Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 Mei 2020
Baca: 1 Petrus 2:18-25
"Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung." 1 Petrus 2:19
Ada penderitaan sebagai akibat dari kesalahan atau dosa, ada penderitaan karena serangan dari Iblis, dan ada pula penderitaan yang dialami justru karena hidup dalam kebenaran. Alkitab menyatakan jika kita berbuat baik dan karena itu kita harus menderita, maka itu adalah kasih karunia (ayat nas), "Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita
untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti
jejak-Nya." (1 Petrus 2:21). Tidak selamanya kebenaran mendatangkan berkat. Terkadang kita sudah hidup dalam kebenaran, namun yang kita alami justru adalah tekanan dan penderitaan seperti yang dirasakan pemazmur: "Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah. Namun sepanjang hari aku kena tulah, dan kena hukum setiap pagi." (Mazmur 73:13-14).
Yeremia, seorang hamba Tuhan yang diutus untuk menyampaikan nubuatan dari Tuhan, justru mendapatkan perlakuan yang tak manusiawi: "Pasyhur bin Imer, imam yang pada waktu itu menjabat kepala di rumah
TUHAN, mendengar Yeremia menubuatkan perkataan-perkataan itu. Lalu Pasyhur memukul nabi Yeremia dan memasungkan dia di pintu gerbang Benyamin yang ada di atas rumah TUHAN." (Yeremia 20:1-2). Mengapa Tuhan mengijinkan hal itu terjadi? Karena Tuhan mau memproses dan memurnikan Yeremia, sama seperti logam emas ketika dimurnikan, ia harus melewati ujian api. Alkitab menyatakan bahwa Tuhan adalah api yang menghanguskan (Ulangan 4:24). Yeremia diijinkan Tuhan melewati proses dengan suatu maksud yaitu supaya ia memiliki hati yang murni (motivasi) dalam melayani pekerjaan-Nya, serta punya keberanian untuk menyuarakan kebenaran, menyerukan pertobatan, bukan berkhotbah hanya untuk sekedar menyenangkan telinga orang.
Tuhan ijinkan orang benar mengalami penderitaan karena Ia hendak menuntun kita kepada pengalaman mujizat. Tuhan tidak mau kita hanya mendengar dari kata orang bahwa Ialah sumber mujizat, tetapi Ia mau kita juga mengalami mujizat-Nya sehingga hidup kita menjadi berkat dan kesaksian bagi orang lain.
Di balik penderitaan yang dialami orang benar, Tuhan punya rencana besar!
Friday, May 15, 2020
Thursday, May 14, 2020
MELAYANI SESUAI KRITERIA TUHAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 Mei 2020
Baca: Maleakhi 2:1-9
"Sebab bibir seorang imam memelihara pengetahuan dan orang mencari pengajaran dari mulutnya, sebab dialah utusan TUHAN semesta alam." Maleakhi 2:7
Nama 'Maleakhi' memiliki arti utusan-Ku, jadi bukan tanpa maksud bila Tuhan memberi nama ini untuk Maleakhi, sebab sejak awal Tuhan sudah punya rencana yang indah atas hidupnya untuk menyuarakan kebenaran. Tuhan berkata, "Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku!" (Maleakhi 3:1a).
Untuk menjadi utusan Tuhan atau orang yang dipercaya Tuhan untuk tugas pelayanan, seseorang harus memenuhi kriteria yang dikehendaki-Nya, sebagaimana yang rasul Paulus katakan, "Demikianlah hendaknya orang memandang kami: sebagai hamba-hamba Kristus," (1 Korintus 4:1). Menjadi utusan Tuhan seharusnya menyadarkan siapa kita yang tak lebih dari seorang 'hamba' yang dipercaya Tuhan untuk menyatakan rahasia-Nya. Dipercaya Tuhan adalah suatu anugerah semata! Orang akan dipercaya Tuhan untuk menjadi utusan-Nya apabila ia: 1. Takut akan Tuhan. Ini adalah syarat mutlak! "...ia takut kepada-Ku dan gentar terhadap nama-Ku." (Maleakhi 2:5). Orang yang takut akan Tuhan berarti memiliki kehidupan yang selaras dengan kehendak Tuhan atau menjadi pelaku firman Tuhan. Apa yang dikatakan dan diperbuatnya senantiasa meneladani apa yang Kristus katakan dan perbuat. Inilah yang juga menjadi komitmen rasul Paulus: "Sebab itu aku senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia." (Kisah 24:16). Inilah yang disebut integritas!
2. Berani menyatakan kebenaran. "Pengajaran yang benar ada dalam mulutnya dan kecurangan tidak terdapat pada bibirnya. Dalam damai sejahtera dan kejujuran ia mengikuti Aku dan banyak orang dibuatnya berbalik dari pada kesalahan." (Maleakhi 2:6). Seorang hamba Tuhan harus berani menyatakan kebenaran, tidak ada rekayasa, kompromi atau kepura-puraan, dan ia sendiri harus hidup dalam kebenaran, sehingga kehidupannya bisa menjadi kesaksian atau teladan bagi orang lain. "...banyak orang dibuatnya berbalik dari pada kesalahan." (ayat nas). Sebaliknya, bila seorang utusan Tuhan ternyata memiliki perkataan dan perbuatan yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, ia justru akan menjadi batu sandungan bagi orang lain.
Pelayan Tuhan: takut akan Tuhan dan tidak berkompromi dengan dosa!
Baca: Maleakhi 2:1-9
"Sebab bibir seorang imam memelihara pengetahuan dan orang mencari pengajaran dari mulutnya, sebab dialah utusan TUHAN semesta alam." Maleakhi 2:7
Nama 'Maleakhi' memiliki arti utusan-Ku, jadi bukan tanpa maksud bila Tuhan memberi nama ini untuk Maleakhi, sebab sejak awal Tuhan sudah punya rencana yang indah atas hidupnya untuk menyuarakan kebenaran. Tuhan berkata, "Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku!" (Maleakhi 3:1a).
Untuk menjadi utusan Tuhan atau orang yang dipercaya Tuhan untuk tugas pelayanan, seseorang harus memenuhi kriteria yang dikehendaki-Nya, sebagaimana yang rasul Paulus katakan, "Demikianlah hendaknya orang memandang kami: sebagai hamba-hamba Kristus," (1 Korintus 4:1). Menjadi utusan Tuhan seharusnya menyadarkan siapa kita yang tak lebih dari seorang 'hamba' yang dipercaya Tuhan untuk menyatakan rahasia-Nya. Dipercaya Tuhan adalah suatu anugerah semata! Orang akan dipercaya Tuhan untuk menjadi utusan-Nya apabila ia: 1. Takut akan Tuhan. Ini adalah syarat mutlak! "...ia takut kepada-Ku dan gentar terhadap nama-Ku." (Maleakhi 2:5). Orang yang takut akan Tuhan berarti memiliki kehidupan yang selaras dengan kehendak Tuhan atau menjadi pelaku firman Tuhan. Apa yang dikatakan dan diperbuatnya senantiasa meneladani apa yang Kristus katakan dan perbuat. Inilah yang juga menjadi komitmen rasul Paulus: "Sebab itu aku senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia." (Kisah 24:16). Inilah yang disebut integritas!
