Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 26 Desember 2017
Baca: Matius 10:34-42
"Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa
damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan
pedang." Matius 10:34
Semua manusia, tanpa terkecuali, pasti membutuhkan kedamaian dalam hidupnya. Adapun kata damai dalam Kamus Bahasa Indonesia berarti tidak ada perang, tidak ada kerusuhan, aman, tenteram, tenang, keadaan tidak bermusuhan dan rukun. Dengan kata lain manusia tidak mengingini adanya suatu pertikaian, permusuhan, perpecahan atau sengketa. Bersyukur kita punya Tuhan yang bukan hanya Tuhan dengan berlimpah dengan kasih setia, bukan hanya sumber segala mujizat, tetapi Dia adalah Raja Damai, seperti tertulis: "...namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai." (Yesaya 9:5).
Namun pada suatu kesempatan Kristus justru membuat pernyataan yang berbeda yang sangat mengejutkan telinga semua orang: "Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya." (Matius 10:35-36). Setiap orang yang memutuskan diri untuk mengikut Kristus harus siap untuk membayar harga! Bukankah kita sering mendengar kesaksian dari saudara-saudara seiman, yang karena imannya kepada Kristus, mereka harus ditentang, dikucilkan dan bahkan tidak diakui lagi oleh keluarga besarnya? Ada pula yang diperlakukan tidak adil di dunia pekerjaan, serta tidak sedikit dari mereka yang dijauhi oleh lingkungan. Mengikut Kristus berarti juga kita harus mau untuk memisahkan diri dari dunia! "Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka,
firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan
menerima kamu." (2 Korintus 6:17).
Alkitab jelas menyatakan bahwa "Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat
kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya." (Yesaya 32:17). Artinya bahwa kebenaran dan kedamaian adalah dua hal yang saling berkaitan dan tak terpisahkan. Untuk mengalami kedamaian yang sejati kita harus 'tinggal' di dalam Kristus, yang adalah Raja Damai dan kebenaran itu sendiri; dan itu butuh ketegasan dan sikap tidk mengenal kompromi!
Ada harga yang harus dibayar sebagai pengikut Kristus, siapkah kita?
Tuesday, December 26, 2017
Monday, December 25, 2017
KESELAMATAN ITU TELAH DATANG!
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 25 Desember 2017
Baca: Lukas 21:25-28
"Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya." Lukas 21:27
Tak terbantahkan bahwa keadaan dunia ini semakin kacau dan mencemaskan. Banyak orang mengalami ketakutan dan kebimbangan yang luar biasa. Pertanyaan: ke manakah kita akan lari untuk meluputkan diri dari semuanya ini? Lari ke ujung dunia manapun takkan kita temukan perlindungan dan keselamatan yang sejati.
Sebagai orang percaya tak perlu kita takut, cemas dan kuatir, karena pada saatnya Kristus akan datang ke dunia, tidak lagi sebagai bayi yang dibungkus dengan lampin dan dibaringkan di dalam palungan, tetapi Ia akan datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya (ayat nas); dan karena kita ini adalah umat pilihan-Nya: "Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu." (Yohanes 15:16a), dipilih oleh Tuhan sendiri, maka kita sangat percaya bahwa seburuk apa pun situasi dunia ini, kita takkan ditinggalkan Tuhan, Dia pasti bertanggung jawab penuh atas hidup kita. Oleh karena itu jangan menjadi lemah dan putus asa, melainkan "Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat." (Lukas 21:28). 'Angkatlah mukamu' memiliki arti tidak lagi tertunduk. Biasanya orang yang berjalan dengan muka tertunduk adalah orang yang sedang menahan malu, mengalami kekalahan atau kegagalan. Tak seharusnya kita berlaku demikian, sebaliknya kita harus mengangkat muka, sebab kita punya Tuhan yang perkasa, yang memberikan kemenangan dan jaminan keselamatan. "Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita." (Roma 8:37).
Bapa, "...yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?" (Roma 8:32). Inilah kasih Bapa yang tiada batas, dan Kristus adalah manifestasi dari kasih Bapa. Di dalam Kristus setiap orang percaya dapat berkata bahwa masa depan dan harapan itu ada (baca Amsal 23:18).
"Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud." Lukas 2:10-11
Baca: Lukas 21:25-28
"Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya." Lukas 21:27
Tak terbantahkan bahwa keadaan dunia ini semakin kacau dan mencemaskan. Banyak orang mengalami ketakutan dan kebimbangan yang luar biasa. Pertanyaan: ke manakah kita akan lari untuk meluputkan diri dari semuanya ini? Lari ke ujung dunia manapun takkan kita temukan perlindungan dan keselamatan yang sejati.
Sebagai orang percaya tak perlu kita takut, cemas dan kuatir, karena pada saatnya Kristus akan datang ke dunia, tidak lagi sebagai bayi yang dibungkus dengan lampin dan dibaringkan di dalam palungan, tetapi Ia akan datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya (ayat nas); dan karena kita ini adalah umat pilihan-Nya: "Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu." (Yohanes 15:16a), dipilih oleh Tuhan sendiri, maka kita sangat percaya bahwa seburuk apa pun situasi dunia ini, kita takkan ditinggalkan Tuhan, Dia pasti bertanggung jawab penuh atas hidup kita. Oleh karena itu jangan menjadi lemah dan putus asa, melainkan "Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat." (Lukas 21:28). 'Angkatlah mukamu' memiliki arti tidak lagi tertunduk. Biasanya orang yang berjalan dengan muka tertunduk adalah orang yang sedang menahan malu, mengalami kekalahan atau kegagalan. Tak seharusnya kita berlaku demikian, sebaliknya kita harus mengangkat muka, sebab kita punya Tuhan yang perkasa, yang memberikan kemenangan dan jaminan keselamatan. "Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita." (Roma 8:37).
Bapa, "...yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?" (Roma 8:32). Inilah kasih Bapa yang tiada batas, dan Kristus adalah manifestasi dari kasih Bapa. Di dalam Kristus setiap orang percaya dapat berkata bahwa masa depan dan harapan itu ada (baca Amsal 23:18).
"Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud." Lukas 2:10-11
Sunday, December 24, 2017
PERCAKAPKAN PERBUATAN TUHAN SAJA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 24 Desember 2017
Baca: Mazmur 105:1-11
"Bernyanyilah bagi-Nya, bermazmurlah bagi-Nya, percakapkanlah segala perbuatan-Nya yang ajaib!" Mazmur 105:2
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering bertemu dan berhadapan dengan orang-orang yang memiliki sifat, karakter dan kebiasaan yang berbeda-beda. Ada golongan orang yang setiap kali bertemu dengan sesama selalu mempercakapkan segala sesuatu yang berkenaan dengan diri sendiri, menonjolkan diri sendiri, terlebih-lebih bagi mereka yang punya nilai plus, keunggulan atau prestasi yang bisa dibanggakan. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang dengan sengaja menambahi dengan bumbu-bumbu supaya orang yang mendengar makin terkesima dan berdecak kagum dengan apa yang disampaikan.
Saat kita mempercakapkan kelebihan diri sendiri kepada orang lain, saat itu pula kita sedang bermegah diri alias sombong. Lainnya lagi ada sekelompok orang yang suka sekali mempercakapkan masalah atau kesulitan yang dialami, disertai dengan keluh kesah dan sikap mengasihani diri sendiri. Sadarilah bahwa sesungguhnya orang akan senang dan mau bersahabat dengan orang-orang yang rendah hati dan yang selalu punya pikiran positif (optimis). Sebaliknya orang yang suka sekali memegahkan diri sendiri dan mengasihani diri sendiri (pesimis), di mana pun berada ia pasti kurang disukai oleh semua orang, karena tanpa sadar mereka telah menunjukkan kelemahan diri.
Pemazmur menasihatkan agar kita senantiasa memfungsikan lidah atau mulut kita untuk memuji dan memuliakan Tuhan, serta mempercakapkan perbuatan-Nya yang ajaib (ayat nas), karena kita ini adalah saksi-saksi Tuhan di tengah dunia. Ketika kita senantiasa mempercakapkan tentang firman Tuhan, kasih-Nya, kebaikan-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya kepada orang lain, maka siapa pun yang mendengarnya pasti akan terberkati, dikuatkan imannya dan semakin memuliakan nama Tuhan. Bukan hanya itu, Tuhan juga akan bekerja dan menyatakan kuasa-Nya atas hidup kita. Jadi seorang percaya haruslah berlaku bijak dalam berucap! Bukan hanya itu, Tuhan juga akan bekerja dan menyatakan kuasa-Nya atas hidup kita. Jadi seorang percaya haruslah berlaku bijak dalam berucap! Biarlah hanya tentang Tuhan dan kehebatan kuasa-Nya yang menjadi hiasan bibir kita setiap hari, bukan tentang kehebatan diri sendiri dan keluhan, kebutuhan atau masalah yang digemakan!
Jika langit dan cakrawala dapat menceritakan perbuatan Tuhan yang dahsyat (Mazmur 19:2), masakan kita umat-Nya tak mau melakukan hal yang sama?
Baca: Mazmur 105:1-11
"Bernyanyilah bagi-Nya, bermazmurlah bagi-Nya, percakapkanlah segala perbuatan-Nya yang ajaib!" Mazmur 105:2
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering bertemu dan berhadapan dengan orang-orang yang memiliki sifat, karakter dan kebiasaan yang berbeda-beda. Ada golongan orang yang setiap kali bertemu dengan sesama selalu mempercakapkan segala sesuatu yang berkenaan dengan diri sendiri, menonjolkan diri sendiri, terlebih-lebih bagi mereka yang punya nilai plus, keunggulan atau prestasi yang bisa dibanggakan. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang dengan sengaja menambahi dengan bumbu-bumbu supaya orang yang mendengar makin terkesima dan berdecak kagum dengan apa yang disampaikan.
Saat kita mempercakapkan kelebihan diri sendiri kepada orang lain, saat itu pula kita sedang bermegah diri alias sombong. Lainnya lagi ada sekelompok orang yang suka sekali mempercakapkan masalah atau kesulitan yang dialami, disertai dengan keluh kesah dan sikap mengasihani diri sendiri. Sadarilah bahwa sesungguhnya orang akan senang dan mau bersahabat dengan orang-orang yang rendah hati dan yang selalu punya pikiran positif (optimis). Sebaliknya orang yang suka sekali memegahkan diri sendiri dan mengasihani diri sendiri (pesimis), di mana pun berada ia pasti kurang disukai oleh semua orang, karena tanpa sadar mereka telah menunjukkan kelemahan diri.
Pemazmur menasihatkan agar kita senantiasa memfungsikan lidah atau mulut kita untuk memuji dan memuliakan Tuhan, serta mempercakapkan perbuatan-Nya yang ajaib (ayat nas), karena kita ini adalah saksi-saksi Tuhan di tengah dunia. Ketika kita senantiasa mempercakapkan tentang firman Tuhan, kasih-Nya, kebaikan-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya kepada orang lain, maka siapa pun yang mendengarnya pasti akan terberkati, dikuatkan imannya dan semakin memuliakan nama Tuhan. Bukan hanya itu, Tuhan juga akan bekerja dan menyatakan kuasa-Nya atas hidup kita. Jadi seorang percaya haruslah berlaku bijak dalam berucap! Bukan hanya itu, Tuhan juga akan bekerja dan menyatakan kuasa-Nya atas hidup kita. Jadi seorang percaya haruslah berlaku bijak dalam berucap! Biarlah hanya tentang Tuhan dan kehebatan kuasa-Nya yang menjadi hiasan bibir kita setiap hari, bukan tentang kehebatan diri sendiri dan keluhan, kebutuhan atau masalah yang digemakan!
Jika langit dan cakrawala dapat menceritakan perbuatan Tuhan yang dahsyat (Mazmur 19:2), masakan kita umat-Nya tak mau melakukan hal yang sama?
