Thursday, December 27, 2018

SEMAKIN BERISI HENDAKNYA SEMAKIN MERUNDUK

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 27 Desember 2018

Baca:  Ulangan 8:1-20

"Maka janganlah kaukatakan dalam hatimu: Kekuasaanku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini."  Ulangan 8:17

Salah satu sifat buruk yang tanpa disadari sering muncul dalam diri seseorang adalah sombong.  Kesombongan adalah kebencian Tuhan.  Sifat ini seringkali muncul pada saat seseorang berada  'di atas', berhasil atau diberkati.  Ingat!  Ujian Tuhan tidak selalu berupa masalah atau penderitaan, terkadang bisa berupa berkat, kelimpahan atau keberhasilan.

     Banyak orang gagal dalam ujian berkat ini.  Ketika hidupnya biasa saja dan pas-pasan, orang begitu tekun mencari Tuhan dan beribadah kepada-Nya dengan sungguh-sungguh.  Begitu hidupnya berubah:  diberkati, kekayaan bertambah, pelayanan berhasil, bisnis makin maju, mulailah mereka berubah sikap menjadi sombong, merasa semua adalah hasil jerih payah dan kerja kerasnya sendiri. 
"Kekuasaanku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini."  (ayat nas).  Di setiap kesempatan, dari nada bicaranya mulai terlihat bahwa mereka selalu membangga-banggakan diri dan mulai menganggap remeh orang lain.  Penyakit sombong ini juga menjangkiti pelayan-pelayan Tuhan!  Dahulu ketika pelayanannya masih biasa-biasa saja, bila ada orang yang membutuhkan bantuan doa dan ia sewaktu-waktu dipanggil, ia pasti datang.  Begitu pelayanannya berhasil dan namanya mulai terkenal, bila ada orang yang membutuhkan bantuan doa, ia sulit sekali untuk ditemui.  Memang benar, tanpa kerja keras orang tidak akan berhasil dalam setiap usaha dan pelayanan, tapi bila Tuhan tidak turut campur tangan di setiap usaha dan pelayanan kita, apakah bisa berhasil?  "...Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya..."  (Ulangan 8:18).

     Agur bin Yake katakan,  "Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku."  (Amsal 30:8-9).

Jangan jadi orang yang tidak kuat menerima berkat, seharusnya semakin diberkati Tuhan hidup kita semakin menjadi berkat pula.

Wednesday, December 26, 2018

JANGAN ADA IRI HATI DI ANTARA KITA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 26 Desember 2018

Baca:  Bilangan 12:1-16

"'Sungguhkah TUHAN berfirman dengan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman?' Dan kedengaranlah hal itu kepada TUHAN."  Bilangan 12:2

Kisah ini berawal ketika Miryam dan Harun merasa kecewa kepada saudara kandungnya, Musa, yang telah menikahi perempuan Kusy.  Rasa kecewa itu semakin menjadi-jadi ketika mereka melihat bahwa Tuhan telah memilih dan mengurapi Musa untuk menjadi pemimpin atas Israel.  Akhirnya terungkap bahwa kekecewaan mereka didasari oleh rasa iri hati, bahkan mereka berani mengatai-ngatai Musa:  "'Sungguhkah TUHAN berfirman dengan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman?' Dan kedengaranlah hal itu kepada TUHAN."  (ayat nas).  Iri hati timbul dalam diri seseorang ketika merasa kurang senang melihat kelebihan atau keberhasilan orang lain.

     Tuhan tahu apa yang terjadi, sehingga Ia memanggil Musa, Harun dan Miryam untuk masuk ke Kemah Pertemuan:  "Jika di antara kamu ada seorang nabi, maka Aku, TUHAN menyatakan diri-Ku kepadanya dalam penglihatan, Aku berbicara dengan dia dalam mimpi. Bukan demikian hamba-Ku Musa, seorang yang setia dalam segenap rumah-Ku."  (Bilangan 12:6-7).  Karena telah mengatai-ngatai orang yang telah diurapi Tuhan, Miryam harus menuai akibat yaitu terkena kusta,  "Sebab itu bangkitlah murka TUHAN terhadap mereka, lalu pergilah Ia. Dan ketika awan telah naik dari atas kemah, maka tampaklah Miryam kena kusta, putih seperti salju; ketika Harun berpaling kepada Miryam, maka dilihatnya, bahwa dia kena kusta!"  (Bilangan 12:9-10).  Sebenarnya Harun juga turut menyinggung Musa, namun ia segera sadar, lalu merendahkan diri dan memohon pengampunan kepada Tuhan, sehingga ia luput dari penyakit kusta.

