Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 21 Februari 2019
Baca: Hosea 4:1-19
"Dengarlah firman TUHAN, hai orang Israel, sebab TUHAN mempunyai perkara
dengan penduduk negeri ini, sebab tidak ada kesetiaan dan tidak ada
kasih, dan tidak ada pengenalan akan Allah di negeri ini." Hosea 4:1
Secara garis besar kitab Hosea ini merupakan ungkapan kepedihan hati Tuhan karena umat pilihan-Nya (bangsa Israel) yang begitu Ia kasihi telah meninggalkan Dia dan berpaling kepada ilah lain. Hal ini benar-benar menimbulkan kecemburuan hati Tuhan! "Mereka membangkitkan cemburu-Nya dengan allah asing, mereka menimbulkan sakit hati-Nya" (Ulangan 32:16). Mereka telah berkompromi dengan dosa; Tuhan yang hidup dan benar mereka tinggalkan, lalu berpaling kepada ilah lain. Akibatnya? Terjadi kemerosotan rohani yang luar biasa. "Celakalah mereka, sebab mereka melarikan diri dari pada-Ku! Binasalah
mereka, sebab mereka memberontak terhadap Aku! Aku ini mau menebus
mereka, tetapi mereka berdusta terhadap Aku." (Hosea 7:13).
Karena dosa yang sangat besar inilah sampai-sampai secara ekstrem Tuhan memberikan perintah kepada Hosea untuk menikahi seorang perempuan sundal untuk menggambarkan tentang bangsa Israel yang tidak lagi setia kepada Tuhan dan telah melakukan perzinahan rohani. "Pergilah, kawinilah seorang perempuan sundal dan peranakkanlah
anak-anak sundal, karena negeri ini bersundal hebat dengan membelakangi
TUHAN." (Hosea 1:2). Keadaan ini tak jauh berbeda dengan gereja Tuhan di masa-masa sekarang ini. Betapa banyak orang percaya yang tidak lagi mengasihi Tuhan dengan sepenuh hati. Mereka tidak lagi setia kepada Tuhan dan telah mendua hati. Mereka sudah meninggalkan kasih mula-mula kepada Tuhan seperti yang terjadi pada jemaat di Efesus (Wahyu 2:4). Api itu tidak lagi berkobar dan mungkin sudah menjadi padam!
Apa penyebabnya? Kemilau dunia dengan segala kenikmatannya yaitu keinginan daging, keinginan mata, keangkuhan hidup (1 Yohanes 2:16) telah memikat dan menawan hati mereka. Mereka lebih memilih untuk bersahabat dengan dunia, padahal persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Tuhan (Yakobus 4:4). Lupakah kita bahwa Roh yang ditempatkan Tuhan di dalam kita diingini-Nya dengan cemburu (Yakobus 4:5)?
Kristus datang hanya untuk menjemput mempelai-Nya yang setia sampai akhir, sedangkan yang tidak setia akan ditinggalkan-Nya!
Thursday, February 21, 2019
Wednesday, February 20, 2019
TEGURAN TUHAN TAK DIANGGAP
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 20 Februari 2019
Baca: Amos 5:21-27
"Sungguh, apabila kamu mempersembahkan kepada-Ku korban-korban bakaran dan korban-korban sajianmu, Aku tidak suka, dan korban keselamatanmu berupa ternak yang tambun, Aku tidak mau pandang." Amos 5:22
Ketika Amos diutus Tuhan untuk menyatakan teguran dan peringatan terhadap bangsa Israel, saat itu bangsa Israel sedang dalam keadaan mapan dan makmur karena mengalami kemajuan di segala bidang kehidupan. Tragisnya, kemapanan dalam bidang kehidupan jasmani berbanding terbalik dengan kehidupan rohaninya. Secara rohani bangsa Israel justru sedang mengalami kemerosotan dan kehancuran. Orang-orang kaya merasa nyaman dengan materinya yang melimpah sehingga mereka seolah-olah tidak lagi membutuhkan Tuhan. Sikap mereka pun menjadi sangat arogan, terlihat dari sikapnya yang semena-mena terhadap orang-orang 'kecil'. Akibatnya negeri dipenuhi dengan ketidakadilan, pemerkosaan hak, ketidakbenaran, keserakahan dan kelaliman.
Agar bangsa ini tidak jatuh dalam lubang dosa yang semakin dalam Tuhan pun mengutus Amos untuk menegur dan memperingatkan agar mereka segera bertobat. Teguran Tuhan adalah bukti bahwa Ia sangat mengasihi bangsa Israel. Jika teguran dan peringatan melalui Amos ini tak dianggap, Tuhan akan bertindak dengan tangan-Nya sendiri untuk menghakimi mereka. Ada lima penglihatan yang Amos terima dari Tuhan: penglihatan tentang belalang, api, tali sipat, bakul dengan buah-buahan, dan Tuhan dekat mezbah, adalah bukti bahwa Tuhan tidak main-main dengan apa yang diucapkan-Nya. Tuhan tidak bisa dipermainkan dengann ibadah yang dipenuhi dengan kepura-puraan atau disuap dengan besarnya persembahan. Ibadah dan persembahan sebesar apa pun takkan berarti apa-apa jika tanpa disertai dengan pertobatan.
Teguran Tuhan melalui Amos ini tidak mereka anggap, bahkan Amos dilaporkan oleh Amazia (orang yang berprofesi sebagai nabi) kepada raja Yerobeam atas keberaniannya menyuarakan kebenaran. "Amos telah mengadakan persepakatan melawan tuanku di tengah-tengah kaum Israel; negeri ini tidak dapat lagi menahan segala perkataannya." (Amos 7:10); dan Amos pun diusir! "Pelihat, pergilah, enyahlah ke tanah Yehuda! Carilah makananmu di sana dan bernubuatlah di sana!" (Amos 7:12).
