Thursday, March 14, 2019

URAPAN DAN PENYERTAAN TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 Maret 2019

Baca:  1 Samuel 16:14-23

"Sesungguhnya, aku telah melihat salah seorang anak laki-laki Isai, orang Betlehem itu, yang pandai main kecapi. Ia seorang pahlawan yang gagah perkasa, seorang prajurit, yang pandai bicara, elok perawakannya; dan TUHAN menyertai dia."  1 Samuel 16:18

Daud adalah orang yang sangat istimewa di pemandangan mata Tuhan.  Tentang Daud Tuhan berkata,  "Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku."  (Kisah 13:22).  Ketika masih berusia muda Daud telah menunjukkan tanda-tanda bahwa kelak ia akan menjadi tokoh besar dan dipakai Tuhan secara luar biasa.  Jalan itu telah dirintisnya tatkala ia masih muda yaitu saat masih menggembalakan kambing domba yang jumlahnya hanya 2-3 ekor di padang belantara.  Saat itulah Daud memiliki banyak waktu untuk merenungkan banyak hal tentang kehidupan ini dan juga membangun persekutuan dengan Tuhan, ia pun menaikkan puji-pujian bagi Tuhan dengan iringan kecapi yang dimainkannya.

     Berita tentang kemahiran Daud dalam memainkan kecapi itu terdengar di mana-mana, bahkan sampai ke istana raja Saul.  Ketika raja Saul sedang diganggu oleh roh jahat, para pegawai istana berusaha mencari cara bagaimana supaya roh jahat itu pergi.  Lalu mereka menyarankan agar rajanya  (Saul)  segera mencari orang yang pandai memainkan kecapi.  Raja Saul pun memerintahkan pegawainya untuk mencarikan orang yang mahir dalam bermain kecapi.  "Carilah bagiku seorang yang dapat main kecapi dengan baik, dan bawalah dia kepadaku."  (1 Samuel 16:17).  Akhirnya  "...Daud sampai kepada Saul dan menjadi pelayannya. Dan setiap kali apabila roh yang dari pada Allah itu hinggap pada Saul, maka Daud mengambil kecapi dan memainkannya; Saul merasa lega dan nyaman, dan roh yang jahat itu undur dari padanya."  (1 Samuel 16:21a, 23).

     Bukan karena kualitas kecapinya yang membuat roh jahat pergi, tetapi siapa yang memainkan kecapi tersebut.  Selain mahir dalam memainkan kecapi, Daud adalah orang yang karib dengan Tuhan dan memiliki kehidupan yang berkenan kepada-Nya.  Itulah sebabnya kehidupan Daud dipenuhi oleh urapan Roh Tuhan.  Itulah kunci utama mengapa permainan kecapi Daud menghasilkan kuasa, sehingga mampu mengalahkan roh jahat.

Orang yang hidupnya dipenuhi Roh Kudus, di mana pun berada pasti membawa dampak yang luar biasa!

Wednesday, March 13, 2019

MANUSIA BARU: Hati yang Baru

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 Maret 2019

Baca:  Yehezkiel 36:25-28

"Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat."  Yehezkiel 36:26

Alkitab menyatakan bahwa  "...siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang."  (2 Korintus 5:17).  Proses  'kelahiran baru'  di dalam diri orang percaya ini dikerjakan oleh Roh Kudus  (Titus 3:5).  Karena kita adalah  'ciptaan baru'  di dalam Kristus maka kita harus menjalani hidup sebagai manusia yang benar-benar baru dengan meninggalkan kehidupan lama kita.  Tuhan berfirman,  "Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu..."  (ayat nas).  Memiliki hati yang baru dan roh yang baru adalah tanda bahwa seseorang sudah mengalami kelahiran baru dan hidup dalam pertobatan.  Kita memerlukan hati dan roh yang baru agar hidup kita semakin berkenan kepada Tuhan.

     Apa yang dimaksudkan dengan hati yang baru?  Hati yang baru adalah hati yang tidak lagi keras atau hati yang lembut.  Kalau dulu sebelum bertobat hati orang begitu keras dan sulit sekali menerima teguran, setelah mengalami jaminan Roh Kudus hatinya diubahkan menjadi lembut.  "Aku akan memberikan mereka hati yang lain dan roh yang baru di dalam batin mereka; juga Aku akan menjauhkan dari tubuh mereka hati yang keras dan memberikan mereka hati yang taat, supaya mereka hidup menurut segala ketetapan-Ku dan peraturan-peraturan-Ku dengan setia;"  (Yehezkiel 11:19-20).  Hati yang lembut adalah hati yang mau belajar, diajar, ditegur dan dibentuk.  "Orang yang mengarahkan telinga kepada teguran yang membawa kepada kehidupan akan tinggal di tengah-tengah orang bijak. Siapa mengabaikan didikan membuang dirinya sendiri, tetapi siapa mendengarkan teguran, memperoleh akal budi."  (Amsal 15:31-32).

