Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 19 November 2019
Baca: 1 Korintus 9:24-27
"Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta
turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah?
Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!" 1 Korintus 9:24
Banyak orang Kristen tak menyadari bahwa perjalanan hidup kita dalam mengiring Kristus itu ibarat sebuah pertandingan iman. Untuk memperoleh kemenangan dalam suatu pertandingan setiap peserta harus fokus pada tujuan atau garis finis. Selain itu, dalam pertandingan iman setiap peserta harus menaati aturan-aturan pertandingan, bila melanggar pasti akan didiskualifikasi. Aturan itu adalah firman Tuhan. Jadi, setiap kita harus taat kepada firman Tuhan. "Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang
kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan
ikrar yang benar di depan banyak saksi." (1 Timotius 6:12).
Karena setiap hari adalah sebuah pertandingan iman, maka kita harus beribadah kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh dan melayani Dia dengan roh yang menyala-nyala, sebab kita harus berlomba sampai garis akhir untuk memenuhi rencana Tuhan dalam hidup kita, sebagaimana yang Rasul Paulus teladankan: "Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan
kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya
kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan
kedatangan-Nya." (2 Timotius 4:7-8). Dalam pertandingan iman ini setiap pemenang akan memperoleh mahkota yang kekal, bukan mahkota fana, seperti yang diraih oleh para olahragawan dunia. Maka dari itu, kita berjuang sedemikian rupa demi meraih kemenangan dan mendapatkan mahkota kekal itu.
Ingat! Kita tidak dapat bertanding dengan maksimal bila kita masih memikul beban dan menyimpan dosa. Beban harus ditanggalkan dan dosa harus dibereskan! Jika tidak, hal itu akan merintangi langkah kita dalam berlari menuju garis akhir. "Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi
kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu
merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang
diwajibkan bagi kita." (Ibrani 12:1).
Waktu Tuhan sudah teramat dekat, jangan sampai kita kalah dalam pertandingan!
Tuesday, November 19, 2019
Monday, November 18, 2019
TUHAN LEBIH DARI SEGALANYA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 18 November 2019
Baca: Lukas 14:25-35
"Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku." Lukas 14:26
Kita harus benar-benar memahami apa yang firman Tuhan maksudkan, sebab jika tidak, ada kemungkinan kita akan salah mengerti. Yang dimaksudkan oleh ayat nas di atas bukan berarti setiap orang yang mengikut Kristus harus membenci orang-orang yang dikasihinya (orangtua, suami-isteri, anak-anak, atau saudara). Bukankah Kristus sendiri mengajarkan kita untuk mengasihi saudara dan sesama, termasuk mengasihi musuh?
Mari kita perhatikan pernyataan Kristus di ayat lain: "Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku." (Matius 10:37). Jelas sekali bahwa Kristus memberikan penegasan kalau kita mengasihi orang-orang yang kita kasihi itu lebih daripada kasih kita kepada-Nya, inilah yang tidak berkenan kepada Tuhan. Firman Tuhan menegaskan: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama." (Matius 22:37-38). Setelah itu, "Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." (Matius 22:39). Karena Kristus adalah Tuhan segala tuan dan Raja segala raja, maka Dia patut dan berhak untuk mendapatkan tempat yang tertinggi, terutama, dan teristimewa di dalam hati, lebih dari siapa pun juga. Daud pun mengakui, "Ya TUHAN, punya-Mulah kebesaran dan kejayaan, kehormatan, kemasyhuran dan keagungan, ya, segala-galanya yang ada di langit dan di bumi! Ya TUHAN, punya-Mulah kerajaan dan Engkau yang tertinggi itu melebihi segala-galanya sebagai kepala." (1 Tawarikh 29:11).
Adakah yang melebihi Tuhan? Maka atas dasar inilah kita harus menempatkan Tuhan sebagai yang terutama dan mengasihi Dia lebih dari apa pun dan siapa pun. Dalam kehidupan sehari-hari banyak orang Kristen yang menempatkan Tuhan sebagai nomor sekian dalam hidup, karena mereka lebih mengutamakan harta, bisnis, dan sebagainya.
Untuk menjadi murid Kristus kita harus lebih mengutamakan Dia dan mengasihi-Nya lebih daripada segala yang kita kasihi di dunia ini!
Baca: Lukas 14:25-35
"Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku." Lukas 14:26
Kita harus benar-benar memahami apa yang firman Tuhan maksudkan, sebab jika tidak, ada kemungkinan kita akan salah mengerti. Yang dimaksudkan oleh ayat nas di atas bukan berarti setiap orang yang mengikut Kristus harus membenci orang-orang yang dikasihinya (orangtua, suami-isteri, anak-anak, atau saudara). Bukankah Kristus sendiri mengajarkan kita untuk mengasihi saudara dan sesama, termasuk mengasihi musuh?
Mari kita perhatikan pernyataan Kristus di ayat lain: "Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku." (Matius 10:37). Jelas sekali bahwa Kristus memberikan penegasan kalau kita mengasihi orang-orang yang kita kasihi itu lebih daripada kasih kita kepada-Nya, inilah yang tidak berkenan kepada Tuhan. Firman Tuhan menegaskan: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama." (Matius 22:37-38). Setelah itu, "Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." (Matius 22:39). Karena Kristus adalah Tuhan segala tuan dan Raja segala raja, maka Dia patut dan berhak untuk mendapatkan tempat yang tertinggi, terutama, dan teristimewa di dalam hati, lebih dari siapa pun juga. Daud pun mengakui, "Ya TUHAN, punya-Mulah kebesaran dan kejayaan, kehormatan, kemasyhuran dan keagungan, ya, segala-galanya yang ada di langit dan di bumi! Ya TUHAN, punya-Mulah kerajaan dan Engkau yang tertinggi itu melebihi segala-galanya sebagai kepala." (1 Tawarikh 29:11).
