Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 September 2019
Baca: Matius 12:33-37
"Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum." Matius 12:37
Punya kemampuan berbicara di depan banyak orang, seperti di dalam forum, rapat, seminar, kelas, dan sebagainya, adalah sesuatu yang sangat membanggakan, karena tidak semua orang cakap melakukannya. Tetapi, jika seseorang berbicara sembarangan di hadapan banyak orang dan tak mampu mengekang lidahnya, apalagi yang terucap adalah perkataan yang kotor, ini justru sangat berbahaya dan bisa menimbulkan masalah besar. Berhati-hatilah! Firman Tuhan mengatakan, "Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman." (Matius 12:36). Rasul Paulus juga memperingatkan orang percaya, "Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah
perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang
mendengarnya, beroleh kasih karunia." (Efesus 4:29).
Perkataan kotor dan sia-sia adalah perkataan yang jahat dan buruk, yang dapat menjadi penyulut api, yang dapat membakar, melukai dan menghanguskan apa pun yang ada di sekitarnya. Sadar atau tidak, ada banyak kata sia-sia yang seringkali meluncur begitu saja dari mulut kita, tanpa kita peduli dengan keadaan orang lain. Yang termasuk dalam kategori perkataan kotor: 1. Fitnah. Yaitu perkataan yang tidak didasari dengan kebenaran yang dengan sengaja disebarkan dengan maksud untuk menjelek-jelekkan, merusak atau menghancurkan nama baik seseorang. 2. Gosip. Yaitu pergunjingan atau obrolan negatif tentang orang lain, yang belum tentu kebenarannya. 3. Hujatan. Yaitu ucapan yang mencaci, mencela, atau ujaran kebencian. 4. Makian. Yaitu kata-kata kasar yang diucapkan seseorang karena tersulut oleh amarah yang meledak-ledak, dan sebagainya!
Di hari-hari ini dosa yang paling banyak dilakukan oleh orang adalah dosa perkataan. Seorang percaya tak sepantasnya mengucapkan perkataan kotor dan sia-sia! Adalah mutlak untuk selalu mengucapkan perkataan yang benar dan positif! Hal ini perlu latihan dan disiplin tinggi agar kita dapat mengontrol dan menundukkan satu bagian dari tubuh kita yang dapat mempengaruhi seluruh kehidupan kita, yaitu lidah.
Karena itu, "Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah;" 1 Petrus 4:11a
Tuesday, September 17, 2019
Monday, September 16, 2019
PERTUMBUHAN ROHANI ANAK: Peran Keluarga
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 September 2019
Baca: 2 Timotius 1:3-18
"Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu." 2 Timotius 1:5
Timotius adalah salah satu tokoh muda yang memiliki kualitas hidup rohani yang mumpuni. Karena kesetiaan dan ketekunannya dalam melayani Tuhan sudah teruji, ia dipercaya Tuhan untuk tugas pelayanan yang jauh lebih besar: menjadi rekan kerja rasul Paulus. Kualitas hidup rohani Timotius tidak terbentuk secara kebetulan atau terjadi secara instan, tetapi merupakan hasil dari didikan dan benih iman yang ditanamkan oleh keluarganya (ayat nas). Di sini jelas sekali bahwa orangtua atau keluarga inti memiliki pengaruh terbesar bagi pertumbuhkan rohani anak-anaknya.
Selain bertanggung jawab penuh untuk memenuhi kebutuhan jasmani anak-anaknya, orangtua harus mampu menjalankan perannya sebagai guru bagi anak-anaknya. Pengajaran dalam keluarga adalah pengajaran yang pertama dan utama. Yang sering terjadi banyak orangtua hanya memanjakan anak-anaknya dengan materi, tapi mereka justru lupa dan kurang memperhatikan makanan 'rohani' anak-anaknya. Setiap orangtua memperoleh mandat dari Tuhan untuk menjadi pengajar bagi anak-anaknya, atau yang dikenal sebagai mandat shema: "Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun." (Ulangan 6:6-7). Tujuan dari pengajaran ini adalah supaya anak-anak takut akan Tuhan, karen itu orangtua harus mengajarkan firman Tuhan secara berulang-ulang!
Bukan perkara mudah bagi orangtua menanamkan benih iman dan mengajar kebenaran kepada anak-anaknya, bila orangtuanya belum mampu menjadi teladan. Perilaku orangtua dalam keseharian itu jauh lebih bermakna dan mudah diingat oleh si anak daripada nasihat atau tegurannya, sebab seorang anak cenderung meniru perilaku orangtuanya atau terkondisi untuk melakukan hal-hal yang dilihatnya.
Tanpa memberikan teladan hidup, semua yang orangtua ajarkan kepada anak hanya akan dianggap angin lalu dan menjadi bumerang!
Baca: 2 Timotius 1:3-18
"Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu." 2 Timotius 1:5
Timotius adalah salah satu tokoh muda yang memiliki kualitas hidup rohani yang mumpuni. Karena kesetiaan dan ketekunannya dalam melayani Tuhan sudah teruji, ia dipercaya Tuhan untuk tugas pelayanan yang jauh lebih besar: menjadi rekan kerja rasul Paulus. Kualitas hidup rohani Timotius tidak terbentuk secara kebetulan atau terjadi secara instan, tetapi merupakan hasil dari didikan dan benih iman yang ditanamkan oleh keluarganya (ayat nas). Di sini jelas sekali bahwa orangtua atau keluarga inti memiliki pengaruh terbesar bagi pertumbuhkan rohani anak-anaknya.
Selain bertanggung jawab penuh untuk memenuhi kebutuhan jasmani anak-anaknya, orangtua harus mampu menjalankan perannya sebagai guru bagi anak-anaknya. Pengajaran dalam keluarga adalah pengajaran yang pertama dan utama. Yang sering terjadi banyak orangtua hanya memanjakan anak-anaknya dengan materi, tapi mereka justru lupa dan kurang memperhatikan makanan 'rohani' anak-anaknya. Setiap orangtua memperoleh mandat dari Tuhan untuk menjadi pengajar bagi anak-anaknya, atau yang dikenal sebagai mandat shema: "Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun." (Ulangan 6:6-7). Tujuan dari pengajaran ini adalah supaya anak-anak takut akan Tuhan, karen itu orangtua harus mengajarkan firman Tuhan secara berulang-ulang!
Bukan perkara mudah bagi orangtua menanamkan benih iman dan mengajar kebenaran kepada anak-anaknya, bila orangtuanya belum mampu menjadi teladan. Perilaku orangtua dalam keseharian itu jauh lebih bermakna dan mudah diingat oleh si anak daripada nasihat atau tegurannya, sebab seorang anak cenderung meniru perilaku orangtuanya atau terkondisi untuk melakukan hal-hal yang dilihatnya.
Tanpa memberikan teladan hidup, semua yang orangtua ajarkan kepada anak hanya akan dianggap angin lalu dan menjadi bumerang!