     Apa yang menimpa Miryam menjadi peringatan keras bagi kita!  Jangan sekali-kali iri hati kepada orang lain, terlebih kepada orang-orang yang telah dipilih dan diurapi Tuhan.  Iri hati hanya akan berdampak buruk dan mendatangkan hukuman.  "...iri hati membusukkan tulang."  (Amsal 14:30).  Lalu Musa berdoa kepada Tuhan dan memohon kasih karunia-Nya:  "Ya Allah, sembuhkanlah kiranya dia."  (Bilangan 12:13).

"Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat."  Yakobus 3:16

Tuesday, December 25, 2018

KIDUNG PUJIAN DI HARI NATAL

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 25 Desember 2018

Baca:  Lukas 1:46-55

"Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku,"  Lukas 1:46-47

Ribuan tahun silam, di kota Yerusalem, terdengarlah suara merdu seorang wanita melantunkan kidung pujian bagi Tuhan.  Ialah Maria, yang beroleh kasih karunia Tuhan  (Lukas 1:30).  Suatu anugerah besar bagi Maria karena Tuhan berkenan menjadikannya saluran berkat bagi dunia, karena melalui dirinya lahirlah Sang Juruselamat dunia.  Untuk menggenapi rencana Tuhan ini Maria berani membayar harga yaitu menanggung resiko besar, bisa dihukum mati karena dituduh berzinah.  Karena itulah di tengah-tengah situasi sulit Maria bisa bersyukur dan menyenandungkan pujian-pujian dan memuliakan Tuhan.

     Maria melantunkan kidung pujian bagi Tuhan karena Tuhan telah menyelamatkan umat-Nya. 
"Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku,"  (ayat nas).  Ia menyadari dirinya adalah orang berdosa yang sesungguhnya patut dihukum dan keadilan Tuhan harus ditegakkan.  Tak seorang manusia pun mampu menyelamatkan diri dari hukuman tersebut, namun karena begitu besar kasih Tuhan kepada manusia,  "Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita,...sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita."  (Mazmur 103:10, 12).  Atas dasar inilah Maria memuji-muji Tuhan dengan sepenuh hati.  Ia bernyanyi bukan asal-asalan, tapi melibatkan seluruh keberadaan hidupnya disertai sikap hormat dan ekspresi penuh kebahagiaan karena telah beroleh anugerah keselamatan.

     Maria memuji-muji Tuhan karena Tuhan rela turun dari takhta-Nya yang Mahatinggi datang ke dunia dan bersedia dilahirkan di kandang yang hina.  Ini berbicara tentang kerendahan hati.  Karena itu setiap orang percaya harus mengikuti teladan-Nya, sebab Tuhan sangat mengasihi orang yang rendah hati dan menentang orang yang sombong,  "Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah;"  (Lukas 1:52).  Kehadiran Sang Juruselamat di dunia ini adalah bukti bahwa Tuhan setia pada janji-Nya  (Lukas 1:54-55).

"Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud."  Lukas 2:11

Monday, December 24, 2018

JANGAN SAMPAI FRUSTASI

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 24 Desember 2018

Baca:  Ayub 10:1-22

"Aku telah bosan hidup, aku hendak melampiaskan keluhanku, aku hendak berbicara dalam kepahitan jiwaku."  Ayub 10:1

Rasa frustasi dan berujung kepada keputusasaan seringkali timbul ketika orang berada dalam situasi sangat sulit serasa tidak ada jalan keluar, ketika masalah datang bertubi-tubi, ketika beban hidup terasa berat.  Puncak frustasi dan putus asa adalah merasa bosan hidup, sehingga timbul niat mengakhiri hidup saja karena merasa diri tidak berarti lagi.

     Kondisi seperti ini pernah dirasakan oleh Ayub!  Penderitaan yang datang secara bertubi-tubi membuatnya nyaris frustasi:  harta bendanya ludes, anak-anaknya mati  (Ayub 1:1-22), bahkan isteri yang dikasihinya pun pergi meninggalkan dia.  Kemalangan Ayub semakin lengkap, sebab sahabat-sahabat terdekatnya juga beranjak menjauh.  Itulah dunia!  Ketika seseorang sedang berada  'di atas'  dan berlimpah harta sangatlah wajar bila banyak orang mengerumuninya, tetapi begitu ia berada  'di bawah'  dan jatuh miskin, tak banyak orang mau berteman dengannya alias ditinggalkan oleh teman-temannya,  "Juga oleh temannya orang miskin itu dibenci, tetapi sahabat orang kaya itu banyak."  (Amsal 14:20).  Karena telah kehilangan segala-galanya Ayub menjadi sangat frustasi dan rasa frustasinya itu sudah sampai di ambang batas, sampai-sampai ia merasa telah bosan hidup.  Bahkan Ayub merasa menyesal telah dilahirkan ke dalam dunia ini:  "Mengapa Engkau menyebabkan aku keluar dari kandungan? Lebih baik aku binasa, sebelum orang melihat aku!"  (Ayub 10:18).

