Tuesday, December 29, 2020

MAUKAH MEMBAYAR HARGA BAGI TUHAN?

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 29 Desember 2020

Baca:  Markus 8:31-38

"Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya."  Markus 8:35

Semua yang ada di dunia ini memiliki nilai atau harga!  Contohnya suatu barang:  barang akan berharga mahal dan bernilai tinggi apabila barang tersebut memiliki kualitas yang sangat bagus.  Untuk menjadi suatu barang yang berharga mahal dan bernilai tinggi pasti melewati proses yang tidak instan.  Sebaliknya sebuah barang yang kualitasnya tidak bagus tak mungkin berharga mahal, sudah pasti berharga murah atau bernilai rendah, karena mungkin proses pembuatannya pun tak memakan waktu lama.  Begitu pula untuk menjadi orang yang berhasil atau memiliki reputasi baik di semua bidang kehidupan pun, ada harga yang harus dibayar.  Untuk menjadi atlit berprestasi haruslah membayar harga dengan berlatih secara disiplin setiap hari, menjaga pola makan, mengesampingkan kesenangan masa remaja atau masa muda demi satu tujuan yaitu meraih prestasi setinggi mungkin.  Asal saja kita mau membayar harga, semua hal yang menjadi keinginan, kerinduan, dan harapan, pasti dapat dicapai!

     Begitu pula dalam pengiringan kita akan Kristus!  Kita tak perlu membayar apa-apa untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, bahkan anugerah keselamatan diberikan-Nya kepada kita cuma-cuma.  "...dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus."  (Roma 3:24), modal kita hanyalah percaya kepada-Nya!  Namun untuk mengiring dan melayani Dia ada harga yang harus kita bayar:  "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku."  (Markus 8:34).

     Menyangkal diri dan memikul salib, itulah harganya!  Menyangkal diri:  mematikan segala keinginan duniawi yaitu keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup  (1 Yohanes 2:16).  Memikul salib:  rela menderita karena nama Kristus, menjadikan Dia yang terutama, tunduk sepenuhnya kepada kehendak-Nya dan mengesampingkan kepentingan diri sendiri demi Kristus.  Inilah yang disebut dedikasi atau pengabdian diri!

Tanpa mau membayar harga  (taat sepenuh kepada kehendak-Nya)  kita takkan layak di hadapan-Nya!

Monday, December 28, 2020

SIAPKAH MENJADI REKAN KERJA TUHAN?

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 28 Desember 2020

Baca:  1 Korintus 3:1-9

"Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi?"  1 Korintus 3:3b

Rasul Paulus terdorong untuk menulis surat kepada jemaat di Korintus karena ia melihat ada masalah yang terjadi di antara jemaat Tuhan di kota itu:  perselisihan dan konflik di dalam gereja.  Jika perselisihan dan konflik tersebut tidak segera diatasi, dibereskan, atau dicari akar permasalahannya, akan sangat berbahaya karena dapat menghambat pertumbuhan iman dan bahkan dapat menghancurkan kesatuan jemaat Tuhan.

     Rasul Paulus menegaskan kepada jemaat di Korintus bahwa dia dan Apolos adalah sama-sama pelayan Tuhan, alat-alat-Nya Tuhan yang merupakan rekan sekerja di ladang Tuhan, yang masing-masing memiliki karunia yang berbeda-beda tapi saling melengkapi.  Jika kita berhasil dalam pelayanan, banyak orang bisa kita menangkan dan bertobat, itu bukan karena kita hebat, bukan karena kita punya karunia yang lebih dari yang lain, bukan karena kita berjasa, tapi semuanya karena pekerjaan Roh Kudus.  Seperti sebuah kebun atau ladang, ada yang bertugas menanam benih, ada yang bertugas menyiram tanaman, sedangkan yang memberi pertumbuhan atau menumbuhkan benih adalah Tuhan sendiri.

     Sekarang bukan waktunya berdebat, saling menyalahkan atau membentuk kelompok-kelompok atau kubu, melainkan kita harus bersatu saling bergandengan tangan mengerjakan perintah Tuhan ini:  "...pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu."  (Matius 28:19-20).  Sebagai orang yang telah diselamatkan kita harus siap dan bersedia menjadi rekan kerja Tuhan yaitu turut ambil bagian dalam menuai jiwa-jiwa karena ladang Tuhan sudah menguning.  Untuk menjadi rekan sekerja Tuhan terlebih dahulu kita harus memiliki hati yang siap dan mau dibentuk oleh Tuhan, mau belajar dan diajar seperti seorang murid yang memberi diri untuk diajar oleh gurunya:  "Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid."  (Yesaya 50:4b).

"Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu."  Yohanes 20:21b

Sunday, December 27, 2020

MELEKAT KEPADA TUHAN: Pasti Menghasilkan Buah (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 27 Desember 2020

Baca:  Yohanes 15:1-8

"Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku."  Yohanes 15:8

Hidup yang berbuah adalah salah satu pertanda kerohanian seseorang bertumbuh dan mencapai kedewasaan rohani!  Melalui buah yang dihasilkan, selain nama Tuhan dipermuliakan, juga sebagai pertanda seseorang adalah murid Tuhan  (ayat nas).  Secara sederhana, ranting yang menghasilkan buah adalah gambaran dari seorang Kristen yang hidupnya menjadi berkat.  Ada tertulis:  "Jikalau suatu pohon kamu katakan baik, maka baik pula buahnya; jikalau suatu pohon kamu katakan tidak baik, maka tidak baik pula buahnya. Sebab dari buahnya pohon itu dikenal."  (Matius 12:33).  Untuk mengenali pohon dan jenisnya, bukan dilihat dari batang, daun, atau dahan, melainkan dari buahnya.

     Prinsip penting yang harus dipahami adalah suatu tanaman takkan mungkin berbuah dalam waktu singkat, tapi butuh proses yang relatif panjang, tergantung pohon dan jenis tanamannya.  Untuk bisa berbuah  (menjadi berkat)  ada harga yang harus dibayar, yaitu membiarkan Tuhan memangkas dan membersihkan karakter atau kebiasaan hidup yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya.  Ranting yang dibersihkan justru memberikan kesempatan bagi pohon untuk menghasilkan bahan makanan yang cukup, yang kemudian disalurkan ke batang dan akhirnya kepada buah.  Proses pembersihan atau pemangkasan dari Tuhan ini bisa melalui masalah dan ujian.  Dibersihkan itu sakit secara daging, tapi mendatangkan kebaikan bagi kita.  Ketika kita mau tunduk pada prosesnya Tuhan ini, Tuhan akan memberikan perhatian secara khusus kepada kita.

     Setidaknya ada tiga buah yang harus dihasilkan oleh setiap orang percaya:  a.  Buah pertobatan.  "Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan."  (Matius 3:8).  b.  Buah karakter.  Ini berbicara tentang Roh:  "...kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri."  (Galatia 5:22-23).  c.  Buah pelayanan.  Ketika hidup kita menjadi kesaksian yang baik, kita akan mudah memenangkan jiwa bagi Tuhan, sebab kesaksian hidup adalah penginjilan yang paling efektif untuk memenangkan jiwa.

Ada berkat bagi orang percaya yang hidupnya berbuah bagi Tuhan:  doa dan kerinduannya beroleh jawaban dari Tuhan  (Yohanes 15:7).

Saturday, December 26, 2020

MELEKAT KEPADA TUHAN: Pasti Menghasilkan Buah (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 26 Desember 2020

Baca:  Yohanes 15:1-8

"Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya."  Yohanes 15:5a

Tanaman anggur merupakan tanaman khas yang dimiliki oleh hampir setiap petani di Israel di masa-masa dulu, selain gandum dan tanaman buah-buahan lainnya.  Tuhan menggambarkan umat Israel sebagai pohon anggur pilihan-Nya.  Sayang mereka yang dipelihara Tuhan sedemikian rupa justru mengecewakan hati Tuhan karena tak menghasilkan buah seperti yang Ia harapkan.  "...Aku telah membuat engkau tumbuh sebagai pokok anggur pilihan, sebagai benih yang sungguh murni. Betapa engkau berubah menjadi pohon berbau busuk, pohon anggur liar!"  (Yeremia 2:21).

     Melalui perumpamaan tentang Pokok Anggur ini ada dua hal penting yang menjadi pemelajaran bagi orang percaya:  1.  Persekutuan yang karib dengan Tuhan.  'Ranting'  layaknya harus melekat pada pokok anggur.  Jika tidak, sampai kapan pun ranting tak akan bisa bertumbuh, apalagi berbuah.  Jika ranting tidak berbuah dalam jangka waktu tertentu pastilah akan dipotong.  Ranting yang dipotong tentu akan mengering dan mati karena tidak mendapatkan asupan makanan.  Ranting itu tiada guna lagi, ia akan dibuang dan kemudian dicampakkan ke dalam api, lalu dibakar  (Yohanes 15:6).  Karena itu membangun persekutuan yang karib dengan Tuhan adalah hal mutlak, yang harus ditaati.  "Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku."  (Yohanes 15:4).