Mengabaikan teguran dan peringatan Tuhan, mendekatkan diri pada hukuman!
Baca: Amos 5:21-27
"Sungguh, apabila kamu mempersembahkan kepada-Ku korban-korban bakaran dan korban-korban sajianmu, Aku tidak suka, dan korban keselamatanmu berupa ternak yang tambun, Aku tidak mau pandang." Amos 5:22
Ketika Amos diutus Tuhan untuk menyatakan teguran dan peringatan terhadap bangsa Israel, saat itu bangsa Israel sedang dalam keadaan mapan dan makmur karena mengalami kemajuan di segala bidang kehidupan. Tragisnya, kemapanan dalam bidang kehidupan jasmani berbanding terbalik dengan kehidupan rohaninya. Secara rohani bangsa Israel justru sedang mengalami kemerosotan dan kehancuran. Orang-orang kaya merasa nyaman dengan materinya yang melimpah sehingga mereka seolah-olah tidak lagi membutuhkan Tuhan. Sikap mereka pun menjadi sangat arogan, terlihat dari sikapnya yang semena-mena terhadap orang-orang 'kecil'. Akibatnya negeri dipenuhi dengan ketidakadilan, pemerkosaan hak, ketidakbenaran, keserakahan dan kelaliman.
Agar bangsa ini tidak jatuh dalam lubang dosa yang semakin dalam Tuhan pun mengutus Amos untuk menegur dan memperingatkan agar mereka segera bertobat. Teguran Tuhan adalah bukti bahwa Ia sangat mengasihi bangsa Israel. Jika teguran dan peringatan melalui Amos ini tak dianggap, Tuhan akan bertindak dengan tangan-Nya sendiri untuk menghakimi mereka. Ada lima penglihatan yang Amos terima dari Tuhan: penglihatan tentang belalang, api, tali sipat, bakul dengan buah-buahan, dan Tuhan dekat mezbah, adalah bukti bahwa Tuhan tidak main-main dengan apa yang diucapkan-Nya. Tuhan tidak bisa dipermainkan dengann ibadah yang dipenuhi dengan kepura-puraan atau disuap dengan besarnya persembahan. Ibadah dan persembahan sebesar apa pun takkan berarti apa-apa jika tanpa disertai dengan pertobatan.
Teguran Tuhan melalui Amos ini tidak mereka anggap, bahkan Amos dilaporkan oleh Amazia (orang yang berprofesi sebagai nabi) kepada raja Yerobeam atas keberaniannya menyuarakan kebenaran. "Amos telah mengadakan persepakatan melawan tuanku di tengah-tengah kaum Israel; negeri ini tidak dapat lagi menahan segala perkataannya." (Amos 7:10); dan Amos pun diusir! "Pelihat, pergilah, enyahlah ke tanah Yehuda! Carilah makananmu di sana dan bernubuatlah di sana!" (Amos 7:12).
Mengabaikan teguran dan peringatan Tuhan, mendekatkan diri pada hukuman!
Tuesday, February 19, 2019
TUHAN BISA MEMAKAI SIAPA SAJA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 19 Februari 2019
Baca: Amos 5:14-17
"Bencilah yang jahat dan cintailah yang baik; dan tegakkanlah keadilan di pintu gerbang; mungkin TUHAN, Allah semesta alam, akan mengasihani sisa-sisa keturunan Yusuf." Amos 5:15
Amos, bagi orang lain, tidak diperhitungkan dan kurang dianggap, karena ia bukanlah dari golongan nabi, melainkan hanya peternak dan pemungut buah ara di hutan (Amos 7:14). Ia pun tinggal di sebuah desa kecil bernama Tekoa (wilayah Yehuda). Itulah sebabnya Amos sering disebut penggembala dari Tekoa atau peladang pohon ara dari selatan.
Meski berasal dari kalangan 'bawah atau rendahan' bukan berarti Amos tidak punya kesempatan dan tidak layak untuk dipakai Tuhan sebagai alat kemuliaan-Nya, sebab Tuhan tidak pernah memilih seseorang dari sisi fisik (tampang), kepintaran, kekayaan atau jabatan. "Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati." (1 Samuel 16:7b). Justru dari kesederhanaannya ini Tuhan memilih Amos sebagai penyambung lidah-Nya untuk menyatakan kebenaran. "...apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti," (1 Korintus 1:27-28). Kita tak perlu merasa rendah diri, minder atau merasa tidak layak! Setiap orang percaya memiliki kesempatan yang sama untuk dipakai Tuhan sebagai alat kemuliaan-Nya. Tuhan bisa memakai siapa saja untuk dipercaya dalam sebuah pelayanan, karena Ia melihat hati dan ketaatannya.
"Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia." (2 Timotius 2:21). Tuhan memilih Amos untuk sebuah rencana besar yaitu menyampaikan pesan penting berupa teguran dan peringatan kepada bangsa Israel bagian utara, yang pada waktu itu sedang berada di puncak kejayaan, tapi hidup menyimpang dari kebenaran.
Ingin dipercaya Tuhan seperti Amos? Milikilah sikap hati yang benar dan sucikan diri.
Baca: Amos 5:14-17
"Bencilah yang jahat dan cintailah yang baik; dan tegakkanlah keadilan di pintu gerbang; mungkin TUHAN, Allah semesta alam, akan mengasihani sisa-sisa keturunan Yusuf." Amos 5:15
Amos, bagi orang lain, tidak diperhitungkan dan kurang dianggap, karena ia bukanlah dari golongan nabi, melainkan hanya peternak dan pemungut buah ara di hutan (Amos 7:14). Ia pun tinggal di sebuah desa kecil bernama Tekoa (wilayah Yehuda). Itulah sebabnya Amos sering disebut penggembala dari Tekoa atau peladang pohon ara dari selatan.
