Monday, July 9, 2018

KESERAKAHAN MEMBAWA KEHANCURAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 9 Juli 2018

Baca:  Matius 26:14-16

"'Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?' Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya."  Matius 26:15

Firman Tuhan memperingatkan kita untuk selalu menjaga hati:  "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan."  (Amsal 4:23), sebab dari hati bisa timbul segala hal yang jahat:  "...percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan."  (Markus 7:21-22).  Keserakahan adalah salah satu sifat yang bisa timbul dalam diri seseorang.  Serakah bisa diartikan:  suatu hasrat yang berlebihan atau keinginan untuk memperoleh sebanyak-banyaknya.  Serakah dapat nyata dalam cinta akan uang  (materi).  Karena serakah terhadap warisan seseorang bisa mengorbankan hubungan dengan saudara kandung sendiri;  dikuasai oleh sifat serakah tak terhitung banyaknya pejabat pemerintahan di negeri ini yang berani melakukan tindakan korupsi.

     Keserakahan selalu menuntun seseorang kepada perilaku yang salah dan menyimpang dari kebenaran, yang semata-mata bertujuan untuk kepentingan diri sendiri.  Karena serakah Yudas Iskariot terdorong untuk melakukan pengkhianatan terhadap Guru-nya sendiri.  Ia tega menjual Kristus dengan harga tiga puluh keping perak.  Jelas terlihat bahwa ia lebih menginginkan uang dari pada Tuhan-nya dan ia pun rela kehilangan sahabat-sahabatnya.  Di dalam Injil Markus 14:10-11 dinyatakan bahwa Yudas mendatangi para imam kepala dengan tujuan ingin menyerahkan Kristus kepada mereka, dengan harapan ia mendapatkan sejumlah uang.  Bahkan Yudas Iskariot dengan sengaja mengadakan perundingan dengan para imam kepala untuk menangkap Kristus yaitu dengan sebuah ciuman pengkhianatan  (Lukas 22:47-48).

     Keserakahan ini akhirnya menuntun Yudas Iskariot kepada kehancuran.  Penyesalan selalu datang belakangan dan hidupnya pun harus berakhir dengan sangat tragis dan mengerikan:  mati dengan cara gantung diri.  "...perutnya terbelah sehingga semua isi perutnya tertumpah ke luar."  (Kisah 1:18).  Pengalaman hidup Yudas Iskariot ini menjadi pelajaran berharga bagi kita!  Karena itu jangan sekali-kali berlaku serakah!

Keserakahan itu sama dengan penyembahan berhala dan mendatangkan murka Tuhan  (Efesus 3:5-6).

Sunday, July 8, 2018

HIDUP KRISTIANI: Bertobat dan Lahir Baru

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 Juli 2018

Baca:  Matius 3:1-12

"Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan."  Matius 3:9

Dalam kehidupan Kristiani ada dua proses penting yang harus dijalani yaitu pertobatan dan kelahiran baru.  Oleh karena itu seruan pertobatan takkan pernah berhenti untuk disampaikan karena pertobatan adalah hal mendasar.  Kata bertobat  (Yunani metanoia)  terbentuk dari dua kata yaitu meta yang artinya berubah  (change)  dan nous yang artinya pikiran  (mind).  Jadi metanoia berarti perubahan pikiran.  Kata inilah yang sering digunakan untuk menunjuk pada pertobatan seseorang yang ditandai dengan perubahan pikiran.  Bertobat bisa diartikan berubah arah tujuan yaitu dari jalan orang berdosa yang selama ini dijalaninya, ke arah jalan atau kehendak Tuhan.

     Seorang yang bertobat berarti sedang menyerahkan tujuan hidup dan hatinya secara sukarela kepada Tuhan, di mana kemudian Tuhan sendiri akan memperbarui dan memrosesnya.  Seorang berdosa yang sadar akan dosanya dan dengan tulus hati menyesali semua perbuatannya yang bertentangan dengan kehendak Tuhan akan mudah sekali untuk bertobat.  Yang dimaksud bertobat bukanlah sebatas menyesali dosa-dosa yang telah diperbuat, tetapi juga ada kemauan dan komitmen untuk berjalan ke arah jalan Tuhan  (Yohanes 14:6).  Inilah yang Kristus sedang cari!  "...Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa."  (Matius 9:13).