2. Berani menyatakan kebenaran. "Pengajaran yang benar ada dalam mulutnya dan kecurangan tidak terdapat pada bibirnya. Dalam damai sejahtera dan kejujuran ia mengikuti Aku dan banyak orang dibuatnya berbalik dari pada kesalahan." (Maleakhi 2:6). Seorang hamba Tuhan harus berani menyatakan kebenaran, tidak ada rekayasa, kompromi atau kepura-puraan, dan ia sendiri harus hidup dalam kebenaran, sehingga kehidupannya bisa menjadi kesaksian atau teladan bagi orang lain. "...banyak orang dibuatnya berbalik dari pada kesalahan." (ayat nas). Sebaliknya, bila seorang utusan Tuhan ternyata memiliki perkataan dan perbuatan yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, ia justru akan menjadi batu sandungan bagi orang lain.
Pelayan Tuhan: takut akan Tuhan dan tidak berkompromi dengan dosa!
Wednesday, May 13, 2020
BERANILAH MENYUARAKAN KEBENARAN!
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 Mei 2020
Baca: Lukas 3:1-20
"Jadi hasilkanlah buah-buah yang sesuai dengan pertobatan." Lukas 3:8a
Khotbah-khotbah yang disampaikan oleh Yohanes Pembaptis isinya sangat sederhana, singkat, tak bertele-tele, tidak ngalor-ngidul, tidak banyak basa-basi, tidak dipenuhi lelucon, tetapi sangat keras dan to the point. Inti dari khotbah yang disampaikan Yohanes Pembaptis adalah seruan untuk bertobat dan bagaimana kita harus menghasilkan buah yang sesuai dengan pertobatan itu. Dengan penuh keberanian dan tanpa ragu Yohanes Pembaptis menyerukan pertobatan kepada semua orang, "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!" (Matius 3:2).
Ia memperingatkan semua orang agar berbalik dari tingkah laku mereka yang jahat dan mengubah haluan hidupnya kepada Tuhan. Dalam hal ini Yohanes Pembaptis menekankan kepada pertobatan dan buah dari pertobatan itu. Buah dari pertobatan adalah bukti bahwa seseorang sungguh-sungguh sudah bertobat, yaitu meninggalkan cara hidup yang lama dan menjalani hidup sebagai manusia yang baru. Karena itu kepada para pemungut cukai ia mengingatkan, "Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu." (Lukas 3:13). Menjadi petugas pajak tidaklah salah, tetapi menagih lebih banyak dan memeras wajib pajak adalah dosa besar, terlebih lagi jika uangnya dikorupsi. Kepada para prajurit Yohanes Pembaptis berkata, "Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu." (Lukas 3:14). Menjadi prajurit adalah pekerjaan yang terhormat, tetapi menyalahgunakan kekuasaan untuk kepentingan diri sendiri adalah perbuatan dosa. Petugas pajak dan prajurit adalah dua komponen penting dalam pemerintahan suatu negara. Ini berbicara tentang orang-orang yang duduk di kursi pemerintahan yang bertanggung jawab atas kelangsungan hidup rakyat.
Yohanes Pembaptis juga memperingatkan umat Tuhan untuk hidup di dalam kasih dan saling mengasihi. Kekristenan itu identik dengan kasih! Kasih yang bukan hanya lips service, tapi kasih yang dibuktikan dengan perbuatan. Memiliki kasih berarti punya kepedulian satu sama lain: "Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian." (Lukas 3:11).
Seorang yang bertobat hidupnya pasti berubah dan ada buah-buah pertobatannya!
Baca: Lukas 3:1-20
"Jadi hasilkanlah buah-buah yang sesuai dengan pertobatan." Lukas 3:8a
Khotbah-khotbah yang disampaikan oleh Yohanes Pembaptis isinya sangat sederhana, singkat, tak bertele-tele, tidak ngalor-ngidul, tidak banyak basa-basi, tidak dipenuhi lelucon, tetapi sangat keras dan to the point. Inti dari khotbah yang disampaikan Yohanes Pembaptis adalah seruan untuk bertobat dan bagaimana kita harus menghasilkan buah yang sesuai dengan pertobatan itu. Dengan penuh keberanian dan tanpa ragu Yohanes Pembaptis menyerukan pertobatan kepada semua orang, "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!" (Matius 3:2).
Ia memperingatkan semua orang agar berbalik dari tingkah laku mereka yang jahat dan mengubah haluan hidupnya kepada Tuhan. Dalam hal ini Yohanes Pembaptis menekankan kepada pertobatan dan buah dari pertobatan itu. Buah dari pertobatan adalah bukti bahwa seseorang sungguh-sungguh sudah bertobat, yaitu meninggalkan cara hidup yang lama dan menjalani hidup sebagai manusia yang baru. Karena itu kepada para pemungut cukai ia mengingatkan, "Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu." (Lukas 3:13). Menjadi petugas pajak tidaklah salah, tetapi menagih lebih banyak dan memeras wajib pajak adalah dosa besar, terlebih lagi jika uangnya dikorupsi. Kepada para prajurit Yohanes Pembaptis berkata, "Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu." (Lukas 3:14). Menjadi prajurit adalah pekerjaan yang terhormat, tetapi menyalahgunakan kekuasaan untuk kepentingan diri sendiri adalah perbuatan dosa. Petugas pajak dan prajurit adalah dua komponen penting dalam pemerintahan suatu negara. Ini berbicara tentang orang-orang yang duduk di kursi pemerintahan yang bertanggung jawab atas kelangsungan hidup rakyat.
Yohanes Pembaptis juga memperingatkan umat Tuhan untuk hidup di dalam kasih dan saling mengasihi. Kekristenan itu identik dengan kasih! Kasih yang bukan hanya lips service, tapi kasih yang dibuktikan dengan perbuatan. Memiliki kasih berarti punya kepedulian satu sama lain: "Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian." (Lukas 3:11).
Seorang yang bertobat hidupnya pasti berubah dan ada buah-buah pertobatannya!
Tuesday, May 12, 2020
RENDAH HATI DAN APA ADANYA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 Mei 2020
Baca: Yohanes 1:19-28
"Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?" Yohanes 1:22
Ketika para imam dan orang-orang Lewi datang kepada Yohanes Pembaptis untuk mempertanyakan tentang keberadaannya, Yohanes Pembaptis menjawab dengan jujur dan apa adanya bahwa dia bukanlah Mesias, bukan Elia, dan bukan juga nabi yang sedang dinanti-nantikan oleh bangsa Israel. Ia menegaskan kepada mereka, "Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya." (Yohanes 1:23). Pernyataan Yohanes Pembaptis ini menunjukkan bahwa ia adalah orang yang rendah hati, orang yang tidak haus akan jabatan, orang yang tidak haus pujian dan sanjungan dari manusia, dan orang yang tahu apa yang menjadi porsi atau tugasnya di hadapan Tuhan.
Di zaman sekarang ini bukan hal yang mengejutkan lagi bila di dalam suatu organisasi gereja atau di suatu ladang pelayanan masih ada orang-orang yang saling berebut posisi atau jabatan; mereka menginginkan posisi tertentu yang strategis, sekalipun posisi tersebut sebenarnya tidak sesuai dengan karunia yang dimilikinya tapi tetap saja dipaksakan. Yang mereka incar dan kejar adalah posisi, bukan tugas! Jelas sekali bahwa yang menjadi motivasi mereka adalah kepentingan pribadi, bukan kemuliaan Tuhan. Bahkan tidak sedikit para pelayan Tuhan yang saling menjatuhkan satu sama lain, tujuannya adalah untuk kemegahan diri sendiri. Tidak demikian halnya dengan Yohanes Pembaptis, ia tidak mengaku-aku diri sebagai Musa atau Elia yang sudah populer di kalangan orang-orang Yahudi, supaya orang mengelu-elukan dia, karena memang ia bukanlah Elia dan juga bukan Musa. Yohanes Pembaptis tetap tampil apa adanya!
