Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 4 April 2019
Baca: Yesaya 40:12-31
"Hidupku tersembunyi dari TUHAN, dan hakku tidak diperhatikan Allahku?" Yesaya 40:27
FOOTPRINT adalah judul sebuah sajak yang sangat terkenal yang menyentuh hati jutaan manusia di seluruh dunia. Sajak ini dikarang oleh Margaret Fishback, seorang guru sekolah dasar Kristen untuk anak-anak Indian di Canada. Sajak ini begitu populer di kalangan umat Kristiani, mengisahkan tentang seseorang yang tengah berjalan menyusuri pantai yang berpasir. Sajak ini seringkali dipakai untuk menggambarkan tentang hubungan manusia dengan Tuhan. Ketika menoleh ke belakang ia melihat dua pasang jejak kaki di pasir, sepasang jejak kakinya dan sepasang lagi jejak kaki Tuhan. Tapi ketika sedang dalam situasi sulit yang terlihat hanyalah sepasang jejak kaki. Ia pun mengeluh dan memprotes: Tuhan, pada masa-masa berat dalam hidupku, mengapa Engkau malah membiarkan dan meninggalkan aku berjalan sendirian? Tuhan menjawab: "Aku tidak pernah meninggalkan kamu. Jejak kaki yang sepasang itu adalah jejak kaki-Ku, karena saat itu Aku sedang menggendong kamu!"
Suatu ketika bangsa Israel sedang mengalami masa-masa sulit, mereka harus kehilangan negerinya dan hidup sebagai buangan di negeri asing. Begitu berat penderitaan yang dialami sampai-sampai mereka merasa telah ditinggalkan Tuhan. "Hidupku tersembunyi dari TUHAN, dan hakku tidak diperhatikan Allahku?" (ayat nas). Benarkah? Tuhan tidak pernah meninggalkan anak-anak-Nya, terlebih-lebih saat dalam situasi sulit. "Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya." (Yesaya 40:29). Justru yang seringkali terjadi adalah kita meninggalkan Tuhan.
Tetaplah berpaut kepada Tuhan yang terus bertekun menanti-nantikan Tuhan, sebab "...orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka
seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya;" (Yesaya 40:31). Jangan pernah merasa sendiri, apalagi ditinggalkan Tuhan, sebab Tuhan tidak pernah meninggalkan kita sedetik pun, asal kita hidup seturut kehendak-Nya.
"Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak
menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak
akan melupakan engkau." Yesaya 49:15
Thursday, April 4, 2019
Wednesday, April 3, 2019
MERASA BENAR TAK BUTUH KESELAMATAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 3 April 2019
Baca: Matius 9:9-13
"Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit." Matius 9:12
Banyak orang menganggap dirinya sebagai orang benar dan baik, karena itulah mereka merasa tidak memerlukan keselamatan yang Kristus tawarkan. Kristus berkata, "Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa." (Matius 9:13b). Dengan kata lain, hanya mereka yang dengan kerendahan hati mau mengakui bahwa dirinya orang berdosalah yang akan menerima anugerah keselamatan dari Tuhan.
Hal keselamatan rohani itu identik dengan kesembuhan fisik. Apabila seseorang merasa dirinya sehat-sehat saja (tidak sakit), tentunya ia tidak memerlukan dokter. Adakalanya orang tidak menyadari bahwa ia sedang terserang oleh sakit-penyakit, yang meski tidak menimbulkan rasa sakit, secara perlahan namun pasti penyakit tersebut terus menggerogoti tubuhnya, dan tiba-tiba seperti bom waktu yang akhirnya meledak, sakit yang diderita baru dirasa saat sudah berada di stadium akhir. Seringkali orang berpikir bahwa rohaninya sehat-sehat saja, padahal sesungguhnya ia telah berlumuran dengan dosa dan sedang berada di ambang pintu kehancuran. Orang-orang Farisi, yang merasa dirinya paling benar, dengan keras mengecam Kristus yang sedang makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa. Kristus pun menyindir mereka: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit." (Matius 9:12). Menganggap diri sendiri baik dan benar adalah kesombongan besar!
Kalau seseorang merasa dirinya adalah orang baik dan benar, ia tak lagi memerlukan juruselamat. "Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah." (Matius 19:17b). Tak selayaknya manusia menghakimi sesamanya karena tak seorang pun yang sempurna. "Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu." (Matius 7:3-5). Adalah bijak untuk selalu mengoreksi diri dan menguji pekerjaan diri sendiri (Galatia 6:4).
Seorang Kristen yang sejati tidak akan hidup dalam kemunafikan!
Baca: Matius 9:9-13
"Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit." Matius 9:12
Banyak orang menganggap dirinya sebagai orang benar dan baik, karena itulah mereka merasa tidak memerlukan keselamatan yang Kristus tawarkan. Kristus berkata, "Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa." (Matius 9:13b). Dengan kata lain, hanya mereka yang dengan kerendahan hati mau mengakui bahwa dirinya orang berdosalah yang akan menerima anugerah keselamatan dari Tuhan.
Hal keselamatan rohani itu identik dengan kesembuhan fisik. Apabila seseorang merasa dirinya sehat-sehat saja (tidak sakit), tentunya ia tidak memerlukan dokter. Adakalanya orang tidak menyadari bahwa ia sedang terserang oleh sakit-penyakit, yang meski tidak menimbulkan rasa sakit, secara perlahan namun pasti penyakit tersebut terus menggerogoti tubuhnya, dan tiba-tiba seperti bom waktu yang akhirnya meledak, sakit yang diderita baru dirasa saat sudah berada di stadium akhir. Seringkali orang berpikir bahwa rohaninya sehat-sehat saja, padahal sesungguhnya ia telah berlumuran dengan dosa dan sedang berada di ambang pintu kehancuran. Orang-orang Farisi, yang merasa dirinya paling benar, dengan keras mengecam Kristus yang sedang makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa. Kristus pun menyindir mereka: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit." (Matius 9:12). Menganggap diri sendiri baik dan benar adalah kesombongan besar!
