Monday, August 24, 2020

ANAK MUDA KRISTIANI: Masa Depan Gereja

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 24 Agustus 2020

Baca:  Amsal 22:1-16

"Kebodohan melekat pada hati orang muda, tetapi tongkat didikan akan mengusir itu dari padanya."  Amsal 22:15

Ngeri!  Itulah kesan yang timbul bila kita melihat dan memperhatikan kehidupan orang muda di zaman sekarang ini.  Kenakalan remaja/pemuda ada di mana-mana, bukan hanya terjadi di kota-kota besar, tapi hampir terjadi di semua tempat.  Kehidupan anak-anak muda benar-benar rentan dengan pengaruh buruk:  pergaulan bebas  (free sex), terjerumus dalam narkoba, terlibat dalam prostitusi, menjadi korban trafficking atau perdagangan manusia yaitu perekrutan, pengiriman, atau penampungan orang-orang dengan cara ancaman atau kekerasan demi tujuan eksploitasi, pelacuran, perbudakan, dan sebagainya.

     Kaum muda Kristiani benar-benar harus menjadi perhatian utama gereja, sebab mereka adalah aset berharga dan masa depan gereja.  Jangan sampai mereka terbawa oleh arus dunia ini!  Pemazmur menyatakan,  "Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu."  (Mazmur 119:9).  Hanya dengan firman Tuhan-lah orang muda dapat mempertahankan kelakuannya tetap bersih dan sesuai dengan kehendak Tuhan.  Tidak ada jalan lain selain para muda harus banyak melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan rohani, supaya waktu-waktu luang yang ada mereka pergunakan untuk perkara-perkara yang membangun iman.  Mereka harus melatih diri dalam hal ibadah  (1 Timotius 4:8), bukan malah menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah.  Giatkanlah melakukan ini menjelang hari Tuhan yang mendekat  (Ibrani 10:25).  Semakin banyak mereka mendengarkan firman Tuhan, semakin bertumbuhlah iman mereka, karena iman timbul dari pendengaran firman Kristus  (Roma 10:17).  Sayangnya banyak anak muda Kristen memilih untuk berkompromi dengan cara hidup dunia oleh karena mereka takut ditolak, dibenci, atau ditinggalkan teman.

     Usia muda adalah  'usia emas'  melayani Tuhan dengan memaksimalkan potensi.  Paulus pada Timotius,  "Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu." (1 Timotius 4:12).

"Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan..."  2 Timotius 2:22

Sunday, August 23, 2020

BERKAT TUHAN BAGI ORANG BENAR

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 23 Agustus 2020

Baca:  Mazmur 127:1-5  

"jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga."  Mazmur 127:1

Tak ada seorang pun yang menolak berkat Tuhan, semua orang ingin hidupnya diberkati:  rumah tangganya diberkati, studinya diberkati, usaha atau bisnisnya diberkati.  Tetapi seringkali banyak orang Kristen keliru dalam memaknai arti berkat ini.  Mereka berpikir bahwa berkat Tuhan itu selalu identik dengan materi duniawi:  uang, mobil, rumah, promosi jabatan, bonus dan sebagainya.  Ketahuilah bahwa materi duniawi itu bukanlah segala-galanya!  Ada orang yang kaya-raya tapi selalu merasa tidak cukup, tidak pernah puas,  "
Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia. Dengan bertambahnya harta, bertambah pula orang-orang yang menghabiskannya."  (Pengkhotbah 5:9-10a).

     Hidup yang diberkati meliputi segala aspek kehidupan:  apa yang kita perlukan selalu Tuhan sediakan tepat waktu;  ada persoalan dan tantangan kita sanggup melewati;  ada sukacita, kemenangan, damai sejahtera sehingga hidup kita menjadi kesaksian dan berkat bagi orang lain.  Apa kunci mengalami berkat Tuhan?  Adalah hidup benar di hadapan Tuhan.  Berkat apa yang Tuhan sediakan bagi orang benar?  1.  Berkat dalam keluarga.  Jika bukan Tuhan yang membangun  'rumah'  (keluarga), sia-sialah orang yang membangunnya  (ayat nas).  Karena itu jadikan Tuhan prioritas utama dalam keluarga kita.  Undanglah hadirat Tuhan dalam keluarga setiap hari dengan membangun mezbah doa.  Di mana ada hadirat Tuhan, sesuatu pasti terjadi:  ada sukacita, pemulihan, ada ketenangan, ada kemenangan, dan damai sejahtera sorgawi memenuhi kehidupan keluarga kita.  Orang yang hidup dalam kebenaran akan tetap mengalami berkat Tuhan sekalipun berada di tengah goncangan, sebab Tuhan menyediakan berkat-Nya tepat pada waktunya.

     2.  Berkat perlindungan.  Tuhan memerintahkan malaikat-Nya berkemah di sekeliling orang benar  (Mazmur 90:11).  Ini berbicara tentang jaminan keamanan yang Tuhan berikan bagi orang benar.  Berada di tengah dunia yang penuh gelora, serba tidak aman dan menakutkan, orang benar mendapatkan jaminan penyertaan dan pembelaan dari Tuhan.

Berkat ada pada orang yang hidup benar di hadapan Tuhan!

Saturday, August 22, 2020

ORANG KRISTEN SUAM-SUAM KUKU

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 22 Agustus 2020

Baca:  Wahyu 3:14-22

"Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas!"  Wahyu 3:15

Kota Laodikia adalah kota yang terkenal di zamannya.  Kota ini berjarak kira-kira 40 mil dari kota Filadelfia.  Selain letaknya yang juga strategis, kota ini dikenal sebagai pusat perdagangan dan perbankan, juga sebagai kota penghasil kain wol yang indah, lembut berwarna hitam keunguan.  Kondisi kota seperti ini tentu saja juga menempatkan penduduknya pada posisi ekonomi yang begitu mapan, tapi kota hanya kekurangan satu hal, yaitu sumber air panas.  Itulah sebabnya mereka mendatangkan air panas dari kota lain yang berjarak 10 km yaitu Hieropolis melalui saluran pipa, yang ketika sampai di Laodikia air tersebut sudah tidak panas lagi, melainkan hangat-hangat kuku.

     Kondisi kota ini sangat tepat untuk menggambarkan kondisi jemaat yang mendapatkan teguran keras dari Tuhan sebagai jemaat yang suam-suam kuku.  Banyak orang Kristen di zaman sekarang ini yang menjalani kehidupan kekristenannya suam-suam kuku, tidak panas atau tidak dingin.  Suam-suam kuku bisa diartikan orang yang berdiri dia tas dua pijakan:  rohani iya, dunia iya, alias melakukan kompromi.  "Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas!"  (ayat nas), sebab Tuhan tidak mengenal kata  'kompromi'.  Tuhan mengatakan bahwa ada harga yang harus dibayar untuk mengikut Dia yaitu penyangkalan diri dan pikul salib  (Matius 16:24).  "Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku."  (Wahyu 3:16).  Orang percaya harus punya ketegasan:  "Barangsiapa yang berbuat jahat, biarlah ia terus berbuat jahat; barangsiapa yang cemar, biarlah ia terus cemar; dan barangsiapa yang benar, biarlah ia terus berbuat kebenaran; barangsiapa yang kudus, biarlah ia terus menguduskan dirinya!"  (Wahyu 22:11).