     2.  Menghasilkan buah.  Syarat utama untuk dapat menghasilkan buah adalah melekat pada pokok anggur.  "Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa."  (Yohanes 15:5).  Dibutuhkan kerelaan untuk diproses agar bisa bertumbuh dan berbuah!  "Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah."  (Yohanes 15:2).  Ketika kita membuka diri kepada Tuhan dengan mengijinkan Roh Kudus masuk dan tinggal di dalam hidup kita, mau tunduk pada pembentukan-Nya, mau dibersihkan-Nya, maka hidup kita siap untuk menghasilkan buah.  Memang proses itu tidak mudah dan seringkali menyakitkan!

Friday, December 25, 2020

TERANG DUNIA YANG MEMBERI HIDUP

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 25 Desember 2020

Baca:  Yesaya 60:1-22

"Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu."  Yesaya 60:1

Hari ini adalah hari yang teramat istimewa bagi kita orang percaya, yang adalah umat kepunyaan Tuhan.  Mengapa?  Karena janji pemulihan dan keselamatan bagi umat-Nya telah digenapi melalui lahirnya Sang Juruselamat.  Ini merupakan penggenapan dari nubuat yang disampaikan nabi Yesaya,  "Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar. Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita;"  (Yesaya 9:1, 5).

     Kehadiran Sang Juruselamat yang adalah Terang Dunia memberikan pengharapan yang pasti dan jaminan keselamatan kekal bagi orang yang percaya kepada-Nya.  Ini adalah bukti kasih terbesar Bapa, yang  "...telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal."  (Yohanes 3:16).  Setiap orang yang percaya kepada Kristus tidak lagi hidup dalam kegelapan, sekalipun  "...kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu."  (Yesaya 60:2).

     Sangat disesalkan, banyak orang menolak kehadiran Yesus Kristus Terang Dunia itu, padahal Dia datang membawa keselamatan bagi umat manusia.  Ini menunjukkan bahwa  "...manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang,"  (Yohanes 3:19).  Firman Tuhan menegaskan bahwa  "Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia."  (Yohanes 1:4).  Dalam bahasa Yunani ada dua kata yang dipakai untuk kata  'hidup'  yaitu bios dan zoeBios adalah hidup secara biologis sedangkan zoe adalah hidup Ilahi, hidup dalam segala berkat Ilahi.  Dalam arti rohani bios tanpa zoe adalah hidup yang jauh dari hadirat Tuhan, keberadaan tanpa berkat, hidup yang berada dalam penghukuman.  Siapakah yang dapat memberikan zoe kepada manusia?  Hanya Yesus yang sanggup, sebab Dia adalah Sumber Hidup, di dalam Dia ada berkat, keselamatan dan hidup kekal.

Tuhan Yesus datang ke dunia untuk membawa Terang dan Kehidupan, sambut Dia!

Thursday, December 24, 2020

PERSEMBAHAN TERBAIK ADALAH HIDUP KITA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 24 Desember 2020

Baca:  Matius 2:1-12

"...masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur."  Matius 2:11

Kerinduan yang besar untuk bertemu dengan Sang Juruselamat, orang-orang Majus rela menempuh perjalanan jauh dan melelahkan dari Timur ke Yerusalem.  Tujuannya?  "...untuk menyembah Dia."  (Matius 2:2b).  Ketika mereka mendapatkan bayi Yesus mereka pun langsung sujud menyembah Dia.  "Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur."  (ayat nas).  Orang-orang Majus itu tidak datang dengan tangan hampa melainkan membawa harta bendanya yang berharga untuk dipersembahkan kepada Tuhan berupa:  emas, kemenyan dan mur.  Inilah yang seharusnya dilakukan oleh setiap orang percaya ketika datang kepada Tuhan Yesus, tidak datang dengan tangan hampa, tapi membawa persembahan yang terbaik bagi-Nya.

     Pada zaman itu emas, kemenyan dan mur adalah harta yang sangat berharga, tapi mereka rela mempersembahkannya kepada Tuhan.  Emas adalah lambang kekayaan, sesuatu yang sangat berharga dalam hidup orang.  Semua yang kita miliki adalah pemberian dari Tuhan, oleh karena itu kita harus mempergunakannya untuk kemuliaan nama Tuhan!  "Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu,"  (Amsal 3:9a).  Kemenyan melambangkan penyembahan kita!  Penyembahan kita harus menjadi persembahan yang berbau harum di hadapan Tuhan.  Ini berbicara tentang persekutuan yang karib dengan Tuhan, hidup taat melakukan kehendak Tuhan, dan hidup yang menjadi berkat adalah persembahan yang harum di hadapan-Nya.

