Friday, January 15, 2021

PERGUMULAN BERAT MENEKAN HIDUP!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 Januari 2021

Baca:  Mazmur 77:1-21

"Sudah lenyapkah untuk seterusnya kasih setia-Nya, telah berakhirkah janji itu berlaku turun-temurun?"  Mazmur 77:9

Tuhan tidak pernah menjanjikan anak-anak-Nya suatu kehidupan tanpa masalah, tapi Dia berjanji akan selalu menyertai.  Pemazmur menulis:  "Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu;"  (Mazmur 34:20).  Murid-murid Tuhan pun harus berjuang menghadapi angin sakal yang mengombang-ambingkan perahu mereka, padahal Tuhan ada bersama mereka.  Penderitaan dan pergumulan hidup yang berat bisa hadir kapan saja tanpa bisa diduga dan diprediksi sebelumnya.  Tidak sedikit orang ketika mengalami tekanan dan pergumulan hidup yang berat bersikap skeptis seperti yang dirasakan oleh pemazmur, sampai-sampai ia meragukan kasih setia Tuhan dan mempertanyakan janji-janji-Nya karena merasa tidak sanggup lagi menjalani hari-harinya.

  Kita berharap saat dalam tekanan hidup yang berat Tuhan segera menolong dan memberi jalan keluar, namun seringkali jawaban Tuhan tidak kunjung datang sehingga kita pun tawar hati.  "Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu."  (Amsal 24:10).  Hendaknya kita tidak gampang putus asa dan menyerah saat dalam pergumulan yang berat.  Tantangan dan permasalahan dalam kehidupan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari oleh semua orang, namun respons hati kita terhadap masalah, itulah yang membedakannya:  membawa kita semakin naik atau malah semakin terpuruk?  Kita bisa belajar dari langkah yang dilakukan pemazmur:  1.  Mengingat-ingat perbuatan Tuhan.  "Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala."  (Mazmur 77:12).  Selama fokus kita hanya kepada masalah, kita akan menjadi lemah dan iman akan merosot.  2.  Mengingat-ingat penyertaan Tuhan.  "Engkau telah menuntun umat-Mu seperti kawanan domba dengan perantaraan Musa dan Harun."  (Mazmur 77:21).

     Sebagaimana Tuhan menyatakan perbuatan dan penyertaan-Nya yang ajaib atas bangsa Israel, Dia juga akan menolong dan menyertai kita.  Tanpa campur tangan Tuhan Musa takkan sanggup membawa bangsa Israel keluar dari Mesir!

Mata yang senantiasa tertuju kepada Tuhan adalah kunci menang atas pergumulan hidup!

Thursday, January 14, 2021

NAMA BAIK DI HADAPAN TUHAN DAN MANUSIA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 Januari 2021

Baca:  Amsal 22:1-16

"Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas."  Amsal 22:1

Raja Salomo mengingatkan bahwa  "Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar,"  (ayat nas).  Apalah artinya orang memiliki harta melimpah atau kekayaan melimpah ruah tapi reputasinya buruk di mata orang lain.  Sekaya apa pun seseorang, jika ia menjadi buah bibir negatif, bahan pergunjingan, dibenci dan dihujat, semuanya menjadi sia-sia belaka.  Seringkali orang dunia mengukur  'nama baik'  seseorang berdasarkan harta, jabatan atau popularitas, tak peduli apakah ia memiliki kehidupan yang baik atau tidak.

     Di zaman sekarang ini demi mengejar materi, harta, atau popularitas, ada orang-orang yang rela mengorbankan harga dirinya, lupa menjaga nama baik diri sendiri dan keluarga.  Begitu sepak terjangnya tertangkap oleh pihak yang berwajib, nama menjadi tercoreng, reputasi pun hancur, akhirnya dicibir orang.  Sesal pun tiada guna.  Tuhan menghendaki setiap kita tetap menjaga  'nama baik'  sebagai orang percaya.  Orang percaya yang memiliki nama baik di mata dunia berarti mempermuliakan nama Tuhan melalui kehidupannya.  Kita dipanggil untuk menjadi garam dan terang bagi dunia.  (Matius 5:13-16).  Oleh karena itu kita harus berhati-hati dalam setiap perkataan dan perbuatan kita, di mana pun berada dan kapan pun waktunya.  Ayat nas menyatakan bahwa nama baik itu anugerah yang baik, lebih daripada perak atau emas.  Nama baik itu tidak bisa dibeli dengan uang atau harta sebanyak apa pun, karena memiliki nilai lebih daripada perak dan emas.  Bila seseorang memiliki nama baik atau reputasi baik di mata banyak orang ketika masih hidup, namanya akan tetap diingat dan dikenang selalu, sekalipun ia sudah tiada  (meninggal).  Orang yang memiliki nama baik adalah orang yang hidupnya menjadi berkat dan kesaksian yang baik.

     Memiliki nama baik di mata dunia dan terlebih di mata Tuhan adalah tujuan hidup orang percaya.  Bagaimana caranya?  Kita harus taat dan hormat kepada Tuhan:  "...siapa yang menghormati Aku, akan Kuhormati, tetapi siapa yang menghina Aku, akan dipandang rendah."  (1 Samuel 2:30b).

Orang yang memiliki nama baik hidupnya pasti berbuah dan menjadi berkat!

