Thursday, May 28, 2020

SALOMO: Seorang Yang Berkarisma

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 28 Mei 2020

Baca:  1 Raja-Raja 10:1-29

"sungguh setengahnyapun belum diberitahukan kepadaku; dalam hal hikmat dan kemakmuran, engkau melebihi kabar yang kudengar."  1 Raja-Raja 10:7

Salomo adalah salah satu tokoh besar di Alkitab yang terkenal karena hikmat dan kekayaannya.  Nama  'Salomo'  berarti damai sentosa!  Ia dipilih Tuhan sebelum ada di dalam kandungan ibunya.  Tuhan sudah berpesan kepada Daud bahwa puteranya, yaitu Salomo, akan mengokohkan kerajaannya dan mendirikan rumah Tuhan,  "...Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, anak kandungmu, dan Aku akan mengokohkan kerajaannya. Dialah yang akan mendirikan rumah bagi nama-Ku dan Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya untuk selama-lamanya."  (2 Samuel 7:12-13).

     Alkitab mencatat tentang kehebatan Salomo:  1.  Hikmat yang luar biasa.  Tuhan memberikan hikmat yang luar biasa kepada Salomo sehingga banyak orang berikhtiar menghadap Salomo, ingin menyaksikan hikmat tersebut  (1 Raja-Raja 10:24).  Karena hikmat yang dimilikinya, Salomo menjadi lebih bijaksana daripada semua orang  (1 Raja-Raja 4:29-31), dan ia pun menjadi sangat terkenal:  "...datanglah orang dari segala bangsa mendengarkan hikmat Salomo, dan ia menerima upeti dari semua raja-raja di bumi, yang telah mendengar tentang hikmatnya itu."  (1 Raja-Raja 4:34).  2.  Kekayaan yang melimpah.  Salomo tidak hanya diberkati dengan hikmat, tapi juga kekayaan:  "...Aku berikan kepadamu, baik kekayaan maupun kemuliaan, sehingga sepanjang umurmu takkan ada seorangpun seperti engkau di antara raja-raja."  (1 Raja-Raja 3:13).  Begitu kayanya Salomo sehingga seluruh perkakas minuman raja dan semua barang yang ada di dalam istananya terbuat dari emas murni, tidak ada barang perak  (1 Raja-Raja 10:21), dan  "Raja Salomo melebihi semua raja di bumi dalam hal kekayaan dan hikmat."  (1 Raja-Raja 10:23).

     Salomo memiliki karisma sangat luar biasa!  Karisma adalah kemampuan atau kehebatan yang dimiliki seseorang yang tidak diperoleh melalui pendidikan formal, melainkan pembawaan lahir.  Secara rohani karisma bisa diartikan kemampuan yang diberikan Roh Kudus secara khusus kepada orang percaya untuk dipergunakan melayani pekerjaan Tuhan, membangun jemaat dan semata-mata untuk kemuliaan nama Tuhan.

Karena karismanya Salomo menjadi sangat terkenal dan dikagumi banyak orang!

Wednesday, May 27, 2020

KEKUATAN DOA: Melepaskan Belenggu

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 27 Mei 2020

Baca:  Kisah Para Rasul 12:1-19

"Jadi Petrus ditahan di penjara; tetapi anggota-anggota jemaat terus saja berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan untuk Petrus."  Kisah 12:5  (BIS)

Rasul Paulus mengingatkan bahwa sebagai orang percaya, kita  "...dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia,"  (Filipi 1:29).  Mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, kita harus siap bila diperhadapkan dengan penderitaan karena nama Kristus, seperti yang dialami orang-orang di zaman para rasul.  Saat raja Herodes memerintah banyak terjadi penganiayaan terhadap para pengikut Kristus:  menyiksa, memenjarakan, dan bahkan membunuhnya.  "Ia  (Herodes)  menyuruh membunuh Yakobus, saudara Yohanes, dengan pedang."  (Kisah 12:2).

