Wednesday, April 11, 2018

BERADA DI SEKOLAH KEHIDUPAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 April 2018

Baca:  Matius 10:29-31

"Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit."  Matius 10:31

Semua orang tak menyangkal bahwa hidup di dunia ini adalah singkat adanya.  Karena itu mari kita gunakan waktu yang teramat singkat ini dengan sebaik-baiknya dan jangan pernah menyia-nyiakan, sebab detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari, sungguh teramat berharga.  Pemazmur berkata,  "Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana."  (Mazmur 90:12).

     Sadar atau tidak, sesungguhnya kesempatan hidup yang hanya sekali di dunia yang singkat ini adalah proses belajar.  Itulah sekolah kehidupan!  Pembelajaran demi pembelajaran kita dapatkan dari situasi, keadaan atau peristiwa, dari hal-hal tampak kecil dan sederhana yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.  Maka dari itu jangan pernah menganggap remeh hal-hal yang kecil dan sederhana, karena dalam segala perkara Tuhan turut bekerja  (Roma 8:28).  Jika kita berpikir bahwa Tuhan kurang memperhatikan atau tak peduli terhadap hal-hal yang kecil dan sederhana, itu salah besar!  Justru Ia sangat memedulikan dan bahkan kepedulian Tuhan itu jauh lebih dari kepedulian kita terhadap diri sendiri.  Contoh untuk kepedulian Tuhan terhadap kita:  "Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya."  (Matius 10:30).  Jelas dinyatakan bahwa rambut di kepala kita pun terhitung oleh Tuhan.  "But the very hairs of your head are all numbered."  (versi King James).  Kata  'numbered'  artinya  'dihitung atau diberi nomor', artinya Tuhan menandai setiap lembar rambut kita.  Betapa telitinya Tuhan terhadap kita!

     Kalau kita memahami akan hal ini tidak selayaknya kita bersungut-sungut kepada Tuhan untuk setiap masalah yang terjadi.  Sebab masalah pasti tidak terjadi secara kebetulan, bisa karena akibat kesalahan kita atau diijinkan Tuhan terjadi sebagai sarana untuk menggarap dan mendidik kita di sekolah kehidupan ini.  Sungut-sungut adalah wujud pemberontakan kepada Tuhan dan sikap tidak menghargai kebijaksanaan Tuhan.  Milikilah penyerahan diri saat berada dalam prosesnya Tuhan di sekolah kehidupan ini, sebab Dia adalah Sang Pengendali segala keadaan.

Sekecil apa pun masalah dan pergumulan yang kita alami tak ada yang luput dari pengawasan dan perhatian Tuhan!

Tuesday, April 10, 2018

TUHAN MENGASIHI KITA SEDEMIKIAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 April 2018

Baca:  Yehezkiel 34:1-31

"Yang hilang akan Kucari, yang tersesat akan Kubawa pulang, yang luka akan Kubalut, yang sakit akan Kukuatkan, serta yang gemuk dan yang kuat akan Kulindungi; Aku akan menggembalakan mereka sebagaimana seharusnya."  Yehezkiel 34:16

Firman ini adalah janji Tuhan kepada umat Israel yang adalah umat kesayangan-Nya.  Tuhan menggambarkan diri-Nya sebagai Gembala dan umat Israel sebagai kawanan domba.  Ini juga merupakan nubuatan dari nabi Yehezkiel tentang Kristus yang adalah Gembala yang baik, jauh sebelum Ia dilahirkan.

     Dinyatakan bahwa apabila Gembala yang baik itu datang, Ia akan memelihara kawanan domba-Nya dengan lemah lembut dan penuh kasih,  "Dengan sesungguhnya Aku sendiri akan memperhatikan domba-domba-Ku dan akan mencarinya. Seperti seorang gembala mencari dombanya pada waktu domba itu tercerai dari kawanan dombanya, begitulah Aku akan mencari domba-domba-Ku dan Aku akan menyelamatkan mereka dari segala tempat, ke mana mereka diserahkan pada hari berkabut dan hari kegelapan. Di padang rumput yang baik akan Kugembalakan mereka dan di atas gunung-gunung Israel yang tinggi di situlah tempat penggembalaannya; di sana di tempat penggembalaan yang baik mereka akan berbaring dan rumput yang subur menjadi makanannya di atas gunung-gunung Israel."  (ayat 11, 12, 14).  Kawanan domba tercerai-berai oleh karena kesalahan mereka sendiri, akibat dari pemberontakan dan ketidaktaatannya.  Tetapi Tuhan berkata,  "Yang hilang akan Kucari, yang tersesat akan Kubawa pulang,"  (ayat nas).

