Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 3 Juli 2017
Baca: Mazmur 119:1-16
"Aku akan bergemar dalam ketetapan-ketetapan-Mu; firman-Mu tidak akan kulupakan." Mazmur 119:16
Sudahkah Saudara membaca Alkitab sampai tuntas, mulai dari kitab Kejadian sampai Wahyu? Jawabannya mungkin belum. Meski sudah menjadi pengikut Kristus bertahun-tahun, sedikit orang Kristen yang mampu menyelesaikan pembacaan Alkitab secara tuntas. Sementara kita sering mendengar banyak orang dari kepercayaan lain justru sudah membaca kitab suci mereka sampai khatam (tamat) berkali-kali. Kesibukan menjadi alasan klise bagi orang Kristen sehingga tidak sempat membaca Alkitab atau bahkan tidak pernah membaca Alkitab, kecuali ketika di tempat ibadah. Mereka berpikir bahwa datang ke gereja setiap Minggu itu sudah lebih dari cukup, baca Alkitab tidak terlalu penting.
Pesan Tuhan kepada Yosua, "Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi
renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati
sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian
perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung." (Yosua 1:8). Untuk dapat bertindak hati-hati sesuai kehendak Tuhan hanya dimungkinkan jika kita membaca dan merenungkan Kitab Suci itu siang dan malam, bukan hanya sesekali atau kalau sempat. Ini adalah keharusan! Kegiatan membaca Kitab Suci tidak bisa digantikan dengan kegiatan-kegiatan rohani apa pun. Yang dimaksud membaca adalah menunjuk kepada keseluruhan proses belajar: menyimak, meneliti, merenungkan, dan menyimpannya dalam hati (Mazmur 1:1-3), seperti Ezra yang "...bertekad untuk meneliti Taurat TUHAN dan melakukannya serta mengajar ketetapan dan peraturan di antara orang Israel." (Ezra 7:10).
Iblis tidak takut orang Kristen tampak rajin ke gereja dan terlibat aktif dalam pelayanan, yang ia takutkan adalah jika orang Kristen tekun membaca, mempelajari dan merenungkan firman Tuhan. Karena itu Iblis terus menghembuskan roh kemalasan dan kantuk supaya orang Kristen enggan membaca Alkitab, tujuannya adalah supaya mereka tidak punya pondasi iman yang kuat, tidak tahu tentang kebenaran firman, sehingga mereka akan mudah untuk disesatkan dan diombang-ambingkan!
"Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari." Mazmur 119:97
Monday, July 3, 2017
Sunday, July 2, 2017
JANGAN BERLAKU SEPERTI KUDA ATAU BAGAL (2)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 2 Juli 2017
Baca: Mazmur 105:1-11
"Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu!" Mazmur 105:4
Jika sampai saat ini kita mampu menjalani hari-hari, karena apa? Jika kita masih dapat bernafas dan menghirup udara segar, karena apa? Semua itu bukan karena kuat dan gagah kita, tapi semata-mata karena anugerah, sebab "...di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa." (Yohanes 15:5b). Jika menyadari betapa besar kasih Tuhan dalam hidup ini seharusnya kita semakin terdorong untuk mendekat kepada-Nya dan membangkitkan kerinduan kita untuk mengenal Dia lebih dalam lagi. Tuhan berkata, "Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran." (Hosea 6:6). Tanpa sadar selama ini yang kita ingini dari Tuhan hanyalah berkat-Nya, mujizat-Nya, dan pertolongan-Nya, tapi kita tidak merindukan Pribadi-Nya dan tidak mau mencari wajah-Nya!
Masih mengenai kuda, kuda juga memiliki kecenderungan untuk lari menjauh. Ini menunjukkan betapa susahnya menjinakkan kuda. Meski telah dirawat dengan baik, begitu ada kesempatan atau celah sedikit saja kuda akan berusaha lari dari tuannya. Itulah sebabnya pemazmur menyebut kuda atau bagal sebagai binatang yang tidak berakal. Seringkali hanya karena terbentur masalah, kesulitan atau menghadapi pergumulan hidup yang berat, kita gampang sekali memberontak kepada Tuhan, mengeluh, bersungut-sungut, dan mengomel. Bahkan bukannya semakin mendekatkan diri kepada Tuhan, tapi malah semakin menjauh dan meninggalkan Dia, karena merasa kecewa. Kita pun menjadi orang Kristen yang bebal! Nasihat dan teguran firman Tuhan kita abaikan. "Orang yang mengarahkan telinga kepada teguran yang membawa kepada kehidupan akan tinggal di tengah-tengah orang bijak. Siapa mengabaikan didikan membuang dirinya sendiri, tetapi siapa mendengarkan teguran, memperoleh akal budi." (Amsal 15:31-32).
Dalam situasi seperti ini Tuhan tahu persis bagaimana cara mengajar kita, yaitu menggunakan tali les dan kekang! Tuhan akan mengijinkan hal-hal yang tidak kita inginkan terjadi yang secara daging mungkin sakit, dengan tujuan untuk menarik kita mendekat kepada-Nya dan supaya kita menyadari kesalahan kita.
"Didikan yang keras adalah bagi orang yang meninggalkan jalan yang benar," Amsal 15:10
Baca: Mazmur 105:1-11
"Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu!" Mazmur 105:4
Jika sampai saat ini kita mampu menjalani hari-hari, karena apa? Jika kita masih dapat bernafas dan menghirup udara segar, karena apa? Semua itu bukan karena kuat dan gagah kita, tapi semata-mata karena anugerah, sebab "...di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa." (Yohanes 15:5b). Jika menyadari betapa besar kasih Tuhan dalam hidup ini seharusnya kita semakin terdorong untuk mendekat kepada-Nya dan membangkitkan kerinduan kita untuk mengenal Dia lebih dalam lagi. Tuhan berkata, "Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran." (Hosea 6:6). Tanpa sadar selama ini yang kita ingini dari Tuhan hanyalah berkat-Nya, mujizat-Nya, dan pertolongan-Nya, tapi kita tidak merindukan Pribadi-Nya dan tidak mau mencari wajah-Nya!
Masih mengenai kuda, kuda juga memiliki kecenderungan untuk lari menjauh. Ini menunjukkan betapa susahnya menjinakkan kuda. Meski telah dirawat dengan baik, begitu ada kesempatan atau celah sedikit saja kuda akan berusaha lari dari tuannya. Itulah sebabnya pemazmur menyebut kuda atau bagal sebagai binatang yang tidak berakal. Seringkali hanya karena terbentur masalah, kesulitan atau menghadapi pergumulan hidup yang berat, kita gampang sekali memberontak kepada Tuhan, mengeluh, bersungut-sungut, dan mengomel. Bahkan bukannya semakin mendekatkan diri kepada Tuhan, tapi malah semakin menjauh dan meninggalkan Dia, karena merasa kecewa. Kita pun menjadi orang Kristen yang bebal! Nasihat dan teguran firman Tuhan kita abaikan. "Orang yang mengarahkan telinga kepada teguran yang membawa kepada kehidupan akan tinggal di tengah-tengah orang bijak. Siapa mengabaikan didikan membuang dirinya sendiri, tetapi siapa mendengarkan teguran, memperoleh akal budi." (Amsal 15:31-32).
Dalam situasi seperti ini Tuhan tahu persis bagaimana cara mengajar kita, yaitu menggunakan tali les dan kekang! Tuhan akan mengijinkan hal-hal yang tidak kita inginkan terjadi yang secara daging mungkin sakit, dengan tujuan untuk menarik kita mendekat kepada-Nya dan supaya kita menyadari kesalahan kita.
"Didikan yang keras adalah bagi orang yang meninggalkan jalan yang benar," Amsal 15:10
Saturday, July 1, 2017
JANGAN BERLAKU SEPERTI KUDA ATAU BAGAL (1)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 1 Juli 2017
Baca: Mazmur 32:1-11
"Janganlah seperti kuda atau bagal yang tidak berakal, yang kegarangannya harus dikendalikan dengan tali les dan kekang, kalau tidak, ia tidak akan mendekati engkau." Mazmur 32:9
Seringkali timbul pertanyaan di benak kita: "Mengapa masalah masih dialami oleh orang yang percaya kepada Kristus? Mengapa Tuhan seolah-olah membiarkan umat-Nya berjuang sendirian menghadapi pergumulan hidup?" Tuhan tidak pernah berjanji bahwa setiap orang percaya kepada-Nya pasti terbebas dari masalah, namun yang pasti bahwa masalah yang dialami "...tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya." (1 Korintus 10:13). Pemazmur juga menyatakan, "Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu;" (Mazmur 34:20).
Jika Tuhan mengijinkan masalah berarti Ia pasti punya suatu rencana di balik masalah tersebut. Adakalanya Tuhan menggunakan masalah sebagai salah satu cara untuk mengajar kita. "Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu." (Mazmur 32:8). Tuhan perlu mengajar kita karena Ia hendak memperbaiki kualitas hidup kita. Dalam mazmur ini Tuhan tidak menghendaki umat-Nya berlaku seperti kuda atau bagal! Ada beberapa sifat dasar dari kuda, antara lain tidak bisa mengenal siapa pemiliknya meski ia dirawat setiap hari olehnya; secara refleks kuda akan menyepak siapa saja yang mendekatinya dari belakang, atau akan mengangkat kedua kaki depannya dan menendang siapa saja yang mencoba untuk mendekatinya dari depan, sekalipun itu adalah pemiliknya sendiri.
Bukankah kita tanpa sadar seringkali berlaku seperti kuda atau bagal? Padahal Tuhan telah menyelamatkan hidup kita, menebus dosa-dosa kita melalui pengorban-Nya di atas kayu salib; ketika sakit-penyakit menimpa, Tuhanlah yang menyembuhkan; ketika mengalami jalan buntu, Tuhanlah yang membuka jalan bagi kita; ketika berada dalam krisis, Tuhan selalu hadir untuk menolong dan memulihkan keadaan kita. Meski demikian, kita tetap saja tidak memiliki pengenalan yang benar akan Dia. (Bersambung)
Baca: Mazmur 32:1-11
"Janganlah seperti kuda atau bagal yang tidak berakal, yang kegarangannya harus dikendalikan dengan tali les dan kekang, kalau tidak, ia tidak akan mendekati engkau." Mazmur 32:9
Seringkali timbul pertanyaan di benak kita: "Mengapa masalah masih dialami oleh orang yang percaya kepada Kristus? Mengapa Tuhan seolah-olah membiarkan umat-Nya berjuang sendirian menghadapi pergumulan hidup?" Tuhan tidak pernah berjanji bahwa setiap orang percaya kepada-Nya pasti terbebas dari masalah, namun yang pasti bahwa masalah yang dialami "...tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya." (1 Korintus 10:13). Pemazmur juga menyatakan, "Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu;" (Mazmur 34:20).
Jika Tuhan mengijinkan masalah berarti Ia pasti punya suatu rencana di balik masalah tersebut. Adakalanya Tuhan menggunakan masalah sebagai salah satu cara untuk mengajar kita. "Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu." (Mazmur 32:8). Tuhan perlu mengajar kita karena Ia hendak memperbaiki kualitas hidup kita. Dalam mazmur ini Tuhan tidak menghendaki umat-Nya berlaku seperti kuda atau bagal! Ada beberapa sifat dasar dari kuda, antara lain tidak bisa mengenal siapa pemiliknya meski ia dirawat setiap hari olehnya; secara refleks kuda akan menyepak siapa saja yang mendekatinya dari belakang, atau akan mengangkat kedua kaki depannya dan menendang siapa saja yang mencoba untuk mendekatinya dari depan, sekalipun itu adalah pemiliknya sendiri.
Bukankah kita tanpa sadar seringkali berlaku seperti kuda atau bagal? Padahal Tuhan telah menyelamatkan hidup kita, menebus dosa-dosa kita melalui pengorban-Nya di atas kayu salib; ketika sakit-penyakit menimpa, Tuhanlah yang menyembuhkan; ketika mengalami jalan buntu, Tuhanlah yang membuka jalan bagi kita; ketika berada dalam krisis, Tuhan selalu hadir untuk menolong dan memulihkan keadaan kita. Meski demikian, kita tetap saja tidak memiliki pengenalan yang benar akan Dia. (Bersambung)
Friday, June 30, 2017
BUTA ROHANI: Tidak Melihat Kebenaran
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 30 Juni 2017
Baca: Matius 15:1-20
"Jika orang buta menuntun orang buta, pasti keduanya jatuh ke dalam lobang." Matius 15:14b
Apa yang terbayang di benak Saudara jika melihat ada 2 orang buta yang hendak menyeberangi jalan umum, sementara jalan tersebut penuh dengan kendaraan yang sedang lalu lalang? Tentu itu sangat berbahaya! Kita pasti akan berpikir bahwa kecil kemungkinan kedua orang buta tersebut dapat menyeberangi jalan dengan selamat, atau kemungkinan terburuknya adalah mereka akan tertabrak oleh kendaraan.