Kalau seseorang merasa dirinya adalah orang baik dan benar, ia tak lagi memerlukan juruselamat. "Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah." (Matius 19:17b). Tak selayaknya manusia menghakimi sesamanya karena tak seorang pun yang sempurna. "Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu." (Matius 7:3-5). Adalah bijak untuk selalu mengoreksi diri dan menguji pekerjaan diri sendiri (Galatia 6:4).
Seorang Kristen yang sejati tidak akan hidup dalam kemunafikan!
Tuesday, April 2, 2019
IBADAH HANYA 'WAH' SECARA LAHIRIAH
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 2 April 2019
Baca: Matius 15:1-20
"Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia." Matius 15:9
Orang-orang Farisi dan ahli Taurat sangat ahli dalam mengajar dan menafsir Perjanjian Lama, khususnya kelima kitab Musa atau yang biasa disebut Pentateukh. Ketaatan mereka menjalankan aturan peribadatan dan adat istiadat tak perlu diragukan lagi. Itulah sebabnya orang Farisi dan ahli Taurat sangat mengecam keras mereka yang melanggar atau yang tidak dapat menjalankan aturan peribadatan dan adat istiadat dengan benar, bahkan memberi 'cap' sebagai orang yang berdosa. beberapa orang Farisi dan ahli Taurat datang kepada Tuhan dan memprotes: "Mengapa murid-murid-Mu melanggar adat istiadat nenek moyang kita? Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan." (Matius 15:2).
Tuhan mengecam keras sikap orang-orang Farisi dan ahli Taurat ini. Ia menegaskan bahwa ibadah kepada Tuhan bukanlah hanya menyangkut aturan keagamaan, melainkan juga berkenaan dengan praktek hidup sehari-hari. Bukan hanya soal rajin ke gereja atau tampak aktif dalam pelayanan, melainkan juga soal perilaku atau gaya hidup. Ini berbicara tentang buah pertobatan! Sebab "Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka." (Matius 7:16a). Apalah artinya rajin ke gereja, tampak tekun berdoa dan berpuasa, memberi persembahan dalam jumlah besar, jika semuanya disertai dengan motivasi yang tidak benar yaitu supaya dilihat orang, dianggap suci, dan beroleh pujian dari orang lain? Tuhan tidak ingin kita melakukan ibadah dan pelayanan hanya sebatas aktivitas jasmaniah agar terlihat 'wah' secara kasat mata, atau memuji-muji Tuhan yang hanya sebatas lips service: "Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku." (Matius 15:8).... atau kita hanya sekedar hafal ayat-ayat Alkitab dan itu seringkali kita jadikan senjata untuk menghakimi orang lain.
Ibadah dan pelayanan, jika tanpa disertai ketaatan melakukan kehendak Tuhan, adalah sia-sia. Sebab, "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga." (Matius 7:21).
Kapak sudah tersedia! Setiap pohon yang tidak berbuah pasti akan ditebang dan dibuang! Matius 3:10
Baca: Matius 15:1-20
"Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia." Matius 15:9
Orang-orang Farisi dan ahli Taurat sangat ahli dalam mengajar dan menafsir Perjanjian Lama, khususnya kelima kitab Musa atau yang biasa disebut Pentateukh. Ketaatan mereka menjalankan aturan peribadatan dan adat istiadat tak perlu diragukan lagi. Itulah sebabnya orang Farisi dan ahli Taurat sangat mengecam keras mereka yang melanggar atau yang tidak dapat menjalankan aturan peribadatan dan adat istiadat dengan benar, bahkan memberi 'cap' sebagai orang yang berdosa. beberapa orang Farisi dan ahli Taurat datang kepada Tuhan dan memprotes: "Mengapa murid-murid-Mu melanggar adat istiadat nenek moyang kita? Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan." (Matius 15:2).
Tuhan mengecam keras sikap orang-orang Farisi dan ahli Taurat ini. Ia menegaskan bahwa ibadah kepada Tuhan bukanlah hanya menyangkut aturan keagamaan, melainkan juga berkenaan dengan praktek hidup sehari-hari. Bukan hanya soal rajin ke gereja atau tampak aktif dalam pelayanan, melainkan juga soal perilaku atau gaya hidup. Ini berbicara tentang buah pertobatan! Sebab "Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka." (Matius 7:16a). Apalah artinya rajin ke gereja, tampak tekun berdoa dan berpuasa, memberi persembahan dalam jumlah besar, jika semuanya disertai dengan motivasi yang tidak benar yaitu supaya dilihat orang, dianggap suci, dan beroleh pujian dari orang lain? Tuhan tidak ingin kita melakukan ibadah dan pelayanan hanya sebatas aktivitas jasmaniah agar terlihat 'wah' secara kasat mata, atau memuji-muji Tuhan yang hanya sebatas lips service: "Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku." (Matius 15:8).... atau kita hanya sekedar hafal ayat-ayat Alkitab dan itu seringkali kita jadikan senjata untuk menghakimi orang lain.
Ibadah dan pelayanan, jika tanpa disertai ketaatan melakukan kehendak Tuhan, adalah sia-sia. Sebab, "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga." (Matius 7:21).
