penguasaan diri terhadap ucapan atau perkataan, kita akan dibawa kepada kesempurnaan. Jadi kalau ingin sempurna kita harus belajar untuk mengekang lidah kita, sebab sekalipun lidah itu suatu anggota kecil dari tubuh, tetapi dapat mengendalikan seluruh tubuh kita.
Baca: Yakobus 3:1-12
"Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal; barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya." Yakobus 3:2
Kehendak Tuhan bagi setiap orang percaya adalah semakin hari semakin disempurnakan, hingga saat Kristus datang untuk menjemput kita sebagai mempelai-Nya didapati kita tak bercacat cela. Untuk menjadi sempurna bukan perkara mudah, tapi juga bukan perkara yang mustahil bagi orang percaya. Ini membutuhkan proses yang tidak langsung bisa dicapai dalam waktu semalam, melainkan suatu proses yang berlangsung seumur hidup.
Untuk mencapai apa yang menjadi kehendak Tuhan ini kita harus punya tekad yang kuat dan penuh komitmen untuk menyucikan diri dari segala pencemaran jasmani dan rohani setiap hari seperti yang dinasihatkan oleh rasul Paulus: "Saudara-saudaraku yang kekasih, karena kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah." (2 Korintus 7:1). Bagaimana caranya? Hal mendasar yang harus kita lakukan adalah bertekun dalam membaca dan merenungkan firman Tuhan. Suka atau tidak suka kita harus memiliki kedisiplinan dalam hal itu. Ada banyak orang Kristen yang ogah-ogahan menyediakan waktu untuk membaca dan merenungkan firman Tuhan. Alkitab dibuka dan hanya dibaca hanya saat beribadah di gereja atau di persekutuan, padahal jelas dikatakan bahwa "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran." (2 Timotius 3:16). Karena itu "Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya," (Yosua 1:8). Jika perbendaharaan hati kita penuh dengan firman Tuhan, perkataan dan tindakan kita pun akan penuh kehati-hatian.
Ayat nas menyatakan bahwa diawali dari penguasaan diri terhadap ucapan atau perkataan, kita akan dibawa kepada kesempurnaan. Jadi kalau ingin sempurna kita harus belajar untuk mengekang lidah kita, sebab sekalipun lidah itu suatu anggota kecil dari tubuh, tetapi dapat mengendalikan seluruh tubuh kita.
Friday, April 13, 2018
MEMATIKAN KEINGINAN DUNIAWI
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 April 2018
Baca: Kolose 3:5-17
"Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi," Kolose 3:5
Rasul Paulus menyatakan dengan tegas bahwa "...siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." (2 Korintus 5:17). Orang percaya disebut sebagai 'manusia baru' di dalam Kristus, sebab "...kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat." (1 Petrus 1:18-19).
Tanda seseorang menjalani hidup sebagai 'manusia baru' adalah segala sesuatu yang duniawi telah 'mati' di dalam kehidupannya. Ia tidak lagi hidup menuruti keinginan dagingnya atau segala sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan Roh Kudus. Inilah yang dimaksudkan oleh Paulus bahwa "...dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia." (Galatia 6:14). Disalibkan bagi dunia berarti kita mematikan segala keinginan yang bersifat duniawi, "Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia." (1 Yohanes 2:16). Semua yang berasal dari dunia adalah bertentangan dengan kehendak Tuhan. Karena kita telah ditebus dengan darah Kristus maka segala hal yang duniawi sudah tidak boleh mewarnai kehidupan orang percaya.
Mengapa kita harus mematikan semua keinginan duniawi? Sebab keinginan duniawi adalah celah bagi orang untuk kembali membangun persahabatan dengan dunia. Karena itu rasul Paulus memerintahkan kita untuk 'mematikan' semua keinginan duniawi. Kita harus bersikap tegas dan tidak boleh berkompromi sedikit pun. "Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu." (1 Yohanes 2:15). Kematian dari hal-hal duniawi adalah proses yang harus kita jalani seumur hidup kita, hingga Kristus mendapati kita sebagai mempelai-Nya yang tak bercacat cela.
"Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah." Yakobus 4:4
Baca: Kolose 3:5-17
"Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi," Kolose 3:5
Rasul Paulus menyatakan dengan tegas bahwa "...siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." (2 Korintus 5:17). Orang percaya disebut sebagai 'manusia baru' di dalam Kristus, sebab "...kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat." (1 Petrus 1:18-19).