Wednesday, January 13, 2021

SEMUA YANG DI DUNIA TAK ADA ARTINYA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 Januari 2021

Baca:  Pengkhotbah 2:1-26

"Aku membenci segala usaha yang kulakukan dengan jerih payah di bawah matahari, sebab aku harus meninggalkannya kepada orang yang datang sesudah aku."  Pengkhotbah 2:18

Apa yang Salomo tulis ini tidak mudah dimengerti dan dipahami, namun ada satu hal yang menjadi bahan perenungan setiap kita adalah, bahwa bagi semua manusia di bawah kolong langit ini:  orang yang berhasil atau orang yang gagal, orang yang berpangkat atau orang rendahan, orang yang kaya atau orang yang miskin, orang yang hebat atau orang yang biasa, orang yang pintar  (berhikmat)  maupun orang yang bodoh, semua jerih payah dan perjuangan selama hidup pada saatnya akan berujung kepada kesia-siaan.  Bahkan dari pernyataan Salomo ini pun tersirat suatu keputusasaan,  "Dengan demikian aku mulai putus asa terhadap segala usaha yang kulakukan dengan jerih payah di bawah matahari. Apakah faedahnya yang diperoleh manusia dari segala usaha yang dilakukannya dengan jerih payah di bawah matahari dan dari keinginan hatinya?"  (Pengkhotbah 2:20, 22).

     Salah satu contoh kesia-siaan adalah harta kekayaan!  Sekaya apa pun seseorang, pada akhirnya semua harus ditinggalkan saat masa  'kontrak'  hidup di dunia sudah berakhir, alias dipanggil Tuhan  (meninggal).  Tidak ada sedikitpun harta atau sepeser uang sekalipun yang dapat dibawanya, padahal mereka sudah berjerih lelah di sepanjang hidupnya untuk mengumpulkan uang dan harta kekayaan tersebut.  "Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar."  (1 Timotius 6:7).  Jadi,  "Tak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada makan dan minum dan bersenang-senang dalam jerih payahnya. Karena siapa dapat makan dan merasakan kenikmatan di luar Dia?"  (Pengkhotbah 2:24a, 25).

     Agar apa pun yang kita kerjakan selama hidup di dunia ini tidak menjadi sia-sia, marilah kita berfokus kepada perkara-perkara yang bersifat kekal.  Selama kita masih diberi kesempatan untuk menjalani hari-hari kita di dunia ini biarlah kita terus menabur dalam Roh  (Galatia 6:8), mengumpulkan harta sorgawi  (Matius 6:20), mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar  (Filipi 2:12), dan giat selalu dalam pekerjaan Tuhan  (1 Korintus 15:58).

Hidup kita takkan sia-sia bila kita mengutamakan perkara yang dari Tuhan!

Tuesday, January 12, 2021

MENARA BABEL: Kesombongan Manusia

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 Januari 2021

Baca:  Kejadian 11:1-9

"Itulah sebabnya sampai sekarang nama kota itu disebut Babel, karena di situlah dikacaubalaukan TUHAN bahasa seluruh bumi dan dari situlah mereka diserakkan TUHAN ke seluruh bumi."  Kejadian 11:9

Dunia semakin hari semakin maju, teknologi juga semakin canggih!  Sungguh saat ini dunia dipenuhi kemegahan dan gemerlap.  Tiap-tiap negara berlomba-lomba membangun gedung-gedung tinggi atau menara pencakar langit, hotel berbintang, dan juga pusat-pusat perbelanjaan  (mall)  menjamur di mana-mana.  Benar-benar membuat decak kagum!

     Sesungguhnya hal ini sudah dilakukan manusia sejak zaman Adam dan Hawa.  Ada tertulis:  "...Nimrod; dialah yang mula-mula sekali orang yang berkuasa di bumi; ia seorang pemburu yang gagah perkasa di hadapan TUHAN, sebab itu dikatakan orang: 'Seperti Nimrod, seorang pemburu yang gagah perkasa di hadapan TUHAN.'"  (Kejadian 10:8-9).  Ia memimpin orang-orang untuk membangun sebuah menara setinggi yang mereka dapat usahakan di lembah Tigris-Efrat.  "Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi."  (Kejadian 11:4).  Yang mendasari dibangunnya menara ini adalah untuk meninggikan diri atau mencari popularitas semata, bukan untuk memuliakan nama Tuhan.  Tuhan tidak suka terhadap orang-orang yang meninggikan diri atau berlaku sombong, karena itu Tuhan mengacaubalaukannya.  Pada akhirnya menara Babel tersebut tidak berhasil dibangun seperti yang mereka inginkan, yaitu puncaknya sampai ke langit, sebab Tuhan telah mengacaukan bahasa mereka ke dalam berbagai bahasa.  Dari sanalah semua bahasa di dunia berasal,  ketika Tuhan mengacaukan bahasa mereka dan menyerakkan mereka.  Kata  'Babel'  berarti kekacauan.

     Di zaman sekarang ini banyak orang sangat haus akan ketenaran, popularitas dan kejayaan!  Dengan kemampuan yang dimiliki mereka berusaha meraih semua yang diinginkan, dan ketika itu terwujud, mereka lupa diri.  Itulah awal kesombongan atau keangkuhan seseorang!  Tak seharusnya manusia berlaku sombong!  Firman Tuhan menegaskan,  "Manusia yang sombong akan direndahkan, dan orang yang angkuh akan ditundukkan;"  (Yesaya 2:11).

Kita ini tak lebih daripada embusan nafas, tak sepantasnya menyombongkan diri!

Monday, January 11, 2021

PEMBERITA INJIL: Kristus Saja Yang Diberitakan

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 Januari 2021

Baca:  Filipi 1:12-26

"Mereka ini memberitakan Kristus karena kasih, sebab mereka tahu, bahwa aku ada di sini untuk membela Injil, tetapi yang lain karena kepentingan sendiri dan dengan maksud yang tidak ikhlas,"  Filipi 1:16-17

Dalam suratnya kepada jemaat di Filipi rasul Paulus menyatakan bahwa tidak semua hamba Tuhan atau pemberita Injil memiliki motivasi yang benar dalam melayani pekerjaan Tuhan:  ada yang benar-benar melayani Tuhan dengan hati yang tulus ikhlas dan dilandasi kasih, namun masih ada yang mengerjakan tugas pelayanannya dengan motif terselubung:  demi popularitas atau mencari nama, terlihat hebat, unjuk kebolehan, tendensi ekonomi  (mengejar keuntungan, materi atau berkat).