Pernyataan keras pada ayat nas disampaikan Yesus untuk menyindir keberadaan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang secara lahiriah memiliki mata normal alias dapat melihat, tetapi sesungguhnya mereka mengalami kebutaan rohani, sehingga tidak dapat melihat kebenaran. "Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia." (ayat 8-9). Mereka tahu tentang kebenaran secara detil, memiliki ilmu teologia sangat tinggi, bahkan cakap mengajar orang lain, namun tragisnya mereka sendiri tidak hidup dalam kebenaran... apalah arti semuanya itu? Jika mereka sendiri tidak hidup dalam kebenaran bagaimana mungkin membawa orang lain kepada kebenaran? Bagaimana mungkin menjadi berkat atau kesaksian bagi orang lain? Menjadi batu sandungan, iya. "Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya." (Matius 23:3).
Alkitab menyatakan bahwa setiap orang yang belum mengenal Kristus disebut sebagai orang-orang yang masih buta rohaninya karena mereka belum melihat terang, sebab Kristus adalah terang itu sendiri (baca Yohanes 8:12). Tetapi ada pula orang-orang yang sudah tahu kebenaran, mendengar berita Injil, tapi tidak mau percaya, karena "...pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah." (2 Korintus 4:4).
Sebagai orang percaya, yang telah menerima terang Kristus dan firman-Nya, seharusnya kita memiliki kehidupan yang memancarkan terang bagi orang lain, sehingga orang lain dapat 'melihat' kebenaran itu melalui kita.
Baca: Matius 15:1-20
"Jika orang buta menuntun orang buta, pasti keduanya jatuh ke dalam lobang." Matius 15:14b
Apa yang terbayang di benak Saudara jika melihat ada 2 orang buta yang hendak menyeberangi jalan umum, sementara jalan tersebut penuh dengan kendaraan yang sedang lalu lalang? Tentu itu sangat berbahaya! Kita pasti akan berpikir bahwa kecil kemungkinan kedua orang buta tersebut dapat menyeberangi jalan dengan selamat, atau kemungkinan terburuknya adalah mereka akan tertabrak oleh kendaraan.
Pernyataan keras pada ayat nas disampaikan Yesus untuk menyindir keberadaan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang secara lahiriah memiliki mata normal alias dapat melihat, tetapi sesungguhnya mereka mengalami kebutaan rohani, sehingga tidak dapat melihat kebenaran. "Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia." (ayat 8-9). Mereka tahu tentang kebenaran secara detil, memiliki ilmu teologia sangat tinggi, bahkan cakap mengajar orang lain, namun tragisnya mereka sendiri tidak hidup dalam kebenaran... apalah arti semuanya itu? Jika mereka sendiri tidak hidup dalam kebenaran bagaimana mungkin membawa orang lain kepada kebenaran? Bagaimana mungkin menjadi berkat atau kesaksian bagi orang lain? Menjadi batu sandungan, iya. "Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya." (Matius 23:3).
Alkitab menyatakan bahwa setiap orang yang belum mengenal Kristus disebut sebagai orang-orang yang masih buta rohaninya karena mereka belum melihat terang, sebab Kristus adalah terang itu sendiri (baca Yohanes 8:12). Tetapi ada pula orang-orang yang sudah tahu kebenaran, mendengar berita Injil, tapi tidak mau percaya, karena "...pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah." (2 Korintus 4:4).
Sebagai orang percaya, yang telah menerima terang Kristus dan firman-Nya, seharusnya kita memiliki kehidupan yang memancarkan terang bagi orang lain, sehingga orang lain dapat 'melihat' kebenaran itu melalui kita.
Thursday, June 29, 2017
BERJEJAK DI ATAS BATU MASALAH
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 29 Juni 2017
Baca: Habakuk 3:1-19
"ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku." Habakuk 3:19
Rusa adalah binatang lemah, tetapi kekuatan kaki-kakinya sangat mengagumkan karena mampu dengan lincahnya menjejak di atas bukit berbatu, melewati rintangan, hingga akhirnya sampai pada tempat tinggi dan jauh di puncak bukit. Itulah sebabnya rusa kerap kali dipakai dalam Alkitab untuk menggambarkan kekuatan dan daya tahan yang diberikan Tuhan bagi orang percaya untuk menghadapi dan melewati masa-masa sulit dalam kehidupan.
Sesungguhnya Habakuk pun punya alasan lemah dan putus asa: "Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang," (ayat 17), yang adalah gambaran suatu keadaan yang sangat memprihatinkan, "namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN," (ayat 18). Habakuk mampu bertahan di tengah kesulitan karena ia senantiasa memandang Tuhan dan mengandalkan-Nya. Tuhan-lah sumber kekuatan dalam hidupnya! Jika Tuhan yang menyertai tidak ada perkara yang mustahil.
Semua orang mengakui bahwa hidup di zaman seperti sekarang ini sangatlah berat bagaikan menempuh perjalanan di padang gurun, melewati kerikil, dan bahkan batu-batu tajam yang berat. Sebagaimana rusa adalah binatang lemah, kita pun adalah manusia lemah yang penuh keterbatasan dan rentan terhadap marabahaya. Jika rusa yang secara fisik tergolong hewan lemah, namun memiliki kaki yang mampu menjejak dia atas bebatuan dan jalan-jalan penuh cadas dan mendaki, adakah yang sukar bagi orang percaya? Bersama Tuhan kita pasti bisa melakukannya, karena "Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan," (Efesus 3:20). Bersama Tuhan kita beroleh kekatan untuk menghadapi semuanya, dan bahkan membuat kita seperti rusa yang mampu menjejak di atas batu-batu permasalahan. Oleh karena itu jangan pernah menyerah pada keadaan yang seberat apa pun!
"Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku." Filipi 4:13
Baca: Habakuk 3:1-19
"ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku." Habakuk 3:19
Rusa adalah binatang lemah, tetapi kekuatan kaki-kakinya sangat mengagumkan karena mampu dengan lincahnya menjejak di atas bukit berbatu, melewati rintangan, hingga akhirnya sampai pada tempat tinggi dan jauh di puncak bukit. Itulah sebabnya rusa kerap kali dipakai dalam Alkitab untuk menggambarkan kekuatan dan daya tahan yang diberikan Tuhan bagi orang percaya untuk menghadapi dan melewati masa-masa sulit dalam kehidupan.
Sesungguhnya Habakuk pun punya alasan lemah dan putus asa: "Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang," (ayat 17), yang adalah gambaran suatu keadaan yang sangat memprihatinkan, "namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN," (ayat 18). Habakuk mampu bertahan di tengah kesulitan karena ia senantiasa memandang Tuhan dan mengandalkan-Nya. Tuhan-lah sumber kekuatan dalam hidupnya! Jika Tuhan yang menyertai tidak ada perkara yang mustahil.
Semua orang mengakui bahwa hidup di zaman seperti sekarang ini sangatlah berat bagaikan menempuh perjalanan di padang gurun, melewati kerikil, dan bahkan batu-batu tajam yang berat. Sebagaimana rusa adalah binatang lemah, kita pun adalah manusia lemah yang penuh keterbatasan dan rentan terhadap marabahaya. Jika rusa yang secara fisik tergolong hewan lemah, namun memiliki kaki yang mampu menjejak dia atas bebatuan dan jalan-jalan penuh cadas dan mendaki, adakah yang sukar bagi orang percaya? Bersama Tuhan kita pasti bisa melakukannya, karena "Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan," (Efesus 3:20). Bersama Tuhan kita beroleh kekatan untuk menghadapi semuanya, dan bahkan membuat kita seperti rusa yang mampu menjejak di atas batu-batu permasalahan. Oleh karena itu jangan pernah menyerah pada keadaan yang seberat apa pun!
"Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku." Filipi 4:13
Tuesday, June 27, 2017
GILGAL: Mata Tertuju Kepada Tuhan (2)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 27 Juni 2017
Baca: Yosua 5:1-12
"Sebab, semua orang yang keluar dari Mesir itu telah bersunat, tetapi semua orang yang lahir di padang gurun dalam perjalanan sejak keluar dari Mesir, belum disunat." Yosua 5:5
Fakta penting lain berkenaan Gilgal adalah: 3. Di tempat ini orang-orang Israel disunat. Tuhan memberikan perintah kepada Yosua: "Buatlah pisau dari batu dan sunatlah lagi orang Israel itu, untuk kedua kalinya." (ayat 2), dan "Setelah seluruh bangsa itu selesai disunat, maka tinggallah mereka di tempatnya masing-masing di perkemahan itu, sampai mereka sembuh." (ayat 8). Sunat di Gilgal adalah tanda penghapusan cela Mesir (ayat 9). Alkitab menyatakan bahwa sunat adalah tanda perjanjian yang dilakukan Abraham dan keturunannya laki-laki (baca Kejadian 17:10-14).
Apa makna sunat bagi orang percaya? Sunat secara rohani adalah tanda pertobatan, yaitu tindakan memotong atau membuang segala kehidupan lama yang melekat dalam diri orang percaya, lalu berjalan dalam sebuah kehidupan baru bersama Kristus. "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." (2 Korintus 5:17). Rasul Paulus menegaskan, "Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa," (Kolose 2:11). Setiap orang percaya yang telah meninggalkan kehidupannya yang lama adalah orang-orang yang 'bersunat', yang akan menikmati segala berkat dari perjanjian Bapa bagi Abraham. Karena itu bersunat atau tidak bersunat secara lahiriah tidaklah penting, yang penting ialah menaati hukum-hukum Tuhan (baca 1 Korintus 7:19).
4. Di Gilgal orang-orang Israel mendapatkan pembagian Tanah Perjanjian (baca Yosua 14). Salah satunya adalah Kaleb. "...Yosua memberkati Kaleb bin Yefune, dan diberikannyalah Hebron kepadanya menjadi milik pusakanya... karena ia tetap mengikuti TUHAN, Allah Israel, dengan sepenuh hati." (Yosua 14:13-14). Setiap orang yang percaya Kristus adalah orang-orang yang berhak menerima janji-janji-Nya, dan di dalam Dia-lah kita mendapatkan segala berkat rohani dalam sorga (baca Efesus 1:3).
Selama umat Israel hidup menurut aturan Tuhan dan mata hanya tertuju kepada-Nya, kemenangan menjadi milik mereka!
Baca: Yosua 5:1-12
"Sebab, semua orang yang keluar dari Mesir itu telah bersunat, tetapi semua orang yang lahir di padang gurun dalam perjalanan sejak keluar dari Mesir, belum disunat." Yosua 5:5
Fakta penting lain berkenaan Gilgal adalah: 3. Di tempat ini orang-orang Israel disunat. Tuhan memberikan perintah kepada Yosua: "Buatlah pisau dari batu dan sunatlah lagi orang Israel itu, untuk kedua kalinya." (ayat 2), dan "Setelah seluruh bangsa itu selesai disunat, maka tinggallah mereka di tempatnya masing-masing di perkemahan itu, sampai mereka sembuh." (ayat 8). Sunat di Gilgal adalah tanda penghapusan cela Mesir (ayat 9). Alkitab menyatakan bahwa sunat adalah tanda perjanjian yang dilakukan Abraham dan keturunannya laki-laki (baca Kejadian 17:10-14).
Apa makna sunat bagi orang percaya? Sunat secara rohani adalah tanda pertobatan, yaitu tindakan memotong atau membuang segala kehidupan lama yang melekat dalam diri orang percaya, lalu berjalan dalam sebuah kehidupan baru bersama Kristus. "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." (2 Korintus 5:17). Rasul Paulus menegaskan, "Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa," (Kolose 2:11). Setiap orang percaya yang telah meninggalkan kehidupannya yang lama adalah orang-orang yang 'bersunat', yang akan menikmati segala berkat dari perjanjian Bapa bagi Abraham. Karena itu bersunat atau tidak bersunat secara lahiriah tidaklah penting, yang penting ialah menaati hukum-hukum Tuhan (baca 1 Korintus 7:19).
4. Di Gilgal orang-orang Israel mendapatkan pembagian Tanah Perjanjian (baca Yosua 14). Salah satunya adalah Kaleb. "...Yosua memberkati Kaleb bin Yefune, dan diberikannyalah Hebron kepadanya menjadi milik pusakanya... karena ia tetap mengikuti TUHAN, Allah Israel, dengan sepenuh hati." (Yosua 14:13-14). Setiap orang yang percaya Kristus adalah orang-orang yang berhak menerima janji-janji-Nya, dan di dalam Dia-lah kita mendapatkan segala berkat rohani dalam sorga (baca Efesus 1:3).
Selama umat Israel hidup menurut aturan Tuhan dan mata hanya tertuju kepada-Nya, kemenangan menjadi milik mereka!
