Sunday, October 8, 2017

PANDANGLAH KE ATAS, JANGAN MENUNDUK!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 Oktober 2017

Baca:  Ibrani 12:1-4

"Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa."  Ibrani 12:3

Lemah, tawar hati dan tak berdaya seringkali menyusupi hidup kita pada saat kita sedang berada dalam masalah, tekanan atau situasi-situasi sulit.  Hal ini bisa terjadi ketika arah pandang kita hanya tertuju pada situasi atau keadaan yang ada.  Akibatnya hati dan pikiran kita terus dihujani tanpa henti dengan hal-hal yang negatif.  Kalau pikiran sudah penuh hal-hal negatif, sadar atau tidak, kita sedang berjalan menuju kegagalan dan kehancuran.

     Jika kita tidak segera menyadari dan tetap memandang ke bawah bukan ke atas, tidak membuat perubahan arah pandang, manusia rohani kita akan kehilangan kuasanya, karena firman Tuhan tidak dapat bekerja di dalam kita sepenuhnya, terhalang oleh rasa takut, kuatir, cemas dan sebagainya.  Tertulis:  "Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah."  (Matius 13:22).  Karena iman kita adalah hasil dari firman  (baca  Roma 10:17), maka itu berarti iman kita akan menjadi layu.  Yang harus kita lakukan untuk menghentikan reaksi kelemahan yang ada adalah mengarahkan mata kepada Tuhan Yesus,  "...yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan,"  (Ibrani 12:2).

     Seorang pelari yang berlari di atas lintasan dengan membiarkan kepalanya tetap tertunduk pasti akan dengan mudah dilewati oleh lawan-lawannya, tertinggal, akan menuai kekalahan.  Ingin berkemenangan?  Tegakkanlah kepala Saudara dan pandang terus Tuhan Yesus.  Ingatlah selalu akan Tuhan dan firman-Nya.  Biarlah pemikiran-Nya menjadi pemikiran kita.  Inilah yang dilakukan oleh rasul Paulus:  "Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus,"  (2 Korintus 10:5b).  Palingkan pandangan dari semua situasi atau keadaan di sekitar, dan arahkan mata kepada Sumber Sorgawi.  Tuhan dapat memelihara hidup kita di segala situasi.  Tuhan ada di atas, tapi Iblis ada di bawah, tepat di bawah kaki Saudara.

"Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah."  Mazmur 16:8

Saturday, October 7, 2017

ORANG PERCAYA: Hamba-Hamba Tuhan

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 7 Oktober 2017

Baca:  Roma 6:15-23

"Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran."  Roma 6:18

Setiap orang percaya, yaitu orang-orang yang telah diselamatkan di dalam Kristus, menyandang status sebagai hamba Tuhan.  Seringkali ketika mendengar istilah  'hamba'  Tuhan pikiran kita langsung tertuju kepada pendeta atau gembala sidang sebuah gereja.

     Alkitab menyatakan pada dasarnya ada kekuatan yang luar biasa yang dapat memperhamba hidup manusia.  Iblis dengan kuasanya menawarkan pertolongan, kesembuhan, kekayaan dan semua hal yang sifatnya hanya semu, karena itu hanyalah sebuah trik untuk menjerat dan membelenggu hidup manusia.  Ketika manusia sudah masuk perangkapnya mereka akan diperhamba oleh Iblis, diperhamba oleh dosa.  Alkitab memperingatkan:  "Lawanlah dia dengan iman yang teguh..."  (1 Petrus 5:9).

     Sebagai hamba Tuhan kita mutlak menghambakan diri kepada-Nya, menjadikan Kristus sebagai Tuan atas hidup kita sepenuhnya.  Jadi setiap manusia hanya dihadapkan pada dua pilihan:  menjadi hamba Tuhan  (hamba kebenaran)  atau hamba Iblis  (hamba dosa).  Waktu kita menyerahkan hidup kita kepada Kristus, kita menjadi hamba kebenaran.  Menjadi hamba kebenaran artinya harus melakukan apa yang berkenan kepada Tuhan dan menyenangkan hati Tuhan.  "Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!"  (1 Korintus 6:20).  Setelah seseorang dibeli dan kemudian menjadi hamba kebenaran berarti kita tidak lagi menyerahkan anggota-anggota tubuh kita kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata, tetapi menjadi senjata kebenaran  (baca  Roma 6:13).

