Sunday, June 17, 2018

DALAM PERTOBATAN ADA PENGAMPUNAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 Juni 2018

Baca:  Yesaya 1:10-20

"Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat,"  Yesaya 1:16

Semua manusia pasti mengalami masalah meski berbeda-beda:  masalah pekerjaan, masalah keuangan, masalah keluarga, dan banyak lagi.  Masalah-masalah yang dialami oleh manusia pasti ada jalan keluarnya, dan ujung-ujungnya akan berakhir saat kematian menjemput.  Namun ada satu masalah terbesar yang dihadapi oleh seluruh umat manusia dan masalah tersebut akan terus terbawa sampai kematian  (karena tak semua orang menyadari bahwa setelah kematian masih ada kekekalan, hidup kekal di sorga atau kematian kekal di neraka).  Masalah itu adalah dosa, sebab dosalah yang akan membawa manusia dari kematian kepada kebinasaan kekal:  "...upah dosa ialah maut;"  (Roma 6:23).

     Masalah terbesar manusia ini  (dosa)  hanya dapat diselesaikan oleh anugerah Tuhan melalui pengorban-Nya di kayu salib.  Setiap orang yang percaya kepada-Nya  (Kristus)  tidak akan binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal  (Yohanes 3:16).  Sebagai orang percaya kita patut berbangga dan bersukacita, bukan karena hal-hal yang sifatnya materi, tapi karena anugerah keselamatan yang telah Tuhan berikan dan dosa-dosa kita diampuni.  Kalau bukan karena salib Kristus kita ini adalah orang-orang yang pantas dimurkai dan menerima hukuman dari Tuhan, namun karena salib-Nya kita dilayakkan untuk dapat hidup dalam kemuliaan dan kuasa-Nya, serta beroleh jaminan keselamatan kekal.  Sorga menjadi sesuatu yang pasti bagi kita!  Sebab  "...Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku (Kristus)."  (Yohanes 16:6b).

     Oleh karena itu rasul Paulus memperingatkan agar orang percaya tetap mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar  (Filipi 2:12).  Mengerjakan keselamatan berarti kita hidup dalam pertobatan setiap hari.  Mungkin ada di antara Saudara yang berkata,  "Kehidupanku sangat buruk dan dosaku tiada terbilang.  Mungkinkah Tuhan mau mengampuni aku dan menerima aku?"  Ada tertulis:  "Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba."  (Yesaya 1:18).

Dosa kita akan diampuni jika kita mau mengakuinya dengan jujur di hadapan Tuhan  (1 Yohanes 1:9), dan benar-benar hidup dalam pertobatan!

Saturday, June 16, 2018

PERBUATAN TUHAN: Harus Kita Beritakan!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 Juni 2018

Baca:  Mazmur 71:1-24

"Ya Allah, Engkau telah mengajar aku sejak kecilku, dan sampai sekarang aku memberitakan perbuatan-Mu yang ajaib;"  Mazmur 71:17

Melayani Tuhan dan menjadi saksi-Nya di tengah dunia adalah tugas dan tanggung jawab setiap orang percaya.  Sampai kapan?  Tidak ada istilah pensiun.  Selama kita masih bernafas kita harus mengerjakan tugas tersebut.  Ayat nas di atas adalah komitmen pemazmur untuk memberitakan perbuatan Tuhan yang ajaib kepada semua orang di sepanjang hidupnya.  Komitmen itu sudah dilakukannya sedari ia masih muda dan ingin terus dilakukan sampai masa tuanya.  Dengan kata lain pemazmur rindu Tuhan berkenan memakai hidupnya:  "...sampai masa tuaku dan putih rambutku...janganlah meninggalkan aku, supaya aku memberitakan kuasa-Mu kepada angkatan ini, keperkasaan-Mu kepada semua orang yang akan datang."  (Mazmur 71:18).

     Adakah Saudara memiliki kerinduan yang sama seperti pemazmur ini?  Ataukah justru telah terbersit di benak Saudara untuk mundur dan berhenti melayani pekerjaan Tuhan, karena sudah merasa jenuh, atau terbentur dengan suatu hal atau masalah?  Jangan hanya karena ada gesekan atau masalah semangat Saudara untuk melayani Tuhan dan menjadi saksi-Nya menjadi kendor.  Rasul Paulus menasihati, "Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan."  (Roma 12:11).  Yang harus diingat, untuk melayani Tuhan dan menjadi saksi-Nya tak bisa dilakukan dengan mengandalkan kekuatan, kepintaran atau akal sendiri, melainkan harus melibatkan Roh Tuhan, sebab  "Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh-Ku, firman TUHAN semesta alam."  (Zakharia 4:6).