Adakah yang melebihi Tuhan? Maka atas dasar inilah kita harus menempatkan Tuhan sebagai yang terutama dan mengasihi Dia lebih dari apa pun dan siapa pun. Dalam kehidupan sehari-hari banyak orang Kristen yang menempatkan Tuhan sebagai nomor sekian dalam hidup, karena mereka lebih mengutamakan harta, bisnis, dan sebagainya.
Untuk menjadi murid Kristus kita harus lebih mengutamakan Dia dan mengasihi-Nya lebih daripada segala yang kita kasihi di dunia ini!
Sunday, November 17, 2019
TAK ADA YANG DISEMBUNYIKAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 November 2019
Baca: Mazmur 17:1-15
"Peliharalah aku seperti biji mata, sembunyikanlah aku dalam naungan sayap-Mu" Mazmur 17:8
Tak semua orang punya keberanian untuk berkata kepada Tuhan: "Peliharalah aku seperti biji mata..." (ayat nas), selain mereka yang memiliki persekutuan yang karib dengan Tuhan, seperti Daud. Orang yang tinggal dekat Tuhan dan bergaul karib dengan-Nya pasti tidak akan menyembunyikan sesuatu apa pun di hadapan Tuhan. Tanda bahwa Daud punya hubungan yang karib dengan Tuhan adalah selalu mengijinkan Tuhan untuk mengoreksi dan menyelidiki hidupnya, karena sadar bahwa tak ada sesuatu pun yang tersembunyi di hadapan-Nya: "...Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya." (Mazmur 139:13-14) dan "mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya." (Mazmur 139:16).
Daud tidak takut diselidiki keadaan hatinya, siap untuk diuji, dikenal pikirannya, dikoreksi langkah hidupnya oleh Tuhan: "Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!" (Mazmur 139:23-24). Jika kita menyadari bahwa kehidupan manusia itu terbuka di hadapan Tuhan dan tidak ada yang bisa ditutup-tutupi dan disembunyikan, seharusnya mendorong kita untuk berlaku seperti orang arif, bukan seperti orang bebal (Efesus 5:15). Adalah sia-sia menyembunyikan sekecil apa pun kesalahan daripada-Nya, karena semuanya terbuka dan telanjang di hadapan Tuhan: "Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab." (Ibrani 4:13). Bila kita sudah membuat kesalahan terhadap Tuhan, katakan dengan jujur kepada Roh Kudus dan mohon kepada-Nya untuk meluruskan jalan kita, "Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran;" (Yohanes 16:13). Karena itu, kita perlu membuka hati selebar-lebarnya untuk dikoreksi dan diselidiki Tuhan.
"Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku." Kisah 13:22
Baca: Mazmur 17:1-15
"Peliharalah aku seperti biji mata, sembunyikanlah aku dalam naungan sayap-Mu" Mazmur 17:8
Tak semua orang punya keberanian untuk berkata kepada Tuhan: "Peliharalah aku seperti biji mata..." (ayat nas), selain mereka yang memiliki persekutuan yang karib dengan Tuhan, seperti Daud. Orang yang tinggal dekat Tuhan dan bergaul karib dengan-Nya pasti tidak akan menyembunyikan sesuatu apa pun di hadapan Tuhan. Tanda bahwa Daud punya hubungan yang karib dengan Tuhan adalah selalu mengijinkan Tuhan untuk mengoreksi dan menyelidiki hidupnya, karena sadar bahwa tak ada sesuatu pun yang tersembunyi di hadapan-Nya: "...Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya." (Mazmur 139:13-14) dan "mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya." (Mazmur 139:16).
Daud tidak takut diselidiki keadaan hatinya, siap untuk diuji, dikenal pikirannya, dikoreksi langkah hidupnya oleh Tuhan: "Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!" (Mazmur 139:23-24). Jika kita menyadari bahwa kehidupan manusia itu terbuka di hadapan Tuhan dan tidak ada yang bisa ditutup-tutupi dan disembunyikan, seharusnya mendorong kita untuk berlaku seperti orang arif, bukan seperti orang bebal (Efesus 5:15). Adalah sia-sia menyembunyikan sekecil apa pun kesalahan daripada-Nya, karena semuanya terbuka dan telanjang di hadapan Tuhan: "Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab." (Ibrani 4:13). Bila kita sudah membuat kesalahan terhadap Tuhan, katakan dengan jujur kepada Roh Kudus dan mohon kepada-Nya untuk meluruskan jalan kita, "Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran;" (Yohanes 16:13). Karena itu, kita perlu membuka hati selebar-lebarnya untuk dikoreksi dan diselidiki Tuhan.
"Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku." Kisah 13:22
Saturday, November 16, 2019
JANGAN TAKUT BERMIMPI
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 November 2019
Baca: Yesaya 54:1-17
"Sebab engkau akan mengembang ke kanan dan ke kiri, keturunanmu akan memperoleh tempat bangsa-bangsa, dan akan mendiami kota-kota yang sunyi." Yesaya 54:3
Ada kalimat bijak menyatakan bahwa ketidakmampuan seseorang dalam meraih segala impian bukanlah karena faktor ekonomi, keterbatasan dalam pendidikan, ataupun status dirinya sendiri, melainkan dari ketidakmauannya untuk mewujudkan segala impian tersebut. Karena itu, jangan pernah takut untuk bermimpi atau punya impian besar! Dengan memiliki impian, orang akan termotivasi dan terdorong untuk berjuang dan berusaha sedemikian rupa mewujudkannya. Kita semua tahu bahwa impian takkan menjadi kenyataan tanpa usaha dan kerja keras.