Meski berasal dari kalangan 'bawah atau rendahan' bukan berarti Amos tidak punya kesempatan dan tidak layak untuk dipakai Tuhan sebagai alat kemuliaan-Nya, sebab Tuhan tidak pernah memilih seseorang dari sisi fisik (tampang), kepintaran, kekayaan atau jabatan. "Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati." (1 Samuel 16:7b). Justru dari kesederhanaannya ini Tuhan memilih Amos sebagai penyambung lidah-Nya untuk menyatakan kebenaran. "...apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti," (1 Korintus 1:27-28). Kita tak perlu merasa rendah diri, minder atau merasa tidak layak! Setiap orang percaya memiliki kesempatan yang sama untuk dipakai Tuhan sebagai alat kemuliaan-Nya. Tuhan bisa memakai siapa saja untuk dipercaya dalam sebuah pelayanan, karena Ia melihat hati dan ketaatannya.
"Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia." (2 Timotius 2:21). Tuhan memilih Amos untuk sebuah rencana besar yaitu menyampaikan pesan penting berupa teguran dan peringatan kepada bangsa Israel bagian utara, yang pada waktu itu sedang berada di puncak kejayaan, tapi hidup menyimpang dari kebenaran.
Ingin dipercaya Tuhan seperti Amos? Milikilah sikap hati yang benar dan sucikan diri.
Monday, February 18, 2019
IBADAH SUNGGUH: Mendatangkan Berkat
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 18 Februari 2019
Baca: Mazmur 122:1-9
"Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: 'Mari kita pergi ke rumah TUHAN.'" Mazmur 122:1
Daud adalah teladan yang baik bagi orang percaya dalam hal ibadah. Kerinduan hati Daud untuk selalu dekat dengan Tuhan dan tinggal di dalam bait-Nya yang kudus sungguh teramat besar. "Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN;" (Mazmur 84:3); dan begitu ada ajakan "Mari kita pergi ke rumah TUHAN." (ayat nas), ia pun meresponsnya dengan penuh sukacita. Bagi Daud "...lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku dari pada diam di kemah-kemah orang fasik." (Mazmur 84:11).
Bagaimana dengan Saudara? Adakah Saudara memiliki kerinduan yang sama dalam hal beribadah kepada Tuhan? Apakah Saudara bersukacita saat beribadah kepada Tuhan atau hal itu sebagai beban? Ibadah kepada Tuhan sungguh teramat penting karena mengandung berkat yang luar biasa. Tuhan menyediakan berkat-Nya bagi setiap orang yang sungguh-sungguh beribadah kepada-Nya, "Tetapi kamu harus beribadah kepada TUHAN, Allahmu; maka Ia akan memberkati roti makananmu dan air minumanmu dan Aku akan menjauhkan penyakit dari tengah-tengahmu. Tidak akan ada di negerimu perempuan yang keguguran atau mandul. Aku akan menggenapkan tahun umurmu." (Keluaran 23:25-26). Rasul Paulus pun memberikan nasihat kepada Timotius tentang pentingnya melatih diri dalam hal ibadah, "Latihlah dirimu beribadah. Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang." (1 Timotius 4:7b-8).
Oleh karena itu "Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat." (Ibrani 10:25). Jangan sampai kita melakukan ibadah hanya sebatas rutinitas seperti yang dilakukan oleh bangsa Israel. "Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia." (Matius 15:8-9).
Ibadah yang disertai ketaatan melakukan firman pasti mendatangkan berkat!
Baca: Mazmur 122:1-9
"Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: 'Mari kita pergi ke rumah TUHAN.'" Mazmur 122:1
Daud adalah teladan yang baik bagi orang percaya dalam hal ibadah. Kerinduan hati Daud untuk selalu dekat dengan Tuhan dan tinggal di dalam bait-Nya yang kudus sungguh teramat besar. "Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN;" (Mazmur 84:3); dan begitu ada ajakan "Mari kita pergi ke rumah TUHAN." (ayat nas), ia pun meresponsnya dengan penuh sukacita. Bagi Daud "...lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku dari pada diam di kemah-kemah orang fasik." (Mazmur 84:11).
Bagaimana dengan Saudara? Adakah Saudara memiliki kerinduan yang sama dalam hal beribadah kepada Tuhan? Apakah Saudara bersukacita saat beribadah kepada Tuhan atau hal itu sebagai beban? Ibadah kepada Tuhan sungguh teramat penting karena mengandung berkat yang luar biasa. Tuhan menyediakan berkat-Nya bagi setiap orang yang sungguh-sungguh beribadah kepada-Nya, "Tetapi kamu harus beribadah kepada TUHAN, Allahmu; maka Ia akan memberkati roti makananmu dan air minumanmu dan Aku akan menjauhkan penyakit dari tengah-tengahmu. Tidak akan ada di negerimu perempuan yang keguguran atau mandul. Aku akan menggenapkan tahun umurmu." (Keluaran 23:25-26). Rasul Paulus pun memberikan nasihat kepada Timotius tentang pentingnya melatih diri dalam hal ibadah, "Latihlah dirimu beribadah. Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang." (1 Timotius 4:7b-8).
Oleh karena itu "Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat." (Ibrani 10:25). Jangan sampai kita melakukan ibadah hanya sebatas rutinitas seperti yang dilakukan oleh bangsa Israel. "Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia." (Matius 15:8-9).
Ibadah yang disertai ketaatan melakukan firman pasti mendatangkan berkat!