     Karena itu pemazmur memohon supaya Tuhan tidak meninggalkan dirinya, sebab Roh Tuhan bisa saja undur dan meninggalkan seseorang ketika ia hidup dalam ketidaktaatan seperti yang dialami oleh raja Saul, yang awal hidupnya disertai oleh Roh Tuhan, tapi karena ketidaktaatannya Roh Tuhan pun meninggalkan Saul.  Roh Kudus akan berduka dan meninggalkan kita, apalagi kita tidak hidup dalam ketaatan.  "...janganlah kamu mendukakan Roh Kudus..."  (Efesus 4:30).

Dengan pertolongan Roh Kudus kita beroleh kesanggupan untuk melayani pekerjaan Tuhan dan memberitakan pekerjaan-Nya yang ajaib di tengah dunia ini!

Friday, June 15, 2018

TAK PERLU TAKUT DENGAN KEMATIAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 Juni 2018

Baca:  Mazmur 39:1-14

"Ya TUHAN, beritahukanlah kepadaku ajalku, dan apa batas umurku, supaya aku mengetahui betapa fananya aku!"  (Mazmur 39:5).  

Dari pernyataan Daud ini dapat disimpulkan bahwa umur manusia ada batasnya.  "Sungguh, hanya beberapa telempap  (selebar telapak tangan - Red.)  saja Kautentukan umurku; bagi-Mu hidupku seperti sesuatu yang hampa. Ya, setiap manusia hanyalah kesia-siaan!"  (Mazmur 39:6).  Musa pun menyadari:  "Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun,"  (Mazmur 90:10).  Cepat atau lambat, siap atau tidak siap, suatu saat manusia pasti akan dihadapkan pada kematian.  Itu hanya soal waktu!

     Kematian adalah sesuatu yang menakutkan dan mengerikan bagi orang-orang di luar Tuhan.  Tetapi bagi orang percaya kematian adalah sesuatu yang membahagiakan.  Bagaimana bisa?  Ada tertulis:  "'Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini.' 'Sungguh,' kata Roh, 'supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka.'"  (Wahyu 14:13).  Kematian justru memberi kesempatan kepada orang percaya untuk beristirahat dengan tenang, terbebas dari segala problematika hidup, tidak ada lagi air mata.  Dalam kematiannya orang percaya sesungguhnya sedang menunggu untuk dibangkitkan dan diangkat pada waktu kedatangan Kristus yang kedua kalinya:  "Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan. Karena itu hiburkanlah seorang akan yang lain dengan perkataan-perkataan ini."  (1 Tesalonika 4:16-18).

     Sebelum waktu itu tiba, adalah bijak bagi kita untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin supaya hal itu tidak menjadi jerat.  "Karena manusia tidak mengetahui waktunya. Seperti ikan yang tertangkap dalam jala yang mencelakakan, dan seperti burung yang tertangkap dalam jerat, begitulah anak-anak manusia terjerat pada waktu yang malang, kalau hal itu menimpa mereka secara tiba-tiba."  (Pengkhotbah 9:12).

Selagi ada waktu dan kesempatan, kumpulkan harta di sorga sebanyak-banyaknya!

Thursday, June 14, 2018

KASIH HARUS DIEKSPRESIKAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 Juni 2018

Baca:  1 Yohanes 3:11-18

"Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran."  1 Yohanes 3:18

Alkitab menyatakan bahwa di masa-masa akhir ini  "...kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin."  (Matius 24:12).  Orang tidak lagi punya kepedulian terhadap sesamanya karena fokus hidupnya adalah untuk diri sendiri.  Kata kasih acapkali hanya sekedar slogan yang tak berhenti digembar-gemborkan tapi tak ada wujud nyata.  Ada kalimat bijak yang mengatakan bahwa kasih yang dipendam itu tak lebih dari sebuah kebohongan.  Jadi kasih itu harus diekspresikan dalam sebuah tindakan nyata.