Saturday, December 23, 2017
HAMBA YANG SELALU SIAP SEDIA (2)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 23 Desember 2017
Baca: Lukas 12:35-40
"Dan apabila ia datang pada tengah malam atau pada dinihari dan mendapati mereka berlaku demikian, maka berbahagialah mereka." Lukas 12:38
Orang percaya dapat dikatakan sebagai hamba yang selalu siap sedia, bila: 2. Hidup menjadi terang. "...dan pelitamu tetap menyala." (Lukas 12:35). Dunia ini sedang diliputi oleh kegelapan yang pekat dan orang percaya dituntut untuk bisa menjadi pelita yang terus menyala di tengah kegelapan, sebab "Kamu adalah terang dunia...Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." (Matius 5:14, 16). Namun sering terjadi sebaliknya, ada banyak orang percaya yang hidupnya tidak menjadi terang, melainkan menjadi batu sandungan, karena mereka terbawa oleh arus dunia ini dan hidup dalam kegelapan. Padahal Tuhan telah memanggil orang percaya dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib (1 Petrus 2:9). Karena itu Rasul Paulus menasihati, "...saudara-saudara, kamu tidak hidup di dalam kegelapan, sehingga hari itu tiba-tiba mendatangi kamu seperti pencuri, karena kamu semua adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan." (1 Tesalonika 5:4-5).
3. Dengar-dengaran akan suara Tuhan. Dikatakan: "...supaya jika ia datang dan mengetok pintu, segera dibuka pintu baginya." (Lukas 12:36). Untuk bisa mendengar suara Tuhan orang harus bergaul karib dengan Tuhan. Pemazmur berkata, "TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka." (Mazmur 25:14). Jadi orang yang senantiasa dekat dengan Tuhan pasti akan mengenal suara-Nya, seperti domba yang mengenal suara gembalanya, seperti murid yang senantiasa dengar-dengaran akan suara gurunya; jadi ketika pintu itu diketok ia akan segera membukanya, sebab ia tahu bahwa yang datang adalah Tuhan.
Di zaman sekarang ini banyak orang lebih suka menyendengkan telinganya untuk mendengar suara-suara dari dunia ini daripada mendengar suara Tuhan. Akhirnya mereka pun hanyut dan tenggelam dalam keduniawian. Ini berbahaya sekali!
"Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat." Lukas 21:34
Baca: Lukas 12:35-40
"Dan apabila ia datang pada tengah malam atau pada dinihari dan mendapati mereka berlaku demikian, maka berbahagialah mereka." Lukas 12:38
Orang percaya dapat dikatakan sebagai hamba yang selalu siap sedia, bila: 2. Hidup menjadi terang. "...dan pelitamu tetap menyala." (Lukas 12:35). Dunia ini sedang diliputi oleh kegelapan yang pekat dan orang percaya dituntut untuk bisa menjadi pelita yang terus menyala di tengah kegelapan, sebab "Kamu adalah terang dunia...Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." (Matius 5:14, 16). Namun sering terjadi sebaliknya, ada banyak orang percaya yang hidupnya tidak menjadi terang, melainkan menjadi batu sandungan, karena mereka terbawa oleh arus dunia ini dan hidup dalam kegelapan. Padahal Tuhan telah memanggil orang percaya dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib (1 Petrus 2:9). Karena itu Rasul Paulus menasihati, "...saudara-saudara, kamu tidak hidup di dalam kegelapan, sehingga hari itu tiba-tiba mendatangi kamu seperti pencuri, karena kamu semua adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan." (1 Tesalonika 5:4-5).
3. Dengar-dengaran akan suara Tuhan. Dikatakan: "...supaya jika ia datang dan mengetok pintu, segera dibuka pintu baginya." (Lukas 12:36). Untuk bisa mendengar suara Tuhan orang harus bergaul karib dengan Tuhan. Pemazmur berkata, "TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka." (Mazmur 25:14). Jadi orang yang senantiasa dekat dengan Tuhan pasti akan mengenal suara-Nya, seperti domba yang mengenal suara gembalanya, seperti murid yang senantiasa dengar-dengaran akan suara gurunya; jadi ketika pintu itu diketok ia akan segera membukanya, sebab ia tahu bahwa yang datang adalah Tuhan.
Di zaman sekarang ini banyak orang lebih suka menyendengkan telinganya untuk mendengar suara-suara dari dunia ini daripada mendengar suara Tuhan. Akhirnya mereka pun hanyut dan tenggelam dalam keduniawian. Ini berbahaya sekali!
"Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat." Lukas 21:34
Friday, December 22, 2017
HAMBA YANG SELALU SIAP SEDIA (1)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 22 Desember 2017
Baca: Lukas 12:35-40
"Dan hendaklah kamu sama seperti orang-orang yang menanti-nantikan tuannya yang pulang dari perkawinan, supaya jika ia datang dan mengetok pintu, segera dibuka pintu baginya." Lukas 12:36
Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa hidup Kristen adalah hidup yang terbebas dari masalah, kesulitan, tantangan, kesesakan atau pencobaan. Justru Tuhan ijinkan kita menghadapi semuanya itu, supaya kita makin bertumbuh dewasa secara rohani dan menjadi orang percaya yang tidak bergantung pada dunia ini atau berharap pada hal-hal daging, tetapi semakin menyadarkan kita untuk semakin hidup bergantung sepenuhnya kepada Tuhan, semakin berpegang pada janji firman-Nya, semakin bertekun menanti-nantikan kedatangan Tuhan, di mana kita akan ada bersama-sama dengan Dia untuk hidup selama-lamanya.
Yang seringkali menjadi persoalan dan pertanyaan adalah kapan Tuhan datang untuk menjemput kita dan membawa kita ke tempat di mana Ia berada? Alkitab menyatakan tidak ada seorang pun yang tahu waktunya, karena hari kedatangan Kristus akan datang seperti pencuri. Tugas kita adalah berjaga-jaga dan berdoa, serta dalam keadaan yang selalu siap sedia, supaya ketika Tuhan datang, hari itu menjadi hari yang penuh kemenangan dan sukacita bagi kita, bukan menjadi jerat. Bagaimana menjadi orang percaya yang siap sedia? 1. Tetap bekerja bagi Tuhan. "Hendaklah pinggangmu tetap berikat..." (Lukas 12:35). Pinggang berikat menunjukkan bahwa orang sedang bekerja. Jika kita tidak mau bekerja jangan berharap kita akan mendapatkan upah, sebab Tuhan tidak memberikan upah kepada orang-orang yang malas. Upah diberikan kepada mereka yang sungguh-sungguh mau bekerja keras. Mengapa kita harus bekerja? Kristus berkata, "Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga." (Yohanes 5:17). Masakan kita tidak mau bekerja dan hanya berpangku tangan?