     Orang Kristen yang  'panas'  menggambarkan orang yang mengasihi Tuhan sungguh-sungguh  (taat), punya roh yang menyala-nyala melayani Tuhan  (Roma 12:11).  Orang Kristen  'dingin'  berbicara tentang orang yang mengikut Tuhan asal-asalan, tak ada greget, tahu kebenaran tapi tidak hidup dalam kebenaran  (Kristen tanpa ada pertobatan).

"Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!"  Wahyu 3:19

Friday, August 21, 2020

JEMAAT FILADELFIA: Ketaatan Membuka Pintu

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 21 Agustus 2020

Baca:  Wahyu 3:7-13

 "Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firman-Ku dan engkau tidak menyangkal nama-Ku."  Wahyu 3:8b

Kota Filadelfia ini terletak di wilayah propinsi Asia Kecil yakni di negara Turki, tepatnya kota Alashehir.  Jika dibandingkan dengan kota-kota yang disebutkan oleh rasul Yohanes, kota Filadelfia ini bisa dikatakan sebagai kota yang terkecil.

     Jemaat di Filadelfia adalah jemaat yang mendapatkan penilaian sangat baik dari Tuhan meski secara kuantitas tampak kecil, sangat sederhana dan minim secara ekonomi.  Tuhan memuji mereka,  "Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firman-Ku dan engkau tidak menyangkal nama-Ku."  (ayat nas), padahal dalam pengiringannya akan Kristus mereka diperhadapkan dengan tantangan yang tak mudah, karena ada  "...beberapa orang dari jemaah Iblis, yaitu mereka yang menyebut dirinya orang Yahudi, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, melainkan berdusta,"  (Wahyu 3:9), yang berusaha untuk menghasut, mengacaukan dan melemahkan, tapi jemaat di Filadelfia tetap kuat, tidak goyah iman, apalagi sampai menyangkal Kristus.  Ada jaminan perlindungan Tuhan bagi orang benar:  "Karena engkau menuruti firman-Ku, untuk tekun menantikan Aku, maka Akupun akan melindungi engkau dari hari pencobaan yang akan datang atas seluruh dunia untuk mencobai mereka yang diam di bumi."  (Wahyu 3:10).

     Kepada jemaat di Filadelfia ini Tuhan menyebut diri-Nya Yang Kudus dan Yang Benar.  Ini penegasan bahwa kekudusan dan kebenaran adalah dua elemen penting yang tak bisa dipisahkan:  "...hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu,"  (1 Petrus 1:15).  Tanpa kekudusan dan kebenaran kita takkan bisa menyentuh hati Tuhan, takkan bisa mengerakkan tangan Tuhan bekerja untuk kita.  Tuhan berkata,  "Aku tahu segala pekerjaanmu: lihatlah, Aku telah membuka pintu bagimu, yang tidak dapat ditutup oleh seorangpun. Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firman-Ku dan engkau tidak menyangkal nama-Ku."  (Wahyu 3:8).  Sekalipun tampak kecil dan tak berarti di mata manusia, keberadaan jemaat Filadelfia sangat berharga di mata Tuhan.

Kalau kita hidup dalam kekudusan dan kebenaran, pintu-pintu berkat Tuhan bukakan bagi kita!

Thursday, August 20, 2020

JEMAAT SARDIS: Hidup Tapi Mati

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 20 Agustus 2020

Baca:  Wahyu 3:1-6

"Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati!"  Wahyu 3:1
 
Secara geografis letak kota Sardis sangat srategis karena berada di dataran Lembah Hermus dan dikelilingi Gunung Tmolus yang tinggi dan terjal, sehingga kota ini aman dari serangan musuh.  Selain itu Sungai Pactolus yang mendapatkan aliran air dari Gunung Tmolus biasanya mengalirkan air yang disertai dengan endapan emas.  Itulah sebabnya kota Sardis adalah kota yang makmur, apalagi ditunjang adanya pabrik kain dan pakaian dari bulu domba.  Faktor-faktor inilah yang mampu mengangkat perekonomian rakyatnya, termasuk kehidupan jemaat di kota itu.
 
     Kemapanan ekonomi ini membuat jemaat Sardis hidup dalam comfort zone atau zona nyaman, sehingga mereka menjalani kehidupan rohaninya pun tanpa kesungguhan, tidak lagi memercayakan hidup sepenuh kepada Tuhan, tapi menjadikan kekayaan sebagai sandaran hidup.  Mereka aktif dalam kegiatan rohani, namun dasar pelayanan bukanlah karena hati yang mengasihi Tuhan, tapi fasilitas yang mumpuni;  sekalipun pelayanan mereka tampak hebat di pemandangan manusia, Tuhan memiliki penilaian yang berbeda.  Tuhan justru menegur jemaat Sardis dengan sangat keras,  "Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati!"  (ayat nas).  Ternyata tak satu pun pekerjaan yang mereka lakukan kedapatan sempurna di mata Tuhan, artinya apa yang mereka perbuat tak mendatangkan perkenanan dari Tuhan, tak membuat hati Tuhan disenangkan.  Aktivitas pelayanan mereka hanya tampak  'wah'  dari sisi luarnya saja.

     Tuhan menambahkan,  "...di Sardis ada beberapa orang yang tidak mencemarkan pakaiannya; mereka akan berjalan dengan Aku dalam pakaian putih, karena mereka adalah layak untuk itu."  (Wahyu 3:4).  Kalimat  'ada beberapa orang'  artinya hanya ada sedikit jemaat yang menjaga hidupnya tidak bercela  (tidak mencemarkan diri dengan dosa).  Jadi, sebagian besar jemaat di situ melakukan kompromi dengan dosa, alias hidup dalam kedagingan.  Ini peringatan keras bagi orang percaya!

Jika kita masih hidup dalam dosa dan berkompromi dengan dunia ini, pelayanan kita tak berarti apa-apa di mata Tuhan;  sekalipun tampak hidup tapi sesungguhnya  'mati'  di pemandangan Tuhan!

Wednesday, August 19, 2020

BUAH BIBIR YANG POSITIF, BUKAN NEGATIF

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 19 Agustus 2020


"Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: 'Ia menumpang di rumah orang berdosa.'"  Lukas 19:7
 
Rasul Paulus kembali mengingatkan bahwa hidup orang percaya di tengah dunia sebagai surat-surat Kristus.  "...kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia."  (2 Korintus 3:3).  Dengan kata lain orang dunia akan melihat dan memperhatikan setiap perkataan dan perbuatan kita sehari-hari.

     Apakah selama ini kehidupan kita sudah menjadi berkat bagi orang lain atau malah menjadi batu sandungan?  Apakah kita menjadi yang hidupnya tidak menjadi buah bibir positif, tapi malah menjadi buah bibir yang negatif bagi orang-orang yang ada di sekitarnya.  Ini sangat menyedihkan!  Kehidupan Kristen yang normal seharusnya menjadi buah bibir yang positif sebab kita dipanggil untuk menjadi berkat bagi dunia ini.  Sebelumnya Zakheus menjadi buah bibir negatif dan menyandang  'predikat'  sebagai orang berdosa karena profesinya adalah pemungut cukai.  Orang-orang pun menjadi terkejut dan keheranan begitu melihat Kristus mau singgah di rumah orang berdosa itu.  Di pihak lain Zakheus menjadi buah bibir positif di antara para malaikat di sorga, karena ada seorang berdosa yang bertobat.  Alkitab menyatakan bahwa para malaikat di sorga turut bersukacita ketika ada seorang berdosa yang bertobat  (Lukas 15:10).  Zakheus yang awalnya menjadi buah bibir negatif dan hidupnya dicibir oleh banyak orang, sejak bertemu Kristus, hidupnya telah diubahkan dan menjadi buah bibir yang positif.

