Friday, March 20, 2020

GAGAL KARENA RESPONS HATI NEGATIF (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 20 Maret 2020

Baca:  Ulangan 1:1-8

"Majulah, berangkatlah, pergilah ke pegunungan orang Amori dan kepada semua tetangga mereka di Araba-Yordan, di Pegunungan, di Daerah Bukit, di Tanah Negeb dan di tepi pantai laut, yakni negeri orang Kanaan, dan ke gunung Libanon sampai Efrat, sungai besar itu."  Ulangan 1:7

Bangsa Israel harus terlebih dahulu menggembara dan berputar-putar di padang gurun selama empat puluh tahun lamanya sebelum mencapai Tanah Perjanjian.  Selama itukah seharusnya perjalanan yang ditempuh dari Mesir untuk menuju Kanaan?  Alkitab menyatakan,  "Sebelas hari perjalanan jauhnya dari Horeb sampai Kadesh-Barnea, melalui jalan pegunungan Seir."  (Ulangan 1:2).  Untuk mencapai Kanaan, normalnya, mereka hanya butuh waktu sebelas hari perjalanan, namun bangsa Israel harus menempuhnya selama empat puluh tahun.  Apakah karena medan yang harus ditempuh teramat sulit?  Apakah tantangan yang harus dihadapi terlalu besar?

     Tuhan mengijinkan bangsa Israel harus mengalami proses panjang selama 40 tahun karena respons hati yang negatif, yaitu selalu membesar-besarkan masalah atau kesulitan yang dialami.  Respons hati yang negatif adalah tanda ketidakpercayaan, lawan dari iman.  Janji Tuhan yang seharusnya dapat segera mereka nikmati menjadi tertunda begitu lama;  kemenangan di depan mata tidak dapat diraih dan memerlukan waktu bertahun-tahun untuk meraihnya.  Bahkan sebagian besar dari generasi yang dipanggil keluar dari Mesir tidak pernah mencapai Tanah Perjanjian karena mereka mati di padang gurun.  Sesungguhnya Tuhan telah memanggil mereka keluar dari perbudakan di Mesir untuk pergi ke suatu negeri yang telah dijanjikan-Nya.  "Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya,"  (Keluaran 3:8).  Sayang, bangsa Israel tidak memiliki respons hati yang benar.

     Hati dan pikiran mereka dikendalikan oleh situasi yang terlihat secara kasat mata.  Akibatnya?  Mereka mudah sekali mengerutu, mengomel, bersungut-sungut terhadap apa yang dialami.  Pengalaman masa lalu yang menyakitkan di Mesir telah membentuk pola pikir mereka, sehingga mereka berpikir bahwa hidup mereka tidak mungkin menjadi baik.  Semakin kita dikendalikan situasi, semakin kita meragukan kuasa Tuhan!

Thursday, March 19, 2020

BANGSA ISRAEL: SEBAGAI PEMBELAJARAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 19 Maret 2020

Baca:  Mazmur 78:1-31

"dan jangan seperti nenek moyang mereka, angkatan pendurhaka dan pemberontak, angkatan yang tidak tetap hatinya dan tidak setia jiwanya kepada Allah."  Mazmur 78:8

Selama menempuh perjalanan di padang gurun bangsa Israel selalu menunjukkan kedegilan dan pemberontakannya kepada Tuhan, padahal di sepanjang perjalanan tersebut Tuhan telah menunjukkan kebesaran dan kedahsyatan kuasa-Nya melalui mujizat-mujizat yang Ia kerjakan.  Karena pemberontakannya, sebagian besar dari mereka mati di padang gurun sebelum mencapai Tanah Perjanjian.  Pemazmur menuliskan hal ini sebagai pembelajaran berharga bagi orang percaya agar bisa mengambil sisi positifnya.