     Kristus berkata,  "Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya;"  (Yohanes 10:11).  Hal itu dibuktikan melalui pengorbanan-Nya di kayu salib.  Gembala yang baik selalu mencari domba yang hilang dan tersesat:  "Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? Dan Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu dari pada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorangpun dari anak-anak ini hilang."  (Matius 18:12-14).

Tiada kasih yang terbesar selain kasih Kristus yang adalah Gembala yang baik!

Monday, April 9, 2018

KUASA TUHAN TIADA TANDINGANNYA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 9 April 2018

Baca:  Wahyu 3:7-13

"Inilah firman dari Yang Kudus, Yang Benar, yang memegang kunci Daud; apabila Ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila Ia menutup, tidak ada yang dapat membuka."  Wahyu 3:7b

Pulau Patmos adalah sebuah pulau bergunung api di Laut Aegea, yang merupakan bagian dari kumpulan pulau-pulau Dodecanese di Yunani.  Di pulau ini rasul Yohanes mendapatkan pewahyuan dari Tuhan untuk disampaikan kepada jemaat di 7 gereja di Asia Kecil:  Efesus, Smirna, Pergamus, Tiatira, Sardis, Filadelfia dan Laodikia.  Pewahyuan ini juga berlaku bagi semua orang percaya yang hidup di zaman sekarang.

     Sebagai orang percaya kita patut bersyukur dan berbangga hati karena memiliki Kristus yang hebat dan luar biasa.  Ia bukan hanya Tuhan Yang Kudus, Yang Benar dan Yang Berkuasa, tapi juga pemegang segala kunci maut dan kerajaan maut seperti tertulis:  "Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir, dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut."  (Wahyu 1:17-18).  Ratusan tahun sebelum Kristus dilahirkan nabi Yesaya telah menubuatkan:  "Aku akan menaruh kunci rumah Daud ke atas bahunya: apabila ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila ia menutup, tidak ada yang dapat membuka."  (Yesaya 22:22).  Sampai hari ini pun apa yang telah Kristus buka tak seorang pun dapat menutupnya;  dan pintu itu adalah Kristus sendiri!  "Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput."  (Yohanes 10:9).

     Pintu itu terbuka bagi semua orang:  pintu keselamatan, pintu kesembuhan, pintu berkat dan sebagainya.  Apakah kita mau melangkah untuk memasuki  'pintu'  tersebut?  Tuhan mengajarkan kita untuk bertindak dan membuat pilihan!  Ia tidak pernah memaksa kita.  Begitu juga untuk memperoleh  'air kehidupan', Kristus juga tidak memaksa orang untuk datang kepada-Nya, namun kita sendirilah yang harus bertindak dan membuat keputusan:  "...Dan barangsiapa yang haus, hendaklah ia datang, dan barangsiapa yang mau, hendaklah ia mengambil air kehidupan dengan cuma-cuma!"  (Wahyu 22:17b).

Selagi masih ada kesempatan segeralah bertindak untuk datang kepada Kristus, karena Dia Tuhan yang tak tertandingi!

Sunday, April 8, 2018

MENDAPATKAN SESUATU YANG LEBIH (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 April 2018

Baca:  1 Raja-Raja 3:1-15

"Aku melakukan sesuai dengan permintaanmu itu, sesungguhnya Aku memberikan kepadamu hati yang penuh hikmat dan pengertian, sehingga sebelum engkau tidak ada seorangpun seperti engkau, dan sesudah engkau takkan bangkit seorangpun seperti engkau."  1 Raja-Raja 3:12

Tuhan memberikan apa yang diinginkan oleh Salomo yaitu hikmat, dan bahkan Ia memberikan sesuatu yang lebih dari yang dipikirkan:  "Dan juga apa yang tidak kauminta Aku berikan kepadamu, baik kekayaan maupun kemuliaan, sehingga sepanjang umurmu takkan ada seorangpun seperti engkau di antara raja-raja."  (1 Raja-Raja 3:13).