     Dalam kehidupan Kristiani mengasihi itu bukanlah perbuatan pilihan atau perbuatan manasuka yang ditawarkan oleh Tuhan, tetapi perbuatan wajib yang harus menjadi bagian hidup kita.  Pada dasarnya perbuatan kasih meliputi tiga kepedulian yaitu peduli pada penderitaan orang lain, peduli pada kebutuhan orang lain dan peduli pada keselamatan orang lain.  Bagaimana seharusnya kita mengekspresikan kasih itu?  1.  Jangan membalas kejahatan dengan yang jahat.  "Janganlah kamu heran, saudara-saudara, apabila dunia membenci kamu. Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut."  (ayat 13-14).  Kalau orang dunia berprinsip bahwa pembalasan lebih kejam dari perbuatan, firman Tuhan mengajarkan:  "...supaya jangan ada orang yang membalas jahat dengan jahat, tetapi usahakanlah senantiasa yang baik, terhadap kamu masing-masing dan terhadap semua orang."  (1 Tesalonika 5:15).  Kehendak Tuhan adalah kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan  (Roma 12:21).

     2.  Suka menolong orang lain.  "Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?"  (ayat 17).  Banyak orang suka menunda-nunda menolong orang lain, dengan alasan untuk kebutuhan sendiri saja belum cukup.  "Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya."  (Amsal 3:27).

Orang percaya yang tidak memraktekkan kasih sama seperti gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing  (1 Korintus 13:1).

Wednesday, June 13, 2018

ADA KEBAIKAN DI BALIK MASALAHMU!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 Juni 2018

Baca:  Mazmur 66:1-20

"Sebab Engkau telah menguji kami, ya Allah, telah memurnikan kami, seperti orang memurnikan perak."  Mazmur 66:10

Kalau saja bisa, semua orang pasti ingin terbebas dari masalah.  Tapi selama masih hidup di dunia ini, siap atau tidak siap, suka atau tidak suka, kita pasti akan menghadapi masalah:  mulai dari masalah yang kecil atau sepele, sampai kepada masalah yang kita rasa berat.  Pada dasarnya masalah mempunyai dua sisi:  mendorong orang untuk mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh atau justru sebaliknya, membawanya semakin menjauh dari Tuhan.  Pilihan dan keputusan ada pada masing-masing orang!

     Jika kita memahami bahwa dalam segala hal Tuhan turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan, maka kita takkan protes, mengeluh atau kecewa ketika mengalami masalah.  Tuhan seringkali menggunakan masalah sebagai cara untuk menegur dan memperingatkan kita.  Pemazmur berkata,  "Sebelum aku tertindas, aku menyimpang, tetapi sekarang aku berpegang pada janji-Mu. Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu."  (Mazmur 119:67, 71).  Namun masalah juga sebagai cara yang Tuhan pakai untuk membawa kita kepada rencana-Nya yang indah, suatu kesempatan bagi kita untuk melihat kuasa pembelaan Tuhan, menguatkan otot-otot iman kita dan memurnikan karakter hidup kita.  "Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas."  (Ayub 23:10).

     Tokoh-tokoh besar di Alkitab juga tak luput dari masalah:  Yusuf harus melewati proses hidup yang teramat menyakitkan sebelum ia mengalami penggenapan janji Tuhan, dan dapat berkata,  "Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar."  (Kejadian 50:20).  Sadrakh, Mesakh dan Abednego harus melewati dapur perapian yang menyala-nyala sampai akhirnya mereka dapat melihat dan merasakan kuasa pembelaan Tuhan  (Daniel 3:25-27).  Daniel pun harus merasakan pengalaman yang luar biasa yaitu masuk ke dalam gua singa, dan melihat campur tangan Tuhan yang ajaib  (Daniel 6:23).

Jangan bersungut-sungut ketika masalah datang, sebab di balik masalah selalu ada rencana Tuhan yang indah!