Setiap kita dipercaya Tuhan dengan karunia yang berbeda-beda untuk saling melengkapi dan saling membangun dalam pelayanan (1 Korintus 12:4-11), karena itu kita tidak perlu merasa iri hati kepada kemampuan atau potensi yang dimiliki oleh orang lain. Tetaplah menjadi diri sendiri dan kerjakan sesuai dengan porsi kita, karena Tuhan menciptakan kita istimewa, dan yang terutama adalah tetap rendah hati.
Milikilah motivasi yang benar dalam melayani Tuhan, jangan sekali-kali melayani disertai dengan ambisi pribadi atau tendensi untuk mencari nama!
Baca: Yohanes 1:19-28
"Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?" Yohanes 1:22
Ketika para imam dan orang-orang Lewi datang kepada Yohanes Pembaptis untuk mempertanyakan tentang keberadaannya, Yohanes Pembaptis menjawab dengan jujur dan apa adanya bahwa dia bukanlah Mesias, bukan Elia, dan bukan juga nabi yang sedang dinanti-nantikan oleh bangsa Israel. Ia menegaskan kepada mereka, "Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya." (Yohanes 1:23). Pernyataan Yohanes Pembaptis ini menunjukkan bahwa ia adalah orang yang rendah hati, orang yang tidak haus akan jabatan, orang yang tidak haus pujian dan sanjungan dari manusia, dan orang yang tahu apa yang menjadi porsi atau tugasnya di hadapan Tuhan.
Di zaman sekarang ini bukan hal yang mengejutkan lagi bila di dalam suatu organisasi gereja atau di suatu ladang pelayanan masih ada orang-orang yang saling berebut posisi atau jabatan; mereka menginginkan posisi tertentu yang strategis, sekalipun posisi tersebut sebenarnya tidak sesuai dengan karunia yang dimilikinya tapi tetap saja dipaksakan. Yang mereka incar dan kejar adalah posisi, bukan tugas! Jelas sekali bahwa yang menjadi motivasi mereka adalah kepentingan pribadi, bukan kemuliaan Tuhan. Bahkan tidak sedikit para pelayan Tuhan yang saling menjatuhkan satu sama lain, tujuannya adalah untuk kemegahan diri sendiri. Tidak demikian halnya dengan Yohanes Pembaptis, ia tidak mengaku-aku diri sebagai Musa atau Elia yang sudah populer di kalangan orang-orang Yahudi, supaya orang mengelu-elukan dia, karena memang ia bukanlah Elia dan juga bukan Musa. Yohanes Pembaptis tetap tampil apa adanya!
Setiap kita dipercaya Tuhan dengan karunia yang berbeda-beda untuk saling melengkapi dan saling membangun dalam pelayanan (1 Korintus 12:4-11), karena itu kita tidak perlu merasa iri hati kepada kemampuan atau potensi yang dimiliki oleh orang lain. Tetaplah menjadi diri sendiri dan kerjakan sesuai dengan porsi kita, karena Tuhan menciptakan kita istimewa, dan yang terutama adalah tetap rendah hati.
Milikilah motivasi yang benar dalam melayani Tuhan, jangan sekali-kali melayani disertai dengan ambisi pribadi atau tendensi untuk mencari nama!
Monday, May 11, 2020
SINGKIRKAN AWAN GELAP DI HIDUPMU
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 Mei 2020
Baca: Amsal 4:20-27
"Hai anakku, perhatikanlah perkataanku, arahkanlah telingamu kepada ucapanku; janganlah semuanya itu menjauh dari matamu, simpanlah itu di lubuk hatimu." Amsal 4:20-21
Alkitab menyatakan: "...bagimu akan terbit surya kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya." (Maleakhi 4:2), namun tidak semua orang percaya mengalami dan menikmati pancaran surya kebenaran yang mendatangkan kesembuhan tersebut. Mengapa? Karena masih ada hal-hal atau awan gelap yang menutupi dan menghalangi dirinya untuk dapat melihat, mengalami, dan menikmati surya kebenaran tersebut.
Awan gelap yang menghalangi itu bisa berbicara tentang ketidaktaatan kita atau dosa-dosa yang belum dibereskan. Oleh karena itu "...marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita," (Ibrani 12:1). Jangan biarkan awan gelap menghalangi Surya Kebenaran (Kristus) untuk menyinari kehidupan kita, sehingga kita tak dapat berjalan dalam terang-Nya, tak dapat mengalami kuasa-Nya dan tak dapat menikmati janji-janji firman-Nya. Penghalang-penghalang itu harus disingkirkan! Jika perkataan Tuhan menjauh dari mata kita sudah pasti kita tak dapat melihat Surya Kebenaran dan kita tak dapat menikmati berkat-berkat dari Surya Kebenaran tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari bila kita tak dapat menerima sinar surya, karena adanya suatu benda yang merintangi cahaya menyinari kita, matahari tak akan melakukan sesuatu bagi kita. Jadi kitalah yang harus menyingkirkan benda perintang itu dari kita sehingga sinar surya dapat mengenai kita. Perhatikan apa yang Yesus katakan ketika Ia menyembuhkan orang yang sakit selama 38 tahun, "Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk." (Yohanes 5:14).
Dosa adalah penghalang utama untuk kita mengalami penggenapan janji Tuhan: kesembuhan, pemulihan, dan sebagainya. Kalau kita telah berbuat dosa, lalu kita bertobat, maka Tuhan akan mengampuni kita, awan gelap yang selama ini menutupi jalan kita pun tersingkirkan. Pikiran-pikiran negatif yang tak mempercayai janji firman Tuhan dan kuasa Roh Kudus adalah penghalang untuk kita mengalami dan merasakan Surya Kebenaran.
Tak lagi menyimpang dari firman dan menjauhkan diri dari kejahatan (Amsal 4:27) akan memberi keleluasaan Tuhan untuk berkarya dan melawat hidup kita!
Baca: Amsal 4:20-27
"Hai anakku, perhatikanlah perkataanku, arahkanlah telingamu kepada ucapanku; janganlah semuanya itu menjauh dari matamu, simpanlah itu di lubuk hatimu." Amsal 4:20-21
Alkitab menyatakan: "...bagimu akan terbit surya kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya." (Maleakhi 4:2), namun tidak semua orang percaya mengalami dan menikmati pancaran surya kebenaran yang mendatangkan kesembuhan tersebut. Mengapa? Karena masih ada hal-hal atau awan gelap yang menutupi dan menghalangi dirinya untuk dapat melihat, mengalami, dan menikmati surya kebenaran tersebut.