     Karena kita adalah hamba, kita harus selalu siap bekerja keras melaksanakan tanggung jawab, tanpa menuntut hak.  Namun seringkali kita hanya mengedepankan hak atau menuntut hak saja, tapi mengabaikan kewajiban.  Sebagai hamba tidak seharusnya kita berkata bahwa kita sudah berbuat banyak bagi Tuhan.  "Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan."  (Lukas 17:10).

Kalau kita menjadi hamba yang setia Tuhan tidak akan pernah lalai menepati janji-Nya.  "...hakku terjamin pada TUHAN dan upahku pada Allahku."  Yesaya 49:4

Friday, October 6, 2017

MENJADI BERKAT: Punya Beban Ilahi (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 6 Oktober 2017

Baca:  Kisah Para Rasul 4:32-37

"Ia menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul."  Kisah 4:37

Untuk memberi yang terbaik diperlukan sebuah pengorbanan, bukan hanya korban materi saja, tapi juga korban tenaga, waktu, pikiran, harga diri, gengsi dan terutama sekali adalah pemberian diri.  "Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati."  (Roma 12:1).  Ada banyak orang Kristen tampak menggebu-gebu melayani pekerjaan Tuhan ketika segala sesuatu berjalan sesuai dengan keinginan.  Begitu dihadapkan pada masalah, gesekan dan benturan, semangat mereka melayani Tuhan pun mengendur, apalagi bila dituntut untuk berkorban, tanpa basa-basi mereka langsung mundur secara teratur.

     Tuhan Yesus adalah teladan utama dalam hal melayani.  Ia bukan sekedar melayani orang-orang dengan pengajaran-Nya, tapi Ia rela mengorbankan nyawa-Nya di kayu salib.  Bagaimana dengan kita?  Maukah kedagingan kita disalibkan setiap hari?  Maukah kita menyangkal diri dan memikul salib?  Yesus berkata,  "Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku."  (Matius 10:38).  Pelayanan sejati menuntut pengorbanan!  Pelayanan sejati menuntut pengorbanan!  Melayani pekerjaan Tuhan dan melayani harus dilakukan sepenuh hati dan butuh kerelaan hati untuk berkorban.  Tidak ada alasan orang percaya tidak melayani karena Tuhan telah memberi kita karunia-karunia.  "Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu..."  (2 Timotius 1:6).

     Melayani bisa dimulai dari hal yang sederhana atau sesuatu yang kecil.  Dinyatakan bahwa orang yang setia dalam perkara kecil akan diberikan tanggung jawab dalam perkara yang lebih besar oleh Tuhan  (baca  Lukas 16:10).  Setialah mengerjakan apa pun yang Tuhan percayakan dan jangan menganggap remeh.  "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya."  (Kolose 3:23-24).

Ingin menjadi berkat?  Berilah yang terbaik dan lakukan segala sesuatu dengan sepenuh hati!

Thursday, October 5, 2017

MENJADI BERKAT: Punya Beban Ilahi (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 5 Oktober 2017

Baca:  Kisah Para Rasul 4:32-37

"Sebab tidak ada seorangpun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa..."  Kisah 4:34

Hidup yang menjadi berkat adalah panggilan Tuhan bagi setiap orang percaya.  "...Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi dari Siprus."  (Kisah 4:36), adalah salah satu contoh orang yang hidupnya menjadi berkat atau kesaksian bagi orang lain.  Orang yang menjadi berkat adalah orang yang menerima beban Ilahi, sehingga ia memiliki empati ketika melihat satu kebutuhan yang dirasakan oleh orang lain atau lingkungan, dan kemudian mengabdikan diri dalam pelayanan.

