Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 21 Juli 2010 -
Baca: Ayub 10:1-22
"TanganMulah yang membentuk dan membuat aku, tetapi kemudian Engkau berpaling dan hendak membinasakan aku?" Ayub 10:8
Penderitaan dan kesengasaraan yang terjadi di dunia ini tak memandang bulu dan dapat terjadi dalam berbagai bentuk: ekonomi, sakit penyakit atau hal-hal lain yang berhubungan dengan masalah keluarga. Penderitaan ini terjadi karena beberapa hal, antara lain akibat kesalahan atau dosa yang kita perbuat, dan yang lain adalah karena kehendak Tuhan, di mana Ia punya rencana yang indah di balik penderitaan itu.
Umumnya bila penderitaan sudah mencapai puncaknya seringkali tidak tahan. Keluhan demi keluhan akhirnya keluar dari mulut kita, seperti Ayub pun berkata dalam keputusasaannya, "Aku telah bosan hidup,aku hendak melampiaskan keluhanku, aku hendak berbicara dalam kepahitan jiwaku. Mengapa Engkau menyebabkan aku keluar dari kandungan? Lebih baik aku binasa, sebelum orang melihat aku!" (ayat 1, 18). Ayub pun menyesal, mengapa ia dilahirkan ke dunia bila hanya menanggung penderitaan. Ia pun menganggap bahwa Tuhanlah yang menindasnya, bahkan menuduhNya telah berkompromi serta mendukung orang fasik. Perhatikan perkataannya: "Apakah untungnya bagiMu mengadakan penindasan, membuang hasil jerih payah tanganMu, sedangkan Engkau mendukung rencana orang fasik?" (Ayub 10:3).
Kita juga sering berbuat seperti ayub dengan mengatakan: "Tuhan mengapa Kauijinkan hal ini terjadi? Mengapa orang fasik itu malah Engkau berkati?" Itulah tuduhan tidak langsung yang kita lontarkan kepada Tuhan. Banyak contoh dalam Alkitab yang mengisahkan kesuksesan atau kesengsaraan. Tidak hanya Ayub, bukankah Yusuf sebelum menjadi penguasa di Mesir dan penolong bagi keluarga dan bangsanya harus mengalami penderitaan berat? Seringkali untuk menggenapi rencana indah Tuhan terjadilah pemrosesan dan persiapan terlebih dahulu. Jadi berhentilah menyalahkan Tuhan dan jangan sekali-kali menuduhNya jahat sebab "...Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia,..." (Roma 8:28).
Akhirnya Ayub mencabut semua perkataannya dan menyesal (baca Ayub 42:6).
Wednesday, July 21, 2010
Tuesday, July 20, 2010
DISALIBKAN DENGAN KRISTUS
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 20 Juli 2010 -
Baca: Galatia 2:15-21
"Sebab aku (Paulus - red.) telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus; " Galatia 2:19
Kehidupan Paulus telah diubahkan! Ia tidak lagi sama seperti dulu ketika masih bernama Saulus, Paulus berkata bahwa hidup yang ia jalani sekarang, "...bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diriNya untuk aku." (ayat 20).
Hidup Paulus telah disalibkan bersama Kristus! Apakah ini berarti Paulus benar-benar disalibkan secara jasmani bersamaNya. Bukan tubuh jasmani yang disalibkan, tetapi manusia lamanya yang telah disalib. Akan lebih jelas lagi jika kita membaca dalam Roma 6:6-8: "Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa. Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa. Jadi jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya, bahwa kita akan hidup juga dengan Dia."
Sebagai umat yang telah diselamatkan kita telah disalibkan dengan Kristus, dan tidak boleh lagi berhubungan dengan dosa. Pembebasan dari dosa dan segala konsekuensinya dalah fakta yang telah digenapi. Manusia tidak dituntut melakukan sesuatu agar mendapatkan pembebasan dosa, karena memang manusia tidak dapat melakukannya. Kita hanya dituntut menerima dengan iman kegenapan pekerjaan Kristus di kayu salib. Ia berkata, "...setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut aku." (Lukas 9:23). Penyangkalan diri inilah yang harus kita lakukan terus menerus. Mengapa? Allah berurusan dengan dosa-dosa dan diri kita melalui 2 cara yang sangat berbeda. Menaklukkan dosa memerlukan beberapa saat saja, namun menyangkal diri membutuhkan waktu sepanjang hidup kita. Sekali saja di atas kayu salib Yesus menanggung dosa-dosa kita, sedangkan sepanjang hidupNya Dia harus menyangkal diriNya. Kita harus meneladani dan mengikuti jejakNya sebab penyangkalan diri adalah pengalaman bersama Kristus.
"Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya." Galatia 5:24
Baca: Galatia 2:15-21
"Sebab aku (Paulus - red.) telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus; " Galatia 2:19
Kehidupan Paulus telah diubahkan! Ia tidak lagi sama seperti dulu ketika masih bernama Saulus, Paulus berkata bahwa hidup yang ia jalani sekarang, "...bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diriNya untuk aku." (ayat 20).
Hidup Paulus telah disalibkan bersama Kristus! Apakah ini berarti Paulus benar-benar disalibkan secara jasmani bersamaNya. Bukan tubuh jasmani yang disalibkan, tetapi manusia lamanya yang telah disalib. Akan lebih jelas lagi jika kita membaca dalam Roma 6:6-8: "Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa. Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa. Jadi jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya, bahwa kita akan hidup juga dengan Dia."
Sebagai umat yang telah diselamatkan kita telah disalibkan dengan Kristus, dan tidak boleh lagi berhubungan dengan dosa. Pembebasan dari dosa dan segala konsekuensinya dalah fakta yang telah digenapi. Manusia tidak dituntut melakukan sesuatu agar mendapatkan pembebasan dosa, karena memang manusia tidak dapat melakukannya. Kita hanya dituntut menerima dengan iman kegenapan pekerjaan Kristus di kayu salib. Ia berkata, "...setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut aku." (Lukas 9:23). Penyangkalan diri inilah yang harus kita lakukan terus menerus. Mengapa? Allah berurusan dengan dosa-dosa dan diri kita melalui 2 cara yang sangat berbeda. Menaklukkan dosa memerlukan beberapa saat saja, namun menyangkal diri membutuhkan waktu sepanjang hidup kita. Sekali saja di atas kayu salib Yesus menanggung dosa-dosa kita, sedangkan sepanjang hidupNya Dia harus menyangkal diriNya. Kita harus meneladani dan mengikuti jejakNya sebab penyangkalan diri adalah pengalaman bersama Kristus.
"Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya." Galatia 5:24
Monday, July 19, 2010
SANDARAN HATI
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 19 Juli 2010 -
Baca: Mazmur 84:1-13
"Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah!" Mazmur 84:6
Manusia hidup tak pernah luput dari masalah. Tetapi pemazmur menyatakan berbahagia manusia yang saat dalam masalah menyandarkan kekuatannya hanya kepada Tuhan.
Jadi bukan seberapa besar masalah yang kita alami, namun bagaimana tanggapan dan reaksi kita di kala sedang dalam masalah itu. Dalam keadaan terjepit apakah kita mengandalkan kepandaian dan kekuatan sendiri? Ataukah kita mencari sesama lalu bersandar kepadanya? Adakah bijak bila dalam kesesakan kita bertindak seperti pemazmur berdoa: "Perlihatkanlah kepada kami kasih setiaMu, ya Tuhan, dan berikanlah kepada kami keselamatan dari padaMu!" (Mazmur 85:8). Pada saat-saat yang gawat, kritis, detik-detik saat kita akan tenggelam dan binasa dalam bencana kesulitan apa pun kita harus berseru dan lari kepada Tuhan, mohon keselamatan dariNya. Jangan sekali-kali menaruh pengharapan pada manusia karena pertolongan mereka sangat terbatas. Kita akan kecewa karena mereka tak dapat menolong kita. Bahkan sebaliknya ada kemungkinan mereka akan mencela dan mencemooh kita dengan ejekan atau macam-macam perkataan negatif.
Kita harus belajar seperti Daud. Dalam keadaan apa pun ia senantiasa mempersembahkan korban syukur dan bersekutu dengan Tuhan. Daud berkata, "Betapa disenangi tempat kediamanMu, ya Tuhan semesta alam! Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran Tuhan; hatiku dan dagingku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup." (Mazmur 84:2-3). Itulah kunci kemenangan hidup Daud! Mengapa banyak orang Kristen hidup sebagai pecundang? Karena mereka tidak karib dengan Tuhan. Mereka menjadikanNya sebagai 'tambal butuh' atau lampu Aladin saja, mendekat kepadaNya saat perlu saja. Akibatnya saat dalam pergumulan berat langsung stres, mengomel dan mengasihani diri sendiri. Berbeda dengan orang yang senantiasa karib dengan Tuhan, "...yang terus-menerus memuji-muji Engkau. Mereka berjalan makin lama makin kuat," (Mazmur 84:5b, 8a).
