Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 November 2017
Baca: Yohanes 11:1-44
"'Lazarus, marilah ke luar!' Orang yang telah mati itu datang ke luar, kaki dan tangannya masih
terikat dengan kain kapan dan mukanya tertutup dengan kain peluh." Yohanes 11:43-44
Di tengah keputusasaan Marta, Tuhan Yesus berkata kepadanya, "Saudaramu akan bangkit." (Yohanes 11:23), dengan maksud untuk membangkitkan iman dan pengharapannya yang hilang. Tetapi Marta menjawab, "Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman." (Yohanes 11:24). Marta menunjukkan iman dasarnya pada kebenaran hakiki yang menyatakan bahwa orang-orang yang mati di dalam Tuhan pada akhir zaman akan dibangkitkan. Namun Tuhan Yesus kembali berkata kepadanya, "Akulah kebangkitan dan hidup;" (Yohanes 11:25). Dalam hal ini Tuhan Yesus hendak menegaskan bahwa Ia berkuasa atas kehidupan dan kematian. "Percayakah engkau akan hal ini?" (Yohanes 11:26b).
Banyak orang Kristen tahu dan mengerti bahwa Yesus berkuasa mengadakan segala mujizat karena Dia adalah Tuhan yang heran dan ajaib. Tetapi ketika dihadapkan pada 'kematian' di segala bidang kehidupan, iman mereka goyah dan dibatasi oleh situasi sehingga mata jasmani hanya tertumpu pada masalah dan kesukaran. Iman yang terbatas ini akhirnya membatasi kuasa Tuhan. Iman Marta yang terbatas tak mampu melihat kuasa Tuhan yang tak terbatas. Perhatikan! "Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah." (Markus 10:27).
Tuhan Yesus menangis ketika Ia datang hendak membangkitkan Lazarus, sebab yang dijumpai-Nya iman yang terbatas. Ketika Tuhan Yesus menyuruh mengangkat batu dari kubur Lazarus, pada awalnya Marta keberatan karena tak percaya: "Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati." (Yohanes 11:39). Tuhan Yesus pun menantangnya, "Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?" (Yohanes 11:40). Marta pun menjadi percaya! Imannya tak lagi dibatasi oleh situasi, sehingga kuasa Tuhan dinyatakan dengan tak terbatas. Mujizat pun terjadi: Lazarus bangkit dari kematian. Haleluyah!
"Sesungguhnya, Akulah TUHAN, Allah segala makhluk; adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk-Ku?" Yeremia 32:27
Saturday, November 11, 2017
Friday, November 10, 2017
IMAN YANG DIBATASI OLEH SITUASI (1)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 November 2017
Baca: Yohanes 11:1-44
"Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati." Yohanes 11:21
Ketika saudaranya (Lazarus) sedang sakit, Marta dan Maria mengirim kabar kepada Tuhan Yesus dan mengundang-Nya untuk segera ke Betania, tempat di mana mereka tinggal, supaya Ia menyembuhkannya. Berkatalah Tuhan Yesus kepada mereka, "Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan." (Yohanes 11:4). Karena itu "...setelah didengar-Nya, bahwa Lazarus sakit, Ia (Tuhan Yesus) sengaja tinggal dua hari lagi di tempat, di mana Ia berada;" (Yohanes 11:4).
Selanjutnya, apa yang terjadi? Lazarus meninggal. Ketika mendengar kabar itu Tuhan Yesus justru berkata, "...tetapi syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat belajar percaya." (Yohanes 11:15). Pernyataan Tuhan Yesus ini tak mudah dimengerti! Kesengajaan-Nya menunda kedatangan-Nya ke Betania seolah-olah menjadi penyebab kematian Lazarus. Andaikan saja Tuhan Yesus segera datang pastilah ini tidak akan terjadi. Itulah yang timbul dalam pemikiran Marta, tersirat dari pernyataannya: "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati." (ayat nas). Namun adakalanya Tuhan ijinkan masalah atau situasi sulit terjadi dengan tujuan kita belajar percaya. Jika iman percaya kita terbatas pada apa yang terlihat, dan dipengaruhi oleh situasi dan kondisi, kita takkan mampu menyelami rencana dan jalan Tuhan, dan kematian Lazarus akan berarti berakhir pula iman Marta.
Iman yang dipengaruhi situasi adalah iman yang mati, itu sama artinya dengan ketidakpercayaan. Seperti orang-orang di Nazaret, meski tahu dan melihat bahwa Tuhan Yesus sanggup mengadakan mujizat, tapi mereka tak mau percaya, hanya karena memandang Dia, tak lebih dari anak tukang kayu. "'Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?' Dan karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakan-Nya di situ." (Matius 13:55, 56, 58).
Hidup anak-anak Tuhan seharusnya adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat (baca 2 Korintus 5:7).
Baca: Yohanes 11:1-44
"Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati." Yohanes 11:21
Ketika saudaranya (Lazarus) sedang sakit, Marta dan Maria mengirim kabar kepada Tuhan Yesus dan mengundang-Nya untuk segera ke Betania, tempat di mana mereka tinggal, supaya Ia menyembuhkannya. Berkatalah Tuhan Yesus kepada mereka, "Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan." (Yohanes 11:4). Karena itu "...setelah didengar-Nya, bahwa Lazarus sakit, Ia (Tuhan Yesus) sengaja tinggal dua hari lagi di tempat, di mana Ia berada;" (Yohanes 11:4).
Selanjutnya, apa yang terjadi? Lazarus meninggal. Ketika mendengar kabar itu Tuhan Yesus justru berkata, "...tetapi syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat belajar percaya." (Yohanes 11:15). Pernyataan Tuhan Yesus ini tak mudah dimengerti! Kesengajaan-Nya menunda kedatangan-Nya ke Betania seolah-olah menjadi penyebab kematian Lazarus. Andaikan saja Tuhan Yesus segera datang pastilah ini tidak akan terjadi. Itulah yang timbul dalam pemikiran Marta, tersirat dari pernyataannya: "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati." (ayat nas). Namun adakalanya Tuhan ijinkan masalah atau situasi sulit terjadi dengan tujuan kita belajar percaya. Jika iman percaya kita terbatas pada apa yang terlihat, dan dipengaruhi oleh situasi dan kondisi, kita takkan mampu menyelami rencana dan jalan Tuhan, dan kematian Lazarus akan berarti berakhir pula iman Marta.
