Monday, December 23, 2019

PEMISAH ANTARA DOMBA DAN KAMBING

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 23 Desember 2019

Baca:  Matius 25:31-46

"Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing,"  Matius 25:32

Alkitab menyatakan bahwa di masa-masa akhir ini sedang terjadi masa penampian, di mana Tuhan akan membuat pembedaan antara orang benar dan orang fasik, orang yang sungguh-sungguh di dalam Dia dan orang yang tidak sungguh-sungguh, orang yang taat dan yang tidak taat.  "Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api."  (Matius 3:10)  dan  "Alat penampi sudah ditangan-Nya. Ia akan membersihkan tempat pengirikan-Nya dan mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung, tetapi debu jerami itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan."  (Matius 3:12).

     Pembacaan firman hari ini berbicara tentang penghakiman terakhir.  Pada saat kedatangan-Nya bersama para malaikat-Nya Kristus akan datang sebagai Hakim, Ia akan mengumpulkan semua bangsa di muka bumi ini dan Ia akan membuat pemisahan:  "...menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya."  (Matius 25:33).  Alkitab menyatakan bahwa penghakiman Tuhan ini dilandaskan pada bagaimana seseorang menyatakan kasih dan kepeduliannya terhadap mereka yang lapar, haus, terpenjara dan sebagainya.  Yang menjadi pertanyaan:  kita ini termasuk kelompok yang mana?  Kelompok domba atau kelompok kambing?

     Inilah karakter domba yang berkenan di hati Tuhan:  1.  Domba peka akan suara gembalanya.  Ada tertulis:  "...domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar."  (Yohanes 10:3).  Kristus adalah Gembala kita.  Agar kita peka mendengar suara Gembala, kita harus mempertajam pendengaran kita untuk mendengar firman-Nya setiap hari.  Firman Tuhan adalah suara Gembala.  2.  Domba mengenal gembala dengan baik.  "...Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku"  (Yohanes 10:14).  Untuk dapat mengenal Tuhan dengan benar kita harus memiliki persekutuan yang karib dengan Dia.  Tanda orang mengenal Tuhan adalah taat melakukan kehendak-Nya.

Tuhan menyediakan tempat yang terbaik bagi domba-domba kesayangan-Nya.

Sunday, December 22, 2019

TIDAK LAGI BERLAKU DUNIAWI

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 22 Desember 2019

Baca:  Yohanes 17:1-26

"Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia."  Yohanes 17:14

Dalam suratnya kepada jemaat di Korintus rasul Paulus menegaskan bahwa siapa saja yang ada di dalam Kristus, tinggal di dalam Dia dan firman-Nya, ia adalah ciptaan baru  (2 Korintus 5:17).  Karena sudah menjadi milik Kristus dengan menyandang status sebagai ciptaan baru, tak mengherankan bila dunia membenci mereka sebagaimana yang Kristus katakan:  "...dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia."  (ayat nas).  Orang percaya yang sudah tinggal di dalam Kristus dan firman-Nya kini memiliki kewargaan baru yaitu warga Kerajaan Sorga  (Filipi 3:10).  Itulah sebabnya kita dapat dikatakan bukan dari dunia, tetapi sudah menjadi milik Kerajaan Sorga, sama seperti Kristus yang datang dari sorga.

     Karena kita memiliki kewargaan baru yaitu warga sorga, maka kita pun dituntut untuk memiliki kehidupan yang sesuai dengan aturan yang berlaku di sorga.  Aturan atau hukum yang berlaku di sorga adalah firman Tuhan.  Hidup sesuai dengan aturan sorga berarti hidup menurut pimpinan Roh Kudus, bukan menuruti keinginan daging  (Galatia 5:16).  Sekalipun tubuh jasmani kita masih ada di dunia alias masih hidup di dunia, tapi kita harus punya kehidupan yang berbeda dengan orang-orang dunia.  Di dunia ini kita memang masih harus melakukan berbagai aktivitas dan pekerjaan untuk kelangsungan hidup, tapi biarlah kita memiliki prinsip Alkitabiah:  "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia."  (Kolose 3:23) dan tetap mendahulukan kerajaan-Nya dan kebenaran-Nya  (Matius 6:33).