Kapak sudah tersedia! Setiap pohon yang tidak berbuah pasti akan ditebang dan dibuang! Matius 3:10
Monday, April 1, 2019
PEMELIHARAAN TUHAN ATAS HIDUP KITA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 1 April 2019
Baca: Filipi 4:10-20
"Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus." Filipi 4:19
Tuhan menciptakan manusia pada hari terakhir, setelah segala sesuatu yang diperlukan manusia tersedia. Kemudian Ia menempatkan manusia di taman Eden dan berfirman: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." (Kejadian 1:28), dan "Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu." (Kejadian 1:29).
Bentuk pemeliharaan Tuhan bagi kehidupan manusia: 1. Tuhan menyediakan. Jadi, bukan tanpa alasan jika Tuhan menciptakan manusia pada hari ke-6 setelah tumbuhan, hewan, dan musim diciptakan-Nya. Ini menunjukkan bahwa Tuhan telah menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan manusia. Tuhan menciptakan tumbuh-tumbuhan dan sumber daya alam untuk menunjang kelangsungan hidup manusia. Tuhan juga menyediakan udara segar untuk kita hirup setiap harinya. 2. Tuhan menjamin. Firman Tuhan berkata, "Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai." (Matius 6:25a). Tuhan memberikan gambaran tentang burung di udara dan bunga bakung di padang yang dipelihara-Nya, terlebih-lebih manusia yang diciptakan segambar dan serupa dengan Dia (Kejadian 1:26). Tak perlu kita kuatir akan hidup ini, sebab Tuhan bertanggung jawab penuh atas kehidupan kita. 3. Menaburlah. Hidup berkelimpahan adalah salah satu bentuk pemeliharaan Tuhan atas umat-Nya. Agar kita tidak mengalami kekurangan, hal yang firman Tuhan ajarkan kepada kita adalah menabur: "Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu." (Lukas 6:38).
Rancangan Tuhan atas hidup kita adalah hidup yang diberkati. Jadi tidak ada alasan bagi kita untuk tidak berkata bahwa Tuhan itu baik dan sangat baik!
"Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan." Yohanes 10:10b
Baca: Filipi 4:10-20
"Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus." Filipi 4:19
Tuhan menciptakan manusia pada hari terakhir, setelah segala sesuatu yang diperlukan manusia tersedia. Kemudian Ia menempatkan manusia di taman Eden dan berfirman: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." (Kejadian 1:28), dan "Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu." (Kejadian 1:29).
Bentuk pemeliharaan Tuhan bagi kehidupan manusia: 1. Tuhan menyediakan. Jadi, bukan tanpa alasan jika Tuhan menciptakan manusia pada hari ke-6 setelah tumbuhan, hewan, dan musim diciptakan-Nya. Ini menunjukkan bahwa Tuhan telah menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan manusia. Tuhan menciptakan tumbuh-tumbuhan dan sumber daya alam untuk menunjang kelangsungan hidup manusia. Tuhan juga menyediakan udara segar untuk kita hirup setiap harinya. 2. Tuhan menjamin. Firman Tuhan berkata, "Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai." (Matius 6:25a). Tuhan memberikan gambaran tentang burung di udara dan bunga bakung di padang yang dipelihara-Nya, terlebih-lebih manusia yang diciptakan segambar dan serupa dengan Dia (Kejadian 1:26). Tak perlu kita kuatir akan hidup ini, sebab Tuhan bertanggung jawab penuh atas kehidupan kita. 3. Menaburlah. Hidup berkelimpahan adalah salah satu bentuk pemeliharaan Tuhan atas umat-Nya. Agar kita tidak mengalami kekurangan, hal yang firman Tuhan ajarkan kepada kita adalah menabur: "Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu." (Lukas 6:38).
Rancangan Tuhan atas hidup kita adalah hidup yang diberkati. Jadi tidak ada alasan bagi kita untuk tidak berkata bahwa Tuhan itu baik dan sangat baik!
"Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan." Yohanes 10:10b
Sunday, March 31, 2019
MENJADI BUAH BIBIR YANG POSITIF
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 31 Maret 2019
Baca: Galatia 1:11-24
"...ia yang dahulu menganiaya mereka, sekarang memberitakan iman, yang pernah hendak dibinasakannya." Galatia 1:23
Paulus, lahir di Tarsus, sebuah kota yang terkemuka zaman itu di wilayah Kilikia. Sebelum bertobat ia memiliki nama Saulus. Ia menjadi bahan pembicaraan (buah bibir) orang-orang pada zamannya karena perubahan hidupnya yang sangat radikal sehingga menimbulkan kekaguman banyak orang. Dari yang dulunya adalah penganiaya jemaat berubah menjadi berkat bagi jemaat. Perubahan ini pun diakui sendiri oleh Paulus: "Sebab kamu telah mendengar tentang hidupku dahulu dalam agama Yahudi: tanpa batas aku menganiaya jemaat Allah dan berusaha membinasakannya." (Galatia 1:13). Perubahan hidup yang dialami oleh Paulus ini bukan karena kekuatan dan gagah manusia, melainkan karena jamahan kuasa Roh Kudus.
