Tuesday, November 30, 2010

ROH KUDUS SEBAGAI ROH YANG KUDUS

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 30 November 2010 -

Baca: Roma 6:15-23
 
"Sebab sama seperti kamu telah menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kecemaran dan kedurhakaan yang membawa kamu kepada kedurhakaan, demikian hal kamu sekarang harus menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kebenaran yang membawa kamu kepada pengudusan."  Roma 6:19b

Roh kudus selalu bersedih, berdukacita dan meratapi dosa yang kita perbuat.  Alkitab sendiri memperingatkan agar setiap orang percaya tidak mendukakan Roh kudus, "Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan."  (Efesus 4:30).  Tuhan menghendaki agar kita hidup kudus yaitu kekudusan yang meliputi seluruh aspek kehidupan kita, karena Tuhan tidak pernah berkompromi dengan dosa.  Oleh karenanya kita dituntut suatu tanggung jawab untuk menjaga kekudusan pribadi dan gereja secara utuh.  Sebagai orang-orang yang telah diselamatkan dan telah berubah status -bukan lagi sebagai hamba dosa tetapi hamba kebenaran, yang kini disebut sebagai anak-anak Allah- tidak ada alasan kita untuk berbuat dosa.

     Perhatikan satu kisah dalam Perjanjian Lama yaitu tentang Akhan.  Akhan mencuri dan menyimpan barang-barang jarahan dari bangsa lain yang dikhususkan bagi Allah, dan menyembunyikan di bawah kemahnya.  Allah sangat membenci tindakan Akhan itu, lalu Ia menyuruh orang Israel untuk mengumpulkan dan membakar barang-barang yang disembunyikannya serta seluruh hartanya termasuk ternak dan keluarganya, bahkan Dia memerintahkan mereka untuk melemparinya dengan batu sampai mati.

     Tuhan tidak membenci Akhan karena ia menyimpan barang-barang yang indah dan berharga, tetapi perbuatan mencuri dan menyembunyikan barang-barang yang sebenarnya dikhususkan bagi Tuhan itulah yang Dia benci karena hal itu mencemarkan kekudusanNya (baca Yosua 7).  Mungkin Akhan punya motivasi yang baik dalam hatinya dan bermaksud hendak membagi-bagikan barang-barang itu kepada orang-orang yang membutuhkan, atau mungkin ia akan menyumbangkannya untuk pembangunan Bait Suci; tetapi apa pun alasannya, perbuatan Akhan itu merupakan kekejian di mata Tuhan.  Maka karena perbuatan Akhan seluruh keluarganya pun turut menanggung akibatnya.

Tuhan tidak pernah berkompromi dengan dosa, karena Dia adalah kudus!

Monday, November 29, 2010

BERTEKUN SAMPAI AKHIR MENDATANGKAN UPAH

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 29 November 2010 -

Baca: Wahyu 14:6-13
 
"Yang penting di sini ialah ketekunan orang-orang kudus, yang menuruti perintah Allah dan iman kepada Yesus."  Wahyu 14:12

Kepada jemaat di Kolose Paulus menasihati, "...kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit,..."  (Kolose 1:23).  Seberapa jauh kita bertekun di dalam Tuhan?  Seberapa tekun kita dalam doa, membaca serta merenungkan firman Tuhan?  Sudahkah kita bertekun menjalankan ibadah kita?  Bertekunkah kita dalam mengerjakan tugas-tugas pelayanan yang dipercayakan Tuhan kepada kita?

     Berbicara tentang ketekunan, mari kita belajar dari seorang Salomo (baca 2 Tawarikh 8:1-8).  Sepintas kalau kita perhatikan, apa yang dilakukan Salomo dalam menjalankan ibadah terlalu rumit.  Ada saja korban yang harus dipersembahkan kepada Tuhan setiap hari, ada juga yang dipersembahkan pada hari-hari khusus:  Sabat, bulan baru, hari raya dan sebagainya.  Meski demikian Salomo melakukan semua itu dengan sukacita.  Salomo dengan tekun dan setia menjalankan ibadahnya kepada Tuhan, tidak setengah-setengah dan tanpa keluh kesah.

     Kehidupan kita sebagai orang percaya sudah seharusnya mencontoh apa yang dilakukan Salomo, bukan saja harus membangun ibadah kita, tapi juga harus memelihara dan menjaga kehidupan ibadah kita.  Itu juga membutuhkan ketekunan dan kesetiaan kita.  Di dalam ketekunan terkadandung unsur kemauan yaitu niat untuk beribadah dengan sungguh.  Bukan hanya sekedar beribadah atau beribadah hanya sebagai kegiatan Mingguan atau kebiasaan saja, namun kita harus menjadikan ibadah itu sebagi suatu kebutuhan, sama seperti orang yang bernafas setiap hari.  Mengapa kita harus bertekun dalam ibadah?  Sebab dalam ketekunan selalu ada janji yang Tuhan sediakan, seperti dikatakan, "Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu."  (Ibrani 10:36).

     Pada akhirnya, ketekunan inilah yang menjadi salah satu kunci kesuksesan orang Kristen atau tolok ukur kekristenan kita.  Firman Tuhan menegaskan bahwa apa pun jerih payah yang kita lakukan untuk Tuhan tidak akan pernah sia-sia!  Salomo dalam Amsalnya berkata, "Dalam tiap jerih payah ada keuntungan,..."  (Amsal 14:23).  Sudahkah kita bertekun?

Sunday, November 28, 2010

TUHAN TAHU KEBERADAAN KITA (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 28 November 2010 -

Baca:  Mazmur 139:13-24
 
"Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku;"  Mazmur 139:23

Bila kita sadar bahwa hidup kita ini selalu dalam pengawasan Tuhan, masihkah kita berani untuk melakukan perbuatan-perbuatan dosa?  Selama ini kita begitu gampangnya membicarakan kejelekan-kejelekan orang lain, mencemooh para hamba Tuhan, mendendam, mengumpat atau merancangkan kejahatan terhadap orang lain dan sebagainya, padahal "...tidak ada suatu makhlukpun yang tersembuyi di hadapanNya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepadaNya kita harus memberikan pertanggung jawab."  (Ibrani 4:13).

     Bila segala hal akan kita pertanggungjawabkan kepada Tuhan di depan takhta pengadilanNya kelak, masihkah kita ogah-ogahan atau asal-asalan di dalam menjalankan peran kita masing-masing?  Masihkah kita baru mau melayani Tuhan dengan giat kalau kita dipuji orang lain?  Masihkah kita ngambek dari pelayanan bila hati kita sedang jengkel terhadap rekan yang tidak menghargai pelayanan dan pengorbanan kita?  Atau kita lebih suka menghabiskan waktu untuk perkara-perkara dunia ini, dari pada berkorban untuk Tuhan?  Ingat, tidak ada satu sudut pun dalam kehidupan kita ini yang berada di luar pengetahuan Tuhan!

     Puji Tuhan!  Hari ini kita masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri.  Mari kita gunakan kesempatan ini untuk memulai sebuah lembaran hidup yang baru, yang kita tulis dengan tinta emas, kisah-kisah yang manis, menjadi berkat bagi orang lain dengan terlebih lagi menyenangkan Tuhan.  Dan bila saat ini kita berada dalam kondisi yang tidak baik: dalam kesendirian, menderita karena sakit, diabaikan dan dipandang sebelah mata oleh orang lain, ingatlah bahwa Tuhan hadir di sana.  Jangan biarkan beratnya penderitaan itu melumpuhkan kepekaan hati kita terhadap keberadaan Tuhan di dalam kehidupan kita.  Ubahlah sikap pesimis menjadi sikap optimis, sambil benar-benar mengawasi setiap perkataan dan perbuatan kita.  Tidak ada alasan bagi kita untuk larut di dunia ini, karena tangan Tuhan senantiasa terbuka untuk memeluk kita.

"Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel.  Tuhanlah Penjagamu, Tuhanlah naunganmu di sebelah tangan kananmu."  Mazmur 121:4-5

Saturday, November 27, 2010

TUHAN TAHU KEBERADAAN KITA (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 27 November 2010 -

Baca:  Mazmur 139:1-12
 
"Tuhan, Engkau menyelidiki dan mengenal aku;"  Mazmur 139:1

Tuhan itu menyelidiki dan mengenal setiap kita dengan baik, bahkan sampai kepada hal-hal terkecil pun dalam kehidupan kita, karena Dia Mahatahu.  Maka dari itu kita harus memperhatikan dengan seksama bagaimana kita hidup.  Jangan sampai kita berperilaku tidak benar yang bisa mendatangkan murka Tuhan.

     Sebagai seorang raja, Daud pasti setuju dengan pernyataan ini:  "Seperti tingginya langit dan dalamnya bumi, demikianlah hati raja-raja tidak terduga!"  (Amsal 25:3).  Apa yang ada di pikiran dan hati seorang raja tak seorang rakyatnya pun tahu.  Akan tetapi, raja-raja itu sama sekali tidak sanggup untuk menyembunyikan hati dan pikiran mereka dari hadapan Tuhan.  Tuhan mengetahui segala sesuatu yang ada di dalam hati dan pikiran kita, lebih dari kita sendiri tahu.  Kok bisa?  Sebab Tuhan adalah Pencipta kita, Dia itu Mahasempurna.  Daud menambahkan, "Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh."  (Mazmur 139:2).  Ini menunjukkan bahwa Tuhan itu sangat peduli kepada kita.  Saat kita duduk, Dia melihat dan memperhatikan; manakala kita berdiri, Dia juga ada di sana.  Jadi, tidak ada satu tindakan pun atau gerak-gerik kita yang terlepas dari pengamatan Tuhan.  Termasuk apa saja yang ada di pikiran kita, yang sedang kita pikirkan, bahkan pikiran-pikiran yang masih berupa imajinasi, angan-angan atau niat dalam diri kita, Dia sangat tahu secara rinci.  Alkitab menyatakan, "Tuhan menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita."  (1 Tawarikh 28:9a).