Monday, June 26, 2017
GILGAL: Mata Tertuju Kepada Tuhan (1)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 26 Juni 2017
Baca: Yosua 5:1-12
"Dan berfirmanlah TUHAN kepada Yosua: "Hari ini telah Kuhapuskan cela Mesir itu dari padamu." Itulah sebabnya nama tempat itu disebut Gilgal sampai sekarang." Yosua 5:9
Gilgal adalah tempat yang memiliki sejarah penting bagi bangsa Israel. Gilgal terletak dekat kota Yerikho, kemungkinan terletak di pegunungan Efraim, sekitar 13 kilometer barat laut Betel. Gilgal dijadikan tempat persinggahan Yosua beserta bangsa Israel dan juga basis operasi militer selama penaklukan Kanaan dan kota-kota lainnya. Setelah setiap kemenangan diraih mereka pun kembali ke markas yaitu ke perkemahan besar di Gilgal.
Fakta penting tentang kota Gilgal ini menggambarkan kehidupan orang percaya: 1. Di Gilgal Yosua meletakkan batu-batu peringatan. "Kedua belas batu yang diambil dari sungai Yordan itu ditegakkan oleh Yosua di Gilgal." (Yosua 4:20). Tujuan diletakkannya 12 batu (sesuai jumlah suku Israel) adalah supaya anak cucu Israel dapat melihat tanda bahwa bukan dengan kekuatan dan kegagahan sendiri bangsa Israel dapat masuk ke Tanah Perjanjian, melainkan Tuhan yang menuntun dan menolong mereka. "supaya semua bangsa di bumi tahu, bahwa kuat tangan TUHAN, dan supaya mereka selalu takut kepada TUHAN, Allahmu." (Yosua 4:24). Karena itu mereka harus menghormati Tuhan dan beribadah hanya kepada-Nya. Bagi orang percaya di zaman ini kita mempunyai kesaksian melalui firman Tuhan, "...dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu, di mana zaman akhir telah tiba." (1 Korintus 10:11).
2. Di Gilgal mereka merayakan Paskah (Yosua 5:10-11). Ini adalah perayaan Paskah pertama dari generasi baru yang masuk ke Tanah Perjanjian. Kembali ke Gilgal berarti mengingat kembali pengorbanan Kristus di kayu salib, di mana Kristus mati sebagai domba paskah untuk menebus dosa-dosa kita. Dahulu "...setiap imam melakukan tiap-tiap hari pelayanannya dan berulang-ulang mempersembahkan korban yang sama, yang sama sekali tidak dapat menghapuskan dosa." (Ibrani 10:11), tetapi "...Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia." (Ibrani 9:28). (Bersambung)
Baca: Yosua 5:1-12
"Dan berfirmanlah TUHAN kepada Yosua: "Hari ini telah Kuhapuskan cela Mesir itu dari padamu." Itulah sebabnya nama tempat itu disebut Gilgal sampai sekarang." Yosua 5:9
Gilgal adalah tempat yang memiliki sejarah penting bagi bangsa Israel. Gilgal terletak dekat kota Yerikho, kemungkinan terletak di pegunungan Efraim, sekitar 13 kilometer barat laut Betel. Gilgal dijadikan tempat persinggahan Yosua beserta bangsa Israel dan juga basis operasi militer selama penaklukan Kanaan dan kota-kota lainnya. Setelah setiap kemenangan diraih mereka pun kembali ke markas yaitu ke perkemahan besar di Gilgal.
Fakta penting tentang kota Gilgal ini menggambarkan kehidupan orang percaya: 1. Di Gilgal Yosua meletakkan batu-batu peringatan. "Kedua belas batu yang diambil dari sungai Yordan itu ditegakkan oleh Yosua di Gilgal." (Yosua 4:20). Tujuan diletakkannya 12 batu (sesuai jumlah suku Israel) adalah supaya anak cucu Israel dapat melihat tanda bahwa bukan dengan kekuatan dan kegagahan sendiri bangsa Israel dapat masuk ke Tanah Perjanjian, melainkan Tuhan yang menuntun dan menolong mereka. "supaya semua bangsa di bumi tahu, bahwa kuat tangan TUHAN, dan supaya mereka selalu takut kepada TUHAN, Allahmu." (Yosua 4:24). Karena itu mereka harus menghormati Tuhan dan beribadah hanya kepada-Nya. Bagi orang percaya di zaman ini kita mempunyai kesaksian melalui firman Tuhan, "...dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu, di mana zaman akhir telah tiba." (1 Korintus 10:11).
2. Di Gilgal mereka merayakan Paskah (Yosua 5:10-11). Ini adalah perayaan Paskah pertama dari generasi baru yang masuk ke Tanah Perjanjian. Kembali ke Gilgal berarti mengingat kembali pengorbanan Kristus di kayu salib, di mana Kristus mati sebagai domba paskah untuk menebus dosa-dosa kita. Dahulu "...setiap imam melakukan tiap-tiap hari pelayanannya dan berulang-ulang mempersembahkan korban yang sama, yang sama sekali tidak dapat menghapuskan dosa." (Ibrani 10:11), tetapi "...Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia." (Ibrani 9:28). (Bersambung)
Sunday, June 25, 2017
BUNUH DIRI SEBAGAI TINDAKAN BODOH
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 25 Juni 2017
Baca: Pengkhotbah 7:1-22
"Janganlah terlalu fasik, janganlah bodoh! Mengapa engkau mau mati sebelum waktumu?" Pengkhotbah 7:17
Beberapa waktu yang lalu, tepatnya pada Jumat (3/3/2017), dunia hiburan dikejutkan dengan berita meninggalnya Tommy Page, penyanyi dan eksekutif musik yang dikenal melalui lagu I'll be Your everything, meninggal di usia 46 tahun. Kematian Tommy Page masih menyisakan misteri. Beberapa media luar negeri menyebutkan bahwa Tommy Page meninggal karena gantung diri. Namun hingga renungan ini ditulis belum ada pernyataan resmi dari pihak berwenang terkait kematiannya.
Bunuh diri (Inggris: suicide, berasal dari kata Latin suicidium, dari sui caedere, membunuh diri sendiri) adalah sebuah tindakan sengaja yang menyebabkan kematian diri sendiri. Bunuh diri seringkali dilakukan orang akibat putus asa, depresi, putus cinta, menanggung beban hidup yang teramat berat (himpitan ekonomi), pertengkaran dalam rumah tangga, atau rasa malu yang terlampau besar. Orang yang mengambil keputusan untuk bunuh diri seringkali tidak sadar kalau ia mau dan mampu melakukannya (tindakan bunuh diri), sebab dalam kehidupan sehari-hari tidak menunjukkan suatu gejala atau tanda yang menjurus ke arah perbuatan nekat tersebut. Bahkan ada kalanya orang yang sangat kaya atau terkenal bisa saja nekat melakukan tindakan bunuh diri karena masalah yang sepele. Orang yang bunuh diri artinya telah melepaskan satu anugerah Tuhan yang sangat besar, yaitu hidup. Kita tahu bahwa sehebat apa pun manusia dan secanggih apa pun teknologi yang ada di dunia ini takkan mampu menciptakan nafas kehidupan bagi manusia. Bunuh diri berarti membuang kesempatan yang Tuhan beri, tidak menghargai anugerah dan karya Tuhan dalam hidupnya.
Seberat apa pun masalah yang dialami tidak seharusnya manusia melakukan tindakan bodoh ini bila ia merespons kasih Tuhan. "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu." (Matius 11:28). Bunuh diri adalah perbuatan yang sangat mempermalukan nama Tuhan. Orang yang bunuh diri telah merusak dan menggagalkan rencana Tuhan dalam kehidupannya.
Sekalipun berat masalah yang kita alami, pasti ada jalan keluarnya, asal kita mau datang kepada Tuhan dan meminta pertolongan-Nya!
Baca: Pengkhotbah 7:1-22
"Janganlah terlalu fasik, janganlah bodoh! Mengapa engkau mau mati sebelum waktumu?" Pengkhotbah 7:17
Beberapa waktu yang lalu, tepatnya pada Jumat (3/3/2017), dunia hiburan dikejutkan dengan berita meninggalnya Tommy Page, penyanyi dan eksekutif musik yang dikenal melalui lagu I'll be Your everything, meninggal di usia 46 tahun. Kematian Tommy Page masih menyisakan misteri. Beberapa media luar negeri menyebutkan bahwa Tommy Page meninggal karena gantung diri. Namun hingga renungan ini ditulis belum ada pernyataan resmi dari pihak berwenang terkait kematiannya.
Bunuh diri (Inggris: suicide, berasal dari kata Latin suicidium, dari sui caedere, membunuh diri sendiri) adalah sebuah tindakan sengaja yang menyebabkan kematian diri sendiri. Bunuh diri seringkali dilakukan orang akibat putus asa, depresi, putus cinta, menanggung beban hidup yang teramat berat (himpitan ekonomi), pertengkaran dalam rumah tangga, atau rasa malu yang terlampau besar. Orang yang mengambil keputusan untuk bunuh diri seringkali tidak sadar kalau ia mau dan mampu melakukannya (tindakan bunuh diri), sebab dalam kehidupan sehari-hari tidak menunjukkan suatu gejala atau tanda yang menjurus ke arah perbuatan nekat tersebut. Bahkan ada kalanya orang yang sangat kaya atau terkenal bisa saja nekat melakukan tindakan bunuh diri karena masalah yang sepele. Orang yang bunuh diri artinya telah melepaskan satu anugerah Tuhan yang sangat besar, yaitu hidup. Kita tahu bahwa sehebat apa pun manusia dan secanggih apa pun teknologi yang ada di dunia ini takkan mampu menciptakan nafas kehidupan bagi manusia. Bunuh diri berarti membuang kesempatan yang Tuhan beri, tidak menghargai anugerah dan karya Tuhan dalam hidupnya.
Seberat apa pun masalah yang dialami tidak seharusnya manusia melakukan tindakan bodoh ini bila ia merespons kasih Tuhan. "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu." (Matius 11:28). Bunuh diri adalah perbuatan yang sangat mempermalukan nama Tuhan. Orang yang bunuh diri telah merusak dan menggagalkan rencana Tuhan dalam kehidupannya.
Sekalipun berat masalah yang kita alami, pasti ada jalan keluarnya, asal kita mau datang kepada Tuhan dan meminta pertolongan-Nya!
Saturday, June 24, 2017
JANGAN TAMAK (2)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 24 Juni 2017
Baca: Lukas 12:13-21
"Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!" Lukas 12:19
Orang yang tidak pernah merasa puas dengan kekayaan yang dimiliki akan terus berusaha mendapatkan kekayaan lebih dan lebih lagi; dan karena tidak pernah ada rasa cukup, apabila ia tidak mawas diri, akan terjerat dalam ketamakan. Tamak artinya selalu ingin beroleh banyak untuk diri sendiri, loba, serakah, rakus. Tamak terhadap harta kekayaan adalah salah satu penyakit hati yang sangat membahayakan kehidupan manusia. Tamak menyebabkan dengki, permusuhan, perbuatan keji, dusta, curang, dan menjauhkan pelakunya dari ketaatan. Bermula dari mengejar kekayaan, orang rentan terhadap dosa. "Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan." (1 Timotius 6:9), padahal kekayaan materi itu sementara, tidak kekal, barang fana, sekarang ada esok hari bisa saja lenyap.
Apalagi bahaya berkenaan kekayaan? 2. Kekayaan tidak menjamin keselamatan jiwa. Apalah artinya orang memiliki kekayaan materi yang berlimpah-limpah jika pada akhirnya mengalami kebinasaan kekal? "...sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu." (Lukas 12:15). Hal inilah yang menjadi alasan Tuhan Yesus berkata, "...sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga." (Matius 19:23). Ayub pun menyadari: "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya." (Ayub 1:21a), artinya kita tidak membawa apa-apa saat datang ke dalam dunia dan kita pun tidak akan membawa apa pun juga saat meninggalkan dunia (baca 1 Timotius 6:7).
Jangan terlalu asyik mengumpulkan harta kekayaan di bumi, sehingga kita lalai untuk mengumpulkan harta yang sesungguhnya yaitu harga sorgawi; jangan sampai kita mengutamakan perkara-perkara duniawi lalu mengabaikan perkara-perkara rohani. "Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada." (Matius 6:21).
Tamak akan kekayaan hanya akan membawa seseorang kepada kebinasaan: ketika diberkati dengan kekayaan melimpah seharusnya makin kaya dalam kebajikan!
Baca: Lukas 12:13-21
"Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!" Lukas 12:19
Orang yang tidak pernah merasa puas dengan kekayaan yang dimiliki akan terus berusaha mendapatkan kekayaan lebih dan lebih lagi; dan karena tidak pernah ada rasa cukup, apabila ia tidak mawas diri, akan terjerat dalam ketamakan. Tamak artinya selalu ingin beroleh banyak untuk diri sendiri, loba, serakah, rakus. Tamak terhadap harta kekayaan adalah salah satu penyakit hati yang sangat membahayakan kehidupan manusia. Tamak menyebabkan dengki, permusuhan, perbuatan keji, dusta, curang, dan menjauhkan pelakunya dari ketaatan. Bermula dari mengejar kekayaan, orang rentan terhadap dosa. "Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan." (1 Timotius 6:9), padahal kekayaan materi itu sementara, tidak kekal, barang fana, sekarang ada esok hari bisa saja lenyap.