Paulus menjadi teladan hidup (saksi hidup) dari pekerjaan Roh Kudus yang hanya dapat dikerjakan oleh Tuhan sendiri di dalam hati manusia. Pengalaman hidup bersama Tuhan yang mengubah hidupnya ini yang membuat Paulus dapat berkata, "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." (2 Korintus 5:17). Inilah kuasa firman yang terkandung di dalam Injil yang mengubah hidup manusia, karena firman Tuhan berkuasa untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan mendidik orang dalam kebenaran (2 Timotius 3:16). Jika seorang sungguh-sunguh tinggal di dalam Tuhan dan firman-Nya, hidupnya pasti akan berubah. Perubahan hidup inilah yang akan memuliakan nama Tuhan, karena menjadi saksi yang hidup. Kekristenan yang sesungguhnya adalah proses perubahan hidup! Orang Kristen yang tidak pernah berubah adalah orang Kristen yang mati rohaninya. Bagaimana kita tahu bahwa kita sudah berubah? Firman Tuhan berkata, "Biarlah orang lain memuji engkau dan bukan mulutmu, orang yang tidak kaukenal dan bukan bibirmu sendiri." (Amsal 27:2).
Bagaimana dengan Saudara? Pembicaraan apa yang orang lain buat tentang hidup Saudara? Pembicaraan yang positif atau negatif? Apakah kita dapat berkata seperti Paulus ini: "Dan mereka memuliakan Allah karena aku." (Galatia 1:24).
Orang Kristen yang benar, hidupnya menjadi berkat, bukan batu sandungan.
Baca: Galatia 1:11-24
"...ia yang dahulu menganiaya mereka, sekarang memberitakan iman, yang pernah hendak dibinasakannya." Galatia 1:23
Paulus, lahir di Tarsus, sebuah kota yang terkemuka zaman itu di wilayah Kilikia. Sebelum bertobat ia memiliki nama Saulus. Ia menjadi bahan pembicaraan (buah bibir) orang-orang pada zamannya karena perubahan hidupnya yang sangat radikal sehingga menimbulkan kekaguman banyak orang. Dari yang dulunya adalah penganiaya jemaat berubah menjadi berkat bagi jemaat. Perubahan ini pun diakui sendiri oleh Paulus: "Sebab kamu telah mendengar tentang hidupku dahulu dalam agama Yahudi: tanpa batas aku menganiaya jemaat Allah dan berusaha membinasakannya." (Galatia 1:13). Perubahan hidup yang dialami oleh Paulus ini bukan karena kekuatan dan gagah manusia, melainkan karena jamahan kuasa Roh Kudus.
Paulus menjadi teladan hidup (saksi hidup) dari pekerjaan Roh Kudus yang hanya dapat dikerjakan oleh Tuhan sendiri di dalam hati manusia. Pengalaman hidup bersama Tuhan yang mengubah hidupnya ini yang membuat Paulus dapat berkata, "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." (2 Korintus 5:17). Inilah kuasa firman yang terkandung di dalam Injil yang mengubah hidup manusia, karena firman Tuhan berkuasa untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan mendidik orang dalam kebenaran (2 Timotius 3:16). Jika seorang sungguh-sunguh tinggal di dalam Tuhan dan firman-Nya, hidupnya pasti akan berubah. Perubahan hidup inilah yang akan memuliakan nama Tuhan, karena menjadi saksi yang hidup. Kekristenan yang sesungguhnya adalah proses perubahan hidup! Orang Kristen yang tidak pernah berubah adalah orang Kristen yang mati rohaninya. Bagaimana kita tahu bahwa kita sudah berubah? Firman Tuhan berkata, "Biarlah orang lain memuji engkau dan bukan mulutmu, orang yang tidak kaukenal dan bukan bibirmu sendiri." (Amsal 27:2).
Bagaimana dengan Saudara? Pembicaraan apa yang orang lain buat tentang hidup Saudara? Pembicaraan yang positif atau negatif? Apakah kita dapat berkata seperti Paulus ini: "Dan mereka memuliakan Allah karena aku." (Galatia 1:24).
Orang Kristen yang benar, hidupnya menjadi berkat, bukan batu sandungan.
Saturday, March 30, 2019
DI MANA ADA KETAATAN, DI SITU ADA MUJIZAT
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 30 Maret 2019
Baca: Lukas 5:1-11
"Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu." Lukas 5:3
Sesungguhnya Tuhan sudah menyediakan berkat bagi anak-anak-Nya yang mau berjalan menurut kehendak-Nya. Simon, sebelum menikmati berkat Tuhan, terlebih dahulu menyediakan perahunya bagi Tuhan sebagai sarana untuk memberitakan firman Kerajaan sorga. Tidak sedikit dari kita yang ingin memperoleh berkat dan mujizat dari Tuhan, tetapi 'enggan menyerahkan perahu' hidupnya kepada Tuhan; mereka tak mau berkorban untuk pekerjaan Tuhan. Mereka sangat hitung-hitungan dengan Tuhan! Berkat yang mereka terima dari Tuhan tak pernah dikembalikan untuk memuliakan nama Tuhan.
Simon, sekalipun malam itu tak memperoleh berkat sedikit pun, "...telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa," (Lukas 5:5), dengan rela hati menyerahkan perahunya kepada Tuhan untuk dipakai sebagai sarana pelayanan penginjilan. Walaupun demikian Simon sama sekali tak mengharapkan suatu imbalan jasa, ia juga tak mengeluhkan tentang kesulitan yang dialaminya kepada Tuhan, tapi Tuhan tahu persis apa yang telah terjadi pada Simon. Karena itu berkatalah Tuhan, "Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan." (Lukas 5:4). Bertolak ke 'tempat yang dalam' memiliki makna rohani: lebih mendekatkan diri kepada Tuhan dan lebih mengenal Dia secara lebih mendalam.