     Mur adalah tumbuh-tumbuhan yang rasanya pahit tapi sangat berkhasiat untuk bahan obat.  Ini berbicara tentang harga yang harus dibayar untuk mengikut Tuhan.  Adalah pahit dan menyakitkan secara daging ketika kita harus menyangkal diri, meninggalkan segala kenyamanan, dan melepaskan semua keterikatan dengan dunia.

Sudahkah kita berkorban dan memberi persembahan yang terbaik kepada Tuhan?

Wednesday, December 23, 2020

JADILAH PADAKU MENURUT PERKATAANMU

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 23 Desember 2020

Baca:  Lukas 1:26-38

"Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia."  Lukas 1:38

Memiliki hati seorang hamba adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh setiap orang percaya.  Berhati hamba artinya taat sepenuhnya kepada kehendak Tuhan, karena esensi hamba adalah pelayan, orang yang sepenuhnya taat pada perintah tuannya.  Jadi hati hamba dan ketaatan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan!

     Suatu ketika Maria menerima pesan dari Tuhan melalui malaikat Gabriel bahwa ia akan mengandung seorang bayi,  "Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus."  (Lukas 1:31).  Setelah mendengar perkataan itu berkatalah Maria kepada malaikat itu,  "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?"  (Lukas 1:34).  Apa yang dipertanyakan Maria adalah hal yang wajar!  Secara logika mana mungkin ia bisa mengandung, karena ia belum bersuami.  Apa kata orang nanti?  Ia pasti akan menjadi bahan pergunjingan banyak orang dan dipandang  'rendah'.  Ini adalah perkara yang tak mudah untuk diterima dan dipahami.  Bagaimanapun juga dan yang pasti tiada perkara yang mustahil bagi Tuhan!  Satu hal yang teramat penting dan patut menjadi perhatian adalah sikap hati Maria pada waktu ia menerima pesan dari Tuhan tersebut.  Setelah mendapatkan penjelasan dari malaikat Gabriel bahwa ia beroleh kasih karunia dan Tuhan, Maria memberikan respons yang luar biasa,  "'Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.' Lalu malaikat itu meninggalkan dia."  (ayat nas).  Sekalipun tak masuk akal dan sulit diterima oleh nalar, Maria mau belajar untuk taat sepenuhnya kepada kehendak Tuhan.  Inilah ketaatan yang sesungguhnya!  Ketaatan tanpa disertai persungutan dan perbantahan.

     Banyak orang Kristen seringkali melakukan tawar-menawar dengan Tuhan, berusaha menghindar disertai dengan berbagai dalih atau alasan untuk tidak taat kepada kehendak Tuhan.  Mau taat asalkan Tuhan menjawab doa-doa kita;  mau taat asalkan Tuhan meluputkan kita dari masalah;  mau taat asalkan Tuhan menyembuhkan sakit-penyakit kita.  Rasul Paulus menasihati,  "Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan,"  (Filipi 2:14).

Hamba yang berkenan kepada Tuhan adalah hamba yang mau taat tanpa syarat!

Tuesday, December 22, 2020

TUHAN SANGGUP MENGUBAH YANG BURUK

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 22 Desember 2020

Baca:  Yesaya 61:1-11

"...untuk mengaruniakan kepada mereka perhiasan kepala ganti abu, minyak untuk pesta ganti kain kabung, nyanyian puji-pujian ganti semangat yang pudar,"  Yesaya 61:3

Ketika mengalami terpaan badai permasalahan atau kegagalan, kebanyakan orang cenderung berputus asa dan menyerah kalah pada keadaan.  Mereka berpikir masalah atau kegagalan sebagai akhir dari segalanya.  Kita lupa bahwa Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan Yang Mahakuasa, Sang Pembuat Mujizat, yang sanggup mengubah kegagalan menjadi keberhasilan, kehancuran menjadi pengharapan, mengubah yang buruk menjadi baik, mengubah ratapan menjadi tari-tarian.

     Ayat nas menyatakan bahwa Tuhan mengaruniakan perhiasan kepala ganti abu, minyak untuk pesta ganti kain kabung, nyanyian pujian ganti semangat yang pudar.  Apa yang bagi manusia kegagalan, hancur lebur, menyedihkan, mendatangkan duka, atau mungkin dianggap seperti nasi yang sudah menjadi bubur, bagi Tuhan tak ada yang tak mungkin, Dia sanggup memberikan harapan baru.  Hal ini seharusnya mendorong kita tetap bersemangat dalam menjalani hidup, tak perlu menyerah kalah pada masalah.  Layaknya seorang penjunan:  "Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya."  (Yeremia 18:4), Tuhan membenahi dan membereskan semua permasalahan anak-anak-Nya.  Namun Tuhan menginginkan kerja sama kita.  Bagian kita adalah tunduk sepenuhnya pada proses Tuhan!  Kalau kita menyerah itu artinya kita membatasi kerja Tuhan dan menolak campur tangan-Nya.  Ayub, orang saleh, jujur, takut akan Tuhan dan menjauhi segala kejahatan  (Ayub 1:1), diijinkan Tuhan mengalami masalah, bahkan masalah yang sungguh teramat berat.