     Tuhan sangat menghargai dan memperhitungkan setiap pengorbanan dan jerih lelah kita dalam pelayanan, namun faktor  'motivasi hati'  menjadi penilaian utama-Nya.  "Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati."  (Amsal 16:2).  Rasul Paulus memperhatikan:  "Ada orang yang memberitakan Kristus karena dengki dan perselisihan, tetapi ada pula yang memberitakan-Nya dengan maksud baik. Mereka ini memberitakan Kristus karena kasih, sebab mereka tahu, bahwa aku ada di sini untuk membela Injil, tetapi yang lain karena kepentingan sendiri dan dengan maksud yang tidak ikhlas, sangkanya dengan demikian mereka memperberat bebanku dalam penjara."  (Filipi 1:15-17).

     Sampai saat ini masih ada hamba-hamba Tuhan yang, dalam menyampaikan firman Tuhan, bukan Kristus fokus utama pemberitaan, tetapi pribadi sendiri yang ditonjolkan dan dikedepankan!  Yohanes Pembaptis mengingatkan,  "Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil."  (Yohanes 3:30).  Ada pula hamba Tuhan yang dalam khotbahnya sering membicarakan kelemahan atau menjatuhkan rekan sesama hamba Tuhan.  Juga ada pemberita Injil yang selalu berkata-kata manis supaya menyukakan telinga orang yang mendengarnya, tema khotbahnya selalu meninabobokan, enggan menyampaikan firman yang keras, enggan menegur dosa karena takut tak disukai oleh jemaat atau takut tak diundang lagi dalam pelayanan.

Miliki motivasi yang benar dalam melayani Tuhan dan tetaplah menjadikan Kristus sebagai tema utama pemberitaan!

Sunday, January 10, 2021

AWAS, JANGAN SAMPAI TERJATUH!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 Januari 2021

Baca:  Amsal 7:1-27

"Ia merayu orang muda itu dengan berbagai-bagai bujukan, dengan kelicinan bibir ia menggodanya. Maka tiba-tiba orang muda itu mengikuti dia seperti lembu yang dibawa ke pejagalan, dan seperti orang bodoh yang terbelenggu untuk dihukum,"  Amsal 7:21

Semua orang tanpa terkecuali, baik itu jemaat awam, pelayan Tuhan dan bahkan hamba Tuhan besar, tak ada yang kebal terhadap dosa.  Justru semakin tinggi pohon semakin kencang pula angin yang menerpanya.  Karena itu jika kita tidak berhati-hati dan waspada, kita bisa jatuh juga.  Tuhan Yesus memperingatkan,  "Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah."  (Matius 26:41).  Memang kita masih hidup di dalam daging, tetapi hal itu bukan berarti kita akan membiarkan hawa nafsu kedagingan menguasai hidup kita, sebab setiap kita yang percaya kepada Kristus adalah milik-Nya:  "Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya."  (Galatia 5:24), maka biarlah daging kita turut disalibkan bersama dengan Kristus.

     Bagaimana supaya kita tidak mudah jatuh?  Bangun manusia roh kita melalui persekutuan yang karib dengan Tuhan.  Melatih diri dalam hal ibadah dan mendisiplin diri dalam doa, niscaya Roh Kudus akan menuntun dan menguatkan kita.  "hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging."  (Galatia 5:16).  Iblis itu lihai dan sangat ahli dalam hal menjebak!  Ia selalu mencari cara dan timing yang tepat untuk menggoda dan menjerat manusia, sampai-sampai manusia tidak menyadari bila ia sudah berada dalam jebakannya.  Orang bisa jatuh dalam jebakan Iblis karena ia tidak berpegang teguh pada firman Tuhan!  "Hai anakku, berpeganglah pada perkataanku, dan simpanlah perintahku dalam hatimu. Berpeganglah pada perintahku, dan engkau akan hidup; simpanlah ajaranku seperti biji matamu. Tambatkanlah semuanya itu pada jarimu, dan tulislah itu pada loh hatimu."  (Amsal 7:1-3).

     Kita pun harus berhati-hati dalam bergaul, jangan bergaul sembarangan.  Itu berbahaya!  Kita seringkali mudah terpengaruh, tak kuasa menolak karena sungkan ajakan atau tawaran dari teman atau orang-orang terdekat.  Karena berkompromi, kita jatuh!

"Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!" 1 Korintus 10:12

Saturday, January 9, 2021

MARIA MAGDALENA: Tak Lupa Kasih Tuhan

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 9 Januari 2021

Baca:  Lukas 8:1-3

"dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat,"  Lukas 8:2

Di kalangan orang-orang Yahudi nama  'Maria'  adalah nama yang sangat umum, karena kebanyakan wanita di sana memiliki nama  'Maria'.  Wanita dari Nazaret yang menjadi isteri Yusuf dan Ibu Yesus Kristus bernama Maria;  ibu Yakobus Muda dan Yoses juga bernama Maria  (Markus 15:40);  di Betania juga ada seorang wanita bernama Maria, yang adalah saudara Marta dan Lazarus  (Yohanes 11:1);  ibu Markus juga bernama Maria  (Kisah 12:12);  di kota Roma juga ada seorang wanita yang bernama Maria  (Roma 16:6).  Maka untuk membedakan satu sama lainnya biasanya mereka menambahkan nama lain di belakang  'Maria'.