Sunday, February 17, 2019
MENUAI SEDIKIT KARENA MENABUR RUMPUT
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 Februari 2019
Baca: Mazmur 129:1-8
"Mereka seperti rumput di atas sotoh, yang menjadi layu, sebelum dicabut," Mazmur 129:6
Setiap orang percaya pasti rindu hidupnya diberkati Tuhan. Tapi sayang, kerinduan besar untuk mendapatkan berkat dari Tuhan tak diimbangi dengan kerinduan untuk memberi atau menabur. Ada tertulis: "Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu." (Lukas 6:38). Kita selalu hitung-hitungan jika hendak menabur atau memberi, baik itu untuk pekerjaan Tuhan atau sesama, dengan menerapkan prinsip ekonomi.
Prinsip ekonomi merupakan pedoman untuk melakukan tindakan ekonomi yang di dalamnya terkandung asas: dengan pengorbanan tertentu diperoleh hasil yang maksimal. Kita maunya menabur sesedikit mungkin tapi mengharapkan tuaian yang sebesar-besarnya. Ada juga yang tidak mau menabur atau memberi, melainkan hanya suka menerima saja. "Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima." (Kisah 20:35b). Prinsip Alkitab mengajarkan jika ingin mendapatkan tuaian yang banyak kita harus menabur banyak. Bahkan, orang yang menabur banyak tidak akan pernah rugi atau kekurangan. "Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan. Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum." (Amsal 11:24-25).
Orang yang menabur sedikit tapi ingin menuai banyak sama halnya dengan orang yang menabur benih rumput. Rumput memiliki ciri mudah sekali layu, mudah dicabut, kering, tidak tahan cuaca dan tidak memiliki kegunaan. Apabila rumput sudah kering sudah barang tentu akan dibuang dan dibakar dalam nyala api. Memang, sedikit menabur benih rumput pada saatnya akan menuai padang rumput dan bunga-bunganya, namun semuanya tidak akan bertahan lama: "Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya." (Yesaya 40:8). Kalau kita menabur ala kadarnya, hasil tuaiannya pun akan menyesuaikan!
Taburlah benih yang baik dan berkualitas dalam pelayanan pekerjaan Tuhan maupun dalam kehidupan sehari-hari. Tuaian besar menanti!
Baca: Mazmur 129:1-8
"Mereka seperti rumput di atas sotoh, yang menjadi layu, sebelum dicabut," Mazmur 129:6
Setiap orang percaya pasti rindu hidupnya diberkati Tuhan. Tapi sayang, kerinduan besar untuk mendapatkan berkat dari Tuhan tak diimbangi dengan kerinduan untuk memberi atau menabur. Ada tertulis: "Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu." (Lukas 6:38). Kita selalu hitung-hitungan jika hendak menabur atau memberi, baik itu untuk pekerjaan Tuhan atau sesama, dengan menerapkan prinsip ekonomi.
Prinsip ekonomi merupakan pedoman untuk melakukan tindakan ekonomi yang di dalamnya terkandung asas: dengan pengorbanan tertentu diperoleh hasil yang maksimal. Kita maunya menabur sesedikit mungkin tapi mengharapkan tuaian yang sebesar-besarnya. Ada juga yang tidak mau menabur atau memberi, melainkan hanya suka menerima saja. "Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima." (Kisah 20:35b). Prinsip Alkitab mengajarkan jika ingin mendapatkan tuaian yang banyak kita harus menabur banyak. Bahkan, orang yang menabur banyak tidak akan pernah rugi atau kekurangan. "Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan. Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum." (Amsal 11:24-25).
Orang yang menabur sedikit tapi ingin menuai banyak sama halnya dengan orang yang menabur benih rumput. Rumput memiliki ciri mudah sekali layu, mudah dicabut, kering, tidak tahan cuaca dan tidak memiliki kegunaan. Apabila rumput sudah kering sudah barang tentu akan dibuang dan dibakar dalam nyala api. Memang, sedikit menabur benih rumput pada saatnya akan menuai padang rumput dan bunga-bunganya, namun semuanya tidak akan bertahan lama: "Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya." (Yesaya 40:8). Kalau kita menabur ala kadarnya, hasil tuaiannya pun akan menyesuaikan!
Taburlah benih yang baik dan berkualitas dalam pelayanan pekerjaan Tuhan maupun dalam kehidupan sehari-hari. Tuaian besar menanti!
Saturday, February 16, 2019
HANYA MEMPERHATIKAN YANG KELIHATAN (2)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 Februari 2019
Baca: 2 Korintus 4:16-18
"Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal." 2 Korintus 4:18
Kita harus lebih memperhatikan manusia rohaniah kita dan jangan hanya memperhatikan manusia lahiriah semata. Manusia lahiriah disebut pula manusia daging. Perbuatan daging telah nyata yaitu "...percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu--seperti yang telah kubuat dahulu--bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah." (Galatia 5:19-21). Manusia daging akan menuntun seseorang kepada kebinasaan!
Perhatikan manusia batiniah kita dengan terus berada dalam hadirat Tuhan dan melekat kepada-Nya agar manusia batiniah kita semakin diperbaharui. Pembaharuan manusia batiniah ini adalah pekerjaan Roh Kudus (Titus 3:5), "supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya." (Efesus 4:23-24). 'Goal' dari pembaharuan manusia batiniah adalah menjadi serupa dengan Kristus: "...mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya;" (Kolose 3:10).