     Kita disebut sebagai orang Kristen yang gagal bila kehidupan kita menjadi buah bibir yang negatif bagi orang-orang yang ada di sekitar.  Itu artinya orang lain menjadi tersandung karena kita.  Bagaimana supaya kita menjadi buah bibir yang positif?  Harus menghasilkan buah-buah pertobatan, yang di dalamnya ada buah roh  (Galatia 5:22-23).

Perubahan hidup kita yang tampak nyata adalah kesaksian yang lebih kuat daripada perkataan kita!

Tuesday, August 18, 2020

PERTOBATAN HARUS ADA BUAHNYA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 18 Agustus 2020


"Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat."  Lukas 19:8
 
Sekarang ini bukan waktunya lagi kita main-main dengan hidup kekristenan, melainkan kita harus hidup dalam pertobatan setiap hari.  Pertobatan yang sejati pasti disertai dengan bukti nyata dalam kehidupan sehari-hari, yaitu perubahan hidup yang benar-benar bisa dilihat dan dirasakan oleh orang lain.  Ada tertulis:  "Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan."  (Matius 3:8).  Alkitab menyatakan,  "Jikalau suatu pohon kamu katakan baik, maka baik pula buahnya; jikalau suatu pohon kamu katakan tidak baik, maka tidak baik pula buahnya. Sebab dari buahnya pohon itu dikenal."  (Matius 12:33).

     Zakheus adalah contoh orang yang hidupnya telah berubah!  Ia mengalami titik balik dalam hidup setelah berjumpa secara pribadi dengan Kristus.  Mata rohaninya yang selama ini tertutup menjadi terbuka, sehingga cara pandangnya pun telah diubahkan.  Dahulunya fokus hidup Zakheus adalah mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya bagi diri sendiri, namun kemudian ia rela membagikan hartanya kepada orang lain.  Ini bisa terjadi oleh karena ia mengalami kasih Tuhan!  Harta dunia tidak lagi menjadi tujuan utama dalam hidupnya.  Zakheus berkata kepada Tuhan,  "...setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin...", artinya ia rela membagi-bagikan hartanya kepada orang-orang yang berkekurangan  (miskin).  Kekuatan untuk mengasihi dan menolong orang lain itu bukan berasal dari diri Zakheus sendiri, tapi karena ada Roh Tuhan yang bekerja di dalamnya, ada aliran kasih Tuhan yang telah menyentuh dan menjamah hatinya.  Tanda pertobatan sejati:  "...namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku."  (Galatia 2:20a).  Kalau  'aku'  yang hidup  (bukan Kristus), maka yang menjadi fokus hidupnya adalah diri sendiri.

     Zakheus juga berkata,  "...sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat."  (ayat nas), berarti ia benar-benar mau membayar harga dengan meninggalkan kehidupan lamanya.  Apakah pertobatan Saudara sudah membuahkan hasil yang nyata dan berdampak bagi orang lain?
 
"Biarlah orang lain memuji engkau dan bukan mulutmu, orang yang tidak kaukenal dan bukan bibirmu sendiri."  Amsal 27:2

Monday, August 17, 2020

MERDEKA DI TENGAH BADAI MELANDA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 Agustus 2020


"Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!"  Mazmur 133:1

Waktu bergulir begitu cepatnya, tanpa terasa bangsa kita tercinta Indonesia sudah mengenyam kemerdekaan selama 75 tahun.  Hari ini kita kembali beroleh kesempatan memperingati hari kemerdekaan Indonesia ke-75.  Merdeka berarti terlepas dari belenggu, tekanan atau penjajahan bangsa lain, sehingga kita bebas menentukan masa depan kita sendiri.  Dalam hidup kekristenan, kemerdekaan memiliki arti dimerdekakan dari penjajahan dosa.  Kita tidak lagi berada di bawah kuasa dosa yang membawa kepada penghukuman kekal, melainkan kita mengalami kehidupan baru yaitu hidup berkemenangan karena Kristus telah memerdekakan kita dari dosa.

     Peringatan hari kemerdekaan Indonesia tahun ini berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, sebab kita memperingatinya saat bangsa kita dalam keadaan berduka karena ujian berat datang mendera:  ekonomi, bencana alam, mewabahnya virus Corona atau Covid-19 yang benar-benar memorak-porandakan perekonomian, ditambah lagi ancaman disintegritas bangsa, seperti maraknya ujaran kebencian terhadap pemimpin bangsa, yang bila tidak segera diatasi dapat mengancam keutuhan NKRI.  Inilah momen yang tepat untuk bangkit dan bersatu untuk Indonesia.  Sebagai warga negara Indonesia, wajib kita berdoa bagi bangsa agar Tuhan pulihkan.  "...dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka."  (2 Tawarikh 7:14).  Mari tinggalkan ego demi kesatuan bangsa!  'Kesatuan'  bukan berarti seragam;  kesatuan itu saling menghargai dan melengkapi di tengah perbedaan yang ada, sebagaimana semboyan Bhineka Tunggal Ika.

     Hidup dalam kesatuan adalah kehendak Tuhan!  Jadi Tuhan tidak menghendaki perselisihan atau perpecahan, bahkan Ia menyediakan berkat bagi umat yang hidup dalam kesatuan,  "...ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya."  (Mazmur 133:3).

"Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, dan setiap rumah tangga yang terpecah-pecah, pasti runtuh."  Lukas 11:17

Sunday, August 16, 2020

DOA YANG TIDAK DIJAWAB TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 Agustus 2020


"Pada waktu itu mereka akan berseru kepadaku, tetapi tidak akan kujawab, mereka akan bertekun mencari aku, tetapi tidak akan menemukan aku."  Amsal 1:28

Banyak orang Kristen kecewa dan undur dari Tuhan.  Salah satu penyebab adalah doanya tidak dijawab Tuhan.  Mungkin kita merasa sudah berdoa sekian lama tapi masalah tidak kunjung selesai, sakit tak sembuh-sembuh, ekonomi keluarga belum pulih, suami tetap saja selingkuh, dan masih banyak lagi.  Jika semua doa selalu dijawab Tuhan, semua orang pasti mau mengikut Tuhan.  Masalahnya adalah tidak semua doa dijawab Tuhan!

     Ada beberapa hal yang menjadi penyebab doa tidak dijawab oleh Tuhan, karena kita salah dalam berdoa:  "Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu."  (Yakobus 4:3).  Tuhan menjawab doa seseorang bukan karena susunan kata-kata doanya yang indah, tapi Tuhan melihat motivasi hati kita dalam berdoa.  Di dalam doa-doa, kita seringkali menuntut Tuhan untuk menuruti keinginan dan kemauan kita.  Sadar atau tidak, keinginan doa dan kemauan kita itu semata-mata hanya untuk memuaskan keinginan daging kita atau berfokus pada diri sendiri.  Selain itu, doa kita takkan dijawab Tuhan apabila di dalam hati kita masih tersimpan dosa atau kejahatan.  "Seandainya ada niat jahat dalam hatiku, tentulah Tuhan tidak mau mendengar."  (Mazmur 66:18).  Daud, sekalipun seorang raja, punya kerendahan hati dan bersedia dikoreksi Tuhan.  "Ujilah aku, ya TUHAN, dan cobalah aku; selidikilah batinku dan hatiku."  (Mazmur 26:2), sebab  "...TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya."  (Yeremia 17:10).