     Herodes juga menangkap dan memenjarakan Petrus:  "...di bawah penjagaan empat regu, masing-masing terdiri dari empat prajurit. Maksudnya ialah, supaya sehabis Paskah ia menghadapkannya ke depan orang banyak."  (Kisah 12:4).  Banyak orang memperkirakan bahwa nasib Petrus akan sama seperti Yakobus yang terbunuh dengan pedang.  Kemungkinan kecil untuk bisa lolos dari maut, karena ia dijaga ketat oleh para prajurit Herodes, dengan kaki dan tangan terbelenggu dengan rantai yang kuat.  Secara akal manusia sirna sudah harapan Petrus untuk dapat menikmati kehidupan, sebab bayang-bayang kematian sudah tampak jelas di depan mata.  Yang Petrus dapat lakukan hanyalah berserah penuh kepada Tuhan dan berharap mujizat-Nya dinyatakan.  Mungkin saat ini kita mengalami hal yang sama seperti Petrus, yaitu terbelenggu rantai yang kuat:  terbelenggu oleh berbagai macam persoalan hidup.  Hidup kita seperti berada dalam penjara, nasib berada di ujung tanduk!  Namun apa yang terjadi kemudian?  Petrus mengalami pertolongan dari Tuhan secara luar biasa, mujizat yang sama sekali tak terpikirkan oleh akal manusia, terjadilah!  Semua karena doa dari jemaat  (ayat nas).

     Berdoa dengan sungguh dan disertai iman menghasilkan perkara-perkara besar!  Doa inilah yang menggetarkan sorga dan mengerakkan tangan Tuhan untuk bertindak:  "Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan dekat Petrus dan cahaya bersinar dalam ruang itu. Malaikat itu menepuk Petrus untuk membangunkannya, katanya: 'Bangunlah segera!' Maka gugurlah rantai itu dari tangan Petrus."  (Kisah 12:7).  

Doa orang benar sangat besar kuasanya, karena Tuhan menjawabnya dari sorga!

Tuesday, May 26, 2020

JANGAN MENYERAH PADA KEADAAN!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 26 Mei 2020

Baca:  2 Raja-Raja 7:1-20

"Empat orang yang sakit kusta ada di depan pintu gerbang. Berkatalah yang seorang kepada yang lain: 'Mengapakah kita duduk-duduk di sini sampai mati?'"  2 Raja-Raja 7:3

Ketika kota Somaria sedang terkepung oleh pasukan Aram, hubungan dengan dunia luar pun menjadi terputus.  Tak bisa dibayangkan betapa menderitanya bila suatu kota terisolasi.  "...terjadilah kelaparan hebat di Samaria selama mereka mengepungnya, sehingga sebuah kepala keledai berharga delapan puluh syikal perak dan seperempat kab (2 ons - Red.) tahi merpati berharga lima syikal perak."  (2 Raja-Raja 6:25).  1 syikal = 11,4 gram.  Bukan hanya orang miskin yang menderita dan terancam mati kelaparan, tetapi orang kaya pun, cepat atau lambat, akan bernasib sama.  Lalu Elisa  (abdi Tuhan)  bernubuat tentang keadaan kota ini,  "Besok kira-kira waktu ini sesukat (3 kilogram - Red.) tepung yang terbaik akan berharga sesyikal dan dua sukat (6 kilogram - Red.) jelai (barley - Red.) akan berharga sesyikal di pintu gerbang Samaria."  ( 2 Raja-Raja 7:1).