     Daud juga berkata, "Engkau memeriksa aku, kalau akau berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi."  (Mazmur 139:3).  Ke mana pun kita pergi Tuhan ada di sana untuk dan mengawasi kita.  Jadi kehidupan kita secara total, mulai dari pikiran atau pun yang sudah berupa perbuatan nyata, semuanya berada dalam pengawasan Tuhan.  Lalu, "Dari belakang dan dari depan Engkau mengurung aku, dan Engkau menaruh tanganMu ke atasku."  (Mazmur 139:5).  Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak menghendaki kita salah jalan atau tersesat, karena itulah tanganNya selalu menuntun, membimbing, menopang serta melindungi kita.  Di sini dapat disimpulkan bahwa kapan pun dan di mana pun kita berada, kita selalu berada dalam pengawasan Tuhan.  Dan tidak ada tempat di mana Tuhan tidak hadir.

Jadi, milikilah rasa hormat dan hati yang takut akan Dia!

Friday, November 26, 2010

ALLAH ITU MAHAKUDUS

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 26 November 2010 -

Baca:  Wahyu 4:1-11
 
"Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang."  Wahyu 4:8b

Ketika memuliakan Tuhan, para malaikat menyerukan bahwa Tuhan itu kudus.  Kata kekudusan ini menunjukkan kesempurnaanNya yang tanpa batas.  Sifat kudusNya adalah ringkasan dari semua sifat Tuhan, seperti Mahakuasa, Mahahadir, tidak berubah, Mahatahu dan sebagainya.  Jadi kekudusan Tuhan adalah mahkota dari semua sifat yang menunjukkan siapa Dia, sebagaimana nyanyian yang dinaikkan Musa dan seluruh umat Israel, "Siapakah yang seperti Engkau, di antara para allah, ya Tuhan; siapakah seperti Engkau, mulia karena kekudusanMu, menakutkan karena perbuatanMu yang masyhur, Engkau pembuat keajaiban?"  (Keluaran 15:11).  Tuhan adalah patokan mutlak untuk kekudusan, tidak aada yang lain, karena Dia tidak pernah membuat kesalahan atau melakukan sesuatu yang salah, tidak ada keputusanNya yang keliru; Ia tanpa cela, tanpa cacat, tanpa dosa, sepenuhnya benar, benar-benar kudus secara mutlak.  Siapa pun untuk bisa masuk dalam hadirat Tuhan harus hidup kudus.

     Munginkah manusia itu kudus?  Karunia kekudusan itu diberikan Tuhan kepada setiap orang yang menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.  Sebaliknya, setiap orang yang menolak Yesus Kristus akan dicampakkan ke tempat yang disiapkan bagi Iblis dan para malaikatnya, ke luar jauh dari hadirat Tuhan.  Ditegaskan, "...hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis:  Kuduslah kamu, sebab Aku kudus."  (1 Petrus 1:15-16).  Tuhan sangat membenci dosa; tidak ada kata kompromi terhadap dosa.

     Adalah sia-sia ibadah kita, pelayanan kita, penyembahan kita, persembahan kita dan sebagainya jika kita masih melakukan perbuatan-perbuatan dosa yang mungkin bisa kita sembunyikan di depan manusia, tapi di hadapan Tuhan semuanya tampak jelas dan telanjang.

"Aku membenci, Aku menghinakan perayaanmu dan Aku tidak senang kepada perkumpulan rayamu.  Sungguh, apabila kamu mempersembahkan kepadaKu korban-korban bakaran dan korban-korban sajianmu.  Aku tidak suka, dan korban keselamatanmu berupa ternak yang tambun, Aku tidak mau pandang.  Jauhkanlah dari padaKu keramaian nyanyian-nyanyianmu, lagu gambusmu tidak mau Aku dengar."  (Amos 5:21-23).

Thursday, November 25, 2010

PENYEMBAHAN YANG SALAH: Tak Berkenan Pada Tuhan (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 25 November 2010 -

Baca:  Imamat 10:1-7
 
"Maka keluarlah api dari hadapan Tuhan, lalu menghanguskan keduanya (Nadab dan Abihu - Red.), sehingga mati di hadapan Tuhan."   Imamat 10:2

Anak-anak imam Harun yaitu Nadab dan Abihu sejak kecil telah dipersiapkan dikuduskan untuk menjadi imam di kemudian hari.  Jadi anak-anak imam besar Harun harus mengalami proses didikan dan latihan yang tidak mudah selama bertahun-tahun.  Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu itu pun tiba, mereka harus ditahbiskan sebagai imam.

     Namun disesalkan, dalam menjalankan tugas pertama sebagai imam, mereka mempersembahkan 'api asing'.  Tertulis begini: "...Nadab dan Abihu, masing-masing mengambil perbaraannya, membubuh api ke dalamnya serta menaruh ukupan di atas api itu.  Dengan demikian mereka mempersembahkan ke hadapan Tuhan api yang asing tidak diperintahkanNya kepada mereka." (ayat 1).  Nadab dan Abihu tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan sebagai imam, memimpin umat dalam penyembahan.  Mereka mengabaikan perintah Tuhan sehubungan dengan penyembahan yang semestinya dan Tuhan pun langsung membinasakan keduanya.  Setelah menanti-nanti sepanjang hidup mereka untuk memimpin umat Israel dalam penyembahan, mereka harus kehilangan hak itu sama sekali karena satu tindakan salah pada hari pertama sebagai imam.

     Contoh lainnya adalah raja Saul yang juga melakukan dosa serupa (baca 1 Samuel 13:8-14).  Saul telah menyimpang dari aturan penyembahan yang sudah ditentukan Tuhan.  Karena tidak sabar menanti kedatangan Samuel, Saul berkata kepada rakyatnya, " 'Bawalah kepadaku korban bakaran dan korban keselamatan itu.'  Lalu ia mempersembahkan korban bakaran."  (1 Samuel 13:9).  Saul dengan beraninya mengambil alih tugas yang seharusnya dilakukan oleh seorang imam.  Akhirnya Saul harus menanggung akibat dari kesalahannya itu:  ia kehilangan takhta.  Dikatakan, "...sekarang kerajaanmu tidak akan tetap.  Tuhan telah memilih seorang yang berkenan di hatiNya dan Tuhan telah menunjuk dia menjadi raja atas umatNya, karena engkau tidak mengikuti apa yang diperintahkan Tuhan kepadamu."  (1 Samuel 13:14).

     Nadab, Abihu dan Saul melakukan tindakan yang tidak berkenan kepada Tuhan.

Maksud hati mempersembahkan korban sebagai penyembahan kepada Tuhan, tapi mereka melakukan dengan cara yang tidak benar dan Tuhan pun tidak menerima penyembahan mereka!

Wednesday, November 24, 2010

PENYEMBAHAN YANG SALAH: Tak Berkenan Pada Tuhan (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 24 November 2010 -

Baca:  Ulangan 6:1-25

"Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu."  Ulangan 6:5

Kita dipanggil untuk menyembah Tuhan.  Jelas dikatakan bahwa kita harus menyembah Tuhan dengan benar, yaitu dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap kekuatan kita.  Itulah sebabnya penyembahan kepada Tuhan harus menjadi pusat perhatian dalam kehidupan orang percaya.  Kita tidak diperkenankan menyembah Tuhan dengan asal-asalan atau seenaknya karena Dia adalah Tuhan, yang menciptakan kita.

     Sangat disesalkan bila banyak orang Kristen tidak menyembah Tuhan dengan sungguh-sungguh.  Salah satu contohnya adalah saat mereka melakukan ibadah di Gereja.  Masih ada yang bersenda-gurau, mengobrol, atau tangannya sibuk memencet-mencet handphone atau bermain BBM, padahal hamba Tuhan sedang menyampaikan kotbah.  Dalam memuji Tuhan pun tidak ada ekspresi dan tak bersemangat, sementara worsip leader sudah bermandi peluh mendorong jemaat untuk masuk hadirat Tuhan.  Seharusnya kita sadar, bahwa ketika kita beribadah itu artinya kita sedang menghadap Sang Khalik.

     Kalau kita baca di dalam Perjanjian Lama, Tuhan bertindak sangat tegas terhadap orang-orang yang tidak menyembah Dia sebagaimana mestinya.  Contoh:  Ketika bangsa Israel menyemba anak lembu emas (baca Keluaran 32:1-35), Tuhan sangat marah kepada mereka, akibatnya ada kira-kira tiga ribu orang bangsa Israel yang tewas.  Namun Tuhan masih menunjukkan belas kasihanNya sehingga Ia tidak memusnahkan mereka semua.  Namun ini cukup menunjukkan betapa Tuhan sangat benci terhadap penyembahan yang salah.  Ditulis di situ: "...Tuhan menulahi bangsa itu, karena mereka telah menyuruh membuat anak lembu buatan Harun itu."  (Keluaran 32:35).  Tidak ada Tuhan lain yang layak disembah!  Tetapi bangsa Israel telah mengubah Tuhan menjadi sebuah patung lembu emas buatan tangan manusia.  Padahal firmanNya tegas menyatakan, "...janganlah engkau sujud menyembah kepada allah lain, karena Tuhan, yang namaNya Cemburuan, adalah Allah yang cemburu."  (Keluaran 34:14).

     Bangsa Israel telah menolak menyembah Tuhan dan berpaling kepada allah yang palsu, dan tidak bisa diterima.  Bukankah sampai sekarang pun banyak orang Kristen yang menyembah kepada patung, batu, pohon besar, kuburan dan sebagainya?  (Bersambung)

Tuesday, November 23, 2010

BEGITU PENTINGKAH DOA BAGI KITA?

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 23 November 2010 -

Baca:  Mazmur 141:1-10

"Biarlah doaku adalah bagiMu seperti persembahan ukupan, dan tanganku yang terangkat seperti persembahan korban pada waktu petang."  Mazmur 141:2

Setiap kita pasti berharap agar doa-doa yang kita panjatkan selalu didengar dan dijawab Tuhan.  Kenyataannya tidak semua doa kita itu dijawab Tuhan.  Akibatnya banyak orang Kristen yang menjadi kecewa, mogok melayani, dan tidak lagi mau berdoa.  Sangat menyedihkan lagi ada juga yang akhirnya putar haluan, lari mencari pertolongan di luar kuasa Tuhan.