     Hati yang baru adalah hati yang mau taat melakukan kehendak Tuhan, tidak kompromi terhadap dosa.  Ketaatan adalah syarat mutlak memiliki kehidupan yang berkenan kepada Tuhan.  Tanpa ketaatan pengiringan kita akan Tuhan sia-sia.  Hati yang baru adalah hati yang senantiasa tertuju kepada Tuhan dan rindu menyenangkan hati-Nya.

Sudahkah kita benar-benar meninggalkan manusia lama dan menjalani hidup sebagai manusia baru?

Tuesday, March 12, 2019

BERSEMANGATLAH... TUHAN KITA BESAR!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 Maret 2019

Baca:  Mazmur 126:1-6

"TUHAN telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita."  Mazmur 126:3

Tak bisa dipungkiri bahwa di hari-hari ini kita semakin diperhadapkan dengan tantangan yang tidak semakin mudah, juga beban hidup yang semakin hari terasa semakin berat.  Itulah sebabnya banyak orang sambat  (bahasa Jawa:  mengeluh)  dan menjadi pesimis dalam menatap masa depan hidupnya.  Pesimis adalah sebuah sikap atau pandangan seseorang terhadap suatu hal yang digambarkan dengan ciri-ciri tidak yakin, murung, sedih, rasa putus asa, tidak ada harapan seperti berada dalam situasi yang sangat buruk.  Sesulit apa pun keadaannya dan seberat apa pun beban hidup yang ada, kita harus tetap optimis dan jangan pesimis, apalagi menyerah kalah pada keadaan.  Hidup kita adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat  (2 Korintus 5:7).

     Mengapa kita harus tetap optimis dalam menjalani hidup?  Karena kita punya Tuhan yang tak perlu diragukan kekuatan dan kuasa-Nya.  Karena itu kita tak perlu takut menghadapi apa pun.  Jika Tuhan ada di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?  (Roma 8:31b).  Jika Tuhan bekerja tidak ada perkara yang mustahil bagi-Nya.  Sekalipun berada di tengah-tengah penderitaan, kalau kita senantiasa berjalan bersama Tuhan dan hidup mengandalkan Dia, maka kita akan melihat pemulihan dinyatakan atas hidup kita.  "Ketika TUHAN memulihkan keadaan Sion, keadaan kita seperti orang-orang yang bermimpi."  (Mazmur 126:1).  Tuhan melakukan perkara-perkara yang besar bukan bermaksud untuk unjuk kebolehan tentang ke Ilahian-Nya, tetapi Dia memang adalah Tuhan yang Mahabesar dan ajaib segala perbuatan-Nya.

     Bersemangatlah dalam menjalani hidup, sebab kita punya Tuhan yang menjamin masa depan kita secara pasti.  "...masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang."  (Amsal 23:18).  Jangan sekali-kali menggantungkan harapan kepada dunia ini, itu sia-sia belaka.  Berharaplah hanya kepada Tuhan dan tetap nantikanlah Dia, sebab orang yang berharap kepada-Nya takkan mendapat malu.  Jangan pernah takut dalam menjalani hidup, sebab kita punya Tuhan yang tidak pernah gagal segala rencana-Nya  (Ayub 42:2).

Di dalam Tuhan kita memiliki jaminan hidup yang berkemenangan, karena Dia adalah Tuhan yang besar yang mengasihi kita.  

Monday, March 11, 2019

TAK PANTAS MEMEGAHKAN DIRI

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 Maret 2019

Baca:  1 Korintus 9:1-18

"Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri."  1 Korintus 9:16a

Sering dijumpai ada banyak orang Kristen yang sikapnya mulai berubah saat sudah terlibat dalam pelayanan.  Mereka merasa diri menjadi orang  'penting'  karena terlibat dalam pelayanan atau dipercaya untuk sebuah pelayanan pekerjaan Tuhan.  Di sisi lain jemaat juga seringkali menilai, mengukur atau membanding-bandingkan pelayan Tuhan atau hamba Tuhan yang melayani di mimbar.  Faktor lahiriah atau apa yang tampak oleh kasat mata seringkali dijadikan patokan untuk keberhasilan pelayanan seseorang.