     Ketika gereja mulai bertumbuh banyak sekali petobat baru, dimana kebanyakan adalah orang-orang yang berasal dari keluarga sederhana, secara materi pas-pasan dan bisa dikatakan hidup dalam kekurangan.  Untuk dapat melayani mereka diperlukan orang yang memiliki hati yang terbeban.  Muncullah Yusuf  (para rasul lebih suka menyebutnya Barnabas), anak penghiburan, yang ketika melihat kebutuhan jemaat hatinya terbeban sehingga ia rela menjual ladang miliknya dan kemudian uang hasil penjualan tersebut diserahkan kepada para rasul untuk membantu jemaat yang hidup berkekurangan.  "Sebab kamu dibebani bukanlah supaya orang-orang lain mendapat keringanan, tetapi supaya ada keseimbangan. Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan."  (2 Korintus 8:13-14).

     Orang yang menyadari betapa besar kasih Tuhan dalam hidupnya pasti tidak akan berdiam diri, melainkan berusaha melakukan sesuatu untuk membalas kasih-Nya.  Dan bukti kasihnya kepada Tuhan adalah kerelaannya untuk berkorban seperti yang dilakukan oleh Yusuf Barnabas, yang rela menjual tanahnya.  Tanah atau ladang adalah sesuatu yang sangat berharga.  Artinya Yusuf rela mempersembahkan sesuatu yang berharga yang dimilikinya untuk melayani jiwa-jiwa.  Hal itu menunjukkan bahwa ia menempatkan pekerjaan Tuhan dan kepentingan sesama lebih dari kepentingan diri sendiri.  Yusuf sadar benar bahwa Tuhan Yesus adalah Raja di atas segala raja, Tuhan segala tuan, yang berhak dan layak untuk menerima segala yang terbaik dari hidup kita.

Wednesday, October 4, 2017

JANGAN LARI DARI PANGGILAN KUDUS (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 4 Oktober 2017

Baca:  Keluaran 32:15-35

"Kamu ini telah berbuat dosa besar, tetapi sekarang aku akan naik menghadap TUHAN, mungkin aku akan dapat mengadakan pendamaian karena dosamu itu."  Keluaran 32:30

Ketika Musa berkata kepada Harun,  "'Apakah yang dilakukan bangsa ini kepadamu, sehingga engkau mendatangkan dosa yang sebesar itu kepada mereka?' Tetapi jawab Harun: 'Janganlah bangkit amarah tuanku; engkau sendiri tahu, bahwa bangsa ini jahat semata-mata.'"  (Keluaran 32:21-22).  Apakah kedurhakaan yang dilakukan oleh umat Israel sepenuhnya merupakan kesalahan Harun?  Tidak.  Sesungguhnya, tindakan untuk meninggalkan Tuhan dan mencondongkan diri kepada berhala adalah berasal dari keinginan umat Israel sendiri, karena mereka ingin hidup sesuka hati.  Terlihat dari apa yang mereka perbuat setelah menyembah patung anak lembu emas, yaitu mempersembahkan korban bakaran,  "...sesudah itu duduklah bangsa itu untuk makan dan minum; kemudian bangunlah mereka dan bersukaria."  (Keluaran 32:6).

     Sikap bangsa Israel yang meninggalkan Tuhan ini pada hakekatnya merupakan upaya untuk membebaskan diri dari panggilan hidup kudus supaya dapat menuruti keinginan daging dan hidup dalam hawa nafsu duniawi, seperti yang pernah dialami selama tinggal di Mesir.  Tidak tahan karena ditinggalkan Musa bukanlah alasan utama!  Mereka beranggapan bahwa hidup menurut pola dunia adalah hal yang sangat menyenangkan.  Sebagai bangsa pilihan Tuhan bangsa Israel dipanggil dengan identitas yang baru, yang berarti harus menjalani hidup yang  'berbeda'  dari bangsa-bangsa lain yang tidak mengenal Tuhan.  Artinya mereka harus hidup dalam pertobatan setiap hari, menjauhkan diri dari segala kecemaran atau penyangkalan diri terhadap hawa nafsu.