     Perwira raja tidak percaya nubuatan Elisa:  "Sekalipun TUHAN membuat tingkap-tingkap di langit, masakan hal itu mungkin terjadi?"  (2 Raja-Raja 7:2a).  Elisa pun merespons demikian,  "
"Sesungguhnya, engkau akan melihatnya dengan matamu sendiri, tetapi tidak akan makan apa-apa dari padanya."  (2 Raja-Raja 7:2b).  Saat itu ada empat orang kusta tinggal di luar pintu gerbang kota yang sama sekali tidak tahu nubuatan Elisa.  Mereka sangat menderita, bukan saja karena penyakitnya, tapi juga karena kelaparan.  Tinggal menunggu waktu saja, kematian pasti menjemput!  Namun mereka tidak menyerah pada keadaan.  Berkatalah salah seorang dari mereka,  "Mengapakah kita duduk-duduk di sini sampai mati? Jika kita berkata: Baiklah kita masuk ke kota, padahal dalam kota ada kelaparan, kita akan mati di sana. Dan jika kita tinggal di sini, kita akan mati juga. Jadi sekarang, marilah kita menyeberang ke perkemahan tentara Aram. Jika mereka membiarkan kita hidup, kita akan hidup, dan jika mereka mematikan kita, kita akan mati."  (2 Raja-Raja 7:3b-4).

     Sekalipun secara manusia tidak ada harapan, keempat orang kusta itu berjuang sedemikian rupa supaya dapat bertahan hidup, maka  "...pada waktu senja bangkitlah mereka masuk ke tempat perkemahan orang Aram."  (2 Raja-Raja 7:5a).

Selalu ada harapan selama kita mau berjuang dan hidup mengandalkan Tuhan!

Monday, May 25, 2020

JUJUR DAN TERBUKA DI HADAPAN TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 25 Mei 2020

Baca:  Lukas 18:9-14

"Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini."  Lukas 18:13

Keadaan hati kita adalah faktor penting yang dapat memengaruhi hubungan kita dengan Tuhan, sebab yang dinilai Tuhan bukanlah rupa atau paras, perawakan, kekuatan, kehebatan, atau kepintaran, melainkan isi hati kita:  "Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati."  (1 Samuel 16:7b);  "...TUHAN menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita."  (1 Tawarikh 28:9).  Jelas sekali:  "...Tuhanlah yang menguji hati."  (Amsal 16:2).

     Untuk menggambarkan keadaan hati manusia Kristus memberikan suatu perumpamaan tentang dua orang yang berada di Bait Tuhan untuk berdoa, yaitu seorang Farisi dan seorang pemungut cukai  (Lukas 18:10).  Orang Farisi adalah seorang tokoh agama yang tahu kebenaran, mengajar Taurat Tuhan, tapi hatinya penuh kesombongan dan kemunafikan.  Ia merasa bersih dari dosa dan tanpa cela:   "...aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku."  (Lukas 18:11-12).  Karena merasa dirinya sudah suci dan tak bercacat cela, orang Farisi ini merasa tidak lagi memerlukan belas kasihan dan anugerah keselamatan dari Tuhan.

     Sikap yang bertolak belakang justru ditunjukkan si pemungut cukai yang  "...berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini."  (Lukas 18:3).  Pengakuan jujur disertai kerendahan hati yang ditunjukkan si pemungut cukai telah mengetuk pintu rahmat Tuhan.  Pemazmur menyatakan bahwa korban sembelihan kepada Tuhan ialah jiwa yang hancur;  hati yang patah dan remuk tidak dipandang hina oleh-Nya  (Mazmur 51:19).  Tuhan berkata,  "Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."  (Lukas 18:14).

Tuhan benci hati yang sombong, tapi Ia mengasihi orang yang rendah hati!

Sunday, May 24, 2020

TAK ALAMI KEBAHAGIAAN HIDUP

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 24 Mei 2020

Baca:  Yeremia 7:21-28

"...dan ikutilah seluruh jalan yang Kuperintahkan kepadamu, supaya kamu berbahagia!"  Yeremia 7:23

Semua orang pasti rindu memiliki kehidupan yang berbahagia.  Ingatlah!  Kebahagiaan itu sesungguhnya bukan suatu keadaan yang ditentukan oleh situasi di sekitar, tapi merupakan hasil dari sebuah keputusan yang kita ambil.  Hal ini berkenaan dengan sikap hati dalam merespons setiap keadaan yang terjadi dan kita alami.  Banyak orang berpikir:  'Kalau aku punya isteri yang cantik atau suami yang tampan, hidupku pasti berbahagia;  kalau aku punya mobil yang bagus dan punya rumah mewah di kawasan elit, hidupku pasti berbahagia.  Faktanya?  Itu tidak menjamin orang akan berbahagia dalam menjalani hidup.