Sunday, September 15, 2019
DAMAI SEJAHTERA: Dampak Ketaatan Kita
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 September 2019
Baca: Yesaya 48:12-22
"Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti," Yesaya 48:18
Memiliki uang banyak, harta melimpah, jabatan tinggi, dan menjadi terkenal di mata manusia, apakah memberi jaminan kepada seseorang merasakan damai sejahtera? Tidak. Uang sebesar apa pun tak bisa membeli damai sejahtera! Popularitas tak bisa menggantikan damai sejahtera! Alkitab menegaskan bahwa hidup dalam damai sejahtera itu tidak berkaitan dengan materi, jabatan, atau popularitas, tapi merupakan hasil atau dampak dari ketaatan orang melakukan kehendak Tuhan.
Ayat nas menyatakan bahwa ketaatan kepada Tuhan itulah yang akan menghasilkan aliran-aliran damai sejahtera seperti sungai yang tidak pernah kering, yang terus mengalir dengan limpahnya. Jadi, kunci untuk mengalami damai sejahtera di segala situasi adalah menempuh jalan yang Tuhan tunjukkan: "Akulah TUHAN...yang mengajar engkau tentang apa yang memberi faedah, yang menuntun engkau di jalan yang harus kautempuh." (Yesaya 48:17). Pertanyaan: Maukah kita menempuh jalannya Tuhan? Pemazmur menulis: "Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya." (Mazmur 25:10). Banyak orang lebih memilih untuk menempuh jalan sendiri karena mereka tidak mau diatur dan tak mau dikekang kebebasannya, padahal: "Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut." (Amsal 14:12). Hidup menyimpang dari jalan-jalan Tuhan itu seringkali membawa kita kepada masalah demi masalah, kesukaran demi kesukaran, sehingga kita pun kehilangan damai sejahtera, karena apa yang kita tabur itulah yang kita tuai; menabur ketidaktaatan, pasti menuai kesukaran.
Keadaan pasti berbeda kalau kita mau mengikuti jalan-jalan Tuhan, yang sekalipun terasa berat secara daging, tapi mendatangkan berkat jasmani maupun rohani yaitu hidup dalam damai sejahtera Tuhan! Orang yang hidup taat digambarkan "...seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil." (Mazmur 1:3).
Tak mau mengikuti jalan Tuhan, jangan bermimpi hidup dalam damai sejahtera!
Baca: Yesaya 48:12-22
"Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti," Yesaya 48:18
Memiliki uang banyak, harta melimpah, jabatan tinggi, dan menjadi terkenal di mata manusia, apakah memberi jaminan kepada seseorang merasakan damai sejahtera? Tidak. Uang sebesar apa pun tak bisa membeli damai sejahtera! Popularitas tak bisa menggantikan damai sejahtera! Alkitab menegaskan bahwa hidup dalam damai sejahtera itu tidak berkaitan dengan materi, jabatan, atau popularitas, tapi merupakan hasil atau dampak dari ketaatan orang melakukan kehendak Tuhan.
Ayat nas menyatakan bahwa ketaatan kepada Tuhan itulah yang akan menghasilkan aliran-aliran damai sejahtera seperti sungai yang tidak pernah kering, yang terus mengalir dengan limpahnya. Jadi, kunci untuk mengalami damai sejahtera di segala situasi adalah menempuh jalan yang Tuhan tunjukkan: "Akulah TUHAN...yang mengajar engkau tentang apa yang memberi faedah, yang menuntun engkau di jalan yang harus kautempuh." (Yesaya 48:17). Pertanyaan: Maukah kita menempuh jalannya Tuhan? Pemazmur menulis: "Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya." (Mazmur 25:10). Banyak orang lebih memilih untuk menempuh jalan sendiri karena mereka tidak mau diatur dan tak mau dikekang kebebasannya, padahal: "Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut." (Amsal 14:12). Hidup menyimpang dari jalan-jalan Tuhan itu seringkali membawa kita kepada masalah demi masalah, kesukaran demi kesukaran, sehingga kita pun kehilangan damai sejahtera, karena apa yang kita tabur itulah yang kita tuai; menabur ketidaktaatan, pasti menuai kesukaran.
Keadaan pasti berbeda kalau kita mau mengikuti jalan-jalan Tuhan, yang sekalipun terasa berat secara daging, tapi mendatangkan berkat jasmani maupun rohani yaitu hidup dalam damai sejahtera Tuhan! Orang yang hidup taat digambarkan "...seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil." (Mazmur 1:3).
Tak mau mengikuti jalan Tuhan, jangan bermimpi hidup dalam damai sejahtera!
Saturday, September 14, 2019
DAMAI SEJAHTERA: Berkat Orang Percaya
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 September 2019
Baca: Yesaya 54:1-17
"Sebab biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, tetapi kasih setia-Ku tidak akan beranjak dari padamu dan perjanjian damai-Ku tidak akan bergoyang, firman TUHAN, yang mengasihani engkau." Yesaya 54:10
Dalam situasi terjepit dan diterpa berbagai permasalahan hidup, kebanyakan orang menjalani hari-harinya tanpa semangat, penuh kemurungan, takut, cemas dan kuatir. Damai sejahtera di hati pun terbang melayang entah kemana! Sebagai orang percaya tak seharusnya kita kehilangan damai sejahtera sekalipun harus mengalami pergumulan hidup yang berat, sebab kita punya Tuhan, yang adalah Sang Raja damai (Yesaya 9:5), Dialah sumber damai sejahtera kita. Damai sejahtera yang sejati tak kita dapatkan dari dunia atau pun dari hal-hal materi, melainkan hanya didapatkan oleh mereka yang telah dipulihkan hubungannya dengan Bapa melalui kelahiran baru di dalam Kristus!
Damai sejahtera adalah salah satu berkat rohani dari sorga yang Tuhan sediakan bagi orang percaya, sebagaimana yang Tuhan janjikan, "Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu." (Yohanes 14:27). Maka dari itu bila seseorang ingin memiliki damai sejahtera ia tak perlu mencarinya dengan berkelana sampai ke ujung dunia, cukup datang kepada Kristus dan menerima Dia di dalam hatinya, maka damai sejahtera itu akan Tuhan berikan. Damai sejahtera yang sejati itu pemberian dari Tuhan: "...TUHAN kiranya memberikan kekuatan kepada umat-Nya, TUHAN kiranya memberkati umat-Nya dengan sejahtera!" (Mazmur 29:11). Jadi, bukanlah hal yang mustahil orang percaya mengalami damai sejahtera, sekalipun berada di tengah dunia yang bergelora!