Punya mimpi besar bukanlah kesombongan! Alkitab menyatakan bahwa dalam segala perkara Tuhan turut bekerja (Roma 8:28) dan Dia punya rencana besar bagi kehidupan anak-anak-Nya. Contoh: keberhasilan Yusuf menjadi penguasa di Mesir diawali dari sebuah mimpi besar, meski ia harus melewati proses yang begitu panjang, penuh liku, dan sangat menyakitkan. Tidak ada perkara yang mustahil bagi orang percaya, asalkan kita tetap hidup di jalan Tuhan. Tuhan berkata, "...sesungguhnya jika kamu percaya dan tidak bimbang, kamu bukan saja akan dapat berbuat apa yang Kuperbuat dengan pohon ara itu, tetapi juga jikalau kamu berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! hal itu akan terjadi." (Matius 21:21).
Perhatikan! Pohon akan tumbuh sesuai dengan ukuran tempatnya: jika pohon ditanam di area yang luas, maka pohon itu akan bertumbuh besar. Sebaliknya, jika pohon itu hanya ditanam di sebuah pot yang ukurannya kecil, pertumbuhannya pun akan terhambat dan terbatas. Oleh karena itu miliki keberanian untuk membayar harga: berkorban waktu, tenaga, ketekunan, kesetiaan, dan sebagainya. Waktu terus berjalan! Jangan pernah menyia-nyiakan hal sekecil apa pun yang ada di depan mata: "...panjangkanlah tali-tali kemahmu dan pancangkanlah kokoh-kokoh patok-patokmu!" (Yesaya 54:2). Tali tanggung jawab, tali kejujuran, tali ketekunan, tali kesetiaan dan sebagainya harus semakin diperpanjang, serta diikatkan pada patok yang sangat kuat. Patok itu adalah Tuhan, Gunung Batu yang teguh.
Ada harga yang harus dibayar untuk mewujudkan segala mimpi besar!
Baca: Yesaya 54:1-17
"Sebab engkau akan mengembang ke kanan dan ke kiri, keturunanmu akan memperoleh tempat bangsa-bangsa, dan akan mendiami kota-kota yang sunyi." Yesaya 54:3
Ada kalimat bijak menyatakan bahwa ketidakmampuan seseorang dalam meraih segala impian bukanlah karena faktor ekonomi, keterbatasan dalam pendidikan, ataupun status dirinya sendiri, melainkan dari ketidakmauannya untuk mewujudkan segala impian tersebut. Karena itu, jangan pernah takut untuk bermimpi atau punya impian besar! Dengan memiliki impian, orang akan termotivasi dan terdorong untuk berjuang dan berusaha sedemikian rupa mewujudkannya. Kita semua tahu bahwa impian takkan menjadi kenyataan tanpa usaha dan kerja keras.
Punya mimpi besar bukanlah kesombongan! Alkitab menyatakan bahwa dalam segala perkara Tuhan turut bekerja (Roma 8:28) dan Dia punya rencana besar bagi kehidupan anak-anak-Nya. Contoh: keberhasilan Yusuf menjadi penguasa di Mesir diawali dari sebuah mimpi besar, meski ia harus melewati proses yang begitu panjang, penuh liku, dan sangat menyakitkan. Tidak ada perkara yang mustahil bagi orang percaya, asalkan kita tetap hidup di jalan Tuhan. Tuhan berkata, "...sesungguhnya jika kamu percaya dan tidak bimbang, kamu bukan saja akan dapat berbuat apa yang Kuperbuat dengan pohon ara itu, tetapi juga jikalau kamu berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! hal itu akan terjadi." (Matius 21:21).
Perhatikan! Pohon akan tumbuh sesuai dengan ukuran tempatnya: jika pohon ditanam di area yang luas, maka pohon itu akan bertumbuh besar. Sebaliknya, jika pohon itu hanya ditanam di sebuah pot yang ukurannya kecil, pertumbuhannya pun akan terhambat dan terbatas. Oleh karena itu miliki keberanian untuk membayar harga: berkorban waktu, tenaga, ketekunan, kesetiaan, dan sebagainya. Waktu terus berjalan! Jangan pernah menyia-nyiakan hal sekecil apa pun yang ada di depan mata: "...panjangkanlah tali-tali kemahmu dan pancangkanlah kokoh-kokoh patok-patokmu!" (Yesaya 54:2). Tali tanggung jawab, tali kejujuran, tali ketekunan, tali kesetiaan dan sebagainya harus semakin diperpanjang, serta diikatkan pada patok yang sangat kuat. Patok itu adalah Tuhan, Gunung Batu yang teguh.
Ada harga yang harus dibayar untuk mewujudkan segala mimpi besar!
Friday, November 15, 2019
IRI HATI: Dosa Dalam Hati
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 November 2019
Baca: Amsal 14:1-35
"Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang." Amsal 14:30
Iri hati didefenisikan sebagai suatu perasaan tidak senang atas keunggulan, keberuntungan, kesuksesan orang lain. Sebagian orang yang iri hati menyerang lewat ucapan maupun perbuatan; sebagian lagi hanya menyimpan di dalam hati. Bagaimanapun juga, orang yang iri hati tidak ada yang merasakan tenang di dalam hidupnya.