     Doa adalah nafas hidup orang percaya.  Ketika kita dalam masalah atau pergumulan yang berat, yang kita butuhkan adalah doa.  Baik itu doa yang kita panjatkan sendiri kepada Tuhan atau melalui dukungan doa dari saudara kita seiman lainnya.  Begitu pentingkah doa itu bagi kita?  Doa lahir karena kita menyadari akan keterbatasan dan ketidak berdayaan kita dalam mengatasi setiap permasalahan yang ada.  Karena itu kita sangat membutuhkan pertolongan dari Tuhan melalui doa kita.  Dalam Yakobus 5:16b dikatakan:  "Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya."  Jadi, di dalam doa terkandung mujizat yang luar biasa bagi orang percaya.  Karena itu jangan malas untuk berdoa!  Sesibuk apa pun, berdisiplinlah menyediakan waktu untuk berdoa.  Keberhasilan kita dalam rumah tangga, pekerjaan dan juga pelayanan sangat ditentukan oleh ketekunan kita dalam doa.  Pelayanan pekerjaan Tuhan (penginjilan) di atas muka bumi ini tidak akan berhasil jika tidak didahului oleh para pendoa syafaat yang siang malam mengetuk pintu hati Tuhan melalui doa-doa mereka.  Ketahuilah bahwa Tuhan Yesus sendiri tidak pernah lalai untuk berdoa dan membangun kekariban dengan Bapa di sorga.  Itulah kunci keberhasilan pelayanan Yesus saat Ia berada di bumi.  Mengapa Yesus perlu berdoa keapda BapaNya?  Karena Yesus hendak memberikan teladan kepada kita bahwa dalam wujudNya sebagai manusia Dia bergantung sepenuhnya kepada kuasa dari Bapa, bukan mengandalkan kekuatanNya sendiri.

     Seberapa sering kita berdoa?  Atau malah kita berkata, "Mana sempat, keburu telat!".  Untuk kegiatan lain saja kita sempat-sempatkan, apakah untuk berdoa saja kita tidak punya waktu?

"Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepadaNya selama Ia dekat!"  Yesaya 55:6

Monday, November 22, 2010

KASIH SEJATI: Dasar Ketaatan (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 22 November 2010 -

Baca:  Roma 5:1-11

"Akan tetapi Allah menunjukkan kasihNya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa."   Roma 5:8

Karena terlalu beratnya penderitaan yang harus Ia tanggung, sampai-sampai Yesus berdoa sebanyak tiga kali dengan kata-kata yang sama yaitu, "Ya BapaKu, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari padaKu, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki."  (Matius 26:39).  Oleh karena ketaatanNya, Yesus menyerahkan bebanNya sepenuhnya ke dalam tangan Bapa.  Dan karena ketaatanNya, Yesus beroleh peninggian dari Bapa: dikaruniai nama di atas segala nama dan diberikan padaNya kuasa, baik di bumi maupun di sorga.  Taat berarti kita memegang erat firman itu, menaruhnya dalam hati dan menjadikannya bagian dalam hidup kita.  Dengan kata lain kita menerapkan prinsip-prinsip firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.  Allah menyatakan, "...hendaklah kamu mejadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri."  (Yakobus 1:22).

     Mengapa kita harus taat?  Ketaatan sejati dimulai dari kasih Tuhan kepada kita;  Tuhan tidak menuntut kita taat terlebih dahulu, namun Dialah yang mengasihi kita lebih dulu dan rela mati untuk kita ketika kita masih berdosa (ayat nas).  Suatu anugerah yang luar biasa!  Inilah yang harus menjadi dasar ketaatan kita kepada Tuhan.  Kita taat kepada Tuhan bukan karena terpaksa, tapi karena kita menyadari betapa Dia sangat mengasihi kita, bahkan rela mengorbankan nyawaNya untuk kita.  Dunia juga mempraktekkan ketaatan, tetapi ketaatan yang di dalamnya ada unsur keterpaksaan, orang taat karena beroleh imbalan atau upah.  Tetapi sebagai orang percaya kita harus taat kepada Tuhan apa pun kondisinya.  Jangan sampai hanya karena masalah, sakit, penderitaan atau kesesakan yang terjadi, kita berubah sikap tidak lagi taat kepadaNya.

     Selalu ada upah untuk setiap ketaatan kita kepada Tuhan, "...supaya sukacitaKu ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh."  (Yohanes 15:11).   Ketika kita taat kepada Tuhan kita akan tinggal dalam kasihNya yang sejati, berarti ada jaminan pemeliharaan, dan janji penyertaanNya dinyatakan sempurna atas kita hari lepas hari! 

Bila kita sadar betapa besar kasih Tuhan kepada kita, maka diri kita akan dipenuhi kasih yang sejati dan itu akan membuat kita hidup dalam ketaatan.

Sunday, November 21, 2010

KASIH SEJATI: Dasar Ketaatan (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 21 November 2010 -

Baca:  Yohanes 15:9-11

"Jikalau kamu menuruti perintahKu, kamu akan tinggal di dalam kasihKu, seperti Aku menuruti perintah BapaKu dan tinggal di dalam kasihNya."  Yohanes 15:10

Dari pembacaan firman Tuhan hari ini ada tiga unsur penting yang terkandung di dalamnya yaitu kasih, ketaatan dan sukacita.  Berbicara tentang kasih erat hubungannya dengan kekristenan.  Ayat 9 berbicara tentang kasih Allah kepada AnakNya yang tunggal yaitu Yesus Kristus, kasih Yesus Kristus kepada Bapa dan juga kasih Yesus Kristus kepada umatNya.

     Kasih yang bagaimana?  Dunia mengenal kasih tapi bukan kasih yang sejati, melainkan kasih yang bersyarat.  Banyak orang berkata, "Aku mengasihi kamu karena kamu mengasihi aku.  Aku akan berbuat baik kepadamu karena selama ini kamu berbuat baik padaku." dan sebagainya.  Prinsip dunia: mengasihi setelah memperoleh imbalan; memberi setelah menerima.  Itulah praktek kasih menurut pola dunia.  Jadi, di manakah kita dapat menemukan kasih yang sejati itu?  Kasih sejati timbul atau berasal dari sumber kasih itu sendiri yaitu Allah.  Kasih sejati yang dimaksud bukan sekedar luapan emosi, tapi merupakan suatu pribadi.  Jadi kasih itu bukanlah sekedar sifat atau bentuk emosi tertentu dari Allah, tetapi kasih adalah eksistensi Allah itu sendiri yang dinyatakan secara total melalui pengorbanan Yesus Kristus di atas kayu salib, mati untuk menebus dosa kita.  Ada tertulis:  "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal."  (Yohanes 3:16).

     Bagaimana suypaya kita dapat mengalami atau hidup di dalam kasih Tuhan?  Dikatakan demikian:  "Jikalau kamu menuruti perintahKu, kamu akan tinggal di dalam kasihKu, seperti Aku menuruti perintah BapaKu dan tinggal di dalam kasihNya."  (Yohanes 15:10).  Untuk dapat hidup di dalam kasih Tuhan kita harus menuruti perintah Tuhan dan taat kepada kehendakNya.  Kasih itu berkaitan dengan ketaatan.  Tuhan Yesus sendiri telah memberikan teladan kepada kita dalam hal ketaatan.  Sejauh mana ketaatan Tuhan Yesus terhadap Bapa?  Ketaatan Tuhan Yesus terhadap Bapa adalah sampai kematianNya di atas kayu salib (baca Filipi 2:5-11).  Secara manusia Yesus tidak sanggup menghadapi pergumulan yang sedang Ia jalani yaitu harus mengalami penderitaan yang berat, bahkan sampai mati di atas kayu salib demi menanggung dosa kita.  (Bersambung)

Saturday, November 20, 2010

BARNABAS: Contoh Teladan Yang Baik

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 20 November 2010 -

Baca:  Kisah Para Rasul 11:19-30

"karena Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman.  Sejumlah orang dibawa kepada Tuhan."  Kisah 11:24

Adalah bijak bila kita belajar atau meneladani orang-orang yang dipakai Tuhan secara luar biasa, apakah rahasia yang membuat mereka sukses, maju dan berlimpah dalam hal-hal lahiriah.  Terlebih lagi kita perlu belajar dari kehidupan rohani orang tersebut: iman, kesetiaan, semangat dan lain-lain, yang membuat mereka menjadi pahlawan iman.

     Salah satu contoh adalah Barnabas, tokoh Alkitab yang dapat kita jadikan teladan dalam kehidupan rohani kita.  Alkitab mencatat:  "Ia (Barnabas) menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul."  (Kisah 4:37).  Ini menunjukkan bahwa Barnabas adalah seorang yang murah hati dan suka memberi.  Kepeduliannya terhadap perkara-perkara rohani sangat besar.  Buktinya ia rela menjual sebidang tanah miliknya untuk membantu pekerjaan Tuhan (pekabaran Injil) sebagaimana diamanatkan Salomo, "Muliakanlah Tuhan dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu,"  (Amsal 3:9).  Barnabas tidak mementingkan diri sendiri, tapi senantiasa menunjukkan kebaikannya kepada orang lain.  Itulah sebabnya orang-orang di Antiokhia sangat suka kepada Barnabas.  Tercatat demikian:  "Setelah Barnabas datang dan melihat kasih karunia Allah, bersukacitalah ia.  Ia menasihati mereka, supaya mereka semua tetap setia kepada Tuhan, karena Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman."  (Kisah 11:23-24a).  Kehidupan Barnabas menjadi kesaksian bagi orang lain sehingga banyak orang menjadi percaya kepada Kristus.  Lalu, Barnabas pergi ke Tarsus untuk menolong pelayanan Saulus (nama Paulus sebelumnya) dan membawanya ke Antiokhia untuk melayani bersama-sama jiwa-jiwa.  Keduanya mengajar banyak orang di sana dan "Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen."  (Kisah 11:26b).