Iman yang dipengaruhi situasi adalah iman yang mati, itu sama artinya dengan ketidakpercayaan. Seperti orang-orang di Nazaret, meski tahu dan melihat bahwa Tuhan Yesus sanggup mengadakan mujizat, tapi mereka tak mau percaya, hanya karena memandang Dia, tak lebih dari anak tukang kayu. "'Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?' Dan karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakan-Nya di situ." (Matius 13:55, 56, 58).
Hidup anak-anak Tuhan seharusnya adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat (baca 2 Korintus 5:7).
Thursday, November 9, 2017
SEMUA KARENA TUHAN YANG BERKARYA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 9 November 2017
Baca: 1 Tawarikh 29:10-29
"Sebab kekayaan dan kemuliaan berasal dari pada-Mu dan Engkaulah yang berkuasa atas segala-galanya; dalam tangan-Mulah kekuatan dan kejayaan; dalam tangan-Mulah kuasa membesarkan dan mengokohkan segala-galanya." 1 Tawarikh 29:12
Ditinjau dari segi perekonomian, manusia di dunia ini bisa dikelompokkan menjadi dua golongan: 1. Mereka yang hidup dalam kelimpahan (kecukupan). 2. Mereka yang masih belum menikmati kelimpahan (kekurangan). Mereka yang termasuk dalam kelompok satu (hidup dalam kelimpahan) terbagi lagi menjadi dua golongan yaitu mereka yang tahu berterima kasih atau bersyukur kepada Tuhan, dan mereka yang tidak tahu berterima kasih kepada Tuhan, yang dari mulutnya tidak pernah ada ucapan syukur. Mereka yang hidup dalam kelimpahan yang tahu berterima kasih akan selalu mengingat-ingat akan kebaikan Tuhan. Mereka sadar betul bahwa segala yang dimiliki, dinikmati dan diraih adalah semata-mata karena campur tangan-Nya. Mereka mengakui bahwa di luar Tuhan mereka tidak bisa berbuat apa-apa dan bukan siapa-siapa.
Ketika kehidupannya semakin naik, dari orang yang tidak dianggap dan dipandang sebelah mata oleh semua orang, hingga Tuhan membawanya sebagai seorang pemimpin besar dan terberkati, Daud tak pernah berhenti untuk mengucap syukur dan selalu mengingat-ingat akan kebaikan Tuhan. "Siapakah aku ini, ya Tuhan ALLAH, dan siapakah keluargaku, sehingga Engkau membawa aku sampai sedemikian ini?" (2 Samuel 7:18). Daud menyadari bahwa jikalau bukan karena Tuhan yang bekerja, maka berkat, kebesaran, kejayaan dan kemuliaan takkan mungkin terjadi atas dirinya.
Orang golongan lain yaitu mereka yang mengalami kelimpahan tetapi lupa diri alias takabur. Mereka lupa bahwa Tuhanlah yang menganugerahkan kepadanya kekayaan, keberhasilan, kemuliaan dan kejayaan. Mereka bersikap sombong, angkuh dan meninggikan diri sendiri. Pemazmur mengingatkan, "Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga." (Mazmur 127:1).
"Aku tahu, ya TUHAN, bahwa manusia tidak berkuasa untuk menentukan jalannya, dan orang yang berjalan tidak berkuasa untuk menetapkan langkahnya." Yeremia 10:23
Baca: 1 Tawarikh 29:10-29
"Sebab kekayaan dan kemuliaan berasal dari pada-Mu dan Engkaulah yang berkuasa atas segala-galanya; dalam tangan-Mulah kekuatan dan kejayaan; dalam tangan-Mulah kuasa membesarkan dan mengokohkan segala-galanya." 1 Tawarikh 29:12
Ditinjau dari segi perekonomian, manusia di dunia ini bisa dikelompokkan menjadi dua golongan: 1. Mereka yang hidup dalam kelimpahan (kecukupan). 2. Mereka yang masih belum menikmati kelimpahan (kekurangan). Mereka yang termasuk dalam kelompok satu (hidup dalam kelimpahan) terbagi lagi menjadi dua golongan yaitu mereka yang tahu berterima kasih atau bersyukur kepada Tuhan, dan mereka yang tidak tahu berterima kasih kepada Tuhan, yang dari mulutnya tidak pernah ada ucapan syukur. Mereka yang hidup dalam kelimpahan yang tahu berterima kasih akan selalu mengingat-ingat akan kebaikan Tuhan. Mereka sadar betul bahwa segala yang dimiliki, dinikmati dan diraih adalah semata-mata karena campur tangan-Nya. Mereka mengakui bahwa di luar Tuhan mereka tidak bisa berbuat apa-apa dan bukan siapa-siapa.
Ketika kehidupannya semakin naik, dari orang yang tidak dianggap dan dipandang sebelah mata oleh semua orang, hingga Tuhan membawanya sebagai seorang pemimpin besar dan terberkati, Daud tak pernah berhenti untuk mengucap syukur dan selalu mengingat-ingat akan kebaikan Tuhan. "Siapakah aku ini, ya Tuhan ALLAH, dan siapakah keluargaku, sehingga Engkau membawa aku sampai sedemikian ini?" (2 Samuel 7:18). Daud menyadari bahwa jikalau bukan karena Tuhan yang bekerja, maka berkat, kebesaran, kejayaan dan kemuliaan takkan mungkin terjadi atas dirinya.
Orang golongan lain yaitu mereka yang mengalami kelimpahan tetapi lupa diri alias takabur. Mereka lupa bahwa Tuhanlah yang menganugerahkan kepadanya kekayaan, keberhasilan, kemuliaan dan kejayaan. Mereka bersikap sombong, angkuh dan meninggikan diri sendiri. Pemazmur mengingatkan, "Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga." (Mazmur 127:1).
