Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 2 Januari 2020
Baca: Roma 16:17-24
"Kabar tentang ketaatanmu telah terdengar oleh semua orang. Sebab itu aku
bersukacita tentang kamu. Tetapi aku ingin supaya kamu bijaksana
terhadap apa yang baik, dan bersih terhadap apa yang jahat." Roma 16:19
Ibadah tanpa disertai ketaatan melakukan kehendak Tuhan adalah sia-sia belaka. Yang Tuhan cari dalam diri orang percaya adalah kekuatan. Oleh karena itu orang percaya harus berusaha sedemikian rupa untuk mencari perkenanan Tuhan, artinya kita harus lebih sungguh-sungguh lagi dalam mengikut Tuhan. Kita harus mengalami percepatan rohani: ibadah lebih lagi, berdoa lebih lagi, melayani Tuhan lebih lagi, taat lebih lagi. Ketaatan adalah prioritas Tuhan! Artinya dalam keadaan dan siuasi apa pun, senang atau tidak senang, kita harus tetap taat. Kata 'TAAT' dibaca dari depan atau dari belakang tetaplah TAAT. Hidup dalam ketaatan (kebenaran) adalah mutlak bagi orang percaya, karena hal itu menyukakan hati Tuhan. "Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar dari pada mendengar, bahwa anak-anakku hidup dalam kebenaran." (3 Yohanes 1:4).
Kristus adalah teladan utama dalam hal ketaatan! Puncak ketaatan Kristus kepada Bapa adalah mati di atas kayu salib. Ketaatan Kristus inilah yang menghasilkan keselamatan bagi setiap orang yang percaya. Sebagai orang yang sudah diselamatkan, sudah sepatutnya kita meneladani Kristus yaitu hidup dalam ketaatan. Tak mudah untuk hidup taat di tengah-tengah dunia yang semakin jahat seperti sekarang ini. Ditambah lagi dengan kemajuan teknologi yang ada membuat orang tidak lagi hidup mengandalkan Tuhan, dan semakin diperparah dengan menjamurnya ajaran-ajaran sesat. "Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat." (Efesus 5:15-16). Hidup taat berarti hidup dalam kekudusan. "Saudara-saudaraku yang kekasih, karena kita sekarang memiliki
janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran
jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita
dalam takut akan Allah." (2 Korintus 7:1).
Hidup kudus adalah syarat mutlak untuk kita mengalami kehadiran Tuhan, sebab tanpa kekudusan tak seorang pun dapat melihat Tuhan (Ibrani 12:14).
Thursday, January 2, 2020
Wednesday, January 1, 2020
JALANI HARI DENGAN SUKACITA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 1 Januari 2020
Baca: Filipi 4:4-9
"Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!" Filipi 4:4
Hari ini adalah hari baru di tahun 2020. Bersyukur kepada Tuhan, karena anugerah-Nya semata kita bisa hidup sampai hari ini. Dalam menyongsong hari-hari di tahun 2020 ini milikilah persiapan dan perencanaan hidup yang baik, "Karena hanya dengan perencanaan engkau dapat berperang, dan kemenangan tergantung pada penasihat yang banyak." (Amsal 24:6). Banyak orang memprediksi bahwa tahun 2020 adalah tahun yang berat karena tantangan yang harus kita hadapi semakin berat, namun orang percaya tak boleh sedikit pun kehilangan semangat dan sukacitanya. Bersama dengan Tuhan kita pasti beroleh kekuatan untuk menghadapi semuanya.
Betapa pun hari-hari yang hendak kita jalani ini masih penuh misteri, karena tak seorang pun tahu apa yang akan terjadi esok, kita harus tetap percaya bahwa Tuhan selalu ada di setiap musim kehidupan kita. Adalah bijak bila kita belajar dari rasul Paulus, yang dalam pelayanannya memberitakan Injil, harus menghadapi hari-hari yang teramat berat: masalah, kesulitan, penderitaan, aniaya, tekanan atau serangan dari pihak orang-orang yang menolak Injil, termasuk juga bencana atau musibah: "Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu. Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian," (2 Korintus 11:26-27). Puncaknya, Paulus tidak pernah mengeluh, bersungut-sungut, kecewa atau marah kepada Tuhan.
Saat di penjara rasul Paulus tetap giat memberikan semangat dan motivasi kepada orang-orang percaya untuk tetap bersukacita (ayat nas). Ia tidak sekedar berteori tapi telah melakukannya sendiri. Jika Tuhan di pihak kita, siapakah lawan kita?
Sekalipun dihadapkan pada banyak tantangan, rasul Paulus tak kehilangan semangat dan sukacitanya, karena mata rohaninya selalu tertuju kepada Tuhan.
Baca: Filipi 4:4-9
"Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!" Filipi 4:4
Hari ini adalah hari baru di tahun 2020. Bersyukur kepada Tuhan, karena anugerah-Nya semata kita bisa hidup sampai hari ini. Dalam menyongsong hari-hari di tahun 2020 ini milikilah persiapan dan perencanaan hidup yang baik, "Karena hanya dengan perencanaan engkau dapat berperang, dan kemenangan tergantung pada penasihat yang banyak." (Amsal 24:6). Banyak orang memprediksi bahwa tahun 2020 adalah tahun yang berat karena tantangan yang harus kita hadapi semakin berat, namun orang percaya tak boleh sedikit pun kehilangan semangat dan sukacitanya. Bersama dengan Tuhan kita pasti beroleh kekuatan untuk menghadapi semuanya.