     Bangsa Israel gagal karena tidak taat melakukan perintah Tuhan.  Mereka mendekat kepada Tuhan dan berseru kepada-Nya hanya saat perlu.  Begitu keadaan sudah membaik dan pulih, mereka kembali hidup dalam pemberontakan.  Tindakan mereka seperti suatu siklus, sampai-sampai Tuhan menyebut mereka  "...suatu bangsa yang tegar tengkuk."  (Keluaran 32:9).  Tegar tengkuk bisa diartikan:  keras kepala, sulit ditangani atau diajak bekerja sama, suka memberontak, menolak untuk patuh dan tidak dapat diatur.  Pemberontakan dan ketidaktaatan inilah yang menjadi akar kegagalan mereka.  Andaikan mereka mau taat, mereka pasti tidak akan mati di padang gurun.  Jadi, ketaatan atau ketidaktaatan selalu membawa dampak.  Ketaatan membuka pintu kesempatan bagi seseorang untuk mengalami dan menikmati janji-janji Tuhan.  Sebaliknya, ketidaktaatan semakin menuutup pintu berkat, tapi membuka pintu gerbang kehancuran.

     Contoh lain adalah kegagalan Saul.  Ia yang telah dipercaya Tuhan untuk menjadi pemimpin atas Israel justru tidak memberikan teladan hidup yang baik.  Karena ketidaktaatannya Saul harus menuai akibatnya juga.  Berkatalah Samuel kepada Saul,  "Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan. Sebab pendurhakaan adalah sama seperti dosa bertenung dan kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim. Karena engkau telah menolak firman TUHAN, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja."  (1 Samuel 15:22-23).

Tak ingin gagal dan hancur?  Jadilah orang-orang yang taat kepada Tuhan.

Wednesday, March 18, 2020

TUHAN SANGGUP MENYEDIAKAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 18 Maret 2020

Baca:  1 Raja-Raja 3:1-15

"Dan juga apa yang tidak kauminta Aku berikan kepadamu, baik kekayaan maupun kemuliaan, sehingga sepanjang umurmu takkan ada seorangpun seperti engkau di antara raja-raja."  1 Raja-Raja 3:13

Ada berbagai macam tujuan dan motivasi orang mengikut Kristus.  Sebagai orang percaya kita mengikut Kristus karena kita telah diselamatkan dan dilepaskan dari kutuk dosa.  Tetapi ada sebagian besar orang mengikut Kristus karena motivasi yang salah, yaitu ingin menjadi kaya atau memperoleh kekayaan  (materi).  Ketika banyak orang berbondong-bondong mengikuti kemana Kristus pergi, berkatalah Ia,  "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang."  (Yohanes 6:26).

     Roti berbicara tentang materi  (berkat jasmani).  Ketika orang hanya menginginkan berkat dari Tuhan, doa-doanya hanya berfokus pada kebutuhan jasmaninya atau keinginan dagingnya.  Tuhan tak pernah mengajar kita demikian.  Ia mengajarkan kita mengarahkan pandangan kepada pribadi-Nya, mencari wajah-Nya, dan tak perlu kuatir tentang apa pun kebutuhan kita:  "Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu."  (Matius 6:32).  Jika kita mencari Kerajaan Sorga dan kebenaran-Nya terlebih dahulu Tuhan pasti akan mengalami berbagai kesulitan.  "...mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan."  (1 Timotius 6:9).

     Salomo tak minta berkat materi, namun hikmat, tetapi Tuhan memberi lebih:  "Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita,"  (Efesus 3:20).  Asal setia, taat kepada-Nya,  "...Ia akan memberkati roti makananmu dan air minumanmu dan Aku akan menjauhkan penyakit dari tengah-tengahmu."  (Keluaran 23:25).

Milikilah motivasi yang benar dalam mengikut Tuhan dan taat kepada-Nya, berkat-Nya pasti disediakan!