Tuesday, June 12, 2018

PERCAYA TAKHAYUL: Tidak Percaya Tuhan

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 Juni 2018

Baca:  1 Timotius 4:1-16

"Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua."  1 Timotius 4:7a

Ada berbagai macam takhayul yang berkembang subur dalam kehidupan masyarakat dan dipercayai oleh banyak orang.  Bahkan tidak sedikit orang Kristen yang juga percaya pada takhayul dan terlibat dalam praktek kuasa kegelapan ini.  Takhayul adalah suatu kepercayaan yang tidak berdasarkan akal sehat dan kebenaran;  kepercayaan kepada sesuatu yang dianggap ada atau sakti, tetapi sebenarnya tidak ada atau tidak sakti.  Sumber kepercayaan akan takhayul bisa berasal dari ajaran turun-temurun atau petuah nenek moyang, ada istiadat masyarakat setempat atau langsung dari roh-roh penyesat.

     Contoh-contoh takhayul:  rumah yang berada di posisi  'tusuk sate'  tidak akan membawa keberuntungan, menanam pohon pepaya di depan rumah akan seret jodoh bagi orangtua yang punya anak gadis, pada foto bertiga yang tengah pasti akan terpisah jauh atau cepat mati dan sebagainya.  Termasuk juga percaya kepada hari-hari atau tanggal-tanggal tertentu yang diyakini mendatangkan keberuntungan, padahal semua hari adalah baik dan Tuhan menciptakan hari-hari untuk kebaikan manusia.  "Kamu dengan teliti memelihara hari-hari tertentu, bulan-bulan, masa-masa yang tetap dan tahun-tahun."  (Galatia 4:10).  Orang yang mempercayai takhayul pada akhirnya akan terus dihantui dan diintimidasi rasa takut yang tak beralasan:  takut sial, takut mati, takut seret rejekinya dan lain-lain.  Ketakutan yang disebabkan karena mempercayai takhayul adalah pertanda bahwa orang sudah masuk dalam perangkap jebakan Iblis, yang adalah bapa segala pendusta  (Yohanes 8:44).  Padahal Tuhan tidak memberikan kepada kita roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban  (2 Timotius 1:7).

     Orang Kristen yang masih percaya takhayul sama artinya berkompromi dengan kuasa kegelapan.  Rasul Paulus memperingatkan kita untuk menjauhi takhayul dan dongeng nenek-nenek tua  (ayat nas).  Percaya takhayul berarti melakukan perzinahan rohani.  Itu adalah kebencian Tuhan!  Dalam kekristenan tak ada istilah percaya  'setengah-setengah'  kepada Tuhan, suam-suam kuku.  "Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku."  (Wahyu 3:16).

Jauhilah segala hal yang berhubungan dengan kuasa gelap dan percayalah hanya kepada Tuhan!

Monday, June 11, 2018

MERASA AMAN-AMAN SAJA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 Juni 2018

Baca:  Yesaya 47:1-15

"Engkau tadinya merasa aman dalam kejahatanmu, katamu: 'Tiada yang melihat aku!' Kebijaksanaanmu dan pengetahuanmu itulah yang menyesatkan engkau, sehingga engkau berkata dalam hatimu: 'Tiada yang lain di sampingku!'"  Yesaya 47:10

Keadaan dunia saat ini benar-benar gawat darurat!  Mengapa?  Karena dunia dipenuhi dengan orang-orang yang sudah tidak lagi punya kepekaan rohani.  Buktinya?  Banyak orang merasa aman-aman saja sekalipun telah melakukan dosa.  Sudah menipu sana-sini, melakukan korupsi, terlibat seks bebas, mengonsumsi narkoba, berselingkuh, tetap saja tidak merasa bersalah, menyesal pun tidak.  Orang-orang yang berlaku demikian itu sama artinya telah meremehkan Tuhan, menganggap Tuhan tidak Mahatahu, atau bahkan menganggap bahwa Tuhan itu tidak ada.  Jangan sesat!  Tuhan tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan.  "Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya."  (Galatia 6:7).  Setiap ketidaktaatan pasti mendatangkan akibat!