     Pesan penting bagi para suami:  "...hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang."  (1 Petrus 3:7).  Hidup suami memiliki dampak besar bagi keluarganya!  Jika suami hidup tidak benar di hadapan Tuhan, doa-doanya akan dihalangi oleh dirinya sendiri. 

Bila doa tidak dijawab Tuhan, hal pertama yang harus kita lakukan adalah koreksi.

Saturday, August 15, 2020

KRISTUS ADALAH JALAN KEMENANGAN KITA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 Agustus 2020


"...dalam Kristus selalu membawa kami di jalan kemenangan-Nya."  2 Korintus 2:14a

Beberapa waktu yang lalu, di tengah situasi yang penuh keprihatinan karena mewabahnya virus Corona atau Covid 19, kita mendapatkan kabar yang sangat menggembirakan dari dunia olahraga bulutangkis:  Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti berhasil meraih gelar juara All England 2020 di nomor ganda campuran  (Minggu, 15/3/2020).  Kemenangan ini sungguh sangat membanggakan dan mengharukan bagi bangsa Indonesia.  Karena situasi yang tidak memungkinkan, kali ini PBSI memutuskan untuk tidak menggelar tradisi penyambutan juara All England 2020 setibanya di tanah air.

     Berbicara tentang kemenangan, tak lepas dari yang namanya peperangan, perjuangan, kerja keras, jerih lelah, tetesan keringat, atau pergumulan.  Begitu pula perjalanan hidup kita adalah seperti berada dalam peperangan setiap hari:  berperang melawan musuh  (Iblis), berperang melawan kedagingan, juga bergumul dengan permasalahan hidup.  Tetapi kita patut bersyukur karena Kristus selalu membawa kita di jalan kemenangan-Nya.  Kemenangan terbesar yang kita alami di dalam Kristus adalah kemenangan atas dosa!  Dosa adalah masalah terbesar yang dihadapi manusia, dan tak satu pun manusia di dunia ini yang dapat menyelesaikan dosanya sendiri.  Kristus adalah satu-satunya jalan untuk manusia dapat memperoleh penebusan dosa!  "Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya,"  (Efesus 1:7).  Karena dosa kita telah ditebus melalui pengorbanan Kristus di kayu salib.  "Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya."  (Roma 6:12).

     Menang terhadap dosa berarti kemenangan atas maut!  "...genaplah firman Tuhan yang tertulis: 'Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?'"  (1 Korintus 15:54-55).  Hal itu berarti bahwa kemenangan Kristus di kayu salib adalah kemenangan terhadap pekerjaan Iblis!  Kita tak perlu takut menghadapi Iblis dan bala tentaranya!  Kita harus melawannya dengan iman, sebab di dalam diri kita ada Roh Kudus, kuasa dari tempat yang Mahatinggi.

Dengan pertolongan Roh Kudus kita pasti dapat melawan Iblis, karena Kristus sudah memberikan jaminan kemenangan bagi kita!

Friday, August 14, 2020

ADA HADIRAT TUHAN: Mencari Tuhan Dengan Sungguh

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 Agustus 2020


"TUHAN dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan."  Mazmur 145:18

Banyak orang Kristen berpikir bahwa hadirat Tuhan itu ada ketika sedang melakukan ibadah di gereja atau di persekutuan doa.  Di luar jam-jam itu tidak ada hadirat Tuhan!  Ini salah besar.  Hadirat Tuhan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, kapan saja dan di mana saja kita bisa mengundang atau menghadirkan hadirat-Nya.  Kita sendirilah yang membuat batasan-batasan!  Kita membatasi kerja Tuhan dengan akal pikiran kita yang terbatas;  kita membatasi kuasa Tuhan, sehingga kita tidak mengalami hadirat Tuhan.

     Ketika Adam dan Hawa tinggal di Taman Eden mereka memiliki hubungan yang sangat dekat  (karib)  dengan Tuhan.  Namun kemudian manusia membuat batasan sehingga mereka tidak lagi bisa menikmati hadirat Tuhan seperti sediakala, karena ketidaktaatannya sendiri.  "Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka, supaya mereka mencari Dia dan mudah-mudahan menjamah dan menemukan Dia, walaupun Ia tidak jauh dari kita masing-masing. Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada, seperti yang telah juga dikatakan oleh pujangga-pujanggamu..."  (Kisah 17:26-28).  Sesungguhnya manusia diberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk menemukan Tuhan dan hadirat-Nya karena jalan itu sudah dibuka oleh Kristus melalui pengorbanan-Nya, tapi tak semua manusia bersungguh-sungguh mencari Tuhan.  Banyak orang tak lagi mengalami hadirat Tuhan karena mereka tidak sepenuh hati mencari Tuhan.  Mereka mencari Tuhan hanya sebatas kegiatan agamawi tanpa didasari oleh kerinduan hati atau rasa haus dan lapar akan Tuhan.

     Pemazmur menyatakan kalau kita berseru kepada Tuhan dalam kesetiaan, kita pasti akan menemukan dan mengalami hadirat-Nya, Tuhan akan mendekat.  Seberapa besar Saudara merindukan kehadiran Tuhan atau hadirat-Nya?  Ketika tabut Tuhan  (lambang kehadiran Tuhan)  berada di rumah Obed Edom, hanya dalam kurun waktu 3 bulan saja sesuatu yang besar terjadi  (2 Samuel 6:10-12).  Ini menunjukkan betapa keluarga Obed Edom sangat menghargai kehadiran Tuhan  (hadirat-Nya).

Kita pasti mengalami hadirat Tuhan bila kita sungguh-sungguh mencari Dia!

Thursday, August 13, 2020

DIBERKATI TUHAN: Taat dan Menabur

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 Agustus 2020


"Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati TUHAN."  Kejadian 26:12

Semua orang pasti ingin hidupnya diberkati oleh Tuhan!  Tapi tak semua orang mau membayar harga untuk mendapatkan berkat dari Tuhan, maunya serba cepat tanpa mau mengerjakan apa yang seharusnya menjadi bagiannya.  Bagian Tuhan adalah memberkati dan menggenapi janji-Nya, sedangkan bagian kita adalah taat melakukan kehendak-Nya.