Iblis takkan dapat mengambil satupun berkat Tuhan dari hidup kita atau merampas damai sejahtera di dalam hati kita selama kita tinggal dekat Tuhan dan menaati firman-firman-Nya. Sebaliknya, Iblis akan dengan mudah mencuri damai sejahtera itu, ketika kita mulai berjalan menyimpang dari jalan-jalan Tuhan dan menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah/hadirat Tuhan (Ibrani 10:25), sebab hanya orang-orang yang teguh hatinya melekat kepada Tuhan dan firman-Nya yang beroleh damai sejahtera.
"Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya." Yesaya 26:3
Baca: Yesaya 54:1-17
"Sebab biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, tetapi kasih setia-Ku tidak akan beranjak dari padamu dan perjanjian damai-Ku tidak akan bergoyang, firman TUHAN, yang mengasihani engkau." Yesaya 54:10
Dalam situasi terjepit dan diterpa berbagai permasalahan hidup, kebanyakan orang menjalani hari-harinya tanpa semangat, penuh kemurungan, takut, cemas dan kuatir. Damai sejahtera di hati pun terbang melayang entah kemana! Sebagai orang percaya tak seharusnya kita kehilangan damai sejahtera sekalipun harus mengalami pergumulan hidup yang berat, sebab kita punya Tuhan, yang adalah Sang Raja damai (Yesaya 9:5), Dialah sumber damai sejahtera kita. Damai sejahtera yang sejati tak kita dapatkan dari dunia atau pun dari hal-hal materi, melainkan hanya didapatkan oleh mereka yang telah dipulihkan hubungannya dengan Bapa melalui kelahiran baru di dalam Kristus!
Damai sejahtera adalah salah satu berkat rohani dari sorga yang Tuhan sediakan bagi orang percaya, sebagaimana yang Tuhan janjikan, "Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu." (Yohanes 14:27). Maka dari itu bila seseorang ingin memiliki damai sejahtera ia tak perlu mencarinya dengan berkelana sampai ke ujung dunia, cukup datang kepada Kristus dan menerima Dia di dalam hatinya, maka damai sejahtera itu akan Tuhan berikan. Damai sejahtera yang sejati itu pemberian dari Tuhan: "...TUHAN kiranya memberikan kekuatan kepada umat-Nya, TUHAN kiranya memberkati umat-Nya dengan sejahtera!" (Mazmur 29:11). Jadi, bukanlah hal yang mustahil orang percaya mengalami damai sejahtera, sekalipun berada di tengah dunia yang bergelora!
Iblis takkan dapat mengambil satupun berkat Tuhan dari hidup kita atau merampas damai sejahtera di dalam hati kita selama kita tinggal dekat Tuhan dan menaati firman-firman-Nya. Sebaliknya, Iblis akan dengan mudah mencuri damai sejahtera itu, ketika kita mulai berjalan menyimpang dari jalan-jalan Tuhan dan menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah/hadirat Tuhan (Ibrani 10:25), sebab hanya orang-orang yang teguh hatinya melekat kepada Tuhan dan firman-Nya yang beroleh damai sejahtera.
"Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya." Yesaya 26:3
Friday, September 13, 2019
KEKUATAN DOA: Mengubah Segalanya
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 September 2019
Baca: Mazmur 3:1-9
"Dengan nyaring aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku dari gunung-Nya yang kudus." Mazmur 3:5
Tuhan yang kita sembah di dalam nama Tuhan Yesus adalah Tuhan yang kuasa-Nya sungguh tidak terbatas, tidak ada sesuatu pun yang tidak dapat dilakukan-Nya, bahkan "Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita," (Efesus 3:20). Jangan pernah ragu untuk berdoa kepada Bapa dalam nama-Nya! "...apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu." (Yohanes 15:16).
Yabes, sekalipun namanya memiliki arti dukacita atau menderita, tapi ketika ia berdoa dengan iman: "Kiranya Engkau memberkati aku berlimpah-limpah dan memperluas daerahku, dan kiranya tangan-Mu menyertai aku, dan melindungi aku dari pada malapetaka, sehingga kesakitan tidak menimpa aku!" (1 Tawarikh 4:10), Tuhan mengabulkan permintaannya, bahkan Dia bukan hanya memulihkan keadaan Yabes, tapi juga memberkati hidupnya secara luar biasa, sehingga "Yabes lebih dimuliakan dari pada saudara-saudaranya;" (1 Tawarikh 4:9). Mungkin keadaan Saudara sedang terpuruk dan berada di titik terendah, orang lain pun memandang kita dengan sebelah mata, dengan berkata, "Tak mungkin hidupmu dipulihkan! Kau tak punya masa depan lagi!", jangan pernah putus asa! Kekuatan kita memang sangat terbatas, namun jika kita mau menyerahkan segala keterbatasan kita ke dalam tangan Tuhan, maka tangan-Nya yang kuat dan perkasa itu yang akan menopang dan bertindak untuk kita, sebab " Punya-Mulah lengan yang perkasa, kuat tangan-Mu dan tinggi tangan kanan-Mu." (Mazmur 89:14), dan "Tangan kanan TUHAN melakukan keperkasaan! tangan kanan TUHAN berkuasa meninggikan, tangan kanan TUHAN melakukan keperkasaan!" (Mazmur 118:15b-16).
Jangan pernah takut untuk bermimpi besar seperti Yabes! Asal disertai tekad yang kuat, usaha yang pantang menyerah, dan terus bertekun di dalam doa dan hidup mengandalkan Tuhan, apa pun yang kita impikan dan rindukan pasti akan terwujud.
"Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia." 1 Korintus 2:9
Baca: Mazmur 3:1-9
"Dengan nyaring aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku dari gunung-Nya yang kudus." Mazmur 3:5
Tuhan yang kita sembah di dalam nama Tuhan Yesus adalah Tuhan yang kuasa-Nya sungguh tidak terbatas, tidak ada sesuatu pun yang tidak dapat dilakukan-Nya, bahkan "Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita," (Efesus 3:20). Jangan pernah ragu untuk berdoa kepada Bapa dalam nama-Nya! "...apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu." (Yohanes 15:16).
Yabes, sekalipun namanya memiliki arti dukacita atau menderita, tapi ketika ia berdoa dengan iman: "Kiranya Engkau memberkati aku berlimpah-limpah dan memperluas daerahku, dan kiranya tangan-Mu menyertai aku, dan melindungi aku dari pada malapetaka, sehingga kesakitan tidak menimpa aku!" (1 Tawarikh 4:10), Tuhan mengabulkan permintaannya, bahkan Dia bukan hanya memulihkan keadaan Yabes, tapi juga memberkati hidupnya secara luar biasa, sehingga "Yabes lebih dimuliakan dari pada saudara-saudaranya;" (1 Tawarikh 4:9). Mungkin keadaan Saudara sedang terpuruk dan berada di titik terendah, orang lain pun memandang kita dengan sebelah mata, dengan berkata, "Tak mungkin hidupmu dipulihkan! Kau tak punya masa depan lagi!", jangan pernah putus asa! Kekuatan kita memang sangat terbatas, namun jika kita mau menyerahkan segala keterbatasan kita ke dalam tangan Tuhan, maka tangan-Nya yang kuat dan perkasa itu yang akan menopang dan bertindak untuk kita, sebab " Punya-Mulah lengan yang perkasa, kuat tangan-Mu dan tinggi tangan kanan-Mu." (Mazmur 89:14), dan "Tangan kanan TUHAN melakukan keperkasaan! tangan kanan TUHAN berkuasa meninggikan, tangan kanan TUHAN melakukan keperkasaan!" (Mazmur 118:15b-16).