     Alkitab sudah mencatat bagaimana keadaan manusia pada akhir zaman yaitu tidak lagi punya rasa takut akan Tuhan  (2 Timotius 3:1-9).  Setiap kali orang melakukan dosa, alasan klise selalu dikemukakan:  maklum, manusia biasa yang penuh dengan kelemahan dan kekurangan, jadi sah-sah saja bila orang melakukan dosa.  Pola pikir yang demikian mengakibatkan hati nurani orang menjadi mati dan telinganya pun menjadi tebal terhadap teguran.  Mereka tidak lagi peduli dengan akibat yang harus ditanggungnya alias bersikap masa bodoh.  "Karena itu harus lebih teliti kita memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus. Sebab kalau firman yang dikatakan dengan perantaraan malaikat-malaikat tetap berlaku, dan setiap pelanggaran dan ketidaktaatan mendapat balasan yang setimpal, bagaimanakah kita akan luput, jikalau kita menyia-nyiakan keselamatan yang sebesar itu,"  (Ibrani 2:1-3).

     Orang percaya yang telah diselamatkan dan tahu akan kebenaran adalah wajib untuk hidup dalam kebenaran.  Jika ada di antara orang percaya yang masih hidup dalam dosa tapi merasa diri aman-aman saja, jangan tunda-tunda waktu untuk segera bertobat!  "Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu."  (Ibrani 10:26). 

Perbuatan dosa hanya akan menuntun orang kepada kebinasaan kekal!

Sunday, June 10, 2018

Kesetiaan Tuhan Tiada Batas

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 Juni 2018

Baca:  Yesaya 46:1-13

"Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu."  Yesaya 46:4

Di zaman sekarang ini bukan perkara sulit untuk mencari orang yang pintar, hebat, baik, bertalenta, kaya, gagah, ganteng, cantik, berpengalaman, atau berpendidikan tinggi.  Tetapi mencari orang-orang yang setia tak semudah membalikkan telapak tangan  (Amsal 20:6), sebab manusia cenderung bersikap individualistis dan materialistis, segala sesuatunya diukur berdasarkan materi dan kepentingan.  Orang akan berlaku setia asal diberi imbalan.  Kesetiaan bukan lagi diukur dari pengorbanan, melainkan disertai tendensi tertentu.  Pemazmur mengeluh,  "...sebab orang saleh telah habis, telah lenyap orang-orang yang setia dari antara anak-anak manusia."  (Mazmur 12:2).

     Tuhan menegaskan di hadapan umat Israel bahwa Dia adalah Tuhan yang tidak bisa dibandingkan dan disamakan dengan siapa pun.  Sungguh, Tuhan itu tak tertandingi!  "Kepada siapakah kamu hendak menyamakan Aku, hendak membandingkan dan mengumpamakan Aku,"  (Yesaya 46:5).  Kesetiaan Tuhan tak pernah berubah dan tak lekang oleh waktu!  "TUHAN setia dalam segala perkataan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya."  (Mazmur 145:13b).  Sekalipun kita sering menyakiti hati-Nya dan mengecewakan-Nya, Tuhan tetap bertanggung jawab atas hidup kita dan tidak pernah mengecewakan.  Apa respons kita terhadap kesetiaan Tuhan?  Tiada cara lain selain kita harus setia melakukan kehendak Tuhan di segala situasi.  Alkitab menegaskan bahwa orang yang setia dan bertahan sampai kesudahannya itulah yang beroleh selamat.  "Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan."  (Wahyu 2:10b).  Yang setia sampai akhir beroleh mahkota kehidupan.

     Dalam mengarungi kehidupan di dunia ini tidak selamanya keadaan terjadi seperti yang kita harapkan.  Adakalanya kita harus melewati lembah-lembah kekelaman, bahkan bayang-bayang maut, tapi percayalah bahwa kita tidak menghadapinya sendirian, Tuhan selalu ada untuk kita:  "...Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu."  (ayat nas)

Seberat apa pun keadaan, jangan pernah berubah tidak setia kepada Tuhan!

Saturday, June 9, 2018

IBADAH DAN AMAL: Motivasi yang Benar

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 9 Juni 2018

Baca:  Yesaya 64:1-12

"Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor; kami sekalian menjadi layu seperti daun dan kami lenyap oleh kejahatan kami seperti daun dilenyapkan oleh angin."  Yesaya 64:6

Banyak orang beranggapan bahwa melakukan kegiatan keagamaan dan amal sudah dapat menjamin seseorang masuk ke dalam kerajaan Sorga.  Namun apalah artinya melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan jika hal itu dilakukan hanya sebatas rutinitas belaka.  "Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan,"  (Yesaya 29:13).  Apalagi bila ibadah yang dilakukan bertujuan mencari pujian dan hormat dari manusia seperti yang dilakukan ahli Taurat dan orang-orang Farisi,  "Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi."  (Matius 23:5-7).  Begitu pula dengan amal atau perbuatan baik yang dilakukan dengan suatu tendensi atau demi pencitraan semata takkan berarti apa-apa di hadapan Tuhan.