     Mari kita belajar dari kehidupan Ishak!  Ketika terjadi kelaparan yang hebat di negerinya, Ishak diperintahkan Tuhan untuk tidak pergi ke Mesir, tetapi tetap tinggal di negeri orang Filistin sebagai orang asing, sementara banyak orang berusaha untuk mencari pertolongan ke Mesir.  Mesir berbicara tentang dunia atau orang yang bisa dibanggakan dan diandalkan.  "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!"  (Yeremia 17:5).  Ketika mengalami masalah yang berat, banyak orang menjadi tertekan dan kehilangan pengharapan, mereka mulai ragu akan kuasa Tuhan dan tidak sabar menantikan pertolongan Tuhan.  Mereka berusaha mencari pertolongan instan di luar Tuhan:  mencari pertolongan kepada dunia atau manusia.  Ketika sedang dalam pergumulan hidup yang berat haruslah kita semakin mendekat kepada Tuhan, mencari wajah-Nya, dan tetap taat.  Ketika diperintahkan Tuhan untuk tidak pergi ke Mesir, Ishak taat.  Bahkan di tengah kelaparan yang begitu hebat Tuhan justru mengajarkan Ishak untuk menabur.  Suatu perintah yang sangat tidak masuk akal!  Namun Ishak melakukan yang Tuhan perintahkan  (ayat nas), dan ketaatan inilah yang menjadi pembuka pintu berkat!

     Alkitab menyatakan,  "...ia diberkati TUHAN. Dan orang itu menjadi kaya, bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya."  (Kejadian 26:12-13).  Tuhan memberkati Ishak dengan limpahnya sehingga ia mengalami tiga tingkatan berkat:  kaya, tambah kaya, dan sangat kaya, namun setelah hidupnya diberkati, Ishak tidak lupa diri:  "Sesudah itu Ishak mendirikan mezbah di situ dan memanggil nama TUHAN."  (Kejadian 26:25).  Ishak menjadikan Tuhan sebagai yang terutama dalam hidupnya.

Kita pasti mengalami berkat-berkat Tuhan ketika kita taat melakukan kehendak Tuhan, mau menabur, dan menjadikan Dia sebagai prioritas utama hidup ini!

Catatan:
"'Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati.' Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah."  Roma 9:15-16

Wednesday, August 12, 2020

ADA TUHAN DI TENGAH TERPAAN ANGIN SAKAL

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 Agustus 2020


"Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan Ia hendak melewati mereka."  Markus 6:48

Dalam pembacaan firman hari ini dikisahkan bahwa ada angin sakal yang menghadang perjalanan murid-murid Kristus.  Ini adalah gambaran tentang perjalanan hidup orang percaya.  Angin sakal bisa berbicara tentang masalah atau kesulitan.  Semua orang, termasuk orang percaya dan bahkan kita yang sudah melayani pekerjaan Tuhan  (pelayan Tuhan/hamba Tuhan), juga tak luput dari masalah atau kesulitan.  Pada waktu tertentu terkadang kita harus menghadapi  'angin sakal'  yang bertiup begitu kencangnya memporakporandakan kehidupan kita.  Angin sakal yang mendatangkan kerusakan dan kehancuran hidup itu datangnya dari si jahat  (Iblis), sebab ada tertulis:  "Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan;"  (Yohanes 10:10a).

     Angin sakal yang menghadang perjalanan murid-murid Tuhan ini bukanlah angin yang besar atau yang bersifat menghancurkan, tetapi angin ini menghadang secara bertubi-tubi sehingga pergerakan kapal yang mereka tumpangi menjadi terhambat.  Akibatnya para murid menjadi sangat kelelahan karena kapal tidak bisa melaju dengan cepat, padahal danau Galilea bukanlah danau yang asing bagi mereka.  Terkadang kita diperhadapkan dengan  'angin'  permasalahan yang datang secara tiba-tiba dan bertubi-tubi menghadang perjalanan hidup kita.  Kita pun menjadi sangat lelah, tak berdaya, dan kehilangan kekuatan untuk meneruskan langkah hidup ini.  Jangan pernah kecewa!  Marilah kita tetap mengimani bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita.

     Terkadang Tuhan mengijinkan  'angin sakal'  menghadang perjalanan hidup kita dengan tujuan mengajarkan kita untuk percaya penuh kepada Tuhan dan melatih iman kita supaya kuat.  Kita harus ingat bahwa kehidupan kekristenan itu bukan hanya berbicara tentang berkat atau mujizat, tetapi juga berbicara tentang penderitaan, ada harga yang harus dibayar.  Meskipun Tuhan tidak bersama-sama dengan murid-murid di dalam kapal, tetapi Ia tahu persis pergumulan yang dialami murid-murid-Nya, dan punya waktu yang tepat untuk menolong.  Tuhan pun melihat pergumulan hidup kita!

Tuhan mempunyai 1001 macam cara untuk melepaskan kita dari angin sakal!

Tuesday, August 11, 2020

GENERASI BARU HARUS MENGERTI HUKUM TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 Agustus 2020


"Tetapi waspadalah dan berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan hal-hal yang dilihat oleh matamu sendiri itu, dan supaya jangan semuanya itu hilang dari ingatanmu seumur hidupmu. Beritahukanlah kepada anak-anakmu dan kepada cucu cicitmu semuanya itu,"  Ulangan 4:9

Perjalanan bangsa Israel menuju Tanah Perjanjian  (Kanaan)  melalui proses yang sangat panjang di padang gurun, hampir selama 40 tahun.  Pahit, getir, suka dan duka telah dirasakan dan dialami oleh generasi pertama, tapi sayang sebagian besar dari mereka itu  (generasi tua)  meninggal di padang gurun.  Ada pun generasi berikutnya adalah generasi baru yang tidak mengalami peristiwa-peristiwa tersebut secara langsung.

     Karena itulah Tuhan mengutus Musa untuk mengajarkan kembali hukum-hukum-Nya kepada generasi yang baru, karena mereka tidak tahu asal-usul peraturan dari hukum Tuhan yang diberikan untuk dilakukan.  Musa hendak menegaskan kepada mereka bahwa tidak ada ilah lain yang patut disembah, selain Tuhan yang hidup, yang telah menuntun bangsa Israel keluar dari Mesir,  "Sebab bangsa besar manakah yang mempunyai allah yang demikian dekat kepadanya seperti TUHAN,...setiap kali kita memanggil kepada-Nya?"  (Ulangan 4:7).  Musa juga mengingatkan tentang adanya ikatan perjanjian antara Tuhan dan umat Israel,  "TUHAN telah mengambil kamu dan membawa kamu keluar dari dapur peleburan besi, dari Mesir, untuk menjadi umat milik-Nya sendiri, seperti yang terjadi sekarang ini."  (Ulangan 4:20).  Mereka tidak boleh melupakan perjanjian tersebut:  "Hati-hatilah, supaya jangan kamu melupakan perjanjian TUHAN, Allahmu, yang telah diikat-Nya dengan kamu dan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang oleh TUHAN, Allahmu, dilarang kauperbuat."  (Ulangan 4:23).

     Kepada generasi baru ini Musa memberikan kunci untuk mengalami hidup yang berkemenangan, yaitu ketaatan!  Saat kita taat itulah Tuhan akan menyatakan kuasa dan mujizat-Nya atas hidup kita.  Ini menjadi bekal berharga bagi Yosua yang melanjutkan tongkat kepemimpinan atas Israel.  Ia harus mampu membimbing bangsa Israel di jalan Tuhan, dengan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri.

Bila umat Israel menaati hukum-hukum Tuhan, Tuhan akan menunjukkan penyertaan-Nya dan berperang ganti mereka  (Ulangan 3:22).