     Karena orang percaya adalah warga sorga, maka kita harus memiliki perbuatan yang mencerminkan Kristus, yang senantiasa menghasilkan buah roh dalam kehidupan sehari-hari:  "...kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri."  (Galatia 5:22-23).  Adapun syarat utama seorang warga sorga adalah hidup dalam kekudusan,  "Kuduslah kamu, sebab Aku kudus."  (1 Petrus 1:16), dan menjauhi segala bentuk kecemaran, sebab kita dipanggil bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus  (1 Tesalonika 4:7).

Warga sorgawi wajib hidup sama seperti Kristus hidup  (1 Yohanes 2:6).

Saturday, December 21, 2019

PERLINDUNGAN ORANG BENAR ADALAH TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 21 Desember 2019

Baca:  Mazmur 118:1-29

"Lebih baik berlindung pada TUHAN dari pada percaya kepada manusia."  Mazmur 118:8

Tak satu pun tempat aman di dunia ini tempat kita berlindung.  Tak ada manusia dapat menjamin kita aman dan terlindungi, karena semua ada batasnya.  Pemazmur menasihati,  "Lebih baik berlindung pada TUHAN dari pada percaya kepada manusia. Lebih baik berlindung pada TUHAN dari pada percaya kepada para bangsawan."  (Mazmur 118:8-9).  Adalah sia-sia berharap dan berlindung kepada manusia.  Seberapa pun besar kekuasaan yang dimiliki seseorang, entah itu presiden, jenderal, big boss, takkan mampu menyelamatkan dirinya sendiri;  dan sekalipun ia sudah dijaga dan dilindungi sedemikian rupa oleh tentara atau bodyguard, tetap saja ada celah yang bisa ditembus oleh musuh.

     Adalah sia-sia orang-orang kaya menjadikan harta kekayaan sebagai tempat sandaran dan perlindungan, sebab harta dan kekayaan tak bisa memberikan perlindungan.  Sekalipun orang punya rumah yang mewah dilengkapi sistem pengamanan canggih, satpam dan anjing penjaga, tetapi jika maut datang menjemput, tidak ada satu pun sanggup menghadang.  Hanya Tuhan yang punya kuasa untuk melepaskan kita dari maut.  Daud menulis:  "TUHAN itu kekuatanku dan mazmurku; Ia telah menjadi keselamatanku."  (Mazmur 118:14).  Untuk memperoleh keselamatan jiwa dan hidup kekal tidak ada jalan lain selain kita harus takut akan Tuhan.  "Sesungguhnya, mata TUHAN tertuju kepada mereka yang takut akan Dia, kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya, untuk melepaskan jiwa mereka dari pada maut dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan."  (Mazmur 33:18-19);  "Malaikat TUHAN berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia, lalu meluputkan mereka."  (Mazmur 34:8).

     Bukti takut akan Tuhan adalah taat melakukan firman Tuhan.  Ada jaminan perlindungan Tuhan bagi orang-orang yang takut akan Dia  (orang benar):   "Suara sorak-sorai dan kemenangan di kemah orang-orang benar: 'Tangan kanan TUHAN melakukan keperkasaan, tangan kanan TUHAN berkuasa meninggikan, tangan kanan TUHAN melakukan keperkasaan!'"  (Mazmur 118:15-16).

Hidup kita sepenuhnya bergantung kepada Tuhan, Dia satu-satunya tempat perlindungan!

Friday, December 20, 2019

JANGANLAH JADI ORANG MUNAFIK

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 20 Desember 2019

Baca:  Yesaya 29:9-16

"Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan,"  Yesaya 29:13

Banyak orang Kristen memandang remeh arti pengorbanan Kristus di kayu salib.  Mereka berpikir bahwa dengan percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat itu sudah cukup, dan pasti diselamatkan.  Percaya kepada Kristus adalah jalan yang benar untuk kita memperoleh keselamatan, sebab ada tertulis:  "Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan."  (Kisah 4:12).  Namun demikian bukan berarti setelah percaya kepada-Nya kita boleh hidup seenaknya sendiri atau bermain-main dengan dosa.  Perhatikan!  Sekalipun sudah menjadi Kristen tetapi bila dalam hidup ini kita tidak mau taat menuruti firman Tuhan, kita juga akan mengalami kebinasaan kekal.  Tuhan berfirman dengan keras:  "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga."  (Matius 7:21).