Dunia ini bukanlah tempat untuk kita beristirahat atau bersantai, tetapi dunia adalah tempat untuk bekerja, berkarya dan mengumpulkan harta sorgawi. "Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya." (Yohanes 6:27).
Baca: Lukas 12:35-40
"Dan hendaklah kamu sama seperti orang-orang yang menanti-nantikan tuannya yang pulang dari perkawinan, supaya jika ia datang dan mengetok pintu, segera dibuka pintu baginya." Lukas 12:36
Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa hidup Kristen adalah hidup yang terbebas dari masalah, kesulitan, tantangan, kesesakan atau pencobaan. Justru Tuhan ijinkan kita menghadapi semuanya itu, supaya kita makin bertumbuh dewasa secara rohani dan menjadi orang percaya yang tidak bergantung pada dunia ini atau berharap pada hal-hal daging, tetapi semakin menyadarkan kita untuk semakin hidup bergantung sepenuhnya kepada Tuhan, semakin berpegang pada janji firman-Nya, semakin bertekun menanti-nantikan kedatangan Tuhan, di mana kita akan ada bersama-sama dengan Dia untuk hidup selama-lamanya.
Yang seringkali menjadi persoalan dan pertanyaan adalah kapan Tuhan datang untuk menjemput kita dan membawa kita ke tempat di mana Ia berada? Alkitab menyatakan tidak ada seorang pun yang tahu waktunya, karena hari kedatangan Kristus akan datang seperti pencuri. Tugas kita adalah berjaga-jaga dan berdoa, serta dalam keadaan yang selalu siap sedia, supaya ketika Tuhan datang, hari itu menjadi hari yang penuh kemenangan dan sukacita bagi kita, bukan menjadi jerat. Bagaimana menjadi orang percaya yang siap sedia? 1. Tetap bekerja bagi Tuhan. "Hendaklah pinggangmu tetap berikat..." (Lukas 12:35). Pinggang berikat menunjukkan bahwa orang sedang bekerja. Jika kita tidak mau bekerja jangan berharap kita akan mendapatkan upah, sebab Tuhan tidak memberikan upah kepada orang-orang yang malas. Upah diberikan kepada mereka yang sungguh-sungguh mau bekerja keras. Mengapa kita harus bekerja? Kristus berkata, "Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga." (Yohanes 5:17). Masakan kita tidak mau bekerja dan hanya berpangku tangan?
Dunia ini bukanlah tempat untuk kita beristirahat atau bersantai, tetapi dunia adalah tempat untuk bekerja, berkarya dan mengumpulkan harta sorgawi. "Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya." (Yohanes 6:27).
Thursday, December 21, 2017
KRISTUS SEBAGAI IMAM BESAR AGUNG
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 21 Desember 2017
Baca: Ibrani 9:11-28
"demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia." Ibrani 9:28
Keimamatan Kristus tidak dapat disamakan dengan pribadi dan peran para imam lain yang hidup di zaman Perjanjian Lama. Menggapa? Para imam di Perjanjian Lama mempersembahkan hewan sebagai korban penghapusan dosa dan itu hanya menutup dosa untuk sementara waktu, tetapi pengorbanan Kristus itu sekali dan berlaku untuk selama-lamanya. Ini berarti karya keselamatan yang dikerjakan Kristus dengan mempersembahkan diri-Nya sebagai korban dapat menyelamatkan semua orang berdosa yang mau percaya kepada-Nya, dari zaman ke zaman.
Alkitab secara tegas menyatakan bahwa keimaman Kristus itu tidak akan pernah dapat beralih atau tergantikan oleh siapa pun: "...Engkau adalah Imam untuk selama-lamanya" (Ibrani 7:21), dan Dia adalah jalan dan kebenaran dan hidup, tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada Bapa kalau tidak melalui-Nya (Yohanes 14:6). Karena itu "Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka." (Ibrani 7:25). Melalui karya pengorbanan Kristus yang sekali untuk selamanya ini setiap kita yang percaya kepada-Nya beroleh keberanian untuk menghampiri takhta kasih karunia Bapa, mendapatkan pengampunan dosa dan keselamatan yang pasti dan bersifat kekal. Dialah Imam Besar Agung yang sanggup menyelamatkan, dan tidak ada lagi yang dapat manusia lakukan untuk menambahi atau mengurangi kesempurnaan korban Kristus.
Tertulis: "...jika darah domba jantan dan darah lembu jantan dan percikan abu lembu muda menguduskan mereka yang najis, sehingga mereka disucikan secara lahiriah, betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia," (Ibrani 9:13-14).
Kristus dengan membawa korban yang sempurna dan tak bercacat yaitu tubuh-Nya dan darah-Nya, menghasilkan pengampunan dosa dan keselamatan kekal.
Baca: Ibrani 9:11-28
"demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia." Ibrani 9:28
Keimamatan Kristus tidak dapat disamakan dengan pribadi dan peran para imam lain yang hidup di zaman Perjanjian Lama. Menggapa? Para imam di Perjanjian Lama mempersembahkan hewan sebagai korban penghapusan dosa dan itu hanya menutup dosa untuk sementara waktu, tetapi pengorbanan Kristus itu sekali dan berlaku untuk selama-lamanya. Ini berarti karya keselamatan yang dikerjakan Kristus dengan mempersembahkan diri-Nya sebagai korban dapat menyelamatkan semua orang berdosa yang mau percaya kepada-Nya, dari zaman ke zaman.