"Aku tahu, ya TUHAN, bahwa manusia tidak berkuasa untuk menentukan jalannya, dan orang yang berjalan tidak berkuasa untuk menetapkan langkahnya." Yeremia 10:23
Wednesday, November 8, 2017
JANGAN GAMPANG MARAH
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 November 2017
Baca: Mazmur 37:8-15
"Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan." Mazmur 37:8
Telinga kita pasti tak asing dengan ayat firman Tuhan ini: "Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang." (Amsal 17:22) dan "Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat." (Amsal 15:13). Jelas sekali bahwa hati yang gembira adalah obat terbaik, sedangkan emosi atau amarah yang meluap-luap justru dapat mendatangkan sakit-penyakit. Karena itu buanglah semua rasa geram dan amarah yang berkepanjangan.
Berbagai penelitian menyatakan adanya hubungan antara perilaku temperamental seseorang dengan tingginya kasus penyakit jantung koroner, hipertensi, stroke dan sebagainya. Penelitian menunjukkan pula bahwa amarah memengaruhi proses penyembuhan suatu penyakit. Orang yang bermasalah dalam hal mengontrol emosi atau kemarahan membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih dari penyakit yang diderita, dibandingkan mereka yang sebaliknya. Alkitab memang tidak menyebutkan bahwa marah itu dosa, tapi yang harus diingat adalah kemarahan cenderung membawa seseorang kepada tindakan-tindakan yang tak terkendali yang bisa menyakiti dan melukai orang lain, sehingga dapat menyebabkan pertikaian dan merusak sebuah hubungan.
Kemarahan seringkali dijadikan celah oleh Iblis untuk menabur benih kejahatan. Bukankah ada banyak tindak kejahatan terjadi bermula dari seseorang yang tersulut amarah? Daud menasihati, "Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa; berkata-katalah dalam hatimu di tempat tidurmu, tetapi tetaplah diam." (Mazmur 4:5). Bahkan Pengkhotbah menyebut seorang pemarah sebagai orang bodoh. "Janganlah lekas-lekas marah dalam hati, karena amarah menetap dalam dada orang bodoh." (Pengkhotbah 7:9). Tidak mau disebut orang bodoh? Jangan mudah marah. Orang yang bijak pasti dapat menahan kemarahannya. "Akal budi membuat seseorang panjang sabar..." (Amsal 19:11).
"Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis." Efesus 4:26-27
Baca: Mazmur 37:8-15
"Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan." Mazmur 37:8
Telinga kita pasti tak asing dengan ayat firman Tuhan ini: "Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang." (Amsal 17:22) dan "Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat." (Amsal 15:13). Jelas sekali bahwa hati yang gembira adalah obat terbaik, sedangkan emosi atau amarah yang meluap-luap justru dapat mendatangkan sakit-penyakit. Karena itu buanglah semua rasa geram dan amarah yang berkepanjangan.
Berbagai penelitian menyatakan adanya hubungan antara perilaku temperamental seseorang dengan tingginya kasus penyakit jantung koroner, hipertensi, stroke dan sebagainya. Penelitian menunjukkan pula bahwa amarah memengaruhi proses penyembuhan suatu penyakit. Orang yang bermasalah dalam hal mengontrol emosi atau kemarahan membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih dari penyakit yang diderita, dibandingkan mereka yang sebaliknya. Alkitab memang tidak menyebutkan bahwa marah itu dosa, tapi yang harus diingat adalah kemarahan cenderung membawa seseorang kepada tindakan-tindakan yang tak terkendali yang bisa menyakiti dan melukai orang lain, sehingga dapat menyebabkan pertikaian dan merusak sebuah hubungan.
Kemarahan seringkali dijadikan celah oleh Iblis untuk menabur benih kejahatan. Bukankah ada banyak tindak kejahatan terjadi bermula dari seseorang yang tersulut amarah? Daud menasihati, "Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa; berkata-katalah dalam hatimu di tempat tidurmu, tetapi tetaplah diam." (Mazmur 4:5). Bahkan Pengkhotbah menyebut seorang pemarah sebagai orang bodoh. "Janganlah lekas-lekas marah dalam hati, karena amarah menetap dalam dada orang bodoh." (Pengkhotbah 7:9). Tidak mau disebut orang bodoh? Jangan mudah marah. Orang yang bijak pasti dapat menahan kemarahannya. "Akal budi membuat seseorang panjang sabar..." (Amsal 19:11).
"Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis." Efesus 4:26-27
Tuesday, November 7, 2017
JANGAN SIMPAN DENDAM DAN SAKIT HATI
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 7 November 2017
Baca: Ayub 5:1-16
"Sesungguhnya, orang bodoh dibunuh oleh sakit hati, dan orang bebal dimatikan oleh iri hati." Ayub 5:2
Sebuah penelitian yang diterbitkan oleh jurnal Psychological Science (Harian Kompas, 19 September 2014) menyatakan bahwa menyimpan rasa dendam dan sakit hati itu berdampak buruk bagi kesehatan mental dan fisik seseorang. Selain dapat meningkatkan rasa cemas, stres dan frustasi, rasa dendam dan sakit hati yang dipendam selama bertahun-tahun dapat menyebabkan orang beresiko terkena serangan jantung, tekanan darah tinggi, nyeri lambung, sakit kepala dan bahkan kanker!
Mungkin Saudara sedang disakiti oleh orang lain dan sampai sekarang masih sulit untuk memaafkan... menyimpan dendam dan sakit hati sama sekali tidak mendatangkan faedah, justru akan berdampak buruk. Masih banyak orang Kristen yang menjalani hidup kekristenannya dengan belenggu dendam dan sakit hati, meski secara kasat mata mereka tampak rajin beribadah dan bahkan sudah melayani Tuhan. Meski sudah tak terhitung banyaknya mereka mendengar khotbah tentang pentingnya mengampuni, tapi dalam prakteknya tetap saja sulit untuk melakukan. Bagi orang percaya, mengampuni adalah perintah Tuhan yang harus ditaati dan tak bisa ditawar-tawar lagi. Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, kita harus bisa mengampuni kesalahan orang lain. Ingatlah Tuhan Yesus telah terlebih dahulu mengampuni kesalahan-kesalahan kita, bahkan "sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita." (Mazmur 103:12).