     Tahap selanjutnya adalah Tuhan akan mengerjakan apa yang menjadi bagian-Nya yaitu melahirkan orang itu kembali menjadi ciptaan yang baru.  Proses  'melahirkan kembali'  ini adalah pekerjaan Roh Kudus.  "...semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah."  (Yohanes 1:12-13).  Kristus menambahkan:  "...sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh. Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali."  (Yohanes 3:5-7).  Tanpa pertobatan dan kelahiran baru kita tak layak disebut pengikut Kristus yang sejati!

Siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru  (2 Korintus 5:17).

Saturday, July 7, 2018

JANGAN MENGOTORI BAIT ROH KUDUS!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 7 Juli 2018

Baca:  1 Korintus 6:12-20

"Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, --dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?"  1 Korintus 6:19

Tak seorang pun suka jika rumahnya kotor dan berantakan.  Itulah sebabnya kita berusaha menjaga kebersihan rumah setiap hari, mulai dari menyapu, mengepel, merapikan dan sebagainya, supaya rumah selalu dalam keadaan bersih, rapi dan terawat baik.  Jika ada orang yang dengan sengaja mengotori rumah kita, tanpa segan kita pasti akan menegurnya.  Keluarga-keluarga berekonomi mapan  (hidup berkecukupan)  biasanya mempekerjakan asisten rumah tangga untuk mengurus rumahnya, sehingga si pemilik rumah tak perlu repot-repot membersihkan rumahnya sendirian.

     Tuhan marah besar ketika melihat Bait Suci telah dikotori dan disalahgunakan oleh orang-orang untuk berdagang.  Ia pun mengusir orang-orang yang berjual beli, meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati dibalikkan-Nya, serta tidak memperbolehkan orang membawa barang-barang melintasi halaman Bait Suci tersebut  (Markus 11:15-16), sebab  "Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa? Tetapi kamu ini telah menjadikannya sarang penyamun!"  (Markus 11:17).  Bait Suci adalah tempat yang sangat sakral, tempat di mana hadirat Tuhan melawat umat-Nya, dan tempat umat bersekutu dan berdoa, bukan sarang penyamun.

     Begitu pula rasul Paulus memperingatkan bahwa ketika kita percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, saat itu pula kita dimeteraikan dengan Roh Kudus dan Roh Kudus tinggal di dalam diri kita, sehingga tubuh kita menjadi bait Roh Kudus.  Karena tubuh ini adalah bait Roh Kudus maka kita harus benar-benar menjaga kebersihannya dan bagaimana supaya Roh Kudus merasa  'betah'  tinggal di dalam kita.  Tapi seringkali kita mengotori bait Roh Kudus dan bahkan merusaknya dengan hal-hal yang bersifat duniawi  (Galatia 5:19-21).  Karena itu janganlah kita menyerahkan anggota-anggota tubuh kita ini kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, melainkan kita menyerahkan anggota-anggota tubuh untuk menjadi senjata kebenaran  (Roma 6:13).

"Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!"  1 Korintus 6:20

Friday, July 6, 2018

MENGASIHI TUHAN: Pasti Dikasihi Tuhan

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 6 Juli 2018

Baca:  Ulangan 5:1-22

"...Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku."  Ulangan 5:10

Kadar kasih seseorang kepada Tuhan itu berbeda-beda!  Ada orang yang tampak mengasihi Tuhan hanya ketika ia sedang butuh saja  (ketika dalam keadaan terjepit atau tertimpa masalah);  ada pula yang berkata mengasihi Tuhan tapi hanya sebatas bibir saja, sedangkan dalam prakteknya tidak;  namun banyak juga orang percaya yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, dibuktikan dengan ketaatan melakukan perintah-perintah-Nya sepenuh hati.  "Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia..."  (Yohanes 14:21).

     Tuhan menghendaki agar semua umat-Nya menuruti perintah-perintah-Nya secara penuh, dengan tidak menyimpang sedikit pun.  Tuhan menyediakan upah  (berkat)  bagi orang-orang yang mengasihi Dia dengan sepenuh hati  (Ulangan 28:1-14).  Tuhan bukanlah Pribadi yang pilih kasih, karena Ia mengasihi semua umat ciptaan-Nya, namun bagi mereka yang mengasihi Dia dengan sepenuh hati, yang dibuktikan melalui ketaatannya dalam melakukan kehendak-Nya, Tuhan akan memberikan kasih dan perhatian-Nya secara khusus dan istimewa.  Daniel adalah contoh orang yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan.  Sekalipun hidup di tengah suatu bangsa yang menyembah berhala tak membuatnya terbawa arus.  Ia tetap berpendirian teguh untuk menjadikan Tuhan sebagai pusat penyembahan dan tak mau berkompromi.  "Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya."  (Daniel 1:8).  Karena itu Tuhan mengasihi dia sedemikian rupa dan mengangkat hidup Daniel:  menjabat kedudukan yang sangat tinggi dalam dua pemerintahan yaitu kerajaan Babel  (Daniel 2:49)  dan kerajaan Media-Persia  (Daniel 6:29).

