Sunday, December 3, 2017

ADA HIDANGAN DI HADAPAN LAWAN (3)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 3 Desember 2017

Baca:  Keluaran 23:20-33

"Tetapi jika engkau sungguh-sungguh mendengarkan perkataannya, dan melakukan segala yang Kufirmankan, maka Aku akan memusuhi musuhmu, dan melawan lawanmu."  Keluaran 23:22

Setiap kali menghadapi masalah seberat apa pun dalam hidup ini, ingatlah bahwa tugas kita hanyalah hidup dalam kebenaran, dan Tuhan yang akan menyertai kita,  "TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja."  (Keluaran 14:14).  Kita tak perlu membalas jahat dengan jahat, apalagi sampai kita mengutuki atau menyumpahi lawan, karena mereka sendirilah yang akan tergelincir dan jatuh.

     Saul sangat menginginkan kematian Daud karena itu segala cara ditempuhnya untuk menghabisi nyawa Daud, entah berusaha membunuh dengan tangannya sendiri, ataupun dengan menempatkan dia di barisan depan tentaranya agar tewas di tangan musuh, tapi usahanya tak pernah berhasil.  Sebaliknya lebih dari satu kali Daud berkesempatan untuk membunuh Saul, tapi hal itu tidak dilakukannya, bahkan ia mampu berkata,  "Dijauhkan Tuhanlah kiranya dari padaku untuk melakukan hal yang demikian kepada tuanku, kepada orang yang diurapi TUHAN, yakni menjamah dia, sebab dialah orang yang diurapi TUHAN."  (1 Samuel 24:7).  Ujung-ujungnya Saul sendiri yang tergelincir dan jatuh.  Pada akhirnya Tuhan mengangkat Daud menjadi raja.  Daud pun berkata,  "TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar? Ketika penjahat-penjahat menyerang aku untuk memakan dagingku, yakni semua lawanku dan musuhku, mereka sendirilah yang tergelincir dan jatuh."  (Mazmur 27:1-2).

     Tuhan Yesus sudah memperingatkan,  "Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu."  (Yohanes 15:18).  Sadarilah bahwa selama kaki kita ini masih menginjak bumi, kita takkan bisa lari dari masalah, kesukaran atau penderitaan, karena itulah kebanggaan hidup manusia  (Mazmur 90:10).  Dimusuhi, dijahati, dicurangi, diperlakukan tidak adil dan sebagainya itu adalah hal yang wajar.  Kita tak perlu takut menghadapinya karena Tuhan selalu ada untuk kita.

Dalam segala sesuatu Tuhan turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia  (Roma 8:28).  Percayalah akan hal itu!

Saturday, December 2, 2017

ADA HIDANGAN DI HADAPAN LAWAN (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 2 Desember 2017

Baca:  Mazmur 23:1-6

"Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa."  Mazmur 23:6

Banyak orang merasa pesimis, kuatir dan takut menghadapi hari esok karena melihat keadaan dunia yang semakin tidak baik, krisis di segala bidang kehidupan terjadi di mana-mana.  Tapi orang percaya tak perlu takut menghadapinya.  Asalkan kita hidup benar, hidup seturut dengan kehendak Tuhan, akan ada jaminan perlindungan dan pemeliharaan dari Tuhan, berkat yang akan mengikuti kita.

     Ketika terjadi kelaparan yang hebat Ishak harus mengungsi ke Gerar, negeri orang Filistin.  Hidup sebagai orang asing di sana, menderitakah Ishak?  Ketika semua orang mengalami krisis Ishak justru mengalami berkat yang berkelimpahan.  Tertulis:  "Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati TUHAN. Dan orang itu menjadi kaya, bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya."  (Kejadian 26:12-13).  Begitu pula Daniel, meski mengalami pembuangan di Babel, hidup susahkah dia?  Ujian dan tantangan boleh saja datang, tapi kebajikan dan kemurahan Tuhan senantiasa mengikuti hidup Daniel.  Terbukti ia selalu menjadi orang kepercayaan raja.  Apa kuncinya?  Daniel berketetapan hati untuk hidup benar di hadapan Tuhan meski berada di tengah-tengah bangsa yang menyembah berhala.  Karena itu kita tak perlu berkecil hati, tak perlu  'menjilat'  siapa pun, tidak perlu  'mencari muka'  kepada atasan;  di mana pun kita ditempatkan asalkan kita hidup benar berkat Tuhan takkan lari ke mana.