Apalagi bahaya berkenaan kekayaan? 2. Kekayaan tidak menjamin keselamatan jiwa. Apalah artinya orang memiliki kekayaan materi yang berlimpah-limpah jika pada akhirnya mengalami kebinasaan kekal? "...sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu." (Lukas 12:15). Hal inilah yang menjadi alasan Tuhan Yesus berkata, "...sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga." (Matius 19:23). Ayub pun menyadari: "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya." (Ayub 1:21a), artinya kita tidak membawa apa-apa saat datang ke dalam dunia dan kita pun tidak akan membawa apa pun juga saat meninggalkan dunia (baca 1 Timotius 6:7).
Jangan terlalu asyik mengumpulkan harta kekayaan di bumi, sehingga kita lalai untuk mengumpulkan harta yang sesungguhnya yaitu harga sorgawi; jangan sampai kita mengutamakan perkara-perkara duniawi lalu mengabaikan perkara-perkara rohani. "Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada." (Matius 6:21).
Tamak akan kekayaan hanya akan membawa seseorang kepada kebinasaan: ketika diberkati dengan kekayaan melimpah seharusnya makin kaya dalam kebajikan!
Friday, June 23, 2017
JANGAN TAMAK (1)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 23 Juni 2017
Baca: Lukas 12:13-21
"Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu." Lukas 12:15
Kekayaan adalah sesuatu yang penting bagi kelangsungan hidup manusia. Dengan kekayaan orang dapat memenuhi keinginannya. Secara manusiawi ini wajar dan bukanlah dosa karena Alkitab tidak pernah melarang umat-Nya memiliki kekayaan yang berlimpah (menjadi kaya). Tuhan Yesus berkata, "Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan." (Yohanes 10:10b).
Namun harus diperhatikan bagaimana proses memperoleh kekayaan atau menjadi orang kaya, karena paradigma orang terhadap kekayaan akan menentukan sikapnya terhadap kekayaan itu sendiri. Paradigma yang benar akan menciptakan suatu kesadaran diri untuk mewaspadai bahaya atau ancaman dari kekayaan tersebut. Setidaknya ada tiga bahaya yang patut diwaspadai berkenaan dengan kekayaan: 1. Kekayaan tidak pernah memberikan rasa cukup. "Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia. Dengan bertambahnya harta, bertambah pula orang-orang yang menghabiskannya. Dan apakah keuntungan pemiliknya selain dari pada melihatnya?" (Pengkhotbah 5:9-10).
Rasul Paulus mengajarkan kepada kita agar senantiasa memiliki rasa cukup. "Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah." (1 Timotius 6:6-8). Rasa cukup diterjemahkan dari kata Yunani (autarkeias) yang berarti kepuasan batiniah yang membuat seseorang menjadi sejahtera dengan apa yang dimilikinya. Rasul Paulus berkata, "...sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan." (Filipi 4:11). Yesus juga mengajarkan konsep rasa cukup ini dalam Doa Bapa Kami (baca Matius 6:11). Jadi sesungguhnya rasa cukup itu tidak bergantung pada seberapa banyak kekayaan materi yang dimiliki, melainkan berasal dari sikap hati orang terhadap kekayaan yang ada padanya. Ada banyak orang yang memiliki kekayaan melimpah tapi tak pernah merasa cukup. (Bersambung)
Baca: Lukas 12:13-21
"Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu." Lukas 12:15
Kekayaan adalah sesuatu yang penting bagi kelangsungan hidup manusia. Dengan kekayaan orang dapat memenuhi keinginannya. Secara manusiawi ini wajar dan bukanlah dosa karena Alkitab tidak pernah melarang umat-Nya memiliki kekayaan yang berlimpah (menjadi kaya). Tuhan Yesus berkata, "Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan." (Yohanes 10:10b).
Namun harus diperhatikan bagaimana proses memperoleh kekayaan atau menjadi orang kaya, karena paradigma orang terhadap kekayaan akan menentukan sikapnya terhadap kekayaan itu sendiri. Paradigma yang benar akan menciptakan suatu kesadaran diri untuk mewaspadai bahaya atau ancaman dari kekayaan tersebut. Setidaknya ada tiga bahaya yang patut diwaspadai berkenaan dengan kekayaan: 1. Kekayaan tidak pernah memberikan rasa cukup. "Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia. Dengan bertambahnya harta, bertambah pula orang-orang yang menghabiskannya. Dan apakah keuntungan pemiliknya selain dari pada melihatnya?" (Pengkhotbah 5:9-10).
Rasul Paulus mengajarkan kepada kita agar senantiasa memiliki rasa cukup. "Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah." (1 Timotius 6:6-8). Rasa cukup diterjemahkan dari kata Yunani (autarkeias) yang berarti kepuasan batiniah yang membuat seseorang menjadi sejahtera dengan apa yang dimilikinya. Rasul Paulus berkata, "...sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan." (Filipi 4:11). Yesus juga mengajarkan konsep rasa cukup ini dalam Doa Bapa Kami (baca Matius 6:11). Jadi sesungguhnya rasa cukup itu tidak bergantung pada seberapa banyak kekayaan materi yang dimiliki, melainkan berasal dari sikap hati orang terhadap kekayaan yang ada padanya. Ada banyak orang yang memiliki kekayaan melimpah tapi tak pernah merasa cukup. (Bersambung)
Thursday, June 22, 2017
BERHASIL KARENA BERANI BAYAR HARGA (2)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 22 Juni 2017
Baca: Ulangan 28:1-14
"TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia," Ulangan 28:13
Banyak orang berpikir keputusan dan pilihan mereka adalah yang terbaik tanpa mau memperdulikan nasihat atau masukan siapa pun. Namun ada orang yang lebih mempercayai nasihat orang-orang fasik, padahal "Jalan orang fasik itu seperti kegelapan; mereka tidak tahu apa yang menyebabkan mereka tersandung." (Amsal 4:19). Ini adalah kesalahan fatal, karena nasihat orang fasik menjerumuskan dan menghancurkan, sebab berisi hal-hal negatif dan sangat bertentangan dengan firman Tuhan. Tetapi apabila kita mengarahkan telinga mendengar nasihat firman Tuhan, "Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan..." (Ulangan 28:1), kita pasti berhasil. Nasihat firman Tuhan adalah nasihat yang membangun, menuntun, mengarahkan dan membawa kita kepada rencana-Nya; dan rencana-Nya adalah kehidupan penuh keberhasilan.
Apalagi yang harus kita perhatikan agar berhasil? 2. Bangunlah komunitas yang sehat. "Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik." (1 Korintus 15:33). Berhati-hati dan selektiflah dalam membangun sebuah komunitas, karena dengan siapa kita bergaul akan menentukan seperti apa masa depan kita. "Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang." (Amsal 13:20). Komunitas yang buruk pasti akan mempengaruhi sikap dan perilaku orang yang terlibat di dalamnya, dan secara otomatis akan membentuk kehidupannya di masa depan: berhasil atau gagal.
3. Berpikirlah positif. Pikiran adalah medan peperangan. Apa yang kita pikirkan dan renungkan, itulah yang akan menghasilkan perkataan dan perbuatan kita. "Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung." (Yosua 1:8). Memperkatakan firman Tuhan, merenungkan itu siang dan malam dan melakukannya (taat) niscaya akan membuat apa yang kita lakukan dan usahakan berhasil dan diberkati.
Hidup seturut dengan firman Tuhan adalah langkah menuju hidup yang berhasil!
Baca: Ulangan 28:1-14
"TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia," Ulangan 28:13
Banyak orang berpikir keputusan dan pilihan mereka adalah yang terbaik tanpa mau memperdulikan nasihat atau masukan siapa pun. Namun ada orang yang lebih mempercayai nasihat orang-orang fasik, padahal "Jalan orang fasik itu seperti kegelapan; mereka tidak tahu apa yang menyebabkan mereka tersandung." (Amsal 4:19). Ini adalah kesalahan fatal, karena nasihat orang fasik menjerumuskan dan menghancurkan, sebab berisi hal-hal negatif dan sangat bertentangan dengan firman Tuhan. Tetapi apabila kita mengarahkan telinga mendengar nasihat firman Tuhan, "Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan..." (Ulangan 28:1), kita pasti berhasil. Nasihat firman Tuhan adalah nasihat yang membangun, menuntun, mengarahkan dan membawa kita kepada rencana-Nya; dan rencana-Nya adalah kehidupan penuh keberhasilan.
Apalagi yang harus kita perhatikan agar berhasil? 2. Bangunlah komunitas yang sehat. "Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik." (1 Korintus 15:33). Berhati-hati dan selektiflah dalam membangun sebuah komunitas, karena dengan siapa kita bergaul akan menentukan seperti apa masa depan kita. "Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang." (Amsal 13:20). Komunitas yang buruk pasti akan mempengaruhi sikap dan perilaku orang yang terlibat di dalamnya, dan secara otomatis akan membentuk kehidupannya di masa depan: berhasil atau gagal.
3. Berpikirlah positif. Pikiran adalah medan peperangan. Apa yang kita pikirkan dan renungkan, itulah yang akan menghasilkan perkataan dan perbuatan kita. "Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung." (Yosua 1:8). Memperkatakan firman Tuhan, merenungkan itu siang dan malam dan melakukannya (taat) niscaya akan membuat apa yang kita lakukan dan usahakan berhasil dan diberkati.
Hidup seturut dengan firman Tuhan adalah langkah menuju hidup yang berhasil!
Wednesday, June 21, 2017
BERHASIL KARENA BERANI BAYAR HARGA (1)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 21 Juni 2017
Baca: Ulangan 28:1-14
"Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu:" Ulangan 28:2
Hidup yang berhasil adalah harapan, cita-cita dan impian setiap orang. Namun harus diingat bahwa tidak ada keberhasilan tanpa kerja keras, tidak ada keberhasilan tanpa ada harga yang harga dibayar. Dengan kata lain keberhasilan tidak datang begitu saja, keberhasilan adalah akibat dari sebab yang dilakukan, "...TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya;" (Kejadian 39:2). Yusuf menjadi orang yang berhasil karena ia mau membayar harga, menjalani proses dalam hidupnya dengan setia sehingga Tuhan menyertainya. Juga, "Daud berhasil di segala perjalanannya, sebab TUHAN menyertai dia." (1 Samuel 18:14). Tuhan menyertai Daud karena ia terlebih dahulu setia dalam perkara-perkara kecil sampai akhirnya ia beroleh kepercayaan dari Tuhan untuk mengerjakan perkara yang jauh lebih besar.
Tuhan Yesus sendiri harus membayar harga untuk ketaatan-Nya kepada Bapa, bahkan sampai mati di kayu salib (Filipi 2:5-8). Sebelum disalibkan, saat berada di taman Getsemani, Tuhan yesus berdoa sungguh-sungguh sampai-sampai "Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah." (Lukas 22:44) karena sangat ketakutan. Meski demikian dia memilih untuk taat kepada Bapa: "...bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi." (Lukas 22:42). Tuhan Yesus harus membayar harga yaitu mati di kayu salib untuk menyelamatkan dan menebus dosa-dosa kita. "Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama," (Filipi 2:9). Tidak ada kemuliaan tanpa salib!
Setidaknya ada beberapa hal yang harus diperhatikan supaya kita menjadi orang yang berhasil, ada harga yang harus dibayar: 1. Mau memperhatikan nasihat. Pertanyaan: nasihat siapa yang harus kita dengar dan perhatikan? Apakah kita menuruti nasihat orang fasik, ataukah kita mengikuti nasihat dari Tuhan yang tertulis di Alkitab? Pemazmur menulis: "Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam." (Mazmur 1:1-2). Nasihat firman Tuhan adalah yang terbaik! (Bersambung)
Baca: Ulangan 28:1-14
"Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu:" Ulangan 28:2
Hidup yang berhasil adalah harapan, cita-cita dan impian setiap orang. Namun harus diingat bahwa tidak ada keberhasilan tanpa kerja keras, tidak ada keberhasilan tanpa ada harga yang harga dibayar. Dengan kata lain keberhasilan tidak datang begitu saja, keberhasilan adalah akibat dari sebab yang dilakukan, "...TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya;" (Kejadian 39:2). Yusuf menjadi orang yang berhasil karena ia mau membayar harga, menjalani proses dalam hidupnya dengan setia sehingga Tuhan menyertainya. Juga, "Daud berhasil di segala perjalanannya, sebab TUHAN menyertai dia." (1 Samuel 18:14). Tuhan menyertai Daud karena ia terlebih dahulu setia dalam perkara-perkara kecil sampai akhirnya ia beroleh kepercayaan dari Tuhan untuk mengerjakan perkara yang jauh lebih besar.
Tuhan Yesus sendiri harus membayar harga untuk ketaatan-Nya kepada Bapa, bahkan sampai mati di kayu salib (Filipi 2:5-8). Sebelum disalibkan, saat berada di taman Getsemani, Tuhan yesus berdoa sungguh-sungguh sampai-sampai "Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah." (Lukas 22:44) karena sangat ketakutan. Meski demikian dia memilih untuk taat kepada Bapa: "...bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi." (Lukas 22:42). Tuhan Yesus harus membayar harga yaitu mati di kayu salib untuk menyelamatkan dan menebus dosa-dosa kita. "Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama," (Filipi 2:9). Tidak ada kemuliaan tanpa salib!