Iri hati termasuk dalam daftar perbuatan daging, seperti tertulis: "Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu--seperti yang telah kubuat dahulu--bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah." (Galatia 5:19-21). Iri hati merupakan sifat asli Iblis, akar kejahatan. Dari rasa iri timbul perbuatan-perbuatan jahat lainnya. Karena merasa iri hati kepada saudaranya (Habel) yang persembahannya diterima oleh Tuhan, sedangkan persembahannya tidak diindahkan oleh Tuhan, hati Kain pun menjadi panas. Karena hatinya dikuasai oleh iri hati, akhirnya timbullah niat jahat, Kain melakukan perbuatan yang sangat keji yaitu tega membunuh adiknya sendiri. Begitu pula saudara-saudara Yusuf yang karena merasa iri kepada Yusuf, berikhtiar untuk menyingkirkan Yusuf dari tengah-tengah mereka. Iri hati adalah racun yang dapat mengubah kasih menjadi benci.
Iri hati merupakan dosa yang paling rahasia, ia tersembunyi di kedalaman hati manusia. Itu sebabnya disebut iri hati, karena rasa iri itu tersembunyi di dalam hatinya. Iri hati timbul karena tidak mampu bersyukur atas apa yang ia miliki, karena pandangannya tertuju kepada keuntungan, keberhasilan atau kelebihan orang lain, dan kemudian membandingkan dengan dirinya. Ia merasa lebih berhak menikmati keberhasilan atau kelebihan orang lain tersebut. Iri hati adalah masalah yang sangat serius dan berbahaya seperti penyakit kanker, yang bisa menggerogoti hidup seseorang.
"Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat." Yakobus 3:16
Baca: Amsal 14:1-35
"Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang." Amsal 14:30
Iri hati didefenisikan sebagai suatu perasaan tidak senang atas keunggulan, keberuntungan, kesuksesan orang lain. Sebagian orang yang iri hati menyerang lewat ucapan maupun perbuatan; sebagian lagi hanya menyimpan di dalam hati. Bagaimanapun juga, orang yang iri hati tidak ada yang merasakan tenang di dalam hidupnya.
Iri hati termasuk dalam daftar perbuatan daging, seperti tertulis: "Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu--seperti yang telah kubuat dahulu--bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah." (Galatia 5:19-21). Iri hati merupakan sifat asli Iblis, akar kejahatan. Dari rasa iri timbul perbuatan-perbuatan jahat lainnya. Karena merasa iri hati kepada saudaranya (Habel) yang persembahannya diterima oleh Tuhan, sedangkan persembahannya tidak diindahkan oleh Tuhan, hati Kain pun menjadi panas. Karena hatinya dikuasai oleh iri hati, akhirnya timbullah niat jahat, Kain melakukan perbuatan yang sangat keji yaitu tega membunuh adiknya sendiri. Begitu pula saudara-saudara Yusuf yang karena merasa iri kepada Yusuf, berikhtiar untuk menyingkirkan Yusuf dari tengah-tengah mereka. Iri hati adalah racun yang dapat mengubah kasih menjadi benci.
Iri hati merupakan dosa yang paling rahasia, ia tersembunyi di kedalaman hati manusia. Itu sebabnya disebut iri hati, karena rasa iri itu tersembunyi di dalam hatinya. Iri hati timbul karena tidak mampu bersyukur atas apa yang ia miliki, karena pandangannya tertuju kepada keuntungan, keberhasilan atau kelebihan orang lain, dan kemudian membandingkan dengan dirinya. Ia merasa lebih berhak menikmati keberhasilan atau kelebihan orang lain tersebut. Iri hati adalah masalah yang sangat serius dan berbahaya seperti penyakit kanker, yang bisa menggerogoti hidup seseorang.
"Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat." Yakobus 3:16
Thursday, November 14, 2019
DAMAI SEJAHTERA MILIK ORANG BENAR
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 November 2019
Baca: Roma 5:1-11
"Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera..." Roma 5:1
Alkitab menegaskan bahwa manusia diciptakan menurut rupa dan gambar Tuhan (Kejadian 1:26-27), artinya manusia pertama berada dalam kondisi tanpa salah dan dosa, dengan citra diri yang utuh, sempurna dan mulia. Tetapi setelah manusia jatuh ke dalam dosa, kemuliaan Tuhan di dalam diri manusia menjadi rusak karena dosa tersebut. Karena itu Bapa pun berinisiatif menyelamatkan manusia melalui Putera-Nya yang diutus untuk datang ke dunia. Melalui penebusan Kristus di kayu salib, citra diri manusia dipulihkan, karena manusia memperoleh pembenaran. Yang dimaksud pembenaran adalah tindakan Tuhan untuk menyatakan orang 'benar' karena percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, sebab ada tertulis: "Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan..." (2 Korintus 5:21).
Ada dampak yang luar biasa dari 'pembenaran' ini yaitu setiap orang percaya memperoleh damai sejahtera (ayat nas). Damai sejahtera ini terjadi karena adanya pemulihan hubungan antara manusia dengan Bapa di sorga, "Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera," (Efesus 2:14-15). Inilah damai sejahtera sejati, yang hanya kita dapatkan dalam Kristus, damai sejahtera yang bukan sekedar perasaan nyaman, tenang atau sukacita, tetapi lebih daripada itu. Damai sejahtera ini bukan disebabkan karena situasi dari luar berpengaruh ke dalam hati seseorang, tetapi damai sejahtera itu berasal dari dalam hati karena Kristus bertahta, menguasai dan memimpin hidup kita.
Setiap orang yang percaya dan mengimani Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pasti memiliki damai sejahtera. Apakah damai sejahtera itu tinggal permanen atau tidak adalah tergantung sejauh mana ia punya persekutuan dengan Tuhan.