     Mungkin saat ini kita sedang berada dalam tekanan, penderitaan dan kesesakan hebat, yang bisa diibaratkan seperti musuh yang berusaha untuk menjatuhkan dan menghancurkan hidup kita.  Tetaplah maju dan jangan pernah goyah, lakukan saja apa yang menjadi bagian kita yaitu hdiup seturut dengan firman Tuhan, maka Tuhan sendiri yang akan membereskan, seperti ada tertulis:  "Tangan kanan-Mu, TUHAN, mulia karena kekuasaan-Mu, tangan kanan-Mu, TUHAN, menghancurkan musuh."  (Keluaran 15:6).  Artinya bahwa menghancurkan musuh bukanlah tugas kita, tapi bagian Tuhan yang akan berperkara dengan mereka.  Karena itu kita tak perlu merancang niat untuk membalas!

Hidup dalam kebenaran adalah kunci untuk mengalami pembelaan dari Tuhan!

Friday, December 1, 2017

ADA HIDANGAN DI HADAPAN LAWAN (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 1 Desember 2017

Baca:  Mazmur 23:1-6

"Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah."  Mazmur 23:5

Kehidupan Kristiani itu tidaklah selamanya seperti berada di padang rumput yang hijau dan di air yang sangat tenang.  Meski demikian, sebagai orang percaya kita harus tetap percaya bahwa Tuhan yang kita sembah adalah Gembala yang baik.  Kristus mengatakan,  "Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya;"  (Yohanes 10:11).  Hal itu telah dibuktikan melalui pengorbanan-Nya di atas kayu salib, rela mengorbankan nyawa-Nya untuk menebus dosa dan menyelamatkan kita, sehingga dengan penuh keyakinan Daud berkata,  "TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku."  (Mazmur 23:1).

     Sesulit apa pun keadaannya dan seberat apa pun tantangan yang kita hadapi, kita tak perlu takut,  "...sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku."  (Mazmur 23:4).  Gada  (tongkat pendek)  yang menjadi senjata pertahanan dan juga disiplin melambangkan kekuatan, kuasa dan wibawa Tuhan;  tongkat  (tongkat ramping panjang yang salah satu ujungnya melengkung)  dipakai untuk mendekatkan domba-domba dengan gembalanya, menuntun domba pada jalan yang benar, atau menyelamatkan domba dari kesulitan.  Gada dan tongkat adalah perlambang jaminan kasih dan bimbingan Tuhan dalam kehidupan kita, orang percaya.

     Kita patut bersyukur kepada Tuhan karena Dia bukan hanya sebagai gembala yang baik, yang rela memberikan nyawa-Nya bagi kita, tapi Dia juga menyediakan hidangan  (berkat), mengurapi dengan minyak  (perkenanan dan urapan Roh Kudus)  dan juga piala bagi kita.  Piala adalah lambang kemenangan.  Jadi kalau hari-hari ini kita sedang dihadapkan pada masalah yang berat, itu berarti kita telah berada di ambang kemenangan, dan semakin besar pula piala yang Tuhan telah persiapkan bagi kita.  Jarak tempuh dalam pertandingan lari marathon di PON, Sea Games dan Olimpiade adalah sama, yaitu 42,195km, tapi piala yang disediakan bagi sang juara tentunya berbeda nilainya.  Mengapa?  Karena lawan-lawan yang dihadapi berbeda.

Jangan pernah kecewa dan putus asa ketika mengalami tantangan hidup yang besar, sebab Tuhan sedang menyiapkan piala yang bernilai tinggi bagi kita.

Thursday, November 30, 2017

ORANG PERCAYA DIPANGGIL UNTUK MELAYANI

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 30 November 2017

Baca:  Filipi 1:12-26

"Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan."  Filipi 1:21

Berbicara tentang pelayanan pekerjaan Tuhan bukan berbicara tentang pilihan atau selera.  Ada banyak orang Kristen yang mau melayani Tuhan tapi masih pilih-pilih jenis pelayanan.  Ada pula yang mau melayani Tuhan sebatas mood, maksudnya kalau kondisi hati lagi happy mereka tampak giat melayani, tetapi kalau sedang terbentur kendala atau masalah mereka tampak ogah-ogahan melayani dan bahkan berhenti melayani.  Melayani Tuhan adalah sebuah wujud ketaatan dan kerendahan hati untuk melakukan segala sesuatu bagi Tuhan.