     Agama, denominasi gereja atau pelayanan tidak menjamin orang masuk ke dalam Kerajaan Sorga, apalagi jika ibadah dan pelayanan hanya dipakai sebagai kedok.  Tuhan menentang ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, yang tahu tentang kebenaran dan bahkan mengajarkan kebenaran kepada orang lain, tetapi diri mereka sendiri tidak hidup dalam kebenaran:  "Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan."  (Matius 23:23, 28).

     Tuhan sangat benci dengan kemunafikan!  Yang Tuhan cari adalah orang-orang yang punya hati hamba yang mau taat melakukan kehendak Tuhan.

Karena kita telah diselamatkan, marilah kita mengerjakan keselamatan itu dengan ketaatan penuh.  Itu yang akan membawa kita kepada keselamatan kekal!

Thursday, December 19, 2019

BAGI ORANG PERCAYA: Tak Ada Yang Mustahil

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 19 Desember 2019

Baca:  Markus 9:14-29

"...jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!"  Markus 9:23b

Mengubah suatu masalah menjadi berkat, mengubah yang tak punya pengharapan menjadi berpengharapan, mengubah masa depan suram menjadi masa depan cerah...mungkinkah?  Segala sesuatu menjadi mungkin apabila kita melihat dari sudut pandang Tuhan, melihat dengan mata iman... bukan melihat apa yang terlihat secara kasat mata, sebab bagi Tuhan tidak ada yang mustahil  (Lukas 1:37), begitu pula  "Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!"  (Markus 9:23b).  Kehidupan orang Kristen yang sesungguhnya adalah  "...hidup karena percaya, bukan karena melihat"  (2 Korintus 5:7).

     Orang percaya seharusnya menjalani hari-harinya dengan penuh kemenangan, meski situasi yang ada di sekeliling tidak mendukung, atau berada di tengah-tengah dunia yang bergejolak sekalipun, sebab kita punya Tuhan yang besar, heran dan teramat dahsyat kuasa-Nya!  Dalam sejarah kehidupan manusia tidak ada seorang pribadi atau nabi pun yang berani berkata seperti Kristus:  "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi."  (Matius 28:18), yang kepada-Nya dikaruniakan nama di atas segala nama, supaya di dalam nama-Nya bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi  (Filipi 2:9-10), dan kuasa-Nya tak pernah berubah,  "...tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya."  (Ibrani 13:8).

     Satu contoh:  ketika Daniel harus diperhadapkan dengan bahaya yang mengancam jiwanya  (karena dia berani melanggar perintah raja Darius), takut dan kuatirkah Daniel?  Tidak.  "Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya."  (Daniel 6:11).  Ia sangat percaya Tuhan yang ia sembah berkuasa, sanggup mengubah masalah jadi berkat, sanggup membuka pintu-pintu yang tertutup, sanggup mengubah yang tak ada harapan menjadi berpengharapan.  Alkitab menyatakan bahwa doa Daniel didengar oleh Tuhan, dan pertolongan dari Tuhan datang tepat pada waktu-Nya.

Tidak ada perkara mustahil bagi orang percaya, karena kita punya Tuhan yang kuasa-Nya dan firman-Nya tak pernah berubah!

Wednesday, December 18, 2019

SANKSI TUHAN TAK PANDANG BULU

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 18 Desember 2019

Baca:  Ulangan 34:1-12

"Kepada keturunanmulah akan Kuberikan negeri itu. Aku mengizinkan engkau melihatnya dengan matamu sendiri, tetapi engkau tidak akan menyeberang ke sana."  Ulangan 34:4

Tuhan yang kita sembah, selain memiliki sifat Mahakasih, juga Mahaadil.  Hal inilah yang seringkali dilupakan dan diremehkan oleh manusia.  Karena Tuhan Mahaadil, setiap orang tanpa pandang bulu akan menerima sanksi apabila mereka melakukan suatu pelanggaran atau pemberontakan terhadap Tuhan.