Selama kita mau taat dan tunduk pada pimpinan Roh Kudus, damai sejahtera-Nya akan terus mengalir di dalam kita (Yesaya 48:18).
Baca: Roma 5:1-11
"Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera..." Roma 5:1
Alkitab menegaskan bahwa manusia diciptakan menurut rupa dan gambar Tuhan (Kejadian 1:26-27), artinya manusia pertama berada dalam kondisi tanpa salah dan dosa, dengan citra diri yang utuh, sempurna dan mulia. Tetapi setelah manusia jatuh ke dalam dosa, kemuliaan Tuhan di dalam diri manusia menjadi rusak karena dosa tersebut. Karena itu Bapa pun berinisiatif menyelamatkan manusia melalui Putera-Nya yang diutus untuk datang ke dunia. Melalui penebusan Kristus di kayu salib, citra diri manusia dipulihkan, karena manusia memperoleh pembenaran. Yang dimaksud pembenaran adalah tindakan Tuhan untuk menyatakan orang 'benar' karena percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, sebab ada tertulis: "Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan..." (2 Korintus 5:21).
Ada dampak yang luar biasa dari 'pembenaran' ini yaitu setiap orang percaya memperoleh damai sejahtera (ayat nas). Damai sejahtera ini terjadi karena adanya pemulihan hubungan antara manusia dengan Bapa di sorga, "Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera," (Efesus 2:14-15). Inilah damai sejahtera sejati, yang hanya kita dapatkan dalam Kristus, damai sejahtera yang bukan sekedar perasaan nyaman, tenang atau sukacita, tetapi lebih daripada itu. Damai sejahtera ini bukan disebabkan karena situasi dari luar berpengaruh ke dalam hati seseorang, tetapi damai sejahtera itu berasal dari dalam hati karena Kristus bertahta, menguasai dan memimpin hidup kita.
Setiap orang yang percaya dan mengimani Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pasti memiliki damai sejahtera. Apakah damai sejahtera itu tinggal permanen atau tidak adalah tergantung sejauh mana ia punya persekutuan dengan Tuhan.
Selama kita mau taat dan tunduk pada pimpinan Roh Kudus, damai sejahtera-Nya akan terus mengalir di dalam kita (Yesaya 48:18).
Wednesday, November 13, 2019
ORANG PERCAYA PUNYA MASA DEPAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 November 2019
Baca: Amsal 23:1-18
"Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang." Amsal 23:18
Setiap orang, tanpa terkecuali, punya kesempatan yang sama untuk memiliki masa depan yang cerah. Demi meraih masa depan yang cerah semua orang berusaha dan bekerja dengan keras; para orangtua berusaha menyekolahkan anak-anaknya di sekolah yang terbaik, bahkan sampai ke luar negeri, dengan harapan anak-anaknya kelak mendapatkan pekerjaan yang terbaik, sehingga masa depan hidupnya dapat terjamin.
Bagi orang percaya, masa depan yang cerah itu bukan sekedar khayalan atau impian semata, tetapi memang sungguh ada, karena Tuhan sendiri yang merancangkannya, "Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan." (Yeremia 29:11). Ini adalah berita yang sangat menyenangkan, berita yang membangkitkan semangat kita dalam menjalani hari-hari yang terasa berat ini. Sekalipun banyak orang mengatakan bahwa masa depan itu penuh dengan misteri, bagi orang percaya "...masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang." (ayat nas). Bagaimana supaya kita memiliki masa depan yang cerah, sebagaimana yang Tuhan rancangkan? Kita harus mengarahkan perhatian kepada didikan: "Arahkanlah perhatianmu kepada didikan, dan telingamu kepada kata-kata pengetahuan." (Amsal 23:12), dan "Janganlah hatimu iri kepada orang-orang yang berdosa, tetapi takutlah akan TUHAN senantiasa." (Amsal 23:17). Ini berbicara tentang ketaatan!
Masa depan cerah hanya akan dimiliki oleh orang-orang yang takut akan Tuhan! Kita juga diajarkan untuk tidak iri hati kepada orang-orang yang berdosa. Sikap iri kepada orang berdosa berarti kita menganggap orang lain lebih beruntung daripada diri sendiri, sekaligus menunjukkan bahwa kita tidak menghargai berkat Tuhan dan kurang bersyukur dengan berkat yang kita terima. Iri hati juga menunjukkan bahwa kita tidak takut Tuhan! Orang yang takut akan Tuhan akan selalu bersyukur di segala keadaaan dan tidak mudah terpengaruh oleh omongan orang atau situasi apa pun.
Orang yang takut akan Tuhan pasti memiliki penyerahan diri kepada Tuhan, tanpa rasa takut dan kuatir, karena masa depannya sudah dijamin oleh Tuhan!
Baca: Amsal 23:1-18
"Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang." Amsal 23:18
Setiap orang, tanpa terkecuali, punya kesempatan yang sama untuk memiliki masa depan yang cerah. Demi meraih masa depan yang cerah semua orang berusaha dan bekerja dengan keras; para orangtua berusaha menyekolahkan anak-anaknya di sekolah yang terbaik, bahkan sampai ke luar negeri, dengan harapan anak-anaknya kelak mendapatkan pekerjaan yang terbaik, sehingga masa depan hidupnya dapat terjamin.