     Mengingat hanya sedikit waktu lagi kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali akan tiba, maka kita harus menggunakan waktu dan kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya untuk melayani Tuhan.  "Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja."  (Yohanes 9:4).  Menjadi benar saja tidaklah cukup, hidup orang percaya harus disertai dengan pelayanan.  Alkitab menyatakan bahwa tuaian memang banyak, tetapi pekerja sangat sedikit  (baca  Matius 9:37).  Maka dari itu setiap orang percaya wajib untuk turut berperan penting dalam pelayanan, terjun ke ladang Tuhan yang sudah menguning.  Kita tidak bisa menyerahkan tanggung jawab pelayanan itu sepenuhnya kepada para pendeta, fulltimer atau rohaniwan, karena sebesar apa pun energi yang dikeluarkan mereka takkan mampu menjangkau jiwa-jiwa secara penuh, karena di luar sana tak terhitung jumlah jiwa yang harus dilayani.

     Yang harus diperhatikan adalah melayani Tuhan tidak bisa dilakukan secara asal-asalan tanpa kesiapan hati.  Jangan asal melayani atau terburu-buru terlibat dalam suatu pelayanan jika pada akhirnya kita tidak setia dan tekun melakukannya.  Kasih setia adalah kunci bagi kita untuk dapat melayani seumur hidup.  Tidak sedikit orang Kristen pada awalnya tampak antusias dalam melayani Tuhan, begitu dihadapkan pada tantangan, greget mereka dalam melayani menjadi surut dan akhirnya mereka pun mundur dari pelayanan.  Pelayanan yang mereka lakukan tidak didasari oleh kasih kepada Tuhan.

"Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan."  Wahyu 2:10b

Wednesday, November 29, 2017

ANGKATLAH MUKAMU: Penyelamatan Sudah Dekat

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 29 November 2017

Baca:  Lukas 21:25-33

"Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat."  Lukas 21:28

Suka atau tidak suka, siap atau tidak siap, cepat atau lambat, langit dan bumi pasti akan berlalu.  Semua yang ada di bawah langit dan di atas bumi akan hancur lebur.  Masihkah kita disibukkan dengan perkara-perkara yang ada di dunia ini?  Masihkah kita berlomba sedemikian rupa mengumpulkan harta dunia?  Masihkah kita memiliki cara hidup yang duniawi?  Sampai kapan kita berubah?  Ada tertulis:  "Karena manusia tidak mengetahui waktunya. Seperti ikan yang tertangkap dalam jala yang mencelakakan, dan seperti burung yang tertangkap dalam jerat, begitulah anak-anak manusia terjerat pada waktu yang malang, kalau hal itu menimpa mereka secara tiba-tiba."  (Pengkhotbah 9:12).

     Tuhan selalu berkenan kepada orang-orang yang senantiasa mengarahkan pandangannya kepada-Nya dan memalingkan mukanya dari segala sesuatu yang ada di dunia ini.  Memalingkan muka dari segala sesuatu termasuk dari cara berpikir duniawi dan hanya memandang akan kebesaran dan kekuatan Tuhan saja yang sanggup mengubah segala perkara.  Memandang Tuhan sebagai tempat perlindungan dan penyelamatan.  Seperti Nuh yang tetap fokus membuat bahtera dan memalingkan mukanya terhadap orang-orang yang mengejek dan menghujatnya.  Akhirnya harga yang telah Nuh bayar dalam hidupnya mendatangkan upah yang besar:  ia dan seisi keluarganya selamat karena ketaatannya membuat bahtera yang diperintahkan Tuhan.  Bahtera adalah lambang dari Yesus Kristus, yang merupakan Gunung Batu Keselamatan, tempat pelarian dan perlindungan bagi mereka yang senantiasa berharap kepada-Nya.

     Dewasa ini pikiran manusia telah dirusak, disesatkan dan dicemari oleh berbagai kekacauan dan kabar-kabar yang menggetarkan.  Sebagai orang percaya kita tak perlu gentar menghadapinya, karena dari semula Tuhan Yesus telah memberitahukan dan memperingatkan kita bahwa segalanya pasti terjadi, yaitu peperangan, pemberontakan, gempa bumi, kelaparan dan bermacam-macam musibah lainnya.  Yang teramat penting untuk direnungkan adalah:  "Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat."  (ayat nas).

Setiap orang yang tetap dalam  'bahtera'  Kristus akan beroleh keselamatan kekal!