     Maria Magdalena, yang kemungkinan besar tambahan nama belakangnya diambil dari nama kota asalnya yaitu Magdala, sebuah kota kecil di bagian barat danau Galilea, adalah salah seorang pengikut Kristus mula-mula!  Ia pernah mengalami kerasukan tujuh roh jahat, yang akhirnya dipulihkan oleh Tuhan Yesus  (Markus 16:9).  Karena sudah ditolong Tuhan ia pun bertekad memberikan hidupnya untuk melayani Tuhan:  tidak hanya turut bergabung dalam pelayanan murid-murid Kristus, tapi juga turut mendukung pekerjaan Tuhan sebagai salah satu donatur.  "Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka."  (Lukas 8:3b).  Ia melihat bagaimana Tuhan Yesus disalibkan, dan kasihnya kepada Tuhan tidak pernah berubah.  Bahkan ia beserta dengan Maria ibu Yakobus dan Salome menjadi orang pertama yang mendapati kubur Tuhan Yesus kosong, karena pada pagi-pagi buta mereka pergi ke kubur dengan membawa rempah-rempah dan hendak meminyaki Dia  (Markus 16:1-2).

     Kesetian dan pengorbanan Maria Magdalena ini Tuhan perhitungkan, sehingga ia menjadi orang pertama yang Tuhan temui setelah bangkit dari kematian-Nya:  "...Ia mula-mula menampakkan diri-Nya kepada Maria Magdalena."  (Markus 16:9).

Untuk membalas kasih Tuhan yang teramat besar yang telah melepaskan dan membebaskan dia dari belenggu kuasa jahat, Maria Magdalena berkomitmen untuk melayani Tuhan dengan sungguh-sungguh!

Friday, January 8, 2021

PEREMPUAN SAMARIA: Kerinduan Bersaksi

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 Januari 2021

Baca:  Yohanes 4:1-42

"Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia."  Yohanes 4:42

Perempuan Samaria ini memiliki masa lalu yang kelam karena ia sudah memiliki lima suami dan tinggal dengan seorang pria lagi yang bukan suaminya  (Yohanes 4:18).  Tetapi ketika mengalami perjumpaan pribadi dengan Yesus ia mengalami jamahan-Nya dan hidupnya diubahkan.  Begitu mendengar apa yang Yesus katakan ia percaya dan kemudian membuat keputusan untuk bertobat, menerima-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat.

     Bukan hanya percaya, perempuan ini juga tergerak untuk bersaksi,  "'Aku tahu, bahwa Mesias akan datang, yang disebut juga Kristus; apabila Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami.' Kata Yesus kepadanya: 'Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau.'"  (Yohanes 4:25-26).  Ia pun meninggalkan tempayannya dan pergi ke kota untuk menceritakan hal itu kepada orang-orang  (Yohanes 4:29-30),  "...banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepada-Nya karena perkataan perempuan itu, yang bersaksi:"  (Yohanes 4:39).  Perempuan Samaria ini tidak malu bersaksi walaupun ia memiliki masa lalu kelam.  Berjumpa dengan Mesias membuat hidupnya diubahkan!  Melalui kesaksiannya, orang-orang Samaria yang selama ini jauhi dan dimusuhi oleh para imam, kaum Lewi dan para ahli Taurat, justru cepat membuka hati untuk percaya kepada Kristus.  Sementara para imam, kaum Lewi dan ahli Taurat yang tahu kebenaran dan mengajarkan kebenaran, mudah sekali melihat kesalahan orang lain, mudah menghakimi, tak hidup dalam pertobatan yang sesungguhnya.

     Anda pasti pernah ditolong Tuhan, bukan?  Sudahkah kita menyaksikan kebaikan Tuhan itu kepada orang lain?  Mengapa banyak orang Kristen merasa sulit bersaksi?  Karena mereka belum mengalami jamahan kuasa Tuhan.  Orang yang belum pernah dijamah Tuhan, sekalipun sudah banyak mengalami pertolongan Tuhan, menganggap semua sebagai hal yang biasa.  Itulah sebabnya mereka merasa tak punya kesaksian hidup untuk dibagikan kepada orang lain.

Seorang yang mengalami kebaikan Tuhan takkan menahan bibirnya untuk selalu bersaksi!

Thursday, January 7, 2021

MENJALANI HIDUP SEBAGAI MANUSIA BARU

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 7 Januari 2021

Baca:  Efesus 4:17-32

"yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan,"  Efesus 4:22

Rasul Paulus kembali menegaskan bahwa setiap orang yang ada di dalam Kristus adalah ciptaan baru, karena itu kita harus menanggalkan manusia  'lama'  dan mengenakan manusia  'baru', sebab Tuhan telah memberi kita  "...hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat."  (Yehezkiel 36:26).  Jadi kita tidak boleh hidup seperti orang-orang yang tidak mengenal Kristus.  "Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup." (1 Yohanes 2:6), dan Roh Kudus akan menolong dan mengajar kita bagaimana harus menjalani hidup.

     Hidup sebagaimana Kristus hidup berarti benar-benar menjalani hidup sebagai manusia baru, sebab manusia lama kita telah disalibkan dan dikuburkan dalam kematian Kristus  (Roma 6:6).  Ketika orang percaya kepada Kristus saat itu juga Tuhan memperhitungkan bahwa ia telah mati dan dikuburkan bersama dengan-Nya, yang disimbolkan melalui baptisan air.  Oleh karena itu perbuatan dan tabiat dosa manusia lama harus benar-benar ditanggalkan  (Kolose 3:9).  Manusia lama menunjuk kepada apa yang dilakukan oleh orang di luar Kristus, yaitu hidup menurut keinginan sendiri, menuruti keinginan daging dan hidup memuaskan hawa nafsunya.  Ini adalah gambaran keadaan manusia yang rusak karena dosa.  Karena hidup kita telah ditebus melalui pengorbanan Kristus, maka kita diperintahkan bersikap tegas terhadap dosa, tidak lagi berkompromi dengan dosa, tidak lagi turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan gelap.