Tuesday, March 17, 2020

TANAH LIAT DI TANGAN SANG PENJUNAN (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 Maret 2020

Baca:  2 Korintus 4:1-15

"Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami."  2 Korintus 4:7

Rasul Paulus adalah contoh orang yang mengalami proses pembentukan dari Tuhan:  "Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, bahkan tidak layak disebut rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah. Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku."  (1 Korintus 15:9-10).  Dalam hal ini rasul Paulus hendak menegaskan bahwa kalau pun hidupnya dapat berharga, menjadi sesuatu yang berarti, itu karena kasih karunia Tuhan semata.  Ia sadar bahwa sesungguhnya ia tak lebih dari tanah liat yang hina dan tak berharga, tapi Tuhan sanggup membentuknya menjadi sebuah bejana yang berharga di mata-Nya.  Karena campur tangan Tuhan hidup Paulus diangkat dan dipakai untuk menjadi alat kemuliaan-Nya.

     Untuk menjadi bejana dan perabot untuk tujuan yang mulia kita harus rela dan mau dibentuk oleh Tuhan, sebab tanah liat tidak secara otomatis berubah menjadi bejana yang halus dan menarik tanpa melewati proses terlebih dahulu, sebab di dalam Tuhan tidak ada yang instan...  Bisa saja tukang periuk membuat bejana itu secara cepat atau instan, tapi hasilnya?  Tidak bisa dijamin kualitasnya, mungkin saja bejana tersebut tidak bisa bertahan lama, retak dan mudah pecah.  Bangsa Israel harus mengalami proses pembentukan Tuhan di padang gurun 40 tahun lamanya karena mereka suka memberontak, bersungut-sungut, mengeluh dan hidup dalam ketidaktaatan.

     Berbicara tentang proses berarti ada waktu yang dibutuhkan!  Ketika dibentuk Tuhan kadangkala waktunya tidak sebentar.  Ini bukan bicara tentang menit atau jam, hari atau bulan, kadangkala membutuhkan waktu tahunan.  Waktu masuk dalam prosesnya Tuhan, kita inginnya dipercepat.  Ingat, lamanya proses tergantung bagaimana kondisi tanah liat dan tergantung apa yang mau dibentuk.

Bila kita sedang menghadapi proses pembentukan yang membutuhkan waktu lama, itu artinya Tuhan sedang membentuk kita untuk bejana indah di pemandangan mata-Nya!

Monday, March 16, 2020

TANAH LIAT DI TANGAN SANG PENJUNAN (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 Maret 2020

Baca:  Yeremia 18:1-17

"Masakan Aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk ini, hai kaum Israel!, demikianlah firman TUHAN. Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku,"  Yeremia 18:6

Perjalanan hidup kita ini tak ubahnya seperti tanah liat di tangan penjunan.  Kita adalah tanah liat dan Tuhan adalah Sang Penjunan.  Tapi banyak orang tak menyadari bahwa dirinya adalah tanah liat sehingga mereka seringkali memaksakan kehendaknya kepada Tuhan;  kita suka mengatur Tuhan untuk mengikuti kemauan kita;  kita tak mau tunduk kepada kehendak Tuhan.  "Celakalah orang yang berbantah dengan Pembentuknya; dia tidak lain dari beling periuk saja! Adakah tanah liat berkata kepada pembentuknya: 'Apakah yang kaubuat?' atau yang telah dibuatnya: 'Engkau tidak punya tangan!'"  (Yesaya 45:9).  Karena itu Tuhan menyuruh Yeremia untuk pergi ke rumah tukang periuk supaya ia dapat belajar dari apa yang diperbuat oleh tukang periuk supaya ia dapat belajar dari apa yang diperbuat oleh tukang periuk atas tanah liat.