     Beratnya masalah yang dialami Ayub sepertinya menjadi akhir dari segalanya, mustahil dipulihkan.  Andai Ayub langsung menyerah pada keadaan, ia takkan pernah melihat perkara-perkara besar dinyatakan.  Ayub belajar tunduk pada proses:  "Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas."  (Ayub 23:10), sampai akhirnya Tuhan memulihkan dan memberkatinya dua kali lipat  (Ayub 42:10).

Jangan pernah meragukan kuasa Tuhan!  Sebab bagi Dia tak ada yang tak mungkin.

Monday, December 21, 2020

MELEKAT KEPADA TUHAN: Beroleh Kuasa Dan Urapan

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 21 Desember 2020

Baca:  2 Samuel 22:1-51

"Ia mengaruniakan keselamatan yang besar kepada raja yang diangkat-Nya, dan menunjukkan kasih setia kepada orang yang diurapi-Nya, kepada Daud dan anak cucunya untuk selamanya."  2 Samuel 22:51

Nama  'Daud'  dalam bahasa Ibrani memiliki arti:  dikasihi.  Sebagaimana arti namanya, Daud pun menjadi orang yang sangat dikasihi oleh Tuhan.

     Mengapa Daud dikasihi Tuhan?  Karena dia mengasihi Tuhan sedemikian rupa.  "Aku mengasihi orang yang mengasihi aku, dan orang yang tekun mencari aku akan mendapatkan daku."  (Amsal 8:17).  Komitmen Daud untuk hidup bergaul karib dengan Tuhan sungguh luar biasa dan patut diteladani.  Kedekatan Daud dengan Tuhan bisa dilihat dari tulisan-tulisannya di kitab Mazmur, yang hampir semuanya berisikan tentang pujian, pengagungan, kekaguman, dan pengalaman pribadinya dengan Tuhan.  Hidup bergaul karib dengan Tuhan adalah langkah awal beroleh pengurapan Tuhan.  "TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka."  (Mazmur 25:14).  Ini adalah salah satu pernyataan Daud yang menunjukkan betapa ia sangat karib dengan Tuhan:  lebih baik satu hari di pelataran Tuhan daripada seribu hari di tempat lain  (Mazmur 84:11), tujuh kali dalam sehari memuji-muji Tuhan  (Mazmur 119:164).  Karena kasihnya kepada Tuhan dan hidup karib dengan-Nya, Tuhan mengurapi Daud dengan kuasa-Nya.  Urapan inilah yang memungkinkan Daud mengerjakan perkara-perkara besar di sepanjang hidupnya:  menang dalam peperangan, mengalahkan musuh berlaksa-laksa  (1 Samuel 18:7), membunuh binatang buas yang hendak menyerang kambing domba gembalaannya, membunuh raksasa Goliat dari Filistin.  Sungguh dahsyat kuasa urapan Tuhan yang bekerja dalam diri orang pilihan-Nya, padahal sebelumnya Daud kurang dianggap oleh keluarganya, tapi  "Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku."  (Mazmur 27:10).

     Berkat bagi orang yang dekat dengan Tuhan:  "...Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku. Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkannya dan memuliakannya."  (Mazmur 91:14-15).

Perkara-perkara besar selalu menyertai kehidupan orang yang diurapi Tuhan!

Sunday, December 20, 2020

SETIAP KEADAAN MENDATANGKAN HIKMAH

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 20 Desember 2020

Baca:  Mazmur 30:1-13

"Aku yang meratap telah Kauubah menjadi orang yang menari-nari, kain kabungku telah Kaubuka, pinggangku Kauikat dengan sukacita,"  Mazmur 30:12

Tak selamanya hidup yang kita jalani ini mendatangkan sukacita dan kegembiraan, adakalanya kita diperhadapkan dengan situasi yang membawa kita larut dalam kepedihan dan ratap tangis.  Suka dan duka, tangis dan bahagia, tawa dan sedih, adalah dua sisi yang datang dan pergi dalam kehidupan ini.  Namun belajarlah untuk selalu memetik hikmah di setiap keadaan!