Tuhan dapat memakai apa saja di dalam kehidupan kita sehari-hari untuk membentuk dan mendewasakan kita, termasuk memakai orang-orang sekitar untuk menyempurnakan kita sesuai kehendak-Nya. Ada tertulis: "Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya." (Amsal 27:17). Seperti yang dialami oleh Yusuf, yang dilukai dan disakiti oleh saudara-saudaranya, ia tidak membiarkan rasa dendam dan sakit hati itu bersarang di hatinya. Yusuf tetap dapat melihat kebaikan di balik penderitaan yang dialami: "Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar." (Kejadian 50:20).
Menyimpan dendam dan sakit hati adalah perbuatan yang merugikan diri sendiri!
Baca: Ayub 5:1-16
"Sesungguhnya, orang bodoh dibunuh oleh sakit hati, dan orang bebal dimatikan oleh iri hati." Ayub 5:2
Sebuah penelitian yang diterbitkan oleh jurnal Psychological Science (Harian Kompas, 19 September 2014) menyatakan bahwa menyimpan rasa dendam dan sakit hati itu berdampak buruk bagi kesehatan mental dan fisik seseorang. Selain dapat meningkatkan rasa cemas, stres dan frustasi, rasa dendam dan sakit hati yang dipendam selama bertahun-tahun dapat menyebabkan orang beresiko terkena serangan jantung, tekanan darah tinggi, nyeri lambung, sakit kepala dan bahkan kanker!
Mungkin Saudara sedang disakiti oleh orang lain dan sampai sekarang masih sulit untuk memaafkan... menyimpan dendam dan sakit hati sama sekali tidak mendatangkan faedah, justru akan berdampak buruk. Masih banyak orang Kristen yang menjalani hidup kekristenannya dengan belenggu dendam dan sakit hati, meski secara kasat mata mereka tampak rajin beribadah dan bahkan sudah melayani Tuhan. Meski sudah tak terhitung banyaknya mereka mendengar khotbah tentang pentingnya mengampuni, tapi dalam prakteknya tetap saja sulit untuk melakukan. Bagi orang percaya, mengampuni adalah perintah Tuhan yang harus ditaati dan tak bisa ditawar-tawar lagi. Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, kita harus bisa mengampuni kesalahan orang lain. Ingatlah Tuhan Yesus telah terlebih dahulu mengampuni kesalahan-kesalahan kita, bahkan "sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita." (Mazmur 103:12).
Tuhan dapat memakai apa saja di dalam kehidupan kita sehari-hari untuk membentuk dan mendewasakan kita, termasuk memakai orang-orang sekitar untuk menyempurnakan kita sesuai kehendak-Nya. Ada tertulis: "Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya." (Amsal 27:17). Seperti yang dialami oleh Yusuf, yang dilukai dan disakiti oleh saudara-saudaranya, ia tidak membiarkan rasa dendam dan sakit hati itu bersarang di hatinya. Yusuf tetap dapat melihat kebaikan di balik penderitaan yang dialami: "Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar." (Kejadian 50:20).
Menyimpan dendam dan sakit hati adalah perbuatan yang merugikan diri sendiri!
Monday, November 6, 2017
BIJAK TERHADAP UANG
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 6 November 2017
Baca: Lukas 16:10-15
"Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?" Lukas 16:11
Ada banyak sekali ayat-ayat di Alkitab yang berbicara mengenai uang atau kepemilikan. Hal ini menunjukkan bahwa uang merupakan masalah yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Bagaimana kita bersikap terhadap uang akan sangat menentukan kualitas kerohanian kita, alias menentukan hubungan kita dengan Tuhan. Karena itu firman Tuhan tak henti-hentinya memperingatkan agar kita berlaku bijak terhadap uang.
Ketika kita dipercaya Tuhan dengan keuangan, entah itu berupa gaji, uang saku, atau pendapatan yang lain, maka kita harus dapat pertanggungjawabkannya dengan baik. Kita harus mampu menguasai uang, bukan uang yang menguasai kita, sebab uang adalah hamba yang baik, namun bisa juga menjadi tuan yang sangat jahat. Berapa pun nilai rupiah yang kita miliki hari ini adalah sebuah kepercayaan dari Tuhan dan Ia ingin kita setia dengan apa yang sudah dipercayakan. "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar." (Lukas 16:10). Hal mendasar untuk kita setia dalam keuangan yang dipercayakan Tuhan adalah perpuluhan (baca Maleakhi 3:10). Namun perpuluhan saja tidak cukup, sebab masih ada 90% lagi yang juga perlu untuk kita pertanggungjawabkan di hadapan-Nya.
Banyak orang Kristen mengalami permasalahan yang teramat rumit dalam hal keuangan oleh karena mereka tidak bisa mengelola keuangan secara bijak. Satu prinsip bijak yang harus diterapkan dalam mengelola keuangan adalah jangan 'besar pasak daripada tiang'. Adalah petaka besar jika pengeluaran kita lebih besar dari pendapatan yang kita peroleh. Karena itu perhatikanlah kebiasaan atau gaya hidup Saudara! Kita harus bisa membedakan mana itu kebutuhan dan mana itu keinginan. Berusahalah sedapat mungkin menyisihkan uang untuk ditabung, meski dalam jumlah sedikit. "Harta yang cepat diperoleh akan berkurang, tetapi siapa mengumpulkan sedikit demi sedikit, menjadi kaya." (Amsal 13:11). Dan bila kita memiliki berkat lebih, jangan lupa untuk menabur. "Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum." (Amsal 11:25).
Bijak mengelola uang adalah langkah menuju kepada hidup yang diberkati!
Baca: Lukas 16:10-15
"Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?" Lukas 16:11
Ada banyak sekali ayat-ayat di Alkitab yang berbicara mengenai uang atau kepemilikan. Hal ini menunjukkan bahwa uang merupakan masalah yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Bagaimana kita bersikap terhadap uang akan sangat menentukan kualitas kerohanian kita, alias menentukan hubungan kita dengan Tuhan. Karena itu firman Tuhan tak henti-hentinya memperingatkan agar kita berlaku bijak terhadap uang.