Untuk memperoleh berkat dan mujizat dari Tuhan kita harus 'tinggal' di dalam Tuhan dan firman-Nya (Yohanes 15:7). Sekalipun situasi dan keadaan tidak memungkinkan, asal kita mau taat akan perintah Tuhan, Dia pasti menolong. Seperti pengalaman Simon: "...karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga." (Lukas 5:5). Mujizat terjadi, "...mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak." (Lukas 5:6). Setelah menerima berkat Simon tetaplah rendah hati, ia tak merasa bahwa ikan yang diperolehnya adalah karena kehebatannya sebagai nelayan: "Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa." (Lukas 5:8).
Berkat Tuhan tersedia bagi orang-orang taat melakukan kehendak-Nya!
Baca: Lukas 5:1-11
"Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu." Lukas 5:3
Sesungguhnya Tuhan sudah menyediakan berkat bagi anak-anak-Nya yang mau berjalan menurut kehendak-Nya. Simon, sebelum menikmati berkat Tuhan, terlebih dahulu menyediakan perahunya bagi Tuhan sebagai sarana untuk memberitakan firman Kerajaan sorga. Tidak sedikit dari kita yang ingin memperoleh berkat dan mujizat dari Tuhan, tetapi 'enggan menyerahkan perahu' hidupnya kepada Tuhan; mereka tak mau berkorban untuk pekerjaan Tuhan. Mereka sangat hitung-hitungan dengan Tuhan! Berkat yang mereka terima dari Tuhan tak pernah dikembalikan untuk memuliakan nama Tuhan.
Simon, sekalipun malam itu tak memperoleh berkat sedikit pun, "...telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa," (Lukas 5:5), dengan rela hati menyerahkan perahunya kepada Tuhan untuk dipakai sebagai sarana pelayanan penginjilan. Walaupun demikian Simon sama sekali tak mengharapkan suatu imbalan jasa, ia juga tak mengeluhkan tentang kesulitan yang dialaminya kepada Tuhan, tapi Tuhan tahu persis apa yang telah terjadi pada Simon. Karena itu berkatalah Tuhan, "Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan." (Lukas 5:4). Bertolak ke 'tempat yang dalam' memiliki makna rohani: lebih mendekatkan diri kepada Tuhan dan lebih mengenal Dia secara lebih mendalam.
Untuk memperoleh berkat dan mujizat dari Tuhan kita harus 'tinggal' di dalam Tuhan dan firman-Nya (Yohanes 15:7). Sekalipun situasi dan keadaan tidak memungkinkan, asal kita mau taat akan perintah Tuhan, Dia pasti menolong. Seperti pengalaman Simon: "...karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga." (Lukas 5:5). Mujizat terjadi, "...mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak." (Lukas 5:6). Setelah menerima berkat Simon tetaplah rendah hati, ia tak merasa bahwa ikan yang diperolehnya adalah karena kehebatannya sebagai nelayan: "Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa." (Lukas 5:8).
Berkat Tuhan tersedia bagi orang-orang taat melakukan kehendak-Nya!
Friday, March 29, 2019
HIDUP KRISTEN: Tak Ada Kompromi
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 29 Maret 2019
Baca: 2 Tawarikh 20:27-37
"'Karena engkau bersekutu dengan Ahazia, maka TUHAN akan merobohkan pekerjaanmu.' Lalu kapal-kapal itu pecah, dan tak dapat berlayar ke Tarsis." 2 Tawarikh 20:37b
Perjalanan hidup orang percaya tidaklah mudah, ada harga yang harus dibayar! Karena Tuhan tidak menghendaki kita memiliki kehidupan yang serupa dengan dunia. "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini," (Roma 12:2), artinya hidup Kristen adalah hidup yang tak mengenal kata 'kompromi' dengan dunia ini.
Yosafat, seorang yang takut akan Tuhan, tetapi karena tidak mawas diri menjadi kurang peka akan pimpinan Roh Tuhan, maka ia salah dalam melangkah: "Kemudian Yosafat, raja Yehuda, bersekutu dengan Ahazia, raja Israel, yang fasik perbuatannya. Ia bersekutu dengan Ahazia untuk membuat kapal-kapal yang dapat berlayar ke Tarsis. Kapal-kapal itu dibuat mereka di Ezion-Geber." (2 Tawarikh 20:35-36). Yosafat lupa siapa dirinya, lalu ia bersekutu dengan orang fasik membuat kapal-kapal dengan tujuan supaya dapat pergi ke Ofir, dengan harapan dapat mengangkut emas untuk memuaskan keinginan dagingnya. Tetapi Tuhan tidak berkenan dengan perbuatan Yosafat ini, oleh sebab itu Dia mengutus Eliezer untuk bernubuat kepada Yosafat, "...kapal-kapal itu tidak jadi pergi ke sana, sebab kapal-kapal itu pecah di Ezion-Geber." (1 Raja-Raja 22:49). Peristiwa yang menimpa pekerjaan Yosafat ini kiranya dapat menjadi pelajaran berharga bagi kita. Karena berkompromi dengan orang fasik usaha Yosafat menjadi gagal. Atas seijin Tuhan kapal-kapal yang mereka buat itu pecah di tengah perjalanan.
Tuhan menghendaki anak-anaknya memiliki ketegasan untuk tidak 'bersahabat' atau 'berkompromi' dengan dunia ini, karena hal itu menimbulkan kecemburuan di hati Tuhan. "Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?" (2 Korintus 6:14b). Pemazmur berkata, "Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam... apa saja yang diperbuatnya berhasil." (Mazmur 1:1-3).
Tak ingin gagal? Miliki hidup yang berbeda dengan dunia, jangan berkompromi.