     Musa, pilihan Tuhan yang diutus membawa bangsa Israel keluar dari Mesir menuju ke negeri yang dijanjikan Tuhan yaitu Tanah Kanaan, juga tak luput dari sanksi Tuhan.  Ada pun sanksinya adalah tidak dapat masuk ke negeri yang Tuhan janjikan itu karena Musa telah berlaku ceroboh saat berkata-kata di hadapan umat Israel di Meriba.  "Ketika Musa dan Harun telah mengumpulkan jemaah itu di depan bukit batu itu, berkatalah ia kepada mereka: 'Dengarlah kepadaku, hai orang-orang durhaka, apakah kami harus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu ini?' Sesudah itu Musa mengangkat tangannya, lalu memukul bukit batu itu dengan tongkatnya dua kali, maka keluarlah banyak air, sehingga umat itu dan ternak mereka dapat minum. Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun: 'Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka.'"  (Bilangan 20:10-12).  Tuhan tidak pernah berkompromi dan pelanggaran sekecil apa pun.

     Namun Tuhan masih memberi kesempatan Musa melihat negeri yang dijanjikan-Nya itu meski hanya dari kejauhan.  "Kemudian naiklah Musa dari dataran Moab ke atas gunung Nebo, yakni ke atas puncak Pisga, yang di tentangan Yerikho, lalu TUHAN memperlihatkan kepadanya seluruh negeri itu: daerah Gilead sampai ke kota Dan,"  (Ulangan 34:1).  Sesungguhnya sanksi ini sangat menyedihkan hati Tuhan sendiri, namun karena Ia Mahaadil, segala sesuatu yang telah ditetapkan-Nya dan difirmankan-Nya, pasti akan dilaksanakan tanpa memandang bulu.  Betapa pun Musa sangat dikasihi Tuhan, ia tetap tidak dapat masuk ke negeri yang dijanjikan Tuhan.

Tuhan tidak bisa dipermainkan!  Setiap pelanggaran pasti ada sanksi dari Tuhan.

Tuesday, December 17, 2019

PENDERITAAN: Bagian Hidup Manusia

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 Desember 2019

Baca:  Amsal 18:1-24

"Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?"  Amsal 18:14

Seandainya bisa, semua orang pasti ingin menghindar dan menjauhkan diri dari penderitaan.  Namun apa daya, mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus menghadapinya.  Semua orang percaya, jemaat awam atau hamba Tuhan sekalipun, harus menghadapi penderitaan di sepanjang perjalanan hidupnya.  Musa pun menyadari bahwa penderitaan adalah bagian hidup manusia dan itulah yang menjadi kebanggaan hidup manusia  (Mazmur 90:10).

     Ketika penderitaan datang melanda, seringkali semangat kita dalam menjalani hidup menjadi patah.  Semakin kita tak punya semangat, semakin kita tak berdaya!  Namun tetaplah bersemangat sekalipun penderitaan yang kita alami terasa berat, sebab  "Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya,"  (ayat nas).  Jangan tawar hati!  Sebab  "Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu."  (Amsal 24:10).  Kita akan tetap bersemangat dan tidak tawar hati ketika kita hidup dekat dengan Tuhan, seperti ranting melekat kepada pokok anggur, karena kita tahu bahwa Tuhan selalu siap menopang:  "Punya-Mulah lengan yang perkasa, kuat tangan-Mu dan tinggi tangan kanan-Mu."  (Mazmur 89:14).  Orang percaya haruslah mampu melihat sisi positif di balik setiap penderitaan yang dialaminya.  Ketahuilah bahwa penderitaan itu bukanlah akhir dari segala-galanya, tapi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan orang percaya, di mana Tuhan seringkali memakai penderitaan ini sebagai cara untuk membentuk, memroses dan mendewasakan iman.

     Percayalah di balik penderitaan yang kita alami selalu ada rencana Tuhan yang indah!  Kalau Tuhan ijinkan penderitaan terjadi dalam hidup kita, percayalah  "...Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya."  (1 Korintus 10:13), sehingga  "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku."  (Filipi 4:13).  Satu hal lagi yang harus kita pahami, yaitu bahwa penderitaan yang kita alami di dunia ini sifatnya hanya untuk sementara, tidak untuk selamanya.  Jangan pernah biarkan penderitaan itu menghancurkan hidup kita!

Selalu ada kebaikan di balik penderitaan, karena Tuhan turut bekerja di dalamnya!

