Sunday, January 28, 2018

JEMAAT BEREA: Hati Yang Rela

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 28 Januari 2018

Baca:  Kisah Para Rasul 17:10-15

"Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian."  Kisah 17:11

Alkitab mencatat bahwa jemaat di Berea disebut lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika.  Mengapa bisa seperti itu?  Jemaat di Berea bisa menjadi orang-orang yang jauh lebih baik karena mereka menerima firman Tuhan yang diberitakan oleh Paulus dan Silas dengan segala kerelaan.  Artinya mereka mau belajar, dibentuk dan diproses oleh firman Tuhan.  Ini adalah dampak dari kuasa firman Tuhan!  "Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita."  (Ibrani 4:12).

     Dinyatakan bahwa  "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran."  (2 Timotius 3:16).  Orang yang mendengar firman dengan sungguh-sungguh, menyimpan dalam hati dan memraktekkan dalam hidup sehari-hari hidupnya pasti diubahkan dan hatinya dipulihkan, sehingga tercermin dalam setiap perkataan dan tindakan yang menjadi baik.  Karena begitu mengasihi Tuhan, jemaat di Berea rela hati untuk dibentuk oleh firman Tuhan.  Ini menunjukkan bahwa mereka sangat menghormati Tuhan dan menghargai firman-Nya.  Perhatikan apa yang dilakukan oleh jemaat di Berea!  "...dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian."  (ayat nas).  Artinya mereka rela menyediakan waktu untuk mempelajari Kitab Suci setiap hari.  Keberadaan jemaat di Berea benar-benar telah menjadi kesaksian yang baik!

     Sementara, banyak orang Kristen tidak rela memberi waktu untuk berdoa dan baca Alkitab, apalagi menyediakan waktu secara khusus untuk menyelidiki dan mempelajari Alkitab.  Tidaklah mengherankan jika di setiap ibadah-ibadah pendalaman Alkitab seringkali sepi orang dan sedikit sekali peminatnya.

Hidup kita pasti menjadi berkat bila hati kita rela dibentuk oleh firman Tuhan.

Saturday, January 27, 2018

JAUH LEBIH BESAR DARI YANG DIDOAKAN (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 27 Januari 2018

Baca:  1 Samuel 1:1-28

"Setelah perempuan itu menyapih anaknya, dibawanyalah dia, dengan seekor lembu jantan yang berumur tiga tahun, satu efa tepung dan sebuyung anggur, lalu diantarkannya ke dalam rumah TUHAN di Silo."  1 Samuel 1:24

Kunci keberhasilan doa Hana adalah karena doanya lebih mengutamakan Tuhan dan mempermuliakan nama-Nya, yang di dalamnya terkandung iman yang luar biasa, di mana ia begitu mempercayai Tuhan sanggup menjawab doanya sehingga ia memiliki keberanian untuk bernazar dengan mempersembahkan kembali anak itu kepada Tuhan, meski secara kasat mata ia belum mengandung atau melahirkan seorang anak.  Inilah yang Tuhan ajarkan:  "...apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu."  (Markus 11:24).

     Apa respon Tuhan terhadap sikap hati Hana dalam berdoa?  Tuhan tidak membiarkan Hana pulang dengan tangan hampa, tetapi ia pulang dengan membawa janji Tuhan bahwa ia akan dikaruniai seorang putera.  "Maka setahun kemudian mengandunglah Hana dan melahirkan seorang anak laki-laki. Ia menamai anak itu Samuel, sebab katanya: 'Aku telah memintanya dari pada TUHAN.'"  (1 Samuel 1:20).  Doa Hana pun terjawab, ia mengandung dan lalu melahirkan seorang anak, anak itu adalah Samuel.  Tidak berhenti sampai dengan doa yang dijawab.  Ketika Tuhan sudah menjawab doa kita, Tuhan ingin membawa kita lebih dalam lagi melihat jawaban doa yang jauh lebih besar lagi.  Bagaimana caranya?  Inilah yang dilakukan Hana yaitu menepati apa yang telah ia nazarkan kepada Tuhan  (Ulangan 23:21-23).  Samuel, anak satu-satunya yang ia minta kepada Tuhan, pun kembali dipersembahkan kepada Tuhan.