     Kebanyakan dari kita tak bisa menerima keadaan sulit.  Kita mengeluh, mencari-cari kesalahan orang lain, menyalahkan keadaan, dan berani menyalahkan Tuhan.  Kita tidak menyadari bahwa Tuhan seringkali memakai  'keadaan sulit'  sebagai cara untuk melatih kepekaan rohani kita, membuka mata iman kita bahwa Dia adalah Tuhan Sang Pengendali Keadaan dan Dia sanggup mengubah setiap keadaan.  Ayub mengajak kita mengambil sikap yang benar:  merendahkan diri kepada Tuhan dan berlaku ramah kepada-Nya  (Ayub 22:21-30):  bersedia menerima ajaran-ajaran-Nya, bertobat dan belajar untuk semakin mengutamakan Tuhan.  Melalui keadaan sulit kita bisa belajar memahami apa kehendak Tuhan.  "Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu."  (Mazmur 119:71).  Melalui kesulitan yang ada Tuhan rindu kita berbalik kepada-Nya dan menyadari kesalahan kita:  "Apabila engkau dalam keadaan terdesak dan segala hal ini menimpa engkau di kemudian hari, maka engkau akan kembali kepada TUHAN,"  (Ulangan 4:30), lalu  "Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: 'Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku,' dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku."  (Mazmur 32:5).

     Peringatan Tuhan ini adalah bukti kasih-Nya kepada kita, karena Ia tidak menghendaki kita menempuh jalan yang salah, terperosok ke lubang yang dalam dan tersesat.  Saat terdesak kita datang merendahkan diri di hdapan Tuhan, mengakui dosa dan kesalahan kita, pasti Tuhan mengampuni dan memulihkan kita  (1 Yohanes 1:9).

Jika kita diijinkan melewati keadaan sulit, percayalah Tuhan pasti punya rencana yang indah di balik itu!

Saturday, December 19, 2020

LADANG SUDAH MENGUNING: Tunaikan Tugasmu!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 19 Desember 2020

Baca:  Matius 9:35-38

"Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu."  Matius 9:38

Tidak lama lagi Tuhan Yesus akan datang kembali untuk yang kedua kalinya.  Ini berarti penghukuman bagi Iblis dan bala tentaranya, serta para pengikutnya, sudah di ambang pintu.  Tidakkah hati kita tergerak untuk menjangkau orang-orang yang belum diselamatkan?  Ini adalah tugas yang tidak bisa ditunda-tunda lagi.

     Tugas ini membutuhkan pekerja-pekerja dengan kepekaan rohani yang tidak hanya mementingkan keselamatan diri sendiri.  Tanpa punya kepekaan rohani kita tidak akan peka terhadap situasi zaman.  Yesus berkata,  "Bukankah kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai."  (Yohanes 4:35).  Di Israel, para petani menuai hasil ladangnya  (panen)   empat bulan setelah menaburkan benih.  Pernyataan Tuhan  "Lihatlah sekelilingmu..."  (ayat nas)  ini hendaknya mendorong kita memperhatikan dengan teliti atau memandang sekitar kita, apakah ladang-ladang telah menguning dan siap dituai.  Ladang berarti tempat di dekat kita, bukan tempat yang jauh dari jangkauan.  Bisa berarti rumah, tempat kerja, sekolah atau lingkungan tempat kita berada.  Kita seringkali tak menyadari bahwa tempat terdekat adalah ladang penginjilan yang sesungguhnya telah Tuhan siapkan untuk kita berkarya.  "...kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."  (Kisah 1:8).  Yerusalem berbicara tentang tempat atau lingkungan terdekat terlebih dahulu, barulah kita menjangkau tempat selanjutnya.  "...pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai."  (Yohanes 4:35).  Inilah masa penuaian!

     Selagi pintu kemurahan Tuhan masih terbuka marilah berlomba-lomba menjangkau jiwa-jiwa bagi-Nya.  "Pada waktu Aku berkenan, Aku akan mendengarkan engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau."  (2 Korintus 6:2).  Jadi kita harus bekerja sekarang, bukan besok atau minggu depan.  Kesempatan tidak datang dua kali!

Tidak seorang pun tahu batas umurnya, karena itu tunaikan tugas Saudara sekarang juga, jangan banyak dalih.

Friday, December 18, 2020

HARUS BERTUMBUH, BUKAN JALAN DI TEMPAT

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 18 Desember 2020

Baca:  Efesus 4:1-16

"Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, --yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota--menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih."  Efesus 4:16

Mengikut Tuhan selama bertahun-tahun bukan menjadi jaminan orang mengalami pertumbuhan rohani atau mencapai kedewasaan.  Kedewasaan rohani seseorang terlihat dari  'buah'  yang dihasilkan:  "Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan."  (Matius 3:8),  "Sebab dari buahnya pohon itu dikenal."  (Matius 12:33b).