Bagi orang percaya, masa depan yang cerah itu bukan sekedar khayalan atau impian semata, tetapi memang sungguh ada, karena Tuhan sendiri yang merancangkannya, "Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan." (Yeremia 29:11). Ini adalah berita yang sangat menyenangkan, berita yang membangkitkan semangat kita dalam menjalani hari-hari yang terasa berat ini. Sekalipun banyak orang mengatakan bahwa masa depan itu penuh dengan misteri, bagi orang percaya "...masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang." (ayat nas). Bagaimana supaya kita memiliki masa depan yang cerah, sebagaimana yang Tuhan rancangkan? Kita harus mengarahkan perhatian kepada didikan: "Arahkanlah perhatianmu kepada didikan, dan telingamu kepada kata-kata pengetahuan." (Amsal 23:12), dan "Janganlah hatimu iri kepada orang-orang yang berdosa, tetapi takutlah akan TUHAN senantiasa." (Amsal 23:17). Ini berbicara tentang ketaatan!
Masa depan cerah hanya akan dimiliki oleh orang-orang yang takut akan Tuhan! Kita juga diajarkan untuk tidak iri hati kepada orang-orang yang berdosa. Sikap iri kepada orang berdosa berarti kita menganggap orang lain lebih beruntung daripada diri sendiri, sekaligus menunjukkan bahwa kita tidak menghargai berkat Tuhan dan kurang bersyukur dengan berkat yang kita terima. Iri hati juga menunjukkan bahwa kita tidak takut Tuhan! Orang yang takut akan Tuhan akan selalu bersyukur di segala keadaaan dan tidak mudah terpengaruh oleh omongan orang atau situasi apa pun.
Orang yang takut akan Tuhan pasti memiliki penyerahan diri kepada Tuhan, tanpa rasa takut dan kuatir, karena masa depannya sudah dijamin oleh Tuhan!
Tuesday, November 12, 2019
JAUHILAH SEGALA KECURANGAN!
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 November 2019
Baca: Habakuk 2:6-20
"Celakalah orang yang menggaruk bagi dirinya apa yang bukan miliknya--berapa lama lagi? --dan yang memuati dirinya dengan barang gadaian." Habakuk 2:6b
Di zaman seperti sekarang ini berlaku curang dalam dunia usaha atau bisnis adalah hal yang biasa dilakukan kebanyakan orang. Tujuannya adalah untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya. Beberapa waktu yang lalu ada kasus yang sangat viral atau menyebar luas di masyarakat. Tepat pada hari raya Idul Fitri (lebaran), ketika banyak orang mudik ke kampung halaman, ada beberapa penjual makanan yang berlaku curang yaitu menaikkan harga makanannya dengan harga selangit dan tak masuk akal, dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Tindakan tersebut sangat merugikan orang lain, tindakan yang identik dengan pemerasan.
Tak seorang pun ingin mengalami kerugian dalam usahanya, semua pasti ingin untung. Permasalahannya: bagaimana cara mendapatkan keuntungan tersebut? Jangan sampai demi mendapatkan keuntungan, kita melakukan pemerasan atau penindasan terhadap orang lain, apalagi kepada kaum yang lemah. Pada dasarnya Tuhan menginginkan umat-Nya menikmati hidup yang diberkati, baik secara materi maupun rohani. "Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan." (Yohanes 10:10b). Itulah sebabnya Tuhan memberikan kita kelebihan dan keistimewaan berupa akal budi dan skill atau keterampilan, dengan tujuan agar kita bisa memenuhi maksud Tuhan tersebut.
Tuhan mau kita hidup diberkati, tetapi bukan dengan cara yang tidak benar. Dapatkanlah apa yang kita inginkan dengan cara yang jujur, bukan dengan memeras, bukan dengan menindas orang, bukan dengan menipu, bukan dengan mencuri, atau mengambil secara diam-diam apa yang bukan menjadi hak kita. Jangan pernah berpikir bahwa dengan tindakan-tindakan tersebut kita mendapatkan keuntungan, karena yang kita dapatkan sebaliknya adalah kerugian, bahkan mendatangkan kutuk atas diri sendiri. Karena itu Agur bin Yake berdoa, "Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan... Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku." (Amsal 30:8).
Tuhan tidak akan pernah tinggal diam terhadap orang-orang yang melakukan kecurangan, penindasan, ketidakadilan di bumi!
Baca: Habakuk 2:6-20
"Celakalah orang yang menggaruk bagi dirinya apa yang bukan miliknya--berapa lama lagi? --dan yang memuati dirinya dengan barang gadaian." Habakuk 2:6b
Di zaman seperti sekarang ini berlaku curang dalam dunia usaha atau bisnis adalah hal yang biasa dilakukan kebanyakan orang. Tujuannya adalah untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya. Beberapa waktu yang lalu ada kasus yang sangat viral atau menyebar luas di masyarakat. Tepat pada hari raya Idul Fitri (lebaran), ketika banyak orang mudik ke kampung halaman, ada beberapa penjual makanan yang berlaku curang yaitu menaikkan harga makanannya dengan harga selangit dan tak masuk akal, dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Tindakan tersebut sangat merugikan orang lain, tindakan yang identik dengan pemerasan.
Tak seorang pun ingin mengalami kerugian dalam usahanya, semua pasti ingin untung. Permasalahannya: bagaimana cara mendapatkan keuntungan tersebut? Jangan sampai demi mendapatkan keuntungan, kita melakukan pemerasan atau penindasan terhadap orang lain, apalagi kepada kaum yang lemah. Pada dasarnya Tuhan menginginkan umat-Nya menikmati hidup yang diberkati, baik secara materi maupun rohani. "Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan." (Yohanes 10:10b). Itulah sebabnya Tuhan memberikan kita kelebihan dan keistimewaan berupa akal budi dan skill atau keterampilan, dengan tujuan agar kita bisa memenuhi maksud Tuhan tersebut.