     Melihat kedurhakaan umat Israel itu Tuhan berencana untuk membinasakan mereka, namun Musa tampil sebagai jurusyafaat memohon agar Tuhan tidak membinasakan umat-Nya.  "Berbaliklah dari murka-Mu yang bernyala-nyala itu dan menyesallah karena malapetaka yang hendak Kaudatangkan kepada umat-Mu."  (Keluaran 32:12b).  Musa percaya bahwa Tuhan itu berlimpah kasih setia.  "Sebab sesaat saja Ia murka, tetapi seumur hidup Ia murah hati;"  (Mazmur 30:6).  Itulah sebabnya Tuhan tidak sampai membinasakan semua umat Israel, termasuk Harun dan Hur.

Kedurhakaan bangsa Israel adalah bukti mereka adalah bangsa yang tegar tengkuk!

Tuesday, October 3, 2017

JANGAN LARI DARI PANGGILAN KUDUS (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 3 Oktober 2017

Baca:  Keluaran 32:1-14

"Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: 'Pergilah, turunlah, sebab bangsamu yang kaupimpin keluar dari tanah Mesir telah rusak lakunya.'"  Keluaran 32:7

Kalau diperhatikan secara teliti, kisah penyembahan berhala yang dilakukan oleh umat Israel ini sangatlah unik dan luar biasa.  Umumnya penyembahan berhala hanya dilakukan oleh sekelompok orang saja, namun di sini dinyatakan bahwa sebagian besar umat Israel serempak dan sepakat untuk meninggalkan Tuhan dan menyembah kepada patung anak lembu emas.  Bagaimana mungkin suatu bangsa dapat berubah sikap dalam waktu sekejap meninggalkan Tuhan yang telah membuktikan kasih, kuasa, penyertaan dan pemeliharaan-Nya yang ajaib, lalu meminta Harun untuk membuat sebuah patung emas tuangan dalam bentuk seekor lembu?

     Mengapa umat Israel tidak mampu mempertahankan kesetiaan iman dan kekudusan hidup sebagai umat pilihan Tuhan?  Mereka berdalih bahwa Musa terlalu lama berada di gunung Sinai, dan mengulur-ulur waktu untuk turun dari gunung itu.  "Ketika bangsa itu melihat, bahwa Musa mengundur-undurkan turun dari gunung itu, maka berkumpullah mereka mengerumuni Harun dan berkata kepadanya: 'Mari, buatlah untuk kami allah, yang akan berjalan di depan kami sebab Musa ini, orang yang telah memimpin kami keluar dari tanah Mesir - kami tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dia.'"  (Keluaran 32:1).  Padahal Musa hanya meninggalkan mereka selama empat puluh hari dan empat puluh malam saja, tidak sampai berbulan-bulan atau bertahun-tahun  (baca  Keluaran 24:18), dan ia juga telah mendelegasikan tugas kepemimpinan kepada Harun dan Hur:  "...siapa yang ada perkaranya datanglah kepada mereka."  (Keluaran 24:14).

     Mengapa mereka tidak tahan tanpa kehadiran Musa dan begitu cepat berbalik meninggalkan Tuhan?  Tampaknya Harun dan Hur tidak mampu menjalankan tugas kepemimpinan yang dipercayakan Musa kepadanya.  Terbukti keduanya tak bisa berbuat banyak ketika umat Israel mendesaknya untuk dibuatkan patung, bahkan Harun memberi solusi dengan meminta mereka untuk mengumpulkan emas yang dimiliki untuk dijadikan patung tuangan dalam bentuk anak lembu emas  (baca  Keluaran 32:2-4), dan juga membuatkan mezbah di depan anak lembu emas tersebut  (baca  Keluaran 32:5).

Tanpa kehadiran Musa umat Israel begitu cepat berbalik meninggalkan Tuhan!