Yang kelihatan juga berbicara tentang masalah dan penderitaan hidup yang kita alami. Masalah dan penderitaan seringkali membuat kita mudah tawar hati. Rasul Paulus tidak tawar hati sekalipun ia harus mengalami penderitaan dan masalah yang berat dalam hidupnya (2 Korintus 11:23-28), karena ia percaya akan janji Tuhan, bahwa di balik penderitaan yang kelihatan ini ada sesuatu yang tidak kelihatan, yaitu kemuliaan. "Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita." (Roma 8:18). Di balik masalah ada rencana Tuhan yang indah, karena masalah adalah 'bahan baku' terjadinya mujizat!
Jangan hanya sibuk mendandani manusia lahiriah saja, tapi kita harus lebih memperhatikan manusia rohani, karena ini akan membawa kita kepada kekekalan.
Baca: 2 Korintus 4:16-18
"Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal." 2 Korintus 4:18
Kita harus lebih memperhatikan manusia rohaniah kita dan jangan hanya memperhatikan manusia lahiriah semata. Manusia lahiriah disebut pula manusia daging. Perbuatan daging telah nyata yaitu "...percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu--seperti yang telah kubuat dahulu--bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah." (Galatia 5:19-21). Manusia daging akan menuntun seseorang kepada kebinasaan!
Perhatikan manusia batiniah kita dengan terus berada dalam hadirat Tuhan dan melekat kepada-Nya agar manusia batiniah kita semakin diperbaharui. Pembaharuan manusia batiniah ini adalah pekerjaan Roh Kudus (Titus 3:5), "supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya." (Efesus 4:23-24). 'Goal' dari pembaharuan manusia batiniah adalah menjadi serupa dengan Kristus: "...mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya;" (Kolose 3:10).
Yang kelihatan juga berbicara tentang masalah dan penderitaan hidup yang kita alami. Masalah dan penderitaan seringkali membuat kita mudah tawar hati. Rasul Paulus tidak tawar hati sekalipun ia harus mengalami penderitaan dan masalah yang berat dalam hidupnya (2 Korintus 11:23-28), karena ia percaya akan janji Tuhan, bahwa di balik penderitaan yang kelihatan ini ada sesuatu yang tidak kelihatan, yaitu kemuliaan. "Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita." (Roma 8:18). Di balik masalah ada rencana Tuhan yang indah, karena masalah adalah 'bahan baku' terjadinya mujizat!
Jangan hanya sibuk mendandani manusia lahiriah saja, tapi kita harus lebih memperhatikan manusia rohani, karena ini akan membawa kita kepada kekekalan.
Friday, February 15, 2019
HANYA MEMPERHATIKAN YANG KELIHATAN (1)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 Februari 2019
Baca: 2 Korintus 4:16-18
"Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari." 2 Korintus 4:16
Banyak orang pandangannya hanya terfokus atau tertuju kepada hal-hal yang kelihatan atau yang tampak oleh mata jasmani. Karena hanya memusatkan perhatian terhadap hal-hal yang kelihatan saja, mereka mudah sekali tawar hati. Tawar hati adalah ungkapan yang menyatakan suatu keadaan seseorang yang sedang tidak bersemangat, tak ada kemauan atau motivasi lagi, tidak lagi antusias, hilang keberanian, atau kecewa.
Melihat bahwa tubuh lahiriahnya semakin merosot, orang menjadi tawar hati. Tubuh lahiriah (jasmani) semakin hari semakin merosot adalah fakta yang tak bisa kita hindari. Bagaimanapun juga semakin bertambahnya usia seseorang, semakin tua, maka fisik pun semakin melemah. Tak ada obat atau cara untuk menghambat menjadi tua atau bertahan agar tetap awet muda. Tidak sedikit orang menjadi stres karena takut tua, takut fisiknya tidak bagus lagi, karena itu mereka berusaha sedemikian rupa untuk memermak tubuhnya dengan cara operasi sana sini. Rasul Paulus tidak tawar hati sekalipun tubuh lahiriahnya semakin merosot (ayat nas), karena ia sadar bahwa manusia itu berasal dari debu (Kejadian 2:7). Pada saatnya manusia akan kembali kepada debu. "...sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu." (Kejadian 3:19).
Yang menguatkan rasul Paulus, sekalipun manusia lahiriahnya merosot, manusia batiniahnya diperbaharui dari hari ke sehari. Ada kebenaran di sini: ada manusia lahiriah dan batiniah; ada yang kelihatan dan tak kelihatan. Manusia lahiriah atau yang kelihatan sifatnya hanya sementara, akan kembali kepada debu. Tetapi manusia batiniah itu kekal dan akan membawa kita bertemu Tuhan. Alkitab menyatakan bahwa pada saat kedatangan Kristus kelak, orang percaya akan hidup dengan tubuh yang sudah dibangkitkan dan dimuliakan. "Demikianlah pula halnya dengan kebangkitan orang mati. Ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan. Ditaburkan dalam kehinaan, dibangkitkan dalam kemuliaan. Ditaburkan dalam kelemahan, dibangkitkan dalam kekuatan. Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah. Jika ada tubuh alamiah, maka ada pula tubuh rohaniah." (1 Korintus 15:42-44).
Baca: 2 Korintus 4:16-18
"Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari." 2 Korintus 4:16
Banyak orang pandangannya hanya terfokus atau tertuju kepada hal-hal yang kelihatan atau yang tampak oleh mata jasmani. Karena hanya memusatkan perhatian terhadap hal-hal yang kelihatan saja, mereka mudah sekali tawar hati. Tawar hati adalah ungkapan yang menyatakan suatu keadaan seseorang yang sedang tidak bersemangat, tak ada kemauan atau motivasi lagi, tidak lagi antusias, hilang keberanian, atau kecewa.