     Menanggalkan cara hidup lama seperti orang yang menanggalkan bajunya yang kotor, lalu mengenakan pakaian baru:  "...dan mengenakan manusia baru,"  (Efesus 4:24).  Menjadi manusia baru berbicara tentang pembaharuan secara roh yang dikerjakan oleh Roh Kudus dalam hidup seseorang.  Ada dua kata dalam bahasa Yunani yang berarti  'baru', yaitu  neos  (baru saja dibuat), dan kainos yang berarti baru dalam hal mutu atau kualitas.

Hidup sebagai manusia baru berarti benar-benar meninggalkan dosa dan hidup sepenuhnya bagi Tuhan!

Wednesday, January 6, 2021

BERLAKULAH SETIA DI SEGALA SITUASI!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 6 Januari 2021

Baca:  Mazmur 37:1-40

"Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia,"  Mazmur 37:3

Kesetiaan adalah salah satu karakter penting yang harus dimiliki semua orang, sebab dalam hubungan dengan sesama, rumah tangga, bisnis, pekerjaan, terlebih-lebih dalam hubungan dengan Tuhan dan pelayanan, kesetiaan sangatlah diperlukan.  Semua orang percaya tahu bahwa kesetiaan adalah bagian dari buah Roh  (Galatia 5:22-23).

     Tak mudah menjadi orang yang setia!  Ketika berada dalam situasi baik, enak dan nyaman adalah hal yang gampang.  Namun bagaimana ketika  'perahu'  hidup kita sedang dihantam oleh ombak, gelombang dan badai dahsyat?  Masihkah kita berlaku setia di hadapan Tuhan?  Terkadang orang menyatakan komitmen untuk setia mengiring Kristus dan melayani Dia dengan sungguh-sungguh, namun dalam praktiknya tidak sesuai dengan apa yang diucapkan!  Apalagi ketika terbentur dengan masalah, tantangan atau kesulitan, mereka mulai meragukan kasih dan kuasa Tuhan.  Ternyata berlaku setia di segala situasi tak semudah membalikkan telapak tangan!  Karena itu jarang sekali didapati orang yang benar-benar setia.  "Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?"  (Amsal 20:6).  Pengertian  'setia'  adalah berpegang teguh pada janji, pendirian kokoh, tidak tergoyahkan, patuh, taat, tidak berubah, konsisten, layak dipercaya.  Tuhan menginginkan anak-anak-Nya hidup setia di hadapan-Nya!  "Segala yang kuperintahkan kepadamu haruslah kamu lakukan dengan setia, janganlah engkau menambahinya ataupun menguranginya."  (Ulangan 12:32)  dan  "...Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri."  (Ulangan 5:32).  Tuhan menyediakan berkat-berkat-Nya bagi orang yang setia!  "...akan mengangkat engkau di atas segala bangsa yang telah dijadikan-Nya, untuk menjadi terpuji, ternama dan terhormat."  (Ulangan 26:19).

     Sekecil apa pun hal yang Tuhan percayakan, lakukan itu dengan setia!  Ketika kita setia dalam perkara kecil, pada saatnya Tuhan pasti mempercayakan perkara besar kepada kita.  Tetapi Tuhan akan menyembunyikan wajah-Nya terhadap orang-orang yang tidak setia  (Ulangan 32:20).

"Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan." Wahyu 2:10

Tuesday, January 5, 2021

KEWAJIBAN ANAK: Taat Kepada Orang Tua

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 5 Januari 2021

Baca:  Amsal 4:1-27

"Dengarkanlah, hai anak-anak, didikan seorang ayah, dan perhatikanlah supaya engkau beroleh pengertian,"  Amsal 4:1

Taat dan hormat kepada orangtua adalah tugas utama seorang anak!  Kata  'taat'  (hupakouo)  berarti:  tunduk kepada, menuruti, mendengarkan, memperhatikan, mengikuti pengajaran.  Taat yang bagaimana?  Rasul Paulus menasihati,  "Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian."  (Efesus 6:1).  Artinya ketaatan kepada orangtua adalah perintah Tuhan!  Meski demikian perintah menaati orang tua di dalam Tuhan ada batasannya:  apabila orangtua tidak hidup sesuai dengan firman Tuhan, hidup menyimpang dari kehendak Tuhan, maka anak tidak harus taat...  berarti ada PR besar bagi para orangtua!  Apabila orangtua rindu memiliki anak-anak yang taat ia harus mendidik mereka sedari dini, mengajarkan nilai-nilai firman Tuhan kepada anak-anak berulang-ulang dan tak lupa harus memberikan teladan hidup.

     Alkitab menyatakan bahwa taat dan menghormati orangtua termasuk dalam Sepuluh Hukum Tuhan, bahkan berada dalam urutan setelah perintah-perintah yang berhubungan dengan Tuhan:  "Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu..."  (Keluaran 20:12).  Menghormati berarti taat, menunjukkan rasa hormat, kebaikan, kesopanan dan kepatuhan.  Dalam aturan-aturan hukum Taurat ada sanksi yang berat bagi anak yang tak menghormati orangtua, apalagi sampai mengutuki orangtua:  "Apabila ada seseorang yang mengutuki ayahnya atau ibunya, pastilah ia dihukum mati; ia telah mengutuki ayahnya atau ibunya, maka darahnya tertimpa kepadanya sendiri."  (Imamat 20:9).  Kendati demikian perintah menghormati orangtua tersebut diberikan bukan tanpa batas, yaitu tidak boleh melebihi penghormatan dan kepatuhan kita kepada Tuhan.  Ada tertulis:  "Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku;"  (Matius 10:37).