     Di zaman yang serbasulit seperti sekarang ini ada banyak orang merasa frustasi dan berputus asa karena tekanan hidup yang berat.  Bahkan tidak sedikit dari mereka yang terbersit di hati untuk mengakhiri hidup saja sama seperti Ayub.  Jangan sekali-kali timbul keinginan untuk mengakhiri hidup!  Seberat apa pun penderitaan yang kita alami pasti ada jalan ke luarnya.  Mari datanglah kepada Kristus!  Karena Dia adalah  "...jalan dan kebenaran dan hidup."  (Yohanes 14:6a).  Di dalam Kristus pasti ada jalan ke luar, ada pertolongan, ada kelepasan.  Jadi,  "Masih ada harapan untuk hari depanmu, demikianlah firman TUHAN:"  (Yeremia 31:17).

"Sebab bukan untuk seterusnya orang miskin dilupakan, bukan untuk selamanya hilang harapan orang sengsara."  Mazmur 9:19

Sunday, December 23, 2018

PERTOBATAN MENGHASILKAN PEMULIHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 23 Desember 2018

Baca:  Mazmur 51:1-21

"Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah."  Mazmur 51:19

Saul dan Daud memiliki kesamaan dalam beberapa hal, di antaranya:  sama-sama pernah menjadi raja atas Israel dan sama-sama diurapi Tuhan dari tabung tanduk nabi yang sama yaitu Samuel.  Pengurapan Saul  (1 Samuel 10:1)  dan pengurapan Daud  (1 Samuel 16:13)  sama, sehingga Roh Tuhan berkuasa atas hidup mereka.  Roh Tuhan menyertai kehidupan keduanya.  Kesamaan yang lain:  Saul dan Daud pernah jatuh dalam dosa.  Karena tidak sabar menantikan kedatangan Samuel, Saul melakukan tindakan bodoh yaitu berani mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan di Gilgal, padahal tugas mempersembahkan korban adalah tugas seorang imam  (1 Samuel 13:8-12).  Sedangkan Daud melakukan dosa perzinahan dengan Batsyeba  (2 Samuel 11:1-5).  Ini bukti bahwa keduanya adalah manusia biasa yang punya kelemahan.

     Meski memiliki banyak kesamaan, akhir hidup mereka sangatlah berbeda.  Bagaimana bisa?  Pilihan dan keputusan mereka dalam menjalani hidup menentukan masa depan mereka sendiri.  Saul tetap saja mengeraskan hati, berkilah tak mau mengakui kesalahan, dan tidak mau bertobat sekalipun telah ditegur Samuel perihal ketidaktaatannya:  "Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan. Sebab pendurhakaan adalah sama seperti dosa bertenung dan kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim. Karena engkau telah menolak firman TUHAN, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja."  (1 Samuel 15:22-23).  Akibatnya Roh Tuhan undur dan meninggalkan Saul dan ia pun harus kehilangan takhtanya.

     Berbeda dengan Daud, ketika ditegur Natan perihal dosa perzinahannya, Daud menunjukkan penyesalannya yang mendalam dan hatinya menjadi remuk.  Berserulah Daud kepada Tuhan memohon pengampunan:  "Sembunyikanlah wajah-Mu terhadap dosaku, hapuskanlah segala kesalahanku! Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku!"  (Mazmur 51:11, 13).  Tuhan berkenan kepada pertobatan Daud sehingga Roh-Nya pun tetap menyertai.

Tuhan mengokohkan takhta kerajaan Daud, sedangkan hidup Saul berakhir tragis.