Setidaknya ada beberapa hal yang harus diperhatikan supaya kita menjadi orang yang berhasil, ada harga yang harus dibayar: 1. Mau memperhatikan nasihat. Pertanyaan: nasihat siapa yang harus kita dengar dan perhatikan? Apakah kita menuruti nasihat orang fasik, ataukah kita mengikuti nasihat dari Tuhan yang tertulis di Alkitab? Pemazmur menulis: "Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam." (Mazmur 1:1-2). Nasihat firman Tuhan adalah yang terbaik! (Bersambung)
Tuesday, June 20, 2017
BERDOALAH MENURUT KEHENDAK TUHAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 20 Juni 2017
Baca: 1 Yohanes 5:13-21
"Dan jikalau kita tahu, bahwa Ia mengabulkan apa saja yang kita minta, maka kita juga tahu, bahwa kita telah memperoleh segala sesuatu yang telah kita minta kepada-Nya." 1 Yohanes 5:15
Setiap orang percaya mempunyai hak istimewa untuk berdoa kepada Tuhan, di mana kita semua berharap doa-doa yang kita panjatkan didengar dan dijawab oleh-Nya sebagaimana yang Ia janjikan melalui firman-Nya: "Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan." (Matius 7:8). Namun ternyata tidak semua doa kita didengar dan dijawab Tuhan. Inilah yang seringkali menimbulkan kekecewaan. Agar doa kita efektif kita perlu mengoreksi diri dan belajar meminta menurut kehendak Tuhan, bukan kehendak kita.
Suatu ketika Filipus berkata kepada Tuhan Yesus, "'Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.' Kata Yesus kepadanya: 'Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku?'" (Yohanes 14:8-10). Meskipun telah bersama-sama dengan Tuhan Yesus sekian lama, makan sehidangan dengan-Nya, dan melakukan tour pelayanan bersama, Filipus masih belum juga memahami siapa sesungguhnya Tuhan Yesus sehingga ia meminta agar Tuhan Yesus menunjukkan Bapa kepadanya, ia rindu untuk melihat secara nyata. Mungkin Filipus berharap agar Tuhan Yesus mewujudkan sosok mulia Sang Bapa, sama seperti yang dilihat oleh para nabi yang hidup di zaman Perjanjian Lama.
Seringkali kita memiliki iman seperti Filipus, iman yang didasarkan pada hal-hal yang terlihat kasat mata. Iman kita bangkit ketika kita melihat mujizat dinyatakan secara langsung atau melihat cahaya menyinari kita saat sedang berdoa di kamar. Kita selalu ingin melihat sesuatu yang spektakuler untuk menguatkan iman kita. Namun Tuhan Yesus tidak pernah mengajarkan sikap doa yang demikian, sebab jika doa dan iman bergantung pada hal-hal yang terlihat mata jasmani, kita pasti akan kecewa.
Apakah doa-doa kita sekarang ini sering terpusat pada memaksa Tuhan untuk memperlihatkan sesuatu yang bisa terlihat?
Baca: 1 Yohanes 5:13-21
"Dan jikalau kita tahu, bahwa Ia mengabulkan apa saja yang kita minta, maka kita juga tahu, bahwa kita telah memperoleh segala sesuatu yang telah kita minta kepada-Nya." 1 Yohanes 5:15
Setiap orang percaya mempunyai hak istimewa untuk berdoa kepada Tuhan, di mana kita semua berharap doa-doa yang kita panjatkan didengar dan dijawab oleh-Nya sebagaimana yang Ia janjikan melalui firman-Nya: "Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan." (Matius 7:8). Namun ternyata tidak semua doa kita didengar dan dijawab Tuhan. Inilah yang seringkali menimbulkan kekecewaan. Agar doa kita efektif kita perlu mengoreksi diri dan belajar meminta menurut kehendak Tuhan, bukan kehendak kita.
Suatu ketika Filipus berkata kepada Tuhan Yesus, "'Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.' Kata Yesus kepadanya: 'Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku?'" (Yohanes 14:8-10). Meskipun telah bersama-sama dengan Tuhan Yesus sekian lama, makan sehidangan dengan-Nya, dan melakukan tour pelayanan bersama, Filipus masih belum juga memahami siapa sesungguhnya Tuhan Yesus sehingga ia meminta agar Tuhan Yesus menunjukkan Bapa kepadanya, ia rindu untuk melihat secara nyata. Mungkin Filipus berharap agar Tuhan Yesus mewujudkan sosok mulia Sang Bapa, sama seperti yang dilihat oleh para nabi yang hidup di zaman Perjanjian Lama.
Seringkali kita memiliki iman seperti Filipus, iman yang didasarkan pada hal-hal yang terlihat kasat mata. Iman kita bangkit ketika kita melihat mujizat dinyatakan secara langsung atau melihat cahaya menyinari kita saat sedang berdoa di kamar. Kita selalu ingin melihat sesuatu yang spektakuler untuk menguatkan iman kita. Namun Tuhan Yesus tidak pernah mengajarkan sikap doa yang demikian, sebab jika doa dan iman bergantung pada hal-hal yang terlihat mata jasmani, kita pasti akan kecewa.
Apakah doa-doa kita sekarang ini sering terpusat pada memaksa Tuhan untuk memperlihatkan sesuatu yang bisa terlihat?
Monday, June 19, 2017
TAK BERSEMANGAT MENJALANI HIDUP (2)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 19 Juni 2017
Baca: Yesaya 40:27-31
"Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya." Yesaya 40:29
Keadaan sangat kontradiktif dialami Elia saat berada di gunung Horeb: ia yang sebelumnya memiliki semangat yang berapi-api, perlahan mulai padam; yang sebelumnya penuh keyakinan, kini hilang pengharapan, sampai-sampai tidak memiliki gairah hidup. "Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku." (1 Raja-Raja 19:4b).
Orang yang bersemangat tidak mudah menyerah dan tidak terpengaruh oleh situasi apa pun. Artinya tindakan atau perbuatannya tidak ditentukan atau dipengaruhi oleh keadaan, karena ia memiliki target dan tujuan yang ingin dicapai. Oleh sebab itu orang yang bersemangat pasti memiliki sikap yang optimis karena tahu bahwa "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku." (Filipi 4:13). Melihat keterpurukan Elia ini Tuhan tidak tinggal diam, lalu memberikan perhatian kepadanya. Tuhan membiarkan Elia istirahat dan tertidur, lalu Ia mengirim malaikat-Nya untuk memberinya makan (1 Raja-Raja 19:6-7). Tuhan membangkitkan semangat Elia yang mulai pudar dan mengingatkan kembali visinya semula: "Pergilah, kembalilah ke jalanmu, melalui padang gurun ke Damsyik, dan setelah engkau sampai, engkau harus mengurapi Hazael menjadi raja atas Aram." (1 Raja-Raja 19:15).
Pengalaman hidup Elia ini menjadi pelajaran berharga bagi kita. Apa pun kondisi yang sedang terjadi tetaplah memiliki semangat! Tanpa semangat kita tidak pernah mencapai goal, karena dengan bersemangat kita akan tetap mengarahkan pandangan kita kepada tujuan dan berusaha sedemikian rupa untuk mencapainya. Satu hal yang menguatkan: dalam keadaan terpuruk sekali pun, ketika orang-orang terdekat meninggalkan kita, percayalah bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita, Dia akan terus meng-support kita. "Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu." (Yesaya 46:4).
Oleh karena itu "...kuatkanlah hatimu, jangan lemah semangatmu, karena ada upah bagi usahamu!" 2 Tawarikh 15:7
Baca: Yesaya 40:27-31
"Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya." Yesaya 40:29
Keadaan sangat kontradiktif dialami Elia saat berada di gunung Horeb: ia yang sebelumnya memiliki semangat yang berapi-api, perlahan mulai padam; yang sebelumnya penuh keyakinan, kini hilang pengharapan, sampai-sampai tidak memiliki gairah hidup. "Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku." (1 Raja-Raja 19:4b).
Orang yang bersemangat tidak mudah menyerah dan tidak terpengaruh oleh situasi apa pun. Artinya tindakan atau perbuatannya tidak ditentukan atau dipengaruhi oleh keadaan, karena ia memiliki target dan tujuan yang ingin dicapai. Oleh sebab itu orang yang bersemangat pasti memiliki sikap yang optimis karena tahu bahwa "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku." (Filipi 4:13). Melihat keterpurukan Elia ini Tuhan tidak tinggal diam, lalu memberikan perhatian kepadanya. Tuhan membiarkan Elia istirahat dan tertidur, lalu Ia mengirim malaikat-Nya untuk memberinya makan (1 Raja-Raja 19:6-7). Tuhan membangkitkan semangat Elia yang mulai pudar dan mengingatkan kembali visinya semula: "Pergilah, kembalilah ke jalanmu, melalui padang gurun ke Damsyik, dan setelah engkau sampai, engkau harus mengurapi Hazael menjadi raja atas Aram." (1 Raja-Raja 19:15).
Pengalaman hidup Elia ini menjadi pelajaran berharga bagi kita. Apa pun kondisi yang sedang terjadi tetaplah memiliki semangat! Tanpa semangat kita tidak pernah mencapai goal, karena dengan bersemangat kita akan tetap mengarahkan pandangan kita kepada tujuan dan berusaha sedemikian rupa untuk mencapainya. Satu hal yang menguatkan: dalam keadaan terpuruk sekali pun, ketika orang-orang terdekat meninggalkan kita, percayalah bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita, Dia akan terus meng-support kita. "Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu." (Yesaya 46:4).
Oleh karena itu "...kuatkanlah hatimu, jangan lemah semangatmu, karena ada upah bagi usahamu!" 2 Tawarikh 15:7
Sunday, June 18, 2017
TAK BERSEMANGAT MENJALANI HIDUP (1)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 18 Juni 2017
Baca: 1 Raja-Raja 19:1-8
"Maka takutlah ia, lalu bangkit dan pergi menyelamatkan nyawanya; dan setelah sampai ke Bersyeba, yang termasuk wilayah Yehuda, ia meninggalkan bujangnya di sana." 1 Raja-Raja 19:3
Siapa di antara kita kebal masalah? Tak ada! Tak terkecuali mereka yang berstatus hamba Tuhan atau pendeta sekali pun. Ya... Musa juga mengakui bahwa masalah, kesesakan, penderitaan adalah bagian hidup sehari-hari dan itulah kebanggaan hidup manusia (baca Mazmur 90:10). Namun orang percaya tak boleh menyerah dan putus asa, karena "Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya." (1 Korintus 10:13).
Bukan perihal besar-kecil, berat-ringan masalah yang dihadapi, yang terpenting adalah bagaimana sikap kita saat berhadapan dengan masalah itu sendiri. Putus asa, patah semangat, menyerah di tengah jalan adalah sikap yang justru akan semakin menenggelamkan kita ke jurang permasalahan yang dalam. Untuk menang terhadap masalah dibutuhkan sikap yang pantang menyerah dan semangat yang tiada kunjung pudar. Elia, meskipun berstatus nabi Tuhan, juga pernah mengalami masalah yang membuatnya tidak lagi bersemangat dalam menjalani hidup. Padahal sebelum itu Elia meraih kemenangan besar di gunung Karmel yaitu berhasil membunuh 450 nabi baal. Ketika berita itu sampai ke Izebel, "maka Izebel menyuruh seorang suruhan mengatakan kepada Elia: 'Beginilah kiranya para allah menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jika besok kira-kira pada waktu ini aku tidak membuat nyawamu sama seperti nyawa salah seorang dari mereka itu.'" (1 Raja-Raja 19:2).
Karena ancaman Izebel ini Elia pun menjadi sangat takut dan larilah ia untuk menyelamatkan diri ke gunung Horeb. Keadaan Elia benar-benar drop: selain lelah jasmani -setelah menempuh perjalanan panjang 40 hari 40 malam-, ia juga mengalami kelelahan rohani yang membuatnya putus asa dan hilang semangat.
"Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?" Amsal 18:14
Baca: 1 Raja-Raja 19:1-8
"Maka takutlah ia, lalu bangkit dan pergi menyelamatkan nyawanya; dan setelah sampai ke Bersyeba, yang termasuk wilayah Yehuda, ia meninggalkan bujangnya di sana." 1 Raja-Raja 19:3
Siapa di antara kita kebal masalah? Tak ada! Tak terkecuali mereka yang berstatus hamba Tuhan atau pendeta sekali pun. Ya... Musa juga mengakui bahwa masalah, kesesakan, penderitaan adalah bagian hidup sehari-hari dan itulah kebanggaan hidup manusia (baca Mazmur 90:10). Namun orang percaya tak boleh menyerah dan putus asa, karena "Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya." (1 Korintus 10:13).