     Seberat apa pun keadaan yang kita alami atau seburuk apa pun situasi yang sedang terjadi, kita akan tetap berbahagia asalkan kita hidup di jalan Tuhan atau mengikuti seluruh jalan yang Tuhan perintahkan  (ayat nas).  Hidup di jalan Tuhan atau mengikuti jalan Tuhan artinya hidup dalam kebenaran.  Penulis Amsal menasihati,  "...hai anak-anak, dengarkanlah aku, karena berbahagialah mereka yang memelihara jalan-jalanku."  (Amsal 8:32).  Pemazmur juga menyatakan,  "Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam."  (Mazmur 1:1-2).  Bukankah Tuhan berjanji bahwa Ia akan selalu menyertai kita, membela kita, menguatkan kita, menyatakan mujizat-Nya dn melakukan perkara-perkara yang besar dalam hidup orang benar?  Karena itu kita harus berpegang teguh pada janji Tuhan ini dengan hidup dalam ketaatan.

     Kita kehilangan kebahagiaan kalau kita terlalu banyak mendengar suara manusia, mendengar suara dunia, yang seringkali melemahkan.  Sebaliknya kalau kita senantiasa menyendengkan telinga kita untuk mendengar suara Tuhan  (firman-Nya), itu yang akan membuat kita kuat dan bersukacita di segala keadaan.  Pun kita akan kehilangan kebahagiaan kalau kita hidup dalam dosa, sebab dosa menghasilkan ketakutan dan membuat kita kehilangan damai sejahtera dan sukacita.

Hidup kita akan berbahagia bila kita hidup di jalan Tuhan  (mengikuti kehendak-Nya).

Saturday, May 23, 2020

TEGURAN TUHAN SAAT KITA MELAWAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 23 Mei 2020

Baca:  Amsal 19:1-29

"Dengarkanlah nasihat dan terimalah didikan, supaya engkau menjadi bijak di masa depan."  Amsal 19:20

Tuhan kita adalah Tuhan yang sungguh teramat baik, Ia selalu memerhatikan dan mengasihi kita.  Saat kita lemah dan tak berdaya Tuhan hadir melalui Roh Kudus untuk menguatkan kita;  saat kita sedang susah Roh-Nya hadir untuk menghibur kita.

     Namun ada saat-saat di mana Tuhan harus berlaku keras terhadap kita, yaitu menegur dan jika perlu  'menghajar'  kita:  "Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!"  (Wahyu 3:19).  Tuhan berlaku keras kepada kita bukan tanpa sebab!  Karena  "...ketika Aku datang tidak ada orang, dan ketika Aku memanggil tidak ada yang menjawab?"  (Yesaya 50:2a).  Ketika Tuhan datang kepada kita, kita tidak peduli, dan ketika Ia memanggil, kita tak menjawab, saat itulah Tuhan akan berlaku keras terhadap kita supaya kita segera menyadari kesalahan yang telah kita perbuat.  Jika Tuhan mendidik kita dengan keras melalui  'hajaran atau pukulan', bukan berarti Dia tidak mengasihi kita, justru Ia menunjukkan kepedulian-Nya, kasih-Nya dan tanggung jawab-Nya atas hidup kita, sebab Dia tak ingin kita semakin melenceng dari jalan-jalan-Nya.  Sebagaimana seorang ayah menghukum ketika anaknya bandel dan tak mau taat, begitu juga Bapa di Sorga jika kita sudah diberitahu, diingatkan, dinasihati dan ditegur secara halus tetap saja mengeraskan hati dan tidak mau mendengar.  "Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya."  (Amsal 13:24).  Bukan kematian orang fasik yang Tuhan kehendaki, tetapi pertobatannya, karena itu Ia berlaku sabar  (Yehezkiel 33:11).