Monday, August 10, 2020

APA YANG TUHAN FIRMANKAN, PASTI DIGENAPI

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 Agustus 2020


"Ketahuilah sekarang, bahwa firman TUHAN yang telah diucapkan TUHAN tentang keluarga Ahab, tidak ada yang tidak dipenuhi, TUHAN telah melakukan apa yang difirmankan-Nya dengan perantaraan Elia, hamba-Nya."  2 Raja-Raja 10:10

Tuhan tidak pernah ingkar dengan apa yang diucapkan, sebab firman-Nya adalah ya dan amin.  Tidak ada perkataan firman Tuhan yang berlalu dengan sia-sia,  "...firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya."  (Yesaya 55:11).  Keluarga raja Ahab harus menanggung akibat dari perbuatan jahatnya, dan penghukuman atas mereka sudah Tuhan sampaikan sebelumnya.

     Suatu ketika Izebel  (isteri raja Ahab)  sempat melakukan ancaman terhadap Elia sehingga Elia mengalami ketakutan yang luar biasa.  Namun akhirnya hidup Izebel ini harus berakhir secara tragis:  mayatnya dimakan anjing tepat seperti yang diucapkan oleh abdi Tuhan  (Elia):  "Izebel akan dimakan anjing di kebun di luar Yizreel dengan tidak ada orang yang menguburkannya."  (2 Raja-Raja 9:10a).  Seberapa pun tinggi kedudukan dan sebesar-besar harta kekayaan yang dimiliki, orang takkan mampu menghindarkan diri dari penghukuman Tuhan bila ia melakukan kejahatan, sebab Tuhan tidak memandang bulu dan Ia tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan:  "Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya."  (Galatia 6:7b).  Alkitab menegaskan bahwa pelanggaran terhadap firman Tuhan selalu mendatangkan akibat yang mengerikan, karena itu kita tidak bisa main-main dengan dosa.  Sekali Tuhan berfirman tentang hidup seseorang, itu pasti terjadi.  Apa yang menimpa keluarga Ahab ini menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa perkataan Tuhan itu sangat berkuasa.

     Jangan sekali-kali kita menyepelekan firman Tuhan!  Sekali Tuhan berfirman tentang suatu hal, cepat atau lambat, firman-Nya pasti akan digenapi, Ia pasti akan melaksanakan apa yang telah diucapkan-Nya.  Jika sampai hari ini kita belum mengalami apa yang dijanjikan Tuhan, imani dan tetap pegang janji firman-Nya sebagaimana Tuhan menasihati Yosua untuk merenungkan firman Tuhan siang dan malam  (Yosua 1:8).

"Sesungguhnya seperti yang Kumaksud, demikianlah akan terjadi, dan seperti yang Kurancang, demikianlah akan terlaksana:"  Yesaya 14:24

Sunday, August 9, 2020

KITA HIDUP KARENA PERCAYA, BUKAN MELIHAT

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 9 Agustus 2020


"Sebab kami hidup berdasarkan percaya kepada Kristus, bukan berdasarkan apa yang dapat dilihat," 2 Korintus 5:7  (BIS)

Alkitab menyatakan:  "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat."  (Ibrani 11:1).  Jadi iman merupakan dasar bagi orang percaya dalam menjalani hidup kekristenan.  Namun dalam kehidupan nyata banyak orang Kristen yang tidak hidup berdasarkan percaya kepada Tuhan, tapi hidup dikendalikan oleh situasi atau keadaan yang ada.  Itulah sebabnya ketika mengalami masalah atau kesulitan mereka akan mudah sekali bersungut-sungut, mengeluh dan mengomel karena pandangan matanya tertuju pada masalah.

     Kekristenan sejati adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat  (ayat nas)!  Kalau kita menjalani kehidupan kekristenan dengan normal, yaitu mengaktifkan iman, kita akan menjadi orang-orang Kristen yang berkemenangan.  Dengan iman, kita sanggup melihat apa yang tidak sanggup dilihat oleh mata jasmani;  kita sanggup melihat sisi positif di balik permasalahan;  kita sanggup melihat bahwa ada kebaikan di balik setiap peristiwa.  Orang Kristen yang hidup karena percaya memiliki keyakinan yang kuat bahwa ada Tuhan yang menyertai, dan memiliki keyakinan, alias tidak ragu atau bimbang, terhadap segala janji Tuhan.  Dengan iman, kita akan terus bertekun dan bersabar menanti-nantikan Tuhan karena mengerti benar bahwa waktu Tuhan adalah yang terbaik.

     Meski diperhadapkan dengan tantangan dan ujian yang berat, rasul Paulus berkata,  "...kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari."  (2 Korintus 4:16).  Rasul Paulus sangat percaya bahwa penderitaan yang dialaminya itu tidak sebanding dengan kemuliaan yang Tuhan sediakan kelak  (Roma 8:18).  Banyak orang Kristen yang menjalani hidupnya dengan letih lesu, keluh kesah, persungutan, omelan dan sebagainya, karena fokusnya hanya tertuju pada besarnya masalah dan situasi yang ada.  Mari kita belajar meneladani Paulus yang senantiasa berjalan dengan iman setiap hari.

Rugi besar jika kita tidak sungguh-sungguh beriman kepada Tuhan, karena tanpa iman kita takkan mengalami kedahsyatan kuasa Tuhan dalam hidup ini!

Saturday, August 8, 2020

DEWASA ROHANI: Warisan Rohani

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 Agustus 2020


"...selama seorang ahli waris belum akil balig, sedikitpun ia tidak berbeda dengan seorang hamba, sungguhpun ia adalah tuan dari segala sesuatu;"  Galatia 4:1

Yang dimaksud  'akil balig'  adalah orang yang telah mencapai tahap dewasa.  Kata  'baligh'  diambil dari kata bahasa Arab yang bisa diartikan:  sampai... usia seseorang mencapai ke tahap kedewasaan.  Alkitab menyatakan bahwa orang yang belum dewasa rohani belum layak untuk menerima warisan.  Setelah mengalami akil balig barulah hak sebagai ahli waris dapat diterimanya.  Akil balig yang dimaksudkan oleh ayat nas di atas adalah akil balig rohani atau kedewasaan rohani.  Inilah yang menjadi sasaran hidup orang percaya yaitu mencapai kedewasaan rohani  (Efesus 4:13).

     Setiap manusia pasti mengalami pertumbuhan secara fisik:  mulai dari bayi, balita, anak-anak, remaja pemuda dan kemudian menjadi orang yang dewasa.  Tapi pertumbuhan fisik atau semakin bertambahnya usia seseorang tak menjamin ia memiliki kedewasaan rohani.  Orang bisa dikatakan telah mencapai tahap dewasa rohani atau mengalami akil balig secara roh apabila ia tidak lagi:  "...hidup dalam daging, melainkan dalam Roh... Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran."  (Roma 8:9-10).  Firman Tuhan menegaskan bahwa jika seseorang bukan milik Kristus ia tidak berhak untuk menjadi ahli waris,  "Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris,..."  (Galatia 4:7), dan  "...kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat."  (1 Petrus 1:18-19).

     Orang yang sudah akil balig secara roh adalah orang yang meninggalkan segala perbuatan duniawi!  "Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu."  (1 Korintus 13:11b)  dan hidup menurut pimpinan Roh Kudus.  Hanya orang yang sudah mengalami  'akil balig'  secara rohlah yang semakin dipercaya oleh Tuhan dalam segala hal yang berhak menjadi ahli waris-Nya.