     Apa yang menjadi kunci untuk mendapatkan sesuatu yang lebih dari Tuhan?  1.  Milikilah kerendahan hati.  Salomo mengakui segala kekurangannya di hadapan Tuhan:  "...Engkaulah yang mengangkat hamba-Mu ini menjadi raja menggantikan Daud, ayahku, sekalipun aku masih sangat muda dan belum berpengalaman."  (1 Raja-Raja 3:7).  Ia menyadari bahwa bukan karena kuat dan gagahnya jika ia diangkat sebagai raja menggantikan Daud  (ayahnya), melainkan karena campur tangan Tuhan.  Ketika sedang berhasil, sukses, berjaga, berkelimpahan materi atau berkedudukan tinggi, biasanya sulit bagi seseorang untuk berlaku rendah hati.  Sebaliknya mereka akan membusungkan dada dan berlaku sombong, menganggap semua yang diraih adalah hasil kerja keras sendiri.  Alkitab menyatakan,  Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."  (Lukas 18:14b).  Ada tertulis:  "...kerendahan hati mendahului kehormatan."  (Amsal 15:33);  "Ganjaran kerendahan hati dan takut akan TUHAN adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan."  (Amsal 22:4).

     2.  Hiduplah dalam ketaatan.  Tuhan berkata,  "Dan jika engkau hidup menurut jalan yang Kutunjukkan dan tetap mengikuti segala ketetapan dan perintah-Ku, sama seperti ayahmu Daud, maka Aku akan memperpanjang umurmu."  (1 Raja-Raja 3:14);  dan ketika Salomo hidup seturut dengan kehendak Tuhan, kehidupannya pun semakin dibawa Tuhan naik dan terus naik.  Ketaatan membuka pintu-pintu berkat!

"Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia."  1 Korintus 2:9

Saturday, April 7, 2018

MENDAPATKAN SESUATU YANG LEBIH (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 7 April 2018

Baca:  1 Raja-Raja 3:1-15

"Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu."  1 Raja-Raja 3:5b

Tak seorang pun mau hidup dalam keadaan pas-pasan, kalau bisa inginnya hidup dalam kelebihan atau kelimpahan, tak mengalami kekurangan suatu apa pun.  'Lebih'  inilah yang sedang dicari dan dikejar semua orang di zaman sekarang ini.  Demi mendapatkan sesuatu yang  'lebih'  tidak sedikit orang rela menempuh cara-cara yang tidak wajar, melanggar hukum dan menyimpang dari kebenaran.  Bagi orang percaya mendapatkan sesuatu yang lebih bukanlah perkara yang mustahil!  Sebab Tuhan berkata,  "Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan."  (Yohanes 10:10b).

     Ketika berada di Gibeon untuk mempersembahkan korban,  "...TUHAN menampakkan diri kepada Salomo dalam mimpi pada waktu malam. Berfirmanlah Allah: 'Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu.'"  (1 Raja-Raja 3:5).  Tak semua orang beroleh kesempatan emas seperti yang dialami oleh Salomo ini.  Kabar baiknya, sampai hari ini Tuhan masih ingin dekat dan berkomunikasi dengan anak-anak-Nya, baik itu melalui firman-Nya, mimpi, secara langsung atau melalui kejadian atau peristiwa-peristiwa tertentu.  Kebanyakan orang jika beroleh kesempatan seperti Salomo ini pasti akan menggunakan jurus aji mumpungnya yaitu minta segala sesuatu yang dapat memuaskan keinginan dagingnya:  minta uang, kekayaan, mobil, rumah, atau jabatan yang tinggi dan sebagainya.

     Perhatikan apa yang disampaikan Salomo kepada Tuhan:  "'Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini?' Lalu adalah baik di mata Tuhan bahwa Salomo meminta hal yang demikian."  (1 Raja-Raja 3:9-10).  Dalam hal ini Salomo meminta hikmat kepada Tuhan.  Secara umum kata  'hikmat'  memiliki arti suatu pengertian dan pemahaman yang dalam mengenai orang, barang, kejadian atau situasi, yang menghasilkan kemampuan untuk menerapkan persepsi, penilaian atau perbuatan sesuai pengertian tersebut.  Ketika beroleh kesempatan meminta kepada Tuhan Salomo tidak meminta sesuatu yang berkenaan dengan kepentingan diri sendiri atau kesenangan dagingnya.  Yang diminta adalah hikmat agar ia cakap dalam memimpin rakyat!