     Mereka menganggap pelayan Tuhan yang berhasil adalah mereka yang tampak berkecukupan secara materi, melayani gereja besar, banyak karunia, terkenal dan sebagainya.  Padahal kekayaan, popularitas, penampilan, jabatan atau kuantitas jumlah anggota jemaat yang dilayani oleh seorang hamba Tuhan tidak sepenuhnya menjadi ukuran keberhasilan.  Manusia tidak berhak untuk menilai, mengukur, atau menghakimi pelayanan orang lain.  "Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu."  (Matius 7:2).  Ada tertulis:  "Karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu. Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat upah."  (1 Korintus 3:13b-14).

     Tak ada alasan sedikit pun untuk memegahkan diri, hanya karena kita sudah dipercaya untuk melayani pekerjaan Tuhan atau menjadi hamba Tuhan.  Ingat!  Kata  'hamba'  secara harafiah memiliki arti orang yang berada di bawah perintah, tingkatan para budak yang paling rendah atau hina.  Sebagai hamba Tuhan berarti kita ini adalah hamba-hambanya Kristus, artinya dalam segala hal kita harus tunduk sepenuhnya kepada Kristus.  Rasul Paulus, orang yang berhasil dalam pelayanan tapi tak pernah memegahkan diri, ia tetap menilai dirinya sendiri sebagai seorang hamba, yang tugas utamanya adalah memberitakan Injil dan mempermuliakan nama Tuhan, bukan diri sendiri.

"Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain."  Galatia 6:4

Sunday, March 10, 2019

HIDUP ORANG PERCAYA: Hidup Karena Iman

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 Maret 2019

Baca:  2 Korintus 5:1-10

"--sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat--"  2 Korintus 5:7

Sebagai pengikut Kristus setiap kita menyandang status dan sebutan yang baru sebagai orang percaya.  Sebagai orang percaya adalah mutlak bagi kita untuk hidup karena percaya  (iman), bukan karena melihat  (ayat nas).  Kata  'percaya'  (bahasa Yunani:  pistis)  berarti memiliki keyakinan yang teguh akan kebenaran firman Tuhan.

     Banyak orang menyebut diri sebagai orang percaya, namun dalam praktik hidup sehari-hari mereka tidak hidup karena percaya  (hidup dalam iman), tapi hidup karena melihat, segala sesuatunya sangat dikendalikan, dipengaruhi oleh situasi, keadaan, atau apa yang terlihat secara kasat mata.  Hal ini terlihat jelas dari sikap hatinya yang gampang sekali berubah:  gampang kecewa, gampang mengeluh, gampang bersungut-sungut, gampang menyalahkan orang lain, gampang menyalahkan keadaan, dan bahkan gampang menyalahkan Tuhan, tatkala diperhadapkan dengan masalah, kesukaran, tekanan, penderitaan, atau situasi-situasi sulit.  Hidup orang percaya itu perlu bukti atau tanda!

     Seseorang dapat dikatakan hidup karena percaya bila ia senantiasa tinggal di dalam firman-Nya;  merenungkan firman Tuhan menjadi kesukaan hidupnya karena ia tahu bahwa  "...iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus."  (Roma 10:17).  Iman seseorang sangat tergantung pada seberapa banyak kita mendengar dan merenungkan firman Tuhan.  Hal ini akan berdampak pada setiap perkataan dan perbuatan kita.  Rasul Paulus berkata,  "Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata", maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata."  (2 Korintus 4:13).  Jadi perkataan orang percaya seharusnya adalah perkataan iman, bukan perkataan yang sia-sia.

     Saat berhadapan dengan Goliat Daud tidak takut sedikit pun, meskipun secara logika sulit baginya untuk bisa menang.  Daud berkata,  "...aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam,...Hari ini juga TUHAN akan menyerahkan engkau ke dalam tanganku..."  (1 Samuel 17:45-46).  Inilah yang disebut perkataan iman.  Ketika orang-orang Israel mengalami ketakutan, justru Daud menunjukkan kualitas hidup yang sangat berbeda, ada iman yang disertai dengan perbuatan atau tindakan  (Yakobus 2:26).

Hidup orang percaya itu perlu bukti nyata, bukan hanya sekedar teori!