     Mengapa Tuhan menggambarkan manusia sebagai tanah liat?  Berbicara tentang tanah liat, Tuhan hendak menegaskan kepada kita bahwa sesungguhnya kita ini lemah adanya, tak punya kekuatan apa-apa.  Di luar Tuhan  (tanpa Tuhan turut campur tangan), kita tak mampu berbuat apa-apa.  Berbicara tentang tanah liat, Tuhan juga mau mengingatkan bahwa kita ini tak punya arti apa-apa, tidak ada harganya, dan kotor.  Tanah itu hanya bisa diinjak-injak oleh banyak orang dan akhirnya menjadi rusak...  namun ketika tanah itu berada dalam genggaman tangan si penjunan, maka tanah akan dibentuk sedemikian rupa menurut apa yang baik pada pemandangannya, sampai akhirnya tanah yang sebelumnya tidak berharga sama sekali menjadi sesuatu yang berharga, yang tidak berarti menjadi sesuatu yang sangat berarti.  "Ia menegakkan orang yang hina dari dalam debu dan mengangkat orang yang miskin dari lumpur,"  (Mazmur 113:7).

     Untuk menjadi bejana yang berharga ada harga yang harus dibayar, ada proses yang harus kita jalani.  Proses memang menyakitkan secara daging dan banyak orang tidak tahan, dan gagal di tengah jalan, seperti bangsa Israel.  Karena itu milikilah penyerahan penuh kepada Tuhan, dan jangan sekali-kali kita memberontak kepada-Nya.  Sebab semakin kita memberontak, semakin panjang proses yang harus kita lewati.

Sebagai Penjunan Tuhan tahu yang terbaik untuk kita!  Karena itu tetaplah taat.

Sunday, March 15, 2020

MAKSUD TUHAN DI BALIK PENDERITAAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 Maret 2020

Baca:  1 Petrus 2:18-25

"Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung."  1 Petrus 2:19

Ada penderitaan sebagai akibat dari kesalahan atau dosa, ada penderitaan karena serangan dari Iblis, ada pula penderitaan yang dialami justru karena hidup dalam kebenaran.  Alkitab menyatakan jika kita berbuat baik dan karena itu kita harus menderita, maka itu adalah kasih karunia  (ayat nas),  "Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya."  (1 Petrus 2:21).  Tidak selamanya kebenaran mendatangkan berkat.  Terkadang kita sudah hidup dalam kebenaran, namun yang kita alami justru adalah tekanan dan penderitaan seperti yang dirasakan pemazmur:  "Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah. Namun sepanjang hari aku kena tulah, dan kena hukum setiap pagi."  (Mazmur 73:13-14).

     Yeremia, seorang hamba Tuhan yang diutus untuk menyampaikan nubuatan dari Tuhan, justru mendapatkan perlakuan yang tak manusiawi:  "Pasyhur bin Imer, imam yang pada waktu itu menjabat kepala di rumah TUHAN, mendengar Yeremia menubuatkan perkataan-perkataan itu. Lalu Pasyhur memukul nabi Yeremia dan memasungkan dia di pintu gerbang Benyamin yang ada di atas rumah TUHAN."  (Yeremia 20:1-2).  Mengapa Tuhan mengijinkan hal itu terjadi?  Karena Tuhan mau memproses dan memurnikan Yeremia, sama seperti logam emas ketika dimurnikan, ia harus melewati ujian api.  Alkitab menyatakan bahwa Tuhan adalah api yang menghanguskan  (Ulangan 4:24).  Yeremia diijinkan Tuhan melewati proses dengan suatu maksud yaitu supaya ia memiliki hati yang murni  (motivasi)  dalam melayani pekerjaan-Nya, serta punya keberanian untuk menyuarakan kebenaran, menyerukan pertobatan, bukan berkhotbah hanya untuk sekedar menyenangkan telinga orang.

     Tuhan ijinkan orang benar mengalami penderitaan karena Ia hendak menuntun kita kepada pengalaman mujizat.  Tuhan tidak mau kita hanya mendengar dari kata orang bahwa Ialah sumber mujizat, tetapi Ia mau kita juga mengalami mujizat-Nya sehingga hidup kita menjadi berkat dan kesaksian bagi orang lain.

Di balik penderitaan yang dialami orang benar, Tuhan punya rencana besar!