Alkitab secara tegas menyatakan bahwa keimaman Kristus itu tidak akan pernah dapat beralih atau tergantikan oleh siapa pun: "...Engkau adalah Imam untuk selama-lamanya" (Ibrani 7:21), dan Dia adalah jalan dan kebenaran dan hidup, tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada Bapa kalau tidak melalui-Nya (Yohanes 14:6). Karena itu "Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka." (Ibrani 7:25). Melalui karya pengorbanan Kristus yang sekali untuk selamanya ini setiap kita yang percaya kepada-Nya beroleh keberanian untuk menghampiri takhta kasih karunia Bapa, mendapatkan pengampunan dosa dan keselamatan yang pasti dan bersifat kekal. Dialah Imam Besar Agung yang sanggup menyelamatkan, dan tidak ada lagi yang dapat manusia lakukan untuk menambahi atau mengurangi kesempurnaan korban Kristus.
Tertulis: "...jika darah domba jantan dan darah lembu jantan dan percikan abu lembu muda menguduskan mereka yang najis, sehingga mereka disucikan secara lahiriah, betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia," (Ibrani 9:13-14).
Kristus dengan membawa korban yang sempurna dan tak bercacat yaitu tubuh-Nya dan darah-Nya, menghasilkan pengampunan dosa dan keselamatan kekal.
Wednesday, December 20, 2017
KORBAN SEKALI UNTUK SELAMANYA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 20 Desember 2017
Baca: Ibrani 10:1-18
"Tetapi Ia, setelah mempersembahkan hanya satu korban saja karena dosa, Ia duduk untuk selama-lamanya di sebelah kanan Allah," Ibrani 10:12
Pada masa Perjanjian Lama Bait Suci merupakan suatu bangunan yang memang dikhususkan untuk melakukan penyembahan kepada Tuhan. Yang bertugas melayani di bait Suci adalah imam. Uniknya, di dalam Bait Suci tersebut tidak terdapat perabot yang bernama kursi. Itu artinya para imam serasa tidak berkesempatan untuk duduk atau beristirahat dalam melakukan tugas pelayanannya.
Sebagai umat pilihan, umat Israel dituntut untuk melakukan pelbagai kegiatan ibadah menurut hukum Taurat. Salah satunya adalah menghadap Tuhan dengan membawa korban persembahan pada hari pendamaian (Imamat 16:1-34), yang bertujuan untuk pengampunan dosa. Namun mereka tidak bisa secara langsung mempersembahkan korban penghapusan dosa kepada Tuhan, tetapi harus melalui perantara yaitu imam. Pada hari itu imam besar dapat memasuki ruang mahakudus di kemah pertemuan dan memercikkan darah korban penghapus dosa ke atas tutup perdamaian. Dengan melakukan hal ini ia mengadakan pendamaian bagi kesalahan pribadi, keluarga dan seluruh Israel (Imamat 16:1-25). Imam besar itu juga harus memercikkan darah korban penghapus dosa di depan tabir tempat kudus dan pada tanduk-tanduk mezbah (baca Imamat 4:3-21). Mereka harus secara bergantian melaksanakan tugas pelayanan ini. "...setiap imam melakukan tiap-tiap hari pelayanannya dan berulang-ulang mempersembahkan korban yang sama, yang (sayangnya - Red) sama sekali tidak dapat menghapuskan dosa."! (Ibrani 10:11).
Berbeda dengan Imam Besar yang dikisahkan di Perjanjian Baru! Penulis kitab Ibrani tidak menyebutkan lagi bahwa Imam Besar tampak berdiri sibuk melayani. Tetapi Imam Besar Perjanjian Baru "...setelah mempersembahkan hanya satu korban saja karena dosa, Ia duduk untuk selama-lamanya..." (ayat nas). Duduk melambangkan kondisi beristirahat karena pekerjaan itu sudah diselesaikan-Nya! Kristus telah menjadi Imam Besar yang sempurna, Dia tidak perlu setiap tahun mempersembahkan korban penghapusan dosa, sebab Dia telah melakukannya sekali untuk selamanya!
"Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus." Ibrani 10:10
Baca: Ibrani 10:1-18
"Tetapi Ia, setelah mempersembahkan hanya satu korban saja karena dosa, Ia duduk untuk selama-lamanya di sebelah kanan Allah," Ibrani 10:12
Pada masa Perjanjian Lama Bait Suci merupakan suatu bangunan yang memang dikhususkan untuk melakukan penyembahan kepada Tuhan. Yang bertugas melayani di bait Suci adalah imam. Uniknya, di dalam Bait Suci tersebut tidak terdapat perabot yang bernama kursi. Itu artinya para imam serasa tidak berkesempatan untuk duduk atau beristirahat dalam melakukan tugas pelayanannya.
Sebagai umat pilihan, umat Israel dituntut untuk melakukan pelbagai kegiatan ibadah menurut hukum Taurat. Salah satunya adalah menghadap Tuhan dengan membawa korban persembahan pada hari pendamaian (Imamat 16:1-34), yang bertujuan untuk pengampunan dosa. Namun mereka tidak bisa secara langsung mempersembahkan korban penghapusan dosa kepada Tuhan, tetapi harus melalui perantara yaitu imam. Pada hari itu imam besar dapat memasuki ruang mahakudus di kemah pertemuan dan memercikkan darah korban penghapus dosa ke atas tutup perdamaian. Dengan melakukan hal ini ia mengadakan pendamaian bagi kesalahan pribadi, keluarga dan seluruh Israel (Imamat 16:1-25). Imam besar itu juga harus memercikkan darah korban penghapus dosa di depan tabir tempat kudus dan pada tanduk-tanduk mezbah (baca Imamat 4:3-21). Mereka harus secara bergantian melaksanakan tugas pelayanan ini. "...setiap imam melakukan tiap-tiap hari pelayanannya dan berulang-ulang mempersembahkan korban yang sama, yang (sayangnya - Red) sama sekali tidak dapat menghapuskan dosa."! (Ibrani 10:11).
Berbeda dengan Imam Besar yang dikisahkan di Perjanjian Baru! Penulis kitab Ibrani tidak menyebutkan lagi bahwa Imam Besar tampak berdiri sibuk melayani. Tetapi Imam Besar Perjanjian Baru "...setelah mempersembahkan hanya satu korban saja karena dosa, Ia duduk untuk selama-lamanya..." (ayat nas). Duduk melambangkan kondisi beristirahat karena pekerjaan itu sudah diselesaikan-Nya! Kristus telah menjadi Imam Besar yang sempurna, Dia tidak perlu setiap tahun mempersembahkan korban penghapusan dosa, sebab Dia telah melakukannya sekali untuk selamanya!
"Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus." Ibrani 10:10
Tuesday, December 19, 2017
BERGEMBIRA DI TENGAH PENDERITAAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 19 Desember 2017
Baca: Kisah Para Rasul 5:26-42
"Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus." Kisah 5:41
Hari-hari kita di dunia ini penuh warna. "...ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari;" (Pengkhotbah 3:4).
Umumnya ketika dihadapkan pada masalah, penderitaan atau beratnya beban hidup yang harus ditanggung, orang akan menangis, meratap dan murung. Sebaliknya orang akan bersukacita, tertawa, bergembira, bahagia dan menari-nari ketika keadaan atau situasi yang dialami sedang menyenangkan. Kita beranggapan bahwa kebahagiaan hidup sangat ditentukan oleh situasi atau apa yang dimiliki (uang atau kekayaan). Itulah yang seringkali menjadi dasar dan sumber kebahagiaan semua orang. Dengan kata lain jika kita menikmati segala kemudahan dan kesenangan duniawi, saat itulah kita berbahagia dan bergembira. Kalau yang sedang kita hadapi adalah kesulitan, tantangan atau masalah, kita pun merasa punya alasan yang kuat untuk tidak bahagia dan gembira. Kesalahan dalam memaknai arti kebahagiaan inilah yang seringkali membuat banyak orang tidak merasakan kebahagiaan yang sejati. Kita lebih sering tidak merasakan kebahagiaan karena kita salah memaknai arti kebahagiaan itu. Padahal jelas sekali keinginan manusia itu sungguh tiada batasnya, seperti tertulis: "Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya." (Pengkhotbah 5:9).
Murid-murid Kristus jemaat mula-mula harus menghadapi masalah dan penderitaan karena imannya kepada Kristus dan kegigihannya dalam memberitakan Injil. Adakalanya mereka harus menjalani sidang di Mahkamah Agama demi mempertanggungjawabkan iman mereka. Namun meski berada dalam tekanan, himpitan, ancaman dan tantangan yang teramat berat, di mana nyawa menjadi taruhannya, mereka tidak menunjukkan mimik wajah yang sedih, stres atau takut, tapi mereka tetap bergembira. Mereka bergembira bukan karena sudah disuap dengan sejumlah uang untuk tutup mulut, melainkan karena mereka telah menderita bagi Kristus dan kemajuan Injil.
"Tetapi sekalipun kamu harus menderita juga karena kebenaran, kamu akan berbahagia." 1 Petrus 3:14
Baca: Kisah Para Rasul 5:26-42
"Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus." Kisah 5:41
Hari-hari kita di dunia ini penuh warna. "...ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari;" (Pengkhotbah 3:4).
Umumnya ketika dihadapkan pada masalah, penderitaan atau beratnya beban hidup yang harus ditanggung, orang akan menangis, meratap dan murung. Sebaliknya orang akan bersukacita, tertawa, bergembira, bahagia dan menari-nari ketika keadaan atau situasi yang dialami sedang menyenangkan. Kita beranggapan bahwa kebahagiaan hidup sangat ditentukan oleh situasi atau apa yang dimiliki (uang atau kekayaan). Itulah yang seringkali menjadi dasar dan sumber kebahagiaan semua orang. Dengan kata lain jika kita menikmati segala kemudahan dan kesenangan duniawi, saat itulah kita berbahagia dan bergembira. Kalau yang sedang kita hadapi adalah kesulitan, tantangan atau masalah, kita pun merasa punya alasan yang kuat untuk tidak bahagia dan gembira. Kesalahan dalam memaknai arti kebahagiaan inilah yang seringkali membuat banyak orang tidak merasakan kebahagiaan yang sejati. Kita lebih sering tidak merasakan kebahagiaan karena kita salah memaknai arti kebahagiaan itu. Padahal jelas sekali keinginan manusia itu sungguh tiada batasnya, seperti tertulis: "Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya." (Pengkhotbah 5:9).
Murid-murid Kristus jemaat mula-mula harus menghadapi masalah dan penderitaan karena imannya kepada Kristus dan kegigihannya dalam memberitakan Injil. Adakalanya mereka harus menjalani sidang di Mahkamah Agama demi mempertanggungjawabkan iman mereka. Namun meski berada dalam tekanan, himpitan, ancaman dan tantangan yang teramat berat, di mana nyawa menjadi taruhannya, mereka tidak menunjukkan mimik wajah yang sedih, stres atau takut, tapi mereka tetap bergembira. Mereka bergembira bukan karena sudah disuap dengan sejumlah uang untuk tutup mulut, melainkan karena mereka telah menderita bagi Kristus dan kemajuan Injil.
"Tetapi sekalipun kamu harus menderita juga karena kebenaran, kamu akan berbahagia." 1 Petrus 3:14
Monday, December 18, 2017
MENILAI TANDA ZAMAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 18 Desember 2017
Baca: Lukas 12:54-59
"...rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini?" Lukas 12:56
Seorang ilmuwan adalah orang yang ahli atau memiliki banyak pengetahuan mengenai suatu ilmu. Karena keahliannya ini para ilmuwan mampu melihat berbagai tanda di bumi, semisal memprediksi iklim (cuaca) dan dampaknya, keadaan ekonomi suatu negara dalam kurun waktu 5 tahun ke depan, dan sebagainya. Jika kita dapat memahami tentang apa pun yang berkenaan dengan situasi atau peristiwa yang ada di dunia, Tuhan pun menghendaki setiap orang percaya memiliki kepekaan rohani, yaitu peka terhadap tanda-tanda zaman. Ini berkaitan dengan kedatangan Kristus! Jika kita perhatikan apa yang sedang terjadi, sudah tampak jelas sekali bahwa kedatangan Kristus sudah semakin dekat, bahkan sedikit waktu lagi Dia segera datang menjemput umat-Nya.
Alkitab menyatakan bahwa kedatangan Kristus ditandai dengan banyaknya nabi-nabi palsu yang bermunculan dengan ajaran-ajaran mereka yang menyesatkan, semakin bertambahnya kejahatan manusia dan semakin merosotnya moral manusia. Rasul Paulus menambahkan, "...pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah." (2 Timotius 3:1-4). Bukankah semua itu sudah dan sedang terjadi diantara umat manusia?