Ketika kita dipercaya Tuhan dengan keuangan, entah itu berupa gaji, uang saku, atau pendapatan yang lain, maka kita harus dapat pertanggungjawabkannya dengan baik. Kita harus mampu menguasai uang, bukan uang yang menguasai kita, sebab uang adalah hamba yang baik, namun bisa juga menjadi tuan yang sangat jahat. Berapa pun nilai rupiah yang kita miliki hari ini adalah sebuah kepercayaan dari Tuhan dan Ia ingin kita setia dengan apa yang sudah dipercayakan. "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar." (Lukas 16:10). Hal mendasar untuk kita setia dalam keuangan yang dipercayakan Tuhan adalah perpuluhan (baca Maleakhi 3:10). Namun perpuluhan saja tidak cukup, sebab masih ada 90% lagi yang juga perlu untuk kita pertanggungjawabkan di hadapan-Nya.
Banyak orang Kristen mengalami permasalahan yang teramat rumit dalam hal keuangan oleh karena mereka tidak bisa mengelola keuangan secara bijak. Satu prinsip bijak yang harus diterapkan dalam mengelola keuangan adalah jangan 'besar pasak daripada tiang'. Adalah petaka besar jika pengeluaran kita lebih besar dari pendapatan yang kita peroleh. Karena itu perhatikanlah kebiasaan atau gaya hidup Saudara! Kita harus bisa membedakan mana itu kebutuhan dan mana itu keinginan. Berusahalah sedapat mungkin menyisihkan uang untuk ditabung, meski dalam jumlah sedikit. "Harta yang cepat diperoleh akan berkurang, tetapi siapa mengumpulkan sedikit demi sedikit, menjadi kaya." (Amsal 13:11). Dan bila kita memiliki berkat lebih, jangan lupa untuk menabur. "Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum." (Amsal 11:25).
Bijak mengelola uang adalah langkah menuju kepada hidup yang diberkati!
Sunday, November 5, 2017
JANGAN MENGHAMBAKAN DIRI PADA UANG
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 5 November 2017
Baca: Matius 6:19-24
"Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." Matius 6:24b
Dalam kehidupan ini banyak orang seringkali lebih mengandalkan uang. Terlebih-lebih di masa yang sulit seperti sekarang ini orang berlomba-lomba dan berusaha sedemikian rupa untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Yang ada di pikiran hanyalah uang, uang dan uang. Padahal "...akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka." (1 Timotius 6:19). Demi mendapatkan uang banyak orang rela melakukan hal-hal yang tidak terpuji dan menyimpang. Hal ini dilakukan karena mereka menganggap bahwa uang adalah segala-galanya. Pikirnya dengan memiliki banyak uang hidup mereka akan menjadi lebih tenang dan tidak ada yang perlu dikuatirkan. Uang begitu memikat hati manusia dan memperhambanya. Pengkhotbah menulis: "Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang," (Pengkhotbah 5:9).
Pada dasarnya manusia selalu diperhadapkan dengan dua tuan yaitu Tuhan dan Mamon (bahasa Aram, artinya uang). Tetapi "Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain." (Matius 6:24a). Sebagai orang percaya kita harus memilih Tuhan untuk menjadi Tuan atas hidup kita dan menempatkan Dia sebagai yang terutama. Kepada Tuhan saja kita harus menghamba dan mengikatkan diri, sebab Dia adalah sumber berkat kita, bukan yang lain. Tidak ada satu pun yang dapat menandingi Tuhan di bumi maupun di sorga karena Dia adalah Pencipta dan Pemilik segala-galanya. Menyadari akan hal itu, dalam mazmurnya bani Asaf pun menulis: "Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi." (Mazmur 73:25).
Jika kita menempatkan uang sebagai tuan atas hidup kita maka kita akan diperhamba oleh uang dan uang akan memegang kendali hidup kita secara penuh. Jika hati dan pikiran kita semata-mata tertuju kepada uang, maka kita akan dibawa semakin menjauh dari Tuhan menuju kepada penyimpangan demi penyimpangan, kejahatan demi kejahatan, dan menjerat kita ke dalam berbagai nafsu yang mencelakakan.
Jika uang yang menjadi tuan, kita akan dituntunnya kepada kehancuran hidup!
Baca: Matius 6:19-24
"Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." Matius 6:24b
Dalam kehidupan ini banyak orang seringkali lebih mengandalkan uang. Terlebih-lebih di masa yang sulit seperti sekarang ini orang berlomba-lomba dan berusaha sedemikian rupa untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Yang ada di pikiran hanyalah uang, uang dan uang. Padahal "...akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka." (1 Timotius 6:19). Demi mendapatkan uang banyak orang rela melakukan hal-hal yang tidak terpuji dan menyimpang. Hal ini dilakukan karena mereka menganggap bahwa uang adalah segala-galanya. Pikirnya dengan memiliki banyak uang hidup mereka akan menjadi lebih tenang dan tidak ada yang perlu dikuatirkan. Uang begitu memikat hati manusia dan memperhambanya. Pengkhotbah menulis: "Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang," (Pengkhotbah 5:9).
Pada dasarnya manusia selalu diperhadapkan dengan dua tuan yaitu Tuhan dan Mamon (bahasa Aram, artinya uang). Tetapi "Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain." (Matius 6:24a). Sebagai orang percaya kita harus memilih Tuhan untuk menjadi Tuan atas hidup kita dan menempatkan Dia sebagai yang terutama. Kepada Tuhan saja kita harus menghamba dan mengikatkan diri, sebab Dia adalah sumber berkat kita, bukan yang lain. Tidak ada satu pun yang dapat menandingi Tuhan di bumi maupun di sorga karena Dia adalah Pencipta dan Pemilik segala-galanya. Menyadari akan hal itu, dalam mazmurnya bani Asaf pun menulis: "Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi." (Mazmur 73:25).