     Bila Tuhan menghajar dan memukul kita berarti Ia memiliki rencana yang indah di balik semuanya itu.  "Karena Dialah yang melukai, tetapi juga yang membebat; Dia yang memukuli, tetapi yang tangan-Nya menyembuhkan pula." (Ayub 5:18).  Ketika kita menempuh jalan yang salah, Roh Kudus berbicara dengan lembut kepada kita untuk mengingatkan!  Janganlah mengeraskan hati bila ditegur dan diperingatkan, sebab hal itu untuk kebaikan hidup kita.

Tuhan harus berlaku keras kepada kita karena Ia tidak ingin kita bermain-main dengan dosa dan mengalami kebinasaan!

Friday, May 22, 2020

MEMBIASAKAN HIDUP SESUAI FIRMAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 22 Mei 2020

Baca:  Roma 6:15-23

"...kamu sekarang harus menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kebenaran yang membawa kamu kepada pengudusan."  Roma 6:19b

Sebagai anak-anak Tuhan kita harus melatih diri untuk mengembangkan kebiasaan-kebiasaan hidup yang benar, yang sesuai dengan firman Tuhan.  Karena itu kita harus menjadikan Kristus sebagai teladan dalam segala hal  (perkataan dan perbuatan), sebab  "Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup."  (1 Yohanes 2:6).  Mengapa kita harus mengembangkan kebiasaan hidup yang benar?  Karena kita sudah menjadi ciptaan baru di dalam Kristus,  "...yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang."  (2 Korintus 5:17).

     Membiasakan hidup sesuai firman berarti kita meninggalkan kebiasaan hidup  'manusia'  lama dan melatih diri membentuk kebiasaan hidup yang baru.  Ini harus dilakukan dengan kerelaan hati dan tanpa ada paksaan dari pihak lain.  Mengembangkan kebiasaan hidup baru yang sesuai dengan firman Tuhan berarti tidak lagi menyerahkan tubuh ini  "...untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran."  (Roma 6:13).  Apa yang menjadi kebiasaan Saudara?  Lebih suka nonton TV atau main game daripada baca Alkitab, berdoa hanya saat butuh, dan masih banyak lagi.  Kebiasaan artinya:  lazim, umum, seperti sediakala, sudah menjadi adat, sudah seringkali  (KBBI);  kecenderungan melakukan aktivitas tertentu secara terus-menerus atau berulang-ulang;  latihan atau praktek yang dilakukan secara konsisten dan kontinyu  (Webster);  hasil dari tindakan yang dilakukan secara berulang-ulang.

     Kebiasaan-kebiasaan inilah yang akhirnya akan membentuk karakter kita!  Karena kita adalah ciptaan baru, maka kita harus  "...mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya;"  (Kolose 3:10).  Hal-hal apa saja yang harus kita biasakan agar menjadi karakter kita?  Bersaat teduh  (berdoa, baca firman Tuhan), ibadah, mengembalikan milik Tuhan  (persepuluhan), mempraktekkan kasih  (Yohanes 13:34-35).

Tinggalkan kebiasaan lama dan hiduplah sebagai manusia baru di dalam Kristus!

Thursday, May 21, 2020

KRISTUS NAIK KE SORGA: Kuasa Menyertai Orang Percaya

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 21 Mei 2020

Baca:  Markus 16:9-20

"Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga,"  Markus 16:19

Peristiwa kenaikan Kristus ke sorga menandai akhir kebersamaan Dia secara fisik dengan murid-murid-Nya di dunia.  Saat masih di bumi orang-orang percaya dan murid-murid-Nya dapat berbicara langsung dan bergaul karib dengan-Nya secara fisik, tapi setelah peristiwa ini mereka harus berpisah, Ia harus kembali ke tempat asal-Nya, yaitu sorga.  "Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; Aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa."  (Yohanes 16:28).  Kenaikan Kristus ke sorga adalah klimaks kehidupan-Nya di dunia, Ia telah menggenapi rencana Bapa dengan sangat sempurna!