Saturday, December 22, 2018

BANGKITLAH DARI KEGAGALAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 22 Desember 2018

Baca:  Ayub 42:1-6

"Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal."  Ayub 42:2

Semua orang pasti pernah mengalami kegagalan dalam hidupnya, termasuk orang-orang besar atau tokoh-tokoh hebat yang ada di dunia ini.  Mengalami kegagalan dalam bisnis, pekerjaan, rumah tangga, hubungan asmara, studi dan sebagainya pasti menimbulkan rasa kecewa yang mendalam.  Namun tak perlu kita larut dalam kekecewaan yang berkepanjangan, apalagi sampai berputus asa.  Ini sangat berbahaya!  Saat berada di ambang keputusasaan, hal-hal yang tidak diinginkan seringkali terjadi:  terjerat narkoba, jatuh dalam pergaulan bebas, atau mengambil jalan pintas untuk mengakhiri hidup.  Setiap kegagalan yang kita alami bukanlah suatu hal yang terburuk di dalam kehidupan ini, tapi merupakan hal yang wajar dan biasa!

     Kata  'gagal'  memiliki arti:  tidak berhasil, tidak tercapai  (maksudnya).  Kegagalan bisa saja Tuhan ijinkan terjadi dalam hidup ini untuk membuka mata rohani kita bahwa tanpa Tuhan kita tidak dapat melakukan hal-hal yang berarti.  Betapa banyak di antara kita yang tak pernah melibatkan Tuhan dalam setiap rancangan dan rencana hidup ini karena kita merasa diri mampu dan pintar.  "Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana."  (Amsal 19:21).  Tetapi begitu mengalami kegagalan barulah kita sadar bahwa tanpa Tuhan kita tidak bisa berbuat apa-apa.  Saat kita dalam keadaan tiada berdaya dan mengangkat tangan tanda berserah, saat itulah Tuhan akan turun tangan menyatakan kuasa-Nya.  "Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku."  (2 Korintus 12:9b).

     Sebagai orang percaya janganlah kita cepat putus asa ketika diperhadapkan dengan kegagalan, sebab kita bukanlah satu-satunya orang yang pernah mengalami kegagalan.  Jangan pernah menganggap bahwa kegagalan itu sebagai harga mati.  Percayalah akan selalu ada kesempatan pertama, kedua, ketiga dan seterusnya.  Asalkan mau berusaha, kesempatan untuk berhasil pasti akan terbuka lebar.  Ambil sisi positif dari setiap kegagalan tersebut.  Belajarlah untuk selalu melibatkan Tuhan di segala aspek kehidupan ini, sebab kehendak dan rencana-Nya takkan pernah gagal.

Jadikan kegagalan sebagai batu lompatan untuk kita meraih keberhasilan!

Friday, December 21, 2018

PADANG GURUN SEBAGAI SEKOLAH KEHIDUPAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 21 Desember 2018

Baca:  Mazmur 136:1-26

"Kepada Dia yang memimpin umat-Nya melalui padang gurun! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya."  Mazmur 136:16

Sadar atau tidak, hidup yang sedang kita jalani ini adalah ibarat sebuah sekolah, di situlah proses belajar terjadi.  Banyak hal dalam kehidupan ini yang bisa kita jadikan bahan pemelajaran.  Kita bisa belajar melalui perjalanan hidup yang terkadang melewati kerikil-kerikil, batu-batu besar, tikungan-tikungan tajam, dan juga lembah-lembah curam.  Kita bisa belajar dari masalah, kesulitan, tekanan, penderitaan, situasi, kejadian atau peristiwa.

     Terkadang Tuhan ijinkan kita melwati  'padang gurun'  yang gersang dan tandus.  Padang gurun adalah tempat yang udaranya sangat panas di waktu siang dan terasa sangat dingin di kala malam.  Air menjadi sesuatu yang langka dan sangat berharga, dan belum lagi bahaya binatang buas seperti ular dan sebagainya.  Padang gurun adalah gambaran kehidupan yang sungguh tidak enak, tidak nyaman dan penuh kesulitan.  Banyak orang tidak menyukai kehidupan di padang gurun dan berusaha lari menghindar dan memberontak.  Musa yang dibesarkan di istana Firaun dengan segala kenyamanan dan kemewahan justru memilih untuk mengikuti panggilan Tuhan, sekalipun ada harga yang harus dibayarnya, yaitu berada di padang gurun selama 40 tahun bersama umat Israel.  "Karena iman maka Musa, setelah dewasa, menolak disebut anak puteri Firaun, karena ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa."  (Ibrani 11:24-25).

      Padang gurun menjadi sekolah kehidupan bagi Musa dan juga bangsa Israel, di sanalah mereka mengalami proses pembentukan dan pendewasaan iman:  "Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni, apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak."  (Ulangan 8:2).  Bersyukurlah jika saat ini Tuhan membawa kita kepada situasi  'padang gurun', memang terasa tidak enak dan mungkin sangat menyakitkan secara daging, tapi percayalah bahwa kasih setia-Nya tak berubah.