Jika kita menempatkan uang sebagai tuan atas hidup kita maka kita akan diperhamba oleh uang dan uang akan memegang kendali hidup kita secara penuh. Jika hati dan pikiran kita semata-mata tertuju kepada uang, maka kita akan dibawa semakin menjauh dari Tuhan menuju kepada penyimpangan demi penyimpangan, kejahatan demi kejahatan, dan menjerat kita ke dalam berbagai nafsu yang mencelakakan.
Jika uang yang menjadi tuan, kita akan dituntunnya kepada kehancuran hidup!
Saturday, November 4, 2017
ROH KUDUS: Penuntun Arah Hidup
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 4 November 2017
Baca: Yesaya 48:12-22
"Akulah TUHAN, Allahmu, yang mengajar engkau tentang apa yang memberi faedah, yang menuntun engkau di jalan yang harus kautempuh." Yesaya 48:17
Di zaman sekarang ini teknologi semakin canggih. Dulu orang seringkali mengalami kesulitan dan bahkan bisa saja tersesat ketika mencari alamat yang hendak dituju, atau sulit mengetahui letak atau posisi kita di mana. Tetapi sekarang ada yang namanya GPS (Global Positioning System), suatu alat yang bisa dengan mudah mendeteksi letak atau posisi kita. Dengan alat ini kita dapat dengan mudah menemukan letak dan menentukan arah yang benar, terutama ketika kita sedang menempuh perjalanan.
Pertanyaan: apakah 'GPS' ini juga bisa membantu, menolong, menuntun dan mengarahkan hidup kita kepada jalan kebenaran? Sebab "Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut." (Amsal 14:12). Banyak orang mengalami kebutaan 'rohani' sehingga mereka tidak dapat melihat jalan kebenaran yang sejati. Yang bisa mereka lakukan hanyalah mereka-reka atau menebak-nebak jalan mana yang benar menurut pemikiran sendiri atau menurut kata orang. Bersyukur sebagai orang percaya kita memiliki Roh Kudus yang sudah termeterai di dalam hidup kita. "...di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya," (Efesus 1:13-14). Roh Kudus adalah Penolong bagi kita sebagaimana yang Tuhan Yesus katakan, "...Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu." (Yohanes 14:26). Dengan pertolongan Roh Kudus kita dituntun kepada jalan kebenaran, ialah Tuhan Yesus sendiri. "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku." (Yohanes 14:6).
Saat ini Iblis dengan segala cara berusaha untuk membelokkan arah hidup manusia supaya semakin menjauh dari jalan kebenaran itu. Dengan iming-iming yang menggiurkan dan membuka pintu selebar-lebarnya Iblis berusaha menuntun manusia ke jalan yang ujungnya menuju kepada kebinasaan kekal (Matius 7:13).
Ya Roh Kudus, "...lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!" Mazmur 139:24
Baca: Yesaya 48:12-22
"Akulah TUHAN, Allahmu, yang mengajar engkau tentang apa yang memberi faedah, yang menuntun engkau di jalan yang harus kautempuh." Yesaya 48:17
Di zaman sekarang ini teknologi semakin canggih. Dulu orang seringkali mengalami kesulitan dan bahkan bisa saja tersesat ketika mencari alamat yang hendak dituju, atau sulit mengetahui letak atau posisi kita di mana. Tetapi sekarang ada yang namanya GPS (Global Positioning System), suatu alat yang bisa dengan mudah mendeteksi letak atau posisi kita. Dengan alat ini kita dapat dengan mudah menemukan letak dan menentukan arah yang benar, terutama ketika kita sedang menempuh perjalanan.
Pertanyaan: apakah 'GPS' ini juga bisa membantu, menolong, menuntun dan mengarahkan hidup kita kepada jalan kebenaran? Sebab "Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut." (Amsal 14:12). Banyak orang mengalami kebutaan 'rohani' sehingga mereka tidak dapat melihat jalan kebenaran yang sejati. Yang bisa mereka lakukan hanyalah mereka-reka atau menebak-nebak jalan mana yang benar menurut pemikiran sendiri atau menurut kata orang. Bersyukur sebagai orang percaya kita memiliki Roh Kudus yang sudah termeterai di dalam hidup kita. "...di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya," (Efesus 1:13-14). Roh Kudus adalah Penolong bagi kita sebagaimana yang Tuhan Yesus katakan, "...Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu." (Yohanes 14:26). Dengan pertolongan Roh Kudus kita dituntun kepada jalan kebenaran, ialah Tuhan Yesus sendiri. "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku." (Yohanes 14:6).
Saat ini Iblis dengan segala cara berusaha untuk membelokkan arah hidup manusia supaya semakin menjauh dari jalan kebenaran itu. Dengan iming-iming yang menggiurkan dan membuka pintu selebar-lebarnya Iblis berusaha menuntun manusia ke jalan yang ujungnya menuju kepada kebinasaan kekal (Matius 7:13).
Ya Roh Kudus, "...lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!" Mazmur 139:24
Friday, November 3, 2017
TUHAN AKAN MENGGENDONG KITA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 3 November 2017
Baca: Yesaya 66:5-14
"Sesungguhnya, Aku mengalirkan kepadanya keselamatan seperti sungai, dan kekayaan bangsa-bangsa seperti batang air yang membanjir; kamu akan menyusu, akan digendong, akan dibelai-belai di pangkuan." Yesaya 66:12
Kasih setia Tuhan terhadap umat-Nya sungguh tiada terhitung dan tak terbatas. Pemazmur mengakui: "Sebab kasih-Nya hebat atas kita, dan kesetiaan TUHAN untuk selama-lamanya. Haleluya!" (Mazmur 117:2). Keselamatan, perlindungan, pemeliharaan dan berkat-Nya tersedia bagi kita orang percaya. Bahkan Alkitab menggunakan bahasa yang sungguh sangat menenteramkan dan meneduhkan hati, yaitu kita akan 'digendong' Tuhan. Digendong bukan berarti Ia menghendaki kita menjadi anak-anak yang manja, dan bukan berarti setiap kali kita menghadapi masalah dan kesukaran Tuhan langsung menggendong kita. Ada saatnya Tuhan mendidik, dan jika perlu menghajar kita. Ada saatnya pula Tuhan melatih kita untuk berjuang dan berperang.