Betapa pun hari-hari yang hendak kita jalani ini masih penuh misteri, karena tak seorang pun tahu apa yang akan terjadi esok, kita harus tetap percaya bahwa Tuhan selalu ada di setiap musim kehidupan kita. Adalah bijak bila kita belajar dari rasul Paulus, yang dalam pelayanannya memberitakan Injil, harus menghadapi hari-hari yang teramat berat: masalah, kesulitan, penderitaan, aniaya, tekanan atau serangan dari pihak orang-orang yang menolak Injil, termasuk juga bencana atau musibah: "Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu. Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian," (2 Korintus 11:26-27). Puncaknya, Paulus tidak pernah mengeluh, bersungut-sungut, kecewa atau marah kepada Tuhan.
Saat di penjara rasul Paulus tetap giat memberikan semangat dan motivasi kepada orang-orang percaya untuk tetap bersukacita (ayat nas). Ia tidak sekedar berteori tapi telah melakukannya sendiri. Jika Tuhan di pihak kita, siapakah lawan kita?
Sekalipun dihadapkan pada banyak tantangan, rasul Paulus tak kehilangan semangat dan sukacitanya, karena mata rohaninya selalu tertuju kepada Tuhan.
Tuesday, December 31, 2019
HARI ESOK DI TANGAN TUHAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 31 Desember 2019
Baca: Amsal 27:1-27
"Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu." Amsal 27:1
Hanya dalam hitungan jam saja tahun 2019 akan kita tinggalkan, sebab hari yang sedang kita jalani ini adalah hari terakhir. Hanya karena penyertaan dan anugerah Tuhan semata kita bisa melewati hari-hari yang berat di sepanjang tahun 2019. Tanpa campur tangan Tuhan kita tidak akan bisa hidup sampai hari ini. "Aku ada saat ini semuanya karena kasih-Mu, aku hidup hari ini semua berkat kemurahan-Mu." (kutipan lagi 'Berkat Kemurahan-Mu' oleh NDC). Tidak ada kata yang terucap selain kita berkata, "Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya." (Mazmur 106:1), "...dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!" (Mazmur 103:2).
Banyak orang menyambut malam pergantian tahun dengan menggelar berbagai pesta. Itu boleh-boleh saja! Tapi jangan sampai hal itu membuat kita terlena karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi di esok hari, "Karena manusia tidak mengetahui waktunya. Seperti ikan yang tertangkap dalam jala yang mencelakakan, dan seperti burung yang tertangkap dalam jerat, begitulah anak-anak manusia terjerat pada waktu yang malang, kalau hal itu menimpa mereka secara tiba-tiba." (Pengkhotbah 9:12). Hal terbaik yang harus kita lakukan adalah mengoreksi dan mengevaluasi diri. Flashback ke belakang sejenak! Di sepanjang tahun 2019 apakah kehidupan Saudara sudah berkenan kepada Tuhan dan menyenangkan hati-Nya? Apakah selama ini kita hidup mengandalkan kekuatan sendiri dan tidak pernah melibatkan Tuhan?
Maka dari itu "Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu." (ayat nas). Kita tidak tahu apa yang terjadi di tahun 2020 nanti karena hari esok berada di luar kendali kita. Tak perlu takut menghadapi hari esok karena Tuhan adalah jaminan hidup kita, asalkan kita mau hidup dipimpin Roh Kudus dan berjalan bersama-Nya hari lepas hari. "Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!" (Ratapan 3:22-23).
Hari esok adalah hari yang penuh harapan bagi orang-orang yang senantiasa hidup mengandalkan Tuhan.
Baca: Amsal 27:1-27
"Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu." Amsal 27:1
Hanya dalam hitungan jam saja tahun 2019 akan kita tinggalkan, sebab hari yang sedang kita jalani ini adalah hari terakhir. Hanya karena penyertaan dan anugerah Tuhan semata kita bisa melewati hari-hari yang berat di sepanjang tahun 2019. Tanpa campur tangan Tuhan kita tidak akan bisa hidup sampai hari ini. "Aku ada saat ini semuanya karena kasih-Mu, aku hidup hari ini semua berkat kemurahan-Mu." (kutipan lagi 'Berkat Kemurahan-Mu' oleh NDC). Tidak ada kata yang terucap selain kita berkata, "Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya." (Mazmur 106:1), "...dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!" (Mazmur 103:2).
Banyak orang menyambut malam pergantian tahun dengan menggelar berbagai pesta. Itu boleh-boleh saja! Tapi jangan sampai hal itu membuat kita terlena karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi di esok hari, "Karena manusia tidak mengetahui waktunya. Seperti ikan yang tertangkap dalam jala yang mencelakakan, dan seperti burung yang tertangkap dalam jerat, begitulah anak-anak manusia terjerat pada waktu yang malang, kalau hal itu menimpa mereka secara tiba-tiba." (Pengkhotbah 9:12). Hal terbaik yang harus kita lakukan adalah mengoreksi dan mengevaluasi diri. Flashback ke belakang sejenak! Di sepanjang tahun 2019 apakah kehidupan Saudara sudah berkenan kepada Tuhan dan menyenangkan hati-Nya? Apakah selama ini kita hidup mengandalkan kekuatan sendiri dan tidak pernah melibatkan Tuhan?
Maka dari itu "Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu." (ayat nas). Kita tidak tahu apa yang terjadi di tahun 2020 nanti karena hari esok berada di luar kendali kita. Tak perlu takut menghadapi hari esok karena Tuhan adalah jaminan hidup kita, asalkan kita mau hidup dipimpin Roh Kudus dan berjalan bersama-Nya hari lepas hari. "Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!" (Ratapan 3:22-23).
Hari esok adalah hari yang penuh harapan bagi orang-orang yang senantiasa hidup mengandalkan Tuhan.