     Tuhan melihat hati seseorang lebih dari perbuatan yang terlihat secara kasat mata.  "...TUHAN menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita."  (1 Tawarikh 28:9).  Oleh sebab itu beribadahlah kepada Tuhan dengan tulus ikhlas dan dengan rela hati, dan milikilah motivasi yang benar saat melakukan perbuatan baik.  Jika tidak, hal itu adalah suatu kejahatan di hadapan-Nya;  ibadah dan amal yang tidak benar di mata Tuhan ibarat kain yang kotor.  Jadi, bukan apa yang dianggap baik menurut penilaian manusia, tetapi apa yang berkenan kepada Tuhan.  Ibadah yang benar adalah ibadah yang disertai dengan ketaatan melakukan kehendak Tuhan dan hubungan yang karib dengan-Nya.

     Ingatlah pula bahwa kita ini diselamatkan bukan karena perbuatan baik,  "...itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri."  (Efesus 2:9), tapi karena anugerah Tuhan;  dan kita yang telah diselamatkan wajib untuk melakukan perbuatan baik sebagai perwujudan syukur atas keselamatan yang telah diterima.

Kita dibenarkan dan dilayakkan karena karya Kristus, bukan karena kita ini baik!

Friday, June 8, 2018

KRISTUS ADALAH SANG JURUSELAMAT

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 Juni 2018

Baca:  Yesaya 63:7-19

"'Sungguh, merekalah umat-Ku, anak-anak yang tidak akan berlaku curang,' maka Ia menjadi Juruselamat mereka dalam segala kesesakan mereka. Bukan seorang duta atau utusan, melainkan Ia sendirilah yang menyelamatkan mereka; Dialah yang menebus mereka dalam kasih-Nya dan belas kasihan-Nya."  Yesaya 63:8-9

Kita patut berbangga karena kita punya Tuhan yang hidup dan berkuasa, Dialah Kristus, Sang Juruselamat.  Sayang, banyak orang menolak Kristus secara terang-terangan, tidak mau percaya kepada-Nya, lebih memilih menempuh jalan sendiri dan mencari cara untuk mendapatkan keselamatan.  Mereka berpikir cukuplah menganut suatu agama tertentu dan melakukan perbuatan amal, maka keselamatan kekal pasti diraih.

     Orang dunia berprinsip  'banyak jalan menuju Roma'  atau banyak jalan menuju keselamatan kekal.  Tetapi Alkitab secara tegas menyatakan bahwa satu-satunya jalan menuju keselamatan kekal adalah melalui Kristus.  "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku."  (Yohanes 14:6),  "Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia (Kristus), sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan."  (Kisah 4:12).

     Agama atau amal baik saja tidak menjamin orang beroleh keselamatan.  Bukankah sering terjadi ada orang-orang yang mengatasnamakan agama tapi justru melakukan tindakan yang bertentangan dengan firman Tuhan:  melakukan kekerasan, penyerangan, pembakaran rumah ibadah dsb.  Yang bisa menyelamatkan manusia adalah Sang Juruselamat, Dialah Kristus yang telah mengorbankan nyawa-Nya dan mencurahkan darah-Nya untuk menebus dosa manusia.  "...kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat."  (1 Petrus 1:18-19).  Karena itu  "Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman,"  (Yohanes 3:18).

Manusia sangat membutuhkan Juruselamat dalam hidupnya, tapi mereka gengsi mengaku Kristus sebagai Juruselamat!

Thursday, June 7, 2018

TUHAN DAN FIRMAN-NYA: Air Kehidupan

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 7 Juni 2018

Baca:  Yesaya 44:1-8

"Sebab Aku akan mencurahkan air ke atas tanah yang haus, dan hujan lebat ke atas tempat yang kering."  Yesaya 44:3

Tak bisa dipungkiri air adalah kebutuhan yang paling hakiki dalam hidup.  Coba bayangkan, bila air PDAM mengalami gangguan selama 1-2 hari saja semua orang pasti akan mengalami kepanikan yang luar biasa.  Begitu pula apabila terjadi musim kemarau  (tak ada hujan)  yang berkepanjangan, masalah berat pasti akan terjadi:  sumber air  (sungai, sumur)  surut, sawah dan ladang kering dan akibatnya bisa ditebak:  gagal panen.