Saturday, March 14, 2020

BERDOA: Luput Dari Kesukaran

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 Maret 2020

Baca:  Mazmur 32:1-11

"Sebab itu hendaklah setiap orang saleh berdoa kepada-Mu, selagi Engkau dapat ditemui; sesungguhnya pada waktu banjir besar terjadi, itu tidak melandanya."  Mazmur 32:6

Semua orang mengakui bahwa hidup di akhir zaman ini semakin hari semakin sulit, tantangan yang harus kita hadapi pun kian bertambah-tambah.  Karena itu firman Tuhan memperingatkan kita agar semakin tekun berdoa dan berjaga-jaga, serta waspada, karena di sekeliling kita ada Iblis yang selalu berkeliling seperti singa kelaparan yang siap menerkam orang-orang yang sedang lengah  (1 Petrus 5:8).  Mangsa Iblis adalah orang-orang percaya, karena orang-orang dunia sudah berada di dalam cengkeramannya.  Iblis mencari musuh-musuhnya yaitu orang percaya yang tidak berdoa dan tidak berjaga-jaga.

     Kunci utama untuk bisa menang melawan setiap pencobaan dalam hidup ini adalah melalui doa.  Itulah sebabnya, Kristus menegor Petrus saat berada di taman Getsemani, yang kedapatan sedang tertidur:  "Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku? Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah."  (Matius 26:40b-41).  Sesungguhnya, roh mereka mau berdoa, tetapi daging lemah.  Karena tidak berdoa, murid-murid tidak siap menghadapi pencobaan.  Sewaktu Kristus ditangkap di taman Getsemani, tempat dimana Kristus sedang berdoa,  "...semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri."  (Markus 14:50).  Juga, Petrus sempat menyangkal Kristus sebanyak tiga kali karena mengalami ketakutan.  Banyak orang Kristen meremehkan jam-jam doa mereka.  Mereka jarang sekali berdoa, bahkan ada pula yang tidak pernah berdoa, padahal dibalik doa tersimpan kekuatan yang teramat dahsyat.  Doa seharusnya menjadi nafas hidup kita!

     Bila orang saleh berdoa Ia akan meluputkan dari kesulitan dan kesukaran.  Ketika kita tekun berdoa ada jaminan perlindungan Tuhan.  Tuhan pasti menggenapi firman-Nya.  "Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur."  (Kolose 4:2), artinya senantiasa berdoa dengan disiplin.  Senantiasa berdoa artinya tanpa masalah, capai, terlalu sibuk,  "Tetaplah berdoa."  (1 Tesalonika 5:17).

Doa yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya  (Yakobus 5:16b).

Catatan:
 "Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati. Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah."  (Roma 9:15-16).

Friday, March 13, 2020

YANG LAYAK MENGHAMPIRI TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 Maret 2020

Baca:  Mazmur 24:1-10

"Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?"  Mazmur 24:3

Pemazmur menegaskan bahwa tidak semua orang dapat naik ke gunung Tuhan.  Kata  'gunung'  mempunyai pengertian:  kemuliaan Tuhan dan tempat kediaman Tuhan.  Hanya orang-orang pilihan yang dapat naik ke  'gunung'  Tuhan, sebab Tuhan adalah kudus, tanpa kekudusan tak seorang pun layak untuk menghampiri takhta-Nya.  Rasul Petrus mengingatkan,  "...hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus."  (1 Petrus 1:15-16).  Seseorang tak dapat melihat Tuhan tanpa kekudusan hidup dan tanpa kesucian hati.  Yang boleh naik ke gunung Tuhan adalah  "Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu."  (Mazmur 24:4).