Di masa-masa akhir ini Tuhan mengajarkan kita untuk menjadi seperti 5 gadis bijaksana yang selalu siap sedia dengan minyak, bukan seperti 5 gadis bodoh (baca Matius 25:1-13). Minyak berbicara tentang pengurapan Roh Kudus atau hidup dalam persekutuan dengan Roh Kudus. Biarlah kita semakin giat di dalam Tuhan dan berjuang untuk tetap hidup dalam kebenaran. "Jadi, jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup..." (2 Petrus 3:11).
Persiapkan diri sebaik mungkin menyambut kedatangan Kristus yang tak lama lagi!
Baca: Lukas 12:54-59
"...rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini?" Lukas 12:56
Seorang ilmuwan adalah orang yang ahli atau memiliki banyak pengetahuan mengenai suatu ilmu. Karena keahliannya ini para ilmuwan mampu melihat berbagai tanda di bumi, semisal memprediksi iklim (cuaca) dan dampaknya, keadaan ekonomi suatu negara dalam kurun waktu 5 tahun ke depan, dan sebagainya. Jika kita dapat memahami tentang apa pun yang berkenaan dengan situasi atau peristiwa yang ada di dunia, Tuhan pun menghendaki setiap orang percaya memiliki kepekaan rohani, yaitu peka terhadap tanda-tanda zaman. Ini berkaitan dengan kedatangan Kristus! Jika kita perhatikan apa yang sedang terjadi, sudah tampak jelas sekali bahwa kedatangan Kristus sudah semakin dekat, bahkan sedikit waktu lagi Dia segera datang menjemput umat-Nya.
Alkitab menyatakan bahwa kedatangan Kristus ditandai dengan banyaknya nabi-nabi palsu yang bermunculan dengan ajaran-ajaran mereka yang menyesatkan, semakin bertambahnya kejahatan manusia dan semakin merosotnya moral manusia. Rasul Paulus menambahkan, "...pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah." (2 Timotius 3:1-4). Bukankah semua itu sudah dan sedang terjadi diantara umat manusia?
Di masa-masa akhir ini Tuhan mengajarkan kita untuk menjadi seperti 5 gadis bijaksana yang selalu siap sedia dengan minyak, bukan seperti 5 gadis bodoh (baca Matius 25:1-13). Minyak berbicara tentang pengurapan Roh Kudus atau hidup dalam persekutuan dengan Roh Kudus. Biarlah kita semakin giat di dalam Tuhan dan berjuang untuk tetap hidup dalam kebenaran. "Jadi, jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup..." (2 Petrus 3:11).
Persiapkan diri sebaik mungkin menyambut kedatangan Kristus yang tak lama lagi!
Sunday, December 17, 2017
MENDENGARKAN TAPI TAK MELAKUKAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 Desember 2017
Baca: Yehezkiel 33:23-33
"Sungguh, engkau bagi mereka seperti seorang yang melagukan syair cinta kasih dengan suara yang merdu, dan yang pandai main kecapi; mereka mendengar apa yang kauucapkan, tetapi mereka sama sekali tidak melakukannya." Yehezkiel 33:32
Bagian firman Tuhan ini berbicara tentang peringatan Tuhan kepada bangsa Israel. Tuhan menghendaki agar umat-Nya sungguh-sungguh mendengar segala perkataan Tuhan yang disampaikan oleh nabi-Nya, Yehezkiel. Arti nama Yehezkiel adalah Tuhan menguatkan. Yehezkiel adalah penduduk Yehuda yang dibawa ke pembuangan oleh Nebukadnezar, raja Babel, ketika Yoyakhin (raja Yehuda) ditaklukkan.
Alkitab menyatakan Yehezkiel ini diumpamakan sebagai penjaga bagi umat Israel. Ada pun tugas seorang penjaga adalah berdiri di atas tembok kota untuk melihat apa yang sedang terjadi di sekeliling kota tersebut. Jika ada bahaya datang segeralah ia meniup sangkakala sebagai tanda, sehingga semua penduduk kota memahami bahwa ada bahaya yang mengancam. Tuhan menghendaki agar umat Israel mau mendengarkan firman yang disampaikan oleh Yehezkiel, sebab semua itu berasal dari Tuhan, bukan dari pikiran dan inisiatif dari Yehezkiel sendiri. Namun walaupun sudah berkali-kali mendengar firman yang disampaikan oleh utusan Tuhan ini mereka tetap saja mengeraskan hati dan tidak mau melakukan firman Tuhan. Artinya mereka hanya sebatas mendengar dengan telinga jasmani, tapi hatinya masih tetap tertutup rapat dan tidak melakukan.
Banyak orang Kristen sudah tak terhitung seringnya mendengarkan firman Tuhan yang disampaikan oleh para hamba Tuhan, penginjil, atau pelayan Tuhan, tapi mereka hanya mendengar sambil lalu, bahkan tidak sedikit yang menganggap remeh atau menyepelekan keberadaan hamba-hamba Tuhan, padahal para pemberita Injil adalah orang-orang yang diutus Tuhan untuk menyampaikan kebenaran firman-Nya dan menyatakan kehendak-Nya. Mereka adalah orang-orang yang ditugaskan oleh Tuhan untuk menjadi penjaga bagi jiwa-jiwa. Firman Tuhan mengatakan: "Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya." (Ibrani 13:17a).
"Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri." Yakobus 1:22
Baca: Yehezkiel 33:23-33
"Sungguh, engkau bagi mereka seperti seorang yang melagukan syair cinta kasih dengan suara yang merdu, dan yang pandai main kecapi; mereka mendengar apa yang kauucapkan, tetapi mereka sama sekali tidak melakukannya." Yehezkiel 33:32
Bagian firman Tuhan ini berbicara tentang peringatan Tuhan kepada bangsa Israel. Tuhan menghendaki agar umat-Nya sungguh-sungguh mendengar segala perkataan Tuhan yang disampaikan oleh nabi-Nya, Yehezkiel. Arti nama Yehezkiel adalah Tuhan menguatkan. Yehezkiel adalah penduduk Yehuda yang dibawa ke pembuangan oleh Nebukadnezar, raja Babel, ketika Yoyakhin (raja Yehuda) ditaklukkan.