Monday, December 30, 2019
MENJADI ORANG-ORANG TERJAJAH
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 30 Desember 2019
Baca: Keluaran 1:1-22
"Sebab itu pengawas-pengawas rodi ditempatkan atas mereka untuk menindas mereka dengan kerja paksa:" Keluaran 1:11
Bangsa Indonesia pernah mengalami masa-masa suram di waktu lalu yaitu ketika dijajah oleh bangsa lain. Sejarah mencatat ada beberapa negara yang pernah menjajah Indonesia: Portugis, Inggris, Belanda dan Jepang. Saat berada dalam penjajahan, rakyat Indonesia benar-benar mengalami penderitaan lahir dan batin karena berada di bawah kekuasaan bangsa lain, alias diperbudak oleh bangsa lain. Penderitaan yang dialami rakyat Indonesia antara lain: 1. Romusha. Panggilan bagi orang-orang Indonesia yang dipekerjakan secara paksa pada masa penjajahan Jepang. 2. Rodi. Kerja paksa tanpa pemberian upah bagi orang Indonesia pada masa penjajahan Belanda di Indonesia.
Jauh sebelumnya Alkitab mencatat bahwa bangsa Israel mengalami masa-masa terberat dan bahkan berada di posisi terendah yaitu menjadi budak di negeri Mesir. Seperti tertulis: "...dengan kejam orang Mesir memaksa orang Israel bekerja, dan memahitkan hidup mereka dengan pekerjaan yang berat, yaitu mengerjakan tanah liat dan batu bata, dan berbagai-bagai pekerjaan di padang, ya segala pekerjaan yang dengan kejam dipaksakan orang Mesir kepada mereka itu." (Keluaran 1:13-14). Tidak hanya itu, bangsa Israel juga mengalami aniaya ketika mereka jatuh dalam dosa dan penyembahan berhala, karena mereka harus mengalami pembuangan di Babel dan kembali menjalani kerja paksa.
Inilah gambaran tentang kehidupan orang-orang yang berada di luar Kristus! Mereka masih hidup di dalam 'penjajahan' karena dosa masih mengikat, membelenggu, memperbudak, dan menguasai kehidupannya. Satu-satunya jalan untuk bisa terbebas dari ikatan belenggu dosa dan menjadi orang-orang yang 'merdeka' adalah datang kepada Kristus dan percaya kepada-Nya. Mengapa kita harus datang kepada Kristus? Karena hanya Kristus saja yang sanggup membebaskan, melepaskan dan memerdekakan manusia dari segala belenggu dosa. Karya Kristus di atas kalvari adalah bukti bahwa melalui pengorbanan-Nya segala kutuk dosa telah dipatahkan! "Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka." (Yohanes 8:36).
"...Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan." Galatia 5:1
Baca: Keluaran 1:1-22
"Sebab itu pengawas-pengawas rodi ditempatkan atas mereka untuk menindas mereka dengan kerja paksa:" Keluaran 1:11
Bangsa Indonesia pernah mengalami masa-masa suram di waktu lalu yaitu ketika dijajah oleh bangsa lain. Sejarah mencatat ada beberapa negara yang pernah menjajah Indonesia: Portugis, Inggris, Belanda dan Jepang. Saat berada dalam penjajahan, rakyat Indonesia benar-benar mengalami penderitaan lahir dan batin karena berada di bawah kekuasaan bangsa lain, alias diperbudak oleh bangsa lain. Penderitaan yang dialami rakyat Indonesia antara lain: 1. Romusha. Panggilan bagi orang-orang Indonesia yang dipekerjakan secara paksa pada masa penjajahan Jepang. 2. Rodi. Kerja paksa tanpa pemberian upah bagi orang Indonesia pada masa penjajahan Belanda di Indonesia.
Jauh sebelumnya Alkitab mencatat bahwa bangsa Israel mengalami masa-masa terberat dan bahkan berada di posisi terendah yaitu menjadi budak di negeri Mesir. Seperti tertulis: "...dengan kejam orang Mesir memaksa orang Israel bekerja, dan memahitkan hidup mereka dengan pekerjaan yang berat, yaitu mengerjakan tanah liat dan batu bata, dan berbagai-bagai pekerjaan di padang, ya segala pekerjaan yang dengan kejam dipaksakan orang Mesir kepada mereka itu." (Keluaran 1:13-14). Tidak hanya itu, bangsa Israel juga mengalami aniaya ketika mereka jatuh dalam dosa dan penyembahan berhala, karena mereka harus mengalami pembuangan di Babel dan kembali menjalani kerja paksa.
Inilah gambaran tentang kehidupan orang-orang yang berada di luar Kristus! Mereka masih hidup di dalam 'penjajahan' karena dosa masih mengikat, membelenggu, memperbudak, dan menguasai kehidupannya. Satu-satunya jalan untuk bisa terbebas dari ikatan belenggu dosa dan menjadi orang-orang yang 'merdeka' adalah datang kepada Kristus dan percaya kepada-Nya. Mengapa kita harus datang kepada Kristus? Karena hanya Kristus saja yang sanggup membebaskan, melepaskan dan memerdekakan manusia dari segala belenggu dosa. Karya Kristus di atas kalvari adalah bukti bahwa melalui pengorbanan-Nya segala kutuk dosa telah dipatahkan! "Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka." (Yohanes 8:36).