Baca: 2 Tawarikh 20:27-37
"'Karena engkau bersekutu dengan Ahazia, maka TUHAN akan merobohkan pekerjaanmu.' Lalu kapal-kapal itu pecah, dan tak dapat berlayar ke Tarsis." 2 Tawarikh 20:37b
Perjalanan hidup orang percaya tidaklah mudah, ada harga yang harus dibayar! Karena Tuhan tidak menghendaki kita memiliki kehidupan yang serupa dengan dunia. "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini," (Roma 12:2), artinya hidup Kristen adalah hidup yang tak mengenal kata 'kompromi' dengan dunia ini.
Yosafat, seorang yang takut akan Tuhan, tetapi karena tidak mawas diri menjadi kurang peka akan pimpinan Roh Tuhan, maka ia salah dalam melangkah: "Kemudian Yosafat, raja Yehuda, bersekutu dengan Ahazia, raja Israel, yang fasik perbuatannya. Ia bersekutu dengan Ahazia untuk membuat kapal-kapal yang dapat berlayar ke Tarsis. Kapal-kapal itu dibuat mereka di Ezion-Geber." (2 Tawarikh 20:35-36). Yosafat lupa siapa dirinya, lalu ia bersekutu dengan orang fasik membuat kapal-kapal dengan tujuan supaya dapat pergi ke Ofir, dengan harapan dapat mengangkut emas untuk memuaskan keinginan dagingnya. Tetapi Tuhan tidak berkenan dengan perbuatan Yosafat ini, oleh sebab itu Dia mengutus Eliezer untuk bernubuat kepada Yosafat, "...kapal-kapal itu tidak jadi pergi ke sana, sebab kapal-kapal itu pecah di Ezion-Geber." (1 Raja-Raja 22:49). Peristiwa yang menimpa pekerjaan Yosafat ini kiranya dapat menjadi pelajaran berharga bagi kita. Karena berkompromi dengan orang fasik usaha Yosafat menjadi gagal. Atas seijin Tuhan kapal-kapal yang mereka buat itu pecah di tengah perjalanan.
Tuhan menghendaki anak-anaknya memiliki ketegasan untuk tidak 'bersahabat' atau 'berkompromi' dengan dunia ini, karena hal itu menimbulkan kecemburuan di hati Tuhan. "Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?" (2 Korintus 6:14b). Pemazmur berkata, "Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam... apa saja yang diperbuatnya berhasil." (Mazmur 1:1-3).
Tak ingin gagal? Miliki hidup yang berbeda dengan dunia, jangan berkompromi.
Thursday, March 28, 2019
IMAN SEORANG WANITA PENDOSA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 28 Maret 2019
Baca: Yosua 2:1-24
"Pergilah ke pegunungan, supaya pengejar-pengejar itu jangan menemui kamu, dan bersembunyilah di sana tiga hari lamanya, sampai pengejar-pengejar itu pulang; kemudian bolehlah kamu melanjutkan perjalananmu." Yosua 2:16
Wanita yang berprofesi sebagai pelacur atau disebut wanita sundal dipandang rendah di mata masyarakat dan dianggap 'sampah' masyarakat. Semua orang menjauhi, mencibir, mencemooh, dan bahkan mengucilkannya. Kebanyakan orang begitu mudah menghakimi sesamanya karena merasa diri lebih baik dan lebih benar. Ada tertulis: "Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi." (Matius 7:1). Adakah di antara kita yang tidak pernah melakukan kesalahan atau berbuat dosa? Tak seorang pun. "Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah," (Roma 3:23).
Rahab, sekalipun seorang pelacur, namanya tertulis di Alkitab sebagai salah satu saksi iman. Dinyatakan: "Karena iman maka Rahab, perempuan sundal itu, tidak turut binasa bersama-sama dengan orang-orang durhaka, karena ia telah menyambut pengintai-pengintai itu dengan baik." (Ibrani 11:31). Ini menunjukkan bahwa Tuhan membenarkan hidup seseorang bukan karena perbuatan baiknya (amal), melainkan berdasarkan iman dan pertobatannya. Apa yang Rahab katakan kepada kedua pengintai? "Aku tahu, bahwa TUHAN telah memberikan negeri ini kepada kamu dan bahwa kengerian terhadap kamu telah menghinggapi kami dan segala penduduk negeri ini gemetar menghadapi kamu. Sebab kami mendengar, bahwa TUHAN telah mengeringkan air Laut Teberau di depan kamu, ketika kamu berjalan keluar dari Mesir, dan apa yang kamu lakukan kepada kedua raja orang Amori yang di seberang sungai Yordan itu, yakni kepada Sihon dan Og, yang telah kamu tumpas." (Yosua 2:9-10), menyiratkan iman.
Sekalipun berasal dari bangsa kafir, dan selama ini ia hanya mendengar dari kata orang tentang perbuatan-perbuatan besar Tuhan, tapi Rahab begitu yakin bahwa Tuhannya bangsa Israel adalah Tuhan yang berkuasa. "Ketika kami mendengar itu, tawarlah hati kami dan jatuhlah semangat setiap orang menghadapi kamu, sebab TUHAN, Allahmu, ialah Allah di langit di atas dan di bumi di bawah." (Yosua 2:11).
Rahab punya iman yang luar biasa dengan mengakui kehebatan Tuhannya bangsa Israel!
Baca: Yosua 2:1-24
"Pergilah ke pegunungan, supaya pengejar-pengejar itu jangan menemui kamu, dan bersembunyilah di sana tiga hari lamanya, sampai pengejar-pengejar itu pulang; kemudian bolehlah kamu melanjutkan perjalananmu." Yosua 2:16
Wanita yang berprofesi sebagai pelacur atau disebut wanita sundal dipandang rendah di mata masyarakat dan dianggap 'sampah' masyarakat. Semua orang menjauhi, mencibir, mencemooh, dan bahkan mengucilkannya. Kebanyakan orang begitu mudah menghakimi sesamanya karena merasa diri lebih baik dan lebih benar. Ada tertulis: "Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi." (Matius 7:1). Adakah di antara kita yang tidak pernah melakukan kesalahan atau berbuat dosa? Tak seorang pun. "Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah," (Roma 3:23).