     Jelas sekali bahwa tidak sembarang orang dilayakkan untuk menghampiri hadirat Tuhan!  1.  Orang yang bersih tangannya.  Bersih artinya tidak bersalah atau bebas dari kesalahan, sedangkan  'tangan'  berbicara tindakan.  Orang yang bersih tangannya adalah orang yang memiliki tindakan atau perbuatan yang tidak bercela.  Tidak ada manusia yang bebas dari kesalahan, tapi  "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan."  (1 Yohanes 1:9), dan bertobat, Tuhan berkenan menerima kita.   2.  Orang yang memiliki hati yang murni.  Ini berbicara tentang motivasi hati atau kekudusan batin seseorang.  Hanya orang yang murni hatinya akan melihat Tuhan  (Matius 5:8).  Hati yang murni adalah tulus, tidak ada maksud-maksud terselubung, transparan, apa adanya, tidak ada kepalsuan, bersih, jernih, dan tidak ada hal-hal jahat yang tersimpan di dalam hati.

     Karena itu kita harus menjaga hati kita, sebab dari hati akan terpancar kehidupan  (Amsal 4:23);  Hati kita dapat menentukan arah hidup kita, karena dari hati timbul segala yang jahat  (Matius 15:19).  Bila hati kita ini bersih, maka ucapan yang keluar dari mulut kita pun bersih,  "Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati."  (Matius 12:34b).  Isi perbendaharaan hati kita dengan firman Tuhan setiap hari!

Kejar perkenanan Tuhan supaya kita layak datang ke gunung-Nya yang kudus!

Thursday, March 12, 2020

TAK MAU BAYAR HARGA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 Maret 2020

Baca:  Lukas 9:22-27

"...barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya."  Lukas 9:24

Rasul Paulus memberikan ketegasan kepada Timotius:  "Dalam rumah yang besar bukan hanya terdapat perabot dari emas dan perak, melainkan juga dari kayu dan tanah; yang pertama dipakai untuk maksud yang mulia dan yang terakhir untuk maksud yang kurang mulia."  (2 Timotius 2:20-21).

     Segala sesuatu yang memiliki kualitas bagus dan di atas rata-rata harganya pasti sangat mahal.  Sebaliknya, sesuatu yang berharga murah biasanya kualitasnya sangat diragukan... dan untuk menjadi sesuatu yang berkualitas dan berharga prosesnya tak mudah.  Begitu juga dalam kehidupan rohani, ada harga yang harus dibayar untuk bisa menjadi alat kemuliaan Tuhan.  Kita telah menerima keselamatan dari Tuhan secara gratis  (tanpa bayar apa-apa), namun untuk mengikuti Dia, melayani Dia, dan mengalami penggenapan janji-janji-Nya kita harus mau membayar harga.  Membayar harga bukan sekedar pengorbanan dan konsekuensi, tetapi berbicara mengenai keutamaan Kristus di dalam hidup kita.  "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku."  (Lukas 9:23).  Harga itu adalah penyangkalan diri.  Kita rela meninggalkan segala sesuatu demi Kristus dan menjadikan Dia sebagai yang terutama dari segalanya.  Selama masih menuruti keinginan daging, selama kita masih mengasihi dunia ini, kita belum mampu membayar harga itu.

     Harga ialah komitmen.  "Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak..."  (Lukas 9:62).  Miliki tekad seperti Paulus:  "...aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku."  (Galatia 2:20).  Banyak orang ingin serupa Kristus, tapi hanya dalam hal melakukan mujizat atau perkara-perkara besar saja, dengan tujuan supaya makin terkenal.  Menjadi seperti Kristus berarti harus mau hidup seperti Kristus yaitu taat kepada kehendak Bapa.

Tanpa mau membayar harga, Tuhan tak bisa memakai hidup kita untuk rencana-Nya.

Wednesday, March 11, 2020

URAPAN TUHAN MENGHASILKAN KUASA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 Maret 2020

Baca:  Yesaya 10:20-27

"Pada waktu itu beban yang ditimpakan mereka atas bahumu akan terbuang, dan kuk yang diletakkan mereka atas tengkukmu akan lenyap."  Yesaya 20:27

Sebelum naik ke sorga Kristus berkata,  "...kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."  (Kisah 1:8).  Roh Kudus yang disebut  'janji Bapa' ini telah digenapi-Nya pada hari Pentakosta, di mana Roh Kudus dicurahkan.