     Kalau dulu dalam penderitaannya ia tetap mencari Tuhan, sekarang dalam kebahagiaannya pun ia tetap menaati dan berjalan bersama Tuhan.  Alkitab mencatat:  Samuel  (anaknya)  menjadi imam dan nabi yang sangat dihormati di Israel dan bahkan,  "....TUHAN mengindahkan Hana, sehingga dia mengandung dan melahirkan tiga anak laki-laki dan dua anak perempuan lagi. Sementara itu makin besarlah Samuel yang muda itu di hadapan TUHAN."  (1 Samuel 2:21).  Tuhan memberkati Hana dengan porsi ganda!

Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan!  "Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, ..."  Efesus 3:20

Friday, January 26, 2018

JAUH LEBIH BESAR DARI YANG DIDOAKAN (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 26 Januari 2018

Baca:  1 Samuel 1:1-28

"TUHAN semesta alam, jika sungguh-sungguh Engkau memperhatikan sengsara hamba-Mu ini dan mengingat kepadaku dan tidak melupakan hamba-Mu ini, tetapi memberikan kepada hamba-Mu ini seorang anak laki-laki, maka aku akan memberikan dia kepada TUHAN untuk seumur hidupnya dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya."  1 Samuel 1:11

Ada sebuah kisah yang sangat menarik di Alkitab bagaimana Tuhan mengabulkan doa seseorang.  Adalah Hana, wanita yang bertahun-tahun mandul.  Bagi wanita kemandulan adalah petaka besar!  Penderitaan batin yang dialami Hana tidak cukup sampai di situ.  Selain mandul, kehadiran  'madu'nya yaitu Penina, yang dari waktu ke waktu selalu menyakiti hatinya, semakin memperburuk keadaan.  Entah berapa tahun hal itu berlangsung, akan tetapi Alkitab mencatat:  "Demikianlah terjadi dari tahun ke tahun; setiap kali Hana pergi ke rumah TUHAN, Penina menyakiti hati Hana, sehingga ia menangis dan tidak mau makan."  (1 Samuel 1:7).  Suatu proses hidup yang sungguh berat!

     Ketika dihadapkan pada penderitaan hidup yang berat, umumnya orang akan memilih meninggalkan Tuhan dan berusaha mencari  'jalan pintas', meminta pertolongan dunia.  Tidak sedikit orang frustasi dan putus asa.  Namun Hana tidak larut dalam kepahitan atau kekecewaan, ia memilih datang kepada Tuhan dan menyerahkan semua persoalan kepada-Nya.  "...dan dengan hati pedih ia berdoa kepada TUHAN sambil menangis tersedu-sedu."  (1 Samuel 1:10).

     Hal luar biasa yang patut menjadi perhatian orang percaya adalah nazar yang Hana sampaikan kepada Tuhan.  Inilah yang sesungguhnya menjadi kunci keberhasilan doanya!  Kita tahu bahwa persoalan utama yang dihadapi Hana adalah soal anak.  Tetapi ia dengan penuh keyakinan berjanji kepada Tuhan:  jikalau Tuhan mengaruniai dia anak, maka anaknya itu akan dipersembahkan kepada Tuhan!  Artinya jika doanya dikabulkan Tuhan, ia bersedia menerima konsekuensinya yaitu kembali ke persoalan yang sama, yaitu  'tidak mempunyai anak'  seperti sediakala!  Ini menunjukkan bahwa sesungguhnya Hana sedang mencari perkenanan Tuhan, yang baginya jauh lebih penting dan berharga dari anak yang ia pergumulkan.

Thursday, January 25, 2018

KASIH BAPA: Sungguh Tiada Batas

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 25 Januari 2018

Baca:  Lukas 15:11-32

"Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita."  Lukas 15:22-23

Sebagai orang percaya kita patut bersyukur karena Tuhan yang kita sembah adalah Bapa yang sungguh teramat baik, Bapa yang selalu ingin memberkati anak-anak-Nya.  Bahkan kerinduan hati Bapa untuk memberkati kita itu jauh lebih besar dari kerinduan hati kita untuk diberkati oleh-Nya.  Kita dapat melihatnya dari kisah perumpamaan yang Kristus sampaikan tentang anak yang hilang ini, sekalipun anak bungsu itu telah memilih untuk meninggalkan bapanya dan menghabiskan harta miliknya dan jatuh melarat, dan yang kemudian baru memutuskan untuk kembali pulang ke rumah bapanya.