Tuhan mau kita hidup diberkati, tetapi bukan dengan cara yang tidak benar. Dapatkanlah apa yang kita inginkan dengan cara yang jujur, bukan dengan memeras, bukan dengan menindas orang, bukan dengan menipu, bukan dengan mencuri, atau mengambil secara diam-diam apa yang bukan menjadi hak kita. Jangan pernah berpikir bahwa dengan tindakan-tindakan tersebut kita mendapatkan keuntungan, karena yang kita dapatkan sebaliknya adalah kerugian, bahkan mendatangkan kutuk atas diri sendiri. Karena itu Agur bin Yake berdoa, "Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan... Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku." (Amsal 30:8).
Tuhan tidak akan pernah tinggal diam terhadap orang-orang yang melakukan kecurangan, penindasan, ketidakadilan di bumi!
Monday, November 11, 2019
HARGA SEBUAH NAZAR
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 November 2019
Baca: Hakim-Hakim 11:29-40
"Ah, anakku, engkau membuat hatiku hancur luluh dan engkaulah yang mencelakakan aku; aku telah membuka mulutku bernazar kepada TUHAN, dan tidak dapat aku mundur." Hakim-Hakim 11:35
Yefta adalah seorang pahlawan yang gagah perkasa, tapi ia anak yang diperoleh Gilead dari seorang perempuan sundal (Hakim-Hakim 11:1). Selain itu Gilead juga mempunyai anak-anak dari isteri sahnya. Karena itu setelah Gilead meninggal, anak-anak dari isteri sahnya mengusir Yefta dengan kasar, "Engkau tidak mendapat milik pusaka dalam keluarga kami, sebab engkau anak dari perempuan lain." (Hakim-Hakim 11:2b). Pengusiran dengan paksa itu membuat Yefta benar-benar sakit hati. Lalu ia lari dari rumahnya dan kemudian tinggal di tanah Tob, "...di sana berkumpullah kepadanya petualang-petualang yang pergi merampok bersama-sama dengan dia." (Hakim-Hakim 11:3). Akhirnya Yefta menjadi pemimpin petualang-petualang yang suka merampok.
Ketika bani Amon berperang melawan orang Israel, para tua-tua Gilead pergi mencari Yefta untuk diajak membantu berperang. Awalnya Yefta sempat menolak ajakan tersebut, tapi akhirnya bersedia karena kelak ia akan dijadikan pemimpin atas bangsa Israel. Tanpa berpikir panjang bernazarlah ia kepada Tuhan, "Jika Engkau sungguh-sungguh menyerahkan bani Amon itu ke dalam tanganku, maka apa yang keluar dari pintu rumahku untuk menemui aku, pada waktu aku kembali dengan selamat dari bani Amon, itu akan menjadi kepunyaan TUHAN, dan aku akan mempersembahkannya sebagai korban bakaran." (Hakim-Hakim 11:30). Peperangan melawan bani Amon terjadi! Oleh karena campur tangan Tuhan, bani Amon pun bisa dikalahkan.
Yefta pulang ke rumahnya di Mizpa dengan senyum kemenangan. Betapa terkejutnya dia sesampai di rumah, sebab yang keluar menyongsong dia adalah puteri semata wayangnya dengan memukul rebana sambil menari-nari: "...aku telah membuka mulutku bernazar kepada TUHAN, dan tidak dapat aku mundur." (ayat nas).
Kemenangan atas bani Amon, harus dibayar mahal: Yefta menyerahkan puterinya kepada Tuhan untuk menepati nazarnya.
Baca: Hakim-Hakim 11:29-40
"Ah, anakku, engkau membuat hatiku hancur luluh dan engkaulah yang mencelakakan aku; aku telah membuka mulutku bernazar kepada TUHAN, dan tidak dapat aku mundur." Hakim-Hakim 11:35
Yefta adalah seorang pahlawan yang gagah perkasa, tapi ia anak yang diperoleh Gilead dari seorang perempuan sundal (Hakim-Hakim 11:1). Selain itu Gilead juga mempunyai anak-anak dari isteri sahnya. Karena itu setelah Gilead meninggal, anak-anak dari isteri sahnya mengusir Yefta dengan kasar, "Engkau tidak mendapat milik pusaka dalam keluarga kami, sebab engkau anak dari perempuan lain." (Hakim-Hakim 11:2b). Pengusiran dengan paksa itu membuat Yefta benar-benar sakit hati. Lalu ia lari dari rumahnya dan kemudian tinggal di tanah Tob, "...di sana berkumpullah kepadanya petualang-petualang yang pergi merampok bersama-sama dengan dia." (Hakim-Hakim 11:3). Akhirnya Yefta menjadi pemimpin petualang-petualang yang suka merampok.
Ketika bani Amon berperang melawan orang Israel, para tua-tua Gilead pergi mencari Yefta untuk diajak membantu berperang. Awalnya Yefta sempat menolak ajakan tersebut, tapi akhirnya bersedia karena kelak ia akan dijadikan pemimpin atas bangsa Israel. Tanpa berpikir panjang bernazarlah ia kepada Tuhan, "Jika Engkau sungguh-sungguh menyerahkan bani Amon itu ke dalam tanganku, maka apa yang keluar dari pintu rumahku untuk menemui aku, pada waktu aku kembali dengan selamat dari bani Amon, itu akan menjadi kepunyaan TUHAN, dan aku akan mempersembahkannya sebagai korban bakaran." (Hakim-Hakim 11:30). Peperangan melawan bani Amon terjadi! Oleh karena campur tangan Tuhan, bani Amon pun bisa dikalahkan.