     Setiap orang percaya harus memiliki kerinduan besar untuk dipenuhi oleh Roh Kudus, karena kuasa Roh Kuduslah yang mampu membebaskan semua belenggu dan kuk dalam kehidupan semua orang.  Dengan pertolongan Roh Kudus setiap orang percaya dimampukan untuk mengerjakan panggilan Tuhan dan  "...akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu."  (Yohanes 14:12).  Tanpa Roh Kudus kita takkan bisa melakukan apa yang Tuhan percayakan kepada kita.  Ketika hendak terangkat ke sorga berkatalah Elia kepada Elisa,  "'Mintalah apa yang hendak kulakukan kepadamu, sebelum aku terangkat dari padamu.' Jawab Elisa: 'Biarlah kiranya aku mendapat dua bagian dari rohmu.'"  (2 Raja-Raja 2:9).  Artinya Elisa merindukan urapan yang sama yang dimiliki Elia.  Urapan adalah kuasa Tuhan yang dahsyat yang sanggup mengubah hidup seseorang secara permanen.  Semasa melayani di bumi Kristus dipenuhi oleh urapan dari tempat yang Mahatinggi  (sorga), sehingga di setiap pelayanan-Nya Ia selalu melakukan perbuatan-perbuatan heran dan ajaib.  Urapan inilah yang menarik banyak orang untuk berbondong-bondong datang kepada-Nya.  Di mana Kristus berada dan kemana pun Kristus pergi di situ pasti banyak orang mengikuti Dia dan diubahkan hidupnya:  yang sakit disembuhkan, yang buta dicelikkan, dan yang terbelenggu kuasa gelap dilepaskan.

     Pelayanan Kristus selalu berdampak dan dipenuhi dengan urapan sorgawi karena Ia selalu bersekutu dengan Bapa.  Kita pun dapat mengalami urapan Roh Kudus-Nya asal kita senantiasa berdoa dan bersekutu dengan Tuhan.  Tanpa kekariban dengan Tuhan kita takkan mengalami kuasa-Nya, sebab urapan dari Tuhan bisa lenyap bila kita jarang bersekutu dengan si Pemberi urapan itu dan taat melakukan kehendak-Nya.

Tanpa penyertaan Roh Kudus pelayanan kita takkan menghasilkan kuasa.

Tuesday, March 10, 2020

BADAI DALAM KENDALI TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 Maret 2020

Baca:   Mazmur 86:1-17

"Lakukanlah kepadaku suatu tanda kebaikan, supaya orang-orang yang membenci aku melihat dengan malu, bahwa Engkau, ya TUHAN, telah menolong dan menghiburkan aku."  Mazmur 86:17

Sering terlontar dari mulut kita,  "Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: 'Penindasan!' tetapi tidak Kautolong?"  (Habakuk 1:2).  Seringkali kita melihat masalah seperti  'Goliat' yang sepertinya mustahil untuk dikalahkan dan kita memandang kuasa Tuhan serasa begitu kecil.

     Camkan dalam-dalam!  Tuhan kita adalah Penguasa alam semesta ini, artinya Dia mempunyai kedaulatan penuh atas seluruh ciptaan-Nya.  Badai dan gelombang yang begitu dahsyat saja langsung berhenti dan danau menjadi teduh ketika Tuhan menghardiknya:  "'Diam! Tenanglah!' Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali."  (Markus 4:39).  Ketika Tuhan mengajak murid-murid-Nya ke danau, Ia tahu akan datang angin taufan dan badai gelombang.  Ia mengiinkan hal itu terjadi untuk menguji sejauh mana kualitas iman mereka.  Iman takkan bertumbuh tanpa proses!  Tuhan tidak mau kita terus seperti  'bayi'  rohani yang biasanya hanya merengek dan selalu minta diperhatikan.  Tuhan mau kita menjadi orang-orang percaya yang dewasa rohani, yang kuat menghadapi segala tantangan.  Jika Tuhan ijinkan badai persoalan terjadi, percayalah kita pasti sanggup menanggung segala sesuatunya, karena Ia tahu sampai di mana batas kekuatan kita.  "Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya."  (1 Korintus 10:13).