     Apa yang diperbuat bapanya begitu melihat anak bungsunya kembali?  Marah dan mengusir dia?  Tidak sama sekali!  Sang bapa justru menyambutnya dengan tangan terbuka dan penuh dengan kasih.  Bapa juga sama sekali tidak mengungkit-ungkit dosa dan kesalahan yang diperbuat anak bungsu itu, apalagi menyinggung soal berapa uang dan harta yang telah dihambur-hamburkannya.  Bapa puas dan gembira karena anaknya sudah pulang dalam keadaan selamat.  Itu cukup baginya, sekalipun anak bungsu itu berkata,  "Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa."  (Lukas 15:18-19).  Akan tetapi perkataan ini tidak ditanggapi bapanya.  Perhatikan reaksi bapanya begitu melihat anaknya yang bungsu itu kembali ke rumah:  "...Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia."  (Lukas 15:20).  Apa pun keadaannya, anak bungsu itu tetap diterimanya sebagai anak!

     Begitu juga dengan Bapa kita di sorga, Ia tidak pernah memperhitungkan kesalahan dan dosa kita ketika kita memutuskan untuk kembali kepada-Nya.

"Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita... sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita."  Mazmur 103:10, 12

Wednesday, January 24, 2018

KORNELIUS: Doa Dijawab Tuhan

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 24 Januari 2018

Baca:  Kisah Para Rasul 10:1-48

"Semua doamu dan sedekahmu telah naik ke hadirat Allah dan Allah mengingat engkau."  Kisah 10:4

Banyak orang Kristen tahu bahwa berdoa itu penting, tetapi sangat sedikit yang mau bersungguh-sungguh di dalam doa;  atau berdoa hanya saat perlu atau dalam keadaan terdesak saja.  Doa sesungguhnya bukanlah sekedar aktivitas agamawi, tetapi doa adalah wujud kebergantungan kita kepada Tuhan secara mutlak karena kita takkan mampu menjalani hidup ini tanpa Tuhan turun tangan menolong kita.  Jadi doa bukan sekedar sikap rohani biasa, tetapi merupakan hubungan dengan Tuhan, karena ketika kita berdoa kita sedang berkomunikasi atau membangun persekutuan karib dengan Tuhan.  Ketika kita berdoa Tuhan mendengar, dan karena Dia mendengar maka Dia akan menjawab.

     Doa bukan sekedar meminta apa yang kita mau kepada Tuhan, tapi lebih dari itu, yaitu bagaimana kita mengerti dan memahami apa yang Tuhan mau, sehingga dalam doa-doa tersebut kita tidak memaksa Tuhan mengikuti kemauan kita, tetapi kita belajar mengikuti kehendak Tuhan.  Ayat nas menyatakan bahwa doa Kornelius telah sampai, naik ke hadirat Tuhan, artinya doanya diperhatikan dan didengar oleh Tuhan.  Ada unsur-unsur doa yang harus dipahami supaya doa kita diperhatikan dan didengar Tuhan, di antaranya:  1.  Kesungguhan dalam berdoa.  Seringkali kita berdoa asal-asalan atau ala kadarnya.  Berdoa sungguh-sungguh berarti fokus, ada kesatuan antara hati, pikiran, jiwa dan roh, disertai rasa penghormatan yang tinggi kepada Tuhan.  "Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujanpun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan. Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan dan bumipun mengeluarkan buahnya."  (Yakobus 5:17-18).

     2.  Sikap hati harus benar.  Ini berbicara tentang motivasi kita saat berdoa.  Seringkali kita menggerutu kepada Tuhan karena doa kita tak dijawab, mungkin motivasi kita salah.  "...kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu."  (Yakobus 4:3).

Doa yang dijawab Tuhan adalah yang dilakukan dengan sepenuh hati dan dengan sikap hati yang benar!