Rahab, sekalipun seorang pelacur, namanya tertulis di Alkitab sebagai salah satu saksi iman. Dinyatakan: "Karena iman maka Rahab, perempuan sundal itu, tidak turut binasa bersama-sama dengan orang-orang durhaka, karena ia telah menyambut pengintai-pengintai itu dengan baik." (Ibrani 11:31). Ini menunjukkan bahwa Tuhan membenarkan hidup seseorang bukan karena perbuatan baiknya (amal), melainkan berdasarkan iman dan pertobatannya. Apa yang Rahab katakan kepada kedua pengintai? "Aku tahu, bahwa TUHAN telah memberikan negeri ini kepada kamu dan bahwa kengerian terhadap kamu telah menghinggapi kami dan segala penduduk negeri ini gemetar menghadapi kamu. Sebab kami mendengar, bahwa TUHAN telah mengeringkan air Laut Teberau di depan kamu, ketika kamu berjalan keluar dari Mesir, dan apa yang kamu lakukan kepada kedua raja orang Amori yang di seberang sungai Yordan itu, yakni kepada Sihon dan Og, yang telah kamu tumpas." (Yosua 2:9-10), menyiratkan iman.
Sekalipun berasal dari bangsa kafir, dan selama ini ia hanya mendengar dari kata orang tentang perbuatan-perbuatan besar Tuhan, tapi Rahab begitu yakin bahwa Tuhannya bangsa Israel adalah Tuhan yang berkuasa. "Ketika kami mendengar itu, tawarlah hati kami dan jatuhlah semangat setiap orang menghadapi kamu, sebab TUHAN, Allahmu, ialah Allah di langit di atas dan di bumi di bawah." (Yosua 2:11).
Rahab punya iman yang luar biasa dengan mengakui kehebatan Tuhannya bangsa Israel!
Wednesday, March 27, 2019
KASIH DAN ANUGERAH TUHAN...TERAMAT BESAR
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 27 Maret 2019
Baca: Matius 12:38-41
"Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat setelah mendengar pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus!" Matius 12:41b
Pada peristiwa Yunus orang terkagum-kagum akan ikan besar yang memuntahkan Yunus dari perutnya. Tetapi orang lupa bahwa peristiwa ini terjadi hanya karena kasih dan anugerah Tuhan yang besar kepada Yunus dan kepada orang Niniwe yang telah diselamatkan juga. Ketika Yunus tak menaati perintah Tuhan untuk pergi memberitakan kebenaran ke Niniwe. Ia masih memberi kesempatan kepada Yunus untuk bertobat.
Kisah Yunus berada di dalam perut ikan ini merupakan tipologi tentang kematian Kristus: "Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam." (Matius 12:40). Bila orang Niniwe bertobat karena mendengar pemberitaan firman yang disampaikan oleh Yunus, maka tidak patutkah kita mempercayai Kristus lebih dari pada Yunus? Kita yang hidup di zaman anugerah ini sesungguhnya lebih beruntung dari pada orang-orang yang hidup di zaman Kristus saat masih melayani di bumi. Bila mereka ingin mendengarkan khotbah Tuhan mereka harus menempuh perjalanan yang jauh dengan berjalan kaki, terkadang harus naik perahu menyeberangi sungai. Namun mereka lebih tekun, lebih semangat dan lebih setia daripada kita. Mereka mengikuti Kristus ke mana pun Ia pergi mengajar tentang Kerajaan Sorga, karena hati mereka selalu haus dan lapar akan kebenaran. Kini untuk membaca firman Tuhan kita masing-masing sudah punya Alkitab, bahkan sekarang zaman semakin canggih, Alkitab bisa di download via gadget; ke gereja aksesnya juga mudah, bisa menggunakan fasilitas ojek online dan sebagainya. Akan tetapi kesetiaan dan semangat kita mengejar perkara-perkara rohani begitu tipis, jauh berbeda dibandingkan ketekunan dan kesetiaan pengikut Kristus zaman dahulu.
Kini orang Kristen modern tampak sekali kurang menghargai kasih dan anugerah Tuhan yang teramat besar! Kristus yang jauh lebih besar dari Yunus, tak lagi dianggap penting. Waktu dan kesempatan yang ada, banyak disia-siakan!
Semangat mengerjakan perkara rohani adalah wujud respons kita terhadap kasih dan anugerah Tuhan!
Baca: Matius 12:38-41
"Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat setelah mendengar pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus!" Matius 12:41b
Pada peristiwa Yunus orang terkagum-kagum akan ikan besar yang memuntahkan Yunus dari perutnya. Tetapi orang lupa bahwa peristiwa ini terjadi hanya karena kasih dan anugerah Tuhan yang besar kepada Yunus dan kepada orang Niniwe yang telah diselamatkan juga. Ketika Yunus tak menaati perintah Tuhan untuk pergi memberitakan kebenaran ke Niniwe. Ia masih memberi kesempatan kepada Yunus untuk bertobat.