     Zaman sekarang ini banyak anak muda suka membantah;  mereka tidak hormat kepada orangtua, memberontak dan tidak tahu berterima kasih  (2 Timotius 3:1-4). 

Anak harus taat kepada orangtua!  Ini adalah perintah Tuhan yang tidak boleh dilanggar.

 Catatan:   
"Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia. Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan. Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya."  Kolose 3:18-21

Monday, January 4, 2021

IBUKU, PAHLAWAN KELUARGAKU

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 4 Januari 2021

Baca:  Kejadian 17:1-27

"Aku akan memberkatinya, dan dari padanya juga Aku akan memberikan kepadamu seorang anak laki-laki, bahkan Aku akan memberkatinya, sehingga ia menjadi ibu bangsa-bangsa; raja-raja bangsa-bangsa akan lahir dari padanya."  Kejadian 17:16

Sebuah ungkapan yang menyatakan bahwa kasih anak sepanjang galah dan kasih ibu sepanjang masa, banyak benarnya.  Seringkali terjadi ada anak yang tega menelantarkan ibunya ketika sang ibu sudah menjadi tua dan tiada berdaya.  Karena tidak mau direpotkan, anak-anak tega menitipkan ibunya di panti jompo.  Mereka lupa dengan pengorbanan dan jerih lelah ibunya yang telah merawat dan membesarkan mereka sejak mereka bayi.  Peran ibu bagi keluarganya seringkali dipandang remeh, kurang dihargai, dipandang sebelah mata, padahal perjuangannya sungguh sangat tidak mudah.  Ibu berkorban tanpa pamrih, artinya semua dilakukan dengan tulus ikhlas, tidak butuh pengakuan dari orang lain, semata-mata hanya dilandasi karena kasih.

     Tidak dapat dipungkiri bahwa kasih ibu sudah ada sejak anak masih dalam kandungan!  Yokhebed yang artinya  'Tuhan adalah kemuliaan'  adalah contoh wanita yang bukan hanya cakap mengurus rumah tangga, tapi juga punya iman yang luar biasa kepada Tuhan, bahkan karena kasihnya yang besar ia rela berkorban bagi anak-anaknya.  Ia berani mempertaruhkan keselamatan nyawanya demi mempertahankan bayi Musa dengan menyembunyikan selama tiga bulan:  "Karena iman maka Musa, setelah ia lahir, disembunyikan selama tiga bulan oleh orang tuanya, karena mereka melihat, bahwa anak itu elok rupanya dan mereka tidak takut akan perintah raja."  (Ibrani 11:23).  Pada waktu itu situasi sangat mencekam karena raja Firaun memberikan perintah untuk membunuh setiap anak laki-laki Ibrani yang baru lahir.  Karena tindakan berani Yokhebed ini bayi Musa selamat karena ditemukan oleh puteri Firaun di sungai dan diangkat menjadi puteranya.

     Karena campur tangan Tuhan Yokhebed pun menjadi inang asuh bagi bayi Musa, sehingga ia dapat membesarkan dan mendidik anaknya sendiri dengan firman Tuhan.  Seorang ibu yang mengasihi anak-anaknya sedemikian rupa dan memiliki hati yang takut akan Tuhan ibarat pahlawan bagi keluarga.

Tak banyak orang menyadari, dari sentuhan tangan seorang ibu yang tulus dan penuh kasih lahirlah pemimpin-pemimpin dan raja-raja besar.

Sunday, January 3, 2021

PERAN AYAH DI KELUARGA: Masa Depan Anak

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 3 Januari 2021

Baca:  Kolose 3:18-25

"Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya."  Kolose 3:21

Firman Tuhan menegaskan bahwa seorang pria memegang peranan sebagai kepala di dalam sebuah keluarga, tapi dalam praktik hidup sehari-hari fungsi seorang pria  (ayah)  seringkali kurang maksimal, karena banyak orang beranggapan bahwa peran utama ayah dalam keluarga adalah sebagai pencari nafkah bagi keluarganya, sehingga waktunya pun banyak tersita di luar rumah.  Kesempatan bertemu dengan anak-anak menjadi sangat terbatas.  Saat ayah pulang kerja anak sudah tertidur pulas;  setelah bekerja seharian, sesampai di rumah ayah sudah merasa capai dan tak lagi punya waktu untuk anak-anaknya.  Kita lupa bahwa di atas pundak seorang ayah ada sebuah amanah penting yang Tuhan percayakan, yaitu membawa seisi keluarga mendekat kepada Tuhan, menanamkan nilai-nilai kebenaran dan mengajarkannya kepada anak-anak.

     Rasul Paulus mengingatkan kembali peran ayah dalam keluarga yaitu  "...seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya."  (1 Timotius 3:4).  Dalam hal ini peran seorang ayah dalam keluarga adalah sebagai pemimpin yang baik, disegani, dihormati anak-anaknya.  Apabila seorang ayah tidak mampu menjalankan perannya sebagai pemimpin yang baik bagi keluarga, ini sangat berbahaya, karena ia seringkali menjalankan tugas kepemimpinannya secara otoriter, tak mau menerima kritikan dan masukan dari isteri maupun anak-anaknya.  Kepemimpinan itu butuh keteladanan!  Keteladanan hidup seorang ayah adalah hal paling utama dalam keluarga.  Keteladanan berbicara tentang hidup yang menjadi kesaksian atau berdampak.  Bila seorang ayah tidak bisa memberikan teladan hidup yang baik dalam hal perkataan dan perbuatan sehari-hari, sulit rasanya ia membawa keluarganya mendekat kepada Tuhan.