     Kasih itu memiliki kekuatan yang luar biasa, yang menyebabkan orang rela memberikan segala-galanya.  Ingin dikasihi Tuhan?  Kasihi Tuhan dengan sepenuh hati!

Seberapa besar kasih kita kepada Tuhan akan menentukan juga perlakuan Tuhan dan penanganan Tuhan terhadap diri kita!

Thursday, July 5, 2018

KOTA-KOTA BAGI SUKU LEWI

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 5 Juli 2018

Baca:  Yosua 21:1-42

"Lalu orang Israel memberikan dari milik pusaka mereka kota-kota yang berikut dengan tanah-tanah penggembalaannya kepada orang Lewi, seperti yang dititahkan TUHAN."  Yosua 21:3

Ada 12 suku di Israel:  Ruben, Simeon, Lewi, Yehuda, Zebulon, Isakhar, Dan, Gad, Asyer, Naftali, Yusuf, dan Benyamin.  Suku Israel  (atau Bani Israel, artinya  "putra-putra Israel")  ini merujuk pada kedua belas anak Yakub, cucu dari Abraham.  Nama Yakub kemudian diganti oleh Tuhan menjadi Israel"Namamu Yakub; dari sekarang namamu bukan lagi Yakub, melainkan Israel, itulah yang akan menjadi namamu."  (Kejadian 35:10).

     Ketika bangsa Israel mencapai tanah Kanaan di bawah kepemimpinan Yosua, masing-masing suku mendapatkan tanah warisan  (milik pusaka), kecuali suku Lewi.  Mengapa demikian?  Karena Tuhan sudah menetapkan suku Lewi ini secara khusus untuk melayani di Bait-Nya yang kudus.  Sebagai pelayan Tuhan penghidupan suku Lewi ini sangat bergantung pada besar kecilnya persembahan yang dibawa umat Israel ke Bait Tuhan.  Jika semua umat hidup dalam ketaatan, termasuk dalam hal persembahan  (persepuluhan/khusus), maka kehidupan suku Lewi akan terjamin.  Sebaliknya jika mereka tidak taat dalam hal memberikan persembahan untuk pekerjaan Tuhan ini, maka para pelayan Tuhan ini tidak bisa menggantungkan hidup sepenuhnya dari hasil persembahan.  Bersyukur kita punya Tuhan yang tidak pernah tertidur dan terlelap  (Mazmur 121:4), sekecil apa pun pengorbanan dan jerih lelah kita untuk melayani pekerjaan Tuhan tidak akan pernah sia-sia dan selalu diperhitungkan-Nya.

     Selama kita melayani Tuhan dengan motivasi yang benar dan tetap berlaku hidup benar di hadapan Tuhan tidak ada yang patut ditakutkan dan dikuatirkan, karena Tuhan yang kita layani adalah Jehovah Jireh, Tuhan yang menyediakan.  Jika burung-burung di udara saja Tuhan pelihara, apalagi hamba-hamba-Nya yang bekerja di ladang-Nya.  Masih saja terjadi, karena faktor ekonomi atau kebutuhan hidup, ada pekerja-pekerja Tuhan yang orientasi pelayanannya mulai melenceng arahnya, bukan lagi untuk kemuliaan nama Tuhan, tapi demi mendapatkan keuntungan materi atau uang.

Tuhan pasti memenuhi segala keperluan hamba-hamba-Nya menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus  (Filipi 4:19).

Wednesday, July 4, 2018

ORANG PERCAYA: Bibir yang Bersih

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 4 Juli 2018

Baca:  Zefanya 3:9-20

"Tetapi sesudah itu Aku akan memberikan bibir lain kepada bangsa-bangsa, yakni bibir yang bersih, supaya sekaliannya mereka memanggil nama TUHAN, beribadah kepada-Nya dengan bahu-membahu."  Zefanya 3:9

Sering dijumpai banyak orang Kristen tampak rohani sekali saat berada di gereja, tetapi hal itu tidak bertahan lama.  Setelah keluar dari pagar gereja kehidupan yang tidak rohani kembali nampak jelas.  Hal itu terlihat dari apa yang keluar dari bibir atau ucapannya:  umpatan, cemoohan, makian, sumpah serapah, kata-kata kotor, bohong sana sini, suka menjelek-jelekkan orang, bergosip dan sebagainya.