Melihat bahwa tubuh lahiriahnya semakin merosot, orang menjadi tawar hati. Tubuh lahiriah (jasmani) semakin hari semakin merosot adalah fakta yang tak bisa kita hindari. Bagaimanapun juga semakin bertambahnya usia seseorang, semakin tua, maka fisik pun semakin melemah. Tak ada obat atau cara untuk menghambat menjadi tua atau bertahan agar tetap awet muda. Tidak sedikit orang menjadi stres karena takut tua, takut fisiknya tidak bagus lagi, karena itu mereka berusaha sedemikian rupa untuk memermak tubuhnya dengan cara operasi sana sini. Rasul Paulus tidak tawar hati sekalipun tubuh lahiriahnya semakin merosot (ayat nas), karena ia sadar bahwa manusia itu berasal dari debu (Kejadian 2:7). Pada saatnya manusia akan kembali kepada debu. "...sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu." (Kejadian 3:19).
Yang menguatkan rasul Paulus, sekalipun manusia lahiriahnya merosot, manusia batiniahnya diperbaharui dari hari ke sehari. Ada kebenaran di sini: ada manusia lahiriah dan batiniah; ada yang kelihatan dan tak kelihatan. Manusia lahiriah atau yang kelihatan sifatnya hanya sementara, akan kembali kepada debu. Tetapi manusia batiniah itu kekal dan akan membawa kita bertemu Tuhan. Alkitab menyatakan bahwa pada saat kedatangan Kristus kelak, orang percaya akan hidup dengan tubuh yang sudah dibangkitkan dan dimuliakan. "Demikianlah pula halnya dengan kebangkitan orang mati. Ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan. Ditaburkan dalam kehinaan, dibangkitkan dalam kemuliaan. Ditaburkan dalam kelemahan, dibangkitkan dalam kekuatan. Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah. Jika ada tubuh alamiah, maka ada pula tubuh rohaniah." (1 Korintus 15:42-44).
Thursday, February 14, 2019
HATI MASIH BERPAUT 'MESIR'
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 Februari 2019
Baca: Kolose 3:1-17
"Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi,..." Kolose 3:5
Sekalipun sudah diselamatkan Kristus melalui pengorbanan-Nya di kayu salib, masih banyak orang Kristen yang berlaku seperti bangsa Israel, yang sekalipun sudah dibawa keluar dari Mesir, hati dan pikiran mereka tetap tertuju kepada Mesir. Mereka terus membanding-bandingkan dengan keadaan saat masih berada di Mesir. Bahkan, mereka merasa lebih suka dan nyaman berada di Mesir, yang meskipun jadi budak, tapi cukup makanan dan minuman. Perhatikan ini! "Kita teringat kepada ikan yang kita makan di Mesir dengan tidak bayar apa-apa, kepada mentimun dan semangka, bawang prei, bawang merah dan bawang putih." (Bilangan 11:5), "Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan TUHAN ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan." (Keluaran 16:3).
Di Mesir memang ada kelimpahan, tetapi di balik kelimpahan itu mereka berada dalam penindasan dan perbudakan. Ini berbicara tentang kehidupan orang Kristen yang masih mengutamakan hal-hal jasmaniah atau perkara-perkara duniawi. Yang dipikirkan hanyalah isi perutnya, karena itu mereka selalu mengenang makanan di Mesir. Firman Tuhan memperingatkan: "Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi." (Kolose 3:2). Orang Kristen 'Mesir' adalah orang yang masih diperbudak oleh dunia dengan segala kenyamanannya. Mereka enggan menanggalkan kehidupan manusia lamanya. Lebih memilih untuk hidup menuruti keinginan daging daripada tunduk pada pimpinan Roh Kudus. Ibadah atau pelayanan dilakukan tak lebih dari sekedar rutinitas! Pulang dari ibadah dan pelayanan tetap kembali kepada kehidupan 'Mesir'.
Selama hidup kita masih belum sepenuhnya terlepas dari 'Mesir', sulit rasanya kita mencapai Tanah Perjanjian. Kehidupan di dalam cengkeraman Iblis dan diperbudak olehnya. Tanah perjanjian berbicara tentang penggenapan janji-janji Tuhan. Karena itu milikilah komitmen untuk keluar dari 'Mesir' yang adalah lambang dunia.
Tinggalkan segala kenyamanan dunia dan jangan hidup menurut daging, sebab hal itu hanya akan menuntun seseorang kepada kebinasaan!
Baca: Kolose 3:1-17
"Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi,..." Kolose 3:5
Sekalipun sudah diselamatkan Kristus melalui pengorbanan-Nya di kayu salib, masih banyak orang Kristen yang berlaku seperti bangsa Israel, yang sekalipun sudah dibawa keluar dari Mesir, hati dan pikiran mereka tetap tertuju kepada Mesir. Mereka terus membanding-bandingkan dengan keadaan saat masih berada di Mesir. Bahkan, mereka merasa lebih suka dan nyaman berada di Mesir, yang meskipun jadi budak, tapi cukup makanan dan minuman. Perhatikan ini! "Kita teringat kepada ikan yang kita makan di Mesir dengan tidak bayar apa-apa, kepada mentimun dan semangka, bawang prei, bawang merah dan bawang putih." (Bilangan 11:5), "Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan TUHAN ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan." (Keluaran 16:3).
Di Mesir memang ada kelimpahan, tetapi di balik kelimpahan itu mereka berada dalam penindasan dan perbudakan. Ini berbicara tentang kehidupan orang Kristen yang masih mengutamakan hal-hal jasmaniah atau perkara-perkara duniawi. Yang dipikirkan hanyalah isi perutnya, karena itu mereka selalu mengenang makanan di Mesir. Firman Tuhan memperingatkan: "Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi." (Kolose 3:2). Orang Kristen 'Mesir' adalah orang yang masih diperbudak oleh dunia dengan segala kenyamanannya. Mereka enggan menanggalkan kehidupan manusia lamanya. Lebih memilih untuk hidup menuruti keinginan daging daripada tunduk pada pimpinan Roh Kudus. Ibadah atau pelayanan dilakukan tak lebih dari sekedar rutinitas! Pulang dari ibadah dan pelayanan tetap kembali kepada kehidupan 'Mesir'.