     Tuhan menempatkan ayah sebagai tipologi keberadaan Kristus di tengah-tengah keluarga, maka dari itu seorang ayah harus tahu bagaimana cara mendidik anak yang tepat, yang sesuai kehendak Tuhan, dan yang terutama adalah memberikan teladan hidup.  Ini adalah kunci agar dapat membawa seluruh keluarga untuk mendekat kepada Tuhan dan memiliki hati yang takut akan Dia!

Keteladanan ayah dalam keluarga menentukan masa depan anak-anaknya!

Saturday, January 2, 2021

MELIBATKAN TUHAN: Menghormati Tuhan

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 2 Januari 2021

Baca:  2 Samuel 5:17-25

"Dan Daud berbuat demikian, seperti yang diperintahkan TUHAN kepadanya, maka ia memukul kalah orang Filistin, mulai dari Geba sampai dekat Gezer."  2 Samuel 5:25

Ketika itu Daud telah diurapi menjadi raja Israel.  Ia punya segalanya:  jabatan, kekayaan dan tentara.  Setelah tahu bahwa Daud menjadi raja Israel, orang-orang Filistin berusaha menangkap dia dan bisa jadi tujuannya adalah untuk menghabisi nyawanya.

     Ketika mendengar hal itu Daud tidak langsung bertindak dengan menghimpun kekuatan dan mengumpulkan orang-orang pilihan atau pasukan tentaranya lalu mengatur strategi perang menghadapi orang-orang Filistin, atau meminta nasihat kepada penasihat pribadinya sebagaimana biasa dilakukan oleh pemimpin atau raja.  Hal pertama yang Daud lakukan adalah datang kepada Tuhan untuk bertanya kepada-Nya tentang apa yang harus diperbuat,  "'Apakah aku harus maju melawan orang Filistin itu? Akan Kauserahkankah mereka ke dalam tanganku?' TUHAN menjawab Daud: 'Majulah, sebab Aku pasti akan menyerahkan orang Filistin itu ke dalam tanganmu.'"  (2 Samuel 5:19).  Daud tidak pernah melupakan Tuhan di setiap langkah hidupnya, ia selalu melibatkan Tuhan di setiap keputusan dan tindakan, ia selalu mengandalkan Tuhan.  Dengan kata lain Daud tidak bertindak dengan kekuatan sendiri, tidak mengandalkan kepintaran atau kehebatannya, dan tidak membangga-banggakan pengalaman yang dimiliki.

     Daud sadar apalah artinya hidup ini tanpa Tuhan!  Di sepanjang perjalanan hidupnya ia memiliki pengalaman hidup yang luar biasa bahwa Tuhan adalah tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangatlah terbukti  (Mazmur 46:2).  Ini menunjukkan betapa Daud punya kepekaan rohani:  suatu kemampuan untuk memahami dan menempatkan kehendak Tuhan sebagai yang terutama.  Seorang yang peka rohani selalu belajar bagaimana agar hidupnya selaras dan seirama dengan hati Tuhan.  Sebelum bertindak Daud bertanya kepada Tuhan, dan setelah mendengar jawabannya ia pun taat melakukan apa yang Tuhan perintahkan  (ayat nas).  Karena selalu melibatkan Tuhan dan mengandalkan-Nya Daud berhasil memukul kalah orang-orang Filistin.

Melibatkan Tuhan dalam segala hal adalah bukti bahwa seseorang sangat menghormati Tuhan dan menghargai Dia!

Friday, January 1, 2021

TUNTUNAN TUHAN DI TAHUN 2021

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 1 Januari 2021

Baca:  Keluaran 33:1-23

"Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini."  Keluaran 33:15

Segudang rencana, harapan dan keinginan kita bawa memasuki hari baru di tahun yang baru ini.  Kita berharap semua kegagalan di hari-hari yang lalu takkan terulang lagi.  Hari ini adalah waktu yang tepat untuk berefleksi dan melakukan kontemplasi:  mengapa aku gagal?  Mengapa rencanaku berantakan?  Mengapa keinginanku belum juga terwujud?  Mungkin selama ini kita menjalani hidup dengan mengandalkan kekuatan sendiri, merasa mampu tanpa perlu bimbingan Tuhan, merasa tak membutuhkan campur tangan Tuhan.

     Memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir menuju ke tanah Kanaan adalah tugas yang tak mudah bagi Musa.  Karena itu Musa sangat membutuhkan bimbingan dan penyertaan Tuhan, dan sejak awal penyertaan Tuhan atas mereka sungguh nyata.  Namun di tengah perjalanan, bangsa Israel berubah tidak setia terhadap Tuhan dengan membuat patung anak lembu emas untuk disembah  (Keluaran 32:1-4);  mereka lupa dengan pertolongan Tuhan, penyertaan-Nya, kasih-Nya dan perbuatan ajaib-Nya.  Perbuatan mereka benar-benar menyakitkan hati Tuhan dan menimbulkan kemarahan-Nya!  "...Aku tidak akan berjalan di tengah-tengahmu, karena engkau ini bangsa yang tegar tengkuk, supaya Aku jangan membinasakan engkau di jalan."  (Keluaran 33:3).  Akhirnya Tuhan menyuruh Musa untuk tetap berangkat membawa bangsa Israel ke negeri yang Ia janjikan dengan mengutus malaikat-Nya berjalan di depan mereka.  Ini menyedihkan hati Musa!  Musa keberatan bila harus berjalan tanpa penyertaan Tuhan,  "...jika aku kiranya mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, beritahukanlah kiranya jalan-Mu kepadaku, sehingga aku mengenal Engkau, supaya aku tetap mendapat kasih karunia di hadapan-Mu."  (Keluaran 33:13).  Musa menyadari keterbatasan dan ketidakberdayaannya, karena itu ia sangat membutuhkan penyertaan Tuhan.