Yefta pulang ke rumahnya di Mizpa dengan senyum kemenangan. Betapa terkejutnya dia sesampai di rumah, sebab yang keluar menyongsong dia adalah puteri semata wayangnya dengan memukul rebana sambil menari-nari: "...aku telah membuka mulutku bernazar kepada TUHAN, dan tidak dapat aku mundur." (ayat nas).
Kemenangan atas bani Amon, harus dibayar mahal: Yefta menyerahkan puterinya kepada Tuhan untuk menepati nazarnya.
Sunday, November 10, 2019
PERCAYA KRISTUS SEBAGAI RAJA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 November 2019
Baca: Lukas 23:33-43
"...ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja." Lukas 23:42
Ini adalah sebuah pernyataan dan sekaligus permohonan dari seorang pendosa yang mungkin saja menjadi permohonan yang terakhir sebelum ajal menjemput. Isi permohonan dari salah seorang penjahat ini kelihatannya sangat sederhana, bukan permohonan ampun kepada Tuhan atas perbuatan jahatnya, tapi ia hanya ingin diingat saja oleh Kristus bila kelak Kristus datang sebagai Raja. Tidak semua orang mendapatkan kesempatan emas seperti penjahat ini, yang mana pada akhir hidupnya (menjelang kematian) ia bertemu dengan Kristus. Pertemuannya dengan Kristus telah mengubah masa depannya, yang sebelumnya sedang berjalan menuju kepada kebinasaan kekal, kini berubah arah menuju kepada kehidupan kekal.
Mengapa ini bisa terjadi? Karena penjahat ini memiliki iman kepada Kristus. Sekalipun di depan mata ia melihat Kristus jelas-jelas dalam keadaan tak berdaya dan sedang menghadapi kematian sama seperti dirinya, tapi penjahat itu percaya dan mengakui bahwa Kristus adalah Raja, bukan orang jahat seperti dirinya. Didasari oleh iman, penjahat itu menyampaikan permohonan yang tidak muluk-muluk, ia tidak minta kedudukan yang istimewa karena pernah sama-sama disalibkan, tapi ia hanya minta agar Kristus mengingatnya... sebuah permohonan yang sederhana, namun bermuatan iman dan ketulusan hati. Karena iman penjahat itu Tuhan pun menjawab, "...sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus." (Lukas 23:43). Berbeda dengan penjahat yang satunya yang justru menghujat, "Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!" (Lukas 23:39).
Permohonan doa yang disertai iman sanggup menggerakkan hati Tuhan! Sebab Tuhan memperhatikan sikap hati dan iman seseorang, bukan pada indahnya kalimat doa yang dipanjatkan. Sekalipun doa itu seindah puisi, tapi bila doa itu keluar dari hati yang tidak tulus dan hanya sebatas lips service, doa itu hanya akan menguap begitu saja. Oleh karena itu jangan pernah ragu untuk datang kepada Tuhan, akui setiap kesalahan dan dosa kita, sebab Dia tidak pernah menolak seorang pendosa untuk datang kepada-Nya.
"...karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa." Matius 9:13
Baca: Lukas 23:33-43
"...ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja." Lukas 23:42
Ini adalah sebuah pernyataan dan sekaligus permohonan dari seorang pendosa yang mungkin saja menjadi permohonan yang terakhir sebelum ajal menjemput. Isi permohonan dari salah seorang penjahat ini kelihatannya sangat sederhana, bukan permohonan ampun kepada Tuhan atas perbuatan jahatnya, tapi ia hanya ingin diingat saja oleh Kristus bila kelak Kristus datang sebagai Raja. Tidak semua orang mendapatkan kesempatan emas seperti penjahat ini, yang mana pada akhir hidupnya (menjelang kematian) ia bertemu dengan Kristus. Pertemuannya dengan Kristus telah mengubah masa depannya, yang sebelumnya sedang berjalan menuju kepada kebinasaan kekal, kini berubah arah menuju kepada kehidupan kekal.
Mengapa ini bisa terjadi? Karena penjahat ini memiliki iman kepada Kristus. Sekalipun di depan mata ia melihat Kristus jelas-jelas dalam keadaan tak berdaya dan sedang menghadapi kematian sama seperti dirinya, tapi penjahat itu percaya dan mengakui bahwa Kristus adalah Raja, bukan orang jahat seperti dirinya. Didasari oleh iman, penjahat itu menyampaikan permohonan yang tidak muluk-muluk, ia tidak minta kedudukan yang istimewa karena pernah sama-sama disalibkan, tapi ia hanya minta agar Kristus mengingatnya... sebuah permohonan yang sederhana, namun bermuatan iman dan ketulusan hati. Karena iman penjahat itu Tuhan pun menjawab, "...sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus." (Lukas 23:43). Berbeda dengan penjahat yang satunya yang justru menghujat, "Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!" (Lukas 23:39).
Permohonan doa yang disertai iman sanggup menggerakkan hati Tuhan! Sebab Tuhan memperhatikan sikap hati dan iman seseorang, bukan pada indahnya kalimat doa yang dipanjatkan. Sekalipun doa itu seindah puisi, tapi bila doa itu keluar dari hati yang tidak tulus dan hanya sebatas lips service, doa itu hanya akan menguap begitu saja. Oleh karena itu jangan pernah ragu untuk datang kepada Tuhan, akui setiap kesalahan dan dosa kita, sebab Dia tidak pernah menolak seorang pendosa untuk datang kepada-Nya.
"...karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa." Matius 9:13
Subscribe to:
Comments (Atom)