Jangan pernah takut untuk bermimpi besar seperti Yabes! Asal disertai tekad yang kuat, usaha yang pantang menyerah, dan terus bertekun di dalam doa dan hidup mengandalkan Tuhan, apa pun yang kita impikan dan rindukan pasti akan terwujud.
"Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia." 1 Korintus 2:9
Thursday, September 12, 2019
MENGAPA TUHAN TAK MAU MENJAWAB
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 September 2019
Baca: Mazmur 143:1-12
"Jawablah aku dengan segera, ya TUHAN, sudah habis semangatku! Jangan sembunyikan wajah-Mu terhadap aku," Mazmur 143:7
Jika apa yang kita doakan kepada Tuhan langsung mendapatkan jawaban dari Tuhan, hal itu tidak mendatangkan masalah bagi kita. Namun bagaimana kalau doa-doa kita tak mendapatkan jawaban dari Tuhan? Hal ini akan menjadi awal permasalahan dalam hidup, sebab biasanya kita langsung menunjukkan reaksi yang negatif sebagai tanda ketidaksiapan kita menerima kenyataan yang ada: kecewa, bersungut-sungut, mengomel, dan kemudian menyalahkan Tuhan. Jika Tuhan tidak menjawab permohonan doa kita, bukan berarti Tuhan pilih kasih atau tidak memedulikan kita.
Salah satu penyebab mengapa Tuhan tidak menjawab doa-doa yang kita serukan kepada-Nya, atau berkata 'tidak' untuk permohonan doa kita, adalah karena kita salah dalam berdoa. Ini berkaitan dengan motivasi hati kita yang salah, karena apa yang kita minta kepada Tuhan hanya bertujuan untuk memuaskan keinginan daging kita, seperti yang Yakobus sampaikan, " Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu." (Yakobus 4:3). Alasan utama mengapa Tuhan tidak menjawab doa-doa kita adalah karena ada dosa yang belum dibereskan. Dosa adalah penghalang dan penghambat utama untuk kita memperoleh jawaban doa. Nabi Yesaya menyampaikan, "Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu. Sebab tanganmu cemar oleh darah dan jarimu oleh kejahatan; mulutmu mengucapkan dusta, lidahmu menyebut-nyebut kecurangan." (Yesaya 59:1-3).
Apabila doa-doa kita tidak mendapatkan jawaban dari Tuhan, hal terbaik yang harus kita lakukan adalah koreksi diri dan datang kepada Tuhan dengan penuh kerendahan hati, serta mohon pengampunan dari-Nya! (Yohanes 1:9).
Jika hidup kita sudah benar-benar beres, Tuhan pasti akan menjawab doa-doa kita dan menepati janji-Nya!
Baca: Mazmur 143:1-12
"Jawablah aku dengan segera, ya TUHAN, sudah habis semangatku! Jangan sembunyikan wajah-Mu terhadap aku," Mazmur 143:7
Jika apa yang kita doakan kepada Tuhan langsung mendapatkan jawaban dari Tuhan, hal itu tidak mendatangkan masalah bagi kita. Namun bagaimana kalau doa-doa kita tak mendapatkan jawaban dari Tuhan? Hal ini akan menjadi awal permasalahan dalam hidup, sebab biasanya kita langsung menunjukkan reaksi yang negatif sebagai tanda ketidaksiapan kita menerima kenyataan yang ada: kecewa, bersungut-sungut, mengomel, dan kemudian menyalahkan Tuhan. Jika Tuhan tidak menjawab permohonan doa kita, bukan berarti Tuhan pilih kasih atau tidak memedulikan kita.
Salah satu penyebab mengapa Tuhan tidak menjawab doa-doa yang kita serukan kepada-Nya, atau berkata 'tidak' untuk permohonan doa kita, adalah karena kita salah dalam berdoa. Ini berkaitan dengan motivasi hati kita yang salah, karena apa yang kita minta kepada Tuhan hanya bertujuan untuk memuaskan keinginan daging kita, seperti yang Yakobus sampaikan, " Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu." (Yakobus 4:3). Alasan utama mengapa Tuhan tidak menjawab doa-doa kita adalah karena ada dosa yang belum dibereskan. Dosa adalah penghalang dan penghambat utama untuk kita memperoleh jawaban doa. Nabi Yesaya menyampaikan, "Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu. Sebab tanganmu cemar oleh darah dan jarimu oleh kejahatan; mulutmu mengucapkan dusta, lidahmu menyebut-nyebut kecurangan." (Yesaya 59:1-3).
Apabila doa-doa kita tidak mendapatkan jawaban dari Tuhan, hal terbaik yang harus kita lakukan adalah koreksi diri dan datang kepada Tuhan dengan penuh kerendahan hati, serta mohon pengampunan dari-Nya! (Yohanes 1:9).
Jika hidup kita sudah benar-benar beres, Tuhan pasti akan menjawab doa-doa kita dan menepati janji-Nya!
Wednesday, September 11, 2019
HIDUP YANG MENGHASILKAN BUAH
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 September 2019
Baca: Mazmur 67:1-8
"Tanah telah memberi hasilnya; ...Allah kita, memberkati kita." Mazmur 67:7
Semua orang yang menanam pohon tentunya berharap bahwa pohon atau benih yang ditanamnya itu bukan sekedar tumbuh dan berdaun lebat, melainkan dapat menghasilkan buah atau panenan, "Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya." (Lukas 6:44a). Inilah kerinduan Tuhan bagi orang percaya yaitu kehidupan yang berbuah. Apabila kita berbuah banyak, maka Bapa dipermuliakan di dalam hidup kita (Yohanes 15:8). Untuk dapat bertumbuh dan berbuah, akar pohon harus merambat masuk ke dalam tanah, dan semakin dalam akar itu menembus tanah semakin memungkinkan untuk mencapai sumber air dan mendapatkan sari-sari makanan yang dibutuhkan.