     Proses pertumbuhan rohani dapat dikatakan sehat, maju atau jalan di tempat dari buah yang dihasilkan.  Kehidupan jemaat mula-mula  (Kisah 2:41-47)  mengalami pertumbuhan rohani cukup pesat dan keberadaannya menjadi berkat, sehingga  "...tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan."  (Kisah 2:47).

     Tak ada pertumbuhan rohani tanpa membayar harga!  Jemaat mula-mula mengalami pertumbuhan rohani yang baik karena mereka mau membayar harga:  "Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul..." (Kisah 2:42).  Firman Tuhan adalah makanan tubuh rohani kita!  "...iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus."  (Roma 10:17), karena firman Tuhan bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan mendidik orang dalam kebenaran  (2 Timotius 3:16).  Respons hati terhadap firman Tuhan sangat berpengaruh besar bagi pertumbuhan rohani seseorang, maka  "...terimalah dengan lemah lembut..."  (Yakobus 1:21).  Benih yang jatuh di tanah hati yang baiklah yang dapat bertumbuh dan berbuah:  seratus kali lipat, enam puluh kali lipat dan tiga puluh kali lipat  (Matius 13:8).  Bertekun dalam pengajaran firman juga mencakup perenungan firman Tuhan dan tinggal di dalamnya  (menjadi pelaku firman).  Jemaat mula-mula juga hidup  "...dalam persekutuan."  (Kisah 2:42).  Dalam persekutuan mereka saling memperhatikan, menguatkan, menopang dan bertolong-tolongan satu sama lain  (Kisah 2:44-45).  Dampak dari persekutuan yang kuat ada sukacita, gembira dan memuji Tuhan  (Kisah 2:46b-471).

Kedewasaan rohani ditandai adanya perubahan hidup yang nyata, sehingga hidupnya menjadi berkat!

Thursday, December 17, 2020

MASA DEPAN KITA DALAM JAMINAN TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 Desember 2020

Baca:  Yeremia 29:1-23

"Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan."  Yeremia 29:11

Tak perlu kita takut akan hidup ini!  Tuhan menjamin hidup kita bukan hanya untuk hari ini dan esok, tapi masa depan kita sepenuhnya ada dalam jaminan Tuhan, karena rancangan Tuhan atas hidup orang percaya sungguh teramat indah.

     Janji firman Tuhan tentang jaminan masa depan ini Tuhan sampaikan kepada bangsa Israel saat mereka masih berada dalam pembuangan di Babel,  "...semua orang buangan yang diangkut ke dalam pembuangan dari Yerusalem ke Babel:"  (Yeremia 29:4).  Orang-orang yang berada dalam pembuangan, secara logika, mustahil memiliki masa depan yang baik!  Di tengah situasi yang sepertinya tidak ada harapan ini Tuhan datang dengan janji firman-Nya yang menguatkan.  Ini menunjukkan bahwa Tuhan tahu pergumulan yang mereka alami dan tak pernah lupa akan janji-janji-Nya kepada bangsa Israel.  Seberat apa pun pergumulan kita saat ini, Tuhan tidak pernah meninggalkan, Ia tidak pernah terlelap dan tertidur  (Mazmur 121:4);  Tuhan tahu apa yang kita perlukan.

     Tuhan memberikan perintah kepada bangsa Israel,  "Dirikanlah rumah untuk kamu diami; buatlah kebun untuk kamu nikmati hasilnya;"  (Yeremia 29:5).  Membangun  'rumah'  berbicara mengenai  'rumah rohani'  atau membangun mezbah doa dalam kehidupan keluarga.  Mereka juga diperintahkan untuk membuat kebun  (membuka ladang atau tanah baru).  Ini berbicara tentang pembaharuan hati!  Tanah hati kita harus diolah dan dipersiapkan terlebih dahulu sebelum  'benih'  ditaburkan.  "Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu;"  (2 Korintus 9:10).  Saat  'rumah doa'  itu sudah dibangun, di mana ada pujian dan penyembahan naik ke hadirat Tuhan dan hati kita siap menjadi tanah yang baik, saat itulah Tuhan menaburkan benihnya, sehingga benih itu dapat tumbuh dan berbuah-buah.

Masa depan yang gemilang adalah kepastian bagi orang percaya!  Apa yang telah Tuhan rancangkan pasti digenapi-Nya!