Padang gurun menjadi  'sekolah'  kehidupan bagi kita, karena di situlah Tuhan memroses kita sampai kita kedapatan siap menerima curahan berkat-Nya!

Thursday, December 20, 2018

TUHAN HANYA SEJAUH DOA KITA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 20 Desember 2018

Baca:  Mazmur 119:151-160

"Engkau dekat, ya TUHAN, dan segala perintah-Mu adalah benar."  Mazmur 119:151-160

Hal yang patut menjadi kebanggaan bagi semua orang percaya adalah kita memiliki Tuhan yang begitu mengasihi dan memedulikan kita, bahkan Ia ingin selalu dekat dengan kita.  Adakah agama dan kepercayaan apa pun, di mana umat dapat memanggil Tuhannya dengan sebutan  'Bapa', selain kita orang percaya?  "Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: 'ya Abba, ya Bapa!'"  (Roma 8:15).  Kata  'Abba'  dalam bahasa Aram secara harafiah berarti Bapa, ayah atau papa.  Sebutan  'Bapa'  adalah gambaran suatu hubungan yang begitu dekat dan akrab, hubungan antara bapa dan anak dalam sebuah keluarga.

     Alkitab menyatakan setiap orang yang percaya kepada Kristus diberi kuasa menjadi anak-anak Tuhan  (Yohanes 1:12), karena itulah Kristus mengajarkan Doa Bapa Kami kepada murid-murid-Nya.  Ketika kita berdoa dan memanggil Dia sebagai Bapa itu artinya Tuhan kita bukanlah Tuhan yang jauh, Dia dekat, hanya sejauh doa-doa kita.  Daud memahami benar bahwa Tuhan itu dekat dan Mahatahu:  "TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi."  (Mazmur 139:1-3).  Tuhan tahu apa yang kita perbuat, Dia tahu sekecil apa pun pergumulan kita, Dia tahu kebutuhan kita.  "...jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya."  (Matius 7:11).

     Karena Tuhan itu dekat, Dia juga tahu kapan harus menegur, memperingatkan dan jika perlu menghajar kita yang adalah anak-anak-Nya, apabila kita melakukan pelanggaran atau hidup menyimpang dari kehendak-Nya.  Oleh sebab itu  "...janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak."  (Ibrani 12:6).

Karena Tuhan itu dekat, carilah Dia selalu selama Ia berkenan kita temui!  Yesaya 55:6

Wednesday, December 19, 2018

PENYERTAAN TUHAN YANG SEMPURNA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 19 Desember 2018

Baca:  Ibrani 13:1-16

"Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau."  Ibrani 13:5b

Kita patut bersyukur karena kita memiliki Tuhan yang tidak pernah meninggalkan kita, di mana pun kita berada Dia selalu ada, Dialah Jehovah Shammah, Tuhan yang Mahahadir.  Betapa mengagumkan janji Tuhan ini, selalu hadir dan menyatakan penyertaan-Nya atas kita, anak-anak-Nya.  Tak ada pemimpin agama mana pun yang berjanji dan memberikan jaminan penyertaan kepada umatnya seperti Kristus.  Ayat nas merupakan penegasan apa yang Tuhan sampaikan kepada murid-murid-Nya:  "...pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."  (Matius 28:19-20).

     Janji Tuhan menyertai umat-Nya tidak pernah diingkari.  Awal ketika diutus Tuhan membawa Bangsa Israel ke luar dari Mesir, Musa sempat menolak karena merasa tidak mampu dan tidak cakap bicara, namun Tuhan menguatkannya:  "...pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kaukatakan."  (Keluaran 4:12).  Saat Israel menempuh perjalanan di padang gurun Ia menyatakan penyertaan dan kehadiran-Nya melalui tiang awan dan tiang api  (Keluaran 13:21).  Tatkala Israel mengalami ketakutan karena dikejar pasukan Firaun, sedangkan di hadapan mereka laut Teberau, Tuhan ada di sana.  Berkatalah Musa,  "Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu; sebab orang Mesir yang kamu lihat hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya."  (Keluaran 14:13).

     Sampai kesudahan zaman janji Tuhan tak pernah berubah, akan tetap menyertai umat-Nya melalui Roh-Nya yang kudus.  Tak perlu takut menghadapi apa pun,  "...sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan."  (Yesaya 41:10).

Orang percaya tidak pernah ditinggalkan Tuhan!  Karena itu tetaplah kuat di segala situasi.