Tuesday, January 23, 2018

KORNELIUS: Takut Akan Tuhan

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 23 Januari 2018

Baca:  Kisah Para Rasul 10:1-48

"Empat hari yang lalu kira-kira pada waktu yang sama seperti sekarang, yaitu jam tiga petang, aku sedang berdoa di rumah. Tiba-tiba ada seorang berdiri di depanku, pakaiannya berkilau-kilauan dan ia berkata: Kornelius, doamu telah didengarkan Allah dan sedekahmu telah diingatkan di hadapan-Nya."  Kisah 10:30-31

Jabatan, kedudukan dan harta kekayaan seringkali menjadi faktor penyebab orang mudah sekali meninggalkan Tuhan dan cenderung mengandalkan kekuatan sendiri.  Alkitab memperingatkan:  "Celakalah orang-orang yang pergi ke Mesir minta pertolongan, yang mengandalkan kuda-kuda, yang percaya kepada keretanya yang begitu banyak, dan kepada pasukan berkuda yang begitu besar jumlahnya, tetapi tidak memandang kepada Yang Mahakudus, Allah Israel, dan tidak mencari TUHAN."  (Yesaya 31:1).

     Pelajaran berharga lain yang kita dapatkan dari Kornelius:  Tak meninggalkan persekutuan dengan Tuhan"Ia saleh, ia serta seisi rumahnya takut akan Allah ....dan senantiasa berdoa kepada Allah."  (Kisah 10:2).  Ada banyak orang memiliki jabatan atau kedudukan hidupnya jauh dari Tuhan karena merasa mampu.  Mereka lebih mengandalkan apa yang dimiliki.  Hari-harinya penuh dengan agenda kerja sampai-sampai tak memiliki waktu untuk membangun persekutuan secara pribadi dengan Tuhan.  Semakin kita menjauh dari Tuhan semakin kita membuka celah selebar-lebarnya kepada Iblis untuk menghancurkan hidup kita.  Seharusnya semakin kita dipercaya Tuhan dengan keberhasilan di dalam karir semakin mendekatkan kita kepada Tuhan, dan menyadarkan kita bahwa di luar Tuhan kita tidak bisa berbuat apa-apa  (Yohanes 15:5b),  "Sebab kekayaan dan kemuliaan berasal dari pada-Mu dan Engkaulah yang berkuasa atas segala-galanya; dalam tangan-Mulah kekuatan dan kejayaan; dalam tangan-Mulah kuasa membesarkan dan mengokohkan segala-galanya."  (1 Tawarikh 29:12).

     Kornelius juga suka berbuat baik"...ia memberi banyak sedekah kepada umat Yahudi..."  (Kisah 10:2).  Ia tidak menggunakan jurs aji mumpung dengan memanfaatkan jabatan untuk memperkaya diri.  Hati Kornelius penuh belas kasihan, ia tak dapat menahan diri untuk menolong orang lain.  "Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya."  (Amsal 3:27).

Hidup Kornelius benar-benar menjadi berkat karena ia takut akan Tuhan!

Monday, January 22, 2018

KORNELIUS: Punya Kerendahan Hati

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 22 Januari 2018

Baca:  Kisah Para Rasul 10:1-48

"Ia saleh, ia serta seisi rumahnya takut akan Allah dan ia memberi banyak sedekah kepada umat Yahudi dan senantiasa berdoa kepada Allah."  Kisah 10:2

Kalau mendengar kata pejabat maka yang ada dalam pikiran kita adalah orang yang sangat terpandang dan disegani semua orang, di mana-mana mendapatkan pelayanan yang VIP.  Namun tidak sedikit orang berpendapat bahwa pejabat identik dengan orang yang hanya mau menang sendiri, katanya pelayan masyarakat tapi nyatanya selalu ingin dilayani oleh masyarakat, gampang sekali menyalahgunakan wewenang  (korupsi, suap).

     Kornelius adalah seorang perwira pasukan Romawi yang disebut pasukan Italia  (ayat 1).  Ini menunjukkan bahwa Kornelius bukanlah orang biasa, tapi orang yang memiliki jabatan tinggi atau pemimpin, namun ia pejabat atau pemimpin yang mengayomi masyarakat, memiliki hati untuk rakyatnya dan takut akan Tuhan.  Inilah yang membedakan dengan kebanyakan pejabat/pemimpin zaman sekarang yang cenderung mementingkan golongannya atau diri sendiri.  Sesungguhnya Kornelius berasal dari bangsa kafir.  Tetapi menyadari tanggung jawabnya sebagai pemimpin yang tak mudah, ia pun sadar bahwa ia sangat membutuhkan campur tangan kuasa Tuhan.  Kisah Para Rasul ini mencatat bahwa Kornelius merupkan orang non-Yahudi pertama yang menjadi orang Kristen  (pengikut Kristus).