     Yakobus dalam suratnya menulis:  "Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya."  (Yakobus 1:26).  Ketika menerima panggilan Tuhan Yesaya menyadari bahwa dirinya adalah orang yang najis bibir  (Yesaya 6:5).  Karena itu ia memberi diri untuk dijamah dan diubahkan oleh Roh Tuhan.  Adalah mutlak bagi orang percaya untuk memiliki  'bibir yang bersih'  supaya ibadah dan pelayanannya berkenan di hadapan Tuhan.  Orang dikatakan bibir bersih bila ia mampu mengekang lidahnya dari segala yang jahat atau terbebas dari dusta atau ketidakjujuran.  "Jagalah lidahmu terhadap yang jahat dan bibirmu terhadap ucapan-ucapan yang menipu;"  (Mazmur 34:14).  Karena itu pemazmur berdoa dan memohon,  "Ya TUHAN, lepaskanlah aku dari pada bibir dusta, dari pada lidah penipu."  (Mazmur 120:2).  Tak mudah menemukan orang yang jujur di zaman sekarang ini.  Kebanyakan orang menggunakan trik-trik, akal licik, dan tipu muslihat, demi mewujudkan segala keinginannya.

     Bibir yang bersih adalah bibir yang senantiasa memperkatakan firman Tuhan, karena mengimani setiap janji yang terkandung di dalamnya.  Setiap firman yang kita perkatakan menghasilkan kuasa yang sangat dahsyat.  "...firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya."  (Yesaya 55:11).

Sudahkah bibir kita bersih?  Mohon Roh Kudus-Nya untuk menjamah dan menahirkan bibir kita!  Mazmur 141:3

Tuesday, July 3, 2018

DOSA SEBAGAI PENGHALANG MUJIZAT

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 3 Juli 2018

Baca:  Yesaya 59:1-21

"...yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu."  Yesaya 59:2

Ada banyak orang Kristen komplain:  "Katanya Tuhan sanggup melakukan mujizat, katanya kesembuhan, kemenangan, pemulihan dan berkat adalah bagian hdiup orang percaya, tapi mengapa hidupku tetap saja seperti ini, mengapa hari-hariku penuh dengan masalah dan kesulitan?  Padahal aku tak pernah berhenti berdoa, rajin beribadah, aktif dalam pelayanan dan sudah melakukan yang terbaik  (menurut penilaian diri sendiri)."  Sungguh benar bahwa Tuhan kita adalah Sumber mujizat!  Sang Pembuat keajaiban.

     Jika sampai saat ini kita belum melihat dan mengalami mujizat Tuhan, tapi hanya sekedar tahu dari kata orang atau melihat orang lain yang mengalaminya, janganlah komplain, marah dan menyalahkan Tuhan.  Tuhan selalu punya waktu tersendiri bagi kehidupan setiap orang.  Adakalanya Tuhan ijinkan kita melalui suatu proses sampai Ia mendapati kita benar-benar siap untuk menerima mujizat-Nya!  Faktor terbesar yang menghalangi kita untuk dapat melihat dan mengalami mujizat Tuhan adalah kesalahan dan pelanggaran kita sendiri  (ayat nas).  Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang tidak pernah berubah, Tuhan yang tetap sama,  "...baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya."  (Ibrani 13:8).  Tetapi kita sendiri yang seringkali berubah, tidak lagi setia kepada Tuhan, dan tidak mau berjalan dalam terang firman Tuhan.  Selama kita tidak mau taat mengikuti kehendak Tuhan maka selama itu pula kita tidak akan melihat dan mengalami mujizat Tuhan di sepanjang kehidupan ini.

     Langkah yang harus kita ambil supaya kita dapat melihat dan mengalami mujizat Tuhan adalah bertobat dari segala dosa kita, tinggalkan kehidupan lama.  Dosa adalah penghalang utama kita mendekat kepada Tuhan.  Karena itu jadilah pelaku-pelaku firman, sebab ketaatan adalah kunci untuk membuka pintu-pintu berkat.  Jangan sekali-kali membangga-banggakan berapa lama kita menjadi Kristen atau sudah melayani pekerjaan Tuhan, jika kita tidak taat melakukan kehendak Tuhan... itu sama artinya bohong!