Selama hidup kita masih belum sepenuhnya terlepas dari 'Mesir', sulit rasanya kita mencapai Tanah Perjanjian. Kehidupan di dalam cengkeraman Iblis dan diperbudak olehnya. Tanah perjanjian berbicara tentang penggenapan janji-janji Tuhan. Karena itu milikilah komitmen untuk keluar dari 'Mesir' yang adalah lambang dunia.
Tinggalkan segala kenyamanan dunia dan jangan hidup menurut daging, sebab hal itu hanya akan menuntun seseorang kepada kebinasaan!
Wednesday, February 13, 2019
KERINDUAN TUHAN: Umat-Nya Hidup Rukun
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 Februari 2019
Baca: Roma 15:1-13
"Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus," Roma 15:5
Dalam kehidupan bermasyarakat setiap orang harus hidup rukun satu sama lain. Itulah sebabnya di setiap lingkungan di mana kita tinggal dibentuklah RT (rukun tetangga) dan RW (rukun warga). RT dan RW adalah satu bentuk organisasi masyarakat yang dibuat berdasarkan pembagian wilayah. Tujuan dibentuknya RT dan RW adalah untuk menumbuhkan kerukunan antarwarga dalam lingkup kecil. Mengapa kerukunan itu penting? Sebab bila setiap warga memiliki hubungan yang dekat, saling bekerjasama dan saling tolong-menolong, terciptalah rasa tenang dan tenteram. Dalam sila ke-3 Pancasila butir ke-6 juga ditegaskan tentang pentingnya sikap mengembangkan persatuan atas dasar Bhinneka Tunggal Ika. Ini berbicara tentang kerukunan hidup antarwarga, sekalipun kita memiliki latar belakang yang berbeda: ras, suku, agama dan sebagainya.
Tuhan pun tidak menghendaki orang percaya hidup dalam perpecahan dan perselisihan satu sama lain karena kita semua adalah satu dalam keluarga di dalam Kristus, warga Kerajaan Sorga (Filipi 3:20). Karena itu kita harus menjaga kerukunan hidup antarumat Tuhan. Hal ini juga yang menjadi pokok doa Kristus kepada Bapa: "supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita," (Yohanes 17:21). Alkitab secara jelas menyatakan bahwa kerukunan di antara jemaat Tuhan adalah sesuatu yang baik, indah, memiliki nilai istimewa di pemandangan mata Tuhan; sesuatu yang dapat menggetarkan hati Tuhan untuk bertindak menolong dan memberikan apa yang umat-Nya perlukan. "Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. (Matius 18:19).
Pemazmur mengungkapkan, "Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!" (Mazmur 133:1). Di mana jemaat Tuhan hidup dalam kerukunan dan kesatuan hati, maka "...ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya." (Mazmur 133:3b).
Permusuhan, pertengkaran, pertikaian, kebencian dan sakit hati di antara jemaat Tuhan hanya akan menghambat berkat-berkat Tuhan dicurahkan!
Baca: Roma 15:1-13
"Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus," Roma 15:5
Dalam kehidupan bermasyarakat setiap orang harus hidup rukun satu sama lain. Itulah sebabnya di setiap lingkungan di mana kita tinggal dibentuklah RT (rukun tetangga) dan RW (rukun warga). RT dan RW adalah satu bentuk organisasi masyarakat yang dibuat berdasarkan pembagian wilayah. Tujuan dibentuknya RT dan RW adalah untuk menumbuhkan kerukunan antarwarga dalam lingkup kecil. Mengapa kerukunan itu penting? Sebab bila setiap warga memiliki hubungan yang dekat, saling bekerjasama dan saling tolong-menolong, terciptalah rasa tenang dan tenteram. Dalam sila ke-3 Pancasila butir ke-6 juga ditegaskan tentang pentingnya sikap mengembangkan persatuan atas dasar Bhinneka Tunggal Ika. Ini berbicara tentang kerukunan hidup antarwarga, sekalipun kita memiliki latar belakang yang berbeda: ras, suku, agama dan sebagainya.
Tuhan pun tidak menghendaki orang percaya hidup dalam perpecahan dan perselisihan satu sama lain karena kita semua adalah satu dalam keluarga di dalam Kristus, warga Kerajaan Sorga (Filipi 3:20). Karena itu kita harus menjaga kerukunan hidup antarumat Tuhan. Hal ini juga yang menjadi pokok doa Kristus kepada Bapa: "supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita," (Yohanes 17:21). Alkitab secara jelas menyatakan bahwa kerukunan di antara jemaat Tuhan adalah sesuatu yang baik, indah, memiliki nilai istimewa di pemandangan mata Tuhan; sesuatu yang dapat menggetarkan hati Tuhan untuk bertindak menolong dan memberikan apa yang umat-Nya perlukan. "Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. (Matius 18:19).
Pemazmur mengungkapkan, "Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!" (Mazmur 133:1). Di mana jemaat Tuhan hidup dalam kerukunan dan kesatuan hati, maka "...ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya." (Mazmur 133:3b).
Permusuhan, pertengkaran, pertikaian, kebencian dan sakit hati di antara jemaat Tuhan hanya akan menghambat berkat-berkat Tuhan dicurahkan!