     Jika kita baca di Markus 16:9-20 ini, setelah bangkit dari kematian-Nya Kristus beberapa kali menampakkan diri kepada orang-orang dan murid-murid-Nya, dengan meninggalkan suatu pesan yang menguatkan bahwa mereka akan menerima kuasa dari tempat Mahatinggi, sehingga tanda-tanda ajaib akan menyertai pelayanan mereka dalam memberitakan Injil  (Markus 16:15-18).  Karena Kristus naik ke sorga, maka tugas pelayanan-Nya kini dilanjutkan oleh murid-murid-Nya;  ini bukan berarti Kristus tak lagi menyertai:  "Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu."  (Yohanes 14:18a), ada Roh Kudus yang diutus untuk menyertai hidup orang percaya!  "Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu."  (Yohanes 16:7).

     Kenaikan Kristus ke sorga menjadi bukti tak terbantahkan bahwa Dia adalah Tuhan segala tuhan, Raja di atas segala raja.  Tapi mengapa banyak orang meragukan ke-Ilahian-Nya dan tak mau percaya kepada-Nya?  Padahal Kristus kembali ke sorga  "...untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada."  (Yohanes 14:2-3).  Dengan demikian, kehidupan kekal di sorga adalah hal yang pasti yang Tuhan sediakan bagi orang percaya, yang setia sampai akhir.

Kristus kembali ke Sorga karena Dia adalah Tuhan dan Raja, percayalah kepada-Nya!

Tuesday, May 19, 2020

MATA ROHANI TELAH DIBUTAKAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 19 Mei 2020

Baca:  Yesaya 59:1-21

"Kami meraba-raba dinding seperti orang buta, dan meraba-raba seolah-olah tidak punya mata; kami tersandung di waktu tengah hari seperti di waktu senja, duduk di tempat gelap seperti orang mati." Yesaya 59:10

Banyak orang tak menyadari bahwa mereka sedang mengalami kebutaan rohani, karena  "...pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus,"  (2 Korintus 4:4).  Perkara-perkara dunia dengan segala kenikmatannya telah menuntun manusia menyusuri lorong yang gelap dan menjauhkan mereka dari Terang:  "Kami meraba-raba dinding seperti orang buta, dan meraba-raba seolah-olah tidak punya mata; kami tersandung di waktu tengah hari seperti di waktu senja, duduk di tempat gelap seperti orang mati."  (ayat nas).  Mereka tak melihat adanya  'terang'  sekalipun pada  'siang hari', karena kegelapan telah menyelubungi mereka.

     Dalam arti rohani, walaupun mereka melihat kebenaran Tuhan, mereka seakan-akan tak melihatnya karena kegelapan dunia ini telah menyelimuti mata rohani mereka;  sekalipun Injil telah diberitakan di mana-mana, tapi telinga dan mata hati mereka tetap saja tertutup, yang akhirnya membuat  "...manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat."  (Yohanes 3:19).  Alkitab menggambarkan tentang manusia yang buta dan tuli rohani:  "Hai anak manusia, engkau tinggal di tengah-tengah kaum pemberontak, yang mempunyai mata untuk melihat, tetapi tidak melihat dan mempunyai telinga untuk mendengar, tetapi tidak mendengar, sebab mereka adalah kaum pemberontak."  (Yehezkiel 12:2).  Begitu pula orang-orang Kristen yang tetap saja hidup dalam kegelapan, sekalipun telah melihat Terang dan mendengar pengajaran-pengajaran yang benar dari Kristus, adalah pemberontak!

     Ada seorang kaya yang mati dan menderita di dalam neraka, ia meminta kepada Abraham untuk mengutus Lazarus datang ke dunia guna memberitakan Injil kepada saudara-saudaranya yang masih hidup di dunia, tapi kata Abraham kepadanya,  "Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati."  (Lukas 16:31).

Demikian sulitnya membawa orang-orang untuk bertobat dan percaya kepada Kristus, karena mata rohani mereka telah dibutakan oleh dunia!