Saturday, March 9, 2019

UNTUK TUHAN HARUS YANG TERBAIK

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 9 Maret 2019

Baca:  Mazmur 4:1-9

"Persembahkanlah korban yang benar dan percayalah kepada TUHAN."  Mazmur 4:6

Adakah di antara orang percaya yang tidak pernah mengecap kebaikan Tuhan?  Kita semua pasti mengalami dan merasakan kebaikan Tuhan.  Karena itu kita telah mengecap kebaikan Tuhan adalah mutlak bagi kita untuk membalas kebaikan Tuhan.  Dengan cara?  Musa berkata kepada umat Israel:  "Janganlah engkau mempersembahkan bagi TUHAN, Allahmu, lembu atau domba, yang ada cacatnya, atau sesuatu yang buruk; sebab yang demikian adalah kekejian bagi TUHAN, Allahmu."  (Ulangan 17:1).

     Di zaman Perjanjian Lama dulu, setiap kali bangsa Israel datang kepada Tuhan mereka harus selalu membawa persembahan berupa hewan korban, namun tidak sembarangan hewan persembahan itu berkenan di hati Tuhan.  Jadi, mereka harus membawa hewan-hewan yang terbaik:  gemuk atau tambun, sehat dan tidak bercacat sebagai persembahan, karena Tuhan menyukai persembahan yang terbaik.  Bagaimana dengan Saudara?  Sudahkah kita memberi yang terbaik untuk Tuhan?  Di zaman anugerah ini kita tidak perlu membawa hewan korban dalam ibadah atau saat datang menghadap Tuhan.  Lalu, apa yang harus kita bawa kepada Tuhan sebagai persembahan?  Yaitu hidup kita sendiri, seperti yang rasul Paulus sampaikan kepada jemaat di Roma:  "...supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati."  (Roma 12:1).  Karena itu kita harus menjaga hidup kita sesuai dengan kehendak Tuhan.

     Mengapa harus memberi yang terbaik dari seluruh hidup kita kepada-Nya?  Karena Tuhan sudah terlebih dahulu memberikan yang terbaik untuk kita dengan mengorbankan diri-Nya.  "Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran."  (1 Petrus 2:24);  Hidup kita telah ditebus bukan dengan barang yang fana, melainkan dengan darah Kristus yang tak bernoda dan tak bercacat  (1 Petrus 1:18-19).  Persembahan terbaik untuk Tuhan juga berarti tidak lagi menyerahkan anggota-anggota tubuh ini sebagai senjata kelaliman, melainkan menjadi senjata kebenaran  (Roma 6:13), tidak kompromi dengan dosa.

Mempersembahkan yang terbaik adalah bukti seorang benar-benar mengasihi Tuhan!

Friday, March 8, 2019

YEHOVAH SHAMMAH: Ada di Antara Kita

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 Maret 2019

Baca:  Keluaran 13:17-22

"TUHAN berjalan di depan mereka, pada siang hari dalam tiang awan untuk menuntun mereka di jalan, dan pada waktu malam dalam tiang api untuk menerangi mereka, sehingga mereka dapat berjalan siang dan malam."  Keluaran 13:21

Kita bangga dan sukacita memiliki Tuhan yang bukan hanya duduk di tahta Mahakudus dalam Kerajaan Sorga, namun juga tinggal dekat dengan kita, karena Dia adalah Yehovah Shammah.  Tuhan hadir di tengah-tengah umat-Nya dengan tujuan supaya kita tidak takut walaupun berada di tengah dunia yang jahat dan penuh gejolak ini.  "...janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan."  (Yesaya 41:10).  Tuhan menyatakan kehadiran-Nya atas bangsa Israel di padang gurun melalui tiang awan dan tiang api  (ayat nas).

     Saat mengalami masalah dan pergumulan hidup yang berat hendaklah pandangan kita senantiasa tertuju kepada Tuhan.  Sekalipun kita tak melihat Dia secara kasat mata, kita mengimani bahwa Dia hadir di tengah-tengah kita untuk memberikan perlindungan dan pertolongan-Nya.  Perlindungan Tuhan itu sempurna, dan pertolongan-Nya selalu tepat pada waktu-Nya.  Maka dari itu  "Nantikanlah TUHAN dan tetap ikutilah jalan-Nya,"  (Mazmur 37:34), sampai Dia bekerja menurut waktu-Nya.  Kita tahu bahwa Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang mempunyai rancangan-rancangan yang indah dan baik adanya  (Yeremia 29:11), namun di lain sisi musuh kita, yaitu Iblis, berusaha untuk mengalihkan arah pandang kita kepada besarnya masalah yang sedang kita hadapi.  Bila kita tidak punya dasar iman yang kuat dalam Tuhan dan tidak berpegang teguh pada janji firman-Nya, kita pasti akan gagal melihat kuasa dan mujizat-Nya dinyatakan.