Pertanyaan: kapan waktu yang tepat Tuhan akan menggendong kita? Ketika kita merasa sudah tidak kuat berjalan, tak mampu menanggung beban pergumulan yang berat. Datanglah kepada Tuhan dan berserahlah kepada-Nya. Saat itulah Tuhan akan mengulurkan tangan-Nya dan menggendong kita. Saat kita mengangkat tangan tanda berserah, Tuhan akan turun tangan menolong kita. Alkitab ingatkan: "Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya." (1 Korintus 10:13).
Kita tidak tahu hal-hal yang ada di depan kita, mungkin di depan ada sesuatu yang buruk dan sangat membahayakan hidup kita, tapi Tuhan tahu segala sesuatunya. Di saat itulah Tuhan akan menggendong kita supaya kita terluput dari hal-hal buruk itu. Saat itulah kita baru menyadari betapa Tuhan mengasihi kita; karena penyertaan dan perlindungan-Nya, kita telah diluputkan dari segala marabahaya.
"Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu." Yesaya 46:4
Baca: Yesaya 66:5-14
"Sesungguhnya, Aku mengalirkan kepadanya keselamatan seperti sungai, dan kekayaan bangsa-bangsa seperti batang air yang membanjir; kamu akan menyusu, akan digendong, akan dibelai-belai di pangkuan." Yesaya 66:12
Kasih setia Tuhan terhadap umat-Nya sungguh tiada terhitung dan tak terbatas. Pemazmur mengakui: "Sebab kasih-Nya hebat atas kita, dan kesetiaan TUHAN untuk selama-lamanya. Haleluya!" (Mazmur 117:2). Keselamatan, perlindungan, pemeliharaan dan berkat-Nya tersedia bagi kita orang percaya. Bahkan Alkitab menggunakan bahasa yang sungguh sangat menenteramkan dan meneduhkan hati, yaitu kita akan 'digendong' Tuhan. Digendong bukan berarti Ia menghendaki kita menjadi anak-anak yang manja, dan bukan berarti setiap kali kita menghadapi masalah dan kesukaran Tuhan langsung menggendong kita. Ada saatnya Tuhan mendidik, dan jika perlu menghajar kita. Ada saatnya pula Tuhan melatih kita untuk berjuang dan berperang.
Pertanyaan: kapan waktu yang tepat Tuhan akan menggendong kita? Ketika kita merasa sudah tidak kuat berjalan, tak mampu menanggung beban pergumulan yang berat. Datanglah kepada Tuhan dan berserahlah kepada-Nya. Saat itulah Tuhan akan mengulurkan tangan-Nya dan menggendong kita. Saat kita mengangkat tangan tanda berserah, Tuhan akan turun tangan menolong kita. Alkitab ingatkan: "Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya." (1 Korintus 10:13).
Kita tidak tahu hal-hal yang ada di depan kita, mungkin di depan ada sesuatu yang buruk dan sangat membahayakan hidup kita, tapi Tuhan tahu segala sesuatunya. Di saat itulah Tuhan akan menggendong kita supaya kita terluput dari hal-hal buruk itu. Saat itulah kita baru menyadari betapa Tuhan mengasihi kita; karena penyertaan dan perlindungan-Nya, kita telah diluputkan dari segala marabahaya.
"Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu." Yesaya 46:4
Thursday, November 2, 2017
IJINKAN TUHAN MENUNTUN HIDUPMU (2)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 2 November 2017
Baca: Yesaya 48:12-22
"Akulah TUHAN, Allahmu, yang mengajar engkau tentang apa yang memberi faedah, yang menuntun engkau di jalan yang harus kautempuh." Yesaya 48:17
Karena salah dalam membuat pilihan dan keputusan, Lot harus menanggung akibatnya: ia kehilangan harta benda, termasuk isteri, yang menjadi tiang garam (baca Kejadian 19:26); dan kota tempat ia tinggal, yaitu Sodom dan Gomora, dibumihanguskan Tuhan. "Demikianlah pada waktu Allah memusnahkan kota-kota di Lembah Yordan dan menunggangbalikkan kota-kota kediaman Lot," (Kejadian 19:29). Pilihan dan keputusan hdiup yang salah dapat berakibat sangat fatal!
Firman Tuhan memperingatkan agar kita bertindak hati-hati dalam segala hal, termasuk dalam membuat pilihan atau keputusan. Jadikan Alkitab sebagai pegangan dan pedoman hidup! "Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung." (Yosua 1:8). Ketidakhati-hatian dalam membuat pilihan dan keputusan dengan mengandalkan kekuatan sendiri, tanpa berdoa terlebih dahulu kepada Tuhan dan melibatkan Dia, seringkali menjadi penyebab terciptanya masalah dalam hidup kita. Bukan keberhasilan, keberuntungan dan kebahagiaan yang kita dapatkan, melainkan kegagalan demi kegagalan, sebab pilihan dan keputusan yang kita buat bisa saja salah atau keliru, seperti Samuel yang hampir salah dalam membuat pilihan ketika hendak mengurapi anak Isai (baca Samuel 16:6-7).
Jangan terburu-buru saat membuat pilihan hidup, bertanyalah kepada Tuhan dan mohon petunjuk-Nya. Sejauh mana kita memercayai Tuhan untuk terlibat di dalam hidup ini, sejauh itu pula kuasa Tuhan akan bekerja di dalam kita. Biarlah Tuhan mengintervensi segala keputusan kita, karena kehendak dan rancangan-Nya adalah yang terbaik, "Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu." (Yesaya 55:8-9).
"Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka terlaksanalah segala rencanamu." Amsal 16:3
Baca: Yesaya 48:12-22
"Akulah TUHAN, Allahmu, yang mengajar engkau tentang apa yang memberi faedah, yang menuntun engkau di jalan yang harus kautempuh." Yesaya 48:17
Karena salah dalam membuat pilihan dan keputusan, Lot harus menanggung akibatnya: ia kehilangan harta benda, termasuk isteri, yang menjadi tiang garam (baca Kejadian 19:26); dan kota tempat ia tinggal, yaitu Sodom dan Gomora, dibumihanguskan Tuhan. "Demikianlah pada waktu Allah memusnahkan kota-kota di Lembah Yordan dan menunggangbalikkan kota-kota kediaman Lot," (Kejadian 19:29). Pilihan dan keputusan hdiup yang salah dapat berakibat sangat fatal!