     Sungguh, pelayanan Barnabas di Antiokhia membawa dampak yang sangat luar biasa karena ada kuasa Roh Kudus yang menyertainya; ia juga tidak mencari nama atau popularitas, tapi semua dilakukan semata-mata demi hormat dan kemuliaan nama Tuhan.  Inilah sikap yang seharusnya dimiliki oleh setiap orang percaya dan terlebih lagi para pelayan Tuhan yang rindu dipakai Tuhan untuk bekerja di ladangNya yang sudah menguning dan siap dipanen ini.

Jadilah anak-anak Tuhan yang penuh Roh Kudus agar pelayanan kita berdampak positif!

Friday, November 19, 2010

MENGANDALKAN MANUSIA DAN PELECEHAN TERHADAP TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 19 November 2010 -

Baca:  Yeremia 17:5-8

"Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada Tuhan."  Yeremia 17:5

Untuk menjadi orang yang sukses atau berhasil di segala bidang kehidupan dibutuhkan kerja keras atau usaha yang tidak mudah.  Kita harus tekun dan tidak mudah putus asa.  Namun banyak orang yang tidak menyadari akan hal ini sehingga mereka berusaha mencari jalan yang mudah atau instan untuk meraih suatu kesuksesan atau keberhasilan.

     Alkitab menegaskan bahwa kesuksesan atau keberhasilan yang diraih secara instan atau gampang pada akhirnya tidak akan mendatangkan berkat bagi seseorang, seperti dikatakan Salomo, "Milik yang diperoleh dengan cepat pada mulanya, akhirnya tidak diberkati."  (Amsal 20:21).  Orang yang mencari pertolongan kepada manusia, dukun, orang pintar dan sebaginya adalah orang yang ingin mendapatkan berkat secara cepat dan instan.  Ini tidak dibenarkan firman Tuhan.  Mengandalkan manusia dan menaruh pengharapan kepadanya adalah perbuatan yang terkutuk (baca ayat nas).  Itu berarti kita tidak mempercayai kuasa Tuhan yang tak terbatas itu, artinya kita sedang merendahkan atau melecehkan kuasa Tuhan.  Tuhan menghendaki agar kita mengandalkan Dia dalam segala hal.  Ditegaskan, "Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan!"  (Yeremia 17:7).  Sudah seharusnya kita menaruh pengharapan sepenuhnya kepada Tuhan karena hanya Dia yang Mahakuasa!

     Janganlah sekali-kali menggantungkan harapan kepada manusia, karena Tuhan telah memperlengkapi kita masing-masing dengan akal budi dan juga keahlian (bakat).  Potensi yang ada dalam diri harus kita maksimalkan.  Oleh karena itu kita harus mau bekerja dan berusaha.  Tidak ada istilah berpaku tangan atau menanti uluran tangan orang lain.  Dengan bekerjalah manusia menemukan dirinya sebagai manusia yang segambar dengan Allah karena Allah juga bekerja, seperti dikatakan oleh Tuhan Yesus, "BapaKu bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga."  (Yohanes 5:17).  Bahkan dengan kerja Rasul Paulus menentang orang yang tidak mau bekerja, yang hidupnya menggantungkan harapan kepada orang lain, "jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan."  (2 Tesalonika 3:10b).  Jangan sia-siakan potensi yang Tuhan beri dan andalkan Dia senantiasa.

"Jangan berharap pada manusia, sebab ia tidak lebih dari pada embusan nafas, dan sebagai apakah ia dapat dianggap?"  Yesaya 2:22

Thursday, November 18, 2010

KESATUAN HATI MENDATANGKAN KUASA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 18 November 2010 -

Baca: Mazmur 133:1-3

"Sungguh alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun."  Mazmur 133:1

Kita patut berbangga menjadi bagian dari bangsa yang besar yaitu bangsa Indonesia, yang sangat menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan bangsa.  Perihal persatuan dan kesatuan ini pun tercantum dalam sila ke-3 Pancasila, dasar negara kita.  Ada pepatah Jawa yang mengatakan, "Cara agawe bubrah, rukun agawe santosa".  Ungkapan ini menggambarkan betapa pentingnya persatuan atau kesatuan hati itu.  Alkitab juga menegaskan ada keuntungan atau berkat jika ada kesatuan hati.

     Mengapa kesatuan hati itu sangat penting dan bagaimana cara untuk mewujudkannya?  Kesatuan hati memiliki nilai istimewa di penilaian Tuhan.  Bagi Tuhan, kesatuan hati itu sesuatu yang baik dan sangat indah.  Daud melukiskannya demikian:  "Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya.  Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion."  (ayat 2-3a).  Jadi, kesatuan hati adalah sesuatu yang dapat mengerakkan hati Tuhan untuk memberikan apa yang kita minta.  Dikatakan, "Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh BapaKu yang di sorga."  (Matius 18:19).  Terlebih lagi jika kesatuan hati terjalin di antara anak-anak Tuhan atau sesama anggota tubuh Kristus, pasti akan mendatangkan kuasa yang dahsyat!  Sebaliknya, pertikaian dan perselisihan di antara anak Tuhan hanya akan membuat Iblis bersorak-sorai, karena pekerjaan Iblis hanyalah untuk memecah-belah sehingga berkat Tuhan pun terhambat turun.

     Bagaimana caranya supaya kita dapat bersatu?  Kesatuan hati akan terwujud bila kita tidak melihat perbedaan yang ada.  Setiap orang pasti memiliki perbedaan-perbedaan, baik dari segi fisik, sifat, hobi atau minat, pola pikir dan sebagainya.  Namun perbedaan itu tidak boleh membuat kita merasa tidak memerlukan orang lain.  Kita juga harus dapat melihat kesamaan-kesamaan yang ada.  Di dalam Kristus kita adalah satu; satu baptisan, satu Allah dan Bapa (baca Efesus 4:5).  Mari kita bangun kesatuan hati di antara orang-orang percaya dan jangan mau diperalat Iblis!

"Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah,"  Efesus 2:19.

Wednesday, November 17, 2010

ALLAH MEMELIHARA HIDUP KITA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 November 2010 -

Baca: Amsal 2:1-22

"Ia menyediakan pertolongan bagi orang yang jujur, menjadi perisai bagi orang yang tidak bercela lakunya, sambil menjaga jalan keadilan dan memelihara jalan orang-orangNya yang setia."  Amsal 2:7-8

Ayat nas di atas menjadi kekuatan dan penghiburan bagi kita.  Dinyatakan di situ bahwa Allah senantiasa menyediakan pertolongan bagi umatNya.  Tidak hanya menjaga, Dia juga akan memelihara kita.

     Banyak bagian dalam Alkitab yang menyatakan betapa Tuhan sangat peduli dan perhatian terhadap kita.  Salah satunya adalah seperti yang diungkapkan Daud, "Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku."  (Mazmur 23:1).  Kata 'takkan kekurangan aku' berarti tak hanya dipelihara Tuhan, tapi Ia juga memenuhi dan mencukupkan segala keperluan kita.  Adapun bukti terbesar pemeliharaan, perhatian dan kepedulian Allah kepada kita adalah pengorbanan melalui PuteraNya, Yesus Kristus.  "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal."  (Yohanes 3:16).

     Tidak ada yang harus kita kuatirkan!  Tuhan Yesus berkata, "Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai.  Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?"  (Matius 6:25).  Burung-burung di udara saja Tuhan pelihara, bunga bakung di ladang didandaniNya begitu indah, tidakkah Ia akan memelihara dan mendandani kita begitu rupa?  Bapa di sorga tahu benar apa yang kita butuhkan.  Asal kita mengutamakan Tuhan, "...semuanya itu akan ditambahkan kepadamu."  (Matius 6:33).  Jangan pernah berpikir bagaimana cara Tuhan menolong kita, terkadang caraNya tidak masuk akal.  Pertolongan dan pemeliharaan Tuhan itu ajaib dan tak terselami oleh pikiran atau logika kita.  Contoh:  Elia dipelihara Tuhan dengan caraNya yang ajaib (baca 1 Raja-Raja 17:1-6).

     Kadangkala kita tidak setia, namun Tuhan tetap setia.  Ia tetap mengasihi kita, dan kasihNya kepada kita bukan kasih 'musiman', tapi untuk selama-lamanya.  Amin!  Tidak ada kuasa mana pun yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus!

"Serahkanlah kuatirmu kepada Tuhan, maka Ia akan memelihara engkau!  Tidak untuk selama-lamanya dibiarkannya orang benar itu goyah."  Mazmur 55:23

Tuesday, November 16, 2010

KERAJAAN YANG TIDAK TERGONCANGKAN: Perihal Jaminan Tuhan

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 November 2010 -

Baca: Ibrani 12:25-29

"...karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepadaNya, dengan hormat dan takut,"  Ibrani12:28

Keadaan dunia saat ini sungguh tidak bertambah baik.  Banyak sekali kejadian-kejadian yag mengejutkan, entah itu bencana, krisis atau fenomena alam yang menyimpan misteri.  Goncangan terjadi di segala bidang kehidupan.  Akibatnya banyak orang tergoncang karena keadaan yang tidak baik ini.  Ketakutan, kekuatiran atau rasa putus asa menyerang pikiran semua orang.  Hal ini tidak hanya dialami oleh orang-orang di luar Tuhan saja, tapi orang percaya (orang Kristen) pun tidak luput dari goncangan yang ada.

     Sebagai anak-anak Tuhan janganlah kita terkejut bila mendengar berita atau melihat kejadian-kejadian yang menggoncangkan ini.  Hal ini bukanlah berita baru sebab Alkitab sudah menyatakannya.  Kita sebagai anak-anaknya tidak seharusnya menjadi takut dan putus asa, sebab ada jaminan pemeliharaan Tuhan bagi kita.  Di dalam Yesus Kristus kita akan menerima kerjaaan yang tidak tergoncangkan.  Untuk dapat tinggal di dalam area kerajaanNya yang tidak tergoncangkan ini kita harus mengarahkan pandangan kita hanya kepada Yesus.  Jadi, "Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, ...Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diriNya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa."  (ayat 2-3).  Mengapa orang Kristen mudah stres dan tergoncang ketika ada masalah?  Karena fokus kita hanya tertumpu pada masalah dan situasi yang ada, bukan mengarahkan pandangan kepada Tuhan yang dahsyat.