Awan gelap yang menghalangi itu bisa berbicara tentang ketidaktaatan kita atau dosa-dosa yang belum dibereskan. Oleh karena itu "...marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita," (Ibrani 12:1). Jangan biarkan awan gelap menghalangi Surya Kebenaran (Kristus) untuk menyinari kehidupan kita, sehingga kita tak dapat berjalan dalam terang-Nya, tak dapat mengalami kuasa-Nya dan tak dapat menikmati janji-janji firman-Nya. Penghalang-penghalang itu harus disingkirkan! Jika perkataan Tuhan menjauh dari mata kita sudah pasti kita tak dapat melihat Surya Kebenaran dan kita tak dapat menikmati berkat-berkat dari Surya Kebenaran tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari bila kita tak dapat menerima sinar surya, karena adanya suatu benda yang merintangi cahaya menyinari kita, matahari tak akan melakukan sesuatu bagi kita. Jadi kitalah yang harus menyingkirkan benda perintang itu dari kita sehingga sinar surya dapat mengenai kita. Perhatikan apa yang Yesus katakan ketika Ia menyembuhkan orang yang sakit selama 38 tahun, "Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk." (Yohanes 5:14).
Dosa adalah penghalang utama untuk kita mengalami penggenapan janji Tuhan: kesembuhan, pemulihan, dan sebagainya. Kalau kita telah berbuat dosa, lalu kita bertobat, maka Tuhan akan mengampuni kita, awan gelap yang selama ini menutupi jalan kita pun tersingkirkan. Pikiran-pikiran negatif yang tak mempercayai janji firman Tuhan dan kuasa Roh Kudus adalah penghalang untuk kita mengalami dan merasakan Surya Kebenaran.
Tak lagi menyimpang dari firman dan menjauhkan diri dari kejahatan (Amsal 4:27) akan memberi keleluasaan Tuhan untuk berkarya dan melawat hidup kita!
Sunday, May 10, 2020
PELAKU FIRMAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 Mei 2020
Baca: Yakobus 1:19-27
"Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah;" Yakobus 1:19
Dalam suratnya ini Yakobus memberikan nasihat yang teramat penting kepada orang percaya untuk menjadi pelaku firman, bukan hanya sebagai pendengar. Untuk menjadi pelaku firman ada tiga perkara mendasar yang harus diperhatikan yaitu cepat untuk mendengar, lambat untuk berkata-kata, dan lambat untuk marah.
1. Cepat mendengar. "...setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar," (ayat nas). Mendengar adalah seni menutup mulut, membuka telinga dan hati. Cepat mendengar yang dimaksudkan adalah cepat mendengar firman Tuhan, bukan cepat mendengar berita-berita lain: gosip, fitnah, rahasia orang, hal-hal negatif. Sekalipun harus cepat mendengarkan firman bukan berarti kita harus menerima semua yang dikatakan oleh hamba Tuhan (pengkhotbah), sebab ada hamba-hamba yang tidak memberitakan firman Tuhan dengan benar, malah membicarakan orang lain, atau menonjolkan diri sendiri. 2. Lambat untuk berkata-kata. Tuhan memberi kita dua telinga dan satu mulut dengan tujuan supaya kita banyak mendengar, tapi sedikit untuk berkata-kata. Seringkali kita tidak bisa menahan diri untuk banyak bicara, berbantah dengan firman Tuhan, membicarakan orang lain, padahal "Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi." (Amsal 10:19) dan "Orang yang berpengetahuan menahan perkataannya," (Amsal 17:27a). Berhati-hatilah! "Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum." (Matius 12:37). Orang yang menganggap diri beribadah, tapi tak bisa mengekang lidahnya, sama artinya menipu diri sendiri (Yakobus 1:26).
3. Lambat untuk marah. Ada tertulis: "Orang yang sabar besar pengertiannya, tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohan." (Amsal 14:29). Janganlah lekas marah bila kita menerima teguran firman Tuhan yang keras! Dan "Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis." (Efesus 4:26-27).
Ibadah akan menjadi sia-sia bila kita tak taat melakukan firman Tuhan!
Baca: Yakobus 1:19-27
"Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah;" Yakobus 1:19
Dalam suratnya ini Yakobus memberikan nasihat yang teramat penting kepada orang percaya untuk menjadi pelaku firman, bukan hanya sebagai pendengar. Untuk menjadi pelaku firman ada tiga perkara mendasar yang harus diperhatikan yaitu cepat untuk mendengar, lambat untuk berkata-kata, dan lambat untuk marah.
1. Cepat mendengar. "...setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar," (ayat nas). Mendengar adalah seni menutup mulut, membuka telinga dan hati. Cepat mendengar yang dimaksudkan adalah cepat mendengar firman Tuhan, bukan cepat mendengar berita-berita lain: gosip, fitnah, rahasia orang, hal-hal negatif. Sekalipun harus cepat mendengarkan firman bukan berarti kita harus menerima semua yang dikatakan oleh hamba Tuhan (pengkhotbah), sebab ada hamba-hamba yang tidak memberitakan firman Tuhan dengan benar, malah membicarakan orang lain, atau menonjolkan diri sendiri. 2. Lambat untuk berkata-kata. Tuhan memberi kita dua telinga dan satu mulut dengan tujuan supaya kita banyak mendengar, tapi sedikit untuk berkata-kata. Seringkali kita tidak bisa menahan diri untuk banyak bicara, berbantah dengan firman Tuhan, membicarakan orang lain, padahal "Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi." (Amsal 10:19) dan "Orang yang berpengetahuan menahan perkataannya," (Amsal 17:27a). Berhati-hatilah! "Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum." (Matius 12:37). Orang yang menganggap diri beribadah, tapi tak bisa mengekang lidahnya, sama artinya menipu diri sendiri (Yakobus 1:26).
3. Lambat untuk marah. Ada tertulis: "Orang yang sabar besar pengertiannya, tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohan." (Amsal 14:29). Janganlah lekas marah bila kita menerima teguran firman Tuhan yang keras! Dan "Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis." (Efesus 4:26-27).
Ibadah akan menjadi sia-sia bila kita tak taat melakukan firman Tuhan!
Saturday, May 9, 2020
WAJAH YANG MEMANCARKAN KEMULIAAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 9 Mei 2020
Baca: Mazmur 80:1-20
"...pulihkanlah kami, buatlah wajah-Mu bersinar, maka kami akan selamat." Mazmur 80:4
Di zaman yang modern seperti sekarang ini banyak orang menjadikan penampilan lahiriah sebagai yang utama, teristimewa penampilan wajah. Mereka berpikir dengan modal penampilan yang menarik (cantik atau tampan), pintu sukses akan terbuka lebar. Karena itulah tidak sedikit orang yang menghabiskan banyak uang untuk menjalani oplas (operasi plastik) supaya wajahnya berubah menjadi lebih menarik dan glowing. Itulah manusia, yang selalu berfokus pada hal-hal yang jasmaniah!
Tahukah Saudara bahwa hati manusia (manusia batiniah) jauh lebih diperhitungkan oleh Tuhan daripada hal-hal lahiriah? Karena Tuhan tidak melihat rupa, harta, atau pangkat seseorang, tapi Ia melihat hati. "Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati." (1 Samuel 16:7). Oleh karena itu firman Tuhan memperingatkan, "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." (Amsl 4:23), sebab "Seperti air mencerminkan wajah, demikianlah hati manusia mencerminkan manusia itu." (Amsal 27:19). Jika hati kita baik dan benar, dari dalam hati kita akan terpancar keluar kemuliaan Tuhan dan wajah pun akan tampak bersinar, sehingga kehidupan kita bisa menjadi berkat dan kesaksian di mana pun berada dan kapan pun. Dari kehidupan kita akan terpancar kemuliaan Kristus bila kita menjalani hidup dengan iman dan penuh ucapan syukur. Sebaliknya bila kita menjalani hidup ini dengan bersungut-sungut, mengeluh, dan mengomel, wajah kita akan tampak muram, suram, kusut, sedih, sehingga tak ada pancaran kemuliaan Tuhan, orang lain pun akan 'tersandung' melihatnya.