Seberapa besar kerinduan kita mencari Tuhan dan seberapa besar bersandar padaNya menentukan besarnya kekuatan kita
Baca: Mazmur 84:1-13
"Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah!" Mazmur 84:6
Manusia hidup tak pernah luput dari masalah. Tetapi pemazmur menyatakan berbahagia manusia yang saat dalam masalah menyandarkan kekuatannya hanya kepada Tuhan.
Jadi bukan seberapa besar masalah yang kita alami, namun bagaimana tanggapan dan reaksi kita di kala sedang dalam masalah itu. Dalam keadaan terjepit apakah kita mengandalkan kepandaian dan kekuatan sendiri? Ataukah kita mencari sesama lalu bersandar kepadanya? Adakah bijak bila dalam kesesakan kita bertindak seperti pemazmur berdoa: "Perlihatkanlah kepada kami kasih setiaMu, ya Tuhan, dan berikanlah kepada kami keselamatan dari padaMu!" (Mazmur 85:8). Pada saat-saat yang gawat, kritis, detik-detik saat kita akan tenggelam dan binasa dalam bencana kesulitan apa pun kita harus berseru dan lari kepada Tuhan, mohon keselamatan dariNya. Jangan sekali-kali menaruh pengharapan pada manusia karena pertolongan mereka sangat terbatas. Kita akan kecewa karena mereka tak dapat menolong kita. Bahkan sebaliknya ada kemungkinan mereka akan mencela dan mencemooh kita dengan ejekan atau macam-macam perkataan negatif.
Kita harus belajar seperti Daud. Dalam keadaan apa pun ia senantiasa mempersembahkan korban syukur dan bersekutu dengan Tuhan. Daud berkata, "Betapa disenangi tempat kediamanMu, ya Tuhan semesta alam! Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran Tuhan; hatiku dan dagingku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup." (Mazmur 84:2-3). Itulah kunci kemenangan hidup Daud! Mengapa banyak orang Kristen hidup sebagai pecundang? Karena mereka tidak karib dengan Tuhan. Mereka menjadikanNya sebagai 'tambal butuh' atau lampu Aladin saja, mendekat kepadaNya saat perlu saja. Akibatnya saat dalam pergumulan berat langsung stres, mengomel dan mengasihani diri sendiri. Berbeda dengan orang yang senantiasa karib dengan Tuhan, "...yang terus-menerus memuji-muji Engkau. Mereka berjalan makin lama makin kuat," (Mazmur 84:5b, 8a).
Seberapa besar kerinduan kita mencari Tuhan dan seberapa besar bersandar padaNya menentukan besarnya kekuatan kita
Sunday, July 18, 2010
MENGINJAK-INJAK ANAK ALLAH
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 18 Juli 2010 -
Baca: Ibrani 10:26-31
"Betapa lebih beratnya hukuman yang harus dijatuhkan atas dia, yang menginjak-injak Anak Allah, yang menganggap najis darah perjanjian yang menguduskannya, dan yang menghina Roh kasih karunia?" Ibrani 10:29
Jika orang telah ditebus oleh darah Kristus dan telah memperoleh kebenaran tetapi dengan sengaja terus berbuat dosa, tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu kecuali ia bertobat lagi dengan sungguh dan meninggalkan dosa-dosa itu. Juga kalau ia tetap sengaja melakukan dan menggeluti dosa itu, jangan harap dia dapat diampuni, "Tetapi yang ada ialah kematian yang mengerikan akan penghakiman dan api yang dahsyat yang akan menghanguskan semua orang durhaka." (ayat 27). FirmanNya menegaskan, "Betapa lebih beratnya hukuman yang harus dijatuhkan atas dia, yang menginjak-injak Anak Allah, yang mengangap najis darah perjanjian yang menguduskannya, dan yang menghina Roh kasih karunia?"