Monday, October 2, 2017

JANGAN LUPAKAN KARYA KESELAMATAN TUHAN (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 2 Oktober 2017

Baca:  Mazmur 77:1-21

"Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala."  Mazmur 77:12

Tindakan mengingat-ingat apa yang telah Tuhan perbuat di waktu lalu, jika tanpa dilandasi oleh sikap iman, hanya akan menghasilkan nostalgia belaka.  Namun jika tindakan mengingat-ingat karya Tuhan ini dilandasi dengan sikap iman atau respons hati yang positif akan menghasilkan kekuatan dan peneguhan untuk lebih berkomitmen makin setia kepada Tuhan.  Pemazmur menulis:  "Aku hendak menyebut-nyebut segala pekerjaan-Mu, dan merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu."  (Mazmur 77:13).

     Mengingat-ingat perbuatan-perbuatan Tuhan dan keajaiban kuasa-Nya adalah hal yang harus kita lakukan, terlebih-lebih ketika sedang dalam masalah atau penderitaan, karena pada situasi itu seringkali kita mudah sekali menjadi lemah, putus asa, dan kehilangan pengharapan.  Yosua berusaha mengingatkan umat Israel untuk tidak melupakan begitu saja karya keselamatan Tuhan dan mengajak mereka untuk membuat pilihan hidup yang benar.  Ia mau bahwa keputusan yang mereka ambil bukan karena keterpaksaan, tapi benar-benar atas kesadaran dan kerelaan hati.  "Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini."  (Yosua 24:15).  Tindakan Yosua ini mencerminkan sikap seorang pemimpin yang arif dan bijak.  Yosua menambahkan,  "Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!"  (Yosua 24:15b).  Keteladanan yang ditunjukkan Yosua berdampak, umat Israel pun membuat pilihan hidup yang benar dengan berkata,  "Jauhlah dari pada kami meninggalkan TUHAN untuk beribadah kepada allah lain!"  (Yosua 24:16).

     Pula karya keselamatan yang Kristus kerjakan melalui pengorbanan-Nya di kayu salib hendaknya semakin menguatkan dan meneguhkan kita untuk bersungguh-sungguh lagi dalam mengiring Tuhan.  "Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!"  (1 Korintus 6:20).

Karena anugerah Tuhan semata kita diselamatkan, karena itu beribadahlah kepada-Nya dengan hati yang takut dan gentar!

Sunday, October 1, 2017

JANGAN LUPAKAN KARYA KESELAMATAN TUHAN (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 1 Oktober 2017

Baca:  Yosua 24:1-28

"Sesungguhnya batu inilah akan menjadi saksi terhadap kita, sebab telah didengarnya segala firman TUHAN yang diucapkan-Nya kepada kita. Sebab itu batu ini akan menjadi saksi terhadap kamu, supaya kamu jangan menyangkal Allahmu."  Yosua 24:27

Setelah empat puluh tahun mengembara di padang gurun akhirnya umat Israel measuki tanah Kanaan.  Semua bukan karena kekuatan dan kemampuan mereka, tapi semata-mata karena kasih, pemeliharaan dan penyertaan Tuhan sehingga mereka dapat menduduki tanah perjanjian itu.  Kedua belas suku Israel pun telah mendapatkan tanah yang menjadi milik pusaka mereka.  Bukan hanya itu, Tuhan juga menganugerahkan keamanan di seluruh Kanaan.  Hal itu menunjukkan bahwa janji Tuhan untuk memberikan seluruh negeri kepada umat Israel telah digenapi-Nya pada era kepemimpinan Yosua.

     Seiring berjalannya waktu usia Yosua makin bertambah tua, dan bisa dikatakan sedang berada di puncak karir dan punya pengaruh besar karena telah berhasil mengantarkan umat Israel kepada kehidupan baru.  Dapat dikatakan bahwa Yosua adalah pemimpin yang berhasil dan berjasa besar.  Dalam posisi ini kebanyakan pemimpin akan jumawa dan membusungkan dada.  Sikap Yosua tidaklah demikian!  Ia tidak pernah merasa diri berjasa dan berharap umat Israel menghormati atau menyanjungnya!  Tidak ada niat sedikit pun untuk menyondongkan hati umat Israel kepada dirinya.  Inilah pernyataan Yosua,  "Aku telah tua dan sangat lanjut umur, dan kamu ini telah melihat segala yang dilakukan TUHAN, Allahmu, kepada semua bangsa di sini demi kamu, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang telah berperang bagi kamu."  (Yosua 23:2-3).