     Banyak pelajaran berharga yang kita dapatkan dari kehidupan Kornelius ini, antara lain:  Punya jabatan tak membuatnya sombong.  Orang yang memiliki kedudukan tinggi biasanya mudah sekali takabur, berlaku sombong dan memandang rendah orang lain.  Perhatikan yang Alkitab katakan:  "Manusia yang sombong akan direndahkan, dan orang yang angkuh akan ditundukkan;"  (Yesaya 2:11).  Meski berpangkat, Kornelius tetaplah orang yang rendah hati.  Ada tertulis:  "...kerendahan hati mendahului kehormatan."  (Amsal 3:34).  Jika saat ini kita dipercaya oleh Tuhan sebuah jabatan atau kedudukan yang tinggi, jangan sampai hal itu membuat kita lupa diri, memegahkan diri, apalagi sampai menganggap rendah orang lain.

Jangan lupa selalu bersyukur kepada Tuhan dan tetaplah menjadi orang yang rendah hati, karena semua datangnya dari Tuhan.

Sunday, January 21, 2018

MILIKI HATI YANG LURUS

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 21 Januari 2018

Baca:  Kisah Para Rasul 8:4-25

"Tidak ada bagian atau hakmu dalam perkara ini, sebab hatimu tidak lurus di hadapan Allah."  Kisah 8:21

Dunia hari-hari ini adalah dunia yang dipenuhi dengan orang-orang yang justru semakin sibuk menjaga uang dan harta kekayaannya, sibuk menjaga perusahaan dan aset-asetnya, sibuk menjaga penampilan jasmaninya agar tetap kelihatan cantik dan tampan, sibuk menjaga jabatan dan popularitasnya agar tidak kalah pamor, dan sebagainya.

     Kita semua lupa bahwa sesungguhnya kunci dari segala hal dalam hidup ini adalah hati kita.  Alkitab menyatakan:  "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan."  (Amsal 4:23).  Mengapa hati kita harus selalu dijaga?  Karena dari hati timbul segala pikiran jahat  (Matius 15:19).  Iblis sedang gencar-gencarnya mempengaruhi manusia dengan menawarkan segala kenikmatan dunia.  Jika manusia tidak dapat menjaga hatinya, mata hatinya akan semakin gelap, dan akhirnya dalam hati timbul berbagai niat jahat.  Ada tertulis:  "Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu."  (Matius 6:22-23).  Ingatlah bahwa hidup yang sedang kita jalani hari ini hanyalah pancaran dari apa yang ada di dalam hati kita.  Kalau hati kita lurus maka jalan kita pun akan lurus.  Hati yang lurus adalah hati yang bersih, tidak tipu daya atau bebas dari segala kejahatan.

     Tuhan adalah Tuhan yang berlimpah kasih karunia.  Namun kasih karunia Tuhan tidak diberikan kepada sembarang orang.  "Aku akan memberi kasih karunia kepada siapa yang Kuberi kasih karunia dan mengasihani siapa yang Kukasihani."  (Keluaran 33:19).  Tuhan memberikan kasih karunia-Nya kepada orang-orang yang berhati lurus.  Kalau kasih karunia itu diberikan kepada orang yang hatinya bengkok, kasih karunia-Nya pasti akan disalah gunakan, bukan untuk kemuliaan nama Tuhan, tapi kemegahan diri sendiri.  Orang yang hatinya tidak lurus akan kehilangan berkat dan kesempatan dari Tuhan, sebaliknya orang yang hatinya lurus pasti dikasihi Tuhan.  Contoh:  Saul ditolak Tuhan dan Daud dipilih-Nya, karena Tuhan mendapati Daud punya hati yang lurus.