Apa yang dimaksud darah perjanjian yang menguduskan? Ialah darah Kristus yang ditumpahkan bagi manusia untuk pengampunan dosa seperti yang Dia katakan, "Sebab inilah darahKu, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa." (Matius 26:28). Ketika kita menerima Yesus dalam hidup dan percaya dengan iman bahwa Dia telah menebus dosa-dosa kita, maka oleh kematianNya di atas kayu salib itu kita dimerdekakan dari dosa dan dikuduskanNya. Tetapi apabila kita menyia-nyiakan pengorbanNya dengan sengaja terus berbuat dosa, kita telah menghina Roh kasih karunia Allah dan menginjak-injak Anak Allah (Yesus Kristus).
Ada konsekuensi yang harus ditanggung oleh setiap orang yang menginjak-injak Anak Allah! Maka "...hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya. Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran." (Roma 6:12-13).
Hargai karya penebusanNya dengan hidup taat sesuai firmanNya!
Baca: Ibrani 10:26-31
"Betapa lebih beratnya hukuman yang harus dijatuhkan atas dia, yang menginjak-injak Anak Allah, yang menganggap najis darah perjanjian yang menguduskannya, dan yang menghina Roh kasih karunia?" Ibrani 10:29
Jika orang telah ditebus oleh darah Kristus dan telah memperoleh kebenaran tetapi dengan sengaja terus berbuat dosa, tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu kecuali ia bertobat lagi dengan sungguh dan meninggalkan dosa-dosa itu. Juga kalau ia tetap sengaja melakukan dan menggeluti dosa itu, jangan harap dia dapat diampuni, "Tetapi yang ada ialah kematian yang mengerikan akan penghakiman dan api yang dahsyat yang akan menghanguskan semua orang durhaka." (ayat 27). FirmanNya menegaskan, "Betapa lebih beratnya hukuman yang harus dijatuhkan atas dia, yang menginjak-injak Anak Allah, yang mengangap najis darah perjanjian yang menguduskannya, dan yang menghina Roh kasih karunia?"
Apa yang dimaksud darah perjanjian yang menguduskan? Ialah darah Kristus yang ditumpahkan bagi manusia untuk pengampunan dosa seperti yang Dia katakan, "Sebab inilah darahKu, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa." (Matius 26:28). Ketika kita menerima Yesus dalam hidup dan percaya dengan iman bahwa Dia telah menebus dosa-dosa kita, maka oleh kematianNya di atas kayu salib itu kita dimerdekakan dari dosa dan dikuduskanNya. Tetapi apabila kita menyia-nyiakan pengorbanNya dengan sengaja terus berbuat dosa, kita telah menghina Roh kasih karunia Allah dan menginjak-injak Anak Allah (Yesus Kristus).
Ada konsekuensi yang harus ditanggung oleh setiap orang yang menginjak-injak Anak Allah! Maka "...hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya. Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran." (Roma 6:12-13).
Hargai karya penebusanNya dengan hidup taat sesuai firmanNya!
Saturday, July 17, 2010
LAWAN SETIAP PENCOBAAN DENGAN IMAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 Juli 2010 -
Baca: 1 Timotius 6:11-16
"Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal." 1 Timotius 6:12a
Tuhan Yesus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat: penyakit, kematian, kemiskinan dan juga kematian kekal. Tetapi sekalipun kita telah melihat kebenaran dari penebusan kita, tak berarti kita bebas dari persoalan hidup. Namn apabila kita tinggal tetap dalam firman Tuhan di tengah-tengah persoalan, kita akan menang.
Jika kita mengenal firman Tuhan dan mulai memandang segala hal seperti Tuhan memandang, kita akan mampu menjaga sikap hati dengan benar meski persoalan hidup mendera. Ini merupakan kesempatan bagi kita dapat hidup dengan iman dan membuktikan bahwa firman Tuhan itu ya dan amin, sebab "...iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus." (Roma 10:17). Tetapi, "Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya dalah mati." (Yakobus 2:17). Dengan kata lain: iman timbul dari pendengaran firman Allah, tetapi iman yang kita terima terjadi apabila apa yang telah kita dengar itu kita praktekkan. Jika kita berkata bahwa kita beriman kepada Tuhan itu kita praktekkan. Jika kita berkata bahwa kita beriman kepada Tuhan tetapi kita tak pernah diuji melalui pencobaan-pencobaan, bagaimana kita bisa membuktikan bahwa kita memiliki iman? Dengan hanya membaca firman Tuhan tetapi tak pernah menggunakan iman terhadap pencobaan, bagaimana kita dapat menjadi pemenang? Tak akan pernah terjadi kemenangan rohani tanpa menggunakan iman terhadap problem hidup dan tanpa bertanding dalam pertandingan iman yang benar. Disebut pertandingan iman yang benar karena pertandingan ini adalah untuk suatu kemenangan.