Ingin mewarisi kerajaan sorga?  Jadilah anak-anak Tuhan yang dewasa rohani!

Friday, August 7, 2020

TUNANGAN KRISTUS: Menjaga Kesucian Hidup

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 7 Agustus 2020


"Sebab aku cemburu kepada kamu dengan cemburu ilahi. Karena aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus."  2 Korintus 11:2

Sebelum memasuki jenjang pernikahan yang kudus, biasanya setiap pasangan terlebih dahulu mengadakan acara pertunangan sebagai tanda ikatan cinta mereka.  Pertunangan merupakan masa peralihan antara lajang dengan pernikahan.  Biasanya dalam pertunangan terdapat tradisi saling memberikan hadiah untuk menguatkan ikatan.  Dalam menjalani masa-masa pertunangan ini pasangan pria wanita harus bisa menjaga gelora cintanya dan menjaga kesucian hidup, sampai hari yang ditunggu-tunggu  (pernikahan)  itu tiba.

     Keberadaan orang percaya atau jemaat Tuhan adalah calon mempelai Kristus.  Sebagaimana ditegaskan rasul Paulus, setiap orang percaya telah dipertunangkan dengan Kristus.  Orang percaya atau gereja digambarkan sebagai mempelai wanita yang akan bertemu dengan mempelai laki-laki di pesta kawin Anak Domba.  Karena kita telah dipertunangkan dengan Kristus kita harus bisa menjaga kesucian hidup dan kuat menghadapi segala godaan yang ada, sampai Ia datang.  Kita tidak boleh mendua hati atau bercabang hati.  Jangan sampai di masa-masa penantian ini kita malah terpikat oleh iming-iming dunia ini, terpedaya dengan kenikmatan dunia yang hanya sesaat, atau disesatkan oleh ajaran-ajaran yang menyimpang dari Injil, yang membuat kita semakin jauh dari Tuhan.  Inilah yang dikuatirkan oleh rasul Paulus,  "Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya."  (2 Korintus 11:3).  Karena kita telah dipertunangkan dengan Kristus, kita pun harus menjadi tunangan yang setia sampai akhir.

     Jangan sampai hati kita berpaling kepada dunia ini sehingga akan menimbulkan kecemburuan Tuhan.  Bila kita  'bersahabat'  dengan dunia ini, artinya kita menjadikan diri kita sebagai musuh Tuhan  (Yakobus 4:4).  Sebagai tunangan Kristus marilah kita tetap setia menanti-nanti Dia dan menjaga kekudusan hidup, sampai Ia datang untuk menjemput kita.

Kita sudah dikuduskan dan ditebus oleh darah Kristus di kayu salib, berarti kita sudah sepenuhnya menjadi milik-Nya.

Thursday, August 6, 2020

LATIHAN MENUJU PERTUMBUHAN ROHANI

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 6 Agustus 2020


"sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus,"  Filipi 1:10

Kehidupan Kristen yang normal adalah kehidupan yang semakin bertumbuh secara rohani, seperti tanaman yang melewati fase demi fase untuk bisa tumbuh menjadi pohon yang berbuah lebat:  mulai dari biji yang ditanam, bertunas, berakar, bertumbuh dan berbuah atau menghasilkan panenan.  Orang percaya harus mengalami pertumbuhan:  "...kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian,"  (Filipi 1:9), hingga kita mencapai sasaran yang Tuhan kehendaki yaitu menjadi umat yang suci dan tak bercacat menjelang kedatangan Kristus  (ayat nas).  Itu artinya kita tidak boleh tetap menjadi kanak-kanak dalam Tuhan atau kerdil rohani, melainkan terus bertumbuh di dalam Tuhan dan menjadi dewasa rohani.

     Kedewasaan rohani tidak terjadi secara instan, tapi membutuhkan proses dan latihan, bukan dalam sehari, seminggu, sebulan atau setahun, tapi di sepanjang hidup kita.  Hal-hal apa saja yang perlu dilatih?  1.  Membaca dan merenungkan firman Tuhan.  Firman Tuhan adalah makanan bagi jiwa dan roh kita.  Alkitab menyatakan manusia hidup bukan dari roti saja, tapi dari setiap firman Tuhan  (Matius 4:4).  Sebagaimana tubuh jasmani kita membutuhkan makanan yang bergizi untuk tumbuh, demikian pula tubuh rohani kita juga harus diberi  'makanan'  rohani yaitu firman Tuhan setiap hari.  "Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung."  (Yosua 1:8).  Selain membawa pertumbuhan rohani, membaca dan merenungkan firman juga menjadi kunci untuk mengalami berkat Tuhan.

     2.  Bertekun dalam doa.  Alkitab menasihati supaya orang percaya dengan tidak jemu-jemu berdoa  (Lukas 18:1).  Kristus sendiri memberikan teladan bagaimana Ia memulai hari dengan berdoa  (Markus 1:35).  Berdoa berbicara tentang persekutuan dengan Tuhan yang harus dijaga baik-baik, secara terus-menerus, sehingga tidak terputus.

Tinggal di dalam firman Tuhan dan membangun persekutuan yang karib dengan Tuhan adalah langkah menuju kepada kedewasaan rohani!

Wednesday, August 5, 2020

WAKTU YANG TIDAK PERNAH DIDUGA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 5 Agustus 2020


"Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar."

Pada waktu kedatangan-Nya yang pertama ke dunia Kristus datang sebagai Anak Manusia, namun pada waktu Dia datang untuk kedua kalinya kelak, Dia datang sebagai Tuhan yang Mahakuasa.  Dahulu Kristus datang sebagai Anak Domba, sebentar lagi Dia akan datang sebagai Singa Yehuda, seperti tertulis:  "Jangan engkau menangis! Sesungguhnya, singa dari suku Yehuda, yaitu tunas Daud, telah menang, sehingga Ia dapat membuka gulungan kitab itu dan membuka ketujuh meterainya."  (Wahyu 5:5).  Kristus datang sebagai Raja atas segala raja dan Tuhan atas segala tuhan.

     Kedatangan Kristus yang pertama adalah untuk menyelesaikan misi dari Bapa yaitu untuk menebus dosa umat manusia, kelak Dia akan datang untuk menghakimi orang yang berdosa, tetapi  "...tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri." 

     Responsnya?  Mereka tetap bersikap acuh tak acuh dan menganggap remeh peringatan Nuh.  Mereka bukannya segera bertobat, tapi perbuatan jahatnya semakin menjadi-jadi!  Sikap yang sama juga ditunjukkan oleh orang-orang  di zaman sekarang ini, tak peduli dengan perkara-perkara rohani dan tetap saja hidup memuaskan keinginan hawa nafsunya.  Pikirnya:  "Urusan bertobat itu nanti saja!"

"Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga."  Matius 24:44

Tuesday, August 4, 2020

LENGAN TUHAN SIAP UNTUK MENOPANG

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 4 Agustus 2020


"Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, sebab Ia telah melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan kepada-Nya oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus."  Mazmur 98:1

Saat-saat ini, semua orang dikejutkan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia ini:  bencana alam, wabah penyakit dsb, yang tiba-tiba datang menyerang.  Semua itu diluar prediksi manusia!  Tak seorang pun tahu apa yang akan terjadi dikemudian hari.