     Kita tak tahu apa yang terjadi esok, yang pasti tantangan yang akan kita hadapi di tahun 2021 ini semakin berat.  Setiap hari adalah perjalanan hidup yang baru, karena itu kita membutuhkan uluran tangan Tuhan untuk menuntun langkah kita!

Penyertaan Tuhan adalah yang terutama dalam hidup ini, tanpa-Nya kita takkan mampu.

Thursday, December 31, 2020

PERHATIKANLAH HIDUPMU LEBIH LAGI!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 31 Desember 2020

Baca:  Pengkhotbah 9:1-12

"Karena manusia tidak mengetahui waktunya. Seperti ikan yang tertangkap dalam jala yang mencelakakan, dan seperti burung yang tertangkap dalam jerat, begitulah anak-anak manusia terjerat pada waktu yang malang, kalau hal itu menimpa mereka secara tiba-tiba."  Pengkhotbah 9:12

Hidup di dunia ini adalah suatu perjalanan yang harus kita tempuh setapak demi setapak, detik demi detik, jam demi jam, hari demi hari, seperti seorang musafir yang sedang menempuh perjalanan panjang dan melelahkan.  Terkadang di tengah perjalanan ia harus berhadapan dengan penyamun yang mencoba menghadang, ada ujian, tantangan, pencobaan.  Oleh karena itu  "...Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif,"  (Efesus 5:15).  Kata  'saksama'  artinya sangat berhati-hati, penuh ketelitian.  Firman Tuhan menasihati kita agar berlaku seperti orang arif, bukan seperti orang bebal.

     Orang yang berlaku bebal adalah orang yang tidak bijaksana, yang menjalani hidup dengan sembrono, hanya memusatkan perhatian kepada perkara-perkara duniawi saja, mengandalkan kekuatan sendiri dan hidup menyimpang dari kehendak Tuhan.  Tetapi orang yang berlaku arif adalah orang yang memperhatikan langkahnya dengan kehati-hatian, selalu menyikapi setiap keadaan atau peristiwa dengan respons hati yang benar.  Ia berusaha supaya hidupnya berkenan kepada Tuhan, karena itu pandangannya selalu terarah kepada perkara-perkara yang di atas:  "...carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada...Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi."  (Kolose 3:1-2), sehingga ia tidak asal menjalani hidup, tapi memperhatikannya dengan saksama agar tetap hidup di jalan-jalan Tuhan.  Ia menghargai waktu sebagai berkat yang sangat beharga dari Tuhan.  Menghargai waktu berarti menggunakan waktu dan kesempatan dengan sebaik mungkin.  Mengapa kita harus menggunakan waktu dengan sebaik mungkin?  "...karena hari-hari ini adalah jahat."  (Efesus 5:16).

     Sepanjang tahun 2020 yang telah berlalu tak terhitung banyaknya waktu dan kesempatan yang telah kita biarkan berlalu begitu saja tanpa makna.

Jika Tuhan masih memberi kita kesempatan untuk menatap hari esok, ini adalah waktu yang tepat untuk kita berlaku bijak, tidak lagi berlaku bebal!

Wednesday, December 30, 2020

PROSES PENAJAMAN YANG MENDEWASAKAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 30 Desember 2020

Baca:  Amsal 27:1-27

"Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya."  Amsal 27:17

Perjalanan hidup setiap orang pasti penuh dengan warna:  ada suka, ada duka, ada manis, ada pahit, ada kegagalan, ada keberhasilan, ada kekalahan, ada kemenangan, ada yang menyenangkan, ada yang menyakitkan, dan masih banyak lagi.  Oleh karena itu setiap orang mempunyai dua jenis memori yang tersimpan di dalam pikiran:  memori positif dan memori negatif.  Memori positif berisikan rentetan peristiwa, kejadian atau kenangan yang membahagiakan, menyenangkan, membangkitkan semangat hidup.  Sementara memori negatif berisikan kenangan, pengalaman, peristiwa atau segala hal yang menimbulkan kekecewaan, luka, sakit hati, kecewa, mematahkan semangat hidup.

     Memori mana yang sering muncul di pikiran atau yang sering kita ingat-ingat?  Apakah hati dan pikiran kita dibelenggu oleh kenangan-kenangan masa lalu yang menyakitkan yang membuat kita tidak bisa move on?  Selama kita masih terbelenggu oleh masa lalu yang kelabu, kita takkan pernah bisa menatap hari esok dengan pasti, karena kita masih menoleh ke belakang.  "...marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita,...Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman..."  (Ibrani 12:1-2).  Ingat!  Masa lalu itu sudah berlalu dan takkan mungkin bisa terulang kembali.  Kita takkan bisa memperbaiki masa lalu, yang bisa kita lakukan adalah mengisi waktu sekarang dengan sebaik mungkin, tanpa terpengaruh pada pengalaman masa lalu yang menyakitkan.  Jadikan masa lalu sebagai pemelajaran hidup!  Mungkin saja Tuhan mengijinkan kita mengalami hal-hal pahit di masa lalu dengan maksud yang indah, yaitu Ia hendak menajamkan karakter kita, melatih kesabaran, melatih iman, melatih ketekunan, menguji kesetiaan, melatih penguasaan diri, mengajar mengampuni orang lain dan sebagainya.

     Hari ini adalah penghujung tahun 2020!  Biarlah apa yang sudah terjadi dan kita alami sepanjang tahun ini menjadi pendorong kita untuk lebih maju, tak lagi mengulang kembali kesalahan dan kegagalan.

Jangan biarkan Iblis mengintimidasi dan menghalangi langkah menyambut esok!