Kita perlu belajar bertekun dalam mengatasi problem hidup. Sesungguhnya Tuhan tak memberi penyakit, penderitaan atau kemiskinan. Tapi terkadang Roh Kudus membimbing kita pada situasi-situasi yang secara manusia tak kita sukai. Di tengah kesesakan inilah Iblis berusaha membujuk kita untuk tidak taat kepada Tuhan dan menyimpang dari jalur yang Tuhan rencanakan bagi kita. Jika memandang pada problem, kita pasti akan kecil hati dan kalah.
Bersandarlah pada kebesaran dan kuasaNya yang tak terbatas, yakinlah segala sesuatu indah pada waktuNya!
Baca: 1 Timotius 6:11-16
"Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal." 1 Timotius 6:12a
Tuhan Yesus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat: penyakit, kematian, kemiskinan dan juga kematian kekal. Tetapi sekalipun kita telah melihat kebenaran dari penebusan kita, tak berarti kita bebas dari persoalan hidup. Namn apabila kita tinggal tetap dalam firman Tuhan di tengah-tengah persoalan, kita akan menang.
Jika kita mengenal firman Tuhan dan mulai memandang segala hal seperti Tuhan memandang, kita akan mampu menjaga sikap hati dengan benar meski persoalan hidup mendera. Ini merupakan kesempatan bagi kita dapat hidup dengan iman dan membuktikan bahwa firman Tuhan itu ya dan amin, sebab "...iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus." (Roma 10:17). Tetapi, "Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya dalah mati." (Yakobus 2:17). Dengan kata lain: iman timbul dari pendengaran firman Allah, tetapi iman yang kita terima terjadi apabila apa yang telah kita dengar itu kita praktekkan. Jika kita berkata bahwa kita beriman kepada Tuhan itu kita praktekkan. Jika kita berkata bahwa kita beriman kepada Tuhan tetapi kita tak pernah diuji melalui pencobaan-pencobaan, bagaimana kita bisa membuktikan bahwa kita memiliki iman? Dengan hanya membaca firman Tuhan tetapi tak pernah menggunakan iman terhadap pencobaan, bagaimana kita dapat menjadi pemenang? Tak akan pernah terjadi kemenangan rohani tanpa menggunakan iman terhadap problem hidup dan tanpa bertanding dalam pertandingan iman yang benar. Disebut pertandingan iman yang benar karena pertandingan ini adalah untuk suatu kemenangan.
Kita perlu belajar bertekun dalam mengatasi problem hidup. Sesungguhnya Tuhan tak memberi penyakit, penderitaan atau kemiskinan. Tapi terkadang Roh Kudus membimbing kita pada situasi-situasi yang secara manusia tak kita sukai. Di tengah kesesakan inilah Iblis berusaha membujuk kita untuk tidak taat kepada Tuhan dan menyimpang dari jalur yang Tuhan rencanakan bagi kita. Jika memandang pada problem, kita pasti akan kecil hati dan kalah.
Bersandarlah pada kebesaran dan kuasaNya yang tak terbatas, yakinlah segala sesuatu indah pada waktuNya!
Friday, July 16, 2010
MEMPERKATAKAN FIRMAN DENGAN IMAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 Juli 2010 -
Baca: Ulangan 30:11-20
"Tetapi firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan." Ulangan 30:14
Kita mengungkapkan pikiran, perasaan dan gagasan melalui perkataan atau bahasa. Perkataan kita akan membentuk hidup kita, karena hal ini mempengaruhi jalan pikiran, pola hidup dan tidak tanduk kita. Firman Tuhan merupakan dasar bahasa iman yang dapat membangun kehidupan rohani kita. Bila rohani kita kuat berakar dalam Kristus, kita dapat dengan yakin merasakan kuasa Tuhan bekerja dalam hidup kita; dan di mana kuasa Tuhan bekerja, di situ pasti ada berkat dan mujizat.
Alkitab menasihati, "Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu,..." (Kolose 2:7). Dikatakan bahwa firman Tuhan tidak jauh dari jangkauan kita, melainkan sangat dekat yaitu di dalam mulut dan di dalam hati kita. Jadi kita harus menggunakan perkataan Tuhan atau memperkatakan firmanNya setiap kali sesuai dengan apa yang kita butuhkan agar berkat, kasih serta mujizatNya dilimpahkan atas kita. Dikatakan pula bahwa firman itu sangat dekat di dalam hati kita; bukan hanya di dalam mulut atau perkataan saja, namun juga harus di dalam hati, artinya harus ada iman di dalam hati sewaktu kita memperkatakan firman itu.