"Jejak orang benar adalah lurus, sebab Engkau yang merintis jalan lurus baginya."  Yesaya 26:7

Saturday, January 20, 2018

APA YANG ADA PADAMU

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 20 Januari 2018

Baca:  Wahyu 2:18-29

"Tetapi apa yang ada padamu, peganglah itu sampai Aku datang."  Wahyu 2:25

Pada dasarnya manusia mudah sekali mengeluh, kurang bersyukur dan kurang menghargai apa yang ada padanya.  Kita selalu melihat kekurangan diri sendiri dan melihat kelebihan orang lain.  Kita tidak bisa menerima diri apa adanya.  Dengan nada menggerutu kita sering berkata,  "Mengapa dia memiliki banyak talenta, sedangkan aku tidak?  Mengapa mereka bisa seperti itu?  Tak mungkin Tuhan memakai hidupku."  Lalu kita pun berlaku seperti hamba yang menerima satu talenta:  "...pergi dan menggali lobang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya."  (Matius 25:18).

     Perhatikan apa yang Tuhan katakan:  "...engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau,"  (Yesaya 43:4).  Tuhan memulai karya-Nya dengan apa yang ada pada kita.  Dia tidak menginginkan apa yang tidak kita miliki, Ia menerima kita apa adanya.  Berbeda dengan Iblis, jika ingin menolong manusia, ia meminta banyak syarat dan nyawa menjadi taruhannya.  Selalu ada maksud tersembunyi di balik pemberian Iblis,  "...sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta."  (Yohanes 8:44);  Ia adalah pembunuh dan pembinasa manusia.  Ketika hendak diutus Tuhan untuk memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir, Musa merasa diri tidak mampu:  "Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?"  (Keluaran 3:11).  Berbagai alasan Musa kemukakan untuk menghindarkan diri dari panggilan Tuhan.  Kemudian berfirmanlah Tuhan kepada Musa:  "'Apakah yang di tanganmu itu?' Jawab Musa: 'Tongkat.'"  (Keluaran 4:2).  Akhirnya hanya dengan tongkat gembala Musa yang sederhana, Tuhan sanggup melakukan perkara-perkara dahsyat dan membebaskan umat Israel dari perbudakan di Mesir.  Pula Elisa bertanya kepada janda nabi yang terlilit hutang:  "Beritahukanlah kepadaku apa-apa yang kaupunya di rumah."  (2 Raja-Raja 4:2).  Perempuan itu hanya punya sebuah buli-buli berisi minyak.  Dengan minyak yang sedikit itu Tuhan sanggup melakukan mujizat, sehingga semua hutangnya dapat terlunasi.

     Syukurilah dan hargailah apa yang ada pada diri kita!  Tak perlu kita merasa minder atau memaksakan diri ingin menjadi seperti orang lain.

Apa yang Tuhan taruh dan percayakan dalam hidup kita biarlah kita lakukan dengan setia;  kalau tangan Tuhan turut bekerja hasilnya pun pasti luar biasa!

Friday, January 19, 2018

ADA UDANG DI BALIK BATU

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 19 Januari 2018

Baca:  Yeremia 34:8-22

"...supaya setiap orang melepaskan budaknya bangsa Ibrani, baik laki-laki maupun perempuan, sebagai orang merdeka, sehingga tidak ada seorangpun lagi yang memperbudak seorang Yehuda, saudaranya."  Yeremia 34:9

Melalui nabi Yeremia Tuhan memberikan perintah kepada umat Israel untuk memaklumkan pembebasan kepada para budak.  Mereka tidak diperkenankan untuk saling memperbudak saudara sebangsanya sendiri, dan kalaupun ada saudara sebangsa yang ingin bekerja demi nafkah dan menjadi budak, maka pada tahun Yobel mereka harus dibebaskan.  "Kamu harus menguduskan tahun yang kelima puluh, dan memaklumkan kebebasan di negeri itu bagi segenap penduduknya."  (Imamat 25:10a).  Dasar dari pembebasan ini adalah karena Tuhan telah membebaskan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir.  Jika mereka melanggar ketetapan ini ada konsekuensi yang harus ditanggung yaitu Tuhan akan menyerahkan mereka ke tangan raja Babel.