Monday, May 18, 2020

MENGOLAH TANAH HATI KEMBALI

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 18 Mei 2020

Baca:  Yesaya 40:1-11

"...tanah yang berbukit-bukit harus menjadi tanah yang rata, dan tanah yang berlekuk-lekuk menjadi dataran;"  Yesaya 40:4b

Adalah sangat penting bagi kita untuk bersungguh-sungguh memerhatikan dan merenungkan firman Tuhan siang dan malam, sebab selain merupakan perintah dari Tuhan, firman Tuhan yang kita baca dan renungkan akan menjadi rhema, muncul pada saat yang tepat, saat dibutuhkan, yaitu saat kita dalam kesesakan, kesukaran, dan situasi-situasi yang tak menyenangkan, ayat firman Tuhan tersebut akan menguatkan, menghibur dan membangkitkan iman kita.  Jadi apabila terjadi hal-hal yang tak diinginkan dan begitu mengecewakan, kita takkan mudah kecewa, menggerutu, bersungut-sungut dan frustasi, sebab Alkitab sudah menyatakan:  "ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari;"  (Pengkhotbah 3:4).

     Jika berbagai hal yang tak terduga  (masalah, penderitaan)  kita alami, ada hal-hal yang harus kita perhatikan dan persiapkan:  "sebab sudah waktunya untuk mencari TUHAN, sampai Ia datang dan menghujani kamu dengan keadilan."  (Hosea 10:12b).  Membuka tanah baru berarti membajak dan menggali tanah tersebut supaya tanah yang keras menjadi lunak atau gembur;  membuka tanah baru berarti pula menyingkirkan batu-batu atau kerikil-kerikil, termasuk membersihkan rumput-rumput liar  (gulma)  yang tumbuh.  Demikian juga halnya dalam kehidupan ini!  Mungkin masih ada hal-hal yang tak baik dalam tanah hati kita yang perlu dibersihkan dan dibereskan!  Mungkin ada hal-hal yang selama ini menghambat dan menghimpit benih firman Tuhan, di mana tanah hati kita masih keras dan dipenuhi dengan tanaman-tanaman liar.  Inilah saat yang tepat untuk kita membuat sebuah keputusan hidup:  "...ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun;"  (Pengkhotbah 3:3b).

     Setelah tanah hati dibuka,  "...waktunya untuk mencari TUHAN, sampai Ia datang dan menghujani kamu dengan keadilan." (ayat nas).  Bukan saatnya lagi membuang-buang waktu untuk hal-hal yang tak berguna.  Setiap waktu yang ada harus kita pergunakan semaksimal mungkin untuk mengejar perkara-perkara sorgawi.

Bila Tuhan sudah bertahta penuh di dalam hati kita, maka Ia akan datang untuk mencurahkan hujan berkat-Nya atas hidup kita.

Sunday, May 17, 2020

JANGAN PERNAH MENYALAHKAN TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 Mei 2020

Baca:  Ayub 10:1-22

"Tangan-Mulah yang membentuk dan membuat aku, tetapi kemudian Engkau berpaling dan hendak membinasakan aku?"  Ayub 10:8

Penderitaan, masalah, kesulitan atau kesengsaraan yang terjadi di dunia ini memang tak pandang bulu, bisa menimpa siapa saja dan dapat terjadi dalam berbagai bentuk.  Penderitaan dalam hidup ini bisa terjadi karena berbagai hal:  bisa akibat kesalahan atau dosa yang diperbuat, tapi bisa juga karena faktor lain yaitu karena Tuhan punya rencana atas hidup kita, sehingga Ia ijinkan hal itu terjadi.  Pada umumnya bila penderitaan sudah mencapai puncaknya, kita seringkali merasa tidak tahan dan kemudian memberontak.