Wednesday, December 16, 2020

PANGGILAN TUHAN TAK MUDAH DIMENGERTI

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 Desember 2020

Baca:  Kejadian 12:1-9

"Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu;"  Kejadian 12:1

Kita tak dapat memahami rencana dan kehendak Tuhan di dalam kehidupan ini, karena apa yang menjadi rencana dan kehendak-Nya seringkali berlawanan dengan kehendak dan keinginan kita.  Ini yang seringkali tak disadari bahwa ketika kita memutuskan untuk percaya kepada Kristus dan mengikut Dia sesungguhnya kita sedang membuat keputusan untuk tunduk sepenuhnya kepada setiap rencana dan kehendak Tuhan.  Kita bisa belajar dari panggilan Tuhan terhadap Abraham.

     Abraham adalah anak dari keluarga Terah.  Semula ia bernama  'Abram'  yang berarti bapaku yang luhur, dan kemudian Tuhan mengubah nama  'Abram'  menjadi  'Abraham'  yang memiliki makna:  bapa segala bangsa.  Cara Tuhan memanggil Abraham untuk rencana-Nya tak mudah dimengerti, sebab ia diperintahkan Tuhan untuk meninggalkan negeri leluhurnya, Ur-Kasdim, dan berpisah dengan sanak saudaranya, padahal Abraham sudah hidup tenang di sana.  Maksud Tuhan atas pemanggilan Abraham sudah tampak jelas:  menjadikannya bangsa yang besar, memberkati hidupnya dan supaya menjadi berkat.  Mengapa Abraham harus meninggalkan Ur-Kasdim?  Ketika hidup dan tinggal di Ur-Kasdim Abraham menjalani hidup dan adat-istiadat yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan.  Oleh karena itu Tuhan memerintahkan Abraham untuk memisahkan diri dari mereka, memisahkan diri dari kehidupan lama.

     Begitu pula sebelum Tuhan memakai hidup seseorang untuk menjadi alat-Nya, Ia terlebih dahulu akan membentuk dan memproses hidupnya.  Hal-hal yang tidak berkenan kepada-Nya harus ditinggalkan.  "Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia."  (2 Timotius 2:21).  Panggilan Tuhan ini sungguh sangat mendesak, sebab ladang-Nya semakin menguning.  Kita dipanggil bukan sekedar untuk menerima berkat-Nya, tapi untuk menjadi berkat bagi dunia dan menjangkau jiwa-jiwa yang belum diselamatkan.

Tanpa mau meninggalkan kehidupan lama, Tuhan takkan bisa memakai hidup kita untuk mengerjakan panggilan-Nya!

Tuesday, December 15, 2020

TANPA IMAN DAN KETAATAN: Takkan Ada Kemenangan

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 Desember 2020

Baca:  Mazmur 20:1-10

"Sekarang aku tahu, bahwa TUHAN memberi kemenangan kepada orang yang diurapi-Nya dan menjawabnya dari sorga-Nya yang kudus dengan kemenangan yang gilang-gemilang oleh tangan kanan-Nya."  Mazmur 20:7

Ketika memilih dan mengutus seseorang untuk mengerjakan suatu tugas, Tuhan tidak asal memilih dan mengutus, Ia pasti menyertai dan memperlengkapinya dengan kuasa.  Pula ketika Tuhan memilih Yosua untuk memimpin bangsa Israel menggantikan Musa  (Yosua 1:2), Tuhan menjanjikan kemenangan yang gilang-gemilang kepadanya,  "Setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakimu Kuberikan kepada kamu, seperti yang telah Kujanjikan kepada Musa."  (Yosua 1:3).  Saat mendengar janji Tuhan ini kemenangan belum diraih oleh Yosua.  Janji kemenangan tersebut akan tergenapi apabila Yosua mau mengikuti tuntunan Tuhan dan melangkah dengan iman.  Tanpa iman dan ketaatan melakukan kehendak Tuhan, kemenangan takkan mungkin bisa dicapai.

     Tuhan memberikan kunci kepada Yosua untuk meraih kemenangan yang dijanjikan-Nya!  "Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke manapun engkau pergi. Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung."  (Yosua 1:7-8).

     Jika selama ini kemenangan jauh dari hidup kita berarti ada hal-hal yang perlu dikoreksi!  Mungkin selama ini kita berusaha menggapai kemenangan dengan kekuatan sendiri tanpa Tuhan.  "Kuda adalah harapan sia-sia untuk mencapai kemenangan, yang sekalipun besar ketangkasannya tidak dapat memberi keluputan."  (Mazmur 33:17).  Ketika Yosua taat melakukan perintah Tuhan, apa saja yang diperbuatnya berhasil, sebab  "...Dialah yang berjalan menyertai kamu untuk berperang bagimu melawan musuhmu, dengan maksud memberikan kemenangan kepadamu."  (Ulangan 20:4).

"Kuda diperlengkapi untuk hari peperangan, tetapi kemenangan ada di tangan TUHAN."  Amsal 21:31