Tuesday, November 28, 2017

MASA DEPAN DI DALAM KEKEKALAN (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 28 November 2017

Baca:  Matius 6:19-20

"Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya."  Matius 6:20

Panggilan Tuhan bagi orang percaya adalah hidup tak bercacat cela dan memiliki kualitas hidup yang berbeda dengan dunia.  Untuk memenuhi panggilan Tuhan ini kita harus mau berproses yaitu menyalibkan kedagingan dan menundukkan diri pada pimpinan Roh Kudus.  "...hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging."  (Galatia 5:16).  Ini adalah harga mutlak.  Caranya?  Kita harus menutup hati terhadap pengaruh-pengaruh yang ada di dunia ini.  Yakobus menulis:  "Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah."  (Yakobus 4:4).

     Orang percaya dimungkinkan hidup tak bercacat cela di tengah gempuran dunia, karena Tuhan Yesus sudah berdoa dan memohon kepada Bapa:  "Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat. Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran."  (Yohanes 17:15-17).  Tujuan dari perlindungan Bapa terhadap yang jahat adalah supaya orang percaya terhindar dari cara-cara hidup yang tidak sesuai dengan kebenaran firman-Nya.  Karena itu Bapa memberikan Roh Kudus sebagai penolong bagi orang percaya.

     Sebagaimana Abraham rela meninggalkan Urkasdim dengan segala kenyamanannya, orang percaya pun harus meninggalkan kesenangan dunia dan segala keterikatan dengan dunia ini.  "Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi;...Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada."  (Matius 6:19-21).  Inilah ikatan yang paling dominan yang dapat menjauhkan kita dari panggilan Tuhan.  Ikatan ini disebut pula sebagai  'beban'  yang dapat merintangi kita dalam perlombaan iman.  "Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita."  (Ibrani 12:1).

Jangan biarkan kesenangan dunia menghalangi kita untuk mengalami penggenapan janji Tuhan, karena itu kumpulkanlah harta di sorga sebanyak-banyaknya.

Monday, November 27, 2017

MASA DEPAN DI DALAM KEKEKALAN (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 27 November 2017

Baca:  1 Petrus 1:3-12

"untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu."  1 Petrus 1:4

Tuhan Yesus menyatakan bahwa setiap orang percaya  (pengikut-Nya)  adalah bukan berasal dari dunia ini.  "Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia."  (Yohanes 17:16).  Dari pernyataan ini Tuhan Yesus hendak menegaskan bahwa orang percaya adalah orang-orang yang memiliki masa depan yang gilang gemilang.  Masa depan yang dimaksudkan bukan sekedar masa depan saat mereka hidup di bumi ini, karena pada saatnya bumi akan jatuh dan hancur.  "Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap. Jadi, jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup..."  (2 Petrus 3:10-11).

     Masa depan yang sesungguhnya bagi orang percaya adalah hidup dalam kemuliaan yaitu di Kerajaan Sorga, sebagaimana yang Tuhan Yesus sampaikan sebelum ia naik ke sorga:  "Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada."  (Yohanes 14:2-3).  Berbicara tentang masa depan di dalam kekekalan, Rasul Petrus menyatakan,  "Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu."  (1 Petrus 1:3-4).

     Rasul Paulus menulis:  "Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat,"  (Filipi 3:20).  Karena kewargaan orang percaya adalah sorga, maka keberadaan orang percaya di dunia ini hanyalah sebagai seorang pendatang atau perantau saja.

Segala sesuatu yang ada di bumi tidak ada arti apa-apa jika dibandingkan dengan kemuliaan Kerajaan Sorga;  inilah masa depan kita yang sesungguhnya!

Sunday, November 26, 2017

JANGKAUAN PANDANG JAUH KE DEPAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 26 November 2017

Baca:  Efesus 1:3-14

"Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga."  Efesus 1:3

Banyak orang Kristen berurusan dengan Tuhan semata-mata hanya berorientasi kepada pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari.  Dengan kata lain mereka mencari Tuhan karena ingin mendapatkan sesuatu dari-Nya:  kesembuhan, pekerjaan, usaha, bisnis, jodoh, keturunan dan sebagainya.  Benar apa kata Tuhan Yesus:  "...sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang."  (Yohanes 6:26).  Kalau kita mencari Tuhan hanya untuk kepentingan kebutuhan jasmani, berarti kita tidak menganggap Tuhan Yesus sebagai yang terpenting dalam hidup kita;  dan kalau kita menganggap bahwa Tuhan Yesus tak lebih hanya sebagai penyedia kebutuhan jasmani, maka bagi mereka yang kaya secara materi tidak merasa memerlukan Tuhan karena semua yang diperlukan telah terpenuhi.  Mereka merasa bahwa tanpa Tuhan pun mereka dapat berhasil dan meraih apa yang diinginkan.