Adalah sia-sia sekalipun kita memperkatakan firmanNya seribu kali sehari jika hati kita tidak yakin dan tiada ada iman; semuanya hanya merupakan rentetan kalimat yang kosong, tidak ada kuasa Tuhan bekerja. Firman Tuhan jangan hanya digunakan waktu kita dalam masalah saja, tapi di segala keadaan. Adalah Daud, yaitu selalu menggunakan bahasa iman meski keadaan normal: "Tuhan adalah gembalaku, takkan kekuarangan aku." (Mazmur 23:1). Daud mengakui Tuhan adalah gembalanya yang sanggup mencukupkan segala yang ia perlukan. Daud bersyukur dan memuji Tuhan atas berkat-berkatNya yang melimpah. Daud memakai bahasa iman: mengijinkan kemuliaan dan berkat Tuhan mengalir terus dalam hidupnya. Perkataan firmanNya dengan iman setiap saat dan jangan beri kesempatan Iblis membisikkan hal-hal negatif di telinga kita.
"Awasi mulutku, ya Tuhan, berjagalah pada pintu bibirku!" (Mazmur 141:3) supaya firmanMu saja yang kuucapkan!
Baca: Ulangan 30:11-20
"Tetapi firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan." Ulangan 30:14
Kita mengungkapkan pikiran, perasaan dan gagasan melalui perkataan atau bahasa. Perkataan kita akan membentuk hidup kita, karena hal ini mempengaruhi jalan pikiran, pola hidup dan tidak tanduk kita. Firman Tuhan merupakan dasar bahasa iman yang dapat membangun kehidupan rohani kita. Bila rohani kita kuat berakar dalam Kristus, kita dapat dengan yakin merasakan kuasa Tuhan bekerja dalam hidup kita; dan di mana kuasa Tuhan bekerja, di situ pasti ada berkat dan mujizat.
Alkitab menasihati, "Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu,..." (Kolose 2:7). Dikatakan bahwa firman Tuhan tidak jauh dari jangkauan kita, melainkan sangat dekat yaitu di dalam mulut dan di dalam hati kita. Jadi kita harus menggunakan perkataan Tuhan atau memperkatakan firmanNya setiap kali sesuai dengan apa yang kita butuhkan agar berkat, kasih serta mujizatNya dilimpahkan atas kita. Dikatakan pula bahwa firman itu sangat dekat di dalam hati kita; bukan hanya di dalam mulut atau perkataan saja, namun juga harus di dalam hati, artinya harus ada iman di dalam hati sewaktu kita memperkatakan firman itu.
Adalah sia-sia sekalipun kita memperkatakan firmanNya seribu kali sehari jika hati kita tidak yakin dan tiada ada iman; semuanya hanya merupakan rentetan kalimat yang kosong, tidak ada kuasa Tuhan bekerja. Firman Tuhan jangan hanya digunakan waktu kita dalam masalah saja, tapi di segala keadaan. Adalah Daud, yaitu selalu menggunakan bahasa iman meski keadaan normal: "Tuhan adalah gembalaku, takkan kekuarangan aku." (Mazmur 23:1). Daud mengakui Tuhan adalah gembalanya yang sanggup mencukupkan segala yang ia perlukan. Daud bersyukur dan memuji Tuhan atas berkat-berkatNya yang melimpah. Daud memakai bahasa iman: mengijinkan kemuliaan dan berkat Tuhan mengalir terus dalam hidupnya. Perkataan firmanNya dengan iman setiap saat dan jangan beri kesempatan Iblis membisikkan hal-hal negatif di telinga kita.
"Awasi mulutku, ya Tuhan, berjagalah pada pintu bibirku!" (Mazmur 141:3) supaya firmanMu saja yang kuucapkan!
Thursday, July 15, 2010
INJIL MENYELAMATKAN, ASAL......