     Yosua berupaya mengarahkan pandangan umat Israel hanya kepada Tuhan, dan mengingatkan bahwa keberhasilan memasuki tanah Kanaan bukan karena keahliannya dalam berperang, tapi karena ada tangan Tuhan yang berkuasa melindungi, menuntun, menolong dan menyelamatkan mereka.  Tuhanlah yang telah berperang bagi mereka, sebagaimana yang Musa pernah sampaikan pula:  "TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja."  (Keluaran 14:14), sehingga mereka dapat memperoleh kemenangan.  Untuk itulah Yosua mengumpulkan semua suku yang ada di Israel, para tua-tua, para kepala, para hakim dan juga pengatur pasukan umat Israel di Sikhem.

Tanpa campur tangan Tuhan umat Israel takkan bisa mencapai tanah Kanaan!

Saturday, September 30, 2017

TETAP DALAM KEADAAN SUCI

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 30 September 2017

Baca:  1 Yohanes 3:1-10

"Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci."  1 Yohanes 3:3

Ketika tugas Tuhan Yesus di bumi selesai Ia kembali kepada Bapa di sorga.  Sebelum pergi Ia meninggalkan pesan yang menguatkan:  "Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada."  (Yohanes 14:3).  Karena itu kita tak perlu gelisah.  Alkitab menyatakan bahwa  "...Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya."  (Matius 16:27).

     Dalam menantikan kedatangan Kristus yang harus kita lakukan adalah tinggal di dalam Tuhan dan firman-Nya, agar kita tetap dalam keadaan suci dan tak bernoda.  Rasul Yohanes menasihati:  "Maka sekarang, anak-anakku, tinggallah di dalam Kristus, supaya apabila Ia menyatakan diri-Nya, kita beroleh keberanian percaya dan tidak usah malu terhadap Dia pada hari kedatangan-Nya."  (1 Yohanes 2:28).  Kita takkan malu di hadapan Tuhan jika kita dalam keadaan suci bersih.  Jangan sampai ketika Kristus datang Ia berkata kepada kita demikian:  "Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku. Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang, maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat."  (Wahyu 3:16-18).

     Oleh karena itu  "Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja."  (Yohanes 9:4)  dan terus menyucikan diri, sebab Tuhan memanggil kita bukan untuk melakukan yang cemar, melainkan apa yang kudus!  (Tesalonika 4:7).

Orang-orang yang hidup dalam kebenaran dan dalam keadaan sucilah yang layak tinggal bersama Kristus di Sorga!

Friday, September 29, 2017

ANGKATLAH MUKAMU: Penyelamatan Sudah Dekat

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 29 September 2017

Baca:  Lukas 21:25-33

"Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat."  Lukas 21:28

Suka atau tidak suka, siap atau tidak siap, cepat atau lambat, langit dan bumi pasti akan berlalu.  Semua yang ada di bawah langit dan di atas bumi akan hancur lebur.  Masihkah kita disibukkan dengan perkara-perkara yang ada di dunia ini?  Masihkah kita berlomba sedemikian rupa mengumpulkn harta dunia?  Masihkah kita memiliki cara hidup yang duniawi?  Sampai kapan kita berubah?  Ada tertulis:  "Karena manusia tidak mengetahui waktunya. Seperti ikan yang tertangkap dalam jala yang mencelakakan, dan seperti burung yang tertangkap dalam jerat, begitulah anak-anak manusia terjerat pada waktu yang malang, kalau hal itu menimpa mereka secara tiba-tiba."  (Pengkhotbah 9:12).