     Ayub pernah menunjukkan rasa frustasi dan keputusasaannya,  "Aku telah bosan hidup, aku hendak melampiaskan keluhanku, aku hendak berbicara dalam kepahitan jiwaku. Mengapa Engkau menyebabkan aku keluar dari kandungan? Lebih baik aku binasa, sebelum orang melihat aku!"  (Ayub 10:1, 18).  Karena penderitaan yang dialami terasa berat Ayub merasa menyesal mengapa ia dilahirkan ke dunia.  Ia pun sempat menganggap bahwa Tuhanlah yang menjadi penyebabnya.  Bahkan Ayub menuduh Tuhan telah dengan sengaja menindas hidupnya dan berkompromi dengan kehidupan orang-orang yang berlaku fasik  (Ayub 21:7-12).  Berkatalah Ayub,  "Apakah untungnya bagi-Mu mengadakan penindasan, membuang hasil jerih payah tangan-Mu, sedangkan Engkau mendukung rancangan orang fasik?"  (Ayub 10:3).  Bukankah ketika kita sedang terpuruk dan berada di titik terendah dalam hidup ini kita sering berbuat yang seperti Ayub lakukan?  Kita menuduh Tuhan berlaku jahat kepada kita, Tuhan tidak lagi memedulikan kita, dan Tuhan berlaku tidak adil terhadap kita.

     Penderitaan terkadang Tuhan ijikan terjadi dalam kehidupan kita karena Tuhan sedang memproses kita.  Selalu ada rencana yang indah di balik penderitaan yang kita alami!  Seringkali untuk menggenapi rencana indah Tuhan terjadilah pemrosesan dan persiapan terlebih dahulu.  Percayalah bahwa Tuhan turut bekerja dalam segala perkara untuk mendatangkan kebaikan  (Roma 8:28).  Akhirnya Ayub menyadari kekeliruannya menyalahkan Tuhan, serta mencabut semua perkataan negatifnya  (Ayub 42).

"Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas."  Ayub 23:10

Saturday, May 16, 2020

BERSYUKUR DI SEGALA KEADAAN!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 Mei 2020

Baca:  Ayub 2:1-13

"Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?"  Ayub 2:10

Adalah mudah untuk bersyukur ketika dalam keadaan baik, tapi bagaimana jika keadaan berbalik 180 derajat:  kesesakan, kesusahan, masalah, penderitaan, krisis, sakit, gagal, bangkrut yang dialami, masih bisakah kita mengucap syukur kepada Tuhan?  Mungkin saja kita akan bersikap seperti isteri Ayub, yang ketika tertimpa masalah dan penderitaan bertubi-tubi, mendesak suaminya untuk menyangkal Tuhan:  "Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!"  (Ayub 2:9).

     Dalam menjalani kehidupan ini tidak selamanya perjalanan yang kita tempuh selalu mulus dan tenang, kadang  'bahtera'  hidup kita harus mengalami hantaman ombak, angin topan, bahkan terjangan gelombang yang besar dan ganas.  Orang dunia pun menyadari bahwa hidup ini seperti roda yang berputar:  kadang di atas, kadang di bawah, ada suka dan ada duka.  Ayub berkata kepada isterinya,  "Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?"  (ayat nas).  Seringkali kita menuntut Tuhan untuk melakukan apa yang kita mau, sehingga ketika terjadi sesuatu tidak seperti yang kita inginkan kita langsung marah dan kecewa kepada Tuhan.

     Saat dalam pergumulan berat iman kita seringkali goyah, lalu kita mulai menempuh jalan sendiri yang kita pikir benar, padahal belum tentu itu benar dan sesuai dengan kehendak Tuhan.  Ayub belajar untuk tetap berpikir positif,  "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!"  (Ayub 1:21).  Belajarlah bersyukur dalam segala keadaan!  Bila saat ini kita sedang mengalami hal-hal yang buruk, berhentilah untuk bersungut-sungut dan mengomel.  Jangan pernah membuka  'celah'  bagi Iblis untuk merampas damai sejahtera kita.  Percayalah bahwa dalam situasi yang buruk sekali pun Tuhan sanggup mengubah menjadi kebaikan bagi kita:  "Aku akan membuat sungai-sungai memancar di atas bukit-bukit yang gundul, dan membuat mata-mata air membual di tengah dataran; Aku akan membuat padang gurun menjadi telaga dan memancarkan air dari tanah kering."  (Yesaya 41:18).

Tuhan selalu punya rencana di setiap keadaan, karena itu tetaplah bersyukur!