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 Juli 2010 -
Baca: 1 Korintus 15:1-11
"Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamu - kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya." 1 Korintus 15:2
Alkitab menegaskan: "...Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, ... Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: 'Orang benar akan hidup oleh iman.' " (Roma 1:16b-17). Banyak orang Kristen yang salah mengerti. Mereka beranggapan apabila sudah rajin ke gereja dan mendengarkan berita Injil pada jam-jam ibadah, pasti mereka akan selamat. Perhatikanlah: Injil sendiri tidak dapat menyelamatkan jika orang itu tidak berpegang teguh pada injil dan tidak percaya. Orang dapat saja mendengar berita Injil atau firman Tuhan lebih dari 1000x, tetapi apabila ia tidak berpegang teguh pada Injil (firman Tuhan) dalam hidupnya, sama juga menipu dan ia pun tak dapat diselamatkan.
Berpegang teguh pada Injil berarti seluruh pola hidup kita dilandaskan pada Injil. Kapan saja dan di mana pun kita berada hidup kita sejalan dengan firman Tuhan. Berpegang teguh pada Injil berarti pula menerima firman itu bukan sebagai perkataan dari manusia, melainkan berasal dari Tuhan sendiri seperti yang disampaikan Paulus kepada jemaat di Tesalonika, "...kami tidak putus-putusnya mengucap syukur juga kepada Allah, sebab kamu telah menerima firman Allah yang kami beritakan itu, bukan sebagai perkataan manusia, tetapi dan memang sungguh-sungguh demikian - sebagai firman Allah, yang bekerja juga di dalam kamu yang percaya." (1 Tesalonika 2:13). Jikalau benar kita berpegang teguh pada firman Tuhan, kita akan percaya bahwa semua yang dikatakan Alkitab adalah perkataan Tuhan sendiri, sehingga kita akan taat sepenuhnya. Kita pun akan menyediakan banyak waktu membaca firman dan merenungkannya. Apabila firman Tuhan melarang kita berbuat dosa, kita akan taat walaupun harus menderita; menderita bukan akibat berbuat dosa tapi karena harus mengadakan peperangan melawan keinginan daging. Injil menyelamatkan karena Injil memimpin kita untuk hidup dalam kebenaran dan percaya kepada Tuhan Yesus.
Tanpa ketaatan, mana mungkin kita dapat diselamatkan?
Baca: 1 Korintus 15:1-11
"Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamu - kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya." 1 Korintus 15:2
Alkitab menegaskan: "...Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, ... Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: 'Orang benar akan hidup oleh iman.' " (Roma 1:16b-17). Banyak orang Kristen yang salah mengerti. Mereka beranggapan apabila sudah rajin ke gereja dan mendengarkan berita Injil pada jam-jam ibadah, pasti mereka akan selamat. Perhatikanlah: Injil sendiri tidak dapat menyelamatkan jika orang itu tidak berpegang teguh pada injil dan tidak percaya. Orang dapat saja mendengar berita Injil atau firman Tuhan lebih dari 1000x, tetapi apabila ia tidak berpegang teguh pada Injil (firman Tuhan) dalam hidupnya, sama juga menipu dan ia pun tak dapat diselamatkan.
Berpegang teguh pada Injil berarti seluruh pola hidup kita dilandaskan pada Injil. Kapan saja dan di mana pun kita berada hidup kita sejalan dengan firman Tuhan. Berpegang teguh pada Injil berarti pula menerima firman itu bukan sebagai perkataan dari manusia, melainkan berasal dari Tuhan sendiri seperti yang disampaikan Paulus kepada jemaat di Tesalonika, "...kami tidak putus-putusnya mengucap syukur juga kepada Allah, sebab kamu telah menerima firman Allah yang kami beritakan itu, bukan sebagai perkataan manusia, tetapi dan memang sungguh-sungguh demikian - sebagai firman Allah, yang bekerja juga di dalam kamu yang percaya." (1 Tesalonika 2:13). Jikalau benar kita berpegang teguh pada firman Tuhan, kita akan percaya bahwa semua yang dikatakan Alkitab adalah perkataan Tuhan sendiri, sehingga kita akan taat sepenuhnya. Kita pun akan menyediakan banyak waktu membaca firman dan merenungkannya. Apabila firman Tuhan melarang kita berbuat dosa, kita akan taat walaupun harus menderita; menderita bukan akibat berbuat dosa tapi karena harus mengadakan peperangan melawan keinginan daging. Injil menyelamatkan karena Injil memimpin kita untuk hidup dalam kebenaran dan percaya kepada Tuhan Yesus.
Tanpa ketaatan, mana mungkin kita dapat diselamatkan?
Subscribe to:
Posts (Atom)