"...Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan." Galatia 5:1
Sunday, December 29, 2019
PENCOBAAN SEBAGAI WARNA KEHIDUPAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 29 Desember 2019
Baca: Yakobus 1:12-18
"Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia." Yakobus 1:12
Mendengar kata 'pencobaan' yang terbayang di pikiran kita adalah sesuatu yang dirasa berat, tidak mengenakkan, sangat menyakitkan, dan memaksa kita untuk berjuang. Sebagai orang percaya kita tak perlu takut bila harus menghadapi berbagai pencobaan, sebab firman Tuhan sudah menegaskan bahwa pencobaan-pencobaan yang kita alami itu tidak akan melebihi kekuatan kita: "Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya." (1 Korintus 10:13). Berdasarkan ayat ini ada tiga karakteristik pencobaan yaitu: biasa, tidak melebihi kekuatan dan selalu ada jalan keluarnya.
Yakobus menasihati kita untuk tetap berbahagia sekalipun berada dalam pencobaan. Bagaimana bisa? Umumnya orang akan berbahagia bila ia dalam keadaan baik dan terbebas dari masalah dan kesulitan, bukan orang yang sedang dalam pencobaan. Ayat nas di atas jangan hanya dibaca sepenggal, karena masih ada kelanjutannya yaitu: "...ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia." (ayat nas). Saat dalam pencobaan kita berpikir bahwa Tuhan telah meninggalkan kita dan tidak lagi memedulikan kita. Padahal bila kita mau merenung sejenak, ada hikmah di balik pencobaan, yaitu Tuhan sedang menuntun kita untuk semakin mendekat kepada-Nya dan mengajar kita untuk mengerti kehendak-Nya.
Berbahagialah dan bersyukurlah bila kita dalam pencobaan, itu artinya Tuhan sedang memusatkan perhatian-Nya kepada kita dan merancang hal-hal yang besar atas hidup kita. Karena itu tetaplah bersandar dan percaya penuh kepada kehendak dan rencana Tuhan, karena kehendak dan rencana-Nya tidak pernah gagal dan selalu yang terbaik untuk hidup kita. Melalui pencobaan Tuhan sedang 'membersihkan' kita seperti ranting-ranting, supaya dapat berbuah lebih lebat lagi (Yohanes 15:2).
Di balik pencobaan yang kita alami, Tuhan selalu punya rencana yang baik!
Baca: Yakobus 1:12-18
"Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia." Yakobus 1:12
Mendengar kata 'pencobaan' yang terbayang di pikiran kita adalah sesuatu yang dirasa berat, tidak mengenakkan, sangat menyakitkan, dan memaksa kita untuk berjuang. Sebagai orang percaya kita tak perlu takut bila harus menghadapi berbagai pencobaan, sebab firman Tuhan sudah menegaskan bahwa pencobaan-pencobaan yang kita alami itu tidak akan melebihi kekuatan kita: "Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya." (1 Korintus 10:13). Berdasarkan ayat ini ada tiga karakteristik pencobaan yaitu: biasa, tidak melebihi kekuatan dan selalu ada jalan keluarnya.
Yakobus menasihati kita untuk tetap berbahagia sekalipun berada dalam pencobaan. Bagaimana bisa? Umumnya orang akan berbahagia bila ia dalam keadaan baik dan terbebas dari masalah dan kesulitan, bukan orang yang sedang dalam pencobaan. Ayat nas di atas jangan hanya dibaca sepenggal, karena masih ada kelanjutannya yaitu: "...ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia." (ayat nas). Saat dalam pencobaan kita berpikir bahwa Tuhan telah meninggalkan kita dan tidak lagi memedulikan kita. Padahal bila kita mau merenung sejenak, ada hikmah di balik pencobaan, yaitu Tuhan sedang menuntun kita untuk semakin mendekat kepada-Nya dan mengajar kita untuk mengerti kehendak-Nya.
Berbahagialah dan bersyukurlah bila kita dalam pencobaan, itu artinya Tuhan sedang memusatkan perhatian-Nya kepada kita dan merancang hal-hal yang besar atas hidup kita. Karena itu tetaplah bersandar dan percaya penuh kepada kehendak dan rencana Tuhan, karena kehendak dan rencana-Nya tidak pernah gagal dan selalu yang terbaik untuk hidup kita. Melalui pencobaan Tuhan sedang 'membersihkan' kita seperti ranting-ranting, supaya dapat berbuah lebih lebat lagi (Yohanes 15:2).
Di balik pencobaan yang kita alami, Tuhan selalu punya rencana yang baik!
Saturday, December 28, 2019
MEMBERITAKAN INJIL ADALAH KEHARUSAN BAGIKU
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 28 Desember 2019
Baca: 1 Korintus 9:15-23
"Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil." 1 Korintus 9:16
Tuhan memberikan perintah kepada semua orang percaya, tanpa terkecuali, "...pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:19-20). Inilah yang disebut Amanat Agung Tuhan! Sudahkah kita merespons panggilan Tuhan ini? Tuaian banyak, tetapi pekerja sedikit (Matius 9:37).
Hal mengerjakan Amanat Agung ini rasul Paulus adalah salah seorang pemberita Injil yang patut dan layak menjadi panutan kita semua. Komitmen dan dedikasi Paulus dalam mengerjakan panggilan Tuhan ini tak perlu diragukan lagi. Bagi Paulus, memberitakan Injil atau melayani Tuhan adalah "...Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil." (ayat nas). Ia punya tekad: "Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan." (Filipi 1:21), bahkan: "Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang." (1 Korintus 9:19). Ungkapan 'menjadikan diriku hamba dari semua orang' menunjukkan bahwa dalam segala hal rasul Paulus belajar untuk meneladani Kristus. Kristus berfirman, "Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (Matius 20:26b-28).
Dalam memberitakan Injil Paulus tidak bersikap kaku/keras, tetapi ia belajar untuk peka terhadap keadaan orang yang hendak dilayaninya serta berusaha menyesuaikan diri, agar dapat diterima dengan baik. Bukan berarti Paulus berkompromi dengan cara hidup mereka yang tidak berkenan kepada Tuhan. Penyesuaian diri Paulus hanya terbatas pada hal-hal yang bukan prinsip atau yang tidak bertentangan dengan firman.