     Orang percaya seharusnya arah pandangnya tidak semata-mata tertuju kepada berkat-berkat yang sifatnya jasmaniah, melainkan kita harus dapat melihat dengan jangkauan pandang yang jauh ke depan, bahwa ada berkat-berkat Tuhan yang jauh lebih bernilai dan berharga, yang sifatnya kekal, yaitu keselamatan dan kehidupan kekal.  Orientasi berpikir kita akan memengaruhi kualitas kerohanian kita.  Kalau yang kita pikirkan hanya tertuju kepada perkara-perkara duniawi semata kita pasti tidak punya upaya yang kuat untuk mengejar perkara-perkara rohani.

     Sasaran hidup orang percaya adalah menjadi serupa dengan Kristus dan mencapai kedewasaan rohani yang penuh.  "Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya,"  (Roma 8:29)  dan  "sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus,"  (Efesus 4:13).  Rasul Paulus memperingatkan,  "Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi."  (Kolose 3:2).

Apalah artinya kita memiliki segala-galanya di dunia ini tapi pada akhirnya kita harus kehilangan berkat Tuhan yang sesungguhnya?

Saturday, November 25, 2017

SELALU SIAP SEDIA, JANGAN TIDUR ROHANI

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 25 November 2017

Baca:  1 Tesalonika 5:1-11

"karena kamu sendiri tahu benar-benar, bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam."  1 Tesalonika 5:2

Hampir setiap hari kita mendengar berita-berita yang menggemparkan, mulai dari berita tentang pembunuhan, kecelakaan lalu lintas, bencana alam, bom bunuh diri dan sebagainya.  Dari kejadian-kejadian tersebut banyak orang menjadi korban.  Salah satu contohnya adalah peristiwa kecelakaan pesawat udara yang terjadi pada 28 Desember 2014 silam, pesawat AirAsia QZ8501 yang terbang dari Surabaya ke Singapura dikabarkan menghilang dan akhirnya ditemukan jatuh di perairan Pangkalan Bun  (Kalteng).  Dalam kecelakaan ini 155 penumpang dan 7 kru pesawat tewas.

     Kematian adalah suatu realita yang tidak dapat dihindari oleh semua orang.  Cepat atau lambat kematian pasti akan menjemput.  Semua manusia, siapa pun dia, pada suatu saat pasti akan mati.  Itu ketetapan Tuhan yang tidak dapat dihindari.  Bisa saja kita membuat sejuta rencana tentang apa yang akan kita lakukan di waktu-waktu mendatang, tetapi sewaktu-waktu kematian bisa saja menghentikan semua rencana itu.  Hari ini mungkin kita masih terlihat sehat dan segar bugar, tetapi yang akan terjadi esok hari, siapa yang tahu?  Sakit, bencana, kematian atau hal-hal yang tak terduga bisa saja menghampiri hidup kita.  Karena itu  "Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu."  (Amsal 27:1).

     Yang patut direnungkan:  ada apa sesudah kematian itu?  Alkitab memberikan jawaban secara pasti:  "Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi,"  (Ibrani 9:27).  Jadi ada penghakiman setelah kematian.  Apa yang harus kita lakukan selama masih hidup, sebelum kematian menjemput?  Rasul Paulus menasihati jemaat di Tesalonika,  "Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar."  (1 Tesalonika 5:6).  Artinya dalam segala keadaan kita harus dalam posisi siap-sedia, sadar secara rohani dan menguasai diri dalam segala hal, seperti halnya orang tidak minum anggur yang mengandung alkohol.  Jangan sampai kita tertidur,  "Sebab mereka yang tidur, tidur waktu malam dan mereka yang mabuk, mabuk waktu malam."  (1 Tesalonika 5:7).

Persiapkan diri sebaik mungkin sebelum Tuhan memanggil kita pulang!

Friday, November 24, 2017

PERENCANAAN HIDUP ADALAH PENTING

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 24 November 2017

Baca:  Lukas 14:28-35

"Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?"  Lukas 14:28

Seperti halnya menempuh perjalanan jauh untuk mencapai suatu tempat yang hendak dituju, demikian pula dengan kehidupan ini, kita pun harus memiliki tujuan yang jelas.  Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan perencanaan yang benar-benar matang.  Perencanaan itu bagaikan peta petunjuk yang menuntun kita kepada suatu tujuan.  Ada banyak orang mengingini kehidupan yang lebih baik dan bermasa depan cerah, namun dalam kehidupan sehari-hari mereka berlaku sembrono dan tidak memiliki perencanaan yang jelas.  Mungkinkah keinginannya bisa terwujud?