Friday, April 6, 2018

BUKTIKAN KASIHMU KEPADA TUHAN! (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 6 April 2018

Baca:  Yohanes 14:21-24

"Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku."  Yohanes 14:21a

Alkitab menyatakan bahwa jika kita tidak karib dengan Tuhan adalah suatu kejahatan besar.  Bukti kasih kita kepada Tuhan adalah hubungan yang karib!  Selain itu bukti seseorang mengasihi Tuhan adalah ketaatannya dalam melakukan firman Tuhan, sebab  "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga."  (Matius 7:21).  Ketaatan adalah syarat mutlak untuk kita bisa masuk ke dalam Kerajaan Sorga.  Banyak orang menginginkan Sorga, tapi tanpa ketaatan hal itu hanya akan menjadi mimpi.  "Tetapi barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia."  (1 Yohanes 2:5).  Seseorang dapat dikatakan memiliki kasih yang sempurna kepada Bapa apabila ia benar-benar taat melakukan perintah Tuhan.  Dengan kata lain orang yang tidak taat melakukan firman Tuhan berarti tidak mengasihi Tuhan.  "Barangsiapa tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firman-Ku;"  (Yohanes 14:24).

     Untuk menjadi orang yang taat bukanlah perkara mudah karena ada harga yang harus dibayar dan sedikit orang Kristen mau membayar harga, kebanyakan dari mereka lebih memilih untuk menuruti keinginan dagingnya, lebih memilih kesenangan dunia, daripada harus bersusah-susah menuruti kehendak Tuhan.  "Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya."  (Matius 7:13-14).

     Bukti lain kita mengasihi Tuhan adalah kita mengasihi sesama.  "Jikalau seorang berkata: 'Aku mengasihi Allah,' dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya."  (1 Yohanes 4:20).  Selama kita masih menyimpan kebencian, sakit hati, amarah dan dendam terhadap sesama adalah mustahil bagi kita bisa mengasihi Tuhan dengan sepenuh hati.

Mengasihi Tuhan:  karib dengan-Nya, taat firman-Nya dan mengasihi saudaranya!

Thursday, April 5, 2018

BUKTIKAN KASIHMU KEPADA TUHAN (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 5 April 2018

Baca:  Matius 7:21-23

"Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga."  Matius 7:21

Jika ada sebuah pertanyaan diajukan:  "Apakah engkau mengasihi Tuhan?"  Semua orang Kristen tanpa terkecuali pasti akan menjawab,  "Ya...aku mengasihi Tuhan!"  Kita pasti akan merasa tersinggung dan marah jika dikatakan tidak mengasihi Tuhan.  Tetapi mengasihi Tuhan itu tidak cukup hanya melalui kata-kata, melainkan harus ada buktinya.  Apa buktinya?  Mungkin di antara kita akan menjawab,  "Aku selalu rajin beribadah... aku aktif dalam pelayanan di gereja."  dan masih banyak lagi.  Cukupkah?  Perhatikan ayat ini!  "...orang yang mengasihi Allah, ia dikenal oleh Allah."  (1 Korintus 8:3).  Banyak orang Kristen memiliki pandangan yang salah yaitu merasa sudah dikenal oleh Tuhan, padahal belum tentu demikian.  Akan tetapi orang yang mengasihi Tuhan dengan sungguh pasti dikenal oleh Tuhan.

     Tuhan berkata,  "Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"  (Matius 7:22-23).  Jika dicermati secara teliti, terasa aneh bukan?  Karena Kristus mengatakan hal ini kepada bukan sembarangan orang, tetapi kepada orang yang menyebut Kristus sebagai Tuhan alias orang Kristen, bahkan kepada mereka yang sudah bernubuat, mengusir setan dan melakukan mujizat  (orang Kristen yang sudah melayani dan punya karunia).