     Untuk bisa menjadi bejana yang indah dan berharga, tanah liat harus mengalami proses pembentukan yang panjang dan menyakitkan;  buah zaitun takkan menghasilkan minyak bila tidak ditekan sedemikian rupa;  buah anggur takkan menjadi arak apabila ia tidak diperas.  Bersyukurlah bila Tuhan masih berkenan mendidik kita melalui masalah, sehingga kita boleh mendapat pengalaman iman yang luar biasa bersama Dia.

Dengan masalah sesungguhnya kita sedang dipersiapkan Tuhan untuk melihat dan mengalami perkara-perkara besar yang hendak dinyatakan-Nya.

Monday, March 9, 2020

SEMUA MILIK TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 9 Maret 2020

Baca:  1 Tawarikh 29:10-19

"Sebab kekayaan dan kemuliaan berasal dari pada-Mu dan Engkaulah yang berkuasa atas segala-galanya; dalam tangan-Mulah kekuatan dan kejayaan; dalam tangan-Mulah kuasa membesarkan dan mengokohkan segala-galanya."  1 Tawarikh 29:12

Daud adalah seorang raja Israel yang besar dan diberkati Tuhan.  Selain memiliki kekayaan yang melimpah, ia juga punya angkatan bersenjata atau prajurit-prajurit yang kuat.  Secara duniawi Daud punya alasan untuk membanggakan diri karena dia punya segalanya.  Tapi hal itu tidak Daud lakukan, karena ia sadar bahwa semua yang dimiliki adalah datangnya dari Tuhan.  Tanpa campur tangan Tuhan, jika Tuhan tidak turut bekerja, Daud bukanla siapa-siapa dan tidak akan sampai sejauh itu.

     Berkat yang kita miliki adalah pemberian dari Tuhan.  Jadi Tuhan adalah Pemilik, sedangkan kita hanya dipercaya untuk mengelolanya  (pengelola).  Daud mengakui dengan jujur,  "Ya TUHAN, punya-Mulah kebesaran dan kejayaan, kehormatan, kemasyhuran dan keagungan, ya, segala-galanya yang ada di langit dan di bumi! Ya TUHAN, punya-Mulah kerajaan dan Engkau yang tertinggi itu melebihi segala-galanya sebagai kepala."  (1 Tawarikh 29:11).  Tuhan sangat membenci kesombongan;  Tuhan tidak suka dengan orang yang suka membanggakan diri atau bermegah atas diri sendiri.  Betapa pun megah, besar, hebat, kuat, pintar, dan populernya seseorang, bila kesombongan atau kemegahan terhadap diri sendiri mulai merajai hati, Tuhan akan menurunkan dan merendahkannya.

     Di akhir zaman ini roh kesombongan melanda manusia secara merajalela.  Tapi, tidak banyak orang menyadari hal ini.  Ketika karir, studi, bisnis atau pelayanan mulai sukses, dada mulai dibusungkan.  Yang awalnya down to earth, setelah memiliki segala-galanya menjadi seperti  'alien'.  Saat kesombongan mulai merajai hidup seseorang, ia pun menjadi lupa kepada Tuhan, Sang Pemberi.  Kita menganggap semua yang telah diraih adalah buah dari jerih payah sendiri.  Walaupun raja Daud punya segalanya, dia tetap mengakui bahwa segala sesuatu datangnya dari Tuhan dan milik Tuhan.  Oleh sebab itu jangan sekali-kali menyombongkan diri.  "Sekalipun engkau terbang tinggi seperti burung rajawali, bahkan, sekalipun sarangmu ditempatkan di antara bintang-bintang, dari sanapun Aku akan menurunkan engkau, --demikianlah firman TUHAN."  (Obaja 1:4).

Jangan sekali-kali memegahkan diri, karena semua datangnya dari Tuhan!