     Peristiwa perkawinan di Kana  (Yohanes 2:1-11)  mengingatkan kita tentang arti kehadiran Tuhan dalam hidup ini.  Saat pesta berlangsung terjadi suatu masalah yang tak bisa dianggap enteng, yaitu kehabisan anggur;  beruntung si tuan rumah mengundang Kristus hadir di tengah pesta itu.  Kehadiran Tuhan sanggup mengubah masalah menjadi mujizat:  air diubah-Nya menjadi anggur.

"Dari hal inilah akan kamu ketahui, bahwa Allah yang hidup ada di tengah-tengah kamu..."  Yosua 3:10

Thursday, March 7, 2019

MELEWATI LEMBAH, TAKKAN KU TAKUT

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 7 Maret 2019

Baca:  Mazmur 23:1-6

"Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku."  Mazmur 23:4

Menjalani kehidupan ini kita pasti pernah mengalami dan merasakan masa-masa sulit, serasa berada dalam lembah kekelaman.  Lembah kekelaman berupa masalah berat dalam rumah tangga, masalah keuangan yang sedang seret, tekanan, penderitaan dan pergumulan berat lainnya.  Sebagai orang percaya kita tak perlu takut atau kuatir, sebab Tuhan adalah Gembala kita, Dia tidak pernah meninggalkan kita,  "...Engkau besertaku;"  (ayat nas).

     Dalam mazmurnya ini Daud menyebutkan bahwa ada dua benda yang selalu dibawa oleh gembala yaitu gada dan tongkat.  Tongkat berfungsi untuk menepuk-nepuk tubuh domba ketika domba mulai berjalan melenceng arah atau menjauhi kawanannya.  Tongkat ini berbentuk melengkung di bagian pangkalnya seperti gagang payung, agar dapat mengait badan atau leher domba yang jatuh terperosok di lubang atau di jurang.  Sedangkan gada terbuat dari akar pohon dengan panjang tidak lebih dari 40-50 cm.  Ini adalah senjata ampuh untuk melawan hewan-hewan buas yang hendak memangsa domba-dombanya.  Gada ini adalah gambaran tentang jaminan perlindungan dan pembelaan Tuhan dari para musuh.  Kehadiran sang gembala dengan gada dan tongkat di tangan ini menjadi jaminan perlindungan bagi domba-domba.  Terkadang Tuhan harus menggunakan tongkat untuk menegur dan mendidik kita, dengan mengijinkan kita melewati lembah-lembah kekelaman atau bahkan bayang-bayang maut.  Memang sakit dan membuat kita harus mencucurkan air mata, namun memiliki tujuan yang indah, yaitu Tuhan mau kita tetap konsisten berada di jalan-jalan-Nya, tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri.

     Tetaplah tekun dan setia kepada Tuhan, karena pada saatnya kita akan melihat bahwa apa yang Tuhan perbuat itu mendatangkan kebaikan bagi kita;  kuasa dan mujizat Tuhan pasti akan dinyatakan:  "Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku...Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku;"  (Mazmur 23:5-6)  dan  "Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai."  (Mazmur 126:5).

Bertahanlah saat melewati  'lembah'  kehidupan, sebab semua akan berujung kepada kemenangan!

Wednesday, March 6, 2019

SANG PENJUNAN: Merenda Hidup Kita

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 6 Maret 2019

Baca:  Yesaya 64:1-12

"...ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu."  Yesaya 64:8

Tak ada yang pantas untuk dibanggakan dan disombongkan dari diri manusia, karena manusia tak lebih dari tanah liat.  "Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami,"  (ayat nas).  Manusia adalah tanah liat, dan Tuhan adalah Sang Penjunan.  Sebagai Penjunan Tuhan berkuasa penuh atas kehidupan manusia.  Ia membentuk tanah liat itu dan merendanya sedemikian rupa hingga menjadi sebuah bejana yang sesuai dengan kehendak dan rencana-Nya.  Jadi, hidup manusia sepenuhnya bergantung kepada Tuhan!  Sebagai tanah liat, kita tidak dapat memaksa Tuhan Sang Penjunan agar membentuk kita sesuai dengan apa yang kita mau dan inginkan.  Sebaliknya, kita harus berserah penuh kepada kehendak Tuhan, tanpa protes, kecewa, keluh kesah atau peersungutan.