Selagi masih ada kesempatan biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan!
Baca: 1 Korintus 9:15-23
"Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil." 1 Korintus 9:16
Tuhan memberikan perintah kepada semua orang percaya, tanpa terkecuali, "...pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:19-20). Inilah yang disebut Amanat Agung Tuhan! Sudahkah kita merespons panggilan Tuhan ini? Tuaian banyak, tetapi pekerja sedikit (Matius 9:37).
Hal mengerjakan Amanat Agung ini rasul Paulus adalah salah seorang pemberita Injil yang patut dan layak menjadi panutan kita semua. Komitmen dan dedikasi Paulus dalam mengerjakan panggilan Tuhan ini tak perlu diragukan lagi. Bagi Paulus, memberitakan Injil atau melayani Tuhan adalah "...Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil." (ayat nas). Ia punya tekad: "Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan." (Filipi 1:21), bahkan: "Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang." (1 Korintus 9:19). Ungkapan 'menjadikan diriku hamba dari semua orang' menunjukkan bahwa dalam segala hal rasul Paulus belajar untuk meneladani Kristus. Kristus berfirman, "Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (Matius 20:26b-28).
Dalam memberitakan Injil Paulus tidak bersikap kaku/keras, tetapi ia belajar untuk peka terhadap keadaan orang yang hendak dilayaninya serta berusaha menyesuaikan diri, agar dapat diterima dengan baik. Bukan berarti Paulus berkompromi dengan cara hidup mereka yang tidak berkenan kepada Tuhan. Penyesuaian diri Paulus hanya terbatas pada hal-hal yang bukan prinsip atau yang tidak bertentangan dengan firman.
Selagi masih ada kesempatan biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan!
Friday, December 27, 2019
PENUHI HARI-HARIMU DENGAN PUJIAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 27 Desember 2019
Baca: Mazmur 145:1-21
"Setiap hari aku hendak memuji Engkau, dan hendak memuliakan nama-Mu untuk seterusnya dan selamanya." Mazmur 145:2
Orang Kristen duniawi adalah orang Kristen yang berjalan di bawah kendali pancaindranya, alias hidup menurut apa yang dilihatnya secara kasat mata, bukan karena iman percaya. Akibatnya situasi atau keadaan selalu memengaruhi sikap hatinya. Karena kondisi hatinya sangat ditentukan oleh situasi atau keadaan, maka ia tidak memiliki kehidupan pujian dalam kesehariannya. Tak mengherankan bila ia jarang sekali dan tidak terbiasa memuji-muji Tuhan setiap waktu...kalaupun ada pujian keluar dari bibirnya hanyalah terjadi saat berada di dalam gedung gereja, saat ibadah berlangsung.
Puji-pujian seharusnya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hidup orang percaya, sebab pujian adalah pintu gerbang utama untuk kita masuk ke dalam hadirat Tuhan. Pemazmur berkata, "Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya! Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun." (Mazmur 100:4-5). Sejak dari semula Tuhan menciptakan manusia untuk bersekutu dengan-Nya, untuk memuji dan meninggikan kebesaran-Nya. Namun dalam praktik hidup sehari-hari banyak orang Kristen jarang sekali membalas kebaikan dan kasih Tuhan, sekalipun hanya lewat puji-pujian. Sebaliknya kita membalas kasih dan kebaikan Tuhan, dengan pemberontakan dan ketidaktaatan. Tapi begitu terjepit masalah, dengan secepat kilat kita mencari Tuhan, berseru-seru kepada-Nya dan bahkan langsung menyalahkan Tuhan.
Seperti halnya bangsa Israel, sekalipun mereka mengalami banyak pertolongan dan mujizat dari Tuhan, bukan puji-pujian yang keluar dari mulut mereka, melainkan keluhan dan sungut-sungut. Semakin kita mengeluh dan bersungut-sungut kepada Tuhan semakin kita menghalangi kuasa Tuhan bekerja, semakin kita menutup rapat-rapat pintu berkat bagi kita sendiri. Padahal pujian adalah ekspresi dari iman kita kepada Tuhan dan Tuhan sangat tergerak hati saat mendengar pujian yang dinaikkan ke hadirat-Nya, "...Padahal Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel." (Mazmur 22:4).
Jangan anggap remeh puji-pujian bagi Tuhan karena ada kuasa di dalamnya!
Baca: Mazmur 145:1-21
"Setiap hari aku hendak memuji Engkau, dan hendak memuliakan nama-Mu untuk seterusnya dan selamanya." Mazmur 145:2
Orang Kristen duniawi adalah orang Kristen yang berjalan di bawah kendali pancaindranya, alias hidup menurut apa yang dilihatnya secara kasat mata, bukan karena iman percaya. Akibatnya situasi atau keadaan selalu memengaruhi sikap hatinya. Karena kondisi hatinya sangat ditentukan oleh situasi atau keadaan, maka ia tidak memiliki kehidupan pujian dalam kesehariannya. Tak mengherankan bila ia jarang sekali dan tidak terbiasa memuji-muji Tuhan setiap waktu...kalaupun ada pujian keluar dari bibirnya hanyalah terjadi saat berada di dalam gedung gereja, saat ibadah berlangsung.