Bukan perihal besar-kecil, berat-ringan masalah yang dihadapi, yang terpenting adalah bagaimana sikap kita saat berhadapan dengan masalah itu sendiri. Putus asa, patah semangat, menyerah di tengah jalan adalah sikap yang justru akan semakin menenggelamkan kita ke jurang permasalahan yang dalam. Untuk menang terhadap masalah dibutuhkan sikap yang pantang menyerah dan semangat yang tiada kunjung pudar. Elia, meskipun berstatus nabi Tuhan, juga pernah mengalami masalah yang membuatnya tidak lagi bersemangat dalam menjalani hidup. Padahal sebelum itu Elia meraih kemenangan besar di gunung Karmel yaitu berhasil membunuh 450 nabi baal. Ketika berita itu sampai ke Izebel, "maka Izebel menyuruh seorang suruhan mengatakan kepada Elia: 'Beginilah kiranya para allah menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jika besok kira-kira pada waktu ini aku tidak membuat nyawamu sama seperti nyawa salah seorang dari mereka itu.'" (1 Raja-Raja 19:2).
Karena ancaman Izebel ini Elia pun menjadi sangat takut dan larilah ia untuk menyelamatkan diri ke gunung Horeb. Keadaan Elia benar-benar drop: selain lelah jasmani -setelah menempuh perjalanan panjang 40 hari 40 malam-, ia juga mengalami kelelahan rohani yang membuatnya putus asa dan hilang semangat.
"Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?" Amsal 18:14
Saturday, June 17, 2017
TAK ADA YANG SANGGUP MENOLONG SELAIN TUHAN (2)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 Juni 2017
Baca: Mazmur 121:1-8
"Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi." Mazmur 121:2
Ada banyak orang Kristen yang gampang sekali putus asa ketika diperhadapkan pada pergumulan hidup yang berat, karena mereka berpikir Tuhan tidak memperdulikan hidupnya. Itu salah besar! Tidak sekalipun Tuhan meninggalkan dan membiarkan umat-Nya bergumul sendirian. Tuhan berkata, "Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu." (Yesaya 46:4), bahkan pemazmur menegaskan bahwa Penjaga Israel tidak terlelap dan tidak tertidur (Mazmur 121:4). Jika Tuhan mengijinkan kita melewati masa-masa sulit itu artinya Dia sedang melatih kita untuk bergantung penuh kepada-Nya.
Jangan pernah lari dari prosesnya Tuhan. Mungkin terasa sakit tapi mendatangkan kebaikan bagi kita, sebab proses butuh waktu dan ketekunan. "Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu." (Ibrani 10:36). Berbeda sekali dengan dunia yang selalu menawarkan segala sesuatu yang serba instan: pertolongan, uang/kekayaan, jabatan atau popularitas. Tergiur iming-iming bisa melipatgandakan uang atau investasi dengan bunga yang sangat tinggi, tanpa berpikir panjang banyak orang datang berbondong-bondong menyerahkan uangnya. Hasilnya? Bukannya beruntung tapi malah buntung. Jadi Saudaraku, sesulit apa pun keadaan tetap arahkan pandangan kepada Tuhan. Kalau sepertinya Tuhan begitu jauh, kita harus tetap mengimani kebenaran ini: "Tuhanlah Penjagamu, Tuhanlah naunganmu di sebelah tangan kananmu." (Mazmur 121:5).
Di ujung dunia mana pun kita takkan pernah menemukan pertolongan dan perlindungan yang sempurna. Dapatkah kita menjaga dan melindungi keluarga kita selama 24 jam penuh? Takkan bisa. Perhatikan janji firman-Nya: "Matahari tidak menyakiti engkau pada waktu siang, atau bulan pada waktu malam. TUHAN akan menjaga engkau terhadap segala kecelakaan; Ia akan menjaga nyawamu. TUHAN akan menjaga keluar masukmu, dari sekarang sampai selama-lamanya." (Mazmur 121:6-8).
Pertolongan dan perlindungan yang sempurna hanya kita dapatkan di dalam Tuhan, karena Dia Tuhan yang tidak pernah terlelap!
Baca: Mazmur 121:1-8
"Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi." Mazmur 121:2
Ada banyak orang Kristen yang gampang sekali putus asa ketika diperhadapkan pada pergumulan hidup yang berat, karena mereka berpikir Tuhan tidak memperdulikan hidupnya. Itu salah besar! Tidak sekalipun Tuhan meninggalkan dan membiarkan umat-Nya bergumul sendirian. Tuhan berkata, "Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu." (Yesaya 46:4), bahkan pemazmur menegaskan bahwa Penjaga Israel tidak terlelap dan tidak tertidur (Mazmur 121:4). Jika Tuhan mengijinkan kita melewati masa-masa sulit itu artinya Dia sedang melatih kita untuk bergantung penuh kepada-Nya.
Jangan pernah lari dari prosesnya Tuhan. Mungkin terasa sakit tapi mendatangkan kebaikan bagi kita, sebab proses butuh waktu dan ketekunan. "Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu." (Ibrani 10:36). Berbeda sekali dengan dunia yang selalu menawarkan segala sesuatu yang serba instan: pertolongan, uang/kekayaan, jabatan atau popularitas. Tergiur iming-iming bisa melipatgandakan uang atau investasi dengan bunga yang sangat tinggi, tanpa berpikir panjang banyak orang datang berbondong-bondong menyerahkan uangnya. Hasilnya? Bukannya beruntung tapi malah buntung. Jadi Saudaraku, sesulit apa pun keadaan tetap arahkan pandangan kepada Tuhan. Kalau sepertinya Tuhan begitu jauh, kita harus tetap mengimani kebenaran ini: "Tuhanlah Penjagamu, Tuhanlah naunganmu di sebelah tangan kananmu." (Mazmur 121:5).
Di ujung dunia mana pun kita takkan pernah menemukan pertolongan dan perlindungan yang sempurna. Dapatkah kita menjaga dan melindungi keluarga kita selama 24 jam penuh? Takkan bisa. Perhatikan janji firman-Nya: "Matahari tidak menyakiti engkau pada waktu siang, atau bulan pada waktu malam. TUHAN akan menjaga engkau terhadap segala kecelakaan; Ia akan menjaga nyawamu. TUHAN akan menjaga keluar masukmu, dari sekarang sampai selama-lamanya." (Mazmur 121:6-8).
Pertolongan dan perlindungan yang sempurna hanya kita dapatkan di dalam Tuhan, karena Dia Tuhan yang tidak pernah terlelap!
Friday, June 16, 2017
TAK ADA YANG SANGGUP MENOLONG SELAIN TUHAN (1)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 Juni 2017
Baca: Mazmur 121:1-8
Hari-hari yang sedang kita jalani adalah hari-hari yang sangat berat dan jahat. Wajarlah bila semua orang mengeluhkan hal ini. Terus mengeluh takkan memberi solusi, karena selama kita masih bernafas kita takkan pernah bisa menghindar dari masalah, kesukaran, kesulitan atau penderitaan yang bisa datang silih berganti tanpa permisi, tanpa memandang usia atau status sosial. Belum lagi marabahaya, ancaman, bencana, yang juga sewaktu-waktu dapat terjadi tanpa bisa diduga dan diprediksi. Di tengah hantaman badai persoalan banyak sekali orang berusaha mencari cara agar dapat terlepas dari masalah, mencari pertolongan ke sana ke mari, dan tidak sedikit yang tergiur dengan tawaran-tawaran yang dunia sodorkan. Bukannya jalan keluar yang didapatkan, tapi justru mereka terjebak dalam lubang yang semakin dalam.
Sebagai orang percaya kita patut berhati-hati dan selektif dalam hal ini, jangan karena kondisi terdesak lalu kita menempuh jalan pintas dan menghalalkan segala cara, tidak peduli cara dan jalan itu menyimpang jauh dari firman Tuhan, di mana tujuannya satu, yaitu mendapatkan pertolongan secara instan. Ada tertulis: "Celakalah orang-orang yang pergi ke Mesir minta pertolongan, yang mengandalkan kuda-kuda, yang percaya kepada keretanya yang begitu banyak, dan kepada pasukan berkuda yang begitu besar jumlahnya, tetapi tidak memandang kepada Yang Mahakudus, Allah Israel, dan tidak mencari TUHAN." (Yesaya 31:1). Alkitab menyatakan bahwa celaka orang yang mencari pertolongan di luar Tuhan, dan bahkan dikatakan terkutuk orang yang mengandalkan manusia (baca Yeremia 17:5).
Tuhan mau kita senantiasa mengandalkan-Nya dan menati-nanti pertolongan-Nya. Seringkali masa menunggu jawaban Tuhan adalah masa yang rawan terhadap berbagai jalan keluar yang ditawarkan dunia. Apa pun keadaannya kita harus tetap berharap kepada pertolongan dari Tuhan saja, "...apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh." (Habakuk 2:3).
"TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia." Ratapan 3:25
Baca: Mazmur 121:1-8
Hari-hari yang sedang kita jalani adalah hari-hari yang sangat berat dan jahat. Wajarlah bila semua orang mengeluhkan hal ini. Terus mengeluh takkan memberi solusi, karena selama kita masih bernafas kita takkan pernah bisa menghindar dari masalah, kesukaran, kesulitan atau penderitaan yang bisa datang silih berganti tanpa permisi, tanpa memandang usia atau status sosial. Belum lagi marabahaya, ancaman, bencana, yang juga sewaktu-waktu dapat terjadi tanpa bisa diduga dan diprediksi. Di tengah hantaman badai persoalan banyak sekali orang berusaha mencari cara agar dapat terlepas dari masalah, mencari pertolongan ke sana ke mari, dan tidak sedikit yang tergiur dengan tawaran-tawaran yang dunia sodorkan. Bukannya jalan keluar yang didapatkan, tapi justru mereka terjebak dalam lubang yang semakin dalam.
Sebagai orang percaya kita patut berhati-hati dan selektif dalam hal ini, jangan karena kondisi terdesak lalu kita menempuh jalan pintas dan menghalalkan segala cara, tidak peduli cara dan jalan itu menyimpang jauh dari firman Tuhan, di mana tujuannya satu, yaitu mendapatkan pertolongan secara instan. Ada tertulis: "Celakalah orang-orang yang pergi ke Mesir minta pertolongan, yang mengandalkan kuda-kuda, yang percaya kepada keretanya yang begitu banyak, dan kepada pasukan berkuda yang begitu besar jumlahnya, tetapi tidak memandang kepada Yang Mahakudus, Allah Israel, dan tidak mencari TUHAN." (Yesaya 31:1). Alkitab menyatakan bahwa celaka orang yang mencari pertolongan di luar Tuhan, dan bahkan dikatakan terkutuk orang yang mengandalkan manusia (baca Yeremia 17:5).
Tuhan mau kita senantiasa mengandalkan-Nya dan menati-nanti pertolongan-Nya. Seringkali masa menunggu jawaban Tuhan adalah masa yang rawan terhadap berbagai jalan keluar yang ditawarkan dunia. Apa pun keadaannya kita harus tetap berharap kepada pertolongan dari Tuhan saja, "...apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh." (Habakuk 2:3).
"TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia." Ratapan 3:25
Thursday, June 15, 2017
LIDAH KITA: Pena Pewarna Hidup
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 Juni 2017
Baca: Mazmur 45:1-6
"Hatiku meluap dengan kata-kata indah, aku hendak menyampaikan sajakku kepada raja; lidahku ialah pena seorang jurutulis yang mahir." Mazmur 45:2
Yakobus dalam suratnya menulis: "...kapal-kapal, walaupun amat besar dan digerakkan oleh angin keras, namun dapat dikendalikan oleh kemudi yang amat kecil menurut kehendak jurumudi." (Yakobus 3:4). Begitu juga kehidupan manusia, betapa pun besarnya perkara yang harus dihadapi, sesungguhnya hidup manusia itu dikendalikan oleh lidahnya sendiri: "Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar." (Yakobus 3:5).
Di zaman sekarang ini banyak kasus terjadi: perselisihan, permusuhan, tindak pidana, sebagai akibat dari kesalahan orang dalam memfungsikan lidah atau kecerobohannya dalam berkata-kata. Alkitab sudah mengingatkan: "Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya." (Amsal 18:21). Karena itu kita harus berhati-hati, sebab dengan lidah kita dapat memberkati orang lain, tetapi dengan lidah yang sama kita juga bisa mengutukinya. Dengan lidah kita dapat membuat orang lain bersukacita, tetapi dengan lidah itu pula kita dapat membuat orang lain berdukacita. Melalui lidah kita dapat membangun, tapi juga dapat menghancurkan orang lain. Jika lidah kita senantiasa memperkatakan hal yang negatif, itu sama artinya kita sedang mempersulit langkah hidup kita sendiri menuju masa depan. Sebaliknya jika lidah kita senantiasa memperkatakan hal-hal yang positif maka perjalanan hidup kita pun akan mengarah kepada hal-hal yang positif pula.