     Ada tertulis:  "Celakalah orang yang berbantah dengan Pembentuknya; dia tidak lain dari beling periuk saja! Adakah tanah liat berkata kepada pembentuknya: 'Apakah yang kaubuat?' atau yang telah dibuatnya: 'Engkau tidak punya tangan!'"  (Yesaya 45:9).  Kita harus percaya bahwa segala sesuatu yang Tuhan kerjakan dan rancangkan atas hidup kita adalah yang terbaik.  Jika kita merasa bahwa hari-hari yang kita jalani terasa berat, masalah datang silih berganti tiada henti, jangan cepat putus asa.  Milikilah keyakinan bahwa ini adalah bagian dari proses pembentukan yang Tuhan ijinkan untuk kita alami.  Karena itu kuatkan hati dan bertahanlah!  Sebab Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya  (Pengkhotbah 3:11).  Sebelum memiliki nilai  (berharga), sebuah bejana harus terlebih dahulu melewati proses demi proses, bahkan harus masuk ke dalam dapur api dengan tujuan agar bejana menjadi kuat dan kokoh.  Begitu pula kehidupan kita, terkadang kita harus melewati  'api'  sebagai bagian dari proses pemurnian iman.  "Sesungguhnya, Aku telah memurnikan engkau, namun bukan seperti perak, tetapi Aku telah menguji engkau dalam dapur kesengsaraan."  (Yesaya 48:10).

     Bila kita mampu bertahan kita akan menjadi bejana indah di pemandangan Tuhan.  Pencobaan atau masalah tidak akan pernah melebihi kekuatan kita  (1 Korintus 10:13).

Tak perlu takut diproses, karena itu artinya Tuhan sedang merenda hidup kita untuk tujuan yang baik.

Tuesday, March 5, 2019

IBLIS TAK BERHENTI MENDAKWA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 5 Maret 2019

Baca:  Zakharia 3:1-10

"...Iblis berdiri di sebelah kanannya untuk mendakwa dia."  Zakharia 3:1

Salah satu cara yang Iblis perbuat agar orang percaya semakin lemah imannya adalah melalui pikiran-pikiran yang mendakwa.  Iblis berusaha untuk mendakwa seseorang berkenaan dengan dosa dan kelemahannya, masa lalunya, dan juga tentang beratnya masalah yang terjadi dalam hidup ini.  Iblis mendakwa seseorang siang dan malam.

     Karena terus didakwa oleh Iblis berkenaan dengan dosa dan kelemahannya, orang akan dihantui oleh rasa bersalah dan merasa diri tidak layak di hadapan Tuhan.  Alkitab menyatakan bahwa Kristus telah mati di kayu salib untuk menebus dosa-dosa kita, dan  "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan."  (1 Yohanes 1:9), bahkan  "sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita."  (Mazmur 103:12).  Iblis juga mendakwa seseorang tentang kehidupannya di masa lalu, terlebih-lebih tentang masa lalu yang kelam.  Inilah yang seringkali dijadikan senjata oleh Iblis untuk membelenggu hidup seseorang:  "Masa lalumu sangat buruk...tak mungkin kamu punya masa depan yang baik.  Hidupmu tak mungkin berubah menjadi baik."  Jangan pernah terintimidasi oleh perkataan negatif dari Iblis!  Asalkan kita mau bertobat dan memberi diri untuk dibentuk oleh Roh kudus, kehidupan kita pasti akan diubahkan.  Di dalam Kristus kita adalah ciptaan baru:  yang lama sudah berlalu, dan yang baru sudah datang  (2 Korintus 5:17).  Ingat!  Kita tidak hidup di masa lalu tapi di masa sekarang, dan masa depan kita ditentukan oleh langkah hidup sekarang.  Dengan pertolongan Roh Kudus, kita pasti bisa  "...melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku,"  (Filipi 3:13).

     Masalah hidup yang berat sering dipakai Iblis untuk mendakwa supaya kita bimbang, kecewa, mengeluh, mengomel, kemudian menyalahkan Tuhan.  Kita membanding-bandingkan dengan keadaan orang lain di luar Tuhan.  Iblis dan segala tipu muslihatnya harus kita lawan!  Bagaimana caranya?  Tunduklah kepada Tuhan  (Yakobus 4:7):  "Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita."  (1 Yohanes 5:4b).

Bila kita hidup dalam kebenaran dan berjalan dengan iman, Iblis takkan mampu mendakwa kita.