"Kuduskanlah dirimu, sebab besok TUHAN akan melakukan perbuatan yang ajaib di antara kamu."  Yosua 3:5

Monday, July 2, 2018

TUHAN SANG PEMBUAT MUJIZAT

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 2 Juli 2018

Baca:  Yesaya 59:1-21

"Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar;"  Yesaya 59:1

Semua orang Kristen pasti sangat antusias jika mendengar kata mujizat.  Kita patut berbangga dan bersyukur karena Tuhan yang kita sembah adalah Sang Pembuat mujizat, Tuhan yang sangat ahli mengerjakan hal-hal yang tidak masuk akal.  Apa yang tak mungkin bagi manusia sangat mungkin bagi Tuhan;  apa yang mustahil bagi manusia tidak ada yang mustahil bagi Tuhan.  "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia."  (1 Korintus 2:9).

     Berbicara tentang mujizat bukan semata-mata tentang hal-hal yang terjadi secara spektakuler yang terlihat secara kasat mata:  orang buta dicelikkan, orang lumpuh bisa berjalan, air berubah menjadi anggur, Laut Teberau terbelah menjadi dua dan sebagainya.  Bukan hanya itu...mujizat yang Tuhan sediakan bagi orang percaya lebih dari semuanya itu.  Mujizat terbesar yang Tuhan nyatakan bagi kita adalah tentang pengampunan dosa.  "Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian."  (Efesus 1:7-8), dan  "Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba."  (Yesaya 1:18),  "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan."  (1 Yohanes 1:9).

     Karena dosa kita telah diampuni Tuhan maka kita tidak lagi hidup di bawah kutuk dosa.  Dan karena kutuk dosa telah dipatahkan maka pintu-pintu mujizat, pintu-pintu kesempatan dan pintu-pintu perkara besar semakin terbuka lebar bagi kita yang percaya kepada-Nya.  Jika Bapa tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimana mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?  (Roma 8:32).

Kesembuhan, kemenangan, pemulihan, dan segala berkat rohani adalah bagian dari mujizat yang Tuhan pasti sediakan dan kerjakan bagi orang percaya!

Sunday, July 1, 2018

GAIRAH HIDUP KUDUS

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 1 Juli 2018

Baca:  Roma 7:13-26

"Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku."  Roma 7:21

Di dalam hidup setiap kita dihadapkan pada pilihan-pilihan atau keputusan-keputusan.  Pilihan dan keputusan kita saat ini menentukan kehidupan kita di kemudian hari, menentukan tempat kita di kekekalan nanti  (kehidupan kekal atau kebinasaan kekal).  Oleh karena itu buatlah pilihan dan keputusan hidup yang benar selagi masih ada kesempatan.

     Untuk memiliki kehidupan kekal di sorga tidak ada jalan lain selain harus memiliki gairah untuk hdiup kudus setiap hari.  Arti kata  'gairah'  adalah keinginan  (hasrat, keberanian)  yang cukup kuat.  Ada dua gairah yang saling berebut kekuasaan dalam hidup seseorang, yaitu gairah hidup manusia lama dan gairah hidup manusia baru.  Pergumulan untuk melepaskan diri dari manusia lama juga dirasakan oleh Paulus:  "Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku."  (Roma 7:22-23).  Jika gairah hidup manusia lama itu lebih kuat, maka kita semakin dituntun kepada kehidupan yang duniawi.  Manusia lama disebut juga keinginan daging, di mana hawa nafsu kedagingan yang menguasai.  "Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu--seperti yang telah kubuat dahulu--bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah."  (Galatia 5:19-21).

     Gairah hidup yang mana yang menguasai dan mendominasi begitu kuat dalam hidup Saudara?  Ingat!  Sasaran hidup orang percaya adalah menjadi mempelai Kristus yang dewasa rohani dan tak bercacat cela.  Maka dari itu milikilah gairah untuk hidup kudus dengan menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru.  "...hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging."  (Galatia 5:16).

Ketidaksediaan menanggalkan manusia lama akan berujung pada penolakan Tuhan!