     Mereka melakukan apa yang Tuhan perintahkan:  "Maka semua pemuka dan segenap rakyat yang ikut serta dalam perjanjian itu menyetujui, bahwa setiap orang akan melepaskan budaknya laki-laki dan budaknya perempuan sebagai orang merdeka, sehingga tidak ada lagi yang memperbudak mereka. Orang-orang itu menyetujuinya, lalu melepaskan mereka."  (Yeremia 34:10).  Apakah tindakan mereka ini benar-benar tulus?  Tidak.  Ternyata mereka mempunyai maksud yang terselubung, atau peribahasanya ada udang di balik batu.  Mereka membebaskan para budak dengan tujuan supaya para budak tersebut dapat dimanfaatkan sebagai tenaga tambahan untuk berperang melawan kerajaan Babel;  dan ternyata begitu keadaan sudah membaik mereka pun  "...berbalik pikiran, lalu mengambil kembali budak-budak lelaki dan perempuan yang telah mereka lepaskan sebagai orang merdeka itu dan menundukkan mereka menjadi budak laki-laki dan budak perempuan lagi."  (Yeremia 34:11).  Ini menunjukkan bahwa mereka tidak sungguh-sungguh takut akan Tuhan.  Mereka taat kepada Tuhan hanya supaya dapat terluput dari hukuman atau hal-hal buruk.

     Banyak di antara orang percaya ketika berada dalam masalah atau kesesakan tampak bersungguh-sungguh mencari Tuhan dan menunjukkan perilaku yang seolah-olah sudah bertobat.  Tapi begitu keadaan sudah baik, mereka kembali hidup dalam dosa.

Jangan permainkan Tuhan!  Cepat atau lambat ada akibat yang harus ditanggung!

Thursday, January 18, 2018

MENGALAMI KEMURAHAN TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 18 Januari 2018

Baca:  Mazmur 30:1-13

"Sebab sesaat saja Ia murka, tetapi seumur hidup Ia murah hati;"  Mazmur 30:6a

Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang penuh dengan kemurahan.  Namun banyak orang percaya bertanya-tanya dalam hati:  "Kalau Tuhan itu Mahapemurah, mengapa ada orang menerima kemurahan dari Tuhan secara limpahnya, tapi tidak sedikit orang yang belum mengalami kemurahan Tuhan?"  Itu menunjukkan bahwa sesungguhnya kemurahan Tuhan tidak secara otomatis diberikan begitu saja kepada semua orang.

     Perhatikan kebenaran Alkitab berkenaan dengan kemurahan Tuhan!  Ada tertulis:  "Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi."  (Amsal 28:13).  Artinya kemurahan Tuhan itu pasti akan diberikan kepada orang percaya yang benar-benar hidup dalam pertobatan.  Jika kita telah berbuat dosa, lalu kita datang kepada Tuhan, mengakuinya dan memohon pengampunan kepada-Nya, serta berbalik dari jalan-jalan kita yang jahat dan mengikuti jalan Tuhan.  "...maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan."  (1 Yohanes 1:9).  Inilah yang membuat orang beroleh kemurahan dari Tuhan.  Contoh:  Daud sempat jatuh dalam dosa perzinahan dengan Batsyeba  (2 Samuel 11:1-27).  Tapi setelah ditegur oleh Natan ia menyatakan penyesalannya yang mendalam dan bertobat.  Karena bertobat dengan sungguh maka Tuhan menyatakan kemurahan-Nya kepada Daud.

     Kemurahan Tuhan juga diberikan kepada setiap orang percaya yang punya keberanian menegur orang lain yang melakukan dosa  "Siapa menegur orang akan kemudian lebih disayangi dari pada orang yang menjilat."  (Amsal 28:23).  Ada banyak orang memilih untuk diam atau tidak peduli dengan kesalahan orang lain, apalagi menegur, karena takut, sungkan atau enggan.  Padahal, teguran itu mendatangkan kemurahan Tuhan.  Yang harus diperhatikan adalah cara kita menegur, dan teguran harus dilandasi oleh kasih.  Kemurahan Tuhan juga diberikan kepada orang percaya yang senantiasa murah hati.  "Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan."  (Matius 5:7).  Murah hati berarti memiliki empati tinggi terhadap orang lain dan suka menolong orang yang sedang dalam kesusahan.

Orang yang berlaku sesuai kehendak Tuhan pasti mengalami kemurahan-Nya.