     Mari kita belajar mengaktifkan 'mata iman' supaya kita dapat melihat pekerjaanNya yang ajaib di tengah goncangan.  Bila kita berjalan dengan 'mata iman', kita akan menyadari bahwa ada Roh Tuhan di dalam kita seperti tertulis: "...Alah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban."  (2 Timotius 1:7). dan RohNya itu "...lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia."  (1 Yohanes 4:4).

Dunia boleh saja bergoncang hebat.  Asal kita tetap melekat kepada Tuhan dan mengandalkanNya dalam segala hal, maka kita berada di dalam kerajaanNya yang tidak tergoncangkan.

Monday, November 15, 2010

PERSEMBAHAN ASAL-ASALAN: Dibenci Tuhan

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 November 2010 -

Baca: Maleakhi 1:6-14

"Kamu membawa roti cemar ke atas mezbahKu, tetapi berkata: 'Dengan cara bagaimanakah kami mencemarkannya?' Dengan cara menyangka: 'Meja Tuhan boleh dihinakan!' "  Maleakhi 1:7

Bagaimanakah cara kita memberi sesuatu kepada Tuhan?  Baik itu persembahan waktu, tenaga dan juga materi (uang).  Ketika kolektan berkeliling dengan kantong persembahan, sudahkah kita menyiapkan persembahan terbaik?  Apakah kita hanya menaruh sedikit uang ke dalam kantong tanpa banyak berpikir, dengan lembaran uang yang paling lusuh dan kotor pula?  Ataukah kita hanya menulis sehelai cek untuk Tuhan pada tanggal tertentu setiap bulan dan membayar Dia seperti kita melunasi tagihan-tagihan lainya?

     Cara kita memberi merupakan perhatian mendalam bagi Tuhan.  Dia sangat peduli pada cara kita mempersembahkan sesuatu kepadaNya.  Dia tidak akan menerima pemberian yang tidak didasari hati yang tulus, apalagi persembahan yang diberikan dengan asal-asalan.  Tuhan jijik dan akan menolak persembahan semacam itu.  Seperti perbuatan umat Israel.  Memang mereka membawa persembahan kepada Tuhan, tapi yang mereka persembahkan bukanlah yang terbaik, tapi bisa dikatakan persembahan 'sisa-sisa'.  Tertulis: "Apabila kamu membawa seekor binatang buta untuk dipersembahkan, tidakkah itu jahat?  Apabila kamu membawa binatang yang timpang dan sakit, tidakkah itu jahat?  Cobalah menyampaikannya kepada bupatimu, apakah ia berkenan kepadamu, apalagi menyambut engkau dengan baik?  Firman Tuhan semesta alam"  (ayat 8).  Bangsa Israel membawa persembahan kepada Tuhan berupa hewan-hewan yang sakit, cacat, timpang, anak lembu buta dan terluka yang tidak bermanfaat bagi mereka.  Itu sangat menyakitkan hati Tuhan dan Dia pun berkata, "Aku tidak suka kepada kamu,...dan Aku tidak berkenan menerima persembahan dari tanganmu."  (ayat 10b).

     Bagaimana dengan kita?  Marilah menaruh hormat kepada Tuhan!  Tidak sedikit orang Kristen yang masih hitung-hitungan jika hendak memasukkan rupiah ke kantong kolekte.  Rasanya kita tidak rela merogoh kocek lebih untuk Tuhan.  Tapi kalau untuk makan di restoran mahal dengan teman-teman?  Nah, bukankah berkat yang kita terima itu berasal dari Tuhan?  Juga dalam hal waktu, Tuhan hanya kita beri sisa-sisa; waktu kita habis untuk pekerjaan dan hobi!

Dalam segala hal kita harus belajar memberi yang terbaik bagi Tuhan.  Ini wujud penyembahan kita kepada Tuhan!

Sunday, November 14, 2010

MEMUJI TUHAN: Gaya Hidup Orang Benar

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 November 2010 -

Baca: Mazmur 132:1-18

"Biarlah imam-imamMu berpakaian kebenaran, dan bersorak-sorai orang-orang yang Kaukasihi!"  Mazmur 132:9

Tuhan menciptakan kita untuk kemuliaan namaNya, artinya melalui kehidupan kita, kita dapat meninggikan dan memuliakan nama Tuhan.  Jadi kita diciptakan untuk memuji Dia.  Banyak orang Kristen yang tidak mengerti akan hal ini.  Contoh sederhana: saat ibadah di gereja ada yang malas memuji Tuhan, malu mengangkat tangan dan mulut pun terasa terkunci.  Takut dikatakan fanatik!  Justru mereka yang tidak sungguh-sungguh memuji Tuhan dan mengolok-olok teman lain dengan kata fanatik, dialah yang harus bertobat.

     Mari perhatikan.  Pujian adalah bidang kehidupan orang percaya.  Alkitab menegaskan, "Biarlah segala yang bernafas memuji Tuhan!  Haleluya!"  (Mazmur 150:6).  Hanya orang mati saja yang tidak dapat memuji Tuhan.  Selama kita masih bernafas kita harus menggunakan setiap nafas kita untuk memuji Tuhan.  Atau mungkin kita berkata, "Ah, memuji Tuhan itu tidak harus bersuara atau bersorak-sorai.  Cukup di dalam hati saja."  Memuji Tuhan di dalam hati saja tidak cukup.  Kita harus memiliki pujian di mulut kita seperti kata Daud, "Aku hendak memuji Tuhan pada segala waktu; puji-pujian kepadaNya tetap di dalam mulutku."  (Mazmur 34:2).  Jadi kita tak dapat bersorak-sorai dan berdiam diri sekaligus dalam waktu yang bersamaan.

     Pujian dapat menggerakkan kuasa sorga dinyatakan dalam kehidupan kita.  Saat pujian dinaikkan, saat itu pula kemuliaan Tuhan melawat kita, karena "...Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel."  (Mazmur 22:4).  Kita harus berusaha menyingkirkan semua hambatan yang membuat kita merasa canggung atau enggan memuji Tuhan, serta mempersilahkan Roh Kudus bekerja melalui diri kita.  Ketika kita bersemangat dan memiliki totalitas saat memuji Tuhan kita akan tampak asing, dianggap aneh atau bahkan diejek dan direndahkan oleh orang-orang yang tidak mengerti kebenaran firman Tuhan.  Sebaliknya kita patut bersyukur karena kita akan tampak indah di hadapan Tuhan.

     Karena itu pujilah Tuhan di setiap waktu, jangan hanya saat berada di gereja atau di persekutuan, tetapi dijam-jam pribadi kita di rumah dan di mana pun kita berada.  Latihlah mulut dan hati kita untuk memuji Tuhan karena kita diciptakan untuk tujuan itu.

"Berbahagialah bangsa yang tahu bersorak-sorai, ya Tuhan, mereka hidup dalam cahaya wajahMu;"  Mazmur 89:16

Saturday, November 13, 2010

BERGAUL DENGAN ORANG YANG TEPAT

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 November 2010 -

Baca: 1 Korintus 5:9-13

"Dalam suratku telah kutuliskan kepadamu, supaya kamu jangan bergaul dengan orang-orang cabul."  1 Korintus 5:9


Kepada jemaat di Korintus Rasul Paulus menasihatkan:  "Janganlah kamu sesat:  Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik."  (1 Korintus 15:33).  Alasannya ialah pergaulan yang buruk akan merusak pribadi kita.

     Dengan siapa kita bergaul atau membangun hubungan mempunyai pengaruh yang kuat terhadap kehidupan rohani kita.  Bersekutu atau bersahabat dengan orang-orang yang rohani akan turut mempercepat kita menuju kepada kedewasaan iman dan membawa kita kepada kemenangan.  Sebaliknya, bila kita lebih banyak menghabiskan waktu berhubungan dengan orang-orang yang tidak rohani, kita akan tersesat semakin jauh dari Tuhan dan kita akan terjun bebas menuju kekalahan.  Itulah sebabnya Alkitab memberikan penjelasan tentang pentingnya membina hubungan dengan orang-orang yang tepat bagi kita.

     Tuhan menghendaki agar kita memisahkan diri dari dunia ini.  "Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu."  (2 Korintus 6:17).  Kita diperintahkan untuk memisahkan diri dari pergaulan dunia.  Ini tidak berbicara tentang pelayanan pekabaran Injil.  Tuhan Yesus sendiri melayani orang-orang yang berdosa.  Justru kita harus berbaur dengan mereka: bersaksi, melayani dan berdoa bagi mereka.  Tetapi yang dimaksud di sini adalah tentang orang-orang yang kita pilih untuk menjadi orang terdekat atau sahabat kita.  Jika kita ingin bertumbuh dalam perkara-perkara rohani, pilihlah orang-orang yang mengasihi Tuhan dan memiliki komitmen untuk hidup benar sesuai dengan firman Tuhan, karena "Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya."  (Amsal 27:17).  Janganlah memilih teman atau sahabat yang perkataan dan perbuatannya tidak rohani dan cenderung membawa kita semakin jauh dari Tuhan.  Karena semakin kita bergaul dengan mereka, semakin kita membuka diri terhadap godaan Iblis.  Kita akan semakin akrab dengan dosa dan bisa dipastikan dalam waktu singkat kita akan terjerumus ke dalamnya.

     Oleh karena itu pilihlah teman atau sahabat kita dengan bijaksana, jangan semborono.

Salomo memperingatkan.  "Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang."  (Amsal 13:20)

Friday, November 12, 2010

WUJUD KASIH GEMBALA YANG BAIK

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 November 2010 -

Baca: Yehezkiel 34:1-31

"Kamu adalah domba-dombaKu, domba gembalaanKu, dan Aku adalah Allahmu, demikianlah firman Tuhan Allah."  Yehezkiel 34:31


Andaikan kita menjadi gembala dan suatu saat kita harus diperhadapkan dengan suatu pilihan yang berat:  melindungi domba kita dari binatang buas tapi kita harus mati, atau kita membiarkan domba itu mati asal kita selamat, mana yang kita pilih?  Jujur sebagai manusia kita pasti memilih menyelamatkan diri sendiri daripada harus berkorban nyawa hanya demi domba-domba kita.  Gembala upahan pun melakukan hal yang sama, di mana "...ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu."  (Yohanes 10:12).