Puji-pujian seharusnya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hidup orang percaya, sebab pujian adalah pintu gerbang utama untuk kita masuk ke dalam hadirat Tuhan. Pemazmur berkata, "Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya! Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun." (Mazmur 100:4-5). Sejak dari semula Tuhan menciptakan manusia untuk bersekutu dengan-Nya, untuk memuji dan meninggikan kebesaran-Nya. Namun dalam praktik hidup sehari-hari banyak orang Kristen jarang sekali membalas kebaikan dan kasih Tuhan, sekalipun hanya lewat puji-pujian. Sebaliknya kita membalas kasih dan kebaikan Tuhan, dengan pemberontakan dan ketidaktaatan. Tapi begitu terjepit masalah, dengan secepat kilat kita mencari Tuhan, berseru-seru kepada-Nya dan bahkan langsung menyalahkan Tuhan.
Seperti halnya bangsa Israel, sekalipun mereka mengalami banyak pertolongan dan mujizat dari Tuhan, bukan puji-pujian yang keluar dari mulut mereka, melainkan keluhan dan sungut-sungut. Semakin kita mengeluh dan bersungut-sungut kepada Tuhan semakin kita menghalangi kuasa Tuhan bekerja, semakin kita menutup rapat-rapat pintu berkat bagi kita sendiri. Padahal pujian adalah ekspresi dari iman kita kepada Tuhan dan Tuhan sangat tergerak hati saat mendengar pujian yang dinaikkan ke hadirat-Nya, "...Padahal Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel." (Mazmur 22:4).
Jangan anggap remeh puji-pujian bagi Tuhan karena ada kuasa di dalamnya!
Thursday, December 26, 2019
JADILAH ORANG RAJIN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 26 Desember 2019
Baca: Amsal 13:1-25
"Hati si pemalas penuh keinginan, tetapi sia-sia, sedangkan hati orang rajin diberi kelimpahan." Amsal 13:4
Sekalipun orang punya seribu macam keinginan, tapi apabila ia malas mewujudkan keinginan tersebut melalui tindakan, maka keinginan tersebut tak membuahkan hasil apa-apa alias tak menjadi kenyataan. Penuh dengan keinginan tapi tidak disertai dengan tindakan adalah ciri seorang pemalas. Satu ciri lain dari pemalas adalah suka berdalih atau punya banyak alasan untuk tidak melakukan sesuatu. Jika ciri itu ada pada Saudara, berubahlah mulai dari sekarang, karena kemalasan hanya mendatangkan kerugian, tidak ada sisi positifnya. "Oleh karena kemalasan runtuhlah atap, dan oleh karena kelambanan tangan bocorlah rumah." (Pengkhotbah 10:18).
Tuhan menghendaki anak-anak-Nya untuk tidak menjadi pemalas, tapi menjadi pekerja yang rajin. Mengapa? Karena "Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga." (Yohanes 5:17). Sejak awal penciptaan Tuhan sudah mendisain manusia untuk bekerja: "TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu." (Kejadian 2:15). Itulah sebabnya Tuhan sangat menentang orang-orang yang malas. Alkitab menyebutkan bahwa orang yang malas dalam bekerja adalah saudara dari si perusak (Amsal 18:9). Kalau kita rajin: rajin bekerja, rajin berdoa, baca Alkitab, rajin menabur, rajin berbuat baik, rajin melayani Tuhan dan sebagainya, suatu saat kita pasti akan memetik hasilnya, sebab di dalam setiap jerih payah selalu mendatangkan keuntungan (Amsal 14:23).
Kerajinan adalah jalan yang akan menuntun kita kepada mujizat dan berkat Tuhan, sebaliknya kemalasan menutup pintu berkat, sebab Tuhan tidak akan pernah memberkati orang-orang yang malas. Yusuf adalah salah satu contoh orang rajin yang tercatat di Alkitab. Karena kerajinannya dalam bekerja ia dipercaya oleh Potifar dan juga disukai oleh kepala penjara. Orang yang rajin, di mana pun berada dan ditempatkan, selalu menjadi berkat dan hidupnya berdampak bagi orang lain. Dinyatakan bahwa Yusuf menjadi orang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya (Kejadian 39:2), sebab ia rajin, karena itu ia selalu disertai oleh Tuhan.
"Rancangan orang rajin semata-mata mendatangkan kelimpahan," Amsal 21:5a
Baca: Amsal 13:1-25
"Hati si pemalas penuh keinginan, tetapi sia-sia, sedangkan hati orang rajin diberi kelimpahan." Amsal 13:4
Sekalipun orang punya seribu macam keinginan, tapi apabila ia malas mewujudkan keinginan tersebut melalui tindakan, maka keinginan tersebut tak membuahkan hasil apa-apa alias tak menjadi kenyataan. Penuh dengan keinginan tapi tidak disertai dengan tindakan adalah ciri seorang pemalas. Satu ciri lain dari pemalas adalah suka berdalih atau punya banyak alasan untuk tidak melakukan sesuatu. Jika ciri itu ada pada Saudara, berubahlah mulai dari sekarang, karena kemalasan hanya mendatangkan kerugian, tidak ada sisi positifnya. "Oleh karena kemalasan runtuhlah atap, dan oleh karena kelambanan tangan bocorlah rumah." (Pengkhotbah 10:18).
Tuhan menghendaki anak-anak-Nya untuk tidak menjadi pemalas, tapi menjadi pekerja yang rajin. Mengapa? Karena "Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga." (Yohanes 5:17). Sejak awal penciptaan Tuhan sudah mendisain manusia untuk bekerja: "TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu." (Kejadian 2:15). Itulah sebabnya Tuhan sangat menentang orang-orang yang malas. Alkitab menyebutkan bahwa orang yang malas dalam bekerja adalah saudara dari si perusak (Amsal 18:9). Kalau kita rajin: rajin bekerja, rajin berdoa, baca Alkitab, rajin menabur, rajin berbuat baik, rajin melayani Tuhan dan sebagainya, suatu saat kita pasti akan memetik hasilnya, sebab di dalam setiap jerih payah selalu mendatangkan keuntungan (Amsal 14:23).