     Mengapa mereka yang secara kasat mata tampak aktif ke gereja dan bahkan sudah melayani tidak dikenal Tuhan?  Kalimat  'Aku tidak pernah mengenal'  dalam teks Gerika-nya adalah  'tidak intim, tidak karib.'  Ibadah dan pelayanan yang hanya dilakukan sebatas rutinitas atau kegiatan agamawi tidak akan memiliki arti apa-apa di pemandangan mata Tuhan jika kita tidak memiliki persekutuan yang karib dengan Tuhan secara pribadi.  Betapa banyak orang Kristen tampak sibuk dengan kegiatan pelayanan di gereja tapi mereka tidak pernah menyediakan waktu secara pribadi untuk bersekutu dengan Tuhan.

Wednesday, April 4, 2018

BERITAKANLAH KABAR BAIK INI

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 4 April 2018

Baca:  Yosua 23:1-16

"...satupun dari segala yang baik yang telah dijanjikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, tidak ada yang tidak dipenuhi. Semuanya telah digenapi bagimu. Tidak ada satupun yang tidak dipenuhi."  Yosua 23:14

Orang percaya disebut umat pilihan Tuhan, artinya bukan kita yang memilih Tuhan tapi Dialah yang memilih dan memanggil kita seperti tertulis:  "Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu."  (Yohanes 15:16a).  Tuhan memilih kita bukan tanpa maksud dan rencana, melainkan untuk sebuah rencana besar yaitu  "...supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib:"  (1 Petrus 2:9b).

     Yosua dipilih Tuhan menggantikan Musa untuk sebuah rencana besar yaitu membawa bangsa Israel masuk serta merebut Tanah Perjanjian.  Namun untuk menggenapi rencana-Nya Yosua terlebih dahulu masuk dalam proses pembentukan Tuhan dan mengalami perjalanan iman yang luar biasa, di antaranya:  menjadi salah satu dari 12 pengintai yang dikirim Musa untuk melihat tanah Kanaan dan dipercaya memimpin perang saat melawan orang-orang Amalek.  Di bawah pimpinan Musa dan pengalamannya sendiri Yosua telah melihat dan mengalami perkara-perkara besar, bagaimana Tuhan memimpin bangsa Israel melalui padang belantara dan berdiri di pihak mereka dengan tiang awan dan tiang api  (Keluaran 13:21-22).  Dengan mata kepala sendiri pula Yosua melihat bagaimana Tuhan membelah laut Teberau, dengan kuasa-Nya yang ajaib tembok Yerikho roboh, serta matahari dan bulan berhenti beredar di atas lembah Ayalon  (Yosua 10:11-12).  Dari pengalaman hidupnya ini akhirnya Yosua dapat berkata bahwa apa yang Tuhan firmankan semua digenapi-Nya!  Hal itu kembali ditegaskan Yosua dalam pidato perpisahannya di hadapan seluruh umat Israel agar mereka tetap beriman kepada Tuhan!

     Kita adalah orang-orang pilihan Tuhan yang diutus untuk memberitakan kabar baik, bahwa melalui karya Kristus di Kalvari kita telah dibebaskan dari belenggu dosa dan diselamatkan, bahkan beroleh sesuatu yang jauh lebih berharga:  "Tetapi sekarang Ia telah mendapat suatu pelayanan yang jauh lebih agung, karena Ia menjadi Pengantara dari perjanjian yang lebih mulia, yang didasarkan atas janji yang lebih tinggi."  (Ibrani 8:6).

Sudahkah kita memberitakan perbuatan Tuhan yang besar ini kepada orang lain?

Tuesday, April 3, 2018

KEBIASAAN MENGERJAKAN PERKARA ROHANI

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 3 April 2018

Baca:  Mazmur 5:1-13

"TUHAN, pada waktu pagi Engkau mendengar seruanku, pada waktu pagi aku mengatur persembahan bagi-Mu, dan aku menunggu-nunggu."  Mazmur 5:4

Kata  'kebiasaan'  memiliki arti:  sesuatu yang biasa dikerjakan dan sebagainya;  pola untuk melakukan tanggapan terhadap situasi tertentu yang dipelajari oleh seorang dan yang dilakukannya secara berulang untuk hal yang sama.  Secara umum, kebiasaan seorang terbagi menjadi dua yaitu kebiasaan baik dan kebiasaan buruk.  Kebiasaan apa yang sering Saudara lakukan?  Kebiasaan baik atau kebiasaan burukkah?  Perhatikanlah apa yang menjadi kebiasaan kita, sebab kebiasaan kita akan membentuk karakter yang sulit untuk diubah.  "Kita adalah apa yang kita kerjakan berulang-ulang.  Karena itu, keunggulan bukanlah suatu perbuatan, melainkan sebuah kebiasaan."  (Aristoteles).