Pemazmur menyatakan bahwa lidah kita itu laksana pena yang sedang melukis dan mewarnai hidup seseorang: berwarna putih, biru, cerah, buram, atau hitam pekat. Sesungguhnya Tuhan telah merancang masa depan yang baik bagi kehidupan anak-anak-Nya (baca Yeremia 29:11), namun tanpa sadar rancangan Tuhan itu kita rusak dengan perkataan kita sendiri. Rasul Petrus menulis: "Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu." (1 Petrus 3:10).
"Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya." Yakobus 1:26
Baca: Mazmur 45:1-6
"Hatiku meluap dengan kata-kata indah, aku hendak menyampaikan sajakku kepada raja; lidahku ialah pena seorang jurutulis yang mahir." Mazmur 45:2
Yakobus dalam suratnya menulis: "...kapal-kapal, walaupun amat besar dan digerakkan oleh angin keras, namun dapat dikendalikan oleh kemudi yang amat kecil menurut kehendak jurumudi." (Yakobus 3:4). Begitu juga kehidupan manusia, betapa pun besarnya perkara yang harus dihadapi, sesungguhnya hidup manusia itu dikendalikan oleh lidahnya sendiri: "Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar." (Yakobus 3:5).
Di zaman sekarang ini banyak kasus terjadi: perselisihan, permusuhan, tindak pidana, sebagai akibat dari kesalahan orang dalam memfungsikan lidah atau kecerobohannya dalam berkata-kata. Alkitab sudah mengingatkan: "Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya." (Amsal 18:21). Karena itu kita harus berhati-hati, sebab dengan lidah kita dapat memberkati orang lain, tetapi dengan lidah yang sama kita juga bisa mengutukinya. Dengan lidah kita dapat membuat orang lain bersukacita, tetapi dengan lidah itu pula kita dapat membuat orang lain berdukacita. Melalui lidah kita dapat membangun, tapi juga dapat menghancurkan orang lain. Jika lidah kita senantiasa memperkatakan hal yang negatif, itu sama artinya kita sedang mempersulit langkah hidup kita sendiri menuju masa depan. Sebaliknya jika lidah kita senantiasa memperkatakan hal-hal yang positif maka perjalanan hidup kita pun akan mengarah kepada hal-hal yang positif pula.
Pemazmur menyatakan bahwa lidah kita itu laksana pena yang sedang melukis dan mewarnai hidup seseorang: berwarna putih, biru, cerah, buram, atau hitam pekat. Sesungguhnya Tuhan telah merancang masa depan yang baik bagi kehidupan anak-anak-Nya (baca Yeremia 29:11), namun tanpa sadar rancangan Tuhan itu kita rusak dengan perkataan kita sendiri. Rasul Petrus menulis: "Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu." (1 Petrus 3:10).
"Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya." Yakobus 1:26
Wednesday, June 14, 2017
KEMENANGAN ORANG BENAR: Berasal Dari Tuhan (2)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 Juni 2017
Baca: Roma 8:31-39
"Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?" Roma 8:31
Kemenangan Kristus di atas kayu salib adalah berita buruk bagi si Iblis, tapi merupakan berita sukacita bagi kita orang percaya. "Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu? ...syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita." (1 Korintus 15:54, 55, 57). Kini, belenggu dosa dan akibatnya, telah dipatahkan.
Kemenangan orang percaya tidak ditentukan oleh berapa lama ia menjadi orang Kristen, atau seberapa aktif ia terlibat dalam pelayanan di gereja; tapi kemenangan sepenuhnya ditentukan oleh faktor iman, "sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita. Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah?" (1 Yohanes 5:4-5). Berbicara tentang iman tak lepas dari apa yang disebut ketaatan, "Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati." (Yakobus 2:17). Asal kita hidup taat maka tak ada yang perlu ditakutkan! Sebab kemenangan kita bukan tergantung keadaan yang ada di sekeliling, tetapi tergantung seberapa dekat hubungan kita dengan Tuhan, karena Tuhanlah yang membawa kita kepada jalan kemenangan. "Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?" (ayat nas). Kata lawan bisa berbicara tentang masalah, kesulitan, penderitaan, atau orang-orang yang merancang kejahatan terhadap kita.
Mengapa masih banyak orang Kristen yang hidup dalam kekalahan? Karena mereka tidak memahami benar siapa dirinya di dalam Tuhan. Ini terjadi karena mereka tidak memiliki persekutuan yang karib dengan Tuhan (Roma 8:33). Artinya kita ini sangat berharga dan istimewa di mata Tuhan. Pemazmur berkata, "Berbahagialah orang yang Engkau pilih dan yang Engkau suruh mendekat untuk diam di pelataran-Mu! Kiranya kami menjadi kenyang dengan segala yang baik di rumah-Mu, di bait-Mu yang kudus." (Mazmur 65:5).
"Kuda diperlengkapi untuk hari peperangan, tetapi kemenangan ada di tangan TUHAN." Amsal 21:31
Baca: Roma 8:31-39
"Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?" Roma 8:31
Kemenangan Kristus di atas kayu salib adalah berita buruk bagi si Iblis, tapi merupakan berita sukacita bagi kita orang percaya. "Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu? ...syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita." (1 Korintus 15:54, 55, 57). Kini, belenggu dosa dan akibatnya, telah dipatahkan.
Kemenangan orang percaya tidak ditentukan oleh berapa lama ia menjadi orang Kristen, atau seberapa aktif ia terlibat dalam pelayanan di gereja; tapi kemenangan sepenuhnya ditentukan oleh faktor iman, "sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita. Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah?" (1 Yohanes 5:4-5). Berbicara tentang iman tak lepas dari apa yang disebut ketaatan, "Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati." (Yakobus 2:17). Asal kita hidup taat maka tak ada yang perlu ditakutkan! Sebab kemenangan kita bukan tergantung keadaan yang ada di sekeliling, tetapi tergantung seberapa dekat hubungan kita dengan Tuhan, karena Tuhanlah yang membawa kita kepada jalan kemenangan. "Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?" (ayat nas). Kata lawan bisa berbicara tentang masalah, kesulitan, penderitaan, atau orang-orang yang merancang kejahatan terhadap kita.
Mengapa masih banyak orang Kristen yang hidup dalam kekalahan? Karena mereka tidak memahami benar siapa dirinya di dalam Tuhan. Ini terjadi karena mereka tidak memiliki persekutuan yang karib dengan Tuhan (Roma 8:33). Artinya kita ini sangat berharga dan istimewa di mata Tuhan. Pemazmur berkata, "Berbahagialah orang yang Engkau pilih dan yang Engkau suruh mendekat untuk diam di pelataran-Mu! Kiranya kami menjadi kenyang dengan segala yang baik di rumah-Mu, di bait-Mu yang kudus." (Mazmur 65:5).
"Kuda diperlengkapi untuk hari peperangan, tetapi kemenangan ada di tangan TUHAN." Amsal 21:31
Tuesday, June 13, 2017
KEMENANGAN ORANG BENAR: Berasal Dari Tuhan (1)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 Juni 2017
Baca: Mazmur 44:1-9
"Sebab bukan kepada panahku aku percaya, dan pedangkupun tidak memberi aku kemenangan, tetapi Engkaulah yang memberi kami kemenangan terhadap para lawan kami, dan orang-orang yang membenci kami Kauberi malu." Mazmur 44:7-8
Serena Williams adalah seorang Afro-Amerika yang lahir 26 September 1981 di Saginaw, Michigan, Amerika Serikat. Ia adalah salah satu petenis puteri terhebat di muka bumi ini. Di bulan Januari 2017 lalu Serena baru saja mengukir sejarah baru yaitu merebut gelar grandslam-nya yang ke-23 di Australia Open 2017 setelah mengalahkan Venus Williams (kakak kandungnya) dalam partai all Williams final dengan skor 6-4 6-4. Ini berarti Serena berhasil melewati rekor sang legenda tenis asal Jerman, Steffie Graff, yang mengkoleksi 22 gelar grandslam di sepanjang karirnya. Luar biasa!
Meraih kemenangannya adalah impian setiap olahragawan yang biasanya memiliki semboyan vini vidi vici, yang berasal dari bahasa Latin klasik veni, vidi, vici yang artinya: saya datang, saya melihat, saya menaklukkan (menang). Awalnya kata-kata ini digunakan dalam pesan Julius Caesar, seorang jenderal dan konsul Romawi pada tahun 47 SM yang disampaikan pada senat Romawi, di mana kata-kata ini menggambarkan kemenangannya dalam pertempuran Zela atas Pharnaces II dari Pontus. Tak satu pun olahragawan yang mau mengalami kekalahan dalam setiap kejuaraan yang diikutinya, karena setiap kemenangan selalu mendatangkan kebanggaan tersendiri atau prestise, apalagi kemenangan itu diraih dalam kejuaraan yang bertaraf internasional.
Dalam menjalani kehidupan yang penuh dengan tantangan dan liku-liku ini setiap orang pasti berharap mampu melewati hari-hari dengan sebuah kemenangan. Bagi orang percaya hidup berkemenangan bukanlah sekedar impian atau isapan jempol belaka, melainkan sebuah janji yang pasti dari Tuhan: "Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita." (Roma 8:37). Tuhan telah membuka jalan kemenangan bagi umat-Nya melalui pengorbanan-Nya di atas kayu salib, yang oleh-Nya kita dibebaskan dari kutuk dosa dan diselamatkan. Orang percaya bukan lagi menjadi orang-orang yang kalah, melainkan umat pemenang!
Kemenangan orang percaya adalah kemenangan yang bersumber dari Tuhan, ketika memiliki penyerahan diri penuh kepada Tuhan dan mengandalkan-Nya!
Baca: Mazmur 44:1-9
"Sebab bukan kepada panahku aku percaya, dan pedangkupun tidak memberi aku kemenangan, tetapi Engkaulah yang memberi kami kemenangan terhadap para lawan kami, dan orang-orang yang membenci kami Kauberi malu." Mazmur 44:7-8
Serena Williams adalah seorang Afro-Amerika yang lahir 26 September 1981 di Saginaw, Michigan, Amerika Serikat. Ia adalah salah satu petenis puteri terhebat di muka bumi ini. Di bulan Januari 2017 lalu Serena baru saja mengukir sejarah baru yaitu merebut gelar grandslam-nya yang ke-23 di Australia Open 2017 setelah mengalahkan Venus Williams (kakak kandungnya) dalam partai all Williams final dengan skor 6-4 6-4. Ini berarti Serena berhasil melewati rekor sang legenda tenis asal Jerman, Steffie Graff, yang mengkoleksi 22 gelar grandslam di sepanjang karirnya. Luar biasa!
Meraih kemenangannya adalah impian setiap olahragawan yang biasanya memiliki semboyan vini vidi vici, yang berasal dari bahasa Latin klasik veni, vidi, vici yang artinya: saya datang, saya melihat, saya menaklukkan (menang). Awalnya kata-kata ini digunakan dalam pesan Julius Caesar, seorang jenderal dan konsul Romawi pada tahun 47 SM yang disampaikan pada senat Romawi, di mana kata-kata ini menggambarkan kemenangannya dalam pertempuran Zela atas Pharnaces II dari Pontus. Tak satu pun olahragawan yang mau mengalami kekalahan dalam setiap kejuaraan yang diikutinya, karena setiap kemenangan selalu mendatangkan kebanggaan tersendiri atau prestise, apalagi kemenangan itu diraih dalam kejuaraan yang bertaraf internasional.
Dalam menjalani kehidupan yang penuh dengan tantangan dan liku-liku ini setiap orang pasti berharap mampu melewati hari-hari dengan sebuah kemenangan. Bagi orang percaya hidup berkemenangan bukanlah sekedar impian atau isapan jempol belaka, melainkan sebuah janji yang pasti dari Tuhan: "Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita." (Roma 8:37). Tuhan telah membuka jalan kemenangan bagi umat-Nya melalui pengorbanan-Nya di atas kayu salib, yang oleh-Nya kita dibebaskan dari kutuk dosa dan diselamatkan. Orang percaya bukan lagi menjadi orang-orang yang kalah, melainkan umat pemenang!
Kemenangan orang percaya adalah kemenangan yang bersumber dari Tuhan, ketika memiliki penyerahan diri penuh kepada Tuhan dan mengandalkan-Nya!
Monday, June 12, 2017
JANGAN BIMBANG TERHADAP JANJI TUHAN (2)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 Juni 2017
Baca: Mazmur 12:1-9
"Janji TUHAN adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah." Mazmur 12:7
Seringkali keadaan atau situasi di sekitar mempengaruhi sikap dan reaksi kita terhadap janji Tuhan, karena ketika kita sedang menantikan janji Tuhan acapkali keadaan justru tidak menjadi baik, malah terkadang tampak semakin buruk. Akhirnya kita menjadi bimbang dan ragu akan kepastian janji Tuhan. Sementara kita melihat orang lain yang tidak hidup sungguh-sungguh di dalam Tuhan sepertinya lebih mujur dan mendapatkan segala yang diinginkan. Dalam keadaan seperti ini tidak jarang dari kita mulai undur dari Tuhan.