Kerajinan adalah jalan yang akan menuntun kita kepada mujizat dan berkat Tuhan, sebaliknya kemalasan menutup pintu berkat, sebab Tuhan tidak akan pernah memberkati orang-orang yang malas. Yusuf adalah salah satu contoh orang rajin yang tercatat di Alkitab. Karena kerajinannya dalam bekerja ia dipercaya oleh Potifar dan juga disukai oleh kepala penjara. Orang yang rajin, di mana pun berada dan ditempatkan, selalu menjadi berkat dan hidupnya berdampak bagi orang lain. Dinyatakan bahwa Yusuf menjadi orang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya (Kejadian 39:2), sebab ia rajin, karena itu ia selalu disertai oleh Tuhan.
"Rancangan orang rajin semata-mata mendatangkan kelimpahan," Amsal 21:5a
Wednesday, December 25, 2019
KRISTUS ADALAH ANUGERAH TERINDAH BAPA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 25 Desember 2019
Baca: Yesaya 9:1-6
"Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai." Yesaya 9:5
Natal adalah hari yang penuh sukacita bagi umat Kristiani di seluruh dunia. Berbagai acara digelar secara meriah untuk menyambutnya. Namun sesungguhnya inti perayaan Natal itu bukan pada meriahnya pesta, bukan pada pohon Natal atau lilin dengan segala pernak-perniknya, melainkan bagaimana kesadaran iman dan respons kita atas apa yang Kristus perbuat bagi hidup kita. Berbicara tentang Natal tidak bisa dipisahkan dari anugerah, Bapa di sorga memberikan anugerah terbesar bagi umat manusia dengan memberikan Putera tunggal-Nya. Mengapa disebut anugerah terbesar? Karena setiap kita yang percaya kepada Putera-Nya akan memperoleh keselamatan. Karena itu jangan pernah menyia-nyiakan anugerah terbesar dari Bapa ini!
Diberikannya Kristus bagi kita adalah bukti betapa Bapa sangat mengasihi kita, bahkan Dia berjanji tidak akan pernah meninggalkan kita, Ia akan menyertai kita sampai kesudahan zaman. "Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel" --yang berarti: Allah menyertai kita." (Matius 1:23). Imanuel, nama yang berasal dari bahasa Ibrani, terdiri dari dua kata: El (Tuhan) dan Immanu (beserta kita). Jika kita menyadari akan besarnya anugerah Bapa ini maka kita akan terdorong untuk makin bersungguh-sungguh dalam mengikut Kristus. Karena Kristus adalah anugerah terbesar, seharusnya kita rela meninggalkan apa pun demi Dia, seperti perumpamaan tentang harta terpendam dan mutiara yang berharga, di mana seorang rela menjual seluruh miliknya demi mendapatkan mutiara atau harta terpendam (Matius 13:44-46). Rasul Paulus menyatakan, "...segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus," (Filipi 3:8).
Bapa rela turun dari takhta tertinggi-Nya di sorga dan menjadi sama dengan manusia melalui Kristus, untuk mencari dan menyelamatkan orang-orang yang berdosa.
Bapa mengasihi kita sedemikian rupa, sudahkah kita membalas kasih-Nya?
Baca: Yesaya 9:1-6
"Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai." Yesaya 9:5
Natal adalah hari yang penuh sukacita bagi umat Kristiani di seluruh dunia. Berbagai acara digelar secara meriah untuk menyambutnya. Namun sesungguhnya inti perayaan Natal itu bukan pada meriahnya pesta, bukan pada pohon Natal atau lilin dengan segala pernak-perniknya, melainkan bagaimana kesadaran iman dan respons kita atas apa yang Kristus perbuat bagi hidup kita. Berbicara tentang Natal tidak bisa dipisahkan dari anugerah, Bapa di sorga memberikan anugerah terbesar bagi umat manusia dengan memberikan Putera tunggal-Nya. Mengapa disebut anugerah terbesar? Karena setiap kita yang percaya kepada Putera-Nya akan memperoleh keselamatan. Karena itu jangan pernah menyia-nyiakan anugerah terbesar dari Bapa ini!
Diberikannya Kristus bagi kita adalah bukti betapa Bapa sangat mengasihi kita, bahkan Dia berjanji tidak akan pernah meninggalkan kita, Ia akan menyertai kita sampai kesudahan zaman. "Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel" --yang berarti: Allah menyertai kita." (Matius 1:23). Imanuel, nama yang berasal dari bahasa Ibrani, terdiri dari dua kata: El (Tuhan) dan Immanu (beserta kita). Jika kita menyadari akan besarnya anugerah Bapa ini maka kita akan terdorong untuk makin bersungguh-sungguh dalam mengikut Kristus. Karena Kristus adalah anugerah terbesar, seharusnya kita rela meninggalkan apa pun demi Dia, seperti perumpamaan tentang harta terpendam dan mutiara yang berharga, di mana seorang rela menjual seluruh miliknya demi mendapatkan mutiara atau harta terpendam (Matius 13:44-46). Rasul Paulus menyatakan, "...segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus," (Filipi 3:8).
Bapa rela turun dari takhta tertinggi-Nya di sorga dan menjadi sama dengan manusia melalui Kristus, untuk mencari dan menyelamatkan orang-orang yang berdosa.
Bapa mengasihi kita sedemikian rupa, sudahkah kita membalas kasih-Nya?