Kisah Yunus berada di dalam perut ikan ini merupakan tipologi tentang kematian Kristus: "Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam." (Matius 12:40). Bila orang Niniwe bertobat karena mendengar pemberitaan firman yang disampaikan oleh Yunus, maka tidak patutkah kita mempercayai Kristus lebih dari pada Yunus? Kita yang hidup di zaman anugerah ini sesungguhnya lebih beruntung dari pada orang-orang yang hidup di zaman Kristus saat masih melayani di bumi. Bila mereka ingin mendengarkan khotbah Tuhan mereka harus menempuh perjalanan yang jauh dengan berjalan kaki, terkadang harus naik perahu menyeberangi sungai. Namun mereka lebih tekun, lebih semangat dan lebih setia daripada kita. Mereka mengikuti Kristus ke mana pun Ia pergi mengajar tentang Kerajaan Sorga, karena hati mereka selalu haus dan lapar akan kebenaran. Kini untuk membaca firman Tuhan kita masing-masing sudah punya Alkitab, bahkan sekarang zaman semakin canggih, Alkitab bisa di download via gadget; ke gereja aksesnya juga mudah, bisa menggunakan fasilitas ojek online dan sebagainya. Akan tetapi kesetiaan dan semangat kita mengejar perkara-perkara rohani begitu tipis, jauh berbeda dibandingkan ketekunan dan kesetiaan pengikut Kristus zaman dahulu.
Kini orang Kristen modern tampak sekali kurang menghargai kasih dan anugerah Tuhan yang teramat besar! Kristus yang jauh lebih besar dari Yunus, tak lagi dianggap penting. Waktu dan kesempatan yang ada, banyak disia-siakan!
Semangat mengerjakan perkara rohani adalah wujud respons kita terhadap kasih dan anugerah Tuhan!
Tuesday, March 26, 2019
TAK PUAS DENGAN APA YANG ADA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 26 Maret 2019
Baca: Ibrani 13:1-6
"...cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: 'Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.'" Ibrani 13:5
Ada banyak orang tidak pernah merasa puas atau tidak pernah merasa cukup dengan keadaan hidupnya. Mereka selalu merasa kurang, kurang dan kurang. Seperti tertulis: "Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya." (Pengkhotbah 5:9). Rasa tidak puas dan tidak cukup inilah yang akhirnya menjerumuskan seseorang ke dalam berbagai masalah: terjerat urusan hutang-piutang. "...yang berhutang menjadi budak dari yang menghutangi." (Amsal 22:7), tersandung kasus hukum, dan terlibat dalam berbagai tindak kejahatan.
Seberapa pun besarnya berkat yang kita terima, belajarlah untuk tetap mengucap syukur kepada Tuhan, "Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah." (1 Timotius 6:6-8). Karena itu "...cukupkanlah dirimu dengan gajimu." (Lukas 3:14b). Kalau kita dapat puas dan bersyukur dengan keadaan yang ada pasti kita tak akan terserang berbagai penyakit syaraf, stres atau frustasi, dan kita dapat menjalani hidup dengan tenang. Sebaliknya "...mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan." (1 Timotius 6:9).
Kita harus berpegang teguh pada janji firman-Nya bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan dan membiarkan kita. Sekecil apa pun berkat yang diberikan Tuhan tak akan mendatangkan malapetaka, tapi berkat yang dicari dengan jalan yang salah, sebesar apa pun pasti mendatangkan derita. "Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya." (Amsal 10:22). Andalkan Tuhan dan libatkan Dia di setiap usaha dan pekerjaan kita, niscaya berkat-berkat-Nya dicurahkan dalam hidup kita. Jika Tuhan yang membuka 'pintu' berkat bagi kita, tak ada kuasa mana pun dan manusia siapa pun yang dapat menutupnya, sebab "Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka." (Pengkhotbah 3:11).
Tanpa rasa syukur, sebesar apa pun berkat yang ada tak memberi rasa cukup!
Baca: Ibrani 13:1-6
"...cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: 'Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.'" Ibrani 13:5
Ada banyak orang tidak pernah merasa puas atau tidak pernah merasa cukup dengan keadaan hidupnya. Mereka selalu merasa kurang, kurang dan kurang. Seperti tertulis: "Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya." (Pengkhotbah 5:9). Rasa tidak puas dan tidak cukup inilah yang akhirnya menjerumuskan seseorang ke dalam berbagai masalah: terjerat urusan hutang-piutang. "...yang berhutang menjadi budak dari yang menghutangi." (Amsal 22:7), tersandung kasus hukum, dan terlibat dalam berbagai tindak kejahatan.
Seberapa pun besarnya berkat yang kita terima, belajarlah untuk tetap mengucap syukur kepada Tuhan, "Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah." (1 Timotius 6:6-8). Karena itu "...cukupkanlah dirimu dengan gajimu." (Lukas 3:14b). Kalau kita dapat puas dan bersyukur dengan keadaan yang ada pasti kita tak akan terserang berbagai penyakit syaraf, stres atau frustasi, dan kita dapat menjalani hidup dengan tenang. Sebaliknya "...mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan." (1 Timotius 6:9).
Kita harus berpegang teguh pada janji firman-Nya bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan dan membiarkan kita. Sekecil apa pun berkat yang diberikan Tuhan tak akan mendatangkan malapetaka, tapi berkat yang dicari dengan jalan yang salah, sebesar apa pun pasti mendatangkan derita. "Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya." (Amsal 10:22). Andalkan Tuhan dan libatkan Dia di setiap usaha dan pekerjaan kita, niscaya berkat-berkat-Nya dicurahkan dalam hidup kita. Jika Tuhan yang membuka 'pintu' berkat bagi kita, tak ada kuasa mana pun dan manusia siapa pun yang dapat menutupnya, sebab "Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka." (Pengkhotbah 3:11).
Tanpa rasa syukur, sebesar apa pun berkat yang ada tak memberi rasa cukup!
Subscribe to:
Comments (Atom)