Begitu pula kerinduan rohani kita, untuk dapat bertumbuh dan berbuah, kita perlu berakar kuat secara mendalam di dalam firman Tuhan, sebab "...iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus." (Roma 10:17). Hal mendasar yang harus dilakukan untuk dapat berakar kuat di dalam firman Tuhan adalah miliki respons hati yang benar terhadap firman Tuhan itu sendiri, "...terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu," (Yakobus 1:21). Hati kita ini ibarat tanah yang siap ditaburi benih firman, karena itu kondisi hati kita sangat menentukan apakah benih firman itu dapat bertumbuh dengan baik atau tidak. Hati yang lemah lembut adalah gambaran tanah yang gembur (tidak keras), mau dibentuk, dan selalu terbuka terhadap teguran: "Orang yang mengarahkan telinga kepada teguran yang membawa kepada kehidupan akan tinggal di tengah-tengah orang bijak." (Amsal 15:31).
Selanjutnya, kita harus merenungkan firman Tuhan itu siang dan malam sampai dapat memahami apa yang menjadi kehendak Tuhan atas hidup kita, lalu firman tersebut kita praktekkan dalam hidup sehari-hari. "Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung." (Yosua 1:8). Orang Kristen yang senantiasa tinggal di dalam Tuhan dan firman-Nya akarnya tidak akan goncang (Amsal 12:3) dan akarnya pasti mendatangkan hasil (Amsal 12:12).
Kehidupan Kristen yang tak berbuah pasti akan dibuang oleh Tuhan!
Baca: Mazmur 67:1-8
"Tanah telah memberi hasilnya; ...Allah kita, memberkati kita." Mazmur 67:7
Semua orang yang menanam pohon tentunya berharap bahwa pohon atau benih yang ditanamnya itu bukan sekedar tumbuh dan berdaun lebat, melainkan dapat menghasilkan buah atau panenan, "Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya." (Lukas 6:44a). Inilah kerinduan Tuhan bagi orang percaya yaitu kehidupan yang berbuah. Apabila kita berbuah banyak, maka Bapa dipermuliakan di dalam hidup kita (Yohanes 15:8). Untuk dapat bertumbuh dan berbuah, akar pohon harus merambat masuk ke dalam tanah, dan semakin dalam akar itu menembus tanah semakin memungkinkan untuk mencapai sumber air dan mendapatkan sari-sari makanan yang dibutuhkan.
Begitu pula kerinduan rohani kita, untuk dapat bertumbuh dan berbuah, kita perlu berakar kuat secara mendalam di dalam firman Tuhan, sebab "...iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus." (Roma 10:17). Hal mendasar yang harus dilakukan untuk dapat berakar kuat di dalam firman Tuhan adalah miliki respons hati yang benar terhadap firman Tuhan itu sendiri, "...terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu," (Yakobus 1:21). Hati kita ini ibarat tanah yang siap ditaburi benih firman, karena itu kondisi hati kita sangat menentukan apakah benih firman itu dapat bertumbuh dengan baik atau tidak. Hati yang lemah lembut adalah gambaran tanah yang gembur (tidak keras), mau dibentuk, dan selalu terbuka terhadap teguran: "Orang yang mengarahkan telinga kepada teguran yang membawa kepada kehidupan akan tinggal di tengah-tengah orang bijak." (Amsal 15:31).
Selanjutnya, kita harus merenungkan firman Tuhan itu siang dan malam sampai dapat memahami apa yang menjadi kehendak Tuhan atas hidup kita, lalu firman tersebut kita praktekkan dalam hidup sehari-hari. "Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung." (Yosua 1:8). Orang Kristen yang senantiasa tinggal di dalam Tuhan dan firman-Nya akarnya tidak akan goncang (Amsal 12:3) dan akarnya pasti mendatangkan hasil (Amsal 12:12).
Kehidupan Kristen yang tak berbuah pasti akan dibuang oleh Tuhan!
Tuesday, September 10, 2019
POHON TARBANTIN: Kuat dan Menjadi Berkat
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 September 2019
Baca: Yesaya 61:1-11
"untuk mengaruniakan kepada mereka perhiasan kepala ganti abu, minyak untuk pesta ganti kain kabung, nyanyian puji-pujian ganti semangat yang pudar, supaya orang menyebutkan mereka 'pohon tarbantin kebenaran', 'tanaman TUHAN' untuk memperlihatkan keagungan-Nya." Yesaya 61:3
Alkitab mencatat ada berbagai jenis tanaman atau pohon yang seringkali dipakai sebagai ilustrasi untuk menggambarkan tentang keadaan hidup manusia, semisal: pohon anggur, pohon aras, pohon ara, pohon tarbantin, dan sebagainya.
Melalui nabi Yesaya ini Tuhan kembali menegaskan bahwa kehidupan orang percaya di tengah-tengah dunia ini seharusnya seperti pohon tarbantin (ayat nas). Pohon tarbantin adalah salah satu pohon terbesar di Timur Tengah, yang tumbuh di daerah padang gurun. Pohon ini memiliki ukuran yang cukup besar dan berdaun lebat. Yang lebih mengejutkan dan tak pernah terpikirkan oleh manusia, akar pohon ini dapat merambat sampai di kedalaman 45-65 meter untuk mencari sumber mataair murni untuk pertumbuhannya. Karena berakar kuat sampai ke dalam, maka pohon ini tetap kuat bertahan di musim kering sekalipun, karena akar-akarnya mampu menyerap air di sumber mataair yang murni. Selain itu, karena daunnya yang lebat dan rindang, pohon tarbantin seringkali menjadi tempat peristirahatan dan berteduh bagi orang-orang yang merasa kelelahan atau kepanasan. Alkitab menyatakan bahwa pohon tarbantin adalah pohon kebenaran, tanaman Tuhan memperlihatkan keagungan-Nya (ayat nas).
Bagaimana supaya kehidupan orang percaya bisa seperti pohon tarbantin yang kuat dan mampu menjadi berkat? Tidak ada jalan lain, selain kita harus berakar kuat di dalam Tuhan, tinggal dekat dengan mataair. Inilah yang digambarkan pemazmur, "...yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil." (Mazmur 1:2-3). Akar adalah bagian pokok tanaman yang dapat merambat ke dalam bumi, mencari sumber mataair. Bagi orang percaya, Tuhan adalah sumber mataair kehidupan itu.
"...semua orang yang melihat mereka akan mengakui, bahwa mereka adalah keturunan yang diberkati TUHAN." Yesaya 61:9
Baca: Yesaya 61:1-11
"untuk mengaruniakan kepada mereka perhiasan kepala ganti abu, minyak untuk pesta ganti kain kabung, nyanyian puji-pujian ganti semangat yang pudar, supaya orang menyebutkan mereka 'pohon tarbantin kebenaran', 'tanaman TUHAN' untuk memperlihatkan keagungan-Nya." Yesaya 61:3
Alkitab mencatat ada berbagai jenis tanaman atau pohon yang seringkali dipakai sebagai ilustrasi untuk menggambarkan tentang keadaan hidup manusia, semisal: pohon anggur, pohon aras, pohon ara, pohon tarbantin, dan sebagainya.