     Semua orang pasti tidak mau mati demi seekor domba, karena nyawa domba itu tidak sebanding dengan nyawa manusia.  Tetapi Tuhan Yesus justru datang dengan tujuan mati untuk domba-dombaNya.  Kalau manusia saja tidak pantas mati bagi domba, maka sangat tidak layak Raja di atas raja mau mati bagi manusia; namun Tuhan Yesus melakukan hal yang tidak lazim itu.  Inilah yang disebut anugerah.  Dan melalui perumpamaan dalam Lukas 15:1-7 Tuhan Yesus mengajarkan bahwa Dia Allah rela turun dari sorga untuk mencari domba yang hilang, walaupun hanya seekor saja yang hilang, padahal ia masih punya sembilan puluh sembilan ekor yang lain.  Apalah artinya seekor dibanding dengan sembilan puluh sembilan ekor?

     Satu domba yang tersesat adalah gambaran dari manusia yang berdosa dan tersesat.  Orang lain mungkin melupakan atau membuang kita, tetapi Tuhan tetap peduli;  Ia mencari dan menyelamatkan kita walau kita sebenarnya adalah orang-orang yang tidak layak dicari, bahkan sebaliknya layak dibuang.  Namun kasih Tuhan begitu besar, bahkan Dia rela menderita dan mati di kayu salib.  Ini bukti bahwa Dia adalah gembala yag baik.  Tidak hanya itu, Dia menuntun domba-dombanya masuk ke kandang dan membawanya ke padang rumput hijau dengan tongkat dan gadanya.  Dia pun mengenal kita secara pribadi, seperti tertulis:  "...Aku mengenal domba-dombaKu dan domba-dombaKu mengenal Aku sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawaKu bagi domba-dombaKu."  (Yohanes 10:14).  Ini menunjukkan suatu hubungan yang intim, penuh cinta kasih.  Bukan sekedar mengenal, tapi Dia tahu segala penderitaan dan pergumulan kita.

Tuhan Yesus adalah gembala kita yang sejati, yang mengenal kita.

Thursday, November 11, 2010

TUHAN YESUS: Gembala yang Baik

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 November 2010 -

Baca: Mazmur 79:1-13

"Maka kami ini, umatMu, dan kawanan domba gembalaanMu, akan bersyukur kepadaMu untuk selama-lamanya, dan akan memberitakan puji-pujian untukMu turun-temurun."  Mazmur 79:13

Alkitab menggambarkan hubungan antara umat dengan Tuhan sebagai domba dan sang gembala.  Suatu hubungan yang sangat karib.

     Mengapa kita digambarkan sebagai domba, bukan yang lain?  Pasti ada kebenaran yang terkandung di dalamnya.  Domba merujuk pada: kelemahan, kerentanan dan ketidakberdayaan kita sebagai manusia.  Hal ini untuk menegaskan ketergantungan mausia kepada Tuhan, dan Tuhan sebagai gembala adalah satu-satunya Pribadi yang dapat membimbing dan meuntun kita ke jalan yang benar.  Daud berkata, "Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku.  Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena namaNya."  (Mazmur 23:2b-3).  Tanpa pertolongan dari sang gembala, kita adalah domba-domba yang mudah terhilang.  Adalah tepat bila keberadaan kita sebagai manusia digambarkan sebagai domba yang lemah, bodoh, tak berdaya dan mudah tersesat.  Karena itu kita sangat membutuhkan seorang gembala yang baik untuk menuntun dan menyertai perjalanan hidup kita.

     Syukur bagi Tuhan, oleh karena anugerahNya semakin kita memiliki gembala yang baik yaitu Tuhan Yesus seperti yang dikatakanNya, "Akulah gembala yang baik.  Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya;"  (Yohanes 10:11).  Apa artinya?  'Akulah' menyatakan bahwa Dia adalah satu-satunya Pribadi Ilahi sebagaimana Ia menyatakan diri kepada Musa, "Aku adalah Aku."  (Keluaran 3:14a).  Tidak ada gembala yang baik selain Dia.  Sedangkan di dalam kata 'gembala' terkandung: kasih, perhatian dan juga kesabaran.  Selain itu gembala juga berbicara tentang otoritas atau kedaulatan atas umat.  Di dalam konteks Tuhan, Ia memiliki kedaulatan penuh atas hidup kita karena kita adalah domba-dombaNya dan Dia adalah gembala pemilik.  Bukti bahwa Yesus adalah gembala yang baik adalah Ia rela memberikan nyawaNya untuk kita.  Ini berbeda dengan gembala upahan yang hanya punya tujuan mencari keuntungan diri sendiri.  Tuhan Yesus tidak demikian.

Ia berkata, "Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan."  (Yohanes 10:10b).

Wednesday, November 10, 2010

PENABUR DAN BENIHNYA (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 November 2010 -

Baca: Lukas 8:11-15

"Inilah arti perumpamaan itu:  Benih itu ialah firman Allah."  Lukas 8:11

Dalam perumpamaan ini ada beberapa jenis tanah atau hati yaitu:  1. Pinggir jalan: gambaran tentang jenis hati yang sangat keras.  Ketika firman disampaikan ia tidak memberikan respons yang benar; masih suka mengabaikan, meremehkan atau bahkan menolak dan tidak percaya kepada firman itu.  Orang semacam ini sulit menerima teguran, nasihat, dan cenderung suka memberontak.  Mereka masih hidup menurut keinginannya sendiri, bukan tunduk kepada pimpinan Tuhan; hidup dalam hawa nafsu daging.  Alkitab menegaskan, "...barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya,..."  (Galatia 6:8).

      2. Tanah berbatu-batu.  Benih itu memang tumbuh, tapi tidak mampu menghadapi tantangan yang ada.  Ini berbicara tentang tumbuhan yang saat panas terik akan mati, ia tidak berakar kuat karena ada batu-batu penghalang.  Benih akan tumbuh berakar kuat apabila batu-batu itu dibuang.  Diambilkan peralatan berkebun, batu-batunya disingkirkan, tanahnya diolah, kemudian baru ditaburkan benihnya, pasti bisa tumbuh.  Pada awalnya ia sangat semangat menerima firman, tetapi firman itu tidak mampu berakar kuat, hanya bertahan sebentar saja sehingga ketika masalah, penderitaan atau ujian menerpa, segera ia kecewa dan meninggalkan Tuhan (murtat).  Karena itulah kita harus mau berubah meski itu sakit.  Mohon pertolongan Roh Kudus untuk memampukan kita sehingga kita menjadi manusia baru.  "Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dan syukur."  (Kolose 2:7).

      3. Semak duri.  Benih bisa saja tumbuh, tapi terhimpit oleh semak belukar, akibatnya tanaman itu akan mati.  Ini gambaran seorang Kristen yang masih terikat dengan hal-hal yang bersifat duniawi; masih mencintai dan bersahabat dengan dunia ini.  Mereka dapat saja terlihat seperti orang yang rohani, tapi kekuatiran dunia ini tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak bertumbuh.

     4. Tanah yang baik.  Karena tanahnya baik dan subur, maka benih itu tumbuh dengan baik dan menghasilkan buah.  Ialah seseorang yang mendengar firman kebenaran dan menyambutnya dengan sukacita, percaya dan mempraktekkannya, sekaligus menunjukkan pertumbuhan rohani yang baik sehingga ada buah-buah pertobatan yang dihasilkan.

Bagaimana respons kita terhadap benih firman Tuhan?  Sudah baikkah tanah hati kita?

Tuesday, November 9, 2010

PENABUR DAN BENIHNYA (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 9 November 2010 -

Baca: Matius 13:3-9

"Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!"  Matius 13:9

Pengajaran dengan memakai perumpamaan adalah pelayanan khusus Yesus kepada muridNya.  Tuhan Yesus menggunakan bentuk perumpamaan untuk menjelaskan rahasia Kerajaan Allah, suatu bentuk pengajaran yang mengambil contoh kehidupan sehari-hari untuk menjelaskan sebuah kebenaran rohani.  Kebenaran tentang kerajaan Allah diberitakan dalam bentuk perumpamaan sehingga tidak semua orang dapat memahaminya, hanya dapat dimengerti oleh murid sejati.  Terlebih bagi yang menolak kebenaran itu, mereka hanya bisa mendengar namun tidak akan mengerti.  Hal itu ditujukan kepada bangsa Yahudi yang menolak kehadiran Kristus sebagai Juruselamat, walaupun tanda-tanda itu sebenarnya sudah lebih dari cukup.

     Dalam perumpamaan yang kita baca hari ini diceritakan tentang seorang penabur dan benih yang ditaburnya.  Seorang penabur menaburkan benihnya dan benih itu jatuh di berbagai jenis tanah.  Benih pertama jatuh di pinggir jalan.  Artinya, benih jatuh di tanah yang keras dan tidak akan bertahan lama karena segera datang burung-burung dan memakannya sampai habis.  Benih kedua jatuh di tanah yang berbatu-batu, tidak banyak tanahnya.  Benih itu memang tumbuh namun akan cepat layu dan menjadi kering kena terik matahari, juga karena lapisan tanahnya tipis sehingga benih tak mampu berakar dengan kuat.  Benih ketiga jatuh di tengah semak berduri.  Semak yang tumbuh semakin besar kian menghimpit pertumbuhan benih itu sehingga ia pun mati.  Benih keempat jatuh di tanah yang baik dan benih itu pun bertumbuh dan dapat berbuah lebat.  Ada yang 100x lipat, 60x lipat dan juga 30x lipat.  Apakah arti perumpamaan ini?  Benih berbicara tentang firman Tuhan (Injil).  Sedangkan penabur yang dimaksud adalah para pelayan Tuhan, orang-orang yang dipercaya untuk menaburkan firman Tuhan atau memberitakan Injil Kerajaan Allah.  Ada pun jenis-jenis tanah yang ditaburi benih itu menggambarkan keadaan hati setiap orang.  Perbedaan jenis tanah menunjukkan perbedaan respons masing-masing orang terhadap firman yang mereka terima, sehingga keadaan tanah hati kita sangat menentukan apakah ada dampak dari firman yang kita terima.