     Daud memiliki kebiasaan bermain kecapi dan memuji-muji Tuhan.  Ia adalah sosok yang memberikan teladan dalam hal keintiman dengan Tuhan.  Tiada hari terlewatkan tanpa ia membangun persekutuan yang karib dengan Tuhan.  "...pada waktu pagi aku mengatur persembahan bagi-Mu, dan aku menunggu-nunggu."  (ayat nas),  "...pada malam hari aku menyanyikan nyanyian, suatu doa kepada Allah kehidupanku."  (Mazmur 42:9), dan  "Tujuh kali dalam sehari aku memuji-muji Engkau, karena hukum-hukum-Mu yang adil."  (Mazmur 119:164).  Contoh lain adalah Daniel, orang yang menjadikan doa sebagai gaya hidup sehari-hari.  "Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya."  (Daniel 6:11).  Kalimat  'seperti yang biasa'  merujuk pada tindakan yang dilakukan secara berulang-ulang atau suatu kegiatan yang selalu dilakukan dan sudah menjadi karakter yang membentuk jati dirinya.

     Harus diakui bahwa hari-hari yang kita jalani ini dipenuhi dengan agenda kerja dan aktivitas duniawi lainnya, seolah-olah tidak ada lagi waktu yang tersisa.  Kalau kita bisa menyalurkan hobi dan kesenangan secara intensif, masakan kita tak bisa menyediakan waktu secara khusus untuk Tuhan setiap harinya?  Mengerjakan perkara-perkara rohani seharusnya menjadi  'kebiasaan'  atau gaya hidup orang percaya.

Ingat!  Di luar Tuhan kita tidak bisa berbuat apa-apa, karena itu biasakan diri untuk bersekutu dengan-Nya hari lepas hari.

Monday, April 2, 2018

WARGA SORGA: Taat Hukum Sorga

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 2 April 2018

Baca:  Filipi 3:17-21

"Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat,"  Filipi 3:20

Sebagai warga negara Indonesia setiap kita memiliki kewajiban yang harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab.  Adapun kewajiban setiap warga negara Indonesia itu tercantum pada UUD 1945, di antaranya adalah:  wajib menaati hukum dan pemerintahan  (pasal 27 ayat 1), wajib turut serta dalam usaha pembelaan negara  (pasal 27 ayat 3), wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara  (pasal 30)  dan sebagainya.

     Rasul Paulus menegaskan bahwa setiap orang percaya memiliki kewargaan  'rohani'  yaitu kewargaan sorga.  Sebagai warga sorga adalah mutlak bagi kita untuk menaati semua hukum yang berlaku di sorga.  Alkitab menyatakan bahwa barangsiapa percaya dan menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat ia diberi kuasa untuk menjadi anak-anak Tuhan  (Yohanes 1:12)  dan menjadi bagian dari keluarga Kerajaan Sorga.  "Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah,"  (Efesus 2:19).

     Untuk menjadi warga kerajaan sorga kita harus benar-benar memenuhi kriteria yang Tuhan kehendaki yaitu mau berproses menjadi seperti Kristus.  Bagaimana caranya?  "Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,
yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.
Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib."  (Filipi 2:5-8).  Apa yang ada dalam pikiran dan perasaan Kristus?  Tidak ada yang lain selain melakukan kehendak Bapa di sorga.  "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya."  (Yohanes 4:34).  Kristus menempatkan kehendak Bapa sebagai yang terutama!  Begitu pula kita harus taat melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan dan bersedia hidup dalam nilai-nilai Kerajaan Sorga.

Mulai dari sekarang marilah kita mempersiapkan diri untuk menjadi warga sorga dengan belajar membiasakan diri memraktekkan gaya hidup sorgawi!