Melalui nabi Yesaya ini Tuhan kembali menegaskan bahwa kehidupan orang percaya di tengah-tengah dunia ini seharusnya seperti pohon tarbantin (ayat nas). Pohon tarbantin adalah salah satu pohon terbesar di Timur Tengah, yang tumbuh di daerah padang gurun. Pohon ini memiliki ukuran yang cukup besar dan berdaun lebat. Yang lebih mengejutkan dan tak pernah terpikirkan oleh manusia, akar pohon ini dapat merambat sampai di kedalaman 45-65 meter untuk mencari sumber mataair murni untuk pertumbuhannya. Karena berakar kuat sampai ke dalam, maka pohon ini tetap kuat bertahan di musim kering sekalipun, karena akar-akarnya mampu menyerap air di sumber mataair yang murni. Selain itu, karena daunnya yang lebat dan rindang, pohon tarbantin seringkali menjadi tempat peristirahatan dan berteduh bagi orang-orang yang merasa kelelahan atau kepanasan. Alkitab menyatakan bahwa pohon tarbantin adalah pohon kebenaran, tanaman Tuhan memperlihatkan keagungan-Nya (ayat nas).
Bagaimana supaya kehidupan orang percaya bisa seperti pohon tarbantin yang kuat dan mampu menjadi berkat? Tidak ada jalan lain, selain kita harus berakar kuat di dalam Tuhan, tinggal dekat dengan mataair. Inilah yang digambarkan pemazmur, "...yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil." (Mazmur 1:2-3). Akar adalah bagian pokok tanaman yang dapat merambat ke dalam bumi, mencari sumber mataair. Bagi orang percaya, Tuhan adalah sumber mataair kehidupan itu.
"...semua orang yang melihat mereka akan mengakui, bahwa mereka adalah keturunan yang diberkati TUHAN." Yesaya 61:9
Monday, September 9, 2019
GUA ADULAM: Hidup yang Berdampak (2)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 9 September 2019
Baca: Mazmur 57:1-12
"Aku terbaring di tengah-tengah singa yang suka menerkam anak-anak manusia, yang giginya laksana tombak dan panah, dan lidahnya laksana pedang tajam." Mazmur 57:5
Tak bisa dibayangkan bagaimana perasaan Daud saat berada di gua Adulam, tinggal bersama-sama dengan orang-orang bermasalah, meski ia sendiri juga mengalami masalah yang berat. Namun Daud tidak komplain atau marah kepada Tuhan, ia tidak terpengaruh situasi atau orang-orang yang ada di sekitarnya, matanya terus terarah kepada Tuhan, karena ia tahu bahwa tidak ada seorang pun yang sanggup menolong dan melepaskan dia dari segala kesesakan selain Tuhan: "Kasihanilah aku, ya Allah, kasihanilah aku, sebab kepada-Mulah jiwaku berlindung; dalam naungan sayap-Mu aku akan berlindung, sampai berlalu penghancuran itu." (Mazmur 57:2).
Saat berada di gua Adulam inilah Daud terus membangun imannya dengan membangun persekutuan dengan Tuhan sekalipun situasi tidak mendukung. Di kala pagi, saat orang-orang mungkin sedang tertidur pulas, Daud bangun dan bermazmur bagi Tuhan, "Hatiku siap, ya Allah, hatiku siap; aku mau menyanyi, aku mau bermazmur. Bangunlah, hai jiwaku, bangunlah, hai gambus dan kecapi, aku mau membangunkan fajar! Aku mau bersyukur kepada-Mu di antara bangsa-bangsa, ya Tuhan, aku mau bermazmur bagi-Mu di antara suku-suku bangsa;" (Mazmur 57:8-10). Ia sangat percaya di mana ada puji-pujian bagi Tuhan, di situ ada lawatan Roh Tuhan, sebab "...Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel." (Mazmur 22:4).
Dengan terus membangun cara hidup sebagaimana yang biasa dilakukannya setiap hari, yaitu bersekutu dan memuji Tuhan, Roh Tuhan mengurapinya. Karena Roh Tuhan ada padanya, keberadaan Daud di gua itu akhirnya membawa dampak yang luar biasa bagi orang-orang yang ada di sekitarnya. Terbukti Daud dipilih untuk menjadi pemimpin atas mereka (1 Samuel 22:2). Bagaimana mungkin orang-orang memilih Daud untuk menjadi pemimpin, bila mereka tak melihat sesuatu yang 'berbeda' di dalam diri Daud? Daud dipercaya orang-orang di dalam gua itu menjadi pemimpin atas mereka karena telah terlebih dahulu menunjukkan keteladanan hidup.
Hidup kita pasti akan berdampak bagi orang lain bila Roh Tuhan bekerja di dalam kita. Itu adalah buah dari persekutuan yang karib dengan Tuhan setiap hari.
Baca: Mazmur 57:1-12
"Aku terbaring di tengah-tengah singa yang suka menerkam anak-anak manusia, yang giginya laksana tombak dan panah, dan lidahnya laksana pedang tajam." Mazmur 57:5
Tak bisa dibayangkan bagaimana perasaan Daud saat berada di gua Adulam, tinggal bersama-sama dengan orang-orang bermasalah, meski ia sendiri juga mengalami masalah yang berat. Namun Daud tidak komplain atau marah kepada Tuhan, ia tidak terpengaruh situasi atau orang-orang yang ada di sekitarnya, matanya terus terarah kepada Tuhan, karena ia tahu bahwa tidak ada seorang pun yang sanggup menolong dan melepaskan dia dari segala kesesakan selain Tuhan: "Kasihanilah aku, ya Allah, kasihanilah aku, sebab kepada-Mulah jiwaku berlindung; dalam naungan sayap-Mu aku akan berlindung, sampai berlalu penghancuran itu." (Mazmur 57:2).
Saat berada di gua Adulam inilah Daud terus membangun imannya dengan membangun persekutuan dengan Tuhan sekalipun situasi tidak mendukung. Di kala pagi, saat orang-orang mungkin sedang tertidur pulas, Daud bangun dan bermazmur bagi Tuhan, "Hatiku siap, ya Allah, hatiku siap; aku mau menyanyi, aku mau bermazmur. Bangunlah, hai jiwaku, bangunlah, hai gambus dan kecapi, aku mau membangunkan fajar! Aku mau bersyukur kepada-Mu di antara bangsa-bangsa, ya Tuhan, aku mau bermazmur bagi-Mu di antara suku-suku bangsa;" (Mazmur 57:8-10). Ia sangat percaya di mana ada puji-pujian bagi Tuhan, di situ ada lawatan Roh Tuhan, sebab "...Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel." (Mazmur 22:4).