Dari kehidupan kita akan terpancar kemuliaan Kristus bila kita hidup dalam kebenaran. Hidup dalam kebenaran berarti tidak ada hal-hal yang tidak beres, tidak ada dosa yang disembunyikan, tidak ada kepura-puraan! "Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya." (Yesaya 32:17). Sekalipun diperhadapkan dengan pergumulan berat kita tak kehilangan sukacita, karena kita tahu bahwa Tuhan ada di pihak orang benar.
Orang benar hidupnya pasti berdampak, karena memancarkan kemuliaan Tuhan!
Baca: Mazmur 80:1-20
"...pulihkanlah kami, buatlah wajah-Mu bersinar, maka kami akan selamat." Mazmur 80:4
Di zaman yang modern seperti sekarang ini banyak orang menjadikan penampilan lahiriah sebagai yang utama, teristimewa penampilan wajah. Mereka berpikir dengan modal penampilan yang menarik (cantik atau tampan), pintu sukses akan terbuka lebar. Karena itulah tidak sedikit orang yang menghabiskan banyak uang untuk menjalani oplas (operasi plastik) supaya wajahnya berubah menjadi lebih menarik dan glowing. Itulah manusia, yang selalu berfokus pada hal-hal yang jasmaniah!
Tahukah Saudara bahwa hati manusia (manusia batiniah) jauh lebih diperhitungkan oleh Tuhan daripada hal-hal lahiriah? Karena Tuhan tidak melihat rupa, harta, atau pangkat seseorang, tapi Ia melihat hati. "Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati." (1 Samuel 16:7). Oleh karena itu firman Tuhan memperingatkan, "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." (Amsl 4:23), sebab "Seperti air mencerminkan wajah, demikianlah hati manusia mencerminkan manusia itu." (Amsal 27:19). Jika hati kita baik dan benar, dari dalam hati kita akan terpancar keluar kemuliaan Tuhan dan wajah pun akan tampak bersinar, sehingga kehidupan kita bisa menjadi berkat dan kesaksian di mana pun berada dan kapan pun. Dari kehidupan kita akan terpancar kemuliaan Kristus bila kita menjalani hidup dengan iman dan penuh ucapan syukur. Sebaliknya bila kita menjalani hidup ini dengan bersungut-sungut, mengeluh, dan mengomel, wajah kita akan tampak muram, suram, kusut, sedih, sehingga tak ada pancaran kemuliaan Tuhan, orang lain pun akan 'tersandung' melihatnya.
Dari kehidupan kita akan terpancar kemuliaan Kristus bila kita hidup dalam kebenaran. Hidup dalam kebenaran berarti tidak ada hal-hal yang tidak beres, tidak ada dosa yang disembunyikan, tidak ada kepura-puraan! "Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya." (Yesaya 32:17). Sekalipun diperhadapkan dengan pergumulan berat kita tak kehilangan sukacita, karena kita tahu bahwa Tuhan ada di pihak orang benar.
Orang benar hidupnya pasti berdampak, karena memancarkan kemuliaan Tuhan!
Friday, May 8, 2020
TUHAN MEMASANG KUK PADA KITA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 Mei 2020
Baca: Matius 11:25-30
"Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan." Matius 11:29-30
Kristus memberikan undangan secara terbuka kepada semua orang, "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu." (Matius 11:28), sebab semua manusia menanggung beban yang teramat berat: ialah dosa, yaitu beban yang sama sekali tidak dapat ditanggung sendiri oleh manusia, hanya Kristus yang sanggup menanggung beban dosa manusia itu melalui pengorbanan-Nya di kayu salib ketika Ia berkata, "Sudah selesai." (Yohanes 19:30). Karena itu hanya Kristus yang sanggup memberikan kelegaan dan kelepasan dari beban dosa itu!
Setelah kita dibebaskan dari beban dosa Tuhan memberikan kita beban yang lain yaitu kuk. Kuk adalah sepotong kayu yang ditaruh di atas tengkuk sapi, kerbau, kuda atau keledai yang terhubung dengan bajak, pedati atau kereta. Selain kuk ada yang disebut 'tali kekang' atau 'tali les' yang biasanya dimasukkan ke dalam hidung binatang, atau berupa besi bergerigi yang dipasang pada bagian mulut yang terhubung dengan tali. Kuk dan tali kekang ini berbicara tentang campur tangan Tuhan untuk mengarahkan dan menuntun kita pada jalan-jalan yang dikehendaki-Nya, sebab jika tidak diarahkan dan dituntun, kita cenderung memberontak, menempuh jalan yang salah, menyimpang ke kanan atau ke kiri, karena lebih menuruti keinginan daging daripada tunduk pada pimpinan Roh Kudus.
Yunus, sekalipun mengaku diri: "Aku seorang Ibrani; aku takut akan TUHAN," (Yunus 1:9), tetapi ketika ia diperintahkan Tuhan untuk menyampaikan kebenaran kepada orang-orang di Niniwe, ia memilih untuk melarikan diri ke Tarsis menuruti keinginannya (Yunus 1:2-3). Karena memberontak akhirnya Tuhan harus menaruh 'kuk' kepada Yunus dalam bentuk terjangan angin badai dan ikan besar untuk menyadarkan Yunus atas kesalahan yang telah diperbuatnya, dan mengingatkan kembali akan panggilan Tuhan untuk pergi ke Niniwe. Adakalanya Tuhan harus memaksa kita dengan memasang kuk dan tali kekang agar kita mau tunduk pada kehendak-Nya dan tidak menyimpang.
Terjangan angin badai dan ikan besar inilah yang mendatangkan kebaikan bagi Yunus, yang membuatnya sadar dan kembali taat kepada kehendak Tuhan!
Baca: Matius 11:25-30
"Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan." Matius 11:29-30
Kristus memberikan undangan secara terbuka kepada semua orang, "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu." (Matius 11:28), sebab semua manusia menanggung beban yang teramat berat: ialah dosa, yaitu beban yang sama sekali tidak dapat ditanggung sendiri oleh manusia, hanya Kristus yang sanggup menanggung beban dosa manusia itu melalui pengorbanan-Nya di kayu salib ketika Ia berkata, "Sudah selesai." (Yohanes 19:30). Karena itu hanya Kristus yang sanggup memberikan kelegaan dan kelepasan dari beban dosa itu!
Setelah kita dibebaskan dari beban dosa Tuhan memberikan kita beban yang lain yaitu kuk. Kuk adalah sepotong kayu yang ditaruh di atas tengkuk sapi, kerbau, kuda atau keledai yang terhubung dengan bajak, pedati atau kereta. Selain kuk ada yang disebut 'tali kekang' atau 'tali les' yang biasanya dimasukkan ke dalam hidung binatang, atau berupa besi bergerigi yang dipasang pada bagian mulut yang terhubung dengan tali. Kuk dan tali kekang ini berbicara tentang campur tangan Tuhan untuk mengarahkan dan menuntun kita pada jalan-jalan yang dikehendaki-Nya, sebab jika tidak diarahkan dan dituntun, kita cenderung memberontak, menempuh jalan yang salah, menyimpang ke kanan atau ke kiri, karena lebih menuruti keinginan daging daripada tunduk pada pimpinan Roh Kudus.