Firman Tuhan memperingatkan agar kita bertindak hati-hati dalam segala hal, termasuk dalam membuat pilihan atau keputusan. Jadikan Alkitab sebagai pegangan dan pedoman hidup! "Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung." (Yosua 1:8). Ketidakhati-hatian dalam membuat pilihan dan keputusan dengan mengandalkan kekuatan sendiri, tanpa berdoa terlebih dahulu kepada Tuhan dan melibatkan Dia, seringkali menjadi penyebab terciptanya masalah dalam hidup kita. Bukan keberhasilan, keberuntungan dan kebahagiaan yang kita dapatkan, melainkan kegagalan demi kegagalan, sebab pilihan dan keputusan yang kita buat bisa saja salah atau keliru, seperti Samuel yang hampir salah dalam membuat pilihan ketika hendak mengurapi anak Isai (baca Samuel 16:6-7).
Jangan terburu-buru saat membuat pilihan hidup, bertanyalah kepada Tuhan dan mohon petunjuk-Nya. Sejauh mana kita memercayai Tuhan untuk terlibat di dalam hidup ini, sejauh itu pula kuasa Tuhan akan bekerja di dalam kita. Biarlah Tuhan mengintervensi segala keputusan kita, karena kehendak dan rancangan-Nya adalah yang terbaik, "Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu." (Yesaya 55:8-9).
"Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka terlaksanalah segala rencanamu." Amsal 16:3
Wednesday, November 1, 2017
IJINKAN TUHAN MENUNTUN HIDUPMU (1)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 1 November 2017
Baca: Yakobus 4:13-17
"Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: 'Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung'," Yakobus 4:13
Banyak orang percaya menjalani hidup dalam keluh kesah karena pelbagai masalah, pencobaan atau kesusahan yang dialaminya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena mereka salah dalam membuat keputusan-keputusan dalam hidupnya. Kita tahu hidup ini penuh dengan pilihan dan juga keputusan, yang kesemuanya bergantung pada diri kita sendiri. Tuhan tidak pernah memaksakan kehendak-Nya atas pilihan-pilihan hidup yang kita ambil, Ia memberikan kehendak bebas (free will) kepada kita.
Semua pilihan atau keputusan ada konsekuensinya. Karena itu firman menyatakan: "...kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu, dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya," (Ulangan 30:19-20). Mungkin kita sudah memiliki segudang agenda dan rencana yang hendak kita capai. Adalah bijak menyerahkan seluruh rencana hidup kepada Tuhan sebelum melangkah. "Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana." (Amsal 19:21). Kita pasti akan mengalami hidup yang berkemenangan dan berhasil apabila kita mau seturut dengan kehendak Tuhan dan mengikuti petunjuk-petunjuk-Nya.
Ketika terjadi perselisihan antara gembala Lot dan Abraham (Kejadian 13:8), Abraham memberi kesempatan kepada Lot untuk memilih terlebih dahulu daerah penggembalaannya. Abraham tidak takut Lot mendapatkan tempat yang jauh lebih baik dari dirinya karena ia percaya kepada Tuhan dan kehendak-Nya. Bukti bahwa Abraham memiliki penyerahan diri kepada Tuhan. "Lalu Lot melayangkan pandangnya dan dilihatnyalah, bahwa seluruh Lembah Yordan banyak airnya, seperti taman TUHAN, seperti tanah Mesir, sampai ke Zoar. --Hal itu terjadi sebelum TUHAN memusnahkan Sodom dan Gomora. --" (Kejadian 13:10).
Lot membuat pilihan dan keputusan hidup berdasarkan apa dipandangnya baik menurut pikiran, perasaan dan mata jasmaninya tanpa bertanya kepada Tuhan terlebih dahulu.
Baca: Yakobus 4:13-17
"Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: 'Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung'," Yakobus 4:13
Banyak orang percaya menjalani hidup dalam keluh kesah karena pelbagai masalah, pencobaan atau kesusahan yang dialaminya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena mereka salah dalam membuat keputusan-keputusan dalam hidupnya. Kita tahu hidup ini penuh dengan pilihan dan juga keputusan, yang kesemuanya bergantung pada diri kita sendiri. Tuhan tidak pernah memaksakan kehendak-Nya atas pilihan-pilihan hidup yang kita ambil, Ia memberikan kehendak bebas (free will) kepada kita.
Semua pilihan atau keputusan ada konsekuensinya. Karena itu firman menyatakan: "...kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu, dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya," (Ulangan 30:19-20). Mungkin kita sudah memiliki segudang agenda dan rencana yang hendak kita capai. Adalah bijak menyerahkan seluruh rencana hidup kepada Tuhan sebelum melangkah. "Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana." (Amsal 19:21). Kita pasti akan mengalami hidup yang berkemenangan dan berhasil apabila kita mau seturut dengan kehendak Tuhan dan mengikuti petunjuk-petunjuk-Nya.
Ketika terjadi perselisihan antara gembala Lot dan Abraham (Kejadian 13:8), Abraham memberi kesempatan kepada Lot untuk memilih terlebih dahulu daerah penggembalaannya. Abraham tidak takut Lot mendapatkan tempat yang jauh lebih baik dari dirinya karena ia percaya kepada Tuhan dan kehendak-Nya. Bukti bahwa Abraham memiliki penyerahan diri kepada Tuhan. "Lalu Lot melayangkan pandangnya dan dilihatnyalah, bahwa seluruh Lembah Yordan banyak airnya, seperti taman TUHAN, seperti tanah Mesir, sampai ke Zoar. --Hal itu terjadi sebelum TUHAN memusnahkan Sodom dan Gomora. --" (Kejadian 13:10).
Lot membuat pilihan dan keputusan hidup berdasarkan apa dipandangnya baik menurut pikiran, perasaan dan mata jasmaninya tanpa bertanya kepada Tuhan terlebih dahulu.
Subscribe to:
Comments (Atom)