Dengan terus membangun cara hidup sebagaimana yang biasa dilakukannya setiap hari, yaitu bersekutu dan memuji Tuhan, Roh Tuhan mengurapinya. Karena Roh Tuhan ada padanya, keberadaan Daud di gua itu akhirnya membawa dampak yang luar biasa bagi orang-orang yang ada di sekitarnya. Terbukti Daud dipilih untuk menjadi pemimpin atas mereka (1 Samuel 22:2). Bagaimana mungkin orang-orang memilih Daud untuk menjadi pemimpin, bila mereka tak melihat sesuatu yang 'berbeda' di dalam diri Daud? Daud dipercaya orang-orang di dalam gua itu menjadi pemimpin atas mereka karena telah terlebih dahulu menunjukkan keteladanan hidup.
Hidup kita pasti akan berdampak bagi orang lain bila Roh Tuhan bekerja di dalam kita. Itu adalah buah dari persekutuan yang karib dengan Tuhan setiap hari.
Sunday, September 8, 2019
GUA ADULAM: Hidup yang Berdampak (1)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 September 2019
Baca: 1 Samuel 22:1-5
"Berhimpunlah juga kepadanya setiap orang yang dalam kesukaran, setiap orang yang dikejar-kejar tukang piutang, setiap orang yang sakit hati, maka ia menjadi pemimpin mereka. Bersama-sama dengan dia ada kira-kira empat ratus orang." 1 Samuel 22:2
Karena tertekan, takut dan sangat frustasi oleh karena intimidasi Saul yang tak berhenti mengejar dan berniat untuk membunuhnya, Daud pun hidup dalam pelarian dari satu tempat ke tempat yang lain. Suatu ketika Daud "...melarikan diri ke gua Adulam." (1 Samuel 22:1a). Kata 'Adulam' memiliki arti tempat yang tertutup. Di zaman dahulu gua menjadi tempat persembunyian yang paling aman bagi orang-orang yang bermasalah, "...orang yang dalam kesukaran, setiap orang yang dikejar-kejar tukang piutang, setiap orang yang sakit hati," (ayat nas). Di gua Adulam inilah berkumpul orang-orang yang merasa senasib: mereka yang sedang bermasalah, mereka yang sedang frustasi, dan mereka yang mengalami luka-luka batin, yang jumlahnya kira-kira empat ratus orang.
Mengapa mereka memilih untuk bersembunyi di dalam gua Adulam? Karena letaknya yang berada di lereng bukit yang sangat terjal dan sulit dijangkau oleh siapa pun. Mungkin keadaan kita saat ini tidak jauh berbeda dengan orang-orang yang berada di gua Adulam itu. Kita merasa bahwa tidak ada lagi orang yang mau peduli dengan keadaan kita; semua memandang kita dengan sebelah mata dan tak lagi menganggap kita; atau mungkin kita sedang memikul beban hidup yang teramat berat oleh karena masa lalu kita yang sangat kelam dan dosa-dosa kita yang setinggi gunung, sehingga kita merasa diri tidak berharga lagi, tidak layak, tidak pantas, baik itu di hadapan manusia, terlebih-lebih di hadapan Tuhan. Kita pun berpikir mustahil hidup kita bisa dipulihkan!
Seburuk apa pun keadaan kita, asalkan kita mau merendahkan diri datang kepada Tuhan, memohon ampunan-Nya dan bertobat dengan sungguh-sungguh, Tuhan pasti sanggup mengubahkan: "Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba." (Yesaya 1:18). Tak perlu kita larut dalam keputusasaan dan terus mengasihani diri sendiri! Kita harus bangkit! Gua Adulam adalah tempat yang tepat untuk kita merefleksi diri dan mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh, "Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka;" (Mazmur 147:3).
Baca: 1 Samuel 22:1-5
"Berhimpunlah juga kepadanya setiap orang yang dalam kesukaran, setiap orang yang dikejar-kejar tukang piutang, setiap orang yang sakit hati, maka ia menjadi pemimpin mereka. Bersama-sama dengan dia ada kira-kira empat ratus orang." 1 Samuel 22:2
Karena tertekan, takut dan sangat frustasi oleh karena intimidasi Saul yang tak berhenti mengejar dan berniat untuk membunuhnya, Daud pun hidup dalam pelarian dari satu tempat ke tempat yang lain. Suatu ketika Daud "...melarikan diri ke gua Adulam." (1 Samuel 22:1a). Kata 'Adulam' memiliki arti tempat yang tertutup. Di zaman dahulu gua menjadi tempat persembunyian yang paling aman bagi orang-orang yang bermasalah, "...orang yang dalam kesukaran, setiap orang yang dikejar-kejar tukang piutang, setiap orang yang sakit hati," (ayat nas). Di gua Adulam inilah berkumpul orang-orang yang merasa senasib: mereka yang sedang bermasalah, mereka yang sedang frustasi, dan mereka yang mengalami luka-luka batin, yang jumlahnya kira-kira empat ratus orang.
Mengapa mereka memilih untuk bersembunyi di dalam gua Adulam? Karena letaknya yang berada di lereng bukit yang sangat terjal dan sulit dijangkau oleh siapa pun. Mungkin keadaan kita saat ini tidak jauh berbeda dengan orang-orang yang berada di gua Adulam itu. Kita merasa bahwa tidak ada lagi orang yang mau peduli dengan keadaan kita; semua memandang kita dengan sebelah mata dan tak lagi menganggap kita; atau mungkin kita sedang memikul beban hidup yang teramat berat oleh karena masa lalu kita yang sangat kelam dan dosa-dosa kita yang setinggi gunung, sehingga kita merasa diri tidak berharga lagi, tidak layak, tidak pantas, baik itu di hadapan manusia, terlebih-lebih di hadapan Tuhan. Kita pun berpikir mustahil hidup kita bisa dipulihkan!
Seburuk apa pun keadaan kita, asalkan kita mau merendahkan diri datang kepada Tuhan, memohon ampunan-Nya dan bertobat dengan sungguh-sungguh, Tuhan pasti sanggup mengubahkan: "Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba." (Yesaya 1:18). Tak perlu kita larut dalam keputusasaan dan terus mengasihani diri sendiri! Kita harus bangkit! Gua Adulam adalah tempat yang tepat untuk kita merefleksi diri dan mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh, "Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka;" (Mazmur 147:3).
Saturday, September 7, 2019
MENGASIHI SEBAGAI HARGA MATI
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 7 September 2019
Baca: Yohanes 13:31-35
"Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi." Yohanes 13:35
Bagi orang percaya kasih bukanlah sekedar suatu ajaran yang harus dipahami dan dimengerti, melainkan lebih daripada itu, kasih adalah inti kekristenan yang harus dipraktekkan dan dilakukan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Kristus memberikan sebuah perintah yang tidak bisa ditawar yaitu: "...supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi." (Yohanes 13:34). Dalam kasih ini Kristus bukan hanya sekedar mengajarkan dan memberikan perintah kepada para pengikut-Nya, tetapi Ia sendiri telah memberikan teladan hidup bagaimana seharusnya mengasihi dengan benar.