Yunus, sekalipun mengaku diri: "Aku seorang Ibrani; aku takut akan TUHAN," (Yunus 1:9), tetapi ketika ia diperintahkan Tuhan untuk menyampaikan kebenaran kepada orang-orang di Niniwe, ia memilih untuk melarikan diri ke Tarsis menuruti keinginannya (Yunus 1:2-3). Karena memberontak akhirnya Tuhan harus menaruh 'kuk' kepada Yunus dalam bentuk terjangan angin badai dan ikan besar untuk menyadarkan Yunus atas kesalahan yang telah diperbuatnya, dan mengingatkan kembali akan panggilan Tuhan untuk pergi ke Niniwe. Adakalanya Tuhan harus memaksa kita dengan memasang kuk dan tali kekang agar kita mau tunduk pada kehendak-Nya dan tidak menyimpang.
Terjangan angin badai dan ikan besar inilah yang mendatangkan kebaikan bagi Yunus, yang membuatnya sadar dan kembali taat kepada kehendak Tuhan!
Thursday, May 7, 2020
BUTUH IMAN SAAT MENANTIKAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 7 Mei 2020
Baca: Habakuk 2:1-5
"Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh." Habakuk 2:3
Alkitab menegaskan bahwa janji Tuhan adalah ya dan amin! Tidak ada janji yang tidak Tuhan tepati, walau terkadang kita diijinkan untuk mengalami proses penantian yang teramat panjang sampai janji tersebut digenapi di dalam hidup kita. Banyak orang Kristen tidak sabar dalam menantikan waktu Tuhan. Mereka seringkali bertindak secara tergesa-gesa, selalu ingin serba cepat dalam menyelesaikan masalah atau dalam mencapai keberhasilan. Ketahuilah bahwa Tuhan bekerja sesuai dengan waktu-Nya sendiri, Ia menjadikan segala sesuatu indah pada waktu-Nya (Pengkhotbah 3:11).
Suatu ketika Daniel mendapatkan penglihatan dari Tuhan untuk bangsa Israel melalui firman-Nya, sebab saat itu bangsa Israel ditawan oleh bangsa Babilonia selama 70 tahun, dan melalui firman-Nya Tuhan merancang pemulihan bagi bangsa Israel (Daniel 10:1). Jelas sekali Daniel menerima janji firman Tuhan, tetapi dalam kenyataannya apa yang Tuhan firmankan tidak segera terjadi. Apa yang dilakukan Daniel selama menantikan penggenapan janji Tuhan? Ia mengambil waktu untuk berdoa dan berpuasa selama 21 hari sampai janji Tuhan benar-benar dinyatakan (Daniel 20:2-3). Artinya, dalam masa penantian Daniel tidak bersikap pasif, tapi semakin bertekun dalam Tuhan.
Saat kita berdoa dan membaca firman Tuhan kita mendapatkan janji Tuhan, namun janji itu tidak langsung digenapi dalam hidup kita. Apa yang kita lakukan? Bukannya semakin bertekun di dalam Tuhan, tapi seringkali kita malah berhenti berdoa karena kita kecewa dan marah kepada Tuhan. Ketika doa belum beroleh jawaban, kita mulai meragukan kuasa dan janji Tuhan. Firman Tuhan menasihati kita untuk berdoa dengan tidak jemu-jemu (Lukas 18:1). Kita tidak bisa memaksa Tuhan untuk menjawab doa-doa kita secepat mungkin menurut keinginan dan kehendak kita, sebab waktu Tuhan bukanlah waktu kita.
"Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?" Lukas 18:7
Baca: Habakuk 2:1-5
"Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh." Habakuk 2:3
Alkitab menegaskan bahwa janji Tuhan adalah ya dan amin! Tidak ada janji yang tidak Tuhan tepati, walau terkadang kita diijinkan untuk mengalami proses penantian yang teramat panjang sampai janji tersebut digenapi di dalam hidup kita. Banyak orang Kristen tidak sabar dalam menantikan waktu Tuhan. Mereka seringkali bertindak secara tergesa-gesa, selalu ingin serba cepat dalam menyelesaikan masalah atau dalam mencapai keberhasilan. Ketahuilah bahwa Tuhan bekerja sesuai dengan waktu-Nya sendiri, Ia menjadikan segala sesuatu indah pada waktu-Nya (Pengkhotbah 3:11).
Suatu ketika Daniel mendapatkan penglihatan dari Tuhan untuk bangsa Israel melalui firman-Nya, sebab saat itu bangsa Israel ditawan oleh bangsa Babilonia selama 70 tahun, dan melalui firman-Nya Tuhan merancang pemulihan bagi bangsa Israel (Daniel 10:1). Jelas sekali Daniel menerima janji firman Tuhan, tetapi dalam kenyataannya apa yang Tuhan firmankan tidak segera terjadi. Apa yang dilakukan Daniel selama menantikan penggenapan janji Tuhan? Ia mengambil waktu untuk berdoa dan berpuasa selama 21 hari sampai janji Tuhan benar-benar dinyatakan (Daniel 20:2-3). Artinya, dalam masa penantian Daniel tidak bersikap pasif, tapi semakin bertekun dalam Tuhan.
Saat kita berdoa dan membaca firman Tuhan kita mendapatkan janji Tuhan, namun janji itu tidak langsung digenapi dalam hidup kita. Apa yang kita lakukan? Bukannya semakin bertekun di dalam Tuhan, tapi seringkali kita malah berhenti berdoa karena kita kecewa dan marah kepada Tuhan. Ketika doa belum beroleh jawaban, kita mulai meragukan kuasa dan janji Tuhan. Firman Tuhan menasihati kita untuk berdoa dengan tidak jemu-jemu (Lukas 18:1). Kita tidak bisa memaksa Tuhan untuk menjawab doa-doa kita secepat mungkin menurut keinginan dan kehendak kita, sebab waktu Tuhan bukanlah waktu kita.
"Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?" Lukas 18:7
Wednesday, May 6, 2020
MENJALANI HIDUP BERSAMA TUHAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 6 Mei 2020
Baca: Mazmur 5:1-13
"TUHAN, pada waktu pagi Engkau mendengar seruanku, pada waktu pagi aku mengatur persembahan bagi-Mu, dan aku menunggu-nunggu." Mazmur 5:4
Daud adalah pribadi yang memiliki rasa haus dan lapar akan perkara-perkara rohani. Ia begitu dekat dengan Tuhan dan selalu mencari hadirat-Nya di sepanjang hidupnya. Daud memulai harinya dengan mencari Tuhan dan mengatur persembahan bagi-Nya. 'Mengatur persembahan' berbicara tentang pujian dan penyembahan kepada Tuhan sebagai cara untuk mengundang hadirat-Nya turun melawat dan memenuhi kehidupannya. "...Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel." (Mazmur 22:4), artinya Tuhan sangat disenangkan dengan pujian umat-Nya.