     Maka dari itu "Bukalah bagimua tanah baru, sebab sudah waktunya untuk mencari Tuhan,"  (Hosea 10:12b).  Begitu pentingnya hati sehingga Salomo pun menasihatkan, "Jangalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan."  (Amsal 4:23).  (Bersambung)

Monday, November 8, 2010

TAK MAMPU MEMBAYAR UTANG DOSA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 November 2010 -

Baca: Lukas 7:36-50

"Dosanya (perempuan berdosa) yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih.  Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih."  Lukas 7:47

Suatu waktu, Simon (orang Farisi) mengundang Tuhan Yesus untuk makan di rumahnya.  KedatanganNya ke rumah Simon itu didengar oleh seorang perempuan yang terkenal sebagai orang berdosa.  Ia datang dengan membawa buli-buli pualam yang berisi minyak wangi dan berharga sangat mahal.  Lalu, "Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kakiNya, lalu membasahi kakiNya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kakinya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu."  (ayat 38).

     Perempuan itu tidak punya keberanian di hadapan Yesus sebab ia sadar ia berlumuran dosa.  Ia (perempuan itu) hanya bisa menangis saat bertemu dengan Yesus.  Menangis adalah ungkapan kesedihan yang mendalam, dukacita atau pun ungkapan hati yang remuk dan hancur.  Hal itu menggerakkan hati Yesus.  Dalam Mazmur 34:19 dikatakan, "Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya."  Kehadiran perempuan 'berdosa' itu sangat tidak disenangi Simon, dan Tuhan Yesus pun tahu apa yang sedang berkecamuk di hati Simon.  Karena itu Ia menyampaikan suatu perumpamaan:  Ada dua orang berhutang kepada seorang pelepas uang masing-masing 500 dinar dan 50 dinar.  Karena mereka tidak sanggup membayar, si pelepas uang pun membebaskan hutang kedua orang itu.  Tanya Yesus pada Simon, "Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia (si pelepas)?' Jawab Simon: 'Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya."  Kata Yesus kepadanya, 'Betul pendapatmu itu.' "  (Lukas 7:42b-43).  Begitu juga dengan perempuan itu, ia menyadari betapa hina dan besar dosanya.  Dengan air mata, perempuan itu membasuh kaki Yesus dan menyeka dengan rambutnya.  Bahkan tiada henti ia mencium kaki Yesus dan meminyaki kepalaNya dengan minyak.  Tetapi Simon tidak melakukan hal itu.

     Melalui perumpamaan ini sebenarnya Tuhan Yesus sedang menyindir Simon, orang Farisi, yang penuh dengan kepura-puraan merasa dirinya lebih suci.  Pikirnya ia tidak seperti perempuan itu.  Sesungguhnya, orang berhutang yang tidak bisa membayar itu adalah gambaran dari kita.  Untuk membayar hutang dosa, apa pun caranya, kita tidak akan bisa.

Hanya melalui pengorbanan Kristus di atas kayu salib dosa-dosa kita diampuni dan hutang dosa itu lunas terbayar.

Sunday, November 7, 2010

STATUS KITA ADALAH SEORANG HAMBA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 7 November 2010 -

Baca: Lukas 17:7-10

"Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan."  Lukas 17:10b

Tidak ada ceritanya seorang hamba yang baru menyelesaikan tugas atau pekerjaannya memerintah tuannya agar ia disediakan makanan.  Yang ada sebaliknya: secapai-capainya hamba bekerja, apabila si tuan memintanya untuk menyediakan makanan, hamba itu pun pergi melakukan apa yang diperintahkan tuannya itu.  Bila si tuan sudah selesai makan barulah hamba itu boleh makan.  Ditanyakan juga:  "Adakah ia (tuan) berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya?"  (ayat 9).  Tidak.  Itu sudah menjadi tugas dan tanggung jawab seorang hamba, yaitu melakukan apa pun yang diperintahkan tuannya meski dalam keadaan lelah.  Jadi, seorang hamba tidak punya hak untuk menuntut tuannya.

     Dalam hal ini Tuhan Yesus sendiri telah meninggalkan teladan bagi kita, "yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.  Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib."  (Filipi 2:6-8).  Dia datang ke dunia bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani.

     Seorang hamba haruslah memiliki kerendahan hati.  Ada seorang perempuan dari Siro-Fenisia yang datang keapda Yesus karena anaknya dirasuk setan.  Tetapi Tuhan Yesus berkata, "...tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya keapda anjing."  (Markus 7:27).  Meski perkataan Tuhan sangat 'pedas', perempuan itu tidak tersinggung atau sakit hati, sebab ia sadar siapa dirinya, seorang hamba yang rendah.  Ia pun menjawab, "Benar, Tuhan.  Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak." (Markus 7:28).  Maka karena ia memiliki kerendahan hati, Tuhan Yesus menunjukkan belas kasihNya dan terjadinya mujizat: anaknya dipulihkan.

     Begitu pula kita sebagai hamba Tuhan, tidak ada yang patut dibanggakan.  Tugas kita hanyalah melakukan apa kehendak Tuan kita yaitu Tuhan Yesus.  Dalam hal ini tidak ada istilah hamba Tuhan besar atau hamba Tuhan kecl; semuanya sama, kita adalah hambaNya.

Mari lakukan dengan setia hal sekecil apa pun yang dipercayakan Tuhan kepada kita sampai Dia datang kembali.

Saturday, November 6, 2010

PRAJURIT-PRAJURIT KRISTUS

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 6 November 2010 -

Baca: 2 Timotius 2:3-4

"Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus."  2 Timotius 2:3

Rasul Paulus tahu benar potensi dalam diri Timotius.  Itulah sebabnya Paulus dengan sungguh-sungguh mempercayakan pemberitaan Injil itu kepada Timotius.  Dan tak henti-hentinya Paulus mengobarkan semangat Timotius agar karunia rohani yang dari Tuhan itu dimaksimalkannya.

     Paulus mengingatkan betapa indahnya Injil itu.  Sesuai rencanaNya yang rahmani, bukan karena perbuatan kita, Tuhan telah menyelamatkan kita, seperti tertulis:  "Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karuniaNya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Krsitus Yesus..."  (2 Timotius 1:9).  Tidak seharusnya Timotius menjadi lemah dan putus asa karena penderitaan yang harus dialami oleh karena memberitakan Injil.  Sebaliknya Paulus menasihati, "...anakku, jadilah kuat oleh kasih karunia dalam Kristus Yesus."  (2 Timotius 2:1).  Artinya: dalam keadaan apa pun kita harus tetap kuat karena ada jaminan pertolongan di dalam Kristus Yesus, karena seorang pemberita Injil itu laksana seorang prajurit yang sedang berada di medan pertempuran.

     Jadi, sebagai orang percaya kita semua adalah prajurit-prajurit Kristus.  Seorang prajurit harus memiliki semangat juang yang tinggi.  Kalimat 'ikutlah menderita' berarti seorang prajurit juga dituntut untuk melepaskan haknya: tidak memusingkan diri dengan soal-soal penghidupannya dan mau melepaskan segala hak-hak keduniawiannya; juga harus menunjukkan pengabdian penuh kepada komandannya.  Siapakah komandan kita?  Tuhan Yesus Kristus.  Apa pun yang diamanatkan oleh Tuhan Yesus tidak ada kata tidak di dalamnya, harus kita laksanakan, karena Dia adalah komandan kita.

     Kesimpulannya, ada beberapa hal yang harus diperhatikan seorang prajurit Kristus: a. Memiliki hati yang rela, bukan karena terpaksa; b. Hidup dalam kebenaran; c. Memperlengkapi diri dengan senjata rohani, seperti tertulis: "...ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu."  (Efesus 6:13)); d. Siap sedia dalam segala situasi untuk menjalankan tugasnya; e. Tahan dalam semua medan.

Jadilah prajurit Kristus yang baik.  Teruslah berjuang hingga mencapai garis akhir sebagai pemenang!

Friday, November 5, 2010

SI KAYA DAN LAZARUS YANG MISKIN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 5 November 2010 -

Baca: Lukas 16:19-31

"...Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk."  Lukas 16:25a

Kisah tentang orang kaya dan Lazarus yang miskin ini menjadi peringatan bagi umat Tuhan di akhir zaman ini.  Banyak ayat dalam Alkitab begitu tegas menegur dan memperingatkan orang kaya.  Yesus berkata, "...sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga.  Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah."  (Matius 19:23-24).

     Ternyata tidak mudah bagi orang kaya masuk sorga.  Bukan berarti orang kaya yang sudah menikmati banyak kesenangan di bumi tidak bisa menikmati sorga pula.  Orang-orang kaya yang hatinya hanya tertuju pada hartanya itulah yang menyulitkan mereka masuk sorga, seperti tertulis:  "Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada."  (Matius 6:21).  Orang kaya yang digambarkan dalam ayat nas di atas adalah orang kaya yang egois; hidupnya hanya berpusat pada diri sendiri dan tidak pernah berbuat baik, padahal Tuhan sudah memberi kesempatan kepadanya untuk berbuat baik yaitu melalui Lazarus yang sakit dan miskin, yang untuk makan saja mengharapkan sisa makanan dari orang kaya itu.  Karena penderitaan dan sakit penyakit Lazarus meninggal.  Orang kaya pun meninggal.  Tapi nasib keduanya jauh berbeda.  Lazarus yang mengalamai penderitaan di bumi memperoleh kemuliaan bersama Tuhan, karena meski di dunia menderita ia tidak melepaskan imannya kepada Tuhan sampai akhir.  Sebaliknya, orang kaya yang bergelimang harta saat di bumi harus mengalami penderitaan kekal, karena selama di bumi yang dipikirkannya hanyalah harta, harta dan harta.  Ia tidak memiliki belas kasih kepada orang miskin.

     Jadi, apalah artinya seseorang memiliki harta yang berlimpah-limpah bila akhirnya harus mengalami kebinasaan kekal?  Namun, miskin dan menderita di bumi juga bukanlah ukuran bagi seseorang bahwa ia akan masuk sorga, karena bila menolak anugerah dan keselamatan dari Tuhan ia pun akan binasa.  Sebab penghukuman kekal sudah tersedia bagi siapa pun (kaya atau miskin) yang menolak Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. 