     Tuhan selalu berkenan kepada orang-orang yang senantiasa mengarahkan pandangannya kepada-Nya dan memalingkan mukanya dari segala sesuatu yang ada di dunia ini.  Memalingkan muka dari segala sesuatu termasuk dari cara berpikir duniawi dan hanya memandang akan kebesaran dan kekuatan Tuhan saja yang sanggup mengubah segala perkara.  Memandang Tuhan sebagai tempat perlindungan dan penyelamatan.  Seperti Nuh yang tetap fokus membuat bahtera dan memalingkan mukanya terhadap orang-orang yang mengejek dan menghujatnya.  Akhirnya harga yang telah Nuh bayar dalam hidupnya mendatangkan upah yang besar:  ia dan seisi keluarganya selamat karena ketaatannya membuat bahtera yang diperintahkan Tuhan.  Bahtera adalah lambang dari Yesus Kristus, yang merupakan Gunung Batu Keselamatan, tempat pelarian dan perlindungan bagi mereka yang senantiasa berharap kepada-Nya.

     Dewasa ini pikiran manusia telah dirusak, disesatkan dan dicemari oleh berbagai kekacauan dan kabar-kabar yang menggetarkan.  Sebagai orang percaya kita tak perlu gentar menghadapinya, karena dari semula Tuhan Yesus telah memberitahukan dan memperingatkan kita bahwa segalanya pasti terjadi, yaitu peperangan, pemberontakan, gempa bumi, kelaparan dan bermacam-macam musibah lainnya.  Yang teramat penting untuk direnungkan adalah:  "Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat."  (ayat nas).

Setiap orang yang tetap dalam  'bahtera'  Kristus akan beroleh keselamatan kekal!

Thursday, September 28, 2017

DUNIA YANG SEMAKIN GENTING

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 28 September 2017

Baca:  Lukas 21:25-33

"Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan goncang."  Lukas 21:26

Stres adalah satu kata yang menggambarkan keadaan manusia di zaman sekarang ini.  Secara umum arti kata stres adalah gangguan atau kekacauan mental dan emosional yang disebabkan oleh faktor luar;  ketegangan.  Banyak orang mengalami tekanan dan ketakutan karena terjadinya hal-hal di bumi yang belum pernah terjadi sebelumnya.  Alkitab sudah menyatakan bahwa menjelang kedatangan Kristus yang kedua kalinya manusia akan mengalami berbagai masalah hidup yang seolah-olah tak ada jalan keluarnya.  Bukankah hal itu sudah dan sedang terjadi?  Setiap hari kita disuguhi dengan berita-berita yang mengejutkan, bukan hanya tentang kejadian-kejadian yang ada di luar negeri, tapi juga berita-berita di dalam negeri sendiri.  Hal-hal yang aneh terjadi di mana-mana!

     Sesungguhnya yang terutama harus diperhatikan adalah kata Tuhan Yesus:  "...dan banyak orang akan murtad dan mereka akan saling menyerahkan dan saling membenci. Banyak nabi palsu akan muncul dan menyesatkan banyak orang. Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin."  (Matius 24:10-12).  Karena tekanan-tekanan hidup inilah sering dijumpai orang mudah sekali tersinggung, tersulut emosi, marah dan akhirnya melakukan tindakan-tindakan yang di luar batas kewajaran.  Saat ini beban pekerjaan para psikolog semakin bertambah karena harus melayani pasien yang semakin hari semakin banyak jumlahnya.  Tak terkecuali para pengacara juga kebanjiran order karena semakin hari semakin banyak kasus, dan semakin banyak pula orang yang ingin dibela perkaranya, menuntut keadilan ditegakkan.

     Mari, yang manusia butuhkan sekarang adalah Tabib Agung, penyembuh segala jenis penyakit dan luka-luka batin.  Perhatikan undangan Kristus ini:  "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu."  (Matius 11:28).  Kristus bukan sekedar memberi kelegaan, tapi Dia juga sanggup melepaskan kita dari semua beban fisik maupun mental.

Dalam kegentingan dunia ini kita harus makin melekat kepada Tuhan, sebab  "...orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat."  Matius 24:13