Memulai hari baru dengan membangun persekutuan yang karib dengan Tuhan, berbicara kepada-Nya dan mendengarkan Dia adalah hal yang biasa Daud lakukan. Apa yang menjadi kebiasaan Saudara saat memulai hari baru? Ada banyak orang yang biasa bangun pagi langsung duduk santai ditemani secangkir kopi hangat, sebatang rokok dan gadget, tapi tidak berdoa. Tidak sedikit orang yang bangun pagi langsung terperangkap dengan kesibukan yang tiada kunjung habisnya: sepanjang malam dan sampai pagi hari terus disibukkan dengan tugas-tugas tersebut, sampai-sampai tak punya waktu untuk berdoa. Kita seringkali berpikir bahwa langkah terbaik memulai hari baru adalah bangun pagi-pagi sekali dan cepat bekerja, semuanya pasti akan beres. Kita harus ingat bahwa kekuatan dan kemampuan kita sangat terbatas, kita tidak tahu apa yang terjadi satu langkah di depan kita, kita tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu. Oleh karena itu penting sekali kita mencari Tuhan terlebih dahulu sebelum melakukan segala sesuatu.
Ada kalimat bijak: "Permulaan yang baik merupakan separuh dari pekerjaan itu sendiri." Permulaan yang baik sebelum memulai hari adalah mencari Tuhan, bersekutu dengan-Nya dan mempertajam pendengaran akan suara-Nya. "Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid." (Yesaya 50:4). Kita sangat membutuhkan tuntunan dan penyertaan Tuhan dalam menjalani hari yang baru, kita harus melibatkan Tuhan di setiap rencana dan tindakan kita. Bila Tuhan yang beserta kita, segala perkara dapat kita tanggung di dalam Dia.
Penyertaan Tuhan adalah yang terutama, bersama Dia kita pasti berkemenangan!
Baca: Mazmur 5:1-13
"TUHAN, pada waktu pagi Engkau mendengar seruanku, pada waktu pagi aku mengatur persembahan bagi-Mu, dan aku menunggu-nunggu." Mazmur 5:4
Daud adalah pribadi yang memiliki rasa haus dan lapar akan perkara-perkara rohani. Ia begitu dekat dengan Tuhan dan selalu mencari hadirat-Nya di sepanjang hidupnya. Daud memulai harinya dengan mencari Tuhan dan mengatur persembahan bagi-Nya. 'Mengatur persembahan' berbicara tentang pujian dan penyembahan kepada Tuhan sebagai cara untuk mengundang hadirat-Nya turun melawat dan memenuhi kehidupannya. "...Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel." (Mazmur 22:4), artinya Tuhan sangat disenangkan dengan pujian umat-Nya.
Memulai hari baru dengan membangun persekutuan yang karib dengan Tuhan, berbicara kepada-Nya dan mendengarkan Dia adalah hal yang biasa Daud lakukan. Apa yang menjadi kebiasaan Saudara saat memulai hari baru? Ada banyak orang yang biasa bangun pagi langsung duduk santai ditemani secangkir kopi hangat, sebatang rokok dan gadget, tapi tidak berdoa. Tidak sedikit orang yang bangun pagi langsung terperangkap dengan kesibukan yang tiada kunjung habisnya: sepanjang malam dan sampai pagi hari terus disibukkan dengan tugas-tugas tersebut, sampai-sampai tak punya waktu untuk berdoa. Kita seringkali berpikir bahwa langkah terbaik memulai hari baru adalah bangun pagi-pagi sekali dan cepat bekerja, semuanya pasti akan beres. Kita harus ingat bahwa kekuatan dan kemampuan kita sangat terbatas, kita tidak tahu apa yang terjadi satu langkah di depan kita, kita tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu. Oleh karena itu penting sekali kita mencari Tuhan terlebih dahulu sebelum melakukan segala sesuatu.
Ada kalimat bijak: "Permulaan yang baik merupakan separuh dari pekerjaan itu sendiri." Permulaan yang baik sebelum memulai hari adalah mencari Tuhan, bersekutu dengan-Nya dan mempertajam pendengaran akan suara-Nya. "Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid." (Yesaya 50:4). Kita sangat membutuhkan tuntunan dan penyertaan Tuhan dalam menjalani hari yang baru, kita harus melibatkan Tuhan di setiap rencana dan tindakan kita. Bila Tuhan yang beserta kita, segala perkara dapat kita tanggung di dalam Dia.
Penyertaan Tuhan adalah yang terutama, bersama Dia kita pasti berkemenangan!
Tuesday, May 5, 2020
TIANG GARAM: Menjadi Peringatan
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 5 Mei 2020
Baca: Kejadian 19:1-29
"Tetapi isteri Lot, yang berjalan mengikutnya, menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam." Kejadian 19:26
Ketika kejahatan penduduk kota Sodom dan Gomora benar-benar mencapai puncaknya, Tuhan memutuskan untuk menghukum kota tersebut dengan hujan belerang dan api (Kejadian 19:24-25). Tetapi sebelum menghukum kota itu Tuhan masih mengingat Lot dan keluarganya, sehingga Tuhan ingin menyelamatkan mereka dengan mengutus dua orang malaikat-Nya untuk membawa mereka keluar dari lembah Yordan itu, dengan pesan penting tidak boleh menoleh ke belakang dan tidak boleh berhenti di mana pun juga di lembah Yordan (Kejadian 19:17). Apa yang terjadi kemudian? Saat hujan belerang dan api turun menunggangbalikkan kota-kota di lembah Yordan itu, isteri Lot menoleh ke belakang dan seketika itu juga ia menjadi tiang garam (ayat nas).
Apa yang menimpa isteri Lot ini menjadi suatu pelajaran berharga dan peringatan keras bagi kita. Tetap menoleh ke belakang sekalipun sudah diperingatkan menunjukkan bahwa isteri Lot enggan meninggalkan kenyamanan duniawi dan hatinya masih berpaut pada harta yang tertinggal di kota Sodom dan Gomora, "Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada." (Matius 6:21). Harta kekayaan atau hal-hal duniawi cenderung menawan hati kita dan semakin menjauhkan kita dari hadirat Tuhan; karena harta, kasih kita kepada Tuhan menjadi luntur sehingga Tuhan tidak lagi menjadi yang terutama dalam hidup kita. Tuhan Yesus mengingatkan kita supaya tidak menjadi seperti isteri Lot, yang harus mengalami kebinasaan karena hatinya masih melekat kepada hal-hal yang duniawi. "Tetapi pada hari Lot pergi keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua. Ingatlah akan isteri Lot! Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya." (Lukas 17:29, 32-33).
Apa yang isteri Lot lakukan adalah bentuk ketidaktaatan kepada perintah Tuhan, sebab ketaatan yang setengah-setengah sama artinya dengan ketidaktaatan; dan setiap ketidaktaatan selalu mendatangkan pendisiplinan dari Tuhan! Alkitab menegaskan: "...setiap pelanggaran dan ketidaktaatan mendapat balasan yang setimpal," (Ibrani 2:2).
Mengasihi dunia dengan segala isinya menuntun orang kepada kebinasaan!
Baca: Kejadian 19:1-29
"Tetapi isteri Lot, yang berjalan mengikutnya, menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam." Kejadian 19:26
Ketika kejahatan penduduk kota Sodom dan Gomora benar-benar mencapai puncaknya, Tuhan memutuskan untuk menghukum kota tersebut dengan hujan belerang dan api (Kejadian 19:24-25). Tetapi sebelum menghukum kota itu Tuhan masih mengingat Lot dan keluarganya, sehingga Tuhan ingin menyelamatkan mereka dengan mengutus dua orang malaikat-Nya untuk membawa mereka keluar dari lembah Yordan itu, dengan pesan penting tidak boleh menoleh ke belakang dan tidak boleh berhenti di mana pun juga di lembah Yordan (Kejadian 19:17). Apa yang terjadi kemudian? Saat hujan belerang dan api turun menunggangbalikkan kota-kota di lembah Yordan itu, isteri Lot menoleh ke belakang dan seketika itu juga ia menjadi tiang garam (ayat nas).