Tuesday, February 12, 2019
PENYEMBAHAN KEPADA TUHAN YANG BENAR
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 Februari 2019
Baca: Imamat 26:1-13
"Janganlah kamu membuat berhala bagimu, dan patung atau tugu berhala janganlah kamu dirikan bagimu; juga batu berukir janganlah kamu tempatkan di negerimu untuk sujud menyembah kepadanya, sebab Akulah TUHAN,..." Imamat 26:1
Yang harus menjadi sasaran dan pusat penyembahan orang percaya adalah Tuhan yang benar dan hidup, bukanlah berhala-berhala dalam rupa patung, tugu, atau batu ukir-ukiran. Ironisnya masih ada orang-orang yang tidak menjadikan Tuhan sebagai pusat penyembahan mereka, melainkan mereka menjadikan patung, tugu, atau batu ukiran sebagai pusat sesembahan. Penyembahan kepada apa pun dan siapa pun, selain kepada Tuhan yang benar dan hidup, adalah penyembahan berhala. Tentang hal ini pemazmur menyatakan, "Berhala bangsa-bangsa adalah perak dan emas, buatan tangan manusia, mempunyai mulut, tetapi tidak dapat berkata-kata, mempunyai mata, tetapi tidak dapat melihat, mempunyai telinga, tetapi tidak dapat mendengar, juga nafas tidak ada dalam mulut mereka. Seperti itulah jadinya orang-orang yang membuatnya, semua orang yang percaya kepadanya." (Mazmur 135:15-18).
Penyembahan terhadap ilah-ilah lain merupakan kekejian di mata Tuhan! Oleh sebab itu rasul Paulus memperingatkan, "...saudara-saudaraku yang kekasih, jauhilah penyembahan berhala!" (1 Korintus 10:14). Sebagai orang percaya yang memiliki Tuhan yang hidup dan benar, seharusnya kita tidak menyembah Dia dengan asal-asalan atau sembarangan, sebatas ritual keagamaan semata. Penyembahan kepada Tuhan menyangkut sikap hati dan juga ketaatan kita dalam melakukan kehendak-Nya. Tanpa sikap hati yang benar dan ketaatan, penyembahan kita tak ada arti apa-apa di hadapan Tuhan, dan itu hanya akan membangkitkan murka Tuhan.
Penyembahan kepada Tuhan sesungguhnya berbicara tentang gaya hidup kudus. Ini adalah bentuk penyembahan yang berkenan kepada Tuhan dan mendatangkan berkat. "Aku akan memberi kamu hujan pada masanya, sehingga tanah itu memberi hasilnya dan pohon-pohonan di ladangmu akan memberi buahnya. Kamu akan makan makananmu sampai kenyang dan diam di negerimu dengan aman tenteram." (Imamat 26:4-5).
Inti dari penyembahan kepada Tuhan yang hidup dan benar adalah ketaatan kita! Penyembahan yang demikian pasti mendatangkan berkat Tuhan!
Baca: Imamat 26:1-13
"Janganlah kamu membuat berhala bagimu, dan patung atau tugu berhala janganlah kamu dirikan bagimu; juga batu berukir janganlah kamu tempatkan di negerimu untuk sujud menyembah kepadanya, sebab Akulah TUHAN,..." Imamat 26:1
Yang harus menjadi sasaran dan pusat penyembahan orang percaya adalah Tuhan yang benar dan hidup, bukanlah berhala-berhala dalam rupa patung, tugu, atau batu ukir-ukiran. Ironisnya masih ada orang-orang yang tidak menjadikan Tuhan sebagai pusat penyembahan mereka, melainkan mereka menjadikan patung, tugu, atau batu ukiran sebagai pusat sesembahan. Penyembahan kepada apa pun dan siapa pun, selain kepada Tuhan yang benar dan hidup, adalah penyembahan berhala. Tentang hal ini pemazmur menyatakan, "Berhala bangsa-bangsa adalah perak dan emas, buatan tangan manusia, mempunyai mulut, tetapi tidak dapat berkata-kata, mempunyai mata, tetapi tidak dapat melihat, mempunyai telinga, tetapi tidak dapat mendengar, juga nafas tidak ada dalam mulut mereka. Seperti itulah jadinya orang-orang yang membuatnya, semua orang yang percaya kepadanya." (Mazmur 135:15-18).
Penyembahan terhadap ilah-ilah lain merupakan kekejian di mata Tuhan! Oleh sebab itu rasul Paulus memperingatkan, "...saudara-saudaraku yang kekasih, jauhilah penyembahan berhala!" (1 Korintus 10:14). Sebagai orang percaya yang memiliki Tuhan yang hidup dan benar, seharusnya kita tidak menyembah Dia dengan asal-asalan atau sembarangan, sebatas ritual keagamaan semata. Penyembahan kepada Tuhan menyangkut sikap hati dan juga ketaatan kita dalam melakukan kehendak-Nya. Tanpa sikap hati yang benar dan ketaatan, penyembahan kita tak ada arti apa-apa di hadapan Tuhan, dan itu hanya akan membangkitkan murka Tuhan.
Penyembahan kepada Tuhan sesungguhnya berbicara tentang gaya hidup kudus. Ini adalah bentuk penyembahan yang berkenan kepada Tuhan dan mendatangkan berkat. "Aku akan memberi kamu hujan pada masanya, sehingga tanah itu memberi hasilnya dan pohon-pohonan di ladangmu akan memberi buahnya. Kamu akan makan makananmu sampai kenyang dan diam di negerimu dengan aman tenteram." (Imamat 26:4-5).
Inti dari penyembahan kepada Tuhan yang hidup dan benar adalah ketaatan kita! Penyembahan yang demikian pasti mendatangkan berkat Tuhan!
Subscribe to:
Comments (Atom)