     Sebagai orang percaya, tak perlu berkecil hati, karena kita memiliki Tuhan yang besar, yang kuasa-Nya tidak pernah berubah, Dia berjanji akan menyertai kita sampai kesudahan zaman.  Tuhan berkata:  "Bahwasanya Aku, TUHAN, tidak berubah,..."  (Maleakhi 3:6).  Karena Tuhan tidak berubah, kita dapat menjadikan Dia sebagai tempat perlindungan,  "...dan di bawahmu ada lengan-lengan yang kekal. Ia mengusir musuh dari depanmu dan berfirman: Punahkanlah!"  (Ulangan 33:27).  Lengan Tuhan yang kekal adalah tempat yang aman dan benteng yang kuat bagi setiap orang yang mencari perlindungan kepada-Nya,  "...Sesungguhnya, Engkaulah yang telah menjadikan langit dan bumi dengan kekuatan-Mu yang besar dan dengan lengan-Mu yang terentang. Tiada suatu apapun yang mustahil untuk-Mu!"  (Yeremia 32:17).  Seberapa besar pun masalah di dalam hidup ini, kita harus percaya bahwa Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang berkuasa, yang sanggup menolong dan memulihkan kita, karena tidak ada yang terlalu sukar bagi-Nya.  Tuhan dapat menciptakan dan menyediakan segala sesuatu yang kita butuhkan dalam hidup ini, karena itu bergantunglah penuh pada lengan-Nya yang kekal.

     Karena kuasa Tuhan tidak berubah adanya maka mujizat-Nya juga masih ada sampai detik ini, artinya Tuhan masih memiliki kuasa untuk menciptakan segala sesuatu dengan lengan-Nya yang perkasa itu;  Tuhan masih sanggup melakukan perkara-perkara yang besar dan ajaib:  "Mungkinkah tangan-Ku terlalu pendek untuk membebaskan atau tidak adakah kekuatan pada-Ku untuk melepaskan? Sesungguhnya, dengan hardik-Ku Aku mengeringkan laut, Aku membuat sungai-sungai menjadi padang gurun; ikan-ikannya berbau amis karena tidak ada air dan mati kehausan."  (Yesaya 50:2).

"Mungkinkah tangan-Ku terlalu pendek untuk membebaskan atau tidak adakah kekuatan pada-Ku untuk melepaskan? Sesungguhnya, dengan hardik-Ku Aku mengeringkan laut, Aku membuat sungai-sungai menjadi padang gurun; ikan-ikannya berbau amis karena tidak ada air dan mati kehausan."  (Yesaya 50:2).

"Punya-Mulah lengan yang perkasa, kuat tangan-Mu dan tinggi tangan kanan-Mu."  Mazmur 89:14

Monday, August 3, 2020

MENGENAKAN BAJU ZIRAH KEADILAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 3 Agustus 2020


"...kita, yang adalah orang-orang siang, baiklah kita sadar, berbajuzirahkan iman dan kasih, dan berketopongkan pengharapan keselamatan."  1 Tesalonika 5:8

Hidup Kristiani adalah hidup dalam peperangan rohani setiap hari.  Tantangan yang dihadapi semakin hari bukan semakin ringan, tapi semakin hari semakin berat.  Karena itu kita harus membangun iman setiap hari supaya makin kuat dan tak tergoyahkan.  Dalam peperangan rohani ini kita harus memperlengkapi diri dengan perlengkapan senjata rohani supaya dapat bertahan melawan musuh, sebab perjuangan kita sangat berat:  melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap, melawan roh-roh jahat di udara  (Efesus 6:12).

     Salah satu perlengkapan senjata rohani adalah baju zirah  (Efesus 6:14).  Baju zirah itu seperti rompi/vest di masa kini.  Pada zaman dahulu para prajurit mengenakan baju zirah saat berperang, dengan tujuan agar bagian tubuh yang vital dapat terlindungi dari serangan musuh.  Bagian tubuh paling vital yang dilindungi:  1.  Paru-paru  (bagian dada).  Manusia mempunyai dua paru-paru  (kanan dan kiri)  yang keduanya terletak di dalam rongga dada.  Kita tahu bahwa paru-paru adalah organ sistem pernafasan manusia, ini berbicara tentang kehidupan doa.  Doa adalah nafas hidup!  Orang yang sedikit berdoa sama halnya sedikit bernafas.  Berhenti berdoa berarti berhenti bernafas  (mati rohani).  Berbagai cara dilakukan Iblis untuk mencuri waktu kita dengan berbagai kesibukan atau aktivitas sehari-hari, supaya tidak berdoa.  2.  Perut.  Ini berbicara tentang kebutuhan ekonomi  (urusan perut).  Iblis seringkali menyerang perekonomian keluarga-keluarga Kristen dengan krisis keuangan.  Karena terlilit masalah ekonomi, banyak orang Kristen yang meninggalkan Tuhan dan mencari pertolongan kepada dunia.  Demi pekerjaan, demi uang, demi promosi, mereka rela meninggalkan Tuhan dan menyangkal iman.

     3.  Hati.  Ada begitu banyak penyakit yang disebabkan oleh hati  (lever)  yang rusak, dan jika hati tidak lagi berfungsi dengan baik akan sangat berbahaya karena bisa mengakibatkan kematian.  Begitu pula dengan  'hati'  (heart)  kita:  "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan."  (Amsal 4:23).

Baju zirah harus dikenakan secara terus menerus agar panah api dari si Iblis tidak melukai kita, sebab Iblis selalu mencari kelengahan kita!

Sunday, August 2, 2020

PUJIAN MANUSIA ITU SIA-SIA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 2 Agustus 2020


"...tidak pernah kami mencari pujian dari manusia, baik dari kamu, maupun dari orang-orang lain, sekalipun kami dapat berbuat demikian sebagai rasul-rasul Kristus."  1 Tesalonika 2:6

Siapa yang tak ingin menjadi terkenal, dikagumi dan disanjung oleh banyak orang?  Semua orang pasti menginginkan hal itu.  Dunia memang haus akan pujian, sanjungan, pujian dan penghargaan.  Bagi orang percaya, khususnya para pelayan Tuhan, kita patut berhati-hati!  Jangan sampai kita haus pujian dari manusia, sebab apabila kita mabuk pujian dan sanjungan, cepat atau lambat, kita pasti akan tergelincir.  Pujian dari manusia itu seperti minyak licin yang tumpah di jalan, siapa pun yang lewat pasti terpeleset.

     Marilah kita meneladani Kristus!  Selama melayani umat manusia sangat jarang orang berterima kasih kepada-Nya, dan memang Ia sama sekali tidak haus sanjungan manusia.  Kristus menyadari bahwa Ia diutus Bapa  "...bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."

     Bukankah fenomena semacam ini marak terjadi dan melanda para hamba Tuhan?  Ada hamba-hamba Tuhan tertentu yang memasang tarif bila diundang dalam suatu pelayanan.  Jika tarif tak sesuai, mereka enggan pergi melayani.  Namun selama melayani pekerjaan Tuhan, bisakah kita berkata seperti rasul Paulus?  "Perak atau emas atau pakaian tidak pernah aku ingini dari siapapun juga."  (Kisah 20:33).

"Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil."  Yohanes 3:30