Banyak orang Kristen merasa keberatan bila harus mengasihi orang lain, karena mengasihi itu selalu identik dengan tidakan memberi atau berkorban. Kristus sendiri telah membuktikan betapa Ia mengasihi kita dengan mengorbankan nyawa-Nya di kayu salib: "Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya..." (Yohanes 15:13). Karena kita telah mengalami kasih Kristus, maka sudah sepatutnya kita membagikan kasih itu kepada orang lain. Mengasihi yang Kristus ajarkan bukan sebatas kasih terhadap orang yang mengasihi kita, tapi juga kasih kepada orang yang membenci kita (musuh) sekalipun. "Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian." (Lukas 6:32-33). Jujur kita akui bahwa mengasihi musuh adalah hal yang teramat sulit untuk dilakukan, bila hal itu dilakukan dengan kekuatan sendiri.
Kita harus ingat bahwa Tuhan memerintahkan kita untuk mengasihi karena kita sudah memiliki benih kasih Bapa (1 Yohanes 4:7). Inilah yang memampukan kita untuk mengasihi, sedangkan dari pihak kita hanya diperlukan 'kemauan', bukan kemampuan. Roh Tuhan yang ada di dalam kita itulah yang memapukan kita untuk bisa mengasihi.
Jangan pernah berkata kita mengasihi Tuhan, bila terhadap sesama yang terlihat secara kasat mata saja kita tak menunjukkan kasih!
Baca: Yohanes 13:31-35
"Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi." Yohanes 13:35
Bagi orang percaya kasih bukanlah sekedar suatu ajaran yang harus dipahami dan dimengerti, melainkan lebih daripada itu, kasih adalah inti kekristenan yang harus dipraktekkan dan dilakukan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Kristus memberikan sebuah perintah yang tidak bisa ditawar yaitu: "...supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi." (Yohanes 13:34). Dalam kasih ini Kristus bukan hanya sekedar mengajarkan dan memberikan perintah kepada para pengikut-Nya, tetapi Ia sendiri telah memberikan teladan hidup bagaimana seharusnya mengasihi dengan benar.
Banyak orang Kristen merasa keberatan bila harus mengasihi orang lain, karena mengasihi itu selalu identik dengan tidakan memberi atau berkorban. Kristus sendiri telah membuktikan betapa Ia mengasihi kita dengan mengorbankan nyawa-Nya di kayu salib: "Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya..." (Yohanes 15:13). Karena kita telah mengalami kasih Kristus, maka sudah sepatutnya kita membagikan kasih itu kepada orang lain. Mengasihi yang Kristus ajarkan bukan sebatas kasih terhadap orang yang mengasihi kita, tapi juga kasih kepada orang yang membenci kita (musuh) sekalipun. "Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian." (Lukas 6:32-33). Jujur kita akui bahwa mengasihi musuh adalah hal yang teramat sulit untuk dilakukan, bila hal itu dilakukan dengan kekuatan sendiri.
Kita harus ingat bahwa Tuhan memerintahkan kita untuk mengasihi karena kita sudah memiliki benih kasih Bapa (1 Yohanes 4:7). Inilah yang memampukan kita untuk mengasihi, sedangkan dari pihak kita hanya diperlukan 'kemauan', bukan kemampuan. Roh Tuhan yang ada di dalam kita itulah yang memapukan kita untuk bisa mengasihi.
Jangan pernah berkata kita mengasihi Tuhan, bila terhadap sesama yang terlihat secara kasat mata saja kita tak menunjukkan kasih!
Friday, September 6, 2019
SIAPAKAH KITA, DIBENCI OLEH DUNIA?
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 6 September 2019
Baca: Yohanes 15:18-27
"Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu." Yohanes 15:18
Menjadi pengikut Kristus berarti kita harus siap dengan segala konsekuensinya, artinya kita harus siap dengan segala kemungkinan terburuk, dan rela bila dunia membenci dan menolak kita. Ini adalah kenyataan yang tak bisa dihindari, sebab Alkitab sudah menyatakan bahwa dunia telah lebih dahulu membenci Kristus daripada kita. Oleh karena itu kita tak perlu terkejut dan merasa heran bila selama pengiringan kita kepada Tuhan kita diperhadapkan dengan banyak sekali tantangan: tekananan, aniaya, dibenci, intimidasi, dikucilkan, atau beroleh perlakuan yang tidak adil, di segala tempat.
Di masa-masa akhir seperti sekarang ini banyak orang dunia yang justru menganggap bahwa menganiaya pengikut Kristus adalah perwujudan dari ibadah dan bakti mereka kepada Tuhan: "Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah." (Yohanes 16:2). Haruskah orang percaya menjadi takut, gentar, tawar hati, dan kemudian menyerah untuk mencari aman dengan menyangkal iman dan meninggalkan Kristus? Perhatikan apa yang Tuhan firmankan, "Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." (Matius 5:10-12).
Rasul Petrus turut menguatkan, "Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung. Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah." (1 Petrus 2:19, 20b). Seberat apapun tantangannya, kita harus tetap setia mengiring Kristus sampai akhir hidup kita, sebab "...semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama." (1 Petrus 5:9) dan orang yang bertahan sampai kesudahannya akan selamat (Matius 10:22).
"Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya." Ibrani 10:35
Baca: Yohanes 15:18-27
"Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu." Yohanes 15:18
Menjadi pengikut Kristus berarti kita harus siap dengan segala konsekuensinya, artinya kita harus siap dengan segala kemungkinan terburuk, dan rela bila dunia membenci dan menolak kita. Ini adalah kenyataan yang tak bisa dihindari, sebab Alkitab sudah menyatakan bahwa dunia telah lebih dahulu membenci Kristus daripada kita. Oleh karena itu kita tak perlu terkejut dan merasa heran bila selama pengiringan kita kepada Tuhan kita diperhadapkan dengan banyak sekali tantangan: tekananan, aniaya, dibenci, intimidasi, dikucilkan, atau beroleh perlakuan yang tidak adil, di segala tempat.
Di masa-masa akhir seperti sekarang ini banyak orang dunia yang justru menganggap bahwa menganiaya pengikut Kristus adalah perwujudan dari ibadah dan bakti mereka kepada Tuhan: "Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah." (Yohanes 16:2). Haruskah orang percaya menjadi takut, gentar, tawar hati, dan kemudian menyerah untuk mencari aman dengan menyangkal iman dan meninggalkan Kristus? Perhatikan apa yang Tuhan firmankan, "Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." (Matius 5:10-12).
Rasul Petrus turut menguatkan, "Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung. Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah." (1 Petrus 2:19, 20b). Seberat apapun tantangannya, kita harus tetap setia mengiring Kristus sampai akhir hidup kita, sebab "...semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama." (1 Petrus 5:9) dan orang yang bertahan sampai kesudahannya akan selamat (Matius 10:22).
"Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya." Ibrani 10:35
Subscribe to:
Comments (Atom)