Monday, December 16, 2019

MEMBERI DENGAN PENUH PENGORBANAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 Desember 2019

Baca:  2 Korintus 8:1-15

"Mereka memberikan lebih banyak dari pada yang kami harapkan."  2 Korintus 8:5a

Hidup di zaman sulit seperti sekarang ini tak mudah menemukan orang yang punya kepedulian terhadap sesamanya, apalagi punya kemurahan hati.  Sebagaimana yang Alkitab nyatakan, di masa-masa akhir, kebanyakan orang tak lagi punya kasih  (kasih menjadi dingin), lebih cenderung mementingkan diri sendiri.  Itu adalah gambaran tentang keadaan manusia pada masa akhir  (2 Timotius 3:1-4).

     Apa pun situasinya, orang percaya diajar untuk memiliki kasih seperti Kristus!  Tak mudah memraktekkan kasih, karena kasih itu memberi.  Dalam hal memberi ini bukan semata-mata berbicara tentang pemberian yang berwujud uang atau materi, tapi juga memberi perhatian, waktu, tenaga, pikiran dan sebagainya.  Adalah lebih mudah memberi ketika orang sedang terberkati atau memiliki harta lebih.  Memberi saat diri sendiri dalam keadaan kurang, mungkinkah?  "Jangankan memberi, untuk kebutuhan diri sendiri saja sudah pas-pasan."  Akhirnya kita akan berpikir ulang 1000X bila ingin memberi.  Perhatikan firman Tuhan ini:  "Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima."  (Kisah 20:35b).  Kebanyakan orang lebih suka menerima daripada memberi, tetapi prinsip Alkitab justru mengajarkan kita untuk banyak memberi, karena memberi justru menjadi kunci berkat.  "Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan,"  (Amsal 11:25).

     Jemaat Makedonia adalah teladan bagi orang percaya dalam hal memberi.  Sekalipun keadaan jemaat ini sangat pas-pasan, mereka memiliki hati yang terbeban untuk mendukung pekerjaan Tuhan.  Yang mendasari mereka mampu memberi banyak,  "...bahkan melampaui kemampuan mereka."  (2 Korintus 8:3)  adalah kasih kepada Tuhan.  Kemurahan hati mereka justru berasal dari kekurangan/kemiskinannya.  "Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan."  (2 Korintus 8:2).  Secara materi mereka sangat berkekurangan, tapi mereka kaya dalam kemurahan.  Mereka memberi dengan sukacita meski di tengah penderitaan.  Inilah yang disebut pemberian dengan pengorbanan:  berkorban untuk Tuhan dari kekurangan atau kemiskinannya.

Setiap korban yang dipersembahkan untuk pekerjaan-Nya, Tuhan pasti perhitungkan!

Catatan:
Dalam hal pemberian, "Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan,"  2 Korintus 9:7.

Sunday, December 15, 2019

BERSYUKUR ATAS SEGALA YANG TUHAN BERI

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 Desember 2019

Baca:  Mazmur 145:1-21

"Mata sekalian orang menantikan Engkau, dan Engkaupun memberi mereka makanan pada waktunya;"  Mazmur 145:15

Kita sering memandang remeh berkat makanan kita setiap hari.  Melihat makanan lezat di meja makan langsung saja disantap tanpa berdoa dan mengucap syukur kepada Tuhan terlebih dahulu.  Kita anggap makanan yang dimakan sehari-hari adalah hal biasa.  Kita lupa semua berkat datang dari Tuhan!  Siapa yang memberi kita tubuh sehat, nafas hidup, kekuatan, kemampuan, sehingga kita dapat bekerja dan mendapatkan rejeki?  Siapa yang memberi berkat kemampuan dapat menikmati makanan tersebut?  "Siapa di antara semuanya itu yang tidak tahu, bahwa tangan Allah yang melakukan itu;"  (Ayub 12:9).