Perjalanan iman Kristen adalah sebuah proses! Proses adalah berkenaan dengan waktu, butuh kesabaran, kesetiaan dan ketekunan. Proses ini bertujuan untuk melatih, menguatkan dan menguji iman kita. Orang percaya yang mampu melewati proses ini akan tampil sebagai pribadi yang berkualitas, mampu bertahan di tengah goncangan, tidak terombang-ambing oleh keadaan yang tidak menentu, membuat kita tetap fokus dalam menanti janji Tuhan, dan tetap memiliki keyakinan seperti Abraham bahwa "...Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan." (Roma 4:21). Bagaimana dengan Saudara? Walaupun keadaan yang Saudara alami sedang buruk dan sepertinya tidak ada perubahan, jangan pernah kecewa, putus asa, atau menyalahkan Tuhan dan berpikir bahwa Ia lupa dengan janji-janji-Nya. Tuhan tidak pernah lupa dengan apa yang dijanjikan-Nya, "Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?" (Bilangan 23:19). Pemazmur mengingatkan bahwa janji Tuhan adalah janji yang murni dan sangat teruji! Karena itu singkirkan kebimbangan di hati, sebab orang yang selalu bimbang atau mempunyai hati yang bercabang tak mungkin mendapatkan apa-apa dari Tuhan (baca Yakobus 1:6-8).
Milikilah keyakinan akan kuasa Tuhan! "Oleh perjalananmu yang jauh engkau sudah letih lesu, tetapi engkau tidak berkata: 'Tidak ada harapan!' Engkau mendapat kekuatan yang baru, dan sebab itu engkau tidak menjadi lemah." (Yesaya 57:10).
"Teguhkanlah pada hamba-Mu ini janji-Mu, yang berlaku bagi orang yang takut kepada-Mu." Mazmur 119:38
Baca: Mazmur 12:1-9
"Janji TUHAN adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah." Mazmur 12:7
Seringkali keadaan atau situasi di sekitar mempengaruhi sikap dan reaksi kita terhadap janji Tuhan, karena ketika kita sedang menantikan janji Tuhan acapkali keadaan justru tidak menjadi baik, malah terkadang tampak semakin buruk. Akhirnya kita menjadi bimbang dan ragu akan kepastian janji Tuhan. Sementara kita melihat orang lain yang tidak hidup sungguh-sungguh di dalam Tuhan sepertinya lebih mujur dan mendapatkan segala yang diinginkan. Dalam keadaan seperti ini tidak jarang dari kita mulai undur dari Tuhan.
Perjalanan iman Kristen adalah sebuah proses! Proses adalah berkenaan dengan waktu, butuh kesabaran, kesetiaan dan ketekunan. Proses ini bertujuan untuk melatih, menguatkan dan menguji iman kita. Orang percaya yang mampu melewati proses ini akan tampil sebagai pribadi yang berkualitas, mampu bertahan di tengah goncangan, tidak terombang-ambing oleh keadaan yang tidak menentu, membuat kita tetap fokus dalam menanti janji Tuhan, dan tetap memiliki keyakinan seperti Abraham bahwa "...Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan." (Roma 4:21). Bagaimana dengan Saudara? Walaupun keadaan yang Saudara alami sedang buruk dan sepertinya tidak ada perubahan, jangan pernah kecewa, putus asa, atau menyalahkan Tuhan dan berpikir bahwa Ia lupa dengan janji-janji-Nya. Tuhan tidak pernah lupa dengan apa yang dijanjikan-Nya, "Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?" (Bilangan 23:19). Pemazmur mengingatkan bahwa janji Tuhan adalah janji yang murni dan sangat teruji! Karena itu singkirkan kebimbangan di hati, sebab orang yang selalu bimbang atau mempunyai hati yang bercabang tak mungkin mendapatkan apa-apa dari Tuhan (baca Yakobus 1:6-8).
Milikilah keyakinan akan kuasa Tuhan! "Oleh perjalananmu yang jauh engkau sudah letih lesu, tetapi engkau tidak berkata: 'Tidak ada harapan!' Engkau mendapat kekuatan yang baru, dan sebab itu engkau tidak menjadi lemah." (Yesaya 57:10).
"Teguhkanlah pada hamba-Mu ini janji-Mu, yang berlaku bagi orang yang takut kepada-Mu." Mazmur 119:38
Sunday, June 11, 2017
JANGAN BIMBANG TERHADAP JANJI TUHAN (1)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 Juni 2017
Baca: Roma 4:1-25
"Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah," Roma 4:20
Kebimbangan adalah salah satu panah yang Iblis lepaskan ke arah setiap orang percaya selain ketakutan, kekuatiran dan sebagainya. Iblis mau supaya manusia tidak lagi percaya dan beriman kepada Tuhan dan firman-Nya, melainkan percaya kepada dustanya. Jelas sekali bahwa kebimbangan adalah musuh dari iman. Selama kebimbangan menguasai hati dan pikiran seseorang mustahil ia mempercayai janji Tuhan yang tertulis di Alkitab. Secara fisik mungkin saja seseorang berada di ruang ibadah dan mendengarkan firman Tuhan, tetapi sesungguhnya firman tersebut tidak lagi mendapat tempat di hati dan pikirannya.
Secara manusia Abraham punya alasan menjadi bimbang ketika Tuhan berkata, "Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar,..." (Kejadian 12:2), dan "Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya... Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu." (Kejadian 15:5), sebab ketika mendengar janji Tuhan tersebut usianya tidak lagi muda alias sudah tua, dan isterinya (Sara) juga sudah menopause, yang secara ilmu kedokteran sudah mustahil untuk memiliki keturunan. Bagaimana respons Abraham ketika mendengar hal itu? "...percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran." (Kejadian 15:6). Bahkan Sara sempat tertawa ketika mendengar janji Tuhan tentang hal itu, tetapi pada akhirnya mereka melihat janji Tuhan tersebut digenapi. "Maka mengandunglah Sara, lalu ia melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abraham dalam masa tuanya, pada waktu yang telah ditetapkan, sesuai dengan firman Allah kepadanya." (Kejadian 21:2).
Penantian yang dijalani Abraham bukanlah penantian yang singkat, namun butuh waktu yang cukup lama. Kita tahu bahwa menanti adalah pekerjaan yang sangat membosankan! Belum lagi kondisi fisiknya yang sudah menua dan melemah. Sesungguhnya Abraham punya alasan untuk berhenti berharap, namun ia tetap memegang teguh janji Tuhan dan percaya Tuhan sanggup melakukan segala perkara dan tidak ada rencana-Nya yang gagal (baca Ayub 42:2), termasuk dalam hal memberi keturunan.
"Adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk TUHAN?" Kejadian 18:14a
Baca: Roma 4:1-25
"Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah," Roma 4:20
Kebimbangan adalah salah satu panah yang Iblis lepaskan ke arah setiap orang percaya selain ketakutan, kekuatiran dan sebagainya. Iblis mau supaya manusia tidak lagi percaya dan beriman kepada Tuhan dan firman-Nya, melainkan percaya kepada dustanya. Jelas sekali bahwa kebimbangan adalah musuh dari iman. Selama kebimbangan menguasai hati dan pikiran seseorang mustahil ia mempercayai janji Tuhan yang tertulis di Alkitab. Secara fisik mungkin saja seseorang berada di ruang ibadah dan mendengarkan firman Tuhan, tetapi sesungguhnya firman tersebut tidak lagi mendapat tempat di hati dan pikirannya.
Secara manusia Abraham punya alasan menjadi bimbang ketika Tuhan berkata, "Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar,..." (Kejadian 12:2), dan "Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya... Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu." (Kejadian 15:5), sebab ketika mendengar janji Tuhan tersebut usianya tidak lagi muda alias sudah tua, dan isterinya (Sara) juga sudah menopause, yang secara ilmu kedokteran sudah mustahil untuk memiliki keturunan. Bagaimana respons Abraham ketika mendengar hal itu? "...percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran." (Kejadian 15:6). Bahkan Sara sempat tertawa ketika mendengar janji Tuhan tentang hal itu, tetapi pada akhirnya mereka melihat janji Tuhan tersebut digenapi. "Maka mengandunglah Sara, lalu ia melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abraham dalam masa tuanya, pada waktu yang telah ditetapkan, sesuai dengan firman Allah kepadanya." (Kejadian 21:2).
Penantian yang dijalani Abraham bukanlah penantian yang singkat, namun butuh waktu yang cukup lama. Kita tahu bahwa menanti adalah pekerjaan yang sangat membosankan! Belum lagi kondisi fisiknya yang sudah menua dan melemah. Sesungguhnya Abraham punya alasan untuk berhenti berharap, namun ia tetap memegang teguh janji Tuhan dan percaya Tuhan sanggup melakukan segala perkara dan tidak ada rencana-Nya yang gagal (baca Ayub 42:2), termasuk dalam hal memberi keturunan.
"Adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk TUHAN?" Kejadian 18:14a
Saturday, June 10, 2017
PENGAMPUNAN YANG TIADA BATASNYA (2)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 Juni 2017
Baca: Kolose 3:12-17
"Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian." Kolose 3:13
Sedalam apa pun luka yang orang lain torehkan, tugas orang percaya adalah melepaskan pengampunan dan mempercayai Tuhan untuk melakukan apa yang menjadi hak-Nya (baca Roma 12:19). Pengampunan yang Tuhan kehendaki adalah pengampunan yang tiada batasnya, yang keluar dari hati yang tulus. Mengapa? Karena dosa-dosa kita telah diampuni oleh Tuhan terlebih dahulu, bahkan pemazmur mengatakan, "sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita." (Mazmur 103:12).
Kalau Tuhan saja tidak lagi mengingat-ingat kesalahan kita, masakan kita tidak mau mengampuni kesalahan orang lain, terus mengungkit-ungkit dan menyimpannya dalam hati? Kita semua pasti sangat familiar dengan ayat ini: "Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu." (Matius 6:14-15). Namun bagaimana faktanya? Mengapa kita masih sulit mengampuni orang lain? Padahal jelas dikatakan bahwa kalau kita tidak mengampuni kesalahan orang lain ada konsekuensi yang harus kita tanggung yaitu Tuhan tidak akan mengampuni kesalahan kita. Sekarang keputusan dan pilihan ada di tangan kita!
John F. Kennedy (Presiden ke-35 Amerika Serikat) pernah mengatakan, "Ampunilah musuh-musuhmu, tetapi jangan lupakan nama mereka." Musuh-musuh yang dimaksud adalah orang yang menyakiti, namun kita harus mengampuni dan tetap mengingatnya sebagai teman, bukan melupakan mereka. Dengan kekuatan sendiri kita takkan mampu mengampuni orang lain tanpa batas dan tulus. Kekuatan untuk melepaskan pengampunan berasal dari Roh Kudus, Dialah yang memberi kesanggupan kepada kita. Dalam hal mengampuni orang lain, dari pihak kita hanya diperlukan kemauan. Nah, masihkah kita mengeraskan hati untuk tidak mengampuni orang lain?
Rasul Paulus menasihati, "Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu." Efesus 4:32
Baca: Kolose 3:12-17
"Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian." Kolose 3:13
Sedalam apa pun luka yang orang lain torehkan, tugas orang percaya adalah melepaskan pengampunan dan mempercayai Tuhan untuk melakukan apa yang menjadi hak-Nya (baca Roma 12:19). Pengampunan yang Tuhan kehendaki adalah pengampunan yang tiada batasnya, yang keluar dari hati yang tulus. Mengapa? Karena dosa-dosa kita telah diampuni oleh Tuhan terlebih dahulu, bahkan pemazmur mengatakan, "sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita." (Mazmur 103:12).
Kalau Tuhan saja tidak lagi mengingat-ingat kesalahan kita, masakan kita tidak mau mengampuni kesalahan orang lain, terus mengungkit-ungkit dan menyimpannya dalam hati? Kita semua pasti sangat familiar dengan ayat ini: "Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu." (Matius 6:14-15). Namun bagaimana faktanya? Mengapa kita masih sulit mengampuni orang lain? Padahal jelas dikatakan bahwa kalau kita tidak mengampuni kesalahan orang lain ada konsekuensi yang harus kita tanggung yaitu Tuhan tidak akan mengampuni kesalahan kita. Sekarang keputusan dan pilihan ada di tangan kita!
John F. Kennedy (Presiden ke-35 Amerika Serikat) pernah mengatakan, "Ampunilah musuh-musuhmu, tetapi jangan lupakan nama mereka." Musuh-musuh yang dimaksud adalah orang yang menyakiti, namun kita harus mengampuni dan tetap mengingatnya sebagai teman, bukan melupakan mereka. Dengan kekuatan sendiri kita takkan mampu mengampuni orang lain tanpa batas dan tulus. Kekuatan untuk melepaskan pengampunan berasal dari Roh Kudus, Dialah yang memberi kesanggupan kepada kita. Dalam hal mengampuni orang lain, dari pihak kita hanya diperlukan kemauan. Nah, masihkah kita mengeraskan hati untuk tidak mengampuni orang lain?
Rasul Paulus menasihati, "Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu." Efesus 4:32
Subscribe to:
Posts (Atom)