Tuesday, December 24, 2019
AIR SEBAGAI KEBUTUHAN HIDUP
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 24 Desember 2019
Baca: Mazmur 23:1-6
"Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku." Mazmur 23:2-3
Salah satu kebutuhan hidup yang sangat penting bagi kehidupan manusia adalah air. Bahkan, bukan hanya manusia saja yang membutuhkan air, ciptaan Tuhan yang lain yaitu hewan dan tumbuh-tumbuhan pun membutuhkan air. Tanpa air tidak ada kehidupan di dunia ini. Semua makhluk hidup tidak dapat bertahan hidup tanpa air. Karena itu bisa dikatakan bahwa air merupakan sumber kehidupan. Menurut penilain dinyatakan bahwa lebih dari 71% permukaan bumi ditutupi oleh air, sisanya 29% adalah daratan. Tahukah pula bahwa kadar air di dalam tubuh manusia mencapai 70%? Jelas sekali bahwa manusia membutuhkan banyak air untuk kelangsungan hidupnya sehari-hari.
Tubuh manusia akan mengalami masalah atau sakit bila kekurangan air. Kita disarankan untuk mengonsumsi air minum yang cukup yaitu minimal 8 gelas sehari atau setara 2 liter, dalam sehari. Mengapa? Karena kalau kita kurang mengonsumsi air bisa memengaruhi mood, kerja otak, dan juga fungsi tubuh lainnya. Fungsi air bagi tubuh adalah untuk menyeterilkan dan membersihkan organ tubuh, mengedarkan sari makanan ke semua sel tubuh, dan juga membuang sampah beracun dari tubuh. Karena itulah sejak dari awal penciptaan Tuhan sudah memperhatikan apa yang manusia butuhkan. Sebelum Tuhan menempatkan Adam dan Hawa di taman Eden, Ia terlebih dahulu menyediakan sungai untuk menunjang keberlangsungan hidup manusia dan ciptaan-Nya yang lain. Alkitab mencatat bahwa "Ada suatu sungai mengalir dari Eden untuk membasahi taman itu, dan dari situ sungai itu terbagi menjadi empat cabang. Yang pertama, namanya Pison, yakni yang mengalir mengelilingi seluruh tanah Hawila, tempat emas ada. Dan emas dari negeri itu baik; di sana ada damar bedolah dan batu krisopras. Nama sungai yang kedua ialah Gihon, yakni yang mengalir mengelilingi seluruh tanah Kush. Nama sungai yang ketiga ialah Tigris, yakni yang mengalir di sebelah timur Asyur. Dan sungai yang keempat ialah Efrat." (Kejadian 2:10-14).
Tubuh jasmani membutuhkan air, begitu pula tubuh rohani. Air bagi tubuh rohani adalah firman Tuhan, "Ia telah memberikan kepadamu air hidup." (Yohanes 4:10).
Kita membutuhkan Air Hidup agar kehidupan rohani kita tidak mengalami kekeringan dan kegersangan.
Baca: Mazmur 23:1-6
"Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku." Mazmur 23:2-3
Salah satu kebutuhan hidup yang sangat penting bagi kehidupan manusia adalah air. Bahkan, bukan hanya manusia saja yang membutuhkan air, ciptaan Tuhan yang lain yaitu hewan dan tumbuh-tumbuhan pun membutuhkan air. Tanpa air tidak ada kehidupan di dunia ini. Semua makhluk hidup tidak dapat bertahan hidup tanpa air. Karena itu bisa dikatakan bahwa air merupakan sumber kehidupan. Menurut penilain dinyatakan bahwa lebih dari 71% permukaan bumi ditutupi oleh air, sisanya 29% adalah daratan. Tahukah pula bahwa kadar air di dalam tubuh manusia mencapai 70%? Jelas sekali bahwa manusia membutuhkan banyak air untuk kelangsungan hidupnya sehari-hari.
Tubuh manusia akan mengalami masalah atau sakit bila kekurangan air. Kita disarankan untuk mengonsumsi air minum yang cukup yaitu minimal 8 gelas sehari atau setara 2 liter, dalam sehari. Mengapa? Karena kalau kita kurang mengonsumsi air bisa memengaruhi mood, kerja otak, dan juga fungsi tubuh lainnya. Fungsi air bagi tubuh adalah untuk menyeterilkan dan membersihkan organ tubuh, mengedarkan sari makanan ke semua sel tubuh, dan juga membuang sampah beracun dari tubuh. Karena itulah sejak dari awal penciptaan Tuhan sudah memperhatikan apa yang manusia butuhkan. Sebelum Tuhan menempatkan Adam dan Hawa di taman Eden, Ia terlebih dahulu menyediakan sungai untuk menunjang keberlangsungan hidup manusia dan ciptaan-Nya yang lain. Alkitab mencatat bahwa "Ada suatu sungai mengalir dari Eden untuk membasahi taman itu, dan dari situ sungai itu terbagi menjadi empat cabang. Yang pertama, namanya Pison, yakni yang mengalir mengelilingi seluruh tanah Hawila, tempat emas ada. Dan emas dari negeri itu baik; di sana ada damar bedolah dan batu krisopras. Nama sungai yang kedua ialah Gihon, yakni yang mengalir mengelilingi seluruh tanah Kush. Nama sungai yang ketiga ialah Tigris, yakni yang mengalir di sebelah timur Asyur. Dan sungai yang keempat ialah Efrat." (Kejadian 2:10-14).
Tubuh jasmani membutuhkan air, begitu pula tubuh rohani. Air bagi tubuh rohani adalah firman Tuhan, "Ia telah memberikan kepadamu air hidup." (Yohanes 4:10).
Kita membutuhkan Air Hidup agar kehidupan rohani kita tidak mengalami kekeringan dan kegersangan.
Subscribe to:
Comments (Atom)