     Hari ini kita ada sebagaimana kita ada saat ini semata-mata karena kemurahan Tuhan, yang tidak saja memberikan kita kehidupan, tapi juga memberikan sarana untuk menopang kehidupan tersebut.  Yang termasuk sarana penopang:  makanan, minuman, kesehatan, dan sebagainya.  "Engkau yang membuka tangan-Mu dan yang berkenan mengenyangkan segala yang hidup."  (Mazmur 145:16).  Berdoa disertai ucapan syukur sebelum menikmati makanan adalah bukti bahwa kita mengakui bahwa berkat itu datangnya dari Tuhan;  bukti bahwa kita tak melupakan kebaikan dan kasih setia Tuhan dalam kehidupan kita.  Kita mengakui bahwa hidup kita ini adalah karena pemberian Tuhan.  Oleh sebab itu kita harus bersyukur kepada Tuhan setiap waktu.  Jangan pernah melewati hari demi hari tanpa ucapan syukur!  Karena tanpa Tuhan yang menyertai, kita takkan mampu menjalaninya sendiri.  Oleh karena itu  "Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana."  (Mazmur 90:12).

     Kalau kita menyadari bahwa hidup ini sungguh teramat singkat dan hidup kita ini sangat bergantung sepenuhnya pada kuasa Tuhan, maka kita akan menghargai berkat yang Tuhan beri.  Begitu singkatnya hidup sampai-sampai pemazmur menyatakan bahwa hidup manusia itu  "...seperti suatu giliran jaga di waktu malam. Engkau menghanyutkan manusia; mereka seperti mimpi, seperti rumput yang bertumbuh, di waktu pagi berkembang dan bertumbuh, di waktu petang lisut dan layu."  (Mazmur 90:4-6).

Meski hidup ini teramat singkat, Tuhan selalu memperhatikan kehidupan secara detail, bahkan hari-hari kita ada dalam rancangan-Nya senantiasa!

Saturday, December 14, 2019

TAAT SAJA, SESUATU PASTI TERJADI

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 Desember 2019

Baca:  Lukas 17:11-19

"'Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.' Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir."  Lukas 17:14

Banyak orang tidak mendapat kelepasan dari persoalan yang mereka hadapi karena mereka hanya terpaku pada persoalannya.  Karena terpaku pada persoalan, maka yang timbul di hati adalah kebimbangan dan keragu-raguan.  Bimbang atau ragu adalah lawan dari iman!  Yakobus menegaskan bahwa orang yang bimbang takkan mendapatkan apa-apa dari Tuhan  (Yakobus 1:6-7).  Persoalan akan terselesaikan bila ada suatu tindakan, artinya kita harus bertindak dengan iman, melakukan apa yang Tuhan perintahkan, sebab iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati  (Yakobus 2:17).

     Dicontohkan tentang sepuluh orang kusta yang menjadi tahir setelah mereka bertindak menurut apa yang Tuhan perintahkan.  Mereka tidak terpaku pada sakit yang dialaminya.  Kalau mereka mengasihani diri sendiri dan merasa bahwa sakitnya takkan bisa disembuhkan, maka kesembuhan takkan terjadi.  Ketika kesepuluh orang kusta berteriak kepada Tuhan dan memohon belas kasihan-Nya, Tuhan tidak langsung menumpangkan tangan-Nya dan menjamah sakit mereka, tetapi Ia justru memberikan suatu perintah kepada mereka:  "...Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam."  (Lukas 17:14), padahal secara kasat mata tubuh mereka masih sakit.  Ini merupakan ujian iman bagi mereka;  dan bila saat itu kesepuluh orang kusta tersebut tidak melakukan apa yang Tuhan perintahkan, pasti tidak akan ada pentahiran.  Kemudian, meski masih dalam kondisi sakit, mereka taat melakukan apa yang Tuhan perintahkan, yaitu pergi memperlihatkan diri kepada imam-imam;  dan ketika mereka taat, sesuatu terjadi:  "...sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir."  (Lukas 17:14).

     Bagaimana dengan Saudara?  Mungkin saat ini Saudara sedang bergumul dengan masalah.  Tak ada yang mustahil bagi Tuhan!  Jangan pasif dan berpangku tangan saja merenungi nasib.  Bangunlah iman Saudara!  Iman membuat segala sesuatu yang tak mungkin menjadi mungkin, menciptakan yang tak ada menjadi ada.  Tak perlu dengarkan suara-suara sumbang yang tak berhenti mengintimidasi kita, tapi dengarkan saja firman Tuhan dan lakukan.

Ketaatan adalah pintu gerbang menuju kepada pemulihan dan mujizat.