     Menurut ilmu kesehatan manusia hanya bisa bertahan hidup tanpa air alias menahan haus maksimal 3-5 hari, namun ia bisa bertahan tidak makan sampai kurang lebih 8 minggu, dengan catatan masih mengonsumsi air.  Ini menunjukkan bahwa manusia dan semua makhluk tidak bisa hidup tanpa air.  Jika manusia jasmani sangat membutuhkan air yang dapat memuaskan dahaga walau sifatnya hanya sementara, terlebih-lebih manusia rohani kita sangat memerlukan  'air hidup'  yang dapat memberikan kelegaan dan kepuasan sejati.  Di masa sekarang ini banyak orang mengalami kekeringan, kegersangan dan kehausan rohani.  Beratnya pergumulan hidup dan berbagai kesibukan dunia membuat orang mudah sekali mengalami stres dan frustasi.  Dalam kondisi seperti itu orang sangat membutuhkan  'air hidup';  dan Kristus adalah jawabannya.  "Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal."  (Yohanes 4:13-14).

     Kristus adalah air kehidupan yang sejati.  "Engkau mengairi alur bajaknya, Engkau membasahi gumpalan-gumpalan tanahnya, dengan dirus hujan Engkau menggemburkannya; Engkau memberkati tumbuh-tumbuhannya."  (Mazmur 65:11).  Ketika  'air hidup'  itu mengalir dan memenuhi hati kita maka kita akan mengalami kesegaran, kelegaan dan kepuasan yang sejati, bahkan hati kita pun akan dibersihkan-Nya dari segala bentuk kecemaran dunia.

Hanya Tuhan yang sanggup mengubah dan memulihkan keadaan kita, karena Dia Air Kehidupan yang sejati! 

Wednesday, June 6, 2018

PERKATAKAN FIRMAN: Prinsip Hidup Kristiani

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 6 Juni 2018

Baca:  Amsal 18:1-24

"Lidah mempunyai kuasa untuk menyelamatkan hidup atau merusaknya; orang harus menanggung akibat ucapannya."  Amsal 18:21 (BIS)

Dalam ilmu psikologi ada istilah kekuatan berpikir dan berkata positif.  Apa yang kita pikirkan dan ucapkan itu bisa terjadi dalam kehidupan kita.  Karena itu kita diajarkan untuk selalu berpikir dan berkata-kata positif.  Metode ini banyak diterapkan di dunia bisnis atau pekerjaan.  Mereka menganggap bahwa pikiran dan perkataan yang positif bukan hanya sebagai motivasi, tapi juga dapat memberi energi positif guna menciptakan keadaan yang positif pula.  Namun semua yang diajarkan dalam ilmu psikologi ini berpusat pada kekuatan otak atau akal manusia, bukan mengandalkan Tuhan.

     Dalam kehidupan rohani pun penting sekali untuk memiliki pikiran dan perkataan yang positif, tapi bukan berlandaskan pada akal manusia yang terbatas, melainkan berlandaskan kepada firman Tuhan.  Rasul Paulus menasihati,  "...semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu."  (Filipi 4:8), sebab apa yang kita pikirkan akan membentuk setiap perkataan dan juga tindakan kita.  Adalah penting sekali untuk menjaga ucapan kita, sebab di balik setiap perkataan ada kuasa dan dampak yang luar biasa, bukan hanya terhadap diri sendiri, tapi juga terhadap orang lain, sebab  "Dari mulut yang sama keluar kata-kata terima kasih dan juga kata-kata kutukan. Seharusnya tidak demikian!"  (Yakobus 3:10, BIS).

     Sebagai anak-anak Tuhan sudah sepatutnya kita menjadi teladan dalam segala hal, salah satunya adalah menjaga perkataan atau ucapan.  "Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung."  (Yosua 1:8).  Apa yang Saudara sering perkatakan?  Nasihat rasul Paulus:  "Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah;"  (1 Petrus 4:11).

"...barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya."  Markus 11:23