Ini peringatan bagi orang kaya: "...agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang..."  (1 Timotius 6:18-19).

Thursday, November 4, 2010

HIDUP YANG BERPADANAN DENGAN INJIL (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 4 November 2010 -

Baca: Filipi 2:12-18

"supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda; sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia,"  Filipi 2:15


Kedua, Paulus memiliki kerendahan hati.  Kunci dari kehidupan yang berpadanan dengan Injil Kristus adalah kerendahan hati.  Untuk menjadi orang yang rendah hati kita harus tunduk kepada Tuhan.  Kita tidak lagi mementingkan diri sendiri atau mencari pujian dari orang lain, "Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri;"  (Filipi 2:6-7).  Lebih baik kita rendah hati dari pada direndahkan atau dipermalukan.

     Ketiga, hidup Paulus menjadi kesaksian bagi dunia.  Paulus menuntut supaya orang percaya di Filipi memberi respon yang benar pekerjaan kita atau kebaikan kita, semuanya itu semata-mata oleh kasih karuniaNya.  Tuhan Yesus berkata, "Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepadaKu, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman."  (Yohanes 6:44).  Oleh karena itu jangan pernah meremehkan kasih karunia Tuhan ini.  Sebaliknya mari kita kerjakan keselamatan yang telah kita terima itu dengan takut dan gentar.

     Tuhan Yesus menginginkan agar kita menjadi bintang di dunia ini.  Maksudnya supaya hidup kita bersinar atau bercahaya menerangi dunia ini dengan iman dan kesaksian hidup kita.  Dampak pelayanan Paulus bagi perkembangan Injil begitu luar biasa karena hidupnya berpadanan dengan Injil Kristus.

Sudahkah hidup kita berpadanan dengan Injil?

Wednesday, November 3, 2010

HIDUP YANG BERPADANAN DENGAN INJIL (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 3 November 2010 -

Baca: Filipi 1:27-30

"Hanya, hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus, supaya, apabila aku datang aku melihat, dan apabila aku tidak datang aku mendengar, bahwa kamu teguh berdiri dalam satu roh, dan sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari Berita Injil,"  Filipi 1:27

Surat yang ditulis Paulus kepada jemaat di Filipi adalah surat yang penuh muatan sukacita.  Kata sukacita ini menjadi tema terbesar dalam surat Filipi ini.

     Mengapa perihal sukacita ini menjadi begitu penting?  Karena surat ini ditulis oleh Paulus ketika ia berada dalam penjara di Roma.  Bayangkan, orang terkurung dalam penjara dan tetapi tetap bersukacita dan mengobarkan semangat kepada orang lain!  Suatu sikap hidup yang luar biasa!  Di tengah kesesakan dan penderitaan namun tetap kuat dan tak tergoyahkan.  Rasul Paulus berharap agar jemaat Filipi sadar bahwa mengikut Kristus tidak selalu berada di jalan yang mulus.  Adakalanya kita harus melewati banyak tantangan dan ujian, tapi percayalah bahwa Tuhan senantiasa memberi kekuatan kepada kita sehingga kita pun mampu melewatinya.  Paulus berkata, "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku."  (Filipi 4:13).  Jadi, tidak seharusnya mereka putus asa.  Itulah sebabnya Paulus berusaha agar hidupnya menjadi teladan dan berpandanan dengan Injil Kristus yang ia beritakan, "...supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak."  (1 Korintus 9:27).

     Setidaknya ada tiga hal yang menunjukkan bahwa kehidupan Paulus berpadanan dengan Injil Kristus:  pertama, Paulus tetap berdiri teguh meski harus menderita karena Injil; ia rela berkoraban.  Kata 'teguh' dalam bahasa aslinya berarti 'setia'.  Di dalam kesetiaan terkandung komitmen yang tinggi.  Meski harus menghadapi berbagai pencobaan Paulus tidak pernah goyah imannya, karena ia sadar betul tentang panggilan hidup sebagai orang percaya, "...dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia,"  (Filipi 1:29).  Sebagaimana Kristus saat diutus ke dalam dunia, dengan komitmen tinggi melakukan semua yang menjadi kehendak Bapa, Dia "...taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib."  (Filipi 2:8a).

     Bagaimana kita?  Seharusnya kita juga mau berkorban bagi Kristus.  Berkorban waktu, tenaga dan materi untuk Tuhan itu tidak akan pernah sia-sia.  Terlebih lagi kita harus mau menyalibkan 'daging' dan hidup menurut pimpinan Roh Kudus.  (Bersambung)

Tuesday, November 2, 2010

DOA YANG BEROLEH JAWABAN (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 2 November 2010 -

Baca: Mazmur 66:1-20

"Sesungguhnya, Allah telah mendengar, Ia telah memperhatikan doa yang kuucapkan."  Mazmur 66:19

Seseorang yang rendah hati adalah orang yang selalu siap diajar, dibentuk, ditegur, dididik dan diproses untuk didewasakan Tuhan.  Ketika diproses Tuhan ia tidak memberontak dan tidak gampang menyalahkan orang lain, tetapi tetap taat dan setia di dalam Tuhan.

      Ketiga, kita harus bersabar menantikan jawaban dari Tuhan.  Pemazmur memberi nasihat, "Nantikanlah Tuhan!  Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu!  Ya, nantikanlah Tuhan!"  (Mazmur 27:14), karena "...semua orang yang menantikan Engkau takkan mendapat malu;"  (Mazmur 25:3a).  Banyak orang Kristen gagal dalam menantikan jawaban dari Tuhan, mereka tidak sabar menunggu.  Akhirnya mereka tidak lagi tekun berdoa dan menyerah di tengah jalan.  Terkadang Tuhan menjawab doa kita dalam waktu yang singkat, namun adakalanya Ia menjawab dalam waktu yang lama atau bahkan Dia tidak menjawab doa kita sama sekali.  Tentu ada sebabnya.  Mari kita belajar dari Abraham yang tetap bersabar menantikan waktu Tuhan.  Alkitab menyatakan, "Abraham menanti dengan sabar dan dengan demikian ia memperoleh apa yang dijanjikan kepadanya."  (Ibrani 6:15).  Sadarilah bahwa waktu kita bukanlah waktu Tuhan.  Agenda kita berbeda dari agenda Tuhan.  Sesungguhnya, masa penantian ini adalah masa di mana Tuhan sedang mempersiapkan segala sesuatu untuk menggenapi janjiNya, namun kebanyakan kita sudah tidak tahan.

     Keempat, kita harus hidup benar di hadapan Tuhan.  Apa saja yang kita minta pasti Tuhan sediakan bagi kita asal kita tinggal di dalam firmanNya (baca Yohanes 15:7).  Jadi yang menjadi penyebab utama mengapa Tuhan tidak menjawab doa-doa kita adalah, antara lain, karena ketidaktaatan kita sendiri.  Sudahkah kita hidup benar di hadapan Tuhan?  Sudahkah kita menjadi seorang Kristen yang taat?  Maka, sebelum kita complain kepada Tuhan hendaknya kita mengoreksi diri.  Alkitab menulis: "Sesungguhnya, tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaranNya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadp kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu."  (Yesaya 59:1-2).

"Tuhan itu jauh dari pada orang fasik, tetapi doa orang benar didengarNya."  Amsal 15:19

Monday, November 1, 2010

DOA YANG BEROLEH JAWABAN (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 1 November 2010 -

Baca: Mazmur 6:1-11

"Tuhan telah mendengar permohonanku, Tuhan menerima doaku."  Mazmur 6:10

Doa adalah nafas hidup orang percaya.  Oleh karena itu orang Kristen sejati pasti suka berdoa.  Tanpa doa, kita akan mengalami kematian rohani.  Adalah aneh jika orang Kristen jarang beroda; bagaimana kita bisa hidup berkemenangan jika berdoa saja kita malas?  Bagaimana kita mampu bertahan melawan serangan Iblis bila kita berdoa hanya ketika mood saja?  Seseorang yang dewasa rohani pasti mengerti benar betapa pentingnya berdoa, bahwa segala perkara dapat terselesaikan dengan doa dan doa dapat mengubah segala sesuatu.

     Mengapa kita berdoa?  Kita berdoa karena kita membutuhkan jawaban Tuhan atas segala pergumulan yang kita alami serta percaya bahwa Tuhan sanggup memberikan pertolongan.  Saat menghadapi masalah besar Daud berdoa kepada Tuhan dan Ia menjawab pergumulan Daud.  Ini berarti doa dapat menyelesaikan segala permasalahan dalam hidup.  Lalu, bagaimana seharusnya kita berdoa supaya beroleh pertolongan dan mengalami kemenangan?  Pertama, kita harus berdoa dengan penuh iman.  Jadi, "Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin.  Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan."  (Yakobus 1:6-7).  Berdoa dengan iman artinya walaupun belum melihat jawaban dari Tuhan, kita tetap percaya bahwa kita pasti menerimanya.  Dan sebagai orang beriman kita harus memegang janji Tuhan karena janji Tuhan adalah ya dan amin.  Tidak ada janji yang tidak Ia tepati.  Artinya Tuhan pasti menjawab doa kita.  Iman sanggup menarik kuasa Tuhan.  Iman perempuan yang sudah dua belas tahun mengalami pendarahan mampu menggerakkan kuasa dari sorga.  Kata perempuan itu. "Asal kujamah saja jubahNya, aku akan sembuh."  (Markus 5:28).  Untuk beroleh jawaban doa kita harus memiliki iman sepenuhnya, bukan iman yang di bibir saja kita percaya tapi di dalam hati bimbang.  Jangan sekali-kali menghalangi kuasa Tuhan dengan logika kita yang terbatas.

     Kedua, kita harus berdoa dengan kerendahan hati atau hancur hati, suatu sikap yang menunjukkan ketidakberdayaan dan betapa kita memiliki ketergantungan penuh kepada Tuhan.  Daud bekata, "Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur, hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah."  (Mazmur 51:19).  (Bersambung)