Saturday, June 30, 2018

HUKUM TABUR TUAI (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 30 Juni 2018

Baca:  Pengkhotbah 11:1-8

"Taburkanlah benihmu pagi-pagi hari, dan janganlah memberi istirahat kepada tanganmu pada petang hari, karena engkau tidak mengetahui apakah ini atau itu yang akan berhasil, atau kedua-duanya sama baik."  Pengkhotbah 11:6

Seringkali kita menuntut Tuhan untuk memberkati hidup kita tapi kita tak mau taat melakukan kehendak-Nya.  Kita berharap pelayanan di gereja makin maju dan berhasil, tapi seringkali kita sendiri enggan menabur waktu bersaat teduh, membaca dan merenungkan firman Tuhan, mempersiapkan khotbah dengan baik, mempelajari lagu-lagu rohani, malas membezuk jemaat, dan sebagainya.  Jika kita tidak menabur apa-apa, tak mau menabur apa-apa, tak mau membayar harga, jangan berharap kita akan menuai sesuatu.  Alkitab menyatakan:  "Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga."  (2 Korintus 9:6).

     Prinsip ke-2 tabur tuai:  Ada waktu untuk menunggu.  Kita semua tahu bahwa ketika kita menabur tak mungkin seketika itu kita akan menuai.  Benih yang ditanam butuh waktu untuk tumbuh dan berkembang, dan barulah menghasilkan buah.  Itu artinya ada proses waktu!  "Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi."  (Yakobus 5:7b).  Dalam hal ini dibutuhkan ketekunan dan kesabaran!  Betapa banyak orang kristen tidak sabar menunggu waktu Tuhan, dan karena ketidaksabarannya ini mereka tidak mengalami penggenapan janji Tuhan.  Ingat!  Di dalam Tuhan tidak ada yang instan!  Kecuali kasus khusus seperti yang terjadi pada kisah Yunus, di mana Tuhan mempercepat pertumbuhan pohon jarak, yang dalam semalam ketinggiannya melebihi kepala Yunus, sehingga ia dapat berteduh di bawahnya  (Yunus 4:6, 10).

     Dalam hal menabur kita juga harus memperhatikan kualitas benih.  Jika ingin memperoleh tuaian yang baik maka benih yang ditabur haruslah benih yang baik pula.  Sebaliknya kita pasti akan menuai keburukan bila yang kita tabur adalah hal-hal jahat.  Karena itu  "Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah."  (Galatia 6:9).

Menabur dalam daging menuai kebinasaan, menabur dalam Roh menuai hidup kekal.  Mana yang Saudara pilih?

Friday, June 29, 2018

HUKUM TABUR TUAI (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 29 Juni 2018

Baca:  Pengkhotbah 11:1-8

"Siapa senantiasa memperhatikan angin tidak akan menabur; dan siapa senantiasa melihat awan tidak akan menuai."  Pengkhotbah 11:4

Ada sebuah hukum yang berlaku dalam kehidupan di dunia yaitu hukum tabur tuai.  Hukum menabur dan menuai itu tidak hanya berlaku dalam dunia pertanian atau hal bercocok tanam saja.  Semisal kita menabur sebiji benih jagung di dalam tanah yang sudah diolah dengan baik, maka benih tersebut akan bertumbuh menjadi sebatang pohon jagung yang dapat menghasilkan buah jagung dalam jumlah lebih banyak lagi.  Berawal dari sebiji benih yang ditanam dihasilkanlah biji yang jumlahnya berlipat kali ganda.  Hukum tabur tuai ini juga berlaku dalam kehidupan manusia dan juga kehidupan rohani.

     Ada banyak ayat di Alkitab yang menyatakan tentang hukum tabur tuai, di antaranya:  "...siapa menabur kebenaran, mendapat pahala yang tetap."  (Amsal 11:18),  "Orang yang menabur kecurangan akan menuai bencana,"  (Amsal 22:8),  "...barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu."  (Galatia 6:8).  Dalam hukum tabur tuai ini ada prinsip-prinsip yang harus kita perhatikan:  1.  Menabur butuh harga yang harus dibayar  (pengorbanan).  Sebelum biji benih itu tumbuh, berkembang, dan membuahkan hasil yang berlipat, maka ia harus ditanam dan mati terlebih dahulu di dalam tanah seperti tertulis:  "Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah."  (Yohanes 12:24).  Dalam mengikut Tuhan dan melayani Dia pun ada yang harus dikorbankan.  "...sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya, orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal."  (Markus 10:29-30).

     Jika kita ingin berhasil dalam pelayanan kita pun harus rela berkorban waktu, menabur tenaga, pikiran, materi, menanggalkan ego, menanggalkan manusia lama kita.  Jadi, untuk mendapatkan tuaian ada sesuatu yang harus kita tabur!