Alkitab menyatakan Yehezkiel ini diumpamakan sebagai penjaga bagi umat Israel. Ada pun tugas seorang penjaga adalah berdiri di atas tembok kota untuk melihat apa yang sedang terjadi di sekeliling kota tersebut. Jika ada bahaya datang segeralah ia meniup sangkakala sebagai tanda, sehingga semua penduduk kota memahami bahwa ada bahaya yang mengancam. Tuhan menghendaki agar umat Israel mau mendengarkan firman yang disampaikan oleh Yehezkiel, sebab semua itu berasal dari Tuhan, bukan dari pikiran dan inisiatif dari Yehezkiel sendiri. Namun walaupun sudah berkali-kali mendengar firman yang disampaikan oleh utusan Tuhan ini mereka tetap saja mengeraskan hati dan tidak mau melakukan firman Tuhan. Artinya mereka hanya sebatas mendengar dengan telinga jasmani, tapi hatinya masih tetap tertutup rapat dan tidak melakukan.
Banyak orang Kristen sudah tak terhitung seringnya mendengarkan firman Tuhan yang disampaikan oleh para hamba Tuhan, penginjil, atau pelayan Tuhan, tapi mereka hanya mendengar sambil lalu, bahkan tidak sedikit yang menganggap remeh atau menyepelekan keberadaan hamba-hamba Tuhan, padahal para pemberita Injil adalah orang-orang yang diutus Tuhan untuk menyampaikan kebenaran firman-Nya dan menyatakan kehendak-Nya. Mereka adalah orang-orang yang ditugaskan oleh Tuhan untuk menjadi penjaga bagi jiwa-jiwa. Firman Tuhan mengatakan: "Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya." (Ibrani 13:17a).
"Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri." Yakobus 1:22
Saturday, December 16, 2017
BERTOBAT ATAU TIDAK: Sebuah keputusan
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 Desember 2017
Baca: Lukas 10:13-16
"Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku." Lukas 10:16
Pertobatan adalah sebuah keharusan bagi semua orang, bukan hanya bagi mereka yang berlaku jahat, tapi termasuk juga bagi orang percaya (pengikut Kristus). Mengapa? Karena manusia dilahirkan dalam dosa dengan memiliki kecenderungan hati yang ingin selalu berbuat jahat. Inilah yang disebut 'dosa warisan', keberadaan berdosa semua orang yang dibawa sejak lahir; atau yang lain lebih senang memakai istilah 'dosa asal', seperti tertulis: "Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa." (Roma 5:12).
Ketika kita menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat berarti kita telah bertobat. Arti bertobat bukan hanya berhenti dari segala perbuatan jahat, tetapi mengalihkan arah jalan hidup: dari jalan yang tadinya mengarah kepada dosa berbalik kepada jalan yang benar di dalam Kristus. Karena itu pertobatan dimulai dengan hati yang terbuka menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, lalu menjadikan Dia sebagai Raja yang berhak memerintah atas hidup ini. Mau bertobat atau tidak mau bertobat adalah sebuah keputusan atau pilihan hidup yang harus diambil oleh setiap orang. Masih banyak orang menyebut diri sebagai pengikut Kristus lebih suka mengambil keputusan tidak mau bertobat, pikirnya pertobatan hanya akan mengekang ruang geraknya, tidak bisa hidup sesuka hati, tidak bisa memuaskan keinginan dagingnya. "Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya." (Galatia 5:24).
Awal pertobatan pasti terasa berat dan sakit karena pada proses ini semua kedagingan mulai dikikis. Percayalah dengan pertolongan dan tuntunan Roh Kudus kita akan mampu melewati proses tersebut dengan kemenangan. Selagi ada kesempatan jangan tunda-tunda waktu untuk bertobat! Tuhan Yesus sangat mengecam keras orang-orang yang tidak mau bertobat, dengan berkata: "celakalah!"
Hidup tanpa pertobatan hanya akan menuntun seseorang kepada kehancuran!
Baca: Lukas 10:13-16
"Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku." Lukas 10:16
Pertobatan adalah sebuah keharusan bagi semua orang, bukan hanya bagi mereka yang berlaku jahat, tapi termasuk juga bagi orang percaya (pengikut Kristus). Mengapa? Karena manusia dilahirkan dalam dosa dengan memiliki kecenderungan hati yang ingin selalu berbuat jahat. Inilah yang disebut 'dosa warisan', keberadaan berdosa semua orang yang dibawa sejak lahir; atau yang lain lebih senang memakai istilah 'dosa asal', seperti tertulis: "Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa." (Roma 5:12).
Ketika kita menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat berarti kita telah bertobat. Arti bertobat bukan hanya berhenti dari segala perbuatan jahat, tetapi mengalihkan arah jalan hidup: dari jalan yang tadinya mengarah kepada dosa berbalik kepada jalan yang benar di dalam Kristus. Karena itu pertobatan dimulai dengan hati yang terbuka menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, lalu menjadikan Dia sebagai Raja yang berhak memerintah atas hidup ini. Mau bertobat atau tidak mau bertobat adalah sebuah keputusan atau pilihan hidup yang harus diambil oleh setiap orang. Masih banyak orang menyebut diri sebagai pengikut Kristus lebih suka mengambil keputusan tidak mau bertobat, pikirnya pertobatan hanya akan mengekang ruang geraknya, tidak bisa hidup sesuka hati, tidak bisa memuaskan keinginan dagingnya. "Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya." (Galatia 5:24).
Awal pertobatan pasti terasa berat dan sakit karena pada proses ini semua kedagingan mulai dikikis. Percayalah dengan pertolongan dan tuntunan Roh Kudus kita akan mampu melewati proses tersebut dengan kemenangan. Selagi ada kesempatan jangan tunda-tunda waktu untuk bertobat! Tuhan Yesus sangat mengecam keras orang-orang yang tidak mau bertobat, dengan berkata: "celakalah!"
Hidup tanpa pertobatan hanya akan menuntun seseorang kepada kehancuran!
Subscribe to:
Comments (Atom)