Tanda seseorang menjalani hidup sebagai 'manusia baru' adalah segala sesuatu yang duniawi telah 'mati' di dalam kehidupannya. Ia tidak lagi hidup menuruti keinginan dagingnya atau segala sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan Roh Kudus. Inilah yang dimaksudkan oleh Paulus bahwa "...dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia." (Galatia 6:14). Disalibkan bagi dunia berarti kita mematikan segala keinginan yang bersifat duniawi, "Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia." (1 Yohanes 2:16). Semua yang berasal dari dunia adalah bertentangan dengan kehendak Tuhan. Karena kita telah ditebus dengan darah Kristus maka segala hal yang duniawi sudah tidak boleh mewarnai kehidupan orang percaya.
Mengapa kita harus mematikan semua keinginan duniawi? Sebab keinginan duniawi adalah celah bagi orang untuk kembali membangun persahabatan dengan dunia. Karena itu rasul Paulus memerintahkan kita untuk 'mematikan' semua keinginan duniawi. Kita harus bersikap tegas dan tidak boleh berkompromi sedikit pun. "Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu." (1 Yohanes 2:15). Kematian dari hal-hal duniawi adalah proses yang harus kita jalani seumur hidup kita, hingga Kristus mendapati kita sebagai mempelai-Nya yang tak bercacat cela.
"Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah." Yakobus 4:4
Thursday, April 12, 2018
MEMBAWA KEMATIAN KRISTUS
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 April 2018
Baca: 2 Korintus 4:1-15
"Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami." 2 Korintus 4:10
Yang dimaksud rasul Paulus dengan membawa kematian Yesus ini menunjuk kepada ketaatan dan kesediaan yang tulus dalam diri Kristus untuk menerima segala penderitaan yang harus ditanggung-Nya demi menyelesaikan tugas yang Bapa percayakan kepada-Nya. Sekalipun tidak memiliki kenyamanan di bumi, seperti dikatakan: "Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya." (Matius 8:20), tak menghalangi Kristus untuk tetap taat sepenuhnya kepada kehendak Bapa!
Inilah yang memacu dan mengobarkan semangat Paulus untuk setia memberitakan Injil, sekalipun ia harus dihadapkan pada ujian, tantangan, penderitaan dan aniaya. "Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini." (2 Korintus 4:8, 9, 11). Inilah yang dimaksudkan menderita bersama dengan Kristus. Dengan membawa kematian Kristus di dalam tubuhnya maka kehidupan Kristus benar-benar menjadi nyata di dalam diri Paulus. Rasul Paulus menyadari bahwa dunia ini bukanlah tempat yang menjanjikan untuk dinikmati, tetapi sebagai kesempatan untuk mengerjakan Amanat Agung, menjadi kawan sekerja-Nya untuk menggenapi rencana Bapa, sekalipun ia harus mengalami penderitaan demi penderitaan karenanya.
Dengan kualitas hidup yang demikian ini layaklah jika Paulus berkata, "namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku." (Galatia 2:20). Kekristenan yang benar mengenakan kehidupan Kristus setiap hari yaitu taat melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan dalam hidup ini.
"Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia," Filipi 1:29
Baca: 2 Korintus 4:1-15
"Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami." 2 Korintus 4:10
Yang dimaksud rasul Paulus dengan membawa kematian Yesus ini menunjuk kepada ketaatan dan kesediaan yang tulus dalam diri Kristus untuk menerima segala penderitaan yang harus ditanggung-Nya demi menyelesaikan tugas yang Bapa percayakan kepada-Nya. Sekalipun tidak memiliki kenyamanan di bumi, seperti dikatakan: "Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya." (Matius 8:20), tak menghalangi Kristus untuk tetap taat sepenuhnya kepada kehendak Bapa!
Inilah yang memacu dan mengobarkan semangat Paulus untuk setia memberitakan Injil, sekalipun ia harus dihadapkan pada ujian, tantangan, penderitaan dan aniaya. "Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini." (2 Korintus 4:8, 9, 11). Inilah yang dimaksudkan menderita bersama dengan Kristus. Dengan membawa kematian Kristus di dalam tubuhnya maka kehidupan Kristus benar-benar menjadi nyata di dalam diri Paulus. Rasul Paulus menyadari bahwa dunia ini bukanlah tempat yang menjanjikan untuk dinikmati, tetapi sebagai kesempatan untuk mengerjakan Amanat Agung, menjadi kawan sekerja-Nya untuk menggenapi rencana Bapa, sekalipun ia harus mengalami penderitaan demi penderitaan karenanya.
Dengan kualitas hidup yang demikian ini layaklah jika Paulus berkata, "namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku." (Galatia 2:20). Kekristenan yang benar mengenakan kehidupan Kristus setiap hari yaitu taat melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan dalam hidup ini.
"Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia," Filipi 1:29
Subscribe to:
Comments (Atom)