     Semua orang tahu bahwa keberhasilan itu tidak terjadi dalam waktu semalam, tidak ada keberhasilan tanpa harga yang harus dibayar.  Artinya keberhasilan merupakan sebuah proses dan setiap proses selalu diawali dengan perencanaan dan kemudian kerja keras.  Jika perencanaan sudah asal-asalan  (amburadul), ditambah lagi tidak ada usaha keras, maka siap-siaplah untuk menerima kegagalan.  Mulai dari sekarang buatlah perencanaan yang matang dan jangan menjadi orang yang malas.  Mungkin ada yang bertanya,  "Aku sudah merencanakan segala sesuatu, tapi mengapa masih saja gagal?"  Sudahkah kita melibatkan Tuhan?  Dengan perencanaan saja orang bisa gagal, apalagi hidup tanpa perencanaan!  Adakalanya melalui kegagalan kita diingatkan agar selalu melibatkan Tuhan di setiap rencana.  Dalam segala hal seharusnya kita berkata,  "Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu."  (Yakobus 4:15).

     Alkitab memberikan sebuah ilustrasi lain tentang pentingnya sebuah perencanaan hidup:  "Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang?"  (Lukas 14:31).  Karena itu setiap kali membuat sebuah rencana jangan sekali-kali kita melupakan Tuhan, sebab Dialah yang berkuasa atas hidup kita, Dia tahu hari esok.

"Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka terlaksanalah segala rencanamu."  Amsal 16:3

Thursday, November 23, 2017

BERBAHAGIALAH ORANG YANG HIDUP BENAR

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 23 November 2017

Baca:  Yesaya 3:9-15

"Katakanlah berbahagia orang benar! Sebab mereka akan memakan hasil pekerjaannya."  Yesaya 3:10

Sering timbul pertanyaan dan selalu menjadi pergumulan dalam diri orang benar:  "Mengapa banyak orang yang tidak hidup dalam kebenaran tampak mujur dan tanpa masalah?  Sementara kita yang tetap setia dan hidup dalam kebenaran sepertinya masalah tak pernah habis."  Tidak sedikit yang menjadi goyah dan akhirnya mulai melakukan kompromi.  Rugi dan sia-siakah bila kita tetap setia kepada Tuhan dan mempertahankan hidup benar di hadapan-Nya?

     Yesaya diperintahkan Tuhan untuk membesarkan hati orang yang tetap setia kepada Tuhan dan hidup benar di hadapan-Nya meski berada di tengah-tengah angkatan yang tidak benar dan jahat.  Sekalipun saat ini mungkin mereka harus mengalami tekanan ataupun penderitaan, tapi hal itu takkan berlangsung lama, sebab pada saatnya mereka akan tampil sebagai pemenang, dan ada upah yang Tuhan berikan.  "Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia."  (1 Korintus 15:58).  Jangan pernah berhenti berjuang untuk hidup dalam kebenaran, sebab perjuangan kita tidak akan pernah sia-sia, Tuhan selalu perhitungkan.  "Dalam tiap jerih payah ada keuntungan,"  (Amsal 14:23).  Mungkinkah hidup benar di tengah-tengah dunia yang semakin jahat?  Tidak ada perkara yang mustahil bagi orang percaya, karena di dalam kita ada Roh Kudus, Dia yang akan menuntun, menguatkan dan memampukan kita untuk berjalan dalam kebenaran.

     Tuhan mau kita tidak menyerah begitu saja pada keadaan, tapi kita harus terus berjuang, karena hidup dalam kebenaran adalah sebuah proses yang membutuhkan ketekunan dan kesungguhan.  Mengapa Alkitab menyatakan bahwa orang benar itu dikatakan sebagai orang yang berbahagia?  Karena orang benar menjalani hidupnya tidak dalam keadaan tertuduh atau dengan rasa bersalah.  Ingatlah bahwa salah satu pekerjaan Iblis adalah mendakwa siang dan malam  (Wahyu 12:10).

Seberat apa pun tantangannya tetaplah berjuang untuk hidup benar, sebab orang yang menabur kebenaran pada saatnya akan menuai berkat dan kemuliaan!