Apa yang menimpa isteri Lot ini menjadi suatu pelajaran berharga dan peringatan keras bagi kita. Tetap menoleh ke belakang sekalipun sudah diperingatkan menunjukkan bahwa isteri Lot enggan meninggalkan kenyamanan duniawi dan hatinya masih berpaut pada harta yang tertinggal di kota Sodom dan Gomora, "Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada." (Matius 6:21). Harta kekayaan atau hal-hal duniawi cenderung menawan hati kita dan semakin menjauhkan kita dari hadirat Tuhan; karena harta, kasih kita kepada Tuhan menjadi luntur sehingga Tuhan tidak lagi menjadi yang terutama dalam hidup kita. Tuhan Yesus mengingatkan kita supaya tidak menjadi seperti isteri Lot, yang harus mengalami kebinasaan karena hatinya masih melekat kepada hal-hal yang duniawi. "Tetapi pada hari Lot pergi keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua. Ingatlah akan isteri Lot! Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya." (Lukas 17:29, 32-33).
Apa yang isteri Lot lakukan adalah bentuk ketidaktaatan kepada perintah Tuhan, sebab ketaatan yang setengah-setengah sama artinya dengan ketidaktaatan; dan setiap ketidaktaatan selalu mendatangkan pendisiplinan dari Tuhan! Alkitab menegaskan: "...setiap pelanggaran dan ketidaktaatan mendapat balasan yang setimpal," (Ibrani 2:2).
Mengasihi dunia dengan segala isinya menuntun orang kepada kebinasaan!
Monday, May 4, 2020
JANGAN MENOLEH KE BELAKANG LAGI
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 4 Mei 2020
Baca: Kejadian 19:1-29
"Larilah, selamatkanlah nyawamu; janganlah menoleh ke belakang, dan janganlah berhenti di manapun juga di Lembah Yordan, larilah ke pegunungan, supaya engkau jangan mati lenyap." Kejadian 19:17
Ketika hendak membumihanguskan kota Sodom dan Gomora karena kebejatan moral penduduknya, teringatlah Tuhan pada permohonan Abraham: "Apakah Engkau akan melenyapkan orang benar bersama-sama dengan orang fasik?" (Kejadian 18:23). Hati Tuhan pun tergerak oleh belas kasihan karena Ia teringat pada Lot dan keluarga, sehingga Ia mengutus malaikat-Nya. "Ketika fajar telah menyingsing, kedua malaikat itu mendesak Lot, supaya bersegera, katanya: 'Bangunlah, bawalah isterimu dan kedua anakmu yang ada di sini, supaya engkau jangan mati lenyap karena kedurjanaan kota ini.' Ketika ia berlambat-lambat, maka tangannya, tangan isteri dan tangan kedua anaknya dipegang oleh kedua orang itu, sebab TUHAN hendak mengasihani dia; lalu kedua orang itu menuntunnya ke luar kota dan melepaskannya di sana." (Kejadian 19:15-16).
Malaikat Tuhan berpesan agar tidak menoleh ke belakang (ayat nas), tapi isteri Lot "...menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam." (Kejadian 19:26). Makna rohani 'menoleh ke belakang' adalah kembali kepada kehidupan lama, berkompromi dengan dosa, mengingat-ingat kehidupan di masa lalu. Sebagai ciptaan baru di dalam Kristus kita harus benar-benar menanggalkan kehidupan lama dan mengenakan manusia baru, serta mengarahkan pandangan ke depan kepada rancangan Tuhan, yaitu masa depan yang penuh harapan (Yeremia 29:11). Ketika bangsa Israel telah dilepaskan dari perbudakannya di Mesir, raja Firaun tak berhenti untuk mengejar mereka sehingga mereka dihadapkan pada pilihan hidup: taat kepada Tuhan untuk meneruskan perjalanan, atau kembali kepada kehidupan lama di Mesir sebagai budak.
Ketika bangsa Israel memilih untuk taat kepada Tuhan, Tuhan menyatakan kuasa dan mujizat-Nya di tengah-tengah bangsa Israel, seperti tertulis: "...TUHAN menguakkan air laut dengan perantaraan angin timur yang keras, membuat laut itu menjadi tanah kering; maka terbelahlah air itu." (Keluaran 14:21).
Menoleh ke belakang berarti enggan meninggalkan kehidupan lama!
Baca: Kejadian 19:1-29
"Larilah, selamatkanlah nyawamu; janganlah menoleh ke belakang, dan janganlah berhenti di manapun juga di Lembah Yordan, larilah ke pegunungan, supaya engkau jangan mati lenyap." Kejadian 19:17
Ketika hendak membumihanguskan kota Sodom dan Gomora karena kebejatan moral penduduknya, teringatlah Tuhan pada permohonan Abraham: "Apakah Engkau akan melenyapkan orang benar bersama-sama dengan orang fasik?" (Kejadian 18:23). Hati Tuhan pun tergerak oleh belas kasihan karena Ia teringat pada Lot dan keluarga, sehingga Ia mengutus malaikat-Nya. "Ketika fajar telah menyingsing, kedua malaikat itu mendesak Lot, supaya bersegera, katanya: 'Bangunlah, bawalah isterimu dan kedua anakmu yang ada di sini, supaya engkau jangan mati lenyap karena kedurjanaan kota ini.' Ketika ia berlambat-lambat, maka tangannya, tangan isteri dan tangan kedua anaknya dipegang oleh kedua orang itu, sebab TUHAN hendak mengasihani dia; lalu kedua orang itu menuntunnya ke luar kota dan melepaskannya di sana." (Kejadian 19:15-16).
Malaikat Tuhan berpesan agar tidak menoleh ke belakang (ayat nas), tapi isteri Lot "...menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam." (Kejadian 19:26). Makna rohani 'menoleh ke belakang' adalah kembali kepada kehidupan lama, berkompromi dengan dosa, mengingat-ingat kehidupan di masa lalu. Sebagai ciptaan baru di dalam Kristus kita harus benar-benar menanggalkan kehidupan lama dan mengenakan manusia baru, serta mengarahkan pandangan ke depan kepada rancangan Tuhan, yaitu masa depan yang penuh harapan (Yeremia 29:11). Ketika bangsa Israel telah dilepaskan dari perbudakannya di Mesir, raja Firaun tak berhenti untuk mengejar mereka sehingga mereka dihadapkan pada pilihan hidup: taat kepada Tuhan untuk meneruskan perjalanan, atau kembali kepada kehidupan lama di Mesir sebagai budak.
Ketika bangsa Israel memilih untuk taat kepada Tuhan, Tuhan menyatakan kuasa dan mujizat-Nya di tengah-tengah bangsa Israel, seperti tertulis: "...TUHAN menguakkan air laut dengan perantaraan angin timur yang keras, membuat laut itu menjadi tanah kering; maka terbelahlah air itu." (Keluaran 14:21).
Menoleh ke belakang berarti enggan meninggalkan kehidupan lama!
Subscribe to:
Comments (Atom)